Uploaded by Dian Yulia Puspita Sari

PINANG

advertisement
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
3.1.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek
atau subjek yang mempunyai kualias dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2012).
Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah Tanaman
Biji Pinang (Areca catechu L.), MCT (Medium Chain Triglyserida),
dan jamur Candida albicans yang diperoleh dari Laboratorium
Mikrobiologi STF YPIB Cirebon.
3.1.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri – ciri
atau keadaan tertentu yang akan diteliti (Ridwan,2010). Dalam
penelitian ini, sampel yang digunakan adalah Biji Pinang (Areca
catechu L.) dan MCT (Medium Chain Triglyceride) yang diperoleh
dari Okusi Biotech Asia dan jamur yang digunakan adalah Candida
albicans yang diremajakan selama 2×24 jam.
3.1.3 Variabel Penelitian
Variabel merupakan objek yang terdapat dalam penelitian
yang saling berkaitan dan memiliki sifat-sifat tertentu. Variabel
terdiri dari variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol (Sugiyono, 2012).
a.
Variabel Bebas
Merupakan variabel yang bersifat mempengaruhi atau
menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat
(Sugiyono, 2012). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca catechu L.) dengan
konsentrasi %, %, % dan MCT (Medium Chain Triglyceride)
dengan konsentrasi %, %, %.
b.
Variabel Terikat
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau variabel yang
terjadi akibat variabel bebas (Sugiyono, 2012). Variabel terikat
dalam penelitian ini adalah aktivitas ovula kombinasi ekstrak biji
pinang
(Areca
catechu
L.)
dan
MCT
Triglyceride) terhadap pertumbuhan jamur
(Medium
Chain
Candida albicans
yang ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar lubang
sumuran dalam satuan cm.
c.
Variabel Kontrol
Merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat dalam
keadaan konstan (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini terdapat
dua variabel kontrol, yaitu :
a.
Kontrol positif adalah variabel kendali positif sebagai
pembanding yang berkaitan dengan variabel bebas. Yang
menjadi kontrol positif dalam penelitian ini adalah nystatin
ovula.
b.
Kontrol negatif adalah variabel kendali negatif yang
digunakan sebagai variabel netral. Yang menjadi kontrol
negatif dalam penelitian ini adalah basis ovula.
3.1.4
Desain Operasional
Desain operasional variabel sebagai berikut :
X1
X2
X3
Y
K+
KBagan 3.1 Desain Operasional
Keterangan :
X1
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca catechu
L.) dan MCT
(Medium Chain Triglyceride)
konsentrasi %
X2
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca catechu
L.)
dan
MCT
konsentrasi %
(Medium
Chain
Triglyceride)
X3
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca catechu
L.) dan MCT
(Medium Chain Triglyceride)
konsentrasi %
K+
: Nystatin ovula (kontrol positif)
K-
: Basis ovula (Kontrol Negatif)
Y
: Aktivitas antijamur ovula kombinasi ekstrak biji
pinang (Areca catechu L.) dan MCT (Medium Chain
Triglyceride) terhadap Candida albicans.
3.2
Metode Penelitian
Metode penelitianini yang digunakan adalah penelitian eksperimen.
Jenis penelitian ini digunakan untuk melakukan suatu percobaan yang
bertujuan untuk mengetahui suatu pengaruh yang timbul terhadap variabel
bebas eksperimen (Sugiyono, 2012).
3.3 Desain Penelitian
Determinasi
Sterilisasi alat dan bahan
Pengumpulan Bahan
Pembuatan Nutrien Agar
Ekstak biji pinang (Areca catechu L.)
dengan cara maserasi
Peremajaan biakan
murni jamur Candida
albicans
Skrining Fitokimia
Formulasi ovula Kombinasi ekstrak biji pinang (Areca
catechu L.) dan MCT (Medium Chain Triglyceride)
Uji evaluasi sediaan
Uji stabilitas sediaan
Uji Organoleptik
Uji Aktivitas Antijamur Ovula
Kombinasi ekstrak biji pinang
(Areca catechu L.) dan MCT
(Medium Chain Triglyceride)
Uji Ph
Mengukur Diameter Zona
Bening
Uji Keseragaman Bobot
Uji Waktu Hancur
Uji Titik Leleh
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Penyajian Data
Kesimpulan
Gambar 3.2. Desain Penelitian
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Alat-alat penelitian
Tabel 3.1 Alat –alat penelitian
No
Jenis alat
Nama Alat
Alat untuk membuat simplisia biji Timbangan/ neraca
1.
pinang (Areca catechu L.)
