Uploaded by User74630

AGAMA BAB V(1)

advertisement
BAB V
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELULUSAN
OSCE KETERAMPILAN “PUNGSI VENA, PHLEBOTOMY, DAN
PEMASANGAN INFUS ” MENURUT PERSEPSI MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
DAN TINJAUANNYA MENURUT ISLAM
5.1 Keterampilan Pungsi Vena, Phlebotomy, dan Pemasangan Infus Menurut
Perspektif Islam
Keterampilan Pungsi Vena, Phlebotomy, dan Pemasangan Infus merupakan
keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa kedokteran (KKI,2012).
Tindakan Infus atau terapi intravena merupakan terapi medis yang dilakukan secara
invasif dengan menggunakan metode yang efektif untuk mensupplai darah, cairan
elektrolit, nutrisi, dan obat melalui pembuluh darah (intra vascular). Phlebotomy
merupakan kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal yang meliputi 3 macam
cara, yaitu : melalui tusukan vena/pungsi vena (venipuncture), tusukan kulit
(skinpuncture) dan tusukan arteri atau nadi (Perry & Potter, 2005).
Kedua keterampilan tersebut merupakan komponen keterampilan terpenting
dalam melakukan pendonoran darah/transfusi darah. Upaya kesehatan transfusi
darah adalah serangkaian kegiatan mulai dari pengerahan dan pelestarian donor
sampai dengan pendistribusian darah. Transfusi darah merupakan tindakan klinis
yang penting untuk mengatasi penyakit dan menyelamatkan jiwa serta memperbaiki
kesehatan pasien yang memerlukan darah. Indikasi tepat transfusi darah dan
komponen darah adalah untuk mengatasi kondisi yang menyebabkan morbiditas
dan mortalitas bermakna yang tidak dapat diatasi dengan cara lain (Pratidina &
Pupu, 2001).
Dalam kajian ushul fiqh, transfusi darah masih diperbincangkan apakah
termasuk bab ibadah, bab muammalah atau jinayah. Apakah darah merupakan
‘barang’ sehingga boleh dimiliki atau’bukan barang’ sehingga tidak boleh dimiliki,
apakah kegunaan transfusi darah hanya boleh untuk kepentingan sosial atau boleh
juga untuk dibisniskan. Menurut ushul fiqh pada dasarnya, darah yang dikeluarkan
1
dari tubuh manusia termasuk najis mutawasithah. Maka dalam kajian ibadah darah
tersebut hukumnya haram untuk dimakan dan dimanfaatkan. sebagaimana firman
Allah (Akbar, 2017):
َّ ‫ير َو َما ٓ أ ُ ِّه َّل ِّلغ َۡي ِّر‬
ِّ‫ٱَّلل‬
ِّ ‫نز‬
ِّ ‫ُح ِّر َم ۡت َعلَ ۡي ُك ُم ۡٱل َم ۡيتَةُ َوٱلدَّ ُم َولَ ۡح ُم ۡٱل ِّخ‬
‫سبُ ُع‬
َّ ‫ِّبِّۦه َو ۡٱل ُم ۡن َخنِّقَةُ َو ۡٱل َم ۡوقُوذَة ُ َو ۡٱل ُمت َ َر ِّديَةُ َوٱلنَّ ِّطي َحةُ َو َما ٓ أ َ َك َل ٱل‬
... ‫ب‬
ُ ُّ‫ِّإ ََّّل َما ذَ َّك ۡيت ُ ۡم َو َما ذُبِّ َح َعلَى ٱلن‬
ِّ ‫ص‬
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh,
yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala...”
