1 EKSISTENSI ORANGTUA TUNGGAL WANITA

advertisement
EKSISTENSI ORANGTUA TUNGGAL WANITA YANG BERKARIR
Oleh:
Grace Permatasari Tandipayuk
Program Studi Psikologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya Malang
[email protected]
ABSTRACT
This study is aimed at exploring the existence of single parents who had
previously been housewives. After divorced or death of husband, they are became
single parents in facing difficulties in working and being successful with their
careers and prove their existence with their career and performing their role as a
single parent. This study used qualitative research method with a
phenomenological approach to understand the subjective experience of the each
individual thoroughly. Four subjects of this study have characteristics such as
becoming single mothers due to divorce or death of a husband, more than two
years ago and fulfilling the role of housewife by living together with her husband
and children before the divorce or the death of husband. Selection of subjects was
done by purposive sampling technique. Data collection methods are interviews,
observation and documentation. Data was analyzed using Miles and Huberman
consist of data reduction, data display and conclusion drawing/verifying. The
results showed that each subject has the structure of human existence, specifically
being in the world as evidence of their existence based on Rollo May theory. There
are several other factors outside of the structure of existence that they have
experienced, including educational factors, religious devotion, and motivation of
their children that make them survive.
Keywords : Existence, Single Parents, Career, Being in the World, Rollo May
1
2
Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui eksistensi orangtua tunggal dari
seorang istri yang sebelumnya menjadi ibu rumah tangga. Setelah terjadinya perceraian
atau kematian suami, mereka menjadi orangtua tunggal yang kemudian berhasil
menghadapi kesulitan dalam bekerja. Mereka merasa nyaman dengan karir yang mereka
miliki sehingga menyadari keberadaan atau eksistensi mereka dari pekerjaan yang
dilakukan disamping menjalankan peran sebagai orang tua tunggal. Penelitian kualitatif
ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif dari
masing-masing subjek penelitian secara menyeluruh. Subjek sebanyak 4 orang wanita
yang menjadi ibu tunggal karena perceraian atau kematian suami lebih dari 2 tahun, ibu
rumah tangga penuh selama bersama suami dan tinggal bersama anak. Pemilihan subjek
dilakukan dengan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yaitu
wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis data Miles
and Huberman yaitu reduki data, display data dan verifikasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa setiap subjek memiliki struktur eksistensi manusia, dimana
struktur utamanya adalah berada didalam dunia sebagai bukti eksistensi mereka
berdasarkan teori Rollo May. Terdapat beberapa faktor lain di luar struktur pengalaman
eksistensi yang mereka miliki, diantaranya faktor pendidikan, ketaatan beragama, dan
motivasi dari anak-anak mereka.
Kata Kunci:
Eksistensi, Orangtua Tunggal, Karir, Berada di dalam Dunia, Rolly May
PENDAHULUAN
Keluarga merupakan sebuah kelompok primer yang paling penting dalam
masyarakat yang terbentuk dari hubungan pernikahan laki-laki dan wanita untuk
menciptakan dan membesarkan anak-anak. Keluarga dalam bentuk murni merupakan
kesatuan sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak (Ahmadi, 2007). Setiap
anggota keluarga memiliki peran spesifik yang dapat dimanfaatkan dalam sistem
tersebut dan setiap anggota bergantung pada anggota yang lain agar dapat memainkan
perannya.
Lebih lanjut Greenglass (Putrianti, 2007) menjelaskan bahwa dukungan suami
merupakan kemampuan suami untuk membantu istri berupa informasi, nasehat, atau
sesuatu yang dapat membesarkan hati agar istri lebih aktif untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi. Struktur peran orangtua dalam keluarga yang utuh kemudian
berubah karena adanya perceraian atau pasangan hidup meninggal. Menurut Papalia,
Olds, Freadman (2009) hilangnya pasangan, yang disebabkan karena perceraian dan
3
terutama
bagi
yang
ditinggalkan
karena
meninggalnya
pasangan,
tentunya
meninggalkan masalah penyesuaian diri bagi pria atau wanita. Maka, muncullah
fenomena single parent atau orangtua tunggal yang banyak kita temukan di masyarakat.
Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) jumlah keluarga
dengan orang tua tunggal wanita atau yang disebut dengan ibu tunggal di Indonesia
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data SUSENAS tahun 2007 menunjukkan
jumlah perempuan yang menjadi kepala keluarga hanya 13,60 persen dari populasi
keluarga. Tahun 2010, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa di Indonesia
terdapat 65 juta keluarga dan sekitar 14 persen atau 9 juta dikepalai oleh perempuan.
Dengan demikian, rumah tangga yang dikepalai perempuan ada kecenderungan
peningkatan, yaitu rata-rata 0,1 persen per tahun. Angka 14 persen dan kenaikan jumlah
ibu tunggal tersebut bukanlah angka yang sedikit. Ada beberapa ibu tunggal yang benarbenar mandiri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, tidak sedikit ibu
tunggal yang menjadi beban bagi keluarga asalnya (Syafa’at, 2012).
Dampak utama yang langsung dirasakan oleh ibu tunggal saat ditinggalkan oleh
suaminya (meninggal atau bercerai), adalah tidak ada kestabilan secara ekonomi. Saat
mencoba mencari pekerjaan, tingkat penghasilan tidak terlalu besar karena faktor
pengalaman kerja yang terbatas karena pada umumnya pekerjaan selalu didalam rumah
dan mengurus rumah tangga (Santrock, 2002). Ibu tunggal pun dituntut untuk pandai
membagi waktu, melengkapi perannya sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya.
