Uploaded by User82892

Telaah Kritis pada Pemikiran Anthony Gid

advertisement
TELAAH KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN ANTHONY
GIDDENS DALAM THE RUNAWAY WORLD1
Momon Sudarma
I. PENDAHULUAN
Anthony Giddens, bagi sebagian kalangan, diposisikan sebagai salah satu
pemikir ilmu sosial yang handal, bahkan dapat dikategorikan pemikir teoretik
untuk The Grand Theory, yang setaraf dengan –menurut pandangan Richard
Bernstein-- pemikir Parsons dan Habermas di zamannya2. Bahkan bisa dikatakan,
Giddens adalah pakar yang kaya dengan pelbagai keahlian. Ia seorang ilmuwan
ilmu-ilmu sosial kelas dunia, administrator yang sukses, seorang entrepreneur,
dan seorang yang mempunyai wawasan dan kemampuan politik dan komunikasi
yang mengagumkan. Di atas itu semua, seperti dikatakan Ulrich Beck (rekan
sepemikirannya di Jerman), Giddens adalah seorang sosiolog kelas wahid dari
zaman ini. Dengan munculnya pemikiran segar dan orisinal dari “Jalan Ketiga”
(Third Way) Giddens, Wibowo menyebutnya tengah terjadi sebuah “gempa”
pemikiran dan praktis politik.3. Melalui adanya sejumlah pujian atau apresiasi
yang tinggi terhadap pemikiran Giddens dari pengamat, pengagum atau
akademisi tersebut di atas, menimbulkan adanya kepenasaran intelektual dari
kalangan ilmuwan sosial lainnya, termasuk intelektual muda (calon ilmuwan).
II. DESKRIPSI POKOK PIKIRAN GIDDENS
Buku ‘Runaway World”, awalnya adalah kuliah plihan BBC (BBC Reith
Lectures) untuk tahun 1999 yang disiarkan program Radio 4 dan World Service
BBC. Kuliah itu dilakukannya sebagai momentum pengangkatan dirinya sebagai
dosen pilihan BBC. Runaway World, adalah sebuah buku kecil yang terdiri dari
82 halaman tulisan inti (5 bab), xvii halaman berisii prakata dan pendahuluan, 12
halaman referensi yang dianjurkan Giddens untuk dikaji lebih lanjut oleh
pembaca, serta 4 halaman lainnya berisi kelengkapan sebuah buku.
Dalam uraian sebanyak lima bab itulah, Giddens meyakinkan pendengar
(saat itu) dan pembaca (saat ini) tentang dunia yang lepas kendali akibat adanya
pengaruh globalisasi. Secara lebih rinci, dapat dirumuskan pemikirannya sebagai
berikut.
1
2
3
Naskah ini, merupakan perbaikan dari draft diskusi kelompok tahun 2003. Pada mulanya naskah ini,
merupakan hasil kajian kelompok BKU Sosiologi-Antropologi untuk dijadikan bahan diskusi kelas. Penulis
mengucapkan terima kasih atas segala masukan dan pemikiran kritisnya, seluruh rekan-rekan di BKU
Sosiologi-Antropologi, Administrasi dan Psikologi.
Lihat Anthony Giddens. The Constitution of Society : Teori Strukturasi Untuk Analisis Sosial. Penerjemah
Adi Loka Sujono. Yogyakarta : Pedati.2003.
Lihat I. Wibowo. “Kata Pengantar” dalam Anthony Giddens. The Third Way : Jalan Ketiga. Pembaharuan
Demokrasi Sosial. (Penerjemah Ketut Arya Mahardika). Jakarta : Gramedia. 2002.
31
I
Di antara kita, apapun profesi dan di manapun tempat kita berada, kerap
kali menggunakan konsep globalisasi, kendatipun mungkin tidak memahami
dengan benar apa yang dimaksud dengan konsep globalisasi tersebut. Namun,
pengaruhnya dapat dirasakan sampai sebuah desa di Afrika Selatan.
Popularitas ide globalisasi, berkaitan erat dengan tesis “kita semua
sekarang hidup dalam satu dunia” (semacam global village ala McLuhan).
Terhadap tesis itu, ternyata masih menyimpan sebuah keraguan yang mendasar,
khususnya yang berkaitan dengan mekanisme bagaimana sistem kehidupan
seperti itu bisa terbangun, dan apakah pemikiran seperti itu adalah sesuatu hal
yang valid? Terdapat sejumlah pemikir yang secara tegas berlawanan dalam
mengapresiasi gejala globalisasi ini.
Pertama, kaum skeptis. Kelompok ini berpandangan bahwa globalisasi
adalah omong kosong. Fenomena yang terjadi adalah biasa-biasa saja. Dunia hari
ini, adalah kelanjutan dari era sebelumnya. Konsentrasi perkembangan ekonomi
ada pada wilayah regional, bukan pada tingkat global. Kelompok ini, dapat
dikelompokkan sebagai kelompok kiri lama.
Kedua, kaum radikal. Kelompok ini memandang bahwa globalisasi adalah
sesuatu hal yang riil dan mempengaruh seluruh dimensi kehidupan manusia.
Banyak bangsa dan negara yang kehilangan batas geografis, dan batas
kedaulatannya. Kaum radikal dapat dikategorikan sebagai kelompok kanan.
Dengan memahami polarisasi apresiasi terhadap gejala globalisasi ini,
Giddens mengatakan globalisasi ini, bukan hanya nyata, tetapi juga sangat
revolusioner (5) dalam berbagai dimensi kehidupan. Oleh karena itu keliru, jika
menganggap bahwa globalisasi hanya berkaitan erat dengan sistem-sistem yang
besar. Globalisasi, pun mempengaruhi tatanan mikro kehidupan manusia,
misalnya saja ‘keluarga’. Demikianlah globalisasi sebagai sebuah rangkaian
proses yang kompleks, dan semuanya berlangsung dalam wujud yang
kontradiktif.
Nilai-nilai kontradiksi itu, di antaranya dapat dilihat dalam sejumlah gejala
sosial saat ini. Pertama, globalisasi tidak hanya membangun tatanan baru global,
tetapi juga adanya tekanan baru bagi pengembangan otonomi lokal. Kedua,
membangun budaya baru global, tetapi juga merangsang menggeliatnya budaya
atau nasionalisme lokal (ethno-nasionalism). Ketiga, mengarah pada tatanan
ekonomi multinasional, tetapi juga membangun zona ekonomi regional dan
lokal, seperti yang dilakukan regio Hongkong-Italia dan Lembah Silikon California.
