Uploaded by User46927

FRAUD CONTROL PLAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAK KECURANGAN DAN KETIDAKPATUTAN

advertisement
FRAUD CONTROL PLAN SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN TINDAK
KECURANGAN DAN KETIDAKPATUTAN
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik
oleh:
Hani Hanifah
: 163403003
Utari Irsya Diwanti
: 163403033
Galuh Putra Perdana
: 163403070
M Andri Arif P
: 163403091
Silva Rizkia Rahma
: 163403104
Ari Nur Hidayat
: 133403144
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Makalah ini telah disahkan pada hari ________ tanggal _______
oleh,
Dosen Mata Kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik,
H. Tedi Rustendi, S. E., M. Si., Ak.,
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah swt. yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Fraud Control Plan Sebagai Upaya Pencegahan Tindak
Kecurangan dan Ketidakpatutan”.
Kecurangan merupakan tindakan yang kerap kali sulit dideteksi secara cepat.
Hal inilah yang membuat semakin sulitnya kesalahan terdeteksi bahkan terhambat
untuk diselesaikan secara signifikan. Lemahnya sistem pengontrol menjadi salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Akibatnya negara akan mengalami
kerugian yang bersifat material. Maka dari itu diperlukannya tindakan preventif untuk
mencegah kecurangan tersebut.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai
pihak. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak H. Tedi Rustendi, S.E., M.Si., Ak., C.A. selaku asisten dosen mata
kuliah Seminar Akuntansi Keuangan;
2.orang tua yang selalu memberi motivasi dan do’a;
3.rekan-rekan seperjuangan yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih banyak
kekurangan,baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh
sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
demi kesempurnaan makalah ini.
Tasikmalaya, 29 Oktober 2019
Penulis
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 3
2.1.
Kajian Pustaka ............................................................................................. 3
2.1.1. Pengertian Fraud Control Plan (FCP) .................................................... 3
2.1.2. Pencegahan Kecurangan......................................................................... 4
2.1.3. Alur Fraud Control Plan ......................................................................... 6
2.1.4. Atribut Fraud Control Plan..................................................................... 7
2.1.5. Siklus Fraud Control Plan ...................................................................... 8
2.2.
Contoh kasus ............................................................................................... 11
BAB III. PENUTUP ................................................................................................... 18
3.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 18
3.2. Saran ................................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 19
II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sebuah fenomena yang tak dapat terhindarkan dalam sebuah lingkungan atau
organisasi yang dapat memunculkan kerugian bagi banyak pihak dewasa ini sangatlah
sering terjadi. Akan lebih fatal jika kegiatan tersebut terus menjalar sampai ke
berbagai ranah. Kesalahan ini jika terus dibiarkan maka akan menjadi masalah yang
bersifat materialis. Di mana akan ada kerugian harus ditanggung oleh organisasi atau
kelompok tersebut.
Pengendalian yang kurang baik dari internal maupun eksternal menjadikan celah
untuk masuknya sebuah permasalahan tadi. Celah-celah tersebutlah yang nantinya
akan membukakan jalan lebih besar yang mejadi pemicu seseorang melakukan
tindakan yang dapat merugikan.
Tak hanya itu praktik tersebut pun kerap terjadi dalam dunia pemerintahan.
Perlunya regulasi yang jelas yang mampu menutupi celah tersebut. Praktik-praktik
yang memberikan kerugian secara material harus mampu ditindak lanjuti bahkan
sebelum kejahatan akan dimulai.
Dalam pemerintahan Indonesia kasus-kasus tersebut sering sekali ditemukan.
Fraud atau kecurangan menjadi masalah kursial yang kerap sulit untuk dikendalikan.
Dampaknya adalah maraknya kasus korupsi yang terjadi dalam dunia pemerintahan
tersebut. Adanya celah menjadikan sebuah jalan untuk bertindak dalam melakukan
kecurangan tersebut. Kasus tersebut seolah menjadi kejahatan yang terstruktur dan
sistemik karena sering melibatkan beberapa elite pemerintahan.