Status janda di masyarakat juga menjadi tantangan baru dan berat bagi wanita yang
merencanakan pernikahan yang sarat dengan harapan dan kebahagiaan berakhir karena
kematian suami ataupun karena perceraian (Zulfiana dkk, 2012). Berdasarkan kondisi
tersebut, tidaklah heran apabila individu mengalami kecemasan akan berbagai persoalan
baru yang akan dihadapi sendiri, kehampaan dan kesepian hidup.
Menurut May (Latief, 2010), kehampaan, kesepian, dan kecemasan merupakan
suatu kondisi dimana seseorang tidak tahu lagi apa yang diinginkan. Kehampaan
mengarahkan individu untuk mencari pegangan kepada orang lain. Kesepian atau
kesendirian membuat individu mengalami ancaman kehilangan diri atau eksistensi
dirinya. Menyadari keberadaan atau eksistensi mereka dari pekerjaan yang dilakukan
disamping menjalankan peran sebagai orang tua tunggal dalam tindakannya mengatasi
4
dan melampaui batas-batas waktu yang telah mereka hadapi dimasa lalu untuk
merancang masa depan mereka, semuanya itu adalah karakteristik khas dari eksistensi
manusia.
TINJAUAN TEORI
Menurut Sartre (Misiak dan Sexton, 2005), yang menandai manusia sebagai
mahluk terbaik adalah kebebasan dan kesanggupannya untuk memilih. Sebab manusia
itu sendiri adalah kebebasan dan karenanya dia bisa memilih dan memutuskan setiap
saat. Manusia tak terhindarkan dari akibat yang ditimbulkan dari keputusan yang
dibuatnya, maka kebebasan merupakan pasangan dari kehidupan manusia. Ketika
individu menghindar dari kebebasannya maka yang timbul adalah kecemasan,
kesedihan, keputusasaan.
Bagi ibu tunggal sendiri, kecemasan yang timbul akan masa depan yang harus
dihadapi dan tanggung jawab baru yang semula dijalani bersama bukanlah proses yang
mudah mereka setelah meninggal meninggalnya pasasngan hidup atau karena peceraian.
Ketakutan, merasa tidak berdaya, kehilangan kepercayaan diri dan berusaha mengatasi,
melampau masa lalu untuk menghadapi masa sekarang dan masa depan yang belum
pasti yang dialami ibu tunggal dapat dipahami melalu struktur pengalaman eksistensi
manusia.
Struktur Pengalaman Eksistensi Manusia
Binswanger
(Lathief,
2010)
menjelaskan
tentang
cara
memahami,
menginterpretasi, mengungkapkan diri dan memaparkan berbagai cara bagaimana
eksistensi manusia, berada dalam dunia, yaitu melalui struktur pengalaman eksistensi
manusia. Struktur ini muncul dari berbagai tingkah laku manusia dan pengalaman yang
kemudian dipahami (experience of being understood) oleh individu tersebut, yaitu
1. Kematian
Menurut Jaspers (Lathief, 2010), manusia terus menerus terlibat dalam krisis yang
membawanya ke dalam situasi batas yang di dalam pengalaman akan kematian yang
tak dapat dihindarkan. Penerimaan terhadap peristiwa kematian disebut sebagai
kepasrahan diri, yaitu kesiapan menerima
kehidupan apapun yang terjadi.
5
Pengalaman kematian dipandang oleh psikoterapis eksistensialisme sebagai landasan
bagi manusia untuk menciptakan kehidupan bermakna.
2. Kehampaan
Menurut May (Lathief, 2010), kehampaan menunjuk kepada suatu kondisi manusia
yang tidak mengetahui lagi apa yang diinginkannya dan tidak lagi memiliki
kekuasaan terhadap apa yang terjadi dan dialaminya. David Riesman (Lathief, 2010)
mengatakan bahwa kehampaan telah mengubah manusia modern menjadi manusia
yang mengarahkan dirinya kepada orang lain (outer-directed) dalam rangka mencari
pegangan atau petunjuk bagi penentu kehidupannya.
3. Kecemasan
Kecemasan adalah sebuah ancaman terhadap pusat eksistensi manusia. Kecemasan
bisa melampaui kesadaran individu akan eksistensinya, menghilangkan makna waktu,
mengumpulkan ingatan tentang masa lalu dan menutup masa depan. Kecemasan
muncul ketika individu mempunyai potensi-potensi atau kemungkinan-kemungkinan,
namun hanya beberapa dari potensi dan kemungkinan tersebut yang mampu
diaktualisasikan dalam mengisi eksistensinya.
4. Perasaan Bersalah
Ketika individu tersebut menolak potensi-potensinya atau gagal untuk mewujudkan
dan mengaktualisasikannya, maka kondisinya berada pada kondisi rasa bersalah
(guilt).
5. Kebersamaan
Para psikoterapi eksistensialisme menyatakan bahwa kebersamaan atau hidup dengan
sesama manusia dalam masyarakat tidak semata-mata merupakan kebetulan ataupun
sebuah realitas saja, melainkan merupakan sesuatu yang menjadi suatu keharusan
manusia bereksistensi.