Kain hitam
Nampan
Alat untuk membuat ekstrak biji pinang Maserator
2
(Areca catechu L.)
Kain flanel
Kertas Saring
Batang Pengaduk
Corong kaca
Beaker glass
Pembakar spiritus
Water bath
Cawan penguap
3
Alat yang digunakan untuk sterilisasi
Autoklaf
Bunsen
4
Alat untuk pembiakan dan penanaman Tabung reaksi
jamur Candida albicans
Cawan petri
Erlenmeyer
Batang pengaduk
Jarum ose
Spuit/ jarum suntik 1cc
Rak
Pembakar spiritus
Kaki tiga + Kassa asbes
Korek api
5
Alat untuk membuat sumuran
Perforator
6
Alat untuk membuat sediaan ovula
Timbangan/ neraca
Mortir + Stamper + sudip
Alumunium Foil
Alat Cetak Ovula
7
Alat untuk mengukur zona hambat
Jangka Sorong
8
Pembuatan media agar miring
Erlenmeyer
Bunsen
Kaki tiga
Kassa asbes
Batang pengaduk
Tabung reaksi
Gelas ukur
Timbangan digital
Perkamen
Erlenmeyer
Kaki tiga
Bunsen
Kassa asbes
Batang pengaduk
Cawan petri
Timbangan digital
9
Inokulasi media pembenihan dengan Cawan petri
mikroba dan larutan uji (uji aktivitas Pipet mikro
antijamur.
Inkubator
Kassa asbes
Lampu spiritus
Perforator
10
Alat Tambahan
Sarung Tangan
Pinset
Objek kaca
Masker
Lap
Perkamen
3.5.2 Bahan-bahan penelitian
Tabel 3.2 Bahan-bahan penelitian
No
1
2
Jenis Bahan
Nama Bahan
Bahan untuk membuat ekstrak Biji Simplisia ekstrak Biji Pinang
Pinang (Areca catechu L.)
(Areca catechu L.)
Bahan untuk ovula
Ekstrak Biji Pinang (Areca
catechu L.)
MCT
(Medium
Triglyceride)
3
Bahan untuk pembiakan jamur (agar NA (Nutrient agar)
miring)
4
Aquadest
Bahan untuk pembuatan agar cawan NA (Nutrient agar)
petri
Aquadest
5
Jamur uji
Candida albicans
6
Cairan pensuspensi jamur
NaCL
7
Kontrol positif
Nistatin ovula
8
Basis
PEG 400
PEG 4000
Chain
3.4
Desain Eksperimen
X1
-
X
+
X
X2
X-
-
X
X
X2
X3
Cawan petri II
X1
X3
Cawan petri III
X1
X+
X2
X+
+
X2
X3
Cawan petri I
X-
X1
X1
X3
Cawan petri IV
X+
-
X
X2
X3
Cawan petri V
Gambar 3.3 Desain Eksperimen
Desain penelitian ini terdiri dari 6 cawan petri yang didalamnya terdapat 5
buah sumuran dengan keterangans ebagai berikut:
X1
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.) dan
MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
X2
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.) dan
MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
X3
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.) dan
MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
K+
: Nystatin ovula (kontrol positif)
K-
: Basis ovula (Kontrol Negatif)
3.6 Langkah-langkah penelitian
3.6.1 Determinasi Tanaman Biji Pinang
1.
Determinasi tanaman dilakukan dengan mempersamakan sifat
morfologi tumbuhan. Diantaranya bentuk, jumlah, ukuran, buah,
bagian-bagian bungan dan lain-lain.
2.
Membandingkan atau mempersamakan ciri-ciri tumbuhan yang
diteliti dengan tumbuhan lain yang sudah dikenal identitasnya.
3.
Determinasi dilakukan di Laboratorium Sekolah Tinggi Farmasi
YPIB Cirebon dengan menggunakan buku flora.
3.6.2 Pengumpulan Bahan
1. Biji pinang yang digunakan diambil di daerah
2. MCT (Medium Chain Triglyceride) yang digunakan berasal dari
bahan baku minyak kelapa yang diperoleh dari Okusi Biotech Asia.
3. jamur Candida albicans didapatkan dari Laboraturium STF YPIB
Cirebon.
