Uploaded by User44115

2007-2-00486-SI Bab 2

advertisement
8
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Manajemen Proyek
2.1.1 Pengertian Manajemen
Menurut Soeharto (1999, p21), Manajemen adalah proses merencanakan,
mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan anggota serta
sumber daya yang lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang
telah ditentukan.
2.1.2 Pengertian Proyek
Menurut Schwalbe (2006, p4), Proyek adalah suatu usaha yang bersifat
sementara untuk menghasilkan suatu produk atau layanan yang unik. Pada
umumnya, proyek melibatkan beberapa orang yang saling berhubungan
aktifitasnya dan sponsor utama dari proyek biasanya tertarik dalam penggunaan
sumber daya yang efektif untuk menyelesaikan proyek secara efisien dan tepat
waktu.
Menurut Larson (2000, p4), Proyek adalah kegiatan yang kompleks, tidak
rutin, dan usaha satu waktu yang dibatasi oleh waktu, anggaran, sumber daya,
dan spesifikasi kinerja yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan customer.
Menurut Schwalbe (2006, pp5-6), atribut dari suatu proyek adalah
sebagai berikut :
1. Sebuah proyek memiliki tujuan yang khusus. Proyek harus menghasilkan
suatu produk khusus, layanan, dan hasil akhir.
9
2. Proyek bersifat sementara. Proyek memiliki awal dan akhir yang jelas.
3.
Proyek membutuhkan sumber daya bias dari beberapa area. Sumber daya
dapat berupa hardware, software, dan sumber daya lainnya.
4. Proyek harus memiliki pelanggan utama (primary customer) / sponsor.
5. Proyek melibatkan ketidakpastian – ketidakpastian, karena setiap proyek
bersifat unik maka sangat sulit untuk menentukan objektifitas proyek,
mengestimasi waktu proyek, dan biayanya.
Menurut Larson (2000, p4), tujuan utama dari proyek adalah untuk
memuaskan kebutuhan customer. Disamping kemiripan, karateristik dari sebuah
proyek membantu membedakan proyek tersebut dari yang lainnya dalam
organisasi. Karakteristik utama dari proyek adalah :
1. Penetapan tujuan
2. Masa hidup yang terdefinisi mulai dari awal hingga akhir
3. Biasanya melibatkan beberapa departemen dan professional
4. Biasanya melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya
5. Waktu, biaya, dan kebutuhan yang spesifik
Menurut Hughes (2006, p4), Proyek software mempunyai karakteristik
tertentu yang membuat proyek software berbeda dengan proyek lainnya.
1. Invisibility
Dalam sebuah proyek software, kemajuannya tidak dapat dilihat secara
langsung dan berbeda dengan proyek fisik lainnya misalnya pembuatan
jembatan dan sebagainya.
10
2. Complexity
Produk software memiliki lebih banyak kompleksitas daripada proyek
fisik termasuk dari sisi biayanya.
3. Conformity
Pengembang software harus menyesuaikan kebutuhan software dan
kebutuhan dari client. Hal ini perlu mendapat perhatian karena pada dasarnya
individual memiliki ketidakkonsistenan. Konsistensi mulai dari awal hingga
akhir menjadi hal yang penting dalam keberhasilan proyek.
4. Flexibility
Software yang dapat diubah dengan mudah biasanya dilihat sebagai
sebuah kekuatan. Hal ini berarti tampilan sistem software diharapkan dapat
diubah dengan mudah untuk mengakomodasi perubahan lingkungan bisnis
organisasi dan komponen lainnya.
Menurut Schwalbe (2006, p7), setiap proyek memiliki batasan yang
berbeda terhadap ruang lingkup, waktu, dan biaya yang biasanya disebut sebagai
triple constraint (3 kendala). Setiap manajer proyek harus memperhatikan hal –
hal penting dalam manajemen proyek :
•
Ruang lingkup (scope) : apa yang ingin dicapai dalam proyek ? produk atau
layanan apa yang pelanggan harapkan dari proyek tersebut ?
•
Waktu (time) : berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
proyek? Bagaimana jadwal kegiatan proyek akan dilaksanakan ?
•
Biaya (cost) : berapa biaya yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan
proyek ?
11
Ketiga batasan tersebut memiliki sifat saling tarik – menarik. Artinya,
jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak,
maka harus diikuti dengan meningkatkan mutu, yang selanjutnya berakibat pada
naiknya biaya melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya maka
biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal.
Gambar 2.1 Triple Constraint
(Sumber : Schwalbe, 2006, p7)
2.1.3 Pengertian Perangkat Lunak (Software)
Menurut Pressman (2003, p6), Perangkat lunak (software) merupakan
1. Instruksi – instruksi
(program komputer) yang menyediakan fungsi dan
kinerja yang diinginkan pada saat dieksekusi atau dijalankan.
12
2. Struktur – struktur data yang memungkinkan program memanipulasi
informasi sesuai yang diinginkan.
3. Dokumen – dokumen yang mengambarkan operasi dan kegunaan dari
program – program.
Perangkat lunak (software) atau program memungkinkan komputer untuk
melakukan tugas – tugas spesifik yang ditujukan kepada komponen fisik sistem
(hardware).
Secara umum, sistem komputer terbagi menjadi 3 kelas utama
(http://www.wikipedia.com) yaitu :
•
System software membantu user dalam menjalankan hardware dan sistem
komputer. Salah satu contoh system software adalah operating system dan
device drivers. Tujuan dari system software adalah mengisolasi sebanyak
mungkin programmer aplikasi dari penggunaan bagian aplikasi yang rumit
terutama memori dan fitur hardware lainnya serta peralatan lainnya seperti
printer dan keyboard.
•
Programming Software biasanya menyediakan tools untuk membantu
programmer dalam menulis program – program komputer dan software
dengan menggunakan bahasa pemrograman yang lebih tepat. Tools yang
digunakan meliputi text editor, compiler, debbuger, dan sebagainya.
•
Application Software memungkinkan user menyelesaikan satu atau beberapa
tugas spesifik yang berkaitan dengan komputer. Aplikasi ini meliputi
business software, educational software, basis data, dan computer games.
