Uploaded by puttynabilla

REFERAT ANEMIA DEF BESI

advertisement
REFERAT
ANEMIA DEFISIENSI BESI
Pembimbing :
dr. Rini Sulviani, Sp.A, M.Kes
Disusun oleh :
Putty Nabilla (2016730086)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
RSUD R. SYAMSUDIN, SH – SUKABUMI
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME, berkat
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan karya tulis berupa Referat
departemen Pediatri yang berjudul “Anemia Defisiensi Besi” yang merupakan salah
satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter di
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD R SYAMSYUDIN SH.
Referat ini sedikit banyak membahas mengenai Anemia Defisiensi Besi.
Walaupun mungkin hanya sebagian kecil yang penulis bahas, diharapkan Referat ini
bisa memberikan sedikit pengetahuan kepada para pembaca sekalian mengenai
Anemia Defisiensi Besi pada anak.
Dalam menyelesaikan tugas ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dr. Rini Sulviani, Sp.A, M.Kes, selaku dokter pembimbing
dalam pembuatan Referat ini dan teman-teman Co-Ass yang telah membantu dalam
pembuatan referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan refreshing ini banyak terdapat
kekurangan dan juga masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharap
kritik dan saran dari pembaca.
Semoga Referat ini dapat bermanfaat bagi teman-teman pada khususnya dan
semua pihak yang berkepentingan bagi pengembangan ilmu kedokteran pada
umumnya. Aamiin.
Jakarta, April 2020
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………................................................................................... ii
DAFTAR ISI……….....................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................... 4
Anemia Defisiensi Besi.............................................................................................. 4
Diagnosis Banding Anemia......................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 19
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
Anemia adalah kekurangan sel darah merah, kuantitas hemoglobin, volume pada
sel darah merah (hematokrit) dalam jumlah tertentu per 100 ml darah. Cara untuk
menentukan anemia diuraikan oleh anamnesis, pemeriksaan fisik yang teliti dan
didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
biasanya dengan mengukur Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht). Hasil
pemeriksaan tersebut hati-hati dikelirukan pada pasien dehidrasi dan masa kehamilan.
Dalam keadaan normal jumlah sel darah merah pada rata-rata orang dewasa
kira-kira 5 juta permilimeter kubik. Eritropoesis pada orang dewasa terutama terjadi
di dalam sumsum tulang melalui stadium pematangan. Sel eritrosit berinti berasal dari
sel induk multipotensial yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel induk
unipotensial. Sel induk unipotensial dengan rangsangan hromon eritropoetin menjadi
sel pronormoblas. Sel pronormoblas ini akan membentuk deoxyribonucleic acid
(DNA) yang diperlukan untuk tiga sampai dengan empat kali fase mitosis. Dari tiap
sel pronormoblas akan terbentuk 16 eritrosit. Sel-sel yang sedang berada dalam fase
diferensiasi dari pronormoblas sampai dengan eritrosit dapat dikenal dari
morfologinya, sehingga dapat dikenal 5 stadium pematangan. Proses diferensiasi dari
pronormoblas sampai eritrosit memakan waktu + 72 jam. Sel eritrosit normal berumur
120 hari.
Anemia
dapat
diklasifikasi
menurut
morfologi
sel
darah
merah
dan
indeks-indeksnya. Pada klasifikasi ini mikro dan makro menunjukkan ukuran sel
darah merah, sedangkan kromik menunjukkan warnanya.
1. Anemia normositik normokrom
Dimana ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung
hemoglobin dalam jumlah normal.
MCV = 84-96 fL dan MCHC = 32-36%
Contoh anemia jenis ini adalah anemia pada :

Perdarahan akut
2

Penyakit kronik

Anemia hemolitik

Anemia aplastik
2. Anemia makrositik normokrom
Makrositik berarti ukuran sel-sel darah lebih besar dari normal tetapi normokrom
karena konsentrasi Hb-nya normal.
MCV meningkat dan MCHC normal
Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesa asam nukleat DNA
seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat.
Contoh anemia jenis ini :

Anemia megaloblastik akibat defisiensi vitamin B12 atau asam folat.
3. Anemia mikrositik hipokrom
Mikrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih kecil dari normal dan
hipokrom karena Hb dalam jumlah kurang dari normal.
MCV kurang dan MCHC kurang
Contoh anemia jenis ini yaitu :

Anemia defisiensi besi

Anemia penyakit kronik

Talasemia
Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Ini
umumnya diakibatkan oleh berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin
dan vasokonstriksi untuk memperbesar pengiriman O2 ke organ-organ vital. Karena
faktor-faktor seperti pigmentasi kulit, suhu dan distribusi kapiler mempengaruhi
warna kulit, maka warna kulit bukan merupakan indeks pucat yang dapat diandalkan.
