MAKALAH SOSIAL BUDAYA DASAR KEL 11

advertisement
NORMA DAN PRAKTIK BUDAYA DALAM KEHIDUPAN
SEKSUALITAS DAN KEMAMPUAN REPRODUKSI
Disusun oleh:
Salma Dissha Nabila
Siti Haenunah
Siti Maryam
Siti Muflihat
Siti Nurpadilah
Siti Sulistia
KELOMPOK 11
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Puji dan syukur kami panjatkan kepada pencipta alam beserta isinya Allah
yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan berjuta karunia dan nikmat-Nya
sehingga penulis dapat menyusun serta menyelesaikan makalah yang berjudul
“norma dan praktik budaya dalam kehidupan seksualitas dan kemampuan
reproduksi”.
Selama proses penyusunan makalah ini penulis mendapatkan banyak
rintangan dan kesulitan. Namun berkat doa, bimbingan, motivasi, serta arahan dari
berbagai pihak, semuanya dapat penulis lewati, sehingga mampu menyelesaikan
makalah ini. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat penulis mengucapkan
rasa terima kasih dan penghargaan kepada bapak Dr. Omo Sutomo,SKM, M.Kes
selaku pembimbing dalam penulisan makalah ini. Serta rekan-rekan yang telah
memberikan motivasi serta semangat selama proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, sehingga
kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan khususnya dari Dosen
mata kuliah Sosial Budaya Dasar untuk dijadikan pedoman pada penulisan
berikutnya. Harapan kami semoga penulisan makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca umumnya dan khususnya bagi penulis. Amin..
Serang, 26 Juli 2020
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................. 1
C. Tujuan.................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Norma.................................................................................................... 3
B. Pengertian Praktik Budaya...................................................................................... 4
C. Norma dan Praktik Budaya dalam Kehidupan Seksualitas.................................. 4
D. Norma dan praktik Budaya dalam Kemampuan Reproduksi............................... 5
E. Etimologi dalam Kehidupan Seksualitas yang Menyangkut Norma dan Praktik
Budaya yang Menyimpang................................................................................... 5
F. Sejarah Homoseksual dakam Kehidupan Seksualitas yang Menyangkut Norma
dan Praktik Budaya yang Menyimpang................................................................ 6
G. Penggunaan Sinonim kata Homoseksual Kehidupan Seksualitas yang Menyangkut
Norma dan Praktik Budaya Menyimpang............................................................ 7
H. Orientasi Seksual, Identitas, Perilaku dalam Norma dan dalam Ruang Lingkup
Kehidupan Bersosial Budaya............................................................................... 7
I. Perkembangan Identitas Seksual di Ruang Lingkup Budaya Masyarakat “proses
coming-out”.......................................................................................................... 8
J. Kontruksi Sosial dan Norma Etika Homoseksual................................................. 9
K. Pengendalian terhadap Ruang Lingkup Seksual yang mencakup Norma-Norma dan
Praktik Sosial Budaya.......................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................................... 11
B. Saran..................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 12
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obsetri dan genokologi banyak berhubungan dengan masalah-masalah
kelahiran, reproduksi, penuan (aging), dan juga kematian dimana semuanya
penuh dengan dilema-dilema etik, moral, dan hukum.
