Uploaded by User69127

Manajemen Mutu Terpadu

advertisement
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…1
JAMP: Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan
Volume … Nomor … Bulan … Tahun …
Tersedia Online di http://journal2.um.ac.id/index.php/jamp/
ISSN Online : 2615-8574
KETERKAITAN ANTARA KEPEMIMPINAN, BUDAYA
ORGANISASI, KERJA TIM, DAN MOTIVASI KERJA
DENGAN KESUKSESAN IMPLEMENTASI TOTAL
QUALITY MANAGEMENT (TQM) PADA SEKOLAH
Icca Nabilah Nisa, Achmad Supriyanto
Universitas Negeri Malang
Fakultas Ilmu Pendidikan
Jurusan Administrasi Pendidikan
E-mail: [email protected], [email protected]
Abstrak: Total Quality Management (TQM) or in general terms called integrated
quality management is a strategy in management with the aim of increasing awareness
of quality in all components and processes in the organization. The purpose of the
research is to explore: (1) the concept of TQM in educational institutions; (2) concepts
of leadership, organizational culture, teamwork and work motivation in educational
institutions: (3) the relationship between leadership variables, organizational culture,
teamwork and work motivation in educational institutions with the successful
implementation of TQM in educational institutions. The research method is a qualitative
method of literature study approach. By collecting data sourced from scientific articles,
books and library materials that are relevant to the research theme. The results of the
study are in the form of TQM concepts, leadership, organizational culture, teamwork
and work motivation in educational institutions.
Keywords: TQM; leadership; organizational culture; teamwork; work motivation
Abstrak: Total Quality Management (TQM) atau dalam istilah umum disebut dengan
manajemen mutu terpadu merupakan strategi dalam manajemen dengan tujuan
meningkatkan kesadaran terhadap kualitas pada seluruh komponen dan proses dalam
organisasi. Tujuan dari penelitian yakni untuk mengeksplorasi: (1) konsep TQM dalam
lembaga pendidikan; (2) konsep kepemimpinan, budaya organisasi, kerja tim dan
motivasi kerja dalam lembaga pendidikan: (3) keterkaitan antar variabel kepemimpinan,
budaya organisasi, kerja tim dan motivasi kerja dalam lembaga pendidikan dengan
kesuksesan implementasi TQM dalam lembaga pendidikan . Metode penelitian yaitu
dengan metode kualitatif pendekatan studi literatur. Dengan pengumpulan data yang
bersumber dari artikel ilmiah, buku dan bahan pustaka yang relevan dengan tema
penelitian. Hasil penelitian yaitu berupa konsep TQM, kepemimpinan, budaya
organisasi, kerja tim serta motivasi kerja dalam lembaga pendidikan.
Kata kunci: TQM; kepemimpinan; budaya organisasi; kerja tim; motivasi kerja
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…2
Pendidikan adalah sector penting dalam hidup terutama pada kehidupan bermasyarakat. Proses
pendidikan diharapkan untuk dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh
karena itu pendidikan dapat menjadi suatu alat untuk membantu masyarakat dalam mencapai
kesejahteraan hidup (Hasibuan, n.d., 2018). Pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI
Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional didefinisikan sebagai usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat,bangsa dan negara. Selain itu disebutkan bahwa tujuan pendidikan
nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan
pendidikan
nasional
dapat
tercapai
apabila
organisasi/lembaga
pendidikan
dapat
memaksimalkan proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam rangka memaksimalkan proses
pendidikan, suatu lembaga pendidikan harus memiliki mutu pendidikan yang tinggi dan unggul
(dalam Anam, 2018).
Perkembangan globalisasi terutama pada aspek ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) berimplikasi pada kualitas layanan pendidikan. Hal tersebut mengharuskan lembaga
pendidikan agar unggul dan tangguh dalam melahirkan generasi yang mampu menerima dan
melaksanakan proses globalisasi (dalam Prasetyo, 2018). Proses globalisasi telah memberi
dampak secara langsung terhadap dunia pendidikan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan
harus cepat berbenah, serta melakukan peningkatan mutu secara kontinu atau berkelanjutan
(dalam Rahmah, 2018). Untuk meningkatkan produktifitas dan efektifitas, suatu lembaga
pendidikan harus melakukan perbaikan dengan memperhatikan factor (internal dan eksternal).
Salah satu faktor eksternal yang perlu dijadikan pertimbangan adalah quality approaches yang
lahir di sektor industri dan bisnis antara lain adalah Total Quality Management (TQM) (dalam
Munawir, 2005).
Total Quality Management (TQM) merupakan keseluruhan upaya pendayagunaan
segala sumber daya potensial dalam organisasi untuk meningkatkan kesadaran akan mutu yang
dihasilkan oleh organisasi tersebut. TQM dapat membantu organisasi dalam mencapai
kepuasan pelanggan (Huriyah, n.d., 2016). Selain itu, penerapan TQM juga dapat membantu
organisasi untuk mempertahankan eksistensinya di mata masyarakat. Semakin tingginya
kebutuhan akan pendidikan, maka semakin selektif pula masyarakat dalam menentukan
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…3
lembaga pendidikan yang akan dipilih. Utami (2016) menyatakan bahwa dasar pemikiran
mengenai urgensi penerapan TQM sangatlah sederhana, yakni metode terbaik dalam
meningkatkan persaingan global adalah dengan mewujudkan kualitas layanan yang prima.