Warna kuku, telapak tangan dan membran mukosa mulut serta konjungtiva dapat
digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.
3
Pada umumnya anemia yang terjadi diakibatkan defisiensi nutrisi seperti
defisiensi Fe, asam folat dan vitamin B12. Dalam referat ini dibahas lebih lanjut
mengenai anemia defisiensi Fe.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Anemia Defisiensi Besi
a)
Definisi
Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya
penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron
store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang.1
b) Epidemiologi
Defisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi umum di seluruh dunia dan
merupakan masalah kesehatan yang penting terutama di negara berkembang.2
Secara epidemiologi, prevalens tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi dan
awal masa kanak-kanak diantaranya karena terdapat defisiensi besi saat
kehamilan dan percepatan tumbuh masa kanak-kanak yang disertai rendahnya
asupan besi dari makanan, atau karena penggunaan susu formula dengan kadar
besi kurang. Selain itu ADB juga banyak ditemukan pada masa remaja akibat
percepatan tumbuh, asupan besi yang tidak adekuat dan diperberat oleh
kehilangan darah akibat menstruasi pada remaja puteri. Data SKRT tahun 2007
menunjukkan prevalens ADB. Angka kejadian anemia defisiensi besi (ADB)
pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12
bulan, dan anak balita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%.4
c)
Etiologi
1. Kebutuhan yang meningkat secara fisiologis
a. Pertumbuhan
Pada periode pertumbuhan cepat yaitu pada umur 1 tahun pertama dan
masa remaja kebutuhan besi akan meningkat, sehingga pada periode ini
insiden ADB meningkat. Pada bayi umur 1 tahun, berat badannya
meningkat 3 kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi mencapai 2 kali
lipat dibanding saat lahir, bayi prematur dengan pertumbuhan sangat
cepat, pada umur 1 tahun berat badannya dapat mencapai 6 kali dan massa
5
hemoglobin dalam sirkulasi mencapai 3 kali dibanding saat lahir.
b. Menstruasi
Penyebab kurang besi yang sering terjadi pada anak perempuan adalah
kehilangan darah lewat menstruasi.
2. Kurangnya besi yang diserap.
a. Masuknya besi dari makanan yang tidak adekuat
Seorang bayi pada 1 tahun pertama kehidupannya membutuhkan makanan
yang banyak mengandung besi. Bayi cukup bulan akan menyerap lebih
kurang 200 mg besi dalam satu tahun pertama (0,5 mg/hari) yang terutama
digunakan untuk pertumbuhannya. Bayi yang mendapat ASI ekslusif
jarang menderita kekurangan besi dalam 6 bulan pertama. Hal ini karena
besi yang terkandung di dalam ASI lebih mudah diserap dibandingkan
susu yang terkandung susu formula. Diperkirakan sekitar 40% besi dalam
ASI diabsorpsi bayi, sedangkan dari PASI hanya 10% besi yang dapat
diabsorpsi.
b. Malabsorpsi besi
Keadaan ini sering dijumpai pada anak kurang gizi yang mukosa
ususnya mengalami perubahan secara histologis dan fungsional. Pada
orang yang telah mengalami gastrektomi parsial atau total sering disertai
ADB walaupun penderita mendapat makanan yang cukup besi. Hal ini
disebabkan berkurangnya jumlah asam lambung dan makanan lebih cepat
melalui bagian atas usus halus, tempat utama peryerapan besi heme dan
non heme.
3. Perdarahan
Kehilangan darah akibat perdarahan merupakan penyebab penting terjadinya
Anemia
Defisiensi
Besi.
Kehilangan
darah
akan
mempengaruhi
keseimbangan status besi. Kehilangan darah 1 ml akan mengakibatkan
kehilangan besi 0,5 mg, sehingga kehilangan darah 3-4 ml/hari (1,5-2 mg
besi) dapat mengakibatkan keseimbangan negatif besi. Perdarahan dapat
berupa perdarahan saluran cerna, milk induce enterohepathy, ulkus peptikum
karena obat-obatan (asam asetil salisilat, kertikosteroid, indometasin, obat
AINS) dan infestasi cacing (Ancylostoma 6doudenale dan Necator
6
americanus) yang menyerang usus halus bagian proksimal dan menghisap
darah dari pembuluh darah submukosa usus.
4. Transfusi feto-maternal
Kebocoran darah yang kronis ke dalam sirkulasi ibu akan menyebabkan
ADB pada akhir masa fetus dan pada awal masa neonatus.
5. Hemoglobinuria
Pada keadaan ini biasanya dijumpai pada anak yang memakai katup
jantung buatan. Pada paroxysmal Nokturnal Hemoglobinuria (PNH)
kehilangan besi melalui urin rata-rata 1,8-7,8 mh/hari.
6. Iatrogenic blood loss
Pada anak yang banyak diambil darah vena untuk pemeriksaan laboratorium
berisiko menderita ADB.