Benturan etik, bentural moral, hukum menjadi dilema apabila berbenturan
dengan peradaban, ada benturan nilai, dan ada benturan norma dalam
pengertiannya, dan tidak jarang ada benturan keyakinan pada individu masingmasing atau sekelompok orang. Peristilahan awam menyebutnya sebagai benturan
budaya. Budaya dalam ikhwal kesisteman, dengan subsistemnya yang mencakup
pengetahuan, organisasi social, sistem ekonomi, system teknologi, kesenian,
system bahasa, dan sitem religi.
Kekuatan-kekuatan yang dimiliki di dalam kesisteman tersebut sangat luas
pengertiannya, yang sangat memahami akan budaya dari individu maupun
berkelompok
Dimana dibagian jaman sekarang praktik budaya dalam social banyak
melanggar norma-norma dalam social budaya dalam hukum kehidupan.
B.
Rumusan Masalah
a) Apa yang dimaksud dengan Norma?
b) Apa yang dimaksud dengan Praktik Budaya?
c) Bagaimana yang dimaksud dengan Norma dan Praktik Budaya dalam
kehidupan seksualitas?
d) Apa yang dimaksud dengan Norma dan Praktik Budaya dalam Kemampuan
Reproduksi?
e) Bagaimana yang dimaksud dengan Sejarah Homoseksual dalam Kehidupan
Seksualitas yang Menyangkut Norma dan Praktik Budaya yang Menyimpang?
f) Apa
yang
dimaksud
dengan Orientasi Seksual,Identitas, Perilaku dalam
Norma dan dalam Ruang Lingkup Kehidupan Bersosial Budaya?
1
g) Apa
yang
dimaksud
dengan PerkembanganIdentitas Seksual di
Ruang
Lingkup Budaya Masyarakat?
h) Bagaimana cara Pengendalian terhadap Ruang Lingkup Seksual yang
mencangkup Norma-Norma dan Prakik Sosial Budaya?
C.
Tujuan
a)
Untuk mengetahui pengertian Norma
b) Untuk mengetahui pengertian Praktik Budaya
c)
Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Norma dan Praktik Budaya
dalam Kehidupan Seksualitas
d) Untuk mengetahui dimaksud dengan Norma dan Praktik Budaya dalam
Kemampuan Reproduksi
e)
Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Sejarah Homoseksual dalam
Kehidupan Seksualitas yang menyangkut Norma dan Praktik Budaya yang
Menyimpang
f)
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Orientasi Seksual, Identitas,
Perilaku dalam norma dan dalam ruang Lingkup Kehidupan Bersosial
Budaya
g) Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Perkembangan Identitas
Seksual di Ruang Lingkup Budaya Masyarakat
h) Untuk mengetahui cara Pengendalian terhadap Ruang Lingkup Seksual yang
mencangkup Norma-Norma dan Prakik Sosial Budaya
2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Norma
Norma berasal dari bahasa latin, yakni norma, yang berarti penyikut atau sikusiku, suatu alat perkakas yang digunakan oleh tukang kayu. Dari sini kita dapat
mengartikan norma sebagai pedoman, ukuran, aturan atau kebiasaan. Jadi norma
ialah sesuatu yang dipakai untuk menagtur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran.
Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau keburukan suatu perbuatan.
Jadi secara terminology kita dapat mengambil kesimpulan menjadi dua macam.
Pertama, Norma menunjuk suatu teknik. Kedua, Makna tersebut lebih bersifat
normative. Norma yang kita perlukan adalah norma yang brsifat praktis, norma
yang dapat diterapkan pada perbuatan konkret.
Dengan tidak adanya norma, kehidupan manusia akan menjadi brutal.
Pernyataan tersebut dilatar belakangi oleh keinginann manusia yang tidak ingin
tingkah laku manusia bersifat senonoh. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah
norma yang lebih bersifat praktis. Memang secara bahasa norma agak bersifat
normative tetapi itu tidak menutup kemungkinan pelaksanaannya bersifat praktis.
Adapun Norma dalam kehidupan, yakni :
1.
Norma Agama :