Dengan demikian, implementasi TQM akan membantu lembaga pendidikan baik
dalam menghasilkan maupun mempertahankan mutu yang berkualitas sehingga dapat menarik
minat masyarakat. Kualitas atau mutu pendidikan harus direncanakan. Hal ini sejalan dengan
teori yang digagas oleh Juran (dalam Khadijah, ) yakni trilogi mutu, yang meliputi: (1) Quality
Planning berupa perencanaan kualitas, (2) Quality Control berupa pengawasan kualitas, dan
(3) Quality Improvement berupa perbaikan kualitas. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang
menjadi agen perubahan dalam menghadapi problematika kualitas pendidikan (dalam Munir,
2018). Kesuksesan TQM dalam organisasi tidak terlepas dari variable-variabel yang ada dalam
organisasi. Variabel tersebut antara lain kepemimpinan, budaya organisasi, kerja tim dan
motivasi kerja. Oleh sebab itu, penelitian yang telah disusun bertujuan untuk memahami
konsep TQM beserta variable-variabelnya, dan mengeksplorasi keterkaitan antar variable
tersebut terhadap kesuksesan implementasi TQM dalam lembaga pendidikan.
METODE
Sugiyono (2016) menjelaskan bahwa definisi dari metode penelitian adalah langkah
ilmiah yang dimanfaatkan guna memperoleh data dengan suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan data yang
dikumpulkan berupa kalimat dan gambar, bukan berbentuk angka (Kurniawan, 2013). Serta
menggunakan pendekatan studi literature. Sumber data merupakan asal perolehan data
penelitian (dalam Wahidmurni, 2017). Sumber data penelitian diperoleh dari beberapa artikel
ilmiah, buku dan bahan pustaka yang relevan dengan tema penelitian. Teknik pengumpulan
data yaitu dengan cara menganalisis beberapa literature yang sesuai dengan tema penelitian.
Penyajian data (display data) melalui penginterpretasian data yang diperoleh dalam bentuk
naratif yang menjelaskan keterkaitan antar kategori.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…4
HASIL
Konsep TQM dalam Pendidikan
Mutu Pendidikan
Sekolah sebagai lembaga pendidikan tentu harus terus berupaya melakukan
peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, demi tercapainya tujuan pendidikan dan
kepuasan pelanggan sekolah (Prabowo, 2012). Menurut Sallis (dalam Jami and Syukri, 2013),
terdapat tiga golongan pelanggan pendidikan, yakni: (1) pelajar sebagai penerima jasa, (2)
orangtua, gubernur atau sponsor yang berkepentingan, (3) pihak berkepentingan selain orang
tua, pemerintah, maupun sponsor. Mutu pendidikan adalah ukuran mengenai sifat produk dan
jasa yang meliputi input (masukan), proses (urutan kegiatan), dan output (hasil). Hal ini
ditujukan agar suatu lembaga dapat memenuhi kepuasan pelanggan (Kurniawan, 2013).
Persaingan sekolah dalam dunia pendidikan menuntut agar sekolah dapat mewujudkan mutu
pendidikan yang baik. Hal tersebut bertujuan agar sekolah dapat menjamin peserta didik dapat
mengembangkan potensi. Oleh karena itu, implementasi TQM harus maksimal dan mencakup
berbagai komponen mutu pendidikan. Komponen mutu pendidikan meliputi: (1) sarana
prasarana pendidikan, (2) tenaga pendidik, (3) moral atau kepribadian, (4) prestasi, (5)
dukungan pihak luar sekolah, (6) interaksi pendidikan , (7) SDM pendidikan , (8) IPTEK, (9)
keterlibatan pemimpin, (10) siswa , (11) kurikulum, dan atau kombinasi dari seluruh komponen
tersebut (Marmoah, 2019).
Standar Mutu Pendidikan
Dalam rangka menghasilkan mutu pendidikan yang baik, pemerintah menetapkan
suatu standarisasi nasional terhadap mutu pendidikan di Indonesia. Hal tersebut ditetapkan
dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Dalam kebijakan tersebut, Standar Nasional Pendidikan (SNP) diartikan
sebagai standar minimal mengenai sistem pendidikan yang harus dipenuhi oleh seluruh
penyelenggara pendidikan pada seluruh wilayah Negara Indonesia. Standar Nasional
Pendidikan tersebut meliputi: (1) standar kompetensi lulusan, (2) standar isi, (3) standar proses,
(4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar
pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) Standar penilaian pendidikan. Konsep mengenai
standarisasi pendidikan dalam lingkup nasional memiliki implikasi pada meningkatnya
kualitas pendidikan. Dengan ditetapkannya standar nasional pendidikan, diharapkan sekolah
termotivasi untuk mengoptimalkan pelayanan terbaik bagi pelanggan sekolah (dalam Ismail,
2018).
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…5
Total Quality Management (TQM)
Kualitas layanan sekolah dapat menjadi indicator dari mutu pendidikan, hal tersebut
menjadikan kualitas layanan sebagai suatu tujuan utama dari pengelolaan pendidikan di
sekolah. Oleh karena itu kualitas pelayanan dalam lembaga pendidikan perlu dikelola dengan
optimal. Pengelolaan kualitas inilah yang menjadi konsep dari Total Quality Management
(TQM), dimana melalui pengelolaan kualitas tersebut dapat menjadi strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Menurut Munir (2018) TQM merupakan penerapan konsep
manajemen dimana seluruh komponen organisasi saling terlibat dan berkontribusi dalam upaya
perbaikan mutu suatu produk (customer). Prestiadi dkk (2015) mendefinisikan TQM sebagai
konsep manajemen lembaga pendidikan yang bertujuan untuk melakukan peningkatan mutu
melalui usaha peningkatan dan perbaikan secara kontinyu, fokus terhadap kepuasan pelanggan
serta keterlibatan yang menyeluruh. Sallis (dalam Husain., dkk, 2017) mendefinisikan TQM
merupakan suatu pandangan (filosofi) dalam melakukan suatu perbaikan mutu secara kontinyu
yang melibatkan segenap komponen dalam organisasi demi tercapainya tujuan. Sedangkan
Supriyanto (2015) memaparkan bahwa esensi TQM adalah konsep perubahan budaya dalam
organisasi, serta dapat mengarahkan persepsi terhadap mutu yang diharapkan.