1
Dalam menindaklanjuti kecurangan tersebut melalui BPKP dan KPK pemerintah
mengembangkan sebuah sistem yang didesign untuk mencegah terjadinya kecurangan
yang disebut dengan Fraud Control Plan (FCP) yang juga telah diterapkan di beberapa
negara lain seperti Amerika, Australia dan Selandia Baru.
Pencegahan tersebut dilakukan sebagai tindakan preventif untuk mengurangi
tindakan kecurangan yang dapat merugikan negara secara financial. Dengan adanya
FCP atau Fraud Control Plan ini diharapkan dapat menekan tindak korupsi yang
sering terjadi. FCP merupakan sebuah sistem yang mampu menutupi celah yang
sebelumnya menjadi jalan melakukan tindakan kecurangan dan membentuk tata
kelola pemerintahan yang semakin baik.
FCP memiliki sepuluh atribut yang terbagi ke dalam lima kelompok, yaitu
Integrated Macro Policy, Fraud Risk Assesment, Community Awarness, Reporting
System dan Conduct and Disciplinary Standards.
1.2.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Fraud Control Plan?
2. Bagaimana Pencegahan Kecurangan terjadi?
3. Bagaimana Alur Fraud Control Plan?
4. Apa saja 10 Atribut dalam Fraud Control Plan?
5. Bagaimana Siklus FCP dan bagaimana FCP dapat mencegah kecurangan dan
ketidakpatutan?
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Kajian Pustaka
2.1.1. Pengertian Fraud Control Plan (FCP)
Fraud adalah sebuah perbuatan curang yang melanggar hukum yang dilakukan
secara sengaja oleh satu individu maupun kelompok demi keuntungan sendiri dan
sifatnya dapat merugikan pihak lain. Istilah lain dari fraud adalah penyerobotan,
penjiplakan, pemerasan, pencurian, penggelapan dan lain-lain. Fraud secara umum
bisa disebut sebagai tindak pidana atau perbuatan korupsi. Sedangkan Control Plan
adalah rencana pengendalian suatu proses untuk memastikan suatu proses yang
dilewati sudah dilakukan sesuai standar yang ada. (Keuangan LSM, 2019)
Jadi yang dimaksud dengan Fraud Control Plan adalah perencanaan
pengendalian yang dirancang untuk menangkal, mencegah dan memudahkan
pengungkapan kejadian yang memungkinkan terjadinya korupsi. Sistem tersebut
ditandai dengan adanya atribut-atribut yang merupakan sebuah dasar atau penguatan
dari sistem tata kelola dari setiap organisasi yang telah ada yang dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi masing-masing organisasi pemerintah. Program ini dirancang
untuk melindungi entitas pemerintah dari terjadinya korupsi. (Agung Rai Darmawan,
2012)
Sasaran fraud control plan adalah instansi pemerintah, baik pemerintah
pusat/provinsi/ kabupaten kota yang memuliki kebijakan makro yang terintegrasi
dalam pencegahan/ pemberantasan korupsi. Dengan sasaran akhir adalah area bebas
korupsi dengan cakupan yang luas dalam jangka panjang, keberhasilan pemberantasn
ini akan lebih bergantung pada keberhasilan menguarangi peluang korupsi,
3
mengekang pembenaran dan menghambat niat. (Agung Rai Darmawan, 2012).Bentuk
Kecurangan
yang
timbul
adalah:
1.
Kecurangan
Laporan
Keuangan;
2.
Penyalahgunaan Aset; & Korupsi
2.1.2. Pencegahan Kecurangan
Peran utama dari internal auditor sesuai dengan fungsinya dalam pencegahan
kecurangan adalah berupaya untuk menghilangkan factor-faktor penyebab timbulnya
kecurangan tersebut. Karena pencegahan akan terjadinya suatu perbuatan curang
akan lebih mudah daripada mengatasi bila telah terjadi kecurangan tersebut. Pada
dasarnya kecurangan sering terjadi pada suatu entitas apabila:
1. Pengendalian intern tidak ada atau lemah atau dilakukan dengan tidak efektif.
2. Pegawai dipekerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka.
3. Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau ditempatkan
dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan keuangan yang
mengarah pada tindakan kecurangan.
