Uploaded by User63423

Print (Post Sidang)Jurnal TA 188

advertisement
MODEL DYNAMIC MODIFIED SPANNING TREE (DMoST) DENGAN
MEMPERTIMBANGKAN PENGELOMPOKAN MESIN YANG MINIMUM UNTUK
PERANCANGAN TATA LETAK SEL DINAMIS
Dr. Ir. Yogi Yogaswara, M.T. 1), Ryry Rizki Asri2)
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan
Jalan Dr. Setiabudhi No.193 Bandung
Email2): [email protected]
ABSTRAK
Perubahan yang terjadi pada bidang manufaktur disebabkan oleh perubahan pada siklus
hidup produk yang lebih pendek, permintaan pasar akan variasi baru dan berubah-ubah serta
perubahan pada sisi penggunaan teknologi terbaru di perusahaan. Hal tersebut akan
mengakibatkan perubahan aliran proses yang juga akan mengubah tata letak pada bagian
produksi sehingga memunculkan masalah dynamic layout problem.
Permasalahan tata letak dinamis dapat diselesaikan dengan menggunakan metode
pembentukan sel manufaktur yang memiliki tingkat fleksibilitas tinggi. Pada penelitian ini
algoritma yang digunakan adalah direct clustering algorithm, rank order clustering, dan bond
energy algorithm. Algoritma dynamic modified spanning tree juga digunakan untuk
mengurutkan mesin ke dalam tata letak dengan struktur baris-tunggal dan menentukan
panjang perencanaan time window pada masa yang akan datang.
Pembentukan sel manufaktur yang dipilih adalah rank order clustering dengan grouping
efficiency sebesar 76,1% dan grouping efficacy sebesar 59,5%. Selisih jarak pemindahan
material antara layout awal dan usulan sebesar 155 meter dengan selisih total ongkos
pemindahan material sebesar 169.983. Periode perencanaan selama 8 periode, yang masingmasing memiliki perubahan akibat adanya peningkatan volume produksi dan penambahan
jenis produk baru dan hal ini telah diketahui sebelumnya oleh perusahaan. Kemudian pada
masa yang akan datang dilakukan pengaturan ulang tata letak mesin sebanyak 2 kali pada
periode 1 dan 5. Periode 1 menggunakan rancangan tata letak mesin periode 2 dengan urutan
mesin 5-6-7-3-1-4-2 yang digunakan sepanjang periode 1 sampai dengan 4. Pada periode 5
menggunakan rancangan tata letak mesin periode 6 dengan urutan mesin 7-6-5-3-1-4-2 yang
digunakan sepanjang periode 5 sampai dengan 8. Total biaya pengaturan ulang tata letak
sebesar 100.000.
Kata kunci: dynamic layout problem, rank order clustering, direct clustering algorithm, bond
energy algorithm, minimum spanning tree, algoritma silver-meal, time window.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada
dekade
sebelumnya
banyak
perusahaan di bidang manufaktur yang
mengalami tantangan akibat adanya
globalisasi serta persaingan yang tinggi di
pasar. Masalah ini timbul disebabkan oleh
perubahan pada siklus hidup produk yang
lebih pendek, permintaan pasar akan variasi
baru dan berbeda yang kini semakin
meningkat, dan juga perubahan pada sisi
penggunaan teknologi terbaru. Saat ini
sebagian besar perusahaan manufaktur
menaruh
banyak
perhatian
untuk
meningkatkan fleksibilitas dari tata letak
mesin serta daya tanggap terhadap
permintaan
konsumen.
Dengan
mempertimbangkan tren saat ini yaitu
siklus hidup produk yang lebih pendek,
maka perusahaan dapat menyiasatinya
dengan menambah variasi produk yang
dihasilkan agar lebih luas dan tetap
1
berkompetisi dengan para pesaing.
