Uploaded by common.user68848

MAKALAH HADITS

advertisement
MAKALAH
ILMU HADITS
PEMBAGIAN HADITS DAN SANADNYA
Disusun Oleh:
NAMA : YENI HAFIZIAH HUSNAINI
KELAS : AGAMA 1
MA NURUL QUR’AN
PRAYA-LOMBOK TENGAH
TAHUN 2020
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah Swt, yang telah memberikan rahmatnya kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Tidak lupa pula kami kami ucapkan kepada
junjungan kami nabi Muhammad Saw. Yang telah memberikan pelajaran kepada kita semua
sebagai umat Islam.
Dan trimakasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung kami
dalam menyelesaikan tugas ini sehingga dapat akhir yang cukup memuaskan.
Inilah usaha keras kami, kami harap dapat bemanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi
kami khususnya. Akhir kata kami ucapkan banyak terimakasih dan mohon maaf yang sebesarbesarnya. Semoga bermanfaat. Amiiin.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................. ............................. i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ........................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................... ......................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................. .............................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................ .............................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Klasifikasi Hadits Ditinjau Dari Bentuk Asal................................. ................................ 2
B. Klasifikasi Hadits Ditinjau Dari Sifat Asal..................................... ................................ 4
C. Hadits Berdasarkan Kwantitas Sanad Dan Perawinya................... ................................. 5
D. Hadits Berdasarkan Kwalitas Sanad............................................... ............................... 7
E. Maqbul Dan Maqdud....................................................................... ................................ 9
F. Berdasarkan Penisbatannya (Sumber Hadits).................................. ............................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................... ............................... 13
B. Saran................................................................................................ ................................ 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... ..................... 17
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Di dalam mengklasifikasikan hadîts, ulama hadîts berbeda-beda di dalam menetapkan jumlah
macam-macam hadîts. Ibn Taimiyah mengungkapkan, “secara umum, berdasarkan keadaan
Perawi dan keadaan matan hadits sangat banyak macamnya. Menurut Imam Al-Nawâwiy
pembagian hadîts mencapai 65 macam, menurut Al-Suyûtiy pembagian hadîts mencapai 82
macam, menurut Ibn Katsîr sebanyak 65 macam dan Abu Fadhl al-Jizâwiy –di dalam kitab AlTuras- membaginya menjadi 63 macam.
Hal ini terjadi karena mereka melihat klasifikasinya secara umum, dengan tidak melihat dan
menggunakan tipologi yang jelas.
Untuk memudahkan pemahaman dan pengenalan hadîts nabi beserta istilah-istilah yang terkait
dengannya, maka pemakalah akan menjabarkannya di dalam makalah singkat yang
berjudul “Klasifiksi Hadîts Ditinjau Dari Berbagai Aspek”. Pembahasannya meliputi:
Pembagian hadîts berdasarkan bentuk asal, pembagian hadîts berdasarkan sifat asal, pembagian
hadîts berdasarkan Jumlah periwayat, pembagian hadîts berdasarkan kwalitas serta pembagian
hadîts berdasarkan penisbatan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Klasifikasi Hadits Ditinjau Dari Bentuk Asalnya?
2.
Bagaimana Klasifikasi Hadits Ditinjau Dari Sifat Asalnya?
3.
Bagaimana Klasifikasi Hadits Berdasarkan Kwantitas Sanad Dan Perawinya?
4.
Bagaimana Klasifikasi Hadits Berdasarkan Kwalitas Sanadnya?
5.
Apa yang dimaksud dengan Maqbul Dan Maqdud
6.
Bagaimana Klasifikasi Berdasarkan Penisbatannya (Sumber Hadits)?
1
BAB II
PEMBAHASAN
Hadits dapat diklasifikasi menjadi :
A.