Berdasarkan paparan penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa TQM
merupakan keseluruhan upaya dan proses pendayagunaan segala sumber daya potensial dalam
organisasi untuk meningkatkan kesadaran dan perbaikan mutu secara berkelanjutan demi
tercapainya kepuasan pelanggan. Penerapan konsep TQM atau manajemen mutu terpadu ini
berarti bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan memaksimalkan pelayanaan terhadap
pelajar. Hal tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan serta kualitas
sekolah yang dilakukan secara komprehensif. Dalam melaksanakan TQM harus ada upaya
yang terpadu dalam memperbaiki kultur sekolah. Upaya perbaikan tersebut dapat dimulai dari
tindakan manajemen. Kontribusi manajemen terhadap peningkatan mutu sekolah sangatlah
penting dalam memaksimalkan relevansi pendidikan (dalam Fadhli, 2017). Peningkatan mutu
dapat dilakukan melalui pengaplikasian upaya-upaya pada fungsi manajemen, yaitu: (1)
perencanaan mutu, (2) pengorganisasian mutu, (3) pelaksanaan/penggerakan mutu, dan (4)
pengawasan/monitoring mutu (Yuli and Afriansyah, n.d.).
Menurut Edward Sallis (dalam Anita, 2017) kriteria TQM di sekolah, yakni: (1)
perbaikan mutu secara kontinyu, (2) standar mengenai mutu, (3) perubahan budaya, (4)
perubahan organisasial, dan (5) keterkaitan dengan pelanggan. Menurut Husna (2014)
kemampuan lembaga pendidikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dapat menjadi
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…6
indicator keberhasilan lembaga tersebut. Kemampuan sekolah tersebut dikaji melalui
penerapan TQM, yaitu pendekatan yang memiliki konsep secara terstruktur dan berorientasi
terhadap kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari
implementasi TQM yakni dapat meyakinkan pelanggan, bahwa organisasi bertanggung jawab
terhadap kualitas produk atau jasa, yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan pelanggan (dalam
Hermanto Nst, 2018).
Kepemimpinan Pendidikan
Kepemimpinan adalah upaya individu dalam mempengaruhi individu atau kelompok
lain untuk melakukan suatu kegiatan demi mencapai tujuan bersama. Dimensi kepemimpinan,
antara lain: (1) tujuan; (2) pemimpin; (3) anggota; (4) interaksi, serta (5) situasi (Harris, 2013).
Kepemimpinan menjadi unsur penting dalam TQM, karena kinerja organisasi tidak terlepas
dari peran pemimpin. Pemimpin efektif menurut konsep TQM yakni: (1) peka terhadap
perubahan, (2) focus, (3) menentukan pekerjaan, dan (4) menciptakan dinamika organisasi
(Ginting dan Haryati, 2012).
Dalam konteks pendidikan, kepemimpinan berada ditangan kepala sekolah. Oleh
sebab itu kepemimpinan oleh kepala sekolah dapat berdampak pada keberhasilan sekolah.
Kepala sekolah diharuskan memiliki keahlian yang dapat memengaruhi lembaga pendidikan
tersebut. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus fokus untuk memajukan
pendidikan (Widianto, 2016). Apabila kepala sekolah mampu mendayagunakan seluruh
komponen pendidikan, maka tujuan pendidikan akan tercapai dan sebaliknya. Sehingga
kepemimpinan kepala sekolah memiliki implikasi pada kualitas sekolah. Jika kualitas sekolah
rendah, merupakan akibat dari kepemimpinan kepala sekolah yang belum memenuhi kriteria
(Sulastri, dkk, 2017).
Budaya Organisasi di Lembaga Pendidikan
Budaya dalam KBBI didefinisikan sebagai kebiasaan yang sulit untuk diubah. Gareth
R. Jones (dalam Tahir, 2002) memaparkan bahwa budaya organisasi adalah kumpulan norma
yang mengendalikan pola interaksi dalam organisasi, yakni dengan sesame anggota,
pelanggan, maupun orang diluar organisasi. Dalam pendidikan, budaya digunakan sebagai alat
transformasi pengetahuan. Budaya dapat mengarahkan, menuntun, mengidentifikasi, serta
menghindar dari suatu persepsi atau pandangan (Fathurrohman, 2016). Budaya organisasi
pendidikan merupakan berbagai nilai, norma dan kebiasaan yang menciptakan jati diri
dari suatu lembaga pendidikan. Budaya organisasi dapat membantu lembaga
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…7
pendidikan dalam menemukan jati diri, sehingga ciri khas dapat dijunjung tinggi oleh
anggota organisasi (dalam Yusuf, 2017). Selain itu, budaya organisasi memiliki
beberapa manfaat, meliputi: (1) merekatkan anggota; (2) pedoman kerja; (3) proses
sinergi tujuan dan langkah kerja orgnisasi; (4) memotivasi anggota organisasi dalam
mencapai tujuan; (5) kontribusi terhadap organisasi; (6) memperlancar komunikasi,
dan; (7) metode penyelesaian konflik organisasi (dalam Jurman, 2014).
Kerja Tim dalam Lembaga Pendidikan
Kerja tim menurut Tenner & Detero adalah sekelompok orang yang saling bergotong
royong dan bekerja sama guna mencapai tujuan bersama, dimana pekerjaan lebih mudah jika
dilakukan dengan kerjasama tim daripada dilakukan secara individu. Sedangkan Scott &
Tiessen memaparkan bahwa kerja sama tim merupakan waktu yang diberikan oleh anggota tim
untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam melaksanakan pekerjaan tim. King menjelaskan
terdapat Sepuluh Perintah Tim untuk meningkatkan kinerja tim: (1) saling membutuhkan, (2)
penjabaran tugas, (3) penjajaran, (4) bahasa, (5) kepercayaan dan rasa toleransi, (6) perhatian
terhadap bakat, (7) pemecahan masalah, (8) keterampilan mengatasi konflik, (9) evaluasi, dan
(10) penghargaan. Sedangkan beberapa hal yang dapat menghambat proses kerja tim, meliputi:
(1) identitas anggota, (2) hubungan dengan sesama anggota, dan (3) identitas tim (dalam
Hastuti dan Wijayanti, 2009).
