Uploaded by lala

Rduali

advertisement
See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/313160673
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERSEDIAAN OBAT PADA
GUDANG FARMASI KLINIK UMUM RAWAT INAP BUDI SEHAT PURWOREJO
Conference Paper · May 2014
CITATIONS
READS
0
3,822
3 authors, including:
Yusuf Priyandari
Wakhid Ahmad Jauhari
Universitas Sebelas Maret
Universitas Sebelas Maret
29 PUBLICATIONS 48 CITATIONS
124 PUBLICATIONS 279 CITATIONS
SEE PROFILE
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
Modelling humanitarian logistics View project
Analysing the impact of carbon cap regulation in stochastic vendor buyer model View project
All content following this page was uploaded by Yusuf Priyandari on 01 February 2017.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
SEE PROFILE
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERSEDIAAN OBAT
PADA GUDANG FARMASI KLINIK UMUM RAWAT INAP BUDI SEHAT
PURWOREJO
Ringgo Ismoyo Buwono1, Yusuf Priyandari 2, Wakhid Ahmad Jauhari3
1,2,3
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126
Telp. 0271-6322110
Email: [email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAKS
Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat adalah salah satu perusahaan yang memberikan jasa pelayanan
kesehatan yang mencakup pelayanan medik dan pelayanan perawatan. Dalam fungsinya sebagai
penyedia pelayanan medik, Klinik ini memiliki pelayanan farmasi. Dalam melakukan kegiatan farmasi,
perusahaan masih mengalami beberapa kendala berkaitan dengan pengelolaan persediaan. Ditemukan
beberapa jenis obat yang mengalami kelebihan persediaan sehingga berdampak pada kadaluarsa dan
beberapa jenis obat mengalami kekosongan sehingga menghambat pelayanan terhadap pasien.
Kelebihan dan kekosongan tersebut disebabkan karena perusahaan masih belum mampu mengendalikan
dan merencanakan persediaan obatnya. Di gudang farmasi, masalah pengendalian dan perencanaan
terjadi pada proses pencatatan, proses penerimaan obat, proses pengambilan obat untuk pasien dan
proses pemesanan obat ke supplier. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki proses
pengendalian dan perencanaan obatdengan ditunjang aplikasi sistem infomasi manajemen
persediaan.Aplikasi ini dapat merekap data obat, data resep rawat inap dan resep rawat jalan, data form
mutasi rawat inap dan form mutasi rawat jalan, data obat retur, data supplier, meramalkan pemakaian
obat, mencetak surat permintaan dan mencetak laporan nilai persediaan. Semua fungsi aplikasi tersebut
akan membantu perusahaan dalam proses pencatatan, pengendalian dan perencanaan obat, sehingga
informasi yang dihasilkan dapat lebih cepat, akurat dan efisien.
Kata kunci: obat, perencanaan dan pengendalian persediaan, sistem informasi
PENDAHULUAN
Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat adalah salah satu perusahaan yang memberikan jasa
pelayanan kesehatan yang terletak di Jl. WR. Supratman 183, Cangkrep Lor, Purworejo.Pelayanan
kesehatan yang diberikan mencakup pelayanan medik dan pelayanan perawatan. Dalam fungsinya
sebagai penyedia pelayanan medik, Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat memiliki pelayanan
farmasi.Pelayanan tersebut memiliki peranan penting bagi klinik karena hampir semua pelayanan
kesehatan menggunakan perbekalan farmasi. Selain itu pelayanan farmasi menjadi sumber pemasukan
terbesar bagi klinik. Untuk melakukan pelayanan farmasi, diperlukan gudang farmasi. Berdasarkan hasil
observasi awal, persediaan obat-obatan di gudang farmasi belum dikelola dengan baik sehingga
mengalami permasalahan dalam melakukan kegiatan farmasi. Dari kegiatan farmasi yang dilakukan
perusahaan, ditemukan beberapa jenis obat yang mengalami kelebihan persediaan hingga berdampak
pada kadaluarsadan beberapa jenis obat mengalami kekosongan sehingga menghambat pelayanan
terhadap pasien. Dari hasil observasi lebih lanjut, kelebihan dan kekosongan obat diketahui karena
perusahaan belum mampu mengendalikan dan merencanakan persediaan obatnya.
Dari proses pengendalian dan perencanaan persediaan yang dilakukan, diketahui masih terdapat
beberapa permasalahan yang terjadi pada proses pencatatan di semua gudang farmasi, proses penerimaan
obat, proses pengambilan obat untuk pasien dan proses pemesanan obat. Pada proses pencatatan di semua
gudang farmasi, masalah yang ditemui yaitu pencatatan yang tidak lengkap. Tidak semua kegiatan
penerimaan dan pengeluaran obat dilakukan pencatatan. Hal tersebut menimbulkan ketidaksesuaian
informasi stok obat yang tertulis dengan stok obat sebenarnya. Pada proses penerimaan obat, masalah
yang terjadi adalah tidak jelasnya aliran penerimaan obat. Obat yang datang dari supplier dapat langsung
diterima oleh gudang farmasi rawat inap dan gudang farmasi rawat jalan tanpa masuk ke gudang farmasi
pusat terlebih dahulu. Hal ini mempersulit perusahaan dalam melakukan pengendalian persediaan.
Masalah lain yang ditemui adalah proses pengambilan obat untuk pasien, masalah yang terjadi yaitu
pengambilan dilakukan oleh beberapa orang. Hal tersebut berakibat pada tidak terkendalinya jumlah obat
yang keluar. Permasalahan yang terjadi pada proses pemesanan obat yaitu pemesanan dilakukan oleh
385
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
pemilik dan pegawai gudang farmasi dengan jumlah sesuai perkiraan masing-masing, akibatnya jumlah
obat yang dipesan tidak akurat.