(Q.S. Al-Maidah[5]:3) (Akbar, 2017)
Ayat diatas pada dasarnya melarang memakan maupun mempergunakan
darah, baik secara langsung ataupun tidak. Akan tetapi apabila darah merupakan
satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwa seseorang yang kehabisan darah,
maka mempergunakan darah dibolehkan dengan jalan transfusi. Bahkan
melaksanakan transfusi darah dianjurkan demi kesehatan jiwa manusia,
sebagaimana firman Allah (Akbar, 2017):
َّ ‫ۡٱليَ ۡو َم أ ُ ِّح َّل لَ ُك ُم‬
َ ‫ٱلطيِّ َٰبَ ُۖتُ َو‬
‫ لَّ ُك ۡم‬ٞ‫ب ِّحل‬
َ َ ‫طعَا ُم ٱلَّذِّينَ أُوتُواْ ۡٱل ِّك َٰت‬
َ ‫َو‬
ُ‫ص َٰنَت‬
ِّ َ‫ص َٰنَتُ ِّمنَ ۡٱل ُم ۡؤ ِّم َٰن‬
َ ‫ت َو ۡٱل ُم ۡح‬
َ ‫ لَّ ُه ُۡۖم َو ۡٱل ُم ۡح‬ٞ‫طعَا ُم ُك ۡم ِّحل‬
‫ب ِّمن قَ ۡب ِّل ُك ۡم‬
ِّ َ‫ِّمنَ ۡٱل ُم ۡؤ ِّم َٰن‬
َ َ ‫ص َٰنَتُ ِّمنَ ٱلَّذِّينَ أُوتُواْ ۡٱل ِّك َٰت‬
َ ‫ت َو ۡٱل ُم ۡح‬
‫ َو َمن يَ ۡكفُ ۡر‬ٞٞ‫ِّي أ َ ۡخدَان‬
ِّ ‫ُم ۡح‬
َ َٰ ‫صنِّينَ غ َۡي َر ُم‬
ٓ ‫س ِّف ِّحينَ َو ََّل ُمت َّ ِّخذ‬
َ ‫ٱۡلي َٰ َم ِّن فَقَ ۡد َح ِّب‬
٥ َ‫ط َع َملُ ۥهُ َو ُه َو فِّي ۡٱۡل ٓ ِّخ َرةِّ ِّمنَ ۡٱل َٰ َخس ِِّّرين‬
ِّ ۡ ‫ِّب‬
“ Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa:
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang
2
kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang
jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui
batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi” (Q.S. Al-Maidah [5]:32).
Yang demikian itu sesuai pula dengan tujuan syariat Islam, yaitu bahwa
sesungguhnya syariat Islam itu baik dan dasarnya ialah hikmah dan kemaslahatan
bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat (Akbar, 2017).
Kemaslahatan yang terkandung dalam mempergunakan darah dalam transfusi
darah adalah untuk menjaga keselamatan jiwa seseorang yang merupakan hajat
manusia dalam keadaan darurat, karena tidak ada bahan lain yang dapat
dipergunakan untuk menyelamatkan jiwanya. Maka, dalam hal ini najis seperti
darah pun boleh dipergunakan untuk mempertahankan kehidupan. Misalnya
seseorang yang menderita kekurangan darah karena kecelakaan, maka dalam hal ini
diperbolehkan menerima darah dari orang lain. Hal tersebut sangat dibutuhkan
(dihajatkan) untuk menolong seseorang yang keadaannya darurat, sebagaimana
keterangan Qaidah Fiqhiyah (Akbar, 2017):
ً ‫صة‬
ْ ‫ض ُر ْو َر ِّة َعا َّمةً َكان‬
َّ ‫ا َ ْل َحا َجةُ ت َ ْن ِّز ُل َم ْن ِّزلَةَ ال‬
َّ ‫َت أ َ ْو خَا‬
“Perkara hajat (kebutuhan) menempati posisi darurat (dalam menetapkan hukum
Islam), baik yang bersifat umum maupun yang khusus.”
‫ارا َهةَ َم َع ْال َحا َج ِّة‬
َّ ‫ام َم َع ال‬
َ ‫ض ُر ْو َرةِّ َوَّلَ َك‬
َ ‫َّلَ َح َر‬
“Tidak ada yang haram bila berhadapan dengan keadaan darurat, dan tidak ada
yang makruh bila berhadapan dengan hajat (kebutuhan).”
