Uploaded by User68594

abang rey

advertisement
MAKALAH
“ASUHAN KEPERAWATAN BUDAYA”
Disusun Oleh :
Nama
: Iswahyudi Firmansyah M. Tome
NIRM
: 1801068
Kelas
: 3C Keperawatan
Mata Kuliah : Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MUHAMMADIYAH MANADO
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
T/A : 2019/2020
1
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah
dan inayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masi ada kekurangan baik
dari segi susunan, kalimat, maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangatlah dibutuhkan agar makalah ini bisa sempurna.
Manado, 09 Februari 2020
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................2
DAFTAR ISI...............................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................4-5
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II KAJIAN TEORI..........................................................................................6-12
A. definisi budaya
B. karakteristik budaya
C. Perilaku budaya kesehatan
D. keperawatan budaya
E. konsep utama keperawatan budaya
F. konsep sehat sakit menurut budaya masyarakat
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN....................................................................13-20
BAB IV PENUTUP...................................................................................................21
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................22
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan budaya merupakan suatu arah utama dalam keperawatan yang berfokus pada
study komparatif dan analisis tentang budaya dan sub budaya yang berbeda di dunia yang
menghargaiperilaku caring, layanan keperawatan, niai-nilai, keyakinan tentang sehat sakit,
serta pola-pola tingkahlaku yang bertujuan mengembangkan body of knowladge yang ilmiah
dan humanistik guna memberitempat praktik keperawatan pada budaya tertentu dan budaya
universal (Marriner-Tomey, 1994). Teori keperawatan ini menekankan pentingnya peran
keperawatan dalam memahami budaya klien. Pemahaman yang benar pada diri perawat
mengenai budaya klien, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat, dapat
mencegah terjadinya culture shock maupun culture imposition. Culturalshock terjadi saat
pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif dengan kelompok
budaya tertentu (klien) sedangkan culture imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan
(perawat), baik secara diam-diam maupun terang-terangan memaksakan nilai-nilai budaya,
keyakinan, dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya pada individu, keluarga, atau kelompok
dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya lebih tinggi dari pada budaya
kelompok lain.
Teory keperawatan budaya matahari terbit, sehingga di sebut juga sebagai sunrise model
matahari terbit (sunrise model ) ini melambangkan esensi keperawatan dalam transkultural
yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan asuhan keperawatan kepada klien (individu,
keluarga, kelompok, komunitas, lembaga), perawat terlebih dahulu harus mempunyai
pengetahuan mengenai pandangan dunia (worldview) tentang dimensi dan budaya serta
struktur sosial yang, bersyarat dalam lingkunganyang sempit. Dimensi budaya dan struktur
sosial tersebut menurut Leininger di pengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu teknologi, agama dan
falsafah hidup, faktor sosial dan kekerabatan, Peran perawatan pada transcultural nursing
teory ini adalah menjebatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam
dengan sistem perawatan prosfesional melalui asuhan keperawatan. Eksistensi peran perawat
tersebut digambarkan oleh leininger. Oleh karena itu perawat harus mampu membuat
keputusan dan rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada masyarakat. Jika
disesuaikan dengan proses keperawatan, hal tersebut merupakan tahap perencanaan tindakan
keperawatan.
4
Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap memperhatikan tiga
perinsip asuhan keperawatan, yaitu :1. Culture care preservation/maintenance, yaitu prinsip
membantu, memfasilitasi, atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu
menentukan tingkan kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan. 2. Culture care
accommodation/negatiation,yaitu prisip membantu, memfasilitasi, atau memperhatikan
fenomena budaya, yang merefleksikan cara-cara untuk beradaptasi, atau bernegosiasi atau
mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau klien. 3. Culture care
repatterning/restructuring, yaitu : prinsip merekonstruksi atau mengubah desain untuk
membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah lebih baik.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan definisi budaya
2. Bagaimana karakteristik budaya
3. Bagaimana Perilaku budaya kesehatan
4. Jelaskan definisi keperawatan budaya
5.
