v1152 pengaruh penggunaan cangkang kerang 15% dan 25

advertisement
PENGARUH PENGGUNAAN CANGKANG KERANG 15% DAN 25%
SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT KASAR TERHADAP
CAMPURAN ASPHALT
Ahmad Bima Nusa, ST. MT.1), Kartika Indah Sari,ST. MT.2), Yuyung I.S. Ujung.3)
1)
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknik Harapan
2)
Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Sekolah tinggi Teknik Harapan
*) E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pada campuran AC-WC yang biasanya menggunakan agregat kasar batu split pada
penulisan ini dibandingkan dengan menggunakan agregat kasar penambahan 15% dan 25%
cangkang kerang . Cangkang kerang yang digunakan itu sendiri adalah cangkang kerang dara
yang berasal dari daerah Tanjung Balai. Sebelum dilakukan pengujian Marshall dan durabilitas
pada campuran, dilakukan pengujian pada sifat agregat kasar batu split dan cangkang kerang
sebagai pembanding. Kadar aspal rencana yang akan digunakan baik pada campuran dengan
agregat kasar cangkang kerang adalah 6,25 % terhadap total campuran. Hasil Flow 15% dan
25% cangkang kerang 3,50% dan Stability 15% dan 25% cangkang kerang adalah 1138 Kg dan
1125 Kg dan Marshall Quotient 15% dan 25% cangkang kerang adalah 325,00 % .
Kata kunci :
Agregat kasar batu split, Cangkang kerang, Beton aspal lapis antara
ABSTRACT
In the AC-WC mixtures which typically use coarse aggregate stone split in this paper
were compared using coarse aggregate increase of 15% and 25% shells. Shells were used oyster
shell itself is a virgin who comes from the area ofTanjung Balai. Before Marshall and durability
testing on the mix, testing the properties of coarse aggregate of split stone and shells as a
comparison. Bitumen content plan that will be used both in mixtures with coarse aggregates
clam shell is 6.25% of the total mixture. Results Flow 15% and 25% shells Stability 3.50% and
15% and 25% shells is 1138 Kg and 1125 Kg and Marshall Quotient 15% and 25% shells is
325.00%.
Keywords :
Aggregate rough split stone, Shells of shellfish, Asphalt concrete layer between.
1. PENDAHULUAN
sebagai bahan pengisi.
1.1. Latar Belakang
Campuran aspal panas atau yang
sering disebut hotmix merupakan jenis
campuran yang sering dibuat, dihamparkan
dan dipadatkan dalam kondisi panas.
Menurut Spesifikasi Kementrian Pekerjaan
Umum Direktorat Jendral Bina Marga 2010
revisi 1 (BM 2010), salah satu jenis hotmix
yang umumnya dipakai di Indonesia adalah
Asphalt Concrete (AC). AC/aspal beton itu
sendiri terbentuk dari agregat kasar, agregat
halus, aspal sebagai bahan perekat dan filler
Aspal merupakan bahan utama
dalam perkerasan jalan. Aspal terdiri dari
beberapa jenis, yaitu aspal alam, aspal
keras, aspal cair, dan aspal modifikasi.
Aspal memiliki sifat viskoelastis yaitu sifat
untuk mencair pada suhu tinggi dan
memadat pada suhu rendah. Sifat aspal
tersebut merupakan hal utama yang
menjadikan aspal sebagai bahan utama
dalam perkerasan jalan karena dapat
mengikat bahan pencampur perkerasan
jalan.
1
Bahan agregat kasar yang biasa
digunakan untuk campuran aspal panas
berupa batu split, kerikil. Dalam usaha
menambah bahan agregat kasar yang dapat
digunakan sebagai bahan pencampur
pembuatan campuran aspal panas dicoba
menggunakan kulit kerang yang telah
dibersihkan
dengan
harapan
bisa
memanfaatkan limbah kerang yang banyak
didapat di daerah-daerah pantai. Percobaan
ini dilakukan dengan suatu harapan daya
rekat dan kekuatan aspal dengan
penggunaan penambahan agregat kasar
kulit kerang akan melebihi daya rekat dan
kekuatan menggunakan agregat kasar batu
split.