Maksud yang terkandung dalam kedua kaidah tersebut menunjukkan bahwa
Islam membolehkan hal-hal yang makruh dan yang haram bila berhadapan dengan
hajat dan darurat. Dengan demikian transfusi darah untuk menyelamatkan seorang
pasien dibolehkan karena hajat dan keadaan darurat (Akbar, 2017).
5.2 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kelulusan OSCE Menurut
Pandangan Islam
3
5.2.1 Minat
Menurut Shaleh & Wahab (2004), Dalam berkomunikasi atau berhubungan
dengan orang lain, benda, situasi dan aktivitas-aktivitas yang terdapat di sekitarnya,
dapat bersikap menerima, membiarkan atau menolaknya. Apabila seseorang telah
menaruh minat, itu berarti dirinya menyambut atau bersikap positif dalam
berhubungan dengan objek atau lingkungan tersebut dengan demikian maka akan
cenderung untuk memberi perhatian dan melakukan tindakan lebih lanjut
Jika seseorang memiliki minat maka ia akan meresponnya dengan tindakan
nyata. Karena pada dasarnya jika seseorang menaruh minat pada sesuatu, maka
berarti orang tersebut menyambut baik dan bersikap positif dalam berhubungan
dengan objek atau lingkungan tersebut. Misalnya, seseorang yang berminat
menguasai bahasa Inggris, maka dia akan melakukan upaya untuk dapat
mengetahui, memahami bahkan untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris
(Shaleh & Wahab, 2004).
Dalam Al-qur'an pembicaraan tentang hal ini terdapat pada surat pertama
turun. Pada ayat pertama dari surat pertama turun perintahnya adalah agar kita
membaca. Membaca yang dimaksud bukan hanya membaca buku atau dalam artian
tekstual, akan tetapi juga semua aspek, termasuk membaca potensi diri, sehingga
dapat memahami apa yang sebenarnya hal yang menarik minat seseorang dalam
kehidupan ini.
ۡ
‫ٱۡلن َٰ َسنَ َما لَ ۡم‬
ِّ ۡ ‫ َعلَّ َم‬٤ ‫ ٱلَّذِّي َعلَّ َم ِّب ۡٱلقَلَ ِّم‬٣ ‫ۡٱق َرأ َو َرب َُّك ۡٱۡل َ ۡك َر ُم‬
٥ ‫يَعۡ لَ ۡم‬
“Bacalah! Tuhammülah Yang Maha Pemurah ! Yang mengajarkan dengan Kalam.
Mengajarkan manusia apa yang ia tahu." (Q.S. Al-Alaq[96]: 3-5).
Jadi, betapa bakat dan minat merupakan karunia terbesar yang
dianugerahkan Allah SWT, kepada manusia. Namun, bukan berarti kita hanya
berpangku tangan dan minat serta bakat tersebut berkembang dengan sendirinya.
4
Tetapi, upaya yang harus dilakukan adalah mengembangkan sayap anugerah Allah
itu kepada kemampuan maksimal kita sehingga karunia-Nya dapat berguna dengan
baik pada diri kita dan kepada orang lain serta lingkungan di manapun berada
(Shaleh & Wahab, 2004).
5.2.2
Kemampuan Psikomotor
Aspek psikomotorik berkaitan erat dengan akhlak ataupun sistem perilaku.