Semakin luas variasi produk yang
dihasilkan maka akan semakin luas juga
mesin, metode, dan material yang
digunakan. Kondisi ini menunjukkan pola
bisnis yang sangat dinamis. Pola inilah
yang akan mengakibatkan perubahanperubahan pada tata letak mesin karena
menyesuaikan dengan produk yang akan
dihasilkan. Salah satu teknik utama yang
dapat diterapkan untuk meningkatkan
fleksibilitas perusahaan adalah dengan
menggunakan Cellular Manufacturing
System. Cellular Manufacturing System
(CMS) merupakan sebuah penerapan
langsung dari filosofi group technology
dalam proses manufaktur.
Group technology dapat menjadi solusi
yang tepat untuk menjawab tantangan
fleksibilitas serta efisiensi yang tinggi. Dari
penerapan CMS hasil yang dapat diperoleh
adalah pengurangan jarak perpindahan
material, pengurangan pada product
handling, work in process, level persediaan
serta lead time. Tata letak pabrik yang lebih
baik akan meningkatkan efisiensi dan
efektivitas
perusahaan
(Susetyo,
Simanjuntak, & Ramos, 2010)
Oleh karena itu tata letak dinamis
merupakan salah satu hal yang menarik
untuk dilakukan penelitian dibandingkan
dengan tata letak statis karena saat ini
perusahaan
cenderung
melakukan
perubahan-perubahan pada bagian produksi
seperti peningkatan volume produksi,
perubahan karakteristik pada produk dan
penambahan jenis produk baru yang akan
mengakibatkan perubahan pada tata letak
bagian produksi. Permasalahan ini dapat
diselesaikan dengan melakukan trade-off
antara peningkatan ongkos perpindahan
material dengan ongkos pengaturan ulang
tata letak mesin yang diharapkan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat
dirumuskan bahwa permasalahan yang
menjadi pokok penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana mendapatkan solusi terbaik
dengan membandingkan tiga metode
untuk mengelompokkan mesin/part ke
dalam sel manufaktur.
2. Bagaimana merancang tata letak sel
dinamis pada masa yang akan datang
dengan
mempertimbangkan
peningkatan volume produksi dan
penambahan jenis produk baru.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Memperoleh solusi terbaik dari
perbandingan
tiga
metode
pengelompokan mesin/part ke dalam sel
manufaktur.
2. Memperoleh rancangan tata letak sel
dinamis pada masa yang akan datang
dengan
mempertimbangkan
peningkatan volume produksi dan
penambahan jenis produk.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah
mengetahui karakteristik beberapa metode
pengelompokan mesin/part ke dalam sel
manufaktur
dalam
menyelesaikan
permasalahan tata letak sel dinamis. Bagi
industri rancangan tata letak sel dinamis
yang dihasilkan diharapkan mampu
mengurangi biaya produksi, penghematan
dalam material handling, efisien dalam
aliran material, yang pada akhirnya mampu
bersaing secara global.
1.5 Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian dibutuhkan agar
persoalan yang dibahas pada penelitian ini
lebih terarah dan tidak terlalu meluas.
Adapun asumsi pada penelitian ini adalah:
1. Usulan rancangan tata letak mesin
berdasarkan tata letak mesin yang sudah
ada
2. Bangunan tiap departemen berbentuk
kubus atau persegi panjang
3. Fasilitas ditempatkan pada sepanjang
garis lurus yang berarti pengurutan dan
penempatan mesin dilakukan hanya
untuk tata letak mesin dalam sebuah sel
dengan struktur single-row.
2
4. Orientasi
mesin
diketahui
dan
diposisikan dengan sisi panjangnya
secara paralel.
5. Tidak terdapat pembatas bentuk
bangunan di mana mesin akan
dialokasikan
6. Tidak terdapat perubahan jenis produk,
volume dan proses produksi selama
waktu perencanaan.
7. Perubahan yang terkait adalah mengenai
perubahan jenis produk baru di luar
waktu perencanaan.
8. Perubahan ini bersifat deterministik
artinya perubahan-perubahan yang
terjadi pada masa yang akan datang telah
diketahui selama selang waktu tertentu.
Perubahannya meliputi peningkatan
volume produk untuk setiap komponen
dan penambahan jenis produk baru
masing-masing 1 per periode selama
panjang perencanaan yaitu 8 periode.
9. Biaya pengaturan ulang tata letak
bernilai tetap untuk setiap periode dan
sama untuk setiap mesin.
