Uploaded by User31727

5. kegiatan rehabilitasi dan konservasi sumberdaya kelautan dan perikanan

advertisement
1
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
2
A. Latar Belakang
Indonesia mempunyai letak geografis yang sangat strategis
karena merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis.
Indonesia memiliki banyak pulau yaitu sekitar 17.500 pulau. Panjang garis
pantainya mencapai 81.000 km atau sekitar 14% dari panjang pantai
dunia. Posisi geografis Indonesia diapit oleh dua benua yaitu Asia dan
Australia, serta dua samudera (Pasifik dan Hindia). Indonesia juga
merupakan daerah pertemuan tiga lempeng besar dunia (Eurasia,
India-Australia, dan Pasifik). Selain itu, sebagian besar wilayah
teritorialnya (75%) merupakan lautan. Dengan demikian, Indonesia
mempunyai potensi kekayaan alam dengan mega-diversitas tinggi yang
berkarakteristik maritim, sehingga peran sektor pesisir, kelautan,
perikanan dan pertambangan memberikan kontribusi yang penting
bagi perekonomian Indonesia.
Namun demikian, potensi yang sedemikian besar tersebut belum
sepenuhnya dimanfaatkan. Sejauh ini, Indonesia belum mempunyai
kerangka kebijakan pengembangan pesisir dan kelautan yang
terintegrasi dibandingkan dengan negara-negara lain. Pemanfaatan
potensi sumberdaya tersebut sebagian besar masih berkiblat sektoral,
sampai dengan terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan
tahun 1999. Pembentukan Departemen Kelautan dan Perikanan
tersebut, tidak secara mudah mengubah pola pemanfaatan dan
pengelolaan sumber-sumber daya pesisir dan kelautan di Indonesia
menjadi lebih terintegrasi. Salah satu sebabnya adalah ketidaksiapan
daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dalam mengimplementasi
perangkat - perangkat kebijakan pemerintah pusat dalam pengelolaan
sumber daya pesisir dan laut secara terintegrasi. Sebagai ilustrasi, belum
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
3
semua daerah baik kabupaten maupun kota yang telah siap dengan
penataan serta pemanfaatan ruang pesisir dan laut. Hal itu
mengakibatkan kebijakan pembangunan, baik kebijakan pusat maupun
kebijakan lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya
pesisir dan kelautan, belum sepenuhnya berjalan secara sinergis dan
terintegrasi.
Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah tingginya kerusakan
ekosistem mangrove, terumbu karang, estuarin sebagai habitat vital,
tingginya pencemaran lingkungan pesisir pantai utara yang diakibatkan
limbah industri, rumah tangga dan pertanian, menurunnya potensi
perikanan di Laut Jawa akibat dari penangkapan berlebih sehingga
makin menurun pendapatan nelayan, rendahnya tingkat kesejahteraan
dan kemampuan sebagian masyarakat pesisir dalam pendayagunaan
potensi sumberdaya kelautan dan perikanan.
Sebagian besar ekosistem habitat vital bagi biota perairan pesisir
di Jawa Tengah yang berfungsi sebagai spawning ground, nursery
ground, dan feeding ground seperti hutan bakau, padang lamun dan
terumbu karang telah mengalami degradasi fisik. Luas ekosistem
mangrove di Jawa Tengah ± seluas 15.184,15 Ha (belum termasuk
karimunjawa); terumbu karang seluas 758,17 Ha (belum termasuk
karimunjawa); dan padang lamun yang kondisinya baik hanya 120,18
Ha (belum termasuk karimunjawa). Rusaknya ekosistem pesisir
menyebabkan abrasi yang ditambah dengan adanya bangunan yang
menjorok ke laut. Luas wilayah yang terkena abrasi di Jawa Tengah
adalah 6.566,97 Ha dimana Kabupaten Brebes dan Demak menjadi
daerah yang terkena abrasi cukup parah. Namun demikian, tanah
timbul atau akresi juga terjadi di pesisir Jawa Tengah yaitu seluas
12.585,19 Ha. Luas lahan akresi tersebutlah yang menjadi potensi dalam
rehabilitasi ekosistem khususnya ekosistem mangrove.
Oleh karena itu diperlukan adanya upaya pengelolaan
sumberdaya kelautan dan perikanan yang berwawasan lingkungan,
melalui rehabilitasi dan konservasi sumberdaya kelautan dan perikanan,
maupun pembinaan, sosialisasi, pelatihan dalam rangka meningkatkan
kemampuan dan kesadaran masyarakat nelayan dalam pengelolaan
wilayah pesisir.
