Uploaded by User81419

11-Article Text-30-1-10-20191108

advertisement
Implementasi Hukum Islam
dan Pengaruhnya Terhadap Politik Hukum Indonesia
The Implementation of Islamic Law and Its Influence on Indonesian Legal
Politics
Ahmad Suganda
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh
Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia
[email protected]
Abstrak
Kajian implementasi hukum Islam dan pengaruhnya terhadap hukum di Indonesia
dapat dijadikan sebagai acuan dalam strategi harmonisasi antara hukum Islam dan
hukum positif. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan pengimplementasian
hukum Islam dan menganalisis pengaruhnya terhadap hukum di Indonesia. Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data didapatkan dari
beberapa sumber literatur terpercaya yang memperkuat hasil anaslisis. Adapun teknik
analisis yang digunakan adalah analisis induktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa
implementasi hukum Islam di Indonesia menyesuaikan dengan sistem hukum yang
berlaku yang berlandaskan kepada ideologi dan konstitusional negara yaitu UUD
1945 dan Pancasila. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hukum Islam
memiliki peluang besar untuk diimplementasikan terhadap politik hukum di Indonesia
secara gradual sehingga terpolarisasi dalam pembentukan sistem hukum yang berlaku
di Indonesia.
Kata kunci: Hukum Islam, Politik Hukum dan Sistem Hukum yang Berlaku
Abstract
The research of implementation of Islamic law and it’s influence on law in Indonesia
can be use as a reference in the harmonization strategy between Islamic law and
positive law. This research aims to describe the implementation of Islamic law and
analyze it’s influence on law in Indonesia. This research used a qualitative approach
with descriptive method. Data obtained from reliable literature sources which
confirmed the results of analysis. The analysis technique used inductive analysis. The
research found that the implementation of Islamic law in Indonesia adjusts to the
prevailing legal system based on the state ideology and constitution namely the 1945
Constitution and Pancasila. Based on the result of reseach can be concluded that
Islamic law has a great opportunity to implement in the politics of law in Indonesia
gradually so it is polarized in the formation of the legal system in Indonesia.
Keywords: Islamic Law, Political Law and the Applicable Legal System
Jurnal at-Tadbir Vol. 29 No. 02 Juli 2019
1
Implementasi Hukum Islam dan Pengaruhnya
Terhadap Politik Hukum Indonesia
(Ahmad Suganda)
ISSN: 1858-2125
Proses sejarah hukum Islam
I. PENDAHULUAN
Umat Islam Indonesia dalam
yang diwarnai “benturan” dengan
kancah dunia internasional, dapat
tradisi yang sebelumnya berlaku
dikatakan
komunitas
dan dengan kebijakan-kebijakan
muslim paling besar yang berada
politik kenegaraan, serta tindakan-
dalam
sebagai
satu
kenegaraan
batas
teritorial
tindakan yang diambil oleh para
yang
sangat
tokoh Islam Indonesia terdahulu,
keberadaannya.
dapat menjadi bahan telaah penting
diperhitungkan
Oleh karena itu, menjadi sangat
di
menarik
menganalis
Pengaruh itu menunjukkan bahwa
pengaruh
proses islamisasi sebuah upaya
untuk
implementasi
dan
perkembangan
sejarah
hukum
masa
yang
yang
akan
datang.
sungguh-sungguh secara
Islam di tengah-tengah komunitas
bertahap
Islam terhadap penerapan hukum
norma-norma syari’at Islam dapat
Islam di tanah air mulai sejak
mewarnai perundang-undangan di
komunitas
Indonesia, karena hukum Islam
Indonesia.
muslim
Kajian
hadir
di
tentang
implementasi dan pengaruh hukum
Islam di Indonesia dapat dijadikan
(tadarruj),
merupakan
salah
sehingga
satu
dasar
pembentukan hukum positif.
Adapun
hukum
yang
dimaksud
sebagai salah satu pijakan bagi
dengan
Islam
adalah
umat Islam secara khusus untuk
“upaya fuqaha dalam menerapkan
menentukan strategi yang tepat di
syari’at Islam sesuai kebutuhan
masa depan dalam mendekatkan
masyarakat”
dan “mengakrabkan” bangsa ini
1993). Sedangkan Politik Hukum
dengan hukum Islam.
Islam adalah “perluasan peran
(Ash-Shiddiqy,
Jurnal at-Tadbir Vol. 29 No. 02 Juli 2019
2
penguasa
untuk
merealisasikan
berkaitan dengan masalah-masalah
kemaslahatan manusia sepanjang
sipil-sosial dan mengembangkan
hal-hal tersebut tidak bertentangan
pendekatan-pendekatan
dengan
agama”
dasar-dasar
pemecahan
terhadap
masalah-masalah
(Khallaf, 2005). Dengan demikian
tersebut;
dapat dikatakan bahwa politik
berkaitan
hukum Islam merupakan pilihan
antara
tentang hukum-hukum yang akan
kelompok-kelompok
diberlakukan dan sekaligus pilihan
lainnya, yang berhubungan dengan
tentang hukum-hukum yang akan
perkara
penggunaan
kekuasaan
dicabut atau tidak diberlakukan
negara.