6. Spasialitas
Kesadaran manusia terhadap spasialitas ditandai dengan ketubuhan, di sinilah bahwa
manusia sebagai kesadarannya (being for itself) berada ditengah-tengah dunia dengan
segala kompleksitasnya, dan dasar kenyataan bahwa manusia selalu sadar berada
ditengah-tengah dunia. Kepribadian manusia, dapat dipahami setelah manusia
melihat dalam perjalanan ke arah masa depan; seorang manusia dapat memahami
dirinya setelah mereka memproyeksikan dirinya ke masa depan.
6
7. Temporalitas
Temporalitas (waktu) berhubungan dengan struktur pengalaman berada (being). Pada
struktur pengalaman manusia, waktu tidak dipahami dan dihayati secara obyektif,
melainkan secara subyektif. Manusia menghayati masa lalu, masa kini dan masa
depan secara berbeda-beda.
8. Ketubuhan
Manusia mengalami tubuh sendiri bukan sebagai tubuh fisiologis, melainkan tubuh
yang dihayati, tubuh yang bermakna eksistensial dan memberi makna pada
dunia.Sartre menghubungkan dengan kenyataan, bahwa eksistensi selalu berwujud
tubuh.
Struktur Eksistensi Manusia
Berdasarkan pada pemaparan struktur pengalaman eksistensi manusia menurut
Binswanger (Lathief, 2010) diatas, lebih lanjut untuk memahami eksistensi manusia
dapat dilihat melalui konsep kepribadian manusia. May (Feist, 2008) mengungkapkan
konsep eksistensi manusia yaitu berada dalam dunia (Being in the World) dan ketidakberadaan (Non-being). Menurut Lathief (2010) dalam buku yang berjudul Psikologi
Fenomenologi Eksistensialisme, struktur eksistensi manusia yaitu:
1. Berada dan Ketidakberadaan (Being and Nothingness)
Makna ontologis kata berada dimaksudkan sebagai manusia hadir dan menampakkan
diri, mengalami dirinya sebagai subjek yang sadar, aktif dan berproses. Sedangkan
ketidakberadaan (nothingness) merupakan ukuran bagi ketidakberadaan manusia,
suatu dimensi dimana manusia melakukan regresi atas keberadaannya dan
mengalami dirinya sebagai objek.
2. Berada dalam Dunia (Being in the World)
Menurut Heidegger, konsep manusia berada dalam dunia mengandung implikasi
bahwa manusia hidup dan mengungkapkan dirinya bahwa ia berada ditengah-tengah
kehidupan yang lain yang telah ditentukan oleh dirinya sendiri. Binswanger
mengembangkan konsep Heidegger dengan memerinci dunia manusia sebagai
Umwelt, Mitwelt, Eigenwelt .
7
3. Berada Melampaui Dunia (Being over the World)
Menurut para psikoterapi eksistensialisme, berada melampaui dunia berarti berusaha
mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia
untuk
mengatasi dunia yang dihuninya dan memasuki sebuah dunia baru, sehingga manusia
selalu dalam proses mengatasi diri (self transcending).
4. Relasi Aku-Engkau (The I-Thou Relationship)
Relasi sosial Aku-Engkau individu sadar dan menghargai individu lain sebagai
subjek seperti dirinya, subjek dengan dunianya sendiri, subjek yang selalu berproses,
subjek yang memiliki perasaan, pikiran dan keinginannya sendiri.
5. Intensionalitas (Intentionality)
Intensionalitas merupakan struktur eksistensi manusia, seperti struktur dan konsep
determinisme psikis dari psikoanalisis. Intensionalitas berarti manusia tidak pernah
memikirkan atau membayangkan kekosongan dan kesia-siaan.
6. Berada Autentik dan Tidak Autentik (Being Autentic and Inautentic)
Menurut Heidegger dan Sartre, eksistensi manusia pada umumnya adalah tidak
autentik seperti keharusan memilih, memikul tanggung jawab, ketakutan, kecemasan,
pengalaman
kematian,
isolasis
sosial,
sampai
kepada
ketidakbermaknaan
(meaningless). Keberadaan autentik, manusia sanggup mengukuhkan dirinya (self
affirmation) tanpa menghindarkan atau mengingkari keniscayaan hidup seperti
ancaman, kecemasan, menentukan berbagai pilihan.
7. Kebebasan dan Tanggung Jawab (Independence and Responsibility)
Psikoterapis eksistensialisme selalu menekankan kebebasan dan tanggung jawab
sebagai struktur eksistensial manusia yang paling mendasar, dimana kebebasan
dikaitkan dengan tanggung jawab memilih berbagai kemungkinan, membuat
keputusan-keputusan, serta memilih tindakan-tindakan sesuai dengan kapasitas
autentik.
8. Kesadaran Diri (Self Consciousness)
Para Psikoterapis memandang kesadaran diri sebagai kapasitas yang memungkinkan
manusia bisa hidup sebagai pribadi utuh.Kierkegaard mengungkapkan bahwa
semakin tinggi kesadaran diri manusia, maka semakin utuh pula pribadi manusia
tersebut.
8
9. Eksistensi bersifat Individual (Exsistence is Individual-Being)
Eksistensi adalah milik pribadi dan bersifat individual, yang keberadaannya tidak
mungkin bisa terwakili dengan keberadaan manusia lain. Jadi, eksistensi manusia
pertama-tama adalah bersifat individual (individual being), baru kemudian
menentukan eksistensial sosialnya (social being), atau bereksistensi dalam
masyarakat.