Apa konsep utama keperawatan budaya
6. Bagaimana konsep sehat sakit menurut budaya masyarakat
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi budaya
2. Untuk mengetahui karakteristik budaya
3. Untuk mengetahui Perilaku budaya kesehatan
4. Untuk mengetahui definisi keperawatan budaya
5. Untuk mengetahui konsep utama keperawatan budaya
6. Untuk mengetahui konsep sehat sakit menurut budaya masyarakat
5
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi Budaya
Budaya bisa diartikan dari berbagai sudut pandang. Berdasarkan wujudnya misalnya,
kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama yaitu kebudayaan material dan
nonmaterial. Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,
konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan
dari suatu penggalian arkeologi : mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencangkup barang-barang seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olah raga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.Kebudayaan nonmaterial
adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa
dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional. Perilaku dari berbagai kelompok
masyarakat dunia berbeda-beda, perilaku tersebut akan membentuk budaya tertentu. Respon
masyarakat terhadap suatu peristiwa dalam kehidupan berbeda-beda bergantung pada
bagaimana kebiasaan sekelompok masyarakat tersebut dalam menangani masalah.Setiap
individu memiliki budaya baik disadari maupun tidak disadari, budaya merupakan struktur
dari kehidupan.
Istilah budaya pertama kali didefinisikan oleh antropolog Inggris Tylor tahun 1871
bahwa budaya yaitu semua yang termasuk dalam pengetahuan, kepercayaan, seni, moral,
hukum, adat dan kebiasaan lain yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat.
(Brunner dan Suddart, 2001 ). Sedangkan petter (1993) mendefinisikan budaya sebagai nilainilai, kebudayaan sikap dan adat yangt berbagi dalam suatu kelompok dan berlanjut dari
generasi ke generasi berikutnya. Budaya akan dipakai oleh seseorang atau sekelompok orang
dengan nyaman dari waktu ke waktu tanpa memikirkan rasionalisasinya. The American
Herritage Dictionary mengertikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola
prilaku yang dikirimkan melalui kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Banyak ahli budaya mendifinisikan arti budaya dan kebudayaan ini dengan berbagai
argumen, tetapi intinya adalah sama, koentjaraningrat (1990) menjelaskan bahwa kebudayaan
berasal dari bahasa sangsengkerta buddayah yeng berarti budi atau akal, bisa juga daya dari
budi, sedangkan kebudayaana dalah hasil cipta, rasa dan karsa. Kessing (1992) mengadopsi
berbagai pengertian kebudayaan dari para ahli yang kemudian dapat disimpulkan bahwa
budaya adalah suatu yang mengandung unsur pengetahuan, kepercayaan, adat istiadat,
prilaku yang merupakan kebiasaan yang diwariskan.
6
Budayaan atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.
Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.Kebudayaan juga didefinisikan
sebagai rancangan hidup yang tercipta secara historis baik eksplisi tmaupun implisit, rasional,
irasional yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk prilaku manusia
(kluckhohn dan kelly, dalam kessing, 1992). Menurut swasono (1998), respon masyarat
terhadap berbagai peristiwa kehidupan disebut budaya. Dan budaya ini berbeda-beda pada
berbagai kelompok di masyarakat. Andrews dan Boyle (2003) mendefinisikan budaya dari
Leininger (1978) bahwa budaya adalah pengetahuan yang dipelajar dan disebarkan dengan
nilai, kepercayaan, aturan perilaku,dan praktik gaya hidup yang menjadi acuan bagi
kelompok tertentu dalam berpikir dan bertindak dengan cara yang terpola. Purwasito (2003)
menjelaskan bahwa kata budaya diambil dari bahasa sansekerta buddayah yang berarti akal
budi. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata budaya bersinonim dengan kata ‘cuture’. Kata
culture berasal dari bahasa latin ‘cultura’. Kata kultur atau kebudayaan adalah hasil kegiatan
intelektual manusia, suatu konsep mencangkup berbagai komponenyang digunakan oleh
manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupnya sehari-hari.
