Uploaded by User31406

Lecture-12 PEMBUATAN LAPORAN DESAIN EXHAUST VENTILASI

advertisement
1
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
PENGANT
AR
Tugas perencanan Sistim Ventilasi Lokal merupakan tugas mata kuliah
Ventilasi Industri selama satu semester 2 SKS, Jurusan Keselamatan dan
kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2
halaman
BAB - 1 PENDAHULUAN
1.1. PENGENALAN
1.2.
TUJUAN
1.3. PROSES PERENCANAAN
1.4
ACUAN
1.5
DEFENISI DAN ISTILAH
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
BAB - II PENENTUAN UKURAN UKURAN UTAMA
2.1.
DATA AWAL
2.2.
BENTUK DAN LAY PROSES OPERASI RUANG KERJA
2.3.
PENENTUAN DEMENSI
2.4.
DESAIN DUCT
2.4.1. Penentuan Elbow dan Elbow Losses
2.4.2. Penentuan Branch Entry
2.5.
PENENTUAN DEMENSI ATAU UKURAN HOOD
DAN SLOT
2.5.1. Penentuan Ukuran atau Demensi Hood
2.5.2. Penentuan Ukuran atau Demensi Slot
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
BAB- III PERHITUNGAN
3.1.
LEMABARAN KERJA
3.2.
HASIL PERHITUNGAN
BAB -IV HASIL PERANCANGAN
4.1.
HASIL PERHITUNGAN BRNCH ENTRY
4.2.
PERHITUNGAN DAYA FAN
4.2.1. Penilian Tekanan
4.2.2. Meng hitung Besarnya Daya Dan Putaran Fan
………………………………..
………………………………..
………………………………..
.
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
………………………………..
BAB – V REKOMENDASI
………………………………..
3
………………………………..
………………………………..
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Daftar Gambar
1.
Gambar.1.2. Skema Sistim Pemipaan Duct, penggunaan
Elbow, dan Brach Entry
Gambar,2.1. Plan View, Elbow-4 buah (900 , 600 ,450 ),
Barch Entry 1 buah
Gambar, 2.2. Skema Jaringan Pemipaan
Gambar. 2.3 Data perencanaan Elbow Losses (ACGIHdate,1-95)
GGambar.2.4
Tipe Braches yang dipilih adalah
Preferred
dengan sudut kemiringan 450,dalam desain ini (sumber,
ACGIH)
Gambar.2.5. Detail Hood Kanopi -A
Gambar. 2.6
Gambar. Hood on Benchor flor (detail
B)
Gambar2.7 ,
Sumber ; Gambar.6.29.
Hood entri
losses pada saat aliran udara masuk ke exterior hood,
Sumber :
American Conference of Governmental
Industrial Hygienists (ACGIH) 1988, Figure
5-15Hood Rntry Loss Factors Industrial Ventilation : A
Manual of Recommended Practice, 23rd Edition.
Copyright 1988 hlmn -175 Ventilasi Industri-Dasardasar pengtahuan dan perencanaan sistim ventilasi
industri
Gambar 2.8 ; Sumber Gambar.6.27 Hood entry loss,
he, Sumber ; William Popendarf, Industrial Hygiene
Control of
Airborne Chemical Hazard , hlmn -170
Ventilasi
Industri-Dasar-dasar
pengtahuan
dan
perencanaan sistim ventilasi industri
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Gambar . 4.1 : Branch Entry- hasil hitung
12.
Gambar.4.2.
Menghitung tekanan statis fan
13.
Gambar..4.3
Grafik mekanil efisiensi, dalam %
4
halaman
................................................6
................................................8
..............................................9
...............................................9
...............................................10
..............................................12
.............................................13
................................................14
...............................................15
...............................................27
...............................................28
...............................................29
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Nama Gambar
BAB - I
PENDAHULUAN
1.1.
PENGENALAN
Ventilasi industri salah satu alternatif untuk mengendalikan kondisi lingkungan kerja atau alat
kontrol engineering (kerekayasaan) dengan menyuplay aliran udara bersih, ke area ruang
tempat kerja guna menghilangkan kontaminan, atau proses pertukaran udara dengan cara
pengeluaran udara terkontaminasi dari ruang tempat kerja, melalui saluran buang, dan
pemasukan udara segar melalui saluran masuk
Secara ideal, Sistim Ventilasi Lokal, terdiri dari 4 komponen, yaitu ; (i) hood, (ii) duct work,
(iii) air cleaning device, dan (iv) fan, seperti telihat pada gambar 1.1
Gambar.1.1
5
Komponen Dasar Sistem Ventilasi Lokal
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.2. TUJUAN
Secara umum tujuan dari sebuah sistem ventilas industri, adalah sebagai
berikut :
