Laporan Praktikum Tegangan Permukaan

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I
SURFACE TENSION
Di susun oleh:
k – 113 – 12 – 020 - f
NIM 1203120991
k – 113 – 12 – 028 - f
NIM 1203121034
k – 113 – 12 – 038 - f
NIM 1203121156
k – 113 – 12 – 055 - f
NIM 1203136262
LABORATORIUM KIMIA FISIKA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013
LEMBAR PENGESAHAN
No. Lab
: k-113-12-020-f, k-113-12-028-f, k-113-12-038-f,
k-113-12-055-f
NIM
: 1203120991, 1203121034, 1203121156, 1203136262
Kelas/Kelompok : A/V
Tanggal Percobaan : 4 Desember 2013
Judul percobaan
: Tegangan Permukaan
Pekanbaru, 10 Desember 2013
Praktikan
Praktikan
k-113-12-020-f
NIM. 1203120991
k-113-12-028-f
NIM. 1203121034
Praktikan
k-113-12-038-f
k-113-12-055-f
NIM. 1203121156 NIM. 1203136262
Menyetujui,
Koordinator Asisten Praktikum Kimia Fisika I
Ade Priyanto, S.Si
NIM. 1110247272
Praktikan
Mengetahui,
Asisten
Zaidi Asyadiqi
NIM. 1003135734
SURFACE TENSION
ABSTRACT
Percobaan tegangan permukaan betujuan untuk menentukan berbagai
tegangan
permukaan
cairan.
Tegangan
permukaan
merupakan
kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang yang disebabkan
molekul-molekul zat cairpada permukaan ditarik oleh molekul-molekul
yang berada dibawahnya sehingga terbentuk lapisan tipis atau selaput. Pada
percobaan, faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan yaitu kenaikan
temperatur dan penambahan surfaktan. Semakin tinggi temperatur,
tegangan permukaan semakin kecil. Penambahan surfaktan juga dapat
menurunkan tegangan permukaan. Penentuan tegangan permukaan
menggunakan metode kenaikan pipa kapiler. Pada percobaan diperoleh
data-data kenaikan cairan dalam pipa kapiler, sehingga didapatkan berbagai
tegangan permukaan cairan. Pada temperatur 40oC, τ air yaitu 70,1
dyne/cm dengan h= 5,2 cm, sedangkan pada temperatur 50oC, τ air yaitu
68,2 dyne/cm dengan h= 4,8 cm sehingga diperoleh jari-jari kapiler yaitu
0,0275 cm dan 0,0289 cm.
I. PURPOSE
1. Menentukan berbagai tegangan permukaan cairan atau larutan.
2. Mempelajari penentuan tegangan permukaan cairan atau larutan dengan metode
kenaikan pipa kapiler.
3. Menentukan pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan.
II. THEORY
Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang
bekerja pada permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu.
Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), maka tegangan-permukaan, S dapat
ditulis sebagai S = F/L. Tegangan permukaan zat cair adalah kecenderungan
permukaan zat cair untuk menegang,sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh
suatu lapisan elastis. Penyebab terjadinya tegangan permukaan, partikel A dalam zat
cair ditarik oleh gaya sama besar ke segala arah oleh partikel-partikel di
dekatnya.Partikel B di permukaan zat cair hanya ditarik oleh partikel-partikel
disamping dan dibawahnya,hingga pada permukaan zat cair terjadi tarikan ke bawah.
Rumus Tegangan Permukaan :
Ƴ = F/ d
(1)
Dalam Kasus ini d = 2l, sehingga
Ƴ = F /2 * l (Maniac,2013).
(2)
Penerapan tegangan permukaan dalam kehidupan sehari – hari : mencuci
dengan air panas jauh lebih bersih dibandingkan dengan air yang bersuhu normal,
antiseptik yang dipakai untuk mengobati luka,selain dapat mengobati luka juga dapat
membasahi seluruh luka (Maniac,2013).
Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi
(gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara
molekul tidak sejenis). Tegangan permukaanpun bertanggung jawab atas bentuk
tetesan cairan. Meskipun mudah cacat, tetesan air cenderung ditarik ke dalam bentuk
bola dengan kekuatan kohesif dari lapisan permukaan (Saputra,2013).