2. LANDASAN TEORI
2.1 Group Technology
Teknologi kelompok merupakan alat yang
dapat
membantu
meningkatkan
produktivitas serta memberi dampak
penting dalam perkembangan system
manufaktur selular.
PF-1
PF-2
PF-4
PF-3
Part before grouping
Grouping parts
Gambar 1. Pengelompokan komponen ke
dalam famili part
Sumber : Kusiak, Andrew, 1990
Konsep teknologi kelompok dibuat oleh
Mitrofanov dan pertama kali diperkenalkan
oleh Miltrofanov pada tahun 1966
kemudian dikembangkan oleh Nurbidge
tahun 1971. Konsep teknologi kelompok
muncul pada penurunan setup, batch size.
Teknologi kelompok mencoba untuk
menahan fleksibilitas job shop dengan
produktivitas tinggi pada flow shop, hal ini
dibutuhkan pada mesin tunggal.
2.3 Direct Clustering Algorithm (DCA)
Salah satu metode yang berbasis
pengurutan adalah Direct Clustering
Algorithm. Algoritma ini pertama kali
dikembangkan oleh Chan dan Milner
(1982,
kemudian
diperbaiki
oleh
Wemmerlov (1984) menyediakan koreksi
pada original algoritma untuk mendapatkan
revisi algoritma yang diinginkan. DCA ini
merupakan algoritma pengelompokan
dimana kondisi pada matriks awal ini masih
berupa
matriks
partially.
Dengan
menggunakan DCA diharapkan dapat
memperoleh hasil akhir dengan matriks
mutually.
2.4 Algoritma Rank Order Clustering
(ROC)
Metode cluster berbasis pada pengurutan
baris dan kolom dari matriks keterkaitan
mesin-part telah dipelajari banyak orang,
diantaranya algoritma Rank order cluster
(ROC) yang merupakan matriks dimana
cluster bisa diidentifikasi secara visual.
Algoritma ROC menggambarkan binary
value untuk setiap baris dan kolom,
pengaturan ulang baris dan kolom dalam
penurunan order dari binary value
kemudian mengidentifikasi kelompok
mesin/part.
2.5 Bond Energy Algorithm (BEA)
Bond Energy Algorithm (BEA) merupakan
heuristik
yang
dilakukan
untuk
memaksimalkan jumlah bond energy setiap
elemen mesin pada bagian mesin
processing indikator matriks. Bond energy
dilakukan sehingga matriks dengan
kelompok ataupun diagonal blok dari 1s
dapat diperoleh bond energy yang besar
dibandingakan dengan matriks yang sama
dengan baris dan kolom yang diatur,
sehingga 1s didistribusi uniform melalui
matrik. Bond energy untuk elemen garis ij
3
melalui aij [ai.j + ai.j-1 + ai+1j + ai-1j].
BEA dilakukan untuk memaksimalkan
jumlah bond energy keseluruhan baris dan
kolom permutasi dari bagian processing
indikator matriks aij (Kusiak, 1990).
2.2 Performance Measurement
Untuk membandingkan kualitas solusi dari
algoritma yang berbeda, maka digunakan 2
formula untuk mengidentifikasi
part
family dan machine cell (Singh &
Rajamani, 1996).
1. Grouping Efficiency (h)
Grouping efficiency adalah ukuran yang
pertama
kali
digunakan
untuk
mengevaluasi hasil final yang diinginkan
dengan algoritma yang berbeda. Kelebihan
dari solusi ini adalah bergantung pada
kegunaan mesin, baik di dalam sel maupun
di luar sel.
Formula dari grouping efficiency ini adalah
sebagai berikut :
h = q.h1 + (1 – q) h2
dimana :
h1 = !
h2 =
!" # !"%&'
" # !"