10. Eksistensi mendahului Esensi (Existence proceed Essence)
Konsep psikoterapi eksistensialisme mengemukakan bahwa manusia bertanggung
jawab terhadap dirinya sendiri, apapun bentuk dan model eksistensinya, apapun
makna yang hendak diberikan eksistensinya itu. Karena dalam membentuk dirinya
sendiri, manusia selalu mendapatkan kesempatan untuk tiap kali memilih apa yang
baik dan apa yang kurang baik terhadap dirinya.
Eksistensi menemukan jawaban dari kecemasan tersebut, dimana individu keluar
dari keterpurukan, menunjukkan potensi dan berani untuk memutuskan memasuki dunia
baru yang tidak pernah dialaminya, menunjukkan keberadaan dirinya melalui
kemapanan karir merupakan eksistensi orangtua tunggal wanita yang berkarir.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dimulai pada bulan Mei 2013 sampai bulan November 2013 dengan tempat
penelitian di kota Malang.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Herdiansyah
(2010), metodologi penelitian merupakan serangkaian hukum, aturan atau tata cara
tertentu yang diatur dan ditentukan berdasarkan kaidah ilmiah dalam menyelenggarakan
suatu
penelitian
dalam
perspektif
keilmuan
tertentu
yang
hasilnya
dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Model fenomenologi (Herdiansyah, 2010) dalam psikologi lebih ditujukan untuk
mendapatkan kejelasan dari fenomena dalam situasi natural yang dialami oleh individu
setiap harinya. Fenomenologi berusaha untuk mengungkapkan dan mempelajari serta
9
memahami suatu fenomena beserta konteksnya yang khas dan unik yang dialami oleh
individu.
A.
Subjek Penelitian
Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 4 orang dengan kriteria:
1. Wanita yang menjadi ibu tunggal karena kematian atau perceraian dengan pasangan
hidup. Hal ini berhubungan pengalaman eksistensi individu yang mengalami
kehampaan, kecemasan atas perceraian ataupun kematian suami yang sebelumnya
tidak pernah diharapkan saat pasangan suami istri menjalani penikahan dan membina
keluarga.
2. Menghidupi anaknya.
Adanya tanggungjawab yang timbul saat memutuskan untuk menghidupi anak tanpa
menggantungkan hidup pada orang lain dan menjadikan orangtua tunggal
menunjukkan eksistensi mereka dalam memenuhi berbagai kebutuhan ekonomi
dengan berkarir.
3. Subjek adalah ibu rumah tangga penuh ketika masih bersama pasangan dan
kemudian memiliki produktivitas kerja yang ditandai dengan adanya karir yang
dimiliki setelah berpisah dengan pasangan.
Menurut Creswell (Herdiansyah, 2010) model fenomenologi menentukan batasan
pengalaman subjek yang diangkat dalam penelitian, sehingga penulis membatasi
pengalaman subjek khusus pada orangtua tunggal yang menjadi ibu rumah tangga
sebelum terjadinya perceraian atau kematian suami agar adanya kesetaraan
pengalaman subjek yang diteliti.
4. Usia menjadi orang tua tunggal lebih dari 2 tahun.
Hal ini didasarkan pada teori Pickhardt (1996) dimana proses pemulihan dan
penyesuaian ibu tunggal untuk mampu bangkit dari keterpurukan pernikahan setelah
2 tahun lamanya.
B.
Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini diperoleh melalui sumber data primer dan data sekunder.
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
peneliti, dalam hal ini adalah ibu tunggal yang berkarir, sedangkan sumber data
10
sekunder diperoleh melalui sahabat, keluarga, tetangga dan beberapa aspek yang dapat
memberikan informasi tentang hal yang diteliti. Data primer dan sekunder yang
digunakan adalah melalui:
1. Wawancara
Wawancara dalam suatu penelitian bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang
kehidupan manusia dalam suatu masyarakat, yang merupakan pembantu utama dari
metode observasi (Bungin, 2010). Wawancara dalam penelitian ini menggunakan
wawancara semi-terstruktur (Herdiansyah, 2010).
2. Observasi
Selain wawancara, metode pengumpulan data kualitatif adalah observasi. Penelitian ini
menggunakan metode observasi Anecdotal Record (Herdiansyah, 2010) dimana metode
yang digunakan peneliti melakukan observasi dengan hanya membawa kertas kosong
untuk mencatat perilaku yang khas, unik, dan penting yang dilakukan subjek penelitian.
3. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2012), supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik dan
peneliti memiliki bukti telah melakukan interview kepada interviewee, maka diperlukan
bantuan alat-alat sebagai berikut:
a. Tape Recorder
Alat perekam ini digunakan untuk merekam semua pembicaraan. Penggunaan alat
perekam dalam hal ini adalah alat perekam dari telepon genggam yang dimiliki penulis,
dan dalam wawancara dapat digunakan setelah peneliti mendapatkan izin dari subjek
untuk mempergunakannya.
b. Alat Tulis
Alat tulis digunakan untuk menulis pada lembar observasi untuk mencatat semua
percakapan dengan interviewee. Penggunaan alat tulis dalam wawancara dapat
digunakan pada saat wawancara berlangsung.
11
C.