7. Idiopatthic pulmonary hemosiderosis
Penyakit ini jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan paru
yang hebat dan berulang serta adanya infiltrat pada paru yang hilang timbul.
Keadaan ini dapat berulang menyebabkan kadar Hb menururn drastis hingga
1,5-3 g/dl dalam 24 jam.
8. Latihan yang berlebihan
Pada atlit yang berolah raga berat seperti olah raga lintas alam, sekitar 40%
remaja perempuan dan 17 % remaja laki-laki feritin serumnya < 10 ug/dl.
Perdarahan saluran cerna yang tidak tampak sebagai akibat iskemia hilang
timbul pada usus selama latihan berat terjadi pada 50% pelari.
d) Patofisiologi
Metabolisme Besi
Metabolisme besi terutama ditujukan untuk pembentukan hemoglobin. Sumber
utama untuk reutilisasi terutama bersumber dari hemoglobin eritrosit tua yang
dihancurkan oleh makrofag sistem retikuloendotelial. Pada kondisi seimbang
terdapat 25 ml eritrosit atau setara dengan 25 mg besi yang difagositosis oleh
makrofag setiap hari, tetapi sebanyak itu pula eritrosit yang akan dibentuk dalam
sumsum tulang atau besi yang dilepaskan oleh makrofag ke dalam sirkulasi darah
setiap hari.
7
Besi dari sumber makanan yang diserap duodenum berkisar 1–2 mg, sebanyak
itu pula yang dapat hilang karena deskuamasi kulit, keringat, urin dan tinja. Besi
plasma atau besi yang beredar dalam sirkulasi darah terutama terikat oleh
transferin sebagai protein pengangkut besi. Kadar normal transferin plasma ialah
250 mg/dl, secara laboratorik sering diukur sebagai protein yang menunjukkan
kapasitas maksimal mengikat besi. Secara normal 25–45% transferin terikat
dengan besi yang diukur sebagai indeks saturasi transferin. Total besi yang terikat
transferin ialah 4 mg atau hanya 0,1% dari total besi tubuh.
Sebanyak 65% besi diangkut transferin ke prekursor eritrosit di sumsum
tulang yang memiliki banyak reseptor untuk transferin. Sebanyak 4% digunakan
untuk sintesis mioglobin di otot, 1% untuk sintesis enzim pernafasan seperti
sitokrom C dan katalase. Sisanya sebanyak 30% disimpan dalam bentuk feritin
dan hemosiderin. Kompleks besi transferin dan reseptor transferin masuk ke
dalam sitoplasma prekursor eritrosit melalui endositosis. Sebanyak 80–90%
molekul besi yang masuk ke dalam prekursor eritrosit akan dibebaskan dari
endosom dan reseptor transferin akan dipakai lagi, sedangkan transferin akan
kembali ke dalam sirkulasi. Besi yang telah dibebaskan dari endosom akan masuk
ke dalam mitokondria untuk diproses menjadi hem setelah bergabung dengan
protoporfirin, sisanya tersimpan dalam bentuk feritin. Dalam keadaan normal
30–50% prekursor eritrosit mengandung granula besi dan disebut sideroblast.
Sejalan dengan maturasi eritrosit, baik reseptor transferin maupun feritin akan
dilepas ke dalam peredaran darah. Feritin segera difagositosis makrofag di
sumsum tulang dan setelah proses hemoglobinisasi selesai eritrosit akan
memasuki sirkulasi darah. Ketika eritrosit berumur 120 hari akan difagositosis
makrofag sistem retikuloendotelial terutama yang berada di limpa. Sistem tersebut
berfungsi terutama melepas besi ke dalam sirkulasi untuk reutilisasi. Terdapat
jenis makrofag lain seperti makrofag alveolar paru atau makrofag jaringan lain
yang lebih bersifat menahan besi daripada melepaskannya. Proses penghancuran
eritrosit di limpa, hemoglobin dipecah menjadi hem dan globin.
Dalam keadaan normal molekul besi yang dibebaskan dari hem akan diproses
secara cepat di dalam kumpulan labil (labile pool) melalui laluan cepat pelepasan
besi (the rapid pathway of iron release) di dalam makrofag pada fase dini.
Molekul besi ini dilepaskan ke dalam sirkulasi, yang selanjutnya berikatan dengan
8
transferin bila tidak segera dilepas. Maka molekul besi akan masuk jalur fase
lanjut yang akan diproses untuk disimpan oleh apoferitin sebagai cadangan besi
tubuh. Kemudian dilepas ke dalam sirkulasi setelah beberapa hari melalui laluan
lambat (the slower pathway). Penglepasan besi dari makrofag tidak berjalan
secara langsung, tetapi melalui proses oksidasi di permukaan sel agar terjadi
perubahan bentuk ferro menjadi ferri, sehingga dapat diangkut oleh transferin
plasma. Reaksi oksidasi tersebut dikatalisasi oleh seruloplasmin. Kecepatan
pelepasan besi ke dalam sirkulasi oleh makrofag lebih cepat terjadi pada pagi hari,
sehingga kadar besi plasma menunjukkan variasi diurnal.
Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi merupakan hasil akhir keseimbangan besi yang
berlangsung lama. Bila kemudian keseimbangan besi yang negatif ini menetap
akan menyebabkan cadangan besi yang berkurang. Ada tiga tahap dari anemia
defisiensi besi, yaitu:
1. Tahap petama
Tahap ini disebut iron depletion atau iron deficiency, ditandai dengan
berkurangnya cadangan besi atau tidak adanya cadangan besi. Hemoglobin dan
fungsi protein besi lainnya masih normal. Pada keadaan ini terjadi peningkatan
absorpsi besi non heme. Feritin serum menurun sedangkan pemeriksaan lain
untuk mengetahui adanya kekurangan besi masih normal.
2. Tahap kedua
Pada tingkat ini yang dikenal dengan istilah iron deficient erytropoietin
atau iron limited erytropoiesis didapatkan suplai besi yang tidak cukup untuk
menunjang eritropoiesis. Dari hasil pemeriksaan laboratoium diperoleh nilai besi
serum menurun dan saturasi transferin menurun sedangkan total iron binding
capacity (TIBC) meningkat dan free erytrocyt porphyrin (FEP) meningkat.
3. Tahap ketiga
Tahap inilah yang disebut sebaagi iron deficiency anemia. Keadaan ini
terjadi bila besi yang menuju eritroid sumsum tulang tidak cukup sehingga
menyebabkan penurunan kadar Hb. Dari gambaran darah tepi didapatkan
mikrositosis dam hipokromik yang progresif. Pada tahap ini telah terjadi
perubahan epitel terutama pada ADB yang lebih lanjut.
9
Tahap kekurangan besi
e) Manifestasi Klinis
Gejala klinis anemia adalah lemah dan mudah capai atau lelah, berdebar
debar, cepat marah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, bentuk kuku konkaf
(spoon- shape nail), glossitis, atropi papila lidah mengakibatkan lidah tampak
pucat, licin mengkilat, merah daging, dan meradang, sakit kepala pada bagian
frontal, tidak panas, kulit pucat merupakan tanda yang penting pada defisiensi
besi, kulit pucat berlangsung kronis, Sklera berwarna biru juga sering, meskipun
ini juga ditemukan pada bayi normal.Pada defisiensi ringan sampai sedang (Hb
6-10 g/dl) mekanisme kompensasi, seperti kenaikan 2, 3-difosfogliserat
(2,3-DPG) dan pergeseran kurva disosiasi oksigen, mungkin demikian efektif
sehingga sedikit saja keluhan anemia timbul, meskipun mungkin ada kenaikan
iritabilitas. Bila Hb menurun sampai di bawah 5 gr/dl, iritabilitas dan anoreksia
mencolok. Takikardia dan dilatasi jantung terjadi, dan bising sistolik sering ada.
Limpa teraba membesar pada 10-15% penderita. Pada kasus menahun, dapat
terjadi pelebaran diploe tulang tengkorak yang mirip dengan yang telihat pada
anemia hemolitik kongenital. Defisiensi besi dapat mempengaruhi fungsi
neurologis dan intelektual. Monoamin oksidase (MAO), merupakan suatu enzim
yang tergantung pada besi dan hormon dan berperan penting dalam reaksi
neurokimia di susunan saraf pusat. Defisiensi besi menyebabkan penurunan
aktivitas enzim seperti katalase dan sitokrom. Katalase dan peroksidase
mengandung besi, tetapi kepentingan biologiknya belum dikatahui benar.
f)
Diagnosis
10
1. Anamnesis
1). Riwayat faktor predisposisi dan etiologi :
a. Kebutuhan meningkat secara fisiologis terutama pada masa pertumbuhan yang
cepat, menstruasi, dan infeksi kronis
b. Kurangnya besi yang diserap karena asupan besi dari makanan tidak
adekuat
malabsorpsi besi
c. Perdarahan terutama perdarahan saluran cerna (tukak lambung, penyakit Crohn,
colitis ulserativa)
2). Pucat, lemah, lesu, gejala pika
2. Pemeriksaan fisis
a. anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan limphadenopati
b. stomatitis angularis, atrofi papil lidah
c. ditemukan
3.
takikardi ,murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantung
Pemeriksaan penunjang
Untuk menegakkan diagnosis ADB diperlukan pemeriksaan laboratorim
yang meliputi pemeriksaan darah rutin seperti Hb, PCV, leukosit, trombosit,
ditambah pemeriksaan indeks eritrosit, retikulosit, morfologi darah tepi dan
pemeriksaan status besi (Fe serum, total iron binding capacity (TIBC), saturasi
transferin, FEP, feritin), dan apus sumsum tulang.