13
2.1.4 Pengertian Manajemen Proyek
Menurut Schwable (2006, p9), Manajemen proyek merupakan aplikasi
dari ilmu pengetahuan, skills, tools, dan teknik untuk aktifitas suatu proyek
dengan maksud memenuhi atau melampaui kebutuhan stakeholder dan harapan
dari sebuah proyek.
Menurut Soeharto (1999, p28), Manajemen proyek adalah kegiatan
merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya
perusahaan untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan.
Menurut Nicholas (2001, p11), terdapat 3 elemen penting dalam
manajemen proyek antara lain :
•
Manajer Proyek
Elemen paling penting dalam manajemen proyek adalah manajer
proyek. Manajer proyek adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk
merencanakan, mengarahkan, dan mengintegrasikan usaha kerja dari anggota
untuk mencapai tujuan proyek. Manajer proyek mengkoordinasikan usaha
antar area fungsional dan mengintegrasikan perencanaan dan pengendalian
dari biaya, jadwal, dan pembagian tugas dalam suatu proyek.
•
Tim proyek
Tim proyek merupakan kumpulan orang yang biasanya berasal dari
area fungsional yang berbeda yang akan saling bekerja sama dengan tujuan
untuk menyelesaikan pekerjaan proyek.
14
• Sistem Manajemen Proyek
Manajer proyek dan tim proyek harus ada dan digunakan sebagai alat
bantu dalam sebuah sistem manajemen proyek. Sistem manajemen proyek
dibuat berdasarkan struktur organisasi, proses informasi, dan pelatihan serta
prosedur yang mengintegrasikan elemen dari organisasi proyek secara
vertikal dan horizontal. Elemen vertikal meliputi pemecahan tugas dalam
proyek sedangkan elemen horizontal meliputi
unit fungsional dan
departemen yang terlibat dalam proyek.
2.2
Daur Hidup Manajemen Proyek
Menurut Schwalbe (2006, pp 53-55), Daur hidup proyek (Project Life
Cycle) merupakan kumpulan dari tahapan – tahapan proyek. Tahapan dari daur
hidup proyek terdiri dari :
o Project Feasibility
Terdiri dari tahap konsep dan pengembangan. Tahapan ini
berfokus kepada perencanaan.
o Project Acquisition
Terdiri dari tahap implementasi dan penyelesaian (Close-Out).
Tahap ini berfokus kepada penyampaian tugas yang nyata dan seharusnya
dilaksanakan.
Sebuah proyek harus dapat menyelesaikan setiap tahapan dengan sukses
sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Pendekatan daur hidup proyek ini
menyediakan suatu pengendalian manajemen yang lebih baik dan hubungan yang
tepat terhadap operasi yang berjalan dalam suatu organisasi.
15
Project Feasibility
Konsep
Project Acquisition
Pengembangan
Implementasi
Penutupan
Rencana
Manajemen
Perencanaan proyek
Pengelompokan akhir
kerja
Kerja
terselesaikann
Perkiraan
biaya awal
Perkiraan anggaran biaya
Pekiraan biaya
pendefinisian
Perolehan
pengajaran
3-level WBS
6-level WBS
Laporan pelaksanaan
Penerimaan
customer
Gambar 2.2 Fase Daur Hidup Proyek
(Sumber : Schwalbe, 2006,p55)
2.3
System Development Life Cycle (SDLC)
Menurut Schwalbe (2006, p57), Daur hidup pengembangan sistem
(SDLC) adalah kerangka kerja untuk menggambarkan tahap – tahap yang terlibat
dalam pengembangan sistem informasi. Salah satu model yang popular dan
banyak digunakan dalam daur hidup pengembangan sistem adalah model
Waterfall.
2.3.1 Model Waterfall
Menurut Olson (2004, p127), Model Waterfall dapat mengenali
perputaran umpan balik antara tahapan – tahapan dari pengembangan software
untuk meminimalisasi kerja ulang. Model Waterfall terdiri dari tahapan –
tahapan yang meliputi : System feasibility, software plans and requirement,
16
product design, detailed design, code, integration, implementation, operation
and maintenance.
Kelebihan dari model Waterfall adalah :
•
Mendukung perencanaan sebelum dilakukannya proses desain.
•
Membagi sistem yang dikembangkan ke dalam beberapa tujuan.
•
Memudahkan manajer proyek untuk mengawasi kemajuan jalannya proyek.
•
Menyediakan suatu struktur proyek.
Kekurangan dari model Waterfall adalah :
•
Masalah baru diketahui setelah pengerjaan proyek telah selesai.
•
Sering kali kebutuhan user tidak terpenuhi.
•
Tidak menyediakan tanggapan yang cepat terhadap sistem informasi proyek.
Menurut Schwalbe (2006, p57), Model Waterfall memiliki tahapan –
tahapan pengembangan dan dukungan sistem linear dan terdefinisi dengan baik.
Model ini mengasumsikan bahwa kebutuhan akan tetap stabil setelah mereka
terdefinisi.
Model Waterfall
mempunyai beberapa tahapan
sebagai
berikut
(http://www.jodypaul.com/) :
1. System Feasibility
Studi kelayakan dengan menentukan konsep yang diperlukan bagi produk
piranti lunak serta menentukan daur hidup dari proyek.
2. Software Plans and Requirements
Spesifikasi fungsi, tampilan, dan kinerja yang dibutuhkan dari produk
piranti lunak secara rinci.
17
3. Product Design
Spesifikasi dari seluruh rancangan piranti lunak dan perangkat keras,
struktur pengendalian, dan struktur data bagi produk dan komponen lainnya
yang diperlukan sebagai dokumen bagi user dan tahap pengujian.
4. Detailed Design
Spesifikasi dari seluruh rancangan struktur pengendalian, struktur data,
hubungan tampilan ukuran, kunci algoritma, dan asumsi bagi setiap
komponen program.
5. Code
Komponen program secara keseluruhan.
6. Integration
Penyatuan masing – masing fungsi komponen agar piranti lunak dapat
bekerja seharusnya.
7. Implementation
Operasional kerja dari piranti lunak termasuk tugas, konversi data,
instalasi, dan pelatihan user.
8. Operations and Maintenace
Perawatan bagi sistem yang telah dibuat.
18
Gambar 2.3 Model Waterfall
(Sumber : http://www.jodypaul.com)
2.4
Sembilan Area Pengetahuan Manajemen Proyek
Menurut Schwalbe (2006, pp11-12), Sembilan area pengetahuan
manajemen proyek menggambarkan kunci utama yang harus dikembangkan oleh
manajer proyek.
