Uploaded by User40521

FERMENTASI 193

advertisement
FERMENTASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada proses fermentasi saat memprosesan bahan pangan dengan
mengubah karbohidrat mejadi alkohol dan karbondioksida (asam amoni
organik) dengan menggunakan bakteri dan ragi maupun kombinasi
ketiganya dengan kondisi anaerobik.
Proses fermentasi yang dilakukan pada semua makanan fermentasi
bisa juga dimanfaatkan untuk menyelamatkan makanan dari berbagai
masalah, seperti pembusukan atau basi dan keracunan. Karena
fermentasi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, maka dilakukan
percobaan dalam memproduksi kombucha dan nata yang merupakan
produk fermentasi dari sari buah-buahan.
Pembuatan produk fermentasi pada praktikum ini, digunakan bakteri
Acetobacter xylinum. Produk fermentasi yang dibuat yaitu nata dan
kombucha dari sari pepaya atau Carica papaya L.
Nata merupakan suatu zat yang menyerupai gel, tidak larut dalam air
dan terbentuk pada permukaan media fermentasi air kelapa dan beberapa
sari buah masam. Sedangkan kombucha adalah fermentasi teh
menggunakan campuran kultur bakteri dan khamir sehingga diperoleh
citarasa asam.
Dengan praktikum ini, dapat diketahui bagaimana proses pembuatan
produk fermentasi seperti Nata dan Kombucha dari pepaya atau Carica
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
papaya L. Dengan dilakukannya praktikum ini kita dapat mengetahui
peran bakteri dalam proses fermentasi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada percobaan ini yaitu bagaimana
ketebalan nata yang terbentuk dan range pH pada kombucha terhadap
variasi jumlah starter yang digunakan
C. Maksud Praktikum
Adapun maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan
memahami cara pembuatan produk fermentasi nata dan kombucha dari
sari buah pepaya.
D. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menentukan hasil
produksi fermentasi dan kombucha dengan menggunakan Acetobacter
xylinum menggunakan sari buah pepaya.
E. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari percobaan ini yaitu untuk memberikan
gambaran tentang proses pembuatan produk fermentasi dari buah
pepaya.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Fermentasi adalah suatu proses pengubahan senyawa yang
terkandung di dalam substrat oleh mikroba (kulture) misalkan senyawa
gula menjadi bentuk lain (misalkan selulosa atau Nata de Coco), baik
merupakan proses pemecahan maupun proses pembentukan dalam
situasi aerob maupun anaerob. Jadi proses fermentasi bisa terjadi proses
katabolisme maupun proses anabolisme (Sumanti, 2007).
Tahap akhir dari fermentasi adalah konversi piruvat ke produk
fermentasi akhir. Tahap ini tidak menghasilkan energi tetapi sangat
penting bagi sel anaerobik karena tahap ini meregenerasi nicotinamide
adenine dinucleotide (NAD+), yang diperlukan untuk glikolisis. Ia
diperlukan untuk fungsi sel normal karena glikolisis merupakan satusatunya sumber ATP dalam kondisi anaerobik (Pelczar,2007).
Fermentasi adalah proses penghasil energi utama dari berbagai
mikroorganisme. Mikroorganisme seperti itu disebut anaerob, karena
mereka mampu hidup dan memecah senyawa organik tanpa oksigen.
Beberapa dari organisme tersebut akan mati jika dengan oksigen. Dalam
hal ini mereka disebut anaerob obligat (Sasmitamihardja, 2005).
Fermentasi adalah suatu proses terjadinya perubahan kimia pada
suatu substrat organik melalui aktivitas enzim yang dihasilkan oleh
mikroorganisme. Dalam pengolahan pangan, proses fermentasi dengan
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
menggunakan aktivitas mikroorganisme secara terkontrol ini biasanya
ditujukan untuk meningkatkan keawetan oangan dengan diproduksinya
asam atau alkohol, untuk menghasilkan produk dengan karakateristik rasa
dan aroma yang khas, atau untuk menghasilkan pangan dengan mutu dan
nilai yang lebih baik. Contoh-contoh produk pangan fermentasi ini
bermacam-macam mulai dari produk tradisional (misalnya tempe, tauco,
tape) sampai kepada produk yang modern (misalnya salami dan yoghurt).
Genis mikroorganisme yang berperan antara lain, bakteri pembentukasam
laktat, asam asetat, dan beberapa jenis khamir penghasil alkohol
(Suprihatin, 2010).