KLASIFIKASI HADITS DITINJAU DARI BENTUK ASAL
Ulama hadits mendefinisikan hadits secara bahasa dengan ‫( ال جدي د‬yang baru) dengan lawannya
‫( ال قدي م‬lama) dan secara umum yang dimaksud dengannya adalah segala perkataan Nabi SAW
yang dinukilkan dan disampaikan oleh manusia baik dari segi mendengar atau segi wahyu dalam
keadaan terjaga atau pun tidur.
Sedangkan menurut istilah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perkataan,
perbuatan, ketetapan dan sifat. Didalam buku Manhaj Naqd fi ulumil hadits, Nuruddin Ithr
mendefinisikan bahwa hadits segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa
perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat kholqiyyah (penciptaan), Khuluqiyyah (Akhlak) atau apa
saja yang disandarkan kepada para sahabat dan tabi’in.[1]
Diantara contoh hadits yang menggambarkan akhlak Nabi adalah
‫هللا ص لى هللا ع ل يه و س لم أ جود ل نا سا و ك ان ر سول ك ان ودل نا ساأج ف ى رم ضان‬
“Adalah Rasulullah itu manusia yang penyantun dan lebih penyantun lagi dibulan ramadhan”
dan contoh yang menggambarkan Nabi seorang manusia ciptaan Allah SWT
‫و ال ب ال ق ص ير‬, ‫ل يس ب ال طوي ل ا ل بائ ن‬,‫ وأح س نه خ ل قا‬,‫ال لهر سول ص لى هللا ع ل يه و س لم ح س نأ ال ناس ك ان وجها‬
“Adalah Rasulullah manusia yang paling baik/indah wajahnya, paling mulia akhlaknya, tidak
terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek”.
a.
Hadits Qouli
Hadits Qouli adalah semua ucapan Nabi SAW yang disampaikan dalam berbagai macam tempat
dan kesempatan, dan ulama ushul fiqh juga mendefinisikan hadits Qouli dengan defenisi yang
sama.[2]
2
Contoh hadits yang menggambarkan perkataan Nabi SAW:
... ‫ا ألع مال ب ال ن يات وإن ما ل كل امرء ما ن وى‬.‫إن ما‬
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap seseorang akan
mendapatkan sesuatu ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkan…"
...‫وال ضرارال ضرر‬
“Janganlah membahayakan diri dan membahayakan bagi orang lain…”
b.
Hadits Fi’li
Hadits fi’li adalah semua perbuatan Nabi SAW yang diriwayatkan oleh para sahabat seperti
wudhu nabi, tatacara pelaksanaan sholat, pelaksanaan haji, dan lain sebagainya.[3]
Contoh hadits yang menggambarkan perbuatan Nabi SAW :
‫خذوا ع نى م نا س ك كم‬
“Ambillah olehmu tatacara manasik haji dariku”
Para ulama ushul fiqh juga mengelompokkan perbuatan Nabi SAW kepada beberapa bagian :
1.
Jibilli/Jiblah (perangai/tabiat), yaitu perbuatan atau pekerjaan Nabi SAW yang termasuk
dalam urusan tabiat seperti makannya nabi, minum, duduk, dsb.
2.
Qurb (pendekatan/dekat), seperti ibadah sholat, puasa, shodaqoh, dsb.
3.
Mu’amalah (hukum syar’i yang mengatur kepentingan individu dengan lainnya), seperti
jual beli, perkawinan, pertanian, dsb.[4]
Adapun kandungan hukum yang terdapat dalam perbuatan Rasulullah SAW tersebut,
bahwasanya fi’liyah Rasulullah SAW adalah pekerjaan-pekerjaan Nabi yang menjadi penerang
bagi kita dalam melaksanakan perintah Allah SWT seperti beliau mengerjakan sholat Zuhur
empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, Ashar empat rakaat, dan Subuh dua rakaat.
Kesemuanya itu merupakan perbuatan Nabi yang berkedudukan sebagai hukum asal, andaikata
hukum asal yang dikerjakan Nabi itu wajib maka perkerjaan yang menerangkan cara
melaksanakan perintah yang wajib itu juga wajib.