Empat inti dari area pengetahuan manajemen proyek meliputi manajemen
ruang lingkup proyek, waktu, biaya, dan manajemen kualitas. Proses – proses
tersebut merupakan inti dari area pengetahuan karena mereka memimpin untuk
tujuan proyek yang lebih spesifik.
19
Empat area pengetahuan untuk memfasilitasi manajemen proyek adalah
sumber daya manusia, komunikasi, resiko, dan manajemen pengadaan proyek.
Disebut area pendukung karena proses – proses tersebut merupakan proses –
proses yang dilalui untuk mencapai tujuan proyek. Area pengetahuan yang
terakhir adalah manajemen integrasi proyek yang menyatukan semua area
pengetahuan yang ada sebelumnya menjadi satu kesatuan yang utuh untuk
mencapai tujuan terlaksananya proyek dengan baik.
2.4.1 Manajemen Ruang Lingkup Proyek (Project Scope Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp167-189), ruang lingkup proyek mencakup
semua proses yang terlibat dalam pendefinisian dan pengaturan mengenai segala
sesuatu yang termasuk atau tidak di dalam proyek. Hal ini untuk meyakinkan
bahwa tim proyek dan stakeholders mempunyai pengertian yang sama mengenai
produk yang akan diproduksi sebagai hasil dari proyek dan proses yang akan
digunakan dalam memproduksi proyek tersebut.
Lima proses utama di dalam manajemen ruang lingkup proyek adalah :
1. Perencanaan Ruang Lingkup (Scope Planning)
Memutuskan
bagaimana
ruang
lingkup
akan
didefinisikan,
diverifikasikan, dan dikontrol, serta bagaimana WBS (Work Breakdown
Structure) akan dibuat. Tim proyek membuat scope management plan
(rencana manajemen ruang lingkup) sebagai hasil utama dari proses
perencanaan ruang lingkup proyek.
Scope management plan adalah dokumen yang meliputi deskripsi
mengenai bagaimana tim akan mempersiapkan pernyataan ruang lingkup
20
proyek, membuat WBS, memverifikasi kelengkapan dari hasil proyek dan
pengendalian permintaan untuk perubahan terhadap ruang lingkup proyek.
Kunci masukan dari Scope management plan meliputi :
•
Project Charter
Merupakan kunci dokumen untuk pengenalan formal mengenai
keberadaan dan penyediaan keseluruhan proyek. Project Charter terdiri
dari :
o Judul proyek
o Tanggal mulai proyek dan tanggal penyelesaian proyek
o Nama manajer proyek dan informasi yang dapat dihubungi
o Deskripsi proyek secara objektif
o Penjelasan mengenai rencana pengaturan proyek
o Peranan utama dan tanggung jawab dari stakeholder proyek
o Bagian persetujuan dari pihak stakeholder proyek
o Bagian komentar mengenai proyek dari pihak stakeholder proyek
•
Preliminary Scope Statement
Scope statement
adalah dokumen
yang digunakan untuk
mengembangkan dan mengkonfirmasi pemahaman umum dari ruang
lingkup proyek.
Scope statement menggambarkan rincian pekerjaan
untuk menyelesaikan proyek dan alat – alat penting yang digunakan
untuk mencegah scope creep (kecenderungan ruang lingkup proyek untuk
terus berkembang). Oleh sebab itu, sangatlah membantu untuk
menciptakan sebuah preliminary atau pernyataan inisiasi ruang lingkup
21
selama inisiasi proyek sehingga seluruh tim proyek dapat memulai
diskusi penting dan pekerjaan yang berhubungan dengan ruang lingkup
proyek.
2. Definisi ruang lingkup (Scope definition)
Meliputi peninjauan kembali project charter, dan preliminary scope
statement yang muncul selama proses perencanaan (inisiasi) dan menambah
beberapa informasi selama proses perencanaan sebagaimana kebutuhan
dikembangkan dan perubahan permintaan disetujui.
Hasil utama dari scope definition adalah pernyataan ruang lingkup
proyek (Project Scope Statement), perubahan permintaan terhadap proyek,
dan memperbaharui perencanaan manajemen ruang lingkup proyek.
3. Membuat Work Breakdown Structure (WBS).
WBS merupakan alat yang sangat penting dalam manajemen proyek
karena WBS menyediakan dasar untuk menentukan bagaimana melakukan
suatu pekerjaan. WBS juga menyediakan dasar untuk menciptakan jadwal
proyek dan menampilkan manajemen nilai yang dihasilkan untuk mengukur
dan memperkirakan kinerja proyek.
22
Software Product Release
Project
Management
Product
Requirements
Detail design
Construct
Integration and
Test
Planning
Software
Software
Software
Software
Meetings
User
documen
tation
User
documen
tation
User
documen
tation
User
documen
tation
Training
Program
Materials
Training
Program
Materials
Training
Program
Materials
Training
Program
Materials
Administ
ration
Gambar 2.4 Contoh Work Breakdown Structure Organized by Phase
(Sumber : A Guide To The Project Management Body of Knowledge, 2000, p59)
4. Verifikasi Ruang Lingkup (Scope Verification)
Meliputi penerimaan formal dari ruang lingkup proyek. Kunci
stakeholders proyek, seperti pelanggan dan sponsor untuk proyek secara
formal menerima hasil proyek selama proses berlangsung.
5. Pengendalian Ruang Lingkup (Scope Controll)
Meliputi pengendalian perubahan terhadap ruang lingkup proyek.
Pengendalian ruang lingkup meliputi identifikasi, evaluasi, dan implementasi
perubahan – perubahan dalam ruang lingkup proyek sebagai kemajuan
23
proyek. Perubahan ruang lingkup biasanya mempengaruhi kemampuan tim
untuk mencapai tujuan dari waktu dan biaya proyek.
2.4.2 Manajemen Waktu Proyek (Project Time Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp203-231), Manajemen waktu proyek
meliputi perkiraan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan, mengembangkan jadwal penerimaan proyek dan memastikan
penyelesaian proyek tepat pada waktunya.
