Uploaded by smiaerlaya

acara 3 tptt

advertisement
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya
Brasil. Karenanya, nama ilmiahnya Herea brasiliensis. Sebelum dipopulerkan
sebagai tanaman budidaya yang dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli
Amerika Selatan, Afrika, dan Asia sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis
tanaman penghasilan getah. Karena lebih dari 80% dikelola oleh rakyat,
perkebunan juga merupakan sumber mata pencaharian dan pendapatan sebagian
besar penduduk Indonesia. Sebagai sumber pertumbuhan bahan baku industri,
lapangan kerja, pendapatan, devisa, maupun pelestarian alam, perkebunan masih
akan tetap memegang peranan penting.
Karet sangat optimal dikembangkan pada daerah dengan ketinggian 0200 m di atas permukaan laut, namun sampai ketinggian 600 meter
masih
dapat ditanami dengan memilih klon-klon yang sesuai. Elevasi mempengaruhi
produktivitas melalui pengaruhnya terhadap peningkatan frekuensi hujan. Pada
ketinggian 380-700 m denganjumlah hari hujan > 175 hari, sudah memberikan
pengaruh yang kurang baik terhadap produktivitas tanaman karet.
Tanaman karet tumbuh dengan baik pada daerah tropis. Daerah yang cocok
untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150LS dan 150LU. Bila ditanam di
luar zone tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya
pun lebih lambat. Tanaman karet tumbuh optimal di dataran rendah, yakni pada
ketinggian sampai 200 meter di atas permukaan laut. Makin tinggi letak tempat,
pertumbuhannya makin lambat dan hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari
600 meter dari permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet.
Produktivitas perkebunan karet rakyat di Indonesia yang rendah disebabkan
oleh kecenderungan masyarakat menanam tanaman karet yang sebagian besar
bukan berasal dari klon unggu. Masyarakat lebih memilih menanam bibit yang
benihnya berasal dari kebun karet mereka sendiri, yaitu benih sapuan dari pohon
produksi yang ada di kebun mereka, sehingga tidak jelas klon dan tidak terjamin
mutu serta kualitasnya. Karet yang berasal dari benih sapuan ini hanya mampu
berproduksi sekitar 400-500 kg karet kering per ha per tahun (Balai Penelitian
Sembawa, 2009). Oleh karena itu diperlukan pengetahuan lebih mengenai cara
perbanyakan melalui pembibitan tanaman karet bagi para petani karet sebagaimana
yang dilakukan pada PTPN IX Jawa Tengah.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini di antaranya:
1.
Mengetahui tahapan pembiitan tanaman karet di PTPN IX Krumput,
Banyumas.
2.
Mengetahui ciri-ciri mata tunas yangbaik untuk tanaman karet.
3.
Mengetahui kendala yang dihadapi oleh PTPN IX dalam proses pembibitan
karet.
4.
Mengetahui klon tanaman karet yang digunakan di PTPN IX Krumput.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman karet berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama
bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini dibudidayakan,
penduduk asli di berbagai tempat seperti Amerika, Asia dan Afrika Selatan
menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah. Getah yang mirip lateks
dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica (famili Moraceae). Sekarang tanaman
tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman karet telah dikenal
secara luas dan banyak dibudidayakan. Sebagai penghasil lateks tanaman karet
dapat dikatakan salah satu tanaman yang dikebunkan secara besar-besaran
(Budiman, 2012).
Areal pertanaman karet tersebar hampir di wilayah Indonesia. Sebaran
tanaman karet sebanyak 83% dikelola oleh rakyat (perkebunan rakyat), 8% dalam
bentuk pekebunan negara dan 9% dalam bentuk perkebunan swasta. Data ini
menunjukan bahwa perkebunan karet yang dikelola rakyat memberikan kontribusi
dominan dalam ekspor nasional (Siregar dan Suhendry, 2013).
Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan
diameter batang cukup besar. Umumnya batang karet tumbuh lurus ke atas dengan
percabangan dibagian atas. Dibatang inilah terkandung getah yang lebih terkenal
dengan nama lateks (Setiawan dan Andoko, 2005).
Produksi karet dipengaruhi oleh beberapa hal seperti iklim dan cuaca.
Musim yang tidak mendukung menyebabkan daun rontok sehingga produktivitas
pohon karet menurun. Cuaca berpengaruh terhadap produksi karet. Musim hujan
petani tidak bisa menyadap karena lateks yang keluar tidak bisa ditampung karena
lateks mengencer dan jatuh di sekeliling batang. Begitu juga hujan pada waktu
dinihari karena batang masih dalam kondisi basah, sehingga pada musim hujan
produksi karet petani turun (Sianturi, 2001).
Peningkatkan produktivitas perkebunan karet rakyat pemerintah telah
menempuh berbagai upaya antara lain perluasan tanaman, penyuluhan,
intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan serta penyebaran klon-klon unggul bibit
karet. Hal yang dapat menunjang keberhasilan peningkatan produktivitas
perkebunan karet, khususnya untuk peremajaan dan perluasan tanaman karet rakyat
perlu diupayakan pengadaan klon unggul bibit karet (Direktorat Jenderal Bina
Produksi Perkebunan, 2003). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
memperbanyak bibit tanaman karet dari klon-klon unggul adalah dengan
menggunakan teknik okulasi (Setiawan dan Andoko, 2005).
Produktivitas perkebunan karet rakyat di Indonesia yang rendah disebabkan
oleh kecenderungan masyarakat menanam tanaman karet yang sebagian besar
bukan berasal dari klon unggul. Masyarakat lebih memilih menanam bibit yang
benihnya berasal dari kebun karet mereka sendiri, yaitu benih sapuan dari pohon
produksi yang ada di kebun mereka, sehingga tidak jelas klon dan tidak terjamin
mutu serta kualitasnya. Karet yang berasal dari benih sapuan ini hanya mampu
berproduksi sekitar 400-500 kg karet kering/ha/tahun (Balai Penelitian Sembawa,
2009).
Penyebab lain rendahnya produktivitas karet Indonesia adalah akibat umur
tanaman yang sudah tua. Kebanyakan perkebunan karet rakyat yang ada pada saat
ini telah berumur puluhan tahun sehingga telah melewati umur produktif tanaman
karet itu sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan peremajaan tanaman dengan
menggunakan bibit unggul baru. Langkah utama dalam penanganan masalah
rendahnya produktivitas tanaman karet adalah dengan melakukan perbaikan teknik
budidaya tanaman karet yang ada di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan melalui
penyebaran bibit karet dari klon-klon unggul yang memiliki potensi produksi tinggi
baik dalam bentuk stum mata tidur maupun dalam bentuk stum mini (stum mata
tidur yang telah tumbuh) (Budiman, 2012). Bibit karet unggul dihasilkan dengan
teknik okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari biji-biji
karet pilihan. Okulasi dilakukan untuk mendapatkan bibit karet berkualitas tinggi
(Janudianto, 2013).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara ini yaitu PTPN IX perkebunan
karet di Krumput, Banyumas. Sementara alat yang digunakan dalam praktikum di
antarany kamera, alat tulis dan kertas folio.
B. Prosedur Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan pada saat praktikum di antaranya:
1.
Praktikan mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh pembicara dari
PTPN IX perkebunan karet di Krumput, Banyumas.
2.
Setelah mendengarkan pembicara dilakukan diskusi langsung di lapangan dengan
pembicara.
3.