4. Model manajemen yang tidak efektif dan serta tidak taat terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku.
5. Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat dipecahkan.
6. Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi
kecurangan.
Berikut adalah cara-cara yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya
kecurangan, diantaranya yaitu:
1. Membangun struktur pengendalian intern yang baik
2. Mengefektifkan Aktivitas Pengendalian
3. Meningkatkan Kultur organisasi
4
4. Mengefektifkan fungsi internal audit
5. Menciptakan struktur pengajian yang wajar dan pantas
6. Mengadakan Rotasi dan kewajiban bagi pegawai untuk mengambil hak cuti
7. Memberikan sanksi yang tegas kepada yang melakukan kecurangan dan berikan
penghargaan kepada mereka yang berprestasi
8. Membuat program bantuan kepada staf yang kesulitan baik hal finansial maupun
non finansial.
9. Menetapkan kebijakan perusahaan terhadap pemberian-pemberian dari luar harus
diinformasikan dan dijelaskan pada orang-orang yang dianggap perlu agar jelas mana
yang hadiah dan mana yang berupa sogokan dan mana yang resmi
10. Menyediakan sumber-sumber tertentu dalam mendeteksi kecurangan karena
fraud sukar ditemukan dalam inspeksi yang biasa-biasa saja .
11. Menyediakan channel-channel untuk melaporkan telah terjadinya tindak
kecurangan hendaknya diketahui oleh staf agar dapat diproses.
5
2.1.3 Alur Fraud Control Plan
Undang-undang No.28 Tahun 1999 pasal 1 ayat 3 tentang penyelenggara Negara
yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang berbunyi “Korupsi
adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundangundangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.” Undang-undang No.07
tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Againts Corruption,
2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa Anti Korupsi, 2003).
Kemudian membuat program pencegahan dan pengendalian korupsi yang
didasari oleh Undang-undang tersebut. Menjelaskan mengenai faktor-faktor
penyebab terjadinya korupsi, pendeteksian korupsi sampai dengan upaya-upaya
dalam mencegah terjadinya korupsi. Jika program tersebut sudah dipahami, maka
Negara akan terbebas dari yang namanya korupsi. Sehingga Good Governance, Good
Corporate Governance, Pelayanan Publik dan Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia
menjadi meningkat, yang menyebabkan Indonesia bebas dari korupsi. Ada beberapa
indicator yang bisa membuat Indonesia menjadi makmur dan sejahtera, indikator
tersebut diantaranya: 1. Kemiskinan berkurang; 2. Investasi meningkat; 3.
6
Pengangguran berkurang; 4. Income per kapita meningkat; 5. Pertumbuhan ekonomi
meningkat
2.1.4. Atribut Fraud Control Plan
Ada beberapa atribut yang terdapat dalam FCP, diantaranya:
1. Kebijakan Anti Fraud
Kebijakan anti fraud yaitu kebijakan yang berisi pernyataan sikap organisasi terhadap
fraud, termasuk korupsi yang memuat atribut 2 sampai dengan atribut
2. Stuktur Pertanggungjawaban
Tanggung jawab ini dimulai sejak tingkat pimpinan organisasi sampai dengan tingkat
operasional. Tanggung jawab dari kebijakan tersebut dibagi habis kepada pejabat
senior.
3. Penilaian Risiko Fraud
Penilaian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran terbaru pada setiap
organisasi, mengenai risiko kemungkinan terjadinya fraud pada area atau bidang
tertentu yang memerlukan penyempurnaan kebijakan atau aturan, sehingga sumber
daya dapat dimanfaatkan oleh organisasi secara efisien dan terarah.
4. Kepedulian Karyawan
Para karyawan dalam organisasi harus memahami pengertian fraud, permasalahan
fraud, perbedaan perbuatan fraud dan bukan fraud dan juga tahu apa yang harus
dilakukan jika menemukan kejadian yang memungkinkan terjadinya fraud.