Terdapat enam proses utama dalam manajemen waktu proyek yang terdiri
dari :
1. Definisi Aktifitas (Activity Definition)
Meliputi identifikasi aktifitas - aktifitas spesifik yang harus dilakukan
oleh anggota tim proyek dan stakeholders untuk menampilkan hasil akhir
proyek. Sebuah aktifitas atau tugas adalah elemen kerja yang biasanya
ditemukan dalam WBS yang mempunyai durasi yang diharapkan, biaya dan
kebutuhan akan sumber daya. Hasil utama dari proses ini adalah :
•
Daftar aktifitas
Tabulasi dari aktifitas – aktifitas yang termasuk dalam jadwal
proyek. Daftar tersebut harus meliputi nama aktifitas, aktifitas identifier
atau nomor, dan penjelasan singkat atas aktifitas tersebut.
•
Atribut aktifitas
Menyediakan lebih banyak informasi yang terkait dengan jadwal.
Informasi tersebut meliputi setiap aktifitas pendahulu (predecessors),
24
hubungan logical, kebutuhan sumber daya, kendala, dan asumsi yang
berhubungan dengan aktifitas
•
Milestone
Merupakan kejadian signifikan yang biasanya tidak memiliki
durasi. Biasanya diperlukan beberapa aktifitas dan banyak usaha untuk
melengkapi milestone. Milestone juga merupakan alat yang berguna
untuk menetapkan tujuan penjadwalan dan memantau kemajuan atau
perkembangan proyek.
2. Urutan Aktifitas (Activity Sequencing)
Melibatkan
hubungan antara
kegiatan
mengidentifikasi
dan
mendokumentasikan
aktifitas proyek. Hasil utama dari proses ini meliputi
diagram jaringan jadwal proyek (Project Schedule Network Diagram),
perubahan permintaan dan pembaharuan daftar aktifitas dan atribut.
3. Aktifitas Perkiraan Sumber Daya (Activity Resource Estimating)
Meliputi perkiraan seberapa banyak sumber daya (orang, peralatan,
dan material) yang digunakan oleh tim proyek untuk menampilkan aktifitas –
aktifitas proyek. Hasil utama dari proses ini adalah activity resource
requirement, resource breakdown structure, requested changes, dan
memperbaharui atribut aktifitas serta kalender sumber daya.
4. Aktifitas Perkiraan Durasi (Activity Duration Estimating)
Melibatkan perkiraan jumlah dari periode pekerjaan yang diperlukan
untuk melengkapi aktifitas individual. Hasilnya meliputi aktifitas perkiraan
durasi dan pembaharuan atribut aktifitas.
25
5. Pengembangan jadwal (Schedule Development)
Meliputi analisa urutan aktifitas, perkiraan durasi aktifitas, dan
kebutuhan sumber daya untuk membuat jadwal proyek. Hasilnya meliputi
jadwal proyek, jadwal data model, perubahan yang diperlukan dan
pembaharuan terhadap kebutuhan sumber daya, kalender proyek, dan rencana
manajemen proyek. Beberapa alat dan teknik yang digunakan dalam proses
pengembangan jadwal :
a. Gantt Chart
Gantt Chart adalah alat yang umum untuk menampilkan
informasi jadwal proyek. Gantt chart menyediakan format standard untuk
menampilkan informasi jadwal proyek dengan mendaftar aktifitas
proyek, jadwal mulai dan jadwal selesai dalam format kalender.
Gambar 2.5 Gantt Chart
(Sumber : http://www.jodypaul.com)
26
b. Critical Path Method (CPM)
Critical Path Method (CPM) disebut juga teknik analisis jalur
kritis yaitu teknik pembuatan diagram jaringan yang digunakan untuk
memprediksi total durasi proyek. Langkah ini bertujuan mengkaji secara
analitis berapa lama waktu penyelesaian proyek.
Menurut
Olson
(2004,
p184-189),
metode
jalur
kritis
menyediakan cara yang mudah untuk mengidentifikasi seberapa cepat
proyek dapat diselesaikan dalam perkiraan durasi kegiatan yang akurat.
Masukan bagi metode jalur kritis adalah daftar setiap kegiatan, durasi
yang diharapkan, dan kegiatan – kegiatan yang mendahului masing –
masing kegiatan.
EF
1
ES
A
D
LS
25
E
O
3
4
B
LF
C
2
F
Gambar 2.6 Critical Path Method (CPM)
(Sumber : http://ibis.nott.ac.uk/)
27
Keterangan :
Event, tanda dimulai atau berakhirnya kegiatan.
-
Kegiatan (membutuhkan sumber daya terutama waktu)
-
Garis lurus, arah anak panah menuju kejadian atau event
berikutnya.
-
Garis tanpa skala.
-
Garis kejadian harus selalu mengarah dari kiri ke kanan,
boleh arah serong tetapi tidak boleh mengarah balik kiri.
-
Kegiatan semu (tidak membutuhkan sumber daya apapun).
-
Hanya merupakan garis penghubung peristiwa antara dua
kegiatan yang tidak saling tergantung.
A
25
-
A menunjukkan kode pekerjaan atau nama pekerjaan.
-
25 menunjukkan waktu yang dibutuhkan menyelesaikan
kegiatan atau pekerjaan A dengan peristiwa berikutnya.
A
•
C
Contoh kegiatan A, B, dan C selesai sampai dengan
B
kejadian atau event yang sama.
ES (Earliest Start Time)
Waktu mulai paling awal suatu kegiatan.
28
•
EF (Earliest Finish Time)
Waktu selesai paling awal suatu kegiatan. Bila hanya ada satu
kegiatan terdahulu, maka EF suatu kegiatan terdahulu merupakan ES
kegiatan berikutnya.
•
LS (Latest Start)
Waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat
proyek secara keseluruhan.
•
LF (Latest Finish)
Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat
penyelesaian proyek.
•
D (Duration)
Kurun waktu suatu kegiatan, dengan satuan waktu berupa hari,
minggu, atau bulan.
•
Slack
Selisih antara jadwal LS dan ES. Kegiatan dengan nilai slack = 0
adalah kegiatan kritis. Rantai kegiatan kritis dari awal hingga akhir
proyek adalah jalur kritis.
c. Project Evaluation Review Technique (PERT)
Menurut Schwalbe (2006, p230), Project Evaluation Review
Technique (PERT) merupakan suatu teknik analisis jaringan yang
digunakan untuk memperkirakan durasi proyek jika terdapat tingkat
ketidakpastian mengenai aktifitas individu. PERT menerapkan critical
path method (CPM) untuk memperkirakan durasi rata – rata.
