Fulltext - Antologi UPI

advertisement
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KOGNITIF MORAL DALAM
UPAYA MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER
Risa Wismaliya, Cece Rakhmat, Reni Bakhraeni
Program S1-PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmlaya
Abstrak
Penelitian ini mengenai studi kasus model pembelajaran berbasis kognitif moral pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia kelas IV di SDN 2 Pasirtamiang dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter.
Latar belakang penelitian ini berawal dari proses pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Dasar
tersebut dengan menggunakan model pembelajaran berbasis kognitif moral yang merasa khawatir
dengan degradasi moral bangsa Indonesia yang belakangan ini muncul berita aktual mengenai
kekerasan kepada anak dibawah umur, pelecehan seksual, dan lain-lain. Data yang didapatkan dari
Menko Kesra, 2006 dalam Kusnaedi (2013, hlm. 5) menyatakan bahwa “tidak ada satu provinsi-pun di
Indonesia yang terbebas dari HIV/AIDS.perkembangannya menunjukkan 10 %”, sehingga peran orang
tua dan sekolah khususnya guru penting menanamkan kebiasaan hidup bermoral yang kemudian akan
menjadi karakter dalam diri seseorang. Penelitian ini memaparkan mengenai tahapan (sintaks) model
pembelajaran berbasis kognitif moral dari mulai perencanaan, pelaksaan dan evaluasi. Metode yang
digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pembahasannya mencakup kesesuaian
perencanaan pembelajaran (RPP) dengan pelaksanaan dan hasil belajara siswa serta semua kegiatan
yang dilakukan memuat karakter yang diharapkan. Karakter tersebut (Education character) mengacu
kepada 18 nilai pendidikan budaya dan karater bangsa. Model pembelajaran berbasis kognitif moral ini
sudah terpadu kepada setiap pembelajaran dalam memberikan pesan moral dan penanaman pendidikan
karakter namun penelitian ini memaparkan bagaimana pelaksanaan model pembelajaran berbasis
kognitif moral di lapangan.
Kata kunci : model pembelajaran berbasis kognitif moral, sintaks, education character.
Penelitian studi kasus mengenai model pembelajaran berbasis kognitif moral diperlukan untuk
mengetahui bagaimana tahapan pembelajarannya dari mulai perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
hasil belajar siswa. Model pembelajaran berbasis kognitif moral adalah model pembelajaran yang
menggunakan struktur kognitif sebagai pertimbangan keputusan yang berkaitan dengan moral, Sarbaini
mengatakn bahwa “ konsep dalam pembelajaran moral ini disebut kognitif karena mengakui bahwa
pendidikan moral didasarkan pada stimulasi berpikir terhadap isu-isu dan keputusan moral” (2012,
hlm.35). Model pembelajaran berbasis kognitif moral ini memuat karakter yang diharapkan dalam
setiap kegiatan maupun konten pembelajaran. Karakter tersebut mengacu kepada 18 nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa dalam salah satu upaya mewujudkan pendidikan karakter. Kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 telah menghibau semua praktisi pendidikan untuk
mengintegrasikan karakter dalam setiap pembelajaran (pendidikan karakter), penggunaan model
berbasis kognitif moral ini pun memuat lembar evaluasi hasil belajar siswa yang berkaitan dengan
penanaman nilai moral agar menjadi karakter yang baik dalam diri siswa. Dalam rangka menyambut
kurikulum 2013 yang mengusung afektif sebagai hal yang prioritas untuk diperhatikan, penggunaan
model berbasis kognitif moral ini menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan pendidikan karakter.
Model pembelajaran berbasis kognitif moral dipilih karena model pembelajaran ini merupakan salah
satu model pembelajaran yang berorientasi pada penanaman nilai moral dalam upaya mewujudkan
pendidikan karakter bagi warga negara (civics virtue), hal ini sesuai dengan pendapat Sarbaini (2012,
hlm. 4) “dalam kegiatan pembelajarannya telah dilaksakan berbagai model pembelajaran yang
berorientasi pada karakter moral warga negara seperti model konsiderasi, model pembentukan rasional,
model perkembangan kognitif, model analisis nilai, model klarifikasi nilai dan model aksi sosial”
Sehingga model pembelajaran berbasis kognitif moral ini dapat digunakan sebagai upaya dalam
mewujudkan pendidikan karakter. Mata pelajaran yang biasa digunakan oleh model pembelajaran di
atas salah satunya model kognitif moral adalah pendidikan kewarganegaraan (PKn), namun sejalan
dengan perkembangannya, model ini pun dapat digunakan dalam mata pelajaran lain seperti pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia hal ini dikarenakan bahasa menjadikan manusia memiliki identitas
dengan kebahasaannya. Dari bahasa yang seseorang ucapkan, kita pun dapat mengetahui
keilmuan yang dimilikinya, seperti contoh seorang dokter akan cenderung dapat berbahasa
ilmu kedoktrean atau medis, seorang teknisi berbahasa dengan kosa kata mesinnya, seorang
politisi berbicara dengan kosa kata yang berbau politik, seorang guru berbahasa dengan kosa
kata pendidikannya, dan seorang manusia yang bermoral berbahasa dengan nilai moral yang
dimilikinya. Bahasa yang diperoleh serta dipelajari, dapat menjadi bekal seorang manusia
tidak hanya dalam berkomunikasi tetapi bahasa dapat mewakili seseorang untuk mengutarakan
apa yang ada dipikirannya. Maka kode-kode pikiran yang positif dapat dituangkan dalam
bahasa yang positif pula, seperti yang dikatakan oleh Henry Guntur Tarigan (1981, hlm. 15)
bahwa “Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas
atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial, dan
pendidikannya”. Berkenaan dengan hal di atas, model pembelajaran berbasis kognitif moral
ini yang terangkum dalam tiga kegiatan utama yaitu : perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
