Uploaded by common.user25402

KUMPULAN MAKALAH KARIR. halaman 46

advertisement
(TRAIT AND FACTOR)
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Karir
Menurut para ahli, istilah karir memiliki makna yang berbeda-beda tergantung dari sudut
pandangnya masing-masing. Namun demikian, terdapat kesamaan bahwa masalah karir tidak dapat
dilepaskan dengan aspek perkembangan, pekerjaan, jabatan, dan proses pengambilan keputusan. Atas
dasar ini, untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dan komprehensif tentang hakekat karir,
bagian ini akan menjelaskan tentang konsep dasar karir, teori-teori perkembangan karir, serta
implikasinya terhadap konseling.
Konsep Dasar Karir
Surya (dalam Sunardi: 2008) menegaskan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan, tetapi
mempunyai makna yang lebih luas dari pada pekerjaan. Karir dapat dicapai melalui pekerjaan yang
direncanakan dan dikembangkan secara optimal dan tepat, tetapi pekerjaan tidak selamanya dapat
menunjang pencapaian karir. Dengan demikian pekerjaan merupakan tahapan penting dalam
pengembangan karir. Sementara itu, perkembangan karir sendiri memerlukan proses panjang dan
berlangsung sejak dini serta dipengaruhi oleh berbagai factor kehidupan manusia.
Milgram (dalam Sunardi: 2008) menegaskan bahwa perkembangan karir merupakan suatu proses
kehidupan panjang dari kristalisasi indentitas vokasional. Suatu variasi luas dari kombinasi faktor
keturunan, fisik, pribadi-sosial, sosiologis, pendidikan, ekonomi, dan pengaruh-pengaruh budaya. Dalam
bagian lain juga disebutkan bahwa karir adalah gaya hidup. Artinya bahwa karir adalah suatu makna
utama dari ekspresi kemampuan dan minat khusus yang secara intensif disadari sebagai implikasi dari
pilihan pekerjaan untuk gaya hidup di masa mendatang. Dalam diskusi tentang karir sebagai gaya hidup,
isu-isu yang berlawanan dengan nilai-nilai pekerjaan yang menyenangkan sering kali muncul. Atas dasar
ini karir hakekatnya adalah bagaimana memadukan antara kemampuan dengan nilai kesenangan sebagai
satu kesatuan. Karir sebagai gaya hidup adalah bagian dari proses pengambilan keputusan pada semua
orang, dengan maksud agar tidak menimbulkan konflik antara kesenangan dalam pekerjaan dengan
pemenuhan aspirasi dan dalam merealisasikan kemampuannya.
Munandir (dalam Sunardi: 2008) menyatakan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan dan hal
memutuskan karir bukanlah peristiwa sesaat , melainkan proses yang panjang dan merupakan bagian
dari proses perkembangan individu. Hoyt (dalam Fauzan: 2004) menjelaskan bahwa karir adalah
totalitas dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam sepanjang hidupnya. Dalam arti sempit
karir adalah jumlah total dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam kategori pekerjaan umum,
seperti sebagai pengajar, akunting, dokter, atau sales.
Sementara itu Gibson dan Mitchell (dalam Sunardi: 2008) menjelaskan bahwa karir adalah jumlah
total dari pengalaman hidup dan gaya hidup seseorang. Secara konseptual, karir erat kaitannya dengan
1
pekerjaan, perkembangan karir, pendidikan karir, bimbingan karir, konseling karir, informasi pekerjaan,
jabatan, dan pendidikan jabatan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa antara karir, pendidikan karir,
perkembangan karir, dan konseling karir merupakan istiah-istilah yang saling berhubungan. Karena itu
satu tanpa yang lain tidak akan efektif dan kurang bermakna. Dimaksudkan dengan pendidikan karir
adalah seluruh aktivitas dan pengalaman yang direncanakan untuk menyiapkan seseorang untuk
memasuki dunia kerja, perkembangan karir merupakan aspek dari totalitas perkembangan yang
mendasarkan pada belajar tentang, persiapan untuk, masuk ke, dan kemajuan dalam dunia pekerjaan.
Sedangkan konseling karir adalah aktivitas yang dimaksudkan untuk menstimulasi dan memfasilitasi
perkembangan karir sepanjang hidupnya. Aktivitas tersebut termasuk membantu dalam perencanaan
karir, pengambilan keputusan karir, dan penyesuaian karir. Dengan demikian, pendidikan karir akan
menstimulasi perkembangan karir, sedangkan konseling karir akan memberikan arah terhadap
pendidikan dan perkembangan karir.
B. Teori Karir Kepribadian Trait & Factor
Teori Trait-Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepsibadian seseorang dapat
dilukiskan dengan mengidentifikasikan jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang
mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu. Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan
yang sama dan menggunakan tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorang
mengenai ciri-ciri dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyai relevansi terhadap
keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan dan mengikuti suatu program studi.
Dan juga Istilah konseling Trait-Factor dapat dideskripsikan adalah corak konseling yang
menekankan pemahaman diri melalui testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam
memecahkan baraneka problem yang dihadapi, terutama yang menyangkut pilihan program studi/bidang
pekerjaan.
Teori awal yang muncul bagi konseling dan pengembangan Karir disebut faktor-sifat/watak (TraitFactor). Label ini berangkat dari asumsi bahwa dengan menilai sifat/watak individu lewat ukuranukuran objektif lalu menyesuaikannya dengan yang biasanya dibutuhkan bagi performa yang sukses di
wilayah Karir tertentu akan memampukan konselor menyediakan bantuan objektif bagi konseli yang
mencari arah Karir.
Pendekatan faktor-sifat/watak ini didasarkan pada konsep Frank Parsons tentang bimbingan kerja
yang diuraikan di bukunya Choosing a Vocation (1909). Di buku ini, Parsons menyarankan tiga langkah
besar untuk mengembangkan pengambilan keputusan Karir individu. Dalam bentuk ringkasnya,
langkah-langkah tersebut berbunyi sebagai berikut :
2
1. Sebuah pemahaman yang jelas dan objektif tentang diri seseorang seperti kemampuannya,
minatnya, sikapnya, dan lain-lain.
2. Sebuah pengetahuan tentang persyaratan dan karakteristik Karir-Karir yang spesifik.
3. Sebuah pengakuan dan pengaplikasian hubungan antara poin 1 dan poin 2 di atas bagi sebuah
perencanaan Karir yang sukses.
Pendekatan faktor-sifat/watak bagi pengambilan keputusan Karir adalah yang tertua, dan mungkin
yang paling bertahan dari sekian pendekatan teoretis yang tersedia bagi konseling Karir.
Pada pendekatan trait-and-factor, individu dilihat sebagai suatu pola sifat-sifat – seperti minat-minat,
bakat-bakat, hasil-hasil belajar, ciri-ciri kepribadian – yang dapat diidentifikasi melalui alat-alat
obyektif, biasanya tes-tes atau inventori-inventori psikologis, dan kemudian dibuat profilnya untuk
menggambarkan potensi individu. Pendekatan-pendekatan trait-and-factor memandang okupasiokupasi dengan cara yang sama, yaitu, mudah dibuat profilnya menurut “banyaknya” sifat-sifat individu
yang diperlukan. Bila suatu profil melebihi yang lainnya, kemungkinan tingkat kesesuaian antara orang
dan pekerjaan dapat diidentifikasi.
Miller (1974 : 238) mengemukakan bahwa asumsi-asumsi yang mendasari pendekatan trait-andfactor meliputi :
1. Perkembangan vokasional sebagian besar merupakan suatu proses kognitif; keputusan-keputusan
dicapai melalui penalaran.
2. Pilihan okupasional merupakan suatu peristiwa tunggal. Berdasarkan pengaruh Parsons, pilihan
diberi penekanan yang terbesar dan perkembangan diberi penekanan yang sangat kecil.
3. Bagi setiap orang terdapat suatu tujuan yang “benar” dalam pilihan vokasi. Terdapat sedikit atau
tidak ada pengakuan bahwa seorang pekerja bisa cocok bagi sejumlah okupasi.
4. Satu tipe orang untuk setiap pekerjaan. Ini merupakan sisi lai dari mata uang asumsi ketiga.
Secara bersama-sama, kedua asumsi ini menunjuk hubungan satu—orang dan satu—pekerjaan
suatu konsep yang sesuai bagi pendekatan trait-and-factor.
5. Terdapat satu piihan okupasional yang tersedia bagi setiap individu.
Frederickson (1982 : 18) mengemukakan beberapa asumsi yang mendasari teori trait-factor :
1. Setiap individu memiliki suatu pola sifat-sifat yang unik yang dapat diukur secara akurat dan
reliable.
2. Setiap okupasi memiliki suatu pola persyaratan-persyaratan sifat yang unik dan dapat diukur yang
diperlukan agar okupasi itu dapat dikerjakan dengan berhasil dalam berbagai setting.
3. Adalah mungkin untuk mencocokkan sifat-sifat individu dengan sifat-sifat pekerjaan.
4. Makin dekat kecocokan antara sifat-sifat individu dan sifat-sifat persyaratan kerja, maka akan
lebih produktif dan puas seseorang dalam okupasi khusus itu.
Asumsi-asumsi di atas dapat membawa kepada suatu interpretasi kaku tentang konseling karir, yaitu,
mencocokkan orang-orang dengan pekerjaan-pekerjaan pada suatu waktu spesifik dalam hidupnya. Tentu
3
saja, sekarang ini asumsi-asumsi ini dipegang secara lebih longgar; karena ternyata orang-orang dan
okupasi-okupasi lebih heterogen.
C. Prosedur Teori Trait & Factor
Konseling trait-and-factor adalah sebuah konseling langsung, yaitu aktivitas rasional. Berdasarkan
informasi; tentang diri dan dunia kerja membuat keputusan karir lebih efektif. Tes biasanya bagian
terpenting dalam sebuah proses. Adapun prosedur yang di lakukan dalam konseling trait and factor
anatar lain sebagai berikut:

Analisis; Merupakan tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan data dan informasi konseli.

Sintesis; Merupakan langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang
sedemikian rupa sehingga menunjukan bakat konseli, kelemahan serta kekuatanya, dan kemampuan
penyesuaian diri.

Diagnosis; Sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat
menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya,
serta sifat-sifat konseli yang relevan dan berpengaruh kepada proses penyesuaian diri.Menentukan
sebab-sebab, yang mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang
dpat menerangkan sebab-sebab gejala.

Prognosis, misal diagnosisnya kurang cerdas, prognosisnya menjadi kurang cerdas untuk pengerjaan
sekolah yang sulit, sehingga mungkin sekali gagal kalau ingin belajar menjadi dokter. dengan
demikian konselor bertanggung jawab dan membantu konseli untuk mencapai tingkat pengambilan
tanggung jawab untuk dirinya sendiri, yang berarti ia mampu dan mengerti secara logis, tetapi secara
emosional belum mau menerima.

Konseling; Merupakan hubungan membantu konseli untuk menemukan sumber diri sendiri maupun
sumber diluar dirinya dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan
kemampuanya.

