Uploaded by common.user42459

REVISI PPG

advertisement
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
1. Desa
a. Geografi
Desa Basirih Hulu terletak di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Kabupaten Kotawaringin Timur. Luas wilayah Desa Basirih Hulu
±23.8000.000 m2 ( 82 Km). Penggunaan lahan desa basirih Hulu antara
lain sebagai pemukiman, perkebunan, sawah, ladang, perikanan darat,
lahan kosong, lapangan sepak bola, dan hutan.
b. Demografi
Jumlah penduduk Desa Basirih Hulu adalah 2637 jiwa yang terdiri
dari 651 kepala keluarga.
1) Disitribusi Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Umur
di Desa Basirih Hulu Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan
No
Kelompok Umur (tahun)
Jumlah (orang)
1
2
3
4
5
0- 1Tahun
1-5 tahun
6-14 tahun
15-69 tahun
70 tahun- >70 tahun
78
351
556
1598
56
Jumlah
2637
Berdasarkan tabel 4.1 di atas diketahui bahwa kelompok penduduk
berdasarkan umur yaitu sebagian besar berusia 15-69 tahun.
143
2) Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Agama
Tabel 4.2 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Agama
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
No
1
2
3
4
5
6
7
Agama
Islam
Kristen Protestan
Kristen Khatolik
Hindu
Hindu Kaharingan
Budha
Lain-lain
JUMLAH
Jumlah (orang)
2262
2262
Berdasarkan tabel 4.2 di atas diketahui bahwa kelompok penduduk
berdasarkan agama yang dianut adalah semuanya beragama Islam
dengan jumlah 2262 jiwa.
3) Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan
Tabel 4.3 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Jenis Pekerjaan
TNI
POLRI
PNS
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Petani
Nelayan
Tidak bekerja
Lain-lain
JUMLAH
Jumlah (orang)
28
615
590
19
1.252
Berdasarkan tabel 4.3 di atas diketahui bahwa distribusi penduduk
menurut jenis pekerjaan yaitu sebagian besar pekerjaan penduduk adalah
wiraswasta yang berjumlah 615 jiwa.
144
4) Distribusi Sarana Ibadah
Tabel 4.4 Distribusi Sarana Ibadah di Desa Basirih Hulu
Kecamatan Mentaya Hilir Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur
No
1
2
3
4
5
6
7
Sarana Ibadah
Masjid
Gereja
Moshola
Balai Basarah
Wihara
Surau/langgar
Lain-lain
JUMLAH
Jumlah (buah)
3
6
9
Berdasarkan tabel 4.4 di atas, sarana ibadah yang tersedia meliputi
masjid 3 buah dan mushola 6 buah.
5) Distribusi Sarana Kesehatan
Tabel 4.5 Distribusi Sarana Kesehatan
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
No
1
2
3
4
5
6
7
Sarana Kesehatan
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Puskesmas Keliling
Posyandu
Polindes
Puskesdes
Posbindu
JUMLAH
Jumlah (buah)
1
2
1
3
Berdasarkan tabel 4.5 di atas sarana dan prasarana umum yang
tersedia adalah posyandu 2 buah, posbindu 1 buah dan puskesmas
pembantu 1 buah.
145
6) Distribusi Sarana Air Bersih
Tabel 4.6 Distribusi Sarana Air Bersih
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
No
1
2
3
4
5
Sarana Air Bersih
PAM
Pompa
Sumur Gali
Sungai
Lain-lain
JUMLAH
Jumlah (buah)
5
5
Berdasarkan tabel 4.6 di atas sarana air bersih yang terdapat di
Desa Basirih Hulu yaitu sungai sebanyak 5 buah .
2.
Posyandu
Posyandu di Desa Basirih Hulu hanya terdapat 1 buah dan tiap
bulan aktif karena Desa Basirih Hulu memiliki 5 orang kader yang
turun aktif dalam pengembangan posyandu.
Data posyandu :
a. Nama posyandu
: Posyandu Nanas
b. Alamat posyandu
: Jl. Nanas, Desa Basirih Hulu,
Kec. Mentaya
Hilir Selatan
c. Nama ketua posyandu
: Hartati
d. Jumlah kader posyandu
: 5 orang
NO
1
2
3
4
5
Nama kader
posyandu
Hartati
Heni
Herlina
Lia
Desi
146
Umur (TH)
Alamat rumah
38 th
31 th
36 th
26 th
20 th
Jl. Nanas
Jl. Rambutan
Jl. Nanas
Jl. H.M Arsyad
Jl.Semut
e. Tanggal kegiatan posyandu
: Setiap tanggal 11
f. Program posyandu
 Imunisasi
: Campak, HB-0, BCG, Polio,
DPT-HB-HB1,
Polio 2, DPT-HB-HB2, DPT-
HB-HB3, Polio
 Penimbangan
: Berat badan menggunakan dacin
dan tinggi
badan menggunakan metlin
 Penyuluhan
tentang
: pernah mendapatkan penyuluhan
cara menyikat gigi dari dokter gigi Puskesmas
Samuda
 Lain-lain
:
g. Tempat kegiatan posyandu
 Ada tempat khusus
:-
 Tidak ada tempat khusus
: Rumah ketua kader
Dimana
: Jl. Nanas
h.
Jumlah balita yang dilayani : 79 balita
i.
Data SKDN tahun 2017-2018 (Januari 2017 s/d Desember 2017
dan Januari 2018 s/d Maret 2018)
B. Gambaran Sampel
1.