Kerangka acuan kerja ini diharapkan dapat menjadi pedoman
dalam pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan. Dimana pada kegiatan ini terdiri dari sosialisasi
kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan, penanaman bakau (mangrove), penebaran benih ikan,
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
4
transplantasi karang dan penenggelaman Terumbu Karang Buatan
(TKB).
B. Kerangka pikir Kegiatan
Kerangka pikir Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan Tahun 2016 sebagaimana dasar pelaksanaan
tersebut di atas adalah :
(1) Program
: Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan
dan Perikanan.
(2) Kegiatan
: Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan
dan Perikanan.
(3) Masukan
: dana yang tersedia sebesar Rp. 1.681.200.000,(4) Keluaran
:
 Sosialisasi Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan melalui Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem
Mangrove dan Sosialisasi Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan
dan Perikanan.
 Terwujudnya Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan
dan Perikanan dengan melakukan Rehabilitasi Ekosistem
Mangrove melalui penanaman bibit bakau/mangrove di 4
(empat) lokasi yaitu Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen; serta melalui penebaran benih ikan/rajungan di 2
(dua) lokasi yaitu Kab. Rembang dan Demak. Rehabilitasi dan
Konservasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan juga
diwujudkan dengan melakukan Rehabilitasi Sumberdaya
Kelautan dan Perikanan melalui transplantasi karang dan
pembuatan terumbu karang buatan di tiga (3) lokasi yaitu
Kabupaten Jepara, Rembang dan Tegal.
 Monitoring evaluasi transplantasi dan terumbu karang buatan.
 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), Kajian ini dilakukan
sebagai pendukung revisi Perda Jawa Tengah No. 4 Tahun
2014 tentang RZWP3K.
(5) Hasil :
Tolok ukur dan target kinerja :
 Terlaksananya Sosialisasi Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi
Sumberdaya Kelautan dan Perikanan pada masyarakat sekitar
lokasi di Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan Kebumen pada
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
5






Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove; serta masyarakat
sekitar lokasi kegiatan di Kabupaten Jepara, Rembang dan
Tegal untuk Sosialisasi Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan dengan harapan mereka dapat turut serta menjaga
dan memelihara kelestarian lingkungan.
Terlaksananya penanaman bibit bakau/mangrove sebanyak
173.000 batang untuk mencegah terjadinya abrasi di wilayah
pesisir Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan Kebumen serta
meningkatkan kualitas dan kondisi lingkungan ekosistem pesisir
serta sumberdaya kelautan dan perikanan.
Tercapainya penebaran benih ikan/rajungan sebanyak 100.000
ekor untuk ekosistem mangrove di Kab. Rembang dan Demak
dengan maksud untuk menambah/meningkatkan jumlah stok
sumberdaya ikan di wilayah pesisir/laut.
Terlaksananya pemasangan transplantasi karang sebanyak 60
unit di lingkungan pesisir dan laut Kabupaten Jepara,
Rembang dan Tegal.
Terlaksananya pemasangan Terumbu Karang Buatan (TKB)
sebanyak 60 unit di lingkungan pesisir dan laut Kabupaten
Jepara, Rembang dan Tegal.
Terlaksananya sistem informasi mitigasi bencana dan adaptasi
berupa penyebaran informasi cuaca dari BMKG yang dikirim
melalui sms.
Tersusunya dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
sebagai data pendukung dalam merevisi Perda Jawa Tengah
No. 4 Tahun 2014 tentang RZWP3K.
(6) Manfaat
 Mengurangi dan mencegah terjadinya abrasi pantai.
 Meningkatkan fungsi dan mengurangi kerusakan ekosistem
pesisir.
 Memulihkan sumberdaya kelautan dan perikanan yang telah
mengalami degradasi.
 Memberikan informasi mengenai cuaca dari BMKG yang
diperlukan bagi nelayan dan masyarakat yang memerlukan
melalui pelayanan sms.

Dokumen KLHS menjadi bahan pertimbangan untuk
menentukan kebijakan revisi Perda Jawa Tengah No. 4 Tahun
2014 tentang RZWP3K.
(7) Dampak
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
6


Terjaganya kondisi garis pantai di wilayah pesisir serta
mengurangi dampak wilayah pesisir dari bencana gelombang
besar.
Pulihnya sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai sumber
penghidupan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
(8) Kondisi sebelum kegiatan dilaksanakan :
 Terjadinya abrasi di Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen yang ditunjukkan berkurangnya garis pantai di
wilayah pesisir tersebut.
 Pemanfaatan lahan hasil akresi di Kab. Pemalang, Kendal,
Demak, dan laguna di Kab. Kebumen.
 Rusaknya ekosistem mangrove karena bencana alam dan
perbuatan manusia.