Untuk mengatasi permasalah di atas, maka perlu dilakukan perbaikan proses pengendalian dan
perencanaan obat yang ditunjang dengan sistem informasi yang memadai. Sistem informasi tersebut akan
membantu perusahaan dalam proses pencatatan, pengendalian dan perencanaan persediaan obat, sehingga
informasi yang dihasilkan dapat lebih cepat, akurat dan efisien. Supaya informasi yang dihasilkan dapat
lebih cepat, akurat dan efisien, sistem informasi tersebut diintegrasikan dengan metode manajemen
persediaan EOQ atau Economic Order Quantity. Sedangkan menurut Meilani & Miftahuddin (2011),
perancangan sistem informasi manajemen persediaan dilakukan agar tidak terjadi kekurangan barang
yang terdapat di gudang karena dengan adanya perancangan sistem informasi ini bagian pusat dapat
mengetahui secara langsung jumlah persediaan yang terdapat pada masing-masing gudang, kapan barangbarang tersebut harus dipesan, dan berapa banyak jumlah barang yang harus dipesan sehingga pemesanan
barang dapat langsung dilakukan tanpa menunggu adanya permintaan barang oleh gudang-gudang
cabang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dibagi menjadi delapan tahap dengan langkah-langkah seperti yang dilakukan pada
gambar 1.
Identifikasi Sistem Awal
Analisis Kekurangan Sistem Awal
Penentuan Metode
Perencanaan dan Pengendalian Obat
Analisis Kebutuhan Sistem
Perancangan Sistem Usulan
Perancangan Database
Perancangan User Interface
Pembuatan Aplikasi
Pengujian Aplikasi
Gambar 1. Metode Penelitian
Identifikasi Sistem Awal
Pada tahap ini dilakukan identifikasi sistem awal untuk mengetahui proses bisnis pengelolaan
persediaan obat secara keseluruhan dari masing-masing gudang. Identifikasi dilakukan dengan menyusun
kerangka kerja sistem awal yang dibuat dalam bentuk rich picture.
Analisis Kekurangan Sistem Awal
Analisis kekurangan sistem dilakukan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan pada sistem
lama. Analisis kekurangan sistem ini dilakukan pada proses-proses yang terjadi pada sistem lama. Dalam
386
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
analisis ini dijelaskan pula akibat-akibat yang ditimbulkan dari kekurangan-kekurangan sistem lama
tersebut.
Analisis Kebutuhan Sistem
Analisis kebutuhan sistem dilakukan setelah melakukan identifikasi sistem awal dan analisis
kekurangan sistem. Sehingga dapat diketahui kekurangan dan permasalahan sistem lama. Fungsi analisis
kebutuhan sistem adalah menentukan kebutuhan sistem baru yang dapat mengurangi kekurangan dan
permasalahan sistem lama tersebut.
Analisis kebutuhan sistem dilakukan berdasarkan urutan analisis kebutuhan sistem yang
dikemukakan oleh Kristanto (2003). Urutan-urutan analisis kebutuhan sistem ini, yaitu: menentukan
tujuan utama (major goal), menentukan intermediate goal, menentukan minor goal, menentukan output
yang harus dihasilkan, menentukan input yang diperlukan dan menentukan operasi yang dilakukan.
Penentuan Metode Perencanaan dan Pengendalian Obat
Metode perencanaan dan pengendalian persediaan menggunakan metode EOQ (Economic Order
Quantity). Pada tahap ini dilakukan perhitungan nilai safety stock, reorder point dan EOQ (Economic
Order Quantity) pada masing-masing obat.
Perancangan Sistem Usulan
Pada tahap ini dilakukan perancangan terhadap proses bisnis pengelolaan persediaan obat.
Pembuatan rancangan kerangka kerja sistem usulan dilakukan dengan membuatrich picturesehingga
dapat diketahui bagian-bagian yang berubah dari proses bisnis awal. Selanjutnya dibuat skema kebutuhan
perangkat keras dan perangkat lunak untuk mendukung terimplementasinya sistem usulan dan dilakukan
analisis sistem usulan.
Perancangan Database
Perancangan database adalah proses untuk menentukan isi dan pengaturan data yang dibutuhkan
untuk mendukung berbagai rancangan sistem. Perancangan ini digambarkan dalam suatu Entity
Relationship Diagram (ERD) supaya dapat menjelaskan hubungan antara satu data store dengan yang lain
di dalam suatu basis data.
Perancangan User Interface
Perancangan user interface bertujuan untuk mempermudah pengoperasian program yang akan
dibuat. Perancangan digambarkan dalam bentuk icon objek yang dilengkapi dengan penjelasan kegunaan
dan tujuan dari masing-masing perintah atau.icon tersebut.
Pembuatan Aplikasi
Setelah menentukan metode perencanaan dan pengendalian obat serta merancang database dan
user interface, langkah berikutnya yaitu membuat aplikasi komputer menggunakan bahasa pemrograman
PHP (Hypertext Prepocessor) dengan database dari MySql. Aplikasi tersebut kemudian diintegrasikan
dengan metode perencanaan dan pengendalian obat.
Pengujian Aplikasi
Pengujian dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap validasi program apliakasi dan validasi sistem
informasi manajemen persediaan obat. Tahap validasi merupakan tahap perbandingan antara apa yang
dibutuhkan perusahaan dengan realisasi rancangan program yang dibuat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Sistem Awal
Identifikasi sistem awal ini dibuat dalam bentuk rich picture yang menggambarkan proses dari
sistem awal pengelolaan persediaan obat di Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat, rich picture kerangka
kerja sistem awal dapat dilihat pada gambar 2.
