MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA SUBUR DENGAN : INFEKSI MATERNAL Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas Dosen pengampu : Ns.Asri Kusyani , M. Kep Penyusun : Maratus sholihah S1 KEPERAWATAN STIKES BAHRUL ULUM TAMBAK-BERAS JOMBANG 2018/2019 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmatnya dan hidayahnya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul ‘Asuhan Keperawatan pada wanita usia subur dengan infeksi maternal’. Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis sebagai penyusun menyadari bahwa makalah ini banyak kekurangan, dan masih jauh dari kata sempurna. Demikian penyampaian dari penulis sebagai penyusun makalah ini, semoga Tuhan Yang Masa Esa selalu meridhoi usaha kami dalam mencapai tujuan dan hasil yang saya harapkan. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pambaca sekalian. Jombang, 7 Maret 2020 Penulis 2 DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................................................................. 2 BAB I ........................................................................................................................... 4 1.1.Latar Belakang ....................................................................................................... 4 1.2.Rumusan Masalah .................................................................................................. 4 1.3.Tujuan .................................................................................................................... 4 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 5 2.1 Endometritis .......................................................................................................... 5 2.2 Peritonitis .............................................................................................................. 16 2.3 Tromboflebitis........................................................................................................ 20 2.4 Luka Perineum ....................................................................................................... 22 2.5 Infeksi Traktis Genetalis ........................................................................................ 23 BAB III PENUTUP…………………………………………………………………28 3.1. Kesimpulan ......................................................................................................... .28 3.2. Saran ................................................................................................................... .28 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ .29 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi dalam kehamilan bertanggung jawab untuk morbiditas dan mortalitas signifikan. Beberapa akibat infeksi maternal berlangsung seumur hidup, seperti infertilitas dan sierilitas. Kondisi – kondisi lain, seperti infeksi yang didapat secara kongenital, seringkali mempengaruhi lama dan kualitas hidup. Kehamilan dianggap sebagai kondisi immunosupresi. Perubahan respon imun dalam kehamilan dapat menurunkan kemampuan ibu melawan infeksi. Selain itu, perubahan traktus pada genetalia juga dapat mempengaruhi kerentanan terhadap suatu infeksi. Infeksi maternal disebabkan karena berbagai virus dan bakteri yang menginvasi baik secara endogen maupun secara eksogen. Berbagai penyakit bisa timbul karena infeksi maternal tersebut, klasifikasi dari macam – macam penyakit yang ditimbulkan karena infeksi antara lain : 1. Endometritis 2. Peritonitis 3. Tromboflebitis 4. Luka perineum 5. Infeksi traktus genetalis 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana asuhan keperawatan pada masalah infeksi saat kehamilan ? 1.3 Tujuan Ditujuhkan kepada Perawat dan mahasiswa agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan infeksi maternal 4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Endometritis 2.1.1 Definisi Endometriosis adalah keadaan ketika sel-sel endometrium yang seharusnya terdapat hanya dalam uterus, tersebar juga ke dalam rongga pelvis (Mary Baradero dkk, 2005). Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis. ( Scott, R James, dkk. 2002). Endometriosis adalah lesi jinak atau lesi dengan sel-sel yang serupa dengan sel-sel lapisan uterus tumbuh secara menyimpang dalam rongga pelvis diluar uterus. (Brunner & Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah, 1556 : 2002) Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium (kelenjar dan stoma) diluar uterus (Arif Mansjoer, Kapita Selekta, 381: 2001) Endometriosis adalah terdapatnya jaringan endometrium di luar kavum uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut adenomiosis (adenometriosis internal) sedangkan bila diluar uterus disebut (endometriorisis ekterna). 