Uploaded by tesster013

TAWASSUL

advertisement
A.
Arti Tawassul
Kata tawasul punya tiga arti. Para ulama Muslim telah sepakat tentang dua di
antaranya: pertama, yang merupakan dasar iman dan Islam, yaitu tawasul melalui iman kepada
beliau (Rasulullah) dan taat kepadanya; kedua, adalah doa syafaat beliau. Ini adalah baik. Kedua
makna ini telah disepakati kaum Muslimin. Barangsiapa menolak tawasul dengan salah satu
makna ini maka ia kafir murtad. Diampuni jika ia bertaubat, bila tidak, ia harus dibunuh dalam
keadaan murtad. Jadi tawasul dengan percaya dan taat kepada rasulullah adalah dasar agama.
Kenyataan ini telah diketahui orang. Dengan demikian, barangsiapa menolak doa, syafaat dan
manfaatnya bagi kaum Muslimin, maka ia kafir. Tapi, ini lebih ringan daripada yang pertama.
Barangsiapa menolak karena kebodohannya ia diampuni dari dosa, jika terus-menerus ingkar
maka ia murtad.[1]
B.
Makna Tawassul
Memohon kepada Allah dengan selain Dia ada dua: bersumpah kepada-Nya dengan nama
makhluk; atau memohon dengan suatu sebab, seperti ketiga orang di dalam gua yang bertawassul
dengan amal-amal mereka, seperti juga bertawassul dengan doa Nabi dan orang-orang shalih.
Bersumpah terhadap Allah dengan selain nama-Nya adalah tidak bolaeh. Sedangkan memohon
dengan suatu sebab yang menjadikan tekabulnya permintaan, seperti memohon dengan amal
yang mengandung ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, memohon dengan keimanan dan rasa
cinta kepada Rasul, dibolehkan oleh agama.[2]
Permintaan melalui dzat (pribadi) para Nabi dan orang-orang shalih adalah tidak masyru’
(dianjarkan agama). Para ulama telah melarang yang demikian. Memang ada di antara mereka
ang meringankan, tapi yang lebih tepat (rajah) adalah pendapat ang tidak membolehkan.
Permohonan tersebut adalah melalui sebab ang tidak menjadikan permohonan terkabulkan.
Lain halnya dengan permohonan melalui sebab terkabulnya permohonan itu, seperti
permohonan kepada Allah melalui doa orang shalih dan amal-amal shalih. Permohonan terakhir
ini yang dibolehkan, sebab doa orang-orang shalih menyebabkan adanya pahala Allah bagi kita.
Bertawassul melalui doa mereka dan amal-amal kita, itulah artinya mencari wasilah. Allah
berfirman :
“Hai orang-orang beriman! Takutlah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang bias
menyampaikan kepada-Nya.”(Al-Qur’an 5:35)
“Berhala-berhala yang mereka seru itu mencari perantaraan (wasilah) ke Tuhan
mereka.”(Al-Qur’an 17’57)
C.
Macam-macam Tawassul
Pembagian tawassul antara satu ulama dengan lainya berbeda – beda, tergantung versinya
masing – masing. Namun secara ringkas, dapat dibagi menjadi 4 macam:
1.
Tawassul dengan Amal
Semua umat Islam sepakat bahwa tawassul dengan amal tidak hanya boleh namun
diperintahkan Alloh dan Rasul-Nya. Sedangkan caranya bisa dengan shalat, puasa,
sedekah,membaca Al Qur’an, berdzikir, dan lainya sebagainya, atau dengan amalan yang dapat
mendekatkan diri kepada Alloh atau dapat memudahkan untuk mencapai apa yang dihajatkan.[3]
Menurut Dr.Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani, “ Tidak ada seorang ulama yang
berselisih tentang disyriatkannya tawassul kepada Alloh SWT dengan amal – amal shaleh.
