Uploaded by User89629

(Dila) PEJALAN (Fix)

advertisement
Farradilla Inayatul Azizah
|Pejalan|
[email protected]
PEJALAN
Berbulan, aku memutuskan pergi dari tempat paling awal nafasku dihembuskan.
Menaiki kapal barang sebagai tunggangan, terserah ke arah mana angin membawa
tubuhku melanglang. Waktu turunku adalah saat barang terakhir dalam kapal
diturunkan ke lantai pelabuhan, dan waktu naikku adalah saat barang terakhir
pelabuhan diangkut berbondong ke badan kapal. Sudah 13 pelabuhan yang kulewati,
aku sengaja mencatat angkanya dibalik almanak lusuh. Satu-satunya barang berharga
yang kubawa. Tidak ada makanan, tidak ada air, hanya beberapa lembar uang yang
kudapat dari peluh keringat sebagai tukang panggul di setiap pemberhentian. Ahh,
bukankah lautan adalah lumbung pangan terbaik yang ada di dunia?
Kakiku berhenti lama di pemberhentian yang kesekian ini. Pelabuhan yang sepi. Hanya
ada barang-barang turun, tidak ada satupun yang diangkut pergi. Kapal-kapal kembali
dengan hening, barangkali pelabuhan ini hanya menerima pemberian namun tidak
berkenan memberi.
Aku menyesap satu cangkir kopi, di sebuah kedai kecil di samping dermaga. Kedai ini
ramai oleh lalu-lalang pekerja, namun sepi tanpa percakapan. Lonceng depan kedai
yang nyaring tertiup angin adalah satu-satunya suara yang terdengar selama aku duduk,
pemesanan hanya perlu ditulis di sebuah buku panjang depan kasir. Selebihnya, hanya
suara srak-srek sepatu pelayan hilir mudik mengantar pesanan. Dua lembar uang ku
letakan di meja kasir, lalu kembali. Melangkah keluar.
Tidak ada kata tunjuk di sepanjang jalan yang terlewati. Entah utara atau selatan, tidak
ada yang benar-benar peduli perihal arah. Satu-satunya hal yang menarik disini adalah
seorang bocah yang duduk di bangku panjang sebuah halte, entah angkutan apa yang
ditunggunya. Tidak ada bus yang lewat, sesekali hanya lalu lalang truk pengangkut
barang dari pelabuhan. Selebihnya senyap, tidak ada deru mesin pabrik, tidak ada asap
yang membumbung, tidak ada kerumunan remaja, tidak ada siapa-siapa. Selain bocah
kecil yang itu. Rambut panjangnya kibar ditiup angin, kaos putih dan celana kebesaran
membalut tubunya yang mungil. Kacamatanya tebal, dan tangannya sibuk memainkan
kubus rubik yang warnanya pudar. Aku ambil posisi di sebelahnya, bocah kecil yang
tingginya sebatas pusarku itu diam. Mulutnya diam, terlebih tangannya. Wajahnya
Farradilla Inayatul Azizah
|Pejalan|
[email protected]
datar, entah jenis ekspresi apa yang sedang ditampilkan. Aku menututi gerakan
diamnya, menatap kosong ke arah depan.
Langit-langit menjelma gelap. Jalanan kota masih seperti tadi, sunyi. Bebunyian yang
tersisa hanya deru nafasku yang teratur. Dingin yang gigil serentak menyerbu tulangtulang kering, yang mengecil.
“Tidak ada percakapan di kota ini, selain suara pembeli membeli barang di pasar. Atau
suara supir truk memberi upah pada tukang panggul di pelabuhan,” bocah kecil itu
membuka suara, intonasinya pelan dan datar. Tidak ada nada emosional yang
terdengar. “Orang-orang mempunyai cita-cita yang sama, melahap hari dengan katakata yang diam. Di kota ini semuanya menjelma tulisan, tidak ada siapa berkuasa di atas
siapa. Kecuali kata-kata yang dimaktubkan sendiri.” Bola matanya bergerak, menelisik
pada arah jembatan, tembok-tembok besar, juga pohon trembesi yang akarnya
menggantung. Benar, segala sudut di sekitarku penuh dengan tempelan kertas-kertas
lusuh.
“Paman, rumahku berada di sudut kota ini. Setiap sudut kota adalah deretan abjad. Aku
tidak tahu, apakah huruf dan sepi begitu mengasikkan. Tidak ada masa depan di kota
ini, titik paling jauh kita adalah batu nisan yang lagi-lagi penuh dengan kata-kata dalam
segala bentuk bahasa,” ucapnya kemudian. Dihirupnya udara yang tiba-tiba terasa sesak
itu.
“Orang-orang yang suka bermain dengan lisannya akan cepat kalah dengan keadaan.
Tidak ada penghayatan lebih, di sana akan banyak orang yang memilih bersaing
ketimbang berkawan.” Jarinya menunjuk ke arah dermaga yang sepi.
“Tapi Paman, bukankah hidup adalah perjalanan? Apa tulisan-tulisan yang memenuhi
dinding rumah akan membawa kita pada kehidupan yang nyata?”
Aku diam, khidmat mendengarkan. Haruskah ada jawaban?
“Orang-orang kota ini tak jauh beda dengan yang lain, Paman. Sama-sama disibukkan
diri dengan bersaing, atau bahkan berperang. Ya, berperang dengan keadaan yang
ditolak mentah-mentah.” Aku mengernyit bingung, tidak mengerti dengan kalimat
terakhirnya. Apakah orang-orang kota ini begitu rumit merangkai kata?
Farradilla Inayatul Azizah
|Pejalan|
[email protected]
Bocah kecil itu beranjak dan lalu. Tanpa meninggalkan salam perpisahan.
Keadaan kembali sunyi. Malam ini, angin mati. Gelap merayap. Untuk terakhir kalinya
aku menghadap laut. Merentangkan tangan, mengucapkan perpisahan. Pada geladakgeladak kapal aku bersumpah atas nama diri sendiri, bahwa perjalanan yang kesekian
ini akan membawaku menjadi seorang legenda. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk
pertanyaan-pertanyaan ganjil yang tak kutemu jawabnya dari lautan. Termasuk,
Benarkah manusia hanya diberi pilihan kalah dan menang?
Perlahan, kakiku menj
auh dari bibir pantai. Menekuri diri sendiri sebagai seorang pejalan, mengangkat
sepanjang jalan sebagai tuan. Sebelum benar pergi, kusempatkan meminjam sebuah
kata, dari kertas lusuh yang tertempel di tiang besi.
“Perjalanan akan menghadapkanmu pada dua hal : diri sendiri dan orang-orang yang
tidak kau kenal.”
Rembang, 16 Juni 2020
*Penulis adalah seorang gadis jawa yang mencintai bakpia segala rasa. Penikmat lagu
Tulus ini tengah menyiapkan penerbitan sebuah buku yang tidak untuk di jual, Buku
Kehidupan.
Download