3
c.
Hadits Taqriri
Hadits taqriri (penetapan, pengukuhan atau isbat) adalah semua yang diakui oleh Nabi terhadap
yang bersumber dari salah satu sahabat beliau, baik berupa perkataan dan perbuatan, meskipun
perbuatan tersebut dihadapannya atau tidak.[5]
Contoh pertama
Taqrir dari Nabi SAW terhadap kisah dua orang sahabat yang berada dalam perjalanan, ketika
telah masuk waktu sholat mereka tidak menemukan air untuk berwhudu, lalu mereka
bertayamum dan melakukan sholat, setelah beberapa saat dalam perjalanan mereka menemukan
air sebelum waktu sholat tersebut habis, kemudian salah seorang diantara keduanya berwhudu
dan mengulang sholatnya sedangkan yang lain tidak mengulang sholatnya, kemudian sampailah
hal ini kepada Rasulullah SAW, dan Nabi membenarkan perbuatan keduanya.
d.
Hadits Siffati
Hadits Siffati (na’at/sifat) adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada sifat dan kepribadian
Nabi SAW, contoh : bahwasanya Rasulullah itu bukanlah orang yang melampaui batas dan suka
berkata kotor, yang mempunyai watak yang keras, beliau juga bukan yang suka berteriak , keji,
dan juga bukan yang suka membuka cela/aib.[6]
B.
KLASIFIKASI HADITS DITINJAU DARI SIFAT ASAL
Apabila hadits ditinjau dari sifat asal, hadits terbagi kepada dua bagian, yaitu Hadits Nabawiy
dan Hadits Qudsiy.
1.
Hadits Nabawiy :
Hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, dan
sifat.
2.
Hadits Qudsiy :
Secara bahasa adalah ‫ق‬
‫ القدس ل‬dinisbahkan kepada (Al quds) yaitu : Suci dikarenakan dinisbahkan
hadits tersebut kepada dzat yang suci yaitu Allah Subhanahuwata’la.
Secara istilah adalah hadits yang disandarkan oleh Nabi SAW kepada Allah SWT, maksudnya
periwayatan yang diberikan oleh Nabi bersumber dari Kalam Allah SWT, maka Rasul hanya
meriwayatkan dari segi lafaz saja dan apabila seseorang meriwayatakan, maka periwayatannya
dari Rasullah yang bersandarkan kepada Allah SWT.
Dari segi perbedaan kita dapat membedakan antara Hadits Nabawiy dengan Hadits Qudsiy dan
hadits Qudsiy dengan Al Quran :
4
Hadits Qudsiy dengan Hadits Nabawiy :
a.
Hadits Qudsiy maknannya dari sisi Allah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW
dengan metode seperti metode turunnya wahyu dan tidak langsung dispesifikasikan kepada
Rasul dan Rasulullah SAW mengatakan ‫ ق ال هللا ك ذات عال ى‬sementara itu hafaz susunan
katanya barulah dari sisi Rasulullah SAW. oleh karena itulah dinamakan dengan ‫قدسييا د‬.
b.
Hadits Nabawiy tidak demikian halnya karena hadits Nabawiy bersifat Taufiqiy,
ditetapkan dengan ijtihad dan pendapat Nabi SAW dari pemahamannya tentang al Quran dengan
memperhatikan hakekat yang terjadi.
Hadits Qudsiy dengan Al Quran :
a.
Hadits Qudsiy lafaznya dari sisi Nabi SAW dan maknanya dari Allah SWT dengan jalan
ilham atau ketika tidur dengan wahyu yang ‫ق‬
‫ جل ي‬ataupun tidak. Sementara al-Quran lafaz dan
maknanya murni dari Allah SWT melalui wahyu yang ‫ق‬
‫ جل ي‬dengan perantaraan malaikat Jibril AS
dalam keadaan terjaga dan bukan dalam kondisi tidur atau pun dengan ilham.
b.