Berikutnya
Wahyono
yang kesemuanya ini dimaksudkan
(1986)
untuk mencapai tujuan negara
kebijakan dasar yang menentukan,
seperti
dalam
arah, bentuk maupun isi hukum
pembukaan UUD 1945 (Mahfud
yang akan dibentuk, dijelaskan
MD, 2010).
lebih lanjut bahwa politik hukum
yang tercantum
Menurut
Isjwara
(d)
Aktivitas
dengan
yang
relasi-relasi
bangsa-bangsa
dan
social
mengemukakan
bahwa
(1964)
adalah kebijakan penyelenggara
“politik” mengandung beberapa
negara tentang apa yang dijadikan
pengertian di antaranya: (a) Apa
kriteria
untuk
yang
dengan
sesuatu
yang
Perkara
mencakup
berhubungan
pemerintahan;
mengelola,
(b)
mengarahkan
dan
menyelenggarakan kebijaksanaan
umum dan keputusan-keputusan
atau
kebijaksanaan
menyangkut
berperan
di
dalamnya
perumusan,
pembentukan,
penetapan
dan
penegakan hukum.
Dari
beberapa
pengertian
yang
tersebut dapat disimpulkan bahwa
yang
yang dimaksud dengan politik
kehidupan
hukum Indonesia disini adalah
partai-partai
dalam
menghukumkan
bernegara; (c). Bidang studi yang
kebijakan
dasar
penyelenggara
negara (Republik Indonesia) dalam
tersebut, penulis menyoroti tujuan
bidang hukum yang akan, sedang
politik hukum Islam dan kebijakan
dan telah berlaku yang bersumber
dasar tentang konsep dan letak
dari nilai-nilai yang berlaku dalam
politik
masyarakat untuk mencapai tujuan
diwarnai
negara yang dicita-citakan. Dalam
syari’at Islam.
pengertian ini ada 5 (lima) hal yang
II. METODE PENELITIAN
dititikberatkan
sebagai
hukum
agenda
nasional
oleh
yang
norma-norma
Di dalam penelitian ini,
dalam politik hukum Indonesia
penulis
yaitu,(1) Tujuan politik hukum
deskriptif analisis yaitu metode
nasional, (2) Kebijakan dasar yang
yang memberikan gambaran umum
meliputi konsep dan letak, (3)
dan analisis tentang implementasi
Penyelenggara
hukum Islam dan pengaruhnya
negara
sebagai
menggunakan
metode
pembentuk konsep dasar tersebut,
terhadap
pembentukan
hukum
(4) Materi hukum yang meliputi
nasional.
penelitian
ini
hukum yang akan, sedang dan telah
menggunakan
berlaku
Tuhan yaitu teori syahadat, atau
serta,
(5)
Proses
pembentukan hukum.
teori
kredo
teori
ialah
kedaulatan
teori
yang
Jadi dalam politik hukum
mengharuskan pelaksaan hukum
Indonesia kelima unsur di atas
Islam oleh mereka yang telah
merupakan agenda yang dijadikan
mengucapkaan
pedoman dasar bagi segala bentuk
syahadat
dan
perumusan,
logis dari pengucapan kredonya
pembentukan dan pengembangan
(Cahyadi & Manullang, 2007).
hukum
Data didapatkan dari beberapa
proses
di
dirumuskan
tanah
dalam
air
yang
peraturan
sumber
dua
sebagai
literature
kalimat
konsekwensi
terpercaya,
perundang-undangan yang bersifat
sehingga
memperkuat
hasil
mendasar. Sehubungan dengan hal
anaslisis. Adapun teknik analisis
yang digunakan adalah analisis
membentuk
induktif
pertama di Peureulak, Aceh Timur,
yaitu
pencarian
hasil
masyarakat
penelitian yang didasarkan pada
dan
data-data yang diperoleh, sehingga
daerah lainnya di sekitar wilayah
pada
akhirnya
berkembang
ke
Islam
beberapa
dapat
ditarik
tersebut kemudian diikuti dengan
menjadi
hasil
berdirinya kerajaan Islam pertama
penelitian dalam bentuk teori,
di tanah air pada abad 13, yang
konsep dan sebagainya.
dikenal dengan nama Kerajaan
kesimpulan
III. HASIL
DAN
Samudera Pasai yang terletak di
wilayah Aceh Utara (Ali, 2013).