Praktikan mengambil beberapa dokumentasi yang berada di lapangan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Terlampir
B. Pembahasan
Menurut Roshetko et al. (2015), pembibitan merupakan faktor penting untuk
meraih kesuksesan di dalam beragam intervensi pembangunan kehutanan dan
pertanian. pembibitan adalah tempat yang dikelola dan dirancang unrtk
memproduksi bibit pohon yang dibesarkan di dalam kondisi baik sampai bibit-bibit
ini siap untuk ditanam. Pembibitan dapat berupa pembibitan tidak resmi yang
berskala kecil ata badan usaha komersial besar. Pembibitan memiliki keragaman
dalam hal ukuran, fasilitas (suplai, peralatan, perlengkapan, dll), tipe bibit yang
diproduksi dan operasional. Pembibitan juga memiliki perbedaan signifikat dalam
hal kualitas dan kuantitas stok bahan tanam yang diproduksi. Namun, tujuan utama
semua pembibitan adalah memproduksi sejumlah bibit berkualitas tinggi yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan pengguna bibit. Para pengguna bibit mencakup
operator pembibitan itu sendiri, perorangan, organisasi kemasyarakatan, kelompok
petani, badan pemerintah, organisasi non pemerintah, perusahaan atau konsumen
swasta. Menurut Asni dan Yanti (2013), pembibitan karet bertujuan untuk
memperoleh batang bawah yang mempunyai perakaran kuat dan daya serap hara
yang baik. Hal tersebut dapat dicapai dengan pembangunan pembibitan batang
bawah yang memenuhi syarat teknis, mencakup persiapan lahan, penanganan
benih, perkecambahan, penanaman kecambah serta usaha pemeliharaan tanaman di
pembibitan.
tahapan pembibitan yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput diawali dengan
seleksi biji, dengan dua sistem yang digunakan. Seleksi pertama dilakukan dengan
cara direndam dan cara kedua dilakukan dengan proses pelentingan biji karet. Cara
perendaman pada biji karet dimasukan ke dalam air sampai tenggelam. Apabila biji
karet tidak tenggelam maka biji tersebut bisa dikatakan mempunya kualitas yang
tidak baik. Proses pelentingan dilakukan pada ketinggian 1 meter dari kotak, apabila
biji dijatuhkan dapat melenting dengan baik maka biji tersebut memiliki mutu yang
baik.
Setelah diadakan proses seleksi biji, selanjutnya diadakan perkecambahan.
Perkecambahan dapat langsung di lahan ataupun dapat juga di polibag ukuran
besar. Perkecambahan pada polibag dengan diletakkan pada naungan setinggi
kurang lebih satu meter. Perkecambahan dilakukan di lahan depan bagian timur
dengan lebar jarak tanam 1 meter dan panjang tanamnya disesuaikan. Lebar
tanamnya 1 meter karena disesuaikan dengan jangkauan tangan orang Indonesia.
Lahan yang digunakan untuk perkecambahan tanahnya di buat bedengan dengan
ditambahkan pasir agar memudahkan dalam pengambilan bibit.
Tahapan atau kegiatan yang dilakukan untuk perkecambahan yang pertama,
biji yang bermutu baik diletakkan di tanah yang berada di atas polibag dengan perut
biji dihadapkan ke bawah dan kemudian dikrakap dengan menggunakan karung
goni. Penutupan dilakukan untuk menghindari penguapan dan membantu proses
pemupukan. Biji yang telah ditanam tadi kemudian diberi air dan setiap pagi karung
goni
tersebut
dibuka
agar
mempercepat
pertumbuhan.
Tanaman
yang
dikecambahkan akan tumbuh sekitar 3-4 hari, jika 14 hari tanaman tidak tumbuh
maka dikatakan perkecambahannya gagal karena sudah kadaluarsa. Penanaman
benih yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput menggunakan sistem Tabela, yaitu
tanam benih langsung yang dilakukan kurang lebih selama 9 bulan. Cara ini sangat
efisien, karena jika dilakukan dengan sistem konvensional bisa mencapai 2 tahun.
Pembibitan dilakukan mulai Januari dan mulai tanam sekitar bulan November
sampai Desember.