387
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
Gudang Farmasi Rawat Inap
Obat
4.b Menerima dan mengecek jumlah obat dari supplier
8. b Menerima obat dari gudang farmasi pusat
13. Mencatat penerimaan obat pada kartu stok
14. Menyimpan obat
16. Mendistribusikan obat ke pasien rawat inap
18. Mencatat pengeluaran obat pada kartu stok
Rekam
medik
Obat
Supplier
2. Menerima pesanan obat
3. Mengirim obat
Obat
Obat
Pegawai gudang
15.b Mengambil obat sesuai dengan data rekam medik
dari perawat
17.a Memberikan obat kepada perawat
Rekam
medik
Gudang Farmasi Pusat
4.a Menerima dan mengecek jumlah obat dari supplier
5. Menyimpan obat
6. Mendistribusikan obat ke gudang farmasi lain
7. Mencatat pengeluaran obat pada buku pengeluaran
19. Mengendalikan persediaan obat
Obat
Perawat
15.a Mengambil obat sesuai dengan data rekam medik
atau menyerahkan rekam medik ke pegawai gudang
17.b Memberikan obat kepada pasien rawat inap
Surat
permintaan
Pimpinan perusahaan
1.a Melakukan pemesanan obat ke supplier atau
menyuruh pegawai gudang untuk memesan obat
Pegawai gudang
1.b Melakukan pemesanan obat ke supplier
Obat
Obat
Gudang Farmasi Rawat Jalan
4.c Menerima dan mengecek jumlah obat dari supplier
8.a Menerima obat dari gudang farmasi pusat
9. Menyimpan obat
10. Mencatat pengeluaran obat pada buku pengeluaran
11. Mendistribusikan obat ke pasien rawat jalan
Obat
Dokter
12. Memberikan obat kepada pasien rawat jalan
Gambar 2.Rich Picture Kerangka Kerja Sistem Awal
Analisis Kekurangan Sistem Awal
Analisis kekurangan sistem awal menjelaskan permasalahan yang terjadi pada sistem lama. Hasil
analisis ini yaitu:
1. Penentuan titik pemesanan kembali yang tidak akurat karena hanya berdasarkan perkiraan pegawai
gudang saja. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya kelebihan maupun kekurangan persediaan
obat.
2. Penentuan jumlah pemesanan obat yang tidak akurat karena proses pemesanan dilakukan oleh dua
orang dengan jumlah sesuai perkiraan masing-masing. Hal tersebut juga mengakibatkan terjadinya
kelebihan maupun kekurangan persediaan obat.
3. Tidak ada pencatatan pada proses penerimaan obat di gudang farmasi pusat dan gudang farmasi rawat
jalan sehingga tidak dapat diketahui jumlah persediaan masing-masing obat dan total nilai
persediaannya.
4. Aliran perpindahan obat tidak jelas karena obat dari supplier dapat diterima oleh semua gudang
farmasi. Akibatnya, pengawasan dan pengendalian persediaan obat lebih susah dilakukan.
5. Ketidakakuratan data kartu stok di gudang farmasi rawat inap karena tidak semua obat masuk dicatat
didalamnya. Selain itu pengurangan jumlah obat di kartu stok juga membutuhkan waktu yang cukup
lama karena menunggu pasien pulang terlebih dahulu. Akibatnya tidak dapat diketahui jumlah
persediaan masing-masing obat dan total nilai persediaannya.
6. Pengambilan obat di gudang farmasi rawat inap dilakukan oleh beberapa orang, sehingga susah
dilakukan pengawasan dalam jumlah pengambilannya.
Analisis Kebutuhan Sistem
Analisis kebutuhan sistem dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang telah dianalisis
sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis kebutuhan sistem yaitu:
1. Menentukan Tujuan Utama (major goal)
Penentuan tujuan utama dalam merancang sistem informasi manajemen persediaan obat di gudang
farmasi Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat Purworejo ini berdasarkan identifikasi sistem awal dan
analisis kekurangan sistem awal. Tujuan utamanya yaitu:
388
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
a. Untuk menentukan jumlah titik pemesanan kembali dan jumlah pemesanan obat yang akurat dan
2.
3.
4.
5.
optimal, maka diperlukan modul peramalan dan perhitungan nilai safety stock, reorder point
maupun EOQ (Economic Order Quantity) di dalam sistem informasi yang dirancang.
b. Untuk menampilkan jumlah persediaan masing-masing obat dan total nilai persediaan pada ketiga
gudang farmasi secara cepat dan akurat, sistem informasi yang dirancang dapat merekap setiap
perpidahan dan pemakaian obat.
Menentukan Intermediate Goal
Intermediate goal merupakan tugas-tugas yang dapat dilakukan oleh sistem informasi manajemen
persediaan obat diluar tujuan utama. Intermediate goal yang dapat dilakukan yaitu:
a. Sistem informasi yang dirancang dapat mencetak laporan stok obat pada masing-masing gudang,
sehingga dapat mempermudah pimpinan perusahaan dalam mengetahui jumlah nilai persediaan
obatnya.
b. Sistem informasi yang dirancang menggunakan jaringan intranet melalui kabel LAN sehingga
aplikasi sistem informasi dapat dijalankan oleh pegawai administrasi dan pimpinan perusahaan.
