Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 Politik Indonesia Indonesian Political Science Review http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JPI Pengaruh Klientilisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan Sukatani pada Pilkada Kabupaten Bekasi 2012 Ainur Rofieq1, Rahmat Nuryono1 1 Universitas Islam “45” Bekasi, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 15 Maret 2016 Disetujui 15 Juni 2016 Dipublikasi 15 Juli 2016 Keywords: Voting Behavior; Clientelism; Bekasi Region Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterpilihan Neneng Hasanah Yasin-Rohim Mintareja yang mengalahkan incumbent kepala daerah dan wakil kepala daerah pada Pilkada Kabupaten Bekasi tahun 2012. Dalam pemilihan kepala daerah tersebut terjadi dinamika perilaku pemilih masyarakat. Diduga terjadi praktik klientelisme dalam kemenangan Neneng Hasanah Yasin tersebut. Fokus penelitian ini adalah dengan melihat perilaku pemilih masyarakat di Kecamatan Sukatani yang memiliki karakteristik sebagai wilayah pertanian. Kecamatan Sukatani merupakan salah satu kecamatan yang menjadi basis kemenangan Neneng Hasanah Yasin. Sebagai alat analisis digunakan teori klientelisme. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kuantitatif dengan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Teknik analisa data menggunakan tabulasi silang. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 orang dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 10%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk beberapa indikator klientelisme tidak ada perbedaan perilaku memilih masyarakat Sukatani, seperti indikator popularitas orang tua kandidat, ajakan pejabat formal, ajakan pejabat informal, dan ajakan kelompok professional. Bahkan untuk indikator hutang budi tidak ada sama sekali. Sedangkan indikator yang memiliki perbedaan adalah pada ajakan tim sukses kandidat. Abstract This research is motivated by the election of Neneng Hasanah Yasin-Rohim Mintareja who defeated incumbent regional head and deputy head of the Bekasi area in the elections of 2012. The local elections showed a dynamic voter behavior of society. Clientelism practices allegedly occurred in the victory Neneng Hasanah Yasin. The focus of this study is to analyse voting behavior of people in the District Sukatani which has characteristics as agricultural area. Sukatani sub-district is one of the districts that form the basis for Neneng Hasanah Yasin victory. As an analytical tool, the used theory is clientelism. The method used is a quantitative study with a questionnaire as a data collector. Data analysis technique uses cross tabulation. The number of samples in this study is 100 people with a 95% confidence level and a margin of error of 10%. The results of this study indicates that for some indicators clientelism has no difference in voting behavior Sukatani society, such as indicators of the popularity the parents candidates, formal official invitation, informal official invitation, and professional groups invitation. Even for indicators of indebtedness does not exist at all. While indicators have differences on the invitation team is successful candidate. Alamat © 2016 Universitas Negeri Semarang ISSN 2477 – 8060 korespondensi: Jl. Cut Meutia No. 83 Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi, Indonesia. Email: [email protected] 105 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... menjadikannya Pendahuluan sebagai kepala daerah Pemilihan umum kepala daerah dan perempuan pertama di Kabupaten Bekasi. wakil kepala daerah yang dilaksanakan secara Kabupaten Bekasi merupakan daerah dengan langsung di Indonesia merupakan konsekuensi kultur masyarakat yang mengalami perubahan dari tuntutan demokrasi, agenda reformasi, dari dan munculnya industrialis dimana masih terdapat aturan- Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 aturan normatif baik di tingkat budaya, agama tentang desentralisasi. Setelah Pemerintahan agraris perdesaan menjadi agraris Daerah, maka maupun hukum atau peraturan pemerintah kepala daerah yang masih belum mengakomodasi peran (Pilkada) dilakukan secara langsung dimana perempuan di wilayah publik. Pandangan sebelum tersebut stereotip mengenai peran perempuan masih daerah mengandung nilai-nilai misoginis (Nuraina, pelaksanaan pemilihan adanya pelaksanaan undang-undang pemilihan kepala dilakukan oleh legislatif. dkk, 2008). Sebaliknya kekalahan pasangan Penerimaan dan penolakan pemilih Sa’duddin-Jamal Lulail Yunus serta pasangan terhadap pasangan kandidat, dalam konteks Darip Mulyana-Jejen Sayuti sungguh di luar kultur Indonesia, lebih banyak disebabkan dugaan. oleh hubungan yang bersifat emosional merupakan petahana Bupati dan Wakil Bupati dibandingkan pemilihan Bekasi periode 2008-2012. Hal ini ditambah kepala daerah, penilaian terhadap kandidat pula bahwa pasangan Sa’duddin dan Jamal tidak selamanya bersifat rasional. Masyarakat Lulail Yunus adalah seorang ustadz. rasional. Dalam Sa’duddin dan Darip Mulyana mungkin menilai kandidat bukan berdasarkan Dalam hal proses penetapan Neneng kapabilitas kandidat, tetapi lebih didasarkan Hasanah