2.1.2 Etiologi Etiologi endometriosis belum diketahui tetapi ada beberapa teori yang telah dikemukakan : a) Secara kongenital sudah ada sel-sel endometrium di luar uterus. b) Pindahnya sel-sel endometrium melalui sirkulasi darah atau sirkulasi limfe. c) Refluks menstruasi yang mengandung sel-sel endometrium ke tuba fallopi, sampai ke rongga pelvis. d) Herediter karena insiden lebih tinggi pada wanita yang ibunya juga mengalami endometriosis (Mary Baradero dkk, 2005). 2.1.3 Klasifikasi 5 Berdasarkan visualisasi rongga pelvis dan volume tiga dimensi dari endometriosis dilakukan penilaian terhadap ukuran, lokasi dan kedalaman invasi, keterlibatan ovarium dan densitas dari perlekatan. Dengan perhitungan ini didapatkan nilai-nilai dari skoring yang kemudian jumlahnya berkaitan dengan derajat klasifikasi endometriosis. a) Nilai 1-4 adalah minimal (stadium I), b) 5-15 adalah ringan (stadium II), c) 16-40 adalah sedang (stadium III) d) lebih dari 40 adalah berat (stadium IV) (Rusdi, 2009). 2.1.4 Manifestasi klinis Pada umumnya wanita dengan endometriosis tidak memiliki gejala. Gejala pada umumnya terjadi ketika menstruasi dan bertambah hebat setiap tahunnya karena pembesaran daerah endometriosis. Gejala yang paling sering terjadi adalah nyeri panggul, dismenorea (nyeri ketika menstruasi), dispareunia (nyeri ketika senggama), dan infertilitas (gangguan kesuburan, tidak dapat memiliki anak). a. Nyeri panggul Nyeri yang berkaitan dengan endometriosis adalah nyeri yang dikatakan sebagai nyeri yang dalam, tumpul, atau tajam, dan biasanya nyeri bertambah ketika menstruasi. Pada umumnya nyeri terdapat di sentral (tengah) dan nyeri yang terjadi pada satu sisi berkaitan dengan lesi (luka atau gangguan) di indung telur atau dinding samping panggul. Dispareunia terjadi terutama pada periode premenstruasi dan menstruasi. Nyeri saat berkemih dan dyschezia dapat muncul apabila terdapat keterlibatan saluran kemih atau saluran cerna. b. Dismenorea Nyeri ketika menstruasi adalah keluhan paling umum pada endometriosis. c. Infertilitas Efek endometriosis pada fertilitas (kesuburan) terjadi karena terjadinya gangguan pada lingkungan rahim sehingga perlekatan sel telur yang sudah dibuahi pada dinding rahim menjadi terganggu. Pada endometriosis yang sudah parah, terjadi perlekatan pada rongga panggul, saluran tuba, atau indung telur yang dapat mengganggu transportasi embrio (Missrani, 2009). 6 Tanda dan gejala endometriosis antara lain : A. Nyeri : 1) Dismenore sekunder 2) Dismenore primer yang buruk 3) Dispareunia: Nyeri ovulasi 4) Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi. 5) Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual 6) Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter B. Perdarahan abnormal 1) Hipermenorea 2) Menoragia 3) Spotting sebelum menstruasi 4) Darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi 5) Keluhan buang air besar dan buang air kecil 6) Nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air besar 7) Darah pada feces 8) Diare, konstipasi dan kolik 2.1.5 Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan yang dilakukan untuk membuktikan adanya endometirosis ini antara lain: a. Uji serum CA-125: Sensitifitas atau spesifisitas berkurang Protein plasenta 14 : Mungkin meningkat pada endometriosis yang mengalami infiltrasi dalam, namun nilai klinis tidak diperlihatkan. Antibodi endometrial: Sensitifitas dan spesifisitas berkurang b. Teknik pencitraan Ultrasound: Dapat membantu dalam mengidentifikasi endometrioma dengan sensitifitas 11% MRI: 90% sensitif dan 98% spesifik 7 Pembedahan: Melalui laparoskopi dan eksisi. (Scott, R James, dkk. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medica: Jakarta) 2.1.6 Komplikasi a.Obstruksi ginjal dan penurunan fungsi ginjal karena endometriosis dekat kolon atau ureter. b.Torsi ovarium atau ruptur ovarium sehingga terjadi peritonitis karena endometrioma. c. Infertilitas, ditemukan pada 30% – 40% kasus. Endometriosis merupakan penyebab infertilitas kedua terbanyak pada wanita. (Mansjoer, 2001) 2.1.7 Penata laksanaan a. Kolaboratif Kehamilan bisa memperlambat perkembangan endometriosis karena menstruasi (ovulasi) berhenti selama kehamilan dan laktasi. Ada beberapa wanita yang menjadi asimptomatis setelah melahirkan. Fertilitas wanita dengan endometriosis rendah maka bagi pasangan yang menginginkan anak memerlukan bantuan medis. Kontrasepsi oral yang mengandung