3.6.3 Pembuatan Simplisia
Pembuatan simplisia kering dilakukan dari bahan segar biji pinang
(Areca catechu L.) dengan tahapan sebagai berikut :
1. Ambil biji pinang (Areca catechu L.) segar dengan ciri-ciri
bewarna hijau tua keorenan.
2. Dikupas kulit buah dari biji.
3. Biji pinang (Areca catechu L.) dicuci bersih dibawah air mengalir
kemudian ditiriskan.
4. Ditimbang berat basah
5. Kemudian lakukan pengeringan di lemari pengering pada suhu 40°
– 50° C. Biji pinang yang telah kering ditandai dengan rapuh saat
dipatahkan dan mempunyai berat konstan.
6. Biji Pinang (Areca catechu L.) yang sudah kering diblender halus,
kemudian diayak dengan ayakan 40 mesh.
7. Hitung berat serbuk kering yang dihasilkan.
8. Hitung rendemen serbuk biji pinang yang dihasilkan
Rendemen
3.6.4
Pembuatan Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu L.) ( Farmakope
edisi III)
1. Masukkan 10 bagian serbuk simplisia pinang di masukkan ke dalam
bejana (100g serbuk biji pinang).
2. Tuangi 75 bagian cairan penyari (etanol 70% sebanyak 750 ml)
kedalam maserator.
3. Tutup, biarkan 5 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk.
4. Serkai, peras, cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga
diperoleh 100 bagian.
5. Lalu diuapkan dengan penangas air hingga diperoleh ekstrak kental
biji pinang.
6. Timbang ekstrak kental yang dihasilkan.
7. Hitung rendemen ekstrak biji pinang yang dihasilkan.
3.6.5 Skrining Fitokimia Zat Aktif Ekstrak Kental Biji Pinang
1. Uji Tanin
10 tetes ekstrak pinang dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditetesi dengan 3 tetes larutan FeCL3 0,1 N, bila ampel
tersebut berubah warna menjadi hijau-biru kehitaman maka
menunjukkan positif mengangandung tanin.
2. Uji Alkaloid
10 tetes ekstrak pinang ditambahkan mayer LP, bila terbentuk
endapan warna putih atau kuning larut dalam methanol maka
menunjukkan positif mengandung alkaloid.
3. Uji Saponin
Sebanyak 0,5 g sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan kemudian
dikocok kuat-kuat selama 10 detik, timbul busa yangmantap tidak
kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm, ditambahkan 1 tetes asam
klorida 2N, bila buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin
(Depkes RI, 1995).
4. Uji Flavonoid
10 tetes ekstrak biji pinang dimasukkan kedalam tabung reaksi
ditambahkan 100 mg serbuk Mg, tambahkan 1 ml larutan HCl
pekat. Hasil positif jika terbentuk warna jingga sampai merah ungu.
3.6.2 Pembuatan Formulasi Sediaan Ovula
Pembuatan Ovula pada penelitian ini menggunakan basis
formula standar
Ovula dengan beberapa variasi perbandingan
konsentrasi asam laktat dan MCT .
Tabel 3.3. Formula Sediaan Ovula Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu L.)
Dan MCT (Medium Chain Triglyceride)
Bahan
F0
F1
F2
F3
Fungsi
Anti jamur
Ekstrak Biji
Pinang (Areca
catechu L.)
Bahan dasar ovula
MCT (Medium
Chain
Triglyceride)
PEG 400
Bahan dasar ovula
PEG 4000
Basis ovula
Basis ovula
Total
Keterangan : F0
F1
: Kontrol negatif
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.)
dan MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
F2
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.)
dan MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
F3
: Ovula kombinasi ekstrak biji pinang (Areca Catechu L.)
dan MCT (Medium Chain Triglyceride) konsentrasi %
Cara kerja :
1. Timbang masing-masing bahan.
2. Meleburkan PEG 4000 dengan suhu 70°c.
3. Kemudian menambahkan PEG 400 kedalam mortir panas gerus
hingga homogen.
4. Tambahkan ekstrak biji pinang (Areca catechu L.) dan MCT
(Medium Chain Triglyceride) sesuai dengan ukuran gerus
halus hingga homogen.
5. Setelah bercampur hingga homogen, campuran dituangkan ke
dalam cetakan dan dimasukkan kedalam lemari pendingin (8°C)
sampai membeku.