PEMBAHASAN
Pengaruh Islam yang begitu
A. Perkembangan Hukum Islam
cepat menyebar hingga ke berbagai
di Indonesia
Perkembangan Hukum Islam
wilayah
nusantara
yang
di Indonesia mengalami beberapa
menyebabkan beberapa kerajaan
fase, yaitu:
Islam berdiri menyusul berdirinya
a. Islam di Masa Pra Penjajahan
Kerajaan Samudera Pasai di Aceh,
Belanda
tidak
Menurut
sebagian
jauh
dari
Aceh
berdiri
ahli
Kesultanan Malaka, lalu di Pulau
sejarah awal mulai masuknya Islam
Jawa berdiri Kesultanan Demak,
di Nusantara pada abad pertama
Mataram dan Cirebon, kemudian
hijriyah, atau pada sekitar abad
berkembang
ketujuh dan kedelapan masehi, dan
Nusantara seperti di Sulawesi dan
sebagai gerbang masuknya, adalah
Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan
melalui
Kesultanan Ternate dan Tidore.
kawasan
utara
Pulau
Sumatera yang kemudian dijadikan
ke
bagian
timur
Kesultanan tercatat dalam
sebagai titik awal gerakan dakwah
sejarah
ini
mulai
menetapkan
para pendatang muslim. Secara
hukum Islam sebagai hukum positif
bertahap gerakan dakwah mulai
yang berlaku, dengan penetapan
hukum Islam sebagai hukum positif
b. Atas
dasar
nota
yang
di setiap kesultanan tersebut, maka
disampaikan oleh Mr. Scholten
sudah tentu akan memperkuat
Van Oud Haarlem, Pemerintah
pengamalannya tentang hukum dan
Belanda
syariat Islam yang memang telah
penggunaan
berkembang di masyarakat muslim
agama, lembaga-lembaga dan
masa itu. Fakta-fakta ini dibuktikan
kebiasaan pribumi dalam hal
dengan adanya literatur-literatur
persengketaan yang terjadi di
fiqh yang ditulis oleh para ulama
antara mereka, selama tidak
nusantara pada sekitar abad 16 dan
bertentangan
17. Kondisi ini terus berlangsung
kepatutan dan keadilan yang
hingga para pedagang Belanda
diakui umum. Klausul terakhir
datang ke kawasan nusantara.
ini
2. Hukum Islam Masa Penjajahan
hukum
Belanda
subordinasi
Pemberlakuan hukum Islam
oleh Pemerintah Hindia Belanda
dapat
disimpulkan,
secara
menginstruksikan
undang-undang
dengan
kemudian
asas
menempatkan
Islam
di
dari
bawah
hukum
Belanda.
c. Atas dasar teori receptie yang
dikeluarkan
oleh
Snouck
kronologis sebagai berikut:
Hurgronje, Pemerintah Hindia
a. Pada pertengahan abad 19,
Belanda
Pemerintah
Hindia
Belanda
pada
tahun
1922
kemudian membentuk komisi
melaksanakan Politik Hukum
untuk
yang sadar, yaitu kebijakan yang
wewenang pengadilan agama di
secara
menata
Jawa dalam memeriksa kasus-
mengubah
kasus kewarisan (dengan alasan,
kehidupan hukum di Indonesia
ia belum diterima oleh hukum
dengan hukum Belanda.
adat setempat).
kembali
sadar
dan
ingin
meninjau
ulang
d. Pada tahun 1925, dilakukan
agama
mayoritas
penduduk
perubahan terhadap Pasal 134
pulau Jawa.
ayat 2 Indische Staatsregeling
b. Mendirikan
(yang isinya sama dengan Pasal
(Kantor
78 Regerringsreglement), yang
Islam) yang dipimpin oleh
intinya perkara perdata sesama
bangsa Indonesia sendiri.
muslim
akan
diselesaikan
Shumubu
Urusan
c. Mengizinkan
Agama
berdirinya
dengan hakim agama Islam jika
ormas
hal itu telah diterima oleh
Muhammadiyah dan NU.
hukum adat dan selama tidak
Islam,
seperti
d. Menyetujui berdirinya Majelis
ditentukan lain oleh sesuatu
Syura
ordonasi (Ali, 2013).
(Masyumi) pada bulan Oktober
Lemahnya
posisi
hukum
Islam ini terus terjadi hingga
menjelang berakhirnya kekuasaan
Hindia
Belanda
di
wilayah
Muslimin
Indonesia
1943. Yang pada akhirnya saat
itu menjadi Partai Politik.
e. Menyetujui
Hizbullah
berdirinya
sebagai
pasukan
Indonesia pada tahun 1942.
cadangan yang mendampingi
3. Hukum Islam Masa Pendudukan
berdirinya
Jepang
PETA
(Pembela Tanah Air) (Wibawa,
Pemerintah
Jepang
tentara
Pendudukan
tetap
berbagai
melakukan
kebijakan
untuk
2001).
f. Berupaya memenuhi desakan
para
tokoh
Islam
menarik simpati umat Islam di
mengembalikan
Indonesia, di antaranya adalah:
Pengadilan
a. Panglima
Militer
untuk
kewenangan
Agama
dengan
Jepang
meminta seorang ahli hukum
berjanji untuk melindungi dan
adat, Soepomo, pada bulan
memajukan
Januari
Islam
sebagai
1944
untuk
menyampaikan laporan tentang
hal
itu. Namun upaya
ini
Ketika pasukan Jepang datang,
kemudian “dimentahkan” oleh
mereka menyadari bahwa Islam
Soepomo
adalah suatu kekuatan di Indonesia
dengan
alasan
kompleksitas dan menundanya
yang dapat dimanfaatkan.
hingga Indonesia merdeka (Ali,
4. Era Demokrasi Parlementer
2013).