%&'
( !) *+
𝑛
𝑖𝑛
= 𝑛1𝑖𝑛
0.2 # !" # !) *+
0.2 # !" # !) *+ ( !" %&'
=
!) %&'
!%&'
Dengan notasi :
m
= jumlah mesin
p
= jumlah komponen
q
= faktor pembobotan (0,5)
n1
= angka 1 di dalam incidence matrix
n0
= angka 0 di dalam incidence matrix
nin
= jumlah elemen di dalam sel
out
n
= jumlah elemen di luar sel
n1in
= angka 1 di dalam sel
n1out = angka 1 di luar sel
n0in
= angka 0 di dalam sel
noout = angka 0 di luar sel
2. Grouping Efficacy (t)
Digunakan untuk meramalkan perbedaan
terkecil dalam grouping efficacy antara
struktur matriks yang baik dan buruk.
Perubahan di dalam exceptional element
mempunyai pengaruh yang lebih besar
daripada perubahan poin dalam blok
diagonal. Akhirnya, poin dalam blok
diagonal dapat berkurang secara signifikan.
Formula dari grouping efficacy adalah
sebagai berikut (Singh & Rajamani, 1996).
τ=
3 # 34
3 ( 35
dimana:
e = jumlah angka 1 pada incidence
matrix
ee = angka 1 di luar blok diagonal
(exceptional element)
ev = angka 0 di dalam blok diagonal
(voids element)
2.3 Dynamic Modified Spanning Tree
(DMoST)
Algoritma ini pada dasarnya merupakan
penggabungan dari algoritma Modified
Spanning Tree untuk pengurutan mesin ke
dalam tata letak dengan struktur single-row
dengan algoritma Silver-Meal (S-M) untuk
penentuan panjang perencanaan time
window termasuk penentuan ongkos total
untuk tata letak yang dihasilkan.
Pada algoritma dynamic modified spanning
tree (DMoST), tata letak berstruktur singlerow yang dihasilkan mempertimbangkan
adanya perubahan-perubahan terhadap
routing produk pada periode mendatang.
Agar dapat mengakomodasikan perubahanperubahan tersebut, maka pada algoritma
MST dinamis ini ditambahkan metode
penentuan panjang perencanaan time
window untuk memberikan informasi
mengenai data aliran produksi yang
dinamis-deterministik sepanjang periode
perencanaan.
Perubahan-perubahan
tersebut akan diimplementasikan ke dalam
suatu rencana kejadian atau skenario
hipotetis untuk mengetahui performansi
algoritma DMST yang akan dirancang.
Hubungan dengan atribut-atribut yang lain
adalah sebagai berikut: semakin kecil
panjang perencanaan time window, yang
berarti
semakin
sering
melakukan
pengaturan ulang tata letak, akan
menurunkan biaya pemindahan bahan,
tetapi menambah biaya pengaturan ulang
tata letak. Sebaliknya, semakin besar
panjang perencanaan time window akan
4
mengurangi frekuensi pengaturan ulang
tata letak, yang berarti mengurangi biaya
pengaturan ulang tata letak, tetapi
mengakibatkan
meningkatnya
biaya
pemindahan bahan. Untuk itu perlu dicari
panjang perencanaan time window yang
tepat yang dapat meminimalkan biaya total
pemindahan
bahan.
Untuk
lebih
menjelaskan hubungan tersebut dapat
dilihat pada gambar berikut.
4. HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
4.1 Ongkos Material Handling Layout
Awal
Tabel 1 Data alat angkut dan tenaga kerja
layout awal
Alat angkut
Harga hand truck/unit
Rp 350.000
Nilai sisa (10%)
Rp 35.000
Umur ekonomis
6 tahun
Kapasitas angkut
150 kg
Jumlah
7 unit
Total jarak material handling
Tenaga kerja
Rp 30.000
Upah/hari
8 jam
Jam kerja
24 hari
Hari kerja/bulan
288 hari
Hari kerja/tahun
2 orang
Jumlah
1.341 m
1. Perhitungan depresiasi hand truck
dengan metode garis lurus
=
(ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑙𝑖 𝑎𝑙𝑎𝑡 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑎) 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑙𝑎𝑡
𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑒𝑘𝑜𝑛𝑜𝑚𝑖𝑠 𝑥 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
(350.000 − 35.000) 𝑥 7
6 𝑥 12
= 𝑅𝑝 30.625 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
=
Gambar 2. Hubungan antara atribut-atribut tata
letak mesin dinamis
Sumber: (Yogaswara, 2001)
3. USULAN PEMECAHAN
MASALAH
Dalam penelitian ini sebuah model
pemecahan masalah sangat diperlukan
untuk dapat memberikan gambaran secara
jelas
mengenai
langkah-langkah
pemecahan masalah yang akan dilakukan.
