Uploaded by Tomm Gulö

makalah proses perkembangan janin

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu ciri khas manusia adalah mengalami pertumbuhan dan perkembangan
selama hidupnya. Dengan ciri khas tersebut, manusia pasti mengalami fase prenatal hingga
dewasa. Pertumbuhan itu sendiri memiliki pengertian bertambahnya ukuran dan jumlah sel
serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian
atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Sedangkan
perkembangan dapat diartikan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi
dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda
dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf
pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler,
kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam
kehidupan manusia yang utuh. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut terjadi hingga
akhir hayat manusia.
Proses tumbuh kembang manusia, khususnya pada anak mempunyai beberapa ciriciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan yang menimbulkan sebuah perubahan
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal akan mnentukan perkembangan
selanjutnya
3. Pertumbuhan dan perkembangan memiliki kecepatan yang berbeda Perkembangan
berkorelasi dengan pertumbuhan
4. Perkembangan mempunyai pola yang tetap Perkembangan memiliki tahap yang
berurutan
Pada umumnya, manusia dalam hal ini adalah anak, memiliki pola pertumbuhan
dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor- faktor tersebut antara lain :
a. Faktor internal yang berpengaruh pada tumbuh kembang manusia (anak)
1) Ras/etnik atau bangsa
2) Keluarga
3) Umur
4) Jenis kelamin
1
5) Genetik
6) Kelainan kromosom
b. Faktor luar (eksteral)
c. Faktor prenatal
1) Gizi sang ibu pada saat hamil
2) Posisi fetus yaang abnormal
3) Toksin/zat kimia yang dikonsumsi sang ibu pada saat hamil
4) Endokrin, dalam hal ini penyakit yang diderita oleh sang ibu
5) Radiasi, lebih menekankan pada sinar Rontgen
6) Infeksi yang diderita sang ibu
7) Kelainan imunologi
8) Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta
9) Psikologi sang ibu
d. Faktor persalinan
1. Faktor pascasalin
1) Gizi
2) Penyakit kronis/kelainan konginetal
3) Lingkungan fisis dan kimia
4) Psikologis
5) Endokrin, dalam hal ini adanya gangguan hormon
6) Sosio-ekonomi
7) Lingkungan pengasuhan
8) Stimulasi
9) Obat-obatan yang dikonsumsi
Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan
berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang anak
terbagi dalam beberapa periode, yaitu sebagai berikut:
a. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan). Masa ini dibagi
menjadi 3 periode, yaitu :
1. Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu
2. Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu
3. Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan. Masa ini
terdiri dari 2 periode yaitu:
2
1) Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke-2
kehidupan intra uterin.
2) Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan.
b. Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan. Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu :
1) Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari. Masa neonatal dibagi menjadi 2, yaitu :
a) Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari.
b) Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
2) Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
c.
Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).
d.
Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan).
Perkembangan berlangsung secara terus menerus ke arah kemajuan, kelengkapan,
dan kesempurnaan berdasar pada suatu tahapan yang teratur. Setiap aspek perkembangan
dipengaruhi dan mempengaruhi aspek perkembangan lain, sehingga setiap aspek
perkembangan tidak dapat berkembang secara terpisah-pisah atau sendiri-sendiri.
Perkembangan organisme berlangsung secara komprehensif dalam satu kesatuan, meskipun
setiap aspek memiliki fungsi sendiri. Di samping itu dalam proses perkembangan dapat
terjadi satu aspek berkembang lebih cepat, di sisi lain satu aspek berkembang secara lambat.
Dalam hal ini, perkembangan dipengaruhi berbagai faktor dari dalam diri maupun dari luar
individu. Dalam makalah ini, saya hanya akan membahas mengenai perkembangan anak pada
fase prenatal hingga bayi.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat dikemukakan pada makalah ini yaitu : Proses Perkembangan
Janin Dalam Kandungan Ibu
C. Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : untuk mengetahui
Proses Perkembangan Janin Dalam Kandungan Ibu
3
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Masa Prenatal
Menurut ajaran Islam, kehidupan manusia telah dimulai pada saat sebelum lahir.
Manusia diberikan ruh yang telah hidup sebelum kelahirannya di dunia. Manusia terus
berkembang dalam rahim sang ibunda. Setiap tahapan perkembangan sangatlah penting.
Diantara perkembangan yang penting tersebut adalah tahapan pada saat manusia berada
dalam kandungan ibu atau sering disebut perkembangan masa prenatal. Masa prenatal adalah
periode awal perkembangan manusia yang dimulai sejak konsepsi ( selepas persenyawaan ),
yakni ketika ovum dibuahi oleh sperma hingga seorang manusia terlahir ke dunia. Jangka
waktunya sekitar 266 hari selepas persenyawaan atau 280 hari dari pertama haid yang
terakhir sebelum seseorang hamil.
Periode pra kelahiran (pre natal period) mulai pada saat pembuahan (konsepsi) dan
berakhir pada saat kelahiran (kira-kira 38 minggu). Periode ini memiliki ciri khas khusus,
yaitu :
1. Periode di mana sifat bawaan dan jenis kelamin ditentukan
2. Kondisi-kondisi
dalam tubuh ibu
dapat mendorong
atau
mengganggu
pola perkembangan prenatal
3. Pertumbuhan dan perkembangan secara proporsional lebih besar dan lebih cepat
daripada periode-periode perkembangan lainnya
4. Banyak terdapat bahaya fisik dan psikologis yang dapat mempengaruhi pola
perkembangan pola berikutnya
5. Periode dimana orang-orang yang berarti membentuk sikap terhadap individu yang
baru
I.