Reaksi keseluruhan fermentasi adalah satu molekul glukosa diubah
menjadi dua molekul etanol dan dua molekul karbondioksida. Fermentasi
seperti glikolisis, adalah serangkaian reaksi yang terjadi tanpa oksigen.
Antara proses fermentasi dan proses glikolisis hanya sedikit sekali
perbedaannya, sebagian besar reaksi antara terdapat pada kedua jalur
(Sasmitamihardja, 2005).
Didalam proses fermentasi mikroba yang digunakan didalam proses
fermentasi harus mempunyai sifat fermentatif dan mampu mengubah
karbohidrat didalam pangan maupun senyawa turunannya menjadi
karbondioksida, asam maupun alkohol. Jenis mikroba dibagi menjadi
mikroba lipolitik dan mikroba proteolitik dimana pada mikroba lipolitik akan
menghidrolisis lemak dan senyawa turunannya dan menyebabkan bau
tengik, sedangkan mikroba proteolitik akan memecah protein dan
senyawa nitrogen lainnya dan menghasilkan bau busuk. Bakteri, jamur
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
dan khamir merupakan jenis mikroba yang umum digunakan didalam
proses fermentasi (Winarno, 2000).
Suhu
fermentasi
mempengaruhi
lama
fermentasi
karena
pertumbuhan mikroba dipengaruhi suhu lingkungan fermentasi. Mikroba
memilki kriteria pertumbuhan yang berbeda-bea. Derajat keasaman pH
merupakan salah satu faktor penting yang perlu untuk diperhatikan saat
proses fermentasi karena pH mempengaruhi pertumbuhan bakteri
fermentasi.
Oksigen
mempengaruhi
fermentasi
karena
setiap
mikroorganisme membutuhkan oksigen dalam jumlah yang berbeda
sehingga harus diatur (Sri Rini Dwi Ari, 2008).
Bakteri nata membutuhkan 3 komponen utama untuk berkembang
dengan baik, yakni gula, asam organik dan mineral. Beberapa bahan
dasar nata, seperti air kelapa dan whey tahu, kandungan gulanya rendah
sehingga perlu dutambahkan gula pasir. Tanpa penambahan gula pasir
terkstur nata menjadi kurang tebal (Warisno, 2009).
Kombucha atau dikenal masyarakat Indonesia sebagai jamur teh
atau jamur dipo, adalah fermentasi teh menggunakan campuran kultur
bakteri dan khamir sehingga diperoleh citarasa asam dan terbentuk
lapisan nata. Kombucha telah lama dikenal di berbagai Negara Eropa dan
Jepang. Kombucha dipercaya masyarakat dapat digunakan untuk
mengatasi masalah kesehatan, seperti darah tinggi atau rendah, rematik,
kegemukan, arthritis, migraine, diabetes dan lainnya (Warisno, 2009).
Substrat adalah media pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum,
bentuk cair yang didalamnya mengandung nutrisi yang diperlukan untuk
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
pertumbuhan Acetobacter xylinum di dalam menghasilkan suatu nata
(Elfina, 2009).
B. Uraian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi
: AQUA DESTILATA
Nama lain
: Air suling
Rumus molekul
: H2O
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Pemeriaan
: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau;
Kegunaan
: Sebagai pelarut.
2. Asam Asetat (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: ACIDUM ACETICUM
Nama sinonim
: Asam asetat, Cuka
RM / BM
: CH3COOH / 60,05
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk,
rasa asam, tajam.
Kelarutan
: Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%) P dan dengan gliserol P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
: Sebagai pemberi suasana asam
3. Kalium Fosfat (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: KALII PHOSPAT
Nama sinonim
: Kalium fasfat, Dikalium Hidrogen Fosfat
RM / BM
: K2HPO4 / 122,08
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
Pemerian
: Serbuk hablur, putih
Kelarutan
: Larut dalam air
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
: Sebagai dapar fosfat
4. Magnesium Sulfat (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: MAGNESII SULFAS
Nama sinonim
: Magnesium sulfat, garam inggris
RM / BM
: MgSO4 / 246,47
Pemerian
: Hablur, tidak berwarna, tidak berbau, rasa
dingin, asam pahit, asin dan pahit. Dalam
udara kering dan panas merapuh.
Kelarutan
: Larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut
dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan
: Pengontrol kerja enzim dan pembentuk ikatan
dengan polisakarida.