Berikut adalah flowchart pemecahan
masalah tata letak sel dinamis:
2. Perhitungan upah
pengangkutan
tenaga
kerja
= 𝑢𝑝𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
𝑥 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
= 𝑅𝑝 30.000 𝑥 2 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑥 24 ℎ𝑎𝑟𝑖
= 𝑅𝑝 1.440.000 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
3. Perhitungan total biaya pemindahan
material
= 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 + 𝑢𝑝𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
= 𝑅𝑝 30.625 + 𝑅𝑝 1.440.000
= 𝑅𝑝 1.470.625 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
4. Perhitungan
biaya
pemindahan
material/meter
=
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎𝑙
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎𝑙 ℎ𝑎𝑛𝑑𝑙𝑖𝑛𝑔
=
𝑅𝑝 1.470.625
1.341 𝑚
= 𝑅𝑝 1.097 𝑝𝑒𝑟 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑎𝑛
4.2 Incidence Matrix
Hasil dari incidence matrix dapat dilihat
pada Tabel 2 berikut.
Gambar 3. Model pemecahan masalah
5
Tabel 2. Production flow analysis
M/P
1
2
3
4
5
6
7
1
1
1
1
1
0
0
0
2
1
1
0
1
0
0
0
3
1
0
0
1
0
0
0
4
1
1
0
1
1
1
0
5
1
0
0
0
1
1
0
6
1
1
0
1
0
0
0
7
1
1
1
0
0
0
1
8
1
0
0
1
1
0
0
9
0
0
1
0
0
0
1
4.3 Pembentukan Sel Manufaktur
Digunakan beberapa algoritma agar dapat
dimunculkan beberapa alternatif usulan
pembentukan
sel
manufakur
yang
kemudian dipilih alternatif terbaik dengan
indikator yang telah ditetapkan.
4.2.1 Direct
Clustering
Algorithm
(DCA)
Hasil akhir pengelompokan mesin/part
dengan DCA dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil akhir DCA
M/P 4 1 7 2 5 6 8 3 9
1
1 1 1 1 1 1 1 1 0
4
1 1 0 1 0 1 1 1 0
2
1 1 1 1 0 1 0 0 0
3
0 1 1 0 0 0 0 0 1
5
1 0 0 0 1 0 1 0 0
6
1 0 0 0 1 0 0 0 0
7
0 0 1 0 0 0 0 0 1
Hasil akhir matrik DCA mengelompokkan
mesin ke dalam 2 sel. Sel 1 terdiri atas
mesin (1, 4, 2, 3, 5, dan 6) dan komponen
(4, 1, 7, 2, 5, 6, 8, dan 3). Sel 2 terdiri atas
mesin 7 dan komponen 9.
4.2.2 Algoritma Rank Order Clustering
(ROC)
Tabel 4. Hasil akhir ROC
M/P
1
4
2
3
5
6
7
1
1
1
1
1
0
0
0
4
1
1
1
0
1
1
0
2
1
1
1
0
0
0
0
6
1
1
1
0
0
0
0
8
1
1
0
0
1
0
0
3
1
1
0
0
0
0
0
7
1
0
1
1
0
0
1
5
1
0
0
0
1
1
0
9
0
0
0
1
0
0
1
Hasil akhir matrik ROC membentuk 2 sel,
sel 1 terdiri dari mesin (1, 4, 2) dengan
komponen (1, 4, 2, 6, 8, 3). Sel 2 terdiri dari
mesin (3, 5, 6, 7) dengan komponen (7, 5,
9).