Perubahan-perubahan semacam itu, terjadi akibat adanya berbagai faktor, baik
struktural maupun kultural, khususnya nilai historik (9).
Sudah barang tentu, dampak globalisasi, tidak bersifat linear. Satu sisi ada
yang diuntungkan, dan di sisi lainnya ada yang dirugikan. Merebaknya perusahan
multinasional dari Amerika Serikat, kian memperkuat sinyalemen adanya
westernisasi terhadap dunia ketiga, dengan kedok globalsiasi. Oleh karena itu,
32
alih-alih dapat membangun desa global (global village), yang terjadi malahan
global pillage (penjarahan global). Seiring dengan itu, krisis lingkungan,
kesenjangan antarnegara, kian tampak. Hal demikian, disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan pengaruh antara negara maju dengan negara miskin (11-12).
Oleh karena itu, solusi pemikiran terhadap perdebatan dan kontradiksi apresiasi
dan dampak dari globalisasi tersebut, membutuhkan adanya pemahamanpemahaman baru tentang negara-bangsa untuk saat ini. Giddens mengajak
untuk membangun masyarakat kosmopolitan global (global cosmopolitan
society).
Pemikiran ini, dilandasi oleh adanya ‘lembaga-lembaga kulit luar’ (institusi
sosial yang ada) tidak relevan lagi dengan konteks perkembangan dan perubahan
zaman (tanda-tanda zaman). Masyarakat dunia, perlu merekonstruksi lembagalembaga yang ada, dan (kalau dipandang perlu) membangun lembaga yang baru
(15).
II
Perubahan kualitas lingkungan terjadi hampir setiap penjuru dunia.
Kenaikan suhu permukaan bumi, menjadi salah satu perhatian kengerian
masyarakat dunia. Perubahan lingkungan ini, mungkin disebabkan oleh ulah
manusia, mungkin pula ada gejala yang lainnya. Kendatipun demikian, itu semua
akan membawa risiko bagi kehidupan manusia.
Gagasan tentang risiko, ada kaitannya dengan konsep lainnya, yaitu
probabilitas dan ketidakpastian. Konsep risiko tidak sama dengan ancaman atau
bahaya, sebab sebuah risiko memiliki nilai kemungkinan dan ketidakpastian.
Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang berani mengambil resiko, jika tingkat
kepastiannya mencapai 100 %. Dalam pandangan Giddens, budaya tradisional
tidak memiliki konsep risiko. Konsep takdir, nasib, pasrah, keberuntungan
merupakan nilai-nilai tradisional yang masih tumbuh di zaman modern ini,
namun kerap menjadi ‘tahayul’, yang digunakan orang dengan malu-malu (19).
Konsep risiko (dengan aspek negatif dan positif), muncul di awal
masyarakat industri modern, yang ingin menentukan masa depannya sendiri
ketimbang menyerahkan kepada agama, tradisi atau perlakuan alam. Dalam
perkembanganya, Giddens menyebut ada dua jenis risiko, yaitu risiko eksternal
dan risiko buatan (manufactured risk). Risiko eksternal, disebabkan oleh adanya
faktor luar, misalnya alam atau tradisi. Sedangkan, risiko buatan yaitu yang
tercipta sebagai dampak perkembangan pengetahuan kita tentang dunia.
Misalnya polusi udara, polusi air, polusi suara, dan segala macam polusi plus
bahaya nuklir. Ide tentang back to nature, pengembangan prinsip pencegahan
dan mengembangkan nilai-nilai tanggung jawab sosial, belum dapat
menyelesaikan masalah risiko buatan. Kita tidak mungkin mengambil sikap yang
negatif terhadap risiko4. Risiko selalu perlu dikendalikan, namun aktif mengabil
4
Giddens memang membayangkan empat macam reaksi terhadap risiko buatan. (1) pragmatic acceptance.
Tekanan sikap ini adalah survival. Kebanyakan hal yang terjadi berada di luar kontrol individu. Jadi lebih
33
unsur pokok perekonomian yang dinamis dan masyarakat yang inovatif (32).
Keberanian untuk mengembangkan kemampuan manajemen risiko itulah yang
akan menjadi penyelesaian masalah kehidupan modern saat ini.
III
Tradisi dan adat istiadat – keduanya telah menjadi bagian penting
kehidupan sebagian besar orang hampir sepanjang sejarah umat manusia.
Nilai-nilai yang kita anggap tradisional, pada dasarnya merupakan sebuah produk
dari maksimal dua abad sebelumnya (34); dengan kata lain, dapat dikatakan
bahwa tradisi sebagai produk dari modernitas itu sendiri (36). Namun demikian,
para akademisi jarang mau memperhatikan masalah tradisi dengan saksama.
Bahkan ada anggapan, bahwa tradisi merupakan sisi gelap modernitas dan
gagasan yang tidak masuk akal (36).
Dalam pandangan Giddens, tradisi adalah sesuatu yang diciptakan, dan
tidak terlepas dari adanya kepentingan kekuasaan untuk melegitimasi
kekuasaannya. Tidak ada masyarakat yang sepenuhnya tradisional. Hanya
sebuah mitos yang menganggap, bahwa tradisi tahan terhadap perubahan,
bahkan dapat dikatakan bahwa tradisi itu diciptakan dan diciptakan kembali.
Kendatipun tidak menutup kemungkinan adanya nilai-nilai dasar yang tetap
dipertahankan. Secara prinsipil, kesinambungan apapun yang ada dalam doktrin
itu akan tetap diiringi oleh adanya perubahan, bahkan perubahan revolusioner
dalam penafsiran dan pengamalannya. Pada sisi yang lainnya, simbol tradisional
juga tidak mesti terjadi sejak asali. Simbol-simbol tradisi dapat dikembangkan
dan berkembang sesuai dengan perkembangannya, misalnya saja pidato
kenegaraan, ternyata telah menjadi sebuah tradisi. Oleh karena itu, kemampuan
bertahan lama, bukanlah sebuah ciri tradisi. Menurut Giddens, ada lima unsur
yang perlu diperhatikan dalam tradisi. (1) memori, seperti halnya tradisimerupakan pengoraginsasian masa lalu dalam hubungannya dengan masa kini.
Dalam hal itu, tradisi dapat dikatakan sebagai sebuah medium pengorganisasian
memori kolektif. (2) tradisi selalu melibatkan tindakan ritual; dan tindakan ritual
itu menjamin terpeliharanya tradisi. (3) tradisi mengandung “formulaic truth”, di
mana hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai akses dalam truth itu.
