CJR BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mengkritik jurnal (Critical Journal Review) adalah penganalisaan, penilaian, dan pengevaluasian mengenai keunggulan dan kelemahan jurnal, bagaimana isi artikel tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita dan menambah pemahaman kita. Critical Journal Review (CJR) sangat penting buat kalangan pendidikan terutama buat mahasiswa maupun mahasiswi karena dengan mengkritik suatu jurnal maka mahasiswa/i ataupun si pengkritik dapat membandingkan dua jurnal dengan tema yang sama, dapat melihat mana jurnal yang perlu diperbaiki dan mana jurnal yang sudah baik untuk digunakan berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan oleh penulis jurnal tersebut, setelah dapat mengkritik jurnal maka diharapkan mahasiswa/i dapat membuat suatu jurnal karena sudah mengetahui bagaimana kriteria jurnal yang baik dan benar untuk digunakan dan sudah mengerti bagaimana cara menulis atau langkah-langkah apa saja yang diperlukan dalam penulisan jurnal tersebut. Saya memilih artikel “Aktualisasi Paham Konstitusionalisme dalam Konstitusi Pasca Amandemen Undang Undang Dasar 1945” dan artikel “Perkembangan Konstitusi Di Indonesia” karena artikel ini cukup menarik untuk direview karena berkaitan dengan Konstitusi yang menurut saya dapat membantu mahasiswa/i untuk menambah wawasan baru tentang Konstitusi terutama bagi mahasiswa/i yang mengambil progam pendidikan agar dapat menjadi generasi muda dan juga calon guru yang tahu dan memahami konstitusi di Indonesia. B. TUJUAN Tujuan Secara umum critical jurnal ini bertujuan untuk melatih kemampuan kita dalam menganalisis dan mengevaluasi pembahasan yang disajikan penulis, sehingga menjadi masukan berharga bagi proses kreatif penulis lainnya. Melalui Critical Journal Review kita menguji pikiran pengarang atau penulis berdasarkan sudut pandang kita dan pengetahuan serta pengalaman yang kita miliki. C. MANFAAT Manfaat critical journal review yaitu membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah jurnal, mengetahui kelebihan dan kekurangan jurnal yang dikritik serta mengetahui latar belakang dan alasan jurnal tersebut dibuat, membantu semua kalangan dalam mengetahui inti dari hasil penelitian yang terdapat dalam suatu jurnal. D. IDENTITAS JURNAL Jurnal I Judul : Perkembangan Konstitusi Di Indonesia Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Hukum Edisi Terbit : Tahun 2013. Volume 2, No.3 Pengarang : M. Agus Santoso Penerbit : Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda Kota Terbit : Samarinda Jurnal II Judul : Konstitusi dan Konstitusionalisme Nama Jurnal : Jurnal Konstitusi Edisi Terbit : Tahun 2010. Volume 7, No.4 Pengarang : M. Laica Marzuki Penerbit : Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Kota Terbit : Jakarta BAB II RINGKASAN ISI ARTIKEL A. JURNAL I PENDAHULUAN Pada suatu negara di dunia pasti mempunyai konstitusi, karena konstitusi merupakan salah satu syarat penting untuk mendirikan dan membangun suatu negara yang merdeka, oleh karenanya begitu pentingnya konstitusi itu dalam suatu negara. Konstitusi merupakan suatu kerangka kehidupan politik yang sesungguhnya telah dibangun pertama kali peradaban dunia dimulai, karena hamper semua negara menghendaki kehidupan bernegara yang konstitusional, adapun ciri-ciri pemerintahan yang konstitusional diantaranya memperluas partisipasi politik, memberi kekuasaan legislative pada rakyat, menolak pemerintahan otoriter dan sebagainya (Adnan Buyung Nasution, 1995 : 16). Dalam mendirikan sebuah negara sedikitnya diperlukan unsur-unsur sebagai berikut : 1. Adanya wilayah tertentu; 2. Rakyat; dan 3. Pemerintahan yang diakui (Muh. Kusnardi & Bintan Saragih, 1985 : 91). Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi di Indonesia merupakan hukum tertinggi yang ditetapkan secara konstitusional, sedangkan hukum itu merupakan produk politik, karena dalam kenyataannya setiap produk hukum merupakan produk politik, sehingga hukum dapat dilihat sebagai kristalisasi dari pemikiran politik yang saling interaksi dikalangan politisi (M. Agus Santoso, 2009 : 9). sedangkan politik itu kental dengan kepentingan, oleh karena itu tidak mustahil karena kepentingan itulah kemudian dapat merubah produk hukum juga, demikian halnya terhadap konstitusi di Indonesia yang selalu berubah dan mengikuti perkembangan politik. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan untuk pendekatan ini adalah penelitian hukum normative yang mencakup penelitian asas-asas hukum, atau disebut juga penelitian hukum yang doctrinal dengan menggunakan sumber hukum sekunder saja, yaitu peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, teori hukum dan pendapat para ahli, disamping itu penelitian hukum normative bahan primernya terdiri atas Undang-Undang Dasar dan berbagai dokumen resmi yang memuat ketentuan hukum, termasuk akte notaris dan kontrak. Sedangkan textbook, monograf, laporan penelitian dan sebagainya merupakan bahan sekunder (Sunaryati Hartono, dalam M. Agus Santoso, 2011 : 18). Dalam penelitian ini yang akan digali adalah mengenai perkembangan konstitusi di Indonesia, penelitian ini merupakan penelitian sejarah mengenai konstitusi atau UUD yang berlaku di Indonesia sejak kemerdekaan, cara penelitian adalah dengan mengkaji Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Dasar lainnya yang pernah berlaku di Indonesia sebagai bahan hukum primer serta perundang-undangan lainnya, juga mengkaji beberapa literatur yang berkaitan dengan perkembangan konstitusi di Indonesia sebagai bahan hukum sekunder kemudian menganalisisnya dan menuangkan dalam tulisan ini dengan bentuk diskriptif analistis. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Perkembangan Konstitusi di Indonesia Istilah konstitusi berasal dari bahasa Perancis, yaitu constituer berarti membentuk, yang dimaksud ialah membentuk suatu negara, dalam bahasa Inggris dipakai istilah constitution yang dalam bahasa Indonesia disebut konstitusi, dalam praktek dapat berarti lebih luas dari pada pengertian Undang-Undang Dasar, tetapi ada juga yang menyamakan dengan Undang-Undang Dasar (Dahlan Thaib, 2008 : 7). Dalam bahasa Latin, kata konstitusi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cume adalah sebuah reposisi yang berarti bersama dan statuere berasal dari kata sta yang membentuk kata kerja pokok stare yang berarti berdiri. Atas dasar itu maka kata statuere mempunyai arti membuat sesuatu agar berdiri atau mendirikan / menetapkan (Dahlan Thaib, 2008 : 7). Pengertian konstitusi menurut bahasa Perancis, bahasa Inggris dan bahasa Latin, pada intinya adalah suatu ungkapan untuk membentuk, mendirikan/menetapkan, lebih lanjut dikenal dengan maksud pembentukan, penyusunan atau menyatakan suatu negara, maka dengan kata lain secara sederhana, konstitusi dapat diartikan sebagai suatu pernyataan tentang bentuk dan susunan suatu negara, yang dipersiapkan sebelum maupun sesudah berdirinya negara yang bersangkutan (Jazim Hamidi, 2009 : 87). Perkembangan ketatanegaraan tersebut juga sejalan dengan perkembangan dan perubahan konstitusi di Indonesia seperti diuraikan dalam pembehasan berikut ini : a. Periode 18 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1949, masa berlakunya UndangUndang Dasar 1945. b. Periopde 27 Desember 1949 sampai deng an 17 A gu stu s 1 950, ma sa berlakunya Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat (RIS). c. Periode 17 Agustus 1950 samapi dengan 5 Juli 1959, masa berlaku Undang- Undang Dasar Sementara Tahun 1950 (UUDS 1950). d. Periode 5 Juli 1959 sampai dengan 19 Oktober 1999, masa berlaku Undang- Undang Dasar 1945. e. Periode 19 Oktober 1999 sampai dengan 10 Agustus 2002, masa berlaku pelak sanaan perubahan Undang- Undang Dasar 1945 f. Periode 10 Agustus 2002 sampai dengan sekarang masa berlaku Undang- Undang Dasar 1945, setelah mengalami perubahan. 