Yasin-Rohim Mintareja sebagai pada latar belakang sosial ekonomi dan Bupati dan Wakil Bupati dilakukan melalui ketokohannya. Mereka tidak mendasarkan sebuah penetapan di Mahkamah Konstitusi. pilihan intelektual, Gugatan hasil pelaksanaan pilkada diajukan wawasan, penguasaan, pengalaman pribadi oleh pasangan Sa’duddin-Jamal Lulail Yunus. bahkan visi, misi, dan program calon. Pilihan Menurut didasarkan pada keturunan, latar belakang Hasanah Yasin-Rohim Mintareja melakukan organisasi, garis ideologis, bahkan tampilan kecurangan berupa adanya politik uang fisik (Asfar, 2005). (money politics) di 15 kecamatan yang pada kemampuan Terpilihnya Neneng Hasanah Yasin, sebagai Bupati Bekasi dalam penggugat, pasangan Neneng berlokasi di pinggiran Kabupaten Bekasi.39 Pilkada Bahkan gugatan juga dikaitkan dengan peran Kabupaten Bekasi 2012 merupakan sesuatu orang tua Neneng Hasanah Yasin, Haji Yasin yang baru dalam sejarah masyarakat Bekasi. 39 Kemenangan 106 Neneng Hasanah Yasin http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabe k/12/03/20/m16y3q-kalah-pilkada-dahsyay-saja-ajukangugatan-ke-mk, diakses tanggal 30 Mei 2012. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 yang merupakan seorang tokoh masyarakat 2012 ketujuh kecamatan tersebut menjadi Bekasi dan seringkali berperan aktif dalam wilayah mensukseskan pemilihan kepala desa di Hasanah Yasin-Rohim Mintareja. Sedangkan hampir seluruh wilayah Kabupaten Bekasi. pada Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2007 Peranannya dianggap memanfaatkan struktur menjadi aparat desa untuk melakukan politik uang Sa’duddin-Darip Mulyana. kepada para pemilih.40 Meskipun kemenangan basis pasangan kemenangan Neneng pasangan pada Kecamatan Sukatani merupakan salah akhirnya Mahkamah Konstitusi membatalkan satu dari tujuh kecamatan yang mengalami gugatan pasangan Sa’duddin-Jamal Lulail dinamika perilaku pemilih pada Pilkada Yunus, namun indikasi adanya politik uang Kabupaten Bekasi Tahun 2012. Dipilihnya dengan memanfaatkan mekanisme patron- kecamatan client diduga terjadi pada Pilkada Kabupaten kecamatan yang diperuntukan untuk basis Bekasi Tahun 2012. pertanian Pilkada Kabupaten Bekasi tahun 2012 ini dikarenakan menurut pembagian merupakan wilayah pengembangan Kabupaten Bekasi.41 Kondisi merupakan pemilihan kepala daerah kali kedua setelah pemilihan pertama pada tahun 2007 pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam pilkada Kabupaten Bekasi tahun 2012 diikuti oleh tiga pasang calon bupati dan wakil bupati. Apabila dibandingkan dengan pelaksanaan Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2007, maka terjadi dinamika perilaku memilih pada Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2012. Kecamatan Bojongmangu, Cabangbungin, Cikarang Pusat, Muaragembong, Sukatani, Sukawangi, dan Tarumajaya merupakan wilayah-wilayah yang mengalami dinamika dalam dua kali pelaksanaan pilkada. Menurut data KPU (2012) menunjukkan bahwa pada pelaksanaan Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 40 Dalam Bagian Alasan-alasan Pokok sebagai Dasar Keberatan Nomor 10 dan 11 Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 9/PHPU.D-X/2012 tanggal 10 April 2012. 41 http://humaskabbekasi.wordpress.com/profil-kabupate n-bekasi/ diakses tanggal 18 Februari 2013. Pada tahun 1984 terdapat pembagian wilayah pembangunan yang ditetapkan dalam Perda Nomor 15/HK/OP.013.1/ VIII/1984 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tingkat II Bekasi. Tujuannya adalah agar pembangunan dapat berjalan dengan baik dengan tiga wilayah pembangunan. Perkembangan selanjutnya Kabupaten Bekasi dibagi menjadi empat wilayah prioritas berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 2003, terdiri dari: a. Wilayah Pengembangan (WP) I merupakan kawasan pengembangan khusus Pantura, diatur secara khusus dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 4 Tahun 2003. Karakter WP I adalah kota baru dengan sebutan Kota Baru Pantai Makmur seluas 25.028 Ha yang meliputi: Kecamatan Babelan, Tarumajaya, dan Muaragembong yang peruntukannya meliputi pengembangan permukiman, perdagangan dan jasa, pelabuhan (pergudangan/ terminal peti kemas), industri dan pariwisata. b. Wilayah Pengembangan (WP) II adalah wilayah bagian timur Kabupaten Bekasi yang mempunyai karakter untuk memproduksi hasil-hasil pertanian seluas 47.020 Ha, meliputi: Kecamatan Cabangbungin, Sukawangi, Sukakarya, Tambun Utara, Tambelang, Pebayuran, Sukatani, Karang Bahagia dan Kedungwaringin. c. Wilayah Pengembangan (WP) III adalah wilayah bagian tengah koridor timur barat Kabupaten Bekasi yang mempunyai karakter perkotaan dengan dominasi permukiman, perdagangan dan jasa, industri dan pemerintahan seluas 36.625 Ha, meliputi: Kecamatan Tambun Selatan, Cibitung, Cikarang Barat, Cikarang Timur, Cikarang Utara, Cikarang Selatan dan Cikarang Pusat. d. Wilayah Pengembangan (WP) IV adalah wilayah bagian selatan Kabupaten Bekasi yang mempunyai 107 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... ini sejalan dengan dugaan penelitian dimana Kajian Pustaka mekanisme Perilaku Memilih patron-client terjadi pada masyarakat perdesaan. Selain itu, di antara Studi