1. Menyediakan pasokan udara segar di luar secara kontinu.
2. Mempertahankan suhu dan kelembaban di tingkat yang nyaman.
3. Mengurangi potensi bahaya kebakaran atau ledakan.
4. Mencairkan konsentrasi kontaminan dalam udara di lingkungan tempat
kerja
5. Mengontrol kontaminan meliputi:
o menghilangkan penggunaan bahan kimia berbahaya atau material,
o pengganti dengan bahan kimia yang kurang beracun, atau
perubahan proses
Sedangkan tujuan dari sistim ventilasi local-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.3.
PROSES PERENCANAAN
Langkah –Langkah Awal
Untuk memulai proses perancanaan sistim ventilas lokal, yaitu
 pemilihan (seleksi),
 perancangan sistim, dan
 perancangan proses,
Gambar dibawah adalah pemetaan area pabrik X, dan dari data temuam –temuan tersebut akan diketahui
bentuk dan lay out proses operasi, ruang kerja dan bentuk kontruksi bangunan
Gambar.1.2. Skema Sistim Pemipaan Duct, penggunaan Elbow, dan Brach Entry
7
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Yaitu mendapatkan data tentang hasil pengukuran kosentrasi, partikulat, gas,
asap, atau uap untuk melihat batas pemaparan. Untuk perlu diadakan usahausaha mengantisipasi, pengenalan/rekoknisi, evaluasi faktor-faktor
lingkungan yang timbul di/dari tempat kerja. Di Indonesia perihal batas
pemaparan dituangkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No.PER. 13/MEN/X/2011, tentang NAB (Nilai Ambang Batas)
Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja. Istilah nilai ambang batas sama
dengan Threshold Limit Values (TLV).
3. Langkah ketiga Perancangan Hood,
Setelah mengetahui iformasi tentang besarnya kosenrasi dan karakteristik
dari kadar polutan/debu di udara lingkungan tempat kerja dan posisi
ergonomis pekerja.
Jarak atau tingginya (x) hood kurang lebih besar ≠ (1- 2) ft dari ukuran
sumber, fungsinya agar hood dapat menjangkau serta menangkap seluruh
kontaminan
8
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
2. Langkah kedua,
4. Langkah keempat
Perancangan air cleaner atau alat pengendali partikulat dibutuhkan
apabila partikulat yang dihisap memiliki nilai untuk di daur ulang atau
mencemari lingkungan bila dibuang ke-atmosfir memberikan
dampak.Alat pengendali yang digunakan pada percontohan ini adalah
Cyclone , yang merupakan alat mekanis sederhana yang digunakan
untuk menyisihkan partikulat dari aliran gas. Cyclone cukup efektif
untuk menyisihkan partikulat kasar dengan diameter >10 mm. Prinsip
penyisihan partikulat dari aliran gas pada alat ini adalah dengan
memanfaatkan gaya sentrifugal sehingga jika gaya sentrifugalnya
besar maka efisiensi penyisihan partikulat juga akan tinggi
5. Langkah kelima
Faktor yang umumnya dibutuhkan untuk memilih fan yang tepat
adalah tipe dan konsentrasi kontaminan (debu, liquid atau gas hasil
dari pembakaran) yang akan dialirkan, area yang dibutuhkan untuk
instalasi alat, dan kebisingan yang ditimbulkan merupakan hal-hal
yang perlu diperhatikan.
9
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
o
o
American Conference of Govermental Industrial Hygienis (ACGIH )
Industrial Ventilation: A Manual of Recommended Practice for Operation
and Maintenance
ASHRAE-2012, Ashrae Handbook: Heating, Ventilating, and AirConditioning Systems and Equipment: Inch-Pound Edition
Pedoman dalam mengatur persyaratan perancangan sistim ventilasi industri,
yaitu : Standar American Conference of Govermental Industrial Hygienis
(ACGIH),dengan mengunakan “VELOCITY PRESSURE METHOD
CALCULATION SHEE”T
(
10
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
11
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
PENENTUAN UKURAN
UKURAN UTAMA
2.1.