Akhlak atau sistem perilaku ini terjadi melalui satu konsep atau seperangkat
pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu harus terwujud. Konsep
atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya akhlak itu
seharusnya disusun oleh manusia di dalam sistem pemikirannya. Sistem pemikiran
ini adalah hasil proses (penjabaran) dari pada kaidah-kaidah yang dihayati dan
dirumuskan sebelumnya (norma yang bersifat normatif dan norma yang bersifat
deskriptif). Kaidah atau norma yang merupakan ketentuan ini timbul dari satu
sistem nilai yang terdapat pada Al Qur-an atau Sunnah yang telah dirumuskan
melalui wahyu Ilahi maupun yang disusun oleh manusia sebagai kesimpulan dari
hukum-hukum yang terdapat dalam alam semesta yang diciptakan Allah SWT
(Daradjat et al, 1984).
Apabila pola perilaku terbentuk maka sebagai kelanjutannya akan lahir
hasil-hasil dari pola perilaku tersebut yang berbentuk rial (artifacts) maupun nonmaterial (konsepsi, ide). Jadi Akhlak yang baik itu ialah pola prilaku yang
dilandaskan pada dan memanifestasikan nilai-nilai Iman, Islam dan Ihsan. Ihsan
berarti berbuat baik. Orang yang ihsan disebut muhsin parti orang yang berbuat baik
(Daradjat et al, 1984).
5.2.3
Pengetahuan (Konwledge) dan Aplikasinya
Menurut Najati (2004), salah satu prinsip dasar proses belajar adalah jadwal
waktu belajar. Di antara temuan riset mutakhir dalam proses belajar ialah jadwal
waktu belajar. Dengan kata lain, dalam proses belajar harus ada jenjang waktu
untuk istirahat. Hal ini sangat penting dalam proses belajar yang tepat dan cepat.
Dengan mengatur jadwal waktu belajar, maka pelajaran yang akan disampaikan
berikutnya dapat dicerna dengan baik. Oleh karenanya, prinsip belajar dengan
membagi waktu belajar ini dapat menghilangkan rasa lelah dan bosan.
5
Prinsip ini ditandai dengan peristiwa diturunkannya Al-Quran secara
berangsur-angsur selama 23 tahun. Tujuannya adalah memberi ruang waktu yang
dapat memungkinkan kaum muslim mudah menghafalkannya. Q.S Al-Isra[17] :106
mengungkapkan kenyataan ini dalam firman-Nya:
ُ‫ َون ََّز ۡل َٰنَه‬ٞ‫اس َعلَ َٰى ُم ۡكث‬
ِّ َّ‫ا فَ َر ۡق َٰنَهُ ِّلت َ ۡق َرأ َ ۥهُ َعلَى ٱلن‬ٞ‫َوقُ ۡر َءان‬
‫ا‬ٞ‫نزيل‬
ِّ َ ‫ت‬
“Dan Alquran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya
bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra: 106).
Selain itu prinsip dasar proses belajar yang lain ialah mengulang atau
repetisi. Mengulang dapat menjaga informasi dan ilmu pengetahuan yan diperoleh
seseorang. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari seseorang
membutuhkan pengulangan dan pelatihan agar proses pembelajaran terjaga secara
maksimal. Mengulang akan menguatkan informasi dan kepandaian bahkan akan
membantu ingatan dengan baik. Alquran mempraktekkan prinsip pengulangan yang
dapat kita jumpai pada pengulangan sebagian makna dan pengertian ayat Allah
SWT dengan tujuan supaya mengakar kuat dalam ingatan manusia ( Najati, 2004).