29
Menurut Olson (2004, pp212-214), dalam metode PERT, sebuah
modifikasi dari metode jalur kritis, ketidakpastian dalam durasi kegiatan
diperhatikan. Dibutuhkan 3 perkiraan dari durasi kegiatan : minimum,
kemungkinan
terbesar,
dan
maksimum. Yang dimaksud
dengan
maksimum adalah durasi kegiatan jika segalanya berjalan dengan tidak
benar tetapi bagaimanapun juga kegiatan tersebut diselesaikan.
Rumus dari PERT :
te
a + 4m + b
=
6
V
=
b–a
2
6
Ts – Te
Z=
√ ∑ V2
Keterangan :
•
te
:
Expected time
•
a
:
Optimistic time (paling optimis)
•
m
:
Most Likely Time (paling mungkin terjadi)
•
b
:
Pessimistic Time (Paling lambat)
•
V
:
Variance
•
z
:
Deviasi standar dari distribusi normal
30
•
TS
:
Ekspektasi waktu penyelesaian
•
TE
:
Waktu penyelesaian yang dikehendaki
6. Pengendalian Jadwal (Schedule Control)
Melibatkan pengendalian dan pengaturan perubahan kepada jadwal
proyek. Hasilnya meliputi pengukuran kinerja, rekomendasi tindakan
perbaikan, dan daftar aktifitas dan atribut serta rencana manajemen proyek.
2.4.3 Manajemen Biaya Proyek (Project Cost Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp251-257), Project Cost Management terdiri
dari aktifitas persiapan dan pengaturan anggaran untuk proyek. Manajemen biaya
proyek melibatkan proses yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa proyek
terselesaikan dengan anggaran yang dianjurkan. Seorang manajer proyek harus
dapat meyakinkan bahwa proyek sudah didefinisikan dengan baik, mempunyai
perkiraan waktu dan harga yang akurat, dan mempunyai anggaran yang realistis
dimana tim proyek terlibat dalam hal penganjuran tersebut.
Merupakan tugas manajer proyek untuk memuaskan stakeholders proyek
sekaligus memberikan tekanan yang berkelanjutan untuk mengurangi dan
mengontrol biaya.
Proses yang terlibat dalam manajemen biaya proyek :
1. Perkiraan biaya (Cost Estimating)
Melibatkan pengembangan sebuah pendekatan atau perkiraan dari
biaya sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Hasil
31
utama dari proses ini merupakan perkiraan biaya, dan mendukung rincian,
dan sebuah perencanaan manajemen biaya.
2. Penganggaran biaya (Cost Budgeting)
Melibatkan pengalokasian perkiraan biaya keseluruhan terhadap
peralatan kerja individu untuk membangun sebuah dasar untuk pengukuran
kinerja. Hasil utama dari proses ini adalah landasan biaya (cost baseline).
3. Pengendalian biaya (Cost Control)
Melibatkan pengendalian perubahan terhadap anggaran proyek. Hasil
utamanya adalah revisi perkiraan biaya, pembaharuan anggaran, landasan
biaya (Cost baseline), dan pengukuran kinerja.
Menurut Olson (2004, p166-171), teknik dan alat yang digunakan untuk
membuat perkiraan biaya yaitu :
•
Baris kode ( Lines of Code)
Metode ini dimulai dengan pendekatan atas informasi yang
didapatkan dari catatan sejarah pengalaman sebelumnya atau proyek
sebelumnya. Data sejarah ini merupakan dasar untuk mengidentifikasi
hubungan antara kunci perkiraan dan faktor lain yang penting.
Ketika sebuah proyek diproses, perhitungan yang diperlukan dalam
proyek dibuat per baris kode. Kegiatan pengumpulan data tersebut akan
membutuhkan banyak waktu. Setelah data didapatkan, perkiraannya akan
sangat cepat. Akan lebih akurat bila data yang diterima lebih sesuai.
32
Tabel 2.1 Lines of Code Operation (Sumber : Olson, 2004, p167)
Averages of
Efforts
Budget ($,
Dokumenta-
Thousands)
tion (pages)
33 mos.
361
1,606
17,573
Past Project:
LOC
20.543
Average per
Errors
People
1.194
201
4
58,122
9,784
0,195
KLOC
SLOC : estimates lines of code, multiply
Misalnya jika sebuah proyek baru diperkirakan terdiri dari 10000
baris kode, perkiraan dari pengukuran akan menjadi :
Effort
1,606 x 10 KLOC = 16 person-months
Budget
17,573 x 10 KLOC = 176 ($, Thousands)
Documentation
58,122 x 10 KLOC = 581 pages
Errors
9,784 x 10 KLOC = 98
People
0,195 x 10 KLOC = 2 people
• Model biaya konstruktif (Constructive Cost Models - COCOMOs)
Model biaya konstruktif (Constructive Cost Models - COCOMOs)
digunakan untuk memperkirakan jumlah usaha yang dibutuhkan untuk
mengembangkan piranti lunak. Model COCOMO dasar menghitung usaha
pengembangan
berdasarkan
ukuran
program.
Model
menengah
mempertimbangkan juga hal – hal seperti produk, hardware, personal dan
karakter proyek. Model tingkat tinggi memperhitungkan semua biaya dari
setiap tahapan proses.
33
Untuk proyek software yang relatif kecil dan sederhana dan
dilaksanakan oleh tim kecil yang berpengalaman, formula untuk menghitung
usaha dan waktu pengembangan digunakan rumus COCOMO Organic
sebagai berikut :
Person – months =
2,4 x KLOC1,05 = E untuk effort
Duration (months) =
2,5 x E0,38
Untuk proyek software yang memiliki ukuran dan tingkat kesulitan
menengah dan dilaksanakan oleh tim yang memiliki berbagai pengalaman
dan menghadapi kebutuhan yang lebih rumit dan berat, formula untuk
menghitung usaha dan waktu pengembangan digunakan rumus COCOMO
Semi – detect sebagai berikut :
Person – months =
3,0 x KLOC1,12 = E untuk effort
Duration (months) =
2,5 x E0,35
Selain itu, untuk proyek software yang dilaksanakan dalam kondisi
yang rumit dan berat, formula yang digunakan untuk menghitung usaha dan
waktu pengembangan adalah rumus COCOMO Embedded sebagai berikuit :
Person – months =
3,6 x KLOC1,2 = E untuk effort
Duration (months) =
2,5 x E0,32
2.4.4 Manajemen Kualitas Proyek (Project Quality Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp293-294), tujuan utama dari manajemen
kualitas proyek adalah untuk meyakinkan bahwa proyek akan memenuhi
kebutuhan yang akan diambil. Tim proyek harus mengembangkan hubungan
yang baik dengan stakeholders kunci, khususnya pelanggan utama proyek
34
tersebut untuk mengerti kualitas yang ada di dalamnya. Jika stakeholders
proyek tidak puas dengan kualitas dari manajemen proyek atau hasil produk
suatu proyek maka tim proyek harus membetulkan ruang lingkup, waktu, dan
biaya untuk memenuhi kebutuhan stakeholders dan harapan – harapannya.