Analisis Data
Menurut Miles dan Huberman (1992) analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Ada tiga macam
kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Data diperoleh dilapangan yang jumlahnya cukup banyak, dilakukan analisis data
melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang data
yang tidak perlu.
2. Data Display (Penyajian Data)
Langkah selanjutnya setelah mereduksi data adalah penyajian data. Penyajian data
dalam penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori dan sebagainya. Milles dan Huberman menyatakan bahwa yang paling
sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks
yang bersifat naratif. Dengan mendisplaykan data, akan memudahkan untuk memahami
apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami
tersebut.
3. Conclusion Drawing/ Veryfying
Langkah ke tiga dalam analisis data menurut Miles dan Huberman adalah
penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal,
didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke
lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan
kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang dapat menjawab
rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal diharapkan merupakan temuan baru yang
sebelumnya belum pernah ada.
D.
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Menurut Moleong (2012), untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik
pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan pada empat kriteria yang
digunakan, yaitu
12
1. Derajat kepercayan (credibility), yaitu penulis menggunakan triangulasi. Triangulasi
pada prinsipnya merupakan model pengecekan data untuk menentukan apakah
sebuah data benar-benar tepat menggambarkan fenomena pada sebuah penelitian
(Bachri, 2010). Penelitian ini menggunakan metode triangulasi data dengan proses
triangulasi sumber, triangulasi waktu dan triangulasi metode.
2. Keteralihan (Tranferability) yaitu peneliti dalam membuat laporannya harus
memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Sehingga
pembaca dapat mengerti dengan jelas hasil penelitian tersebut, sehingga dapat
memutuskan dapat atau tidaknya mengaplikasikan penelitian tersebut ditempat lain
(Sugiyono, 2012). Penelitian ini memberikan uraian secara terperinci, jelas dan
sistematis melalui penjabaran secara lengkap mengenai struktur pengalaman
eksistensi dan struktur eksistensi manusia pada ibu tunggal yang berkarir.
3. Kebergantungan (Dependability). Pada penelitian kualitatif, uji dependabilitas ini
dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Audit
dilakukan oleh auditor yang independen atau pembimbing untuk mengaudit
keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Pada penelitian ini,
auditor yang melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian dilakukan oleh
auditor yang merupakan dosen pembimbing skripsi dari penulis.
4. Kepastian (Confirmability). Kriteria konfirmabilitas atau objektivitas merujuk pada
tingkat kemampuan hasil penelitian dapat dikonfirmasikan oleh orang lain. Peneliti
dapat mendokumentasikan prosedur untuk mengecek dan mengecek kembali seluruh
data penelitian. Keseluruhan penelitian di konfirmasikan mulai dari teori yang sesuai
dengan penelitian, pengadaan seminar proposal serta konsultasi penelitian bersama
dosen pembimbing skripsi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dinamika Psikologis Subjek
a. Subjek OS
Bercerai sejak tahun 2011 saat anaknya berusia 1 tahun. Memutuskan untuk bercerai
karena selama pernikahan berlangsung, OS tidak pernah merasakan bahagianya sebuah
pernikahan karena selalu mendapatkan perlakuan kekerasan dari mantan suaminya.
13
Setelah menjadi ibu tunggal, OS menyadari bahwa tidak mudah membesarkan anak
tanpa sosok ayah untuk anaknya. Namin motivasi dalam diri OS sendiri untuk
membuktikan pada keluarga mantan suaminya bahwa dia mampu membesarkan
anaknya dan memberikan pendidikan yang bagus untuk anaknya, menjadi alasannya
untuk semangat bekerja dan tidak menggantungkan diri dengan orang lain apalagi pada
orangtua OS.
b. Subjek TM
Bercerai sejak tahun 2006 secara resmi di pengadilan namun sudah terpisah
dengan mantan suami sejak tahun 2001. TM memutuskan menikah pada tahun 1999
namun hubungan pernikahan mereka tidak direstui oleh orangtua dari pihak mantan
suaminya. TM kemudian memutuskan kembali ke kota Malang setelah sebelumnya di
rumah suaminya di Jepara. Jarak yang memisahkan antara TM dan suaminya,
membuatnya berharap suaminya mau untuk menyusulnya ke Malang karena TM sudah
tidak mau kembali ke Jepara namun ternyata suaminya tidak mau dengan alasan
orangtuanya. Keyakinan dalam diri TM timbul bahwa dia bisa meskipun sebagai ibu
tunggal, dia bisa menunjukkan dirinya, membuktikan bahwa dia tidak seperti yang
orang kira. Dia kemudian melihat orang lain yang sukses, mempelajari cara kerja orang
tersebut dengan berjualan sembako dan akhirnya sekarang memiliki toko sendiri.
c. Subjek WT
Sejak ditinggal meninggal oleh suami pada tahun 2008 karena penyakit stroke,
WT yang sebelumnya adalah ibu rumah tangga penuh, sekarang bekerja sebagai pemilik
warung makan. Melalui usaha warung makan itulah WT mengisi waktunya dan
menyibukkan diri serta mengalihkan perhatiannya dari peristiwa kematian suaminya
tersebut.
d. Subjek MR
Suami ibu MR yang dulunya adalah pesepakbola nasional membuat hidup MR
tidak kekurangan sesuatu apapun. Namun, kehidupannya berubah setelah kematian
suami sejak tahun karena mengidap penyakit stroke mulai tahun 1988. MR berusaha
menafkahi anak-anaknya dengan menjadi sales berbagai produk MLM dari rumah ke
rumah sampai di luar kota. Setelah itu, subjek beralih profesi menjadi perawat (nanny)
di kota Bandung dan Surabaya. Setelah anak-anaknya tumbuh dewasa dan bekerja,
subjek kemudian di bantu oleh anak pertamanya yang menjadi tenaga pengajar untuk
14
membiayai kebutuhan ekonomi dan sekolah anak-anaknya. Sekarang subjek bekerja dan
aktif menjadi Majelis Gereja yang bergerak di bidang pelayanan pada narapidana
Lembaga Pemasyarakatan.