Peristiwa kapilaritas adalah naik turunnya permukaan zat cair melalui pipa
kapiler. kapilaritas terjadi karena gaya kohesi dari tegangan permukaan dan gaya
adhesi antara zat cair dan tabung kaca. Seperti sebuah barometer dengan pipa kapiler
yang sebagian diisi dengan air raksa, dan sebagian lagi rruang hampa udara (vakum).
Perhatikan bahwa ketinggian air raksa di pusat tabung lebih tinggi dari pada tepi,
membuat permukaan atas dari raksa berbentuk kubah. Pusat massa dari seluruh
kolom air raksa akan sedikit lebih rendah jika permukaan atas raksa yang datar
selama crossection seluruh tabung. Namun dengan berbentuk kubah memberikan luas
permukaan sedikit kurang untuk seluruh massa raksa. Hal ini berguna untuk
meminimalkan energi potensial total. Bentuk permukaan kubah diatas dikenal sebagai
meniskus cembung. Jika sudut kontak antara cairan dengan tabung kapiler lebih dari
90 derajat maka bentuk permukaan cairan tertekan ke bawah yang disebut meniskus
cekung. Adapun rumus/persamaan menghitung tinggi rendahnya atau naik turunnya
permukaan zat cair pada pipa kapiler adalah:
Keterangan:
= tinggi permukaan zat cair (m)
= tegangan permukaan (N/m)
= massa jenis zat cair (kg/m2)
= jari-jari (m)
= percepatan gravitasi (m/s2 )
= sudut kontak. Jika
lebih besar dari 90°, cairan akan tertekan kebawah
membentuk meniskus cekung.
Kita dapat menyatakan efek permukaan dalam bahasa fungsi Helmholtz dan
Gibbs. Hubungan antara fungsi – fungsi dan luas permukaan adalah kerja yang
diperlukan untuk mengubah sejumlah tertentu luas ini dan kenyataan bahwa, pada
kondisi yang berbeda, dA dan dG sama dengan kerja yang dilakukan dalam
mengubah energi sistem.Kerja yang dilakukan dalam mengubah sangat kecil dσ luas
permukaan suatu sampel sebanding dengan dσ dan kita menuliskannya:
ᵧdσ
(4)
Koefisien ᵧ disebut tegangan permukaan, dimensinya adalah energy/luas (Jm ).
Walaupun demikian, nilai ᵧ biasanya dilaporkan dalam Nm (karena 1 J = 1Nm).
dw =
–2
–1
Pada volume dan temperature tetap, kita dapat mengenai kerja pembentukan
permukaan dengan perubahan fungsi Helmholtz, dan menuliskannya:
dA =
ᵧdσ
(5)
Karena fungsi Helmholtz berkurang (dA < 0) jika luas permukaan berurang (dσ < 0)
maka secara alamiah permukaan mempunyai kecenderungan untuk menyusut
(Atkins,1997).
Gelembung adalah daerah dimana uap (atau mungkin juga udara) erperangkap
dalam lapisan tipis, rongga adalah lobang berisi uap di dalam cairan. Oleh karena itu,
yang sering disebut “gelembung” dalam cairan, sebenarnya adalah rongga :
gelembung yang sebenarnya adalah mempunyai dua permukaan (satu permukaan
pada setiap sisi lapisan tipis), rongga hanya mempunyai satu permukaan. Tetesan
adalah volume kecil cairan yang berada dalam kesetimbangan dan dikelilingi oleh
uapnya (dan mungkin juga udara) (Atkins,1997).
Tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu kemampuan atau
kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas permukaannya
lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti bola atau ringkasnya didefinisikan
sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair
mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya. Seperti silet, berat silet
menyebabkan permukaan zat cair sedikit melengkung ke bawah tampak silet itu
berada. Lengkungan itu memperluas permukaan zat cair namun zat cair dengan
tegangan permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaan-nya sekecil
mungkin (Wahyuni,2012).