2. Sebab-sebab terjadinya perubahan konstitusi di Indonesia. Naskah UUD 1945 yang telah dirancang oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) kemudian disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945, dirancang dalam situasi dibawah penjajahan Jepang dan ditetapkan dalam suasana tergesa-gesa sehingga masih terdapat kekuarangan dalam menjalankan praktek berbangsa dan bernegara, itulah salah satu penyebab perubahan konstitusi di Indonesia. Situasi yang mempengaruhi perubahan konstitusi juga berasal dari eksternal yaitu negara asing khususnya Belanda yang mempropaganda agar Indonesia tidak berbentuk Negara Kesatuan tetapi Negara Serikat. Perubahan konstitusi berarti juga perubahan sistem ketatanegaraan, sejak awal Pancasila dan UUD 1945 tidak lapang jalannya karena kolonialis Belanda selalu ingin menancapkan kembali kekuasaannya (Ni’matul Huda, 2005 : 124). Desakan Belanda ini begitu kuat sehingga memaksa bangsa Indonesia harus berpikir politis dalam rangka mengelabui Belanda, walaupun menyetujui himbauan Belanda untuk menjadi Negara Serikat tetapi tidak berlangsung lama. Keadaan yang mempengaruhi perubahan konstitusi di Indonesia juga berasal dari internal (dalam negeri) yang beraneka ragam desakan dalam hal menjalankan sistem ketatanegaraan, namun hal itu juga akibat dari faktor eksternal, yaitu perubahan dari negara Serikat kembali ke NKRI, untuk mengelabui Belanda maka UUD yang dipergunakanpun tidak menggunakan UUD 1945 tetapi menggunakan UUDS 1950. Akibat dari perubahan konstitusi maka berubah pula sistem ketatanegaraan Indonesia waktu itu. SIMPULAN Konstitusi di Indonesia selalu mengalami perubahan, yang pertama kali berlaku adalah UUD 1945, kemudian disusul UUD RIS pada tahun 1949 merupakan konstitusi kedua yang mengakibatkan bentuk Negara Kesatuan berubah menjadi Negara Serikat. UUDS 1950 merupakan konstitusi yang ketiga, walaupun kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi sistem pemerintahannya adalah Parlementer sampai dikeluarannya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945 yang berlaku hingga reformasi yang menghantarkan amandemen UUD 1945 ke empat kali dan berlaku sampai sekarang. Perubahan konstitusi di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah bahwa penyususnan rancangan UUD yang dilakukan oleh BPUPKI sangat tergesa-gesa sehingga belum begitu sempurna. Desakan dari Belanda juga merupakan faktor penyebab berubahnya konstitusi, hingga terjadinya pergeseran politik hukum di Indonesia yang menuntut amandemen UUD 1945, dan berpengaruh pada berubahnya system ketatanegaraan Republik Indonesia. JURNAL II PENDAHULUAN The Constitution of The United States of America yang ditandatangani 39 delegasi di kala tanggal 17 September 1787 di Philadelphia, Pennsylvania, tempat terselenggaranya Constitutional Convention, mendorong lahirnya constitutional states (negara – negara konstitusi) di beberapa kawasan dunia, termasuk negara – negara monarki, yang dikenal dengan penamaan: constitutional monarch. Dalam perkembangannya beberapa constitutional state menyadari bahwa konstitusi negara – negara dimaksud kurang memuat pengaturan hal pembatasan penguasa dan pengakuan hak – hak sipil rakyat banyak di dalamnya. Muncul gagasan agar dalam konstitusi diatur semacam constitutional government, yang pada hakikatnya mewujudkan hal