Hadits Qudsiy sah menggunakan periwayatannya dengan makna, adapun al-Quran
diharamkan riwayatnya dengan makna.
c.
Hadits Qudsiy tidaklah beribadah dalam membacanya, sementara al-quran beribadah
dalam membacanya.
d.
Al Quran al Karim adalah mu’jizat Allah SWT yang kekal abadi yang berurutan lafaz
kalimat, huruf, susunan katanya, adapun hadits Qudsiy tidaklah berurutan dan tidak pula
mu’jizat.
e.
Al Quran diharamkan menyentuhnya bagi orang yang berhadas/tidak suci, sementara
hadits qudsiy tidak demikian halnya.[7]
C.
HADITS BERDASARKAN KWANTITAS SANAD DAN PERAWINYA
1.
Hadits Mutawatir
Secara etimologi berarti beriringan, berurutan, berkesinambungan, kontinyu. Sedangkan secara
terminologi berarti hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi dalam setiap generasi sanad,
mulai awal (shahabat nabi) hingga akhir (perawi, penulis hadits).
Syarat hadits mutawatir :
 Rawi haditsnya segolongan orang banyak.
5
 Mereka mustahil melakukan kebohongan karena rawi-rawi itu orang banyak yang berbedabeda kalangan dan profesi.
 Rawi yang yang banyak itu meriwatyatkan pada rawi yang banyak pula, mulai dari permulaan
hingga akhir sanad.
 Bersifat indrawi (diterima oleh panca indra).
Hadits mutawatir dibagi menjadi :
a.
Mutawatir lafdhi
Yaitu mutawatir dalam satu masalah yang diriwayatkan dengan menggunakan lafadz (susunan
kata) satu atau lebih namun satu makna yakni dalam konteks masalah itu.
b.
Mutawatir ma’nawi
Adalah hadits yang isinya diriwayatkan secara mutawatir dengan bentuk matan yang berbedabeda. Umumnya hadits mutawatir dalam jenis ini berupa riwayat tentang perilaku nabi terhadap
lingkungan, cara nabi saw. mengangkat kedua tangan dalam berdo’a, dan sebagainya.
2.
Hadits Ahad
Secara harfiah kata âhâd (‫ )آحاد‬merupakan bentuk jamak dari kata ahad (‫ )أحد‬yang berarti yang
satu, tunggal. Jika dikatakan khabar wahid maka maksudnya adalah khabar atau hadits yang
diriwayatkan oleh seorang pribadi (sendiri). Jadi, Hadits Ahad (‫ )اآلح اد ال حدي ث‬adalah hadits yang
diriwayatkan oleh satu orang atau dua orang saja, atau bahkan oleh sedikit orang, atau seorang
saja, dan selanjutnya masing-masing perawi menyampaikan haditsnya kepada seorang, atau dua
orang saja. Jumlah perawi yang demikian dalam setiap tahap tidak menjadikan haditsnya
terkenal sebagaimana jenis lainnya.
Klasifikasi hadits ahad :
a.
Hadits masyhur
Adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 perawi atau lebih pada setiap tingkat sanadnya di
masing-masing jalur, dan tidak melebihi jumlah sanad untuk periwayatan hadits mutawatir.
Hadits masyhur dikelompokkan menjadi :
 Hadits yang masyhur dikalangan para Ahli Hadits (ahl al-hadits, ‫ )أهل ال حدي ث‬secara khusus.
6
 Hadits yang masyhur dikalangan ahli hadits sendiri dan kalangan lainnya (‘Ulama dan
‘awam).
 Hadits yang masyhur dikalangan para Ahli Fiqh (al-Fuqaha`, ‫)ال ف قهاء‬.
 Hadits yang masyhur dikalangan para Ahli Ushul (al-Ushuliyyun, ‫)األصولييون‬.
 Hadits yang masyhur dikalangan para Ahli Nahwu (al-Nuhah, ‫)ال نحاة‬.
 Hadits masyhur yang terkenal dikalangan masyarakat umum.
b.