Menentukan adanya anemia dengan pemeriksaan kadar Hb dan atau PCV
merupakan hal pertama yang penting untuk memutuskan pemeriksaan lebih
lanjut
dalam menegakkan diagnosis ADB. Pada ADB nilai indeks eritrosit MCV, MCH
dan MCHC menurun sejajar dengan penurunan kadar Hb. Jumlah retikulosit
biasanya normal, pada keadaan berat karena perdarahan jumlahnya meningkat.
Gambaran morfologi darah tepi ditemukaan keadaan hipokromik, mikrositik,
anisositosis dan poikolisitiosis (dapat ditemukan sel pensil, sel target, ovalosit,
mikrosit dan sel fragmen). Jumlah leukosit biasanya normal, tetapi pada ADB
yang berlangsung lama terjadi granulositopenia. Pada keadaan ini disebabkan
11
infestasi cacing sering ditemukan eosinofilia. Jumlah trombosit meningkat 2-4
kali dari nilai normal, trombositosis hanya dapat terjadi pada penderita dengan
perdarahan yang massif. Kejadian trombositopenia dihubungkan dengan anemia
yang sangat berat. Namun demikian kejadian trombositosis dan trombositopenia
pada bayi dan anak hampir sama, yaitu trombositosis sekitar 35% dan
trombositpenia 28%. Pada pemeriksaan status besi didapatkan kadar Fe serum
menurun dan TIBC meningkat, Pemeriksaan Fe serum untuk menentukan jumlah
besi yang terikat pada transferin , sedangkan TIBC untuk mengetahui jumah
transferin yang berada dalam sirkulasi darah. Perbandingan antara Fe serum dan
TIBC (saturasi transferin) yang dapat diperoleh dengan cara menghitung Fe
serum:TIBC x 100% merupakan suatu nilai yang menggambarkan suplai besi ke
eritroid sumsum tulang dan penilaian terbaik untuk mengetahui pertukaran besi
antara plasma dan cadangan besi dalam tubuh. Bila saturasi transferin (ST) <16
menunjukkan suplai besi yang tidak adekuat untuk mendukung eritropoisis. ST <
7% diagnosis ADB dapat ditegakkan, sedangkan pada kadar ST 7-16% dapat
dipakai untuk mendiagnosis ADB bila didukung oleh nilai MCV yang rendah
atau pemeriksaan lainnya. Untuk mengetahui kecukupan penyediaan besi ke
eritroid sumsum tulang dapat diketahui kadar Free Erytrocyte Protoporphyrin
(FEP). Pada pembentukan eritrosit akan dibentuk cincin porfirin sebelum besi
terikat untuk membentuk heme. Bila penyediaan besi tidak adekuat menyebabkan
terjadinya penumpukan porfirin di dalam sel. Nilai FEP >100 ug/dl eritrosit
menunjukan adanya ADB. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya ADB lebih
dini. Meningkatnya FEP disertai ST yang menurun merupakan tanda ADB yang
progresif. Jumlah cadangan besi tubuh dapat diketahui dengan memeriksa kadar
feritin serum. Bila kadar feritin < 10-12ug/dl menunjukan telah terjadi penurunan
cadangan besi dalam tubuh. Pada pemeriksaan apusan tulang dapat ditemukan
gambaran yang khas ADB yaitu hiperplasia sistem eritropoitik dan berkurangnya
hemosiderin. Unutuk mengetahui ada atau tidaknya besi dapat diketahui dengan
pewarnaan Prussian blue.Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil temuan dari
anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat mendukung
sehubungan dengan gejala klinis yang sering tidak khas. Ada beberapa kriteria
diagnosis yang dipakai untuk menentukan ADB:
1. Kriteria diagnosis ADB menurut WHO:
1. Kadar HB kurang dari normal sesuai usia
12
2. Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata < 31% (N:32-35%)
3. Kadar Fe serum <50 ug/dl (N:80-180ug/dl)
4. Saturasi Transferin <15% (N:20-50%)
2. Dasar diagnosis ADB menurut Cook dan Monsen
a. Anemia hipokrom mikrositik
b. Saturasi transferin < 16%
c. Nilai FEP > 100 % Ug/dl eritrosit
d. Kadar feritin serum<12 ug/dL
Untuk kepentingan diagnosis minimal 2 dari 4 kriteria ( ST, feritin serum
dan FEP ) harus dipenuhi.