pembatasan pemerintahan atau limited government, yang bertujuan to keep government in order. Hal dimaksud menggagas diadopsinya paham konstitusionalisme atau constitutionalism dalam perubahan konstitusi (constitution amandement) beberapa negara di abad XX dan XXI. KONSTITUSI Konstitusi atau Grondwet, Grundgesetz, Undang-Undang Dasar menempati tata urutan peraturan perundang-undangan tertinggi dalam negara. Constitutie is de hoogste wet ! Istilah Constitution berasal dari kata bahasa latin: constitutio bermakna a degree, dekrit, permakluman. Dalam konteks institusi negara, konstitusi bermakna permakluman tertinggi yang menetapkan a.l. pemegang kedaulatan tertinggi, struktur negara, bentuk negara, bentuk pemerintahan, kekuasaan legislatif, kekuasaan peradilan dan pelbagai lembaga negara serta hak – hak rakyat. Djokosoetono memintakan perhatian atas beberapa makna konstekstual pemahaman konstitusi sebagai berikut: • Konstitusi dalam makna materil (constitutie in materiele zin), berpaut dengan gekwalificeerde naar de inhoud, yaitu dititikberatkan pada isi konstitusi yang memuat dasar (grondslagen) dari struktur (inrichting) dan fungsi (administratie) negara. • Konstitusi dalam makna formal (constitutie in formele zin), berpaut dengan gekwalificeerde naar de maker, yaitu dititikberatkan pada cara dan prosedur tertentu dari pembuatannya. • Konstitusi dalam makna UUD (grondwet) selaku pembuktian (constitutie als bewijsbaar), agar menciptakan stabilitas (voor stabiliteit) perlu dinaskahkan dalam wujud UUD atau Grondwet. KONSTITUSIONALISME MEMUAT ESENSI PEMBATASAN KEKUASAAN Walaupun paham konstitusionalisme diturunkan (derive) dari konstitusi, dan dalam perkembangannya bahkan mendorong konstitusionalisme mengagas keberadaan pembatasan constitutional kekuasaan dalam state negara. namun esensi Constitutionalism implements the rule of laws; it brings about predictability and security in the relations of individuals and the government by defining in the power and limit of that government (Konstitusionalisme mengatur pelaksanaan rule of law dalam hubungan individu dengan pemerintah. Konstitusionalisme menghadirkan situasi yang dapat memupuk rasa aman, karena adanya pembatasan terhadap wewenang pemerintah yang telah ditentukan terlebih dahulu), kata Richard Kay (Miriam Budiarjo, 2008:170). Constitutionalism atau Konstitusionalisme mengemban the limited state, agar penyelenggaraan negara dan pemerintahan tidak sewenangwenang dan hal dimaksud dinyatakan serta diatur secara tegas dalam pasal-pasal konstitusi. la tanggal 18 Agustus 1945 nyaris tidak mengindahkan paham konstitusionalisme, walaupun di dalamnya telah memberlakukan distribution of power di antara bidang-bidang kekuasaan negara. Penjelasan UUD 1945, di bawah judul Sistem Pemerintahan Negara, Angka II bahkan dengan jelas mencantumkan nomenklatur: Sistem Konstitusional. Dikatakan pada butir (2): ”Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Namun, beberapa pasal UUD (redaksi lama) tidak mendukung paham konstitusionalisme itu. POST SCRIPTUM Konstitusi bukan segala-galanya. Konstitusi tidak sekaligus mengandung paham konstitusionalisme. Konstitusi belum tentu konstitusionalisme. Constitutionalism should be limited government. Konstitusi Kerajaan Manchu (1910) memuat beberapa pasal konstitusi tentang kedaulatan kaisar sebagai berikut: 1. The Taching Dynasty shall rule over the Taching forever and ever, and be honored through all ages. 2. The Emperor’s person is sacred and inviolable. 3. The Emperor alone has power to make laws and to decide what matters shall be placed before parlianment for discussion. 