 Rusaknya ekosistem karang di perairan Kabupaten Jepara,
Rembang dan Tegal.
 Antusiasme para penerima sms yang berisi informasi cuaca di
tahun 2015 semakin tinggi dan dianggap sangat penting untuk
mereka mengetahui kondisi cuaca sebelum melaut.
C.
Tujuan Kegiatan
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan Tahun 2016 bertujuan :
(a) Terkendalinya kerusakan sumberdaya kelautan dan perikanan di
Provinsi Jawa Tengah.
(b) Berkurangnya volume kerusakan habitat vital sumberdaya kelautan
dan perikanan di Provinsi Jawa Tengah.
(c) Meningkatnya kesadaran masyarakat di wilayah pesisir dalam
menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kelestarian sumberdaya
kelautan dan perikanan.
(d) Mengurangi resiko kecelakaan dan bahaya dari ancaman
bencana untuk nelayan dan masyarakat pesisir.
D.
Sasaran
1. Masyarakat peserta Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di 4
(empat) lokasi kegiatan yaitu Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen.
2. Masyarakat peserta Sosialisasi Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan di tiga (3) lokasi kegiatan yaitu Kabupaten Jepara,
Rembang dan Tegal.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
7
3. Hamparan pesisir yang vegetasi bakau/mangrovenya mengalami
kerusakan sehingga dilakukan penanaman bibit mangrove
sebanyak 173.000 batang di Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen.
4. Stok sumberdaya ikan menurun akan dilakukan penebaran benih
ikan/rajungan sebanyak 100.000 ekor di perairan pesisir Kab.
Rembang dan Demak.
5. Laut/Perairan di Kabupaten Jepara, Rembang dan Tegal yang
ekosistem karangnya mengalami kerusakan sehingga dilakukan
penenggelaman Terumbu Karang Buatan (TKB) sebanyak 20 unit dan
transplantasi karang sebanyak 20 unit di tiap lokasi.
6. Kabupaten/Kota Pesisir Utara dan Selatan Jawa Tengah
E.
Lokasi Kegiatan
(a) Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di 4 (empat) Kabupaten
meliputi Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan Kebumen
dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2015 di calon lokasi
penanaman / Rehabilitasi Ekosistem Mangrove.
(b) Sosialisasi Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan di
Kabupaten Jepara, Rembang dan Tegal dilaksanakan pada bulan
Maret 2015.
(c) Penanaman Bakau (Mangrove) sebanyak 50.000 batang
(mangrove) di Kab. Kendal, Demak, Kebumen dan 23.000 batang
(cemara) di Kab. Pemalang dengan total bibit sebanyak 173.000
batang.
(d) Pengadaan bibit untuk stakeholder dialokasikan sebanyak 27,000
batang dengan lokasi sesuai permohonan stakeholder.
(e) Penebaran Benih Ikan/rajungan sebanyak 100.000 ekor di
Kabupaten Rembang dan Demak.
(f) Penenggelaman Terumbu Karang Buatan (TKB) sebanyak 20 unit
dilakukan di Perairan Kabupaten Jepara; sebanyak 20 unit untuk
Perairan Kabupaten Rembang dan sebanyak 20 unit dilakukan di
Perairan Kabupaten Tegal.
(g) Transplantasi karang sebanyak 20 unit dilakukan di Perairan
Kabupaten Jepara; sebanyak 20 unit dilakukan di Perairan
Kabupaten Rembang dan sebanyak 20 unit dilakukan di Perairan
Kabupaten Tegal.
(h) Penyusunan dokumen KLHS dilakukan di Kab./Kota pesisir Jawa
Tengah
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
8
F.
Pembiayaan
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan dibiayai melalui APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran
2016 dengan total anggaran sebesar Rp. 1.681.200.000,- (Satu Milyar
Enam Ratus Delapan Puluh Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah), meliputi :
a. Belanja Pegawai
Rp.
95.600.000,- Honorarium PNS
Rp.
59.600.000,- Honorarium Non PNS
Rp.
36.000.000,b. Belanja Barang dan Jasa
Rp. 1.585.600.000,- Belanja ATK
Rp.
10.353.000,- Belanja Bahan Material
Rp. 1.163.400.000,- Belanja Jasa Pengajar/Narasumber
Rp. 135.000.000,- Belanja cetak & Penggandaan
Rp.
13.942.000,- Belanja Sewa Ruang Rapat
Rp.
2.800.000,- Belanja Sewa Peralatan Elektronik
Rp.
2.100.000,- Belanja Makanan & Minuman
Rp.
24.525.000,- Belanja Perjalanan Dinas
Rp. 203.480.000,- Belanja Jasa Konsultansi Non Konstruksi
Rp.