Treatment/evaluasi; Tindak Lanjut mencakup bantuan kepada konseli dalam menghadapi maslaah
baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan
konseling. Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan individualitas konseli
Dengan menggunakan data wawancara, hasil tes dan catatan sekolah, dan konselor menetapkan
profil konseli, pertanggungjawaban, dan kemungkinan ketidakmampuan penyesuaian diri. Dalam
konseling, kesimpulan ini digambarkan untuk konseli dalam pendidikan. Konselor boleh menolong
konseli untuk belajar kemampuan yang baru, perubahan sikap, dan perencanaan merubah lingkungan
atau memilih lingkungan tertentu. Rencanakan program aksi, khususnya eksplorasi karir yang sangat
penting.
4
Teknis-teknis tersebut dimaksudkan untuk mempromosikan laporan dan penyelesaian langsung
terhadap isu tersebut. Konselor memfasilitasi, menjelaskan, mengajak, melayani, dan membuat
penyerahan terhadap sumber yang sesuai yang dibutuhkan.
D. Tujuan Teori Trait & Factor
Tujuan konseling trait-and-factor adalah konseli dapat membuat rencana masa depan dan keputusan
yang berhubungan dengan gambaran terbaik dari, mengaaktualisasikan diri, dengan mempertimbangkan
unsur pembuat keputusan sebagai sebuah objektivitas yang tetap kuat. Sebuah objektitivitas, yaitu
pemahaman peningkatan diri, yang bermanfaat tidak hanya memberikan kepuasan pribadi tetapi juga
memberikan sumbangan sosial
Trait and Factor memiliki tujuan yang lain yakni untuk mengajak siswa (konseling) untuk berfikir
mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari
masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa mengalami:
1. Self-Clarification / Klarifikasi diri
2. Self-Understanding / Pemahaman diri
3. Self-Acceptance / Penerimaan diri
4. Self-Direction / Pengarahan diri
5. Sel-Actualization / Aktualisasi diri
5
(TEORI HOLLAND)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Holland
Teori Holland berusaha memadukan pandangan-pandangan lain yang dinilanya terlalu luas atau
terlalu khusus.Holland berusaha menjelaskan soal pilihan pekerjaan darisudut lingkungan kerja, pribadi
beserta perkembanganya, dan interaksi antara pribadi dan lingkuanganya.Interaksi itu mengahasilkan
pilahan kerja.Dikatakan bahwa pilihan pekerjaan merupakan perluasan kepribadian dan usaha untuk
mengungkap diri didalam kehidupan kerja.Holland mengenali adanya seterotip pekerjaan dan menurutnya
orang cenderung memandang pekerjaan seuai dengan setrotip itu. Pekerjaan-pekerjaan dapat digolongkan
ats enam lingkungan : realistic, intelektual, sosial, konvesional, enterprise, dan artistic.Demikian ada enam
jenis kepribadian seprti jenis lingkungan itu. Dari kecocokan orang dengn macam lingkungan pekerjaan,
dapt diramalkan pilihan pekerjaan orang itu.Tingkah laku orang ditentukan oleh interaksi antara kepribadian
dan lingkungan.
Holland (1973) mengemukakan empat pokok konsep dalam teorinya.keempat teori itu adalah
konsistensi, diferensiasi kongruensi, dan kalkulus.Konsistensi berkaitan dengan pertanyaan, seberapa
dekatkah satu tipe kepribadian dan tipe lingkungan dengan tipe-tipe lainnya. Makin dekat minat orang lain
dari satu tipe ke tipe lain, misalnya dari artistic ke social, orang itu dikatakan lebih konsisten daripada
seandainya ia berminat ke lingkungan realistik atau investigative. Pengertian diferensiasi adalah seberapa
jauh kemurnian orang, atau kesedikitan kemiripan orang dengan tipe-tipe lain. Orang yang tipenya banyak
mirip dengan hanya dengan satu tipe dan kurang mirip dengan tipe-tipe lain, dikatakan murni
diferensiasinya, sebaliknya kalau banyak kemiripannya dengan semua tipe dikatakan tidak terdiferensiasi.
Kongruensi adalah untuk menunjukkan kecocokan tipe pribadi seseorang dengan tipe lingkungan
dimana ia tinggal atau bekerja. Contohnya, orang tipe social bekerja di lingkungan social; kalau bekerja di
lingkungan investigative atau realistic ia dikatakan inkongruen. Kongruensi tertinggi terjadi kalau terdapat
kecocokan antara tipe kepribadian dan tipe lingkungan, misalnya social dan social.Kongruensi terbaik
berikutnya adalah kalau kecocokan tipe itu dengan tipe disebelahnya, misalnya orang social berada di
lingkungan artistic atau enterprise.Kongruensi terkecil adalah kalau kecocokan itu diantara dua tipe yang
berseberangan, seperti social dan realistic, artistic dengan konvensional, dan investigative dengan
enterprise.Penggambaran grafis tipe-tipe ini dalam bentuk enam segi beraturan dengan titik sudut enam tipe
itu, dapat menjelaskan pengertian kongruensi tipe ini dan intra-sentra serta antar-hubungannya.
6
Bagan diadaptasi dari Crabtree, “A test of Holland’s hexagonal model of occupational Classification using a
rural high school population” (dalam Weinrach, 1984).Juga dalam Holland (1985).
Dengan menggunakan model heksagonal tersebut, dapat dijelaskan apa yang dijelaskan Holland
dengan kalkulus, yaitu pengaturan hubungan yang ada dalam tipe-tipe (atau lingkungan) dan di antara tipetipe itu sehingga jarak anatar tipe-tipe atau lingkungan-lingkungan berbanding berbalik dengan hubungan
teoritis antara tipe-tipe (atau lingkungan-lingkungan). Bentuk persegi enam itu, memberikan penggambaran
mengenai derajat konsistensi (yang terdapat pada seseorang atau disuatu lingkungan) danjuga menjelaskan
hubungan internal teori itu.
Holland mengembangkan beberapa instrument yang berkaitan dengan pilihan karier dan teorinya
:Vocational Preference Inventory (VPI), Self-Directed Search (SDS), dan Vocational Exploration and
Insight Kit (VEIK). VIP semacam “tes” minat jabatan yang mengkehendaki subjek tes untuk menyebutkan
minatnya (atau tiada minat) dalam 160 judul pekerjaan.Piranti ini menghasilkan skor dalam enam tipe
kepribadian Holland, data tentang kepribadian dan ciri pribadi individu.Penggunaannya yang utama adalah
untuk siswa SMA dan mahasiswa guna maksud penyaringan, penempatan, atau bimbingan. Informasi dari
VPI ini harus ditafsirkan bersama-sama dengan informasi-informasi lain, seperti usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, bidang pendidikan, status pekerjaan sekarang.
SDS, seperti jelas dari namanya --Self-Directed Search, pencarian yang dilakukan sendiri; orang
mencari dan menemukan sendiri-- dapat dikerjakan subjek (konseli) tanpa bantuan konselor.SDS mengukur
kemampuan, kegiatan, sikap kerja, bakat atas dasar penilaian oleh diri sendiri.Piranti terdiri atas buku kerja
penilaian untuk diskor oleh konseli dan buku kecil berjudul The Occupational Finder.Skor mentah yang
dihasilkan kemudian diubah menjadi sandi tiga huruf yang merupakan ikhtisar, misalnya RIE, ESC, yang
menunjukkan urutan preferensi, dengan huruf pertama adalah preferensi terkuat atas suatu tipe tertentu.Skorskor asli yang diperoleh, berupa tiga angka, menunjukkan seberapa murni, atau terdifferensiasi pola tipe
individu. Makin banyak (dengan ketentuan melebihi empat) beda angka skor pertama dengan kedua angka
7
yang lain, makin murni (terdiferensiasi) polanya. Skor-skor 12, 7, 2 lebih terdiferensiasi daripada kombinasi
skor 12, 10, 9, meskipun lama preferensi pertamanya.
Material VEIK termasuk delapan puluh empat kartu yang berisi nama pekerjaan dan tugas konseli
adalah menyortir, menemukan pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak termasuk, menganalisis beberapa
pekerjaan yang diminati dan yang tidak diminatinya. Tujuan VEIK adalah membantu konseli memperbesar
banyaknya pekerjaan yang sedang dipertimbangkannya, memahami apa yang diinginkannya dari suatu
pekerjaan, melihat hubungan antara tujuan kerja sekarang dan pengalamannya yang lalu, dan menjelaskan
dimana keberadaannya sekarang dan apa langkah-langkah berikutnya (Holland dkk, 1980).
Teori Holland tidak secara khusus berusaha menyajikan model bantuan yang berguna bagi konselor
dalam melayani konselinya. Teori ini tidak menjelaskan bagaimana proses pemilihan pekerjaan. Maka
konselor perlu menemukan sendiri dari teori itu cara-cara bantuan yang sesuai dengan pribadi dan masalah
konseli
yang dibantunya.Demikianpun, masih banyak penelitian
yang perlu dilakukan untuk
mengembangkan teori ini lebih lanjut, dan dari situ dapat ditarik implikasinya bagi konseling.
2.1 Tipe Kepribadian
Teori tipe kepribadian (personality type theory) merupakan teori yang dikemukakan Oleh John
Holland dimana ia mengemukakan bahwa usaha harus dilakukan untuk mencocokkan pilihan karier individu
dengan kepribadiannya (Holland, 1973, 1987 dalam Santrok, 2001). Menurut Holland, apabila individu
menemukan karier yang sesuai dengan kepribadiannya, maka individu kemugkinan besar akan menikmati
karier yang dipilihnya tersebut dan bertahan dalam pekerjaan tersebut dalam waktu yang cukup lama.
Perkembangan tipe-tipe kepribadian adalah hasil dari interaksi-interaksi faktor-faktor bawaan dan
lingkungan dan interaksi-interaksi ini membawa kepada preferensi-preferensi untuk jenis-jenis aktivitasaktivitas khusus, yang pada gilirannya mengarahkan individu kepada tipe-tipe perilaku-perilaku tertentu
yang rangkumannya sebagai berikut :
1. Jenis Tipe Kepribadian
a. Tipe Realistik
Tipe model ini adalah bersifat jantan, kuat jasmani, tidak sosial, agresif, mempunyai kecakapan
verbal, dan hubungan antar pribadi.Lebih menyukai pada aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi
eksplisit, teratur, atau sistematik terhadap obyek-obyek, alat-alat, mesin-mesin, dan binatang-binatang.Tidak
menyukai aktivitas-aktivitas pemberian bantuan atau pendidikan.Preferensi-preferensi membawa kepada
pengembangan kompetensi-kompetensi dalam bekerja dengan benda-benda, binatang-binatang, alat-alat dan
perlengkapan teknik, dan mengabaikan kompetensi-kompetensi sosial dan pendidikan.
8
Menganggap diri baik dalam kemampuan mekanikal dan atletik dan tidak cakap dalam keterampilanketerampilan sosial hubungan-hubungan insani.Mempunyai nilai-nilai ekonomi dan politik yang
konvensional. Orang-orang yang memilih atau menyenangi pekerjaan berikut ini mirip tipenya misalnya :
Pengawas bangunan, ahli mesin kapal udara,ahli listrik, operator radio, ahli survey dan yang sejenisnya.
b. Tipe Inventigatif
Tipe model ini bersifat berorientasi tugas, tidak sosial, lebih menyukai dan memikirkan terlebih
dahulu daripada langsung bertindak terhadap pemecahan masalah yang dihadapi, membutuhkan pemahaman
menyenangi tugas-tugas pekerjaan yang kabur sifatnya, memiliki nilai-nilai dan sikap yang tidak
konvensional. Contoh-contoh dari pekerjaan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan tipe-tipe inventigatif
adalah ahli kimia dan ahli fisika, penulis artikel ilmiah dan teknologi, ahli antropologi
c. Tipe Artistik
Tipe model ini bersifat tidak sosial, sukar menyesuaikan diri dan lebih menyukai aktivitas-aktivitas
yang ambiguous, dan tidak tersistematisasi untuk menciptakan produk-produk artistik, seperti lukisan,
drama, karangan. Tidak menyukai aktivitas, aktivitas yang sistematik, teratur, dan rutin.
Memandang diri sebagai ekspresif, murni, independen, dan memiliki kemampuan-kemampuan
artistik.Beberapa ciri khususnya adalah emosional, imaginatif, impulsif, dan murni.Okupasi-okupasi artistik
biasanya adalah lukisan, karangan, akting dan seni pahat.
d. Tipe Sosial
Tipe model ini bersifat sosial, bertanggung jawab dan leih menyukai aktivitas-aktivitas yang
melibatkan orang-orang lain dengan penekanan pada membantu, mengajar, atau menyediakan bantuan.Tidak
menyukai
aktivitas-aktivitas
rutin
dan
sistematik
yang
melibatkan
obyek-obyek
dan
materi-
materi.Kompetensi-kompetensi sosial cenderung dikembangkan, dan hal-hal yang bersifat manual dan
teknik diabaikan.
Menganggap diri kompeten dalam membantu dan mengajar orang lain serta menilai tinggi aktivitasaktivitas hubungan-hubungan sosial. Beberapa ciri khususnya adalah kerja sama, bersahabat, persuasif, dan
bijaksana. Okupasi-okupasi sosial mencakup pekerjaan-pekerjaan seperti mengajar, konseling, dan
pekerjaan kesejahteraan sosial.
e. Tipe Enterprising
9
Tipe model ini memiliki kecakapan lisan untuk berjualan, menguasai dan mengiring, menganggap
dirinya sendiri sebagai orang kuat, jantan, menghindari dari penggunaan bahasa yang terumus dengan baik,
atau situasi pekerjaan yang memerlukan kegiatan intelektual dalam jangka waktu yang lama.Tidak
menyukai aktivitas-aktivitas yang sistematik, abstrak, dan ilmiah.
Kompetensi-kompetensi kepemimpinan, persuai pertimbangan ke konselor, keluarga, atau kakak
tingkat.Faktor supervisi dikembangkan, dan yang ilmiah diabaikan.Memandang diri sebagai agresif,
populer, percaya diri, dan memiliki kemampuan memimpin.Keberhasilan politik dan ekonomik dinilai
tinggi.Ciri khasnya adalah ambisi, dominasi, optimisme, dan sosiabilitas.
f. Tipe Konvensional
Tipe model ini menyenangi bahasa yang tersusun baik, dan kegiatan yang berhubungan dengan
angka, lebih menyukai aktivitas-aktivitas yang memerlukan manipulasi data yang eksplisit, teratur, dan
sistematik guna memberikan kontribusi kepada tujuan-tujuan organisasi.Tidak menyukai aktivitas-aktivitas
yang tidak pasti, bebas dan tidak sistematik.
Kompetensi-kompetensidikembangkandalam bidang-bidang klerikal, komputasional, dan sistem
usaha.Aktivitas-aktivitas artistik dan semacamnya diabaikan.Memandang diri sebagai teratur, mudah
menyesuaikan diri, dan memiliki keterampilan-keterampilan klerikal dan numerikal.Beberapa ciri khasnya
adalah efisiensi, keteraturan, praktikalitas, dan kontrol diri. Contoh pekerjaan yang sesuai dengan tipe
konvensional adalah pengawas bank, analisis keuangan, ahli perpajakan, ahli statistik, dan sebagainya.
Holland, Irena dan Gianakos (dalam Brown, 1997), mengemukakan bahwa pemilihan karier
merupakan pernyataan dari kepribadian seseorang. Perilaku yang relevan dengan proses pengambilan
keputusan karier didefinisikan dengan perilaku-perilaku yang mengindikasikan lima kompetensi keputusan
karier yang diambil dalam model career marturity (Crites, dalam Holland, Irena dan Gianakos (Brown,
1997)). Perilaku yang relevan dengan kompetensi keputusan karier, yaitu :
a.
Penilaian diri (self-appraisal), yaitu perilaku seseorang untuk dapat mengenali dan mampu
menilai diri sendiri
b. Pengumpulan informasi (Gathering occupational information), yakni perilaku seseorang yang
mengumpulkan informasi singkat mengenai suatu perusahaan atau pekerjaan.
c.
Pemilihan tujuan (Goal selection), yakni perilaku seseorang yang telah menetapkan apa yang
menjadi keinginan mereka tanpa pertimbangan lain.
d. Rencana masa depan (Planning), yaitu perilaku dimana seseorang membuat rencana mengenai
pekerjaan mereka.
10
e.
Pemecahan masalah (Problem Solving), yakni perilaku seseorang dalam menyelesaikan sebuah
masalah yang berkaitan dengan aktivitasnya.
B. Penerapan Teori Holland
Pandangan Holland sangat relavan bagi bimbingan karir dan konseling karir di istitusi pendidikan untuk
jenjang pendidikan menengah dan masa awal pendidikan tinggi. Tekakan yang diberikan ada pemahaman
diri sehubungan denagan beberapa kualitas vokasional yang dimilki sesorang dan pad informasi yang akurat
mengenai berbagai lingkungan okupasi, menyadarkan lembaga bimbingan akan tugasnya untuk membantu
orang muda mengenal diri sendiri dan mengenal ciri-ciri lingkungan, kedua halini sangat diperlukan sebagi
masukan dalam memikirkan pilhan okupasi secara matang. Alat-alat yang digunakan oleh Holland yaitu
occupation Finder dan the self directed search, yang menanyakan kegiatan atau aktivitas yang disukai,
berbagai kopetensi yang dimiliki, bidang-bidang pekerjaan yang diminati dan evaluasi diri dalam beberapa
ketrampilan, harus dicocokan dengan sistem klasifikasi okupasi yang berlandaskan pada teori yang sama,
dengan demikian orang muda dapat menemukan sejumlah alternative pilihan okupasi untuk
dipertimbangkan lebih lanjut cara bekerja ini pada dasarnya menerapkan suatu pendekatan yang mirip
dengan pendekatan tarit and factor, namun maju lebih jauh daripadateori trait and factor tradisional.
Penerapan teori Holland dalam pelayanan Bk lebih kepada penentuan, pemantapan, pemilihan minat, dan
bakat terhadap konseling berdasarkan tipe kepribadian dan model lingkungan atau menggabungkan
keduanya untuk membantu mentukan pemilihan jabatan atau pekerjaan serta karir.
Adapun kelebihan dari teori Holland ini adalah sebuah jawaban atas cara pemeilahan pekerjaan dan jabatan
berdasarkan tipe keperibadian dan tipe lingkungan atau penggabungan keduanya untuk sebagaian dari
keselurauahan pola hidup sesoranag. Sedangkan kelemahanya terletak pada kurang peninjauan proses
perkembanagan kepribadian dan tidak menunjukan fase-fase perkembangan serta akumulasi rentang hidup.
11
Myers Briggs Type Indicator (MBTI)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Myers Briggs Type Indicator (MBTI)
Secara alamiah manusia memiliki keinginan untuk mengenali dirinya sendiri lebih dalam
dengan berbagai tujuan. Mengenali diri sendiri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah
satunya adalah dengan mengenali tipe kepribadian. Menurut Carl Gustav Jung dalam L. Naisaban
(2003 : 22), manusia memiliki dua tipe kepribadian yakni ekstrovert dan introvert. Selain itu Jung
juga mengemukakan pendapat tentang empat fungsi kepribadian manusia yakni sensing (fungsi
pengindera), intuition (fungsi intuitif), thinking (fungsi berfikir), dan feeling (fungsi perasa) atau
lebih dikenal sebagai Tipe Kepribadian Jung. Berdasarkan Tipe Kepribadian Jung tersebut, Isabel
Myers dan ibunya, Katharine C. Briggs membuat instrumen tes kepribadian yang kemudian
dinamakan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).
Tes MBTI menjadi sangat terkenal dan banyak digunakan karena keakuratannya dan
kemudahan dalam menggunakannya. MBTI ini bersandar kepada empat kecenderungan skala yang
saling bertolak belakang yakni ekstrovertvs introvert, sensing vs intuition, thinking vs feeling dan
perceiving vs judging. Hal yang perlu diperhatikan dari tes MBTI adalah tidak adanya jawaban
“benar” dan “salah” serta tidak ada tipe kepribadian yang lebih daripada tipe kepribadian yang
lainnya karena setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam kepribadiannya.
B. EmpatSkalaKecenderungan
Berdasarkan MBTI, maka tipe kepribadian manusia dapat digolongkan menjadi 16 tipe
kepribadian yang mana tipe-tipe tersebut merupakan kombinasi dari keempat dimensi kecenderungan
di atas. Semisal ENTP adalah kepribadian Ekstrovert-Intuition-Thinking-Perceiving (Intuitif yang
ekstrovert dibantu dengan berpikir). Penamaan dari tipe kepribadian tersebut diambil dari masingmasing huruf depan dalam dimensi kepribadian. Berikut penjelasan masing-masing dimensi
kepribadian menurut Nafis Mudrika (2011 : 2).
1. Ekstrovert vs Introvert (E vs I)
Dimensi EI melihat sumber energi seseorang berasal dari luar atau dalam (dirinya).
Ekstrovert merupakan tipe kepribadian yang menyukai dunia luar. Mereka senang bergaul,
berinteraksi sosial, beraktifitas dengan orang lain, serta berfokus pada dunia luar dan action
oriented. Mereka bagus dalam hal berurusan dengan orang dan hal operasional. Sebaliknya,
dimensi introvert menyukai dunia dalam (diri sendiri). Introvert senang menyendiri, merenung,
12
membaca dan tidak begitu suka bergaul dengan banyak orang, mampu bekerja sendiri, penuh
konsentrasi serta fokus. Mereka bagus dalam pengolahan data secara internal dan pekerjaan.
2. Sensing vs Intuition (S vs N)
Dimensi SN melihat cara individu memproses data/berpikir. Tipe sensing memproses data
berdasar fakta yang konkrit, praktis, realistis dan melihat data apaadanya. Mereka menggunakan
pedoman pengalaman dan data konkrit sertamemilih cara-cara yang sudah terbukti. Tipe sensing
berfokus pada masa kini (apa yang bisa diperbaiki sekarang). Mereka bagus dalam perencanaan
teknis dan detail aplikatif.Sementara tipe intuition memproses data dengan melihat pola dan
hubungan,pemikir abstrak, konseptual serta melihat berbagai kemungkinan yang dapatterjadi.
Mereka berpedoman imajinasi, memilih cara unik, dan berfokus padamasa depan. Tipe intuition
sangat inovatif, penuh inspirasi dan ide unik. Mereka bagus dalam penyusunan konsep, ide, dan
visi jangka panjang.
3. Thinking vs Feeling (T vs F)
Dimensi ketiga melihat bagaimana orang mengambil keputusan. Thinking adalah mereka
yang selalu menggunakan logika dan kekuatan analisa untukmengambil keputusan. Mereka
cenderung berorientasi pada tugas dan objektif,terkesan kaku dan keras kepala. Mereka
menerapkan prinsip dengan konsisten dan mereka bagus dalam melakukan analisa dan menjaga
prosedur/standar. Tipe thinking menerapkan prinsip dengankonsisten. Sementara feeling adalah
mereka yang melibatkan perasaan, empatiserta nilai-nilai yang diyakini ketika hendak
mengambil keputusan. Merekaberorientasi pada hubungan dan subjektif. Tipe feeling sering
terkesan memihak,mereka empatik dan menginginkan harmoni. Mereka bagus dalam menjaga
keharmonisan dan memelihara hubungan.
4. Perceiving vs Judging (P vs J)
Dimensi terakhir melihat derajat fleksibilitas seseorang. Judging di sini bukan berarti
judgemental (menghakimi). Judging diartikan sebagai tipe orang yang selalu bertumpu pada
rencana yang sistematis, serta senantiasa berpikir dan bertindak teratur (tidak melompat lompat).
Mereka tidak suka hal-hal mendadak dan di luar perencanaan. Tipe judging ingin merencanakan
pekerjaan dan mengikuti rencana itu. Orang dengan dimensi judging bagus dalam penjadwalan,
penetapan struktur dan perencanaan step by step. Sementara tipe perceiving adalah mereka yang
bersikap fleksibel, spontan, adaptif, dan bertindak secara acak untuk melihat beragam peluang
yang muncul. Perubahan mendadak tidak masalah dan ketidakpastian membuat mereka
13
bergairah. Orang dengan dimensi perceivingbagus dalam menghadapi perubahan dan situasi
mendadak.
Masing-masing tipe diidentifikasi dengan 4 huruf seperti ENFJ. Metode ini sangat populer,
sehingga dapat menemukannya pada pribadi seseorang. Dengan menggabungkan dimensi yang
berlinan, Myers dan Briggs mengidentifikasi 16 jenis kepribadian yang berbeda, setiap kepribadian
dengan kelebihan dan minatnya sendiri. Dengan penjelasan sebagai berikut:
1. ISTJ (Introverted Sensing with Thinking)

Serius, tenang, stabil & damai.