Pendapat ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Oliver (1981) yang juga
memberikan penekanan bahwa budaya merupakan sekumpulan ide yang digunakan manusia
untuk menjawab permasalahan hidup yang mendasar. Zanden (1990) menjelaskan bahwa
istilah kultur mengacu pada warisan sosial masyarakat yang mempelajari pola berpikir,
merasa, dan bertindak yang ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya termasuk
penggunaan pola-pola tersebut dalam sesuatu yang bersifat materi. Sementara itu samovar
dan poter (1995) mengutip pernyataan Adamsom dan Frost yang mengatakan bahwa kultur
merupakan pola tingkah laku yang dipelajari yang merupakan satu kesatuan system yang
bukan hasil ari keturunan. Dari semua definisi diatas jelaslah bahwa kultur atau memiliki
karakteristik sendiri. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai
kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pemikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan kebudayaan adalah benda-benda yang
diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda
yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
7
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditunjukan untuk membantu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
B. Karakteristik Budaya
Dincker
(1996),
menyimpulkan
pendapat
Boyle
dan
Andrews
(1989),
yang
menggambarkan empat ciriesensial budaya yaitu : pertama, budaya dipelajari dan
dipindahkan, orang yang mempelajari budaya mereka sendiri sejak lahir. Kedua, budaya
berbagi bersama, anggota-anggota kelompok yang sama membagi budaya baik secara sadar
maupun tidak sadar, perilaku dalam kelompok merupakan bagian dari identitas budayanya.
Ketiga, budaya adalah adaptasi pada lingkungan yang mencerminkan kondisi khusus pada
sekelompok manusia seperti bentuk rumah, alat-alat dan sebagainya. Adaptasi budaya pada
negara maju diadopsi sesuai dengan tehnologi yang tinggi. Keempat, budaya adalah proses
yang selalu berubah dan dinamis, berubah seiring kondisi kebutuhan kelompoknya, misalnya
tentang partisipasi wanita dan sebagainya. Penelitian batak Toba di Indonesia yang
beradaptasi dengan suku Sunda dengan merubah adat ketatnya karena menyesuaikan diri
dengan budaya setempat.
Menurut Samovar dan Porter (1995) ada 6 karakteristik budaya :
1. Budaya itu bukan keturunan tapi dipelajari, jika seorang anak lahir di Amerika dan hidup
di Amerika dari orangtua yang berkebangsaan Indonesia maka tidaklah secara otomatis anak
itu bisa berbicara dengan bahasa Indonesia tanpa ada proses pembelajaran oleh orangtuanya.
2. Budaya itu ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita mengetahui banyak hal
tentang kehidupan yang berhubungan dengan budaya kerena generasi sebelum kita
mengejarkan kita banyak hal tersebut. Suatu contoh upacra penguburan placenta pada
masyarakat jawa, masyarakat tersebut tidak belajar secara formal tetapi mengikuti prilaku
nenek moyangnya.
3. Budaya itu berdasarkan simbol, untuk bisa memepelajari budaya orang memerlukan
simbol. Dengan simbol inilah nantinya kita dapat saling bertukar pikiran dan komunikasi
sehingga memungkinkan terjadinya proses transfer budaya dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Contoh beberapa simbol yang mengkarakteristikkan budaya adalah kalung pada
suku dayak, manik-manik, gelang yang semua itu menandakan simbol pada budaya tertentu.
8
4. Budaya itu hal yang bisa berubah, karena budaya merupakan sistem yang dinamis dan
adaftif maka budaya rentan terhadap adanya perubahan. Misalnya pada sekelompok
masyarakat merayakan kelahiran dengan tumpeng atau nasi kuning, pada zaman modern
tradisi tersebut berubah yaitu menjadi kue ulang tahun.
5. Budaya itu bersifat menyeluruh, satu elemen budaya dapat mempengaruhi elemen-elemen
budaya yang lain. Misalnya lingkungan sosial akan dapat memepengaruhi prilaku seseorang
yang tinggal dilingkungan tersebut.