estrogen yang minimal dan progestin yang tinggi dapat menyebabkan atrofi endometrium. Obat-obat antigonadotropik seperti Danasol dapat juga dipakai untuk menekan kegiatan ovarium. Danasol dapat menghentikan perkembangan endometrium, mencegah ovulasi, dan menyebabkan atrofi jaringan endometrium yang ada di luar uterus (jaringan endometrium ektopik). Kelemahan dari obat-obat ini adalah sangat mahal, adanya efek samping seperti mual, cepat lelah, depresi, berat badan bertambah, menyerupai gejala menopause, dan osteoporosis. Apabila tidak ada respons terhadap terapi konservatif, intervensi bedah dapat dilaksankan. Pembedahan laser laparoskopi adalah pembedahan yang bisa mempertahankan fertilitas pasien karena pembedahan ini hanya melepas adhesi dan menghancurkan jaringan endometrium yang ada dalam rongga pelvis. Bedah radikal meliputi pengangkatan uterus, tuba fallopi, dan ovarium. Endometriosis bisa berhenti ketika menopause. b. Mandiri Pasien perlu merasa yakin bahwa endometriosis dapat diobati. Perlu diterapkan kepada pasien efek samping dari obat-obat yang dipakainya, strategi untuk menangani nyeri yang kronis juga perlu dijelaskan (Mary Baradero dkk, 2005). 8 1. Penanganan Penanganan endometriosis terdiri atas pencegahan, pengawasan saja, terapi hormonal, pembedahan dan radiasi 1. Pencegahan Meigh berpendapat bahwa kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik untuk endometriosis. Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dah sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama, dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan mendapat anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian itu tidak hanya merupakan profilaksis yang baik terhadap endometrisis, melainkan menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. Selain itu jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid, oleh karena itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan rongga panggul. 2. Observasi dan Pemberian Analgetika Pengobatan ekspektatif ini akan berguna bagi wanita-wanita dengan gejala-gejala dan kelainan fisik yang ringan. Pada wanita yang sudah agak berumur, pengawasan itu bisa dilanjutkan sampai menopause, karena sesudah itu gejala-gejala endometriosis hilang sendiri. sikap yang sama dapat diambil pada wanita yang lebih muda, yang tidak mempunyai persoalan tentang infertilitas, akan tetapi pada wanita yang ingin mempunyai anak, jika setelah ditunggu 1 tahun tidak terjadi kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan terhadap infertilitas dan diambil sikap yang lebih aktif. Pada observasi seperti yang diterangkan, harus dilakukan pemeriksaan secara periodik dan teratur untuk meneliti perkembangan penyakitnya dan jika perlu mengubah sikap ekspektatifnya. Dalam masa observasi ini dapat diberi pengobatan paliatif berupa pemberian analgetika untuk mengurangi rasa nyeri. 3. Terapi Hormonal Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengobati endometriosis Obat Efek samping 9 Pil KB kombinasi estrogen-progestin Pembengkakan perut, nyeri payudara, peningkatan nafsu makan, pembengkakan pergelangan kaki, mual, perdarahan diantara 2 siklus menstruasi, trombosis vena dalam Progestin Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi, perubahan suasana hati, depresi, vaginitis atrofika Danazole Penambahan berat badan, suara lebih berat, pertumbuhan rambut, hot flashes, vagina kering, pembengkakan pergelangan kaki, kram otot, perdarahan diantara 2 siklus, payudara mengecil, perubahan suasana hati, kelainan fungsi hati, sindroma terowongan karpal Agonis GnRH Hot flashes, vagina kering, pengeroposan tulang, perubahan suasana hati 4. Pembedahan Ada 2 macan yaitu : a. Konservatif - Laparatomi - laparaskopi b. Radikal Laparoskopi mempunyai beberapa keuntungan jika dibandingkan dengan Laparotomi, yakni a. Lama tinggal dirumah sakit lebih pendek yaitu sekitar 2 hari, jika dilaparotomi sekitar 5 hari. b. Kembalinya aktivitas kerja lebih cepat, Normalnya penderita dapat kembali sepenuhnya 7-10 hari, jika dilaparotomi 4-6 minggu. c. Ongkos perawatan lebih murah. Pembedahan radikal dilakukan pada wanita dengan endometriosis yang umurnya hampir 40 tahun atau lebih dan yang menderita penyakit yang luas disertai banyak keluhan. Operasi yang paling radikal adalah histerektomi total, salpingo-ooferektomi bilateral, dan pengangkatan semua sarang-sarang endometriosis yang ditemukan. Akan tetapi pada wanita kurang dari 40 tahun dapat dipertimbangkan untuk, meninggalkan sebagian dari jaringan ovarium yang sehat. Hal ini mencegah jangan sampai terlalu cepat timbul gejala-gejala pramenopause dan menopause dan juga mengurangi kecepatan timbulnya osteoporosis. 