Tahapan-tahapan dalam perkembangan masa prenatal
Selama masa prenatal, manusia mengalami perkembangan yang pesat. Saat ini, para
ilmuwan membagi tahapan prenatal menjadi 3 tahap, yaitu :
1) Tahap Germinal
Tahap germinal sering juga disebut periode zigot, ovum, atau periode nuthfah
adalah periode awal kejadian manusia. Proses ini dimulai ketika sperma melakukan
penetrasi terhadap telur dalam proses pembuahan, yang normalnya terjadi akibat
4
hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Pada tahap ini zigot dibentuk. Zigot
terbentuk dari campuran sperma dan sel telur. Sel telur yang telah dibuahi, atau zigot,
bergerak menuju rahim. Pergerakan ini membutuhkan waktu selama empat hari dan
selama pergerakan ini, zigot yang semula berupa satu sel, melalui proses mitosis
membelah menjadi dua sel identik. Pembelahan ini terjadi setiap sekitar 30 jam.
Dalam proses pembelahan ini, bayi masih disebut dengan blastocyte (Blastula), yang
terdiri dari 100 sel. Blastocyte yaitu lapisan dalam sel yang berkembang selama
periode germinal ini, sel-selnya berkembang menjadi embrio. Bagian luar blastocyte
akan menjadi placenta, sedangkan bagian dalam akan menjadi embrio.
Setelah sekitar tiga hari blastokis mengandung sekitar 60 sel. Tetapi karena
jumlahnya semakin banyak maka sel ini semakin mengecil sebab blastokis tidak
mungkin lebih besar dari zigotnya yang asli. Pada minggu kedua, blastokis terdiri dari
sekitar 150 sel. Pada saat terjadinya pembelahan blastokis mengapung dan berproses
disepanjang tubafalopi. Placenta mulai terbentuk, bagian dalam sel memadat dan
berkembang menjadi tiga lapisan yang disebut piringan embrionik (embryonic disc),
yang terdiri dari lapisan ectoderm, mesoderm, dan endoderm.
Dari ectoderm berkembang membentuk kulit ari dan kelenjar kulit (indera
peraba), panca indra dan sistem saraf (otak), tulang belakang, dan lensa mata. Juga
lapisan epidermis (enamel gigi, kulit, rambut, kuku). Lapisan tengah atau mesoderm
berkembang menjadi otot, tulang dan cartilage, sistem buah pelir dan genitalia, sistem
pembuangan kotoran dan sistem peredaran darah, serta kulit lapisan dalam. Lapisan
paling dalam, disebut endoderm (endoblast), nantinya akan berkembang menjadi
sistem pernafasan dan pencernaan, juga berbagai kelenjar seperti pankreas, hati,
thyroid, dan thymus. Dalam waktu singkat plasenta, tali pusar, dan kantong amniotik
juga akan terbentuk dari sel blastokis. Setelah beberapa hari setelah konsepsi blastokis
menempel di dinding rahim, inilah yang disebut embrio dan peristiwa ini menandakan
akhir dari tahap germinal.
2) Tahap Embriotik
Tahap ini dimulai dari dua minggu sampai delapan minggu setelah
pembuahan. Tahap embrio mulai ketika zigot telah tertanam dengan baik pada dinding
rahim. Dalam tahap ini, sistem dan organ dasar bayi mulai terbentuk dari susunan sel.
Meskipun bentuk luar masih jauh berbeda dibandingkan manusia dewasa, beberapa
bentuk seperti mata dan tangan, bahkan telinga dan kaki mulai dapat dikenali. Selama
periode ini, pertumbuhan terjadi dalam dua pola yaitu cephalocaudal dan
5
proximodistal. Cephalocaudal artinya proses pertumbuhan yang dimulai dari bagian
kepala, kemudian terus kebawah sampai ke bagian ekor dengan kata lain, kepala,
pembuluh darah, dan jantung lebih dahulu berkembang daripada lengan, kaki dan
tangan. Pertumbuhan proximodistal adalah proses pertumbuhan yang dimulai dari
bagian-bagian yang paling dekat dengan pusat (tengah) badan, kemudian baru ke
bagian-bagian yang jauh dari pusat badan.
3) Tahap Fetus/ Janin
Tahap ini merupakan tahap terakhir pada masa kehamilan. Tahap fetus ini
dimulai sejak minggu ke-9 hingga kelahiran bayi. Pada tahapan ini, embrio disebut
fetus. Tahap ini berlangsung selama 30 minggu. Embrio yang telah terbentuk mulai
berubah menjadi sel-sel tulang membentuk wajah, kaki, dan tangan sehingga terlihat
berbeda dan fetus tampak dalam bentuk manusia. Selain itu, otak juga telah terbentuk,
dan mulai menjadi lebih kompleks dalam beberapa bulan. Pada bulan ketiga, janin
yang panjangnya kira-kira tiga inci dan berat kira-kira ¾ ons itu secara spontan sudah
dapat menggerakkan kepala, tangan dan kakinya serta jantungnya mulai berdenyut.
Pada minggu awal perkembangan tahap fetal ini, kebanyakan organ dan
jaringan utama telah dibentuk. Bentuk wajah telah terbentuk dengan baik. Lobang
telinga mulai terbentuk. Perkembangan mata juga terlihat hampir penuh, meski
selaput mata masih tertutup dan tidak akan terbuka sampai minggu ke-28. Tangan,
lengan, kaki, paha dan jari jemari telah terbentuk penuh. Fetus dapat membentuk tinju
dari jari-jemarinya. Kuku mulai terbentuk dan bakal gigi mulai berkembang pada
daging mulut, jantung telah hampir berkembang penuh, dan detak jantung telah dapat
didengar dengan mesin Doppler. Sel darah merah mulai diproduksi dalam hati.
Testosterone (hormon seks laki-laki) telah diproduksi pada testes fetus laki-laki.
Dalam psikologi Islam, setelah janin dalam kandungan genap berumur empat
bulan, yaitu ketika janin telah berbentuk sebagai manusia maka ditiupkan ruh ke
dalamnya. Pada trimester kedua (minggu ke 13-16), otak telah berkembang penuh.
Fetus dapat menghisap, mengunyah, dan membuat suara nafas yang belum teratur.
Fetus juga sudah dapat merasakan sakit. Kulit fetal masih transparan. Jaringan otot
memanjang dan tulang semakin kuat. Hati dan organ lain memproduksi cairan yang
dibutuhkan. Alis dan garis mata muncul. Fetus sangat aktif bergerak, termasuk
menendang bahkan jungkir balik.