4.2.3 Bond Energy Algorithm (BEA)
Tabel 5. Hasil akhir BEA
M/P
7
3
2
1
4
5
6
9
1
1
0
0
0
0
0
7
1
1
1
1
0
0
0
1
0
1
1
1
1
0
0
2
0
0
1
1
1
0
0
4
0
0
1
1
1
1
1
6
0
0
1
1
1
0
0
3
0
0
0
1
1
0
0
8
0
0
0
1
1
1
0
5
0
0
0
1
0
1
1
Hasil akhir matrik BEA membentuk 2 sel,
sel 1 terdiri dari mesin (7, 3, 2) dengan
komponen (9, 7, 1, 2, 4). Sel 2 terdiri dari
mesin (1, 4, 5, 6) dengan komponen (4, 6,
3, 8, 5).
4.4 Performance Measurement
4.5 Grouping Efficiency (h)
Contoh perhitungan DCA:
h
= 0,5𝑥0,551 + (1 − 0,5)𝑥0,857
= 0,704
h1
=
WX#W
WY#W(WW
=
WZ
[X
= 0,551
h2
=
\]#WX#WW
\]#WX#WW(W
=
^W
^[
= 0,857
4.6 Grouping Efficacy (t)
Contoh perhitungan DCA:
τ
=
WX#W
WX ( WW
= 0,529
Perbandingan ini dilakukan agar terlihat
dari ketiga metode tersebut manakah yang
memiliki kualitas hasil yang paling baik.
6
= 𝑹𝒑 𝟏. 𝟑𝟎𝟏. 𝟎𝟒𝟐 𝒑𝒆𝒓 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏
Tabel 6. Perbandingan performance
measurement
DCA 1
0,704
0,529
ROC 1
0,761
0,595
BEA 1
0,731
0,564
Performance Measurement
56%
BEA 1
73%
60%
ROC 1
53%
DCA 1
𝛕
76%
70%
𝛈
Gambar 4. Grafik Perbandingan performance
measurement
Berdasarkan tabel di atas metode yang
dipilih untuk pembentukan sel manufaktur
adalah metode ROC yang membentuk 2 sel,
yaitu sel 1 terdiri dari mesin (1, 4, 2) dengan
komponen (1, 4, 2, 6, 8, 3). Sel 2 terdiri dari
mesin (3, 5, 6, 7) dengan komponen (7, 5,
9) seperti pada tabel di bawah.
Tabel 7. Urutan sel mesin/komponen ROC
Sel
Mesin
Komponen
1
1, 4, 2
1, 4, 2, 6, 8, 3
2
3, 5, 6, 7
7, 5, 9
4.7 Ongkos Material Handling Layout
Usulan
Untuk layout usulan dilakukan perhitungan
yang hampir sama dengan perhitungan
ongkos material handling layout awal.
Berikut adalah biaya pemindahan material
dari masing-masing usulan.
1.
Biaya pemindahan material untuk
layout usulan alternatif 1 adalah
sebesar:
= 𝑅𝑝 1097 𝑥 1209 𝑚
= 𝑹𝒑 𝟏. 𝟑𝟐𝟔. 𝟐𝟕𝟑 𝒑𝒆𝒓 𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏
2. Biaya pemindahan material untuk
layout usulan alternatif 2 adalah
sebesar:
= 𝑅𝑝 1097𝑥 1.186 𝑚
4.8 Perbandingan Ongkos Layout Awal
dan Layout Usulan
Layout awal dihitung berdasarkan tata letak
yang telah ada (existing) kemudian
diperoleh
sejumlah
ongkos
total
perpindahan material. Total jarak material
handling per harinya adalah 1.341meter
dengan biaya sebesar Rp 1.097 per meter
gerakan sehingga jika dikalikan maka
diperoleh OMH sebesar Rp 1.470.625.
Perusahaan tentunya ingin ada perbaikan
pada lantai produksi terutama untuk
meminimalisir
ongkos
perpindahan
material maka dihitunglah layout usulan.
Layout usulan terdiri dari 2 alternatif,
alternatif 1 memiliki total jarak
perpindahan material sebesar 1.209meter
dengan OMH sebesar Rp 1.325.865.
Sedangkan untuk alternatif 2 memiliki total
jarak perpindahan material sebesar
1.186meter dengan OMH Rp 1.300.642.