5. Kepedulian Pelanggan Masyarakat
Pada atribut ini organisasi perlu menginformasikan kepada masyarakat dan
stakeholders mengenai nilai-nilai yang dimiliki dan praktek-praktek kegiatan yang
lazim, hak serta kewajiban layanan suatu organisasi.
7
6. Sistem Pelaporan Kejadian Fraud
Sistem ini dibuat oleh pimpinan organisasi untuk menerima dan menyikapi keluhan
dan laporan yang berhubungan dengan fraud termasuk korupsi baik pelanggan,
pegawai maupun masyarakat pada umumnya.
7. Perlindungan Pelapor
Dalam perlindungan organisasi, pimpinan organisasi harus membuat komitmen yang
jelas dan tidak memihak untuk mendukung, serta melindungi semua upaya yang telah
dilakukan dalam pengidentifikasian fraud termasuk korupsi didalam organisasi yang
dikelola.
8. Pengungkapan Kepada Pihak Eksternal
Pimpinan organisasi harus mengetahui kasus-kasus fraud yang terjadi di lingkungan
organisasinya. Jika terjadi praud, maka harus dilaporkan kepada instansi yang
berwenang diluar organisasinya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
9. Prosedur Investigasi
Ditetapkannya prosedur investigasi oleh Pimpinan organisasi yang menjamin bahwa
fraud yang terdeteksi harus ditangani dan diinvestigasikan secara sistematis dan
profesional.
10. Standar Perilaku dan Disiplin
Standar perilaku dan disiplin merupakan standar yang dimenunjukkan mana yang
boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pegawai, tindakan yang legal dan ilegal, serta
sanki yang akan diberikan dalam hal pegawai melanggar standar perilaku dan disiplin.
Standar ini berlaku bagi semua kelompok dan kategori pegawai. (Soeradji Tirtonegoro,
2016)
8
2.1.5. Siklus Fraud Control Plan
Sosialisasi mengenai FCP ini akan sangat diperlukan. Mengingat FCP ini dapat
diterapkan dalam kegiatan sehari-hari terutama dalam pelaksanaan pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat. Dengan adanya FCP ini diharapkan bahwa setiap
kegiatan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan aturan dan tidak adanya tindakan
penyimpangan yang bisa menimbulkan kerugian.
Sosialisasi ini dimulai dengan memberikan gambaran perihal FCP di mana
yang disosialisasikan adalah berupa tingkat keberhasilan FCP dengan menerapkan
atribut-atribut FCP, bagaimana FCP diterapkan harus berdasarkan komitmen dari
pimpinan, siklus FCP, bagaimana FCP berperan dalam memerangi korupsi serta
penilaian yang bersifat berkelanjutan.
Dengan adanya sosialisasi ini pula diharapkan adanya komitmen dari berbagai
pihak terutama dari pimpinan seperti bagaimana yang sudah dijelaskan di atas demi
terselenggaranya kinerja yang bersih dan bebas dari Fraud. Komitmen dibentuk
sebagaimana instansi membuat kebijakan anti fraud yang harus dilaksanakan. Dengan
adanya komitmen ini akan membantu terselenggaranya penerapan FCP secara baik.
9
Dengan adanya komitmen yang baik dari pemimpin dan kerja sama dari
seluruh pihak yang terlibat diharapkan mampu memerangi fraud yang terjadi. Salah
satunya adalah korupsi. Evaluasi yang dilakukan adalah berupa mengukur dan menilai
seberapa jauh atribut-atribut FCP ini terselenggara dalam sebuah instansi tersebut. Di
mana akan dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk terus memperbaiki setiap celah
kesalahan yang bisa timbul dari kegiatan.
Hasil evaluasi selanjutnya akan dipaparkan untuk melihat bagian mana saja
yang perlu diperbaiki. Selain itu penjelasan berupa atribut dengan kinerja yang paling
bagus dan atribut yang harus segera diperbaiki. Pemaparan ini diperlukan sebagai
tindakan preventif untuk terus memperbaiki sistem sehingga akhir dari FCP ini akan
memberikan dampak yang baik.
Dalam pelaporannya, FCP dilaporkan kepada pihak-pihak terkait yang
berkepentingan baik itu pihak internal organisasi maupun pihak eksternal organisasi.