Senang pada fakta, logis, obyektif, praktis & realistis.

Task oriented, tekun, teratur, menepati janji, dapat diandalkan & bertanggung jawab.

Pendengar yang baik, setia, hanya mau berbagi dengan orang dekat.

Memegang aturan, standar & prosedur dengan teguh.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah memahami perasaan & kebutuhan orang lain.

Kurangi
keinginan
untuk
mengontrol
orang
lain
atau
memerintah
mereka
untukmenegakkan aturan.

Lihatlah lebih banyak sisi positif pada orang lain atau hal lainnya.

Terbukalah terhadap perubahan.
 Saran Profesi: Bidang Manajemen, Polisi, Intelijen, Hakim, Pengacara, Dokter, Akuntan
(Staf Keuangan), Programmer atau yang berhubungan dengan IT, System Analys, Pemimpin
Militer
 Pasangan/Partner Alami: ESFP atau ESTP
2. ISFJ (Introverted Sensing with Feeling)

Penuh pertimbangan, hati-hati, teliti dan akurat.

Serius, tenang, stabil namun sensitif.

Ramah, perhatian pada perasaan & kebutuhan orang lain, setia, kooperatif, pendengaryang baik.

Punya kemampuan mengorganisasi, detail, teliti, sangat bertanggungjawab & bisadiandalkan.
 Saran Pengembangan:

Lihat lebih dalam, lebih antusias, & lebih semangat.

Belajarlah mengatakan A jika A. Jangan menyenangkan semua orang atau anda
dianggapplin plan.
14

Jangan terjebak zona nyaman dan rutinitas. Cobalah hal baru, ada banyak
halmenyenangkan yang mungkin belum pernah anda coba.
 Saran Profesi: Architect, Interior Designer, Perawat, Administratif, Designer, Child Care,
Konselor, Back Office Manager, Penjaga Toko / Perpustakaan, Dunia Perhotelan.
 Pasangan/Partner Alami: ESFP atau ESTP
3. ISTP (Introverted Thinking with Sensing)

Tenang, pendiam, cenderung kaku, dingin, hati-hati, penuh pertimbangan.

Logis, rasional, kritis, obyektif, mampu mengesampingkan perasaan.

Mampu menghadapi perubahan mendadak dengan cepat dan tenang.

Percaya diri, tegas dan mampu menghadapi perbedaan maupun kritik.

Mampu menganalisa, mengorganisir, & mendelegasikan.

Problem solver yang baik terutama untuk masalah teknis & keadaan mendadak.
 Saran Pengembangan:

Observasilah kehidupan sosial, apa yang membuat orang marah, cinta, senang,
termotivasi& terapkan pada hubungan Anda.

Belajarlah untuk mengenali perasaan Anda dan mengekspresikannya.

Jadilah orang yang lebih terbuka, keluar dari zona nyaman, eksplorasi ide baru,
danberdiskusi dengan orang lain.

Jangan mencari-cari kesalahan orang hanya untuk menyelesaikan masalahnya.

Jangan
menyimpan
informasi
yang
harusnya
dibagi
dan
belajarlah
mempercayakantanggungjawab pada orang lain.
 Saran Profesi: Polisi, Ahli Forensik, Programmer, Ahli Komputer, System Analyst, Teknisi,
Insinyur, Mekanik, Pilot, Atlit, Entrepreneur
 Pasangan/Partner Alami: ESTJ atau ENTJ
4. ISFP (Introverted Feeling with Sensing)

Berpikiran simpel & praktis, fleksibel, sensitif, ramah, tidak menonjolkan diri, rendah hatipada
kemampuannya.

Menghindari konflik, tidak memaksakan pendapat atau nilai-nilainya pada orang lain.

Biasanya tidak mau memimpin tetapi menjadi pengikut dan pelaksana yang setia.

Seringkali santai menyelesaikan sesuatu, karena sangat menikmati apa yang terjadi saatini.

Menunjukkan perhatian lebih banyak melalui tindakan dibandingkan kata-kata.
 Saran Pengembangan:
15

Jangan takut pada penolakan dan konflik. Anda tidak perlu menyenangkan semua orang.

Cobalah untuk mulai memikirkan dampak jangka panjang dari keputusan-keputusan kecil
dihari ini.

Asah dan kembangkan sisi kreatifitas dan seni dalam diri Anda sebagai modal
bagusdalam diri Anda.

Cobalah untuk lebih terbuka dan mengekspresikan perasaan Anda.
 Saran Profesi: Seniman, Designer, Pekerja Sosial, Konselor, Psikolog, Guru, Aktor,
BidangHospitality
 Pasangan/Partner Alami: ESFJ atau ENFJ
5. INFJ (Introverted Instuiting with Feeling)

Perhatian, empati, sensitif & berkomitmen terhadap sebuah hubungan.

Sukses karena ketekunan, originalitas dan keinginan kuat untuk melakukan apa saja
yangdiperlukan termasuk memberikan yg terbaik dalam pekerjaan.

Idealis, perfeksionis, memegang teguh prinsip.

Visioner, penuh ide, kreatif, suka merenung dan inspiring.

Biasanya diikuti dan dihormati karena kejelasan visi serta dedikasi pada hal-hal baik.
 Saran Pengembangan:

Seimbangkan cara pandang Anda. Jangan hanya melihat sisi negatif & resiko.
Namun,lihatlah sisi positif dan peluangnya.

Bersabarlah, jangan mudah marah dan menyalahkan orang lain atau situasi.

Rileks dan jangan terus menerus berfikir atau menyelesaikan tanggungjawab.
 Saran Profesi: Pengajar, Psikolog, Dokter, Konselor, Pekerja Sosial, Fotografer,
Seniman,Designer, Child Care.
 Pasangan/Partner Alami: ESFP atau ESTP
6. INTJ (Introverted Instuiting with Thinking)

Visioner, punya perencanaan praktis, & biasanya memiliki ide-ide original serta dorongankuat
untuk mencapainya.

Mandiri dan percaya diri.

Punya kemampuan analisa yang bagus serta menyederhanakan sesuatu yang rumit danabstrak
menjadi sesuatu yang praktis, mudah difahami & dipraktekkan.

Skeptis, kritis, logis, menentukan (determinatif) dan kadang keras kepala.
16

Punya keinginan untuk berkembang serta selalu ingin lebih maju dari orang lain.

Kritik & konflik tidak menjadi masalah berarti.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah mengungkapkan emosi & perasaan Anda.

Cobalah untuk lebih terbuka pada dunia luar, banyak bergaul, banyak belajar,
banyakmembaca, mengunjungi banyak tempat, eksplorasi hal baru, & memperluas
wawasan.

Hindari perdebatan tidak penting.

Belajarlah untuk berempati, memberi perhatian dan lebih peka terhadap orang lain.
 Saran Profesi: Peneliti, Ilmuwan, Insinyur, Teknisi, Pengajar, Profesor, Dokter, Research
&Development, Business Analyst, System Analyst, Pengacara, Hakim, Programmers, Posisi
Strategisdalam organisasi.
 Pasangan/Partner Alami: ENFP atau ENTP
7. INFP (Introverted Feeling with Intuiting)

Sangat perhatian dan peka dengan perasaan orang lain.

Penuh dengan antusiasme dan kesetiaan, tapi biasanya hanya untuk orang dekat.

Peduli pada banyak hal. Cenderung mengambil terlalu banyak dan menyelesaikansebagian.

Cenderung idealis dan perfeksionis.

Berpikir win-win solution, mempercayai dan mengoptimalkan orang lain.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah menghadapi kritik. Jika baik maka kritik itu bisa membangun Anda, namun
jikatidak abaikan saja. Jangan ragu pula untuk bertanya dan minta saran.

Belajarlah untuk bersikap tegas. Jangan selalu berperasaan dan menyenangkan
orangdengan tindakan baik. Bertindak baik itu berbeda dengan bertindak benar.

Jangan terlalu menyalahkan diri dan bersikap terlalu keras pada diri sendiri.
Kegagalanadalah hal biasa dan semua orang pernah mengalaminya.

Jangan terlalu baik pada orang lain tapi melupakan diri sendiri. Anda juga
punyatanggungjawab untuk berbuat baik pada diri sendiri.
 Saran Profesi: Penulis, Sastrawan, Konselor, Psikolog, Pengajar, Seniman, Rohaniawan,
Bidang Hospitality
 Pasangan/Partner Alami: ENFJ atau ESFJ
17
8. INTP (Introverted Thinking with Intuiting)

Sangat menghargai intelektualitas dan pengetahuan. Menikmati hal-hal teoritis dan ilmiah.

Senang memecahkan masalah dengan logika dan analisa.

Diam dan menahan diri. Lebih suka bekerja sendiri.

Cenderung kritis, skeptis, mudah curiga dan pesimis.

Tidak suka memimpin dan bisa menjadi pengikut yang tidak banyak menuntut.

Cenderung memiliki minat yang jelas. Membutuhkan karir dimana minatnya bisaberkembang
dan bermanfaat. Jika menemukan sesuatu yang menarik minatnya, ia akansangat serius dan
antusias menekuninya.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah membangun hubungan dengan orang lain. Belajar berempati, mendengar
aktif,memberi perhatian dan bertukar pendapat.

Relaks. Jangan terlalu banyak berfikir. Nikmati hidup Anda tanpa harus bertanya
mengapadan bagaimana.

Cobalah menemukan satu ide, merencanakan dan mewujudkannya. Jangan terlalu
seringberganti-ganti ide tetapi tidak satupun yang terwujud.
 Saran Profesi: Ilmuwan, Fotografer, Programmer, Ahli komputer, System Analyst, Penulis
BukuTeknis, Ahli Forensik, Jaksa, Pengacara, Teknisi
 Pasangan/Partner Alami: ENTJ atau ESTJ
9. ESTP (Extroverted Sensing with Thinking)

Spontan, Aktif, Enerjik, Cekatan, Cepat, Sigap, Antusias, Fun dan penuh variasi.

Komunikator, asertif, to the point, ceplas-ceplos, berkarisma, punya interpersonal skill yangbaik.

Baik dalam pemecahan masalah langsung di tempat. Mampu menghadapi masalah, konflikdan
kritik. Tidak khawatir, menikmati apapun yang terjadi.

Cenderung untuk menyukai sesuatu yang mekanistis, kegiatan bersama dan olahraga.

Mudah beradaptasi, toleran, pada umumnya konservatif tentang nilai-nilai. Tidak sukapenjelasan
terlalu panjang. Paling baik dalam hal-hal nyata yang dapat dilakukan.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah memahami perasaan dan pemikiran orang lain terutama saat bicara
denganmereka.

Belajarlah untuk sabar, menikmati proses, tidak semua hal bisa dicapai dengan cepat.
18

Sesekali luangkan waktu untuk merenung dan merencanakan masa depan Anda.

Cobalah untuk mencatat pengamatan-pengamatan Anda termasuk detailnya.
 Saran Profesi: Marketing, Sales, Polisi, Entrepreneur, Pialang Saham, Technical Support
 Pasangan/Partner Alami: ISFJ atau ISTJ
10. ESFP (Extroverted Sensing with Feeling)

Outgoing,
easygoing,
mudah
berteman,
bersahabat,
sangat
sosial,
ramah,
hangat,
&menyenangkan.

Optimis, ceria, antusias, fun, menghibur, suka menjadi perhatian.

Punya interpersonal skill yang baik, murah hati, mudah simpatik dan mengenali perasaanorang
lain.

Menghindari konflik dan menjaga keharmonisan suatu hubungan.

Mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya dan ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Sangat baik dalam keadaan yang membutuhkan common sense, tindakan cepat danketrampilan
praktis.
 Saran Pengembangan:

Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Belajarlah untuk fokus dan tidak
mudahberubah-ubah terutama untuk hal yang penting.

Jangan menyenangkan semua orang. Begitu pula sebaliknya, tidak semua orang
bisamenyenangkan Anda.

Belajarlah menghadapi kritik dan konflik. Jangan lari.

Anda punya kecenderungan meterialistis. Hati-hati, tidak semua hal bisa diukur
denganmateri ataupun uang.
 Saran Profesi: Entertainer, Seniman, Marketing, Konselor, Designer, Tour Guide, Bidang
Anakanak,Bidang Hospitality
 Pasangan/Partner Alami: ISTJ atau ISFJ
11. ENFP (Extroverted Intuiting with Feeling)

Ramah, hangat, enerjik, optimis, antusias, semangat tinggi, fun.

Imaginatif, penuh ide, kreatif, inovatif.

Mampu beradaptasi dengan beragam situasi dan perubahan.

Pandai berkomunikasi, senang bersosialisasi & membawa suasana positif.

Mudah membaca perasaan dan kebutuhan orang lain.
 Saran Pengembangan:
19

Belajarlah untuk fokus, disiplin, tegas dan konsisten

Belajarlah untuk menghadapi konflik dan kritik.

Pikirkan kebutuhan diri sendiri. Jangan melupakannya karena terlalu peduli pada
kebutuhanorang lain.

Jangan terlalu boros. Belajarlah untuk mengelola keuangan sedikit demi sedikit.
 Saran Profesi: Konselor, Psikolog, Entertainer, Pengajar, Motivator, Presenter, Reporter,
MC, Seniman, Hospitality
 Pasangan/Partner Alami: INTJ atau INFJ
12. ENTP (Extroverted Intuiting with Thinking)

Gesit, kreatif, inovatif, cerdik, logis, baik dalam banyak hal.

Banyak bicara dan punya kemampuan debat yang baik. Bisa berargumentasi untuksenang-senang
saja tanpa merasa bersalah.

Fleksibel. Punya banyak cara untuk memecahkan masalah dan tantangan.

Kurang konsisten. Cenderung untuk melakukan hal baru yang menarik hati setelahmelakukan
sesuatu yang lain.

Punya keinginan kuat untuk mengembangkan diri.
 Saran Pengembangan:

Cobalah untuk win-win solution. Jangan ingin menang sendiri.

Belajarlah untuk disiplin dan konsisten.

Hindari perdebatan tidak penting.

Belajarlah untuk sedikit waspada. Seimbangkan cara pandang Anda agar tidak terlalu
optimis dan mengambil resiko yang tidak realistis.

Belajarlah untuk memberi perhatian pada perasaan orang lain.
 Saran Profesi: Pengacara, Psikolog, Konsultan, Ilmuwan, Aktor,Marketing, Programmer,
Fotografer
 Pasangan/Partner Alami: INFJ atau INTJ
13. ESTJ (Extroverted Thinking with Sensing)

Praktis, realistis, berpegang pada fakta, dengan dorongan alamiah untuk bisnis danmekanistis.

Sangat sistematis, procedural dan terencana.

