Uploaded by Ikmal Tahir

KAMIZ

advertisement
MAKALAH
“REFORMASI BIROKRASI DI DAERAH DALAM MEMAJUKAN
PENDIDIKAN “
OLEH :
NAMA
NIM
KELAS
DOSEN PENGAMPUH
: NASRIAH EKA PUTRI
: 105611109518
: IAN 3B
: Dr. Hj. SUDARMI,M. Si
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I : PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah
2
C. Tujuan
2
BAB II : PEMBAHASAN
3
A. Pengertian Birokrasi
3
B. Sejarah Dan Gambaran Birokrasi Terkini Di Indonesia
7
BAB III : PENUTUP
19
A. Kesimpulan
19
B. Saran
19
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan limpahan rahmatnyalah maka penulis dapat menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat
waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Reformasi Birokrasi
Di Daerah Dalam Memajukan Pendidikan", yang menurut penulis dapat memberikan manfaat
yang besar bagi kita untuk mempelajari sejarah Indonesia.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman
bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang penulis buat kurang tepat atau
menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini penulis mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
Makassar, 2 November 2019
Penulis
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah Satu isu penting pasca reformasi tahun 1998 adalah reformasi birokrasi. Hal ini dipandang
penting, karena birokrasi dinilai sebagai salah satu sumber masalah keterpurukan Indonesia,
dalam konsteks kekuasaan rejim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Birokrasi pemerintahan
disorot, karena banyak yang memandang dan merasakan, bahwa “birokrasi pemerintahan
lamban, berbelit-belit, tidak efisien, tidak efektif, mempersulit segala urusan…”[1]. Ungkapan
itu memang tidak 100% benar, namun juga tidak sepenuhnya salah. Pada intinya, birokrasi
memerlukan reformasi agar dapat berperan dan berfungsi sesuai harapan masyarakat.
Pada awal bangsa Indonesia menjalankan era reformasi (sering disebut sebagai gelombang
pertama reformasi), reformasi reformasi di bidang birokrasi mengalami ketertinggalan
dibanding reformasi di bidang politik, ekonomi, dan hukum. Menyadari hal itu, pada tahun
2004, pemerintah kembali menegaskan pentingnya penerapan prinsip-prinsip clean goverment
dan good governance. Keduanya secara universal diyakini menjadi prinsip yang diperlukan
untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Itulah kemudian, pemerintah pun
membangun aparaturnya melalui program reformasi birokrasi.
Semua sektor, tidak terkecuali birokrasi yang bersentuhan dengan dunia pendidikan, juga harus
direformasi. Langkah tersebut penting dijalankan guna mendukung tercapainya visi Pendidikan
Nasional, yakni terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa
untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang
berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Untuk mencapainya, birokrasi harus direformasi, sehingga memahami misi pendidikan yang
diembannya, yakni:
(1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu
bagi seluruh rakyat Indonesia,
1
(2) membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini
sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar,
(3) meningkatkan kesiapan input dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan
pembentukan kepribadian yang bermoral agama, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan
hidup,
(4) meningkatkan profesionalitas dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat
pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar
nasional dan global,
(5) memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan
prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
B. Rumusan Masalah
Untuk menjawab tema pokok makalah ini, rumusan masalah ditetapkan sebagai berikut ini:
1. Bagaimana pengertian dan ciri-ciri birokrasi?
2. Bagaimana sejarah dan gambaran birokrasi terkini di Indonesia?
3. Mengapa birokrasi di Indonesia, termasuk birokrasi pendidikan, perlu direformasi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertin dan ciri – ciri birokrasi
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah dan gambaran birokrasi terkini di Indonesia
3. Untuk mengetahui alasan birokrasi pendidikn perlu direformasi
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Birokrasi
Birokrasi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata “bureau” yang berarti
meja atau kantor; dan kata “kratia” (cratein) yang berarti pemerintah. Jadi, birokrasi berarti
pelayanan yang diberikan oleh pemerintah dari meja ke meja. Pada mulanya, istilah ini
digunakan untuk menunjuk pada suatu sistematika kegiatan kerja yang diatur atau diperintah
oleh suatu kantor melalui kegiatan-kegiatan administrasi (Ernawan, 1988). Dalam konsep bahasa
Inggris secara umum, birokrasi disebut dengan “civil service”. Selain itu juga sering disebut
dengan public sector, public service atau public administration.
Definisi birokrasi telah tercantum dalam kamus sejak awal secara sangat konsisten. Kamus
akademi Perancis memasukan kata tersebut pada tahun 1818 dengan arti kekuasaan, pengaruh,
dari kepala dan staf biro pemerintahan[2]. Kamus bahasa Jerman edisi 1813, mendefinisikan
birokrasi sebagai wewenang atau kekuasaan yang berbagai departemen pemerintah dan cabangcabangnya memeperebutkan diri untuk mereka sendiri atas sesama warga negara. Kamus teknik
bahasa Italia terbit 1823 mengartikan birokrasi sebagai kekuasaan pejabat di dalam administrasi
pemerintahan.
Birokrasi berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli adalah suatu sistem kontrol
dalam organisasi yang dirancang berdasarkan aturan-aturan yang rasional dan sistematis, dan
bertujuan untuk mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas kerja individu dalam
rangka penyelesaian tugas-tugas administrasi berskala besar (disarikan dari Blau & Meyer, 1971;
Coser & Rosenberg, 1976; Mouzelis, dalam Setiwan,1998).