Kerja tim dalam lembaga pendidikan merupakan keseluruhan interaksi antar kepala
sekolah dengan staf sekolah lain dalam rangka menyelenggarakan pendidikan. Kerja tim yang
baik akan memberikan suatu solusi peningkatan mutu pendidikan dalam lembaga, sebab kerja
tim yang baik dapat mempermudah dalam pendelegasian tanggung jawab organisasi (dalam
Khairani., dkk, 2018). Prinsip kerja tim yang efektif yakni memiliki prinsip “teamwork” yang
merupakan singkatan dari: (1) Together (bersama-sama), (2) Empathy (peduli), (3) Assist
(saling tolong menolong), (4) Maturity (bijaksana), (5) Willingness (patuh), (6) Organization
(terstruktur dan teratur), (7) Respect (menghormati satu sama lain), (8) Kindness
(menunjukkan kebaikan) (Wadjdi, 2012).
Motivasi Kerja dalam Lembaga Pendidikan
Motivasi yang diambil dari Motive berarti dorongan, dimana dalam bahasa inggris
disebut to move. Motif merupakan kekuatan diri yang mendorong untuk melakukan sesuatu.
Motivasi merupakan dorongan untuk bertindak sesuai tujuan yang dilakukan secara sadar.
Michel J. Jucius (dalam Prihartanta, 2015) menyatakan bahwa motivasi adalah pemberian
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…8
dorongan pada individu dalam mengambil tindakan yang diinginkan. Motivasi dapat berupa
usaha yang memungkinkan seseorang maupun sekelompok orang tergerak untuk mencapai
tujuan bersama (Prihartanta, 2015). Sumber motivasi ada di dalam atau luar diri seseorang. Hal
tersebut dapat terlihat ketika seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu, maka upaya untuk
melakukan sesuatu akan timbul (dalam Raharja., dkk, 2013).
Motivasi kerja dalam lembaga pendidikan terutama sekolah adalah daya dorong bagi
tenaga pendidik dan kependidikan untuk berkontribusi sebesar mungkin kepada sekolah demi
tercapainya tujuan. Indikator motivasi kerja meliputi: (1) faktor intrinsik (pencapaian,
pengakuan, tanggung jawab, kepuasan kerja), (2) faktor ekstrinsik (hubungan antara pimpinan
dan anggota, supervisi, kebijakan, kondisi, dan kompensasi (Sulastri., dkk, 2017). McClelland
(1976) memperkenalkan teori motivasi yakni teori motivasi berprestasi, yang bermakna upaya
membandingkan ukuran keunggulan (perbandingan capaian di masa sekarang dengan yang
capaian sebelumnya) (dalam Adi, 2013).
Berdasarkan hasil temuan beberapa variabel diatas, dapat diperoleh suatu keterkaitan
antar variable yang dapat digambarkan melalui kerangka konseptual berikut:
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…9
PEMBAHASAN
Keterkaitan Antara Variabel Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Kerja Tim dan
Motivasi Kerja dengan Kesuksesan Implementasi TQM
Keterkaitan antara Kepemimpinan dengan TQM
Kepemimpinan merupakan suatu kegiatan menggerakkan anggota untuk mewujudkan
tujuan organisasi. Kepemimpinan diperlukan untuk memperbaiki kinerja organisasi termasuk
sekolah. Kepemimpinan mutu merupakan salah satu jenis kepemimpinan yang dapat
menunjang program TQM. Tanpa kepemimpinan yang bermutu sulit untuk mencapai mutu
yang baik. Sehingga dapat disimpulkan kepemimpinan yang bermutu adalah syarat untuk
meningkatkan mutu organisasi. Dalam implementasinya, pemimpin berupaya focus terhadap
mutu, dengan melakukan perencanaan, pengendalian dan perbaikan mutu menyesuaikan
tuntutan kebutuhan pelanggan (Herawan, 2016). Berdasarkan penelitian oleh Sulastri., dkk
(2017) dihasilkan suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh
signifikan pada kualitas layanan sekolah, setiap peningkatan kepemimpinan kepala sekolah
akan diikuti oleh peningkatan mutu sekolah. (Indriyati, 2018) memaparkan bahwa pemimpin
harus memiliki kemampuan untuk menciptakan dan mewujudkan visi, misi, dan strategi yang
akan diterapkan dalam implementasi sistem manajemen mutu.
Sallis (dalam Junaidah, n.d.) menjelaskan bahwa unsur terpenting pada implementasi
TQM adalah kepemimpinan. Oleh karena itu, pemimpin wajib memiliki visi yang dijabarkan
dalam kebijakan (keputusan) dan tujuan yang jelas. Dalam menetapkan visi, komitmen
merupakan syarat utama. Komitmen yang dimaksud ialah komitmen semua sumber daya
manusia pendidikan, yakni tenaga pendidik maupun kependidikan. Namun diantara komitmem
tersebut, yang paling utama adalah komitmen pimpinan. Untuk mengubah mindset anggota
dalam hal mutu, dibutuhkan komitmen pimpinan. Tanpa melibatkan komitmen pimpinan,
maka perencanaan tidak akan terealisasi sesuai harapan.
Karakteristik kepala sekolah yang dibutuhkan demi perbaikan kualitas pendidikan di
sekolah, meliputi: (1) mendayagunakan serta mempertahankan kualitas sumber daya; (2)
mengalokasi waktu yang cukup dalam melakukan koordinasi; dan (3) komunikasi yang intens
antara tenaga pendidik maupun kependidikan, wali murid, dan masyarakat (dalam Amir, 2005).