hasil belajar memuat penanaman moral pada siswa dapat dengan dilakukan berbagai strategi,
salah satunya adalah dengan mengintegrasikannya kepada setiap mata pelajaran sesuai dengan
pendapat Amirulloh “model ketiga yang mengintegrasikan pendidikan karakter dengan
seluruh mata pelajaran ditempuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pendidik
karakter (character educator). (2012, hlm. 59). Maka model pembelajaran berbasis kognitif
moral dapat diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan dihimbau untuk bisa
diintegrasikan pula dengan mata pelajaran lainnya, hal ini diungkapkan oleh Kusnaedi “guru
mata pelajaran diluar guru agama dan Pkn memprogramkan pengajaran berbasis karakter”
(2013, hlm. 79). Sehingga mata pelajaran apapun guru dapat menanamkan pendidikan karakter
secara terpadu dan menyadari pentingnya kebiasaan tersebut sejak dini. “menanamkan budi
pekerti luhur (nilai-nilai karakter bangsa) kepada anak di sekolah itu ukumnya wajib” (ki hajar
dewantara dalam Kusnaedi, 2013, hlm.16). Relevansi antara model pembelajaran berbasis
kognitif moral dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter adalah bahwa dalam
pembelajaran menggunakan model kognitif moral diiringi karakter yang diharapkan disetiap
kegiatan/kontennya melalui langkah-langkah pembelajaran dari mulai perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi hasil belajar siswa. Dalam evaluasi hasil belajar, lembar evaluasi
siswa berisi soal kisah dilemma moral, dimana kisah dilemma moral ini akan mengaktifkan
struktur kognitif siswa yang sesuai dengan pendapat Buchori (2007) dalam Mulyasa (2013,
hlm.8) mengemukakan bahwa “pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke
pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan secara afektis dan akhornya pengamalan nilai
secara nyata”. Pandangan yang dikemukakan Kohlberg pun (Beck, 1989 dalam Sarbaini,
2012, hlm.12) mengatakan bahwa “ sejumlah penghasil teori ini, percaya bahwa konflik
adalah bahan paling dasar bagi perubahan pengalaman moral”. Dalam pelaksanaannya di
lapangan, perencanaan yang dibuat oleh guru berupa RPP berkarakter, dimana setiap konten
atau kegiatannya memuat karakter yang diharapkan sesuai dengan 18 nilai pendidikan budaya
dan karakter bangsa yaitu : (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6)
kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semnagat kebangsaan, (11) cinta
tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar
membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab.
METODE
Penelitian ini bermaksud meneliti pelaksanaan pembelajaran yang mencakup perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan model
pembelajaran berbasis kognitif moral dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter. Hal ini
telah terjadi sebelumnya di kelas IV SDN 2 Pasirtamiang yang mulai mempersiapkan diri
menyambut kurikulum 2013 dengan menanamkan pendidikan karakter dalam salah satu mata
pelajaran. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas IV SDN 2 Pasirtamiang, dan objek
dalam penelitian ini adalah karakter yang muncul dalam perencanaan, pelaksanaan dan hasil
belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran berbasis kognitif moral. Inilah yang
akan menjadi sumber data penelitian yang akan dianalisis selanjutnya.
Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan observasi secara langsung,
wawancara dan studi dokumentasi. Data diolah dan dianalisis berdasarkan kesesuaian
perencanaan dengan pelaksanaan dan karakter yang diharapkan dari setiap konten /
kegiatannya serta hasil belajar siswa dalam kisah dilemma moral.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Paparan hasil analisis dari perencanaan pembelajaran (RPP) model kognitif moral
Standar kompetensi dari perencanaan pembelajaran model pembelajaran berbasis kognitif
moral adalah mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara tertulis dan lisan dalam
karangan, pengumuman dan pantun anak dan memiliki karakter yang diharapkan yaitu siswa
diharapkan bisa memiliki nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa kreatif.
Kompetensi Dasar dari perencanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral adalah
menyusun dan mengungkapkan
karangan tentang berbagai topik sederhana dengan
memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll) dan karakter yang
diharapkan adalah kreatif.
Indikator dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral adalah : Menentukan tema atau
topik karangan (memilih 18 nilai penmdidikan dan karakter bangsa yang dituliskan guru di
papan tulis). Indikator yang pertama memiliki karakter yang diharapkan yaitu mandiri.
Menyusun kerangka karangan. Indikator yang kedua dari RPP model pembelajaran berbasis
kognitif moral memuat karakter yang diharapkan yaitu disiplin. Menulis karangan dengan
menggunakan bahasa dan ejaan yang disempurnakan. Karakter yang diharapkan adalah
disiplin.
Perencanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral memiliki tujuan pembelajaran
sebagai berikut : Siswa dapat menentukan tema atau topik karangan (memilih 18 nilai
pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dituliskan guru di papan tulis) tujuan
pembelajaran dalam model ini memiliki karakter yang diharapkan yaitu mandiri. Siswa dapat
menyusun kerangka karangan. Dalam hal ini karakter yang diharapkan adalah disiplin. Siswa
dapat menulis karangan dengan menggunakan bahasa dan ejaan yang disempurnakan. Tujuan
pembelajaran model kognitif moral ini memuat karakter yang diharapkan disiplin.
Materi ajar yang digunakan dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral adalah
karangan bebas (bertema nilai pendidikan dan karakter bangsa) serta kisah dilemma moral
untuk upaya mewujudkan pendidikan karakter. Karakter yang diharapkan adalah siswa
memiliki rasa ingin tahu.