Hal tersebut dapat membantu proses perhitungan total pemakaian obat masing-masing pasien
rawat inap dengan lebih cepat serta mempermudah pimpinan perusahaan untuk mengetahui status
persediaan obatnya.
Menentukan Minor Goal
Pada perancangan sistem informasi manajemen persediaan obat di Klinik Umum Rawat Inap Budi
Sehat ini tidak ditentukan minor goal. Hal tersebut dikarenakan major goal dan intermediate goal
sudah mencukupi untuk perancangan sistem baru.
Menentukan Output yang Harus Dihasilkan
Output sistem informasi manajemen persediaan obat di Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat ini
berupa data dan laporan yang mendukung proses pengendalian dan perencanaan persediaan obat. Data
dan laporan yang digunakan sebagai output sistem ini, yaitu:
a. Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi pusat. Berisi jumlah penerimaan obat dari supplier,
jumlah pengeluaran obat ke gudang yang lain dan sisa persediaan obat di gudang farmasi pusat.
b. Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi rawat inap. Berisi jumlah penerimaan obat dari
gudang pusat, jumlah pemberian obat ke pasien rawat inap dan sisa persediaan obat di gudang
farmasi rawat inap.
c. Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi rawat jalan. Berisi jumlah penerimaan obat dari
gudang pusat, jumlah pemberian obat ke pasien rawat jalan dan sisa persediaan obat di gudang
farmasi rawat jalan.
d. Data rekap pemakaian obat masing-masing pasien rawat jalan. Berisi nama, jumlah dan harga obat
yang diberikan ke masing-masing pasien.
e. Data hasil peramalan dan perhitungan safety stock, reorder point maupun EOQ.
f. Laporan surat permintaan obat. Berisi nama obat, harga obat, nilai safety stock, nilai reorder point,
nilai EOQ, nama supplier, nama medrep, dan nomor telepon medrep.
g. Laporan nilai persediaan obat. Berisi nilai persediaan obat gudang farmasi pusat, gudang farmasi
rawat inap dan gudang farmasi rawat jalan.
Menentukan Input yang Diperlukan
Input sistem ditentukan berdasarkan output yang diinginkan. Input sistem ini merupakan masukan
data tertentu yang disimpan dalam database yang kemudian diproses untuk memperoleh output
tertentu. Input yang diperlukan terdapat pada tabel 1.
Tabel 1.Input Sistem berdasarkan Output yang Harus Dihasilkan
No.
Output
1 Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi pusat
2 Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi rawat inap
3 Data rekap jumlah persediaan gudang farmasi rawat jalan
4 Data rekap pemakaian obat masing-masing pasien rawat inap
Data hasil peramalan dan perhitungan
5
safety stock, reorder point maupun EOQ
6 Laporan surat permintaan obat
7 Laporan nilai persediaan obat
389
Input
Data nota pembelian dan
dan data form pengambilan
Data form pengambilan
dan resep rawat inap
Data form pengambilan
dan resep rawat jalan
Resep rawat inap
Resep rawat inap dan
resep rawat jalan
Data perhitungan safety stock ,
reorder point dan EOQ
Data rekap jumlah persediaan
masing-masing gudang farmasi
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
6. Menentukan Operasiyang Dilakukan
Operasi yang dilkukan untuk mengubah input sistem menjadi output sistem yang diinginkan
diperlukan sebuah database yang dapat menyimpan data-data mengenai manajemen persediaan obat.
Database tersebut kemudian diakses untuk mendapatkan output yang diinginkan. Database yang
dibuat berbasis mysql yang dapat diakses di bagian gudang farmasi rawat inap dan bagian
administrasi. Penyimpanan data dan aliran data secara detail akan dijelaskan pada bagian perancangan
sistem usulan.
Penentuan Metode Perencanaan dan Pengendalian Obat
Pada tahap ini dilakukan perhitungan nilai safety stock, reorder point dan EOQ (Economic Order
Quantity) pada masing-masing obat. Contoh hasil perhitungan nilai safety stock terdapat pada tabel 2,
contoh hasil perhitungan nilai reorder point terdapat pada tabel 3 dan contoh hasil perhitungan nilai EOQ
terdapat pada tabel 4.
Tabel 2.Contoh Hasil Perhitungan Safety Stock Masing-Masing Obat
Standar deviasi
Z (99%) Safety Stock
(Unit)
1 Cefotaxime
1g
injeksi
102
2.326
237
2 Metronidazole
500 mg/100 ml
infus
14
2.326
33
3 Ranitidin
25 mg/ml
injeksi
85
2.326
198
4 Cercul
125 mg/ml
injeksi
8
2.326
18
5 Ottogenta
80 mg/2ml
injeksi
16
2.326
37
6 Ketorolac
30 mg/ml
injeksi
12
2.326
27
7 Ulsicral
5 ml/500 mg
syrup
3
2.326
6
8 Vertivom
2 ml
injeksi
24
2.326
56
9 Ceftriaxone
1g
injeksi
25
2.326
57
10 Proliver
242 mg
tablet
19
2.326
45
11 Melidox
7,5 mg
tablet
114
2.326
264
12 Acid
60 ml
syrup
26
2.326
61
13 Tranxa
50 mg/ml
injeksi
10
2.326
24
14 RL
500 ml
infus
77
2.326
179
15 Aqua
25 ml
injeksi
65
2.326
152
16 D5
500 ml
infus
15
2.326
36
17 Faktu 60 mg
60 mg
suppo
1
2.326
3
18 Pepzol
40 mg
injeksi
2
2.326
5
19 Tramadol HCl
50 mg
tablet
25
2.326
58
20 Ondansetron
8 mg/4 ml
injeksi
8
2.326
18
21 Adona
10 ml/50 mg
injeksi
3
2.326
6
22 Sohobal
500 mg
injeksi
4
2.326
10
23 Ulsikur
2 ml
injeksi
12
2.326
29
24 Vertizin
25 mg
tablet
24
2.326
56
25 Prostide
5 mg
tablet
4
2.326
10
Tabel
3.Contoh Hasil
Obat
26 Omeprazole
20 mgPerhitungan
kapsulReorder PointMasing-Masing
88
2.326
204
Kebutuhan
1 Minggu
Lead Time
27
Farsix
2
ml
injeksi
4
2.326
9
Supplier
Nama Obat
Berat Netto
Jenis
(minggu)
28 Kina
200 mg
tablet
34
2.326
79 (Unit)
Cefotaxime
g
injeksi
OGB Dexa kapsul
22.326
291 Sohobal
500 mcg
15
34 192
Metronidazole
mg/100 ml
PT. Ikapharmindo
Putramas
22.326
30500
Cefadroxil
kapsulinfus500 mg
kapsul
41
96 27
Ranitidin
mg/ml
injeksi
PT. Otto Pharmaceutical
Industries4
12.326
3125Aminoral
716 mg
tablet
10 161
Cercul
mg/ml
injeksi
PT. Phapros Tbk.
