Uploaded by User63762

BAB I PENDAHULUAN (Aquarium Hidroponik)

advertisement
LAPORAN KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL
MARSS#7 2020
“KIT AKUAPONIK......”
Diusulkan Oleh:
Garin Nur Ilmi
02.11.18.010
2018
Haris Pratomo
02.11.18.011
2018
Tohari
02.11.18.028
2018
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR
KOTA BOGOR
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan nikmat
berupa kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
dengan judul “................”.
Dalam penyusan Karya Tulis Ilmiah ini banyak pihak yang telah memberikan
memotivasi dan dukungan. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, rahmat dan hidayah-Nya
2. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan doa dan kasih sayang kepada
penulis;
3. Intan Kusuma Wardani, S.TP., M.Sc., selaku dosen pembimbing;
4. Para Dosen Penelitian Prodi D3 Teknologi Mekanisasi Pertanian.
5. Semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun, sangat diharapkan demi kesempurnaan karya tulis ini.
Bogor,
Februari 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pesatnya jumlah pertumbuhan manusia menyebabkan lahan pertanian
semakin menyusut untuk pembangunan tempat tinggal dan pabrik-pabrik industri.
Lahan pertanian merupakan faktor penunjang kebutuhan hidup masyarakat
terutama masyarakat pedesaan dan pinggiran kota (Dewi, 2013). Menurut Badan
Pusat Statistik (BPS) menyebutkan luas lahan pertanian khususnya lahan sawah
semakin menurun. Pada tahun 2015 , luas lahan baku sawah mencapai 8,08 juta
hektar. Hal ini mengalami penurunan sebesar 7.6% pada tahun 2019 yaitu
mencapai 7.46 juta hektar. Semakin berkurangnya lahan pertanian menyebabkan
terkendalanya swasembada komoditas di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada
kurangnya aktivitas produksi pada sektor pertanian.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi salah satu ancaman tersendiri bagi
keberlanjutannya swasembada pangan (Hidayat, 2009). Pada penelitian yang
dilakukan oleh Dewi (2013) di Kota Semarang menyebutkan bahwa adanya alih
fungsi lahan pertanian telah membawa perubahan pada area tertentu, antara lain
area dekat pusat kota. Faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan antara lain
faktor ketergusuran (keterkaitan dengan kondisi penduduk) yang menyebabkan
terhimpitnya pemukiman (Saputra, 2012).
Pada lahan sempit perkotaan juga menjadikan kegiatan pertanian dan
perikanan menjadi tidak leluasa. Sehingga pada umumnya perumahan yang
memiliki luasan tanah yang terbatas menjadi faktor pembatas untuk masyarakat
mengembangkan pertanian dan perikanan (Hidayati, 2018).
Oleh karena itu, diinovasikannya kit akuaponik dengan aquarium dan
hidroponik wick system agar masyarakat yang berada pada lahan sempit
khususnya pada perkotaan, mampu mengkolaborasikan antara pertanian dengan
perikanan. Teknologi sederhana ini mampu menghasilkan produk pertanian
sekaligus menjadikan keindahan/estetika tersendiri pada lingkungan perkotaan.
Sehingga menjadi salah satu solusi untuk para pecinta pertanian dan perikanan
untuk terus menyalurkan hobinya pada teknologi tersebut. Kit Akuaponik ini
mampu diletakan pada dalam maupun luar ruangan. Hal ini dikarenakan kit telah
dilengkapi oleh sensor yang mampu mendeteksi kurang atau cukupnya unsur
cahaya untuk kebutuhan tanaman. Energi yang disimpan melalui powerbank
setelah ditangkap oleh panel surya akan disalurkan untuk menyalakan sensor
tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat ditentukan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana teknologi tersebut dapat menghasilkan produk pertanian
sekaligus mempunyai keindahan/estetika tersendiri?
2. Bagaimana manfaat dari teknologi tersebut?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dan manfaat penulisan
karya tulis ilmiah ini untuk mengungkapkan tentang:
1. Masyarakat mampu mengembangkan hobinya dalam bidang pertanian dan
perikanan meskipun pada lahan sempit
2. Menciptakan keindahan/llestetika tersendiri sekaligus menghasilkan
produk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hidroponik
Hidroponik (Inggris: hydroponic) berasal dari kata Yunani yaitu hydro
yang berarti air dan ponos yang artinya pengerjaan atau bercocok tanam.
Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa
tanah. Jadi, hidroponik adalah budidaya tanaman yang memanfaatkan air
tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless. Pada
Hidroponik faktor nutrisis menjadi salah satu faktor penentu yang paling
penting dari hasil dan kualitas tanaman. Larutan nutrisi yang paling mendasar
adalah Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg)
dan Sulfur (S) yang juga dilengkapi dengan mikronutrien (BPTP, 2018).
Sistem dari hidroponik sendiri yaitu memberikan bahan makanan
dalam larutan mineral atau nutrisi yang diperlukan tanaman dengan cara
siram atau diteteskan. Melalui teknik ini dapat dipelihara lebih banyak
tanaman dalam satuan ruang yang lebih sempit (Raidoh, 2014)
Menurut Ida Syamsu Raidoh (2014), terdapat tata cara penanaman
hidroponik, yaitu:
1. Pembibitan, pada pembibitan diperlukan bibit yang berkualitas agar mutu
tanaman yang dihasilkan cukup optimal.
2. Penyemaian, pada penyemaian biasanya digunakan nampai plastik yang
berisi media tanam dan benih untuk persemaian.
3. Persiapan media tanam, syaratnya adalah mampu menyerap dan
menghatarkan air, tidak mudah busuk, tidak mempengaruhi pH, steril, dan
lain-lain. Media tanam yang biasa digunakan dapat berupa gambut,, sabut
kelapa, sekam bakar dan rockwool.
4. Pupuk, untuk mencukupi kebutuhan unsur hara makro dan mikro
diperlukanpemupukan dalam bentuk larutan.
5. Perawatan tanaman, pada saat perawatan dapat dilakukan pemangkasan
dan penambahan pupuk..
2.2 Akuakultur
Akuakultur di Indonesia dikenal dengan istilah budidaya air dan
dibedakan menjadi dua, yaitu budidaya air tawar dan budidaya air laut,. Air
yang digunakan untuk akuakultur dapat bersumber dari air permukaan
(danau, kolam, sungai) atau air tanah (sumur). Untuk mengalirkan air dan
udara (aerasi) dari suatu sumber atau dari satu bagian ke bagian yang ain
digunakanlah pompa. (Dwi, 2004).
2.3 Akuaponik
Akuaponik
merupakan
sistem
pertanian
berkelanjutan
yang
mengombinasikan sistem akuakultur dan hidroponik sebagai satu kesatuan
sistem yang bersifat simbiotik. Dalam sistem akuaponik hasil ekskresi dari
hewan yang terdapat pada sistem ini akan dimanfaatkan sebagai nutrisi aami
tanaman hidroponik. Sedangkan untuk hewan yang hidup pada sistem ini
juga akan mendapat hasi berupa air bersih yang telah difilter secara aami oleh
akar tanaman (Ma’arif, 2016).
Sistem akuaponik yang saat ini banyak diterapkan oleh para petani
memiliki banyak keuntungan dan kelebihan yang menjadi alasan penggunaan
sistem ini. Tidak hanya berfokus pada budidaya ikan, sistem akuaponik yang
merupakan gabungan antara akuakultur dan hidroponik, juga memfokuskan
budidaya pada tanaman yang dapat digunakan untuk konsumsi sendiri
maupun komersil dalam skala besar (Handayani, 2018).
Sistem akuaponik tidak dapat dilepaskan dengan proses daur nitrogen
dan nitrifikasi dalam media perairan budidaya. Nitrogen didalam perairan
dapat berupa nitrogen organik dan nitrogen anorganik. Nitrogen anorganik
dapat berupa ammonia (NH3), ammonium (NH4 + ), Nitrit (NO2), Nitrat
(NO3) dan Nitrogen (N2) dalam bentuk gas. Sedangkan nitrogen organik
adalah nitrogen yang berasal bahan berupa protein, asam amino dan urea
(Nugroho, 2012).
2.4 Wick System
Sistem ini merupakan model hidroponik yang paling sederhana, yaitu
menggunakan sumbu yang menghubungkan pot tanaman dngan media larutan
nutrisi (BPTP, 2018). Berikut merupakan contoh wick system yang
ditunjukan pada Gambar 1.
Gambar 1. Hidroponik pada wick system
Sumber: BPTP tahun 2018
2.5 Jenis Ikan
Jenis ikan yang digunakan untuk akuaponik harus memenuhi kriteria,
antara lain mampu memproduksi amonia dalam jumlah banyak. Berikut
merupakan jenis ikan air tawar yang biasa digunakan pada sistem akuaponik
antara lain:
1. Ikan Patin (Pangasius), ikan ini hidup pada air kolam dengan suhu 2530oC dan pH 7-8.
2. Ikan Lele (Clarias scopoli), ikan ini hidup pada air kolam dengan suhu
20-30 oC dan pH 6.5-8.