6. Budaya itu etnosentris, adanya anggapan bahwa buadaya kitalah yang paling baik diantara
budaya-buadaya yang lain. Suku badui akan merasa budaya Badui yang benar, apabila
melihat perilaku budaya dari suku lain dianggap aneh, hal ini terjadi pada kelompok suku
yang lain. Meskipun tiap kelompok memiliki pola yang dapat dilihat yang membantu
membedakannya dengan kelompok lain, sebagian besar individu juga mengungkapkan
keyakinan atau sifat yang tidak sesuai dengan norma kelompok. Seseorang bisa sangat
tradisional dalam satu aspek dan sangat modern dalam aspek lain. Ketika orang sakit, mereka
kadang menjadi lebih tradisional dalam harapan mereka dan pemikiran mereka. Juga ada
variasi signifikan dengan dan antara kelompok. Pengetahuan tentangkelompok juga bernilai
ketika memberikan sekumpulan harapan realistik. Tetapi, hanya belajar tentangindividu atau
keluarga yang dihadapi sehingga tenaga medis dapat memahami dalam hal apa pola
kelompok bermakna (Leininger 2000).
C. Perilaku Budaya Kesehatan
Adat kebiasaan yang dikembangkan di suatu negara atau daerah, suku atau sekelompok
masyarakat merupakan praktek hidup budaya, Amerika, Australia, dan negara lainnya
termasuk Indonesia merupakan sebuah negara mempunyai berbagai suku dan daerah dimana
tiap suku atau daerah tersebut mempunyai adat kebiasaan yang berbeda-beda dalam
menangani masalah kesehatannya dimasyarakat. Ada perilaku manusia, cara interaksi yang
dipengaruhi kesehatan dan penyakit yang terkait dengan budaya, diantaranya adalah perilaku
keluarga dalam menghadapi kematian, menurut Crist (1961) yang ditulis oleh
Koentjaraningrat (1990), dari hasil studi komaratifnya. Menyimpulkan bahwa ada perbedaan
sikap manusia dengan berbagai kebudayaan yang berbeda-beda dalam menghadapi maut.
Menurut Bendel (2003) di Indonesia terdapat pruralisme system pengobatan di mana
berbagai cara penyembuhan yang berbeda-beda hadir berdampingan termasuk humoral
medicine dan elemen magis. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku
9
bangsa dimana tiap suku atau kelompok masyarakat tersebut akan mempunyai norma,
perilaku, adat istiadat yang berbeda-beda termasuk dalam mencari penyembuhan yang terkait
dengan perilaku budaya. Menurut Bendel (2003) dalam masyarakat Indonesia terdapat
kepercayaan tradisional pada hal-hal gaib.
D. Definisi Keperawatan Budaya
Keperawatan transkultural merupakan istilah yang sering digunakan dalam cross-cultural
atau lintas budaya, intercultural atau antar budaya, dan multikultural atau banyak budaya
(Andrews,1999). Leininger merupakan ahli antropologi keperawatan sejak pertengahan lima
puluhan yang merencanakan bahwa transkultural nursing merupaer mendefinisikan
“transkultural Nursing” kan area formal yang harus diaplikasikan dalam praktik keperawatan
(leininger,1999;McFarland,2002). Leininger mendefinisikan”transkultural Nursing” sebagai
area yang luas dalam keperawatan yang mana berfokus pada komparatif studi dan analisis
perbedaan kultur dan subkultur dengan menghargai perilaku caring, nursing care dan nilai
sehat-sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan
humanistic body of knowledge untuk kultur yang spesifik dan kultur yang universasl dalam
keperawatan (Andrews and Boyle,1997: Leininger dan McFarland,2002). Tujuan dari
transkultural dalam keperawatan adalah kesadaran dan apresiasi terhadap perbedaan kultur.
Selain itu juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam keperawatan yang humanis
sehingga terbentuk praktik keperawatan sesuai dengan kultur dan universal (leininger,1978).
E. Konsep Utama Keperawatan Budaya
Leininger (2002), beberapa asumsi yang mendasari konsep transkultural berasal dari hasil
penelitian kualitatif tentang kultur, yang kemudian teori ini dipakai sebagai pedoman untuk
mencari culture care yang akan diaplikasikan.
1) Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya
bervariasi diantara culture satu tempat dengan tempat yang lainnya.