Permasalahan di atas menjadikan
ketertarikan untuk melakukan penelitian
tentang perencanaan campuran aspal yang
menggunakan material alternatif berupa
kulit kerang yang nantinya akan diuji
sebagai bahan pengganti atau campuran
material agregat kasar yang banyak
terdapat di daerah pantai yang belum
dimanfaatkan secara optimal.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui berapa besar nilai
karakteristik marshall test, mengetahui
kekuatan
campuran
aspal
dengan
menggunakan bahan cangkang kerang, dan
membandingkan
pengaruh
pemakain
material agregat kasar batu split dengan
agregat kasar cangkang kerang berdasarkan
nilai stabilitasnya.
1.3. Permasalahan
Permasalahan yang akan dibahas
dalam penelitian ini adalah :
1. Seberapa besar pengaruh penggunaan
15% dan 25% cangkang kerang
sebagai pengganti sebagian agregat
kasar terhadap karakteristik marshall
test.
2. Berapa nilai persentase nilai optimum
karakteristik marshall pada campuran
asphalt concrete wearing course (ACWC).
1.4. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini masalah yang
akan dibahas adalah Spesifikasi campuran
AC-WC mengacu pada Spesifikasi
Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat
Jendral Bina Marga Revisi I (BM 2010).
Membahas pengujian agregat kasar dengan
menggunakan 15% dan 25% cangkang
kerang. Pengujian yang dilakukan pada
benda uji berupa marshall test meliputi :
Stabilitas, Flow, Marshall Quotien.
Penelitian dilakukan di Laboratorium
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Islam Sumatera Utara.
1.5. Manfaat Penelitian
Dari
penelitian
ini
diharapkan
memperoleh manfaat berupa:
1. Pemanfaatan limbah cangkang kerang
yang
jarang
digunakan
untuk
keperluan konsrtuksi jalan raya.
2. Mengurangi
masalah
limbah
khususnya limbah cangkang kerang.
3. Pengembangan ilmu pengetahuan
khusunya dibidang transportasi.
4. Pembelajaran bagi Fakultas Teknik
Sipil.
2. KAJIAN TEORI / PUSTAKA
2.1.
Konstruksi Jalan Raya
Untuk menunjang fungsinya sebagai
konstruksi jalan, maka perkerasan jalan
raya dibuat berlapis-lapis agar mempunyai
daya dukung dan keawetan yang memadai.
Lapis perkerasan itu terdiri dari lapis
permukaan sebagai lapis paling atas yang
terdiri dari lapis aus (Wearing Course) dan
lapis antara (Binder Course). Lapis pondasi
atas (Base Course) yang terletak diantara
lapis permukaan dan lapis pondasi bawah.
Lapis pondasi bawah (Subbase Course)
yang terletak diantara lapis pondasi dan
tanah dasar. Semua lapis perkerasan
tersebut memiliki spesifikasi tersendiri
untuk menunjang fungsinya masing-masing
sebagai lapis perkerasan (Suprapto, 2004).
2
2.2.
filler
2.3.
Filler merupakan material pengisi
dalam lapisan aspal. Disamping itu, kadar
dan jenis filler akan berpengaruh terhadap
sifat elastisitas campuran dan sensifisitas
campuran
2.2.1 Semen Portland
Semen Portland dibuat dari batu
kapur (limestone) dan mineral yang lainnya,
dicampur dan dibakar dalam sebuah alat
pembakaran dan sesudah itu didapat bahan
material yang berupa bubuk. Bubuk
tersebut akan mengeras dan terjadi ikatan
yang kuat karena suatu reaksi kimia ketika
dicampur dengan air (Putrowijoyo, 2006).
2.2.2 Cangkang Kerang
Cangkang
kerang
merupakan
cangkang dari hewan molusca yang banyak
hidup di daerah perairan muara dan pantai.