Hadits aziz
Kata ‘Aziz berarti yang mulia, utama, kuat, dan sangat. adalah hadits yang mempunyai dua jalur
sanad, yang masing-masing terdiri atas dua orang rawi pada setiap level sanadnya. Atau dengan
kata lain, hadits ‘aziz adalah hadits yang mempunyai dua sistem sanad (isnadan, ‫)إ س نادان‬.
c.
Hadits gharib
Menurut etimologi berarti terasing/jauh dari tempat tinggalnya. Sedang menurut istilah artinya
hadits yang asing sebab hanya diriwayatkan oleh seorang rawi, atau disebabkan karena adanya
penambahan dalam matan atau sanad.
Hadits gharib dibagi menjadi :
o Gharib mutlak Ialah hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang rawi walaupun hanya
dalam satu thabaqat (tingkatan).
o Gharib nisbi Ialah hadits dimana kegharibannya ditentukan karena suatu segi, misalnya dari
segi hanya diriwayatkan oleh seorang rawi tertentu, dan sebagainya.
D.
HADITS BERDASARKAN KWALITAS SANAD
1.
Hadits Shahih
Kata shahih (‫ ) صح يح‬berasal dari kata shahha (‫ )ص يح‬dan shihhah (‫ )ص يحص‬yang berarti sehat, tidak
cacat. Hadits Shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung proses periwayatan oleh orang
yang adil, dan kuat daya ingatnya dari orang yang serupa sifatnya, serta terbebas dari keganjilan
dan cacat.
Dikatakan dengan hadits shohih sekiranya memenuhi criteria dibawah ini:[8]
7
1.
Sabadnya bersambung (dengan mendengar setiap satu orang dari orang lain dari
periwayatannya sampai ke atasnya).
2.
Adalatul al- Ruwah (adil dalam artian orang tersebut benar-benar memiliki kemampuan
untuk memikulnya dengan mengacu kepada nilai-nilai taqwa dan wibawa).
3.
Dhabit (benar-benar terukur keabsahan penerimaan darinya dengan mengacu kepada apa
yang ia dengar dari seorang syekh kemudian ia hafal dan ia berikan pula kepada yang orang
lain).
4.
Terlepas dari kejanggalan dan cacat (orang tersebut benar-benar yang paling terpercaya
dari sumber pengambilan periwayatan hadisnya tanpa ada cacat dan cela).
Ulama membagi hadits shohih menjadi kepada shohih lizatihi dan shohih lighairihi. Shohih
lizatihi adalah hadits yang memenuhi criteria sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumya,
sedangkan shahih lighairihi adalah hadits yang tidak memenuhi criteria yang telah disebutkan
tersebut secara maksimal, misalnya perawi yang adil namun tidak sempurna kedhabitannya.
Akan tetapi terdapat hadits dari jalur yang berbeda yang menguatkannya, dan bisa jadi hadits
dalam ketegori hasan yang diriwayatkan dari beberapa jalur bisa menjadi derajat shahih
lighairihi.
2.
Hadits Hasan
‫ما ت ص ال س نده ب عدل خف ض بطه من غ ير شذوذ ال و ع لص‬
“Hadits yang bersambung sanadnya yang diriwayatkan oleh perawi yang adil namun lebih
rendah kedhabitannya tanpa adanya syaz dan illat”
Dapat kita bandingkan perbedaan antara hadits hasan dan hadits shahih hanya terletak pada
kedhabitan perawinya saja, hadist shohih perawinya dalam tingkat kedhabitan sempurna dalam
hadits hasan kurang sempurna.
Secara harfiah kata hasan berarti bagus. Maka Hadits Hasan secara istilah didefinisikan sebagai
hadits yang bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang kurang sempurna
kredilitasnya.
3.
Hadits dhaif
Dla’if (‫ ) ض ع يف‬secara harfiah berarti lemah. Hadits Dla’if adalah hadits yang tidak memiliki
syarat sebagi hadits hasan karena hilangnya sebagian syarat.