6. Kemudian dikeluarkan
dari cetakan dan
dikemas
dengan
menggunakan aluminium foil.
3.6.3 Uji Evaluasi Ovula
a. Uji Organoleptik
Pada uji organoleptik sediaan yang diamati meliputi bau,
warna, dan bentuk dari ovula.
b. Uji pH
Uji pH dilakukan dengan mengambil satu ovula kombinasi
MCT dan Asam laktat diletakkan diatas cawan penguap lalu
dilelehkan di atas penangas lalu diukur dengan menggunakan pH
meter, pH vagina yang bersifat asam (pH 3,4 – 4,5) (Kale,2005).
c.
Uji Keseragaman Bobit
Uji keseragaman bobot dilakukan dengan cara menimbang
10 ovula untuk setiap formula. Hitung penyimpangan bobot
relative dari ovula yang dibuat. Bobot terletak diantara rentang
85% - 115% dari 5000 mg dan simpangan baku kurang dari 6%
SDR (Anonim, 1995).
d. Uji Waktu Hancur
Uji waktu hancur ovula dilakukan dengan prosedur
meletakan enam ovula pada alat disintegran tester dalam wadah
berisi 500 ml air yang bersuhu 36 - 37°C, Kemudian mesin
dihidupkan dan alat akan naik turun sampai seluruh ovula melebur
sempurna. Ovula dinyatakan hancur sempurna bila terlarut
sempurna atau terdispersi menjadi komponen, bagian basis akan
terlarut dalam medium air, karena PEG yang larut dalam air.
Bagian serbuk yang tidak larut berada di dasar atau terlarut atau
menjadi lunak, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan ovula
tidak lebih dari 60 menit untuk ovula dengan dasar larut dalam air
(Aninim, 1979).
e. Uji Titik leleh
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu
yang dibutuhkan sediaan ovula yang dibuat melebur dalam tubuh.
Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan suhu ±37°C.
Kemudian dimasukkan ovula ke dalam air dan diamati waktu
leburnya. Untuk basis oleum cacao dingin persyaratan leburnya 3
menit, sedangkan untuk PEG adalah kurang dari 60 menit.
3.6.4 Uji Stabilitas Sediaan Ovula
Sampel ovula kombinasi MCT dan Asam laktat dengan konsentra
%, %, % disimpan pada suhu 0°C, 25°C, dan 40°C diamati pada hari
ke 7,14,21,28 hari, spesifikasi sediaan adalah stabil dalam berbagai
suhu tanpa ada perubahan organoleptis, pH, waktu hancur,
keseragaman bobot dan titik leleh.
3.6.5 Uji Aktivitas Antijamur
1. Sterilisasi Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan dalam penelitian ini harus disterilisasi,
untuk
peralatan
dicuci
bersih
terlebih
dahulu
dengan
menggunakan detergen dan di lap sampai kering.
b. Kemudian dibungkus dengan kertas coklat dan diikat, lalu
dimasukkan kedalam autoklaf.
c. Selanjutnya autoklaf dinyalakan dengan suhu 121°C selama 5
menit, dan dijaga supaya tekanan tetap konsta.
d. Setelah peralatan disimpan dalam lemari sedangkan untuk alatalat yang tidak tahan panas disterilisasi dengan alkohol 70%
selama 5 menit
2. Perhitungan Pembuatan Media Agar Untuk Cawan Petri dan
Media Agar Miring
Tabel 3.4 Formula Media Agar Cawan Petri
No
Nama Bahan
Jumlah
Agar cawan petri
(1 cawan)
(5 cawan)
1.
Nutrien Agar
1 gram
5 gram
2
Sukrosa
0,25 gram
1,25 gram
3.
Aquadest
17 ml
85 ml
Tabel 3.5 Formula Media Agar Miring
No
Nama Bahan
Jumlah
Agar Miring
(1 cawan)
(3 tabung reaksi @5ml)
1.
Nutrien Agar
1 gram
5 gram
2
Sukrosaa
0,25 gram
1,25 gram
3.
Aquadest
17 ml
17 Ml
3. Cara Pembuatan Media Agar Untuk Cawan Petri
a. Menimbang nutrient agar sebanyak 5 gram.
b. Menimbang sukrosa sebanyak 1,25 gram.
c. Menambahkan aquadest sebanyak 85 ml dalam labu ukur aduk
hingga larut.
d. Memanaskan nutrient agar dan sukrosa hingga larut (terlihat
jernih) dan homogen dengan sesekali diaduk.
e. Menyumbat mulut erlenmeyerdengan kapas dan masukkan
kedalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.
f. Dibuat untuk 5 cawan masing-masing @17ml.
g. Semua perlakuan dilakukan secara aseptis.