Batita
a. Usia
Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan Umur
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya
Hilir Selatan
NO
Umur balita
F
%
1
< 12 bulan
4
13,3%
2
12-24 bulan
14
46,6%
3
>24-60 bulan
12
40%
Jumlah
30
100,0
147
Dari tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 4 orang batita
(13,3%) berusia < 12 bulan, dan 14 orang batita (46,6%) berusia 12-24
bulan. Kedua kelompok ini merupakan konsumen pasif, yang harus
mendapat perhatian lebih dalam mengatur makanan sehari-harinya.
Selanjutnya sebanyak 12 orang batita (40%) sampel dengan usia >2460 bulan, adalah konsumen aktif yang sudah memilih makanannya
sendiri.
b. Jenis Kelamin
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan Jenis Kelamin
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
NO
1
2
Jenis kelamin
F
%
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
18
12
30
60%
40%
100%
Dari tabel 4.8 dapat diketahui sebanyak 18 orang batita (60%) berjenis
kelamin laki-laki dan 12 orang batita ( 40 %) berjenis kelamin perempuan.
c. Status Gizi
Tabel 4.9
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan Status Gizi
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir
Selatan
Variabel
Status Gizi Balita berdasarkan BB/U
 Normal
 BB kurang
Status Gizi Balita berdasarkan TB/U
 Normal
 Pendek
Status gizi balita berdasarkan BB/TB
 Normal
 Kurang
148
F
%
24
6
80%
20%
16
14
53,3%
46,6%
28
2
93,3%
6,6%
Dari tabel 4.9 diatas dapat dilihat bahwa status gizi berdasarkan
indeks BB/U pada sampel batita di Desa Basirih Hulu terdapat 6 orang
(20%) batita dengan berat badan kurang, berdasarkan indeks TB/U,
batita dengan badan pendek sebanyak 14 orang (46,6%) sedangkan
menurut indeks BB/TB, batita dengan badan pendek sebanyak 2 orang
(6,6%).
d. Asupan Zat Gizi
Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan Asupan Zat Gizi
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
NO
1
2
3
4
5
Zat Gizi
F
%
Energi
 Baik
 Kurang
Protein
 Baik
 Kurang
Lemak
 Baik
 Kurang
Karbohidrat
 Baik
 Kurang
Vitamin A
 Baik
 Kurang
8
22
26,6%
73,3%
15
15
50%
50%
2
28
6,6%
93,3%
10
20
33,3%
66,6%
10
20
33,3%
66,6%
Pada tabel 4.10 di atas dapat dilihat bahwa asupan zat gizi batita di
Desa Basirih Hulu sebagian besar mempunyai asupan energi kurang yaitu
sebanyak 22 batita (73,3%), asupan protein kurang 15 batita (50%),
asupan lemak kurang 28 batita (93,3%), asupan karbohidrat kurang 20
batita (66,6%), dan asupan Vitamin A yang kurang sebanyak 20 batita
(66,6%) .
149
e. Pendidikan Ibu Batita
Tabel 4.11
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Balita
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir
Selatan
-
Jenis Kelamin
S2
S1
SMA
SMP
SD
Tidak Tamat SD
Jumlah
F
1
1
5
20
3
30
%
3,3
3,3
16,6
66,6
10
100
Berdasarkan tabel 4.11 diatas dapat diketahui bahwa dari 30 ibu
batita, yang berpendidikan SD adalah yang paling banyak yaitu 66,6%.
Sedangkan yang berpendidikan S1 dan SMA yaitu masing-masing
sebanyak 3,3 %, SMP sebanyak 16,6% dan Tidak tamat SD sebanyak
10%.
f. Kebiasaan Makan Batita
Tabel 4.12
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan Kebiasaan
Makan Balita di Desa Basirih Hulu Kecamatan
Mentaya Hilir Selatan
Kebiasaan Makan
- Baik
- Tidak Baik
Jumlah
F
1
29
30
%
3,3
96,6
100
Berdasarkan tabel 4.12 diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan
makan batita banyak yang dikategorikan tidak baik yaitu sebesar 96,6%.
Hal ini dikarenakan kurang konsumsi makanan beragam.
150
g. Pengetahuan Ibu Batita
Tabel 4.13
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan
Pengetahuan Gizi Ibu Balita di Desa Basirih
Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Pengetahuan Gizi
- Baik
- Kurang
Jumlah
F
1
29
48
%
3,3
96,6
100
Berdasarkan tabel 4.13 diatas diketahui bahwa pengetahuan gizi
ibu batita sebagian besar masuk dalam kategori kurang yaitu 96,6%. Hal
ini dikarenakan ibu batita tidak memiliki pengetahuan terhadap gizi dan
makanan yang baik, serta tidak berperan aktif di posyandu.
h. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Keluarga (PHBS)
Tabel 4.14
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan PHBS
Keluarga Batita di Desa Basirih Hulu
Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
-
PHBS
Baik
Kurang
Jumlah
F
8
22
30
%
26,6
73,3
100
Berdasarkan tabel 4.14 di atas keluarga yang memiliki PHBS baik
sebesar 26,6%, dan keluarga yang memiliki PHBS kurang sebesar 73,3%.