mengenai pemilu dalam kajian sembilan kecamatan yang terdapat di wilayah ilmu politik dikenal dengan konsep “perilaku pengembangan tersebut, Kecamatan Sukatani pemilih” (voting behavior). Perilaku pemilih memiliki dinamika pemilih yang paling terbentuk oleh suatu proses sosialisasi, yang tinggi.42 dikenal dengan “sosialisasi politik” (political Kecenderungan seseorang untuk socialization). Sedangkan keikutsertaan dalam memberikan pilihan dalam pemilihan umum pemilu ditentukan oleh banyak faktor, seperti faktor “partisipasi politik” (political participation). sosiologis, psikologis, ekologis, dan pilihan Menurut Berelson yang dikutip Indarti (2003), rasional. voting behavior adalah proses pembuatan Oleh penelitian yang karena dapat itu, pertanyaan diajukan merupakan salah satu bentuk adalah: keputusan dan faktor-faktor sosial yang “Bagaimana pengaruh klientelisme terhadap mempengaruhi pola pemberian suara atau perilaku memilih masyarakat pada Pilkada kesertaan dalam pemilihan. Kabupaten Bekasi Tahun 2012?” Berdasarkan Sedangkan menurut Ramlan Surbakti permasalahan yang (1999), perilaku memilih dibedakan menjadi diteliti, maka tujuan penelitian adalah untuk lima mengetahui digunakan, pengaruh faktor klientelisme sesuai dengan pendekatan yaitu struktural, psikologi sosial, yang sosiologis, terhadap perilaku memilih masyarakat pada ekologis, Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2012. rasional. Hal yang sama dijelaskan oleh Sedangkan hasil penelitian ini diharapkan Dennis Kavanagh yang dikutip oleh Imawan dapat bermanfaat bagi penelitian serupa dan (1995) sebagai berikut: dapat memberi sumbangan bagi kajian studi Approach. Dalam pendekatan ini struktur ilmu politik di Indonesia, khususnya menguji sosial teori klientelisme dalam konteks masyarakat pengelompokan politik, dimana tingkah laku lokal. politik dipandang dan (1) Structural sebagai seseorang, pilihan basis termasuk dari dalam menentukan pilihan politiknya, ditentukan oleh pengelompokan sosialnya yang pada umumnya didasarkan atas kelas sosial, agama, karakater untuk konservasi dan permukiman, pengembangan pertanian holtikultura serta pariwisata seluas 17.014 Ha, meliputi: Kecamatan Setu, Serang Baru, Cibarusah dan Bojongmangu. 42 Sembilan kecamatan di wilayah pengembangan berbasis pertanian adalah Kecamatan Cabangbungin, Sukakarya, Sukawangi, Tambun Utara, Tambelang, Pebayuran, Sukatani, Karang Bahagia, dan Kedungwaringin. 108 desa-kota, bahasa dan nasionalisme; (2) Sociological Approach. Pendekatan ini berpendapat bahwa tingkah laku politik seseorang dipengaruhi oleh identifikasi serta norma-norma yang dianut oleh satu Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 kelompok; (3) Ecological Approach. Awalnya konsep klientelisme Pendekatan ini memandang faktor-faktor yang digunakan untuk menjelaskan politik tingkat bersifat ekologis, seperti daerah, sangat desa, namun berkembang untuk menjelaskan menentukan tingkah laku politik seseorang; seluruh sistem politik di tingkat nasional. (4) Social Psychological Approach. Dalam Menurut Migdal yang dikutip Erman (2007), pendekatan ini tingkah laku dan keputusan klientelisme cenderung subur di lingkungan politik seseorang sangat dipengaruhi oleh politik yang tidak aman dan merupakan interaksi antara faktor internal, seperti sistem bagian dari ‘politics of survival’ baik bagi kepercayaan, dan faktor eksternal, seperti patron maupun klien, baik di desa maupun di pengalaman kota. politik. memandang bahwa kepercayaan individu Pendekatan tingkah ini laku dan menentukan dan transaksi antara politisi dan warga dimana membentuk norma-norma kelompok; dan (5) terdapat imbalan materi atas dukungan politik Rational Choice Approach. Pendekatan ini dalam pemilu (Wantchekon, 2003). Eisenstadt memandang bahwa semakin modernnya serta dan makin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, klientelisme maka pertukaran masyarakat akan selalu Klientelisme Roniger didefinisikan (1980) sebagai yang sebagai mendefinisikan bentuk bersifat personal, dyadic dan memperhitungkan keuntungan dan kerugian didasarkan pada perasaan wajib serta adanya yang akan diperoleh bila melakukan satu ketidakseimbangan tindakan politik. mereka yang terlibat. Sedangkan James Scott Gagasan tentang klientelisme bukan dalam Muno kekuasaan (2010) diantara mendefinisikan sebuah gagasan yang baru dalam kajian-kajian klientelisme sebagai mekanisme persahabatan ilmu membahas dimana individu dengan status sosial ekonomi fenomena relasi dan pola kekuasaan dalam yang tinggi (patron) menggunakan pengaruh perpolitikan di negara-negara berkembang dan (Hanif, 2009). Menurut Schmidt yang dikutip perlindungan atau keuntungan atau keduanya oleh Erman (2007), konsep klientelisme kepada orang yang lebih rendah statusnya dielaborasi oleh ilmuwan antropologi dan (klien) yang sebagai bagian dari patron kemudian untuk memberikan dukungan dan jasa kepada menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang patron. Jika patrimonialisme merujuk pada hirarkis sistem politik terutama ilmuwan yang telah yang sosiologi lama ada dalam sumberdayanya pemerintahan dengan yang memberikan berdasarkan masyarakat