Pelaporan ini dilakukan dengan menyusun Dokumen Laporan Implementasi FCP
yang penyusunannya sesuai dengan Regulasi yang berlaku. Tindak lanjut dan
monitoring dari Implementasi FCP adalah dilakukan oleh Tim Pengendali FCP (Satgas
SPIP) dan pelaksanaanya diawasi oleh tim tersebut.
10
2.2 CONTOH KASUS
1. Evaluasi dan Implementasi Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan FCP
(Fraud Control Plan) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji Tirtonegoro atau biasa disebut
RSST adalah merupakan rumah sakit umum yang berada di Jl. Dr. Soeradji
Tirtonegoro No.1, Dusun 1, Tegalyoso, Kec. Klaten Sel., Kabupaten Klaten, Jawa
Tengah. RSST memiliki 3 pelayanan unggulan yaitu Pelayanan Hip And Knee
(Arthroscopy, Sport Injury, Pain Intervention); Pelayanan Tulang Belakang (Spine);
dan Pelayanan Geriatri.
RSST menerapkan Sistem Pengaduan bagi siapapun menggunakan WBS
(Whistle Blowing System) agar terciptanya WBK (Wilayah Bebas Korupsi) dan WBBM
(Wilayah Birokrasi Bersih Melayani) di lingkungan RSST yang sudah berbasis digital
dan dapat diakses melalui laman http://spi.rsupsoeradji.id/. Sistem ini diterapkan
oleh Tim SPI RSST dan terdiri dari 4 jenis pengaduan, yaitu :
1. “LAPOR PELANGGARAN” dipakai jika menemukan pelanggaran yang
dilakukan oleh Pegawai Rumah Sakit, dan privacy dari pelapor dijamin
kerahasiaannya.
2. “LAPOR GRATIFIKASI” yaitu untuk melaporkan apabila ada Pegawai yang
menerima pemberian baik dalam bentuk barang,uang, atau fasilitas lainnya yang
secara tidak sah.
3. “BENTURAN KEPENTINGAN” untuk melaporkan apabila pelapor memiliki
posisi, status atau jabatan yang mungkin dapat menimbulkan terjadinya conflict
of interest.
11
4. “LAPOR ITJEN KEMKES RI” yang digunakan untuk melaporkan Tindak
Pidana Korupsi yang terjadi di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI ke
Inspektorat Jenderal.
Empat fitur utama WBS di RSST dapat menjadi sarana Pengaduan Masyarakat
dan merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam pengawasan
terhadap instansi/organisasi pemerintahan yang perlu mendapatkan tanggapan
dengan cepat, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan oleh instansi. Adapun kriteria
pelaporan minimal harus memuat sedikitnya ketentuan sebagai berikut:
-
Terjadi Kasus/Penyimpangan di lingkungan RSST,
-
Menyebutkan waktu kejadian dan dimana terjadinya kasus tersebut,
-
Menginformasikan pihak yang terlibat,
-
Menjelaskan kronologis tindakan atau kejadian tersebut terjadi, dan
-
Harus ada bukti sebagai bahan bukti awal.
Program Evaluasi dan Implementasi Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan
FCP (Fraud Control Plan) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah dilakukan pada tanggal 17 Februari 2016 oleh Tim
SPI RSST, adapun hasil evaluasi berupa pengujian eksistensi (keberadaan) dan
implementasi (penerapan) atribut-atribut Fraud Control Plan (FCP) yang diklarifikasi
secara langsung kepada Pejabat dan Staf yang relevan, Satuan Tugas (Satgas) FCP
RSST dan SPI yang tergambar dalam tabel dibawah ini :
(Tabel 1 : Tabel dari Program Evaluasi terhadap Atribut FCP)
12
1.