3. Ikan Bawal (Colossoma macropomum), ikan ini hidup pada air kolam
dengan suhu 22-28 oC dan pH 5-7.
4. Ikan Mas (Cyprinus carpio), ikan ini hidup pada air kolam dengan suhu
20-30 oC dan pH 7-8.
5. Ikan Gurami (Osphronemus goramy), ikan ini hidup pada air kolam
dengan suhu 24-28 oC dan pH 7-8. (Anonim, 2016)
2.6 Warna Lampu
Pada penelitian yang dilakukan oleh kobayashi et al, 2013
menunjukan bahwa penambahan lampu LED berarna biru dapat merangsang
pertumbuhan vegetatif, sedangkan warna merah dapat mempercepat proses
pembungaan. Sedangkan lampu gabungan antara merah, biru, putih dapat
mengahasilkan banyak efek positif pada pertumbuhan, dan perkembangan
tanaman (Lin et al, 2013). Pada penelitian yang dilakukan oleh.... untuk
pertumbuhan tanaman kailan pada hidroponik indoor menunjukan bahwa
tanaman kailan untuk perlakukan lampu berwarna putih lebih baik
dibandingkan dengan lampu neon kuning, biru dan merah. Hal ini disebabkan
pada lampu putih memiliki lux tertinggi karena warna puih memiliki warna
terang yang terdiri dari semua warna pada cahaya (Alhadi et al, 2016).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 7 hari, yaitu pada Jumat, 14
Februari – Sabtu, 22 Februari 2020.
3.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bengkel Latih Politeknik Pembangunan
Pertanian Bogor, Jl. Aria Surialaga No. 1, Pasir Kuda, Bogor Barat, Kota
Bogor, Jawa Barat.
1. Pertumbuhan tanaman, Jumlah daun, tinggi tanaman, panjang akar.
2. Sensor ke LED
3. Solar ke LED  Perencanaan alat
4. Akuaponik engsel keatas
3.3 Bahan dan Alat
A. Bahan
a. Aquarium dan seperangkat
i. Solar cell
b. Kayu
j. Lampu LED
c. Engsel mekanik
k. Lem paralon
d. Netpot
l. Lem kaca (sealant)
e. Pompa
m. Aerator
f. L-bow
n. Media penyimpan. Ex:
g. Akrilik/Nampan Bening
h. Paralon ½”
B. Alat
a. Pemotong kaca
b. Bor tangan
c. Cutter
d. Meteran
Powerbank
3.4 Rincian Biaya Pembuatan
Berikut merupakan rincian biaya pembuatan kit aquaponik yang
ditunjukan pada tabel 1.
Tabel 1. Rincian Biaya Pembuatan
No Nama Alat/Bahan Volume
1
Aquarium dan
seperangkat
Satuan
Harga Satuan
Jumlah
1
set
Rp 253,000.00
Rp 253,000.00
Rp 100,000.00
Rp 100,000.00
Rp 160,000.00
2
Kayu
1
set
3
Engsel
2
pasang
Rp
80,000.00
4
Netpot
9
pcs
Rp
1,000.00
Rp
9,000.00
1
pcs
Rp
40,000.00
Rp
40,000.00
5
Alat pemotong
kaca
6
Pompa
1
unit
Rp
25,000.00
Rp
25,000.00
7
Aerator
1
unit
Rp
30,000.00
Rp
30,000.00
8
L-bow
3
buah
Rp
5,000.00
Rp
15,000.00
9
Nampan Bening
1
buah
Rp
10,000.00
Rp
10,000.00
10
Paralon ½”
1
unit
Rp
25,000.00
Rp
25,000.00
11
Solar cell
1
paket
Rp 150,000.00
Rp 150,000.00
1
meter
Rp
25,000.00
Rp
25,000.00
1
meter
Rp
25,000.00
Rp
25,000.00
1
buah
Rp
8,000.00
Rp
8,000.00
1
buah
Rp
20,000.00
Rp
20,000.00
12
13
14
15
Lampu LED
(Tube)
Lampu LED
(Strip)
Lem Paralon
Lem Kaca
(Sealant)
16
Bor Tangan
1
unit
17
Cutter
1
buah
Rp
10,000.00
Rp
10,000.00
18
Ikan Patin
2
ekor
Rp
15,000.00
Rp
30,000.00
19
Meteran
1
buah
Total
Rp 935,000.00
Download