Disiplin, on time dan pekerja keras.

Konservatif dan cenderung kaku.

Tidak tertarik pada subject yang tidak berguna baginya, tapi dapat menyesuaikan diri
jikadiperlukan
20

Senang mengorganisir sesuatu. Bisa menjadi administrator yang baik jika mereka ingatuntuk
memperhatikan perasaan dan perspektif orang lain.
 Saran Pengembangan:

Kurangi keinginan untuk mengontrol dan memaksa orang lain.

Belajarlah untuk mengontrol emosi dan amarah Anda.

Cobalah untuk introspeksi diri dan meluangkan waktu sejenak untuk merenung.

Belajarlah untuk lebih sabar dan low profile

Belajarlah untuk memahami orang lain.
 Saran Profesi: Militer, Manajer, Polisi, Hakim, Pengacara, Guru, Sales, Auditor,
Akuntan, System Analyst
 Pasangan/Partner Alami: ISTP atau INTP
14. ESFJ (Extroverted Feeling with Sensing)

Hangat, banyak bicara, populer, dilahirkan untuk bekerjasama, suportif dan anggotakelompok
yang aktif.

Membutuhkan keseimbangan dan baik dalam menciptakan harmoni.

Selalu melakukan sesuatu yang manis bagi orang lain. Kerja dengan baik dalam situasiyang
mendukung dan memujinya.

Santai, easy going, sederhana, tidak berfikir panjang.

Teliti dan rajin merawat apa yang ia miliki.
 Saran Pengembangan:

Jangan mengorbankan diri hanya untuk menyenangkan orang lain.

Jangan mengukur harga diri Anda dari perlakuan, penghargaan dan pujian orang lain.

Mintalah pertimbangan orang lain dalam mengambil keputusan. Belajarlah untuk
lebihtegas.

Terima tanggungjawab hidup dan belajarlah untuk lebih dewasa. Jangan mengasihani
dirisendiri.

Hadapi kritik dan konflik, jangan lari.
 Saran Profesi: Perencana Keuangan, Perawat, Guru, Bidang anak-anak, Konselor,
Administratif, Hospitality
 Pasangan/Partner Alami: ISFP atau INFP
15. ENFJ (Extroverted Feeling with Intuiting)

Kreatif, imajinatif, peka, sensitive, loyal.
21

Pada umumnya peduli pada apa kata orang atau apa yang orang lain inginkan dancenderung
melakukan sesuatu dengan memperhatikan perasaan orang lain.

Pandai bergaul, meyakinkan, ramah, fun, populer, simpatik. Responsif pada kritik danpujian.

Menyukai variasi dan tantangan baru.

Butuh apresiasi dan penerimaan.
 Saran Pengembangan:

Jangan mengorbankan diri hanya untuk menyenangkan orang lain.

Jangan mengukur harga diri Anda dari perlakuan orang lain. Jangan mudah kecewa
jikamereka tidak seperti yang Anda inginkan.

Belajarlah untuk tegas dan mengambil keputusan. Menghadapi kritik dan konflik.

Jangan terlalu bersikap keras terhadap diri sendiri.
 Saran Profesi: Konsultan, Psikolog, Konselor, Pengajar, Marketing, HRD, Event
Coordinator,Entertainer, Penulis, Motivator
 Pasangan/Partner Alami: INFP atau ISFP
16. ENTJ (Extroverted Thinking with Intuiting)

Tegas, asertif, to the point, jujur terus terang, obyektif, kritis, & punya standard tinggi.

Dominan, kuat kemauannya, perfeksionis dan kompetitif.

Tangguh, disiplin, dan sangat menghargai komitmen.

Cenderung menutupi perasaan dan menyembunyikan kelemahan.

Berkarisma, komunikasi baik, mampu menggerakkan orang.

Berbakat pemimpin.
 Saran Pengembangan:

Belajarlah untuk relaks. Tidak perlu perfeksionis dan selalu kompetitif dengan semua
orang.

Ungkapkan perasaan Anda. Menyatakan perasaan bukanlah kelemahan.

Belajarlah mengelola emosi Anda. Jangan mudah marah.

Belajarlah untuk menghargai dan mengapresiasi orang lain.