Oleh karena itu, tim proyek harus mengembangkan hubungan kerja yang baik
dengan semua stakeholders dan mengerti kebutuhan mereka.
Proses yang terlibat dalam manajemen kualitas proyek adalah :
•
Perencanaan kualitas (Quality Planning)
Melibatkan
pengidentifikasian
dimana
standard
kualitas
berhubungan dengan proyek yang akan dilakukan dan bagaimana
mencapai keduanya.
•
Meyakinkan kualitas (Quality Assurance)
Melibatkan evaluasi menyeluruh secara berkala mengenai kinerja
proyek untuk meyakinkan proyek akan memenuhi standard kualitas yang
diinginkan.
Proses
meyakinkan
kualitas
melibatkan
pengambilan
tanggung jawab untuk kualitas selama proyek berlangsung hingga proyek
berakhir.
•
Pengontrolan kualitas (Quality Control)
Melibatkan pengawasan hasil proyek khusus untuk meyakinkan
apakah proyek sudah sesuai dengan standard kualitas yang berhubungan
sementara mengidentifikasi cara untuk meningkatkan kualitas secara
menyeluruh.
35
2.4.5 Manajemen Sumber Daya Manusia Proyek (Project Human Resource
Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp345-346), Manajemen sumber daya manusia
proyek melibatkan proses yang dibutuhkan untuk melakukan efektifitas dari
penggunaan orang yang terlibat dengan proyek. Manajemen sumber daya
manusia menyangkut semua stakeholders proyek seperti : sponsor, pelanggan,
anggota tim proyek, staf pendukung, para penjual yang mendukung proyek, dan
lain – lain.
Proses utama yang terlibat dalam manajemen sumber daya manusia
proyek adalah :
•
Perencanaan sumber daya manusia (Human Resource Planning)
Melibatkan pengidentifikasian dan pendokumentasian peranan
proyek, tanggung jawab, dan
pelaporan hubungan. Hasil kunci dari
proses ini meliputi peranan dan tanggung jawab, bagan organisasi untuk
proyek dan rencana manajemen staf.
•
Perekrutan tim proyek (Acquiring the Project Team)
Melibatkan cara mendapatkan personil yang dibutuhkan untuk
penugasan dalam proyek. Hasil kunci dari proses ini adalah penetapan
tugas untuk setiap staf proyek, informasi ketersediaan sumber daya, dan
memperbaharui perencanaan manajemen staf.
•
Pengembangan tim proyek (Developing The Project Team)
Meliputi pembangunan kemampuan individu dan tim untuk
meningkatkan kerja proyek.
36
•
Pengaturan tim proyek (Managing The Project Team)
Meliputi kegiatan melacak kinerja anggota tim, memotivasi
anggota tim, menyediakan umpan balik secara tepat waktu, memecahkan
isu dan konflik, serta mengkoordinasi perubahan untuk membantu
meningkatkan kinerja proyek.
2.4.6 Manajemen Komunikasi Proyek (Project Communications Management)
Menurut Schwalbe (2006, p388), tujuan dari manajemen komunikasi
proyek adalah untuk meyakinkan waktu dan turunan yang benar, pengumpulan,
penyebaran, penyimpanan, dan peletakkan dari informasi proyek.
Proses utama dalam manajemen komunikasi proyek adalah :
•
Perencanaan komunikasi (Communication Planning)
Melibatkan penentuan informasi dan komunikasi kebutuhan
stakeholders
yaitu
siapa
yang
membutuhkan
informasi,
kapan
membutuhkan informasi tersebut dan bagaimana informasi itu diberikan
kepada mereka.
•
Pendistribusian Informasi (Information Distribution)
Melibatkan
pengadaan
informasi
yang
dibutuhkan
bagi
stakeholders dalam kesatuan waktu.
•
Pelaporan Kinerja (Performance Reporting)
Melibatkan pengumpulan dan penyebaran informasi kinerja,
termasuk laporan status, perbandingan kemajuan dan peramalan terhadap
37
kinerja. Rencana proyek dan hasil-hasil kerja merupakan masukan
terpenting dalam pelaporan kinerja.
•
Pengaturan stakeholders (Managing Stakeholders)
Melibatkan pengaturan komunikasi untuk memuaskan kebutuhan
dan harapan dari stakeholders proyek dan untuk memecahkan isu.
2.4.7 Manajemen Resiko Proyek (Project Risk Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp425-429), Manajemen resiko proyek
merupakan seni dan ilmu pengidentifikasian, penganalisaan, dan penanggapan
terhadap resiko melalui siklus hidup dari proyek dan berpatokan pada
tercapainya tujuan proyek. Tujuan dari manajemen resiko proyek dapat
dipandang sebagai peminimalan resiko negatif potensial dan pemaksimalan
resiko positif potensial.
Menurut Pressman (2003, pp 146-149), resiko selalu melibatkan dua
karakteristik yaitu :
•
Ketidakpastian (Uncertainty)
Resiko yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Ada atau tidak ada resiko
kemungkinan terjadinya adalah 100%.
•
Kerugian (Loss)
Jika resiko menjadi kenyataan, konsekuensi atau kerugian yang tidak
diinginkan akan terjadi.
Saat resiko – resiko sedang dianalisa, tingkat ketidakpastian dan tingkat
kerugian untuk setiap resiko sangat penting untuk dihitung dan diketahui.