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair
(fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Tegangan permukaan
didefinisikan sebagai gaya F persatuan panjang L yang bekerja tegak lurus pada setia
garis di permukaan fluida. Permukaan fluida yang berada dalam keadaan tegang
meliputi permukaan luar dan dalam (selaput cairan sangat tipis tapi masih jauh lebih
besar dari ukuran satu molekul pembentuknya), sehingga untuk cincin dengan
keliling L yang diangkat dari permukaan fluida dapat ditentukan dari pertambahan
panjang pegas halus penggantung cincin (Dianometer) (Wahyuni,2012).
Permukaan zat cair selalu dalam keadaan tegang. Hal ini disebabkan karena
molekul – molekul zat cair pada permukaan mendapat gaya tarik ke dalam oleh
molekul – molekul yang berada di bawahnya, akibatnya zat cair selalu cenderung
untuk memperkecil permukaan. Berkaitan dengan hal tersebut diperoleh konsep
tegangan permukaan, yakni setiap gaya cm permukaan cairan yang menentang
pembiasan luas permukaan. Ada berbagai cara penentuan permukaan tetapi yang
digunakan dalam percobaan ini adalah dengan metode kenaikan pipa kapiler. Dengan
perumusan:
τ=
hdgr
2
(6)
τ = Tegangan permukaan
h = tinggi cairan dalam kapiler
g = gravitasi
d = berat jenis cairan
r = jari – jari kapiler
Untuk mengukur jari – jari kapiler, dipakai cara membandingkan tinggi cairan dalam
kapiler dalam kapiler dengan tinggi cairan standar bila dipakai alat yang sama.
τ1
τ2
= h1 d1
(7)
h2 d2 (Tim Labor Kimia Fisika, 2013).
Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Tegangan Permukaan:
a. Jenis cairan
Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya besar,
seperti air, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya pada cairan seperti
bensin karena gaya tarik antara molekulnya kecil, maka tegangan permukaannya juga
kecil.
b. Suhu
Tegangan permukaan cairan turun bila suhu naik, karena dengan
bertambahnya suhu molekul- molekul cairan bergerak lebih cepat dan pengaruh
interaksi antara molekul berkurang sehingga tegangan permukaannya menurun.
c. Adanya zat terlarut
Adanya zat terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan tegangan
permukaan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit tertentu seperti
sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan permukaan. Sedangkan adanya zat- zat
seperti sabun, detergen, dan alkohol adalah efektif dalam menurunkan tegangan
permukaan.
d. Surfaktan
Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan,
karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan
mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun
merupakan salah satu contoh dari surfaktan.
e. Konsentrasi zat terlarut
Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh
terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan
larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan
menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih
besar daripada didalam larutan. Sebaliknya solut yang penambahannya kedalam
larutan menaikkan tegangan muka mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih
kecil daripada di dalam larutan (Mutmainna,2013).
Macam-macam metode tegangan permukaan. Ada beberapa metode dalam
melakukan tegangan permukaan :
1. Metode kenaikan kapiler
Tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/ cairan yang naik
melalui suatu kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk
mengukur tegangan permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan permukaan tidak
bias untuk mengukur tegangan antar muka.
2. Metode tersiometer Du-Nouy
Metode cincin Du-Nouy bisa digunakan utnuk mengukur tegangan permukaan
ataupun tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk
melepaskan suatu cincin platina iridium yang diperlukan sebanding dengan tegangan
permukaan atau tegangan antar muka dari cairan tersebut.
Manfaat tegangan permukaan dalam bidang farmasi:
1. Dalam mempengaruhi penyerapan obat pada bahan pembantu padat pada sediaan
obat
2. Penetrasi molekul melalui membrane biologis
3. Pembentukan dan kestabilan emulsi dan dispersi partikel tidak larut dalam media
cair untuk membentuk sediaan suspense (Mutmainna,2013).