151
i. Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)
Tabel 4.15
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan
KADARZI Batita di Desa Basirih Hulu
Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
-
KADARZI
Kadarzi
Tidak Kadarzi
Jumlah
F
8
22
30
%
26,6
73,3
100
Berdasarkan tabel 4.15 di atas dapat diketahui bahwa Keluarga
yang dikategorikan Kadarzi sebesar 26,6%, dan keluarga
yang
dikategorikan Bukan Kadarzi sebesar 73,3%.
j. Pendapatan Keluarga:
Tabel 4.16
Distribusi Frekuensi Batita Berdasarkan
Pendapatan Keluarga Batita di Desa Basirih
Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Pendapatan Keluarga
- Miskin
- Tidak Miskin
Jumlah
F
10
20
30
%
33,3
66,6
100
Berdasarkan tabel 4.16 diatas dapat diketahui bahwa pendapatam
keluarga batita sebagian besar masuk dalam kategori miskin yaitu sebesar
33,3%. Hal ini dikarenakan rendahnya pendidikan dan kurangnya
lapangan pekerjaan yang tersedia.
152
2. Ibu Hamil (Bumil)
a.
Status Gizi
Tabel 4.17
Distribusi Frekuensi Status Gizi Bumil Berdasarkan LILA
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Status Gizi
F
1
9
10
KEK
NON KEK
Jumlah
%
10
90
100,0
Berdasarkan tabel 4.17 diatas dapat diketahui bahwa status gizi ibu
hamil banyak yang dikategorikan NON KEK yaitu sebesar 90%. Namun
masih terdapat status gizi ibu hamil yang dikategorikan KEK yaitu sebesar
10%, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan PSG 2017 yaitu sebesar
14,8%. Sehingga status gizi ibu hamil di desa Basirih Hulu masih
dikatakan baik. Status gizi ibu hamil KEK terjadi karena asupan makanan
yang kurang beragam, kebiasaan makan yang kurang baik, dikarenakan
pengetahuan gizi, kesehatan diri dan lingkungan ibu hamil yang juga
kurang.
b.
Asupan Zat Gizi
Tabel 4.18
Distribusi Frekuensi Bumil Berdasarkan Asupan Zat Gizi
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Zat Gizi
F
0
10
1. Energi
- Baik
- Kurang
2. Protein
- Baik
- Kurang
0
10
0
10
3. Lemak
- Baik
- Kurang
0
153
%
0
100
0
100
0
100
0
100
4.
Karbohidrat
- Baik
- Kurang
5. Kalsium
- Baik
- Kurang
6. Vitamin A
- Baik
- Kurang
7. Vitamin C
- Baik
- Kurang
8. Serat
- Baik
- Kurang
9. Folat
- Baik
- Kurang
10. Fe
- Baik
- Kurang
Jumlah
10
0
10
0
10
0
10
0
10
0
10
0
10
0
100
0
100
0
100
0
100
0
100
0
100
100,0
Berdasarkan tabel 4.18 diatas dapat diketahui bahwa asupan
energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin C, serat dan Fe ibu hamil
semuanya dikategorikan kurang yaitu sebesar 100%. Demikian juga
dengan asupan kalsium, vitamin A dan folat ibu hamil, yang
dikategorikan kurang 100%. Asupan zat gizi yang kurang terjadi
karena makanan yang kurang beragam dan kurangnya pengetahuan
tentang gizi seimbang pada ibu hamil.
c.
Kebiasaan Makan
Tabel 4.19
Distribusi Frekuensi Bumil Berdasarkan Kebiasaan Makan
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Kebiasaan Makan
Baik
Kurang
F
0
10
10
Jumlah
154
%
0
100
100,0
Berdasarkan tabel 4.19 diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan
makan ibu hamil yang kurang yaitu sebesar 100%. Kebiasaan makan
yang kurang terjadi karena pengetahuan tentang jenis dan pola makan
gizi seimbang pada ibu hamil yang kurang baik.
d.
Pengetahuan
Tabel 4.20
Distribusi Frekuensi Bumil Berdasarkan Pengetahuan Gizi
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Pengetahuan Gizi
Baik
Kurang
Jumlah
F
0
10
10
%
0
100
100
Berdasarkan tabel 4.20 diatas dapat diketahui bahwa
pengetahuan gizi ibu hamil yang kurang yaitu sebesar 100%.
Pengetahuan yang kurang terjadi karena rendahnya tingkat pendidikan
dan kurang berperan aktif dalam kegiatan posyandu.
e. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Tabel 4.21
Distribusi Frekuensi Bumil Berdasarkan PHBS
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
PHBS
F
0
10
10
Baik
Kurang
Jumlah
%
0
10
100,0
Berdasarkan tabel 4.21 diatas dapat diketahui bahwa PHBS
keluarga ibu hamil dikategorikan kurang yaitu sebesar 100%. PHBS
keluarga yang kurang terjadi karena kurangnya kesadaran tentang hidup
bersih dan sehat, seperti tidak menguras bak mandi, tidak memiliki
jamban yang bersih dan kurangnya aktivitas fisik serta ada anggota
keluarga yang merokok di dalam rumah
155
f. Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)
Tabel 4.22
Distribusi Frekuensi Bumil Berdasarkan KADARZI
di Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
KADARZI
KADARZI
TIDAK KADARZI
Jumlah
F
0
10
10
%
0
100
100,0
Berdasaarkan tabel 4.22 diatas dapat diketahui bahwa
keluarga ibu hamil yang dikategorikan TIDAK KADARZI yaitu sebesar
100%. Keluarga TIDAK KADARZI terjadi karena kebiasaan keluarga
dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari yang kurang beragam dan juga
mengikuti pola dan jenis makanan gizi seimbang pada ibu hamil.