3. Lanzkowsky menyimpulkan ADB dapat diketahui melalui:
a. Pemeriksaan apus darah tepi hipokrom mikrositer yang dikonfirmasi
dengan kadar MCV, MCH dan MCHC yang menurun Red cell
distribution width (RDW) > 17%
b. FEP meningkat
c. Feritin serum menurun
d. Fe serum menurun, TIBC meningkat, ST <16%
e. Respon terhadap pemberian preparat besi
• Retikulosit mencapai puncak pada hari ke-5-10 setlah pemberian besi
• Kadar hemoglobin meningkat rata-rata 0,25-0,4 g/dL/hari atau PCV
meningkat 1%/hari
f. Sumsum tulang
• Tertundanya maturasi sitoplasma
• Pada pewarnaan sumsum tulang tidak ditemukan besi atau besi
berkurang
Cara lain untuk menentukan adanya ADB adalah dengan trial pemberian
preparat besi. Penentuan ini penting untuk mengetahui adanya ADB subklinis
dengan melihat respons hemoglobin terhadap pemberian preparat besi. Bila
dengan pemberian preparat besi dosis 6 mg/kgBB/hari selama 3-4 minggu terjadi
peningkatan kadar Hb 1-2 g/dl maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan
menderita ADB.
13
g) Tatalaksana
Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan
mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar
80-85% penyebab ADB dapat diketahui sehingga penanganannya dapat
dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau
parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama efektifnya dengan
pemberian parenteral, pemberian secara parenteral dilakukan pada pendertita
yang tidak dapat memakan obat peroral atau kebutuhan besinya tidak dapat
terpenuhi secara peroral karena ada gangguan pencernaan.
1. Pemberian preparat besi
a. Pemberian preparat besi peroral Garam ferrous diabsorpsi sekitar 3 kali lebih
baik dibandingkan garam feri, preparat yang tersedia berupa ferous glukonat,
fumarat dan suksinat, yang sering dipakai adalah ferrous sulfat karena
harganya yang lebih murah, ferrous glukonat, ferrous fumarat dan ferrous
suksiant diabsorpsi sama baiknya tetapi lebih mahal. Untuk bayi preparat besi
berupa tetes (drop). Untuk dapat mendapatkan respons pengobatan dosis besi
yang dipakai 4-6 mg besi elemental/kgBB/hari. Dosis yang diajurkan untuk
remaja dan orang dewasa adalah 60 mg elemen zat besi perhari pada kasus
anemia ringan, dan 120 mg/hari (2 Х 60 mg) pad anemia sedang sampai berat.
Dosis yang dianjurkan untuk bayi dan anak-anak adalah 3 mg/kgBB/hari.Pada
wanita hamil, pemberian folat (500μg) dan zat besi (120 mg) akan bermanfaat,
sebab anemia pada kehamilan biasa diakibatkan pada defisiensi ke dua zat gizi
tersebut. Tablet kombinasi yang cocok, mengandung 250 μg folat dan 60 mg
zat besi, dimakan 2 kali sehari. Efek samping pemberian zat besi peroral dapat
menimbulkan keluhan gastrointestinal berupa rasa tidak enak di ulu hati, mual,
muntah dan diare.Sebagai tambahan zat besi yang dimakan bersama dengan
makanan akan ditolelir lebih baik dari pada ditelan pada saat peut kosong,
meskipun jumlah zat besi yang diserap berkurang.
b. Pemberian preparat besi parenteral
Pemberian besi secara intra muscular menimbulkan rasa sakit dan
harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional dan reaksi
alergi. Oleh karena itu, besi parenteral diberikan hanya bila dianggap
14
perlu, misalnya: pada kehamilan tua, malabsorpsi berat, radang pada
lambung. Kemampuan untuk menaikan kadar Hb tidak lebih baik
dibandingkan peroral.
Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan ini
mengandung 50 mg besi/ml. Dosis dapat dihitung berdasarkan:
Dosis besi (mg) = BB (kg) x kadar Hb yang diinginkan (g/dl ) x 2,5
c. Transfusi darah
Transfusi darah jarang diperlukan. Transfusi darah hanya diberikan
pada keadaan anemia yang sangat berat atau yang disertai infeksi yang dapat
mempengaruhi respons terapi. Koreksi anemia berat dengan transfusi tidak
perlu secepatnya, lebih akan membahayakan kerana dapat menyebabkan
hipovolemia dan dilatasi jantung. Pemberian PRC dilakukan secara perlahan
dalam jumlah yang cukup untuk menaikan kadar Hb sampai tingkat aman
sampai menunggu respons terapi besi. Secara umum, untuk penderita anemia
berat dengan kadar Hb <4 g/dl hanya diberi PRC dengan dosis 2-3 ml/kgBB
persatu kali pemberian disertai pemberian diuretic seperti furesemid. Jika
terdapat gagal jantung yang nyata dapat dipertimbangkan pemberian transfusi
tukar mengguanakan PRC yang segar.
h) Pencegahan
Usaha sederhana mencegah ADB adalah dengan mengonsumsi makanan yang
kaya akan zat besi. Usahakan bayi mendapat air susu ibu eksklusif. Setelah usia 6
bulan apabila tidak mendapat air susu ibu sebaiknya diberi susu formula yang
difortifikasi zat besi. Pemberian tambahan zat besi dianjurkan pula sejak bayi
sampai usia remaja, diberikan sebagai usaha pencegahan terhadap anemis.