III. EQUIPMENT AND MATERIAL
a. Equipment is used:
1. Hotplate
: 1 piece
2. Thermometer
: 1 piece
3. Stir bar
: 1 piece
4. Ruler 30 cm
: 1 piece
5. Beaker glass 50 mL
: 5 pieces
6. Spatula
: 1 piece
7. Capillary pipes
: 1 piece
8. Scales
: 1 piece
9. Pycnometer
: 2 pieces
10. Pipette
: 1 piece
11. Spray bottle
: 1 piece
12. Measuring glass 50 mL
: 2 pieces
13. Beaker glass 1000 mL
: 1 piece
b. Material is used:
1. K2Cr2O7
2. Detergent ( Viso, Daia, Attack)
3. Aquades
IV. WORK SCHEME
1. Detergent
As many as three different types of detergent that is Viso, Daia, and Attack
Each detergent was weighed as much as 1, 2, 3 grams so that there are 9 samples
and weighed empty pycnometer
Each sample detergent was inserted Beaker glass 50 ml and diluted with 50 ml
aquades
Detergent sample solution was heated by a hotplate a temperature of 400C and
500C used the thermometer
Each sample solution each temperature capillary pipes was inserted and measured
the increase in liquid or detergent sample solution in a capillary pipes
Density of the sample solution was determined by pycnometer at 400C and 500C
2. Aquades
Aquades 50 mL was inserted the Beaker glass 50 mL and heated in temperature
400C and 500C
Aquades each temperature capillary pipes was inserted and measured the increase
aquades in a capillary pipes
Density of the aquades was determined by pycnometer at 400C and 500C
V. DATA AND OBSERVATION
Sampel deterjen yang digunakan
: Viso, Daia dan Attack
Berat piknometer kosong
a. Berat piknometer I (Biru)
: 11,61 gram
b. Berat piknometer I (Merah)
: 10,82 gram
Detergen/Air
Viso
Daia
Attack
Air
Massa
1 gr
2 gr
3 gr
1 gr
2 gr
3 gr
1 gr
2 gr
3 gr
1 gr
2 gr
3 gr
1 gr
2 gr
3 gr
1 gr
2 gr
3 gr
-
VI CALCULATION
Berat Jenis (d)
a. Viso
1. Massa 1 gr (40ºC)
1.
Suhu
40ºC
50ºC
40ºC
50ºC
40ºC
50ºC
40ºC
50ºC
Kenaikan
Pipa Kapiler
4,8 cm
4,1 cm
4,4 cm
4,3 cm
4 cm
4,3 cm
3,8 cm
3,8 cm
4,5 cm
3,7 cm
3,4 cm
4,3 cm
4,3 cm
4,1 cm
3,4 cm
4,2 cm
4,4 cm
3,7 cm
5,2 cm
4,8 cm
Berat
Piknometer
16,49 gr
16,26 gr
16,38 gr
16,52 gr
16,33 gr
16,42 gr
16,45 gr
16,41 gr
16,47 gr
16,34 gr
16,06 gr
16,46 gr
15,65 gr
16,44 gr
16,37 gr
16,50 gr
16,28 gr
15,82 gr
-
P1
P2
P2
P1
P2
P2
P1
P2
P1
P1
P2
P1
P2
P1
P1
P1
P2
P2
-
2. Massa 2 gr (40ºC)
gr/mL
3. Massa 3 gr (40ºC)
4. Massa 1 gr (50ºC)
5. Massa 2 gr (50ºC)
6. Massa 3 gr (50ºC)
b. Daia
1. Massa 1 gr (40ºC)
2. Massa 2 gr (40ºC)
3. Massa 3 gr (40ºC)
4. Massa 1 gr (50ºC)
5. Massa 2 gr (50ºC)
6. Massa 3 gr (50ºC)
c. Attack
1. Massa 1 gr (40ºC)
2. Massa 2 gr (40ºC)
3. Massa 3 gr (40ºC)
4. Massa 1 gr (50ºC)
5. Massa 2 gr (50ºC)
6. Massa 3 gr (50ºC)
2.