Barangsiapa puasa, shalat atau membaca Al-Qur’an dan bersedekah, maka dia bias tawassul
dengan puasanya, shalatnya, bacaan Al Qur’anya dan sedekahnya. Bahkan harapan untuk
diterima lebih besar.
Dalil yang dijadikan hujjah adalah hadits tentang tiga orang yang tertutup oleh mulut gua
ketika mereka berada di dalamnya. Salah seorang diantara mereka bertawassul kepada Alloh
dengan Birrul Walidain-nya, yang kedua bertawassul kepada Alloh dengan dengn sikapnya yang
menjauhi kemungkaran dan yang ketiga bertawassul dengan sikap amanahnya dalam memelihara
harta orang lain, sehingga Alloh meringankan atau membuka mulut gua itu. Jenis tawassul ini
telah diterngkan secara jelas beserta dalilnya oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dalam beberapa
kitabnya, khususnya dalam risalahnya yang berjudul, “ Qaidah Jalilah fi- At – Tawassul walWasilah”
Dasar tawassul dengan amal ini adalah firman Alloh:
“ Mintalah tolong kepada Alloh dengan ( bersikap ) sabar dan ( melakukan) shalat. dan
Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' “ (
Q.S.al Baqarah : 45 ),
Sedangan hadits yang menjadi landasan tawassul dengan amal perbuatan, sebagaimana
disinggung di depan adalah:
‫سلَّ َم‬
َ ُ‫ّللا‬
َ ُ‫ّللا‬
َ ‫من‬
َ ‫ع َِن أَ ِبى‬
ُ ‫ّللاِ اب ِْن‬
َ ِ‫ّللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ :َ‫ع ْن ُه َما َقال‬
ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬
َّ ‫ع ْب ِد‬
ِ ‫ع َم َر ب ِْن ا ْل َخ َطا‬
ٰ ‫صلَّى‬
ٰ ‫س ْو َل‬
ٰ ‫ب َر ِض َي َر ِض َى‬
ٰ ‫ع ْب ِد‬
ِ ْ‫الرح‬
‫علَي ِْه ُم‬
َ ْ‫سدَّت‬
َ ‫ اِ ْن َط َل‬:ُ‫يَقُ ْول‬
ُ َ‫آوا ُه ُم ا ْل َمبِيْتُ اِلَى ا ْلغَ ِار فَ َد َخلُ ْوهُ َفا ْن َحد ََرتْ ص َْخ َرةٌ ِمنَ ا ْل َجبَ ِل ف‬
َ ‫ق ثَالَثَةُ نَفَ ٍر ِم َّم ْن كَانَ قَ ْبلَ ُك ْم َحتَّى‬
َ ‫ان‬
ُ‫ان َو ُك ْنت‬
َ َ‫ا ْلغ‬
ِ ‫ان َك ِبي َْر‬
ِ ‫ش ْي َخ‬
ِ ‫ّللاَ ِبصَا ِلحِ أ َ ْع َما ِل ُك ْم َقا َل َر ُج ٌل ِم ْن ُه ْم اَللٰ ُه َّم كَانَ ِلى اَبَ َو‬
ٰ ‫ار فَقَالُ ْوا اِنَّهُ الَيُ ْن ِج ْي ُك ْم اِالَّ اَ ْن ت َ ْدع ُْوا‬
َ ‫علَي ِْه َما َحتَّى نَا َما فَ َحلَبْتُ َل ُه َما‬
‫غبُ ْو َف ُه َما فَ َو َج ْدت ُ ُه َما َنا ِئ َمي ِْن‬
َ ‫شج َِر َي ْو ًما َفلَ ْم أ َ ُر ْح‬
َّ ‫ب ال‬
ُ ‫الَا َ ْغ ِب‬
ُ َ‫ق قَ ْبلَ ُه َما ا َ ْهالً فَنَأَى ِبى َطل‬
ُ‫الص ْيبَة‬
َ ‫ح‬
ُ ‫ق قَ ْبلَ ُه َما ا َ ْهالً ا َ ْو َ َماالً فَلَبِثْتُ َوا ْلقَ َد‬