Pembahasan
Berdasarkan pembahasan struktur pengalaman eksistensi dan struktur eksistensi
antar subjek menunjukkan bahwa keempat subjek memiliki pengalaman yang berbeda.
Subjek OS pengalaman eksistensi yang dialami adalah dimulai dari kecemasan yang
justru dialaminya ketika masih menikah oleh sebab kekerasan sehingga rumah tangga
mereka berakhir perceraian. Subjek TM menunjukkan pengalaman eksistensi dimulai
dari kehampaan karena terpisahnya jarak dengan suaminya yang kemudian berakhir
dengan perceraian. Kesamaan pengalaman eksistensi dimulai dari pengalaman kematian
terdapat pada subjek WT dan MR karena kematian suami mereka.
Setelah melalui pengalaman eksistensi, keempat subjek menunjukkan struktur
eksistensi mereka melalui karir yang mereka miliki tanpa menggantungkan diri pada
orang lain ataupun keluarga mereka, dimana subjek OS bekerja di toko butik baju.
Subjek TM menjadi pedagang yang memiliki toko sembako, sesuai dengan gelar
sarjananya di bidang ekonomi. Subjek WT membuka warung makan karena sesuai
dengan kesenangannya memasak. Subjek MR memilih berkarir dibidang pelayanan
konseling diberbagai tempat seperti lembaga pemasyarakatan dan melayani lanjut usia
karena sesuai dengan target hidupnya yaitu bermakna bagi orang lain.
Seperti yang diungkapkan Linde (Abidin, 2007) eksistensi adalah kemampuan
dari individu untuk memproyeksikan dirinya dalam imajinasinya yang sadar diri ke arah
masa depan yang bukan hanya satu atau dua jam, melainkan berminggu-minggu,
bertahun-tahun dan bahkan berdekade-dekade. Kemampuan untuk mengatasi atau
melampau batas-batas waktu tersebut, untuk melihat pengalamannya secara sadar diri
dalam terang masa lalu dan masa depan, untuk bertindak dan bereaksi dalam dimensi
waktu-waktu tersebut, untuk belajar dari masa lalu untuk merancang masa depannya,
adalah karakteristik khas dari eksistensi manusia. Hal inilah yang terjadi pada empat
subjek penelitian yaitu OS, TM, WT, dan MR. Masing-masing dari subjek menyadari
bahwa perbandingan keadaannya antara sebelum dan sesudah mereka menjadi ibu
15
tunggal memiliki perbedaan signifikan baik dari segi tanggungjawab maupun situasi
kondisi.
Kemampuan untuk mengatasi keadaan rumah tangga tanpa keberadaan suami
mereka tunjukkan dengan karir pekerjaan yang mereka miliki saat ini tanpa
menggantungkan diri pada orang lain ataupun keluarga mereka dan memunculkan
potensi mereka dalam bekerja seperti yang dialami oleh OS, TM, dan MR yang memilih
pekerjaan karena sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki melalui pendidikan
sewaktu sekolah dulu. OS bekerja sebagai karyawan toko butik dengan kemampuan
marketingnya, TM membuka toko sembako sesuai dengan gelar S1 Ekonomi yang
dimilikinya dan MR dibidang pelayanan lapas dan pernah bekerja sebagai perawat bayi
dan lansia karena sesuai dengan pendidikannya di sekolah keguruan.
WT sendiri
memilih pekerjaan sesuai dengan kesenangannya memasak dengan membuka warung
makan.
Selain itu, menurut Sartre (Misiak dan Sexton, 2005), yang menandai manusia
sebagai mahluk terbaik adalah kebebasan dan kesanggupannya untuk memilih. Sebab
manusia itu sendiri adalah kebebasan dan karenanya dia bisa memilih dan memutuskan
setiap saat. Manusia tak terhindarkan dari akibat yang ditimbulkan dari putusan yang
dibuatnya, maka kebebasan merupakan pasangan dari kehidupan manusia. Ketika
individu menghindar dari kebebasannya maka yang timbul adalah kecemasan,
kesedihan, keputusasaan. Eksistensi menemukan jawaban dari kecemasan tersebut,
memberi pemahaman dan kemungkinan untuk menemukan makna hidup. Bagi WT
setelah memutuskan untuk menerima kematian suaminya, karena dia menyadari
suaminya tidak mungkin hidup lagi, ia mampu untuk bangkit dari perasaan hampa tanpa
suaminya sekarang dengan memutuskan mencari kesibukan-kesibukan, yang saat ini
menjadi pekerjaannya yaitu membuka usaha warung makan. Bagi MR, setelah melalui
berbagai tantangan hidup dalam bekerja dan sudah mencapai target hidupnya
menyekolahkan dan mendidik anak-anaknya hingga sekarang sudah berkeluarga semua,
dia menyadari bahwa kehidupannya yang sekarang ini di fokuskan untuk bermakna bagi
orang lain, karena ketika dia bermakna bagi orang lain, dapat memberi apa yang orang
lain butuhkan.