22.326
32125
Perifas
25 mg
tablet
20
47 15
Ottogenta
mg/2ml
injeksi
PT. ml
Otto Pharmaceutical
Industries1
12.326
3380Stesolid
10 mg/2
injeksi
3 30
Ketorolac
injeksi
PT. Ethica infus
22.326
3430Dmg/ml
5 1/2 NS
500 ml
2
4 22
Ulsicral
ml/500 mg
syrup
PT. Ikapharmindo
Putramas
22.326
355 Solathim
500 mg
kapsul
40
94 5
Vertivom
ml
PT. Global Multi
Pharmalab
12.326
362 Cefadroxil
syrup injeksi
125 mg
syrup
2
6 45
Ceftriaxone
g
22.326
371 Dulcolac
5 mg injeksi
5 mgPT. Indofarmasuppo
3
6 47
Proliver
mg
tablet
Indonesia
22.326
38242
L Bio
1 g PT. Simex Pharmaceutical
sachet
12
27 37
Melidox
mg
PT. Meprofarm
32.326
397,5
Dulcolac
10 mg tablet
10 mg
suppo
2
6 214
Acid
ml
syrup
12.326
4060Nystin
12 mlPT. Zenith Pharmaceuticals
syrup
1
3 50
Tranxa
mg/ml
injeksi
PT. Bernofarminfus
12.326
4150NaCL
500 ml
4
9 20
RL
ml
infus75 mg
Otsuka
12.326
42500
Dextral
tablet
63
147 145
Aqua
ml 102,5 mg injeksi
12.326
4325Faktu
102,5Otsuka
mg
suppo
2
4 123
D5
500 ml
infus
Otsuka
1
29
Faktu 60 mg
60 mg
suppo PT. Phapros Tbk.
2
2
Pepzol
40 mg
injeksi PT. Mahakam Beta Farma
1
4
Tramadol HCl
50 mg
tablet PT. Hexpharm Jaya
2
47
Ondansetron
8 mg/4 ml
injeksi PT. Soho Industri Pharmasi
2
15
Adona
10 ml/50 mg
injeksi PT. Tanabe
2
5
Sohobal
500 mg
injeksi PT. Soho Industri Pharmasi
2
8
Ulsikur
2 ml
injeksi PT. Kalbe Farma Tbk.
2
23
Vertizin
25 mg
tablet PT. Bernofarm
1
46
Prostide
5 mg
tablet PT. Phapros Tbk.
2
8
Omeprazole
20 mg
kapsul PT. Soho Industri Pharmasi
2
166
Farsix
2 ml
injeksi PT. Fahrenheit
2
8
Kina
200 mg
tablet PT. Kimia Farma
2
64
Sohobal
500 mcg
kapsul PT. Soho Industri Pharmasi
2
28
Cefadroxil kapsul
500 mg
kapsul PT. Dexa Medica
1
78
Aminoral
716 mg
tablet PT. Soho Industri Pharmasi
2
8
Perifas
25 mg
tablet PT. Otto Pharmaceutical Industries
1
38
Stesolid
10 mg/2 ml
injeksi PT. Actavis
4
3
D 5 1/2 NS
500 ml
infus
Otsuka
1
3
Solathim
500 mg
kapsul Solas
1
76
Cefadroxil syrup
125 mg
syrup PT. Hexpharm Jaya
2
5
Dulcolac 5 mg
5 mg
suppo PT. Boerhringer Ingelheim
2
5
L Bio
1g
sachet PT. Lapi Laboratories
1
22
Dulcolac 10 mg
10 mg
suppo PT. Boerhringer Ingelheim
2
5
Nystin
12 ml
syrup PT. Lapi Laboratories
1
2
No
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Nama Obat
Berat Netto
Jenis
390
SS ROP
237
33
198
18
37
27
6
56
57
45
264
61
24
179
152
36
3
5
58
18
6
10
29
56
10
204
9
79
34
96
10
47
3
4
94
6
6
27
6
3
620
88
358
48
67
70
17
101
151
119
907
111
44
324
275
65
7
9
152
48
16
26
75
102
25
536
24
206
90
175
27
85
15
6
170
15
17
50
15
5
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
Tabel 4.Contoh Hasil Perhitungan EOQMasing-Masing Obat
Kebutuhan 1 Tahun
Biaya
Biaya
EOQ
(Unit)
Pemesanan
Penyimpanan
1 Cefotaxime
1g
injeksi
9213
Rp
5,000 Rp
283 571
2 Metronidazole
500 mg/100 ml
infus
1302
Rp
5,000 Rp
1,693
88
3 Ranitidin
25 mg/ml
injeksi
7706
Rp
5,000 Rp
236 572
4 Cercul
125 mg/ml
injeksi
708
Rp