10 5. Radiasi Pengobatan ini bertujuan untuk menghentikan fungsi ovarium, terapi cara ini tidak dilakukan lagi, kecuali jika ada kontra indikasi terhadap pembedahan. 2.1.8 Konsep asuhan keperawatan 1. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Dahulu Pernah terpapar agen toksin berupa pestisida, atau pernah ke daaerah pengolahan katu dan produksi kertas, serta terkena limbah pembakaran sampah medis dan sampah perkotaan. b. Riwayat kesehatan sekarang • Dysmenore primer ataupun sekunder • Nyeri saat latihan fisik • Dispareun • Nyeri ovulasi • Nyeri pelvis terasa berat dan nyeri menyebar ke dalam paha, dan nyeri pada bagian abdomen bawah selama siklus menstruasi. • Nyeri akibat latihan fisik atau selama dan setelah hubungan seksual • Nyeri pada saat pemeriksaan dalam oleh dokter • Hipermenorea • Menoragia • Feces berdarah • Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi. • Konstipasi, diare, kolik c. Riwayat kesehatan keluarga Memiliki ibu atau saudara perempuan (terutama saudara kembar) yang menderita endometriosis. d. Riwayat obstetri dan menstruasi Mengalami hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi pendek, darah menstruasi yang bewarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi. 2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul 11 a. Nyeri b.d gangguan menstruasi, proses penjalaran penyakit. b. Resiko tinggi gangguan citra tubuh b.d gangguan menstruasi c. Resiko gangguan harga diri b.d infertilitas 2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul a. Nyeri b.d gangguan menstruasi, proses penjalaran penyakit. b.Resiko tinggi gangguan citra tubuh b.d gangguan menstruasi c.Resiko gangguan harga diri b.d infertilitas 3. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa Tujuan Kriteria evaluasi a. Tujuan: setelah Kriteria evaluasi : b.d gangguan diberikan asuhan klien mengatakan karakteristik nyeri menstruasi, keperawatan nyeri berkurang, (respon verbal, non proses selama.x 24 jam klien tidak verbal, dan respon penjalaran nyeri klien akan meringis hemodinamik) klien. penyakit. berkurang. kesakitan, Nyeri Intervensi : Pantau/ catat Rasional untuk mendapatkan indicator nyeri. keringat berkurang. Kaji lokasi nyeri dengan memantau untuk mendapatkan sumber nyeri. lokasi yang ditunjuk oleh klien. Kaji intensitas nyeri nyeri merupakan dengan menggunakan pengalaman skala 0-10. subyektif klien dan metode skala merupakan metode yang mudah serta 12 terpercaya untuk menentukan intensitas nyeri. Tunjukan sikap ketidakpercayaan penerimaan respon orang lain membuat nyeri klien dan akui klien tidak toleransi nyeri yang klien terhadap nyeri rasakan sehingga klien merasakan nyeri semakin meningkat. Jelaskan penyebab nyeri klien. dengan mengetahui penyebab nyeri klien dapat bertoleransi terhadap nyeri. Bantu untuk memodifikasi reaksi melakukan tindakan fisik dan psikis relaksasi, distraksi, terhadap nyeri. massage. Berikan pujian untuk kesabaran klien. Kolaborasi meningkatkan motivasi klien dalam mengatasi nyeri. pemberian analgetik ( analgetik tersebut ibuprofen, naproksen, bekerja menghambat ponstan) dan Midol. sintesa prostaglandin dan midol sebagai relaksan uterus. b. Resiko Tujuan : setelah Kriteria evaluasi : Intervensi : gangguan citra diberikan asuhan klien mengatakan tubuh keperawatan …..x tidak malu, saling percaya dengan masalahnya hanya berhubungan 24 citra diri klien merasa berguna, klien. kepada orang yang dengan akan meningkat. penampilan klien Bina hubungan klien dengan mudah mengungkapkan dipercayainya. 13 gangguan rapi, menerima menstruasi apa yang sedang terjadi Dorong klien untuk mengekspresikan meningkatkan perasaan, pikiran, dan kewaspadaan diri pandangan tentang klien dan membantu dirinya. perawat dalam membuat penyelesaian. Diskusikan dengan penyampaian arti system pendukung dan nilai klien dari klien tentang perlunya system pendukung menyampaikan nilai membuat klien dan arti klien bagi merasa diterima. mereka. Gali kekuatan dan mengidentifikasi sumber-sumber yang kekuatan klien dapat ada pada klien dan membantu klien dukung kekuatan berfokus pada tersebut sebagai aspek karakteristik positif positif. yang mendukung keseluruhan konsep diri. Libatkan klien pada Memungkinkan setiap kegiatan di menerima stimulus kelompok social dan intelektual yang dapat meningkatkan konsep diri klien. Informasikan dan Jujur dan terbuka 14 diskusikan dengan dapat mengontrol jujur dan terbuka perasaan klien dan tentang pilihan informasi yang penanganan gangguan diberikan dapat menstruasi seperti ke membuat klien klinik kewanitaan, mencari penanganan dokter ahli kebidanan. terhadap masalah yang dihadapinya. c. Resiko gangguan Berikan motivasi kepada pasien harga diri : mningkatkan harga diri klien dan merasa di perhatikan. berhubungan dengan infertile pada endometriosis Bina hubungan saling percaya R /: hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. Diskusikan R /: mengidentifikasi kemampuan dan aspek hal – hal positif yang positif yang dimiliki 4. masih dimiliki klien Implementasi Implementasi menyesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan yang di rencanakan. 