َ ِ‫فَك َِرهْنُ ا َ ْن ا ُ ْوقِ َظ ُه َما َواَ ْن أ َ ْعب‬
ْ ِ‫علَى يَدِى ا َ ْنت َ ِظ ُر ا‬
ِ ‫ستِ ْيقَا َظ ُه َما َحتَّى بَ ِرقَ ا ْلفَجْ ُر َو‬
َ ‫ب‬
‫عنَّا َمانَحْ نُ فِ ْي ِه ِم ْن َه ِذ ِه‬
َ ْ‫غبُ ْوفَ ُه َما اَللٰ ُه َّم ا ِْن ُك ْنتُ فَ َع ْلتُ ٰذ ِلكَ ا ْبتِغَا َء َوجْ ِهكَ فَ َف ِرج‬
ْ ‫يَتَضَاع ُْونَ ِع ْن َد قَ َد َم َّى فَا‬
َ ‫ست َ ْي َق َظ َفش َِر‬
‫وفى‬. ‫اِ اِلَ َّي‬
َ ْ‫الص َّْخ َر ِة َفا ْن َف َر َجت‬
ْ َ‫ش ْيئ ًا الَي‬
ِ َّ‫َب الن‬
َّ ‫قَا َل اْالَ َخ ُر اَللٰ ُه َّم اِنَّهُ كَانَ ِلى اِ ْبنَةُ ع ٍَم كَا َنتْ اَح‬. ُ‫ست َ ِط ْيعُ ْونَ ا ْل ُخ ُر ْو َج ِم ْنه‬
َ‫السنِ ْين‬
َ ‫سا َء فَأ َ َر ْدتُهَا‬
ِ َ‫سنَّةٌ ِمن‬
ِ ‫علَى نَ ْف‬
َ ‫سهَا فَا ْمتَنَعَتْ ِمنِى َحتَّى أَلَ َّمتْ ِبهَا‬
َ ِ‫الرجَا ُل الن‬
ُّ ‫رواية ُك ْنتُ ا ُ ِحبُّهَا َكاَش َِد َما يُ ِح‬
ِ ‫ب‬
‫ع َل ْيهَاووفى رواية‬
َ ُ‫سهَا فَفَ َعلَتْ َحتَّى اِذَا َقد َْرت‬
َ ‫فَجَا َءتْ ِنى َفاض ْع َط ْيتُهَا ِعش ِْر ْينَ َو ِمائَةَ ِد ْينَ ٍار‬
ِ ‫ع َلى ا َ ْن ت ُ َخ ِلى بَ ْي ِنى وبَ ْينَ نَ ْف‬
‫ب‬
َ ُ‫ض ا ْل َخاتِ َم اِالَّ بِح َِق ِه فَا ْنص ََر ْفت‬
َّ ُ‫ّللاَ َوالَتَف‬
َ ‫اِ اِلَ َّي َوت َ َركْتُ الذَّ َه‬
ِ َّ‫ع ْنهَا َو ِه َى أَ َح ُّب الن‬
ٰ ‫ق‬
ِ َّ‫فَلَ َّما قَعَدْتُ بَ ْينَ ِرجْ لَ ْيهَا قَالَتْ اِت‬
َ ُ‫ت الص َّْخ َرة‬
َ‫ست َ ِط ْيعُ ْون‬
َ ‫الَّذِى أ َ ْع َط ْيتُهَا اَللٰ ُه َّم ا ِْن ُك ْنتُ فَعَ ْلتُ ٰذ ِلكَ ا ْبتِغَا َء َوجْ ِهكَ فَفَ ِر ْج‬
ِ ‫عنَّا َمانَحْ نُ فِ ْي ِه فَا ْنفَ َر َج‬
ْ َ‫غي َْر اَنَّ ُه ْم ْْ الَي‬
َ ‫غي َْر ُه ْم‬
َ ‫ستَأْج َْرتُ أُج ََرا َء َوأ َ ْع َط ْيت ُ ُه ْم أَجْ َر ُه ْم‬
ُ ‫ا ْل ُخ ُر ْو َج ِم ْنهَا َوقَا َل الثَّا ِل‬
ُ‫ب فَثَ َم ْرت‬
ِ ‫غي َْر َو‬
ْ َ ‫ث اَللٰ ُه َّم أ‬
َ ‫اح ٍد تَ َركَ ا َّلذِى لَهُ َوذَ َه‬
‫ّللاِ أ َ ِد اِلَ َّي أجْ ِرى فَقُ ْلتُ ُك ُّل َما تَ َر ى ِم ْن أَجْ ِركَ ِمنَ اْ ِال ِب ِل‬
َ ‫أَجْ َرهُ َحتَّى َكث ُ َرتْ ِم ْنهُ اْالَ ْم َوا ُل فَجَا َء نِى بَ ْع َد ِحي ٍْن فَ َقا َل يَا‬
ٰ ‫ع ْب َد‬
َ ُ‫ستَاقَهُ َفلَ ْم يَتْ ُركْ ِم ْنه‬
ُ‫ اَللٰ ُه َّم ا ِْن ُك ْنت‬.‫ش ْيئًا‬
ْ َ ‫ئ ِبكَ فَا َ َخذَ ُه ُكلُّهُ فَا‬
ْ َ ‫ستَه ِْز ْئ فَقُ ْلتُ الَأ‬
ْ َ ‫ّللاِ الَت‬
ُ ‫ستَه ِْز‬
َّ ‫َوا ْلبَقَ ِر َوا ْلغَنَ ِم َو‬
ٰ ‫ْق فَقَا َل‬
ِ ‫الرقِي‬
‫متفق عليه‬. َ‫ص ْخ َرةُ فَ َخ َر ُج ْوا َي ْمش ُْون‬
َ ‫َف َع ْلتُ ٰذ ِلكَ ا ْب ِتغَا َء َوجْ ِهكَ َفا ْف ُر ْج‬
َّ ‫عنَّا َمانَحْ نُ ِف ْي ِه فَا ْنفَ َر َجتْ ال‬