(1945-1959) dan Politik Hukum
Atas situasi pada saat yang
demikian,
nyaris
tidak
perubahan
berarti
hukum
Islam
Indonesia
ada
Di dalam membangun sistem
bagi
posisi
hukum nasional pemerintah telah
selama
masa
menetapkan
kebijakan
untuk
pendudukan Jepang di tanah air.
memanfaatkan tiga sistem hukum
Namun bagaimanapun juga, masa
yang hidup eksis (living law) dan
pendudukan Jepang masih lebih
berkembang di Indonesia sebagai
baik dari pada Hindia Belanda
bahan bakunya yaitu, (1) Hukum
terutama
adanya
Adat, (2) Hukum Islam dan (3)
para
Hukum Barat (Belanda), dalam
pemimpin Islam dalam mengatur
masa colonial ketiga sistem hukum
masalah-masalah
keagamaan.
ini mulai berlaku di Indonesia pada
Tjokrosujoso
waktu yang berlainan. Hukum adat
dari
pengalaman
sisi
baru
Abikusno
menyatakan
bagi
kebijakan
sudah lama ada dan berlaku di
telah
Indonesia walaupun baru dikenal
memperlemah posisi Islam. Islam
sebagai sistem hukum pada abad
tidak memiliki para pegawai di
ke-20. Hukum Islam telah ada di
bidang agama yang terlatih di
Kepulauan Indonesia sejak orang
masjid-masjid
pengadilan-
Islam datang dan bermukim di
Belanda
Nusantara sejak abad pertama
politik
Hijriah atau pada abad ketujuh/
pemerintah
bahwa,
Belanda
atau
pengadilan
Islam.
menjalankan
kebijakan
yang memperlemah posisi Islam.
kedelapan.
Pendapat
lain
mengemukakan Islam datang di
perspektif epistemologi kita belum
Nusantara pada abad ke-13 (Ali,
memiliki apa yang disebut sebagai
2013).
“Ilmu
Daerah
yang
pertama
hukum
nasional”
didatangi adalah pesisir Utara
“teorisasi
Sumatera
(Rahardjo, 1988), padahal kita
dengan
masyarakat
membentuk
Islam
pertama
di
sangat
hukum
atau
Indonesia”
memerlukannya
sebagai
Peureulak Aceh Utara dan Samudra
dasar untuk merumuskan sistem
Pasai. Kemudian Hukum Barat
hukum
mulai
dengan
diperkenalkan
sejak
nasional
yang
sesuai
karakteristik
bangsa
datangnya VOC. Tahun 1602 mula-
Indonesia karena tidak mungkin
mula diberlakukan terhadap orang-
selamanya kita menggunakan teori-
orang Belanda dan Eropa saja tetapi
teori hukum dari Barat. Dari
dengan berbagai peraturan dan
penjelasan ini ternyata kita belum
upaya dinyatakan berlaku bagi
memiliki sistem hukum nasional
orang-orang Asia dan termasuk
yang representatif. Namun bukan
penduduk pribumi di Nusantara.
berarti idealitas tentang sistem
Menurut Analisis Bustanul
hukum nasional yang dikehendaki
Arifin walaupun Hindia Belanda
tidak
telah
pemerintah
hengkang
dari
bumi
diupayakan,
dan
pihak
kampus
telah
Nusantara tetap saja suasana ketiga
mengadakan beberapa pertemuan
sistem hukum ini konflik, karena
ilmiah
masih
nasional dan lokal yang dihadiri
ada
para
ahli
hukum
mempertentangkan ketiganya dan
mengunggulkan salah satu dari
dan
seminar
berskala
oleh para ahli hukum
Dalam
hal
ini
yang lain. Hal ini tentu tidak baik
mendukung
bagi proses pembangunan sistem
Indonesia sebagaimana tersebut di
hukum
atas (Sidharta, 2000) mengusulkan
citakan.
nasional
yang
Disamping
itu
dicitapula
bahwa
kehendak
untuk
sistem/tatanan
bangsa
hukum
nasional harus memuat ciri-ciri
Yogyakarta
sebagai berikut:
dengan judul “Identitas Hukum
a. Berwawasan kebangsaan dan
Nasional”
nusantara
hukum
b. Mampu
yang
merekomendasikan
Nasional
mengakomodir
dibangun adalah:
kesadaran hukum kelompok,
a. Berlandaskan
etnis kedaerahan dan keyakinan
(filosofis)
keagamaan
(konstitusional).
c. Sejauh
mungkin
berbentuk
tertulis dan terunifikasi
d. Bersifat
dibukukan
yang sedang
Pancasila
dan
b. Berfungsi
UUD
1945
mengayomi,
menciptakan ketertiban sosial,
rasional
yang
mendukung
pelaksanaan
mencakup rasionaliatas efisiensi
pembangunan,
rasionalitas
kewajaran
mengamankan hasil-hasil dari
rasionalitas
pembangunan (Alkostar. 1997).