Birokrasi dapat dirujuk kepada empat pengertian yaitu:[3]
1. Birokrasi dapat diartikan sebagai kelompok pranata atau lembaga tertentu.
2. Birokrasi dapat diartikan sebagai suatu metoda untuk mengalokasikan sumber daya
dalam suatu organisasi.
3
3. “Kebiroan” atau mutu yang membedakan antara birokrasi dengan jenis organisasi lain.
(Downs, 1967 dalam Thoha, 2003)
4. Kelompok orang yang digaji yang berfungsi dalam pemerintahan.
Dalam prakteknya, birokrasi bisa menjadi kekuatan politik yang potensial, yang dapat
mengokohkan maupun merobohkan kekuasaan. Birokrasi juga merupakan alat politik untuk
mengatur dan mewujudkan agenda-agenda politik. Sifat kekuasaan aparat birokrasi pada
dasarnya bukan tanpa kendali, karena tetap dibatasi oleh perangkat kendali dari dalam dan luar
dirinya.
Konsep birokrasi pertama kali dikenalkan oleh M de Gournay yang mengatakan “Di Perancis
kita mendapati sebuah penyakit yang jelas-jelas merusak kita; penyakit ini disebut bureaumania.
Kadang-kadang ia gunakan temuannya itu untuk menyebutkan bentuk pemerintahan yang
keempat atau kelima di bawah judul birokrasi”. Dalam perkembangan selanjutnya konsep
birokrasi didefinisikan kedalam berbagai pengertian.
Sebagai ilmuwan yang banyak dikutip pandanganya mengenai birokrasi, Max Weber
sebenarnya tidak pernah memberikan definisi tentang birokrasi. Namun, paling tidak di dalam
kajiannya tentang birokrasi, Weber berhasil membedakan antara birokrasi yang rasional dan
patrimonial. Perbedaan dari kedua bentuk itu terletak pada tingkat kebebasan pejabat yang
bekerja.[4] Konsep pejabat (beamter – atau di Indonesia dikenal dengan istilah amtenar)
merupakan dasar bagi konsep tentang birokrasi. Namun ia tidak memasukkan semua pejabat
yang ada dalam konsep birokrasi. Menurutnya, ciri pokok pejabat birokratis adalah orang yang
diangkat bukan dipilih atau yang diseleksi oleh sekumpulan orang.
Max Weber memandang birokrasi sebagai suatu istilah kolektif bagi suatu badan yang terdiri
atas pejabat-pejabat atau sekelompok yang pasti dan jelas pekerjaannya serta pengaruhnya dapat
dilihat pada semua macam organisasi.[5] Secara teoritos birokrasi merupakan alat kekuasaan
untuk menjalankan keputusan-keputusan politik. Dalam prakteknya, birokrasi bisa menjadi
kekuatan politik yang potensial, yang dapat mengokohkan maupun merobohkan kekuasaan.
Birokrasi juga merupakan alat politik untuk mengatur dan mewujudkan agenda-agenda politik.
4
Sifat kekuasaan aparat birokrasi pada dasarnya bukan tanpa kendali, karena tetap dibatasi oleh
perangkat kendali dari dalam dan luar dirinya.
Melalui tulisannya ”The Theory of Economy and Social Organization” , Weber dikenal sebagai
pengembang ideal type (tipe ideal) birokrasi modern. Tipe ideal bertujuan menghasilkan
efisiensi dalam pengaturan negara. Tapi dalam praktek, konsep Weber sudah tidak lagi
sepenuhnya tepat disesuaikan dengan keadaan saat ini, apalagi dalam konteks Indonesia. Perlu
ada pembaharuan makna dan kandungan birokrasi.[6]
Konsep birokrasi yang dibangun Weber berdasar teori sistem kewenangan yang
dikembangkannya. Pertama, kewenangan tradisional (traditional authority) mendasarkan
legitimasi kewenangan pada tradisi yang diwariskan antar generasi. Kedua, kewenangan
kharismatik (charismatic authority) yang memperoleh legitimasi kewenangan dari kualitas
pribadi (yang bahkan bisa pada demensi yang bersifat supranatural). Ketiga, kewenangan legalrasional (legal-rational authority) yang mendapatkan legitimasi kewenangan dari peraturan
perundang-undangan.
Menurut Weber, organisasi “tipe ideal” yang dapat menjamin efisiensi tinggi, harus
mendasarkan pada otoritas legal-rasional. Weber mengemukakan konsepnya tentang the ideal
type of bureaucracy dengan merumuskan ciri-ciri pokok organisasi birokrasi yang dipandangnya
lebih sesuai dengan masyarakat modern, yaitu:[7]
a)
A hierarchical system of authority (sistem kewenangan yang hierakis)
b)
A systematic division of labour (pembagian kerja yang sistematis)
c)
A clear specification of duties for anyoneworking in it (spesifikasi tugas yang jelas)
d)
Clear any systematic diciplinary codes and procedures (kode etik disiplin dan prosedur
yang jelas serta sistematis)
e)
The control of operation through a consistent system of abstrac rules (kontrol operasi
melalui sistem aturan yang berlaku secara konsisten)
5
f)
A consistent applications of general rules to specific cases (aplikasi kaidah-kaidah umum
kehal-hal pesifik dengan konsisten)
g)
The selection of employees on the basic of objectively determined qualivication (seleksi
pegawai yang didasarkan pada kualifikasi standar yang objektif)
h)
A system of promotion on the basis of seniority or merit, or both (sistem promosi
berdasarkan senioritas atau jasa, atau keduanya)
Dalam paradigma penganut aliran Weber (Weberian), birokrasi merupakan organisasi yang
rasional dengan mengedepankan mekanisme sosial yang “memaksimumkan efisiensi”.[8]
Pengertian efisiensi digunakan secara netral untuk mengacu pada aspek-aspek administrasi dan
organisasi. Dalam pandangan ini, birokrasi dimaknai sebagai institusi formal yang memerankan
fungsi pengaturan, pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat.