38
Beberapa kategori resiko yang dipertimbangkan untuk mengukur
tingkat
ketidakpastian tersebut yaitu :
1. Project risks mengancam perencanaan proyek. Jika Project risks menjadi
kenyataan, hal ini akan mengacaukan jadwal proyek dan biaya juga akan
meningkat. Project risks mengidentifikasi anggaran potensial, jadwal,
personal (staff dan organisasi), sumber daya, pelanggan, requirement
problem, dan dampaknya terhadap software project.
2. Technical risks mengancam kualitas dan ketepatan waktu produksi software.
Jika Technical risks menjadi kenyataan, implementasi akan menjadi sulit
bahkan tidak mungkin dilakukan. Technical Risks mengidentifikasi desain
potensial, implementasi, interface, verifikasi, dan masalah – masalah dalam
pemeliharaan (maintanace). Selain itu, kerancuan spesifikasi, ketidakpastian
teknis dan penggunaan teknologi yang berlebihan juga merupakan faktor –
faktor resiko.
3. Business risks mengancam kelangsungan pembuatan software. Business risks
terkadang membahayakan proyek atau produk. 5 kriteria Business risks yang
umum dan sering muncul dalam pengembangan software adalah :
•
Mengembangkan produk atau sistem yang tidak sungguh – sungguh
diinginkan pasar (resiko pasar).
•
Mengembangkan produk yang sudah tidak cocok lagi dengan strategi
bisnis perusahaan yang senantiasa berubah (resiko strategi).
•
Mengembangkan produk yang tidak dipahami oleh penjual (sales)
sehingga tidak dapat dijual.
39
•
Hilangnya dukungan dari manajemen senior selama perubahan fokus atau
SDM (resiko manajemen).
•
Hilangnya komitmen personal atau anggaran (resiko anggaran).
4. Known risks merupakan resiko yang dapat muncul setelah dilakukan evaluasi
secara menyeluruh dan terperinci terhadap perencanaan proyek, lingkungan
bisnis, dan teknis pengembangan proyek dan sumber informasi handal
lainnya seperti
tanggal
pengiriman
yang
tidak
realistis, kurangnya
dokumentasi akan kebutuhan atau lingkup proyek.
5. Predictable risks merupakan perhitungan kemungkinan dari pengalaman
proyek yang lampau seperti pengalihan staff dan kurangnya komunikasi
dengan pelanggan.
6. Unpredictable risk
merupakan resiko yang dapat muncul kapan saja dan
sangat sulit untuk diidentifikasi.
2.4.8 Manajemen Pengadaan Proyek (Project Procurement Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp467-471), Pengadaan (procurement) proyek
mempunyai arti mendapatkan barang dan atau jasa dari sumber daya luar.
Manajemen pengadaan proyek itu sendiri meliputi proses yang dibutuhkan untuk
mendapatkan barang atau jasa untuk proyek dari luar.
Enam proses utama dalam manajemen pengadaan proyek adalah :
•
Merencanakan pembelian dan perolehan (Planning, Purchases and
Acquisitions)
40
Meliputi penentuan apa yang harus ada, kapan, dan bagaimana.
Dalam merencanakan pengadaan sumber daya mana yang perlu untuk dioutsource, menentukan tipe dari kontrak, dan mendeskripsikan kerja
untuk penjual yang potensial (kontraktor, supplier, dan penyedia produk
dan layanan untuk organisasi lain).
•
Merencanakan Kontrak (Planning Contracting)
Meliputi pendeskripsian kebutuhan untuk produk atau layanan
yang diinginkan dari pengadaan dan identifikasi sumber potensial atau
penjual.
•
Meminta Tanggapan Penjual (Requesting Seller Responses)
Meliputi perolehan informasi, penawaran atau proposal dari
penjual yang sesuai.
•
Memilih Penjual (Selecting Seller)
Meliputi memilih dari beberapa pemasok yang potensial, sesuai
dengan proses dari evaluasi penjual yang potensial dan negosiasi kontrak.
•
Mengatur Kontrak (Administering The Contract)
Meliputi pengaturan hubungan dengan penjual yang dipilih.
•
Menutup Kontrak (Closing the Contract)
Melibatkan penyelesaian dan penetapan kontrak. Proses ini
biasanya mencakup verifikasi produk, dan penerimaan formal dan
penutupan, serta audit kontrak.
41
2.4.9 Manajemen Integrasi Proyek (Project Integration Management)
Menurut Schwalbe (2006, pp116-117), Manajemen integrasi proyek
meliputi proses yang terlibat didalam mengkoordinasi semua area pengetahuan
manajemen proyek lain melalui daur hidup proyek. Hal ini untuk meyakinkan
bahwa semua elemen dari proyek digunakan bersama pada waktu yang tepat
untuk menyukseskan suatu proyek.
Tujuh proses utama dalam manajemen integrasi proyek adalah :
•
Mengembangkan Project Charter
Meliputi bekerja dengan stakeholders untuk membuat dokumen
yang mengesahkan proyek secara formal.
•
Membangun preliminary project scope statement
Melibatkan pekerjaan dengan stakeholders khususnya user dari
proyek, layanan, atau hasil, untuk membangun kebutuhan ruang lingkup
tingkat tinggi.
•
Membangun Perencanaan Manajemen Proyek
Meliputi koordinasi semua usaha perencanaan untuk membuat
dokumen yang konsisten dan terpadu sesuai dengan perencanaan
manajemen proyek.
•
Mengarahkan dan mengatur eksekusi proyek secara langsung
Meliputi perhatian pada perencanaan manajemen proyek dengan
menampilkan aktifitas – aktifitas yang terkandung di dalamnya.
42
•
Memantau dan mengendalikan kerja proyek
Meliputi pengaturan kerja proyek untuk menemukan tujuan yang
dihasilkan dari proyek.
•
Menampilkan pengontrolan perubahan yang terintegrasi
Meliputi pengkoordinasian perubahan yang berdampak pada
tujuan proyek dan aset dari proses organisasi.
•
Menutup proyek
Meliputi penyelesaian semua aktifitas proyek untuk menutup
proyek secara formal.
2.5
Lima Tahap Pengembangan Manajemen Proyek
2.5.1 Inisiasi (Initiating)
Menurut Schwalbe (2006, p72), Inisiasi adalah proses mengenal,
mendefinisikan dan memulai sebuah proyek baru atau fase proyek. Tindakan
yang harus dilakukan oleh manajer proyek dan manajemen senior di dalam
inisiasi proyek adalah sebagai berikut :
•
Dengan cepat menentukan sebuah tim proyek yang kuat.