156
3. Usia Lanjut (Usila)
a. Status Gizi
Tabel 4.23
Distribusi Frekuensi Status Gizi Usila Berdasarkan di Desa
Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Status Gizi
Normal
Kurang
Jumlah
F
8
2
10
%
80
20
100,0
B
Berdasarkan tabel 4.23 diatas dapat diketahui bahwa status gizi
usila sebagian besar masuk dalam kategori normal yaitu sebesar 80% dan
status gizi usila dikategori kurang yaitu sebesar 20%. Sehingga status gizi
usila di desa Basirih Hulu masih dikatakan baik.
b. Asupan Zat Gizi
Tabel 4.24
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan Asupan Zat Gizi di Desa
Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Zat Gizi
F
%
4
6
40
60
3
7
30
70
3. Lemak
- Baik
- Kurang
9
1
90
10
4. Karbohidrat
- Baik
- Kurang
5
5
50
50
5. Kalsium
- Baik
- Kurang
0
10
0
100
1. Energi
- Baik
- Kurang
2. Protein
- Baik
- Kurang
157
6. Serat
- Baik
- Kurang
Jumlah
0
10
0
100
100,0
Berdasarkan tabel 4.24 diatas dapat diketahui bahwa asupan
energi usila dikategorikan kurang yaitu sebesar 60%, asupan protein
dikategorikan kurang yaitu sebesar 70%, asupan lemak dikategorikan
baik yaitu sebesar 90%, asupan karbohidrat dikategorikan kurang yaitu
sebesar 50%. Sedangkan asupan kalsium dan asupan serat usila banyak
yang dikategorikan kurang yaitu sebesar 100%. Asupan gizi banyak yang
kurang dikarenakan asupan yang kurang beragam.
c. Kebiasaan Makan
Tabel 4.25
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan Kebiasaan Makan di
Desa Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Kebiasaan Makan
Baik
Kurang
F
0
10
10
Jumlah
%
0
100
100,0
Berdasarkan tabel 4.25 diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan
makan usila semuanya dikategorikan kurang yaitu sebesar 100%. Hal ini
dikarenakan kebiasaan makan lansia yang kurang beragam dan frekuensi
makannya yang tidak teratur.
d. Pengetahuan
Tabel 4.26
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan Pengetahuan Gizi di Desa
Basirih Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Pengetahuan Gizi
F
1
Baik
158
%
10
B
Kurang
9
90
Jumlah
10
100,0
Berdasarkan tabel 4.26 diatas dapat diketahui bahwa
pengetahuan gizi usila banyak yang dikategorikan kurang yaitu sebesar
90%. Hal ini dikarenakan pendidikan yang rendah dan tidak pernah
mendapat penyuluhan tentang kesehatan sebelumnya.
e. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Tabel 4.27
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan PHBS di Desa Basirih
Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
PHBS
Baik
Kurang
Jumlah
F
3
7
10
%
30
70
100,0
Berdasarkan tabel 4.27 diatas dapat diketahui bahwa PHBS
keluarga usila dengan kategori kurang yaitu sebesar 70%. PHBS keluarga
usila di desa Basirih Hulu masih dikatakan kurang. PHBS yang rendah
dikarenakan sebagian dari usila tingkat kesadaran terhadap perilaku
hidup bersih dan sehatnya kurang, seperti tidak mengkonsumsi sayur dan
buah, tidak menguras bak mandi dan mengubur sampah, tidak mencuci
tangan di air mengalir dengan sabun, serta masih merokok di dalam
rumah.
f. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
Tabel 4.28
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan KADARZI di Desa Basirih
Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
KADARZI
Kadarzi
Tidak Kadarzi
F
2
8
159
%
20
80
10
Jumlah
100,0
Berdasarkan tabel 4.28 diatas dapat diketahui bahwa banyak
keluarga usila yang dikategorikan Kadarzi yaitu sebesar 20%. Namun
masih terdapat keluarga usila yang dikategorikan Tidak Kadarzi yaitu
sebesar 80%. Sehingga keluarga usila di desa Basirih Hulu masih
dikatakan Tidak Kadarzi. Keluarga yang Tidak Kadarzi dikarenakan
kurangnya makanan yang beragam.
g. Pendapatan
Tabel 4.29
Distribusi Frekuensi Usila Berdasarkan Pendapatan di Desa Basirih
Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Selatan
Pendapatan
Miskin
Tidak Miskin
F
4
6
10
Jumlah
%
40
60
100,0
Berdasarkan tabel 4.29 diatas dapat diketahui bahwa banyak
keluarga usila yang dikategorikan tidak miskin yaitu sebesar 60%. Namun
masih terdapat keluarga usila yang dikategorikan miskin yaitu sebesar
40%. Sehingga keluarga usila di desa Basirih Hulu masih dikatakan tidak
miskin.
C. Analisis Hasil Bivariat
1. Balita
a. Hubungan Asupan Energi Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.30 Analisis Hubungan
Asupan Energi Dengan Status Gizi Balita
Asupan Energi
-
Baik
Kurang
Gizi Kurang
N%
3 orang (10%)
8 orang(26,6%)
160
Normal
N%
5 orang (16,6%)
14 orang (46,6%)
p-Value
0,681
Berdasarkan tabel 4.30 diatas dapat diketahui bahwa balita yang
status gizinya kurang, banyak yang asupan energinya dikategorikan baik
yaitu sebesar 10%. Sedangkan balita yang status gizinya normal, banyak
yang asupan energinya dikategorikan baik yaitu sebesar 16,6%.
Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara
asupan energi dengan status gizi pada batita (p-Value 0,681). Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
b. Hubungan Asupan Protein Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.31 Analisis Hubungan
Asupan Protein Dengan Status Gizi Balita
Asupan Protein
-
Baik
Kurang
Gizi Kurang
N%
7 orang (23,3%)
4 orang (13,3%)
Normal
N%
8 orang (26,6%)
11 orang (36,6%)
p-Value
0,369
Berdasarkan tabel 4.31 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang asupan proteinnya dikategorikan baik yaitu
sebesar 23,3%. Sedangkan balita yang status gizinya normal, banyak yang
asupan proteinnya dikategorikan kurang yaitu sebesar 36,6%. Berdasarkan
hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara asupan protein
dengan status gizi pada batita (p-Value 0,369). Ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan
makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
c. Hubungan Asupan Vitamin A Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.32 Analisis Hubungan
Asupan Vitamin A Dengan Status Gizi Balita
161
Asupan Vitamin A
-
Baik
Kurang
Gizi Kurang
N%
3 orang (10%)
8 orang (26,6%)
Normal
N%
7 orang (23,3%)
12 orang (40%)
p-Value
0,648
Berdasarkan tabel 4.32 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang asupan vitamin A nya dikategorikan kurang
yaitu sebesar 26,6%. Sedangkan balita yang status gizinya normal, banyak
yang asupan vitamin A nya dikategorikan baik yaitu sebesar 23,3%.
Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara
asupan vitamin A dengan status gizi pada batita (p-Value 0,6,84). Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
d. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.33 Analisis Hubungan
Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Balita
Kebiasaan Makan
-
Baik
Tidak Baik
Gizi Kurang
N%
9 orang (30%)
20 orang (66,6%)
Normal
N%
1 orang (3,3%)
-
pValue
1,000
Berdasarkan tabel 4.33 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang kebiasaan makannya dikategorikan tidak baik
yaitu sebesar 66,6%. Sedangkan balita yang status gizinya normal banyak
yang kebiasaan makannya dikategorikan baik yaitu sebesar 3,3%.
Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara
kebiasaan makan dengan status gizi pada batita (p-Value 1,000). Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
e. Hubungan Pengetahuan Gizi Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.34 Analisis Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu
162
Dengan Status Gizi Balita
Pengetahuan Gizi Ibu
Gizi Kurang (%)
Normal (%)
Baik
Kurang
10 orang (33,3%)
19 orang (63,3%)
1 orang (3,3%)
-
pValue
0,611
Berdasarkan tabel 4.34 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang pengetahuan gizi ibunya dikategorikan baik
yaitu sebesar 63,3%. Sedangkan balita yang status gizinya normal, banyak
yang pengetahuan gizi ibunya dikategorikan kurang yaitu sebesar 3,3%.
Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara
pengetahuan ibu dengan status gizi pada batita (p-Value 0,611). Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
f. Hubungan PHBS Dengan Status Gizi Balita
TABEL 4.35 Analisis Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
(PHBS) Dengan Status Gizi Balita
PHBS
-
Baik
Kurang
Gizi Kurang
N%
6 orang (20%)
16 orang (53,3%)
Normal
N%
4 orang (13,3%)
4 orang (13,3%)
p-Value
0,680
Berdasarkan tabel 4.35 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang PHBS nya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 53,3%. Sedangkan balita yang status gizinya normal banyak yang
PHBS nya dikategorikan kurang yaitu sebesar 13,3%. Berdasarkan hasil
analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara PHBS keluarga
dengan status gizi pada batita (p-Value 0,680). Ada beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan
makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
g. Hubungan KADARZI Dengan Status Gizi Balita
163
Tabel 4.36 Analisis Hubungan
Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) Dengan Status Gizi Balita
KADARZI
Kadarzi
Tidak Kadarzi
-
Gizi Kurang
N%
3 orang (10%)
8 orang (26,6%)
Normal
N%
7 orang (23,3%)
12 orang (40%)
p-Value
0,453
Berdasarkan tabel 4.36 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang dikategorikan Tidak Kadarzi yaitu sebesar
26,6%. Sedangkan balita yang status gizinya normal, banyak yang
dikategorikan Tidak Kadarzi yaitu sebesar 40 %. Berdasarkan hasil
analisa, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara Kadarzi dengan status
gizi pada batita (p-Value 0,45). Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi status gizi balita yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan,
pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar
gizi (KADARZI), dan pendapatan.
h. Hubungan Pendapatan Keluarga Dengan Status Gizi Balita
Tabel 4.37 Analisis Hubungan
Pendapatan Keluarga Dengan Status Gizi Balita
-
Pendapatan
Keluarga
Miskin
Tidak Miskin
Gizi Kurang
N%
9 orang (30%)
11 orang (36,6%)
Normal
N%
1 orang (3,3%)
9 orang (30%)
p-Value
0,069
Berdasarkan tabel 4.37 dapat diketahui bahwa balita yang status
gizinya kurang, banyak yang pendapatan keluarganya dikategorikan tidak
miskin yaitu sebesar 36,6%. Sedangkan balita yang status gizinya normal,
banyak yang pendapatan keluarganya dikategorikan tidak miskin yaitu
sebesar 30%. Berdasarkan hasil analisa, diketahui bahwa tidak ada
hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi pada batita (pValue 0,068). Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi
balita yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi,
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI),
dan pendapatan.