petani. Kemudian konsep ini kekeluargaan serta hubungan patron-klien, digunakan ilmuwan politik untuk menjelaskan maka klientelisme merujuk pada ikatan-ikatan definisi politik ‘who gets what’ dalam personal antara patron dan kliennya. Ikatan ini masyarakat. lebih didasarkan pada pengambilan 109 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... keuntungan materi antara dua belah pihak sebagai clientelistic goods merujuk pada (Erman, 2007). barang-barang Menurut Piattoni material atau kebijakan- dalam Hopkins kebijakan yang diberikan oleh patron untuk (2006), definisi yang ada merefleksikan klien sebagai bentuk pertukaran dukungan konsep dasar klientelisme sebagai penjelas politik. hubungan incumbent hirarkis masyarakat patron-klien perdesaan yang dalam Dalam hal lebih clientelistic memiliki goods, keleluasaan tradisional. dibandingkan dengan lawannya. Incumbent Klientelisme dipandang sebagai sebuah cara memiliki sejumlah diskresi terhadap kebijakan mendeskripsikan pola yang tidak seimbang mengenai sumberdaya yang dimiliki oleh dan karakteristik hirarkis masyarakat feodal, pemerintah (Wantchekon, 2003). dimana patron dan klien diikat oleh perasaan Menurut Muno (2010) terdapat yang kuat akan kewajiban dan tugas dalam sejumlah karakteristik untuk mengidentifikasi suatu hubungan jangka panjang. konsep Dalam perkembangannya praktik klientelisme, hubungan bersifat dyadic. pertama, Di klientelisme sesuai yang antara patron dan perantara (broker) di satu berlangsung di masyarakat. Jika melihat pada sisi dan perantara dengan klien di sisi yang definisi Piattoni lain. Patron dan klien tidak mengenal secara menunjukkan apa yang disebut Tarrow (1967) personal. Hubungan yang ada pada awalnya sebagai ‘notables clientelism’ atau Weingrod bersifat dyadic dan berkembang menjadi (1968) sebagai ‘old clientelism’. Adanya triad. Namun intinya tetap bersifat dyadic, perubahan terjadi karena perantara merupakan klien bagi patron, pergerakan mobilitas sosial dan urbanisasi, sedangkan perantara juga dapat berperan tingkat pendidikan yang tinggi, perubahan sebagai patron bagi klien. Kedua, hubungan dari bersifat yang transformasi dikemukakan sosioekonomi masyarakat sosial agraris dimana ke masyarakat asimetris. hubungan dalam klientelisme sendiri mengalami transformasi dengan terdapat yaitu: Dalam personal klientelisme industri, serta menurunnya pengaruh elite hubungan patron dan klien selalu asimetris. tradisional perdesaan, membawa pengaruh Patron tidak hanya menguasai distribusi pada hubungan klientelisme tersebut yang informasi, namun juga menguasai distribusi kemudian sumberdaya, kekuasaan, uang, barang, dan memunculkan istilah ‘new clientelisme’ (Hopkins, 2006). sebagainya. Kondisi ini mungkin terjadi di Terkait dengan pertukaran, politisi dan memperoleh pribadi dan tahan lama. Dalam klientelisme dukungan melalui pemberian secara langsung hubungan tidak bersifat sporadis, spontan hadiah atau kebijakan-kebijakan tertentu. serta hanya bersifat bisnis saja, melainkan Allen (2012) menyebut pertukaran barang itu saling mengenal dan percaya satu sama lain. 110 partai politik dapat daerah perdesaan. Ketiga, hubungan bersifat Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 Terkadang hubungan turun Dalam penelitian ini populasi adalah temurun. Kondisi tersebut merupakan ciri pemilih yang menggunakan hak pilihnya klientelisme klasik. Sedangkan klientelisme dalam Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2012. modern tidak perlu menyiratkan adanya turun Berdasarkan temurun, tetapi tetap ada unsur personalitas penelitian, maka lokasi penelitian hanya pada dan tahan lama. Keempat, hubungan bersifat Kecamatan Sukatani. Langkah berikutnya timbal balik. Pertukaran barang-barang yang adalah menentukan sampel responden pemilih berbentuk materi maupun nonmateri yang yang berada di Kecamatan Sukatani tersebut. bersifat timbal balik merupakan inti dari Berdasarkan data KPU (2012) jumlah pemilih klientelisme. Patron mengontrol sumberdaya di Kecamatan Sukatani sebanyak 54.235 dan memberikannya kepada kliennya. Klien orang. Untuk menentukan besar sampel dan menerima dan menggunakan sumberdaya margin of error digunakan rumus Slovin tersebut dengan dengan asumsi bahwa populasi berdistribusi sumberdaya yang dimiliki. Pertukaran itu normal. Dengan demikian, dalam penelitian tidak harus segera diberikan, namun dapat ini dengan jumlah anggota populasi sebanyak dalam waktu tertentu. Dan kelima, hubungan 54.235 orang diperoleh sampel penelitian bersifat klientelisme sebanyak 100 orang dengan margin of error mekanisme dukungan tidak dengan kekerasan. sebesar 10% dan tingkat kepercayaan sebesar dan itu bersifat menukarkannya sukarela. Dalam latar belakang masalah 95%. Metodologi Pada penelitian teknik pengumpulan Penelitian ini menggunakan metode sampel dengan cara simple random sampling. kuantitatif karena tujuan dari penelitian ini Penggunaan teknik ini dilakukan secara acak adalah untuk mengetahui hubungan antar tanpa memperhatikan strata yang ada dalam variabel dan merupakan penelitian mengenai populasi serta dikarenakan populasi yang akan perilaku kuantitatif diteliti dianggap memiliki sifat homogen dinamakan juga metode tradisional atau (Sugiyono, 2010). Sehingga perbedaan sifat metode positivistik. Metode ini menggunakan populasi menjadi tidak penting. Penggunaan data penelitian berupa angka-angka dan metode random atau acak bertujuan agar analisis menggunakan statistik (Sugiyono, setiap anggota semesta memiliki probabilitas memilih. Metode 2010). Penelitian tentang perilaku memilih umumnya merupakan riset kuantitatif. Riset politik kuantitatif adalah dengan menggunakan pengukuran dalam analisis perilaku atau sikap (Harrison, 2009). 