Penentuan Demensi
Data awal yang diketahui adalah bentuk dan ukuran kontruksi bangunan
pada gambar 2.1, maka ditetapkan demensi sebagai berikut
Gambar,2.1. Plan View, Elbow-3 buah (600 ,450 ), Barch Entry 1 buah
12
UKURAN
Diameter (inch)
Panjang (ft)
13
A -C
26
14
Potongan/Segmen Duct
B -C
C -D
D -E
26
33
34
8
7
13
E -F
34
13
Penentuan Elbow dan Elbow Losses
Dari gambar 2.1, perencanaan elbow pada sistim jaringan pipa gambar 2.2, makaMdalam
perencanaan ini pemilihan bentuk “elbow -5 spicie” seperti pada gambar 2.3
Gambar. 23 Data perencanaan Elbow Losses (ACGIH- date,1-95)
Tabel. 3
Potongan/
Segmen Duct
A -C
14 D - E
Degree Elbows dan Elbow Loss Coefficient
Elbows
1 - 900
1 - 600
degree Elbows
Elbow Loss Coefficient
1
0,19
ETAPRIMA
SAFETY ENGINEERING
0,67
0,24
Penentuan Branch Entry
Branch entry pada sisitim jaringan pemipaan (duct). Brach entri yang digunakan dalam perencanan ini ,
sebanyak 1 buah, yaitu berbentuk preferred dengan sudut maximal , θ = 300, terlihat pada gambar. 2.4
Potongan/Segmen Duct
B-C
Entry
1 - 450
Entry Loss Coefficient
0.28
Gambar. 2.4
Tipe Braches yang dipilih adalah Preferred
dengan sudut kemiringan 450,dalam desain ini (sumber, ACGIH)
Penggunan Material Pipa/Duct
Jenis material pipa yang di gunakan dalam perancangan ini adalah material “ Galvanized sheet
duct” tabel 2.4
Tabel. 2.4
Nilai Koefisien a,b dan c untuk berbagai material duct
Material Duct
K, Ft
a
b
c
Aluminum, black iron, stainless
steel
0.00015
0.0425
0.465
0.602
Galvanized sheet duct
0.0005
0.0307
0.533
0.612
Flexible duct, fabric wire covered
0.003
0.0311
0.604
0.639
Sumber : Industrial ventilation a manualof recommended practice, 20 th edition American Converence of
Govermental Industrial Higienists, hal 1-9
16
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Penentuan Ukuran atau Demensi Hood
Dalam penentuan demensi hood perlu diperhatIkan bahwa besarnya hood harus lebih besar ≠ (1- 2) ft dari
ukuran sumber, fungsinya agar hood dapat menjangkau seluruh kontaminan yang dihasikan sumber. Tabel -5,
menunjukkan kecepatan tangkapan untuk berbagai proses.
Tabel .5 Kecepatan Penangkapan Dalam Berbagai Proses
Kondisi Penyebaran Kontaminan
Dilepaskan tanpa kecepatan
Dilepaskan dengan kecepatan
rendah menuju udara yang
tenang
Dilepaskan secara aktif menuju
zona dengan aliran udara yg
cukup cepat.
Dilepaskan dengan kecepatan
yang cepat menuju aliran udara
yang sangat cepat
Contoh
Penguapan dari wadah
Wadah semprot, pengisian
kedalam wadah, proses transfer
dengan kecepatan rendah,
penglasan.
Proses penyemprotan cat, proses
penghancuran.
Proses penggilingan, abrasive
blasting, tumbling
Sumber : OSHA standard, ANZI Z.9.1 , dan HSE
Kecepatan
Tangkap
(fpm)
50-100
100-200
200-500
500-2000
Tabel . Kecepatan Penangkapan Dalam Berbagai Proses
Kondisi Penyebaran Kontaminan
Dilepaskan tanpa kecepatan
Dilepaskan dengan kecepatan
rendah menuju udara yang
tenang
Dilepaskan secara aktif menuju
zona dengan aliran udara yg
cukup cepat.
Dilepaskan dengan kecepatan
yang cepat menuju aliran udara
yang sangat cepat
Contoh
Penguapan dari wadah
Wadah semprot, pengisian
kedalam wadah, proses transfer
dengan kecepatan rendah,
penglasan.
Proses penyemprotan cat, proses
penghancuran.
Proses penggilingan, abrasive
blasting, tumbling
Sumber : OSHA standard, ANZI Z.9.1 , dan HSE
Kecepatan
Tangkap
(fpm)
50-100
100-200
200-500
500-2000
jumlah hood 2 buah Canopy hood ,--------- Hod A, dan Hood B dengan
o sudut 450, di letakan diatas bangku pada
o jarak X = 60 cm atau 2 ft dari mulut hood .
o Debit atau aliran udara yang dibutuhkan pada hood, telah ditentukan
o sebesar 19.600 (data awal),
untuk itu perlu dikoreksi kembali apakah debit atau aliran udara/volume florw rate (Q),
memenuhi syarat yang ditentukan atau tidak.