Jangan terlalu arogan dan menganggap remeh orang lain. Lihat sisi positifnya.
Janganhanya melihat benar dan salah saja.
 Saran Profesi: Entrepreneur, Pengacara, Hakim, Konsultan, Pemimpin Organisasi,
Businessanalyst, Bidang Finansial
 Pasangan/Partner Alami: INTP atau ISTP
22
C. Penerapan MBTI dalamBimbingandanKonseling
Dengan mempelajari MBTI akan membantu konselor untuk lebih memahami dan menerima
siswanya, karena tidak semua sisw amemiliki polapikir, sikap, dan perilaku yang sama. Di dalam
MBTI akan di pelajari banyak tipe-tipekepribadian.
Dalam Bimbingan dan Konseling, MBTI sangat berguna sebagai panduan untuk memilih
jurusan kuliah sampai dengan profesi yang cocok dengan kepribadian siswa. Dengan menggunakan
MBTI, akan memudahkan konselor untuk mengumpulkan data diri siswa terutama data diri tentang
tipe kepribadian siswa. Data siswa tersebut akan memudahkan konselor untuk memberikan
bimbingan karir kepada siswa yaitu berupa prediksi-prediksi mengenai karir yang dapat dijadikan
pilihan-pilihan oleh siswa sesuai dengan tipe kepribadiannya, karena pengambilan keputusan karir
tetap ada di tangan siswa tersebut. Tetapi, koselor memiliki kewajiban untuk mengarahkan siswa
agar siswa tersebut tidak salah mengambil keputusan karir yang dapat menyebabkan dirinya
mengalami permasalahan-permasalahan ketika memasuki dunia karir.
Selain untuk mengetahui prediksi karir yang sesuai untuk siswa MBTI juga dapat membantu
siswa untuk memahami kelebihan
(Strength)
dirinya dan juga sekaligus untuk memahami
kelemahan (Weakness) yang ada pada diri siswa. Ketika siswa telah memahami apa kelebihannya,
konselor membantu siswauntuk lebih fokus mengembangkan kelebihannya tersebut, dengantujuan
agar siswa dapat lebih berkembang dan dapat mengambil keputusan karir yang sesuai untuk
dirinya. Selain itu, jika siswa telah menemukakan kelemahannya, konselor dapat membantu siswa
untuk memperbaiki kelemahannya tersebut dan merubah kelemahan tersebut menjadi kelebihan
yang bisa membantu kesuksesan karir siswa selanjutnya.
Yang terakhir dalam penerapan MBTI yaitu memahami Orang Lain DenganLebihBaik.
Dalam
mengetahui
lebih
dalam
tentang
MBTI,
dalammemperbaikihubungandancarapandangkonseliterhadap
jugabisalebihmemahamidanmenerimaperbedaan.Tidaksemua
danberperilakuseperticaraindividu
konselor
orang
orang
bisamembantu
lain.
berfikir,
tersebutberprilaku. Jadidengan mempelajari
konseli
Kita
bersikap,
MBTI akan
membuat seseorang dapat menerima perilaku orang lain.
D. Kelemahan dan Kelebihan MBTI
1. Kelebihan
a. Individu lebih mudah dipahami melalui tes kepribadian karena hanya ada 2 pilihan alternatif
yaitu “Ya atau Tidak”.
b. Dengan metode ENFJ dalam MBTI memudahkan individu untuk menyesuaikan pribadinya
dengan pekerjaan yang di sukainya.
23
c. Individu menggunakan minat, bakat, kemampuan, dan niat dalam dirinya untuk memilih karir
yang sesuai dengan kepribadiannya tanpa ada paksaan dari luar.
d. Tujuan dari MBTI dibuat untuk mempelajari tipe kepribadian berdasarkan teori Jung.
e. Individu mencoba menggunakan logika dan kekuatan analisa untuk mengambil keputusan
karirnya berdasarkan fakta yang ada dilingkungannya.
f. Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan
(Weakness) yang ada pada diri sendiri.
2. Kekurangan
a. Individu cenderung merasa terpaksa atas pilihannya, karena harus memilih salah satu pilihan
yang keduanya dianggap sesuai dengan kemampuannya.
b. Individu lebih dituntut atas niat dalam dirinya saja, tanpa melihat faktor pendukung lain yang
berada dilingkungannya.
(TEORI SUPER)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Perkembangan Karier Donald E. Super
Teori Donald Super memandang pilihan karir sebagai bentuk perkembangan.Teori ini dasarnya adalah
bahwa kerja itu perwujudan konsep diri. Artinya, orang yang mempunyai konsep diri dan ia berusaha
menerapkan konsep diri tersebut dengan memilih pekerjaan, hal yang menurut orang tersebut paling
memungkinkannya berekspresi diri. Menurut teori ini karir adalah soal mencocokkan (matching).
Donald Super mencanangkan suatu pandangan tentang perkembangan karier yang berlingkup sangat
luas, karena perkembangan jabatan itu dipandang sebagai suatu proses yang mencakup banyak faktor.
Faktor tersebut untuk sebagian terdapat pada individu sendiri dan untuk sebagian terdapat dalam
lingkungan hidupnya yang semuanya berinteraksi satu sama lain dan bersama-sama membentuk proses
perkembangan karier seseorang. Pilihan jabatan merupakan suatu perpaduan dari aneka faktor pada individu
sendiri seperti kebutuhan, sifat-sifat kepribadian, serta kemampuan intelektual, dan banyak faktor di luar
individu, seperti taraf kehidupan sosial-ekonomi keluarga, variasi tuntutan lingkungan kebudayaan, dan
kesempatan/kelonggaran yang muncul. Titik berat dari hal-hal tersebut diatas terletak pada faktor-faktor
pada individu sendiri.
Donald Super menaruh perhatian pada psikologi diferensial sebagai cabang ilmu psikologi yang
mempelajari perbedaan bermakna antara individu-individu, antara lain dengan menggunakan alat-alat tes
untuk memperoleh data tentang berbagai ciri kepribadian yang jelas mempunyai kaitan dengan memegang
suatu jabatan, seperti kemampuan intelektual, bakat khusus, minat, dan sifat-sifat kepribadian. Donald Super
mengakui sumbangan positif dari teori Trait and Factor, yang untuk sebagian bergerak dalam psikologi
diferensial (differential psychology). Data hasil testing psikologis (measurement, assessment)
memungkinkan untuk memperoleh gambaran agak objektif tentang seseorang dalam perbandingan dengan
orang lain (appraisal, evaluation).
24
Unsur yang mendasar dalam pandangan Donald Super adalah konsep diri atau gambaran diri
sehubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan dan jabatan yang akan dipegang (vocational selfconcept) yang merupakart sebagian dari keseluruhan gambaran tentang diri sendiri. Data hasil penelitian
memberikan indikasi yang kuat bahwa gambaran diri yang vokasional berkembang selama pertumbuhan
fisik dan perkembangan kognitif ; perkembangan ini berlangsung melalui observasi terhadap orang-orang
yang memegang jabatan tertentu , melalui identifikasi dengan orang-orang dewasa yang sudah bekerja ,
melalui penghayatan pengalaman hidup , dan melalui pengaruh yang diterima dari lingkungan hidup.
Penyadaran kesamaan dan perbedaan di antara diri sendiri dan semua orang lain , akhirnya terbentuk suatu
gambaran diri yang vokasional. Gambaran diri ini menumbuhkan dorongan internal yang mengarahkan
seseorang ke suatu bidang jabatan yang memungkinkan untuk mencapai sukses dan merasa puas (vocational
satisfication). Hal ini menyebabkan seseorang mampu mewujudkan gambaran diri dalam suatu bidang
jabatan yang paling memungkinkan untuk mengekspresikan diri sendiri , misalnya : seorang muda yang
memandang dirinya sebagai orang yang berkemampuan tinggi , berjiwa mengabdi , dan rela mcngorbankan
dirinya , serta dibesarkan dalam keluarga yang telah mencetak beberapa dokter dan memperoleh kesan serba
positif tentang perkembangan seorang dokter , akhirnya membentuk gambaran diri yang membayangkan
dirinya sendiri sebagai seorang dokter yang ulung dan tulen.
Teori Super dinyatakan dalam bentuk proposisi.Pada mulanya, tahun 1953, Super menghasilkan
sepuluh (10) proposisi. Kemudian tahun 1957, bersama Bachrach dikembangkan menjadi dua belas (12) dan
tahun 1990 dikembangkan lagi menjadi empat belas proposisi yaitu:
1. Setiap orang memiliki perbedaan individual dalam kemampuan, kepribadian, kebutuhan, nilai, minat,
sifat, dan konsep diri. Berbagai karakteristik pribadi sangat bervariasi dalam setiap individu di antara
individu. Walaupun kebanyakan dari kita kurang lebih seperti orang lain dalam banyak sifat,
keunikan setiap orang jelas dalam kombinasi kekuatan dan kelemahan individual.
2. Berdasarkan karakteristik tersebut, setiap individu masing-masing memiliki kecakapan untuk
sejumlah pekerjaan. Berbagai kemampuan, karakteristik kepribadian, dan sifat-sifat lainnya begitu
luas sehingga setiap orang mempunyai kemungkinan untuk berhasil dalam dalam banyak bidang
pekerjaan. Penelitian di bidang rehabilitasi telah menunjukkan meskipun individu penyandang cacat
terdapat sejumlah pekerjaan yang dapat dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan. Untuk orang
tanpa gangguan fisik atau emosional yang serius, terbentang luas kemungkinan untuk berhasil dalam
berbagai jenis pekerjaan.
3. Setiap pekerjaan membutuhkan pola karakteristik kemampuan dan kepribadian yang cukup luas
sehingga bagi setiap orang tersedia beragam pekerjaan dan setiap pekerjaan terbuka bagi bermacammacam orang. Untuk setiap kemampuan atau sifat yang diperlukan dalam kinerja suatu pekerjaan
tertentu, orang mungkin berharap untuk menemukan kuantitas modal yang paling sesuai dengan sifat
pekerjaan.
4. Pilihan vokasional dan kompetensi, situasi-situasi di mana orang hidup dan bekerja, serta konsep diri
akan mengalami perubahan karena waktu dan pengalaman, karena itu membuat pilihan pekerjaan
dan penyesuaiannya merupakan suatu proses yang kontinyu. Seseorang melatih kecakapankecakapan tertentu yang dimilikinya atau mengembangkan ke tingkat yang lebih tinggi memerlukan
25
penyaluran dalam pekerjaan yang dapat memberikan kesempatan untuk mempergunakan
kecakapannya yang telah berkembang.
5. Proses perkembangan itu dapat kita simpulkan dalam serangkaian tahap-tahap perkembangan
kehidupan manusia, yaitu pertumbuhan, eksplorasi, pembentukan, pemeliharaan, dan kemunduran,
dan dibagi lagi menjadi: (a) fantasi , fase tentatif, dan realistis dari tahap eksplorasi dan (b) fase uji
coba (trial) dan fase stabil (stable) dari tahap pembentukan.
6. Pola karier seseorang ditentukan oleh tingkat sosial ekonomi orangtua, kemampuan mental,
pendidikan, keterampilan, karakteristik kepribadian (kebutuhan, nilai, kepentingan , sifat, dan konsep
diri), dan kematangan karier serta kesempatan yang terbuka bagi dirinya.
Semua faktor di belakang pengalaman individu berkontribusi terhadap sikap dan perilaku. Beberapa
faktor jelas berkontribusi lebih signifikan daripada yang lain.
1. Perkembangan orang dalam melewati tahap-tahap dapat dipandu dengan bantuan untuk pematangan
kemampuan dan minat dan dengan bantuan untuk melakukan uji realitas (reality-testing) serta untuk
mengembangkan konsep diri (self-concept). Individu dapat dibantu untuk bergerak ke arah pilihan
pekerjaan yang memuaskan dalam dua cara: (a) dengan membantu seseorang untuk mengembangkan
kemampuan dan minatnya; (b) dengan membantu seseorang untuk memperoleh pemahaman tentang
kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga dapat membuat pilihan yang memuaskan.
2. Proses perkembangan karier pada dasarnya adalah pengembangan dan implementasi konsep diri.
Konsep diri adalah perpaduan antara kemampuan dasar yang diwariskan, kesempatan untuk
memainkan berbagai peranan dirinya, dan evaluasi atau penilaian orang lain terhadap usaha
memainkan peranan tersebut. Selama masa pendidikan, sebelum seseorang benar-benar memasuki
dunia kerja, seseorang sudah membayangkan jabatan atau peranan yang kelak akan dilakukan dan ini
merupakan bagian daripada perkembangan konsep dirinya.
3. Proses kompromi antara faktor individu dan sosial, antara konsep diri dan realitas, adalah permainan
peranan dalam berbagai latar dan keadaan (pribadi, kelompok, pergaulan, hubungan kerja). Karena
dunia kerja sedemikian kompleks sifatnya dan persyaratan masuk demikian sukarnya, maka kecil
kemungkinannya untuk mencoba benar-benar berpartisipasi dalam situasi pekerjaan yang
nyata/realistis. Ini menuntut perlunya pencocokan konsep diri dan tuntutan terhadap pekerjaan yang
tawarkan dalam situasi yang pada dasarnya abstrak.
4. Kepuasan kerja dan kepuasan hidup tergantung pada sejauh mana individu dapat menyalurkan
kemampuan, nilai, minat, karakter kepribadian, dan konsep dirinya. Selain itu, bergantung usaha
pada jenis pekerjaan, situasi kerja, dan cara hidup di mana individu bisa memainkan jenis peran
pertumbuhan, dan eksplorasi pengalaman. Individu yang menemukan kenikmatan dan kepuasan
melakukannya karena posisi yang dimiliki memungkinkan orang memainkan peranan yang dinilai
cocok dan patut.
26
5. Kesuksesan dalam menghadapi tuntutan lingkungan dalam setiap tahap kehidupan karir diberikan
tergantung pada kesiapan individu untuk mengatasi tuntutan tersebut (kematangan karir).Super
mengidentifikasi kematangan karir sebagai kelompok karakteristik fisik, psikologis, dan sosial yang
merupakan kesiapan individu dan kemampuan untuk menghadapi dan menangani masalah
perkembangan dan tantangan.
6. Kematangan karier adalah konstruksi hipotetis.
Penelitian awal Super (Studi Pola Karier) membahas konsep diri yang terkait dengan karier atau
masalah perkembangan vokasional. Super dan rekan kerja mencari cara untuk mendefinisikan dan menilai
konsep ini. Dari upaya ini muncul Inventori Perkembangan Karier Super.
1. Tingkat kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan itu selaras dengan penerapan konsep diri. Hubungan
situasi kerja dengan peran individu harus dianggap dalam arti luas. Profesi dan posisi manajerial
yang lebih tinggi mungkin memberikan peluang terbesar, seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang,
untuk kepuasan intrinsik yang berasal dari pekerjaan itu sendiri. Tapi banyak individu mendapatkan
kepuasan besar dari pekerjaan yang kelihatannya membosankan dan monoton. Hal ini memberikan
kesempatan untuk menjadi jenis orang yang diinginkan, melakukan hal-hal yang ingin dilakukan,
dan menganggap diri seperti yang dipikirkan .
2. Bekerja dan pekerjaan merupakan titik pusat organisasi kepribadian bagi kebanyakan orang,
sedangkan bagi segolongan orang lagi yang menjadi titik pusat adalah hal lain, misalnya pengisian
waktu luang dan kerumahtanggaan.
Pada dasarnya, proposisi ini mengatakan bahwa kebanyakan orang dewasa adalah cerminan dari
pekerjaan dan peran utama yang dilakukan.
B. Tahapan Perkembangan Karier Donald E. Super
Super mengusulkan gagasan bahwa orang berusaha untuk menerapkan konsep dirinya dengan
memilih untuk masuk pekerjaan dianggap yang paling mungkin untuk memungkinkan ekspresi diri.Pilihan
karier adalah soal mencocokkan (matching).Di dalam irama hidup orang, terjadi perubahan-perubahan dan
ini berpengaruh pada usahanya untuk mewujudkan konsep diri itu.Teori perkembangan menerima teori
matching (teori konsep diri), tetapi memandang bahwa pilihan kerja itu bukan peristiwa yang sekali terjadi
dalam hidup seseorang (misalnya waktu tamat pendidikan dan mau meninggalkan sekolah).Orang dan
situasi lingkungannya berkembang, dan keputusan karier itu merupakan rangkaian yang tersusun atas
keputusan yang kecil-kecil.
27
Gambar 1 Pelangi Karir Kehidupan
1. Tahap Perkembangan Karier
a. Tahap Pertumbuhan (Growth): 0 – 14 tahun
Adanya pertumbuhan fisik dan psikologis. Pada tahap ini individu mulai membentuk sikap dan
mekanisme tingkah laku yang kemudian akan menjadi penting dalam konsep dirinya. Bersamaan dengan itu,
pengalaman memberikan latar belakang pengetahuan tentang dunia kerja yang akhirnya digunakan dalam
pilihan pekerjaan mulai yang tentatif sampai dengan final.
b. Tahap Eksplorasi (Exploratory): 15 – 24 tahun
Dimulai sejak individu menyadari bahwa pekerjaan merupakan suatu aspek dari kehidupan
manusia.Pada awal masa ini atau masa fantasi, individu menyatakan pilihan pekerjaan sering kali tidak
realistis dan sering erat kaitannya dengan kehidupan permainannya.
c. Tahap Pembentukan (Establishment): 25 – 44 tahun
Berkaitan dengan pengalaman seseorang pada saat mulai bekerja. Pada masa ini individu dengan
cara mencoba-coba ingin membuktikan apakah pilihan dan keputusan pekerjaan yang dibuat pada masa
eksplorasi benar atau tidak. Sebagian masa ini adalah masa try-out. Individu mungkin menerima pekerjaan
dengan perasaan pasti bahwa ia akan mengganti pekerjaan jika merasa tidak cocok. Apabila ternyata
individu mendapat pengalaman yang positif atau keuntungan dari suatu pekerjaan, pilihannya menjadi
mantap, dan dia akan memasukkan pilihan pekerjaan itu sebagai aspek dari konsep dirinya serta kesempatan
terbaik untuk mendapatkan kepuasan kerja.
d. Tahap Pemeliharaan (Maintenance): 45 – 64 tahun
Individu berusaha untuk meneruskan atau memelihara situasi pekerjaan.Pekerjaan yang dilakukan
dan konsep diri (self-concept) mempunyai hubungan yang erat. Keduanya terjalin oleh proses perubahan dan
penyesuaian yang kontinyu. Pada intinya individu berkepentingan untuk melanjutkan aspek-aspek pekerjaan
yang memberikan kepuasan, dan merubah atau memperbaiki aspek-aspek pekerjaan yang tidak
menyenangkan, tetapi tidak sampai individu itu meninggalkan pekerjaan tersebut untuk berganti dengan
pekerjaan yang lain.
e. Tahap Kemunduran (Decline): di atas 65 tahun
Tahap menjelang berhenti bekerja (preretirement). Pada tahap ini perhatian individu dipusatkan pada
usaha bagaimana hasil karyanya dapat memenuhi persyaratan out-put atau hasil yang minimal sekalipun.
Individu lebih memperhatikan usaha mempertahankan prestasi kerja daripada upaya meningkatkan prestasi
kerjanya.
28
Kelima tahap ini dipandang sebagai acuan bagi munculnya sikap-sikap dan perilaku yang
menyangkut keterlibatan dalam suatu jabatan, yang tampak dalam tugas-tugas perkembangan vokasional
(vocational developmental tasks).
2.
Tugas Perkembangan Vokasional
Menurut Super dalam Osipow (1983) tugas perkembangan vokasional meliputi:
a. Kristalisasi (Crystallization): 14 – 18 tahun
Kristalisasi dari preferensi vokasional mengharuskan individu untuk merumuskan ide-ide tentang
pekerjaan yang sesuai untuk dirinya sendiri. Hal ini juga mensyaratkan perkembangan pekerjaan dan konsep
diri yang akan membantu memediasi pilihan vokasional yang bersifat sementara individu dengan cara
pengambilan keputusan pendidikan yang relevan. Sementara tugas kristalisasi dapat terjadi pada semua usia,
demikian juga semua tugas perkembangan vokasional, paling biasanya terjadi selama 14 – 18 tahun.
b. Spesifikasi (Specification): 18 – 21 tahun
Spesifikasi dari preferensi vokasional.Di sini, individu diharuskan untuk mempersempit arah karier