5,000 Rp
1,924
61
5 Ottogenta
80 mg/2ml
injeksi
1449
Rp
5,000 Rp
703 144
6 Ketorolac
30 mg/ml
injeksi
1044
Rp
5,000 Rp
793 115
7 Ulsicral
5 ml/500 mg
syrup
247
Rp
5,000 Rp
3,118
28
8 Vertivom
2 ml
injeksi
2177
Rp
5,000 Rp
373 242
9 Ceftriaxone
1g
injeksi
2238
Rp
5,000 Rp
306 271
10 Proliver
242 mg
tablet
1765
Rp
5,000 Rp
373 218
11 Melidox
7,5 mg
tablet
10291
Rp
5,000 Rp
95 1041
12 Acid
60 ml
syrup
2383
Rp
5,000 Rp
261 302
13 Tranxa
50 mg/ml
injeksi
938
Rp
5,000 Rp
579 127
14 RL
500 ml
infus
6972
Rp
5,000 Rp
606 339
15 Aqua
25 ml
injeksi
5904
Rp
5,000 Rp
606 312
16 D5
500 ml
infus
1398
Rp
5,000 Rp
943 122
17 Faktu 60 mg
60 mg
suppo
106
Rp
5,000 Rp
7,483
12
18 Pepzol
40 mg
injeksi
201
Rp
5,000 Rp
9,943
14
19 Tramadol HCl
50 mg
tablet
2255
Rp
5,000 Rp
253 299
20 Ondansetron
8 mg/4 ml
injeksi
708
Rp
5,000 Rp
703 100
21 Adona
10 ml/50 mg
injeksi
239
Rp
5,000 Rp
1,931
35
22 Sohobal
500 mg
injeksi
383
Rp
5,000 Rp
1,198
57
23 Ulsikur
2 ml
injeksi
1114
Rp
5,000 Rp
418 163
24 Vertizin
25 mg
tablet
2187
Rp
5,000 Rp
187 342
25 Prostide
5 mg
tablet
376
Rp
5,000 Rp
769
70
Perancangan Sistem
Usulan
26 Omeprazole
20 mg
kapsul
7953
Rp
5,000 Rp
74 1039
27 Farsix
injeksi tiga bagian,
362
5,000 Rp kerangka
613
77
Perancangan
sistem usulan2 mldibagi menjadi
yaitu:Rp rancangan
kerja sistem
28 Kina keras dan200
mg
3066 analisisRp
Rp
106 539
usulan, skema perangkat
lunak
yang tablet
digunakan, dan
sitem5,000
usulan.
29 Sohobal
500 mcg
kapsul
1343
Rp
5,000 Rp
183 271
Rancangan Kerangka
Kerja
30 Cefadroxil
kapsul Sistem
500 mg Usulan kapsul
3755
Rp
5,000 Rp
92 640
31 Aminoral
mg
tabletdalam bentuk
399 rich picture
Rp
5,000
497
90
Rancangan kerangka
kerja sistem 716
usulan
dibuat
yangRpmenggambarkan
proses
32 Perifas
25 mg
tablet
1835
Rp
5,000 Rp
134 370
dari sistem usulan33 pengelolaan
persediaan
obat
di Klinik 133
Umum Rawat
Inap
Sehat,
rich picture
Stesolid
10 mg/2 ml
injeksi
Rp
5,000 Budi
Rp
1,078
35
rancangan kerangka
sistem usulan
pada gambar
3. Rp 5,000 Rp
34 Dkerja
5 1/2 NS
500 ml dapat dilihat
infus
139
943
38
35 Solathim
500 mg
kapsul
3653
Rp
5,000 Rp
75 699
36 Cefadroxil syrup
125 mg
syrup
217
Rp
5,000 Rp
531
64
37 Dulcolac 5 mg
5 mg
suppo
250
Rp
5,000 Rp
1,543
40
38 L Bio
1g
sachet
1065
Rp
5,000 Rp
365 171
39 Dulcolac 10Administrasi
mg
10 mg
suppo
222
Rp
5,000 Rp
1,206
43
Menginput penerimaan obat berdasarkan
40 16.
Nystin
12 ml nota transaksi syrup
101
Rp
5,000 Rp
2,271
21
17. Mengupdate harga beli obat pada database obat
Menginput data pasien pada database
resep pasien rawat inap
41 18.
NaCL
500 ml
infus
351
Rp
5,000 RpGudang Farmasi
606 Rawat
76 Inap
Obat
LAN
42 Dextral
75 mg
tablet
5712
Rp
5,000 8.bRp
63gudang952
Menerima obat dari
farmasi pusat
Menyimpan obat
43 Faktu 102,5 mg
102,5 mg
suppo
153
Rp
5,000 19.
Rp
724
46
21. Menyiapkan obat sesuai resep rawat inap
Nota
No
Nama Obat
Berat Netto
Jenis
1.