“ Abdullah bin Umar r.a berkata:” Saya telah mendengar Rasululloh SAW, bersabda:” Terjadi
pada masa dahulu sebelum kamu, tiga orang berjalan – jalan hingga terpaksa bermalam dalam
gua. Tiba – tiba ketika mereka sedang dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dri atas bukit dan
menutupi gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkalata mereka : “ Sungguh tiada
suatu yang dapat menyelamatkan kami dari bahaya ini, kecuali jika tawassul kepada Alloh
dengan anal – amal shalih yang bernah kamu lakukan dahulu kala. Maka berkata seorang dari
mereka:” Ya Alloh dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi
memberi minuman susu pada seorang pun sebelum kedunya ( ayah – ibu ), baik pada keluarga
atau hamba sahaya, maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku mengembalakan ternak,
hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tidur.
Maka saya terus memerah susu untuk keduanya dan saya pun segan untuk membangun
keduanya, dan sayapun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapapun sebelum ayah
bunda itu. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan
minum dari susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu anak – anakku sedang menangis
minta susu itu, di dekat kakiku. Ya Alloh jika saya berbuat itu benar – benar karena
mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka menyisih sedikit batu
itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya.
Berdo’a yang kedua: “ Ya Alloh dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis
pamanku, maka karena cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin berzina padanya, tetapi ia
selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta
bantuan kepadaku, maka saya berikan padanya uang seratus duapuluh dinar, tetapi dengan
janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya
telah beada diantara kedua kakinya, tiba – tiba ia berkata :” Takutlah kepada Alloh dan
janganlah engkau pecahkan tutup kecuali dengan halal. Maka saya segera bangun daripadanya
padahal saya masih tetap menginginkanya, dan saya tinggalkan dinar mas yang telah saya
berikan kepadanya itu Ya Alloh jika saya berbuat itu benar – benar karena mengharapkan
keridhaan-Mu, maka lapangkanlah keadaan kami ini. Maka bergerklah batu itu, menyisih sedikit
tetapi mereka belum dapat keluar daripadanya.