5. Gula (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: GLUKOSA
Nama sinonim
: Gula
RM / BM
: C6H12O6 / 342,20
Pemerian
: Hablur tidak berwarna atau massa hablur,
atau serbuk warna putih, tidak berbau atau
rasa manis.
Kelarutan
: Larut dalam 0,5 bagian air dan dalam 370
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
bagian etanol (95%) P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan
: Sebagai penetralisir keasaman
6. Urea (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi
: UREUM P
Nama sinonim
: Urea
RM / BM
: Co(NH2) / 60,06
Pemerian
: Hablur prismatik, transparan, tidak berwarna,
tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa
dingin dan asin. Agak higroskopik.
Kelarutan
: Larut dalam 1 bagian air dan dalam 12 bagian
etanol (95%) P, larut dalam 1,5 bagian etanol
(95%) P mendidih
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan
: Sebagai penghasil nitrogen yang
berpengaruh terhadap ketebalan nata.
C. Uraian Mikroba
Acetobacter xylinum
a. Klasifikasi (itis.gov)
Domain
: Bacteria
Phylum
: Proteobacter
Class
: Alphaproteobacteria
Ordo
: Rhodospirillales
Familia
: Acetobacteraceae
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
Genus
: Acetobacter
Spesies
: Acetobacter xylinum
b. Morfologi (Munawar, 2009)
Sel berupa batang lurus, kadang-kadang serupa bola.
Bergerak dengan flagel yang terdapat pada ujung, jumlah flagel
lebih dari satu. Beberapa spesies tidak bergerak. Tergolong gram
positif. Habitat di air tawar atau tanah dan air laut. Banyak spesies
hidup sebagai parasit pada tanaman, tidak begitu banyak pada
hewan. Acetobacter merupakan bakteri penghasil asam cuka.
D. Uraian Sampel
Buah Pepaya
a. Klasifikasi (itis.gov)
Kingdom
: Plantae
Sub Kingdom
: Viridiplantae
Infra kingdom
: Streptophyta
Super divisi
: Embryophyta
Divisi
: Tracheophyta
Sub divisi
: Spermatophtina
Kelas
: Magnoliopsida
Super Ordo
: Rosanae
Ordo
: Brassicales
Famili
: Caricaceae
Genus
: Carica L
Spesies
: Carica papaya L.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
b. Morfologi (Rukmana, 2003)
Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang
sedikit, tumbuh hingga setinggi 5-10 m dengan daun-daunnya yang
bentuk susunanya berupa spiral pada batang pohon bagian atas.
Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang
di bagian tengah. Bentuk buah bulat hingga memanjang, dengan
ujung biasanya meruncing. Warna buah ketika muda hijau gelap,
dan setelah masak hijau muda hingga kuning. Daging buah berasal
dari carpela yang menebal, berwarna kuning hingga merah
jingga.Bagian tengah buah berongga. Biji-biji berwarna hitam atau
kehitaman dan terbungkus semacam lapisan berlendir (pulp) untuk
mencegahnya dari kekeringan.
D. Prosedur Kerja (Rusli, 2019)
1. Proses pembuatan nata de coco
a. Air kelapa yang masih segar disaring dengan beberapa lapis kain
kasa, kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar
sambil diaduk-aduk. Setelah mendididh, ditambahkan asam asetat
glasial (10 mL asam asetat untuk setiap 1 L air kelapa). Campuran
ini diaduk sampai gula larut. Larutan ini disebut dengan air kelapa
asam bergula.
b. Urea (sebanyak 5 g urea untuk setiap 1 L air kelapa asam bergula
yang disiapkan) dilarutkan dalam sedikit air kelapa yang telah
dimasak (setiap 1 g urea membutuhkan 20 mL air kelapa). Larutan
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
ini dididihkan, kemudian dituangkan kedalam air kelapa asam
bergula. Larutan yang diperoleh disebut sebagai media nata.
c. Media nata ini ditambah dengan starter (setiap 1 mL media nata
membutuhkan 50-100 mL starter) dan kemudian dipindahkan
kedalam wadah-wadah fermentasi dengan ketinggian media 4 cm.
Wadah ditutup dengan kertas yang telah dipanaskan dalam oven
pada suhu 140o C selama 2 jam. Wadah berisi media ini disimpan
diruang fermentasi selama 12-15 hari sampai terbentuk lapisan nata
yang cukup tebal (1,5 - 2,0 cm).
d. Panen dan pencucian
Lapisan nata diangkat kemudian dicuci dengan air bersih. Setelah itu
nata direndam didalam air mengalir atau air yang diganti-ganti
dengan air segar selama 3 hari. Setelah itu nata di potong-potong
dengan panjang 1,5 cm dan lebar 1,5 cm. Potongan nata direbus 510 menit, kemudian dicuci dan direbus lagi selama 10 menit. Hal ini
diulangi sampai nata tidak berbau dan tidak berasa asam lagi.