8
Hukum-hukum hadits dhaif :
Tidak boleh diamalkan, baik dijadikan landasan menetapkan suatu hukum maupun sebagai
landasan suatu aqidah, melainkan hanya diperbolehkan dalam hal keutamaan amal.
Syarat membolehkan mengamalkan hadits dhaif menurut Ibnu Hajar:

Hadits dhaif itu mengenai keutamaan amal

Kualitas kedhaifannya tidak terlalu sehingga tidak boleh mengamalkan hadits dari orang
pendusta dsb

Hadits dhaif bersumber pada dalil yang bisa diamalkan

Pada waktu mengamalkan hadits dhaif tidak boleh mempercayai kepastian hadits itu (niat
ikhtiat/berhati-hati dalam agama)
E.
MAQBUL DAN MAQDUD
1.
Hadits Maqbul
Kata Maqbul (‫ )م ق بول‬secara harfiah berarti “diterima”. Hadits Maqbul adalah hadits yang bisa
diterima kehadirannya sebagai landasan beragama, baik dalam hal ibadah maupun mu’amalah.
Tingkatan Hadits Maqbul :
a.
Ma’mul Bih (‫)ل وال م عم هب‬
Yakni hadits yang seharusnya diamalkan pesan-pesannya (wujub al-‘amal bih, ‫)ب ه ال عمل وجوب‬,
yakni hadits yang mutawatir, shahih, shahih li ghairih, dan hasan.
b.
Ghair Ma’mul Bih (‫)غ ير ل م عمو ال ب ه‬
Yaitu hadits yang isinya tidak harus diamalkan, tetapi cukup diambil sebagai sumber informasi,
yaitu hadits ahad, dan hadits hasan li ghairih.
2.
Hadits Mardud
Kata mardud (‫ )مردود‬berarti “ditolak”. Hadits Mardud adalah hadits yang ditolak karena memiliki
ciri-ciri yang sekaligus alasan untuk ditolak antara lain sebagai berikut:
9
a.
Sanadnya tidak bersambung, atau munfashil (‫)م ن ف صل‬
b.
Terdapat perawi yang cacat dalam sanad
c.
Cacat matannya.
F.
BERDASARKAN PENISBATANNYA (SUMBER HADITS)
1.
Hadits Marfu’
Kata marfu’ (‫ )مرف وع‬secara harfiah berarti diangkat atau terangkat hingga pada posisi yang
tinggi. Maka hadits marfu’ (‫ )ال حدي ث ال مرف وع‬adalah hadits yang oleh para muhadditsun
dinyatakan sebagai hadits yang disandarkan langsung pada nabi saw., baik sanadnya bersambung
secara utuh (muttashil) ataupun tidak secara utuh (ghair muttashil), yakni terdapat sanad yang
terputus didalamnya.
Macam-macam hadits marfu’ :
a.
Marfu’ Tashrihi
Yaitu hadits yang diketahui secara jelas dihubungkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan,
perbuatan atau taqrir.
b.
Marfu’ Hukmi
Yaitu hadits yang secara jelas oleh sahabat tidak dihubungkan kepada Nabi SAW melalui katakata, misalnya, “Bahwa Rasulullah Saw bersabda “atau” bahwa Rasulullah saw telah
melakukan…”, atau “bahwa telah dilakukan didepan nabi SAW.
2.
Hadits Mauquf
Mauquf (‫ )موق وف‬secara harfiah berarti berhenti atau dihentikan. Maka yang dimaksud dengan
hadits mauquf (‫ )ال موق وف لحدي ث ا‬adalah hadits yang dinyatakan oleh seorang shahabi, baik
dengan sistem sanad yang muttashil pada nabi maupun munqathi’. Jadi hadits ini hanya berhenti
pada level shahabi sebagai sandaran informasi.
3.