Para penganut teori Weber (Weberian) memaknai birokrasi sebagai fungsi dari biro untuk
menjawab secara rasional terhadap serangkaian tujuan yang ditetapkan pemerintahan. Birokrasi
berparadigma netral dan bebas nilai. Jadi, tidak ada unsur subyektivitas yang masuk dalam
pelaksanaan birokrasi, karena sifatnya impersonalitas (tidak personal). Kepentingan individu
yang beragam dilepas.
Rasionalitas dan efisiensi adalah dua hal yang sangat ditekankan oleh Weber. Rasionalitas harus
melekat dalam tindakan birokratik, dan bertujuan ingin menghasilkan efisiensi yang tinggi.
Menurut Miftah Thoha (2003:19), kaitan keduanya bisa dilacak dari kondisi sosial budaya,
ketika Weber masih hidup dan mengembangkan pemikirannya. Kata kunci dalam rasionalisasi
birokrasi ialah menciptakan efisiensi dan produktifitas yang tinggi tidak hanya melalui rasio
yang seimbang antara volume pekerjaan dengan jumlah pegawai yang profesional, tetapi juga
melalui pengunaan anggaran, pengunaan sarana, pengawasan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Warren Bennis dalam tulisannya “Organizational Development and the Fate of Bureucracy”
yang dimuat di Industrial Management Review 7 (1966) berpendapat, birokrasi merupakan
penemuan sosial yang sangat elegan, suatu bentuk kemampuan yang luar biasa untuk
mengorganisasikan, mengkoordinasikan proses-proses kegiatan yang produktif pada masa
6
Revolusi Industri. Birokrasi dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan yang hangat
pada waktu itu, misalnya persoalan pengurangan peran-peran personal, persoalan subyektivitas
yang keterlaluan, dan tidak dihargainya hubungan kerja kemanusiaan. Dalam pandangan Bennis,
birokrasi adalah produk kultural dan sangat terikat oleh proses zaman pada saat kemunculannya.
Kita sangat membutuhkan birokrasi yang berorientasi kemanusiaan, tidak secara konseptual
semata tapi merambah pada dataran praktis di lapangan.
Fungsi birokrasi menurut Tjokrowinoto menyatakan ada 4 yaitu :
1. Fungsi instrumental: menjabarkan perundang-undangan dan kebijaksanaan publik dalam
kegiatan-kegiatan rutin untuk memproduksi jasa, pelayanan, komoditi, atau mewujudkan situasi
tertentu.
2. Fungsi politik: memberi input berupa saran, informasi, visi ,dan profesionalisme untuk
mempengaruhi sosok kebijaksanaan.
3. Fungsi katalis Public Interest: mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan publik dan
mengintegrasikan atau menginkorporasikannya di dalam kebijaksanaan dan keputusan
pemerintah.
4. Fungsi Entrepreneural: memberi inspirasi bagi kegiatan-kegiatan inovatif dan non rutin,
mengaktifkan sumber-sumber potensial yang idle, dan menciptakan resources –mix yang optimal
untuk mencapai tujuan (Feisal Tamin,2002 h,5)
B. Sejarah Dan Gambaran Birokrasi Terkini Di Indonesia
Kritik terhadap keadaan birokrasi di Indonesia, antara lain ditujukan kepada postur yang gemuk
dan perilakunya. Berkaitan dengan perilaku birokrasi, hal ini terkait dengan praktek birokrasi
yang dibangun dari proses kesejarahan yang amat panjang. Setidaknya itu telah dimulai sejak
masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, kemudian pada jaman kolonial hingga Indonesia
merdeka. Pada era Indonesia merdeka, apabila disekat-sekat waktunya secara makro dapat dibagi
menjadi masa Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi.
7
Birokrasi di Indonesia masih menampilkan corak patrimonial, yang dalam benang sejarah perlu
diperhatikan secara seksama. Model birokrasi kerajaan dan warisan model kolonial cenderung
persistent sampai sekarang ini. Misalnya, birokrat seringkali memanifestasikan warisan budaya
aristokratis dan orientasi vertikal, sebagai hal yang dominan dalam referensi birokrat. Aparat
birokrasi juga menyandang loyalitas ritual yang seringkali bersifat pribadi. Mereka pun masih
punya kesadaran prestise dan status yang masih kuat. Belum lagi soal budaya panutan yang
sering membayangi partisipasi, kecenderungan sentralisasi yang amat kuat, dan sebagainya.