Metode pembelajaran yang digunakan dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral
adalah : ceramah, diskusi dan penugasan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa yang
diharapkan adalah menumbuhkan rasa ingin tahu.
Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis kognitif moral,
dimana model ini menjadi salah satu alternatif dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter.
Guru mengharapkan minimal tiga karakter ada dalam diri siswa dengan menggunakan model
pembelajaran ini.
Dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral terdapat langkah-langkah pembelajaran
yang terangkum dalan tiga kegiatan yang bertahapan yaitu : kegiatan awal, kegiatan inti, dan
kegiatan penutup. Pada kegiatan awal siswa melakukan beberapa tahapan (sintaks) sebagai
berikut : Siswa melakukan doa bersama dengan harapan siswa memiliki nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa religius. Dilanjutkan dengan kegiatan menyanyikan salah satu
lagu wajib nasional dan diharapkan siswa memiliki nilai cinta tanah air. Guru melakukan
pengecekan terhadap kehadiran siswa, kegiatan ini diharapkan siwa memiliki karakter disiplin.
Pemberian motivasi belajar oleh guru dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral ini
siswa memiliki karakter disiplin. Menyatakan tujuan belajar dalam model ini guru
memberikan tujuan yang akan dicapai dan siswa diharapkan memiliki karakter rasa ingin tahu.
Terakhir dalam kegiatan awal, guru melakukan apersepsi sebagai jembatan siswa melanjutkan
pembelajaran kepada kegiatan inti. Dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral ini
siswa diharapkan dapat memiliki karakter rasa ingin tahu. Setelah kegiatan awal, siswa dan
guru melaksanakan kegiatan inti pembelajaran. Dalam model pembelajaran berbasis kognitif
moral, tahapannya (sintaks) adalah sebagai berikut : Menentukan tema untuk karangan yang
dibuat oleh siswa, dengan tema yang disuguhkan oleh guru dalam papan tulis yaitu tema yang
menjadi pilihan dalam karangan adalah 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.
dalam menentukan tema ini siswa diharapkan memiliki karakter tanggung jawab. Siswa
membuat kerangka karangan dengan tema yang telah dipilihnya. Dalam pembuatan kerangka
karangan, siswa diharapkan memiliki karakter kreatif. Setelah itu, siswa menulis karangannya
(narasi sederhana) dengan memperhatikan ejaan yang disempurnakan. Dalam model kognitif
moral ini siswa menulis karangan diharapkan dapat memiliki karakter disoplin. Siswa
membacakan hasil karangannya dengan penanaman nilai menghargai prestasi. Selama
membacakan hasil karangannya, guru mengaitkan tema yang dibacakan siswa dengan kisah
dilemma moral. Kisah dilemma moral dapat diperleh dari berita teraktual, agar siswa dapat
memahami kisah dilemma moral dikesehariannya. Hal ini untuk mamacu nikai karakter rasa
ingin tahu. Dalam diskusi ini, siswa pun berpendapat mengenai kasha dilemma moral yang
disuguhkan oleh guru sehingga diharapkan dapat menanamkan karakter komunikatif. Pada
kegiatan akhir dalam model pembelajaran berbasis kognitif moral, siswa melakukan berbagai
tahapan belajar diantaranya : Siswa diberi kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum
dipahami. Dalam hal ini siswa diharapkan memiliki karakter demokratis. Siswa mengerjakan
lembar evaluasi berupa kisah dilemma moral yang terdiri dari lima soal dan dari masingmasing soal memiliki karakter yang diharapkan. Dalam lembar evaluasi siswa, diharapkan
siswa dapat memiliki karakter jujur dan pada Soal no.1 diharapkan siswa memiliki karakter
mandiri, soal no.2 karakter toleransi, soal no.3 karakter cinta damai, soal no.4 karakter peduli
sosial, dan soal no.5 karakter tanggung jawab.
Alat serta bahan yang digunakan adalah teks cerita (kisah dilemma moral), standar isi 2006,
dan sumber belajarnya dari Buku Bina Bahasa Indonesia kelas 4 Hal.93-94, PT. Erlangga.
RPP yang dibuat oleh guru kelas IV SDN 2 Pasirtamiang memuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang disebut RPP berkarakter dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis kognitif moral ini dirancang pula untuk mempersiapkan kurikulum 2013 dan sebagai
upaya dalam mewujudkan pendidikan karakter. Karakter yang diharapkan dalam RRP
berkarakter ini berjumlah 16 karakter yang diharapkan dari 18 nilai pendidikan budaya dan
karakter bangsa yaitu : (1) Kreatif, (2) mandiri, (3) disiplin, (4) rasa ingin tahu, (5)
tanggungjawab, (6) religius, (7) Cinta tanah air, (8) menghargai prestasi, (9)
komunikatif, (10) demokratis, (11) jujur, (12) kerja keras, (13) gemar membaca, (14)
toleransi, (15) cinta damai dan (16) peduli sosial.
Pelaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Kognitif Moral
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis
kognitif moral, guru dan siswa melaksanakan proses pembelajaran dengan tahapan-tahapan
sebagai berikut : Guru membuka pembelajaran dengan salam. Kemudian guru
mengkondisikan kesiapan siswa melalui : kegiatan berdoa, mengecek kehadiran siswa,
menyatakan tujuan belajar, memberikan motivasi belajar, melakukan apersepsi dan kegiatan
lainnya dalam proses belajar sehingga guru dapat mengarahkan siswa secara tidak langsung
dalam kegiatan pembelajaran inti. Ketika guru mengecek kehadiran siswa kemudian ada siswa
yang tidak masuk karena sakit, siswa selalu mengingatkan untuk menjenguk temannya yang
sakit, hal ini terjadi ketika peneliti mengobservasi. Pada pembukaan pembelajaran ketua kelas
menyiapkan kerapian duduk kemudian melalui bimbingan guru, siswa melaksanakan kegiatan
berdoa bersama dan membaca salah satu surat dalam Al-Quran juga membaca asmaul husna.