5.2.4
Keadaan Fisik
Salah satu kebutuhan esensial manusia adalah kesehatan, baik kesehatan
jasmani maupun rohani. Dengan memiliki kesehatan yang prima, manusia dapat
melakukan berbagai aktifitas baik aktifitas yang berkaitan dengan masalah atau
urusan duniawi maupun masalah atau urusan ukhrowi. Meski kesehatan begitu
urgen, namun sebagian manusia sering kali tidak mengindahkan kesehatannya
sendiri. Salah satu contoh adalah ketika tubuh kita memberikan “sinyal-sinyal”
adanya penyakit atau keletihan, biasanya kita mengabaikannya dengan tidak
memberikannya waktu istirahat atau memeriksakannya ke dokter. Kita baru
melakukan tindakan atau pemeriksaan justru setelah kondisinya betul-betul jatuh
sakit dan kritis. Dalam konteks ini sebenarnya Rasulllah telah lama mengingatkan
kepada umat Islam melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
6
ُ ‫الص َّحةُ َو ْالفَ َرا‬
ٌ ُ‫ان َم ْغب‬
‫غ‬
ٌ ِّ‫ون فِّي ِّه َما َكث‬
ِّ َّ‫ير ِّمنَ الن‬
ِّ ، ‫اس‬
ِّ َ ‫نِّ ْع َمت‬
“ Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia, yaitu nikmat
waktu sehat dan waktu senggang”(H.R. Imam Bukhari).
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk lebih memperhatikan kesehatan
karena kesehatan diri merupakan prasarat meraih kebahagiaan hidup di dunia
maupun dan akherat nantinya. Kesehatan yang harus diperhatikan dalam
pandangan Islam meliputi kesehatan fisiologis, psikologis, sosiologis dan ruhani
(Abidin, 2012).
5.2.5
Keadaan Emosional
Beberapa pakar psikologi mendefinisikan mental sehat sebagai suatu
keadaan individu yang terbebas dari penyimpangan, kekhawatiran, kegelisahan,
kesalahan dan kekurangan. Individu yang sehat mentalnya adalah individu yang
tidak menyimpang dari norma, tidak berperilaku salah. tidak menampakkan
kekhawatiran dan kegelisahan/kecemasan. Individu seperti inilah individu ideal
yang terhindar dari kekurangan dan kelemahan (KEMENAG RI, 2012).
Dalam islam kecemasan bisa juga diartikan sebagai gelisah, gelisah
merupakan salah satu penyakit hati yang harus segera diobati seperti halnya
penyakit lain. Apabila penyakit hati ini tidak segera diobati maka akan timbul
penyakit-penyakit yang lain yang jauh lebih berbahaya. Banyak hal negatif yang
timbul dari dampak penyakit gelisah tersebut, apabila orang tersebut tidak segera
mengambil tindakan yang tepat dan tidak dibekali iman yang kuat, bisa jadi ia akan
menjadi malas dalam belajar, kesedihan yang berlarut-larut, minum-minuman keras
dan mengkonsumsi narkoba untuk menghilangkan kegelisahan dalam hatinya
tersebut (Bustaman, 2005).
Jika ditinjau dalam perspektif islam, kecemasan ini muncul akibat adanya
ketakutan akan suatu ujian yang akan diberikan oleh Allah. Padahal dalam AlQur’an diterangkan bahwa Allah tidak akan memberikan suatu ujian kepada
manusia melebihi batas kemampuannya, sebagaimana tertera dalam ayat:
َّ ‫ف‬
‫سبَ ۡت‬
ً ‫ٱَّللُ ن َۡف‬
ُ ‫ََّل يُ َك ِّل‬
َ َ ‫سبَ ۡت َو َعلَ ۡي َها َما ۡٱكت‬
َ ‫سا ِّإ ََّّل ُو ۡسعَ َه ۚا لَ َها َما َك‬
7
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya” (Q.S. Al-Baqarah (2) :286).
Dari kutipan ayat diatas dapat dipahami bahwa sebenarnya manusia atau
umat islam tidak seharusnya merasa cemas dengan segala apa yang menimpa
kepada dirinya, karena sesungguhnya Allah memberikan cobaan maupun ujian
sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa sebenarnya kecemasan itu muncul atau diciptakan oleh diri
seseorang itu sendiri (Bustaman, 2005).
5.2.6
Penguji
Penguji dalam suatu ujian keterampilan klinis biasanya merupakan seorang
pengajar juga ataupun dengan kata lain yaitu seorang guru.