Perilaku birokrasi seperti itu membuat mereka sulit melepaskan diri dari jaring-jaring
kepentingan politik praktis. Menurut Dwiyanto dalam bukunya yang berjudul Repormasi
Birokrasi Publik di Indonesia (2002), perilaku seperti itu berkaitan erat dengan proses
kesejarahan birokrasi di Indonesia. “Sejarah perjalanan birokrasi di Indonesia tidak pernah
terlepas dari pengaruh sistem politik yang berlangsung. Apapun sistem politik yang diterapkan
selama kurun waktu sejarah pemerintahan di Indonesia, birokrasi tetap memegang peran sentral
dalam kehidupan masyarakat. Baik dalam sistem politik yang sentralistik maupun sistem politik
yang demokratis sekalipun, seperti yang diterapkan di Negara-negara maju, keberadaan
birokrasi sulit dijauhkan dari aktivitas-aktivitas dan kepentingan-kepentingan politik
pemerintah”.
Prinsip pokok yang harus dipahami adalah, bahwa birokrasi merupakan representasi negara.
Dengan kedudukan seperti itu, kekuasaan dan kekuatan birokrasi besar sekali, menyentuh
hampir semua sudut kehidupan warga negaranya. Oleh karena itu, kebijakan yang dibuat oleh
birokrasi sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Misalnya, ketika pada tahun 1970-an menerapkan kebijakan Keluarga Berencana, suka atau tidak
suka warga negaranya “harus” tunduk kepada keputusan birokrasi tersebut sekalipun
menyangkut urusan yang paling pribadi.
Warga yang hidup di suatu Negara harus mau menerima kebijakan yang dibuat oleh birokrasi,
baik karena terpaksa atau sukarela. Dengan kekuatan seperti itu, birokrasi menjadi menjadi
mesin pemerintaan yang berada di garis terdepan dalam hubungan antara Negara dan rakyatnya.
Oleh karena itu, Negara harus bertujuan mensejahterakan rakyatnya, yang lazimnya dirumuskan
8
dan ditetapkan dalam konstitusi yang di-breakdown dalam perundang-undangan dan peraturan
pelaksana lainnya.
Sebagai contoh, pada masa Orde Baru pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan
di APBN tidak pernah lebih dari 5%. Rakyat harus menerima hal itu. Untunglah, dengan
adanya reformasi, lahir keputusan elite politik melalui amandemen keempat UUD 1945 pada
tahun 2002. Isinya, mengamanatkan anggaran pendidikan minimal 20% dari besaran di
APBN dan APBD guna memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.[9]
Hal tersebut juga di atur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan nasional, yang menyebutkan bahwa, “Dana pendidikan selain gaji pendidik dan
biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% (dua puluh persen) dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% (dua puluh
persen) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)”.[10] Anggaran pendidikan
sebesar 20% yang diambil dari APBN dan APBD, ini dikenal dengan istilah Dana Alokasi
Khusus (DAK).
Tetapi perintah konstitusi agar pemerintah anggaran pendidikan minimal 20% (dari APBN dan
APBD) itu tidak serta-merta dapat dilaksanakan. Perintah UUD itu membutuhkan instrument
keputusan politik, yang kemudian baru dapat dijalankan oleh birokrasi. Melalui rapat konsultasi
pimpinan DPR dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Senin 5 Juni 2006, pemerintah
dan Dewan akhirnya sepakat menganggarkan sektor pendidikan hingga 20 persen dari total
belanja di APBN yang sebelumnya baru mencapai sekitar 9,1%.[11] Faktanya, pemerintah pusat
sendiri baru dapat memenuhi target anggaran pendidikan 20% dari APBN mulai tahun 2009
dengan 20,8% yang ditahun 2010 turun menjadi 20%. Pada tahun 2011 hingga 2013 juga
dianggarkan sesuai standar perintah konstitusi sebesar 20%. Apakah dalam praktek jajaran
birokrasi dari pusat sampai daerah 100% melaksanakan perintah konstitusi itu?
2.3. Analisis
Reformasi birokrasi telah digulirkan Indonesia. Dasar pelaksanaannya adalah Peraturan
Presiden No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 20 Tahun 2010
9
tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014. Secara teknis kedua kebijakan tersebut
dilengkapi dengan berbagai pedoman yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 7 s.d 15 Tahun 2011.
Reformasi birokrasi menjadi tanggung jawab semua lembaga pemerintahan baik pusat maupun
daerah. Oleh karena itu, kementrian, lembaga non departemen dan Pemda harus mengacu pada
Peraturan Presiden 81/2010 tentang Grand Design RB 2010–2025 dan melakukan langkahlangkah Reformasi Birokrasi sebagaimana digariskan dalam PerMENPANRB No. 20/2010,
sesuai dengan karateristik K/L/Pemda, dalam rangka mewujudkan sasaran reformasi birokrasi
secara nasional.
Apabila kita merujuk pada pandangan Weber, sebagaimana dikutip oleh Priyatmoko dalam
tulisannya “Kekuasaan Birokratik dan Cara-cara Mengontrolnya”, birokrasi merupakan proses
yang tak terelakkan sebagai konsekuensi rasionalisasi dan modernisasi.
Weber berharap, kekuasaan birokrasi dapat dikontrol oleh para pemimpin politik dan
pengusaha, utamanya pemimpin kharismatik.