Berasal dari Tuhan Yang Maha Esa

Tercantum dalam kitab suci setiap agama

Pelanggaran terhadap norma agama merupakan dosa

Agar setiap orang beriman dan bertakwa terhadap Tuhannya

Agar tercipta masyarakat yang agamis, tertib, tentram, rukun, damai dan
sejahtera.
2.
Norma Masyarakat/sosial :

Bersumber dari masyarakat sendiri

Pelanggaran atas norma sosial berakibat pengucilan dari masyarakat

Tujuan norma sosial supaya tercipta masyarakat yang saling menghormati dan
saling menghargai
3
3.
Norma Kesusilaan :

Berasal dari setiap manusia

Pelanggaran dari norma ini berakibat penyesalan

Dalam kehidupan sehari-hari sebaiknya setiap individu berusaha agar setiap
sikap, ucapan dan perilakunya selalu dijiwai oleh nilai-nilai atau norma
agama, kesopanan dan hukum.
4.
Norma Hukum :

Berasal dari Negara

Pelanggran atas norma ini berakibat hukuman sesuai dengan peraturan

Pelanggaran norma hukum dalam masyarakat akan memicu berbagai
kerusuhan dan perbuatan amoral yang tidak bertanggung jawab.
B.
Pengertian Praktik Budaya
Praktik budaya menurut pengertiannya secara umum adalah norma-norma
dalam kebudayaan yang harus dihormati oleh seorang individu maupun
berkelompok, dimana salah satu ketika seseorang melanggarnya maka ia akan
menerima sanksi baik itu secara halus maupun secara kasar, contohnya seperti di
kucilkan, bahkan tak di anggap dari kelompok budaya tersebut yang dapat
membuat orang tersebut di keluarkan dari budaya tersebut dan di keluarkan dari
komunitas budaya itu.
Dimana sebagian dari orang sekelompok masyarakat banyak melangar dari
norma aturan dalam kehidupan, antara lain pergaulan bebas, praktik budaya yang
kurang bermutu dimana sebagian orang banyak yang melakukan penyimpangan
seperti saling menyukai sesama jenis dalam norma-norma kehidupannya yang
dalam kenyataan dan kaidahnya melanggar norma dan hukum agama.
C.
Norma dan Praktik Budaya dalam Kehidupan Seksualitas
Norma-norma dan praktik budaya dalam kehidupan seksualitas dimana
seseorang mengalami gangguan dan keterkaitan terhadap suatu kelainan akibat
trauma, sehingga banyaknya jumlah seseorang meningkatkatkan kehidupan
seksual yang kurang di hormati di kalangan masyarakat,baik itu melalui pergaulan
4
bebas di kalangan remaja, homoseksualitas, dan bahkan kelainan kelainan
seksualitas lainnya yang banyak di langgar oleh sebagian orang.
Secara norma dan praktik kebudayaannya homoseksualitas adalah rasa
ketertarikan romantis atau seksual dalam perilaku antara individu berjenis kelamin
atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual homoseksualitas yang mengacu
pada pola berkelanjutan atau diposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang,
atau ketertarikan romantis secara eksklusif orang dari jenis kelamin yang sama,
dimana homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas
pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan
keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu.
D.
Norma dan Praktik Budaya dalam Kemampuan Reproduksi
1. Revolusi seks : seks bebas tidak untuk menghasilkan keturunan. Jika seks tidak
untuk menghasilkan keturunan, maka keturunan tidak harus didapat dari
hubungan seksual. Pemikiran ini mempertajam pemahaman manusia tentang
makna prokreasi dan seksualitas.
2. Gerakan feminisime dan hak gay : jika lelaki dan perempuan tidak saling
melengkapi dan berpengaruh secara generatif, maka bayi tidak harus hadir melalui
persatuan ovum dan sperma. Maka monogami yang diangggap sebagai tempat
ideal terjadinya prokreasi tidak akan terlalu dipandang dalam norma budaya kita.
Untuk itu, kloning akan menjadi pilihan terakhir: orang tua tunggal. Pemikiran ini
mempertajam pemahaman tentang kesetaraan gender.