Pada minggu ke dua puluh, gerakan bayi biasanya telah dapat dirasakan pada
perut ibu, seperti menonjok-nonjok atau menendang-nendang. Pada saat ini panjang
6
janin kira-kira 4,5 inci. Pada permulaan bulan ke-tujuh, panjang janin sudah mencapai
kira-kira enam belas inci dengan berat kira-kira 1,5-2,5 kilogram. Kuku tangan dan
jari kaki telah muncul. Lanugo, bulu halus pada bayi menutup seluruh tubuh. Fetus
dapat mendengar dan mengenali suara ibu. Alat kelamin dapat dilihat dengan
menggunakan ultrasound.
Pada trimester ketiga zat lilin pelindung yang disebut vernix menutupi kulit.
Vernix berguna untuk mengatur temperatur badannya setelah kelahiran. Pada
kelahiran, vernix umumnya akan hilang dan sisanya akan dengan cepat diserap. Fetus
telah memulai refleks terkejut pada tangannya. Sidik jari pada kaki dan tangan mulai
terbentuk. Fetus mulai berlatih pernafasan dengan menghirup cairan amniotic pada
paru-parunya yang sedang berkembang. Pada bulan ke-delapan, berat janin sudah
mencapai kira-kira 2,5-3,5 kilogram. Janin dalam perut ibu juga telah mampu
mendengarkan atau merespon terhadap stimulus dari lingkungan eksternal, terutama
pola-pola suara.
Pada minggu ke-25 sampai 28 perkembangan otak yang cepat terjadi dan
sistem saraf mampu mengontrol fungsi tubuh. Kelopak mata fetus dapat membuka
dan menutup. Pada minggu ke-29 sampai 32, terdapat pertambahan jumlah lemak
pada tubuh fetus. Ritme pernafasan telah terjadi, namun paru-paru belum matang.
Fetus tidur 90-95% tiap harinya.
Pada sekitar minggu ke-38 atau ke-40, fetus telah cukup umur. Lanugo mulai
hilang kecuali pada lengan atas dan bahu. Rambut bayi pada saat itu mulai menebal.
Paru-paru sudah matang. Berat rata-rata bayi pada saat kelahiran sekitar 2,5 – 3,5 kg.
Pada waktu lahir placenta yang melekat pada rahim dan umbilical cord akan dipotong
begitu pertama kali bayi bernafas dari udara. Pernafasan akan memicu jantung dan
arteri bekerja menekan darah melalui paru-paru.
II.
Arti Penting Periode Pranatal bagi Perkembangan
Pembuahan sel telur wanita oleh sel sperma laki-laki dianggap sebagai salah satu
masa yang sangat penting dan menentukan perkembangan manusia pada periode-periode
selanjutnya. Menurut Hurlock 1980, setidaknya ada empat kondisi penting yang berpengaruh
besar terhadap perkembangan individu baru di masa mendatang, yaitu:
1. penentuan sifat
2. bawaan penentuan
jenis kelamin
7
3. penentuan jumlah
anak
4. penentuan urutan
anak.
Periode prenatal
merupakan
periode awal
yang sangat
menentukan pola
perkembangannya pada periode-periode selanjutnya. Sifat-sifat bawaan yang di turunkan
sekali untuk selamanya dan berfungsi sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya,
ditentukan pada periode ini. Kondisi yang baik dalam tubuh ibu, dabpat menunjang
perkembangan sifat bawaan, sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat
perkembangannya, bahkan merusak perkembangan selanjutnya. Di samping itu, periode
prenatal juga merupakan periode penentuan jenis kelamin individu. Jenis kelamin yang sudah
ditentukan pada saat pertumbuhan ini tidak dapat diubah, karena itu jelas akan memengaruhi
pola perkembangan di kemudian hari.
Di samping terjadinya perkembangan yang lebih cepat, periode prenatal juga ditandai
dengan lebih banyaknya terjadi perkembangan dan pertumbuhan secara normal dibandingkan
dengan periode-periode lain dalam seluruh rentang kehidupan individu. Hal ini dapat
dipahami, betapa selama 9 bulan sebelum kelahiran, individu tumbuh dari sel yang sangat
kecil menjadi bayi yang panjangnya menjadi 20 inci dengan berat rata-rata 3,5 kg.
Diperkirakan bahwa selama masa prenatal ini berat badan bertambah 11 juta kali. Demikian
juga, dikatakan bahwa bahwa pada periode prenatal terjadi perkembangan cepat, karena dari
sebuah sel berbentuk bulat berkembanglah anggota-anggota tubuh, baik eksternal maupun
internal, sehingga pada saat kelahiran bayi dapat dikenali sebagai manusia.
Meskipun periode prenatal merupakan periode di mana perkembangan dan
pertumbuhan terjadi lebih banyak dan lebih cepat, namun periode ini juga mengandung
banyak bahaya, baik fisik maupun psikologis yang sangat memengaruhi pola perkembangan
selanjutnya bahkan dapat mengakhiri perkembangan atau kematian.
Periode prenatal juga merupakan saat di mana calon orang tua menentukan sikapnya
terhadap anak yang akan lahir. Sikap ini akan sangat memengaruhi cara bagaimana orang tua
memperlakuukan
atau
mengasuh
anaknya,
terutama
selama
tahun-tahun
pertama
pembentukan kepribadian.
III.
Pengaruh Prenatal pada Tingkah Laku Sesudah Dilahirkan
Tahap prenatal yang berlangsung, memberikan beberapa pengaruh terhadap tingkah
laku anak pasca kelahiran. Beberapa faktor tersebut adalah :
8
1. Faktor Lingkungan
a. Faktor ekstern yang diperkirakan mempengaruhi tingkah laku pos-natal antara
lain :
1. Sinar Rontgen dapat mempengaruhi tingkah laku motorik, gerak bebas,
pembuangan, aktivitas, belajar diskriminatif dan tingkah laku
persetubuhan. Akibat penyinaran memiliki hubungan dengan usia
kehamilan dan banyak sedikitnya penyinaran pada satu pihak dengan
besar kecilnya akibat yang ditimbulkan, makin banyak dosis
penyinaran makin buruk akibatnya
2. Pemakian obat-obat penenang seperti softenon atau thalidomid dapat
mengakibatkan cacat berat. Penelitian antara tahun 1959-1962
menemukan bahwa cacat yang disebabkan thalidomid terjadi antara
hari ke-34 dan ke-50, jadi antara minggu kelima dan ketujuh usia
kehamilan.