Sedangkan Mises lebih melihat, bahwa pertumbuhan kekuasaan birokrasi merupakan akibat
langsung dari pilihan politik para elite, khususnya ideologi Negara yang intervensionis. Mises
mencemaskan kekuasaan birokrasi sebagai manifestasi ideologi totaliterisme yang mengancam
demokrasi, kebebasan individu, dan kemakmuran ekonomi melalui mekanisme pasar[12].
Merujuk peda praktek birokrasi di Indonesia, birokrasi termasuk organ yang harus direformasi.
Ryaas Rasyid (2012) mengatakan, reformasi birokrasi minimal harus mencakup lima sasaran
utama (Rasyid, 2012) yaitu:[13]
(1.) Perampingan organisasi dengan tujuan efisiensi pembiayaan, efisiensi penggunaan tenaga,
dan efisiensi pengunaan waktu dalam menapaki tahapan pengambilan keputusan.
(2.) Penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.
(3.) Penegakan disiplin dan pembangunan kultur birokrasi yang berbasis etika.
10
(4.) Penerapan asas profesionalisme yang berbasis kompetensi dan integritas dalam rekrutmen
dan promosi.
(5.) Pemberian imbalan yang sesuai kinerja dan kontribusi masing-masing organisasi dan
personil yang bekerja dilingkungan pemerintahan.
Tidak dapat dipungkiri, birokrasi pendidikan juga menjadi sasaran mengapa dia juga harus
direformasi. Alasan pertama mengapa birokrasi pendidikan perlu direformasi adalah,
pendidikan merupakan instrumen kebijakan politik pemerintah, sehinga jelas bahwa ada
keterkaitan antara politik dengan pendidikan. Menurut M. Sirozi, pendidikan dan politik
merupakan dua elemen penting dalam sistem sosial politik di setiap Negara, baik Negara maju
maupun Negara berkembang. Keduanya sering dilihat sebagai bagian-bagian terpisah, yang satu
sama lain tidak memiliki hubungan apa-apa. Padahal, keduanya bahu-membahu dalam proses
pembentukan karakteristik masyarakat.[14]
Plato berpendapat, sekolah adalah salah satu aspek kehidupan yang terkait dengan lembagalembaga politik. Setiap budaya mempertahankan kontrol atas pendidikan di tangan kelompokkelompok elite yang secara terus-menerus menguasai kekuasaan politik, ekonomi, agama dan
pendidikan. Plato menggambarkan adanya hubungan dinamis antara aktivitas pendidikan dan
aktivitas politik.
Menurut Abernethy dan Coombe, education and politics are inextricably linked (pendidikan dan
politik terkait tanpa bisa dipisahkan). Hubungan timbal balik antara keduanya dapat terjadi
melalui tiga aspek: pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran
(unemployment), dan peranan politik kaum cendekia (the political roles of the intellegents).
Keterkaitan antara pendidikan dan politik, berimplikasi pada semua dataran, baik filosofis
maupun kebijakan. Sebagai contoh, filsafat pendidikan kita adalah refleksi prinsip ideologis
(Pancasila) yang diadopsi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini selaras dengan
pandangan Abernethy dan Coombe seperti dikutip Sirozi, yang menyebutkan bahwa, “A
government’s education policy reflect, and sometimes betray, its view of society or political
creed. The formulation of policy, being a function of government, is essentially part of the
political process, as are the demands made on government by the public for its revision”
11
Pada gilirannya, implementasi dari suatu kebijakan pendidikan, berdampak pada kehidupan
politik. Menurut Abernethy dan Coombe, ada empat aspek kehidupan masyarakat yang dapat
dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah, yaitu lapangan
kerja, mobilitas social, ide-ide dan sikap. Hal tersebut menggambarkan: (1) betapa eratnya
hubungan antara politik dan pendidikan, dan (2) betapa besar pengaruh hubungan tersebut
terhadap tatanan kehidupan sosial politik masyarakat.
Kebijakan pendidikan di Indonesia diarahkan untuk menciptakan manusia yang merdeka dan
demokratis, dengan memiliki kekuatan pada aspek-aspek keimanan menurut agama yang
dianutnya. Karena itu urusan pendidikan tidak sekadar merupakan hak dan kebutuhan
masyarakat, tetapi juga merupakan kewajiban negara kepada warga negaranya. Warganegara
berhak memperoleh pendidikan, sedang negara wajib memfasilitasinya.
Alasan kedua, performance birokrasi pendidikan sampai sekarang ini, menyebabkan
kelambanan pelayanan publik di bidang pendidikan. Bahkan, kelambanan praktik
penyelenggaraan pendidikan sampai pada tingkat satuan pendidikan (sekolah). Menurut Ace
Suryadi (Staf Ahli Mendiknas Bidang Desentralisasi Pendidikan) dalam makalahnya yang
disampaikan pada forum Sosialisasi Pemberdayaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah pada
tahun 2003, ia menyatakan “Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim
birokratik dan sentralistik dianggap sebagai salah satu sebab yang telah membuahkan
keterpurukan dalam mutu dan keunggulan pendidikan di tanah air. Mengapa demikian? Karena
sistem birokrasi selalu menempatkan “kekuasaan” sebagai faktor yang paling menentukan
dalam proses pengambilan keputusan.”