Selanjutnya siswa melakukan kegiatan rutin, yakni menyanyikan salah satu lagu nasional,
pada tanggal 07 Mei 2014 siswa menyanyikan lagu wajib nasional Garuda Pancasila.Guru dan
siswa melaksanakan pengecekan kehadiran siswa. Pada tanggal 07 Mei 2014, salah seorang
siswa bernama Wahyu tidak masuk sekolah karena sakit. Salah satu siswa mengatakan “bu
kapan kita menjenguk wahyu ? sudah lama tidak sekolah”. Kemudian guru tersebut
menyarankan siswa berdiskusi saat istirahat yang dipimpin oleh ketua kelas untuk menjenguk
sahabatnya. Dari sana terlihat, siswa memiliki jiwa peduli terhadap rekannya, ini sesuai
dengan 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa poin ke-13 dan 17 yakni bersahabat
dan peduli sosial. Selain itu, kelas IV SDN 2 Pasirtamiang memiliki struktur organisasi yang
berjalan dengan baik. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengangkat salah satu
berita aktual di televisi (materi sebelumnya) dengan perlahan guru memunculkan kisah
dilema moral melalui bacaan, film atau bermain peran. Dalam hal ini guru memberikan cerita
dilema moral melalui bacaan yang secara langsung yang berhubungan dengan kehidupan
siswa. Suatu kisah dilema mencakup lima unsur-unsul esensial (Sarbaini, 2012, hlm.45-46)
“fokus, tokoh sentral, pilihan, isu-isu moral, pertanyaan”. Siswa dan guru menganalisis
kejadian seorang siswa kelas VI SD yang memukuli adik kelasnya karena tidak sengaja
menyenggol minuman kakak kelasnya itu. Kemudian siswa kelas VI tersebut memukuli
sampai siswa kelas V yang dipukulinya jatuh sakit dan beberapa hari kemudian meninggal
dunia. Hal ini diduga dari pemukulan yang dilakukan. Guru dan siswa berdiskusi menganalisis
bagaimana masalah ini bisa terjadi, siswa mengambil hikmah dari kejadian ini dan guru
membantu siswa untuk mengungkapkan pendapatnya menggunakan Bahsa Indonesia yang
baik dan benar untuk selanjutnya diarahkan pada pembuatan karangan yang bertemakan 18
nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan
pembelajaran secara keseluruhan memiliki tujuan belajar yang hendak dicapai oleh siswa
dengan menanamkan karakter yang diharapkan dari setiap kegiatan. Dari hasil penelitian
antara kegiatan dan karakter yang diharapkan di atas terdapat 5 (lima) karakter yang telah
dicapai. Berikut ini adalah tabel hasil penelitian yang dilakukan terkait kegiatan yang
berlangsung dengan karakter yang diharapkan.
Kelima karakter tersebut adalah : (1) Religius), (2) cinta tanah air, (3) peduli sosial, (4) rasa
ingin tahu, (5) bersahabat. Ada beberapa karakter yang sesuai dengan perencanaan (RPP)
dan ada pula yang berbeda, berikut karakter yang diharapkan antara perencaan dan
pelaksanaan pada kegiatan pembukaan: Perbedaan antara perencaan karakter yang diharapkan
dengan pelaksaan (pada kegiatan pembukaan) adalah pada saat mengecek kehadiran siswa,
guru mencantumkan karakter yang diharapkan adalah disiplin karena guru berharap siswa
dapat dengan tertib menunjukkan kehadirannya ketika guru mengecek, namu pada saat
pelaksanaan, ketika guru mengecek kehadiran siswa, ada salah satu siswa yang sedang sakit,
sehingga menimbulkan respon dari siswa yang lainnya untuk menengok temannya yang tidak
sekolah. Hal ini memunculkan karakter lain selain disiplin yakni bersahabat dan peduli sosial.
Pada kegiatan memberikan motivasi pun, guru mencantumkan karakter yang diharapkan
adalah disiplin, karena siswa akan merasa termotivasi dan bersikap disiplin saat guru
menyampaikan motivasi belajar, namun dalam kenyataannya siswa memiliki karakter lain
yang muncul yaitu sisi religiusnya hal ini disebabkan karena guru setelah mengecek kehadiran
siswa dan ada siswa yang sakit secara spontan guru memberikan motivasi belajar dengan cara
bersyukur atas nikmat sehat yang Tuhan berikan sehingga siswa yang lainnya dapat mengikuti
pembelajaran dengan lancar, dan masih banyak orang lain yang belum bisa melaksanakan
pembelajaran. Dalam ini siswa tidak hanya disiplin mendengarkan motivasi belajar dari guru
tetapi memunculkan kembali nilai religiusnya dengan bersyukur atas nikmat Tuhan.