2. Cara pembuatan kombucha
Dibuat minuman teh biasa : air + teh 2 sendok didihkan 15 menit.
Kemudian disaring teh dan di didinginkan. Ditambahkan 10% gula dan
aduk sampai larut. Dimasukkan wadah yang bersih. Setelah teh dingin,
ditambahkan kultur yang berbentuk padat dan cairan induk sebanyak
10%. Cairan dan padatan ini berasal dari fermentasi sebelumnya.
Diinkubasi 1-2 minggu. Setelah fermentasi selesai, disaring hasil teh
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
fermentasi. Dimasukkan dalam botol yang bersih dan steril. Setelah itu
diisi sesuai volume pasteurisasi dan siap dipasarkan.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
BAB III
METODE KERJA
A. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu autoklaf,
batang pengaduk, blender, botol selai, gelas kimia, gelas ukur, kain kasa,
kain saring, kertas timbang, kompor gas, lampu spirtus, mistar, pita warna
kuning, spoit, tabung reaksi, dan timbangan analitik,
B. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu aluminium
foil, aquadest, asam asetat, benang godam, bibit cairan 2 %, buah
pepaya,
gula pasir, K2HPO4,
MgSO4, potongan folikel kombucha
2,5%,starter 5%,10%,dan 15% dan urea.
C. Cara Kerja
1. Pembuatan Nata
Disiapkan alat dan bahan, kemudian dibuat sari buah pepaya
dengan cara potong kecil-kecil buah pepaya lalu diblender dan disaring,
masukkan dalam gelas kimia sebanyak 500 ml. Setelah itu disaring
menggunakan corong buchner, sari pepaya dipanaskan hingga
mendidih lalu ditambahkan K2HPO4, MgSO4, dan gula pasir. Kemudian
dituangkan ke dalam 3 botol selai masing-masing dan didinginkan,
setelah dingin masukkan starter 5%, 10%, dan 15%, ditutup dengan
kain kasa dan diinkubasi selama 14 hari dan dilakukan pengamatan.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
Setelah 14 hari dilakukan pemanen nata diukur ketebalan nata yang
terbentuk.
2. Pembuatan Kombucha
Disiapkan alat dan bahan. Kemudian dibuat sari buah pepaya
dengan cara potong kecil buah pepaya lalu diblender dan disaring
kemudian masukkan ke dalam gelas kimia 500 mL sari buah pepaya,
lalu direbus sari buah pepaya kembali dengan bahan tambahan yaitu
gula 10 gr. Setelah itu dimasukkan kedalam 2 botol selai dan dinginkan.
Setelah itu ditambahkan folikel botol selai 1 tambahkan kombucha 2,5%
b/v dan bibit cairan 2%, dan botol selai ke 2 tidak ditambahkan folikel.
Terakhir ditutup dengan kain kasa dan diinkubasi selama 14 hari.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
BAB IV
KAJIAN PRAKTIKUM
A. Tabel Hasil Pengamatan
a. Data pengamatan nata
Berat nata
Sampel
Starter 5%
Starter 10 %
Starter 15 %
-
-
-
Sari
Pepaya
b. Data pengamatan kombucha
Berat kombucha
Sampel
Sari
Pepaya
Berat Folikel
Ph Cairan
Folikel (-)
3,5
Non Folikel (-)
3,6
B. Pembahasan
Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi
anaerobik,
akan
tetapi
terdapat
definisi
yang
lebih
jelas
yang
mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik
dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Teh kombucha merupakan hasil teh fermentasi yang mempunyai
manfaat untuk kesehatan. Kombucha dapat meningkatkan proses oksidasi
sel yang sehat secara alamiah. Manfaat dari minum kombucha setiap hari
bagi seseorang adalah bahwa akan terjadi efek penetralan asam serta
membersihkan dan menawarkan racun, selain itu juga melawan kanker.
Kelebihan minuman tersebut terletak pada kemampuannya untuk
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
mengembalikan sistem kekebalan tubuh kepada ketangguhan alami yang
asli.