Hadits Maqthu’
Kata maqthu’ (‫ )م قطوع‬berasal dari kata qatha’a (‫ )ق طع‬yang secara harfiah berarti terputus atau
diputuskan, yang berlawan kata washala (‫ )و صل‬dengan arti sampai atau bersambung. Maka yang
dimaksud dengan hadits maqthu’ (‫ )م قطوعال لحدي ثا‬adalah hadits yang disandarkan kepada
10
seorang tabi’in atau pengikut tabi’in, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dikatakan terputus
karena sanadnya tidak bersandar langsung pada nabi atau bahkan tidak pada shahabat.
Di antara hadits-hadits yang termasuk kategori tidak diterima atau ditolak pada umumnya adalah
hadits-hadits yang merupakan cabang hadits dha’if dan hadits maudlu’.
Di antaranya sebagai berikut :
a.
Hadits mursal
Kata mursal berarti melepaskan. Secara terminologi berarti hadits yang di marfu’kan oleh tabi’i
kepada Nabi saw. Artinya, seorang tabi’in secara langsung mengatakan “Bahwasannya
Rasulullah saw bersabda…”. Atau dapat pula diartikan sebagai hadits yang disampaikan oleh
seorang tabi’in, baik Tabi’in Besar maupun Tabi’in Kecil, tanpa menyebut nama shahabat.
b.
Hadits muallaq
Kata muallaq berarti digantung. Sedang menurut terminologinya yaitu hadits yang perawinya
gugur pada awal sistem sanad, baik seorang, dua orang, atau semuanya kecuali seorang shahabi.
c.
Hadits munqathi’
Munqathi’ secara harfiah berarti terputus. Hadits Munqathi’ (‫ )ال م ن قطع ال حدي ث‬adalah hadits
yang dalam sistem sanadnya terdapat sanad yang terputus di dua fase secara tidak berurutan,
misalnya terputusnya sanad pada titik sanad ketiga dan pada titik kelima.
d.
Hadits mu’dhal
Secara bahasa berarti dicelakakan. Maka secara terminologis Hadits Mu’dhal (‫)ال حدي ث ال م ع ضل‬
adalah hadits yang dalam sistem sanadnya terdapat sanad yang terputus di dua fase secara
berurutan, misalnya terputus pada titik sanad ketiga dan pada titik keempat.
e.
Hadits matruk
Kata matruk (‫ )م تروك‬berarti yang ditinggal atau ditinggalkan. Sedangkan yang dimaksud
dengannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang tertuduh sebagai pendusta,
baik terkait dengan masalah hadits maupun lainnya, atau tertuduh sebagai seorang fasiq, atau
karena sering lalai ataupun banyak sangka.
f.
Hadits munkar
Munkar (‫ )م ن كر‬secara harfiah berarti diingkari. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi
yang lemah, yang menyalahi riwayat rawi yang tsiqah (terpercaya), atau riwayat yang lebih
lemah lagi.
11
g.
Hadits muallal
Secara harfiah, mu’allal (‫ )معليل‬berarti yang dicacat. Hadits Mu’allal yaitu hadits yang di
dalamnya terdapat sebab-sebab (‘illat) tersembunyi, hal mana sebab-sebab tersebut baru
diketahui setelah dilakukan penelitian yang mendalam, dan secara lahiriah hadits tersebut
mempunyai cacat.
h.
Hadits mudhtharib
Mudltharrib (‫ )م ضطرب‬secara harfiah berarti tercipta. Dan secara terminologis, Hadits
Mudltharrib (‫ )ال حدي ث ال م ضطرب‬adalah hadits yang riwayatnya atau matannya berlawanlawanan, baik dilakukan oleh seseorang atau banyak rawi, dengan cara menambah, mengurangi
ataupun mengganti. Riwyatnya tidak dapat dianggap kuat salah satunya, demikian pula
matannya.
i.