3. Melalui kloning dihasilkan anak yang diinginkan. Ini menguji pemahaman umum
bahwa anak yang dilahirkan adalah anak yang diinginkan. Pemikiran semacam ini
digunakan untuk menentang aborsi dan kontrasepsi.
E.
Etimologi dalam Kehidupan Seksualitas yang Menyangkut Norma dan
Praktik Budaya yang Menyimpang
Kata homoseksual adalah hasil penggabunganbahasa Yunani dan Latin dengan
elemen pertama berasal dari bahasa Yunani homos, 'sama' (tidak terkait dengan
kata Latin homo, 'manusia', seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga
berarti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu berjenis kelamin sama,
5
termasuk
lesbianisme. Dimana
hubungan
gay
umumnya
mengacu
pada
homoseksualitas laki-laki, tetapi dapat digunakan secara luas untuk merujuk
kepada semua orangLGBT. Dalam konteks seksualitas, lesbian, hanya merujuk
pada homoseksualitas seseorang.
Banyak panduan penulisan modern di Amerika Serikat menyarankan untuk
tidak menggunakan kata homoseksual sebagai kata benda, tapi menggunakan kata
pria gay atau lesbian. Demikian pula, beberapa norma dalam kehidupan seseorang
maupun individu direkomendasikan untuk sepenuhnya menghindari penggunaan
kata homoseksual karena meimiliki sejarah yang buruk dan karna kata tersebut
hanya merujuk pada perilaku seksual seseorang (berlawan dengan perasaan
romantis) dan dengan demikian memiliki konotasi negatif.
F.
Sejarah Homoseksual dalam Kehidupan Seksualitas yang Menyangkut
Norma dan Praktik Budaya yang Menyimpang
Kemunculan istilah homoseksual pertama kali ditemukan pada tahun 1869
dalam sebuah pamflet Jerman tulisan novelis kelahiran Austria Karl-Maria
Kertbeny yang diterbitkan secara anonim, berisi perdebatan melawan hukum antisodomi Prusia.Pada tahun 1879, Gustav Jager menggunakan istilah Kertbeny
dalam bukunya, Discovery of The Soul(1880). Pada tahun 1886, Richard von
Krafft-Ebingmenggunakan
istilah
homoseksual
dan
heteroseksual
dalam
bukunya Psychopathia Sexualis. Buku Krafft-Ebing begitu populer di kalangan
baik orang awam dan kedokteran hingga istilah "heteroseksual" dan
"homoseksual" menjadi istilah yang paling luas diterima untuk orientasi seksual.
Dengan demikian, penggunaan istilah tersebut berakar dari tradisi taksonomi
kepribadian abad ke-19 yang lebih luas. Meskipun penulis awal juga
menggunakan kata sifat homoseksual untuk merujuk pada konteks sesama jenis
(seperti sekolah khusus perempuan), sekarang istilah ini digunakan secara
eksklusif dalam referensi untuk daya tarik seksual, aktivitas, dan orientasi.
Istilah homososial sekarang digunakan untuk menggambarkan konteks sesama
jenis yang tidak secara khusus bersifat seksual. Ada juga kata yang mengacu
kepada cinta sesama jenis,homofilia.
6
G.
Penggunaan Sinonim kata Homoseksual dalam Kehidupan Seksualitas
yang Menyangkut Norma dan Praktik Budaya yang Menyimpang
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki atau LSL (digunakan di
kalangan
medis
ketika
secara
khusus
membahas
aktivitas
seksual), homoerotis(mengacu pada karya seni), heterofleksibel (mengacu pada
orang yang mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual, tetapi terkadang terlibat
dalam kegiatan seksual sesama jenis), dan metroseksual(merujuk pada pria nongay dengan selera stereotipegay seperti makanan, mode, dan desain). Istilah
peyoratif
dalam
bahasa
Inggris
termasuk queer,faggot, fairy (peri), poof,
dan homo. Dimulai pada 1990-an, beberapa kata telah direklamasi sebagai katakata positif untuk pria gay dan lesbian, seperti dalam penggunaan studi
queer, teori queer, dan bahkan program televisi populer Amerika Queer Eye for
the Straight Guy. Kata homo muncul dalam banyak bahasa lainnya tanpa konotasi
penghinaan seperti dalam bahasa Inggris. Namun, seperti penghinaan etnis dan