Berdo’a yang ketiga:” Ya Alloh, saya dulu sebagai majikan, mempunyai banyak buruh pegawai,
dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh – buruh itu, tiba – tiba ada seorang dari
mereka yang tidak sabar menunggu, segera ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke
rumahnya tidak kembali. Maka saya gunakan upah itu hingga berkembang dan berbua h hingga
merupakan kekayaan. Kemudian setelah lama sekali datanglah buruh itu dan berkata: “ Hai
Abdullah, berikan kepadaku upahku dulu itu ?” Jawabku,” Semua kekayaan yang kamu lihat di
depanmu itu; mulai unta, sapid an kambing itu adalah upahmu”. Buruh itu berkata,” Wahai
Abdullah, kamu jangan mengejekku” Jawabku ,” Aku tidak mengejek kepadamu”. Maka
diambilnya semua yang saya sebut itu dan tidak meninggalkan sedikitpun darinya. Ya Alloh jika
saya berbuat itu benar – benar karena mengharapkan keridhaan-Mu, maka lapangkanlah
keadaan kami ini. Tiba –tiba menyisihlah batu itu, hingga mereka keluar dengan selmat” (
H.R.Bukhari – Muslim )
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya faidah amal kelakuan yang tulus ikhlas, hingga dapat
dipergunakan bertawasul kepada Allah dalam usaha menghindarkan bahaya yang sedang
menimpa. Juga menunjukkan bahwa manusia harus mengutamakan orang tua dari anak bini.
Juga menunjukkan kebesaran pengertian dari penahanan hawa nafsu, dan kerakusan terhadap
harta upah buruh.[4]
Semua do’a yang dipanjatkan oleh ketiga orang dalam Hadits ini menunjukkan betapa besar
faidah amal perbuatan yang dilakukan dengan tulus ikhlas semata – mata karena Alloh, hingga
dapat dijadikan tawassul kepada-Nya dalam usaha menghindarkan bahaya dan kesulitan yang
sedang menimpa. Dan ternyata berkat do’a tawassulnya, Alloh mengabulkan apa yang menjdi
hajatnya.
Dengan amal shaleh dan beribadah secara khusyu, tekun dan istiqamah jug dapat menjadi
wasilah datangnya kasih sayang Alloh bagi para pelakunya, sebagaimana disebutkan dalam
hadits:
ُ‫ َم ْن عَا َد ِلى َو ِْل ًّيا فَ َق ْد ٰاذَ ْنتُه‬:َ‫ّللاَ تَعَ ٰالى قَال‬
َ ُ‫ّللا‬
َ ُ‫ّللا‬
َ ِ‫ّللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
ُ ‫ع ْنهُ قَا َل قَا َل َر‬
ٰ َّ‫سلَّ َم اِن‬
ٰ ‫صلَّى‬
ٰ ‫س ْو ُل‬
ٰ ‫ع َْن ا َ ِبى ه َُري َْرةَ َر ِض َى‬
ُ‫ب اِ َل َّى ِبال َّن َواف ِل َحتٰى ا ُ ِحبَّهُ َف ِاذَا اَحْ بَ ْبتُه‬
ْ ‫َب اِلَ َّى ِم َّما ا ْفت َ َر‬
َ ‫علَ ْي ِه َو َمايَ َزا ُل‬
َ ُ‫ضتُه‬
َ ‫ب اِلَ َّى ِب‬
ُّ ‫ش ْي ٍئ اَح‬
َ ‫ب َو َما تَقَ َّر‬
ُ ‫ع ْبدِى يَت َ َق َّر‬
ِ ‫ِبا ْلح َْر‬
‫سأَلَ ِنى‬
ْ َ‫س ْمعَهُ الَّ ِذ ى ي‬
َ ‫ش بِها َ َو ِر ْج َْلَهُ الَّ ِذ ى َي ْمشِى بِهَا َوا ِْن‬
َ ُ‫ُك ْنت‬
ُ ‫س َم ُع بِ ِه َوبَص ََرهُ الَّ ِذ ى يُب ِْص ُر بِ ِه َويَ َدهُ الَّ ِذ ى يَب ِْط‬
‫رواه البخارى‬. ُ‫ستَعَاذَ ِنى َالُ ِع ْيذَنذَه‬
ْ ‫ا َ ْع َط ْيتُهُ َولَئِ ِن ا‬