19
Gambar. 5
ETAPRIMA
SAFETY
Penentuan Ukuran
Hood,Sumber
ACGIHENGINEERING
Keterangan gambar ;
Untuk gambar.4
o Tinggi, X = 0.60 m (2 ft) (jarak dari sumber ke kanopi)
o Sisi,
D = 0,4 X
o Kecepatan tangkap, v1 = 200 -500 fpm
o Cross-Sectional Area Af = 10 x 30/144 = 2,1 ft2
Q = V (10 X2 + Af)
Q = debit hisapan hood = ( 8.420 – 21.050) cfm
Dari hasil perhitungan koreksi kembali yaitu, memnuhi syarat, yaitu kecepatan tangkap
pada hood Vhood = (200 – 500) fpm, maka debit atau aliran udara/volume florw rate (Q)
=8.420 -21.050 cfm, maka Debit atau aliran udara yang dibutuhkan pada hood, telah
ditentukan sebesar 19.600 (data awal), memenuhi kntentuan standar yang ditetapkan,
seperti disajikan pada table.6
20
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Tabel .6 Kecepatan Penangkapan dalam Berbagai Proses
Detail Hood
Kecepatan
tangkap
(fpm)
Debit tangkap
(cfm)
Debit minimum
(cfm)
Hood A (Kanopi hood)`
200 -500
8.420 -21.050
19.6000
Hood B (Kanopi hood)
200 -500
8.420 -21.050
19.600
Sistim proses kerja di tempat kerja dengan kondisi penyebaran
kontaminan dilepaskan secara aktif menuju zona dengan aliran udara yg
cukup cepat, maka sistim ventilasi dengan Canopy hood adalah cocok
untuk digunakan
21
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Untuk menghitung kecepatan tangkap (V) dan besarnya debit hisap (Q)
berdasarkan jenis dan tipe sloot, seperti pada gambar 2.7.
Untuk menentukan kecepatan aliran udara dalam slot /Slot Velocity Vs, kecepatan
Slot pada perencanan ini di tentukan sebesar ----–
Vs = 400 fpm, dengan Cross-Sectional Area
Hood- A = 1,8 ft2, dan
Hood –B = 5,2 ft2 .
Koefisien kehilangan pada Slot sebesar 1,78 (diambil dalam perencanan pada
gambar 2.7).
22
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Penentuan Ukuran atau Demensi Slot
23
ETAPRIMA SAFETY
ENGINEERING
Kehilangan tekanan yang terjadi pada hood sangat berhubungan dengan ukuran hood,
pada rancangan ini pada gambar 2.5 dan gambar 2.6, dan kecepatan udara pada duct
,dengan kecepatan tangkap (200 -500) fpm. Untuk duct entry loss, atau
kehilanganberhubungan dengan tekanan kecepatan udara di duct karena adanya faktor
kehilangan tekan pada saat masuk di hood (Fh), dalam perencanaan ini sesuai bentuk
dari hood berbentuk persegi
Sebesar 0,25 (gambar 2.8)
Gambar 2.8 ; Sumber Gambar.6.27 Hood entry loss, he, Sumber ; William Popendarf, Industrial Hygiene Control
of Airborne Chemical Hazard , hlmn -170 Ventilasi Industri-Dasar-dasar pengtahuan dan perencanaan sistim
ventilasi industri
24
ETAPRIMA SAFETY
ENGINEERING
Kehilangan Tekanan Pada Hood
2.3.
PENENTUAN DEMENSI
Dari data awal yang diketahui dan bentuk dan ukuran kontruksi bangunan pada gambar 1,
gambar 2, maka ditetapkann sebagai berikut, pada table- 1.1.