Biasanya adalah guardians. Dalam tardisi, hampir tidak ada ruang untuk tidak
setuju atau berbeda. (4) guardians mempunyai peran dalam memelihara tradisi.
Guardians mempunyai otoritas dan lebih ditonjolkan adalah sisi status mereka,
bukan kompetensinya seperti expertise dalam masyarakat modern. (5) semua
mbaik memusatkan perhatian pada apa yang sedang dikerjakan; (2) suitained optimism. Sebagai
kelanjutan ide Aufklarung, sikap ini percaya bahwa pasti ada solusi social dan teknologis untuk semua
persoalan; (3) cynical pessimism. Sikap ini ragu-ragu terhadap masa depan (pesimis) sambil berupaya
menetralisasi emosi-emosi negatif yang mungkin muncul (sinis); (4) radikacl engagement. Sikap ini sadar
bahwa hidup manusia dikepung oleh persoalan-persoalan besar. Kendati demikian, orang tetap dapat dan
hendaknya berbuat sesuatu untuk mengurangi atau mentransendensaikan konsekuensi dari bahayabahaya yang dihadapinya. Bdk. Anthony Giddens, The Consequences of Modernity. Stanford, CA:
Stanford University Press, 1993, pp.134-137
34
tradisi mengandung atau mempunyai nilai-nilai moral dan norma-norma yang
mengikat anggotanya. Nilai-nilai dan norma-norma itu, biasanya ditentukan oleh
guardians yang menawarkan dan memberikan kenyamanan ontologis bagi para
anggotanya.
Abad pencerahan, sangat berkeinginan untuk menghancurkan otoritas
tradisi, baik itu melalui penghapusan lembaga maupun nilai kulturalnya sehingga
masyarakat mengalami detradisionalisasi. Kalangan modern, menganggap bahwa
tradisi merupakan akar masalah dari gerakan konservatisme. Namun demikian,
dengan adanya globalisasi dan modernisasi, ternyata tidak melenyapkan nilai
tradisi, dan malahan membangkitkan kegairahan nilai-nilai tradisi di era modern
dan global. Sebagian masyarakat dunia, menganggap bahwa nilai tradisional
dapat mengisi ruang-kosong akibat adanya modernsiasi saat ini. Oleh karena itu,
menurut Giddens, sangat rasional jika kita mengakui bahwa tradisi dibutuhkan
dalam masyarakat, karena dapat membangun kesinambungan dan memberi
bentuk pada kehidupan (42).
Dialektika dan konfrontasi antara tradisi dan modernitas, fundamentalisme
dan kosmopolitan, kebebasan dan otonomi, perlu diselesaikan dengan
pendekatan terbuka dan dialogis yang dipandu dengan nilai-nilai universal. Kita
semua membutuhkan adanya komitmen moral, di atas percekcokan dalam
kehidupan sehari-hari. Pentingnya komitmen moral itu, ditekankan kembali oleh
Giddens dengan kalimat “tidak seorang pun dari kita dapat menemukan makna
dalam hidupnya, jika tidak mempunyai sesuatu yang bernilai untuk
diperjuangkan mati-matian” (48).
IV
Kebanyakkan dari kita, acapkali mampu melepaskan diri dari persoalan
yang lebih besar, namun mengalami kesulitan melepaskan diri dari pusaran
perubahan yang merambah hingga ke pusat kehidupan emosi kita. Dalam
konteks itulah, globalisasi telah mempengaruhi perilaku manusia untuk segera
melakukan pewacanaan tentang kesetaraan seksual, regulasi seksualitas dan
masa depan keluarga (50).
Terhadap gejala semacam itu, ada perbedaan reaksi dari masyarakat atau
negara. Misalnya saja di China, negara mempertimbangkan tentang pentingnya
mempersulit perceraian. Di negara tersebut, memang tingkat perceraian masih
rendah, namun trend-nya sedang mulai meningkat. Di daerah perkotaan, bukan
hanya tingkat perceraian, masalah kumpul kebo pun meningkat. Sementara itu,
di daerah perdesaan, masih ada keluarga tradisional.
Giddens mengatakan bahwa keluarga tradisional memiliki ciri yang khas.
Pertama, keluarga sebagai unit ekonomi. Kedua, Ketidaksetaraan antara laki
dengan perempuan. Ketiga, perempuan dan anak-anak kehilangan sejumlah
hak-haknya. Keempat, masalah seksualitas sangat ditentukan oleh reproduksi.
Mengenai hal-hal yang bersifat mendetail, akan berbeda antara satu daerah
dengan daerah yang lainnya. (56).
35
Selain itu, ada standar ganda tentang seksualitas ini. Avonturisme laki-laki
(James Bond) dianggap sebagai seorang heroisme dalam bidang seksual,
sedangkan avonturisme seksual dari perempuan menjadi citra negatif. Termasuk
dalam masalah homoseksual.
Pembelaan terhadap keluarga tradisional, bagi Giddens merupakan era
transisi dalam perkembangan keluarga tahun 1950-an. Pendukungnya, waktu itu
perempuan belum banyak berkiprah di luar sektor domestik. Namun,
perkembangan berikutnya, bentuk keluarga ini terus berkembang. Perkawinan
(lembaga perkawinan) saat ini telah menjadi shell institution (lembaga kulit luar).
Namun sebagian besar telah berubah dengan munculnya pasangan (couple) dan
hidup berpasangan (coupiedom). Pasangan, dicontohkan dengan lembaga
perkawinan, hidup berpasangan tidak mesti adanya lembaga perkawinan,
keduanya merupakan bentuk dari keluarga.
Perkawinan di masa lalu, tidak dibentuk oleh adanya keintiman
(komunikasi emosional), kadantg-kadang ada yang bersifat paksaan. Ada tiga
wilayah komunikasi emosional ini, yaitu hubungan seksual dan cinta, hubungan
orangtua-anak, dan juga dalam persahabatan. Untuk menganalisis masalah
tersebut, Giddens menggunakan konsep ‘pure relationship’ (hubungan murni),
yaitu hubungan yang dilandaskan pada komunikasi emosional sebagai dasar
utama keberlangsungan hubungan tersebut. Hubungan itu, tergantung pada
proses kepercayaan aktif (active trust), atau membuka diri pada orang lain (60).