Dari Abu Hurairah r.a berkata,' Rasululloh SAW bersabda," Sesunguhnya Alloh SAW
berfirman," Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang kepadanya.Tidak
seorangpun mendekat kepada-Ku dengan suatu amalan wajib yang Aku senangi dan tidak
seorang pun dari hamba-Ku yang mendekat kepada-Ku dengan amalan sunat sampai aku
menyenanginya, maka Aku menjadi pendengarnya untuk mendengar, dan Aku Aku menjadi
pandangannya untuk melihat, dan Aku Aku menjadi tanganya yang dipakai untuk memegang,
dan Aku Aku menjadi kakinya untukberjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku beri
permintaanya,
dan
jika
minta
perlindungan
kepada-ku,
maka
Aku
melindungi
dia" ( H.R.Bukhari )
Hadits ini termasuk contoh Tawassul dengan amal perbuatan. Menurut Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, tawassul seperti inilah yang benar. Beliau menambahkan, bawa tawassul itu ada 3
mcam, yang dua benar dan satunya salah. Yaitu:
1.
Tawassul ( berperantara ) dengan jalan beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi SAW
dengan jalan bertaqarrub ( mendekatkan diri ) kepada-Nya dengan melaksanakan yang wajib dan
yang sunat –sunat. Dan itulah menurut beliau yang dimaksud dengan firman Alloh SWT:
š
" Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya "(Q.S.al Maidah:35 )
.
Jadi dengan jalan beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan
melaksanakan segala yang wajib dan yang sunat –sunat, maka orang akan sampai kepada
keridlaan Ilahi dan kelak akan sampai pula ke surga-Nya. Itulah pengertian tawassul yang
pertama menurut Ibnu Taimiyah, dan yang benar
2.
Tawassul dengan Nabi sebagaimana yang lazim dilakukan para shahabat, yaitu tawassul
dengan do'a beliau SAW, ketika beliau masih hidup, dan tawassul dengan syafaat beliau, dan
inipun dalam bentuk do'a langsung kepada Alloh SWT.
Inilah yang dimaksud dengan Hadits:
" Nabi SAW bersabda:" Mintalah kepada Alloh, aku sebagai wasilah, maka sesunguhnya (
wasilah ) adalah atu derajat di surga yang tidak diperoleh kecuali oleh seorang hamba dari
hamba Alloh, dan aku berharap, bahwa akulah hamba tersebut, maka barangsiapa meminta
kepada Alloh, agar aku jadi wasilah (nya ), maka berhaklah ia memperoleh syafaatku di hari
kiamat " ( Hadits Shahih )
Dan sabda Nabi SAW;
َ‫س ْيلَةَ َوا ْلفَ ِض ْيلَة‬
ِ ‫صالَ ِة ا ْلقَائِ َم ِة آ‬
َّ ‫ب ٰه ِذ ِه ال َّدع َْو ِة التَّا َّم ِة َوال‬
ِ ‫س ِي َدنَا ُم َح َّمدَا ِن ا ْل َو‬
ْ َ‫َم ْن قَا َل ِح ْينَ ي‬
َ ‫ت‬
َّ ‫ اَللٰ ُه َّم َر‬: : ‫س َم ُع النِدَا َء‬
‫رواه االربعة‬.‫ع ِتى‬
َ ‫شفَا‬
َ ُ‫ع ْدتَهُ َحلَّتْ لَه‬
َ ‫َوا ْبعَثْهُ َمقَا ًما َمحْ ُم ْودًا الَّذِى َو‬
" Barangsiapa ketika mendengar adzn mengucapkan :" Ya Alloh, Tuhan bagi seruan sempurna