2) Caring act dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan
kepada individu secara utuh. Perilaku caring semestinya diberikan pada manusia sejak lahir ,
masa perkembanga , masa pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala meninggal.
10
3) Caring adalah esensi dari keperawatan dan membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakan keperawatan. Keperawatan adalah fenomena transkultural dimana
perawat berinteraksi dengan klien, staff dan kelompok lain.
4) Identifikasi universal dan nonuniversal kultur dan perilaku caring profesional, kepercayaan
dan praktek adalah esensi untuk menemukan epistemology dan ontology sebagai dasar dari
ilmu keperawatan.
5) Culture adalah berkenaan dengan mempelajari, membagi dan transmisi nilai, kepercayaan
norma dan praktek kehidupan dari sebuah kelompok yang dapat terjadi tuntunan dalam
berfikir, mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa.
6) Cultural care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan
dan pola ekspresi yang mana membimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu
lain atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, meningkatkan kondisi kehidupan atau
kematian serta keterbatasan.
7) Nilai kultur berkenaan dengan keputusan/kelayakan yang lebih tinggi atau jalan yang
diinginkan untuk bertindak atau segala sesuatu yang diketahui yang mana biasanya bertahan
dengan kultur pada periode tertentu.
8) Perbedaan kultur dalam keperawatan adalah variasi dari pengertian pola, nilai atau simbol
dariperawatan, kesehatan atau untuk meningkatkan kondisi manusia, jalan kehidupan atau
untuk kematian.
9) Culture care universality berkenaan dengan hal umum, merupakan bentuk dari pemahaman
terhadappola, nilai atau simbol dari perawatanyang mana kiltur mempengaruhi kesehatan
atau memperbaiki kondisi manusia.
10) Etnosentris adalah kepercayaan yang mana satu ide yang dimiliki, kepercayaan dan
prakteknya lebih tinggi untuk kultur yang lain.
11) Cultural imposition berkenaan dengan kecendrungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas kultur lain karena mereka percaya bahwa
ide mereka lebih tinggi dari pada kelompok lain.
11
F. Konsep Sehat Sakit Menurut Budaya Masyarakat
Sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social
seseorang. Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan
dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat
menimbulkan penyakit. Penyebabnya bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit
akibat pengaruh lingkungan,makanan, kebiasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh.
Masyarakat menggolongkan penyebabsakit ke dalam 3 bagian, yaitu karena pengaruh gejala
alam seperti panas atau dingin terhadap tubuhmanusia, makanan yang diklasifikasikan ke
dalam makanan panas dan dingin, supranatural seperti roh,guna-guna, setan.Berikut adalah
contoh konsep sehat sakit menurut masing-masing daerah, contohnya konsep sakitmenurut
budaya NTT, dikatakan sakit apabila masyarakat sekitar merasakan pusing dan tidak mampu
menjalankan aktifitas. Begitu pula di daerah jawa, dikatakan sakit apabila masyarakat sekitar
tidakmampu melakukan aktifitas seperti biasanya, sedangkan dikatakan sehat apabila
masyarakat sekitar mampu berjalan, berfikir, dan dapat menjalankan aktifitas sehari-hari
tanpa ada hambatan atau kendala.
12
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Contoh Kasus Transkultural pada pasien dengan Gangguan Pernafasan
Klien Tn. D berusia 35 tahun, tinggal bersama istri dan kedua orang anaknya di Tegal
Jawa Tengah. Pendidikan terakhir klien adalah SMA. Klien bekerja di pabrik. Istri klien
bernama Ny. E berusia 28 tahun, pendidikan terakhir SMP. Istri klien seorang buruh cuci.
Setiap bulan penghasilan klien sekitar 800.000. dan penghasilan istrinya 15.000 per hari.
Klien dan keluarganya beragama Islam. Setiap harinya klien selalu melaksanakan shalat
berjamah bersama keluarga kecilnya. Sehari-hari klien menggunakan bahasa Jawa dan
Indonesia.