Cangkang kerang ini mengandung kalsium
karbonat (CaCO3) yang apabila dipanaskan
akan berubah menjadi CaO dan melepaskan
CO2 ke udara, sehingga yang tersisa hanya
CaO (kapur tohor) dan Si (Silika) dimana
kandungan tersebut merupakan komponen
pembentuk semen selain Fe2O3 dan Al
(Czernin, 1980 dalam Darmawan, 2013).
Umumnya, abu cangkang kerang dari
berbagai jenis mengandung komposisi
kimia yang dapat dilihat dalam Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Komposisi Kimia Abu Cangkang
Kerang.
Kompnen
Kimia
CaO
SIO2
Fe2O3
MgO
AL2O3
AL2O3
Kadar Senyawa Kimia
67,072
8,252
0,402
22,652
1,622
1,622
Aspal
Aspal adalah material thermoplastis
yang akan menjadi keras atau lebih kental
jika temperatur berkurang dan akan lunak
atau lebih cair jika temperatur bertambah.
Sifat ini dinamakan kepekaan terhadap
perubahan temperatur, yang dipengaruhi
oleh komposisi kimiawi aspal walaupun
mungkin mempunyai nilai penetrasi atau
viskositas yang sama pada temperatur
tertentu. Bersama dengan agregat, aspal
merupakan material pembentuk campuran
perkerasan jalan (Sukirman, 2007).
2.3.1
Kandungan Aspal
Aspal merupakan unsur hidokarbon
yang sangat kompleks, sangat sukar untuk
memisahkan
molekul-molekul
yang
membentuk aspal tersebut. Disamping itu
setiap sumber dari minyak bumi
menghasilkan komposisi molekul yang
berbeda. Komposisi aspal terdiri dari
asphaltenes dan metanes. Asphaltenes
merupakan material yang berwarna hitam
atau coklat tua yang tidak larut dalam
heptane. Maltenes larut dalam heptane,
merupakan cairan kental yang terdiri dari
resin dan oils. Resin merupakan cairan
kental yang berwarna kuning atau coklat
tua yang memberikan sifat adhesi dari aspal
merupakan bagian yang mudah hilang atau
berkurang selama masa pelayanan jalan
(Sukirman,1999).
2.3.2
Fungsi Aspal sebagai Material
Perkerasan Jalan
Aspal yang digunakan sebagai
material perkerasan jalan berfungsi sebagai:
1.
Bahan pengikat, memberikan ikatan
yang kuat antara aspal dan agregat dan
antara sesama aspal.
2.
Bahan pengisi, mengisi rongga antar
butir agregat dan pori-pori yang ada
didalam butir agregat itu sendiri.
Sumber: Annur, 2013
3
2.4. Agregat
Agregat adalah sekumpulan butirbutir batu pecah, kerikil, pasir atau
minerallainnya berupa hasil alam atau
buatan (Departemen Pekerjaan Umum –
Direktorat Jendral Bina Marga. 1998).
Agregat adalah partikel mineral
yang berbentuk butiran-butiran yang
merupakan salah satu penggunaan dalam
kombinasi dengan berbagai macam tipe
mulai dari sebagai bahan material di semen
untuk membentuk beton, lapis pondasi
jalan, material pengisi, dan lain-lain
(Harold N. Atkins, PE. 1997).
ASTM 1995 mendefinisikan batuan
sebagai suatu bahan yang terdiri dari
mineral padat, berupa massa berukuran
besar atau berupa fragmen-fragmen.
Agregat,
berdasarkan
proses
pembentukannya terdiri dari 2 jenis yaitu
agregat alam dan agregat buatan. Agregat
alam, berdasarkan proses pembentukannya,
terbagi lagi atas batuan endapan, batuan
beku dan batuan metamorph. Berdasarkan
proses pengolahannya agregat dibedakan
atas agregat alam yang mengalami proses
pengolahan terlebih dahulu dan agregat
buatan (Waani, 2013).