30.000.000,-
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
9
A. Rencana Pelaksanaan Pembiayaan
1) Pengelolaan Anggaran
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan yang dibiayai oleh APBD Provinsi Jawa Tengah TA. 2016
mengelola anggaran sebesar Rp. 1.681.200.000,- (Satu Milyar Enam Ratus
Delapan Puluh Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) yang terhitung sejak
1 Januari – 31 Desember 2016.
2) Rencana Kemajuan Pembiayaan
Mengenai gambaran target kemajuan pembiayaan selama
1 (satu) tahun anggaran pelaksanaan (Januari s/d Desember 2016)
seperti tertera pada tabel 1 berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
TOTAL
Target (Rp.)
9.833.000
28.340.000
16.740.000
74.065.000
193.830.000
106.982.000
413.700.000
223.440.000
16.740.000
26.990.000
558.440.000
12.100.000
1.681.200.000
Persentase (%)
0,58
1,69
1,00
4,41
11,53
6,36
24,61
13,29
1,00
1,61
33,22
0,72
100,00
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
10
B. Pelaksanaan Fisik
1. Rencana Kemajuan Fisik
Sampai dengan 31 Desember 2016 (satu tahun pelaksanaan),
realisasi kemajuan fisik yang akan dicapai adalah 100 %. Jadi seluruh
kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana secara keseluruhan
dengan baik.
2. Gambaran Target Kemajuan Fisik
Gambaran target kemajuan fisik secara keseluruhan selama tahun
anggaran pelaksanaan (Januari s/d Desember 2016) seperti tertera
pada tabel 2 berikut :
Jan
0,58
0,58
Feb
1,69
2,27
Mar
1,00
3,27
Apr
4,41
7,67
Mei
11,53
19,20
Jun
6,36
25,56
Jul
24,61
50,17
Ags
13,29
63,46
Sep
1,00
64,46
Okt
1,61
66,06
Nop
33,22
99,28
Des
0,72
100
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
11
A. Persiapan
Pada tahap persiapan, disusun Kerangka Acuan Kerja, Rencana
Kerja Operasional, Jadwal Kegiatan, dan Surat Keputusan, sebagai
perangkat lunak kegiatan untuk mempermudah arah kegiatan selama
kegiatan berlangsung. Disamping itu juga dilakukan penunjukan personil
pelaksanaan
kegiatan
dan
koordinasi
dengan
Dinas/Kantor
/Subdin/Bagian yang membidangi Kelautan dan Perikanan Kab/Kota
lokasi kegiatan.
B. Rencana Teknis Kegiatan
1) Penanaman Mangrove
Kegiatan rehabilitasi sumberdaya hayati merupakan kegiatan
pemulihan ekosistem yang rusak sehingga dapat pulih kembali. Hal ini
disebabkan tingkat kerusakan ekosistem sangat tinggi akibat faktor
alam, maupun manusia. Kegiatan rehabilitasi sumberdaya ini
dilakukan
melalui
pelibatan/partisipasi
masyarakat
untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir terhadap upaya-upaya
rehabilitasi. Kegiatan rehabilitasi yang dilakukan meliputi rehabilitasi
mangrove/vegetasi pantai, dan rehabilitasi terumbu karang. Namun
karena penurunan luasan hutan mangrove dan kerusakan ekosistem
mangrove terjadi hampir di semua daerah di Indonesia, maka
kegiatan rehabilitasi sumberdaya hayati yang dalam hal ini adalah
rehabilitasi ekosistem mangrove menjadi lebih dominan. Kegiatan
rehabilitasi mangrove/vegetasi pantai maupun rehabilitasi terumbu
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
12
karang yang dilaksanakan mengacu pada kesesuaian dengan
prioritas lokasi yang perlu direhabilitasi.
Tujuan kegiatan ini adalah :
 Mewujudkan ekosistem mangrove untuk menjaga kelestarian
sumberdaya hayati laut dan sumberdaya perikanan.
 Membantu mencegah terjadinya abrasi pantai, bencana alam
gelombang besar, maupun terjadinya tsunami.