Keterbukaan, jiwa terbuka, dialog terbuka, kesetaraan, persamaan hak, dan rasa
saling menghormati, merupakan contoh lain sifat-sifat keluarga demokratis.
Untuk menegaskan pendiriannya itu, Giddens dengan tegas mengatakan
demokrasi emosi
sama pentingnya dengan demokrasi publik dalam
meningkatkan kualitas hidup kita (61). Dalam keluarga yang demokratis,
kewenangan orangtua harus didasari oleh perjanjanjian yang implisit. Oleh
karena itu, kita perlu memosisikan homoseksual dan gay sebagai salah satu
bentuk keluarga yang didasari oleh demokrasi emosi atau komunikasi emosi.
Demokrasi emosi, merupakan landasan untuk membangun pijakan yang
berbeda dalam mendudukkan persoalan. Dengan demokrasi emosi, tidak
memestikan lemahnya disiplin atau hilangnya rasa hormat, atau melelehnya
kewajiban keluarga. Justru dengan demokrasi ini, setiap individu harus
menerima hak dan kewajibannya yang diatur oleh hukum.
Dengan paparan tersebut, dengan tegas Giddens mengatakan bahwa yang
mengkhawatirkan itu bukanlah merosotnya keluarga tradisional, namun
bertahannya keluarga tradisional. Karena hal demikian akan menghambat proses
demokratisasi (64), dan implikasinya akan menghambat adanya kesetaraan
seksual dan menghambat kebahagiaan.
V
Kendatipun belum ada definisi atau batasan yang jelas, barangkali gagasan
tentang demokrasi merupakan satu tema pembicaraan yang paling
36
menggairahkan di abad ke – 20 ini. Hampir setiap orang, ingin menyebutnya
sebagai negara demokrasi. Oleh karena itu, gejala sosial yang lahir adalah adanya
fenomena keanekaragaman budaya demokrasi di berbagai belahan bumi.
Di Barat, demokrasi berkembang sepenuhnya baru pada abad ke-20.
Kemudian, beberapa dekade berikutnya, terjadi gelombang demokratisasi yang
pesat di berbagai negara di dunia. Di balik itu semua, muncul pula adanya gejala
paradok demokrasi (71), hal itu akibat adanya kekecewaan sekelompok orang
terhadap proses demokratisasi. Di Barat, tengah terjadi kemerosotan
kepercayaan kepada para politisi. Politisi saat ini, kerap kali hanya menggunakan
kekuasaan yang keras (hard power) dan mekanisme top-down. Oleh karena itu,
perlu ada upaya lain, dalam memperbaiki kondisi tersebut. Giddens
menyebutnya dengan ‘perlunya pendalaman demokrasi (a deepening of
democracy) atau demokratisasi atas demokrasi (democtratising democracy) (74).
Demokratisasi atas demokrasi, dilakukan dengan cara berbeda
antarnegara.
Implementasi pemikiran ini, ditandai dengan (a) adanya
pelimpahan kewenangan di tingkat pusat; (b) adanya reformasi konstitusional,
dan (c) keterbukaan. Selain itu, para politisi harus membangun kerjasama
dengan kelompok berisu tunggal (single-issu group), misalnya kelompok pencinta
lingkungan dan gerakan perempuan.
Demokratisasi atas demokrasi juga bergantung pada pengembangan
budaya kewarganegaraan (civic culture). Dalam proses ini, dikembangkan pula
demokrasi ekonomi. Pendekatan ini dapat bermanfaat bagi proses pembangunan
demokrasi di negara-negara yang masih lemah nilai demokrasinya. Sebuah
negara bertatanan demokratis diibaratkan bangku berkaki tiga, yaitu
pemerintah, ekonomi dan masyarakat madani. Namun, demikian, Giddens pun
menegaskan bahwa demokrasi ini, harus bersifat transnasional.
III. KERANGKA PIKIR
Sebelum melakukan kajian
terhadap bukunya Giddens ini, perlu
dikemukakan terlebih dahulu kerangka pikir yang digunakan dalam kajian ini. Hal
ini berguna sebagai sebuah kejelasan dan ketegasan pola pikir dalam proses
kritikan ini.
Pertama, perlu memahami konteks pemikiran Giddens dalam buku
Runaway World sebagai satu kesatuan yang utuh. Tak ada jarak pemisah antara
bab pertama dengan bab-bab yang lainnya. Kendatipun memiliki topik
pembahasan yang berbeda, namun perlu dipahami sebagai sebuah keutuhan
pemikiran.
Kedua, keterkaitan antarkarya Giddens. Buku Runaway World yang
diterbitkan
tahun 1999, merupakan lanjutan pemikiran yang dirintis
5
sebelumnya. Oleh karena itu, kejernihan pola pikir ini, akan mempermudah
untuk melakukan pemetaan konsepsional dan argumentasi Giddens.
5
Membaca buku Runaway World, mengandaikan kita telah membaca buku-buku Giddens yang diterbitkan
sebelumnya, seperti Beyond Left and Right: The Future of Radical Politics (1994) dan The Third Way:
37
Ketiga, konteks perkembangan sosial-politik kontemporer, khususnya yang
menjadi kajian Giddens selama ini. Dengan memahami realitas kontemporer ini,
maka pembaca akan dapat memahami setting sosial dari kemunculannya
pemikiran-pemikiran Giddens. Konteks perkembangan sosial, perubahan sosial
dan konteks pembicaraan Giddens, merupakan bagin tak terpisahkan dari prosesi
aktualisasi dan fokus perhatian Giddens saat itu.
Berdasarkan ketiga hal tersebut, diharapkan setiap pengkaji dapat
menarik keutuhan pemikiran dan pelajaran pemikiran dari Giddens bagi pengkaji
ilmu sosial saat ini.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara umum, pemikiran yang dikemukakan oleh Giddens merupakan
sebuah pemikiran yang menarik, segar dan mencairkan kebekuan intelektual
sosial selama ini. Dalam tataran normatifnya,
obsesi Giddens adalah
memecahkan kebekuan diametralnya pemikiran ‘kiri-kanan’, melalui “Jalan
Ketiga”. Kendatipun konsep ini bukan orisinal-konsepnya, namun Giddens
mampu menempatkannya pada pokok persoalan yang baru dan aktual6.
Kemampuan Giddens dalam membaca, mengklasifikasi, merumuskan dan
mencuatkan formasi dan kecenderungan fenomena sosial ini, terbukti dengan
kemampuannya dalam merumuskan “Teori Strukturasi” atau “Jalan Ketiga”
dalam membaca trend perubahan dan perkembangan sosial saat ini.