penghinaan rasial, penyalahgunaan istilah-istilah ini masih bisa sangat ofensif,
kisaran penggunaan yang dapat diterima tergantung pada konteks dan pembicara.
Sebaliknya, gay, kata awalnya dipegang oleh pria homoseksual dan wanita
sebagai istilah positif afirmatif (seperti dalam pembebasan gay dan hak-hak gay),
telah meluas dalam penggunaan peyoratif di kalangan muda.
H. Orientasi Seksual, Identitas, Perilaku dalam Norma dan dalam Ruang
Lingkup Kehidupan Bersosial Budaya
American Psychological Association, American Psychiatric Association,
dan National Association of Social Workers menyatakan orientasi seksual "bukan
hanya karakteristik pribadi yang didefinisikan secara tersendiri. Malahan,
orientasi seksual seseorang ditentukan dengan siapa orang tersebut menemukan
hubungan yang memuaskan".
Orientasi seksual umumnya dibahas sebagai karakteristik individu, seperti
jenis kelamin biologis, identitas gender, atau usia. Perspektif ini tidak lengkap
karena orientasi seksual selalu didefinisikan dalam istilah relasional yang harus
melibatkan hubungan dengan orang lain. Tindakan seksual dan atraksi romantis
dikategorikan sebagai homoseksual atau heteroseksual sesuai dengan jenis
7
kelamin biologis individu yang terlibat di dalamnya dimana kebanyakan orang
dalam ruang lingku masyarakat umum kebanyalkan kurang dapat menerima
keadaan tersebut di sekitaran mereka, dimana sesama gender yang sama bersifat
relatif satu sama lain.
Memang
individu-individu
mengungkapkan
heteroseksualitas,
homoseksualitas, atau biseksualitas dengan tindakan atau keinginan mereka
terhadap orang lain. Hal ini mencakup tindakan-tindakan sederhana seperti
berpegangan tangan atau berciuman. Jadi, orientasi seksual secara integral terkait
dengan hubungan personal seorang individu yang dibentuk dengan individu lain
untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, ikatan, dan keintiman tampa memikirkan
social budaya dan norma – norma hukum di lingkungan mereka.
Selain perilaku seksual, ikatan ini mencakup kasih sayang fisik non-seksual
antara pasangan, tujuan dan nilai-nilai bersama, sikap saling mendukung, dan
komitmen berkelanjutan antara sesama genders walaupun melangar kaidah dan
norma-norma secara agama.
I.
Perkembangan identitas seksual Di Ruang Lingkup Budaya Masyarakat
"proses coming-out”
Dimana banyak orang yang merasakan ketertarikan kepada anggota jenis
kelamin sama memiliki fase "coming out" dalam kehidupan mereka. Umumnya,
coming out digambarkan dalam tiga fase. Fase pertama adalah fase "mengenali
diri", dimana muncul kesadaran seseorang untuk terbuka dengan suatu hubungan
bahkan mulai mencoba keluar melalui norma hukum suatu kebudayaan dengan
menggambil suatu rasiko tampa disadari ketika di mana sebagian orang mencoba
hubungan sesama jenis. Fase ini sering digambarkan sebagai coming out yang
bersifat internal. Tahap kedua melibatkan keputusan untuk terbuka kepada orang
lain, misalnya keluarga, teman, atau kolega. Tahap ketiga mencakup hidup secara
terbuka sebagai orang LGBT yang pada umumnya identitas hubungan yang
mereka jalani tidak dapat di terima oleh masyarakat sekitar, norma yang berlaku
bahkan budaya maupun agama yang mereka anut.
Di Amerika Serikat keadaan seperti ini sering di temui dengan identitas sesual
"come out" di mana, seorang remaja usia sekolah menengah atas atau kuliah
8
ketika orientasi mereka tidak diterima di masyarakat. Terkadang keluarga mereka
sendiri bahkan tidak diberitahu.
J.
Konstruksi sosial dan Norma Etika Homoseksual
Orientasi homoseksual bersifat kompleks dan multi-dimensi, beberapa
akademisi dan peneliti, terutama dalam studi Queer, berpendapat bahwa
homoseksual adalah konstruksi sejarah dan sosial.