Sekolah-sekolah saat ini telah terkungkung oleh kekuasaan birokrasi yang “menggurita” sejak
kekuasaan tingkat pusat hingga daerah bahkan terkesan semakin buruk dalam era desentralisasi
ini. Ironisnya, kepala sekolah dan guru-guru sebagai pihak yang paling memahami realitas
pendidikan berada pada tempat yang “dikendalikan”. Merekalah seharusnya yang paling
berperan sebagai pengambil keputusan dalam mengatasi berbagai persoalan sehari-hari yang
menghadang upaya peningkatan mutu pendidikan. Namun, mereka ada dalam posisi tidak
berdaya dan tertekan oleh berbagai pembakuan dalam bentuk juklak dan juknis yang “pasti”
tidak sesuai dengan kenyataan objektif di masing-masing sekolah.
12
Untuk mereformasi birokrasi (pendidikan), perlu adanya piranti yang memadai, bukan
“sekadar” mengubah praktik birokrasi dan memutasi personalianya. Era otonomi telah begulir
sejak 1999 lalu. Dalam bidang pendidikan, hal itu hendaknya diterjemahkan sebagai hak
sekolah dan masyarakat untuk merencanakan dan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar
yang lebih kontekstual.
Ada beberapa hal yang sudah coba dilakukan dan dikembangkan untuk memperbaiki mutu
pendidikan. Misalnya, diberlakukannya pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (School
Based Management), pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sebagai mitra
pemerintah dan sekolah. Lembaga itu menjadi pintu masuk bagi keterlibatan dan peran aktif
masyarakat untuk ikut serta memperbaiki kualitas pendidikan.
Sistem sentralistik yang pernah dijalankan dalam pengelolaan pendidikan, terbukti kurang bisa
memberikan pelayanan yang efektif bagi guru maupun anak didik, tidak mampu menjamin
kesinambungan kegiatan di tingkat lokal, memiliki keterbatasan dalam beradaptasi dengan
permasalahan lokal, dan menciptakan rasa ketergantungan pada pihak lain daripada rasa mandiri.
Perlu diingat, implementasi desentralisasi pendidikan harus berorientasi pada misi utamanya.
Seyogyanya, pelaksanaan desentralisasi pendidikan tidak dilakukan melalui suatu mekanisme
penyerahan “kekuasaan birokrasi” dari pusat ke daerah, karena kekuasaan telah terbukti gagal
dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Namun, apa boleh buat, urusan sektor pendidikan ternyata termasuk di antara urusan pusat yang
diserahkan kewenangannya kepada daerah tingkat II (kabupatan dan kota) sebagaimana diatur
oleh Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.[15] Berbeda dengan masa Orde Baru, dimana bupati
dan walikota dipilih oleh DPRD, maka pada masa reformasi sebagai diatur UU tersebut, bupati
dan walikota, sebagaimana presiden dan wakil presiden dan gubernur dan wakil gubernur dipilih
langsung oleh rakyat.
Situasi politik itu berimplikasi cukup jauh. Berbeda dengan masa orde baru, dimana dulu bupati
dan walikota jelas-jelas tunduk kepada gubernur (yang merupakan kepanjangan tangan
pemerintah pusat atau presiden). Sekarang, dengan posisi bupati dan walikota yang dipilih
13
langsung oleh rakyat, tidak jarang terjadi ketegangan hubungan birokrasi dan politik antara
mereka dengan gubernur. Tidak jarang, bupati dan walikota mangkir atau menolak hadir dalam
rapat di gubernuran. Bahkan, muncul kebijakan yang bertentangan dengan gubernur. Beruntung
rakyatnya, jika “perlawanan” bupati atau walikota itu, berpihak kepada masyarakat.
Ketegangan birokrasi pusat ( presiden, wapres dan para pembantunya) di satu pihak, dan kepala
daerah (gubernur, bupati dan walikota) di pihak lain, tidak terelakkan terjadi ketika kepentingan
pemerintah pusat ternyata berbeda dengan pemerintah daerah. Sebabai contoh, kebijakan
pemerintah pusat mengenai mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC),
ditentang oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan sejumlah kepala daerah lainnya, seperti
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wali Kota Solo FX Rudyatmo, dan Wali Kota Bandung
Ridwan Kamil. Mereka menolak kebijakan mobil murah, karena menganggap akan
memperparah kemacetan. Mereka berpendapat, pemerintah pusat seharusnya mendukung
pemerintah daerah untuk mengatasi kemacetan dengan mempercepat pengadaan sistem
transportasi massal. Akan tetapi, kebijakan pemerintah pusat justru kontradiktif dengan
menghadirkan PP Nomor 41 Tahun 2013 tentang LCGC.
Perbedaan kebijakan antara pusat/provinsi dengan kabupaten atau kota, bukan tidak mungkin
terjadi dalam urusan pendidikan. Dalam politik anggaran misalnya, bukan tidak mungkin
muncul kebijakan yang berbeda antara pusat dan daerah. Adanya perbedaan latar belakang para
politisi yang menjadi pucuk pimpinan birokrat —(baik pendidikan, partai politik yang dianut
maupun aspeklain)— dan juga visi, boleh jadi di daerah A pendidikan APBD
menganggarkan 20%, tetapi di daerah X hanya dianggarkan 10% saja.
Ada beberapa aspek yang melatarbelakangi terjadinya perbedaan kebijakan birokrasi:
1. Aspek struktur/sistem
Selama ini struktur/sistem yang dikembangkan sangat birokratis, tidak efisien dan menempatkan
orang bukan karena profesionalisme atau kemampuan, tetapi karena kedekatan dengan pejabat.