4. Cara Pembuatan media agar miring
a. Menimbang nutrient agar sebanyak 1 gram.
b. Menimbang sukrosa sebanyak 0,25 gram.
c. Menambahkan aquadest sebanyak 17 ml kedalam labu
erlemeyer, lalu aduk hingga larut.
d. Memanaskan hingga sukrosa dan NA larut sempurna (terlihat
jernih) dan homogen sambil sesekali diaduk.
e. Menuangkan kedalam 3 tabung reaksi masing-masing @5 ml.
f. Kemudian sumbat mulut tabung reaksi dengan kassa steril.
g. Sterilkan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 1210C
selama 15 menit.
h. Angkat dari autoklaf, miringkan tabung reaksi biarkan hingga
memadat.
i. Semua perlakuan dilakukan secara aseptis.
5. Pembiakan jamur Candida albicans
a.
Peremajaan biakan murni jamur Candida albicans dilakukan
dengan cara:
1. Biakan murni jamur Candida albicans digoreskan dengan
jarum ose yang terlebih dahulu di flambir sampai ujung
jarum menjadi pijir.
2. Menentukan biakan jamur Candida albicans pada media
agar miring membentuk zig-zag dimulai dari dasar tabung.
3. Kemudian tutup kembali tabung dengan kapas dan kassa
steril. Inkubasi pada suhu 35-370C selama 18-24 jam.
Semua kegiatan dilakukan secara aseptis.
b.
Pembuatan suspensi biakan jamur Candida albicans
Biakan Candida albicans yang telah diinkubasi dengan
larutan 10 ml NaCL 0,9% steril dengan spuit 1cc
disuspensikan kedalam tabung reaksi digoyang-goyangkan
beberapa saat hingga tersuspensi sempurna.
6.
Kesetaraan Mc.Farland
Standar kekeruhan Mc.Farland berupa larutan yang dibuat
dari suspensi Barium sulfat berskala dari 1 samapai 10, yang
menjelaskan konsentrasi spesifik dari mikroba per-ml. Ini di
desain untuk mengestimasi konsentrasi mikroba. Kekeruhan
larutan mikroba pada tiap tube kurang lebih sesuai dengan nomor
skala Mc.Farland. Untuk menentukan perkiraan populasi dari
sebuah suspensi mikroba, kekeruhan secara visual dapat
dibandingkan dengan atu set larutan standar Mc.Farland.
Cara
membuat
larutan
standar
Mc.Farland
dengan
menggunakan standar Barium sulfat yaitu dengan mencampurkan
Barium sulfat 1,175% dengan larutan asam sulfat 1% disimpan
pada tabung reaksi yang telah diberi tanda dengan perbandingan
sesuai pada tabel 3.6
formulasi pembuatan larutan standar
Mc.Farland. Kemudian tabung ditutup rapat dan disimpan pada
suhu ruang di tempat gelap. Larutan ini akan stabil paling tidak 6
bulan. Untuk menggunakannya kocok tabung beberapa kali untuk
mensuspensi ulang endapan Bariumsulfat
Tabel 3.6 Kesetaraan Mc.Farland
Skala
CFU (108/ml)
1% BaCL₂/ 1% H₂S0₄
0.5
150
0,05 / 9,95
1
300
0,1 / 9,9
2
600
0,2 / 9,8
3
900
0,3 / 9,7
4
1200
0,4 / 9,6
5
1500
0,5 / 9,5
6
1800
0,6 / 9,4
7
2100
0,7 / 9,3
8
2400
0,8 / 9,2
9
2700
0,9 / 9,1
10
3000
0,10 / 9,0
7.