•
Mendapatkan keterlibatan pemegang saham di dalam awal proyek.
•
Menyiapkan analisa rinci dari masalah bisnis dan mengembangkan teknik
perbandingan proyek.
•
Menggunakan pendekatan fase per fase.
•
Menyiapkan rencana yang berguna dan realistis untuk proyek.
43
2.5.2 Perencanaan (Planning)
Menurut Schwalbe (2006, p72), Perencanaan meliputi kegiatan pemikiran
serta memperhatikan skema kerja untuk memastikan bahwa proyek berjalan
sesuai kebutuhan organisasi. Untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut maka
rencana yang dibuat harus realistis dan berguna serta melibatkan banyak waktu
dan usaha dalam proses perencanaan.
2.5.3 Eksekusi (Executing)
Menurut
Schwalbe
(2006,p72),
Eksekusi
meliputi
kegiatan
mengkoordinasi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya serta
melaksanakan perencanaan proyek untuk menghasilkan produk, jasa, atau hasil
dari suatu proyek atau fase. Produk dari proyek dihasilkan selama eksekusi
proyek dan biasanya memakan banyak sumber daya untuk diselesaikan.
2.5.4 Pengawasan dan Pengendalian (Monitoring and Controlling)
Menurut Schwalbe (2006, pp72-73), Pengawasan dan pengendalian
proyek meliputi pengukuran dan pemantauan kemajuan proyek secara berkala
untuk memastikan tim proyek memenuhi tujuan dari proyek. Manajer proyek dan
staffnya mengawasi dan mengukur kemajuan yang bertentangan dengan rencana
dan mengambil tindakan perbaikan jika diperlukan.
2.5.5 Penutupan (Closing)
Menurut Schwalbe (2006,p73), Penutupan meliputi penerimaan formal
atas proyek atau fase proyek dan mengakhiri proyek secara efektif. Kegiatan
44
administratif sering dilibatkan dalam proses ini. Misalnya, pengumpulan data –
data proyek, kontrak penutupan, dan penerimaan formal dari proyek. Proses
penutupan juga melibatkan kegiatan untuk mendapatkan penerimaan pemegang
saham dan pelanggan dari produk akhir dan proyek atau fase proyek, untuk
pemesanan akhir. Hal ini meliputi verifikasi terhadap semua pekerjaan yang
sudah diselesaikan, dan menyangkut audit proyek.
Selama penutupan akhir dari setiap proyek, anggota tim proyek harus
menyediakan waktu untuk mengkomunikasikan hasil proyek dengan membuat
dokumentasi dari proyek tersebut.
2.6
Critical Success Factor (CSF)
Menurut Olson (2004, pp10-13), Critical Success Factor (CSF) adalah
elemen penting yang harus dilaksanakan agar suatu kegiatan (proyek) berjalan
dengan baik. Kesuksesan suatu proyek dapat dilihat dari apakah proyek sudah
sesuai dengan spesifikasi biaya dan waktu yang diinginkan.
Tiga faktor yang diyakini sebagai faktor keberhasilan suatu proyek yaitu :
•
Keikutsertaan klien dalam proyek
•
Dukungan dari manajemen tingkat atas
•
Objektifitas dari proyek yang jelas
Menurut Soeharto (2001, pp471-472), Pinto dan Slevin pada tahun 1988
telah menyelidiki lebih dari 400 proyek, dan menemukan CSF berikut ini
berdasarkan urutannya :
1. Misi Proyek
45
Harus memiliki tujuan dan arah yang jelas mengenai diadakannya
proyek. Hal tersebut harus dimengerti oleh tim proyek dan bidang –
bidang yang terkait dalam perusahaan serta stakeholders yang memiliki
peranan penting.
2. Dukungan dari manajemen atas
Dukungan diberikan dalam bentuk penyediaan sumber daya yang
diperlukan, memberikan otoritas yang cukup untuk pelaksanaan
implementasi, mengikuti, dan memperhatikan berbagai aspek kritis
proyek, serta turun tangan dalam penyelesaiannya.
3. Perencanaan dan penjadwalan
Proyek
harus
memiliki
perencanaan
dan
jadwal
secara
keseluruhan seperti milestone (suatu kegiatan penting dalam proyek
dengan durasi = 0), jadwal penyerahan produk yang dibuat, dan lain-lain.
Dalam hal ini termasuk sistem pelaporan dan monitoring yang efektif
untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyimpangan.
4. Konsultasi dengan pemilik proyek
Konsultasi dengan pemilik proyek dari waktu ke waktu selama
penyelenggaraan proyek akan sangat memperlancar pelaksanaan tahap
implementasi sejauh mana keinginan peranan pemilik.
5. Personil
Berhubungan dengan memilih, melakukan negosiasi, merekrut,
serta pembinaan tim kerja yang efektif
6. Kemampuan teknis
46
Pelaksana proyek harus memiliki kemampuan teknis dan harus
menguasai betul – betul teknologi dari proyek yang akan dikerjakan.
7. Penerimaan dari pihak pemilik proyek
Pemilik proyek terutama pada akhir tahap implementasi ikut aktif
melakukan uji coba dan sertifikasi
(pemilik proyek menerima produk
yang dihasilkan tersebut).
8. Pemantauan, pengendalian, dan feedback
Diperlukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pelaksanaan
dibandingkan dengan perencanaan terutama anggaran. Disini diperlukan
metode yang dapat meramalkan hasil kegiatan akhir proyek jika kondisi
seperti saat pelaporan tidak berubah. Dengan demikian bisa diadakan
koreksi sesuai keperluan.
9. Komunikasi
Terbinanya komunikasi yang baik antara peserta proyek dan
stakeholders yang terkait diperlukan untuk mencegah duplikasi kegiatan
maupun salah pengertian. Dengan komunikasi yang baik akan dapat
dibicarakan masalah – masalah yang timbul selama proses implementasi.
10. Trouble Shooting
Mekanisme ini membantu memperkirakan persoalan yang akan
terjadi di kemudian hari sehingga jauh sebelumnya sudah diberikan
perhatian yang seksama (menangani krisis dan hambatan – hambatan
yang terjadi).
Download