Akibatnya, program kerja yang dibuat berorientasi pada proyek, bukan manfaat dan dampak.
Hal ini mengakibatkan dana yang besar menjadi tidak efektif dan efisien. Belum lagi, para
14
pejabat masih banyak juga berkepentingan untuk mengambil keuntungan dari dana proyek yang
dianggarkan, sehingga pemenang tender proyek (program) bukan pihak yang mampu, tapi siapa
yang bisa memberi kick back money dan komisi paling besar. Buktinya, masih cukup banyaknya
pejabat/birokrat pusat dan daerah yang ditangkap KPK, Kejaksaan maupun Polri terkait kasus
korupsi anggaran.
1. Aspek kultur/budaya
Budaya kerja birokrasi banyak yang masih berorientasi dilayani, bukan melayani. Ada
beberapa contoh birokrasi yang sudah berubah, seperti di Kabupaten Jembrana, dan Kota
Surakarta. Tapi, yang belum berubah juga masih banyak, termasuk di lingkungan dinas
pendidikan. Pengawas yang datang ke sekolah bukan untuk melayani sekolah, tetapi mereka
yang dilayani dengan berbagai fasilitas dan upeti. Dalam melayani masyarakat, cenderung
mempersulit dan lambat.
1. Aspek figur/pemimpin
Pemimpin yang diangkat, masih jarang yang berdasarkan profesionalisme, kemampuan dan
kompetensinya. Orang-orang yang memiliki kedekatan dengan bupati/walikota, karena punya
jasa tertentu seperti tim sukses dalam Pilkada, yang dipilih dan diangkat sebagai pejabat di
birokrasi. Akibatnya, tak jarang pejabat itu tidak memiliki visi dan kompetensi yang
memadai.
1. Aspek Hubungan.
Hubungan antar pejabat dengan staf adalah hubungan atasan dan bawahan, bukan kolega atau
teman seperjuangan. Tetapi dalam biroktasi masih dijumpai, pejabat menempatkan diri sebagai
majikan yang memiliki kekuasaan dan merasa tidak pernah salah. Staff menempatkan diri
sebagai “budak”, yang siap mengerjakan apapun yang diperintahkan atasan tanpa sikap kritis.
1. Aspek Peran.
Peran yang diemban oleh tenaga kependidikan pun hanya sekadar administratif belaka dalam arti
sempit. Sekadar menjalankan tugas tanpa visi, misi dan orientasi untuk perbaikan dan
15
peningkatan mutu pendidikan. Akibatnya sulit untuk melakukan transformasi pendidikan karena
segalanya rutinitas belaka.
Untuk memperbaikinya sektor pendidikan perlu dilakukan reformasi birokrasi, lebih-lebih
birokrasi kependidikan, yang di antaranya menyangkut aspek:
1. Reformasi motivasi : dari asal kerja menjadi ibadah dan amanah.
2. Reformasi pemimpin : dari pejabat menjadi kaum profesional.
3. Reformasi paradigma : dari dilayani menjadi melayani.
4. Reformasi pendekatan pengelolaan : dari birokrasi menjadi korporasi profesional.
5. Reformasi hasil kerja : dari asal selesai menjadi orientasi mutu.
6. Reformasi pelayanan : dari dipersulit menjadi dipermudah dan memuaskan.
7. Reformasi cara kerja : dari lambat menjadi disiplin, cepat dan segera.
8. Reformasi budaya kerja : dari saling bersaing negatif menjadi sinergis.
9. Reformasi pelaporan : dari semu menjadi jujur, transparan dan akuntabel.
10. Reformasi tampilan : dari tidak ramah menjadi ramah dan menyenangkan.
Dengan pendekatan seperti tersebut di atas, praktek dan perilaku birokrasi
diharapkan mengedepankan tata kelola yang amanah (good governance). Kinerja birokrasi dapat
dikategoriukan good governance apabila memenuhi prinsip-prinsip berikut :
1. Accountability (akuntabilitas): kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau
menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/pimpinan atau suatu unit organisasi
kepada pihak yang memiliki hak atau berwenang meminta pertanggugjawaban. Meliputi
akuntabilitas publik, politik, keuangan, hukum, dan sebagainya.
16
2. Transparancy (transparansi) : Transparansi sama dengan polos, apa adanya, tidak bohong,
tidak curang, jujur, dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan. Pengembangan
transparansi ditujukan untuk membangun kepercayaan dan keyakinan publik sebagai organisasi
pelayanan pendidikan yang bersih dan berwibawa.
3. Openess (keterbukaan) : pemberian informasi secara terbuka, terbuka untuk open free
suggestion, dan terbuka terhadap kritik sebagai partisipasi untuk perbaikan. Kebijakan yang
diambil melalui proses ini sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang produktif, positif dan
motivatif.
4. Rule of Law (aturan hukum) : keputusan, kebijakan dilakukan berdasar hukum (peraturan yang
sah). Juga terdapat jaminan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat terhadap setiap
kebijakan publik yang ditempuh.
5. Fairness (berkeadilan) : adanya jaminan perlakuan yang adil/perlakuan kesetaraan kepada
masyarakat dalam pelayanan publik dan tidak ada perlakukan yang melanggar HAM.