Sehari-hari klien tidak dapat lepas dari kebiasaannya untuk merokok. Baginya merokok
merupakan suatu identitas bahwa dirinya seorang laki-laki sejati. Klien telah merokok selama
10 tahun. Kebiasaan tersebut tidak dapat di hentikan oleh klien karena jika tidak merokok
klien merasa mulutnya pahit. Bahkan klien lebih memilih untuk menahan lapar dari pada
harus menahan untuk tidak merokok. Dan karena sibuk bekerja klien jarang untuk
berolahraga
Dalam seminggu terakhir ini klien mengalami batuk dan sering kambuh ketika cuaca
dingin. Merasakan sakit pada bagian dada, pundak, punggung, dan lengan disertai dengan
penurunan berat badan. Klien dan istrinya menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa dan
efek dari kelelahan karena bekerja. Untuk memperbaiki kondisinya, klien mendapatkan
wejangan dari mertuanya untuk banyak memberikan buah dan sayur seperti kembang kol,
brokoli, kubis, kentang, jus apel dan manggis. Karena menurut kepercayaan buah dan sayur
yang berwana hijau dapat menambah tenaga dan kesehatan, sedangkan buah dan sayur
berwarna merah dipercaya menambah tenaga dan kesungguhan. (yang dimaksud
kesungguhan adalah kesungguhan untuk sembuh). Namun dalam pengolahan buah dan sayur
tersebut istri klien memotongnya terlebih dahulu baru kemudian dicuci dan saat merebusnya
tidak di tutup.
Karena dirasa kondisi klien tidak membaik maka istrinya, membawa klien ke RS Cepat
Sembuh untuk periksa. Oleh dokter yang memeriksa klien dicurigai mengidap kanker paru,
untuk memastikan hal tersebut klien harus melakukan pemeriksaan MRI. Setelah hasilnya
keluar ternyata dugaan dokter tersebut benar. Klien menderita kanker paru-paru. Dan saat ini
13
didiagnosa kanker paru stadium IIB. Dimana kanker tersebut telah menyebar ke kelenjar
getah bening, dinding dada, diafragma, lapisan yang mengelilingi jantung.
Setelah dianamnesa oleh perawat ternyata klien mempunyai kebiasaan merokok dan
jarang berolahraga. Akhirnya klien disarankan untuk melakukan kemoterapi. Namun klien
menolak untuk melakukan kemoterapi.
Karena klien dan istrinya merupakan orang Jawa asli sehingga mereka masih kental
menganut tradisi dan budaya Jawa. Klien percaya bahwa dengan melakukan pernafasan
segitiga yang berasal dari nenek moyangnya akan dapat menyembuhkan segala macam
penyakit termasuk kanker paru yang dideritanya. Dan menurut klien dengan pernafasan
segitiga ini klien tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.
Asuhan Keperawatan Transkultural Nursing Pada Gangguan Pernafasan
A. Pengkajian
1. Faktor Teknologi
a. Klien dibawa ke palayanan kesehatan yaitu ke RS Cepat Sembuh, klien di
periksa oleh dokter
b. Klien melakukan pemeriksaan MRI, dan diketahui bahwa klien menderita
kanker paru-paru stadium IIB
2. Faktor agama dan falsafah hidup
a. Agama yang dianut yaitu Islam
b. Setiap harinya klien selalu melaksanakan shalat berjamah bersama keluarga
kecilnya.
3. Faktor sosial dan keterikatan kekeluargaan
Identitas klien
Nama
: Tn. D
Umur
: 35 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
14
Status
: Sudah menikah
Pendidikan
: Lulusan SMA
Pekerjaan
: Bekerja di Pabrik
Penghasilan
: Rp. 800.000
Mempunyai tanggungan 2 orang anak
4. Faktor nilai-nilai budaya dan gaya hidup
a. Sehari-hari klien menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia.
b. Bagi klien merokok merupakan suatu identitas bahwa dirinya seorang laki-laki
sejati.
c. Menurut kepercayaan di keluarga klien buah dan sayur yang berwana hijau
dapat menambah tenaga dan kesehatan, sedangkan buah dan sayur berwarna
merah dipercaya menambah tenaga dan kesungguhan. (yang dimaksud
kesungguhan adalah kesungguhan untuk sembuh)
d. Klien percaya bahwa dengan melakukan pernafasan segitiga yang berasal dari
nenek moyangnya akan dapat menyembuhkan segala macam penyakit termasuk
kanker paru yang dideritanya.