Kesimpulan yang dapat diambil adalah kepemimpinan mempengaruhi segala komponen dalam
organisasi termasuk lembaga pendidikan. Dengan demikian kepemimpinan merupakan
variable yang akan menentukan kesuksesan variable lain. Oleh karena itu kepemimpinan
menduduki posisi utama yang berpengaruh pada kesuksesan TQM. Kepemimpinan yang baik
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…10
akan melahirkan budaya organisasi, budaya organisasi dapat diwujudkan dalam kerja sama
antar anggota. Apabila budaya organisasi baik, kemauan kerja anggota tinggi. Ketika
pelaksanaan pekerjaan terarah, maka kinerja organisasi meningkat. Hal tersebut akan
berimplikasi pada peningkatan mutu dan kesuksesan TQM dalam suatu organisasi.
Keterkaitan antara Budaya Organisasi dengan TQM
Budaya organisasi adalah suatu norma yang mencipatakan kebiasaan dalam kehidupan
organisasi. Budaya organisasi dapat berupa kedisiplinan, kerja sama, toleransi, dsb.
Keberhasilan organisasi dapat dipengaruhi oleh budaya yang ada didalamnya. Budaya sekolah
mencerminkan kualitas interaksi dan kehidupan sekolah yang berkembang berdasarkan normanorma yang tertanam. Kualitas kehidupan sekolah dapat dilihat dari bagaimana seluruh warga
sekolah saling berinteraksi (dalam Zhalsaoktavilia, 2019).
Sedangkan Zubaidah (2015) memaparkan bahwa budaya sekolah berperan sebagai
fasilitator peningkatan keefektifan sekolah. Salah satu contoh budaya organisasi yakni budaya
religious, yang kebanyakan diterapkan di lembaga pendidikan yang berbasis religi. Budaya
religius dianggap mampu menciptakan lingkungan belajar kondusif, dan melakukan
pendekatan pembelajaran konstrukstivistik. Model pembelajaran kontrukstivistik berguna
untuk menggebrak dan meningkatkan mutu pendidikan nasional (Fathurrohman, 2016).
Budaya organisasi dalam sistem manajemen mutu dapat menjadi identitas suatu organisasi.
Budaya organisasi akan membantu organisasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan
(Indriyati, 2018). Berdasarkan penelitian Basuki (2017) terhadap lembaga pesantren, diperoleh
hasil bahwa budaya organisasi pesantren memiliki pengaruh signifikan pada mutu pendidikan.
Budaya organisasi dapat diciptakan baik oleh pemimpin maupun anggota organisasi.
Peran kepala sekolah dalam memimpin lembaga pendidikan ialah dengan menanamkan
kesadaran terkait nilai dan norma yang berguna dalam meningkatkan mutu sekolah. Hal
tersebut yang kemudian melahirkan gagasan budaya mutu. Satori (dalam Anwar, 2014)
menjelaskan empat nilai dasar dalam mengembangkan budaya mutu dalam lembaga sekolah,
yakni: (1) nilai otonomi (kemandirian), yaitu kemandirian pegawai dalam merespon kebutuhan
sekolah; (2) nilai inovatif, yaitu kemampuan para pegawai untuk mengadakan pembaruan
melalui gagasan atau ide-ide; (3) Nilai Continous Qualitiy Improvement, yaitu perbaikan
kualitas secara berkelanjutan; dan (4) nilai pemberdayaan, yaitu strategi kepala sekolah dalam
memberdayakan komponen-komponen sekolah. Budaya organisasi akan tercipta melalui
kepemimpinan yang bermutu. Budaya organisasi dapat menjadi variable yang berpengaruh
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…11
terhadap TQM. Dengan adanya budaya organisasi, maka kemauan dan semangat kinerja
pegawai akan maksimal, sehingga berimplikasi pada peningkatan mutu organisasi dan
kesuksesan TQM.
Keterkaitan antara Kerja Tim dengan TQM
Kerja tim atau kerja sama tim adalah proses sekelompok orang yang saling bergotong
royong dan bekerja secara bersama untuk tercapainya suatu tujuan. Kerja tim memungkinkan
untuk mempermudah pekerjaan jika dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan sendiri.
Organisasi beranggotakan orang-orang yang dituntut untuk saling bekerja dalam rangka
memperoleh tujuan organisasi. Proses kerja sama memungkinkan organisasi untuk dapat
mencapai segala tujuannya (dalam Wanty, 2018). Keterlibatan seluruh anggota organisasi akan
memberi manfaat terhadap organisasi. Menurut Wadjdi (2012), keefektifan kerja tim berprinsip
pada “teamwork” yaitu: (1) Together, yakni melakukan pekerjaan secara bersama yang berarti
bahwa antara satu pegawai dengan pegawai lain berada pada tingkatan pekerjaan yang setara,
(2) Empathy, yaitu peduli terhadap apa yang dirasakan oleh pegawai lain, atau dalam arti lain
dapat memahami situasi dan kondisi setiap pegawai, (3) Assist, yaitu dengan saling
memberikan bantuan satu sama lain, terutama dalam menghadapi suatu kesukaran dalam
melakukan pekerjaan, (4) Maturity, yakni dengan menyelesaikan segala sesuatu permasalahan
dengan sikap yang dewasa dan bijaksana, (5) Willigness, yaitu dengan patuh terhadap
kebijakan yang berlaku dalam lingkungan kerja, kebijakan tersebut dapat berbentuk SOP atau
Standar Operasional Prosedur maupun tata tertib, (6) Organization, yaitu melakukan pekerjaan
secara teratur dan sistematis, (7) Respect, dengan saling menghormati antar sesame pegawai,
seperti menghargai pendapat, (8) Kindness, yaitu dengan saling menunjukkan kemurahan hati
antar pegawai, dengan begitu ikatan antar pegawai akan meningkat.
Tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah harus senantiasa menjadi satu tim yang
saling bahu membahu demi peningkatan kualitas sekolah. Dengan begitu, mereka akan
memiliki strategi dan komitmen yang sejalan untuk menciptakan kesadaran mutu dalam
lingkungan pendidikan sehingga target atau goals dapat tercapai (dalam Saifulloh., dkk, 2012).