164
2. Ibu Hamil
a. Hubungan Asupan Protein Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.38 Analisis Hubungan Asupan Protein dengan Status Gizi Ibu
Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
As. Protein
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
1 orang (10%)
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.38 diatas dapat diketahui bahwa pada ibu hamil
yang status gizinya KEK, semua asupan proteinnya dikategorikan kurang
yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil yang status gizinya NON
KEK, banyak asupan proteinnya yang dikategorikan kurang yaitu sebesar
90%. Berdasarkan hasil diatas diketahui bahwa asupan protein ibu hamil
di Desa Basirirh Hulu masih termasuk dalam kategori kurang. Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi ibu hamil yaitu
faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan
pendapatan.
b. Hubungan Asupan Kalsium Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.39 Analisis Hubungan Asupan Kalsium dengan Status Gizi
Ibu Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
As. Kalsium
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
1 orang (10%)
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.39 diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil
yang status gizinya KEK, semua asupan kalsiumnya dikategorikan
kurang yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil yang status
gizinya NON KEK, masih banyak asupan kalsiumnya yang
dikategorikan kurang yaitu sebesar 90%. Berdasarkan hasil diatas
diketahui bahwa asupan kalsium ibu hamil dengan status gizi
165
berdasarkan LILA ibu hamil dipengaruhi beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi status gizi ibu hamil yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan
makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
keluarga sadar gizi (KADARZI) dan pendapatan.
c. Hubungan Asupan Vitamin A Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.40 Analisis Hubungan Karakteristik Asupan Vitamin A
dengan Status Gizi Ibu Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
As. Vit A
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
1 orang (10%)
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.40 diketahui bahwa ibu hamil yang status
gizinya KEK, semua asupan vitamin A nya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil yang status gizinya NON
KEK, banyak yang asupan vitamin A nya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 90%. Berdasarkan hasil diatas diketahu bahwa asupan vitamin
A ibu hamil dengan status gizi ibu hamil dipengaruhi beberapa faktor
yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku
hidup sehat dan besih (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan
pendapatan.
d. Hubungan Asupan Asam Folat Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.41 Analisis Hubungan Asupan Asam Folat dengan Status Gizi
Ibu Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
As. Asam Folat
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
1 orang (10%)
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.41 diatas dapat diketahui bahwa yang ibu
hamil yang status gizinya KEK, semua asupan asam folatnya
dikategorikan kurang yaitu sebesar 10 %. Sedangkan pada ibu hamil
yang status gizinya NON KEK, banyak yang asupan asam folatnya
166
dikategorikan masih kurang yaitu sebesar 90%. Berdasarkan hasil
diatas diketahu bahwa asupan asam folat dengan status gizi ibu hamil
dipengaruhi beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil
yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku
hidup sehat dan besih (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan
pendapatan.
e. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.42 Analisis Hubungan Kebiasaan Makan dengan Status Gizi
Ibu Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
Kebiasaan Makan
- Baik
- Kurang
KEK
N%
1 orang (10%)
NON KEK
N%
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.42 diketahui bahwa ibu hamil yang status
gizinya KEK, semua kebiasaan makannya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil yang status gizi nya NON
KEK, banyak yang kebiasaan makannya dikategorikan kurang baik
yaitu sebesar 90%. Berdasarkan hasil diatas diketahui bahwa
kebiasaan makan dengan status gizi pada ibu hamil dipengaruhi
beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup sehat
dan besih (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
f. Hubungan Pengetahuan Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.43 Analisis Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi
Ibu Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
Pengetahuan gizi
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
1 orang (10%)
9 orang (90%)
Berdasarkan tabel 4.43 diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil
yang status gizinya KEK, banyak pengetahuan gizinya yang
dikategorikan baik yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil
167
yang status gizinya NON KEK, banyak pengetahuan gizi yang
dikategorikan kurang yaitu sebesar 90%. Berdasarkan hasil diatas
diketahui bahwa pengetahuan ibu hamil dengan status gizi ibu hamil
dipengaruhi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi ibu
hamil yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi,
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi
(KADARZI), dan pendapatan.
g. Hubungan PHBS Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.44 Analisis Hubungan PHBS dengan Status Gizi Ibu Hamil
Berdasarkan LILA
Variabel
PHBS
- Baik
- Kurang
KEK
N%
NON KEK
N%
p-Value
1 orang
(10%)
5 orang (50%)
4 orang (40%)
0,221
Berdasarkan tabel 4.44 diatas dapat diketahui bahwa pada ibu
hamil yang status gizi KEK, banyak PHBS keluarganya yang
dikategorikan kurang yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil
yang status gizinya NON KEK, banyak PHBS keluarganya yang
dikategorikan kurang yaitu sebesar 50%. Berdasarkan hasil diatas
diketahui bahwa PHBS ibu hamil tidak ada hubungan dengan status
gizi ibu hamil. Karena perilaku hidup bersih dan sehat ibu hamil
dengan status gizi ibu hamil p-value 0,221 yaitu >0,05 jadi tidak ada
hubungan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi
ibu hamil yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan
gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi
(KADARZI), dan pendapatan.