sejarawan Michel
Foucault berpendapat
bahwa
Pada tahun 1976
homoseksualitas
sebagai
identitas yang tidak ada pada abad ke-18. Orang-orang pada masa itu berbicara
tentang "sodomi" yang mengacu kepada tindakan seksualdalam ruang lingkup
merampas hak bela diri seseorang dan moral etika, sehingga sodomi saat itu
merupakan kejahatan yang sering diabaikan oleh beberapa orang yang berprilaku
menyimpang, sehingga mereka terkadang dijatuhi hukuman berat, karena di
anggap orang yang melanggar hukum itu merupakan orang yang berperilaku
menyimpang yang kurang memahami etika, dan peraturan – peraturan terhadap
norma – norma kemanusian dan kurang dapat menghargai struktur ikatan budaya
social yang ada di suatu daerah atau negara tertentu.
K.
Pengendalian terhadap Ruang Lingkup Seksual yang mencangkup Norma
– Norma dan Prakik Sosial Budaya
1. Membuat norma – norma baru dalam luang kehidupan
Dimana dibuatnya norma – norma atau peraturan bagi setiap kelompok
masyarakat atau individu agar tidak adanya melakukan kejahatan seksual seperti
halnya kekerasan dan juga sodomi hingga menyebabkan penyelimpanagan sesual
sesama jenis semangkin meningkat dari tahun ke tahun.
2. Memperketat aturan Norma Budaya
Dimana suau budaya memulai menjelaskan mengenai penyelimpanganpenyelimpangan dan hal apa saja yang akan terjadi apabila dilakukannya
penylimpangan, dan menjelaskan juga mengenai apa yang dilarang oleh Budaya
setempat maupun Agama yang diyakini sehingga menyadarkan sebagian orang
agar menghindari penyelimpangan tersebut.
3. Rehabilitasi bagi para homoseksual
9
Dimana peran masyarakat, keluarga, orang terdekat juga seperti sahabat
maupun teman memberikan support mendalam kepada pelaku homoseksual agar
pelaku menyadari kesalaan yang telah di lakukannya sedikit demi sedikit dan
mencoba membantu menyadarkan agar belajar untuk kembali menjadi manusia
yang normal tampa melakukan adanya penyimpangan social lagi dalam hubungan
yang tidak semestinya, yang melanggar norma hukum dan melanggar dari social
budayayang telah tertanam kuat di lingkungan atau Negara itu sendiri.
10
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Homoseksualitas bukanlah penyakit kejiwaan dan bukan penyebab efek
psikologis negatif. Namun merupakan suatu Prasangka terhadap kaum biseksual
dan homoseksual yang menyebabkan efek semacam itu. Meskipun begitu banyak
sekte-sekte agama dan organisasi "mantan-gay dan lesbi" serta beberapa asosiasi
psikologi
memandang
kelainan. Namun
bahwa
bertentangan
kegiatan
dengan
homoseksual
pemahaman
adalah
dosa
umum
atau
secara
ilmiah homoseksual adalah berbagai sekte dan organisasi homoseksual adalah
sesuatu
yangmenggambarkan
bahwa
homoseksualitas yangmerupakan
"pilihan" dari suatu kaum baik itu perorangan maupun kelompok yang bersifat
melanggar norma dan kultur adat mengenai hubungan mendasar yang bersifat
normal antara wanita dan pria.
Dengan demikian disimpulkan bahwa seorang homoseksual berpemikiran
modern dan individualisme manusia, diamana mereka masing- masing
individu berusaha membentuk diri masing-masing “not only as self-made man but
also manmade selves”. Manusia tidak lagi berpikir bahwa ia semata-mata
ditentukan oleh tradisi dan nenek moyangnya.
B.
Saran
Meningkatkan komunikasi yang lancer dengan sebutan sharing dapat
membantu sebagian orang homoseksual yang menyimpang untuk dapat
menumbuhkan dan menunjukkan hasrat manusia untuk mengontrol masa
depannya dengan sebaik – baiknya dari kontrol pribadi, sehingga manusia atau
makhluk social tersebut tidak mudah untukkehilangan keterpesonaannya atas
misteri alam dan kehidupan yang dijalaninya.
11
DAFTAR PUSTAKA
http://putriiandynii.blogspot.co.id/2014/01/makalah-isbd-norma-dan-praktikbudaya.html
12
Download