I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya Brasil. Karenanya, nama ilmiahnya Herea brasiliensis. Sebelum dipopulerkan sebagai tanaman budidaya yang dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli Amerika Selatan, Afrika, dan Asia sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis tanaman penghasilan getah. Karena lebih dari 80% dikelola oleh rakyat, perkebunan juga merupakan sumber mata pencaharian dan pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagai sumber pertumbuhan bahan baku industri, lapangan kerja, pendapatan, devisa, maupun pelestarian alam, perkebunan masih akan tetap memegang peranan penting. Karet sangat optimal dikembangkan pada daerah dengan ketinggian 0200 m di atas permukaan laut, namun sampai ketinggian 600 meter masih dapat ditanami dengan memilih klon-klon yang sesuai. Elevasi mempengaruhi produktivitas melalui pengaruhnya terhadap peningkatan frekuensi hujan. Pada ketinggian 380-700 m denganjumlah hari hujan > 175 hari, sudah memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap produktivitas tanaman karet. Tanaman karet tumbuh dengan baik pada daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150LS dan 150LU. Bila ditanam di luar zone tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat. Tanaman karet tumbuh optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200 meter di atas permukaan laut. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhannya makin lambat dan hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 meter dari permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet. Produktivitas perkebunan karet rakyat di Indonesia yang rendah disebabkan oleh kecenderungan masyarakat menanam tanaman karet yang sebagian besar bukan berasal dari klon unggu. Masyarakat lebih memilih menanam bibit yang benihnya berasal dari kebun karet mereka sendiri, yaitu benih sapuan dari pohon produksi yang ada di kebun mereka, sehingga tidak jelas klon dan tidak terjamin mutu serta kualitasnya. Karet yang berasal dari benih sapuan ini hanya mampu berproduksi sekitar 400-500 kg karet kering per ha per tahun (Balai Penelitian Sembawa, 2009). Oleh karena itu diperlukan pengetahuan lebih mengenai cara perbanyakan melalui pembibitan tanaman karet bagi para petani karet sebagaimana yang dilakukan pada PTPN IX Jawa Tengah. B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini di antaranya: 1. Mengetahui tahapan pembiitan tanaman karet di PTPN IX Krumput, Banyumas. 2. Mengetahui ciri-ciri mata tunas yangbaik untuk tanaman karet. 3. Mengetahui kendala yang dihadapi oleh PTPN IX dalam proses pembibitan karet. 4. Mengetahui klon tanaman karet yang digunakan di PTPN IX Krumput. II. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman karet berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini dibudidayakan, penduduk asli di berbagai tempat seperti Amerika, Asia dan Afrika Selatan menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah. Getah yang mirip lateks dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica (famili Moraceae). Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman karet telah dikenal secara luas dan banyak dibudidayakan. Sebagai penghasil lateks tanaman karet dapat dikatakan salah satu tanaman yang dikebunkan secara besar-besaran (Budiman, 2012). Areal pertanaman karet tersebar hampir di wilayah Indonesia. Sebaran tanaman karet sebanyak 83% dikelola oleh rakyat (perkebunan rakyat), 8% dalam bentuk pekebunan negara dan 9% dalam bentuk perkebunan swasta. Data ini menunjukan bahwa perkebunan karet yang dikelola rakyat memberikan kontribusi dominan dalam ekspor nasional (Siregar dan Suhendry, 2013). Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan diameter batang cukup besar. Umumnya batang karet tumbuh lurus ke atas dengan percabangan dibagian atas. Dibatang inilah terkandung getah yang lebih terkenal dengan nama lateks (Setiawan dan Andoko, 2005). Produksi karet dipengaruhi oleh beberapa hal seperti iklim dan cuaca. Musim yang tidak mendukung menyebabkan daun rontok sehingga produktivitas pohon karet menurun. Cuaca berpengaruh terhadap produksi karet. Musim hujan petani tidak bisa menyadap karena lateks yang keluar tidak bisa ditampung karena lateks mengencer dan jatuh di sekeliling batang. Begitu juga hujan pada waktu dinihari karena batang masih dalam kondisi basah, sehingga pada musim hujan produksi karet petani turun (Sianturi, 2001). Peningkatkan produktivitas perkebunan karet rakyat pemerintah telah menempuh berbagai upaya antara lain perluasan tanaman, penyuluhan, intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan serta penyebaran klon-klon unggul bibit karet. Hal yang dapat menunjang keberhasilan peningkatan produktivitas perkebunan karet, khususnya untuk peremajaan dan perluasan tanaman karet rakyat perlu diupayakan pengadaan klon unggul bibit karet (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2003). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbanyak bibit tanaman karet dari klon-klon unggul adalah dengan menggunakan teknik okulasi (Setiawan dan Andoko, 2005). Produktivitas perkebunan karet rakyat di Indonesia yang rendah disebabkan oleh kecenderungan masyarakat menanam tanaman karet yang sebagian besar bukan berasal dari klon unggul. Masyarakat lebih memilih menanam bibit yang benihnya berasal dari kebun karet mereka sendiri, yaitu benih sapuan dari pohon produksi yang ada di kebun mereka, sehingga tidak jelas klon dan tidak terjamin mutu serta kualitasnya. Karet yang berasal dari benih sapuan ini hanya mampu berproduksi sekitar 400-500 kg karet kering/ha/tahun (Balai Penelitian Sembawa, 2009). Penyebab lain rendahnya produktivitas karet Indonesia adalah akibat umur tanaman yang sudah tua. Kebanyakan perkebunan karet rakyat yang ada pada saat ini telah berumur puluhan tahun sehingga telah melewati umur produktif tanaman karet itu sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan peremajaan tanaman dengan menggunakan bibit unggul baru. Langkah utama dalam penanganan masalah rendahnya produktivitas tanaman karet adalah dengan melakukan perbaikan teknik budidaya tanaman karet yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan melalui penyebaran bibit karet dari klon-klon unggul yang memiliki potensi produksi tinggi baik dalam bentuk stum mata tidur maupun dalam bentuk stum mini (stum mata tidur yang telah tumbuh) (Budiman, 2012). Bibit karet unggul dihasilkan dengan teknik okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari biji-biji karet pilihan. Okulasi dilakukan untuk mendapatkan bibit karet berkualitas tinggi (Janudianto, 2013). III. METODE PRAKTIKUM A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktikum acara ini yaitu PTPN IX perkebunan karet di Krumput, Banyumas. Sementara alat yang digunakan dalam praktikum di antarany kamera, alat tulis dan kertas folio. B. Prosedur Kerja Langkah-langkah yang dilakukan pada saat praktikum di antaranya: 1. Praktikan mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh pembicara dari PTPN IX perkebunan karet di Krumput, Banyumas. 2. Setelah mendengarkan pembicara dilakukan diskusi langsung di lapangan dengan pembicara. 3. Praktikan mengambil beberapa dokumentasi yang berada di lapangan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Terlampir B. Pembahasan Menurut Roshetko et al. (2015), pembibitan merupakan faktor penting untuk meraih kesuksesan di dalam beragam intervensi pembangunan kehutanan dan pertanian. pembibitan adalah tempat yang dikelola dan dirancang unrtk memproduksi bibit pohon yang dibesarkan di dalam kondisi baik sampai bibit-bibit ini siap untuk ditanam. Pembibitan dapat berupa pembibitan tidak resmi yang berskala kecil ata badan usaha komersial besar. Pembibitan memiliki keragaman dalam hal ukuran, fasilitas (suplai, peralatan, perlengkapan, dll), tipe bibit yang diproduksi dan operasional. Pembibitan juga memiliki perbedaan signifikat dalam hal kualitas dan kuantitas stok bahan tanam yang diproduksi. Namun, tujuan utama semua pembibitan adalah memproduksi sejumlah bibit berkualitas tinggi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pengguna bibit. Para pengguna bibit mencakup operator pembibitan itu sendiri, perorangan, organisasi kemasyarakatan, kelompok petani, badan pemerintah, organisasi non pemerintah, perusahaan atau