Kebijakan Anti Fraud
Kebijakan Anti Fraud di RSST mendapatkan predikat “Cukup Memadai” (Nilai
1,69231). Ini dikarenakan berdasarkan hasil evaluasi bahwa komitmen pimpinan
terhadap kebijakan anti fraud sudah terlihat dan dituangkan dalam Surat Keputusan
Direktur Utama RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Nomor HK.02.04/II.1/3035/2015
tanggal 27 Februari 2015 tentang Kebijakan Anti Fraud. Agar sub atribut memadai,
RSST harus mengimplementasikan rekomendasi hasil review yang signifikan dan
dapat menyediakan kemudahan untuk mengakses kebijakan anti fraud oleh pihak
yang berkepentingan.
2.
Struktur Pertanggungjawaban
Struktur Pertanggungjawaban di RSST dinilai “Cukup Memadai” dengan skor
1,75000. Ini dikarenakan RSST sudah memiliki sistem koordinasi yang baik untuk
mengendalikan fraud dan membuat Satuan Tugas Pengembangan FCP yang
dilakukan oleh Satgas Sistem Pengendalian Internal Pemerintah yang terdiri dari
Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) dan Bagian/Bidang serta instalasi di RSST.
3.
Penilaian Risiko Fraud
Penilaian resiko fraud di RSST dinilai “Cukup Memadai” dengan skor 1,42857.
Dan RSST telah memiliki person yang dinominasikan dan bertanggungjawab untuk
mengawasi kajian risiko fraud dan program pengendaliannya, yaitu berada di Tim
Pengendali FCP (Satgas SPIP). Dan penilaian risiko ini diperkuat oleh Surat
Keputusan Direktur Utama RSUP Nomor KP01.02/II.1/15944/2015 tanggal 2
Februari 2015 tentang Penetapan Daftar Risiko Fraud.
4.
Kepedulian Pegawai
Usaha RSST untuk menumbuhkan kepedulian pegawai terhadap tindakan yang
berindikasi fraud dinilai “Cukup Memadai” dengan skor 1,6000 . Sesuai dengan
13
Keputusan Direktur Utama RSUP Nomor HK.02.04/II.1/8303/2015 tanggal 3 Juni
2015 tentang Kepedulian Pegawai atas Kejadian Fraud. Namun masih sangat
dibutuhkan langkah-langkah yang dapat menumbuhkan dan memotiasi seluruh
pegawai supaya peduli dengan tindakan-tindakan yang menyimpang dan berindikasi
kecurangan atau fraud. Salahsatunya bisa dengan melengkapi kebijakan tertulis
untuk memberikan reward kepada pegawai yang melaporkan kejadian fraud, dan
punishment kepada pegawai yang memberikan keterangan palsu/laporan palsu.
5.
Kepedulian Pelanggan dan Masyarakat
Program Kepedulian Pelanggan dan Masyarakat dinilai “Tidak Memadai”
dengan skor 0,87500. Beberapa hal yang perlu dilakukan agar RSST bisa mendorong
Kepedulian Pelanggan dan Masyarakat dalam mencegah fraud yang terjadi adalah
dengan Melaksanakan sosialisasi kepada publik tentang pedoman keluhan
pelanggan, Mempublikasikan informasi yang berisi tindakan-tindakan yang diambil
jika
terjadi fraud dan informasi lainnya untuk mencegah terjadinya fraud serta
RSST perlu melakukan monitoring terhadap program kepedulian pelanggan dan
masyarakat melalui survei atau pendekatan lain untuk menentukan apakah upaya
yang telah dilakukan sudah efektif dalam meningkatkan citra organisasi/instansi,
meningkatkan kepuasan kerja staf dan menangkal atau mendeteksi kejadian fraud
yang terjadi dari luar organisasi.
6.
Sistem Pelaporan Kejadian Fraud
RSST dinilai “Cukup Memadai” dalam hal penerapan Sistem Pelaporan
Kejadian Fraud dengan skor 1,4444. Pimpinan dinilai sudah membuat sistem dan
prosedur yang efektif untuk menerima dan menyikapi setiap keluhan dan
laporan/pengaduan yang berkaitan dengan fraud baik dari internal maupun
eksternal. Langkah-langkah yang perlu dilakukan agar nilai ini meningkat adalah
14
dengan terus mengembangkan mekanisme untuk memfasilitasi dan mendorong
pelaporan fraud dari Pelanggan atau Masyarakat Umum, misalnya melalui
upaya/kampanye pelaporan fraud, memasang banner anti-fraud dan sarana
pelaporannya serta brosur-brosur. Dan RSST dapat melaksanakan Prosedur
Pelaporan yang didokumentasikan dan didistribusikan secara tepat kepada pihakpihak yang berkepentingan diluar RSST.