Usaha-usaha
pengguguran
kandungan
dengan
menggunakan obat-obatan yang lain pada usia kehamilan awal dapat
menyebabkan gangguan-gangguan perkembangan
b. Ketegangan emosional dapat berpengaruh pada kenaikan aktivitas yang sangat
menyolok pada fetus. Penelitian yang pernah dilakukan bahwa wanita dengan
susunan syaraf otonom yang labil mempunyai fetus yang paling aktif
c. Takhayul di Indonesia menjadi masalah, terutama mengenal pengaruh tingkah
laku orang tua terhadap bayi yang akan dilahirkan. Dalam diri ibu hamil
terdapat pengaruh keadaan hormonal terhadap psikis ibu.
2. Sikap Ibu
Ada anggapan bahwa sikap menolak dari pihak ibu terhadap janin dalam kandungan
akan diteruskan sesudah anak dilahirkan. Dalam penelitian Geissler menunjukkan bahwa ada
perubahan sikap ibu terhadap anak yang dikandungnya, yakni dari sikap positif ke negatif,
dan dari sikap negatif ke positif, dan sikap yang berubah-ubah itu akhirnya menjadi positif,
yaitu sika menerima terhadap anak yang dilahirkan.
IV.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal
Sebagian besar proses pertumbuhan janin sangat bergantung pada kondisi internal ibu,
baik kondisi fisik maupun psikisnya. Sebab ibu dan janin merupakan satu unitas organik yang
tunggal. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal yaitu:
9
a. Kesehatan ibu
Penyakit yang di derita ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan masa
prenatal apalagi penyakit yang bersifat kronis dapat mengakibatkan lahirnya bayi-bayi
yang cacat. Demikian pula bila terjadi benturan ketika janin berusia 3 bulan disertai
dengan gangguan kesehatan pada ibu dapat merusak perkembangan janin. Apabla ibu
hamil terserang campak rubellah (campak jerman) dapat dipastikan 60%
kemungkinan bayi lahir dalam keadaan cacat. Jika campak rubellah menyerang pada
dua bulan pertama kahamilan, mengakibatkan kebutaan, ketulian, kelainan jantung,
kerusakan pada system syaraf pusat, serta keterbelakangan mental dan emosional. Jika
terjadi pada trisemester kedua setelah fetus terbentuk, dampaknya kecil sekali.
Mungkin hanya gangguan pada pendengaran, penglihatan, dan bicara. (seifert dan
hoffnung, 1964-1965).
Besarnya dampak kesehatan ibu hamil terhadap perkembangan masa prenatal
juga terlihat jelas ketika ibu menderita sydrom kehilangan kekebalan tubuh. Yang
lebh dikenal dengan AIDS. AIDS adalah penyebab utama kematian peringkat ke
delapan di kalangan anak-anak dari usia 1-4 tahun pada tahun 1989. Mayoritas ibu
yang menularkan HIV kepada keturunannya terinfeksi melalui penggunaan obatobatan yang disuntikan ke dalam pembuluh darah atau hubungan heteroseksual
dengan para pengguna obat-obatan suntik (santock, 1995)
b. Gizi ibu
Faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan masa prenatal
adalah gizi ibu. Hal ini adalah karena janin yang sedang berkembang sangat
tergantung pada gizi ibunya, yang diperoleh melalui darah ibunya. Oleh sebab itu
makanan ibu-ibu yang sedang hamil harus mengandung cukup protein, lemak,
vitamin, dan karbohidrat untuk menjaga kesehatan bayi. Anak-anak yang dilahirkan
oleh ibu yang kekurangan gizi cenderung cacat.
c. Pemakaian bahan-bahan kimia oleh ibu
Bahan-bahan kimia yang terdapat pada obat-obatan atau makanan yang ada
dalam peredaran darah ibu yang tengah hamil dapat mempengaruhi perkembangan
janin. Bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan efek samping baik pada fisik
maupun pada system kimiawi dalam tubuh janin yang dinamakan metabolite. Salah
satu jenis obat mengandung bahan kimia yang membahayakan perkembangan janin
adalah thalidomide.
10
d. Keadaan dan ketegangan emosi ibu
Keadaan emosional ibu selama kahamilan juga mempunyai pengaruh yang
besar terhadap perkembangan masa prenatal. Hal ini adalah karena ketika seorang ibu
hamil mengalami ketakutan, kecemasan, stress, dan emosi lain yang mendalam maka
terjadi perubahan psikoligis antara lain meningkatnya pernafasan dan sekresi oleh
kelenjar. Adanya produksi hormone adrenalin sebagai tanggapan terhadap ketakutan
akan menghambat aliran darah ke daerah kandungan dan membut janin kekurangan
udara.
Ibu yang mengalami kecemasan berat dan berkepanjangan sebelum atau
selama kehamilan, kemunginan besar mengalami kesulitan medis dan melahirkan bayi
yang abnormal di bandingkan dengan ibu yang relatif tenang dan aman. Di samping
itu sress dan kecemasan yang dialami ibu setelah kelahiran, diasosiasikan dengan bayi
yang sangat aktif, cepat marah, dan tidak teratur dalam makan, tidur, dan buang air.
V.