111 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... yang sama besar untuk dipilih (Kerlinger, pengaruh antara setiap variabel bebas (X) 2006). dan variabel terikat (Y). Berikutnya penarikan sampel pemilih Teknik pengumpulan data primer di kecamatan penelitian. Jumlah desa di dilakukan dengan Kecamatan Sukatani sebanyak 7 desa, maka responden mengisi penarikan dilakukan penelitian. Untuk data sekunder, teknik berdasarkan proporsi jumlah penduduk di pengumpulan data menggunakan sumber yang setiap penelitian berasal dari buku, jurnal, laporan penelitian, sehingga total diperoleh 100 orang responden. dokumen, dan sumber tertulis lainnya yang Data berhubungan dengan penelitian ini. sampel desa yang pemilih pada kecamatan diperoleh menggunakan dianalisis metode dengan kualitatif kuesioner, sejumlah dimana pertanyaan dan kuantitatif. Teknik analisis kualitatif ditujukan untuk memberikan permasalahan penjelasan yang terhadap diajukan dalam pertanyaan penelitian (research question). kuantitatif Kuesioner yang dipergunakan dalam ditujukan untuk menafsirkan seberapa kuat penelitian ini merupakan kuesioner berbentuk pengaruh antar variabel yang disusun dalam skala. Jenis skala yang dipergunakan adalah model analisis. Semua data diolah dengan skala Likert. Menurut Hadjar yang dikutip menggunakan program komputer SPSS 16.0 Tukiran dan Hidayati (2012), skala Likert for windows. digunakan untuk mengukur sikap. Sedangkan teknik analisis Untuk teknik analisis data kuantitatif, Temuan dan Diskusi maka digunakan dua cara, yaitu: a. Tabulasi silang, digunakan untuk Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis ada tidaknya pengaruh mengetahui antar terhadap variabel yang diteliti dengan pengaruh faktor perilaku memilih klientelisme masyarakat melihat persentase antar variabel, yaitu Sukatani pada Pilkada Kabupaten Bekasi antara variabel bebas (X) dan variabel tahun 2012. Untuk menganalisis pengaruh terikat (Y). b. Penghitungan koefisien korelasi sederhana (parsial) dengan data nominal diuji dengan analisis statistik chi square. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk mengetahui kuat tidaknya tersebut digunakan teknik analisis data chi square. Pada pelaksanaan penelitian terdapat 112 Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 sejumlah kendala, terutama terkait dengan adalah responden pada rentang usia 17-35 responden. Responden yang dipilih secara tahun sebanyak 42%. Sedangkan yang paling acak berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sedikit berada pada usia di atas 50 tahun yaitu Pilkada Kabupaten Bekasi tahun 2012 banyak sebanyak 12 orang atau sebesar 14%. mengalami perubahan, seperti sudah tidak bertempat tinggal di yang karakteristik responden ada, berdasarkan status perkawinan diperoleh hasil meninggal, dan sebagainya. Jarak waktu sebanyak 60% berstatus menikah. Sedangkan penelitian yang cukup lama merupakan yang belum menikah sebanyak 30% dan yang tantangan berstatus tersendiri lokasi Adapun ketika responden ditanyakan mengenai sejumlah hal. Karakteristik responden duda/janda sebanyak 10%. Berdasarkan tingkat pendidikan responden dalam diperoleh hasil tingkat pendidikan responden penelitian ini didasarkan pada jenis kelamin, paling banyak adalah SMA/sederajat sebesar 53%. Disusul responden berpendidikan SMP/sederajat sebesar 14%, pendidikan SD sebesar 13%. Sedangkan yang berpendidikan tinggi, yaitu yang lulus program diploma dan umur, status perkawinan, agama, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, dan jenis pekerjaan,. Menurut Duverger (2007), faktor fisikal dan nonfisikal memiliki pengaruh terhadap perilaku pemilih. Dalam konteks sarjana masing-masing sebesar 7% dan 9%. penelitian ini, kedua faktor tersebut terbagi Adapun yang tidak tamat SD sebesar 4%. menjadi elemen perekonomian, kependudukan, elemen etnisitas, elemen Karakteristik responden berdasarkan elemen tingkat penghasilan diperoleh hasil tingkat penghasilan responden terbesar berada pada pendidikan, dan elemen agama. Dalam penelitian ini, karakteristik rentang Rp 1.000.001 – 2.000.000 dan di atas responden berdasarkan jenis kelamin adalah sama dengan Rp 2.000.001 yaitu masing- dari 100 orang responden 64% berjenis masing kelamin laki-laki serta 36% berjenis kelamin penghasilan Rp 500.001 – 1.000.000 sebesar perempuan. usia, 19%. Sedangkan yang paling sedikit adalah responden yang berada pada kategori rentang mereka yang berpenghasilan kurang dari Rp usia 36-50 tahun sebanyak 44%. Berikutnya 250.000 sebesar 5%. Sedangkan dari segi sebesar 33%. Disusul tingkat 113 