umum menjadi satu tertentu dan mengambil langkah yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan
tersebut.
c. Pelaksanaan (Implementation): 21 – 25 tahun
Tugas vokasional ketiga adalah pelaksanaan preferensi vokasional.Tugas ini mengharuskan individu
untuk menyelesaikan beberapa pelatihan dan mulai bekerja yang relevan. Yang dibutuhkan sikap dan
perilaku untuk panggilan tugas, pengakuan individu akan kebutuhan berguna untuk merencanakan
pelaksanaan preferensi dan pelaksanaan rencana ini.
e. Stabilisasi (Stabilization): 25 – 35 tahun
Stabilisasi adalah tugas perkembangan karier yang keempat.Tugas ini diwakili oleh perilaku menetap
dalam bidang pekerjaan dan penggunaan bakat seseorang sedemikian rupa untuk menunjukkan kesesuaian
keputusan karier buat sebelumnya.Hal ini bisa diduga bahwa perubahan posisi individu selama periode
stabilisasi ada tapi jarang perubahan pekerjaan.Sikap yang diperlukan dan perilaku sangat serupa dengan
tugas-tugas pelaksanaan dan stabilisasi.
Adapun menurut Super dalam Munandir (1996) tugas perkembangan vokasional meliputi:
1. Preferensi pekerjaan (14 – 18 tahun)
2. Spesifikasi preferensi (18 – 21 tahun)
3. Implementasi preferensi (21 – 25 tahun)
4. Stabilisasi dalam suatu pekerjaan (25 – 35 tahun)
5. Konsolidasi status dan kemajuan (masa akhir usia 30-an dan usia 40-an).
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier, Super mengembangkan konsep kematangan
vokasional (career maturity; vocational maturity) yang menunjuk pada keberhasilan individu menyelesaikan
semua tugas perkembangan vokasional yang khas bagi tahap perkembangan tertentu. Indikasi relevan bagi
29
kematangan vokasional adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana, kerelaan untuk memikul
tanggung jawab, serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang harus dipertimbangkan
dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan. Beraneka indikasi ini dapat
dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-masing tahap perkembangan vokasional, lebih-lebih selama masa
remaja dan masa dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan menilai kematangan vokasional telah
dikembangkan alat tes yang dikenal dengan namaCareer Development Inventory, Career Maturity Test, dan
Vocational Maturity Test.
C. Status dan Aplikasi Teori Perkembangan Karier
1. Status Teori
Pada saat kematiannya pada tahun 1994, Super telah menulis hampir 200 artikel, buku, bab buku,
monograf, dan publikasi lainnya. Murid-muridnya dan lain-lain juga telah memberikan kontribusi puluhan,
jika bukan ratusan, publikasi terhadap literatur profesional, semua distimulasi oleh teorinya.Menurut
pengakuannya, teori Super tidak dibangun dengan baik karena berbagai segmen tidak mengukuhkan
bersama-sama.Ini mungkin adalah alasan bahwa banyak studi penelitian dirangsang fokus pada beberapa
konstruksi (misalnya, kematangan karier) yang terdapat dalam teori tetapi bertentangan dengan pengujian
asumsi secara langsung.
Crites (1981) membandingkan pendekatan untuk konseling karier dari perspektif teoritis yang
berbeda, menjelaskan langkah-langkah yang terlibat dalam konseling perkembangan karier. Tahap
diagnostik adalah fase penilaian yang mencoba untuk menangani tiga bidang perilaku: masalah, orang, dan
prognosis. Pengujian berbagai jenis dan persediaan dari berbagai jenis akan sangat diandalkan untuk
menghasilkan data untuk tahap diagnostik.
Salah satu ciri teori Super adalah aplikasi kepedulian untuk konseling tentang masalah pekerjaan dan
pribadi. Super beralasan bahwa meskipun konsep diri cenderung menjadi fungsi dari pengaruh genetik pada
faktor fisik, seperti struktur kelenjar, dan faktor psikologis, seperti bakat, ia beroperasi dalam kombinasi
dengan variabel lingkungan, seperti kondisi sosial dan ekonomi. Dengan demikian, suatu bagian tertentu
dari konsep diri terbuka terhadap intervensi luar.Intervensi seperti ini mungkin yang paling efektif dalam
membentuk konsep diri selama masa remaja awal, karena konsep tumbuh lebih stabil selama masa remaja
dan dewasa.Konselor, dengan demikian, memiliki akses ke anak-anak selama tahun perkembangan terbesar
dari konsep diri.
Teori perkembangan karier Super memiliki beberapa keuntungan yaitu: (a) mempertimbangkan
bahwa individu berubah dari waktu ke waktu; (b) membantu siswa memperjelas konsep diri; (c) kerangka
yang jelas tentang pemahaman berbagai tahap perkembangan karier.
2. Aplikasi Teori Perkembangan Karier dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan karier merupakan salah satu layanan bimbingan yang berusaha memberikan bantuan
kepada peserta didik untuk memecahkan masalah penyesuaian diri dan pemecahan masalah karier yang
dihadapi.Dalam program bimbingan dan konseling komprehensif, bimbingan karier terdapat dalam
perencanaan individual yaitu layanan yang diberikan konselor untuk membantu peserta didik dalam
mempersiapkan diri memasuki masyarakat yang lebih kompleks.
Teori Super (1990) memiliki sejumlah aplikasi.Sebagai contoh, telah digunakan sebagai kerangka
kerja untuk program perkembangan karier untuk anak-anak dan remaja.Pertumbuhan adalah tahap
30
perkembangan untuk sekolah menengah dan dipecah menjadi rasa ingin tahu, fantasi, minat, dan kapasitas
(berfokus pada kemampuan). Tahap eksplorasi dimulai pada sekitar usia 14 dan berlanjut sampai usia 18,
pada saat pilihan yang mengkristal. Tahap ini jelas perkiraan, tetapi mereka dapat berguna saat merancang
program pengembangan karier.
Teori ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk konseling karier. Tujuan dari proses konseling
karier akan menjadi perkembangan kematangan karier, yang dapat dipecah menjadi beberapa komponen
yang diukur oleh Inventori Pengembangan Karier (CDI) (Super, Thompson, Jordaan, & Myers, 1984). Ini
adalah:
a. Perencanaan karier (CP). Kematangan karier individu secara aktif terlibat dalam proses, perencanaan
dan menganggap diri mereka menjadi begitu terlibat. Skala perencanaan karier adalah skala yang
efektif yang mengungkapkan bagaimana orang menganggap diri mereka dalam kaitannya dengan
proses perencanaan.
b. Eksplorasi karier (CE). Kematangan individu berhubungan dengan kesediaan klien untuk terlibat
dalam karier eksplorasi, yaitu kesediaan mereka untuk menggunakan bahan. Skala ini
dikombinasikan dengan skala CP untuk menghasilkan sikap pengembangan karier (CDA) skala.
c. Pengambilan keputusan (DM). Kematangan karier individu mengetahui bagaimana membuat
keputusan dan memiliki keyakinan pada kemampuan untuk melakukannya.
d. Informasi dunia kerja. Komponen yang paling jelas dari skala ini melibatkan informasi yang akurat
memiliki tentang pekerjaan. Super percaya bahwa para pengambil keputusan harus memiliki
beberapa pengetahuan tentang waktu, perkembangan berbicara, di mana orang harus memperoleh
informasi penting tentang pekerjaan.
e. Pengetahuan tentang pekerjaan yang disukai (PB). Setelah, CDI, 20 orang memilih pekerjaan dan
menjawab pertanyaan tentang pekerjaan dan kualifikasi yang diperlukan untuk memasukkan
pekerjaan tertentu.
f. Orientasi karier (COT). COT adalah skor total pada CDI, dengan pengecualian dari PO. Dalam arti
ini dapat dianggap sebagai ukuran global kematangan karier.
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karier , Super mengembangkan konsep kematangan
vokasional (career maturity ; vocational maturity) yang menunjuk pada keberhasilan seseorang
menyelasaikan semua tugas perkemlbangan vokasional yang khas bagi tahap perkembangan tertentu.
Indikasi relevan bagi kematangan vokasional adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana ,
kerelaan untuk memikul tanggung jawab , serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang
harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan.
Beraneka indikasi ini dapat dijabarkan lebih lanjut pada rnasing-masing tahap perkembangan vokasional ,
lebih-lebih selama masa remaja dan masa dewasa muda. Berkenaan dalam rangka meneliti dan menilai
kematangan vokasional telah dikembangkan alat tes yang dikenal dengan nama Career Development
Inventory , Career Maturity Test , dan Vocational Maturity Test.
Beberapa karya tulis Super yang terkenal adalah The Psychology of Careers (l957) , Work Values
Inventory (1970) , Appraising Vocational Fitness by Means of Psychological Tests (1962) , Career
31
Development: Self-Concept Theory (1963) , Measuring Vocational Maturity for Counseling and Evaluation
(1974) , dan Career and Life Development (1984). Hal yang menarik perhatian ialah pernyataan Super
dalam karya tulis terakhir bahwa teori tentang self-concept adalah "Essentially a matching theory in which
individuals consider both their own attributes and the attributes required by an occupation". Gagasan ini
mirip dengan teori Trait and Factor, meskipun pada Super mengandung makna yang lebih komprehensif.
Pandangan Super oleh banyak pakar Psikologi Vokasional dinilai sebagai teori yang paling komprehensif
dan mendapat banyak dukungan dari hasil penelitian. Pandangan Super mengandung beberapa implikasi
bagi pendidikan karier dan konseling karier yang sangat relevan. Konsepsi Super tentang gambaran diri dan
kematangan vokasional menjadi pegangan bagi seorang tenaga kependidikan bila merancang program
pendidikan karier dan bimbingan karier , yang membawa orang muda ke pemahaman diri dan pengolahan
informasi tentang dunia kerja , selaras dengan tahap perkembangan karier tertentu.
32
(TEORI GINZBERG)
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Teori Perkembangan Karier Ginzberg.
Teori ini lahir merupakan usaha bersama para ahli yang terdiri seorang ekonom, seorang psikiater,
seorang sosiolog, dan seorang psikolog, diantara mereka adalah Ginzberg, Ginsburg, Axelrad, dan
Herma (1951), mereka inilah yang memberikan pandangan bahwa pemilihan karir adalah suatu proses
yang terbuka sepanjang waktu. Ginzberg (dalam Winkel, 1997) menyatakan bahwa pilihan jabatan tidak
hanya terjadi sekali saja, melain mengalami proses pengembangan yang meliputi jangka waktu antara 6
sampai 15 tahun. Selanjutnya, dalam Belkin: 1976:430, Ginzberg menyatakan: occupational choice is a
lifelong proces of decision-making in which the individual seeks to find the optimal fit between his
career preparation and goals and the realities of the world of work.
Teori Ginzberg mempunyai tiga unsur, yaitu proses (bahwa pilihan pekerjaan itu suatu proses),
irreversibilitas (bahwa pilihan pekerjaan itu kompromi antara faktor-faktor yang main, yaitu, minat
kemampuan, dan nilai). Teori ini kemudian, pada tahun 1970, direvisi. Proses yang semula berakhir pada
awal masa dewasa atau akhir remaja, kemudian dirumuskan bahwa itu tidak demikian halnya tetapi
berlangsung terus. Mengenai irreversibilitas, adanya pembatasan pilihan tidak mesti berarti bahwa
pilihan itu bersifat menemukan. Apa yang terjadi sebelum orang berumur duapuluh tahun mempengaruhi
kariernya. Terjadinya kesempatan bisa saja menyebabkan orang berubah dalam pilihan pekerjaannya.
1.2 Proses Pemilihan Pekerjaan Oleh Ginzberg
Pemilihan pekerjaan oleh Ginzberg diklasifikasikan dalam tiga tahapan utama yaitu :
1. Masa Fantasi
Masa ini berlangsung pada individu dengan tahap usia sampai kira-kira 10 tahun atau 12
tahun (masa sekolah dasar). Pada masa ini, proses pemilihan pekerjaan masih bersifat sembarangan
atau asal pilih, tanpa didasarkan pada pertimbangan yang masak (rasional dan objektif) mengenai
kenyataan yang ada. Pilihan pekerjaan pada masa ini hanya didasari atas kesan yang dapat
melahirkan kesenangan semata, dan diperolehnya dari/mengenai orang-orang yang bekerja atau
lingkungan kerjanya.
Menurut Ginzberg, kegiatan bermain pada masa fantasi secara bertahap menjadi berorientasi
kerja dan merefleksikan preferensi awal untuk jenis aktifitas tertentu. Berbagai peran okupasional
tercermin dalam kegiatan bermain, yang menghasilkan pertimbangan nilai dalam dunia kerja.
2. Masa Tentatif
33
Masa ini berlangsung mencakup anak usia lebih kurang 11 tahun sampai 18 tahun atau pada
masa anak bersekolah di SLTP dan SLTA. Pada masa ini, pilihan pekerjaan mengalami
perkembangan. Masa ini oleh Ginzberg diklasifikasikan manjadi empat tahap, dimulai dari (1)
tahapminat (11-12 tahun) yakni masa dimana individu cenderung melakukan pekerjaan / kegiatan
hanya yang sesuai minat dan kesukaan mereka saja. Pertimbangan karierpun juga didasari atas
kesenangan,
ketertarikan
atau
minat
individu
terhadap
objek
karier,
dengan
tanpa
mempertimbangkan banyak faktor. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa minatnya berubah-ubah
(sebagai reaksi perkembangan dan interaksi lingkungannya), maka individu akan menanyakan
kepada dirinya tentang kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan suatu pekerjaan. Keadaan ini
disebut sebagai 2) tahap kapasitas (13-14 tahun), yakni masa dimana individu mulai melakukan
pekerjaan / kegiatan didasarkan pada kemampuannya masing-masing. Orientasi pilihan pekerjaan
juga pada masa ini berbentuk upaya mencocokkan kemampuan yang dimiliki dengan minat dan
kesukaannya. Tahap berikutnya (3) tahap nilai (15-16 tahun), yaitu tahap dimana minat dan
kapasitas itu akan diinterpretasikan secara sederhana oleh individu yang mulai menyadari bahwa
terdapat suatu kandungan nilai-nilai tertentu dari suatu jenis pekerjaan, baik kandungan nilai yang
bersifat pribadi maupun serangkaian nilai yang bersifat kemasyarakatan. Kesadaran akan
serangkaian kandungan nilai ini pula yang membuat individu dapat mendiferensiasikan nilai suatu
pekerjaan dengan pekerjaan lainnya. Adapun tahap terakhir dari masa tentatif ini adalah (4) tahap
transisi (17-18 tahun), yakni keadaan dimana individu akan memadukan orientasi-orientasi pilihan
yang dimiliki sebelumnya (minat, kapasitas, dan nilai) untuk dapat direalisasikan dalam
kehidupannya. Tahap ini dikenal juga dengan tahap pengenalan secara gradual terhadap persyaratan
kerja, pengenalan minat, kemampuan, imbalan kerja, nilai, dan perspektif waktu. Keputusan yang
menjadi pilihan itu sudah merupakan bentuk tanggung jawab dan konsekuensi pola karier yang
dipilih.
3. Masa Realistik
Masa ini mencakup anak usia 18-24 tahun atau pada masa perkuliahan atau mulai bekerja.
Pada masa ini, okupasi terhadap pekerjaan telah mengalami perkembangan yang lebih realistis.
Orientasi minat, kapasitas, dan nilai yang dimiliki individu terhadap pekerjaan akan direfleksikan
dan diintegrasikan secara runtut dan terstruktur dalam frame vokasional (kristalisasi pola-pola
okupasi) untuk memilih jenis pekerjaan dan atau memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan arah
tentatif mereka (spesifikasi). Masa ini pun dibedakan menjadi tiga tahap yaitu :
1. Tahap eksplorasi, yakni tahap dimana individu akan melakukan eksplorasi (menerapkan
pilihan-pilihan yang dipikirkan pada masa tentatif akhir dan belum berani mengambil
keputusan) dengan memberikan penilaian atas pengalaman atau kegiatan yang berhubungan
dengan pekerjaan dalam keterkaitannya terhadap tuntutan kerja yang sebenarnya. Penilaian
34
ini pada hakikatnya berfungsi sebagai acuan dan atau syarat untuk bisa memasuki lapangan
pekerjaan atau untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
2. Tahap kristalisasi, yakni tahap dimana penilaian yang dilakukan individu terhadap
pengalaman atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan baik yang berhasil
ataupun yang gagal akan mengental dalam bentuk pola-pola vokasional yang jelas. Pada
tahap ini, individu akan mengambil keputusan pokok dengan mengawinkan faktor-faktor
internal dan eksternal dirinya untuk sampai pada spesifikasi pekerjaan tertentu, termasuk
tekanan keadaan yang ikut memaksa pengambilan keputusan itu.
3. Tahap spesifikasi, yaitu tahap pilihan pekerjaan yang spesifik atau khusus. Pada tahap ini,
semua segmen dalam orientasi karier yang dimulai dari orientasi minat, kapasitas, dan nilai,
sampai tahap eksplorasi dan kristalisasi telah dijadikan pertimbangan (kompromi) yang
matang (determinasi tugas-tugas perkembangan yang optimal) dalam memilih arah dan tujuan
karier dimasa yang akan datang.
Umur
Tugas
Golongan
Kriteria umum
Perkembangan Masa
Pada tahap awal berorientasi
Sebelum usia fantasi
Kanak-kanak
11 tahun
bermain dan menjelang akhir
tahap ini
bermain
menjadi
berorientasi kerja
Terjadinya proses transisi, yang
di
tandai
secara
11-17 tahun
Tentatif
Remaja awal
oleh
pengenalan
gradual
terhadap
persyaratan kerja. Pengenalan
minat, kemampuan, imbalan
kerja,
nilai
dan
perspektif
waktu
Pengintegrasian kapasitas dan
17 tahu s/d
Pertengahan
minat.
Kelanjutan
awal
remaja
perkembangan
nilai-nilai.
masa Realistik
dewasa
Spesifikasi
pilihan
okupasi.
Kristalisasi pola-pola okupasi.
Tabel : Tugas-tugas Perkembangan Vokasional Ginzberg
Dari berbagai tahapan yang diklasifikasikan Ginzberg di atas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
pemilihan pekerjaan yang terjadi pada individu merupakan suatu pola pilihan karier yang bertahap dan
runtut, yang dinilai subjektif oleh individu dalam milieu sosiokulturalnya sejak masa kanak-kanak
35
hingga awal masa dewasanya. Artinya, pada saat keputusan vokasional tentatif dibuat, pilihan-pilihan
yang lain akan dicoret. Sehingga individu yang berhasil dalam karier/pekerjaan (memiliki kepuasan
kerja) adalah individu yang mampu mengidentifikasi, mengarah, dan mengakomodir semua orientasi
minat, kapasitas, dan nilai kedalam proses kompilasi yang tepat dan dinamis.
Di beberapa bagiannya, teori ini masih dianggap kurang sempurna, mengingat sampel yang dipilih
Ginzberg dalam membangun teorinya ini kurang representatif, yakni hanya diwakili oleh sampel lakilaki dari keluarga yang berpenghasilan diatas rerata (ayahnya adalah tenaga profesional dan ibunya
berpendidikan tinggi). Sehingga peluang sampel dalam memilih pilihan karier cenderung lebih luas, dan
cenderung tidak mengalami hambatan dalam proses okupasionalnya. Sementara kemungkinan adanya
kalangan sampel yang berasal dari keluarga yang berpenghasilan rendah dan mengalami tekanan