7.
Perlindungan Pelapor
Dalam melindungi pelapor, RSST dinilai “Memadai” dengan skor 2,00000.
Yang berarti pimpinan RSST sudah membuat komitmen yang jelas dan tidak
memihak serta melindungi semua upaya dalam kaitannya dengan pengidentifikasian
fraud. Namun perlu dilakukan beberapa langkah agar kondisi ini selalu baik,
diantaranya dengan:
-
Menumbuhkan kepedulian karyawan terhadap pentingnya melaporkan fraud;
-
Sosialisasi mengenai keputusan/pedoman Whistle Blower System (WBS) dan
Pengaduan Masyarakat kepada manajemen RSST dan karyawan yang mencakup
sistem dan prosedur, investigasi, kerahasiaan pelapor yang dijaga, pelapor yang
merasa terancam dirinya atau dirugikan, dan dukungan RSST terhadap pelapor yang
sudah berniat baik.
8.
Pengungkapan Kepada Pihak Eksternal
RSST dalam pengungkapan kepada pihak eksternal dinilai “Tidak Memadai”
dengan skor hanya sebesar 0,66667 . ini dikarenakan kurangnya pemahaman
pimpinan bahwa untuk kasus fraud dan korupsi tertentu yang terjadi di lingkungan
organisasi dilaporkan kepada instansi yang berwenang di luar organisasinya sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
9.
Standar Investigasi
15
Standar Investigasi pada RSST dinilai “Cukup Memadai” dengan nilai 1,50000.
Adapun untuk meningkatkan nilai ini diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
-
Manajer Operasi dan lini dalam RSST harus memahami dan mengetahui
dengan jelas menyangkut kapan dan bagaimana melakukan investigasi terhadap
fraud yang terjadi.
-
RSST (SPI) sudah pernah melakukan audit investigasi internal/ penganganan
fraud secara efektif meskipun belum ada program pelatihan yang memadai bagi
petugas yang ditunjuk. Penanganan Investigasi mendapat perhatian dari Pimpinan
dengan dikeluarkannya Keputusan Direktur Utama RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro
Nomor HK.02.04/II.1/18484/2015 tanggal 2 Desember 2015 tentang Standar
Prosedur Operasional Audit Investigasi.
10. Standar Perilaku dan Disiplin
Standar Perilaku dan Disiplin yang berlaku di RSST dinilai “Telah Memadai”
dengan skor 2,00000 dengan adanya Peraturan Direktur Utama RSST Nomor
HK.03.06/II.1/ 17346/2014 tanggal 31 Desember 2014 tentang Standar Perilaku dan
Disiplin Pegawai, adanya Buku Saku Pedoman Perilaku dan Disiplin Pegawai, serta
terdapat Pakta Integritas oleh Pimpinan dan Seluruh Pegawai di RS. Eksistensi dan
Implementasi dari Atribut Standar Perilaku dan Disiplin sudah terpenuhi dengan
baik yaitu melalui adanya Kode Etik yang sudah memberikan pesan yang kuat dan
jelas mengenai tindakan anti-fraud secara general. RSST juga telah jelas
mendefinisikan dan secara formal menetapkan posisinya terhadap disiplin yang
terkait dengan fraud serta mengumumkan langkah-langkah yang diambil dan sifat
hukuman yang akan dikenakan oleh pelaku fraud. Standar Perilaku dan Disiplin juga
sudah didokumentasikan, diumumkan secara layak agar menjamin pemberitahuan
16
resmi telah sampai kepada seluruh pegawai melalui pertemuan maupun media
lainnya di RSST.