Uji Aktivitas Antijamur Ovula Kombinasi Asam Laktat dan
MCT
Pengujian aktivitas antijamur ovula kombinasi asam laktat
dan MCT dilakukan secara aseptis, sebagai berikut :
a. Menandai bagian bawah cawan petri sesuai dengan substansi
yang digunakan .
b. Menuangkan larutan NA yang sudah disterilkan kedalam 5
cawan petri.
c. Memasukkan suspensi jamur Candida albicans kedalam cawan
sebanyak 0,3 ml menggunakan spuit 1 cc kedalam masingmasing cawan petri.
d. Goyang-goyangkan agar suspensi menyebar dan homogen,
biarkan uap keluar pada suhu kamar agar terbebas dari air
kondensasi dan sampai padat.
e. Selanjutnya media NA dilubangi dengan perforator yang
berukuran 0,6 mm sebanyak 5 lubang untuk masing-masing
cawan. Dilakukan secara aseptis dan jarak diatur sedemikian
rupa hingga satu sumuran dengan sumuran lainnya berjauhan.
f. Memasukan ovula kombinasi asam laktat dan MCT dengan
konsentrasi ( %, % dan %) dan bahan pembanding (kontrol
positif dan kontrol negatif) sebanyak 0,3 ml. Sumuran 1 untuk
ovula kombinasi Asam laktat dan MCT dengan konsentrasi %.
Sumuran 2 untuk ovula kombinasi Asam laktat dan MCT
dengan konsentrasi %. Sumuran 3 untuk ovula kombinasi Asam
laktat dan MCT dengan konsentrasi %. Sumuran 4 untuk ovula
nystatin sebagai pebanding (kontrol positif). Sumuran 5 untuk
basis ovula sebagai pembanding (kontrol negatif).
g. Diinkubasikan selama 2×24 jam.
h. Mengukur zona bening yang dihasilkan setiap sumuran
menggunakan jangka sorong.
i. Mengevaluasi aktivitas antijamur ovula kombinasi sam laktat
dan MCT.
3.7 Sumber Data dan Pengumpulan Data
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini dibagi menjadi 2
bagian yaitu :
1.
Sumber data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek yang
diteliti. Dalam penelitian ini data primer yang diperoleh hasil penelitian
langsung yang digunakan di Laboratorium STF YPIB Cirebon dengan
menguji aktivitas antijamur ovula kombinasi Asam laktat dan MCT
terhadap Candida albicans.
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dalambentuk data yang
sudah jadi. Seperti dalam dokumen dan publikasi. Adapun sumber data
yang diperoleh penulis yaitu didapatkan dari berbagai macam pustaka dan
jurnal penelitian ilmiah yang berhubungan dengan antijamur ovula
kombinasi Asam laktat dan MCT terhadap Candida albicans. Alat yang
digunakan untuk mengatur diameter zona bening yang merupakan sumber
data dalam penelitian adalah jangka sorong atau alat ukur lainnya.
Teknik pengukuran diameter (d) yaitu :
V
D
H
Gambar 3.4. Teknik Pengukuran Zona Bening Kombinasi Asam Laktat dan MCT
Alat yang digunakan untuk mengukur diameter zona bening yang menjadi
sumber data dalam penelitian ini adalah jangka sorong.
Rumus perhitungan zona hambat (zona bening) adalah sebagai berikut :
Z=
H+V+D
- diameter perforator (0,6)
3
Keterangan :
Z : diameter zona hambat
V : zona hambat vertical
H : zona hambat horizintal
D : zona hambat diagonal
3.8 Teknik Pengelolaan Data dan Analisa Data
Setelah data dimasukkan kedalam tabel kemudian data dianalisa
dengan menggunakan metode statistika yaitu uji normalitas, uji homogenitas,
uji anava satu arah serta uji t-test.
3.8.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas ditunjukan untuk menguji apakah dalam sebuah
model regresi, variabel dependen memiliki distribusi normal atau
tidak. Hal ini penting untuk mengetahui apakah data yang diperoleh
dalam penelitian tersebut normal atau tidak.
Menurut Sugiono (2008) penguji data dalam penelitian dapat
menggunakan rumus Chi Kuadrat (X2).
Dimana :
X2
: Chi Kuadrat
F0
: Frekuensi yang diobservasi
Fh
: Frekuensi yang diharapkan
Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas adalah:
1. Jika : x² hitung ≥ x² tabel maka distribusi data tidak normal
2. Jika : x² hitung ≤ x² tabel maka distribusi data normal
3.8.2 Uji Homogenitas
Uji homogenitas varians ditunjukkan untuk menguji apakah
beberapa kelompok memiliki varians yang sama (homogen). Seperti
pada uji statistic lainnya, uji homogenitas digunakan sebagai bahan
acuan untuk menentukan keputusan uji statistik. Uji mengukur
homogenitas
varians dari dua kelompok data, digunakan rumus uji F sebagai
berikut :
F=
Varians terbesar
Varians terkecil
Adapun dasar pengembalian keputusan dalam uji homogenitas
adalah :
1. Jika nilai signifikasi < 0,05, maka dikatakan bahwa varians dari
dua atau lebih kelompok populasi data tidak sama.