Nata berasal dari bahasa spanyol yang artinya terapung. Ini sesuai
dengan sifatnya yaitu sejak diamati dari proses awal terbentuknya nata
merupakan suatu lapisan tipis yang terapung pada permukaan yang
semakin lama akan semakin tebal.
Starter atau biakan mikroba merupakan suatu bahan yang paling
penting dalam pembentukan nata. Sebagai starter digunakan biakan
murni dari Acetobacter xylinum. Bakteri ini secara alami dapat ditemukan
pada sari tanaman bergula yang telah mengalami fermentasi atau pada
sayuran dan buah-buahan bergula yang sudah membusuk.
Adapun fungsi dari setiap bahan yaitu strarter yang didalamnya
terdapat
ekstrak
beef
dan
air
kelapa
berfungsi
sebagai
media
pertumbuhan dan sumber nutrisi dari bakteri Acetobacter xylinum. MgSO4
berfungsi sebagai sumber sulfat. Asam asetat glasial digunakan untuk
memberi suasana asam pada medium. Karena bakteri Azetobacter
xylinum hanya dapat hidup pada daerah dengan kondisi lingkungan yang
asam. K2HPO4 yang berfungsi sebagai dapar fosfat. Urea berfungsi
sebagai sumber nitrogen dan gula dibutuhkan oleh bakteri sebagai
sumber karbon.
Menurut Hoffman bahwa sukrosa yang digunakan pada kombucha
tidak berfungsi sebagai pemanis melainkan sebagai sumber energi bagi
khamir dan bakteri untuk tetap bertahan hidup melalui proses fermentasi
dan respirasi. Khamir dan bakteri kombucha mendapatkan energi dengan
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
memecah ikatan-ikatan gula menjadi ATP. Selama proses fermentasi,
gula akan terurai menjadi gas, asam organik dan komponen lainnya.
Pada saat hari ke-14 diperoleh lapisan nata untuk ketiga starter 5%,
10% dan 15% adalah tidak ada terbentuk lapisan nata pada sampel.
Alasannya adalah buah papaya kurang mengandung air di dalam buahnya
menyebabkan nata sulit untuk terbentuk. Starter digunakan karena starter
merupakan sumber bakteri yang membentuk nata, yaitu Acetobacter
xilynum. Acetobacter xilynum adalah bakteri gram negative yang dapat
membantu proses fermentasi nata dengan cara mengubah glukosa
menjadi selulosa.
Untuk hasil kombucha pada hari ke-14 diperoleh hasil praktikum,
juga tidak didapatkan hasil hanya saja pH pada kombucha non folikel
adalah 3,6 dengan suhu 28,5˚C sedangkan pada kombucha folikel pH nya
adalah 3,5 dengan suhu pada kombucha tersebut adalah 28,3˚C.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum pembuatan nata yaitu tidak ada
terbentuk nata pada ketiga botol sampel yang telah dibuat Sedangkan
untuk pembuatan kombucha adalah kombucha yang dibuat dengan
menggunakan folikel pH 3,5 dengan suhu 28,3˚C dan non folikel yaitu pH
3,6 dengan suhu 28,5˚C.
B. Saran
Saran saya sebaiknya praktikan lebih teliti dan berhati-hati saat
praktikum dan asisten tetap membantu dan membimbing praktikan saat
melakukan praktikum dengan baik
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
DAFTAR PUSTAKA
Rusli, 2019, Penuntun Mikrobiologi Dasar Farmasi, Universitas Muslim
Indonesia, Makassar.
Dirjen POM 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Elfina, 2009, Membuat Nata de Coco,
Pustaka
Media,
Jakarta.
Garrity, M. G. 2004. Taxonomic Outline of the Prolcargotes Bergeys
Marvel of Systemic Bacteriology. Second Edition. New York.
Pelczar, 2007,Dasar – Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Sasmitaraharja dan Arbasyah Siregar, 2005, Fisiologi Tumbuhan,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung.
Sri Rini Dwi Ari, dkk, 2008, Teknologi Pangan Jilid 1, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional.
Suprihatin, 2010,
Surabaya.
Teknologi
Fermentasi, UNESA Pres,
Warisno, 2009, Inspirasi Usaha Membuat Aneka Nata, Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Winarno, F.G. 2001. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
www.itis.gov, 2019, diakses pada tanggal 15 Desember 2019.
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
LAMPIRAN
A. Gambar hasil pengamatan nata
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
FERMENTASI
Saripa Indira S. Latuconsina
15020180193
Ayyub H
Download