Seorang guru yang profesional dituntut den sejumlah persyaratan minimal,
antara lain memilih kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki
kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang tana ditekuninya, memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya, mempunyai jiwa kreatif dan
produktif, mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya, dan
selalu melakukan pengembangan diri secara terus menurus (continuous
improvement) melalui organisasi profesi, internet, buku, seminar, dan semacamnya.
Pendidikan pada dasarnya adalah berintikan interaksi antara pendidik (guru) dan
peserta didik. Dalam interaksi tersebut pendidik (guru) memegang peranan kunci
bagi berlangsungnya kegiatan pendidikan. Untuk mewujudkan guru yang
profesional yang dapat melakukan interaksi secara positif dalam kegiatan
pembelajaran dengan para siswa diperlukan adanya kode etik yang berlandaskan
moral agama. Kode etik dan moral dalam interaksi dengan para siswa didasarkan
pada tujuan pendidikan menurut Al-Quran adalah untuk membina manusia
seutuhnya secara pribadi dan kelompok sehingga mereka dapat menjalankan
fungsinya sebagai khalifah dan hamba Allahguna membangun dunia ini sesuai
dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata lain yang lebih singkat
sering digunakan oleh Al-Quran adalah untuk bertaqwa kepada-Nya (KEMENAG
RI, 2012).
8
5.2.7
Sarana Prasarana
Peralatan memegang peranan penting dalam pencapaian keberhasilan
pembelajaran keterampilan klinik. Jumlah dan jenis peralatan sebaiknya harus
memadai. Secara umum pengertian alat peraga adalah benda atau alat-alat yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Alat peraga adalah
seperangkat benda kongkret yang dirancang, dibuat atau disusun secara sengaja
yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsepkonsep atau prinsip-prinsip dalam pembelajaran. Alat peraga merupakan media
pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang
dipelajari (Sudjana, 2005).
Tempat maupun peralatan tentu harus dirawat dan juga dijaga
kebersihannya. Yusuf Qardhawi (1993), menjelaskan bahwa kebersihan itu harus
mendapatkan perhatian yang lebih, hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan
penting. Pertama, kebersihan merupakan hal yang disukai Allah. Allah berfirman
(Hakim, 2014):
َ َ ‫ب ۡٱل ُمت‬
َّ ‫ِّإ َّن‬
َ‫ط ِّه ِّرين‬
ُّ ‫ب ٱلت َّ َٰ َّو ِّبينَ َويُ ِّح‬
ُّ ‫ٱَّللَ يُ ِّح‬
“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang
yang menyucikan diri”. (Q.S. al-Baqarah: 222).
Allah juga memuji ahli masjid Quba dan kecintaan mereka terhadap
kebersihan. Allah berfirman (Hakim, 2014).:
‫س َعلَى الت َّ ْق َو َٰى ِّم ْن أ َ َّو ِّل يَ ْو ٍم أ َ َح ُّق‬
َ ‫ََّل تَقُ ْم فِّي ِّه أَبَدًا ۚ لَ َم ْس ِّجدٌ أ ُ ِّس‬
َ َ ‫وم فِّي ِّه ۚ فِّي ِّه ِّر َجا ٌل يُ ِّحبُّونَ أ َ ْن يَت‬
َّ ‫ط َّه ُروا ۚ َو‬
‫ب‬
ُّ ‫َّللاُ يُ ِّح‬
َ ُ‫أ َ ْن تَق‬
َّ ‫ْال ُم‬
َ‫ط ِّه ِّرين‬
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari
pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada
orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang
yang bersih” (Q.S. al-Taubah: 108) .
9
5.2.8
Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu yang berada diluar diri anak dan mempengaruhi
perkembanganya. Menurut Sartain (Ahli psikolog dari Amerika) mengatakan
bahwa yang dimaksud lingkungan sekitar adalah meliputi semua kondisi dalam
dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingka laku manusia
(Halimah, 2017).