22. Memberikan obat kepada perawat
25. Menginput data pada form pengambilan
26. Menginput data pada resep rawat inap
27. Menginput data pada resep rawat jalan
28. Mencetak laporan berupa surat permintaan
transaksi
Pimpinan perusahaan
1. Melakukan pemesanan obat ke supplier
Surat permintaan
Resep
rawat inap
Supplier
2. Menerima pesanan obat
3. Mengirim obat
Obat
Form
pengambilan
Gudang Farmasi Pusat
4. Menerima obat dari supplier
5. Menyimpan obat
6. Mencatat pengeluaran obat pada form pengambilan
7. Mendistribusikan obat ke gudang farmasi lain
dan membawa form pengambilan ke gudang farmasi rawat inap
Obat
Perawat
20. Memberikan resep rawat inap ke gudang rawat inap
23. Menerima obat dari gudang rawat inap
24. Memberikan obat kepada pasien rawat inap
Resep
rawat jalan
Obat
Gudang Farmasi Rawat Jalan
8.a Menerima obat dari gudang farmasi pusat
9. Menyimpan obat
11. Menyiapkan obat sesuai resep rawat jalan
12. Memberikan obat kepada dokter
15. Membawa resep rawat jalan ke gudang farmasi rawat inap
Resep
rawat jalan
Obat
Dokter
10. Memberikan resep rawat jalan ke gudang rawat jalan
13. Menerima obat dari gudang rawat jalan
14. Memberikan obat kepada pasien rawat jalan
Gambar 3.Rich Picture Kerangka Kerja Sistem Usulan
391
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
2. Skema Perangkat Keras dan Lunak yang Digunakan
3.
Untuk dapat mengoperasikan sistem informasi ini dibutuhkan perangkat lunak dan perangkat keras
sebagai pendukungnya. Berikut merupakan perangkat lunak dan keras yang digunakan oleh sistem
informasi manajemen persediaan obat.
a. Perangkat Lunak
Aplikasi dibangun dengan menggunakan:
Database Server MySQL
Web Server Apache versi 2
Web Application PHP versi 5
Web Browser Mozila Firefox, Opera, Google Chrome
b. Perangkat Keras
Perangkat keras yang diperlukan, yaitu:
3 Unit PC
2 Unit Printer
100 Meter Kabel LAN
Analisis Sistem Usulan
Hasil dari analisis sistem usulan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5.Analisis Sistem Usulan
No
Kekurangan Sistem Awal
Penentuan titik pemesanan kembali
yang tidak akurat.
1
2
Penentuan jumlah pemesanan obat
yang tidak akurat.
Tidak ada pencatatan pada proses
penerimaan obat di gudang farmasi pusat
3 dan gudang farmasi rawat jalan.
Aliran perpindahan obat tidak jelas karena
4 obat dari supplier dapat diterima oleh semua
gudang farmasi.
Ketidakakuratan data kartu stok di
5 gudang farmasi rawat inap.
6
Pengambilan obat di gudang farmasi
rawat inap dilakukan oleh beberapa orang.
Rancangan Sistem Usulan
Hasil perhitungan reorder point dari masing-masing obat
diintegrasikan dengan fungsi pemberitahuan pada
rancangan aplikasi. Fungsi tersebut akan memberitahu user
ketika terdapat obat yang jumlah persediaannya telah
menyentuh nilai reorder point.
Hasil perhitungan EOQ dari masing-masing obat diintegrasikan
dengan fungsi pemberitahuan pada rancangan aplikasi. Fungsi
tersebut akan menampilkan jumlah pembelian yang optimal
dari obat yang telah menyentuh nilai reorder point.
Penerimaan obat di gudang farmasi pusat diinput pada aplikasi
sesuai dengan jumlah pada nota pembelian, sedangkan
penerimaan obat pada gudang farmasi rawat inap dan
rawat jalan diinput sesuai dengan jumlah pada form
pengambilan.
Obat dapat langsung diterima gudang farmasi rawat inap
maupun rawat jalan karena semua proses perpindahan obat
dicatat terlebih dahulu pada form pengambilan.
Jumlah persediaan pada masing-masing gudang dapat dilihat
dengan lebih cepat dan akurat karena setiap keluar masuknya
obat pada masing-masing gudang telah tercatat pada aplikasi.
Pengambilan obat dilakukan oleh seorang pegawai gudang saja
karena sudah ada resep rawat inap.
Perancangan Database
Pada tahap ini akan dirancang database untuk mendukung berjalannya sistem informasi
manajemen persediaan obat di Klinik Umum Rawat Inap Budi Sehat. Perancangan inidigambarkan dalam
suatu Entity Relationship Diagram (ERD).
392
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
Gambar 4.Entity Relationship Diagram Sistem Informasi Manajemen Persediaan Obat
Perancangan User Interface
Menurut Al Fatta (2007),perancangan user interface terdiri dari tiga tahap desain, yaitu desain
menu aplikasi, desain form masukan dan desain aplikasi klien.
1. Desain Menu Aplikasi
Desain menu aplikasi meliputi desain daftar menu yang akan ditampilkan dalam aplikasi yang dibuat.
Berikut ini adalah gambar daftar menu aplikasi masing-masing user.
Menu Samping
Persediaan Obat
Mutasi
Mutasi Rawat Inap
Mutasi Rawat Jalan
Resep
Resep Rawat Inap
Resep Rawat Jalan
Permitaan
Daftar Permintaan
History Permintaan
Obat Retur
Supplier
Peramalan
Gambar 5. Daftar Menu Samping Sistem Informasi Manajemen Persediaan Obat untuk Pegawai Gudang
393
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
Menu Atas
Notifikasi
User
Identitas User
Log out
Gambar 6. Daftar Menu Atas Sistem Informasi Manajemen Persediaan Obat untuk Pegawai Gudang
2. Desain Form Masukan
Form masukkan pada aplikasi ini berupa form-form isian yang akan disimpan dalam database.