Kerja tim merupakan salah satu perwujudan dari budaya organisasi. Kerja tim dapat menjadi
salah satu variable yang mempengaruhi TQM. Apabila seluruh anggota organisasi dapat
membangun kerja tim secara efektif maka para anggota tersebut akan memperoleh kemudahan
dalam melakukan pekerjaan. Ketika para anggota dapat melaksanakan pekerjaan dengan
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…12
mudah, maka kemauan kerja anggota akan meningkat pula sehingga dapat meningkatkan
kinerja. Peningkatan kinerja akan berimplikasi pada peningkatan mutu dan kesuksesan TQM.
Keterkaitan antara Motivasi Kerja dengan TQM
Motivasi kerja adalah suatu hasrat, dorongan, dan kemauan seseorang dalam
melaksanakan tugasnya. Motivasi adalah hal utama yang mempengaruhi apakah suatu
pekerjaan telah terlaksana atau tidak. Tokoh manajemen sumber daya manusia yakni Victor
H.Vroom, Edward lawler III dan John Grant Rhode serta Gary Dessler (2000), menyatakan
bahwa individu biasanya termotivasi untuk melakukan suatu hal yang dirasa dapat memberikan
suatu imbalan. Syarat dalam melakukan motivasi yakni, kemampuan dan kemauan kerja
(Jenita, 2014). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sulastri., dkk (2017), motivasi
kerja guru memiliki pengaruh signifikan pada mutu sekolah. Menurut (Zubaidah, 2015)
variable yang paling berpengaruh pada peningkatan mutu pendidikan adalah motivasi kerja
guru. Oleh karena itu, jika sekolah hendak melakukan perbaikan mutu, maka yang terlebih
dahulu ditingkatkan adalah motivasi kerja baru kemudian budaya sekolah. Selanjutnya, apabila
motivasi kerja tenaga pendidik tinggi maka pengajaran dan pelayanan yang diberikan pada
siswa akan maksimal. Penelitian oleh Basuki (2017) terhadap lembaga pesantren juga
menghasilkan kesimpulan dimana motivasi kerja berpengaruh pada meningkatnya mutu
pendidikan lembaga pesantren.
Berdasarkan kajian teori motivasi sebagaimana dikemukakan oleh McClellandet al.
(1976) yang telah diuraikan di atas, teori motivasi berprestasi dapat diterapkan dalam lembaga
pendidikan terutama sekolah. Teori tersebut dibutuhkan dalam meningkatkan efektivitas
pembelajaran dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan sekolah. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa motivasi kerja anggota sangatlah penting karena dapat berpengaruh pada
mutu organisasi atau TQM. Motivasi kerja terlahir dari budaya organisasi yang berlaku.
Motivasi kerja anggota adalah kunci penentu kualitas kinerja organisasi. Ketika suatu sistem
organisasi telah baik, tetapi kemauan kerja anggota rendah, maka kualitas yang dihasilkan akan
rendah pula, dan sebaliknya apabila sistem organisasi baik dan didukung kemauan kerja tinggi
maka kualitas yang dihasilkan akan maksimal. Oleh karena itu motivasi kerja adalah variable
yang paling berpengaruh pada kesuksesan TQM.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…13
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan adalah suatu pendekatan yang
terkonsep secara menyeluruh dan dapat digunakan untuk mempertahankan eksistensi lembaga
dalam mengoptimalkan daya saing sekolah. Pengoptimalan tersebut dapat dilakukan dengan
usaha-usaha perbaikan pada produk atau jasa, SDM pendidikan, dan proses pendidikan.
Keberhasilan TQM terkait dengan beberapa variable organisasi pendidikan meliputi: (1)
kepemimpinan, (2) budaya organisasi, (3) kerja tim, dan (4) motivasi kerja. keterkaitan antar
variable terhadap TQM yakni: kepemimpinan sebagai variable pertama, yang diemban oleh
kepala sekolah dapat menggerakkan SDM untuk menciptakan budaya organisasi, membangun
kerja sama antar anggota, dan meningkatkan kemauan atau motivasi kerja. Budaya organisasi
sebagai variable kedua, diciptakan oleh kepala sekolah dan staf sekolah. Budaya organisasi
dapat diimplementasikan melalui kerja sama tim, dan dapat meningkatkan kemauan atau
motivasi kerja. Kerja tim sebagai variable ketiga, merupakan salah satu perwujudan dari
budaya organisasi. Apabila kerja tim berhasil dibangun, kemauan kerja anggota akan
meningkat. Motivasi kerja sebagai variable keempat, adalah kemauan kerja anggota terlahir
dari budaya organisasi, dan dihasilkan dari kerja sama tim yang baik. Motivasi kerja pegawai
sekolah merupakan kunci penentu kesuksesan TQM dalam lembaga pendidikan. Kesuksesan
TQM tercapai apabila motivasi kerja meningkat sebagai akibat dari maksimalnya budaya
organisasi (kerja tim) dan kepemimpinan kepala sekolah.
Saran
TQM merupakan strategi yang tepat yang dapat diimplementasikan oleh lembaga
pendidikan terutama sekolah dalam melakukan perbaikan mutu secara berkelanjutan. Oleh
sebab itu, kepala sekolah sebagai manajer pendidikan hendaknya menggerakkan seluruh
komponen pendidikan untuk berkomitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. Selain itu,
peneliti selanjutnya diharapkan agar mampu mengeksplorasi lebih jauh mengenai strategi
mensukseskan TQM serta memberikan inovasi dan interpretasi yang lebih maksimal. Sehingga
penelitian selanjutnya mampu melengkapi kekurangan pada penelitian yang telah
dilaksanakan.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…14
DAFTAR RUJUKAN
Amir, Y.H., 2005. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Berorientasi Penguatan Budaya
Organisasi dan Perbaikan Mutu Pendidikan di Sekolah Swasta Berciri Khas Islam:
Model Konseptual Berdasarkan Kasus SMA Al-Irsyad Tegal. Mimbar Pendidikan Vol 2
(24). Online. http://jurnal.upi.edu/md/view/348/kepemimpinan-kepala-sekolah-yangberorientasi-penguatan-budaya-organisasi-dan-perbaikan-mutu-pendidikan-di-sekolahswasta-berciri-khas-islam:-model-konseptual-berdasarkan-kasus-sma-al-irsyadtegal.html, diakses pada 5 April 2020.
