Uploaded by andirosalinda2

IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA DALAM kehidupan

advertisement
IMPLEMENTASI IMAN DAN
TAQWA
DALAM KEHIDUPAN MODERN
Nama kelompok III :
Andi Rosalinda (18700119)
Sri Ayu Nabila (18700097)
Baidaol Hasanah (18700099)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya kepada kita dan tak lupa pula kita mengirim salam dan salawat
kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawakan kita suatu
ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Implementasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan
Modern” ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari berbagai sumber yang berkaitan dengan agama
islam serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan agama islam, tak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar matakuliah Pendidikan Agama
Islam atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada
rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya
makalah ini.
Kami harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai implementasi
iman dan takwa dalam kehidupan modern, khususnya bagi penulis. Memang
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik
Penulis
Kelompok III
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Implementasi Iman Dan Taqwa Dalam Kehidupan Modern
BAB II
MASALAH
2.1 Rumusan Masalah
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Problematika tantangan dan resiko dalam kehidupan modern
2.2 Peran iman dan takwa dalam menjawab problema tantangan kehidupan
modern
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
a) 1.1 Implementasi Iman Dan Taqwa Dalam Kehidupan Modern
Menurut bahasa iman berarti membenarkan, sedangkan menurut syara’
berarti membenarkan denagn hati, dalam arti menerima dan tunduk kepada hal-hal
yang diketahui berasal dari Nabi Muhamad. Dengan demikian Iman kepada Allah
berati iman atau percaya bahwa Allah satu-satunya dzat yang mencipta,
memelihara, menguasai, dan mengatur alam semesta. Iman kepada keesaan Allah
juga berarti iman atau yakin bahwa hanya kepada Allah-lah manusia harus
betuhan, beribdah memohon pertolongan, tunduk, patuh, dan merendahkan diri.
Selain itu iman kepada keesaan Allah juga berarti mempercayai bahwa Allah-lah
yang memiliki segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari sifat tercela atau dari
segala
kekurangan.
Iman tidak cukup disimpan didalam hati. Iman harus dilahirkan dalam
bentuk perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal sholeh atau perilaku yang
baik. Disamping itu, pengertian tersebut juga membawa makna bahwa iman tidak
sekedar beriman kepada apa yang disebutkan di dalam “rukun iman” saja, yaitu
iamn kepada Allah, iamn kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada hari akhir,
dan iamn kepada qadha’ dan qadar, tetapi lebih dari itu, cakupan iman meliputi
pengimanan terhadap segala hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad selain rukun
iman tersebut. Misalnya, iman terhadap kewajiban sholat, zakat, puasa, haji, dan
juga
tentang
halal
haram.
Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap
muslim. Signifikansi taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai
4
spesifikasi pembeda dengan umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena
taqwa adalah refleksi iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak
ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan
keimanannya dengan sikap taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya
dalam arti sederhana beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena arti
iman itu sendiri secara sederhana adalah “percaya”, maka taqwa adalah satusatunya sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim
yang beriman dan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak
merealisasikan keimanannya dengan bertaqwa dalam arti menjalankan segala
perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat
dengan segala aturan agamanya dikarenakan kesibukannya atau asumsi pribadinya
ang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai pembatasan berkehendak yang
itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi agamanya itu
hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka orang
semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah
dari binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia
dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa
sebagai wujud implementasi dari keimanannya.
Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang
aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang
muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan
menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan
sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupan modern yang serba
mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalam kehidupan
umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapi
sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurang
mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam
terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu
itu yang cukup mendukung kualitas iman seseorang. Olah karenanya dirasa perlu
mewujudkan satu konsep khusus mengenai pelatihan individu muslim menuju
sikap taqwa sebagai tongkat penuntun yang dapat digunakan (dipahami) muslim
siapapun. Karena realitas membuktikan bahwa sosialisasi taqwa sekarang, baik
yang berbentuk syariat seperti puasa dan lain-lain atau bentuk normatif seperti
himbauan khatib dan lain-lain terlihat kurang mengena, ini dikarenakan beberapa
faktor, diantaranya yang pertama muslim yang bersangkutan belum paham betul
makna dari taqwa itu sendiri, sehingga membuatnya enggan untuk memulai, dan
yang kedua ketidaktahuannya tentang bagaimana, darimana dan kapan dia harus
mulai merilis sikap taqwa, kemudian yang ketiga kondisi sosial dimana dia hidup
tidak mendukung dirinya dalam membangun sikap taqwa, seperti saat sekarang
kehidupan yang serba bisa dan cenderung serba boleh. Oleh karenanya setiap
individu muslim harus paham pos – pos alternatif yang harus dilaluinya,
diantaranya yang paling awal dan utama adalah gadhul bashar (memalingkan
pandangan), karena pandangan (dalam arti mata dan telinga) adalah awal dari
segala tindakan, penglihatan atau pendengaran yang ditangkap oleh panca indera
kemudian diteruskan ke otak lalu direfleksikan oleh anggota tubuh dan akhirnya
berimbas ke hati sebagai tempat bersemayam taqwa, jika penglihatan atau
pendengaran tersebut bersifat negatif dalam arti sesuatu yang dilarang agama
maka akan membuat hati menjadi kotor, jika hati sudah kotor maka pikiran (akal)
juga ikut kotor, dan ini berakibat pada aktualisasi kehidupan nyata, dan jika
prilaku, pikiran dan hati sudah kotor tentu akan sulit mencapai sikap taqwa. Oleh
karenanya dalam situasi yang serba bisa dan sangat plural ini dirasa perlu menjaga
pandangan (dalam arti mata dan telinga) dari hal – hal yang dilarang agama
sebagai cara awal dan utama dalam mendidik diri menjadi muslim yang bertaqwa.
Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang
agama, menjadikan seorang muslim memiliki kesempatan besar dalam
memperoleh taqwa. Karena taqwa adalah sebaik–baik bekal yang harus kita
peroleh dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana dan pasti hancur ini, untuk
dibawa kepada kehidupan akhirat yang kekal dan pasti adanya. Adanya kematian
sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya kehidupan
setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam
kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah
dengan mulai melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta
6
melatih diri untuk terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala
laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Imam
Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah “imtitsalu
awamrillahi wajtinabinnawahih”, menjalankan segala perintah Allah dan
menjauhi segala laranganya.
Di antara cirri-ciri orang yang bertaqwa kepada Allah itu adalah :
1. Gemar menginfaqkan hartab bendanya dijalan Allah,baik dalam waktu
sempit maupun lapang.
2.Mampu menahan diri dari sifat marah.
3. Selalu memaafkan orang lain yang telah membuat salah kepadanya (
tidak pendendam).
4. Tatkala terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau mendzalimi diri
sendiri,ia segera ingat Allah, lalu bertaubat, memohon ampun kepada-Nya
atas dosa yang telah dilakukan.
5. Tidak meneruskan perbuatan keji itu lagi, dengan kesadaran dan
sepengetahuan dirinya.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal.(yaitu)
orang-orang
yang
mendirikan
shalat
dan
yang
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah
orang-orang
yang
beriman
dengan
sebenar-benarnya.
Mereka
akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta
rezki
(nikmat)
yang
mulia."(QS.Al
Anfal
2-4)
Dari Ayat tersebut telah jelas lah bahwa beberapa tanda-tanda orang yang
benar-benar beriman kepada Allah adalah:
1. Bila disebut nama Allah gemetarlah Hatinya
2. Apabila Dibacakan Ayat-ayat Allah bertambahlah Imannya
3. Mereka selalu bertawakal Kepada Allah
4. Mendirikan Shalat
5. Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)
itulah tanda-tanda orang yang benar-benar beriman selain tanda-tanda yang lain
yang Allah Gambarkan dalam surat Al fatihah dan surat-surat yang lainnya.
5 Tanda orang beriman :
1. Orang yang beriman adalah orang yang sejahtera dengan perintah-perintah
Allah. Sejahtera bermaksud tidak merasa berat atau susah dalam
menjalankan perintah Allah dan rasulNya. Sejahtera itu juga membawa
makna seronok dan gembira dalam menjalankan perintah-perintah Allah.
2. Orang yg beriman adalah yang sentiasa redha kepada ketentuan dan
ketetapan Allah. Orang yang apabila ditimpakan ujian dia redha dan
berusaha. Orang yang redha tetapi tidak berusaha adalah tergolong dalam
golongan org yg berputus asa.
3. Orang yg beriman juga sangat yakin kepada Allah dengan apa yang
diperintahkan olehNya. Tidak ragu-ragu walau sedikitpun dengan perintah
dan suruhannya.