(redeijkheid),
kaidah dan rasionalitas kaidah
d. Aturan
menjamin
prosedural
tranparansi
dan
Dari uraian di atas maka
yang
dapat dikemukakan tujuan politik
yang
hukum
Indonesia
sebagaimana
memungkinkan kajian rasional
dikemukakan oleh Philippe Nonet
terhadap pengambil keputusan
dan Philip Selznick dalam bukunya
oleh pemerintah
“Law and Society in Transition:
e. Responsif
terhadap
perkembangan
aspirasi
ekspektasi
dan
masyarakat
(Sidharta, 2000).
Toward Resposive Law” adalah
menciptakan
sistem
hukum
nasional yang rasional, transparan,
demokratis, otonom, dan responsif
Sehubungan dengan usulan
terhadap perkembangan aspirasi
di atas maka hasil seminar tentang
dan ekspektasi masyarakat, bukan
hukum nasional di Fakultas Hukum
merupakan sistem hukum yang
Universitas
Islam
Indonesia
bersifat menindas, ortodoks, dan
merupakan
penegasan
terhadap
reduksionistik.
berlakunya hukum Islam yang
Untuk mewujudkan sistem
semakin jelas ketika UU No. 7
hukum dimaksud maka sangat
Tahun 1989 tentang Peradilan
diperlukam kerja sama di antara
Agama ditetapkan pada tanggal 29
berbagai
terutama
Desember 1989, dan diundangkan
pemerintah, partai politik dan
dalam Lembaran Negara Nomor 49
masyarakat
tanggal 29 Desember 1989 oleh
pihak
seperti
halnya
kompromi yang dilakukan dalam
Sekretaris
menetapkan
momentum yang penting dalam
tentang
Sila
Dasar
Negara,
Pertama
yaitu
Negara,
pembangunan
merupakan
sistem
hukum
“Ketuhanan dengan kewajiban
nasional termasuk bagi umat Islam
menjalankan Syariat Islam bagi
di Indonesia.25 Sebab hal ini
pemeluknya” dari Piagam Jakarta
semakin memantapkan kedudukan
tanggal 22 Juni 1945 sebagai
Pengadilan Agama sebagai salah
konsep
satu badan pelaksana kekuasaan
Dasar
Negara
yang
merupakan suatu proses konsep
kehakiman
yang
“politik hukum” baru bagi Negara
Indonesia
dalam
Republik Indonesia, yang baru
hukum Islam bagi pencari keadilan
saja
sesuai
diproklamasikan
pada
hukum
mandiri
di
menegakkan
Islam
tanggal 17 Agustus 1945 dengan
masyarakat
UUD
beragama Islam yang menyangkut
1945
sebagai
hukum
Indonesia
bagi
yang
dasarnya.
perkara-perkara perdata di bidang
5. Era Orde Baru
perkawinan,
Pada Era Orde Baru, telah
disetujuinya
kewarisan,
wasiat,
hibah, wakaf dan sedekah. Dengan
Undang-undang
demikian masyarakat Indonesia
Pengadilan Agama ini oleh Dewan
yang sebagian besar memeluk
Perwakilan Rakyat (DPR) RI,
agama Islam memiliki kesempatan
yang
seluas-luasnya
menjalankan
untuk
ketentuan
hukum
Indonesia, dan peraturan tersebut
dapat
mengesampingkan
Islam yang menjadi ajaran agama
berlakunya peraturan yang bersifat
sesuai ketentuan yang terkandung
umum.
dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945.
6. Era Reformasi
peluang yang semakin jelas, upaya
Pada Era ini merupakan
kebangkitan
Lebih dari itu, disamping
demokrasi
dan
kongkrit
Islam
merealisasikan hukum
dalam
wujud
kebebasan yang terjadi di seluruh
perundang-undangan
pelosok
tanah
peraturan
telah
air
Indonesia
membuahkan hasil yang nyata di
dengan
jatuhnya
era ini. Salah satu buktinya adalah
Soeharto penguasa Orde Baru
terbitnya Undang-Undang Tentang
selama kurang lebih 32 tahun.
Pemerintahan Daerah dan Undang-
Setelah melalui perjalanan yang
Undang Otonomi Khusus serta
panjang, di era ini setidaknya
Undang-Undang Daerah Istimewa.