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... suaranya. Sebanyak 96% responden mengetahui adanya pilkada dan hanya 4% yang tidak mengetahuinya. Namun demikian, meski ada masyarakat yang tidak mengetahui akan Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan terbanyak adalah wiraswasta/ adanya pelaksanaan pilkada, pilkada tetapi mereka ketika semuanya berpartisipasi aktif dalam mencoblos. Adapun pedagang sebesar 34%. Disusul responden buruh pabrik sebesar 31%. Responden yang kandidat bekerja sebagai pegawai swasta sebesar 15% Mintareja yaitu sebanyak 67%. Disusul serta yang menjadi petani sebesar 13%. dengan pasangan kandidat Sa’duddin-Jamal Adapun responden yang bekerja sebagai Lulail Yunus sebanyak 26% dan terakhir mahasiswa dan PNS/BUMN masing-masing pasangan sebesar 5% dan 2%. Sedangkan karakteristik Sayuti sebanyak 7%. nelayan dan Hasanah kandidat Selanjutnya anggota Darip pasangan Yasin-Rohim Mulyana-Jejen mengenai dasar pertimbangan memberikan suara pada pemilu TNI/POLRI tidak terwakili. Adapun Neneng adalah yang paling sebagai dipilih kandidat yang bekerja sebagai pegawai industri atau pekerjaan banyak pasangan karakteristik responden sebagian besar responden menyatakan melihat berdasarkan agama paling banyak adalah iklan Islam sebesar 97%. Disusul agama Kristen sebanyak 31%. Ketika ditanyakan pengaruh Katolik dan Kristen Protestan masing-masing jenis kelamin sebagai dasar pertimbangan sebesar 2% dan 1%. Kondisi ini tidak dalam memilih, diperoleh hasil sebanyak 89% mengherankan responden menyatakan jenis kelamin tidak mengingat mayoritas TV/radio/dan yaitu penduduk Kabupaten Bekasi beragama Islam. berpengaruh Bahkan di Kabupaten Bekasi terdapat tokoh mendasarkan Islam sekaligus pejuang kemerdekaan, K.H. kelamin. Dari 89% pemilih yang tidak Noer Ali. mendasarkan pilihannya karena faktor jenis Dalam penelitian ini terdapat kelamin, 33 serta sebagainya, sebanyak pertimbangan orang 11% pada diantaranya jenis adalah beberapa temuan mengenai perilaku pemilih perempuan. Seperti diketahui bahwa kandidat masyarakat Kecamatan Sukatani Kabupaten yang memenangi Pilkada Kabupaten Bekasi Bekasi dalam Pilkada Kabupaten Bekasi tahun tahun 2012. Dalam hal mengetahui adanya Dengan demikian tampak bahwa pemilih pilkada perempuan tidak memandang faktor jenis dan ikut memberikan suara, masyarakat Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi mengetahui dan aktif memberikan 114 2012 adalah seorang perempuan. kelamin dalam mendasarkan pilihannya. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 Pada popularitas saat ditanyakan kandidat, mengenai Kabupaten Bekasi tahun 2012 berdasarkan sebanyak 52% popularitas tidak Adapun pengaruh popularitas orang mempengaruhi dalam memilih. Sedangkan tua kandidat terhadap perilaku memilih sebanyak 47% responden masih mendasarkan masyarakat pilihan pada popularitas kandidat dan hanya responden 1% yang menyatakan tidak tahu. karena popularitas orang tua kandidat. Seperti responden menyatakan Adapun bagaimana pengaruh pemberian uang. menunjukkan tidak sebanyak mendasarkan 97% pilihannya diketahui bahwa orang tua kandidat Bupati pemberian uang sebelum pelaksanaan pilkada Bekasi dengan masyarakat memenangkan Pilkada Kabupaten Bekasi diperoleh hasil sebanyak 70% responden tahun 2012 memiliki orang tua H. Yasin yang menyatakan tidak menerima pemberian uang terkenal sebagai tuan tanah dan juragan beras sebelum pelaksanaan pilkada, sebanyak 21% di Kabupaten Bekasi. Diperkuat lagi dengan menyatakan menerima, dan 9% menyatakan adanya dugaan keterlibatan orang tua Neneng tidak tahu. Hal ini menunjukkan bahwa pada Hasanah Yasin dalam proses pemenangan dasarnya pilkada anaknya. Meskipun hasil keputusan perilaku proses memilih pemberian uang untuk Neneng Hasanah Mahkamah sebelum pelaksanaan pilkada. adanya bukti keterlibatan tersebut, paling mendapatkan kesimpulan menyatakan yang memilih salah satu kandidat sudah dilakukan Untuk Konstitusi Yasin, tidak tidak popularitas orang tua Neneng Hasanah apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat Yasin diperhatikan Tests. putrinya. Sedangkan sebanyak 3% responden Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak menyatakan tidak tahu dasar pemberian suara ada tersebut. output perbedaan pengaruh Chi-Square perilaku klientelisme pemilih didasarkan karena pada turut mempengaruhi Untuk mendapatkan kemenangan kesimpulan pemberian uang. Sedangkan H1 = ada apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh diperhatikan klientelisme didasarkan pada pemberian uang. Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak Hasil perhitungan diperoleh hasil Asymp. Sig. (2-sided) sebesar 0,562 ada output perbedaan pengaruh Chi-Square perilaku klientelisme pemilih didasarkan Tests. karena pada sebagaimana hasil pada Tabel 1. Karena popularitas orang tua. Sedangkan H1 = ada Asymp. Sig. (2-sided) lebih besar dari 0,05 perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh maka Ho diterima. Dari temuan tersebut dapat klientelisme dikatakan bahwa tidak ada perbedaan perilaku orang tua. memilih masyarakat Kecamatan Sukatani didasarkan pada popularitas Berdasarkan hasil hitung chi square sebesar 0,869 dan karena Asymp. Sig. (2- 115 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... sided) lebih besar dari 0,05, maka Ho diterima pada Tabel 3. Dari temuan tersebut dapat sebagaimana hasil pada Tabel 2. Dari temuan dikatakan bahwa ada perbedaan perilaku tersebut dapat dikatakan bahwa tidak ada memilih masyarakat Kecamatan Sukatani perbedaan Kabupaten Bekasi tahun 2012 berdasarkan perilaku memilih masyarakat Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi tahun ajakan tim sukses kandidat. 