16
Menjalani proses sehingga menjadi pribadi yang mencapai eksistensi diawali
dengan proses mengatasi kecemasan dan kehampaan, ibu tunggal kemudian
diperhadapkan dengan tanggung jawab untuk bekerja karena faktor ekonomi. Menurut
Santrock (2002), dampak utama yang langsung dirasakan oleh ibu tunggal saat
ditinggalkan oleh suaminya (meninggal atau bercerai), adalah tidak ada kestabilan
secara ekonomi.
Greenberg dan Avigdor (2011), juga mengatakan bahwa uang adalah masalah dan
motivasi penting bagi para ibu untuk memiliki pekerjaan dan karir. Tanpa diragukan,
ibu-ibu yang bekerja tentunya memberikan kontribusi yang signifikan untuk pemasukan
keuangan keluarga. Hal ini pula dikemukakan oleh OS dan TM bahwa dengan
penghasilan yang mereka peroleh dari bekerja, dia mampu membiayai anaknya diusia
pernikahan sekitar 2 tahun yang berakhir dengan perceraian. Kontribusi untuk
pemasukan keluarga di fokuskan oleh kedua subjek ini untuk masa depan pendidikan
anak-anak mereka agar uang tidak menjadi hambatan bagi pendidikan yang terbaik
untuk anak-anaknya.
Penelitian yang dilakukan Jenkins dan Gillman (2000) mengenai orangtua tunggal
wanita, menemukan hubungan antara kerja dan depresi yang dialami oleh ibu tunggal.
Dimana, semakin positif lingkungan kerja dari ibu tunggal ini maka semakin berkurang
depresi yang dimiliki mereka. Karena itu harapan bahwa ibu tunggal bekerja untuk
kesejahteraan keluarganya dan pekerjaan mereka penting untuk kelangsungan hidup
keluarganya. Bagi OS dan TM, mereka tidak memungkiri bahwa masalah ekonomi
langsung melanda mereka saat mereka memutuskan untuk bercerai namun keyakinan
bahwa mereka bisa menjalani kehidupan sebagai ibu tunggal yang bekerja di
lingkungan kerja yang nyaman dan mereka inginkan, membuat mereka mampu
memenuhi kebutuhan sehari-haridan memunculkan potensi mereka dalam bekerja.
Begitu pula dengan WT dan MR yang ditinggal meninggal oleh suami. Kedua ibu
tunggal ini memiliki pengalaman kerja sebelumnya karena selama mereka menikah
menjadi ibu rumah tangga penuh, proses dan tantangan selama bekerja membuat mereka
menjadi pribadi yang utuh dan mereka bisa membiayai kehidupan sehari-hari serta
kebutuhan sekolah anak-anak mereka dapat terpenuhi. Sekarang, keberadaan atau
eksistensi mereka diakui oleh tetangga dan teman kerja bahwa mereka adalah ibu
tunggal yang patut untuk diteladani.
17
Selain itu, meskipun keempat subjek berasal dari agama yang berbeda-beda,
faktor
yang
mempengaruhi
eksistesi
keempat
ibu
tunggal
tesebut
adalah
kepercayaannya akan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka sehingga keempat subjek
mengungkapkan bahwa dengan berdoa mereka merasa lebih tenang dan percaya bahwa
Tuhan pasti menolongnya, seperti yang diutarakan oleh TM.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah di jelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa:
1. Berdasarkan data yang diperoleh, struktur pengalaman eksistensi empat subjek
penelitian dialami oleh masing-masing subjek secara berbeda. Subjek OS
pengalaman eksistensi yang dialami adalah dimulai dari kecemasan yang justru
dialaminya ketika masih menikah oleh sebab kekerasan sehingga rumah tangga
mereka berakhir perceraian. Subjek TM menunjukkan pengalaman eksistensi dimulai
dari kehampaan karena terpisahnya jarak dengan suaminya yang kemudian berakhir
dengan perceraian. Kesamaan pengalaman eksistensi dimulai dari pengalaman
kematian terdapat pada subjek WT dan MR karena kematian suami mereka.
2. Setelah melalui pengalaman eksistensi, keempat subjek menunjukkan struktur
eksistensi mereka melalui karir yang mereka miliki tanpa menggantungkan diri pada
orang lain ataupun keluarga mereka, dimana subjek OS bekerja di toko butik baju.
Subjek TM menjadi pedagang yang memiliki toko sembako, sesuai dengan gelar
sarjananya di bidang ekonomi. Subjek WT membuka warung makan karena sesuai
dengan kesenangannya memasak. Subjek MR memilih berkarir dibidang pelayanan
konseling diberbagai tempat seperti lembaga pemasyarakatan dan melayani lanjut
usia karena sesuai dengan target hidupnya yaitu bermakna bagi orang lain.
3. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa subjek yang ditinggal mati
suami mengalami krisis dalam faktor ekonomi. Namun tantangan untuk bekerja
membiayai kehidupan dan kebutuhan sekolah anak-anak mereka membuat mereka
dapat memenuhi kebutuhan sekaligus menjadi ibu tunggal yang memiliki eksistensi.