Dalam literatur pendidikan, lingkungan biasanya disamakan dengan institusi
atau lembaga pendidikan. Meskipun kajian ini tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an
secara eksplisit, akan tetapi terdapat beberapa isyarat yang menunjukkan adanya
lingkungan pendidikan tersebut. Oleh karenanya, dalam kajian pendidikan Islam
pun, lingkungan pendidikan mendapat perhatian.Pengaruh lingkungan ini tentu
dianalisis dengan menggunakan paradigma pendidikan Islam. Lingkungan dalam
perspektif pendidikan Islam harus menunjang tercapainya tujuan pendidikan Islam.
Jika lingkungan tidak sinergis dengan pencapaian tujuan pendidikan, maka
ketercapaian tujuan pendidikan Islam sangat sulit dilakukan (Halimah, 2017).
5.3 Tinjauan Islam Terhadap Faktor yang Mempengaruhi Kelulusan OSCE
Keterampilan Pungsi Vena, Phlebotomy, dan Pemasangan Infus
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Kemampuan Psikomotor
merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kelulusan OSCE keterampilan
“Pungsi Vena, Phlebotomy, dan Pemasangan Infus” menurut persepsi mahasiswa.
Kata psikomotor berhubungan dengan kata “motor”, sensory-motor atau
perceptual-motor. Jadi ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot
sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Yang termasuk
dalam klasifikasi gerak disini mulai dari gerak yang paling sederhana yaitu melipat
kertas sampai dengan melakukan tindakan bedah kedokteran (Cangelosi, 1995).
Proses belajar menurut konsep Islam adalah melatih, menggunakan,
memfungsikan serta mengoptimalkan fungsi macam-macam alat (indera luar dan
dalam) yang telah dianugrahkan oleh Allah secara integral dalam pelbagai aspek
kehidupan sebagai manifestasi dari syukur kepada Nya (Rizki N, 2008).
10
Perlu diketahui bahwa setiap apa yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan,
pasti dibalik nya terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia.
Demikian juga dengan perintah untuk belajar. Beberapa hal penting yang berkaitan
dengan belajar, antara lain :
a.
Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang
berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia
dalam kehidupan. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang didapatkannya itu
manusia akan dapat mempertahankan kehidupan.
b.
Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia
lakukan. Apa pun yang dilakukan, manusia harus mengetahui kenapa mereka
melakukannya. Dengan belajar manusia dapat mengetahui apa yang dilakukan
dan memahami tujuan dari segala perbuatannya. Selain itu dengan belajar pula
manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta, karena
setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
(Rizki N, 2008). Seseorang yang dikatakan berhasil dalam belajarnya jika
dapat mencapai ulul albab. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an, yaitu:
“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an
dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakal lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman
Allah) (Q.S. Al -Baqarah (2): 269)
Keberhasilan belajar dari masing-masing individu dapat diketahui dari
seberapa jauh tingkatan mereka dalam mencapai hasil belajarnya sesuai dengan
tingkat hasil belajar tersebut baik pada domain kognitif, domain afektif maupun
domain psikomotorik. Bertolak pada tujuan umum belajar Islami yang hendak
dicapai, maka perolehan belajar Islami dari seseorang akan menuju kearah
“terpadunya iman, ilmu, dan amal seseorang, dan atau telah bertambah/berkembang
domain kognitif, afektif, dan domain psikomotorik secara optimal dan terpadu
dalam diri seseorang. Optimalisasi dari hal-hal tersebut terwujud dalam
11
karakteristik penampilan dirinya serta kepribadiannya yang mengimani Islam
secara mantap dengan dilandasi oleh ilmu Islam, dan mampu mengaktualisasikan
ilmu nya selaras dengan nilai-nilai iman, serta senantiasa mengamalkan Islam
dalam pelbagai aspek kehidupannya, mendakwahkan Islam dalam berbagai bidang,
dan tetap istiqomah dan sabar dalam ber-Islam (Rizqi, 2008).
12
Download