Persiapan pembibitan selanjutnya menyiapkan kebun entres, kebun bibit
batang bawah (rootstock) dan okulasi. Sebelum okulasi entres diseleksi dengan
diklonkan. Okulasi dilakukan menggunakan batang atas yang berasal dari kebun
entres yang umurnya tidak lebih dari 10 tahun. Okulasi dapat dilakukan dengan cara
yaitu okulasi coklat (brown budding) dan okulasi hijau (green budding). Brown
budding dilakukan pada bibit batang bawah yang umurnya diantara 9-10 bulan,
sedangkan green budding dilakukan pada batang bawah yang umurnya 5-6 bulan.
Mata okulasi dibagi menjadi empat jenis, yaitu mata prima, mata sisik, mata palsu
dan mata burung. Mata entres yang digunakan yaitu mata prima karena hasilnya
lebih optimum. Prosedur okulasi yang dilakukan oleh PTPN IX Krumput yaitu
diawali dengan pembuatan jendela okulasi pada batang bawah, kemudian
pengambilan mata dari batang atas (entres), menempelkan mata entres dijendela
batang bawah, kemudian dan yang terakhir yaitu dengan pengikatan menggunakan
plastik okulasi yang lentur.
Terdapat 3 stadia pertumbuhan benih, yang pertama stadia bintang, kemudian
stadia pancing dan terakhir stadia jarum. Stadia yang terbaik untuk pemindahan
benih adalah stadia pancing karena pada stadia ini akar sudah mulai memanjang
dan keadaannya juga lebih prima. Stadia bintang akar mulai tumbuh, namun tunas
belum tumbuh dan masih terlalu pendek. Sementara pada stadia jarum tanaman
sudah terlalu tinggi dan perlu dilakukan penyulaman.
Waktu okulasi yang baik menurut PTPN IX Krumput yaitu pada pagi hari dari
pukul 06.00-10.00 dan sore hari pada pukul 15.00-17.00. Pada waktu okulasi
dibungkus dengan menggunakan pelepah pisang agar menjaga kelembaban dan
agar tidak lecet. Pemerikasaan okulasi pertama dilakukan setelah 2-3 minggu
pelaksanaan okulasi. Kemudian pemeriksaan kedua dilakukan setelah 2 minggu
pemerikasaan pertama. Okulasi yang tidak berhasil diberi tanda dengan mengikat
plastik dibatangnya, sehingga dapat dilakukan okulasi kembali pada sisi lain dari
batang bawah. Sementara okulasi yang berhasil diberi tanda dengan warna cat yang
disesuaikan dengan jenis tanamannya.
Tanaman yang berhasil diokulasi kemudian di dongkel. Namun sebelum
dilakukan pendongkelan, tanaman ini dipupuk terlebih dahulu. Kemudian
dilakukan penyerongan 3-5 cm dari mata okulasi. Luka bekas penyerongan ditutup
dengan paraffin untuk menutup luka dari penyakit dsb. Setelah itu dilakukan
pendongkelan untuk kemudian dipindahkan ke pembibitan polibag. Ciri-ciri bibit
unggul adalah tanaman tahan penyakit dan hama, cabang tidak menghasilkan sisi,
kuat dan kokoh bagi berdirinya tanaman, tumbuh lurus keatas, kulit murni (halus,
tebal dan cepat pulih setelah disadap).
Ada beberapa cara pembibitan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan bibit
karet dengan sifat unggul. Pembibitan karet bisa dilakukan dengan melalui
beberapa tahap. Tahap yang pertama adalah tahap persemaian perkecambahan
sedangkan tahap pembibitan selanjutnya adalah persemaian bibit.