5. Faktor politik
a. Kebijakan dan peraturan pelayanan kesehatan, yaitu:
Alasan datang ke RS Cepat Sembuh
Klien mengalami batuk dan sering kambuh ketika cuaca dingin. Merasakan
sakit pada bagian dada, pundak, punggung, dan lengan disertai dengan
penurunan berat badan.
b. Kebijakan yang didapat di RS Cepat Sembuh
Klien melakukan pemeriksaan MRI dan disarankan untuk melakukan
kemoterapi
15
6. Faktor ekonomi
a. Sumber biaya pengobatan
Biaya dari penghasilan klien dan istrinya. Karena klien tidak mengikuti asuransi
kesehatan
b. Sumber ekonomi yang dimanfaatkan klien
Biaya hidup sehari-hari dari penghasilan klien (800.000) dan istrinya (15.000
per hari)
7. Faktor pendidikan
a. Klien merupakan lulusan SMA
B. Diagnosa
1. Data :
 Klien mendapatkan wejangan dari mertuanya untuk banyak memberikan buah
dan sayur seperti kembang kol, brokoli, kubis, kentang, jus apel dan sirsak.
 Menurut kepercayaan di keluarga klien buah dan sayur yang berwana hijau
dapat menambah tenaga dan kesehatan, sedangkan buah dan sayur berwarna
merah dipercaya menambah tenaga dan kesungguhan. (yang dimaksud
kesungguhan adalah kesungguhan untuk sembuh)
 Dalam pengolahan buah dan sayur tersebut istri klien memotongnya terlebih
dahulu baru kemudian dicuci dan saat merebusnya tidak di tutup.
Masalah
: Potensial Peningkatan Pengetahuan
2. Data :
 Klien dan istrinya merupakan orang Jawa asli sehingga mereka masih kental
menganut tradisi dan budaya Jawa.
 Klien menolak kemoterapi
16
 Klien percaya bahwa dengan melakukan pernafasan segitiga yang berasal dari
nenek moyangnya akan dapat menyembuhkan segala macam penyakit termasuk
kanker paru yang dideritanya
Masalah
: Ketidakpatuhan pengobatan
3. Data :
 Klien tidak dapat lepas dari kebiasaannya untuk merokok. Baginya merokok
merupakan suatu identitas bahwa dirinya seorang laki-laki sejati.
 Klien telah merokok selama 10 tahun.
 Kebiasaan tersebut tidak dapat di hentikan oleh klien karena jika tidak merokok
klien merasa mulutnya pahit.
 Klien lebih memilih untuk menahan lapar dari pada harus menahan untuk tidak
merokok
 Karena sibuk bekerja klien jarang untuk berolahraga
.
Masalah
: …………………………………………………………………………
C. Intervensi
Dx 1
: Potensial Peningkatan Pengetahuan
Intervensi :
Mempertahankan budaya (Maintenance)
1. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga bahwa kembang kol, brokoli, kubis, apel
dan manggis baik untuk membantu menyembuhkan penyakit kanker paru-paru.
 Kembang kol mengandung glokosinolat yang mengandung sulfur, antioksidan
seperti kamferol, asam sinamat yang telah dikenal dapat membantu mencegah
terjadinya kanker dengan cara menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