ini, dan ( Tuhan bagi ) shalat yang akan didirikan ini, berilah kepada Muhammad wasilah dan
fadlilah dan derajat yang terpuji yang telah Engkau janjikan baginya", niscaya akan berhaklah
baginya syafaatku pada hari Kiamat" ( H.R.Imam Empat )
Maka kedua wasilah diatas, adalah khusus untuk Rasululloh SAW, sebagaimana ditegaskan
oleh Nabi SAW: (wasilah) adalah atu derajat di surga yang tidak diperoleh kecuali oleh seorang
hamba dari hamba Alloh, dan kata Nabi SAW: dan aku berharap, bahwa akulah hamba tersebut
Jadi siapa saja yang memohon (berdo'a) kepada Alloh agar Nabi SAW menjadi wasilahnya,
maka berhaklah ia atas syafa'atnya di akhirat nanti. Maka bentuk tawassul ini adalah berupa do'a
Dan tawassulnya para shahabat dengan Nabi SAW dan tawajjuh (menghadap) mereka
dengan Nabi SAW dalam pengertian mereka dan perkataan-perkataan mereka, adalah tawassul
dengan do'a dan syafaat Nabi, seperti diuraikan diatas.
3.
Pengertian tawassul yang salah. Yaitu tawassul yang ditradisikan oleh kalangan
mutaakhirin, dalam bentuk bersumpah dengan Nabi, dan meminta –minta kepadanya (sesudah
wafatnya), dan juga terhadap orang – orang shaleh dan mereka yang dianggap shaleh ( wali )"
Dengan kata lain, tawassul model kalangan mutaakhirin adalah dengan meminta-minta
kepada orang yang telah meninggal dunia, untuk dimintai bantuanya menyampaikan do'a-do'a
mereka kepada Alloh SWT. Dan bersumpah dengan Nabi (iqsam bihi), seperti: bihaqqi
nabiyyika.... dan seterusnya sesudah wafatnya.
Kesimpulan
Tawassul dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan menurut
kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah s.a.w. juga diperboleh sesuai
dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan
yang mulia disisi Allah SWT, maka tidak ada salahnya jika kita bertawassul terhadap kekasih
Allah SWT yang paling dicintai, dan begitu juga dengan orang-orang yang sholeh.
DAFTAR PUSTAKA
Http://suaragemaislami.blogspot.com/2011/12/macam-macam-tawassul.html Diakses tanggal 12 Juni
2013.
Taimiyah, Ibnu , At Tawassul wa al Wasilah, diterjemahkan oleh Su’adi Sa’ad dengan judul Tawassul
dan Wasilah, Jakarta: Pustaka Panjimas 1987.
Yahya bin Syarif, Abu Zakaria Riadhus Shalihin, diterjemahkan oleh Salim Bahreijs dengan judul
Tarjamah Riadhus Shalihin, Bandung: Alma’arif 1986.
[1]Ibnu Taimiyah, At Tawassul wa al Wasilah, diterjemahkan oleh Su’adi Sa’ad dengan
judul Tawassul dan Wasilah, (Jakarta: Pustaka Panjimas 1987) h. 1.
[2]Ibnu Taimiyah, At Tawassul wa al Wasilah, h. 226.
[3]http://suaragemaislami.blogspot.com/2011/12/macam-macam-tawassul.html diakses
tanggal 12 Juni 2013.
[4]Abu Zakaria Yahya bin Syarif, Riadhus Shalihin, diterjemahkan oleh Salim Bahreijs
dengan judul Tarjamah Riadhus Shalihin, (Bandung: Alma’arif 1986), jilid 1, h. 22.
Download