5. Evaluasi 15 a. Nyeri berkurang, klien tidak meringis kesakitan, keringat berkurang. b. klien tidak malu, merasa berguna, penampilan klien rapi, menerima apa yang sedang terjadi. c. Tidak terjadi gangguan harga diri 2.2 Peritonitis 2.2.1 Definisi Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum, pada membrane serosa, pada bagian rongga perut. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum - lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda-tanda umum inflamasi. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosarongga abdomen dan dinding perut bagian dalam. Peritonitis adalah radang peritoneum dengan eksudasi serum, fibrin, sel-sel dan pus, biasanya disertai dengan gejala nyeri abdomen dan nyeri tekan pada abdomen, konstipasi, muntah dan demam peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada peritoneum. 2.2.2 Etiologi Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat devertikulisis, volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. Peritonitis sekunder 16 yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ – organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1.Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2.Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. 3.Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. 4.Kelainan hati atau gagal jantung, dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. 5.Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. 2.2.3 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. 17 Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. 2.2.4 Manifestasi klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda – tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. • Demam • Distensi abdomen • Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis. • Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya. • Nausea, vomiting • Penurunan peristaltik 2.2.5 Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium 18 Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. 2. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 3. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi : • Tiduran telentang ( supine ), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). • Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan •Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. 2.2.6 Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pembuangan fokus septik atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan – tindakan menghilangkan nyeri. Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila disertai appendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. 19 Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infus 2.2.7 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu : (chushieri) 1. Komplikasi dini eptic system 2. Komplikasi lanjut 2.3 Trombofllebbitis 2.3.1 Definisi Tromboflebitis merupakan peradangan pada permukaan pembuluh darah (vena) yang disertai dengan pembekuan darah. Tromboflebitis biasa ditemukan pada bagian ekstremitas atas maupun bawah seperti lengan dan kaki. Lebih sering terjadi saat kondisi pasca melahirkan atau post-partum karena akbiat dari tekanan kepala janin selama proses kehamilan dan persalinan yang meneyebabkan penumpukan dan pembekuan darah pada ekstremitas bawah. Tromboflebitis dibagi menjadi dua, yaitu Pelvio Tromboflebitis dan Tromboflebitis femoralis. 2.3.2 Etiologi Etiologi yang menyebabkan terjadinya tromboflebitis antara lain: a. Perluasan infeksi endometrium b. Memiliki varises pada pembuluh darah vena c. Obesitas d. Riwayat Tromboflebitis 20 e. Persalinan dengan posisi litotomi yang lama dan berusia 30 tahun atau lebih 2.3.3 Patofisiologi Keadaan statis vena yang menyebabkan gangguan koabilitas darah atau kerusakan pembuluh darah endotel menyebabkan pembentukan thrombus yang menjadi patofisiologis terjadinya tromboflebitis Trombosit yang melekat pada permukaan endotel pembuluh darah awal terjadinya thrombus. Lalu darah yang mengalir menyebabkan semakin banyaknya trombosit yang tertimbun sehingga membentuk massa yang menonjol kedalam lumen. 