 Brokoli mempunyai kandungan Sulforaphan dan antioksidan yang membantu
untuk menetralkan karsinogenik. Kandungan bekarotin yang ada di dalam brokoli
mampu mencegah kanker kanker paru-paru
17
 Kubis penuh fitonutrien, yang menghasilkan enzim yang terlibat dalam
detoksifikasi tubuh. Enzim ini membantu untuk melawan radikal bebas yang
dapat menyebabkan beberapa jenis kanker yang berbeda, termasuk paru-paru
 Apel mengandung flavonoid, quercetin, dan aringin yang berperan dalam
mencegah kanker paru-paru
 Manggis mengandung antioksidan yang membuang racun dari dalam tubuh yang
bisa menyebabkan timbulnya kanker. Alfamangostin berperan mengendalikan sel
kanker
2. Motivasi klien untuk tetap memperbanyak konsumsi buah dan sayur
Restrukturisasi budaya
1. Jelaskan kepada klien dan keluarganya bahwa pengolahan buah dan sayur yang
salah dapat mengurangi atau menghilangkan manfaat yang di terkandung dalam
buah dan sayur tersebut
2. Jelaskan mengenai cara pengolahan yang baik dan benar.
Sebelum diolah sebaiknya buah dan sayur dicuci terlebih dahulu baru kemudian di
potong, kemudian saat merebus atau mengolahnya harus ditutup agar vitamin dan
mineral yang terkandung tidak ikut menguap
Dx 2 :
Ketidakpatuhan pengobatan berhubungan dengan sistem yang diyakini
(pernafasan segitiga)
Intervensi
:
Negosiasi budaya
1. Beri penjelasan pada klien bahwa “pernafasan segitiga” saja tidak cukup untuk
menyembuhkan penyakit kanker.
2. Berikan dukungan kepada klien dan keluarga untuk tetap melakukan pernafasan
segitiga selama tidak mengganggu pelaksanaan kemoterapi
3. Beri fasilitas dan waktu kepada klien untuk melaksanakan budayanya yaitu
“pernafasan segitiga”.
18
Merestrukturisasi budaya
1. Diskusikan kesenjangan budaya yang dianut klien dengan terapi kesehatan yang
harus di jalani klien
2. Jelaskan kepada klien dan keluarganya bahwa penyakit kanker merupakan penyakit
yang ganas dan perkembangannya sangat cepat sehingga harus segera mendapatkan
pertolongan dengan segera
3. Jelaskan kepada klien dan keluarga apabila klien tidak segera mengikuti kemoterapi
akan membahayakan keselamatan klien.
4. Jelaskan kepada klien dan keluarga bahwa kemoterapi bertujuan untuk menghambat
dan membunuh sel-sel kanker, sehingga tidak semakin menyebar ke organ lain
5. Berikan gambaran kepada klien tentang keberhasilan kemoterapi terhadap orangorang yang sebelumnya menderita penyakit kanker paru-paru dan melakukan
kemoterapi.
Dx 3:………………………………………………………………
Intervensi
Negosiasi budaya
1. Beri motivasi kepada klien untuk berhenti merokok, karena merokok dapat
memperparah penyakitnya.
2. Berikan masukan kepada klien jika klien merasa mulutnya pahit ketika tidak
merokok maka hal itu dapat digantikan dengan makan permen.
Restrukturisasi budaya
1. Kaji persepsi klien mengenai sehat sakit
2. Jelaskan kepada klien mengenai zat-zat adiktif yang terkandung dalam rokok dan
bahayanya bagi kesehatan
o nikotin dapat menyebabkan terhentinya pernapasan, meningkatkan tekanan
darah serta mempercepat denyut jantung.
o Karbon monoksida jaringan pembuluh darah menyempit dan mengeras sehingga
terjadi penyumbatan.
19
o Tar mengandung senyawa Benzopiren dan Zenyfenol yang bekerja untuk
mempercepat
aktivitas
20
sel-sel
kanker.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keperawatan Transkultural adalah suatu area/wilayah keilmuan budaya pada proses belajar
dan praktekkeperawatan yang focus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya
dengan menghargaiasuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia,
kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan
khususnya budaya atau keutuhan budaya kepadamanusia (Leininger, 2002).
B. SARAN
Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, mohon maaf jika terdapat berbagai kesalahan.
21
DAFTAR PUSTAKA
Marilyann E Dkk. 1993 Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman Untuk Perencanaan
danPendokumentasian Perawatan. Jakarta : EGCMooehed, Sue dkk.2004. Nursing Outcomes
Classification (NOC). Jakarta : Mosby ElevierDoengoes. M. 2001.
22
Download