Bahaya Fisik Selama Periode Prenatal
1. Periode Zigot
1) Ovum yg dibuahi kemungkinan akan mati kelaparan sebelum menempel
di dinding rahim karena lamanya waktu yg dibutuhkan melewati tuba falopi
2) tidak adanya persiapan dinding rahim untuk menerima ovum yg dibuahi
karena ketidakseimbangan antara kelenjar pituitary dan ovarium ibu
3) melekatnya ovum yg dibuahi pada dinding tuba falopi mengakibatkan tidak
adanya makanan atau ruangan untuk tumbuh
2. Periode Embrio
1) Jatuh, kejutan emosi, kekurangan gizi, gangguan kelenjar, kekurangan
vitamin, dan penyakit berbahaya seperti pneumonia dan diabetes, dapat
mengakibatkan embrio keluar dr tempatnya di dinding uterus, yg
menyebabkan keguguran--sering terjadi pd minggu ke-10 dan 11 setelah
pembuahan
2) Malnutrisi ibu, pemakaian obat-obatan dan alkohol secara berlebihan
mengakibatkan gangguan perkembangan yg normal
Periode Fetus

Keguguran
11
VI.

Kelahiran prematur

Komplikasi pada saat melahirkan

Ketidakteraturan perkembangan
Bahaya Psikologis Selama Perkembangan Prenatal
1. Kepercayaan tradisional tentang prenatal
1) Keinginan mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu
2) Gangguan perkembangan karena faktor keturunan, terutama ibu
2. Stress ibu selama prenatal:
1) Tidak menghendaki kehadiran anak
2) Gangguan-gangguan fisik selama prenatal
3) Ketakutan anaknya mengalami kecacatan/keterlambatan mental
3. Sikap negatif terhadap prenatal
1) Anak yg tidak diinginkan
2) Tidak menghendaki anak saat ini
3) Lebih menyukai anak dengan jenis kelamin tertentu
4) Konsep anak impian
5) Menghendaki aborsi
VII.
Teratologi dan GangguanPerkembangan Prenatal
Teratogen: setiap agen/unsur lingkungan yang menyebabkan gangguan kelahiran
Teratologi: ilmu yg mengkaji sebab-sebab kelainan kelahiran
Pengaruh teratogen muncul sejak 3 minggu setelah pembuahan dan menyebabkan:
Kerusakan struktural/anatomis organ selama periode embrionik
Kerusakan fungsional organ selama periode fetal
Jenis-jenis Teratogen dalah sebagai berikut :
a.
Penyakit dan Kondisi Ibu
 Campak Rubella (Jerman) menyebabkan retardasi mental, kebutaan,
ketulian, dan kelainan jantung--terutama ketika kehamilan pada usia 3
dan 4 minggu
 Sifilis, terutama ketika kehamilan bulan ke-4, merusakan organ tubuh
yg sudah terbentuk:kerusakan mata, kulit, sistem syaraf pusat, dan
pencernaan
12
 Herpes genital: 1/3 bayi yg lahir melalui saluran yg terinfeksi
penyakit ini meninggal dunia, 1/4 mengalami kerusakan otak
 AIDS: menempati peringkat ke-8 penyebab utama kematian anakanak, bayi menjadi terinfeksi HIV; menular melalui: (1) Ari-ari selama
hamil, (2) Kontak dengan darah atau cairan ibu selama melahirkan, dan
(3) Air susu ibu setelah melahirkan
 Gizi Ibu: jumlah total kalori dan tingkat protein, vitamin, dan mineral
yg sesuai. Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan gizi
cenderung cacat, berat badan rendah, kurang vitalitas, lahir prematur,
dan meninggal
b. Keadaan dan Ketegangan Emosional Ibu
 Ketakutan, kecemasan, dll mengakibatkan perubahan fisiologis berupa
meningkatnya hormon adrenalin yg dapat menghambat aliran darah ke
kandungan-janin kekurangan oksigen
 Keadaan emosional ibu selama melahirkan mengakibatkan kontraksi
menjadi tidak teratur sehingga proses kelahiran mjd lama dan pasokan
oksigen ke bayi menjadi terganggu ( bayi memiliki penyesuaian diri
yang lambat dan mudah marah, lebih sering menangis )
c.
Obat-obatan
 Alkohol: jumlah sedikit berhubungan dengan aborsi spontan, jumlah
sedang berhubungan dengan ketidakmampuan menaruh perhatian pada
masa bayi, dan jumlah banyak berasosiasi dengan fetal alcohol
syndrome (kecacatan wajah, tungkai, lengan, dan jantung; intelegensi
di bawah rata-rata, retardasi mental
d. Bahaya Lingkungan
 Radiasi dan zat-zat kimia dapat menyebabkan mutasi gen yaitu
perubahan yang tiba-tiba tetapi permanen dalam di dalam bahan
pembawa gen
 Polutan lingkungan dan limbah beracun: karbonmonoksida, merkuri,
dan timbal--retardasi mental, autisme
 Toxoplasmosis: suatu infeksi ringan yang menyebabkan gejala flu
ringan atau suatu penyakit yang tidak jelas pada orang dewasa.
Toxoplasmosis merupakan teratogen bagi bayi yang belum lahir, yang
13
menyebabkan kemungkinan kerusakan mata, kerusakan otak, dan
kelahiran prematur
 Mandi sauna terlalu lama bagi ibu yang sedang hamil menyebabkan
demam yang membahayakan bagi janin (demam panas yang tinggi
mempengaruhi pemecahan sel, menyebabkan kelainan kelahiran, dan
kematian janin).
B.
Perkembangan Masa Bayi
a. Tahap-tahap kelahiran
Tahap pertama terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 15-20menit.
Kontraksi ini menyebabkan leher rahim terentang dan terbuka ketika tahap
pertama berlangsung kontraksi semakin sering yang terjadi setiap 2-5 menit.
Intensitasnya juga meningkat. Pada akhir tahap kelahiran, kontraksi
memperlebar leher rahim hingga terbuka sekitar 4 inci sehingga bayi dapat
bergerak dari peranakan ke saluran kelahiran.
Tahap kedua di mulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan
saluran kelahiran. Tahap ini berakhir ketika bayi benar-benra keluar dari tubuh
ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1 ½ jam. Pada setiap kontraksi ibu
mengalami kesakitan untuk mendorong bayi keluar dari tubuhnya. Waktu
kepala bayi keluar dari tubuh ibu, kontraksi terjadi hampir setiap menit.