2012 berdasarkan popularitas orang tua kandidat. Adapun pengaruh ajakan pejabat formal terhadap perilaku memilih masyarakat Sedangkan pengaruh ajakan tim menunjukkan sebanyak 93% responden sukses kandidat terhadap perilaku memilih menyatakan tidak mendasarkan pilihannya masyarakat 82% karena ajakan pejabat formal. Pejabat formal menyatakan tidak dipengaruhi ajakan tim di masyarakat adalah bupati, camat, lurah atau sukses kandidat. Sedangkan sebanyak 17% kepala responden menyatakan diajak oleh tim sukses Kabupaten Bekasi tahun 2012 ini terdapat kandidat dan 1% menyatakan tidak tahu. pasangan petahana, yaitu Sa’duddin sebagai Seperti diketahui bahwa tim sukses kandidat Bupati Bekasi yang berpasangan dengan turut memegang peranan dalam pemenangan Jamal Luail Yunus serta Darip Mulyana kandidat. Tim sukses ini dibentuk dari sebagai relawan-relawan pendukung kandidat serta berpasangan dengan Jejen Sayuti. Dalam tidak konteks ini jabatan formal mereka dapat menunjukkan memiliki jabatan sebanyak formal maupun informal di masyarakat. Untuk mendapatkan output Apalagi Wakil dalam Bupati Pilkada Bekasi yang memberikan instruksi kepada aparatur di kesimpulan bawahnya untuk memilih yang bersangkutan. apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat diperhatikan desa. Chi-Square Tests. Untuk mendapatkan kesimpulan apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak diperhatikan ada Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak perbedaan perilaku pemilih karena output ada tim sukses kandidat. Sedangkan H1 = ada pengaruh klientelisme didasarkan pada ajakan perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh pejabat klientelisme didasarkan pada ajakan tim perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh sukses kandidat. klientelisme didasarkan pada ajakan pejabat formal. perilaku pemilih Tests. pengaruh klientelisme didasarkan pada ajakan Berdasarkan hasil hitung chi square perbedaan Chi-Square Sedangkan H1 karena = ada formal. untuk mengetahui pengaruh ajakan tim sukses Berdasarkan hasil hitung chi square kandidat diperoleh hasil 0,012 dan karena untuk mengetahui pengaruh ajakan pejabat Asymp. Sig. (2-sided) lebih kecil dari 0,05, formal terhadap perilaku memilih masyarakat maka Ho tidak diterima sebagaimana hasil diperoleh nilai sebesar 0,582 dan karena 116 Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 Asymp. Sig. (2-sided) lebih besar dari 0,05, dikatakan bahwa tidak ada perbedaan perilaku maka Ho diterima sebagaimana hasil pada memilih masyarakat Kecamatan Sukatani Tabel 4. Dari temuan tersebut dapat dikatakan Kabupaten Bekasi tahun 2012 berdasarkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku memilih ajakan pejabat informal. masyarakat Kecamatan Sukatani Kabupaten Sedangkan pengaruh ajakan Bekasi tahun 2012 berdasarkan ajakan pejabat kelompok professional seperti kelompok tani, formal. kelompok nelayan, koperasi, organisasi buruh, Terkait dengan pengaruh ajakan dan sebagainya, sebanyak 75% responden pejabat informal terhadap perilaku memilih menyatakan tidak terpengaruh oleh ajakan masyarakat kelompok sebanyak 76% responden professional, sebanyak 22% menyatakan tidak terpengaruh ajakan pejabat responden menyatakan dipengaruhi ajakan informal. Sedangkan sebanyak 21% kelompok professional tersebut, dan sebanyak responden menyatakan dipengaruhi oleh 3% responden menyatakan tidak tahu. ajakan pejabat informal dan hanya 3% Demikian pula ketika ditanyakan apakah menyatakan tidak tahu. Pejabat informal dasar pemberian suara karena hutang budi dalam masyarakat seperti kiai, ulama, ustadz, kepada kandidat dan orang tua kandidat, pendeta, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, seluruh jawaban responden sebesar 100% dan sebagainya. menyatakan tidak. Hal ini menunjukkan Untuk mendapatkan kesimpulan apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat diperhatikan output Chi-Square bahwa responden memiliki sikap yang otonom dalam pemberian suara. Tests. Untuk mendapatkan kesimpulan Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak apakah hipotesis ditolak atau diterima dapat ada diperhatikan perbedaan perilaku pemilih karena output Chi-Square Tests. pengaruh klientelisme didasarkan pada ajakan Hipotesis yang diajukan adalah: Ho = tidak pejabat informal. Sedangkan H1 = ada ada perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh pengaruh klientelisme didasarkan pada ajakan klientelisme didasarkan pada ajakan pejabat kelompok professional. Sedangkan H1 = ada informal. perbedaan perilaku pemilih karena pengaruh Berdasarkan hasil hitung chi square untuk mengetahui pengaruh ajakan pejabat informal terhadap