4. The Emperor shall convoke, inaugurate, open and close, prorogue and suspect parlianment (Mingchen Joshua Bau, Modern Democracy in China, Commercial Press Ltd, Shanghai 1923, halaman 379). Konstitusi Kerajaan Manchu (1910) adalah konstitusi namun tidak mengandung paham konstitusionalisme. BAB III PEMBAHASAN A. KELEBIHAN JURNAL JURNAL I Kelebihan dalam jurnal pertama yang berjudul Perkembangan Konstitusi Di Indonesia adalah terletak pada materi yang cukup lengkap terlihat pada sub-sub judul dalam jurnal tersebut yang lengkap dan mendetail, kemudian kelebihan dari jurnal tersebut adalah penulis membuat sebuah penelitian mengenai perkembangan konstitusi di Indonesia sehingga informasi yang did apat dari jurnal ini sudah menjadi referensi yang bagus untuk didapatkan. Kemudian jurnal ini sangat terpercaya karena penulis mencantumkan banyak referensi baik dari berbagai buku sehingga jurnal tersebut sangat bermanfaat untuk dibaca. Kelebihan berikutnya terletak pada segi kepenulisan sang penulis yang cukup baik dengan tidak bertele-tele dalam menulis/menyimpulkan materinya. JURNAL II Kelebihan pada jurnal kedua yang berjudul.Konstitusi dan Konstitualisme. Pada jurnal ini menyajikan materi yang cukup lengkap terlihat pada sub-sub judul dalam jurnal tersebut yang lengkap dan mendetail. Kemudian jurnal tersebut memiliki daftar pustaka atau referensi yang cukup banyak sehingga jurnal ini terlihat lebih terpercaya dan kuat dikarenakan banyaknya referensi yang tercantum. Kemudian kelebihan dari jurnal tersebut adalah penulis dapat mengembangkan beberapa poin-point kecil namun cukup penting untuk di kaji, dan penulis melakukannya dengan cukup baik. Kelebihan berikutnya terletak pada segi kepenulisan sang penulis yang cukup baik dengan tidak bertele-tele dalam menulis/menyimpulkan materinya. B. KEKURANGAN JURNAL JURNAL I Jurnal ini tidak mencantumkan tabel maupun grafik sehingga terkesan monoton dan membuat pembaca akan merasa bosan. Selain itu, penulis juga seharusnya lebih memperhatikan penulisan untuk jurnal tersebut karena pada segi sistematika penulisan, jurnal ini tidak rapi seperti ukuran huruf dan juga jenis huruf yang digunakan tidak cocok sehingga jika dilihat kurang menarik. JURNAL II Kekurangan dari jurnal ini yaitu merupakan jurnal yang tidak berasal dari penelitian, jurnal ini hanya menyajikan materi saja. Jurnal ini tidak mencantumkan tabel maupun grafik sehingga terkesan monoton dan membuat pembaca akan merasa bosan. Selain itu, penulis juga seharusnya lebih memperhatikan penulisan untuk jurnal tersebut karena pada segi sistematika penulisan, jurnal ini tidak rapi seperti ukuran huruf dan juga jenis huruf yang digunakan tidak cocok sehingga jika dilihat kurang menarik. BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Setiap karya tulis pastinya memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda antar satu dengan yang lain,baik itu dari segi bahasanya, kelebihannya, dan kekurangannnya. Jurnal pasti mengandung informasi yang sudah dipaparkan dengan jelas oleh penulisnya terlepas dari kekurangan yang terkandung dalam setiap jurnal, namun sudah dapat dipastikan setiap jurnal akan membawa keuntungan bagi pembaca dalam hal pendapatan informasi lebih. Dalam kedua jurnal ini, terkandung informasi yang sangat melimpah yang mana membuat pembaca menjadi tertarik untuk membaca atau menganalisis jurnal ini seperti yang telah kami lakukan. Diatas telah kami sampaikan ringkasan dan juga kelebihan serta kekurangan dari masing-masing jurnal yang diharapkan dapat menjadi perbandingan antara opini atas pembaca jurnal tersebut. B. SARAN Untuk kedepannya atau selanjutnya kelemahan-kelemahan atau pun kekurangan setiap jurnal ini perlu diperbaiki supaya lebih baik lagi dimanfaatkan ataupun digunakan pembaca sebagai refrensi dalam penelitian-penelitian ataupun untuk kegunaan lainnya.