Tahap ketiga setelah bayi lahir. Pada waktu ini ari-ari, tali pusar, dan selaput
lain dilepaskan dan di buang. Tahap akhir inilah yang paling pendek.
b.
Pengaruh Kelahiran terhadap Perkembangan Pasca Lahir
Kondisi-kondisi kelahiran yang mempengaruhi perkembangan pasca lahir:
1. Jenis kelahiran
Secara umum kelahiran dapat dibedakan atas empat jenis, kelahiran
normal atau spontan, kelahiran dengan peralatan, kelahiran melintang,
kelahiran pembedahan ceasar.
2. Pengobatan ibu
Obat-obtanan yang digunakan ibu yang digunakan sebelum dan selama
proses
kelahiran
dapat
mempengaruhi
kelahiran.
Hasil
penelitian
menunjukan bahwa semakin banyak obat yang diberikan pada ibu saat
melahirkan, semakin lama dan sulit bayi menyesuaikan diri dengan
14
kehidupan pasca lahir. Bayi yang lahir dari ibu yang memakan oxytocin
cendurung mengalami penyakit kuning. Demikian juga kelahiran yang
dipaksakan dengan dibantu oleh obat-obatan pembunuh rasa sakit, akan
semakin banyak perawatan kesehatan diperlukan setelah kelahiran.
3. Lingkungan pra lahir
Setiap kondisi dalam lingkungan pra lahir yang menghalangi
perkembangan janin sesuai dengan table waktu yang normal akan lebih
banyak mengakibatkan kesulitan pada saat lahir dan penyesuaian pasca lahir
di bandingkan dengan kondisi lingkungan yang nyaman.
4. Jangka waktu periode kelahiran
Lama rata-rata periode kelahiran 38 minggu atau 266 hari namun hanya
sedikit bayi yang lahir tepat pada waktunya. Adakalanya bayi lahir lebih awal
dan adakalanya lebih lambat dari waktu rata-rata tersebut. Bayi yang lahir
lebih awal disebut premature sedangkan bayi yang lebih lambat disebut
posmatur.
Bayi yang lahir premature,(lahir sebelum waktunya) maupun yang
berat lahirnya rendah dianggap sebagai bayi yang beresiko tinggi dan
cenderung memperlihatkan gejala perkembangan yang berbeda dengan bayi
yang lahir tepat waktu atau lebih lambat. bayi posmatur biasanya lebih cepat
dan berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan pasca lahir dibandingkan
dengan bayi yang normal sekalipun.
5. Perawatan pasca lahir
Perhatian dan perawatan yang dilakukan ibu terhadap bayi yang baru
dilahirkan mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangannya. Bayi
yang mendapat perhatian dan perawatan dengan baik cenderung lebih
waspada, lebih aktif, dan lebih tanggap terhadap rangsangan luar
dibandingkan dengan bayi yang kurang mendapat perawatan. Beberapa
dokter rumah sakit meyakini bahwa periode singkat setelah kelahiran
memiliki arti penting bagi perkembangan bayi oleh karena itu selama waktu
ini, orang tua dan bayi perlu membentuk hubungan kedekatan emosional
yang memberi landasan bagi perkembangan yang optimal pada tahun-tahun
ke depan.
Bayi yang dipisahkan dari ibunya setelah lahir, dapat menyulitkan
perkembangan ikatan. Menempatkan bayi yang baru lahir di sebelah tempat
15
tidur ibunya dimaksudkan agar ibu segera dapat merespon dan memenuhi
kebutuhan perawatan bagi ibunya. Disamping itu metode lain yang dilakukan
adalah dengan meletakkan bayi yang baru lahir di atas perut ibu segera
setelah lahir, dengan keyakinan bahwa penempatan itu akan mendorong
ikatan emosional ibu dan bayi.
6. Sikap orang tua
Hubungan baik orang tua dengan anak dapat membantu bayi dalam
menyesuaikan diri dengan lingkuungan baru yang di alami setelah lahir.
Demikian pentingnya kondisi atau sikap ibu terhadap penyesuaian diri bayi
yang baru lahir, seorang ayah sangat dituntut dalam persalinan anak sebab
kehadiran ayah dalam ruang persalinan, dapat memberikan dukungan dan
kekuatan emosional bagi ibu pada saat melahirkan bayi. Disamping itu,
dilihatkan dalam konteks psikologi Islam, pentingnya kehadiran ayah dalam
ruang persalinan mempunyai kaitan erat dengan tanggung jawab pemberian
pendidikan pertama, yakni menyuarakan lafadz adzan di telinga kanan dan
khomat di telinga kiri pada saat ia lahir.
c. Perkembangan pada masa bayi
i.
Pertumbuhan Fisik
1.
Tinggi dan berat badan
Pada saat baru lahir bayi memiliki kepala yang sangat besar
dibandingkan bagian tubuh lainnya. Pada saat rentang waktu 12 tahun
perkembangan bayi sudah banyak berubah dimana bayi sudah bisa
duduk, berdiri, membungkuk, memanjat dan bahkan berjalan. Pada
saat lahir panjang bayi ± 20 inci atau 50 cm dengan berat badan 3,4 kg.
Selama bulan-bulan pertama kehidupannya, berat badan bayi
bertambah sekitar 5 hingga 6 ons per minggu. Pada usia 2 tahun berat
badan mencapai sekitar 13 hingga 19 dengan tinggi sekitar 32 hingga
35 inci.
2.
Perkembangan refleks
Refleks adalah gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis dan
tidak terkoordinir sebagai reaksi terhadap rangsangan tertentu serta
memberi bayi respons penyesuaian diri terhadap lingkungan. Refleksrefleks utama pada bayi yang baru lahir, Selfert dan Hoffinung
menyebutkan ada 12 gerakan refleks yaitu: pernapasan, menghisap,
16
mencari, menelan, mengedip, biji mata, moro, memegang, penguatan
leher, bebinski, melangkah, berenang. Kedua bentuk refleks tersebut :
3.
a.
Refleks survival
b.