Tanpa harus terjebak oleh adanya kemampuan Giddens dalam
mewacanakan masalah-masalah teoretik, dapat dikemukakan dalam wacana ini,
mengenai sejumlah persoalan yang masih meliputi pemikiran Giddens.
Pertama, perlu ada penjelasan dan penegasan yang lebih luas mengenai
penggunaan konsep lepas kendali (runaway world). Konsep ini, dalam tataran
konseptualnya memiliki makna ganda. Minimal kita menemukan ada dua makna
dari konsep lepas kendali. Pertama, lepas kendali karena tidak disiplinnya pemilik
kendali dalam menjalankan perjalanan sejarah. Ibarat seorang penggembala
seekor kuda liar, yang tak mampu mengendalikan keliaran “sang Kuda”.
Akibatnya, yaitu kuda tersebut lepas dari kekangan sang majikan. Sementara
pemahaman yang kedua, lepas kendali dimaknai sebagai sebuah dampak
lanjutan dari ketidakmampuan manusia dalam memprediksi perkembangan
lanjutan sejarah. Mungkin, ternak-ternak itu sudah jinak. Tapi karena sangat
banyaknya jumlah ternak, dan setiap ternak memiliki keinginan yang berbeda
maka ternah-ternak itu bergerak ke arah yang bercabang. Akibat fatalnya pun,
adalah sang majikan tidak mampu mengendalikan gerak-liar ternak yang
dilepasnya itu sendiri.
6
The Renewal of Social Democracy (1998). Dan yang tak kalah pentingnya adalah buku Giddens yang
bertajuk “The Third Way and Its Critics” (2000). Buku yang disebut terakhir merangkum kritik-kritik tajam
atas konsep Jalan Ketiga dan tanggapan Giddens atas kritik-kritik tersebut. Dalam buku itu, Giddens
menegaskan kembali apa yang ditulisnya dalam buku The Third Way dan Runaway World.
Op.cit. I. Wibowo. Kata Pengantar……….ix.
38
Jika kita mengartikan ternak itu sebagai akal manusia, atau lebih tepatnya
ideologi (pemikiran) maka hal demikian dengan menjernihkan dan menjelaskan
probelma dwimaknanya dari konsep lepas kendali tersebut. Artinya, lepas
kendali atau lepas kontrol ini, bisa disebabkan oleh adanya liberalitas ideologi
yang mengantarkan pada orientasi kehidupan manusia yang bercabang,
beranekaragam, bahkan kerap kali saling berbenturan. Konflik kepentingan
(sesaat dan sekelompok sendiri), menjadi pewarna dari liberalitas pemikiran ini.
Kasus Irak – AS dan sekutunya, konflik semenanjung Korea, merupakan bagian
konflik kepentingan yang berkelanjutan dari adanya perkembangan ideologikepentingan yang berbeda7.
Sisi lainnya yang ingin ditegaskan di sini, yaitu lepas kendali karena
ketidakmampuan manusia dalam mengontrol ‘ternaknya sendiri’. Ternak yang
kita maksudkan di sini, bisa dimaknai ilmu pengetahuan, teknologi atau sistem
nilai (ideologi) itu sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ada gejala
‘pagar makan tanaman’. Dalam kehidupan modern saat ini, manusia dikenal
sebagai pihak yang memproduk teknologi, namun pada perjalanan berikutnya
teknologi itulah yang memproduk manusia. Ingat kasus, teknologi klonning.
Fenomena ini, memancing kritikan ilmuwan terhadap dehumanisasi oleh
teknologi8.
Tampaknya, perlu diakui, bahwa munculnya sejumlah risiko (termasuk
risiko buatan), merupakan bentuk nyata dan fakta aktual bahwa pengetahuan
yang dikembangkan oleh manusia saai ini, adalah tidak utuh dan tidak
sempurna. Michael Polanyi, menyebutnya ada “segi tak terungkap ilmu
pengetahuan”9, dalam istilah postmodernist, ada bagian yang ‘tak terpikirkan’.10
Gejala seperti itulah yang menjadi (salah satu) penyebab ketidakterkendaliannya
gerak sejarah kehidupan manusia.
Kedua, tesis yang dikemukakan dalam lembaran pertama, Giddens
mengatakan “kehidupan zaman kita berkembang di bawah pengaruh ilmu,
teknologi, dan pemikiran rasional yang berasal dari abad ke –17 dan ke-18’.
Secara sederhananya, tesis pemikiran itu, tampak bersifat struktural-material.
Giddens tidak menjelaskan tentang bagaimana pengaruh ideologi terhadap
perkembangan zaman itu sendiri. Artinya, perkembangan globalisasi, kuatnya
nilai tradisi, perkembangan keluarga yang mengarah pada membudayanya
homoseks atau lunturnya lembaga perkwainan tradisional, perlu diposisikan
Penjelasan tentang kebebasan ini, dapat dilihat John Stuart Mill. On Liberty : Perihal Kebebasan. Jakarta :
YOB. 1996. Khususnya yang berkaitan antara kewenangan individu dan kewenangan masyarakat. Dalam
konteks ini, Mill dalam bab 4, menjelaskan tentang adanya kewenangan pada masyarakat untuk memaksa
tindakan individu yang tidak menepati kewajibannya dan atau undang-undang.
8 Kajian lebih lanjut, tentang hubungan teknologi dan dampak kebudayaannya dalam kehidupan manusia,
dapat dilihat YB. Mangunwijaya (ed.). Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta : YOB.1983. Jilid I
dan II. T. Jacob. Manusia, Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta : Tiara Wacana. 1988.
9 Michael Polanyi. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan (Penerjemah: Mikhael Dua). Jakarta : Gramedia,
1996.
10 Untuk mengenali masalah ini, lihat kajian Mohamad Arkoun. Membongkar Wacana Hegemoni. Surabaya
: al-Fikr. 1999.
7
39
sebagai salah satu gejala penguatan sebuah “ideologi” atau kepentingan lainnya
(selain perkembangan Iptek dan rasionalitas manusia). Gejala-gejala tersebut,
dapat dikonfirmasi pada sejarah. Misalnya saja, penjelajahan dunia, awalnya
dipengaruhi kepentingan ekonomi. Bahkan, globalisasi pun, memiliki fungsi laten
sebagai perluasan pasar oleh negara maju. Oleh karena itu, globalisasi, perlu
pula diposisikan sebagai produk dari kepentingan ekonomi negara maju. Dengan
kata lain, dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan,
teknologi dan pikiran rasional manusia, hanyalah alat bantu dalam
mengembangkan kepentingan ekonomi (ideologi kapitalisme) manusia.