Tegangan Permukaan
pada suhu 400C
pada suhu 500C
=
a. Viso
1. Massa 1 gram pada suhu 400C
=
= 63,15 dyne/cm
2. Massa 2 gram pada suhu 400C
=
= 59,91 dyne/cm
3. Massa 3 gram pada suhu 400C
=
= 66,13 dyne/cm
4. Massa 1 gram pada suhu 500C
=
= 59,82 dyne/cm
5. Massa 2 gram pada suhu 500C
=
= 62,56 dyne/cm
6. Massa 3 gram pada suhu 500C
=
= 68,88 dyne/cm
b. Daia
1. Massa 1 gram pada suhu 400C
=
= 49,72 dyne/cm
2. Massa 2 gram pada suhu 400C
=
= 57,46 dyne/cm
3. Massa 3 gram pada suhu 400C
=
= 58,91 dyne/cm
4. Massa 1 gram pada suhu 500C
=
= 49,78 dyne/cm
5. Massa 2 gram pada suhu 500C
=
= 50,51 dyne/cm
6. Massa 3 gram pada suhu 500C
=
= 59,30 dyne/cm
c. Attack
1. Massa 1 gram pada suhu 400C
=
= 56,08 dyne/cm
2. Massa 2 gram pada suhu 400C
=
= 53,51 dyne/cm
3. Massa 3 gram pada suhu 400C
=
= 43,54 dyne/cm
4. Massa 1 gram pada suhu 500C
=
= 58,29 dyne/cm
5. Massa 2 gram pada suhu 500C
=
= 68,88 dyne/cm
6. Massa 3 gram pada suhu 500C
=
= 52,86 dyne/cm
3. Jari – jari pipa kapiler (r)
pada suhu 400C
pada suhu 500C
=
1
a. Suhu 400C
=
=
= 0,0275 cm
b. Suhu 500C
=
=
= 0,0289 cm
VII. DISCUSSION
Percobaan tegangan permukaan bertujuan untuk memperlihatkan pengaruh
suhu dan massa terhadap terhadap tegangan permukaan serta membandingkan
tegangan permukaan dari beberapa jenis deterjen. Metode yang digunakan pada
percobaan ini adalah metode kenaikan pipa kapiler untuk mengukur tegangan
permukaan dengan melihat ketinggian cairan yang naik melalui pipa kapiler.
Percobaan tegangan permukaan ini dilakukan terhadap 3 jenis larutan deterjen (Viso,
Daia, dan Attack) dengan konsentrasi/massa yang berbeda dari masing – masing
deterjen yakni 1, 2 dan 3 gram dan lautan deterjen dipanaskan pada suhu 40 oC dan
50 oC. Hal ini bertujuan untuk membandingkan tegangan permukaan dari 3 jenis
larutan deterjen, untuk memperlihatkan pengaruh massa dan suhu terhadap tegangan
permukaan. Secara umum atau teoritis bahwa setiap kenaikan suhu dan konsentrasi
menyebabkan penurunan kenaikkan pipa kapiler serta menurunkan berat jenis larutan.
Dengan penurunan kenaikan pipa kapiler dan berat jenis maka tegangan permukaan
cairan menurun. Pada percobaan yang dilakukan praktikan diperoleh perbandingan
tegangan permukaan antara suhu 40 oC dengan 50 oC tidak konstan, ada yang
menurun (kecil) dan ada yang meningkat (besar) tegangan permukaan dengan
bertambah/kenaikan suhu. Hal yang sama pada pengaruh massa atau konsentrasi
terhadap tegangan permukaan diperoleh dari hasil percobaan ada yang massa besar
tetapi tegangan permukaan kecil. Hal yang terjadi karena kesalahan yang disebabkan
oleh beberapa hal yakni kesalahan praktikan dalam keidaktelitian pengukuran
kenaikan pipa kapiler, pengukuran suhu, pengadukan, penimbangan sampel atau
larutan deterjen. Pada percobaan tegangan permukaan, deterjen yang baik untuk
digunakan yakni Attack, karena memiliki nilai tegangan permukaan yang paling
rendah atau kecil disbanding dengan Viso dan Daia. Tegangan permukaan pada
Attack pada suhu 40 oC yakni 43,54 dyne/cm dan pada suhu 50 oC yakni 52,86
dyne/cm pada massa 3 gram masing – masing suhu.