hukum Islam mulai menempati
Seperti halnya Undang-Undang
posisinya secara perlahan tapi
Nomor 32 Tahun 2004, tentang
pasti. Lahirnya Ketetapan MPR
Pemerintahan Daerah, kemudian
No. III/MPR/2000 tentang Sumber
yang sangat menjadi perhatian
Hukum dan Tata Urutan Peraturan
adalah
Perundang-undangan,
Undang No. 44 Tahun 1999 tentang
bersamaan
semakin
diterbitkannya
Undang-
membuka peluang lahirnya aturan
Penyelenggaraan
undang-undang yang berlandaskan
Provinsi Daerah Istimewa Aceh
hukum Islam. Terutama pada Pasal
dan Undang-Undang No. 18 Tahun
2
menegaskan
2001 tentang Otonomi Khusus
ditampungnya peraturan daerah
Provinsi Daerah Istimewa Aceh
yang didasarkan pada
sebagai Provinsi Nangroe Aceh
ayat
khusus
7
di
yang
suatu
kondisi
daerah
di
Keistimewaan
Darussalam. Kedua produk hukum
Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh
Provinsi Daerah Istimewa
Darussalam ini walaupun tidak
Aceh tersebut maka Pemerintah
berlaku secara nasional namun
Provinsi
telah
secara
Darussalam telah mengeluarkan
keseluruhan tatanan hukum dan
empat Peraturan Daerah (Perda)
politik di Aceh, bahkan ditengarai
atau Qanun. Adapun beberapa
pula akan memberikan pengaruh
Qanun dimaksud masing-masing
yang
terhadap
adalah, Qanun No. 3 Tahun 2000
pemerintah pusat (Syaukani &
tentang Organisasi dan Tata Kerja
Thohari, 2005).
Majelis Permusyawaratan Ulama
merubah
hampir
tidak
kecil
Dalam
Nangroe
Aceh
penyelenggaraan
(MPU), Qanun No. 5 Tahun 2000
Keistimewaan Provinsi Nangroe
tentang Pelaksanaan Syariat Islam
Aceh Darussalam terdapat empat
di Aceh, Qanun No. 6 Tahun 2000
keistimewaan yang dimiliki daerah
tentang
ini sebagai berikut, (1) Penerapan
Pendidikan dan Qanun No. 7
syariat Islam dalam seluruh aspek
Tahun
kehidupan beragama, Penggunaan
Penyelenggaraan Adat.
kurikulum pendidikan berdasarkan
syariat
tanpa
mengabaikan
Penyelenggaraan
2000
Berkaitan
tentang
dengan
isi
beberapa Qanun tersebut maka
kurikulum umum, (3) Pemasukan
pelaksanaan
Syariat
Islam
unsur
sedemikian
luasnya
yang
adat
Pemerintahan
dalam
Desa
struktur
dan,
(4)
mencakup hukum tentang masalah
Pengakuan peran Ulama dalam
ibadah,
penetapan kebijakan daerah. Untuk
pidana. Berkaitan dengan peradilan
menindaklanjuti
undang-undang
(qadha), pada tanggal 1 Muharram
Penyelenggaraan
1424 Hijriah bertepatan dengan
tentang
Keistimewaan
peradilan
perdata
dan
tanggal 4 Maret 2003 melalui
Keppres No. 11 Tahun 2003
Pemerintah
telah
meresmikan
positif yang berlaku dalam hukum
berdirinya Mahkamah Syar’iyah,
Nasional kita.
sehingga
B. Pembinaan Hukum Nasional
dapat
melaksanakan
syari’at Islam secara kaffah di
Menurut Ismatullah (2008),
wilayah Provinsi Nangroe Aceh
kata hukum Islam sama sekali tidak
Darussalam,
ditemukan dalam al-Quran dan
Syar’iah
ini
dan
Mahkamah
nantinya
akan
literatur hukum dalam Islam, yang
menangani perkara-perkara perdata
ada dalam al-Quran adalah kata
(ahwal
dan
syariah, fiqh, hukum Allah dan
perkara pidana (jinayah), hal ini
yang seakar dengannya. Atau yang
sesuai amanat Qanun No. 10 Tahun
biasa digunakan dalam literatur
2002, dan sesuai pula dengan
hukum dalam Islam adalah syari’at
Qanun Provinsi Nangroe Aceh
Islam, fiqh Islam dan hukum syara.
Darussalam tentang Pelaksanaan
Dengan demikian hukum Islam
Syari’at Islam Nomor 11 Tahun
merupakan istilah khas Indonesia
2002.
yang agaknya diterjemahkan secara
al-syakhshiyyah)
Dengan demikian, di era
harfiyah dari term Islamic Law dari
reformasi ini, terbuka peluang yang
literatur
luas bagi sistem hukum Islam untuk
halnya, jelas istilah hukum Islam
memperkaya
tradisi
tidak merupakan terjemahan dari
hukum di Indonesia. Kita dapat
syari'ah, sebab Islamic Law sangat
melakukan
langkah-langkah
berbeda
pembaruan,
dan
filosofinya,
khazanah
bahkan
Barat.
Jika
demikian
dengan syari'ah, baik
sumber
pembentukan hukum baru yang
pengambilannya, tujuannya, dan
bersumber dan berlandaskan sistem
sebagainya (Ismatullah, 2008).