Hadits maqlub
Hadits Maqlub (‫ )ال حدب ث ال م ق لوب‬adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang di
dalamnya terjadi keterbalikan, yakni mendahulukan bagian belakang, atau membelakangkan
yang terdahulu, baik berkenaan dengan sanad maupun matan. Secara harfiah, kata maqlub
(‫ )م ق لوب‬berarti dibalik atau terbalikkan.
j.
Hadits mudraj
Mudraj (‫ )مدرج‬berarti dimasukkan atau dilesapkan (mudkhal, ‫)مدخل‬. Maka hadits mudraj adalah
hadits urutan isnadnya diubah, atau hadits yang telah disisipkan perkataan orang lain ke dalam
matannya, baik dari kelompok Shahabi maupun tabi’in, untuk keperluan penjelasan terhadap
makna yang dikandungnya. Jika hadits yang demikian masih bisa dideteksi unsur
penglesapannya kemudian disingkirkan maka menjadi shahih, tetapi jika sulit disortir maka
menjadi dla’if status haditsnya.
k.
Hadits mudhallas
Secara harfiah kata mudallas (‫ )مدليس‬berarti menyembunyikan sesuatu yang cacat. Maka secara
terminologis hadits mudallas adalah hadits yang disamarkan (ditutupi) unsur cacatnya dalam
sanad, dan ditampilkan baiknya. Misalnya seorang rawi menerima banyak hadits dari seorang
gurunya lalu ia meriwayatkan sebuah hadits yang tidak diambil dari gurunya tersebut tetapi
dinyatakan darinya (demi kebaikan) padahal diambilnya dari gurunya yang lain.
l.
Hadits maudhu’
Hadits Maudhu’ (‫ )ال حدي ث ال مو ضوع‬adalah jelas-jelas ditolak dalam syari’at Islam tanpa syarat.
Dengan kata lain, hadits maudhu’ adalah hadits palsu.
12
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Hadîts di bagi berdasarkan beberapa tipologi. Pertama berdasarkan bentuk asal, hadîts dibagi
menjadi empat yaitu: hadîts Qauliy, hadîts fi’liy, hadîts Taqrîriy dan hadîts Shifatiy. Kedua
berdasarkan sifat asal, hadîts dibagi menjadi dua yaitu: hadîts Qudsiy dan hadîts Nabawiy.
Ketiga berdasarkan jumlah periwayat, hadîts dibagi menjadi dua yaitu: hadîts Mutawâtir dan
hadîts Ahad (Meskipun Hanafiyah membaginya menjadi tiga). Keempat berdasarkan kwalitas,
hadîts dibagi menjadi tiga yaitu: hadîts Shahîh, hadîts Hasan dan hadîts Dha’îf . Terakhir
berdasarkan penisbatan, hadîts dibagi menjadi tiga yaitu: hadîts Marfû’, hadîts Mauqûf dan
hadîts Maqtû’.
B.
SARAN
Dikarenakan para ulama hadîts berbeda-beda di dalam menetapkan pembagian hadits, dan
perbedaan itu adalah suatu yang wajar, selagi dengan tipologi dan alasan yang jelas, maka ketika
membahas macam-macam hadîts perlu diketahui pembagian tersebut menurut siapa dan
berdasarkan hal apa. Sehingga tidak menimbulkan ketimpangan di dalam pembahasan yang
terkait dengan pembagian hadîts ini
13
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Oemar Hasyim, 2004. ‫ ال حدي ث أ صول ق واعد‬Cairo: Maktabah al Azhar as Syarif
Al-Maliki, Muhammad Alwi. 2009. “Ilmu Ushul Hadits”. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
Ithr, Nuruddin, 2003. “Manhaj al-Naqd fi Ulum al-hadits”. Beirut: Dar al-Fikri al-Mu’ashir
Rahman,Zufran.1995. “Kajian Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam”. Jakarta: CV Pedoman
Ilmu Jaya
Suparta, Munzier dan Utang Ranuwijaya. 1993. “Ilmu Hadits”. Jakarta: Raja G.
Persada.
14
Download