Spesifikasi teknis pekerjaan penanaman mangrove adalah:
a) Nama pekerjaan : Penumbuhan bibit mangrove untuk rehabilitasi
dan konservasi sumberdaya mangrove
b) Lokasi pekerjaan pesisir Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen.
c) Lokasi penanaman merupakan lahan pesisir berupa hamparan
tanah timbul dengan status kepemilikan tanah negara atau
bengkok desa, dibuktikan dengan surat keterangan desa atau
pemerintah kabupaten.
d) Lama pekerjaan adalah 90 (sembilan puluh) hari kalender, terbagi
dalam proses penanaman 30 (tiga puluh) hari dan pemeliharaan
sampai berdaun minimal 2 (dua) selama 90 (sembilan puluh) hari
kalender.
e) Jumlah bibit mangrove di Kab. Kendal, Demak, Kebumen
sebanyak 50.000 batang (mangrove) dan Kab. Pemalang
sebanyak 23.000 batang (cemara) atau sesuai perhitungan harga
terakhir di lokasi.
f) Bibit mangrove yang ditaman Jenis Rhizophora sp dalam bentuk
propagul dan dihitung sebagai hasil pekerjaan setelah tumbuh
menjadi berdaun dua atau lebih dengan ketinggian minimal 40
cm atau bibit Rhizophora dalam polybag yang telah berdaun 2 –
4 lembar atau jenis spesies mangrove lain sesuai kondisi alam dan
kisaran harga yang sama.
g) Sumber bibit mangrove jenis rhizophora diupayakan berasal dari
daerah setempat atau lokasi terdekat untuk mengurangi tingkat
mortalitas.
h) Penanaman bibit mangrove dilakukan dengan mengikat pada
ajir (bilah bambu) untuk meningkatkan kestabilan dan daya hidup
bibit bakau.
i) Pekerjaan dapat dimulai setelah Penyedia barang dan jasa
memberi tahukan rencana pelaksanaan penanaman bakau
kepada pemberi pekerjaan dan dinas kelautan dan perikanan
kabupaten lokasi pekerjaan.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
13
j) Penyedia barang dan jasa berkewajiban memelihara tanaman
bakau selama 2 (dua) bulan.
k) Pemeliharaan tanaman mangrove/bakau meliputi penyulaman,
penyiangan, pengendalian hama dan mengganti tanaman
bakau yang mati sehingga jumlah tanaman yang hidup sejumlah
kontrak.
l) Lokasi penanaman bakau dipasang papan himbauan dengan
spesifikasi terbuat dari papan kayu bengkirai berukuran panjang,
lebar, tebal 100 x 60 x 3 cm, dengan kayu penyangga ukuran 5/7,
tinggi 1,5-3 meter. Papan dan tiang dicat warna putih dengan
tulisan hitam.
m) Pelaksanaan
pemeriksaan
pekerjaan
dan
pembayaran
dilaksanakan secara 2 (dua) tahap, yaitu setelah penanaman
propagul (30 hari pelaksanaan) dan setelah 2 bulan penanaman
(akhir masa pelaksanaan pekerjaan).
n) Pada akhir kegiatan akan dilakukan penyerahan hasil pekerjaan
dari Kuasa Pengguna Anggaran / Pengguna Anggaran kepada
Kelompok Mangrove/petani tambah terdekat dengan lokasi
untuk dikelola dengan baik.
2) Terumbu Karang Buatan
Tujuan kegiatan adalah :
 Penyediaan tempat tumbuhnya (media) terumbu karang sebagai
upaya rehabilitasi ekosistem sumberdaya kelautan;
 Penyediaan tempat perlindungan sumberdaya ikan di kawasan
ekosistem pantai.
Spesifikasi teknis pekerjaan adalah:
a) Nama pekerjaan : pembuatan terumbu karang buatan (TKB)
sebanyak 20 unit untuk rehabilitasi sumberdaya kelautan dan
perikanan.
b) Lokasi pekerjaan di kawasan perairan pesisir laut Kab. Tegal,
Jepara, Rembang.
c) Lokasi penenggelaman TKB merupakan kawasan perairan
dengan kondisi terumbu karang yang telah rusak namun masih
memiliki potensi tumbuh dan berkembangnya terumbu karang.
d) Lama pekerjaan adalah 60 (enam puluh) hari kalender.
e) pekerjaan ini ditunjang dengan pekerjaan jasa konsultasi
perencana dan konsultan pengawas pekerjaan yang dialokasikan
melalui rekening yang berbeda pada kegiatan APBD ini.
f) Pekerjaan dapat dimulai setelah Penyedia barang dan jasa
memberi tahukan rencana pelaksanaan pembuatan, jadwal
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
14
penenggelaman dan lokasi penenggelaman kepada pemberi
pekerjaan dan dinas kelautan dan perikanan kabupaten lokasi
pekerjaan.
g) Pemberdayaan kelompok nelayan melalui keterlibatan kelompok
nelayan dalam penentuan lokasi penenggelaman dan proses
penenggelaman TKB.
h) Monitoring dan evaluasi pertumbuhan dan keberhasilan
transplantasi karang dilakukan setelah 2 (dua) bulan pemasangan
atau sebelum datangnya musin penghujan.