Berdasarkan hal di atas tidak menjadi suatu kendala yang berarti karena ketidaktercapaian
karakter bukan penghilangan karakter, akan tetapi penambahan karakter. Pada kegiatan inti,
peneliti mengikuti kegiatan pembelajaran selama tiga kali. Namun secara keseluruhan peneliti
mengobservasi mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis kognitif moral. Pada tanggal 07 Mei 2014 guru menanyakan mengenai berita
teraktual yang dilihat siswa (sebagai apersepsi) dan kebanyakan siswa menjawab mengenai
pemberitaan siswa kelas VI memukuli adik kelasnya karena tidak sengaja menumpahkan
minuman, sampai adik kelasnya tersebut jatuh sakit dan meninggal dunia. Guru membimbing
siswa dan secara perlahan mengangkat kasus tersebut menjadi kisah dilemma moral dalam
membuka pembelajaran. Terjadi percakapan dan diskusi antar siswa dan guru :
Guru : “setelah kamu mengetahui kejadian tersebut, berikan pendapatmu mengenai tindakan
adik kelas yang tidak sengaja menyenggol minuman hingga tumpah ke baju kakak kelasnya !”
Siswa : “ sebaiknya lekas minta maaf” (mayoritas siswa menjawab seperti itu)
Guru : “ lalu bagaimana menurutmu tindakan kakak kelasnya ?”
Siswa I: “terlalu emosi”
Siswa II : “Baju basah tinggal dijemur”
Siswa III : “memaafkan saja”
Terdengar beberapa siswa menyebutkan hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh siswa yang
mengeroyok adik kelasnya. Siswa saling berdiskusi dan guru mengarahkan kepada nilai-nilai
moral. Dengan tertib siswa mengemukakan pendapatnya dan mendengarkan sahabatnya yang
lain berbicara, guru berperan sebagai moderator. Hingga guru dan siswa memaknai kejadian
tersebut dan bersama-sama mengambil hikmah, guru pun mengajak siswa menganalisis sebab
akibat dari kejadian. Seperti yang diucapkan oleh guru berikut ini “coba kamu bayangkan
akibat dari tidak bisa mengendalikan emosi, siswa tersebut kelas VI, dan kita mengetahui
bahwa kelas VI akan menghadapi ujian nasional sementara siswa tersebut harus menghadapi
polisi dan menanggung malu serta rasa bersalah. Ibu harap kalian harus berpikir dulu sebelum
bertindak dan jangan terbawa emosi, memiliki rasa dendam serta belajarlah memaafkan”.
Selanjutnya guru melanjutkan pembelajaran dengan memberi materi pembuatan karangan
dengan pilihan jenis tema yang beragam. Tema tersebut ditulis di papan tulis sebagai salah
satu tema yang akan ditulis oleh siswa. Tema tersebut adalah 18 nilai pendidikan dan karakter
bangsa.Dalam pemilihan tema ini ada beberapa siswa yang bertanya mengenai pengertian
tema, misalnya seorang siswa bertanya “bu toleransi itu apa ?”, dan guru pun menjawab
dengan jelas. Rasa ingin tahu siswa muncul untuk menanyakan pengertian dari beberapa tema,
sehingga guru mengambil tindakan untuk menjelaskan secara singkat contoh karangan (cerita)
yang memuat tema pertemanya.Selanjutnya siswa membuat kerangka karangan dengan
dibantu oleh guru menggunakan 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why dan How), siswa
menulis karangan berupa cerita singkat yang dilakukan di sekolah oleh siswa-siswa dengan
teman-temannya (kegiatan sehari-hari) yang menunjukkan aktivitas sesuai dengan tema. Siswa
diharapkan dapat berprilaku kreattif dalam mengembangan cerita yang dibuatnya.Kerangka
karangan sederhana telah dibuat, selanjutnya adalah membuat karangan atau menuliskan
kembali dari kerangka karangan yang sudah dibuat menjadi sebuah cerita yang memiliki tema
yang telah disuguhkan oleh guru. Dalam hal ini guru memperingatkan siswa untuk menuliskan
karangan sesuai dengan Ejaan yang disempurnakan (EYD). Siswa diharapkan dapat memiliki
karakter disiplin dalam membuat karangannya.Selanjutnya siswa membacakan karangan
sederhananya di depan kelas dan sekilas guru membahas mengenai karangan yang bertemakan
ke-18 nilai tersebut, agar siswa mengenal dan dapat mengetahui sejak dini. Beberapa karangan
dijadikan kisah dilemma moral, sehingga memunculkan keaktifan siswa untuk berpendapat.
Setelah membacakan karangannya, guru memberikan kisah dilemma moral yang didiskusikan
oleh siswa, kisah dilemma moral mengenai sikap toleransi dan cinta damai (kelanjutan dari
berita yang sebelumnya). Selama siswa menjalani proses pembelajaran siswa terlihat aktif. Hal
ini disebabkan siswa merasakan materi yang disajikan, siswa belajar dari pendapatnya sendiri
dan merupakan aktivitas sehari-hari. Setelah guru memberikan cerita dilema moral dari media
tersebut, siswa menyatakan posisi sementara mereka mengenai jawaban dari cerita dilema
“jika ia menjadi_” atau “apa yang sebaiknya dilakukan_”. hal ini dapat ditulis pada kertas
masing-masing siswa (secara individu) berisi jawaban dan alasan mereka memilih hal tersebut.
Siswa secara singkat menuliskan mengenai posisi ia jika menjadi siswa kelas V yang tidak
sengaja menyenggol minuman kepada kakak kelasnya, dan siswa pun menempatkan diri
menjadi siswa kelas VI, apakah setuju dengan apa yang telah dilakukannya, dan sebaiknya
seperti apa. Langkah selanjutnya adalah menguji alasan siswa. Sebelumnya guru
mengelompokan jawaban siswa yang sama walaupun dengan berbagai alasan yang berbeda.
Sehingga siswa terbagi dalam kelompok kecil. Pada langkah ini guru memberikan waktu
kepada siswa untuk berdiskusi kecil mengenai alasan umum atau kesimpulan alasan yang
mereka rumuskan untuk diungkapkan kepada kelompok yang lainnya. Siswa bisa menuliskan
alasan-alasan mereka.