VIII. QUESTION AND ANSWER
1. Apa yang dimaksud dengan tegangan permukaan?
Jawab :
Tegangan permukaan adalah permukaan zat cair selalu dalam keadaan tegang
disebabkan karena molekul – molekul zat cair pada permukaan mendapat gaya tarik
ke dalam oleh molekul – molekul yang berada di bawahnya, akibatnya zat cair selalu
cenderung untuk memperkecil permukaan dan berkaitan dengan kohesi (gaya tarik
menarik antara partikel – partikel sejenis) sehingga permukaannya seperti ditutupi
lapisan tipis.
2. Apa yang dimaksud dengan energi permukaan? Satuannya?
Jawab :
Enegi permukaan adalah kemampuan untuk menarik molekul – molekul dari
dalam ke permukaan. Kerja ini digunakan untuk menambah luas permukaan dan
menambah energi potensial molekul. Satuannya N/m.
3. Turunkan persamaan (1) !
Jawab :
F=W
2 τ. r. J = m . g
2 τ. r. J = ρ V. g
2 τ r = ρ.
τ. r2 h. g
τ = ρ . h. g
→ ρ=d
2
τ = d . h. g
2
4. Bagaimana pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan ?
Jawab :
Tegangan
permukaan
menurun
dengan
meningkatnya
suhu,
karena
meningkatnya energi kinetik molekul dan pengaruh interaksi antar molekul
berkurang.
5. Apa yang dimaksud dengan adhesi dan kohesi serta gejala – gejala yang
bersangkutan dengan tegangan permukaan cairan?
Jawab :
Adhesi adalah gaya tarik- menarik antara partikel – partikel yang tidak
sejenis. Kohesi adalah gaya tarik – menarik antara partikel –partikel sejenis. Gejala –
gejala yang bersangkutan dengan tegangan permukaan adalah tetesan air yang jatuh
mendekati bentuk bola, titik embun yang jatuh pada sarang laba- laba, dan serangga
dapat hinggap pada permukaan air.
6. Terangkan maksud mekanisme pencucian oleh sabun dan deterjen?
Jawab :
Sabun dan deterjen merupakan produk dari surfaktan yang memiliki fungsi
menurunkan tegangan permukaan dengan memutuskan ikatan hidrogen pada
permukakan air sehingga dapat meningkat daya cuci. Selain itu, sabun dan deterjen
mengubah sudut kontak yang besarnya lebih dari 900 menjadi lebih kecil sehingga
menyebabkan zat ini dapat membasahi kaca. Surfaktan mempunyai orientasi yang
jelas sehingga cenderung pada rantai lurus.
X. CONCLUSION
1. Pengaruh kenaikan suhu dan konsentrasi terhadap tegangan permukaan tidak
sesuai dengan teori.
2. Deterjen yang paling baik untuk digunakan dari ketiga deterjen yang dijadikan
sampel pada percobaan adalah Attack.
3. Deterjen yang memiliki nilai tegangan permukaan terkecil/rendah adalah Attack
pada suhu 400C 43,54 dyne/cm dan suhu 500C yakni 52,86 dyne/cm pada massa
3 gram dari tiap suhu.
XI. REFERENCE
Atkins,P.W.1997. Kimia Fisika Edisi Keempat Jilid I. Terjemahan: Irma. I.
Kartohadiprojo.Erlangga,Jakarta
Maniac.2013.Tegangan Permukaan.http://andinicahyanintyas - maniac.blogspot.
com/. Diakses pada 30 November 2013
Mutmainna, A.2013.Tegangan permukaan.http://atiahmutmainna.blogspot.com/
2013/01/tegangan - permukaan.html. Diakses pada 30 November 2013
Saputra,R.B.2013.Tegangan permukaan dan kapilaritas.http://phisieducation09.
blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html.Diakses
pada 30 November 2013
Tim Labor Kimia Fisika.2013.Penuntun Praktikum Kimia Fisika I.FMIPAUR,Pekanbaru
Wahyuni,I.T.2012.Laporan
kimia
fisika
penentuan
tegangan.http://itatrie.
blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-fisika-penentuan-tegangan.html.
Diakses pada 30 November 2013
Download