3) Transplantasi Karang
Tujuan kegiatan adalah:
 Memulihkan sumberdaya terumbu karang di kawasan perairan
pesisir yang telah mengalami penurunan kualitas ataupun
kerusakan.
 Penyediaan modul meja transplantasi karang sebagai habitat
tumbuhnya karang.
 Meningkatkan populasi dan penutupan karang melalui
transplantasi karang sehingga kelestarian terumbu karang dapat
ditingkatkan
Spesifikasi teknis pekerjaan adalah:
a) Nama pekerjaan : Transplantasi karang sebanyak 20 unit untuk
rehabilitasi sumberdaya kelautan dan perikanan.
b) Lokasi pekerjaan pesisir laut Kab. Tegal, Jepara, Rembang.
c) Lokasi transplantasi karang terintegrasi dengan penenggelaman
TKB merupakan kawasan perairan dengan kondisi terumbu karang
yang telah rusak namun masih memiliki potensi tumbuh dan
berkembangnya terumbu karang.
d) Lama pekerjaan adalah 60 (enam puluh) hari kalender, dimana
pelaksanaan pekerjaan dilakukan setelah penenggelaman TKB.
e) Pekerjaan dapat dimulai setelah Penyedia barang dan jasa
memberi tahukan rencana pelaksanaan pekerjaan kepada
pemberi pekerjaan dan dinas kelautan dan perikanan kabupaten
lokasi pekerjaan.
f) Penyedia
barang/jasa
mencatat
lokasi
titik
koordinat
pemasangan transplantasi karang.
g) Transplantasi karang dengan tujuan pemulihan terumbu karang
yang telah rusak dilakukan dengan memindahkan potongan
karang hidup dari terumbu karang yang kondisinya masih baik ke
lokasi terumbu karang telah rusak. Teknik dan prosedurnya
sebagai berikut:
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
15
(1) Lokasi pengambilan bibit diutamakan dari lokasi di sekitar
terumbu karang yang telah rusak atau daerah lain dengan
kondisi terumbu karang yang masih baik.
(2) Antara lokasi pengambilan bibit dengan lokasi terumbu
karang yang telah rusak mempunyai kondisi lingkungan
(kedalaman dan keadaan arus) yang mirip.
(3) Pengambilan bibit dilakukan dengan memotong cabang
karang induk di tempat, dan tidak melakukan pemotongan
koloni karang induk yang letaknya saling berdekatan untuk
menghindari kerusakan ekosistem secara menyolok.
(4) transportasi bibit dari lokasi pengambilan bibit dengan lokasi
transplantasi tidak lebih dari satu jam.
h) Monitoring dan evaluasi pertumbuhan dan keberhasilan
transplantasi karang dilakukan setelah 2 (dua) bulan pemasangan
atau sebelum datangnya musin penghujan.
4) Sosialisasi Rehabilitasi Ekosistem Mangrove
Tujuan kegiatan adalah:
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat (peserta) mengenai
peran dan fungsi ekosistem mangrove.
 Meningkatkan
kesadaran
masyarakat
(peserta)
tentang
pentingnya ekosistem mangrove.
Spesifikasi kegiatan:
 Sosialisasi dilaksanakan di Kab. Pemalang, Kendal, Demak, dan
Kebumen yang masing-masing lokasi diikuti oleh 25 (dua puluh
lima) orang yang merupakan masyarakat sekitar dan dinas terkait
yang memiliki wewenang dan dapat berkontribusi sinergis dengan
kegiatan.
 Sosialisasi menghadirkan 3 (tiga) narasumber dengan materi yang
telah ditentukan yaitu mengenai Kebijakan Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah dalam pengelolaan wilayah pesisir khususnya
pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem mangrove, Kebijakan
Pemerintah Kab./Kota dalam pengelolaan wilayah pesisir, dan
materi yang terkait dengan rehabilitasi ekosistem mangrove.
5) Sosialisasi Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan
Tujuan kegiatan adalah:
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat (peserta) mengenai
peran dan fungsi ekosistem terumbu karang.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
16
 Meningkatkan
kesadaran
masyarakat
pentingnya ekosistem terumbu karang.
(peserta)
tentang
Spesifikasi kegiatan:
 Sosialisasi dilaksanakan di Kab. Tegal, Jepara dan Rembang yang
masing-masing lokasi diikuti oleh 25 (dua puluh lima) orang yang
merupakan masyarakat sekitar dan dinas terkait yang memiliki
wewenang dan dapat berkontribusi sinergis dengan kegiatan.