keadaan tertentu, termasuk juga sampel perempuan yang hampir tidak ada dalam studinya dalam
kerangka teori ini kurang mendapat perhatian.
Konsep irreversibilitas (pilihan pekerjaan itu tidak bisa diubah atau dibalik) juga mengalami
modivikasi dengan tetap menekankan pada pentingnya pilihan itu dilakukan secara dini dalam
membantu proses pembuatan karier. Untuk hal ini, Ginzberg menyatakan bahwa irreversibilitas itu tidak
bersifat menentukan keberhasilan kerier, dan menekankan konsep optimisasi (pencarian kecocokan)
sebagai bagian okupasional dalam mencapai kepuasan kerja. Karena bagi kelompok Ginzberg,
reversibilitas disebut sebagai penyimpangan, yang disebabkan oleh keterampilan okupasional dini dan
timing perkembangan realistik secara signifikan lebih lambat datangnya, akibat variabel-variabel tertentu
seperti instabilitas emosi, masalah pribadi, dan kekayaan finansial.
Sehingga diakhir pendapatnya, Ginzberg (Munandir, 1996:2) menyatakan bahwa “pemilihan
pekerjaan merupakan proses pengambilan keputusan yang berlangsung seumur hidup bagi mereka yang
mencari kepuasan dari pekerjaannya. Keadaan ini mengharuskan mereka berulang-ulang melakukan
penilaian kembali, dengan maksud mereka dapat lebih mencocokkan tujuan-tujuan karier yang terus
berubah-ubah dengan kenyataan dunia kerja”.
Konseptualisasi teori ini agaknya lebih bersifat deskriptif daripada eksplanatori. Artinya teori ini
tidak memberikan strategi untuk memfasilitasi perkembangan karier ataupun penjelasan tentang proses
perkembangannya. Kegunaan utama teori ini tampaknya hanya dalam memberikan satu kerangka baru
untuk melakukan studi mengenai perkembangan karier.
1.3 Implikasi Teori Dalam Bimbingan Dan Konseling
36
Serangkaian penjelasan yang dikemukakan oleh Ginzberg di atas, hendaknya dapat dijadikan acuan
oleh guru pembimbing dalam senarai kegiatan mereka sebagai fasilitator pendidikan. Bersumber pada
pengorganisasian bimbingan konseling di sekolah sebagai sistem yang bermuara pada layanan
bimbingan karier sekolah sebagai sub-sistem, maka implikasi teori ini dapat berupa, antara lain :
1. Informasi karier atau pekerjaan oleh guru pembimbing akan lebih memungkinkan siswa untuk dapat
mengenal berbagai jenis pekerjaan dan pola karier yang dapat mereka pilih setelah menyelesaikan
pendidikannya. Layanan seperti ini juga ditengarai dapat membantu siswa dalam mengenal secara
seksama arah minat dan kemampuan (potensi diri) untuk difantasi dan ditentasikan hingga sampai
pada kemampuan untuk merealisasikan orientasi-orientasi itu dimasa yang akan datang.
Informasi karier seperti ini oleh Munandir (1996:250) dapat berkenaan dengan informasi jenis-jenis
pekerjaan dan informasi jenis-jenis pendidikan. Bentuk lain materi layanan informasi karier yang
juga dapat diberikan guru pembimbing adalah dengan penyediaan berbagai sumber informasi
pekerjaan, jabatan dan karier, penyediaan papan media bimbingan, dan penyediaan sumber-sumber
informasi jabatan (Ketut, 1984 : 238-239).
2. Pengenalan terhadap minat, kapasitas, yang dimiliki siswa dan perangkat nilai yang dianutnya akan
sangat diperlukan oleh guru pembimbing dalam upaya mengembangkan, membina, dan
mengarahkan siswa pada pola-pola vokasional dan atau pemilihan pendidikan yang tepat dan selaras
dengan kondisi dan pilihan karier tersebut.
3. Aplikasi konseling karier dengan pola pendekatan konseling behavioral yang muatannya berupa
analisis, eksplorasi kondisi yang sesuai mengenai individu, keterampilan yang dimilikinya, minat,
keinginan, dan nilai kemasyarakatan, tekanan, dan arah kecenderungan dunia kerjanya, akan sangat
membantu individu dalam mencapai kecocokan dan kepuasan kerja.
Dalam kegiatan bimbingan karier, penjelasan yang diberikan mengenai informasi pekerjaan ini bertujuan
untuk mengukuhkan pilihan karier yang telah diambil individu dan membantu individu kalau ia mengalami
ketidakpastian antara dua pilihan yang sama-sama menarik. Informasi karier juga bermaksud memberikan
dasar pengujian pilihan yang tepat, dan bertujuan memotivasi individu yaitu dengan cara melibatkan
individu secara aktif dalam proses pengambilan keputusan.
37
(TEORI ANNE ROE)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori perkembangan jabatan atau karir menurut Anne Roe
Anne Roe, adalah guru besar di University of Arizona, Amerika Serikat. Dalam teori pilihan
jabatan atau karir mengemukakan bahwa pola perkembangan arah pilihan jabatan terutama sangat
ditentukan oleh kesan pertama, yaitu pada masa bayi dan masa awal kanak-kanak, berupa kesan atas
perasaan puas dan tidak puas, selanjutnya akan terus berkembang menjadi suatu kekuatan yang
berupa energi psikis.
Kekuatan energi psikis ini mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap arah pilih jabatan
pada seseorang anak. Kesan atas perasaan didekati atau dijauhi serta perasaan puas dan tidak puas
yang diterima oleh si anak dalam struktur emosi keluarga selalu memiliki dampak tertentu terutama
terhadap orientasi anak dalam lapangan jabatan atau karir, serta kehidupannya nanti.
Teori pilihan jabatan atau karir yang dikemukakan oleh Anne Roe, dalam bukunya yang
berjudul Theories of Vocational Choice, 1956), mengemukakan pandangan-pandangan seperti
diuraikan berikut:
Hipotesa tentang hubungan antara pengalaman yang lalu dengan pilihan jabatan
a. The Hereditary bases for intelligence special abalities interests attitudes and other personality
variables seem usually to be nonspesific.
Hipotesa yang dikemukakan disini berkenaan dengan dasar-dasar heriditas, seperti intelegensi,
kemampuan khusus, minat-minat, dan variabel-variabel kepribadian yang lainnya yang
nampaknya kurang begitu penting.
b. The pattern of development of special abilitities is primarily determined by the directions in wich
psycic energy comes to be expended involuntarily.
Hipotesa yang mengemukakan bahwa pola perkembangan kemampuan khusus terutama
ditentukan oleh pengamatan individu itu sendiri yang secara tidak disengaja dibarengi oleh energi
psikis.
c. The directions are determined in the first place by patterning of early santions and frustrations.
Hipotesa yang mengatakan bahwa pilihan pekerjaan seseorang ditentukan pada kesan pertama
atas perasaan-perasaan puas dan frustasi-frustasi yang mendahuluinya. Dengan demikian
hipotesa ini menghubungkan kebutuhan –kebutuhan dasar dengan teori pilihan jabatan.
Hubungan antara teori kebutuhan dari Maslow dengan teori pilihan jabatan Roe ditekankan
bahwa pilihan jabatan akan mencerminkan orientasi dasar pribadi yang berasal dari kebiasaan38
kebiasaan mengasuh anak. Roe berhipotesa bahwa orang tua yang banyak memberikan perhatian
kepada anak-anak mereka dalam artian sangat mencintai atau sangat melindungi berlebih-lebihan
(overdais), dan juga terlalu banyak menuntut akan memiliki kecendurungan untuk
mengembangkan orientasi orang dalam diri anak-anak mereka, yang oleh anak-anak itu
kemudian diungkapkan dalam pilihan pilihan pekerjaan atau jabatan yang berorientasi dalam
bidang jasa, beberapa aspek perusahaan niaga, hiburan dan kesenian. Orang tua yang kurang
memberikan perhatian dan menolak ataupun mengabaikan pendidikan anak-anak mereka
memiliki kecenderungan mengembangkan orientasi bukan orang (major orientation not toward
persons) dalam diri anak-anak mereka yang akan yang akan mengantarkan pada pilihan jabatan
yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik atau pekerjaan lapangan (out door) seperti
kehutanan.
d. The eventual pattern of psychic energies ini terms of attention direcedness is the major
determinant of the field or fields to which the person will apply himself.
Sebagai akibat dari energi psikis terutama dalam hal ini perhatian yang tertuju adalah merupakan
faktor-faktor yang menentukan dalam situasi pekerjaan dimana seseorang akan menempatkan
dirinya sendiri.
e. The intensity of these (primarily) unconcious needs as well as their organization is the major
determinant of the degree of motivation as expresses in accomplishment.
Hipotesa ini mengemukakan bahwa intensitas dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak disadari atau
primer merupakan suat faktor penentu utama yang menimbulkan dorongan yang akan terlihat
dalam melaksanakan pekerjaan.
f. Needs satisfied routinely as they appear do not develop into unconcious motivation.
Kebutuhan-kebutuhan yang secara rutin bisa dipenuhi tidak akan bisa berkembang atau
mendorong yang tidak disadari.
g. Needs for which even minimum statisfaction is rarely achived will, if higher order, become in
effect expunged, or will lower order, prevent the appearance of higher order needs, and will
become dominant and restructing motivatorors.
Hipotesa yang mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan dimana rasa puas itu sulit, jarang
jarang didapatkan apabila memperoleh motivasi yang kuat maka sulit untuk dihilangkan
pengaruhnya. Tetapi apabila dorongannya lemah serta dominan secara langsung bisa membatasi
dorongan-dorongan lainya.
h. Needs,the satisfaction of which is delayed but eventually accomplish will become unconscious
motivators, depending largely upon the degree of satisfaction felt. This will depend, among other
things, upon the strength of the basic need in the given individual, the length of time elapsing
between arousal and satisfaction, and the values ascribed to the satisfaction of this need in the
immediate environment.
39
Hipotesis ini mengemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan yang pemenuhannya ditunda, tetapi
tanpa disadari sering terpenuhi, akan bisa menjadi pendorong atau penguat, disini sangat
tergantung dengan tingkat terasanya kebutuhan itu untuk dipenuhi. Faktor-faktor lain yang
berpengaruh di antaranya, yaitu: kuatnya kebutuhan dasar dalam diri individu, lamanya waktu
berlaku, dan nilai-nilai penyebab juga akan ikut menentukan.
B. Konsep dasar Teori Anne Roe
Teori Roe atau biasa disebut sebagai “a need theory approach to career choice” atau teori
pemilihan karir dengan pendekatan kebutuhan, memandang pilihan karir seseorang dipengaruhi oleh
tiga komponen yang mendasar dalam hidup. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1. Pola-pola pengalaman pada masa kecil dengan sikap-sikap orang Tua
Ada berbagai macam pengalaman anak pada masa lalu mempunyai pengaruh terutama berkaitan
dengan posisi anak dalam struktur emosi keluarga, diantaranya:
a. Anak sebagai pusat curhat emosi orangtua (emotional concentration on the child).
1. Anak yang terlalu dilindungi (overprotection).
2. Anak yang terlalu dituntut (overdemanding).
b. Anak yang dijauhi orang tua (avoidance of the child)
1. Anak yang menjadi pelampiasan penolakan (emotional rejection of the child)
2. Anak yang tidak diperhatikan atau diabaikan (reglect of the child).
c. Anak yang diterima (acceptance of the child), Sikap menerima terhadap anak dapat pula
bertbentuk:
1. Orang tua yang menerima anak secara kebetulan (casual acceptance of the child).
2. Orang tua ynag menerima anak sepenuh hati (loving acceptance).
Berbagai macam sikap orang tua terhadap anak, apakah itu berupa menerima,
memperhatikan, melindungi, maupun terlalu dituntut, menolak, dan tidak memperhatikan
memiliki variasi tertentu terhadap kebutuhan rasa puas pada anak dan berbengaruh terhadap arah
pilih jabatan dikemudian hari. Pola asuh dan pola tingkah laku yang diberikan kepada anak-anak
mempunyai pengaruh didalam pola orientasi dalam lapangan kehidupan seorang anak
dikemudian hari.
2. Kebutuhan-Kebutuhan Manusia
Kebutuhan-kebutuhan individu dapat mempengaruhi pilihan karir individu tersebut. Dalam
hal ini Roe berpijak kepada teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow. Secara hirarki
menyebutkan kebutuhan-kebutuhan menurut Maslow diklarifikasikan sebagai berikut:
1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs).
40
Merupakan bentuk kebutuhan biologis atau kebutuhan jasmania yaitu kebutuhan yang
berkaitan dengan kelangsungan hidup yang menyangkut organisme dan jasmania.
Manifestasi dari kehidupan ini, dapat dilihat dari :
a. Kebutuhan akan sandang, bertujuan untuk melindungi individu dari bahaya yang
mungkin ditimbulkan oleh alam seperti panas, dingin dan lain-lain
b. Kebutuhan akan pangan atau makanan, agar organ tubuh tetap dapat berfungsi sebagai
mana mestinya.
c. Kebutuhan akan perumahan, bertujuan untuk dapat melindungi individu atau beristirahat
setelah bekerja sehari-hari.
Mengabaikan kebutuhan-kebutuhan biologis dapat menimbulkan ancamaan bagi kesehatan
maupun bagi kelangsungan hidup individu yang bersangkutan.
2. Kebutuhan rasa aman (safety needs).
Pada tingkat ini berupa kebutuhan yang menyangkut rasa tentram, rasa aman, jaminan
dan perlindungan dari segala macam ancaman. Kebutuhan pada tingkat ini akan terwujud
apabila individu telah mendapat pekerjaan, atau jabatan dan telah mendapat pengghasilan
cukup. Manifestasi dari tingkat kebutuhan ini dapat berupa :
a. Mendapat asuransi.
b. Mendapat Pengobatan secara cuma-Cuma dari instansi.
c. Adanya kemungkinan mendapat rumah duinas.
d. Mendapat tunjangan di hari tua atau pensiun.
e. Adanya kemungkinan mendapat mencicil rumah.
3. Kebutuhan dimiliki dan dicinta (belonging and love needs).
Pada tingkat ini berupa kebutuhan untuk mendapatkan kasih sayang, untuk memiliki,
untuk bergaul dengan teman, untuk menjadi bagian dari kelompok. Manifestasi dari tingkat
kebutuhan dapat berupa :
a. Mendapat banyak teman yang berpendidikan.
b. Terdapatnya ketenangan dalam keluarga.
c. Banyak mendapat bimbingan dari atasan.
d. perkenalan dengan pejabat-pejabat.
e. Disertakan dalam asosiasi.
41
4. Kebutuhan harga diri (self esteem needs).
Tingkat kebutuhan ini adalah menyangkut kebutuhan akan harga diri sendiri,yaitu
martabat manusia ditengah-tengah masyarakat lingkungan hidupnya. Kebutuhan ini berupa
pendapat respek dari orang lain, memperoleh kepercayaan diri dan penghargaan diri.
Manifestasi dari tingkat kebutuhan ini dapat berupa:
a. Kemungkinan antar jemput oleh mobil kantor.
b. Adanya kemungkinan memperoleh kendaraan dinas.
c. Adanya pandangan positf terhadap pekerjaan yang sedang ditekuninya.
d. Memperoleh jabatan setruktural sertta berkuasa.
e. Mendapat penghargaan dari kantor atau peresahaan.
f. Berpakaian rapi dan bersih.
5. Kebutuhan untuk mengerti dan mengetahui (cognitive needs; to know and understanding).
Tingkat kebutuhan ini diarahkan kepada pemuasan dorongan untuk mengetahui dan mengerti
serta menyelidiki.
6. Kebutuhan estetis (Aesthetic needs).
Tingkat kebutuhan yang lebih menitik beratkan pada pemuasan berupa kepekaan rasa
keindahan.
7. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).
Tingkat ini merupakan tingkat dorongan yang paling tinggi pada seseorang, yaitu setiap
individu membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin.
Hal ini nampak pada orang yang telah bekerja ingin terus mengembangkan prestasi ke taraf
yang lebih tinggi, tanpa terlalu banyak menuntut imbalan dari institusinya. Manifestasi dari
tingkat kebutuhan inidapat berupa :
a. Dapat menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampiulannya.
b. Mendapat pengalaman dalam bidang yang lebih luas.
c. Adanya kemungkinan untuk mendalami studinya ke luar negeri amupun di dalam negeri.
Hirarki kebutuhan Maslow ini lazim juga digambarkan sebagai piramida, dimana
kebutuhan paling dasar memiliki ruang paling luas dan semakin ke atas ruang yang tersedia
semakin kecil. Disana dapat diliat bahwa manusia dalam kehidupannya memiliki tingkatan42
tingkatan kebutuhan yang mesti dipenuhi, sesuai dengan taraf dan kemampuan dalam memenuhi
kebutuhan. Ada kebutuhan yang dapat terpenuhi dengan mudah, kebutuhan yang tertunda dan
bahkan ada kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi sama sekali.
3. Refleksi pengalaman-pengalaman masa lalu dalam pilihan pekerjaan.
Pengalaman masa lalu memempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam
mengembangkan sikap dasar, minat, ataupun potensi-potensi yang semuanya kemudian akan
tercermin pada kehidupannya pada masa dewasanya berkaitan dengan pribadi, reaksi emosi,
kegiatannya, serta pilihan lapangan kerja. Seorang anak yang mendapat pusat perhatian dari
orang tua (emotional concentration of the child) akan memiliki pola berpikir dan sikap yang
cenderung akan membina posisi dirinya dengan orang lain. Jadi mereka akan memiliki
kecenderungan untuk mengembangkan orientasi orang, dalam kata lain yaitu ia akan lebih
berorientasi pada orang atau person (major orientation toward persons). Tetapi orang atau
seseorang yang dibesarkan oleh orang tuanya yang kurang memberikan perhatian, menolak
ataupun mengabaikan pendidikan mereka, memiliki kecenderungan bersifat agresif ataupun
mempertahankan orientasi bukan orang atau orientasi kepada kebendaan (major orientation not
toward persons).
Perhatian Roe pada praktik mengasuh anak, cara orang tua berinteraksi dengan anak,
struktur kebutuhan yang dihasilkan, orientasi yang mendekat atau menjauh dari orang-orang telah
diterjemahkan kedalam bidang dan taraf klasifikasi okupasi-okupasi yang bermanfaat, yang
meliputi hal-hal berikut ini (Roe, 1956:143-152):
Bidang/kelompok
Taraf/tingkatan
I. Jasa (service).
1. Profesional dan manajerial I
II. Usaha atau dagang (business contsct).
2. Profesional dan manajerial II.
III.
Organisasi (organization).
3. Semiprofesional dan usaha kecil (small
IV.
Teknologi (technology).
business).
V. Pekerjaan lapangan (out door)
4. Terampil (Skilled).
VI.
Pengetahuan (science).
5. Setengah terampil (Semiskilled)
VII.
Budaya (general cultural).
6. Tidak terampil (Unskilled).
VIII.
Seni
dan
pertunjukan
(Art
and
Entertainment).
Roe mengenal delapan kelompok pekerjaan dan enam taraf (tingkatan untuk setiap kelompok.
Kelompok (penggolongan) itu adalah (Roe Lunnenborg, 1984):
43
I.
Service : orang bekerja untuk melayani orang lain, berbuat untuk kepentingan orang lain.
II.
business contsct: hubungan orang-orang dalam pekerjaan lebih menekankan tujuan
mempengaruhi orang lain (persuasi) daripada memberikan bantuan.
III.
Organization: pekerjaan-pekerjaan manajerial, hubungan personal antar orang.
IV.