Sebagai contoh desain form masukan yaitu form tambah jenis obat. Form tersebutberfungsi untuk
menambahkan jenis obat ke dalam database. Data obat ini terdiri dari kategori, nama obat, berat netto,
ved, lead time, lead time, reorder point dan harga jual satuan. Form tambah jenis obat dapat dilihat di
gambar 6.
Gambar 7.Form Tambah Jenis Obat
3. Desain Aplikasi Klien
Desain aplikasi klien berfungsi untuk menampilkan fungsi yang terdapat pada aplikasi klien.
Contohdesain aplikasi ini dapat dilihat di gambar 7.
Gambar 8.Halaman Login
Pembuatan Aplikasi
Tahapan pembuatan aplikasi merupakan tahapan perancangan logika-logika pemrograman
berbasis web. Logika yang terdapat dalam program yaitu: proses login, proses logout, proses tambah data
obat, proses edit dan hapus data obat, proses tambah mutasi rawat inap, proses edit dan hapus data mutasi
rawat inap, proses tambah mutasi rawat jalan, proses edit dan hapus mutasi rawat jalan, proses tambah
394
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
resep rawat inap, proses edit dan hapus resep rawat inap, proses tambah resep rawat jalan, proses edit dan
hapus resep rawat jalan, proses cetak surat permintaan, proses hapus surat permintaan, proses tambah obat
retur, proses edit dan hapus obat retur, proses tambah supplier, proses edit dan hapus supplier, proses
cetak laporan persediaan dan proses peramalan.
Pengujian Aplikasi
Tahap akhir dari penelitian ini adalah pengujian aplikasi yang telah dibuat untuk mengetahui
apakah aplikasi dapat berjalan dengan baik atau tidak, adakah kesalahan pada program dan dapat
diterapkan atau tidak pada sistem nyata. Langkah pengujian ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap
validasi program aplikasi dan validasi sistem informasi manajemen persediaan obat.
1. Validasi Program Aplikasi
Kriteria yang diukur dalam tahap validasi program adalah keberhasilan komputer klien untuk
terhubung dengan komputer server, keberhasilan rancangan database untuk menyimpan data-data
yang dibutuhkan, keberhasilan rancangan interface untuk menyajikan tampilan seperti yang
diinginkan dan keberhasilan program menerima informasi dan mengolahnya menjadi output yang
diinginkan.
a. Keberhasilan Komputer Klien untuk Terhubung dengan Komputer Server
Hasil pengujian program aplikasi didapat bahwa komputer klien dapat terhubung dengan komputer
server dengan baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan komputer klien dapat mengambil dan
menyimpan data pada komputer server. Gambar 8menunjukkan interface pada komputer client
yang diakses pada alamat web kbspurworejo.co.id.
Gambar 9.Interface pada Komputer Klien (Alamat Web Akses)
b. Keberhasilan Rancangan Database untuk Menyimpan Data-Data yang Dibutuhkan
Hasil pengujian program aplikasi didapat bahwa database dapat berjalan sesuai dengan yang
diinginkan. Hal ini ditunjukkan dengan database yang dapat difungsikan untuk menyimpan,
mengedit dan menghapus data.
c. Keberhasilan Rancangan Interface untuk Menyajikan Tampilan Seperti yang Diinginkan
Hasil pengujian program aplikasi didapat bahwa interface terlihat sesuai dengan rancangan pada
browser-browser yang sering digunakan, seperti Mozilla Firefox dan Google Chrome.
d. Keberhasilan Program Menerima Informasi dan Mengolahnya Menjadi Output yang Diinginkan
Hasil pengujian program aplikasi didapat bahwa program dapat menghasilkan output yang
diinginkan. Output tersebut berupa laporan nilai persediaan obat dan surat permintaan pembelian.
Contoh output laporan dalam bentuk PDF dapat dilihat pada gambar9.
395
1.25Seminar Nasional IDEC 2014
Surakarta,20 Mei 2014
ISBN: 978-602-70259-2-9
Gambar 10. Interface pada Output Surat Permintaan dalam PDF
2. Validasi Sistem Informasi Manajemen Persediaan Obat
Validasi sistem inforamsi manajemen persediaan obat ini dilakukan untuk mengetahui apakah
program yang dibuat ada kesalahan atau tidak dalam pengolahan data dan dapat diterapkan langsung
di lapangan. Langkah validasi sistem yaitu dengan membuat simulasi sistem manajemen persediaan
obat. Kriteria yang diukur dalam tahap validasi ini adalah proses-proses dalam sistem manajemen
persediaan dapat berjalan sesuai dengan hasil rancangan. Dari pengujian yang dilakukan, semua
proses yang terdapat dalam program dapat berjalan dengan baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Sistem informasi manajemen persediaan obat yang dirancang sudah sesuai dengan kebutuhan sistem
dan dapat dijalankan dengan baik.
2. Aplikasi yang dirancang sudah terintegrasi dengan metode perencanaan dan pengendalian persediaan
yang berbasis pada model persediaan EOQ.
DAFTAR PUSTAKA
Al Fatta, H. (2007). Analisis dan Perancangan Sistem Informasi untuk Keunggulan Bersaing Perusahaan
dan Organisasi Modern. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Kristanto, A. (2003). Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya. Yogyakarta: Gayamedia.
Meliani dan Miftahuddin. (2011). Perancangan Sistem Informasi Manajemen Persediaan (Study Kasus:
PDAM Tirta Sakti Kabupaten Kerinci). Jurnal Ilmiah Teknik Industri
396
View publication stats
Download