hukum Islam, untuk kemudian
dijadikan sebagai norma hukum
Kedudukan
dalam
hukum
pembangunan
Islam
hukum
nasional melalui perjuangan yang
cukup panjang dan baru mendapat
lagi
titik terang setelah Pidato Menteri
masyarakat. Dimensi ini untuk
Kehakiman RI, Ali Said pada
menghindari kekosongan hukum
Upacara Pembukaan Simposium
hal ini sebagai konsekuensi logis
Pembaharuan
Hukum
dari Pasal II Aturan Peralihan UUD
Nasional
Yogyakarta
di
Perdata
pada
dengan
1945, (2) Dimensi pembaharuan
tanggal 21 Desember 1981 yang
yaitu
menjelaskan
meningkatkan
bahwa
disamping
perkembangan
usaha
untuk
lebih
dan
hukum adat dan hukum eks Barat,
menyempurnakan
pembangunan
hukum Islam yang merupakan
hukum
dimensi
salah satu komponen tata hukum
disamping pembentukan undang-
Indonesia,
satu
undang yang baru diusahakan pula
bagi
penyempurnaan
sumber
menjadi
bahan
pembentukan
salah
baku
hukum
nasional,
nasional,
ini
peraturan
perundang-undangan
yang
ada
kemudian kebijakan ini dijabarkan
sehingga sesuai dengan kebutuhan
secara
masa kini, (3) Dimensi penciptaan,
rinci
delapan
tahun
kemudian (1989) oleh Menteri
yaitu
Kehakiman Ismail Saleh.
kreativitas, dalam hal ini dimensi
Namun sebelum mengetahui
tempat
hukum
pembangunan
Islam
hukum
dalam
nasional
terlebih dahulu kita mengikuti
langkah-langkah
pembangunan
kebijakan
hukum
nasional
dimensi
dinamika
dan
penciptaan perangkat perundang
undangan
yang
baru,
yang
sebelumnya memang tidak pernah
ada.
Hubungan
hukum
Islam
dengan hukum nasional secara
melalui tiga dimensi antar lain, (1)
khusus tidak dapat
dipungkiri
Dimensi
bahwa
Indonesia
pemeliharaan
yaitu
penduduk
memelihara tatanan hukum yang
mayoritas memeluk agama Islam,
ada walaupun sudah tidak sesuai
menurut
Menteri
Kehakiman
(Ismail Saleh) seyogyanya hukum
taat kepada Rasullah Saw (Praja,
Islam
2011).
yang
secara
substansial
Yang
perlu
menjadi
terdiri dari dua bidang yaitu (1)
perhatian bahwa karena hukum
bidang ibadah, dan (2) bidang
Islam memegang peranan yang
muamalah.
penting dalam membina ketertiban
Artinya
pengaturan
hukum bertalian dalam bidang
sosial
ibadah bersifat rinci sedangkan
mempengaruhi
dalam
kehidupan
maka
mengenai aneka kehidupan dalam
ditempuh
pemerintah
masyarakat tidak bersifat rinci
mengupayakan
(Sidharta, 2000), artinya dalam
transpormasi norma-norma hukum
bidang ini diatur hanya prinsip-
Islam kedalam hukum nasional
prinsipnya
sepanjang
bidang
muamalah
saja
atau
sedangkan
umat
Islam
dan
berbagai
segi
yang
harus
adalah
adanya
tidak
bertentangan
aplikasinya dan pengembangannya
dengan Pancasila dan UUD 1945
diserahkan kepada penyelenggara
(Menteri Kehakiman Ismail Saleh).
negara/ pemerintah atau Ulil ‘Amri.
Serta relevan dengan kebutuhan
Menurut Juhaya S. Praja,
hukum khususnya umat Islam,
“teori kredo atau syahadat” yang
karena cukup banyak asas-asas
mengharuskan pelaksanaan hukum
yang bersifat universal terkandung
Islam oleh mereka yang telah
dalam hukum Islam yang dapat
mengucapkan dua kalimat syahadat
dipergunakan sebagai bahan/materi
sesungguhnya
penyusunan hukum nasional.
kelanjutan
dari
prinsip tauhid dalam filsafat hukum
Menurut
Sayuti
Thalib
Islam, yang menghendaki setiap
(1985), implementasi hukum Islam
orang yang menyatakan dirinya
di Indonesia menggunakan teori
beriman kepada Allah Swt, maka ia
receptie
harus tunduk kepada apa yang
dirumuskan oleh Lodewijk Willem
diperintahkan oleh Allah sekaligus
Cristian Van Den Berg (1845-
in
complexy
yang
1927) (Thalib, 1985). Sebelumnya
teori ini adalah hukum Islam dapat
teori ini juga disebutkan oleh
berlaku di Indonesia bagi pemeluk
H.A.R. Gibb, menurut teori ini bagi
Islam, umat Islam harus taat pada
orang Islam berlaku penuh hukum
ajaran Islam dan hukum Islam
Islam sebab dia telah memeluk
berlaku universal pada berbagai
Islam
bidang ekonomi, hukum pidana dan
walaupun
pelaksanaannya
dalam
masih
terdapat
hukum perdata (Praja, 2011).
penyimpangan-penyimpangan.
IV. KESIMPULAN
Secara fakta teori Berg lebih rinci
1.
dibandingkan
yang
Indonesia yang mayoritas Muslim
dikemukakan H.A.R. Gibb, sebab
harus memiliki kepedulian dan
prakteknya hingga sekarang umat
penuh keterbukaan tidak pelak lagi
Islam di Indonesia masih banyak
turut
yang
belum
menjalankan
teori
Pembangunan
diwarnai
hukum
oleh
tuntutan-
taat
dalam
tuntutan umat Islam yang ingin
ajaran
Islam.
menegakkan
Syariat
Islam.