Banyak bahan makanan di sekitar kita yang kaya kandungan zat besi. Sayuran
berdaun hijau seperti selada air, kangkung, brokoli, bayam hijau, buncis dan
kacang-kacangan kaya akan zat besi. Bahan makanan hewani seperti daging
merah dan kuning telur juga kaya zat besi dan lebih mudah diserap oleh tubuh
dibandingkan sumber nabati. Dalam proses pengolahan bahan makanan, sangat
perlu diperhatikan pengolahan yang baik dan benar sehingga kandungan zat
makanan misalkan zat besi tidak berkurang dari bahan makanan tersebut.
15
Usahakan anak banyak mengonsumsi makanan yang kaya zat besi untuk
mencegah ADB.
Setiap kelompok usia anak rentan terhadap defisiensi besi (DB). Kelompok
usia yang paling tinggi mengalami DB adalah usia balita (0-5 tahun) sehingga
kelompok usia ini menjadi prioritas pencegahan DB. Kekurangan besi dengan
atau tanpa anemia, terutama yang berlangsung lama dan terjadi pada usia 0-2
tahun dapat mengganggu tumbuh kembang anak, antara lain menimbulkan defek
pada mekanisme pertahanan tubuh dan gangguan pada perkembangan otak yang
berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
Rekomendasi suplementasi besi rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Sumber gambar: Gatot, D., Idjradinata, P., Abdulsalam, M., Lubis, B., Soedjatmiko, &
Hendarto, A. (2011). Suplementasi Besi Untuk Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
1. Suplementasi untuk bayi prematur/bayi berat lahir rendah (BBLR)
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan kelompok risiko tinggi mengalami
DB. Menurut World Health Organization (WHO), suplementasi besi dapat
diberikan secara massal, mulai usia 2-23 bulan dengan dosis tunggal 2
mg/kgBB/hari. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko 10 kali lipat lebih
tinggi mengalami DB. Pada dua tahun pertama kehidupannya, saat terjadi pacu
tumbuh, kebutuhan besi akan meningkat. Bayi prematur perlu mendapat
suplementasi besi sekurangkurangnya 2 mg/kg/hari sampai usia 12 bulan.
Suplementasi sebaiknya dimulai sejak usia 1 bulan dan diteruskan sampai bayi
16
mendapat susu formula yang difortifikasi atau mendapat makanan padat yang
mengandung cukup besi.15 Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
di Amerika merekomendasikan bayi-bayi yang lahir prematur atau BBLR
diberikan suplementasi besi 2-4 mg/kg/hari (maksimum 15 mg/hari) sejak usia 1
bulan, diteruskan sampai usia 12 bulan.10 Pada bayi berat lahir sangat rendah
(BBSLR), direkomendasikan suplementasi besi diberikan lebih awal.
2. Suplementasi untuk bayi cukup bulan
Pada bayi cukup bulan dan anak usia di bawah 2 tahun, suplementasi besi
diberikan jika prevalens ADB tinggi (di atas 40%) atau tidak mendapat makanan
dengan fortifikasi. Suplementasi ini diberikan mulai usia 6-23 bulan dengan dosis
2 mg/kgBB/hari. Hal tersebut atas pertimbangan bahwa prevalens DB pada bayi
yang mendapat ASI usia 0-6 bulan hanya 6%, namun meningkat pada usia 9-12
bulan yaitu sekitar 65%. Bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dan
kemudian tidak mendapat besi secara adekuat dari makanan, dianjurkan
pemberian suplementasi besi dengan dosis 1 mg/kg/hari.10 Untuk mencegah
terjadinya defisiensi besi pada tahun pertama kehidupan, pada bayi yang
mendapatkan ASI perlu diberikan suplementasi besi sejak usia 4 atau 6 bulan.
The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian
suplementasi besi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif mulai usia 4 bulan
dengan dosis 1 mg/kg/hari dilanjutkan sampai bayi mendapat makanan tambahan
yang mengandung cukup besi. Bayi yang mendapat ASI parsial (>50%
asupannya adalah ASI) atau tidak mendapat ASI serta tidak mendapatkan
makanan tambahan yang mengandung besi, suplementasi besi juga diberikan
mulai usia 4 bulan dengan dosis 1 mg/kg/hari.
3. Suplementasi untuk balita dan anak usia sekolah
Pada anak usia balita dan usia sekolah, suplementasi besi tanpa skrining
diberikan jika prevalens ADB lebih dari 40%. Suplementasi besi dapat diberikan
dengan dosis 2mg/kgBB/hari (dapat sampai 30 mg/hari) selama 3 bulan.