Tahap persemaian perkecambahan, benih karet akan disemai di bedengan
dengan ukuran lebar sekitar 1-1,2 meter dengan ukuran panjang yang disesuaikan
dengan tempat yang tersedia. Pasir dengan tekstur halus disebarkan di atas
bedengan dengan ketebalan 5-7 cm. Natural glio perlu pula dikembangbiakkan di
dalam pupuk kandang yang ditambah 1 mg Natural glio sebelum siap ditebar di
atas bedengan. Dauh atau jerami dengan ukuran tinggi 1m diperlukan untuk
naungan sisi timur dan ukuran tinggi 80 cm diperlukan sebagai naungan sisi barat.
Benih direndam dalam larutan POC NASA dengan takaran satu tutup untuk
satu liter air selama 3-6 jam. Benih akan disemaikan langsung harus disiram dengan
larutan POC NASA dengan takaran setengah tutup per liter air. Sementara untuk
cara tanam benih yang benar yaitu jarak tanam dipertahankan selebar 1-2 cm. Benih
yang sudah disemai harus disiram secara teratur dan normalnya benih akan mulai
berkecambah pasa usia 10-14 hari setelah tanam.
Benih yang sudah berkecambah kemudian dipindahkan ke area persemaian
bibit yang sudah dicangkul dengan kedalaman 60-75 cm kemusian dihaluskan serta
diratakan. Area tersebut perlu dibuat bedengan dengan ketinggian 20 cm termasuk
parit antar bedengan dengan kedalaman 50 cm. Selanjutnya, cara menanam
benihnya adalah dengan membuat jarak tanam 40 x 40 x 60 cm untuk bibit okulasi
coklat dan jarak tanam 20 x 20 x 60 untuk bibit okulasi hijau.
Selain perlu disiram secara teratur, bibit dalam persemaian perlu pula dipupuk
dengan pupuk makro selama 3 bulan sekali dan perlu pula disiram dengan POC
NASA setiap 1-2 minggu sekali. Klon untuk benih dan bibit unggul bisa ditemukan
di lembaga riset pemerintah maupun swasta seperti Balai Penelitian Karet Getas.
Hasil kunjungan yang penulis dapatkan, narasumber menjelaskan klon yang
digunakan oleh PTPN IX Kumput yaitu BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB
260, IRR 118, IRR 32, IRR 42, RRIC 100, dan PB 217. Beberapa klon rekomendasi
tadi, PTP Nusantara IX paling banyak mengelola klon PB 260. Menurut Daslin et
al. (2009), klon PB260 merupakan salah satu klon anjuran untuk batang atas. Klon
ini memiliki pertumbuhan yang jagur dengan sifat metabolisme yang tinggi
sehingga pada usia 4 tahun mampu mencapai lilit batang 45 cm dan ketebalan kulit
6,3 mm. Selain itu, potensi produksi klon PB 260 cukup tinggi yaitu rata-rata 1.063
kg karet kering tiap hektar tiap tahun. Getah yang dihasilkan juga melimpah serta
harganya yang relatif murah. Namun demikian, klon PB 260 memiliki kelemahan
yaitu kurang tanggap terhadap stimulan.
Narasumber dari PTPN IX Krumput menjelaskan ciri-ciri mata tunas yang
baik untuk tanaman karet adalah mata tunas yang telah memiliki 5-8 mata atau bisa
disebut mata burung. Purwati (2013) menambahkan ciri lainnya yaitu tunas ujung
dalam keadaan tidur atau daun tua, diameter tunas diukur dari pertautan okulasi ≥
0,5 cm, sudut tunas > 20 derajat. Mata tunas yang baik adalah yang berasal dari
kebun entres yang sehat, umurnya hampir sama dengan umur bibit batang bawah
dan jenis mata untuk okulasi coklat (umur batang bawah ≥ 7 bulan dan berwarna
coklat) adalah mata ketiak daun.