h. Hubungan KADARZI Dengan Status Gizi Ibu Hamil
Tabel 4.45 Analisis Hubungan KADARZI dengan Status Gizi Ibu
Hamil Berdasarkan LILA
168
Variabel
KADARZI
- KADARZI
- TIDAK
KADARZI
KEK
N%
NON KEK
N%
p-Value
1 orang (10%)
-
5 orang (50%)
4 orang (40%)
1,000
Berdasarkan tabel 4.45 diatas dapat diketahui bahwa pada
ibu hamil yang status gizinya KEK, semua keluarga ibu hamil
dikategorikan KADARZI yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu
hamil yang status gizinya NON KEK, banyak keluarga ibu hamil yang
di kategorikan KADARZI yaitu sebesar 50%. Berdasarkan hasil uji
diatas diketahui bahwa keluarga sadar gizi ibu hamil tidak ada
hubungan dengan status gizi ibu hamil. Karena keluarga sadar gizi ibu
hamil dengan status gizi ibu hamil P value 1,000 yaitu >0,05 jadi tidak
ada hubungan. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status
gizi ibu hamil yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan
gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi
(KADARZI), dan pendapatan.
i. Hubungan Pendapatan Dengan Status Gizi Ibu Hamil
TABEL 4.46 Analisis Hubungan Pendapatan dengan Status Gizi Ibu
Hamil Berdasarkan LILA
Variabel
Pendapatan
- Miskin
- Tidak miskin
KEK
N%
NON KEK
N%
p-Value
1 orang (10%)
2 orang (20%)
7 orang (70%)
1,000
Berdasarkan tabel 4.46 diatas dapat diketahui bahwa pada ibu
hamil yang status gizinya KEK, semua pendapatan keluarganya
dikategorikan tidak miskin yaitu sebesar 10%. Sedangkan pada ibu hamil
yang status gizinya NON KEK, banyak yang pendapatan keluarganya
dikategorikan tidak miskin yaitu sebesar 70%. Berdasarkan hasil uji diatas
diketahui bahwa tingkat pendapatan ibu hamil tidak ada hubungan dengan
status gizi ibu hamil. Karena tingkat pendapatan ibu hamil dengan status
169
gizi ibu hamil P velue 1,000 yaitu >0,05 jadi tidak ada hubungan. Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi ibu hamil yaitu
faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan
pendapatan.
3.
Usia Lanjut (Usila)
a. Hubungan Asupan Energi Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.47 Analisis Hubungan Asupan Energi Dengan Status Gizi
Usila Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Normal
N%
3 orang (30%)
4 orang (40%)
Kurang
N%
3 orang (30%)
0 orang (0%)
p-value
0,091
Berdasarkan tabel 5.47 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang asupan energinya dikategorikan
kurang yaitu sebesar 40%. Sedangkan pada usila yang status gizinya
kurang, banyak asupan energinya yang dikategorikan baik yaitu sebesar
30%. Berdasarkan hasil uji diatas diketahui bahwa asupan energi usila
tidak berhubungan dengan status gizi usila (p-value = 0,091). Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor
asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan pendapatan.
b. Hubungan Asupan Protein Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.48 Analisis Hubungan Asupan Protein Dengan Status Gizi
Usila Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Normal
N%
4 orang (40%)
3 orang (30%)
170
Kurang
N%
3 orang (30%)
0 orang (0%)
p-value
0,175
Berdasarkan tabel 5.48 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang asupan proteinnya dikategorikan
baik yaitu sebesar 40%. Sedangkan pada usila yang status gizinya kurang,
banyak asupan proteinnya yang dikategorikan baik yaitu sebesar 30%.
Berdasarkan hasil uji diatas diketahui bahwa asupan protein usila tidak
berhubungan dengan status gizi usila (p-value = 0,175. Ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor asupan gizi,
kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan pendapatan.
c. Hubungan Asupan Lemak Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.49 Analisis Hubungan Asupan Lemak Dengan Status Gizi
Usila Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Normal
N%
1 orang (10%)
6 orang (60%)
Kurang
N%
0 orang (0%)
3 orang (30%)
p-value
0,490
Berdasarkan tabel 5.49 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang asupan lemaknya dikategorikan
baik yaitu sebesar 60%. Sedangkan pada usila yang status gizinya kurang,
banyak asupan lemaknya yang dikategorikan kurang yaitu sebesar 30%.
Berdasarkan hasil uji diatas diketahui bahwa asupan lemak usila tidak
berhubungan dengan status gizi usila (p-value = 0,490). Ada beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor asupan gizi,
kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan pendapatan.
d. Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.50 Analisis Hubungan Asupan Karbohidrat Dengan Status
Gizi Usila Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Normal
N%
171
Kurang
N%
p-value
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
2 orang (20%)
5 orang (50%)
3 orang (30%)
0 orang (0%)
0,038
Berdasarkan tabel 5.50 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang asupan karbohidratnya
dikategorikan kurang yaitu sebesar 60%. Sedangkan pada usila yang status
gizinya kurang, banyak asupan karbohidratnya yang dikategorikan baik
yaitu sebesar 30%. Berdasarkan hasil uji diatas diketahui bahwa asupan
karbohidrat usila berhubungan dengan status gizi usila (p-value = 0,038).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi usila yaitu
faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan
pendapatan.
e. Hubunngan Asupan Kalsium Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.51 Analisis Hubungan Asupan Kalsium Dengan Status Gizi
Usia Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Normal
N%
0 orang (0%)
7 orang (70%)
Kurang
N%
0 orang (0%)
3 orang (30%)
Berdasarkan tabel 4.51 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang asupan kalsiumnya dikategorikan
kurang yaitu sebesar 70%. Sedangkan pada usila yang status gizinya
kurang, banyak asupan kalsiumnya yang dikategorikan kurang yaitu
sebesar 30%. Berdasarkan hasil diatas diketahui bahwa asupan kalsium
dengan status gizi pada usila
dipengaruhi beberapa faktor yang
mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan,
pengetahuan gizi, perilaku hidup sehat dan besih (PHBS), keluarga sadar
gizi (KADARZI), dan pendapatan.