Penilaian Risiko Fraud (Fraud Risk Assessment)
Adapun Penilaian Risiko Fraud (Fraud Risk Assessment) pada RSST mengenai
pengendalian keuangan dan non-keuangan, pengawasan dan perilaku manajemen
adalah “CUKUP BERESIKO”, yaitu dengan nilai 94,79% dari 96 Pengendalian yang
seharusnya ada, RSST telah melaksanakan 91 Pengendalian yang sudah diterapkan.
17
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Simpulan
Fraud Control Plan merupakan pengendalian dalam mencegah dan
pengungkapan tindak kecurangan yang dapat merugikan pihak lain sesuai standar
yang berlaku di lingkungan pemerintahan (pusat & daerah). Akan tetapi tindak
pencegahan saja tidak cukup, auditor harus mendeteksi sejak dini adanya tindak
kecurangan tersebut dari ciri-ciri yang terjadi pada setiap orang atau kelompok
tertentu yang dapat menimbulkan kecurigaan adanya kecurangan.
Karakteristik dari kecurangan tentunya berbeda-beda, sehingga untuk
mendeteksi kecurangan perlu pehamanan yang baik. Maka dari itu peran dari auditor
sangat diperlukan dalam upaya pencegahan tindak kecurangan dan berupaya
menghilangkan factor penyebab hal tersebut. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam
mencegah terjadinya fraud yaitu dengan membangun SPI yang baik dan aktivitas
controlling dapat lebih diefektifkan.
3.2. Saran
Penulis mengharapkan dengan adanya makalah ini bisa memberikan
pengetahuan atau konsep dasar tentang bagaimana Fraud Control Plan (FCP) bisa
mencegah tindak kecurangan dan ketidakpatutan di organisasi. Dan Diharapkan juga
pemerintah dan auditor dapat bekerja sama dalam memberantas tindak kecurangan
dari setiap pegawai dengan lebih cepat mendeteksi tindak kecurangan yang mungkin
dapat terjadi di lingkungan pemerintah agar tindak kecurangan bisa dicegah.
18
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf,
M.
E.
(2018).
Apa
itu
Fraud?
[online].
Tersedia
:
https://keuanganlsm.com/apa-itu-fraud/ [29 Oktober 2019]
Cisca. (2008). Simple System “Quality Management System” [online]. Tersedia :
https://simpleqs.wordpress.com/tag/control-plan/ [29 Oktober 2019]
Darmawan,
R.
A.
(2012).
Fraud
Control
Plan
[online].
Tersedia
:
http://agungraidarmawan.blogspot.com/2012/11/fraud-controlplan.html?m=1 [29 Oktober 2019]
Walhi. (2019). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 Tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan
Nepotisme [online]. Tersedia : https://walhi.or.id/undang-undang-republikindonesia-nomor-28-tahun-1999-tentang-penyelenggaraan-negara-yangbersih-dan-bebas-dari-korupsi-kolusi-dan-nepotisme/ [29 Oktober 2019]
Elsam. (2014). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan United
Nations Convention Againts Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan
Bangsa-bangsa
anti
korupsi,
2003)
[online].
Tersedia
:
https://referensi.elsam.or.ic/2014/11/uu-nomor-7-tahun-2006-tentangpengesahaan-united-nations-convenction-againts-corruption-2003-konvensiperserikatan-bangsa-bangsa-anti-korupsi-2003/ [29 Oktober 2019]
Tirtonegoro, S. (2016). Evaluasi Dan Implementasi Langkah-Langkah Dalam
Pelaksanaan FCP (Fraud Control Plan) Di RSST Klaten. Tersedia :
https://www.google.com/amp/s/docplayer.info/amp/38634762-Evaluasidan-implementasi-langkah-langkah-dalam-pelaksanaan-fcp-fraud-controlplan-di-rsst-klaten.html [29 Oktober 2019]
19
http://www.bpkp.go.id/berita/read/4956/980/BPKP-Bengkulu-RoadshowSosialisasikan-Fraud-Control-Plan-Kepada-BUMD.bpkp
https://docplayer.info/38634762-Evaluasi-dan-implementasi-langkah-langkahdalam-pelaksanaan-fcp-fraud-control-plan-di-rsst-klaten.html
20
Download