Kendala Pembibitan adalah penyakit jamur akar putih mengakibatkan
kerusakan pada akar tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau
ujung daun terlipat ke dalam. Kemudian daun gugur dan ranting menjadi mati. Ada
kalanya terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran
tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal
(rizomorf). Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna
jingga kekuning kuningan pada pangkal akar tanaman. penyekit tersebut
menginfeksi pada akar, tanaman yang terinfeksi cepat menjadi mati terutama pada
infeks yang bersifat akut. Selain itu hama yang menyerang bibit karet yaitu rayap.
Rayap tersebut menyerang bagian akar sehingga bibit tidak dapat tumbuh dengan
normal.
Hasil yang diperoleh penulis dari praktikum kunjungan lapang ke PTPN IX
Krumput, Banyumas telah sesuai dengan literatur Anwar (2001), menjelaskan
tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman tahunan yang merupakan salah
satu komoditi unggulan tanaman perkebunan dimana perbanyakan tanaman karet
dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif (dengan okulasi). Okulasi
merupakan cara pembiakan vegetatif dengan tujuan meningkatkan sifat tanaman
agar lebih baik sehingga produktivitas menjadi lebih tinggi dan lebih tahan terhadap
hama dan penyakit.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil praktikum menunjukan kesimpulan sebagai berikut:
1.
PTPN IX (Persero) Kebun krumput, Banyumas menggunakan pembibitan
dengan cara TABELA di lapang.
2.
Klon yang digunakan oleh PTPN IX Kumput yaitu BPM 1, BPM 24, BPM 107,
BPM 109, PB 260, IRR 118, IRR 32, IRR 42, RRIC 100, dan PB 217.
3.
ciri-ciri mata tunas yang baik untuk tanaman karet adalah mata tunas yang telah
memiliki 5-8 mata atau bisa disebut mata burung.
4.
Kendala yang terdapat di PTPT IX perkebunan karet Krumput, Banyumas yaitu
terdapatnya hama dan penyakit yang menyerang dan menginfeksi bibit karet.
Hama yang menyerang bibit karet yaitu rayap sementara untuk penyakit yang
menginfeksi yaitu jamur akar putih.
B. Saran
Praktikan diharapkan fokus dan kondusif mendengarkan penjelasan dari
petugas di perkebunan.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C. 2001. Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet, Mig Corp. Medan.
Asni, N. dan L. Yanti. 2013. Teknologi pembibitan karet klon unggul mendukung
program m-P3MI di provinsi jambi. Balai pengkajian teknologi pertanian
jambi.
(Online)
http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/pembibitankaret.pdf
Diakses 25 Desember 2018.
Balai Penelitian Sembawa. 2009. Pengolahaan Bahan Tanam Karet. Pusat
Penelitian Karet. Palembang.
Budiman, H. 2012. Budi Daya Karet Unggul. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Daslin, A., S. Woelan, M. Lasminingsih dan H. Hadi. 2009. Kemajuan pemuliaan
dan seleksi tanaman karet di Indonesia. Nas. Pemuliaan Pros. Lok. Tanaman
Karet 2005. 50-59.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2003. Statistik Perkebunan
Indonesia Tahun 2001-2003. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Bina
Produksi Perkebunan. Jakarta.
Janudianto. 2013. Panduan Budidaya Karet Untuk Petani Skala Kecil. World
Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program. Bogor.
Purwati, M.S. 2013. Pertumbuhan bibit karet (Hevea brasiliensis L) asal okulasi
pada pemberian bokashi dan pupuk organik cair bintang kuda laut. J. Agrifor.
12(1): 35-44.
Roshetko, M. J., G.E. Sabastian., E.L. Tolentino, W.M. Carandang, M. Bertomeu,
A. Tabbada dan C.E. Yao. 2015. Buku Acuan Pembibitan Pohon Opsiuntuk
Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Word Agroforestry Center
(ICRAF) Winrock Internasional dan University of Philippines Los Banos.
Bogor.
Setiawan, D. H. dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara
Press. Medan.
Siregar, T dan Suhendry,I. 2013. Budidaya dan Teknologi Karet. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Download