Ketiga, nilai kejujuran Giddens dalam
mengemukakan kesadaran
historisnya, khususnya ketika dia menyatakan, “kita tidak akan pernah dapat
menjadi tuan atas sejarah kita sendiri, tetapi kita dapat dan harus menemukan
cara untuk mengendalikan dunia kita yang tengah lepas kendali”11. Jika yang
dimaksudkan dengan kata “kita” itu adalah kita semua, sebagaimana yang
dikemukakannya pada halaman 23, maka konsekuensinya yaitu perlu melakukan
pencarian tentang ‘oknum’ potensial yang dapat mengambil posisi sebagai salah
satu teman-tuan dalam sejarah ini. Apakah hal ini adalah ketidakpastian? risiko
alam? atau unsur lain?
Pernyataan ini, memberikan adanya sejumlah implikasi praktis dan teoretis.
Pertama, Giddens seolah-olah mengatakan bahwa penyelesaian masalah dunia
ini perlu dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen dunia. Kedua, yang lebih
substansial dari yang pertama, adalah dapat dimaknai ‘pendekatan kita’. Jika
analisis mengenai tradisi dalam buku ini, dijadikan contoh kasus, maka dapat
dengan jelas, dikemukakan bahwa pendekatan kita (modernisme), tidak dapat
menyelesaikan kehidupan dunia. Dengan kata lain, pendekatan ‘selain kita’
(maksudnya yaitu pendekatan tradisi) harus pula dijadikan sebagai bagian dari
warna pendekatan dalam menyelesaikan masalah kehidupan ini. Hal demikian,
layaknya pendekatan kanan, tidak bisa mengurus dunia tanpa adanya warna
pendekatan kiri. Pada kesadaran terakhir inilah, yang dapat kita baca dari
kekritisannya Giddens terhadap pusara sosialisme dan kapitalisme12.
Keempat, konsep risiko, khususnya risiko buatan. Giddens dengan jeli
dapat melihat adanya risiko yang bersifat buatan (manufactured risk). Pikiran ini,
dapat membantu dalam memberikan penyadaran dan pencerahan bagi manusia
modern saat ini. Pemahaman terhadap konsep risiko buatan ini, tampaknya
perlu dipertegas, dan bahkan perlu diklasifikasi ulang ke dalam dua bentuk risiko
buatan. Satu sisi, risiko buatan yang disadari, dan sisi lainnya risiko buatan yang
tidak disadari. Hal ini penting untuk memperjelas posisi dan kesadaran kita
semua.
Risiko buatan yang disadari, lebih banyak ditentukan oleh dominannya
kepentingan sesaat manusia. Dominasi kepentingan manusia ini, di satu sisi,
11
12
ibid. Giddens. Run…halaman xvii.
Anthony Giddens. Beyond Left and Rigth : Tarian “Ideologi Alternatif” di atas Pusara Sosialisme dan
Kapitalisme” (Penerjemah: Imam Khoiri. Yogyakarta : IRCiSoD.2003.
40
dilandasi oleh keyakinan dirinya untuk mampu mengontrol dan memelihara
ulang hasil tindakannya. Pada sisi yang lainnya, yaitu adanya kepentingan sesaat
dari kelompok manusia itu sendiri. Kasus penggunaan senjata massal atau
penghancur, adalah contoh nyata dalam masalah ini. AS dan sekutunya, dengan
begitu yakin mampu merekonstruksi Irak pascaperang. Dengan optimisme
terhadap kemampuan teknologi dan ekonomi yang dimilikinya, AS dan
Sekutunya meyakini bahwa risiko buatannya di Irak (kerusakan sumber ekonomi,
lingkungan, dan mental rakyat Irak) dapat diatasi. Kendatipun hasilnya belum
dapat dilihat, namun gejala atau mental seperti itu, menjadi salah satu
fenomena empirik dalam melahirkan risiko-risiko buatan yang disadari dalam
kehidupan ini.
Kasus yang kedua, adalah risiko buatan yang tidak disadari. Konsep ini,
mungkin tidak masuk dalam kategori konsep risiko dari Giddens. Namun, kita
dapat melihatnya sebagai sebuah ‘ketidaklengkapan’ analisis manusia terhadap
risiko yang dirumuskannya sendiri. Dengan kata lain, awal mulanya -mungkin
dianggap sebagai- sebuah risiko yang direkayasa, namun ternyata melahirkan
efek yang tidak terkendali. Upaya manusia memodernisasi pola hidup,
telahmelahirkan konsep dan tata nilai yang baru, misalnya saja konsep
rasionalisasi dan birokrasi Weberian. Namun, ternyata proyek modernisasi ini,
melahirkan kerangkeng besi bagi kemanusiaan itu sendiri.
Fenomena
McDonaldisasi, melahirkan rasionalisasi yang irrasional, yang ujung-unjungnya
terjadi proses dehumanisasi13. Gejala ini, dalam pandangan kita dapat
dikategorikan sebagai ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan dampak
lanjutan atau jangka panjang (sequensial), karena ketidaklengkapan (atau
mungkin ketidakmampuan) analisis-perencanaan manusia dalam melakukan
proyek modernisasi.
Kelima, Giddens mengatakan bahwa tradisi tidaklah hilang dalam
masyarakat post-tradisional sekarang ini. Tentulah itu jelas bagi semua orang
ketika melihat misalnya, agama-agama tidaklah lenyap sekarang ini seperti
diperkirakan oleh Marx dan orang-orang yang getol dalam membela lahirnya dan
berlangsungnya Aufklarung. Menurut Giddens, tidak mungkin kita hidup dalam
suatu dunia yang sama sekali tidak ada unsur-unsur sakralnya lagi yang biasanya
diperjuangkan oleh kaum fundamentalis. “Can we live in a world where nothing is
sacred? I have to say, in conclusion, that I don’t think we can”, tegas Giddens.
Masalahnya adalah dalam setiap tradisi yang masih dipegang dan dipelihara oleh
orang-orang di era post-tradisional ini, katakanlah dalam agama, siapa yang
menentukan tardisi itu? Dalam agama, Giddens akan menjawab, penentu tradisi
adalah para guardians. Siapa para guardians itu dalam agama? Dalam agama
Kristen, mereka adalah para pendeta dan pastor. Dalam Islam, para uztad dan
kyai
13
Lihat. George Ritzer. Ketika Kapitalisme Berjingkrak : Telaah Kritis Terhadap Gelombang McDonaldisasi.