Anam, Khoirul. 2018. Implementasi Total Quality Manajement (TQM) di Lembaga Pendidikan
(preprint). Open Science Framework. https://doi.org/10.31219/osf.io/st38m, diakses
pada 02 April 2020.
Anita. 2017. Motivasi dan Kinerja Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Madrasah
Ibtidaiyah Negeri. Tesis tidak diterbitkan. Purwokerto: PPs IAIN Purwokerto.
Anwar, S., 2014. Pengembangan Budaya Mutu Dalam Meningkatkan Kualitas Madrasah Di
Madrasah Ibtidaiyyah Negeri Kota Bandar Lampung Vol 14 (36). Online.
http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/analisis/article/view/701, diakses pada 05
April 2020.
Basuki, I., 2017. Analisis Pengaruh Kepemimpinan Kyai, Budaya Pesantren, dan Motivasi
Kerja Guru Terhadap Mutu Pendidikan Pesantren Di Provinsi Banten 12. Online.
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JPP/article/download/9612/161-172, diakses
pada 01 April 2020.
Fadhli, M. 2017. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan. JSMP 1, 215. Online.
https://doi.org/10.29240/jsmp.v1i2.295, diakses pada 02 April 2020.
Fathurrohman, M., 2016. Pengembangan Budaya Religius Dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan
Vol
04
(2).
Online.
http://ejournal.iain-
tulungagung.ac.id/index.php/taalum/article/view/364, diakses pada 31 Maret 2020.
Ginting, R., Haryati, T., 2012. Kepemimpinan Dan Konteks Peningkatan Mutu Pendidikan.
Online. http://journal.upgris.ac.id/index.php/civis/article/view/455, diakses 31 Maret
2020.
Haris, A. 2013. Kepemimpinan Pendidikan. Surabaya: UINSA
Hasibuan, M.M., n.d. Implementasi Total Quality Manajemen (TQM) Pada Sdit Bina Insan
Batang
Kuis
T.A.
2018/2019
15.
Online.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…15
http://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/sabilarrasyad/article/view/480,
diakses
pada 28 Maret 2020.
Hastuti, S., Wijayanti, L., 2009. Kinerja Manajerial : Hasil Kerjasama Tim Dan Perbaikan
Berkesinambungan
9.
Online.
http://ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/rebis/article/view/37, diakses pada 28 Maret
2020.
Herawan, E., 2016. Kepemimpinan Mutu Kepala Sekolah Dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan.
Pedagogia
Vol
12
(51).
Online.
https://doi.org/10.17509/pedagogia.v12i2.3329, diakses pada 03 April 2020.
Hermanto Nst, M., 2018. Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan Islam. Muaddib 3.
Online. https://doi.org/10.31604/muaddib.v1i1.471, diakses pada 01 April 2020.
Huriyah, L., n.d. Penerapan Total Quality Management (TQM) Dalam Peningkatan Mutu
Layanan
Publik
UIN
Sunan
Ampel
Surabaya.
Online.
http://joies.uinsby.ac.id/index.php/joies/article/download/15/14/, diakses pada 31
Maret 2020.
Husain, M.I.A., Naway, F.A., Mas, S.R., n.d. Implementasi Total Quality Manajemen di SDN
30
Kota
Selatan
6.
Online.
http://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/JPS/article/view/118, diakses pada 28 Maret
2020.
Husna, A., 2014. Penerapan Manajemen Mutu Terpadu dan Dampaknya di SD Budi Mulia
Dua Sedayu Bantul. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Vol 7(12). Online.
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpip/article/view/3107/0, diakses pada 27 Maret
2020.
Indriyati, R., 2018. Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi Dan Komitmen Organisasi
Terhadap Kinerja Manajemen Mutu (Studi pada AKPELNI Semarang). Mem 33.
Online. https://doi.org/10.24856/mem.v33i1.614, diakses pada 01 April 2020.
Ismail, F., 2018. Implementasi Total Quality Management (TQM) di Lembaga Pendidikan. JII
10. Online. https://doi.org/10.30984/jii.v10i2.591, diakses pada 01 April 2020.
Jami, J., Syukri, M., n.d. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu (MMT) Di SD Negeri 03
Muara
Pawan
Kabupaten
Ketapang
.Online.
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/1892, diakses pada 29 Maret
2020.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…16
Jenita. 2014. Analisis Pengaruh Motivasi dan Pelaksanaan Strategi SDM Terhadap Kinerja
Dosen Serta Implikasinya Pada Kualitas Lulusan (Survey Pada PTS Di Provinsi Riau)
Vol 11 (2). Online. https://media.neliti.com/media/publications/98507-ID-analisispengaruh-motivasi-dan-pelaksana.pdf, diakses pada 05 April 2020.
Junaidah, n.d. Kontribusi Pemimpin Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di
Perguruan Tinggi. IAIN Raden Intan Lampung: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 25.
Online.
http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/idaroh/article/view/784, diakses
pada 29 Maret 2020.
Jurman, J., 2014. Budaya Organisasi Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Pada SMA Negeri 1
Simeulue Timur. JID 14. Online. https://doi.org/10.22373/jid.v14i2.503, diakses pada
01 April 2020.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. https://kbbi.go.id, diakses pada 01 April 2020.
Khadijah, I., n.d. Manajemen Mutu Terpadu (TQM) Pada Lembaga Pendidikan Islam. Online.
http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/idaroh/article/view/754, diakses pada 31
Maret 2020.
Khairani, D.I., Wijaya, C., Saputra, E., 2018. Hubungan Antara Kerja Tim Dan Komitmen
Guru Terhadap Efektifitas Kinerja Guru di SMA Se Kecamatan Medan Labuhan Vol
2 (2). Online. http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/attazakki/article/view/1873, diakses
pada 05 April 2020.