2.3.4 Manifestasi klinis Tanda dan gejala pada tromboflebitis bergantung pada jenis penyakit yang di derita. a. Pelvio Tromboflebitis Tanda dan gejala yang biasa ditemukan pada pasien yang menderita pelvio tromboflebitis antara lain: 1. Nyeri pada bagian bawah atau samping abdomen dengan atau tanpa disertai panas yang biasa timbul pada hari ke 2-3 masa nifas. 2. Tampak sakit dengan karakteristik sebagai berikut: - Menggigil berulang kali dengan durasi 30-40 menit dengan interval dalam hitungan jam dan kadang-kadang dalam 3 hari menggigil pasien hamper tidak panas - Suhu badan naik turun dengan drastic - Bisa berlangsung 1-3 bulan - Cenderung terbentuk pus yang menjalar kemana-mana terutama ke bagian paru-paru 3. Abses pada bagian pelvis 4. Gambaran karakteristik darah a. Terdapat leukositosis b. Kultur darah sukar dibuat karena pengaruh bakteri anaerob 5. Pada pemeriksaan dalam jarang ditemukan apa-apa karena bagian yang terkena adalah vena ovarika yang sulit dijangkau oleh pemerikasaan dalam b. Tromboflebitis Femoralis Sedangkan tanda dan gejala pada pasien dengan tromboflebitis femoralis antara lain: 21 1. Keadaan umum baik dengan suhu badan subfebris selama 7-10 hari kemudian mendadak naik pada hari 10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri 2. Pada salah satu ekstremitas bawah yang terkena akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut a. Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, dibandingkan dengan kaki lainnya terasa lebih panas b. Pada bagian paha atas salah satu vena terasa tegang dab keras c. Terasa nyeri hebat pada bagian paha dan lipatan paha d. Reflektorik pada spasmus arteria menyebabkan kaki bengkak, tegang, putih, nyeri, dingin, dan pulsasi yang menurun e. Pada paha atas biasanya terjadi edema setelah atau sebelum nyeri, namun lebih sering diawali dari jari kaki dan pergelangan kaki. f. Tanda Homan Positif 2.3.5 Pemeriksaan penunjang a. Ultrasonograf Droppler b. Pemeriksaan Hematokrit c. Pemeriksaan koagulasi d. Biakan darah e. Pemindaian ultrasound dupleks f. Venografi 2.4 Luka perineum 2.4.1 Definisi Luka Perineum adalah luka yang di akibatkan oleh episiotomy. Episiotomy adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perineum totalis. Tujuan episiotomi adalah untuk mencegah robekan berlebihan pada perineum, membuat tepi luka rata agar mudah dilakukan heacting, mencegah penyakit atau tahanan pada kepala dan infeksi, tetapi itu tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup. Episiotomy tidak diperbolehkan karena ada indikasi tertentu untuk tetap dilakukan tindakan episiotomy (Sulistyawati & Nugraheny, 2010). 2.5 Infeksi Traktis Genetalis 22 2.5.1 Definisi Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001) Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001) Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kirakira enam minggu (Wiknjosastro, Hanifa, 1999). Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, Rustam, 1998) Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah persalinan. Suhu 38°C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari. 2.5.2 Etiologi Organisme yang menyerang bekas implantasi plasenta atau laserasi akibat persalinan adalah penghuni normal serviks dan jalan lahir, mungkin juga dari luar. Biasanya lebih dari satu spesies. Kuman anaerob adalah kokus gram positif (peptostreptokok, peptokok, bakteriodes dan clostridium). Kuman aerob adalah berbagai macam gram positif dan E. coli. Mikoplasma dalam laporan terakhir mungkin memegang peran penting sebagai etiologi infeksi nifas. Ekssogen : kuman datang dari luar. Autogen : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh. Endogen : dari jalan lahir sendiri 1. Faktor Presipitasi Infeksi Post Partum 23 Penyebab dari infeksi postpartum ini melibatkan mikroorganisme anaerob dan aerob patogen yang merupakan flora normal serviks dan jalan lahir atau mungkin juga dari luar. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus dan anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi postpartum antara lain : a. Streptococcus Haematilicus Aerobic Streptococcus Haematilicus Aerobic merupakan sebab infeksi yang paling berat. Infeksi ini biasanya eksogen (dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain). b. Staphylococcus Aurelis Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi dirumah sakit. c. Escherichia Coli Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas. d. Clostridium Welchii Kuman anaerob yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit. 2. Faktor Predisposisi a. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan, dan kurang gizi atau malnutrisi b. Anemia, hiegine, kelelahan c. Partus lama, terutama partus dengan ketuban pecah lama d. Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan lahir e. Tertinggal sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah f. Partus lama/macet, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang baiknya pencegahan infeksi, manipulasi yang berlebihan, dapat berlanjut ke infeksi dalam masa nifas 2.5.3 Manifestasi klinis Infeksi postpartum dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu : 1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium. 24 a. Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, kadang-kadang perih saat kencing. b. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38 derajat selsius dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka yang terinfeksi, tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40 derajat selsius, kadangkadang disertai menggigil. 2. Penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, jalan limfe dan permukaan endometrium. a. Endometritis: 1) Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. 2)Uterus agak membesar, nyeri pada perabaan dan lembek. b.Septikemia : 1)Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah. 2)Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. 3)Suhu sekitar 39-40 derajat selsius, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140160 kali per menit atau lebih). 4)Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan. c.Piemia : 1) Tidak lama pasca persalinan, pasien sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. 2) Gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman dengan emboli memasuki peredaran darah umum. 25 3)Ciri khasnya adalah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil lalu diikuti oleh turunnya suhu. 4)Lambat laun timbul gejala abses paru, pneumonia dan pleuritis. d. Peritonitis : 1)Pada peritonotis umum terjadi peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, dan ada defense musculaire. 2)Muka yang semula kemerah-merahan menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat fasies hippocratica. 3)Pada peritonitis yang terbatas didaerah pelvis, gejala tidak seberat peritonitis umum. 4)Peritonitis yang terbatas : pasien demam, perut bawah nyeri tetapi keadaan umum tidak baik. 5)Bisa terdapat pembentukan abses. e.Selulitis pelvik : 1) Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvika. 2)Gejala akan semakin lebih jelas pada perkembangannya. 3) Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus. 4) Di tengah jaringan yang meradang itu bisa timbul abses dimana suhu yang mula-mula tinggi menetap, menjadi naik turun disertai menggigil. 5)Pasien tampak sakit, nadi cepat, dan nyeri perut. 26 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Endometriosis adalah keadaan ketika sel-sel endometrium yang seharusnya terdapat hanya dalam uterus, tersebar juga ke dalam rongga pelvis (Mary Baradero dkk, 2005). Endometriosis merupakan suatu kondisi yang dicerminkan dengan keberadaan dan pertumbuhan jaringan endometrium di luar uterus. Jaringan endometrium itu bisa tumbuh di ovarium, tuba falopii, ligamen pembentuk uterus, atau bisa juga tumbuh di apendiks, colon, ureter dan pelvis. ( Scott, R James, dkk. 2002). Peritonitis adalah inflamasi peritoneum - lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda-tanda umum inflamasi Tromboflebitis merupakan peradangan pada permukaan pembuluh darah (vena) yang disertai dengan pembekuan darah. Tromboflebitis biasa ditemukan pada bagian ekstremitas atas maupun bawah seperti lengan dan kaki. Luka Perineum adalah luka yang di akibatkan oleh episiotomy. Episiotomy adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perineum totalis. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001) 3.2 Saran Diharapkan perawat dapat memberikan asuhan keperawatan sesuai pada pasien dengan infeksi maternal 27 DAFTAR PUSTAKA ASKEP ENDOMETRIOSIS Oleh Stevanno Mauritius Lantang Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado www.academia.edu diakses 18 maret 2020 pukul 14.43. Bobak. Lowdermik. Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC. Bunner and Suddart . 2002 . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI oleh Yulia Rochmawati www.academia.edu diakses pada 18 maret 2020 pukul 17.33 28