Dengan
demikian
dapat
dilihat
rangkumannya pada gambar berikut.
Perbandingan OMH
Ongkos material handling
PM/GT
𝛈
𝛕
Rp1.470.625
Rp1.325.865
1.341 (awal)
1.209 (alt. 1)
Jarak material handling
Rp1.300.642
1.186 (alt. 2)
Gambar 5. Grafik perbandingan OMH awal
dan usulan
Berdasarkan grafik perbandingan di atas
maka layout yang terpilih adalah layout
usulan alternatif 2.
4.9 Algoritma
Dynamic
Modified
Spanning Tree (DMoST)
Dengan menggunakan layout usulan
alternatif 2 dibuatlah skenario perubahan
produk dengan panjang perencanaan 8
periode, ongkos pengaturan ulang tata letak
sebesar 50.000.
7
4.4.1 Pengurutan Mesin dengan MST
Dari hasil perhitungan matriks bobot
kedekatan diperoleh urutan mesin dengan
menggunakan algoritma MST. Urutan
mesin didasarkan pada kedekatan antara
mesin. Hasilnya dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 10. Ongkos per periode C(k,T)
C(1,0)
50.000
C(1,1)
27.028
C(1,2)
22.172
C(1,3)
21.186
C(1,4)
22.444
C(2,0)
50.000
C(2,1)
28.167
C(2,2)
22.944
Ongkos per periode yang disajikan dalam
bentuk grafik dapat dilihat pada gambar
berikut.
Tabel 8. Urutan mesin dalam tata letak mesin
baris-tunggal
Periode
Urutan Mesin
Total OMH
Tiap
Konfigurasi
1
6-5-4-3-2-1-7
6476
2
5-6-7-3-1-4-2
4057
3
4
5
6
7
8
1-2-3-4-5-6-7
7-3-1-6-5-4-2
7-1-6-5-4-3-2
7-6-5-3-1-4-2
7-6-5-3-4-2-1
6-5-4-7-1-3-2
6230
6076
6869
4179
6334
6249
Gambar 6. Grafik ongkos per periode
4.4.2 Penentuan Time Window dengan
Algoritma Silver-Meal
Pada penentuan perencanaan time window
diperlukan beberapa informasi yang
sebelumnya telah dihitung atau ditentukan,
yaitu total ongkos pemindahan material
setiap konfigurasi per periode, ongkos
pengaturan ulang tata letak atau
rearrangement cost, hasil dari perencanaan
time window serta ongkos per periode
konfigurasi tata letak ini disajikan pada
Tabel 10 sebagai berikut.
Tabel 9. Penentuan panjang perencanaan time
window
Periode
T
OMH tiap
konfigurasi
Wk
1
1
6.476
2
3
4
5
5
6
7
8
2
3
4
5
1
2
3
4
4.057
6.230
6.076
6.869
6.869
4.179
6.334
6.249
M(T-1)Wk
M[∑(T-1)Wk]
TRC(T)
TRC(T)/T
-
-
50.000
50.000
4.057
12.459
18.227
27.476
4.179
12.668
18.747
4.057
16.516
34.742
62.218
4.179
16.847
35.594
54.057
66.516
84.742
112.218
50.000
54.179
66.847
85.594
27.028
22.172
21.186
22.444
50.000
27.089
22.282
21.398
Berdasarkan Tabel 10 di atas diperoleh
ongkos per periode C(k, T) yang dapat
dilihat pada Tabel 11 berikut.
4.4.3 Hasil Perancangan Tata Letak
Mesin Dinamis pada Sel Manufaktur
Dari
hasil
perhitungan
panjang
perencanaan time window, maka telah
diperoleh suatu rancangan tata letak sel
dinamis
dengan
mempertimbangkan
adanya perubahan-perubahan yang terjadi
sesuai dengan skenario. Berikut adalah
hasil perhitungan algoritma Silver-Meal
yang telah dirangkum pada Tabel 12.