172
f. Hubungan Asupan Serat Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.52 Analisis Hubungan Asupan Serat Dengan Status Gizi Usia
Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Normal
N%
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Kurang
N%
0 orang (0%)
7 orang (70%)
0 orang (0%)
3 orang (30%)
Berdasarkan tabel 4.52 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, semua asupan seratnya dikategorikan kurang
yaitu sebesar 70%. Demikian juga pada usila yang status gizinya kurang,
semua asupan seratnya juga dikategorikan kurang yaitu sebesar 30%.
Berdasarkan hasil diatas diketahui bahwa asupan serat dengan status gizi
pada usila dipengaruhi beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi
usila yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku
hidup sehat dan besih (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan
pendapatan.
g. Hubungan Pengetahuan Gizi Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.53 Analisis Hubungan Pengetahuan Gizi Dengan Status Gizi
Usia Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Normal
N%
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Kurang
N%
1 orang (10%)
6 orang (60%)
p-value
0 orang (0%)
3 orang (30%)
0,490
Berdasarkan tabel 4.53 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang
status
gizinya
normal,
banyak
yang
pengetahuan
gizinya
dikategorikan kurang yaitu sebesar 60%. Sedangkan pada usila yang status
gizinya kurang, semua pengetahuan gizinya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 30%. Berdasarkan hasil uji diatas diketahui bahwa pengetahuan
gizi usila tidak berhubungan dengan status gizi usila (p-value = 0,490).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi usila yaitu
faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI) dan pendapatam
173
h. Hubungan PHBS Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.54 Analisis Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) Dengan Status Gizi Usia Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Asupan Protein
- Baik
- Kurang
Normal
N%
3 orang (30%)
4 orang (40%)
Kurang
N%
0 orang (0%)
3 orang (30%)
p-value
0,175
Berdasarkan tabel 4.54 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, PHBS keluarganya dikategorikan kurang yaitu
sebesar 40%. Demikian juga pada usila yang status gizinya kurang PHBS
keluarganya juga dikategorikan kurang yaitu sebesar 30%. Berdasarkan
hasil uji diatas diketahui bahwa PHBS usila tidak berhubungan dengan
status gizi usila (p-value = 0,175). Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan,
pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar
gizi (KADARZI) dan pendapatan.
i. Hubungan KADARZI Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.55 Analisis Hubungan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) dengan
Status Gizi Usia Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Kadarzi
- Kadarzi
- Tidak Kadarzi
Normal
N%
Kurang
N%
p-value
2 orang (20%)
5 orang (50%)
0 orang (0%)
3 orang (30%)
0,301
Berdasarkan tabel 4.55 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang dikategorikan tidak kadarzi yaitu
sebesar 50%. Demikian juga pada usila yang status gizinya kurang, banyak
yang dikategorikan tidak kadarzi yaitu sebesar 30%. Berdasarkan hasil uji
diatas diketahui bahwa kadarzi usila tidak berhubungan dengan status gizi
usila (p-value = 0,301). Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
status gizi usila yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan
174
gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), keluarga sadar gizi
(KADARZI) dan pendapatan.
j. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.56 Analisis Hubungan Kebiasaan Makan dengan Status Gizi
Usia Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Kebiasaan makan
- Baik
- Tidak Baik
Normal
N%
Kurang
N%
0 orang (0%)
7 orang (70%)
0 orang (0%)
3 orang (30%)
Berdasarkan tabel 4.56 diatas dapat diketahui bahwa pada usila yang
status gizinya normal, banyak yang dikategorikan tidak baik yaitu sebesar
70%. Demikian juga pada usila yang status gizinya kurang, banyak yang
dikategorikan tidak baik yaitu sebesar 30%. Berdasarkan hasil diatas
diketahui bahwa kebiasaan makan dengan status gizi pada usila
dipengaruhi beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi usila yaitu
faktor asupan gizi, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, perilaku hidup
sehat dan besih (PHBS), keluarga sadar gizi (KADARZI), dan pendapatan.
k.
Hubungan Pendapatan Dengan Status Gizi Usila
Tabel 4.57 Analisis Hubungan Pendapatan dengan Status Gizi Usia
Lanjut Berdasarkan IMT/U
Variabel
Pendapatan
- Miskin
- Tidak miskin
Normal
N%
Kurang
N%
p-value
3 orang (30%)
4 orang (40%)
1 orang (10%)
2 orang (20%)
0,778
Berdasarkan tabel 4.57 diatas dapat diketahui bahwa pada usila
yang status gizinya normal, banyak yang dikategorikan tidak miskin yaitu
sebesar 40%. Demikian juga pada usila yang status gizinya kurang, banyak
yang dikategorikan tidak miskin yaitu sebesar 20%. Berdasarkan hasil uji
diatas diketahui bahwa pendapatan usila tidak berhubungan dengan status
gizi usila (p-value = 0,778). Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi status gizi usila yaitu faktor asupan gizi, kebiasaan makan,
175
pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan keluarga
sadar gizi (KADARZI).
176
Download