Technology: pekerjaan berkenaan dengan produksi, pemeliharaan, pengangkutan barang dan
keperluan umum, teknik, kerajinan, transportasi, komunikasi dan keperluan umum, teknik,
kerajinan, transportasi, komunikasi dan sebaginya; hubungan antar pribadi kurang penting,
fokus perhatian adalah barang.
V.
out door: pekerjaan-pekerjaan diluar rumah, seperti pertanian, pengairan, pertambangan,
kehutanan, peternakan; hubungan antar orang tidak penting; pekerjaan luar yang
menggunakan mesin masuk golongan iv.
VI.
Science: pekerjaan keilmuan, penerapan teori, penelitian; untuk penelitian-penelitian
dibidang ilmu-ilmu perilaku, seperti psikologi, ini ada hubungannya dengan golongan vii.
VII.
general cultural: pekerjaan-pekerjaan pelestarian dan pewarisan budaya, seperti pendidikan
keguruan, wartawan, hukum, keagamaan, bahasa dan bidang humaniora lainnya; dosen bisa
masuk golongan vi, vii, atau viii sesuai dengan bidang ilmu seni spesialisasi yang
diajarkannya diperguruan tinggi.
VIII.
Art and Entertainment: hubungan dalam pekerjaan ini adalah antara satu orang, atau
kelompok orang, yang memiliki keterampilan khusus dibidang seni kreatif dengan
masyarakat umum.
Roe (dalam Munandir, 1996:105) mengemukakan bahwa terdapat enam tingkatan atau taraf dalam
karir. Keenam tingkatan tersebur adalah.
1. Profesional dan manajerial I: mencakup pencipta, pembaharu, dan manajer puncak; bekerja
dengan tanggung jawab dan kemandirian (otonomi) penuh, pengembil keputusan dan pembuat
kebijaksanaan, berpendidikan tinggi dokter/setara.
2. Profesional dan manajerial II: otonomi tetapi tanggung jawab lebih sempit (agak kurang),
penafsir kebijaksanaan, pendidikan tinggi tingkat sarjana sampai magister/setara.
3. small business: tanggung jawab rendah, penerapan kebijaksanaan hanya untuk diri sendiri,
berpindidkan menengah atas umum atau teknologi kejuruan.
4. Skilled: pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan pelatihan keterampilan dan pengalaman
khusus.
5. Semiskilled: pekerjaan yang menghendaki pendidikan dan pelatihan tingkatan yang agak kurang,
otonomi dan inisiatif jauh kurang dituntut.
44
6. Unskilled: pekerjaan tingkat ini tidak mempersyaratkan pendidikan atau pelatihan khusus,
pekerjaan bersifat repetitif, dan pekerja hanya dituntut untuk mampu mengikuti pedoman atau
pedoman kerja yang telah ditetapkan.
C. Aplikasi Teori Roe dalam Bimbingan Karir
Sesuai dengan teori Anne Roe dalam rangka usaha bimbingan karir, salah satu komponen
yang perlu diperhatikan adalah faktor hereditas atau keturunan. Roe memandang bahwa pada
prinsipnya individu memiliki berbagai potensi bawaan yang akan menentukan sifat-sifat, minat,
bakat dan tempramen. Pada akhirnya potensi tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam
kehidupan seseorang terutama dalam pemilihan karir yang akan dilalui pada masa yang akan datang.
Dalam pengembangan bimbingan karir, konselor perlu memperhatikan adanya potensi yang dimiliki
oleh individu tersebut.
Pengaplikasian teori Roe dalam bimbingan karir di sekolah salah satunya dengan melibatkan peranan orang
tua dalam pelaksanaan bimbingan karir. Peran orang tua dalam bimbingan karir itu sendiri menurut Ruslan
A. Gani (1996:68) misalnya dengan menyelenggarakan seminar atau diskusi yang melibatkan orang tua,
konselor dan individu itu sendiri untuk membicarakan cara-cara yang memunginkan mereka membantu
putera puterinya merencanakan dan mempersiapkan pekerjaan dan kehidupan sesudah tamat sekolah.
Orangtua dapat menggunakan informasi dari sekolah tentang bakat, minat, intelegensi, kepribadian, prestasi
belajar, kegagalan-kegagalan, kesuksesan, dan sebagainya.
45
(TEORI BELAJAR SOSIAL KRUMBOLTZ)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Belajar Sosial
Teori karir sosial kognitif (SCCT), yang berdasarkan pada teori sosiokognitif Albert Bandura (1986),
pada beberapa tingkat tertentu mirip dengan teori Krumboltz. Tetapi juga berbeda dengan teori
Krumboltz pada beberapa hal penting. Perbedaan paling penting adalah Lent, Brown, dan Hackett
(1995,1996,2002) lebih menekankan pada kesadaran peraturan diri, terutama yang berhubungan dengan
harapan efektifitas diri, yang berhubungan dengan posisi Bandura. Keyakinan efektifitas diri itu dinamis,
persepsi diri yang selalu berubah yang diyakini individu mengenai kemampuan mereka untuk melakukan
tugas tertentu. Mereka berkata, “dalam memformulasikan SCCT kami mencoba mengasopsi, mengurai,
dan memperluas aspek-aspek teori Bandura yang tampaknya sesuai dengan proses pembentukan minat,
pemilihan karir, dan performa” (Lent dkk, 1996,2992, hal 258). Permasalahan sentral dari teori sosial
kognitif sebagaimana berikut.
1. Interaksi antara orang dan lingkungan mereka sangat dinamis; hasilnya adalah individu di satu saat
dipengaruhi oleh dan mempengaruhi terhadap lingkungan mereka.
2. Perilaku yang berhubungan dengan karir dipengaruhi empat aspek seseorang sebagai tambahan
terhadap karakteristik yang ditentukan secara genetik adalah: perilaku, keyakinan efektifitas diri,
memperoleh hasil yang diharapkan, dan tujuan.
3. Keyakinan efektivitas diri dan memperoleh hasil yang diharapkan mempengaruhi langsung pada
pengembangan minat. orang tertarik pada sesuatu karena mereka yakin bahwa mereka bisa
melakukan dengan baik dan menghasilkan hasil yang berharga.
4. Variabel jenis kelamin, ras, kesehatan fisik, ketidakmampuan, dan lingkungan mempengaruhi
pengembangan efektifitas diri, sebagaimana memperoleh hasil yang diharapkan juga mempengaruhi
dan, pada akhirnya, tujuan dan performa.
5. Pilihan dan implementasi karir aktual lebih dipengaruhi oleh sejumlah variabel langsung dan tidak
langsung daripada efektivitias diri, harapan hasil yang diperoleh dan tujuan yang telah ditentukan.
Termasuk pengaruh-pengaruh langsung terhadap pilihan dan pengembangan karir adalah
diskriminasi, variabel-variabel ekonomi yang memepengaruhi persediaan dan permintaan, serta
budaya pengambil keputusan. Termasuk pengaruh-pengaruh tidak langsung adalah kejadiankejadian.
46
Performa di aktivitas-aktivitas pendidikan dan pekerjaan adalah hasil interaksi dari kemapuan,
efektifitas diri, memperoleh hasil yang diharapkan dan tujuan yang telah ditentukan. Semuanya memiliki
tingkat yang sama, orang dengan level kemampuan tertingi dan keyakinan efektivitas diri terkuat
melaksanakan dalam level tertinggi. Meskipun begitu keyakinan efektivitas diri dan harapan hasil yang
diperolehterus-menerus berubah seiring interaksi individu dengan lingkungannya.
Krumboltz adalah salah satu tokoh teori Behaviorisme. Asumsi teori pilihan karir Krumboltz adalah
kepribadian seseorang dan daftar perilaku seseorang muncul karena mereka telah belajar sesuatu yang
unik dari lingkungannya. Perilaku unik tersebut bukan karena mereka memiliki keunikan yang berasal
dari dalam diri mereka sendiri dan bukan karena tugas perkembangan mereka sendiri.
Teori belajar sosial memiliki 3 tipe pengalaman belajar yaitu
a. Pengalaman Belajar Instrumental, Individu akan memiliki kecenderungan untuk mengulang perilaku
tertentu jika perilaku tersebut mendapatkan reinforcemen (hadiah) yang positif (contoh, belajar tekun
diganjar dengan nilai A, sebaliknya, individu akan menghindari perilaku tertentu jika dia
mendapatkan hukuman).
b. Pengalaman Belajar Asosiatif, pengalaman ini akan muncul saat seseorang berhubungan dengan
stimulus yang telah ada atau berhubungan dengan peristiwa-peristiwa netral (Contoh, seseorang akan
menghubungkan rumah sakit dengan kematian orang terdekat dan kemudian menjadi sangat
segan/malas untuk melakukan suatu aktivitas yang berhubungan dengan rumah sakit. Dengan
demikian dia tidak akan memilih pekerjaan yang berhubungan dengan dunia kedokteran).
c. Pengalaman sendiri, manusia adalah mahkluk yang pandai yang dapat mengolah informasi, sehingga
mereka dapat belajar perilaku dan keterampilan baru dengan sangat mudah. Perolehan perilaku ini
bisa didapat melalui informasi dari media seperti buku, televisi, bioskop dan film.
Pendekatan Belajar Sosial terhadap Teori Perkembangan Karir (Social Learning Approaches To
Career Develpoment Theory) menekankan pada pentingnya perilaku dan kognisi dalam membuat
keputusan karir. Lebih lanjut disebutkan bahwa pembuatan keputusan karir individu dipergunakan oleh
lingkungan (proses pembelajaran sosial) terutama dari orang lain yang berarti signifikan (significant
other). Dengan kata lain, bahwa dalam mengambil keputusan karir individu dapat mengamati, meniru,
dan mencontoh orang-orang yang ada di sekelilingnya, jika apa yang di amatinya itu sesuai dengan
keinginan individu maka apa yang diamatinya itu dapat direalisasikannya menjadi sebuah perilaku.
Bandura, Hackett dan Bitz (Osipow, 1983) berpendapat bahwa keputusan yang tepat tentang
kemampuan diri sendiri biasanya diperoleh melalui perbandingan gambaran kemampuan yang satu
dengan yang lain.
Menurut Krumboltz dan Baker (Munadir, 1996;101) kemampuan-kemampuan yang penting dalam
pengambilan keputusan karir adalah sebagai berikut:
1. Mengenai keputusan yang penting
2. Menentukan keputusan apa atau tugas yang dikelola dan yang realistis
47
3. Memeriksa dan melihat secara cermat dan generalisasi observasi diri dan generalisasi pandangan atas
dunia
4. Menyusun alternatif-alternatif yang luas dan beragam
5. Mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang alternatif-alternatif itu,
6. Menentukan sumber-sumber informasi yang handal, cermat dan relevan
7. Merencanakan dan melaksanakan urutan langkah-langkah pengambilan keputusan.
B. Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Karier
Munculnya teori pengambilan keputusan karir behavioral (krumboldtz) berasal dari teori belajar
sosial umum yang tokoh utamanya adalah A. Bandura. Teori belajar sosial ini sendiri berkembang dari
teori terdahulu, yaitu teori behaviorisme dan teori tentang penguatan (reinforcement) tingkah laku. Teori
krumboltz, menganggap penting pribadi dan lingkungan sebagai faktor-faktor yang menentukan
keputusan orang tentang karier. Faktor individu berkenaan dengan apa keputusan orang tentang karir.
Faktor individu berkenaan dengan apa yang sudah ada pada diri seseorang, seperti jenis kelamin, rupa
atau tampakan fisik dan kemampuan-kemampuan yang mengandung unsure bawaan. Termasuk didalam
pengertian lingkungan ialah lingkungan itu sendiri, apa-apa yang terjadi didalamnya dan latar
kejadiannya. Sehubungan dengan karier, lingkungan ini mencakup lingkungan kerja, pasar kerja, syarat
kerja, peraturan dan undang-undang kerja (yang mengatur soal-soal kepegawaian atau perburuhan,
tunjungan, pensiunan dan sebagainya), serta hal-hal lain didalam masyarakat, yang berpengaruh pada
kehidupan kerja, seperti adat kebiasaan, perang, politik, ekonomi, pribadi dan lingkungan berinteraksi,
dan interaksi ini menimbulkan pandangan diri orang yang bersangkutan dan ini selanjutnya
mempengaruhi tingkah laku kerjanya. Kelangsungan tingkah laku ini di bentuk oleh penguatan
(ganjaran) atau hukuman.
Teori krumboltz yang disebutkan secara umum diatas, mengenali empat kategori faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan karier seseorang, yaitu faktor genetic, lingkungan, belajar, dan
ketrampilan mengahadapi tugas atau masalah.
1. Faktor genetic
Faktor ini dibawa dari lahir berupa wujud dan keadaan (wajah, jenis kelamin, suku bangsa,
dan cacat-cacatnya) dan kemampuan. Keadaan diri bisa membatasi preferensi atau ketrampilan
seseorang untuk menyusun rencana pendidikan dan akhirnya untuk bekerja. Teori ini mengatakan
bahwa orang-orang tertentu terlahir memiliki kemampuan, besar atau kecil, untuk memeperoleh
manfaat dari pengalaman pergaulannya dengan lingkungan, sesuai dengan keadaan dirinya
(pengalaman orang laki-laki lain, dari pada pengalaman orang perempuan tantangan orang normal
lain dari pada tantangan yang diadapi orang cacat). Kemampuan-kemampuan khusus seperti
kecerdasan, bakat music, demikianpun gerak otot, merupakan hasil interaksi pradisposisi bawaan
dengan lingkungan yang dihadapi seseorang.
48
2. Kondisi lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada pengambilan keputusan kerja ini, berupa
kesempatan kerja (apa dan berapa banyak), ksempatan pendidikandan pelatihan 9formal, nonformal,
negeri, swasta), kebijaksanaan dan prosedur seleksi (peraturan, persyaratan, dan sebagainya),
imbalan (uang, penghargaan sosial), undang-undangdari peraturan perburuhan, peristiwa alam
(bencana), sumber alam( tersedianya dan kebutuhan ), kemajuan teknologi, perubahan dalam
organisasi sosial, sumber keluarga (pendidikan, kemampuan keuangan, nilai, pengharapan), sistem
pendidikan (organisasi, kebijaksanaan, ketrampilan dan kepribadian guru dan sebagainya),
lingkungan tetangga dan masyarakat sekitar (pengaruhnya), pengalaman belajar. Faktor-faktor ini
umumnya ada diluar kendali individu, tetapi pengaruhnya bisa direncanakan atau tidak bisa
direncanakan.
3. Faktor Belajar
Kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia adalah belajar. Ini dilakukan hamper setiap
waktu sejak masa bayi, bahkan ada ahli yang mengatakan sejak didalam kandungan. Pengalaman
belajar ini memepengaruhi tingkah laku dan keputusan orang antara lain tingkah laku pilihan
pekerjaan. Setiap orang memiliki sejarah pengalaman belajar yang khas. Ada dua jenis belajar, yaitu
belajar instrumental dan asosiatif. Belajar instrumental ialah belajar yang terjadi melalui
pengalaman orang waktu berada didalam suatu lingkungan dan ia “mengerjakan” langsung (berbuat
sesuatu atas, mereaksi terhadap) lingkungan itu dan ia mendapatkan sesuatu sebagai hasil dari tindak
perbuatannya itu, yaitu hasil yang dapat diamatinya. Tiga komponen pengalaman belajar ini adalah
anteseden (yang mendahului peristiwa belajar), respon (perbuatan), dan kosekuensi (buah atau hasil
perbuatan). Anteseden ialaha segla sesuatu mengenai diri, lingkungan, kejadian yang hadir sebelum,
atau mendahului, dan ada sangkut pautnya dengan perbuatan (respons) itu : cirri pribadi, keadaan
fisik, kemampuan umum, bakat lingkungan, keadaan, kejadian. Respons perbuatan ialah apa yang
dilakukan orang , baik yang tampak maupun yang tidak (menendang bola, menyapa orang, menerima
tawaran, menyetujui pendapat orang, menerima saran ). Konsekuensi ialah segala apa yang terjadi
(pada diri, diri luar diri) setelah perbuatan dilakukan atau tindakan diambil , kelihatan langsung
sebagai hasil atau akibat, yang tidak kelihatan (reaksi dalam diri berupa perasaan atau pikiran,
dampak pada orang lain).
C. Menerapkan Teori Belajar Sosial Krumboldz
Ada tiga prosedur / teknik perilaku konselor yang diambil dari pendekatan Belajar Sosial Terhadap
Teori Perkembangan Karier (Social Lerning Approaches To Career Development Theory) dalam proses
konseling karir (Crites, 1986) yaitu:
49
a) Penguatan (reinforcement), dalam teknik ini konselor membantu konseli dalam hal penyelesaian
tujuan dari konseling karier yaitu memilih alternatif karier yang tepat
b) Penggunaan peranan model (role model), dalam teknik ini konselor membantu konseli dengan
bertindak sebagai model atau dengan menyediakan model peran terhadap mereka.
c) Simulasi (simulation), kegiatan ini dapat membantu konseli dalam mensimulasikan suatu
pengalaman karir.
Krumboltz dan Hammer (Sharf, 1992: 286-296) mengatakan ada tujuh langkah dalam pengambilan
keputusan karir yang disingkat dalam kata DECIDES, yaitu :
a. Mendefinisikan masalah (define the problem)
b. Membuat rencana kegiatan (establish an action plan)
c. Mengklasifikasi nilai (clarify values)
d. Mengidentifikasi pilihan (indentity alternatives)
e. Mengetahui dampak-dampak masalah (discover probable outcomes)
f. Mengeliminasi beberapa alternatif secara sistematis (eliminate alternatives systematically)
Krumboltz mengatakan bahwa secara potensial penyebab kesusahan dalam membuat pemilihan karir
yang bersumber dari penggeneralisasian yang salah, pembandingan diri dengan satu orang, perkiraan
yang dilebih-lebihkan dalam hasil dampak emosional, menggambarkan hubungan sebab akibat yang
salah, ketidak acuhan dalam hubungan fakta dan memberikan kecendrungan yang tak pantas kepada
even yang lemah kemungkinannya. Maka Krumboltz percaya bahwa beberapa dari hal ini berhubungan
kepada fakta kesusahan dalam menentukan pemilihan karir.
Pada akhirnya Krumboltz, mengatakan adanya metode untuk mengidentifikasi dan bertindak
terhadap kepercayaan pribadi dan pengidentifikasian stress. Yang terdiri dari diantaranya (Krumboltz,
1983; Mitchell & Krumboltz, 1984):
1. Asesmen terhadap isi dari observasi diri konseli dan pandangannya terhadap lingkungan
2. Proses dari masalah tersebut muncul
3. Wawancara terstruktur
4. Thought Listing (Daftar Pikiran Konseli)
5. Imagery (perumpamaan)
6. Simulasi pemilihan karir
7. Menggunakan film yang berhubungan dengan pemecahan masalah untuk membantu konseli
8. Pengunaan carrer beliefs inventory (Krumboltz, 1988a), untuk mengindentifikasi prasangka yang
menghambat orang dalam mencapai tujuan karirnya.
50
Aplikasi
Krumboltz dan Baker (1973) mengidentifikasi beberapa langkah yang terlibat dalam konseling karir
yaitu :
1. Menjelaskan masalah dan tujuan
2. Mengidentifikasi bermacam solusi
3. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang telah dikenali
4. Menguji kemungkinan hasil dari pilihan yang beragam
5. Mengevaluasi ulang tujuan, menentukan
6. Menyamaratakan semua proses kepada masalah yang baru
Masalah karir konseli sering berhubungan kepada ketidakmampuan individu untuk membuat
pemilihan yang berhubungan dengan apa yang dibutuhkan dalam karirnya (Krumboltz and Thoresen,
1969). Crites (1981) memberikan beberapa point mengenai masalah konseli yang berhubungan dalam
konseling karir yang termasuk dalamnya beberapa kombinasi yaitu:
1. Ketidakjelasan tujuan
2. Adanya penghalang dalam aktifitas
3. Adanya ketakutan akan kemungkinan kegagalan
4. Konflik dalam pilihan.
Keempat point ini adalah diantaranya item dalam Skala Pilihan Karir (Osipow, Carney, Win;er, Yanico and
Koschier, 1976; Osipow, 1980), sebagai instrument yang didesain untuk mengukur kebimbangan karir
terdahulu dengan differential-diagnosis-treatment.
51
Download