Kurniawan, A.C. 2013. Perbandingan Implementasi Total Quality Management (TQM)
Di Sma Negeri 3 Yogyakarta Dan Smk Negeri 4 Yogyakarta. Skripsi tidak diterbitkan.
Yogyakarta: UNY.
Marmoah, S. 2019. Implementasi Total Quality Management (TQM) di Pendidikan Dasar. Pip
33, 41–50. Online. https://doi.org/10.21009/PIP.331.5, diakses pada 02 April 2020.
Munawir, 2005. Implementasi Total Quality Management (TQM) Di Sekolah Menengah
Kejuruan
Institut
Indonesia
Kutoharjo.
Online.
http://eprints.ums.ac.id/6833/1/Q100040069.pdf, diakses pada 04 April 2020.
Munir, M. 2018. Keberadaan Total Quality Management Dalam Lembaga Pendidikan (Antara
Prinsip Implementasi Dan Pilar TQM Dalam Pendidikan). Surabaya: UINSA.
https://jurnal.iainkediri.ac.id/index.php/realita/article/download/702/444, diakses pada
03 April 2020.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…17
Prasetyo, A. D. 2018. Pengelolaan Total Quality Management Berorientasi Pada Kualitas
Layanan Pendidikan Di SDII Al Abidin Surakarta. Tesis tidak diterbitkan. Surakarta:
PPs Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Prabowo, S., 2012. Total Quality Management (TQM) Dalam Pendidikan. JSH 5. Online.
https://doi.org/10.12962/j24433527.v5i1.624, diakses pada 03 April 2020.
Prestiadi, D., Hardyanto, W., Pramono, S.E., 2015. Implementasi Total Quality Management
(TQM)
dalam
Mencapai
Kepuasan
Siswa.
Online.
https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eduman/article/view/9853/6338,
diakses
pada 03 April 2020.
Prihartanta,
W.,
2015.
Teori-Teori
Motivasi
Vol
1(11).
Online.
https://www.academia.edu/19792313/Teori-Teori_Motivasi, diakses pada 03 April
2020.
Raharja, S.M., Sudarmanto, G., Genap, D., 2013. Hubungan Antara Motivasi Kerja, Sikap
Pada Profesi, dan Pembinaan Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru Sekolah
Menengah
Kejuruan
di
Kota
Bandar
Lampung
15.
Online.
Http://Jurnal.Fkip.Unila.Ac.Id/Index.Php/JT/Article/View/2333, Diakses Pada 03
April 2020.
Rahmah, U. 2018. Implementasi Total Quality Management (TQM) di SD Al-Hikmah Surabaya
Vol
3
(21).
Online.
http://ejournal.uin-
suka.ac.id/tarbiyah/index.php/manageria/article/download/1606/1415/, diakses pada
05 April 2020.
Saifulloh, M., Muhibbin, Z., Hermanto, H., 2012. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan di
Sekolah. JSH 5. Online. https://doi.org/10.12962/j24433527.v5i2.619, diakses pada 03
April 2020.
Sulastri, S., Nurkolis, N., Rasiman, R., 2017. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan
Motivasi Kerja Terhadap Mutu Sekolah Dasar Di Kabupaten Jepara. JMP 5. Online.
https://doi.org/10.26877/jmp.v5i3.1984, diakses pada 04 April 2020.
Supriyanto, A., 2015. Implementasi Total Quality Management Dalam Sistem Manajemen
Mutu
Pembelajaran
Di
Institusi
Pendidikan.
CP
https://doi.org/10.21831/cp.v1i1.4188, diakses pada 04 April 2020.
Tahir, A. 2014. Buku Ajar Perilaku Organisasi. Sleman: Penerbit Deepublish.
1.
Online.
Nisa –Keterkaitan Antara Kepemimpinan…18
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional & Peraturan
Pemerintah RI Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Serta Wajib
Belajar. 2017. Bandung: Citra Umbara.
Utami, N., n.d. Makassar: UIN Alauddin Makassar.
Wadjdi, H., 2018. Manajemen Peningkatan Mutu Lembaga Pendidikan Islam. Online. http://ejournal.staima-alhikam.ac.id/index.php/talimuna/article/view/127, diakses pada 01
April 2020.
Wahidmurni. 2017. Pemaparan Metode Penelitian Kualitatif. Online. http://repository.uinmalang.ac.id/1984/2/1984.pdf, diakses pada 04 April 2020.
Wanty, S.H., 2018. Pengaruh Kepribadian dan Kerjasama Tim Terhadap Kinerja Instruktur
Rumah Sakit Pendidikan (Teaching Hospital) di Kota Jakarta Timur 10. Online.
http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jmp/article/download/10800/6781/, diakses 04
April 2020.
Widianto, E., 2016. Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Sebagai Solution Giver Di Sekolah
14. Online. http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/38-Edi-Widianto.pdf,
diakses pada 05 April 2020.
Yuli, D.R., Afriansyah, H., n.d. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Management)
di
Sekolah.
Jurnal
Total
Quality
Management.
Online.
https://osf.io/ugdr2/download/?format=pdf, diakses pada 04 April 2020.
Yusuf, M.H.H., 2017. Pengembangan Budaya Organisasi Dalam Lembaga Pendidikan.
Online. https://ejournal.unisnu.ac.id/JPIT/article/download/613/907 , diakses pada 04
April 2020.
Zhalsaoktavilia, 2019. PERAN GURU DAN BUDAYA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN
MUTU PENDIDIKAN MELALUI SUPERVISI PENDIDIKAN (Preprint). INA-Rxiv.
Online. https://doi.org/10.31227/osf.io/5vbry, diakses pada 04 April 2020.
Zubaidah, S., 2015. Pengaruh Budaya Sekolah Dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Mutu
Pendidikan
Di
SMKN
1
Pabelan.
Online.
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pip/article/view/7688, diakses pada 04 April
2020.
Download