(Penerjemah: Solichin dan Didik P. Yuwono). Yogyarakarta : 2002.
41
Sebenarnya kami sepakat saja dengan Giddens yang melihat bahwa tradisi,
dalam hal ini agama, masih penting dalam kehidupan orang-orang sekarang.
Yang membuat kami agak gerah dengan tardisi yang bernama agama itu adalah
ketika di dalamnya tidak ada ruang yang memadai, katakanlah, bagi para
perempuan misalnya. Apakah itu dalam agama Islam atau Kristen, situasinya
kurang lebih sama. Memang agama adalah tradisi, great tradition, yang bagi
Giddens, tafsir dan ajaran-ajarannya bergantung pada guardians. Apakah karena
sentralnya peran guardians yang didominasi laki-laki dalam tradisi sehingga sulit
bagi agama untuk mempersilakan seorang perempuan menjadi pemimpin
agama? Menurut kami, dalam konteks agama, mesti ada ruang untuk
diperbaharui unsur-unsur yang melekat dalam tradisi itu. Ada ruang untuk
memperbaharui, terutama dalam peran guardians dan formulaic truth-nya.
Giddens, sejauh yang kami lihat saat menyinggung agama sebagai great tradition
tidak melihat sisi siapa yang dirugikan dan diuntungkan dalam pelestarian tradisi
itu. Sekali lagi, bagi kami, harus ada ruang pembaharuan dalam great tradition
ini. Masalanya, relakah para pewaris penjaga tradisi ini –para guardians- untuk
memberi ruang bagi yang lain? Kami kira, agama tidak akan kehilangan
“ketradisiannya” dan agama tidak akan lenyap hanya karena perempuan
mendapat ruang partisipasi yang sama dengan laki-laki. Agama akan tetap
menjadi tradisi yang dipegang oleh banyak orang. Menurut kami, agama akan
kelihatan lebih manusiawi kalau peran guardians-nya dapat diperluas, tidak
hanya di tangan orang-orang tertentu saja, apalagi hanya di tangan laki-laki,
tetapi juga di tangan para perempuan.
Keenam, perkembangan zaman ini telah melahirkan adanya pencairan
kekuatan lembaga-lembaga sosial yang tradisional, termasuk lunturnya lembaga
keluarga. Keluarga, dalam pandangan Giddens, yang relevan untuk saat ini,
adalah keluarga yang demokratis. Namun, demikian, dengan mengizinkannya
homoseksual atau kelompok gay, pembaca akan dibawa ke daerah ‘hilangnya’
definisi keluarga. Mungkin benar, hal demikian termasuk masalah yang sangat
pribadi dan pusat emosi kita, sebagaimana dikemukakan oleh Giddens14.
Dalam konteks kajian ini, dapat kita buat sebuah sketsa perbandingan
bentuk keluarga yang ada saat ini15.
14
15
Op.cit. Giddens. Run….hlm. 49. Juga, Giddens. Jalan Ketiga…… hlm. 102-113.
Bentuk-bentuk keluarga di jaman sekarang, istilah Alvin Tofler (gelombang ketiga), sangat banyak dan
beranekaragam. Dalam kajian ini, kita mengambil contoh sebagian saja. Untuk lebih lanjut, dapat dikaji
Alvin Toffler. Gelombang Ketiga (Bagian Kedua). Penerjemah. Sri Koesdiyantinah. Jakarta : Panca
Simpati. 1990. Bab. XVII.
42
Tabel 1
Perbandingan Karakter Bentuk Keluarga
No.
Indikator
Keluarga
Tradisional
Kumpul
Kebo
Homoseks
Persahabatan
Pelacuran
1.
Hubungan seks
Ada
Ada
SemuTidak Ada
Tidak Ada
Ada
Ada
Ada-Kr
Ada
Semu- Ada
Tidak ada
Ada (Kr)
Ada
Ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak
ada
Ada
Ada
Semu Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Tidak ada
Ada –
tidak ada
Tidak ada
2.
3.
4.
5.
6.
Tanggungjawab
ekonomi
Hubungan
emosi
Kerja sama
Perlindungan
hukum
Reproduksi
Ada
Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Diolah : penulis. 2002
Dengan asumsi, pemikiran Giddens ini kita dukung maka kelompok
homoseksual itu akan memiliki karakter adanya rasa tanggung jawab, hubungan
atau komunikasi emosi dan kerjasama antar pelaku. Namun, hubungan “seks
primordial” tidak ada, dan keberlanjutan keturunan pun menjadi tidak jelas.
Kemudian, untuk perlindungan hukum terhadap para pelaku, masih bisa
diusahakan, karena hukum (khususnya hukum positif) sangat bersifat kontrak
dan konstruk sosial.. Sementara dalam keluarga tradisional, unsur yang disusun
itu akan muncul di dalam kehidupan sehari-harinya. Walaupun, nilai hubungan
murni atau komunikasi emosi menjadi titik kritikan Giddens. Namun demikian,
melalui pendidikan dan internalisasi nilai, maka kualitas hubungan murni ini
dapat dibangun dalam sistem keluarga tradisional.
Ketujuh, konsep demokratisasi atas demokrasi, adalah sebuah konsep yang
bersifat kontradiktif dalam konsep. Secara akademik, ketegasan akademik dan
analisis ini perlu dikedepankan.
Untuk memahami masalah ini, ada dua pendekatan dasar yang perlu
dikembangkan. Pertama, jika diasumsikan ada nilai standar demokrasi yang
normatif dan universal. Dengan memiliki acuan atau panduan ini maka sebuah
tatanan sosial-politik yang tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi, dapat
dikatakan tidak demokratis. Kondisi itulah yang telah melahirkan sikap kritisnya,
John Markoff dengan mengemukakan konsep demokrasi pura-pura (pseudo
democracy), dan semi-demokrasi16.
Sudut
pandang yang kedua, yaitu adanya pluralitas demokrasi17.
Kesadaran ini, pada dasarnya dikemukakan pula oleh Giddens, dengan
pernyataan bahwa perkembangan demokrasi di dunia ini berkembang sangat
16
17
John Markoff. Gelombang Demokrasi Dunia : Gerakan Sosial dan Perubahan Politik . Penerjemah: Ari
Setyaningrum. Yogyakarta : 2002.