Tabel 11. Hasil perhitungan algortima SilverMeal
1. Ongkos pemindahan bahan:
= (total OMH) x (biaya/meter gerakan)
= (33.123) x (1.097)
= 36.324.766
2. Total rearrangement cost:
= (frekuensi pengaturan ulang) x
(rearrangement cost)
= (2) x (50.000)
= 100.000
3. Total ongkos:
= (ongkos pemindahan material) +
(rearrangement cost)
= (36.324.766) + (100.000)
= 36.424.766
8
Gambar 7. Rancangan tata letak mesin dinamis
baris-tunggal
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang
telah
dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan
beberapa poin berikut.
1. Algoritma yang dipilih berdasarkan
nilai
performance
measurement
terbesar untuk memperoleh solusi
terbaik adalah rank order clustering
alternatif
1
untuk
membentuk
mesin/part ke dalam sel manufaktur
yaitu grouping efficiency (h) sebesar
76,1% dan grouping efficacy (t) sebesar
59,5%.
Perbandingan antara layout awal
dengan layout usulan rank order
clustering alternatif 1 urutan sel mesin
alternatif 2 (3-5-6-7-1-4-2) maka
diperoleh selisih jarak pemindahan
material sebesar 155meter dengan
selisih total ongkos pemindahan
material sebesar Rp 169.985.
2. Panjang time window yang dihasilkan
yaitu untuk periode 1 dan 4
menggunakan rancangan tata letak
mesin periode 2, dengan urutan mesin
5-6-7-3-1-4-2.
Sedangkan
untuk
periode 5 dan 8 menggunakan
rancangan tata letak mesin periode 6,
dengan urutan mesin 7-6-5-3-1-4-2.
Pengaturan ulang tata letak mesin
dilakukan sebanyak 2 kali pada periode
1 dan 5. Ongkos pemindahan material
sebesar 36.324.766, ongkos pengaturan
ulang tata letak sebesar 100.000
sehingga diperoleh total ongkos sebesar
36.424.766.
5.2 Saran
Untuk ke depannya dapat dilakukan
penelitian lanjutan berdasarkan penelitian
ini, dan saran yang dapat dijadikan
rekomendasi adalah:
1. Pada penelitian ini perubahanperubahan
yang
terjadi
adalah
perubahan yang bersifat deterministik
yang berarti perubahan yang akan
terjadi telah diketahui sebelumnya.
Pada penelitian ini perubahan yang
dimaksud
adalah
terjadinya
peningkatan volume produksi secara
konstan untuk setiap periode, dan
terdapat penambahan jenis produk baru
sebanyak
satu
produk
setiap
periodenya. Untuk penelitian lanjutan
akan lebih baik jika perubahanperubahan
tersebut
berdasarkan
keadaan nyata pada suatu sistem, yang
sebagian besar perubahan tersebut
bersifat probabilistik terutama pada saat
ini, sehingga hasil yang diperoleh akan
lebih cocok dengan permasalahan yang
ada pada kasus nyatanya.
2. Aliran arah pada penelitian ini
menerapkan aliran bahan dua arah
dalam lintasan mesin sel manufaktur
baris-tunggal, dapat dipertimbangkan
pemikiran mengenai aliran bahan satu
arah yang akan membuat permasalahan
menjadi lebih kompleks.
3. Asumsi-asumsi
penelitian
dapat
diminimalisir dan diubah berdasarkan
data sebenarnya sehingga penelitian
tidak akan bias dan sesuai dengan
keadaan sistem nyatanya.
9
DAFTAR PUSTAKA
Kusiak, A. (1990). Intelligent Manufacturing System. New Jersey: Prentice Hall.
Singh, N., & Rajamani, D. (1996). Cellular Manufacturing System Design, Planning and
Control (Vol. 1). London: Chapman & Hall.
Susetyo, J., Simanjuntak, R., & Ramos, J. (2010). Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas
Produksi dengan Pendekatan Group Technology dan Algoritma Blocplan untuk
Meminimasi Ongkos Material Handling.
Yogaswara, Y. (2001). Algoritma Tata Letak Mesin Dinamis Untuk Sel Manufaktur. Bandung:
Universitas Pasundan.
10
LAMPIRAN
Layout awal keseluruhan
Layout awal produksi
Layout usulan alternatif 1
Layout usulan alternatif 2
11
Download