Refleks primitif
Refleks menghisap dan mencari
Refleks menghisap terlihat pada saat bayi baru lahir secara otomatis
akan menghisap benda yang ditempatkan dimulutnya dengan refleks
menghisap akan memudahkan bayi memperoleh makanan sebelum
mereka
mengasosiasikan
puting
susu
dengan
makanan.
Refleks mencari dan menghisap akan menghilang setelah bayi
berusaha kira-kira 3 hingga 4 bulan. Kemudian usia bayi 1 tahun
refleks menghisap menyatu dan diperluas dengan aktivitas makan yang
disengaja
4.
Refleks moro (moro refleks)
Refleks moro adalah suatu respons tiba-tiba dari bayi yang baru lahir
sebagai akibat adanya suara atau gerakan yang mengejutkannya.
Refleks moro ini merupakan suatu upaya mempertahankan hidup. Bayi
yang sehat aka menunjukkan respons tersebut apabila ia terkejut.
5.
Refleks menggenggam (grasping refleks)
Refleks menggenggam merupakan langkah awal bagi bayi untuk lebih
memudahkan melakukan aktivitas menggenggam selanjutnya yang
lebih sengaja. Refleks ini terjadi ketika sesuatu menyentuh telapak
tangan bayi dan bayi akan merespons dengan cara menggenggam
dengan kuat. Beberapa refleks yang muncul pada bayi yang baru lahir
yang menghilang karena bergabung ke dalam beberapa tindakan yang
lebih konfleks dan spontan.
6.
Rangkaian tingkah laku dan keadaan bayi
Perkembangan refleks dalam fungsi metorik pada bayi kemuidan
memunculkan serangkaian tingkah laku yang lebih kompleks. Dengan
tingkah laku yang kompleks tersebut telah memungkinkan bayi sebagai
makhluk biologis dapat bertahan hidup.
7.
Pola tidur dan bangun
17
Bayi yang baru lahir menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur.
Rata-rata bayi yang baru lahir selama 16 hingga 17 jam sehari.
Biasanya jumlah tidur bayi itu berkurang secara teratur setiap bulan.
 Tingkah Laku Ciri Utama adalah sebagai berikut :
Siklus tidur dan bangun Neonatal : 80 % waktu dihabiskan
untuk tidur.
6 – 7 bulan : tidur sepanjang malan tanpa
bangun.
12 bulan : 50 % dihabiskan waktu untuk
tidur.
 Tingkah laku Neonatal :
basah dan BAB setiap saat.
2 bulan : bayi BAB 2 kali sehari
4 bulan : interval makan dan BAB bisa diramalkan.
 Tingkah laku makan dan minum Neonatal :
bayi makan 7 – 8 kali sehari.
1 bulan : bayi makan 5 – 6 kali sehari.
2 bulan : memakan makanan padat.
12 bulan : makan 3 kali sehari.
8.
Pola makan dan minum
Perkembangan fisik pada bayi tergantung makanan yang baik selama 2
tahun pertama. Bayi membutuhkan makanan yang mengandung
sejumlah protein, kalori, vitamin dan mineral. Bagi bayi usia 4 – 6
bulan pertama, ASI atau susu formula lain merupakan sumber
makanan dan energi yang utama. Memberi ASI berarti susu yang
bersih dan dapat dicerna serta menolong mengimunisasi bayi yang
baru lahir dari penyakit.
9.
Pola buang air
Kemampuan untuk mengendalikan buah air ini sangat tergantung pada
kematangan otot dan motivasi yang mereka miliki. Ketika baru lahir
bayi belum mampu mengendahkan buang airnya sehingga buang air
setiap saat. Pada usia empat bulan, interval buang airnyasudah bisa
diramalkan.
10.
Perkembangan keterampilan motorik
18
Secara garis besarnya, urutan perkembangan keterampilan motorik ini
mengikuti dua prinsip, yaitu :
 Prinsip cephalocaudal (dari kepala keekor), menunjukkan
urutan perkembangan, dimana bagian atas badan lebih dahulu
berfungsi dan terampil digunakan sebelum bagian yang lebih
rendah.
 Prinsip proximodistal (dari dekat kejauh), menunjukkan
perkembangan keterampilan motorik, dimana bagian tengah
badan
lebih
dahulu
terampilan
sebelum
bagian-bagian
disekelilingnya atau bagian yang lebih jauh.
11.
Keterampilan motorik kasar
Gross motor skill, meliputi keterampilan otot-otot besar lengan, kaki
dan batang tubuh seperti berjalan dan melompat. Sebelum tingkah laku
refleks menghilang, bayi sudah dapat melakukan beberapa gerakan
tubuh yang lebih terkendali dan disengaja.

Keterampilan Motorik Usia Normatif
Mengangkat dagu sambil tengkurap 1
bulan
Mengangkat dada sambil tengkurap 2
bulan
Duduk dengan bantuan 4 bulan
Duduk tanpa bantuan 7 bulan
Berdiri dengan bantuan 8 bulan
Berdiri dengan berpegang pada perabot 9 bulan
Merangkak 10 bulan
Berjalan dengan bimbingan 11 bulan
Berusaha berdiri sendiri 12 bulan
Naik tangga 13 bulan
Berdiri sendiri 14 bulan
Berjalan 15 bulan
Naik turun tangga tanpa bantuan 18 bulan
Dapat lari dan berjalan mundur 24 bulan
12.
Keterampilan motorik halus
19
Keterampilan motorik halus meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh
tubuh, seperti menyentuh dan memegang. Bayi dilahirkan dengan
dilengkapi seperangkat komponen penting yang kelak akan menjadi
gerakan-gerakan lengan, tangan dan jari yang terkoordinir dengan baik.
Meskipun demikian, pada saat baru dilahirkan bayi masih mengalami
kesulitan dalam mengontrol keterampilan motorik halusnya.
13.
Perkembangan sensor
Bayi yang baru lahir telah dilengkapi dengan peralatan yang dirancang
sedemikian rupa untuk mengumpulkan informasi alat-alat yang
berfungsi untuk menangkap informasi inilah yang disebut dengan
indera (sense) atau sistem sensorik.