Selain itu agregat juga dibagi
berdasarkan ukuran butirannya menurut
Bina Marga Tahun 2010 yaitu:
1. Agregat kasar, yakni yang tertahan
saringan no.8
2. Agregat halus, yakni yang lolos
saringan no.8 dan tertahan saringan
no.200
3. Bahan pengisi atau filler, termasuk
agregat halus yang sebagian besar
lolos saringan no.200.
3. METODELOGI PENELITIAN
3.1.
Gambaran Umum Penelitian
Pelaksanaan
penelitian
seperti
pembuatan benda uji, perawatan dan
pengujian benda uji dilakukan di
Laboratorium Program Studi Teknik Sipil
Fakultas
Teknik
Universitas
Islam
Sumatera Utara. Penelitian yang akan diuji
pada campuran Asphalt Concrete Wearing
Course (AC-WC) adalah Marshall test
dengan variasi penggantian sebagian
agregat kasar dimana bahan utama agregat
kasar berupa batu pecah (split) dan agregat
kasar pengganti berupa 15% dan 25%
cangkang kerang dara. Semua bahan yang
digunakan pada penelitian ini mengacu
pada spesifikasi umum yang dikeluarkan
oleh Direktorat Jenderal Bina Marga tahun
2010 Revisi I.
3.2.
Tahapan Penelitian
Pelaksanaan
penelitian
yang
dilaksanakan di Laboratorium Program
Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Islam Sumatera Utara. Di
dalam penelitian ini pengujian dilakukan
secara bertahap, yaitu terdiri atas pengujian
agregat (kasar, halus dan filler), aspal dan
pengujian
terhadap
campuran
(uji
Marshall). Pengujian terhadap agregat
termasuk
pemeriksaan
berat
jenis,
pengujian abrasi dengan mesin Los
Angeles, kelekatan terhadap aspal, indeks
kepipihan dan penyerapan air. Untuk
pengujian aspal termasuk juga pengujian
penetrasi, titik nyala-titik bakar, titik
lembek, kehilangan berat, kelarutan (CCl4),
daktilitas dan berat jenis.
3.2.1
Persiapan Bahan
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi :
1. Agregat kasar (split)
Agregat kasar yang digunakan pada
penelitian ini yaitu agregat alami yang
dipecahkan
a. Batu (split), agregat ini berasal dari
kota Binjai
b. Cangkang Kerang
Limbah cangkang Kerang diambil
di daerah Tanjung Balai pada lokasi
pembuangan limbah rumah tangga
penduduk disekitar Tanjung Balai.
4
2. Agregat halus
Agregat halus yang digunakan pada
penelitian ini berupa abu batu yang
disaring, agregat halus ini berasal dari
kota Binjai
3. Filler
Filler yang digunankan pada penelitian
ini adalah:
a. Abu Batu
Abu batu
digunakan
sebagai
bahan utama filler. Abu batu
yang
digunakan adalah sesuai
dengan standar SNI. Bahan pengisi
yang ditambahakan harus kering
dan
bebas
dari
gumpalangumpalan.
Prasarana Wilayah (2004) dengan mengacu
pada SNI (1991) dan AASHTO T.102.
3.2.5
Rancangan Campuran Aspal
Rancangan
campuran
dalam
penelitian ini menggunakan metode
Marshall. Hal ini dikarenakan metode
Marshall lebih mudah diaplikasikan dari
pada metode CQCMU.
3.2.6
Pembuatan Benda Uji Marshall
test
Setelah semua pemeriksaan agregat
memenuhi spesifikasi, langkah selanjutnya
yaitu melakukan rancangan campuran (mix
design) untuk mendapatkan komposisi
agregat dan kadar aspal.
4. Aspal
3.3.
Aspal yang digunakan adalah aspal
penetrasi 60/70 yang berada di
Laboraturim Fakultas Teknik Sipil
Universitas Islam Sumatera Utara.
3.2.2
Persiapan Alat
Semua peralatan yang dibutuhkan
untuk
penelitian
ini
tersedia
di
Laboratorium Fakultas Teknik Universitas
Islam Sumatera Utara.