4. Suplementasi untuk remaja
Suplementasi besi pada remaja lelaki dan perempuan diberikan dengan dosis 60
mg/hari selama 3 bulan. Pemberian suplementasi besi dengan dosis 60 mg/hari,
17
secara intermiten (2 kali/minggu), selama 17 minggu, pada remaja perempuan
ternyata terbukti dapat meningkatkan feritin serum dan free erythrocyte
protoporphyrin (FEP). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan
AAP merekomendasikan suplementasi besi pada remaja lelaki hanya bila
terdapat riwayat ADB sebelumnya, tetapi mengingat prevalens DB yang masih
tinggi di Indonesia sebaiknya suplementasi besi pada remaja lelaki tetap
diberikan. Penambahan asam folat pada remaja perempuan dengan pertimbangan
pencegahan terjadinya neural tube defect pada bayi yang akan dilahirkan
dikemudian hari.
i)
Prognosis
Prognosis baik apabila penyebab anemianya hanya karena kekurangan besi
saja dan diketahui penyebabnya serta kemudian dilakukan penanganan yang
adekuat. Gejala anemia dan menifestasi klinis lannya akan membaik dengan
pemberian preparat besi.
18
2. Diagnosis Banding Anemia
Diagnosis banding ADB adalah semua keadaan yang memberikan gambaran anemia
hipokromik mikrositer lain. Keadaan yang sering memberi gambaran klinis dan
laboratorium yang hampir sama dengan ADB adalah talasemia minor dan anemia
karena penyakit kronis. Keadaan lainnya adalah lead poisong/keracunan timbale dan
anemia sideroblastik. Untuk membedakannya diperlukan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan ditunjang oleh pemeriksaan laboratorium. Pada talasemia minor morfologi
darah tepi sama dengan ADB. Salah satu cara sederhana untuk membedakan kedua
penyakit tersebut adalah dengan melihat jumlah sel darah merah yang meningkat
meski sudah anemia ringan dan mikrositosis, sebaliknya pada ADB jumlah sel darah
merah menurun sejajar dengan penurunan kadar Hb dan MCV. Cara mudah dapat
diperoleh dengan cara membagi MCV dengan jumlah eritrosit, bila nilainya <13
menunjukkan talasemia minor sedangkan bila >13 merupakan ADB. Pada talasemia
minor didapatkan basophilic stippling, peningkatan kadar bilirubin lasma dan
peningkatan kadar HbA2. Gambaran morfologi darah tepi anemia karena penyakit
kronis biasanya normokrom normositik, tetapi bisa juga ditemukan hipokrom
mirkositik. Terjadinya anemia pada penyakit kronis disebabkan oleh terganggunya
mobilisasi besi dan makrofah oleh transferin. Kadar Fe serum dan TIBC menurun
meskipun cadangan besi normal atau meningkatsehingga nilai saturasi transferin
normal atau sedikit menurun, kadar FEP meningkat. Pemeriksaan kadar reseptor
transferin/transferring receptor (TfR) sangat berguna dalam membedakan ADB
dengan anemia karena penyakit kronis. Pada anemia karena penyakit kronis kadar
TfR normal karena pada inflamasi kadarnya tidak terpengaruh, sedangkan pada ADB
kadarnya menurun. Peningkatan rasio TfR/feririn sensitif dalam mendeteksi ADB.
Pemeriksaan laboratorium untuk membedakan ADB
19
DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo W.,Setyohadi B.,Alwi I.,Simadibrata M.,Setiati S.,Editor. Pendekatan
terhadap Pasien Anemia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II Edisi III. Balai
Penerbit FKUI, Jakarta 2006; hal 632-636.
2. Özdemir, N. (2015). Iron deficiency anemia from diagnosis to treatment in
children.
rk Pediatri Ar ivi, 50(1), 11–9. doi:10.5152/tpa.2015.2337
3. Permono B.,Sutaryo.,Ugrasena., Anemia Defisiensi Besi, dalam buku ajar
hematology – oncology , Badan penerbit IDAI: Jakarta, 2005; hal 30-42.
4. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-b
ayi-dan-anak
5. Muhammad, A. (2005). PENENTUAN DEFISIENSI BESI ANEMIA PENYAKIT
KRONIS MENGGUNAKAN PERAN INDEKS sTfR-F ( Determination of iron
deficiency in chronic disease anemia by the role of sTfR-F index ). Indonesian
Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 2(1), 9–15.
6. Endang, W. (2013). IDAI - ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA BAYI DAN
ANAK.
Retrieved
February
28,
2016,
from
http://idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/anemia-defisiensi-besi-pada-bayi-dan-a
nak
7. Gatot, D., Idjradinata, P., Abdulsalam, M., Lubis, B., Soedjatmiko, & Hendarto, A.
(2011). Suplementasi Besi Untuk Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Download