4. Orang yg beriman sentiasa bertawakkal dan hanya bergantung penuh
kepada Allah. Bergantung kepada selain dari Allah adalah bersifat
8
sementara. Hanya kepada Allah datangnya setiap sesuatu dan hanya
kepada Allah kembalinya setiap sesuatu. Tiada apa yang berlaku tanpa
izinNya.
5. Orang yang bersabar dengan segala masalah yang datang kepadanya.
Kesusahan dan kepayahan dihadapi dengan sabar.
BAB II
PERMASALAHAN
2.1 Rumusan Masalah
1.
2.
Jelaskan problematika Tantangan dan Resiko dalam Kehidupan Modern
Jelaskan peran iman dan taqwa dalam menjawab problem dan tantangan
kehidupan modern.
10
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Problematika tantangan dan resiko dalam kehidupan modern
Problem-problem manusia dalam kehidupan modern adalah munculnya
dampak negatif (residu), mulai dari berbagai penemuan teknologi yang
berdampak terjadinya pencemaran lingkungan, rusaknya habitat hewan maupun
tumbuhan, munculnya beberapa penyakit, sehingga belum lagi dalam peningkatan
yang makro yaitu berlobangnya lapisan ozon dan penasan global akibat akibat
rumah kaca.
Tidakkah kita belajar dari pohon, daun yang gugur karena sudah tua
apakah tidak menjadikan residu yang merugikan tetapi justru bermanfaat bagi
kesuburan pohon itu sendiri, ini menyiratkan perlunya teknologi yang ramah
lingkungan dan meminimalisasi dampak lingkungan yang di timbulkannya.
manusia juga tidak melihat di dalam kegelapan seperti kelelawar, namun akal
manusia yang dapat menciptakan lampu, untuk mengatasi kelemahan itu.
Manusia tidak mampu lari seperti kuda dan mengangkat benda-benda berat
seperti sekuat gajah, namun akal manusia telah menciptakan alat yang melebihi
kecepatan kuda dan sekuat gajah. Kelebihi manusia dengan mahkluk lain adalah
dari Akalnya. Sedangkan dalam bidang ekonomi kapitalisme-kapitalisme yang
telah melahirkan manusia yang konsumtif, meterialistik dan ekspoloitatif.
Problem dalam Hal Ekonomi
Semakin lama manusia semakin menganggap bahwa dirinya merupakan
homo economicus, yaitu merupakan makhluk yang memenuhi kebutuhan
hidupnya dan melupakan dirinya sebagai homo religious yang erat dengan kaidah
– kaidah moral, Setuju?
Ekonomi kapitalisme materialisme yang menyatakan bahwa berkorban
sekecil – kecilnya dengan menghasilkan keuntungan yang sebesar – besarnya
telah membuat manusia menjadi makhluk konsumtif yang egois dan serakah (saya
sendiri mengakuinya).
Problem dalam Bidang Moral
Dalam hal ini bersamaan dengan maraknya globalisasi masuklah sedikit
demi sedikit yang lama – lama menjadi bukit, yaitu faham liberalisme dalam
bentuk kebebasan berekspresi melalui teknologi informasi hasil rekaan manusia
sendiri.
Pada hakikatnya Globalisasi adalah sama halnya dengan Westernisasi,
setuju? Ini tidak lain hanyalah kata lain dari penanaman nilai – nilai Barat yang
menginginkan lepasnya ikatan – ikatan nilai moralitas agama yang menyebabkan
manusia Indonesia pada khususnya selalu “berkiblat” kepada dunia Barat dan
menjadikannya sebagai suatu symbol dan tolok ukur suatu kemajuan.
Problem dalam Bidang Agama
Tantangan agama dalam kehidupan modern ini lebih dihadapkan kepada
faham Sekulerisme yang menyatakan bahwa urusan dunia hendaknya dipisahkan
dari urusan agama. Hal yang demikian akan menimbulkan apa yang disebut
dengan split personality di mana seseorang bisa berkepribadian ganda. Misal pada
saat yang sama seorang yang rajin beribadah juga bisa menjadi seorang koruptor.
Problem dalam Bidang Keilmuan
Masalah yang paling kritis dalam bidang keilmuan adalah pada corak
kepemikirannya yang pada kehidupan modern ini adalah menganut faham
positivisme dimana tolok ukur kebenaran yang rasional, empiris, eksperimental,
dan terukur lebih ditekankan. Dengan kata lain sesuatu dikatakan benar apabila
telah memenuhi criteria ini. Tentu apabila direnungkan kembali hal ini tidak
seluruhnya dapat digunakan untuk menguji kebenaran agama yang kadang kala
12
kita harus menerima kebenarannya dengan menggunakan keimanan yang tidak
begitu poluler di kalangan ilmuwan – ilmuwan karena keterbatasan rasio manusia
dalam memahaminya. Anda merasakan itu?