konsumen swasta. Menurut Asni dan Yanti (2013), pembibitan karet bertujuan untuk memperoleh batang bawah yang mempunyai perakaran kuat dan daya serap hara yang baik. Hal tersebut dapat dicapai dengan pembangunan pembibitan batang bawah yang memenuhi syarat teknis, mencakup persiapan lahan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah serta usaha pemeliharaan tanaman di pembibitan. tahapan pembibitan yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput diawali dengan seleksi biji, dengan dua sistem yang digunakan. Seleksi pertama dilakukan dengan cara direndam dan cara kedua dilakukan dengan proses pelentingan biji karet. Cara perendaman pada biji karet dimasukan ke dalam air sampai tenggelam. Apabila biji karet tidak tenggelam maka biji tersebut bisa dikatakan mempunya kualitas yang tidak baik. Proses pelentingan dilakukan pada ketinggian 1 meter dari kotak, apabila biji dijatuhkan dapat melenting dengan baik maka biji tersebut memiliki mutu yang baik. Setelah diadakan proses seleksi biji, selanjutnya diadakan perkecambahan. Perkecambahan dapat langsung di lahan ataupun dapat juga di polibag ukuran besar. Perkecambahan pada polibag dengan diletakkan pada naungan setinggi kurang lebih satu meter. Perkecambahan dilakukan di lahan depan bagian timur dengan lebar jarak tanam 1 meter dan panjang tanamnya disesuaikan. Lebar tanamnya 1 meter karena disesuaikan dengan jangkauan tangan orang Indonesia. Lahan yang digunakan untuk perkecambahan tanahnya di buat bedengan dengan ditambahkan pasir agar memudahkan dalam pengambilan bibit. Tahapan atau kegiatan yang dilakukan untuk perkecambahan yang pertama, biji yang bermutu baik diletakkan di tanah yang berada di atas polibag dengan perut biji dihadapkan ke bawah dan kemudian dikrakap dengan menggunakan karung goni. Penutupan dilakukan untuk menghindari penguapan dan membantu proses pemupukan. Biji yang telah ditanam tadi kemudian diberi air dan setiap pagi karung goni tersebut dibuka agar mempercepat pertumbuhan. Tanaman yang dikecambahkan akan tumbuh sekitar 3-4 hari, jika 14 hari tanaman tidak tumbuh maka dikatakan perkecambahannya gagal karena sudah kadaluarsa. Penanaman benih yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput menggunakan sistem Tabela, yaitu tanam benih langsung yang dilakukan kurang lebih selama 9 bulan. Cara ini sangat efisien, karena jika dilakukan dengan sistem konvensional bisa mencapai 2 tahun. Pembibitan dilakukan mulai Januari dan mulai tanam sekitar bulan November sampai Desember. Persiapan pembibitan selanjutnya menyiapkan kebun entres, kebun bibit batang bawah (rootstock) dan okulasi. Sebelum okulasi entres diseleksi dengan diklonkan. Okulasi dilakukan menggunakan batang atas yang berasal dari kebun entres yang umurnya tidak lebih dari 10 tahun. Okulasi dapat dilakukan dengan cara yaitu okulasi coklat (brown budding) dan okulasi hijau (green budding). Brown budding dilakukan pada bibit batang bawah yang umurnya diantara 9-10 bulan, sedangkan green budding dilakukan pada batang bawah yang umurnya 5-6 bulan. Mata okulasi dibagi menjadi empat jenis, yaitu mata prima, mata sisik, mata palsu dan mata burung. Mata entres yang digunakan yaitu mata prima karena hasilnya lebih optimum. Prosedur okulasi yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput yaitu diawali dengan pembuatan jendela okulasi pada batang bawah, kemudian pengambilan mata dari batang atas (entres), menempelkan mata entres dijendela batang bawah, kemudian dan yang terakhir yaitu dengan pengikatan menggunakan plastik okulasi yang lentur. Terdapat 3 stadia pertumbuhan benih, yang pertama stadia bintang, kemudian stadia pancing dan terakhir stadia jarum. Stadia yang terbaik untuk pemindahan benih adalah stadia pancing karena pada stadia ini akar sudah mulai memanjang dan keadaannya juga lebih prima. Stadia bintang akar mulai tumbuh, namun tunas belum tumbuh dan masih terlalu pendek. Sementara pada stadia jarum tanaman sudah terlalu tinggi dan perlu dilakukan penyulaman. Waktu okulasi yang baik menurut PTPN IX Krumput yaitu pada pagi hari dari pukul 06.00-10.00 dan sore hari pada pukul 15.00-17.00. Pada waktu okulasi dibungkus