6. Partisipation (partisipasi) : setiap warga negara berpartisipasi dalam pengambilan keputusan,
baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya. Partisipasi
dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
7. Responsif : responsif dan cepat tanggap terhadap aspirasi masyarakat.
8. Berorientasi kesepakatan (consessus orientation) : perantara kepentingan yang berbeda untuk
mendapatkan pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas dalam hal kebijakan maupun
prosedur kerja.
9. Efektif dan efisien : menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan
menggunakan sumber-sumber yang tersedia dengan hasilnya yang sebaik mungkin.
10. Stategic vision (Visi strategis): mempunyai perspektif good governance dan pengembangan
sumber daya manusia yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk
pembangunan.
17
Apakah desentralisasi pendidikan, yang diarahkan pada otonomi pendidikan dan otonomi
sekolah demi kepuasan masyarakat selaku pengguna jasa pendidikan bisa sepenuhnya
dipraktekkan atau hanya menjadi wacana dan konsep? Apakah daerah mampu
mengimplementasikan otonomi pendidikan dan otonomi sekolah untuk memenuhi
tanggungjawab sekolah kepada publik? Waktulah yang akan menjawab, seiring dengan apa
yang diusahakan oleh birokrasi, politisi pemegang kebijakan dan masyarakat. Tegasnya, hal
ini bukan hanya masalah komitmen dan political will pemerintah daerah, tetapi daerah memang
banyak yang tidak memiliki referensi dan konsep untuk mengoperasionalkan konsep otonomi
yang aplicable di sektor pendidikan tersebut.
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a)
Pada tataran keputusan politik nasional, pada tataran konstitusi dan perundang-undangan,
kebijakan terkait dengan pendidikan sudah memadai, seperti perintah agar anggaran pendidikan
20% dari total anggaran negara (APBN dan APBD). Hal itu juga didukung dengan adalah UU
Sistem Pendidikan Nasional dan UU Pemerintahan Daerah, serta Grand Desain Reformasi
Birokrasi. Hanya saja, dalam pelaksanaan di lapangan, daerah belum sepenuhnya bisa matching
dengan visi negara dalam pendidikan yang dielaborasi dalam UUD, UU dan peraturan
pelaksananya.
b)
Partai politik perlu selektif dalam perekrutan sumber daya manusia, terutama mereka yang
akan ditempatkan sebagai pucuk pimpinan di daerah (gubernur, bupati dan walikota). Untuk itu,
perlu adanya penajaman visi dan misi mereka dalam membangun daerah, tidak terkecuali di
bidang pendidikan.
c)
Masyarakat perlu turut mengawasi bagaimana pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab
daerah dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagaimana diatur dalam UU No 32/2003 tentang
Pemerintahan Daerah, yang meliputi penetapan mutu sumberdaya manusia, kelengkapan sarana
& prasarana, serta permasalahan pembiayaan pendidikan.
B. Saran
Reformasi birokrasi (termasuk birokrasi pendidikan) di pusat dan daerah perlu terus
dikawal, agar urgensi pendidikan sebagai salah satu layanan publik yang amat strategis, dapat
dipraktekan birokrasi. Hal itu penting, agar birokrasi tidak menjadi sumber kemerosotan dan
kemandekan penyelenggaraan pendidikan.
19
DAFTAR PUSTAKA
Blog Prof. Dr. Nur Syam, M.Si pada laman http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=2587
Blog, http://arjaenim.blogspot.com/2013/01/pengertian-birokrasi.html
Blog, http://blog.fitb.itb.ac.id/usepm/?p=312
Happy Susanto [Peneliti The International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) Indonesia],
sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0401/01/opi01.html
Harian Suara Merdeka @ ttp://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0606/06/nas2.htm
Kementrain Dalam Negeri, http://itjen-depdagri.go.id/article-24-birokrasi.html
Wikipedia @ http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah_di_Indonesia
[1] Sulistyo., Hermawan. Dari Negeri Majikan ke Negeri Pelayan: Reformasi Birokrasi
Indonesia, Pensil-324, Jakarta, 2011
[2] http://www.merriam-webster.com/dictionary/bureaucracy
[3] Castle. Lance, Suyatno, Nurhadiantomo, Birokrasi, kepemimpinan, dan revolusi sosial di
Indonesia, Hapsara, 1983
[4] Sjafari., Agus, dan Kandung Sapto Nugroho, Perubahan Sosial: Sebuah Bunga Rampai,
FISIP Untirta
Cetakan Pertama: April, 2011
[5] http://itjen-depdagri.go.id/article-24-birokrasi.html
[6] Happy Susanto, Peneliti The International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) Indonesia,
sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0401/01/opi01.html
20
[7] http://arjaenim.blogspot.com/2013/01/pengertian-birokrasi.html
[8] http://blog.fitb.itb.ac.id/usepm/?p=312
[9] Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 Amandemen IV Tahun 2002
[10] Pasal 49 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003
[11] http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0606/06/nas2.htm
[12] Priyatmoko, MA., Kekuasaan Birokrasi dan Cara-cara Mengontrolnya, artikel.
[13]
[14] M. Sirozi, Ph.D, Politik Pendidikan, Dinamika Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan
dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan, Penerbit Rajawali Press, 2005, halm. 1.
[15] http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah_di_Indonesia
21
22
Download