 Sosialisasi menghadirkan 3 (tiga) narasumber dengan materi yang
telah ditentukan yaitu mengenai Kebijakan Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah dalam pengelolaan wilayah pesisir khususnya
pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang, Kebijakan
Pemerintah Kab./Kota dalam pengelolaan wilayah pesisir, dan
materi yang terkait dengan rehabilitasi ekosistem terumbu karang.
6) Penyusunan Dokumen KLHS
Tujuan kegiatan ini adalah :
 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) bertujuan untuk
memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah
menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan.
 KLHS digunakan untuk merencanakan dan mengevaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program agar dampak dan/atau
risiko lingkungan yang tidak diharapkan dapat diminimalkan,
sedangkan dalam evaluasi kebijakan, rencana dan/atau
program, KLHS digunakan untuk mengidentifikasi dan memberikan
alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program
yang menimbulkan dampak dan/atau risiko negatif terhadap
lingkungan.
 KLHS bermanfaat untuk memfasilitasi dan menjadi media proses
belajar bersama antara pelaku pembangunan, dimana seluruh
pihak yang terkait penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana
dan/atau program dapat secara aktif mendiskusikan seberapa
jauh substansi kebijakan, rencana dan/atau program yang
dirumuskan
telah
mempertimbangkan
prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan. Melalui proses KLHS, diharapkan
pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan dan evaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program dapat mengetahui dan
memahami
pentingnya
menerapkan
prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan dalam setiap penyusunan dan
evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
17
Spesifikasi kegiatan:
 Penyusunan dokumen KLHS dilaksanakan dengan metode
pembahasan bersama dalam bentuk workshop yang akan
dilakukan 3 (tiga) kali yang dibagi berdasarkan wilayah (pantura
barat, pantura timur, dan pansela). Data yang akan dibahas
pada workshop adalah data yang dihimpun dari 17 Kab./Kota
pesisir Jawa Tengah baik data primer maupun data sekunder.
 Workshop akan diikuti oleh 35 (tiga puluh lima) orang peserta dari
17 Kab./Kota pesisir Jawa Tengah.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
18
Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan (Monevpel) merupakan salah
satu bagian dari unsur pengendalian yang dalam pelaksanaannya
sangat diperlukan dan berfungsi sebagai kontrol dan tolok ukur setiap
program/kegiatan yang dilaksanakan. Monevpel adalah suatu cara,
sistem dan pola penyajian informasi formal yang obyektif dan teratur
dengan dukungan fakta yang tersusun dalam bentuk yang tertata dan
terstruktur. Dengan pengertian tersebut, maka Monevpel mampu
menyajikan semua informasi yang berkaitan dengan perkembangan
pelaksanaan kegiatan secara obyektif sehingga dapat dilakukan
tindakan koreksi secara cepat dan tepat apabila dalam
pelaksanaannya ditemui permasalahan yang diperkirakan dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan dan sasaran program/kegiatan
yang telah ditetapkan.
Berkaitan dengan pelaksanaan program/kegiatan di bidang
Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kepala Seksi selaku pelaksana
teknis kegiatan secara berkala berkewajiban melaporkan hasil
pelaksanaannya kepada Kepala Bidang.
A. Monitoring
Monitoring dapat diartikan sebagai usaha terus menerus atau
berkala mengamati/mempelajari mengenai indikator kinerja (input,
output, outcome) dan proses pelaksanaan terhadap pencapaian
tujuan dari program/kegiatan.
Dalam rangka mencapai efektifitas dan efisiensi, pembagian
peranan dan tanggung jawab pelaksanaan monitoring dalam lingkup
Bidang Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan secara
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
19
berjenjang mulai pelaksana teknis lapangan kabupaten/kota sampai
tingkat Kepala Bidang dan Kepala Dinas.
 Kepala seksi sebagai pelaksana teknis kegiatan akan selalu
berkoordinasi dengan petugas Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten lokasi kegiatan
 Selanjutnya akan melaporkan secara berkala ke Kepala Bidang
sebagai Kuasa Pengguna Anggaran / Barang.
 Kepala Bidang sebagai Kuasa Pengguna Anggaran / Barang akan
melaporkan
kepada
Pengguna
Anggaran
dalam
Rapat
Pelaksanaan Operasional Kegiatan yang secara rutin diadakan.
Monitoring dimulai sejak masa persiapan, masa pelaksanaan
dan masa paska kegiatan untuk melihat indikator kinerja (input, output
dan outcome) yang dicapai, proses pembinaan dan pemeliharaan
output sampai dengan dihasilkannya outcome dari setiap kegiatan dan
program.
Monitoring dapat dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu
monitoring secara tidak langsung dan monitoring langsung.
1. Monitoring tidak langsung
Dilakukan melalui laporan hasil pelaksanaan monitoring secara
berkala oleh petugas teknis lapangan di kabupaten yang
disampaikan melalui surat, faximili, telpon, sms, e-mail, dll.