dengan menggunakan pelepah pisang agar menjaga kelembaban dan agar tidak lecet. Pemerikasaan okulasi pertama dilakukan setelah 2-3 minggu pelaksanaan okulasi. Kemudian pemeriksaan kedua dilakukan setelah 2 minggu pemerikasaan pertama. Okulasi yang tidak berhasil diberi tanda dengan mengikat plastik dibatangnya, sehingga dapat dilakukan okulasi kembali pada sisi lain dari batang bawah. Sementara okulasi yang berhasil diberi tanda dengan warna cat yang disesuaikan dengan jenis tanamannya. Tanaman yang berhasil diokulasi kemudian di dongkel. Namun sebelum dilakukan pendongkelan, tanaman ini dipupuk terlebih dahulu. Kemudian dilakukan penyerongan 3-5 cm dari mata okulasi. Luka bekas penyerongan ditutup dengan paraffin untuk menutup luka dari penyakit dsb. Setelah itu dilakukan pendongkelan untuk kemudian dipindahkan ke pembibitan polibag. Ciri-ciri bibit unggul adalah tanaman tahan penyakit dan hama, cabang tidak menghasilkan sisi, kuat dan kokoh bagi berdirinya tanaman, tumbuh lurus keatas, kulit murni (halus, tebal dan cepat pulih setelah disadap). Ada beberapa cara pembibitan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan bibit karet dengan sifat unggul. Pembibitan karet bisa dilakukan dengan melalui beberapa tahap. Tahap yang pertama adalah tahap persemaian perkecambahan sedangkan tahap pembibitan selanjutnya adalah persemaian bibit. Tahap persemaian perkecambahan, benih karet akan disemai di bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1-1,2 meter dengan ukuran panjang yang disesuaikan dengan tempat yang tersedia. Pasir dengan tekstur halus disebarkan di atas bedengan dengan ketebalan 5-7 cm. Natural glio perlu pula dikembangbiakkan di dalam pupuk kandang yang ditambah 1 mg Natural glio sebelum siap ditebar di atas bedengan. Dauh atau jerami dengan ukuran tinggi 1m diperlukan untuk naungan sisi timur dan ukuran tinggi 80 cm diperlukan sebagai naungan sisi barat. Benih direndam dalam larutan POC NASA dengan takaran satu tutup untuk satu liter air selama 3-6 jam. Benih akan disemaikan langsung harus disiram dengan larutan POC NASA dengan takaran setengah tutup per liter air. Sementara untuk cara tanam benih yang benar yaitu jarak tanam dipertahankan selebar 1-2 cm. Benih yang sudah disemai harus disiram secara teratur dan normalnya benih akan mulai berkecambah pasa usia 10-14 hari setelah tanam. Benih yang sudah berkecambah kemudian dipindahkan ke area persemaian bibit yang sudah dicangkul dengan kedalaman 60-75 cm kemusian dihaluskan serta diratakan. Area tersebut perlu dibuat bedengan dengan ketinggian 20 cm termasuk parit antar bedengan dengan kedalaman 50 cm. Selanjutnya, cara menanam benihnya adalah dengan membuat jarak tanam 40 x 40 x 60 cm untuk bibit okulasi coklat dan jarak tanam 20 x 20 x 60 untuk bibit okulasi hijau. Selain perlu disiram secara teratur, bibit dalam persemaian perlu pula dipupuk dengan pupuk makro selama 3 bulan sekali dan perlu pula disiram dengan POC NASA setiap 1-2 minggu sekali. Klon untuk benih dan bibit unggul bisa ditemukan di lembaga riset pemerintah maupun swasta seperti Balai Penelitian Karet Getas. Hasil kunjungan yang penulis dapatkan, narasumber menjelaskan klon yang digunakan oleh PTPN IX Kumput yaitu BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, IRR 118, IRR 32, IRR 42, RRIC 100, dan PB 217. Beberapa klon rekomendasi tadi, PTP Nusantara IX paling banyak mengelola klon PB 260. Menurut Daslin et al. (2009), klon PB260 merupakan salah satu klon anjuran untuk batang atas. Klon ini memiliki pertumbuhan yang jagur dengan sifat metabolisme yang tinggi sehingga pada usia 4 tahun mampu mencapai lilit batang 45 cm dan ketebalan kulit 6,3 mm. Selain itu, potensi produksi klon PB 260 cukup tinggi yaitu rata-rata 1.063 kg karet kering tiap hektar tiap tahun. Getah yang dihasilkan juga melimpah serta harganya yang relatif murah. Namun demikian, klon PB 260 memiliki kelemahan yaitu kurang tanggap terhadap stimulan. Narasumber dari PTPN IX Krumput menjelaskan ciri-ciri mata tunas yang baik untuk tanaman karet adalah mata tunas yang telah memiliki 5-8 mata atau bisa disebut mata burung. Purwati (2013) menambahkan ciri lainnya yaitu tunas ujung dalam keadaan tidur atau daun tua, diameter tunas diukur dari pertautan okulasi ≥ 0,5 cm, sudut tunas > 20 derajat. Mata tunas yang baik adalah yang berasal dari kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang bawah dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna coklat) adalah mata ketiak daun. Kendala Pembibitan adalah penyakit jamur akar putih mengakibatkan kerusakan pada akar tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Kemudian daun gugur dan ranting menjadi mati. Ada kalanya terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal (rizomorf). Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga kekuning kuningan pada pangkal akar tanaman. penyekit tersebut menginfeksi pada akar, tanaman yang terinfeksi cepat menjadi mati terutama pada infeks yang bersifat akut. Selain itu hama yang menyerang bibit karet yaitu rayap. Rayap tersebut menyerang bagian akar sehingga bibit tidak dapat tumbuh dengan normal. Hasil yang diperoleh penulis dari praktikum kunjungan lapang ke PTPN IX Krumput, Banyumas telah sesuai dengan literatur Anwar (2001), menjelaskan tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman tahunan yang merupakan salah satu komoditi unggulan tanaman perkebunan dimana perbanyakan tanaman karet dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif (dengan okulasi). Okulasi merupakan cara pembiakan vegetatif dengan tujuan meningkatkan sifat tanaman agar lebih baik sehingga produktivitas menjadi lebih tinggi dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit. V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil praktikum menunjukan kesimpulan sebagai berikut: 1. PTPN IX (Persero) Kebun krumput, Banyumas menggunakan pembibitan dengan cara TABELA di lapang. 2. Klon yang digunakan oleh PTPN IX Kumput yaitu BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, IRR 118, IRR 32, IRR 42, RRIC 100, dan PB 217. 3. ciri-ciri mata tunas yang baik untuk tanaman karet adalah mata tunas yang telah memiliki 5-8 mata atau bisa disebut mata burung. 4. Kendala yang terdapat di PTPT IX perkebunan karet Krumput, Banyumas yaitu terdapatnya hama dan penyakit yang menyerang dan menginfeksi bibit karet. Hama yang menyerang bibit karet yaitu rayap sementara untuk penyakit yang menginfeksi yaitu jamur akar putih. B. Saran Praktikan diharapkan fokus dan kondusif mendengarkan penjelasan dari petugas di perkebunan. DAFTAR PUSTAKA Anwar, C. 2001. Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet, Mig Corp. Medan. Asni, N. dan L. Yanti. 2013. Teknologi pembibitan karet klon unggul mendukung program m-P3MI di provinsi jambi. Balai pengkajian teknologi pertanian jambi. (Online) http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/pembibitankaret.pdf Diakses 25 Desember 2018. Balai Penelitian Sembawa. 2009. Pengolahaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet. Palembang. Budiman, H. 2012. Budi Daya Karet Unggul. Pustaka Baru Press. Yogyakarta. Daslin, A., S. Woelan, M. Lasminingsih dan H. Hadi. 2009. Kemajuan pemuliaan dan seleksi tanaman karet di Indonesia. Nas. Pemuliaan Pros. Lok. Tanaman Karet 2005. 50-59. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2003. Statistik Perkebunan Indonesia Tahun 2001-2003. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Jakarta. Janudianto. 2013. Panduan Budidaya Karet Untuk Petani Skala Kecil. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program. Bogor. Purwati, M.S. 2013. Pertumbuhan bibit karet (Hevea brasiliensis L) asal okulasi pada pemberian bokashi dan pupuk organik cair bintang kuda laut. J. Agrifor. 12(1): 35-44. Roshetko, M. J., G.E. Sabastian., E.L. Tolentino, W.M. Carandang, M. Bertomeu, A. Tabbada dan C.E. Yao. 2015. Buku Acuan Pembibitan Pohon Opsiuntuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Word Agroforestry Center (ICRAF) Winrock Internasional dan University of Philippines Los Banos. Bogor. Setiawan, D. H. dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka. Jakarta. Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara Press. Medan. Siregar, T dan Suhendry,I. 2013. Budidaya dan Teknologi Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.