Tahapan terkahir dari diskusi di kelas adalah siswa kembali sekali lagi meringkas alasan
dengan menuliskannya di papan tulis. Atau pemberian kesempatan kepada siswa mengenai
alasannya, mungkin beberapa siswa ingin menambah alasannya setelah mendengar komentar-
komentar selama diskusi. Dan terkahir meminta siswa untuk mencatat sikap atau karakter apa
yang mereka rasakan selama proses pembelajaran. Secara umum tahapan kegiatan inti
pembelajaran : Guru dan siswa mengangkat berita teraktual. Siswa membuat karangan sebagai
pengenalan 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.Siswa membuat kerangka
karangan dan membuat karangan sesuai dnegan EYD. Siswa membacakan hasil kerjanya di
depan kelas. Guru menyuguhkan kembali kisah dilema moral yang berkaitan dengan karangan
siswa dan melakukan diskusi ringan. Guru kembali menyimpulkan berita yang aktual
mengenai meninggalnya siswa kelas V karena dipukuli oleh kakak kelasnya sebagai penutup
kisah dilemma moral dan bahan lanjutan diskusi siswa. Siswa menyatakan posisi sementara
(kesetujuan siswa mengenai tindakan yang dilakukan oleh aktor dalam kisah dilemma moral
tersebut). Menguji alasan siswa (berdiskusi dalam menganalisis megapa kejadian tersebut bisa
terjadi sampai mengakibatkan hal yang fatal). Mencatat karakter apa yang mereka rasakan
(guru mengarahkan siswa menyebutkan hikmah yang terjadi, dan apa yang harus mereka
lakukan jika kejadian tersebut menimpanya suatu hari, agar siswa dapat belajar meminta maaf
saat bersalah dan dapat mengendalikan emosi dan saling memaafkan).
Dalam pelaksanaan (kegiatan inti) terdapat lima karakter yang telah dicapai, yaitu :
(1) Rasa ingin tahu, (2) kreatif, (3) disiplin, (4) menghargai prestasi, (5) kreatif. Hasil
analisis dari perencanaan pembelajaran (RPP) dengan pelaksanaan (kegiatan inti) memiliki
ketercapaian karakter yang berbeda, berikut hasil analisis karakter yang diharapkan dala
perencanaan dan pelaksanaan. Ada beberapa karakter yang diharapkan tidek sesuai dengan
yang dituliskan di RPP. Yaitu pada kegiatan menentukan tema. Ketika siswa menentukan
tema, karakter yang diharapkan dalam RPP adalah tanggungjawab, dimana siswa memilih
salah stau tema karangan tersebut dengan rasa tanggungjawab yang memiliki deskripsi sebagai
suatu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya. Namun pada
kenyataannya karakter yang muncul adalah rasa ingin tahu, siswa banyak bertanya mengenai
tema yang dituliskan oleh guru di papan tulis. Sehingga pada kegiatan menentukan tema ini,
siswa tidak hanya memiliki rasa tanggung jawab akan pemilihan tema yag dipilihnya, namun
siswa pun memiliki karakter rasa ingin tahu. Karakter yang berbeda selanjutnya antara
perencanaan dan pelaksanaan terdapat pada kegiatan penjelasan guru terkait karangan siswa
dengan kisah dilem moral. Pada perencanaan siswa diharapkan memiliki karakter rasa ingin
tahu, akan tetapi siswa telah memiliki karakter selanjutnya setelah rasa ingin tahu yaitu siswa
menunjukan keaktifan siswa dalam menanggapi kisah dilemma moral yang disuguhkan yakni
siswa lebih komunikatif. Dan pada kegiatan berdiskusi (tukar pendapat) karakter dalam
perencanaan (RPP) siswa diharapkan dapat memiliki karakter yang komunikatif, namun siswa
telah menunjukkannya saat guru memberikan penjelasan sebelumnya, sehingga pada tahapan
ini siswa lebih kreatif menjawab pertanyaan guru dan teman-temannya, jawaban yang
bervariasi dan lebih percaya diri. Berdasarkan hal tersebut, siswa bukan tidak mencapai
karakter yang diharapkan akan tetapi siswa menunjukkan karakter lain. Dari semua rangkaian
yang telah dilaksanakan pada kegiatan inti, guru dan siswa sudah melaksanakannya sesuai
dengan RPP, dan banyak sekali menyelipkan pesan moral. Model pembelajaran berbasis
kognitif moral memberikan banyak kesempatan kepada guru dan siswa untuk mengkaji nilainilai moral serta menanamkan karakter yang baik kepada siswa. Kisah dilemma moral sebagai
salah satu yang bisa membantu siswa mendapatkan karakter yang baik dan tertanam di masa
yang akan datang. Pada kegiatan penutup, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya
mengenai hal-hal yang belum dipahami, pada saat itu tidak ada siswa yang bertanya. Namun
pada saat guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran, siswa terlihat antusias menyebutkan
satu persatu poin pembelajaran yang telah dipelajari. Guru menginformasikan mengenai
pembelajaran selanjutnya tentang kisah dilema moral yang akan dijadikan dalam lembar
evaluasi siswa. Diharapkan siswa mengerjakannya sendiri, guru tersebut berkata “tlong
dikerjakan sendiri ! karena ini jawabannya adalah pendapat kalian, jadi tidak ada yang salah
silakan kemukakan pendapat kalian, jangan takut salah ! yang salah itu yang mencontek dari
temannya !”. perkataan guru tersebut membuat siswa semangat mengerjakan lembar evaluasi,
dan terlihat siswa sibuk sendiri terhadap lembar evaluasinya sendiri, sehingga pengerjaan ini
meminimalisisr siswa untuk melihat jawaban temannya. Kegiatan penutup ini guru
memberikan pula pekerjaan rumah berupa soal sebagai berikut : Coba kamu tulis kembali
hasil karanganmu dengan rapi dalam kertas polio serta gabungkan hasil kerjamu dengan
teman-temanmu, dikumpulkan di ketua kelas !