18
Begitu pula ibu tunggal karena perceraian, mereka tidak memungkiri bahwa masalah
ekonomi langsung melanda mereka saat mereka memutuskan untuk bercerai namun
keyakinan bahwa mereka bisa menjalani kehidupan sebagai ibu tunggal dengan
bekerja
membuat
mereka
mampu
memenuhi
kebutuhan
sehari-hari
dan
memunculkan potensi mereka dalam bekerja.
Saran
Berdasarkan pengalaman dan pertimbangan yang telah diperoleh dari penelitian tentang
eksistensi orangtua tunggal wanita yang berkarir, terdapat saran pada penelitian
selanjutnya, yang disampaikan berikut:
1. Bagi Ibu Tunggal yang Berkarir
a. Hendaknya merespon setiap tantangan dan masalah hidup yang dihadapi dengan
pengharapan dan sikap optimis, sehingga dapat menghadapi berbagai
permasalahan hidup dengan bijaksana lagi.
b. Semakin memaksimalkan eksistensi mereka saat ini dengan bekerja semakin
sukses sehingga dari pengalaman eksistensi mereka bisa mengatasi situasi sulit
dalam kehidupan individu.
2. Bagi keluarga dan lingkungan tempat tinggal ibu tunggal
a. Hendaknya selalu memberikan dorongan dan motivasi secara terus menerus dan
untuk ibu tunggal yang bercerai, keluarga kiranya tidak berusaha menyalahkan
ibu tunggal atas keputusan mereka.
b. Bagi lingkungan sekitar dan lingkungan masyarakat untuk tidak selalu
memandang negatif ibu tunggal, karena mereka membutuhkan penerimaan dari
lingkungan agar lebih baik menjalani kehidupan mereka.
3. Bagi Mahasiswa
a. Peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai eksistensi orangtua tunggal
wanita yang berkarir dapat memilih struktur eksistensi dari teori yang berbeda
sehingga dapat dilihat eksistensi orangtua tunggal dari segi yang berbeda.
b. Perlunya pembangunan rapport yang lebih intensif dan memperhatikan
penggunaan tata bahasa dalam mengajukan topik-topik sensitif yang berhubungan
dengan masa lalu subjek penelitian dan adanya jadwal terstruktur dalam
melakukan penelitian.
19
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. (2007). Analisis Eksistensial: Sebuah Pendekatan Alternatif untuk Psikologi
dan Psikiatri. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada
Ahmadi, A. (2007). Psikologi Sosial, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Bachri, S. (2010). Meyakinkan Validitas Data melalui Triangulasi Pada Penelitian
Kualitatif. Jurnal Teknologi Pendidikan. 10 (1) 46-62. Diunduh dari
http://jurnal-teknologi-pendidikan.tp.ac.id (Pada tanggal 26 November 2013
pukul 11:18)
Bungin, B. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: RajaGrafindo
Persada
Feist, J., Feis, G.J. (2008). Theoriest of Personality, Edisi Keenam. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Greenberg, C.L., Avigdor, B.S. (2011). What Happy Working Mothers Know. Jakarta:
Salemba Humanika
Herdiansyah, H. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika
Jenkins, M.P., Gillman, S. (2000). Parental Job Experiences and Children’s Well-Being:
The Case of Two-Parent and Single-Mother Working-Class Families. Journal of
Family and Economic Issues. 21, (2), 123-147. Diunduh dari http://proquest.com
(Pada tanggal 18 Mei 2013 Pukul 09:51)
Lathief, S.I. (2010). Psikologi Fenomenologi Eksistensialisme. Lamongan: Pustaka
Pujangga.
Moleong, L.J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Miles, M.B., Huberman, M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI-Press
Misiak, H., Sexton, V.S. (2005). Psikologi Fenomenologi, Eksistensial dan Humanistik:
Suatu Survei Historis. Bandung: PT. Refika Aditama
Papalia, D.E., Old, S. W., Feldman, R. D. (2009). Perkembangan Manusia, Edisi
Kesepuluh Buku Kedua. Jakarta: Salemba Humanika
Pickhardt, C.E. (1996). Keys to Single Parenting. New York: Barron's Educational
Series, Inc. Diunduh dari http://bookos.org (Pada tanggal 23 Maret 2013 Pukul
15:00)
Putrianti, F.G. (2007). Kesuksesan Peran Ganda Wanita Karir Ditinjau dari Dukungan
Suami, Optimisme, dan Strategi Coping. Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala
20
Psikologi. 1 (5), 3-17. Diunduh dari http://publikasiilmiah.ums.ac.id (Pada
tanggal 27 Maret 2013 Pukul 17:15)
Santrock, J.W. (2002). Perkembangan Masa Hidup, Edisi Kelima Jilid Kedua. Jakarta:
Erlangga
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R & D). Bandung: Alfabeta
Syafa’at. (2012). Saatnya Memikirkan Janda Muda. Di unduh
http://kabarbanyuwangi.info/ (Pada tanggal 27 Maret 2013 Pukul 17:18)
dari
Zulfiana, U., Suryaningrum, C., Anwar, Z. (2012). Menjanda Pasca Kematian Pasangan
Hidup. Journal Online Psikologi. 1 (1), 1-9. Diunduh dari
http://psikologi.umm.ac.id (Pada tanggal 11 Maret 2013 pukul 16:19)
Download