perilaku memilih perbedaan klientelisme perilaku didasarkan pemilih pada karena ajakan kelompok professional. Analisis terhadap pengaruh ajakan masyarakat diperoleh nilai sebesar 0,080 dan kelompok professional terhadap perilaku karena Asymp. Sig. (2-sided) lebih besar dari memilih masyarakat di Kecamatan Sukatani 0,05, maka Ho diterima sebagaimana hasil sebagaimana hasil pada Tabel 6. Berdasarkan pada Tabel 5. Dari temuan tersebut dapat hasil hitung chi square sebesar 0,429 dan 117 Ainur Rofieq, Rahmat Nuryono/ Pengaruh Klientelisme terhadap Perilaku Pemilih Masyarakat Kecamatan... karena Asymp. Sig. (2-sided) lebih besar dari dan pilkada pada penelitian selanjutnya dapat 0,05 maka Ho diterima. Dari temuan tersebut dilakukan dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan variabel pengaruh lainnya, seperti variabel perilaku memilih masyarakat Kecamatan identifikasi Sukatani Kabupaten Bekasi tahun 2012 kandidat, dan sebagainya, serta menggunakan berdasarkan ajakan kelompok professional. metode tertentu yang dapat menjelaskan dengan partai, menambahkan variabel dengan identifikasi mengenai klientelisme. Dalam hal analisa data dapat digunakan analisa regresi untuk dapat Kesimpulan Terdapat beberapa temuan mengenai perilaku pemilih masyarakat memprediksi terjadinya klientelisme. Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi dalam Pilkada Daftar Pustaka Kabupaten Bekasi tahun 2012. Terkait dengan Allen, N. W. (2015). Clientelism and the klientelisme, bahwa faktor pemberian uang personal vote in Indonesia. Electoral sebelum pelaksanaan pilkada, popularitas Studies, 37, 73-85. orang tua, ajakan tim sukses kandidat, ajakan Antunes, R. (2010). Theoretical models of pejabat formal, ajakan pejabat informal dan voting behaviour. Exedra, 4, 145-170. ajakan kelompok berpengaruh professional terhadap perilaku tidak memilih masyarakat Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi. Namun, ketika dianalisis Asfar, M. (2005). Pilkada dan Penciptaan Pemerintahan yang Representatif. dalam Ahmad Nadir. Duverger, M., Dhakidae, D., & Alfian. menggunakan chi square, terdapat perbedaan (2000). di Rajagrafindo Persada (Rajawali Pers): antara faktor-faktor tersebut. Faktor pemberian uang, popularitas orang tua, ajakan Sosiologi politik. Yayasan Ilmu Ilmu Sosial (YIIS). pejabat formal, ajakan pejabat informal, dan Eisenstadt, S. N., & Roniger, L. (1980). ajakan kelompok professional tidak ada Patron—client relations as a model of perbedaan perilaku tersebut. structuring Sebaliknya ajakan kandidat Comparative studies in Society and memilih tim sukses terdapat perbedaan perilaku memilih tersebut. Seperti telah dijelaskan pada bagian awal bahwa penelitian ini memiliki social exchange. History, 22(01), 42-77. Erman, E. (2007). Indikasi Patrimonialisme dan Klientalisme dalam Proses keterbatasan, baik dari segi variabel pengaruh, Pilkada” dalam Syarif Hidayat & Hari variabel kontrol, metode yang digunakan, Susanto (eds) Bisnis dan Politik di teknik analisa data, jumlah sampel, dan Tingkat Lokal: Pengusaha, Penguasa, wilayah penelitian. Oleh sebab itu, untuk lebih dan Penyelenggaraan Pemerintahan memperkaya kajian mengenai klientelisme Daerah pasca Pilkada. Jakarta. 118 Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review 1 (2) (2016) 105-119 Hanif, H. (2009). Politik Klientelisme Baru dan Dilema Demokratisasi Muno, W. (2010, August). Conceptualizing di and measuring clientelism. In Paper Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan to be presented at the workshop on Ilmu Politik, 12(3), 327-351. Neopatrimonialism in Various World Harrison, L. (2007). Metodologi Penelitian Politik. Jakarta: Kencana. Global and Area Studies, Hamburg. Hopkin, J. (2006). Clientelism and party politics (pp. 406-412). Sage. clientelism: Nuraina, Aos Kuswandi, Ainur Rofieq, Atie Dermawati. Hopkin, J. (2006, August). Conceptualizing political Regions, GIGA German Institute of Political (2008). Statistik dan Analisis Gender Kabupaten Bekasi Tahun 2008, Bekasi: Badan exchange and democratic theory. In Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten APSA Annual Meeting Philadelphia, Bekasi USA. Universitas Islam “45” Bekasi. http://humaskabbekasi.wordpress.com/profil- Ghozali, I. dan Pusat (2011). Studi Metode Wanita Penelitian kabupaten-bekasi/ diakses tanggal 18 Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Februari 2013. Bandung, Alfabeta. http://www.republika.co.id/berita/regional/jab odetabek/12/03/20/m16y3q-kalahpilkada-dahsyay-saja-ajukan-gugatanke-mk, diakses tanggal 30 Mei 2012. Imawan, R. Dinamika Pemilih dalam Pemilu 1992” dalam M. Surbakti, R. (1992). Memahami ilmu politik. Grasindo. Taniredja, T., & Mustafidah, H. (2011). Penelitian Kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Sudibjo Wantchekon, L. (2003). Clientelism and (Penyunting). 1995. Pemilihan Umum voting behavior: Evidence from a 1992: Suatu Evaluasi. field experiment in Benin. World Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor politics, 55(03), 399-422. 9/PHPU.D-X/2012 tanggal 10 April 2012. Kerlinger Fred, N. (2006). Asas-Asas Penelitian Behavioral, edisiketiga. 119