Pada proses belajar ini, model pembelajaran berbasis moral ini tidak hanya dilakukan satu
kali. Karena jawaban dan alasan siswa akan dianalisis sebagai referensi apakah siswa telah
menemukan bahkan merasakan pendidikan karakter selama proses belajar. Hasil jawaban
siswa akan kembali dianalisis dan dihubungkan dengan pemberian soal kepada siswa yang
berkaitan dengan pendidikan karakter dari proses mereka mengolah pikiran menuju ranah
kognitif yang bermoral.Pada pelaksanaan pembelajaran dalam kegiatan penutup berikut
peneliti paparkan hasil analisisnya terdapat tiga karakter yang diharapkan dalam pelaksanaan
pembelajaran di bagian kegiatan penutup yaitu : (1) demokratis, (2) jujur, dan (3) kerja
keras.Pada pelaksanaan pembelajaran dalam kegiatan penutup karakter yang diharapkan
antara perencanaan (RPP) telah sesuai dan tercapai. Karakter yang diharapkan pada isi soal
lembar evaluasi siswa pun tiap per poinnya memiliki karakter yang diharapkan. Pembahasan
mengenai ketercapaian karakter yang diharapkan antara RPP dan pelaksanaan di lembar
evaluasi kisah dilemma moral, akan dibahas pada hasil belajar siswa. Satu persatu siswa akan
dianalisis jawabannya persatu soal. Rangkaian pembelajaran Bahasa Indonesia dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis kognotif moral ini mencantumkan 16 (enam
belas) karakter yang diharapkan dari 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Keenambelas karakter tersebut akan dipaparkan beserta kegiatannya dari seluruh proses
pembelajaran.
Rangkaian kegiatan yang memuat proses pembelajaran Bahasa Indonesia berjumlah 23. Dari
semuanya, 23 kegiatan / konten telah diketahui kesesuaiannya antara perencanaan dengan
pelaksanaan. Dari 23 kegiatan / konten ini, ada 5 karakter yang belum sesuai dengan harapan
yaitu pada kegiatan mengecek kehadiran siswa yang diharapkan adalah nilai disiplin semntara
yang menonjol adalah bersahabat dan nilai peduli sosial. Kemudian pada kegiatan pemberian
motovasi, nilai yang diharapkan adalah disiplin namun yang menonjol adalah religius.
Selanjutnya menentukan tema karangan , nilai yang diharapkan adalah tanggung jawab namun
nilai yang menonjol adalah rsa ingin tahu. Selanjutnya pda kegiatan penjelasan guru terkait
kisah dilemma moral dengan nilai yang diharapkan adalah rasa ingin tahu namun nilai yang
menonjol adalah komunikatif. Dan yang terakhir pada saat siswa mengemukakan pendapat
mengenai kisah dilemma moral, nilai yang diharapkan adalah komunikatid sementara nilai
yang menonjol adalah kreatif. Hal ini terjadi disebabkan oleh berbagai hal. Namun pada
kenyataannya bukan siswa tidak mencapai karakter tersebut, hanya segi penonjolan karakter
yang dikeluarkan siswa berbeda dengan karakter yang diharapkan pada perencanaan (RPP).
Serangkaian kegiatan model pembelajaran berbasis kognitif moral telah diketahui upaya dalam
mewujudkan pendidikan karakter dengan hasil analisis 18 nilai pendidikan budaya dan
karakter bangsa.
Evaluasi Hasil Belajar Siswa dalam Model Pembelajaran Berbasis Kognitif Moral
Selanjutnya adalah hasil belajar siswa pun dianalisis berdasarkan pendapat siswa melalui lisan
ketika berdiskusi dengan teman-temannya dan berupa tulisan yang didokumentasikan melalui
lembar evaluasi siswa. Jawaban dari siswa akan dikaitkan dengan 18 nilai pendidikan budaya
dan karakter bangsa. Relevansi jawaban siswa akan disajikan secara langsung dan dapat
dilihat apakah model pembelajaran berbasis kognitif moral ini dapat menjadi salah satu upaya
dalam mewujudkan pendidikan karakter di Indonesia.
Pada soal no.1 siswa yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak 5 siswa, dan yang tidak sesuai sebanyak 7 orang siswa.
Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang menjawab
disiplin tiga orang, tanggung jawab tiga orang, komunikatif satu orang.
Pada soal no.2 siswa yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak tiga orang. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai sebanyak
9 orang siswa. Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa
yang menjawab komunikatif dua orang, religius lima orang dan yang tidak terdapat dalam 18
nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa sebanyak dua orang.
Pada soal no.3 siswa yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak enam orang siswa. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai
pun sebanyak enam orang siswa. Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa
karakter yaitu siswa yang menjawab komunikatif tiga orang, tanggung jawab satu orang dan
tidak terdapat dalam 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa sebanak dua orang siswa.
Pada soal no.4 siswa yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak sepuluh orang siswa. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai
sebanyak dua orang. Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu
siswa yang menjawab kerja keras satu orang dan tidak terdapat dalam 18 nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa sebanyak satu orang siswa.
Pada soal no.5 siswa yang jawabannya dalam perencanaan model pembelajaran berbasis
kognitif moral sebanyak tujuh orang siswa. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai sebanyak
lima orang. Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang
menjawab jujur sebanyak satu orang, komunikatif sebanyak satu orang dan peduli lingkungan
sebanyak dua orang.
SIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan pembahasan hasil penelitian tentang model
pembelajaran berbasis kognitif moral di kelas IV SDN 2 Pasirtamiang adalah perencanaan
model pembelajaran berbasis kognitif moral dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
memiliki tahapan (sintaks) kegiatan / konten :standar kompetensi, kompetensi daras, indikator,
tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, model pembelajaran. Langkahlangkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan penutup, serta alat / bahan /
sumber belajar juga lembar evaluasi siswa yang berisi kisah dilemma moral. Dalam
perencanaan itu telah mencapai 16 (enam belas) deskripsi nilai pendidikan budaya dan
karakter bangsa. yaitu: (1) Kreatif, (2) mandiri, (3) disiplin, (4) rasa ingin tahu, (5)
tanggungjawab, (6) religius, (7) Cinta tanah air, (8) menghargai prestasi, (9) komunikatif, (10)
demokratis, (11) jujur, (12) kerja keras, (13) gemar membaca, (14) toleransi, (15) cinta damai
dan (16) peduli sosial. Terdapat dua karakter yang belum tercapai dalam perencanaan model
pembelajaran berbasis kognitif moral yaitu (1) semangat kebangsaan dan (2) peduli
lingkungan. Pelaksanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral yang terdiri dari
kegiatan pembukaan yang didalamnya terdapat kegiatan berdoa, menyanyikan salah satu lagu
wajib nasional, mengecek kehadiran siswa, pemberian motivasi, menyatakan tujuan belajar
dan melakukan apersepsi. Kegiatan inti didalamnya terdapat menentukan tema untuk karangan
siswa, membuat kerangka karangan, menulis karangan, membacakan hasil karangan yang
telah dibuat oleh siswa, guru melakukan penjelasan terkait karangan siswa dengan kisah
dilemma moral, dan siswa mengemukakan pendapatnya dengan diskusi. Kegiatan penutup
memuat kegiatan pe,berian kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai hal yang
belum dipahami, siswa mengerjakan lembar evaluasi siswa dan pemberian tugas rumah (PR).
Dari semua rangkaian kegiatan tersebut, tahap pelaksanaan dalam model pembelajaran
berbasis kognitif moral telah mencapai 11 deskripsi nilai pendidikan budaya dan karakter
bangsa yaitu : (1) religius), (2) cinta tanah air, (3) peduli sosial, (4) rasa ingin tahu, (5) kreatif,
(6) disiplin, (7) menghargai prestasi, (8) komunikatif, (9) demokratis, (10) jujur, dan (11) kerja
keras. Sementara terdapat tujuh nilai yang belum tercapai yaitu : (1) gemar membaca, (2)
toleransi, (3) cinta damai, (4) mandiri, (5) semangat kebangsaan, (6) peduli lingkungan, dan
(7) peduli sosial. Evaluasi hasil belajar siswa pada model pembelajaran berbasis kognitif
moral memiliki karakter yang diharapkan setiap soalnya. Lembar evaluasi siswa yang berisi
kisah dilemma moral memuat lima soal, setiap soalnya memiliki karakter yang diharapkan,
karakter tersebut adalah mandiri, toleransi, cinta damai, peduli sosial dan tanggung jawab.
Pada soal no.1 siswa yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak 5 siswa, dan yang tidak sesuai sebanyak 7 orang siswa.
Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang menjawab
disiplin tiga orang, tanggung jawab tiga orang, komunikatif satu orang. Pada soal no.2 siswa
yang sesuai jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral
sebanyak tiga orang. Siswa yang menjawab tidak sesuai sebanyak 9 orang siswa. Jawaban
yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang menjawab
komunikatif dua orang, religius lima orang dan yang tidak terdapat dalam 18 nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa sebanyak dua orang. Pada soal no.3 siswa yang sesuai
jawabannya dengan perencanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral sebanyak enam
orang siswa. Siswa yang menjawab tidak sesuai pun sebanyak enam orang siswa. Jawaban
yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang menjawab komunikatif
tiga orang, tanggung jawab satu orang dan tidak terdapat dalam 18 nilai pendidikan budaya
dan karakter bangsa sebanak dua orang siswa. Pada soal no.4 siswa yang sesuai jawabannya
dengan perencanaan model pembelajaran berbasis kognitif moral sebanyak sepuluh orang
siswa. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai sebanyak dua orang. Jawaban yang tidak sesuai,
siswa menjawab beberapa karakter yaitu siswa yang menjawab kerja keras satu orang dan
tidak terdapat dalam 18 nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa sebanyak satu orang
siswa. Pada soal no.5 siswa yang jawabannya dalam perencanaan model pembelajaran
berbasis kognitif moral sebanyak tujuh orang siswa. Dan siswa yang menjawab tidak sesuai
sebanyak lima orang. Jawaban yang tidak sesuai, siswa menjawab beberapa karakter yaitu
siswa yang menjawab jujur sebanyak satu orang, komunikatif sebanyak satu orang dan peduli
lingkungan sebanyak dua orang.
DAFTAR PUSTAKA
Amirulloh. (2012). Buku pintar pendidikan karakter. Jakarta : Prima Pustaka.
Departemen Nasional. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Kusnaedi. (2013). Pendidikan Karakter. Bekasi. DUTA MEDIA UTAMA.
Mulyasa. (2013). Manajemen pendidikan karakter. Jakarta : Bumi Aksara
Sarbaini. (2012). Model pembelajaran berbasis kognitif moral. Yogyakarta : Aswaja
Pressindo
Tarigan-Henry, G. (1981). Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung :
Angkasa.
Download