Konsep mengenai demokrasi pluralis ini, menjadi salah satu perhatian intensif Robert Dahl. Misalnya,
lihat A Preface To Democracy Theory. The Universitty of Chicago Press. 1956. Dalam bukunya ini, Dahl
mengajukan konsep polyarchy, sebagai wacana „identitas‟ demokrasi saat ini.
43
beragam. Demokrasi di Inggeris, berbeda dari Amerika Serikat18. Bahkan, bisa
jadi ada demokrasi-demokrasi berkarakter lainnya lagi.
Dengan pemikiran seperti ini maka perlu adanya penegasan ke arah mana
gerakan demokratisasi ini dikembangkan. Dan bila hal demikian tidak ada
penjelasannya maka gerakan demokratisasi atas demokrasi Giddens hanya akan
menjadi ‘retorika’ belaka. Demokrasi dialogis (berbeda dengan Fukuyama yang
memandang demokrasi liberal sebagai pemenang perjalanan sejarah manusia),
sebagaimana dikemukakan oleh Giddens, belum mampu menjelaskan arah
normatif mana yang akan dijadikan acuan.
Kasus aktual di awal millenium III ini, adalah adanya standar ganda dari si
pemilik ‘demokrasi’. AS dan Sekutunya, memandang Irak sebagai sebuah negara
yang tidak demokratis. Sementara itu, kejadian pelanggaran hak asasi manusia
yang terjadi di Israel, miskin kritik sebagai sebuah pelanggaran HAM. AS, kerap
memposisikan diri sebagai polisi kedemokrasian negara-negara dunia. Inilah,
problema ketidakjelasan arah demokratisasi yang diajukan Giddens.
Problem dan kajian kritis terhadap pemikiran Giddens, perlu mendapat
respons dari semua pihak, minimal dalam level kajian akademik. Kegagalan
praktik demokratisasi di berbagai negara, bisa melahirkan sebuah pertanyaan,
apakah demokrasi itu perlu diperbaiki, atau justru dirumuskannya sistem politik
yang baru (selain demokrasi) ? adakah jalan ketiga yang lain (kalau mungin Jalan
Keempat ?), sebagai pemecahan masalah terhadap dilematika masalah ini ?
hilangnya lembaga-lembaga sosial kulit luar, dapatkah kita menemukan rumusan
lembaga baru, atau perlunya melakukan tradisionalisasi terhadap nilai tradisi,
layaknya demokratisasi atas demokrasi ?
V. SIMPULAN KAJIAN
Berdasarkan kajian ini maka dapat disimpulkan dalam dua poin. Pertama,
sumbangan pemikiran Giddens dalam mengembangkan ilmu sosial sudah
tampak dalam upayanya untuk mengembangan nilai teoretik ilmu sosial dan
analisis sosial. Kedua, Giddens mengajak masyarakat manusia untuk melakukan
kajian ulang, atau mungkin reinterpretasi, rekritik dan reorientasi terhadap
sejumlah kesadaran masyarakat manusia saat ini. Konsep kanan-kiri, globalisasi,
tradisi-modern, dan juga konsep-konsep lainnya, telah bergeser atau mungkin
mencair, seiring dengan arus perkembangan jaman. Oleh karena itu, perlu
adanya gerakan baru dalam memahami gelombang perubahan jaman ini..
Kendatipun demikian, untuk penajaman ide dan pemikirannya, analisisanalisisnya perlu mendapat perhatian yang lebih saksama
dari setiap
pengkajinya itu sendiri. Sebab, buku-buku Giddens, termasuk Runaway World,
memang sarat dengan rumusan yang secara normatif sangat baik, indah, dan
mulia, tapi secara praktis agak sulit dipraktikkan.
--o0o—
18
Op. cit. Giddens. Run… Hlm. 68.
44
DAFTAR RUJUKAN
Arkoun, Mohammad. 1999. Membongkar Wacana Hegemoni.
Djauhari, dkk. Surabaya : al-Fikr.
Penerjemah
Dahl, Robert. 1956..A Preface To Democracy Theory. The Universitty of Chicago
Press.
Giddens, Anthony. 2003. The Constitution of Society : Teori Strukturasi Untuk
Analisis Sosial. Penerjemah Adi Loka Sujono. Yogyakarta : Pedati.
------------. 1993. The Consequences of Modernity. Stanford, CA: Stanford
University Press. Edisi Bahasa Indonesia, berjudul “Tumbal Modernitas :
Ambruknya pilar-pilar Keimanan”, Penerjemah : Muhammad Yamin.
Yogyakarta : Ircisod. 2001.
------------.1994. Beyond Left and Right: The Future of Radical Politics . Edisi
Bahasa Indonesia, berjudul “Beyond Left and Rigth : Tarian “Ideologi
Alternatif” di Atas Pusara Sosialisme dan Kapitalisme”. Penerjemah :
Imam Khoiri. Yogykarta : Ircisod. 2003.
------------.1998. The Third Way: The Renewal of Social Democracy. Edisi Bahasa
Indonesia, berjudul “The Third Way : Jalan Ketiga Pembaharuan
Demokrasii Sosial”. Penerjemah : Ketut Arya Mahardika. Cetakan keempat : 2002.
------------.2002. “The Third Way and Its Critics”.
Jacob, T. 1988. Manusia, Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta : Tiara Wacana.
Mangunwijaya, YB. (ed.). 1983. Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta :
YOB. Jilid I dan II.
Markoff, John. 2002. Gelombang Demokrasi Dunia : Gerakan Sosial dan
Perubahan Politik..Penerjemah : Ari Setyaningrum. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Mill, John Stuart. 1996. On Liberty : Perihal Kebebasan. Penerjemah Alex Lanur.
Jakarta : YOB.
Polanyi. Michael. 1996. Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan.Penerjemah :
Mikhael Dua). Jakarta : Gramedia.
45
Ritzer, George. 2002. Ketika Kapitalisme Berjingkrak : Telaah Kritis Terhadap
Gelombang McDonaldisasi. Penerjemah : Solichin dan Didik P. Yuwono.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Toffler, Alvin . 1990. Gelombang Ketiga (Bagian Kedua).
Koesdiyantinah. Jakarta : Panca Simpati. Bab. XVII.
Penerjemah. Sri
Wibowo, I. 2002. “Kata Pengantar” dalam Anthony Giddens. The Third Way :
Jalan Ketiga. Pembaharuan Demokrasi Sosial.
46
Download