2. Jika nilai signifikasi > 0,05, maka dikatakan bahwa varians dari
dua atau lebih kelompok populasi data adalah sama.
3.8.3 Uji Anava Satu Arah
Anava satu arah bertujuan untuk membuktikan hipotesis yang
telah dibuat apakah terdapat aktivitas atau tidak.
Kriteria pembacaan hasil yaitu sebagai berikut:
1. Jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima
2. Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak.
Tabel 3.7 Daftar Anava Satu Arah
Sumber
Derajat
Jumlah
Kuadrat
Tengah F Hitung
Variasi
Kebebasan (DK)
Kuadrat (DK)
(KT)
Rata-rata
1
Ry
R/1
K–1
Py
KTP = Py/ (K-1)
Antar
Perlakuan
KTP/KTK
Kekeliruan
∑(n – 1)
Ey
KTK = Ey/∑(n-1)
∑n
∑y²
-
Eksperimen
Jumlah
Total
3.8.4 Menentukan Nilai Signifikan (Sig)
Pengujian menggunakan uji anava satu arah dengan tingkat
signifikan a = 5%. Nilai sig menunjukkan tingkat signifikan dari
pengujian yang dilakukan sehingga dapat langsung menetukan Ho
ditolak atau diterima. Berikut pedoman dalam membaca nilai sig :
a. Jika nilai sig < a (0,05), maka Ho diterima yang menunjukkan
tidak ada perbedaan yang signifikan
b. Jika nilai sig > a (0,05), maka Ho ditolak yang menunjukkan ada
perbedaan yang signifikan.
3.8.5 Perhitungan Uji t
Rumus :
S
3.9
Format Hasil Penelitian
Adapun format data hasil pengamatan dalam penelitian ini berupa tabeltabel sebagai berikut:
Tabel 3.8 Uji Aktivitas Antijamur Ovula Kombinasi Asam Laktat dan
MCT terhadap Candida albicans
Zona Bening Ovula Kombinasi Asam laktat dan MCT (cm)
Cawan
Konsentrasi
%
V
H
D
Petri
Konsentrasi
%
V
H
D
1
Rata-rata
2
Rata-rata
3
Rata-rata
4
Rata-rata
5
Rata-rata
Jumlah
Rata-rata
Keterangan :
V = Vertikal
H = Horizontal
D = Diagonal
Konsentrasi
%
V
H
D
Nistatin ovula
Basis ovula
V
V
H
D
H
D
Tabel 3.9 Rekapitulasi Data Hasil Uji Aktivitas Antijamur Ovula
Kombinasi Asam Laktat dan MCT Terhadap Candida
Albicans
Zona Bening dalam Centimeter (cm)
Konsentrasi
Rata - rata
Hari pertama
%
%
%
Kontrol
positif
Kontrol
negatif
Hari kedua
Tabel 3.10 Format Data Hasil Pengamatan Evaluasi Ovula Ovula
Kombinasi Asam Laktat dan MCT
Organoleptis
Keseragaman
Konsentrasi
pH
Bentuk
%
%
%
Kontrol
negatif
Waktu
Warna
Bau
bobot
Titik leleh
hancur
Tabel 3.11 Format Data Hasil Pengamatan Stabilitas Ovula Kombinasi
Asam laktat dan MCT Terhadap Candida albicans
Organoleptis
Minggu
Suhu
Formula
X1
X2
X3
K¯
25°C
Minggu I
X1
X2
X3
K¯
40°C
X1
X2
X3
K¯
0°C
X1
X2
X3
K¯
Minggu
25°C
II
X1
X2
X3
K¯
40°C
X1
X2
Waktu
Titik
Hancur
Leleh
pH
Bentuk
0°C
Keseragaman
Warna
Bau
Bobot
X3
K¯
0°C
X1
X2
X3
K¯
25°C
X1
Minggu
X2
III
X3
K¯
40°C
X1
X2
X3
K¯
0°C
X1
X2
X3
K¯
25°C
X1
Minggu
X2
IV
X3
K¯
40°C
X1
X2
X3
K¯
Download