3.2.3
3.2.4
Prosedur pengujian ini digunakan
dalam desain dan evaluasi untuk campuran
perkerasan aspal. Ada dua ciri utama dalam
metode
percobaan
Marshall
untuk
campuran aspal yakni, stabilitas dan flow
test.
3.4. Hasil Perencanaan Gradasi Dan
Agregat Campuran
Pemeriksaan Agregat
Dalam pemilihan bahan agregat
diupayakan menjamin tingkat penyerapan
air yang paling rendah. Hal itu merupakan
antisipasi atas hilangnya material aspal
yang terserap oleh agregat. Agregat dapat
terdiri atas beberapa fraksi, misalnya fraksi
kasar, fraksi medium dan abu batu atau
pasir alam. Pada umumnya fraksi kasar dan
fraksi medium digolongkan sebagai agregat
kasar. Sedangkan untuk abu batu dan pasir
alam sebagai agregat halus.
Pengujian Material Aspal
Penggunaan
aspal
Pen
60
disesuaikan dengan kondisi suhu udara ratarata 25ºC. Metode pengujian aspal sesuai
spesifikasi Departemen Permukiman dan
Prosedur Marshall Untuk
Campuran
Kualitas agregat dapat diketahui
dengan dua macam pemeriksaan, yaitu
dengan cara visual dan cara percobaan
sehingga diperolah data laboratorium.
Pemeriksaan visual berupa pemeriksaan
terhadap bentuk butiran dan tekstur
permukaan agregat kasar.stabil namun
kecepatan perjalanan rata-rata turun s/d 30
Km/jam.
4.
4.1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengujian Kualitas
Pengujian kualitas material dalam
campuran aspal panas ini terdiri dari
material agregat dan aspal. Sedangkan
material agregat itu sendiri terdiri dari
agregat kasar, agregat halus dan filler.
5
Agregat kasar yang digunakan sebagai
bahan penelitian terdiri dari dua macam,
yaitu batu split, dan cangkang kerang. Hasil
dari pengujian kualitas material tersebut
sangat menentukan kinerja campuran yang
dihasilkan.
4.2.
Pengujian Aspal
Pengujian fisik aspal dilakukan
untuk mengetahui karakteristik aspal yang
akan dipakai dalam campuran aspal beton.
Karena aspal yang digunakan identik
dengan penelitian terdahulu maka untuk
hasil pemeriksaan aspal digunakan data
sekunder.
oleh
Bruce
Marshall,
dan
telah
distandarisasi
oleh ASTM
ataupun
AASHTO melalui beberapa modifikasi,
yaitu ASTM D 1559-76, atau AASHTO T245-90. Prinsip dasar metode Marshall
adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan
(flow), serta analisis kepadatan dan pori
dari campuran padat yang terbentuk.
5.
Dari hasil penelitian penggantian
agregat kasar dengan penambahan 15%,
dan 25% cangkang kerang ini maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Tabel 4.8. Hasil pemeriksaan aspal
Jenis
syarat
Pemeriksaa Min Max
1
Penetrasi,10g
n
r, 25 ºC, 5
60
79
detik (mm)
2
Titik Lembek
48
58
( oC)
3
Titik Nyala
200
( oC)
4
Titik Bakar (
200
oC)
5
Daktilitas, 25
ºC, 5
100
cm/menit
(cm)
6
Spesific
Grafity
1
(gr/cc)
Sumber: Hasil Penelitian 2016
No
4.3.
Hasil
70,1
48,33
350
2.
370
>150
1,03
3.
Hasil Analisa Marshall Pada
Kadar Aspal Rencana
Proses pengujian Marshall dapat
dilakukan setelah seluruh persyaratan
material, berat jenis, penyerapan aspal dan
perkiraan kadar aspal rencana telah
terpenuhi. Diperlukan juga tabel angka
koreksi dan kalibrasi pada alat uji tekan
Marshall dalam perhitungan stabilitas
marshall setelah disesuaikan dari lbf
menjadi kilogram. Rancangan campuran
berdasarkan metode Marshall ditemukan
Kesimpulan dan Saran
4.
Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai Stability rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai stability sebesar 1138
kg
b. Penambahan cangkang kerang
25% nilai stability sebesar 1125
kg
Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai VIM rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai VIM sebesar 3,05%
b. Penambahan cangkang kerang
25% nilai VIM sebesar 3,30%
Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai VMA rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai VMA sebesar 16
Kg/mm
b. Penambahan cangkang kerang
25% nilai VMA sebesar 15,80
Kg/mm
Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai VFA rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai VFA sebesar 80,60 %
6
b.
Penambahan cangkang kerang
25% nilai VFA sebesar 79,50 %
5. Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai MQ rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai MQ sebesar 325,00 %
b. Penambahan cangkang kerang
25% nilai MQ sebesar 325,00 %
6. Penambahan cangkang kerang pada
campuran
terhadap agregat kasar
sebesar 15% dan 25% menghasilkan
nilai FLOW rata – rata yaitu :
a. Penambahan cangkang kerang
15% nilai FLOW sebesar 3,50 %
b. Penambahan cangkang kerang
25% nilai FLOW sebesar 3,50 %
5.1
Saran
Saran yang dapat di berikan setelah
dilakukan penelitian ini adalah:
1. Perlunya ketelitian suhu saat melakukan
variasi suhu, di karenakan suhu akan
terus meningkat pada saat proses
penggorengan.
2. Pada saat melakukan pemerataan
agregat dan aspal harus lebih berhatihati agar sempel tidak banyak terbuang,
karena mempengaruhi berat sampel.
3. Penggunaan
timbangan
agregat
seharusnya di cek terlebih dahulu
tingkat validnya. Karena sangat akan
berpengaruh pada peroses pembuatan
dan pengujian benda uji.
4. Untuk
alat
Marshall
automatic
compactor, tinggi jatuh dari pemadatan
itu sendiri kurang sempurna, sehingga
harus lebih teliti agar pada saat
melakukan penumbukan jatuh bebannya
yang dilakukan tidak ada yang gagal.
5. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya
dengan variasi cangkang kerang yang
berbeda lagi atau dikombinasikan
dengan bahan pozzolan/mineral lain dan
penggunaan Superplasticizer dengan
kadar dan jenis lain.
DAFTAR PUSTAKA
Afif Teuku Muhammad, (2012). Kajian
Karakteeristik Campuran Aspal Beton
Lapis
Aus
(AC-WC)
Menurut
Spesifikasi Umum Bina Marga Edisi
2006 dan 2010, Medan: Departemen
Teknik Sipil Universitas Sumetera
Utara.
Anonim, (1976), Departemen Pekerjaan
Umum dan Tenaga Listrik, Manual
Pemeriksaan Bahan Jalan, Direktorat
Jendral Bina Marga, No.01/MN/BM/
1976, Jakarta.
Anonim, (2010). Spesifikasi Umum Divisi
VII, Kementrian Pekerjaan Umum
Direktorat
Jendral
Bina
Marga
Republik Indonesia.
Anonim, (2008). Modul Pengujian Bahan
Penyusun Perkerasan Jalan, Bandung :
Departemen Pekerjaan Umum Badan
Penelitian Dan Pengembangan Pusat
Litbang Jalan Dan Jembatan Republik
Indonesia
Laboraturium Jalan raya Program Studi
Teknik Sipil., 2014, “Penuntun
Praktikum Jalan Raya Sekolah Tinggi
Teknik Harapan”, Medan
Putrowijoyo
R,
(2006).
Kajian
Laboratorium Sifat Marshall Dan
Durabilitas Asphalt Concrete Wearing Course (Ac-Wc) Dengan
Membandingkan Penggunaan Antara
Semen Portland Dan Abu Batu Sebagai
Filler.
Semarang
:
Universitas
Diponogoro
Simanjuntak, Zulkarrnain, Studi Pengaruh
Penggunaan Filler Semen, Serbuk
betonik, dan Abu Terbang Batubara
terhadap Karakteristik Campuran.
7
8
9
Download