Perbedaan metodologi yang lain bahwa dalam keilmuan dikenal istilah
falsifikasi. Apa itu? Artinya setiap saat kebenaran yang sudah diterima dapat
gugur ketika ada penemuan baru yang lebih akurat. Sangat jauh dan bertolak
belakang dengan bidang keagamaan.
Jika anda tidak salah lihat, maka akan banyak anda temukan banyak
ilmuwan yang telah menganut faham atheis (tidak percaya adanya tuhan) akibat
dari masalah – masalah dalam bidang keilmuan yang telah tersebut di atas.
Kalau bersama – sama kita telah melihat sebagian kecil dari beberapa
bagian besar problematika dalam kehidupan kita saat ini, apa yang sebaiknya
menjadi solusi bersama dalam meningkatkan ketahanan tubuh Negara kita
terhadap prediksi – prediksi kehancuran moral bangsa Indonesia akibat dari
kekurangselektifan kita terhadap apa yang namanya Westernisasi?
2.2
Peran iman dan takwa dalam menjawab problema tantangan
kehidupan modern
Peran iman dan taqwa di dalam problem dan tantangan kehidupan
moderen adalah suatu masalah besar yang harus di hadapi oleh setiap orang
(Manusia) karna seperti yang kita lihat selama ini semakin bertambahnya Zaman
pasti akan ada perubahan! baik dalam segi moral, agama, budaya, maupun dalam
segi sosial kehidupan di dalam masyarakat. Dan yang paling utama dalam segi
agama, kepercayaan dan keyakinan sehingga dalam segi iman dan taqwapun
berkurang.
Peranan Iman dan Taqwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan
Kehidupan
Modern
Pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini
dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan
manusia.
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau
Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang
dapat mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat
mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan,
menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis
kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang
yang beriman adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak
diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut
menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di
tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah
firman Allah dalam QS. an-Nisa/4:78.
3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan
penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip,
menjual kehormatan dan bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri untuk
kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah
dalam QS. Hud/11:6.
4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan dan
kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram
(mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman
Allah surat ar-Ra’d/13:28.
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
14
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan
kepada kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah
dalam firman-Nya QS. an-Nahl/16:97.
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa
pamrih, kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen
dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan
hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162.
7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah
membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian
orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:5.
8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh
manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan
perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan,
minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh
kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak
lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh.
Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah
perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang
diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh
dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang
dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal
ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah
laku, dan akhlak manusia.
Jika karena terpengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi
perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu), seperti takut, marah, putus
asa, dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh
karena itu, orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena
penyakit
modern,
seperti
darah
tinggi,
diabetes
dan
kanker.
Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas
moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya,
tidak pernah ingat Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh
kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin
dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif
terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan
hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses
metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit,
rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu dibayangi oleh
kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan
hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi
kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup.
16
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Iman dan taqwa sangat penting dalam kehidupan modern, jika dalam
kehidupan modern yang serba canggih tidak menghiraukan lagi keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah maka akan banyak timbul problem dan tantangan yang
terjadi, baik dibidang ekonomi, social, agama, maupun keilmuan itu sendiri.
Iman dan taqwa juga mempunyai peran penting dalam kehidupan dunia
modern, dalam kehidupan modern yang serba cepat sering kali memicu timbulnya
stress dan berbagai penyakit. Iman dan taqwa mempunyai peran antara lain:
1)
Iman dan taqwa melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda,
2)
Iman dan taqwa menanamkan semangat berani menghadap maut
3)
Iman dan taqwa menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
4)
Iman dan taqwa memberikan ketenteraman jiwa.
5)
Iman dan taqwa mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
6)
Iman dan taqwa melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
7)
Iman dan taqwa memberi keberuntungan
8)
Iman mencegah penyakit
DAFTAR PUSTAKA
Imtihana,aida.dkk.2009.Buku Ajar Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum.Palembang:Universitas
Sriwijaya.
Labay,Mawardi.2000.Zikir dan Do’a Iman Pengaman Dunia.Jakarta:Al Mawardi
Prima
http://google.search./implementasi.imandantaqwa .com
18
Download