Ketaatan mereka masih terbatas
Gagasan ini tentu patut didukung.
pada shalat lima waktu, zakat,
Namun
puasa dan haji, sedangkan ajaran
dukungan,
Islam
upaya-upaya
lainnya
masih
kurang
sambil
perlu
memberikan
pula
kiranya
semacam
secara
cerdas
ini
diperhatikan misalnya ajaran Islam
dijalankan
dan
tentang ekonomi dan perbankan
bijaksana demi tercapai tujuan dan
Islam (Thalib, 1985).
cita-cita besar bangsa ini. Karena
Teori penerimaan hukum ini
menegakkan yang ma’ruf haruslah
kemudian dikenal dengan istilah
juga dengan menggunakan langkah
receptie
yang
in
complex
yaitu
ma’ruf.
Disamping
bahwa
itu,
penerimaan hukum Islam secara
kesadaran
perjuangan
keseluruhan oleh masyarakat yang
penegakkan Syariat Islam sendiri
beragama Islam. Karakteristik dari
adalah jalan yang panjang dan
berliku, sesuai dengan sunnatullãh.
penguatan terhadap kekuatan dan
Karena itu dibutuhkan kesabaran
daya tawar politis umat Islam perlu
dalam menjalankannya.
ditingkatkan.
2.
3.
Model transformasi nilai-
Prospek legislasi syariat
nilai syariat Islam dalam usaha
Islam
politik Islam di Indonesia baru
penguatan mekanisme politiknya.
terimplementasikan
Potensi besar umat Islam dari
di
bidang
di
Indonesia
moral (gerakan akhlak) belum
aktualisasi
tercapai dibidang legal hukum
norma syariat Islam dapat di
sejalan
kembangkan
hukum
konsep
Islam
bertahap
pembentukan
dengan
(Tadarruj).
pelaksanaan
tinggal
dalam
norma-
kegiatan
prinsip
melalui payung hukum dengan
Melalui
berbagai perundang-undangan di
proses pengakraban (harmonisasi)
Indonesia,
bangsa ini dengan hukum Islam
daerah yang sejalan dengan norma-
yang selama ini telah dilakukan,
norma syariat Islam mengandung
harus
esensi keadilan, kemaslahatan dan
terus
kesabaran
dan
dijalani
dengan
kebijaksanaan.
Disamping tentu saja upaya-upaya
kesejahteraan.
peraturan-peraturan
Implementasi Hukum Islam dan Pengaruhnya
Terhadap Politik Hukum Indonesia
(Ahmad Suganda)
ISSN: 1858-2125
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. D. (2013) Hukum Islam (Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grfindo Persada.
Ash-Shiddiqy, M. H. (1993).
Bintang.
Falsafah Hukum Islam. Jakarta: Bulan
Alkostar, A. (1997). Identitas Hukum Nasional, Yogyakarta: Fakultas
Hukum UII.
Cahyadi, A. & Manulang, E. F. M. (2007). Pengantar ke Filsafat Hukum.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Isjwara, F. (1964). Pengantar Ilmu Politik. Bandung : Dhiwantara.
Ismatullah, D. (2008) Sejarah Sosial Hukum Islam. Bandung:Tsabita.
Khallaf, A. W. (2005). Politik Hukum Islam, alih bahasa Zainudin Adnan,
cet. ke-2. Yogyakarta: Tiata Wacana.
Moh. Mahfud MD. (2010). Politik Hukum di Indonesia, Jakarta:
PT.Rajawali Persada.
Praja, j. S. (2011). Teori Hukum dan Aplikasinya. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Rahardjo, S. (1988). Pembangunan Hukum Nasional Dan Perubahan
Sosial, Bandung: Angkasa.
Syaukani, I & Thohari, A. A. (2005) Dasar-Dasar Politik Hukum, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Sidharta, A. (2000) Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Sebuah
Penelitian tentang Fondasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu
Hulum Sebagai Landasan Pembangunan Ilmu Hukum Nasional
Indonesia. Bandung: Mandar Maju.
Jurnal at-Tadbir Vol. 29 No. 02 Juli 2019
19
Implementasi Hukum Islam dan Pengaruhnya
Terhadap Politik Hukum Indonesia
(Ahmad Suganda)
ISSN: 1858-2125
Thalib, S. (1985). Receptie A Contratrio, Hubungan Hukum Adat dan
Hukum Islam. Jakarta: Bina Aksara.
UUD 1945, Undang-Undang Konstitusi RIS 1949, UUDS 1950, UUD 1945
yang diamandemen.
Wahyono, P. (1986). Kerangka Pembangunan Hukum di Indonesia. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Wibawa, S. (2001). Negara-Negara di Nusantara (Dari Negara Kota Hingga
Negara Bangsa dari Modernisasi Hingga Negara Bangsa dari
Modernisasi Hingga Reformasi Administrasi), Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Jurnal at-Tadbir Vol. 29 No. 02 Juli 2019
20
Download