2. Monitoring langsung
Monitoring langsung adalah monitoring yang dilakukan melalui
peninjauan ke lapangan (on the spot) secara berkala agar
kegiatan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
B. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu
proses
untuk menentukan relevansi,
efisiensi, efektivitas dan dampak program/kegiatan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai secara sistematik dan obyektif. Evaluasi ini
berupaya menerangkan “mengapa” output, efek, maupun dampak
kegiatan tercapai atau tidak. Kegiatan evaluasi utama adalah untuk
melihat secara menyeluruh pelaksanaan dan dampak dari suatu
kegiatan sebagai landasan bagi penyusunan kebijaksanaan dan
rancangan kegiatan yang akan datang.
Evaluasi dilakukan bertujuan untuk dapat mengetahui dengan
pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai
dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
20
untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan di masa yang
akan datang.
Evaluasi dilakukan terhadap hasil monitoring pelaksanaan
kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahap pra pelaksanaan, tahap
pelaksanaan, dan tahap
paska
pelaksanaan untuk menilai
tercapainya efisiensi dan efektifitas setiap kegiatan.
C. Pelaporan
Laporan merupakan cerminan pertama dan utama yang secara
cepat dapat menjawab pertanyaan apakah sebuah unit kerja telah
menjalankan fungsinya dengan baik, apakah sebuah unit kerja telah
melaksanakan tertib administrasi, apakah sasaran dan tujuan unit kerja
telah tercapai, dengan kata lain laporan merupakan barometer
pertama yang dengan
mudah dilihat oleh pihak luar dalam
mengevaluasi sebuah satker. Apabila laporan yang disajikan oleh
sebuah unit kerja dapat dilakukan tepat waktu, akurat, lengkap, realistis
dan
akuntabel maka dapat dipastikan satker tersebut telah
menjalankan fungsinya dengan baik, namun apabila laporan tidak ada,
tidak lengkap atau terlambat tentu ini sudah merupakan sebuah
indikator yang menunjukkan unit kerja tersebut belum optimal dalam
menjalankan fungsinya.
Oleh sebab itu setiap unit kerja diharapkan dapat menyiapkan
dan menyajikan laporan secara tepat waktu, karena keterlambatan
pengiriman laporan dari salah satu unit kerja akan mengakibatkan
keterlambatan konsolidasi laporan dan mempengaruhi kinerja DKP.
Fungsi pemantauan, evaluasi dan pelaporan adalah saling terkait
dan saling mendukung satu dengan lainnya. Dalam pelaksanaannya,
ketiga aktivitas tersebut tidak dapat dipisahkan karena merupakan
suatu kesatuan sistematis sebagai bagian dari fungsi pengendalian
dalam organisasi. Laporan yang disusun harus dapat menyajikan semua
informasi faktual yang terkait dengan hasil pelaksanaan monitoring atau
evaluasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Beberapa tujuan dan
fungsi pelaporan adalah:
 Sebagai
wujud pertanggungjawaban pelaksanaan program,
kegiatan dan anggaran kepada pemangku kepentingan yang lebih
tinggi
 Untuk memberikan data dan Informasi setiap pelaksanaan
program/kegiatan, termasuk tingkat pencapaian dan permasalahan
yang dihadapi secara periodik dengan menyajikan laporan cepat,
tepat, akurat dan akuntabel
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
21
 Sebagai media komunikasi antar pihak yang berkepentingan
 Sebagai alat kontrol agar pelaksanaan program/kegiatan tetap
pada jalur yang benar, sesuai dengan sasaran dan tujuan yang
telah ditetapkan
 Sebagai
umpan
balik
bagi
penyusunan
rancangan
program/kegiatan serta anggaran tahun berikutnya
 Sebagai bahan konsolidasi penyusunan laporan pada tingkatan
yang lebih tinggi.
 Sebagai bahan pengambilan keputusan pimpinan.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
22
Demikian Kerangka Acuan Kerja (KAK) Kegiatan Rehabilitasi dan
Konservasi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang dibiayai melalui
APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2016 ini dalam rangka
meningkatkan koordinasi antar semua pihak yang terkait untuk
pengembangan kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil sesuai visi dan
misi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.
Dengan adanya Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini, diharapkan
dapat menjadi pedoman untuk meningkatkan efektifitas pencapaian
tujuan dan sasaran program dan kegiatan dalam pengembangan
bidang kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil di daerah sesuai target
yang telah ditetapkan.
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
23
Kerangka Acuan Kerja (KAK)
Kegiatan Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Kelautan & Perikanan Tahun 2016
Download