14.
Pengecapan
Bayi yang baru lahir juga telah memiliki kepekatan rasa hal ini terbukti
dengan jelas bahwa bayi lebih menyukai rasa manis dan mereka akan
menghisap labuh kuat dan cepat ketika mengeluarkan air gula
dibanding dengan mengeluarkan air biasa atau air tawar.
15.
Penciuman
Bayi yang baru lahir juga telah memiliki reaksi terhadap berbagai bau,
baik bau harum atau bau busuk bayi yang baru lahir juga dapat
mengenali bau payudara ibunya.
16.
Pendengaran
Setelah lahir bayi sudah bisa dapat mendengar sekalipun belum
sempurna, namun pendengaran bayi ini akan berkembang sehingga ia
akan memperlihatkan kemampuan melokalisasi sumber suara dan
membedakan keras atau lunaknya serta durasi melalui respons yang
berbeda.
17.
Penglihatan
Secara psikologis dan anatomis, bayi yang baru lahir telah memiliki
kesiapan
untuk
merespons
secara
diferensial
berbagai
aspek
penglihatannya. Dari penelitian yang dilakukan oleh Fantz dapat
ditarik kesimpulan bahwa:
 Bayi yang baru lahir telah mampu membuat diskriminasi visual
secara baik.
20
 Bayi merespons secara selektif berbagai stimulasi visual.
Misalnya bayi lebih senang melihat pola atau bentuk daripada
warna atau kecerahan.
18.
Perkembangan otak
Pada waktu bayi masih berada dalam kandungan ibunya, bedanya telah
membentuk sekitar 1,5 milyar sel-sel saraf permenit. Pada saat lahir
berat otak bayi seperdelapan otak dewasanya, maka pada saat umur 2
tahun kedua otak bayi sudah mencapai kira-kira 75 % dari otak
dewasanya.
ii.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan
manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua
proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari
dan memikirkan lingkungannya. Pengertian kognitif itu sendiri dapat
dipahami sebagai sebuah istilah yang digunakan psikologi untuk menjelaskan
semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan
dan pengelolaan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh
pengetahuan, memecahkan masalah.
iii.
Perkembangan Attachment
Attachment yang menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan
anak dan Attachment mengacu pada ikatan antara dua orang individu atau
lebih; sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dan spesifik
serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang
tertentu.
Tahap-Tahap Pembentukan Attachment
a. Tahap 1
Indiscriminate Sociability pada umur 0 – 2 bulan. Bayi tidak
membedakan antara orang-orang yang ada disekelilingnya dan
merasa senang dengan orang yang dikenal
b. Tahap 2
Attachment makin terasa dan terlihat pada umur 2 – 7 bulan.
Bayi mulai mengakui dan menyukai orang-orang yang
dikenal, tersenyum pada orang yang lebih dikenal.
21
c. Tahap 3
Pada umur 7 – 24 bulan bayi telah mengembangkan
keterikatan dengan ibu atau pengasuhnya dan akan berusaha
untuk menangis ketika berpisah dengannya
d. Tahap 4
Goal – coordinated parteneships 24 bulan dan seterusnya
Sekarang bayi merasa lebih aman dalam berhubungan dengan
pengasuh pertama, bayi tidak merasa sedih selama berpisah
dari ibu atau pengasuh pertamanya dalam jangka waktu yang
lainnya.
iv.
Perkembangan Rasa Percaya (Trust)
Erikson menyatakan bahwa tahun-tahun pertama kehidupan ditandai
oleh perkembangan rasa percaya (trust) dan rasa tidak percaya (mistrust).
Keadaan percaya pada umumnya mengandung tiga aspek, yaitu:
- Bahwa bayi belajar percaya pada kesamaan dan kesinambungan dari
pengaruh di luarnya
- Bahwa bayi menganggap dirinya cukup dapat dipercaya pada kemampuan
organ-organnya sendiri untuk menanggulangi dorong-dorongan.
- Bahwa bayi menganggap dirinya cukup dapat dipercaya sehingga
mengasuh tak perlu waspada dirugikan.
- Bukti pertama yang menunjukkan adanya kepercayaan sosial pada bayi
terlihat pada kesenangan menikmati air susu, kepulasan tidur dan
kemudahan buang air besar.
v.
Perkembangan Otonomi
Otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk
menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya
sendiri. Ada juga yang menyatakan bahwa otonomi atau kemandirian
merupakan tahap kedua psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi
dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun atas perkembangan
kemampuan mental dan kemampuan motorik.
22
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan tentang perkembangan masa prenatal hingga masa bayi tadi, dapat
disimpulkan bahwa manusia mengalami perkembangan sejak sebelum dilahirkan (masih
dalam kandungan) atau biasa disebut dengan periode prenatal. Dalam periode prenatal,
terdapat tahapan-tahapan perkembangan. Tahap-tahap yang dimaksud adalah tahap germinal,
embrio, dan fetal. Begitu juga untuk periode kelahiran hingga bayi. Tahap-tahap kelahiran
yang berlangsung adalah tahap pertama terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung 1520menit, tahap kedua di mulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran
kelahiran, dan tahap ketiga setelah bayi lahir dimana pada waktu ini ari-ari, tali pusar, dan
selaput lain dilepaskan dan di buang. Dalam setiap tahap tersebut, manusia mengalami proses
perkembangan yang sangat teratur.
B. Saran
Dari penulisan makalah ini kami sangat berharap semoga apa yang kami tulis bisa
membuahkan manfaat,pembaca bisa memahami dan menyiapkam diri sebelum proses kelahiran
dan apa saja yang harus dilakukan ketika proses persalinan telah tiba waktunya.
23
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. Psikologi Perkembangan. 2010. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Meilina Rupiani. Makalah Perkembangan Masa Pranatal Dan Kelahiran Pada Peserta Didik.
Program Study D-III Kebidanan Uninersitas Respati Yogyakarta. Tahun 2014/2015
Muhibbin Syah. Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. 2014. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
24
Download