Tabel- 1.1. Ukuran nomor detail, flow rate, diameter dan panjang pipa , elbow dan enteries
TABEL – 1.1
Nomor Detail
cfm
Required
Duct
Diameter
inches
Panjang/
Strainght
Run, ft
A-C
B–C
C-D
C (air cleaner)
D -E
D (fan)
E-F
19.600
19.600
19.600
26
26
33
14
8
7
1- 900
20.000
20.000
21.000
34
21
34
13
1-600
13
Elbows
Entries
1 - 450
26
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
PERHITUNGAN
Velocity Pressure Method Calculation Sheet
Plant Name: ____________________________
CONTOH TUGAS
Elevation: _________ Date: __
27 Mei 2013______________
Location: _______________________________ Temp: ____________ Drawing #.:___________
01/10/SEM.GENAP/2012/2013
Department: ____________________________+ Factor: ___________ Designer: _____________
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
Duct Segment Identification
Target Volume Flowrate, Q = V*A- Chap 10
cfm
Min. Transport Velocity, V Chap 10
fpm
0.5
Maximum Duct Diameter (D= ((4*144*Q)/(pi*V))inches
)
Selected Duct Diameter
inches
Duct Area (pi*(D/12)2/4)
sq. ft
Actual Duct Velocity
fpm
Duct Velocity Pres, VP = (V/4005)2
"wg
H
Maximum Slot Area = (2/11)
sq ft
O
Slot area selected
sq ft
O S Slot Velocity, Vs Chap 10
fpm
D L Slot Velocity Pres, VPs=(Vs/4005)2
"wg
O Slot Loss Coefficient, Chap 10, Chap 3
T Acceleration Factor
0 or 1
S S Slot Loss per VP (13+14)
Slot Static Pressure (12*15)
U
"wg
C Duct Entry Loss Factor F5-12, Chap 10
T Acceleration Factor (1 at hoods)
1 or 0
I Duct Entry Loss per VP (17 + 18)
O Duct Entry Loss (8 * 19)
"wg
N Other Losses
"wg
Hood Static Pressure SPh (16+20+21)
"wg
Straight Duct Length
ft
Friction Factor (Hf)
Friction Loss per VP (23 * 24)
No. of 90 degree Elbows
Elbow Loss Coefficient (Bottom of Page)
A-C
19600.0
3500
26.00
26.00
3.6870
5316.0
1.7618
B-C
19600.0
3500
26.00
26.00
3.6870
5316.0
1.7618
400.00
0.0100
1.78
0
1.78
0.0178
0.250
1
1.25
2.202
400.00
0.0100
1.78
0
1.78
0.0178
0.250
1
1.25
2.202
0.250
1
1.25
0.849
2.220
14.0
0.0070
0.0982
1.00
2.220
8.0
0.0070
0.0561
0.849
7.0
0.0054
0.0381
Elbow Loss per VP (26*Loss Factor)(bottom of page)
No. of Branch Entries
( 1 or 0)
Entry Loss Coefficient
Entry Loss per VP (29*Loss Factor) (Branch)
Special Fittings Loss Factors
Duct Loss per VP (25 + 28 + 31 + 32)
Duct Loss (8*33)
Duct SP Loss (22 + 34)
Other Losses
Cumulative Static Pressure
"wg
Governing Static Pressure (at TO location)
"wg
Corrected Volumetric Flowrate
cfm
Corrected Velocity
fpm
Corrected Velocity Pressure
"wg
Resultant Velocity Pressure
"wg
0.1900
1.00
0.0000
1.00
0.00
0.0000
1.00
0.28
0.28
0.784
13.0
0.0053
0.0684
0.67
0.24
0.1600
1.00
0.00
0.00
0.00
0.2882
0.5078
2.728
0.3361
0.5922
2.812
0.0381
0.0259
0.874
0.400
0.2284
0.1433
0.927
0.0681
0.0471
0.047
-2.728
-2.812
-2.812
-0.874
-0.874
-1.274
-2.202
2.249
27
C-D
19600.0
D
21000.0
D-E
20000.0
E
20000.0
E- F
21000.0
33.00
33.00
5.9396
3299.9
0.6789
A
I
R
34.00
34.00
6.3050
3172.1
0.6273
26
26
3.6870
5424.5
1.8345
34.00
34.00
6.3050
3330.7
0.6916
C
L
E
A
N
E
R
F
A
N
0.250
1
1.25
0.784
0.400
0.400
0.19
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
0.250
1
1.25
0.865
13.0
0.0052
0.0681
0.0000
1.00
90 Degree Round Elbow Loss Factors
R/D
0.5
Stamped
0.71
5- Piece
4- Piece
3- Piece
0.9
60 elbow = 2/3 loss
45 elbow = 1/2 loss
30 elbow = 1/3 loss
0.75
0.33
0.46
0.5
0.54
Branch Entry
Loss Factors
Angle
Factor
15
0.09
30
0.18
45
0.28
60
0.44
90
1
0.22
0.33
0.37
0.42
FSP
TP
Fan Specifications
Blade Type:
Size:
RPM:
HP:
28
1
=
=
1.5
0.15
0.24
0.27
0.34
2
Fan Static Pressure
FSP + VP out
ME
=
ME
=
0.73
BHP
=
Q x TP
=
6356 x ME
Existing
2.5
0.13
0.19
0.24
0.33
=
0.12
0.17
0.23
0.33
2.616
3.3080295875684
Mechanical efficiency
(Usually .5 - .65)
Q=
20000.0
14.25911699
Delta in SP:
31.39%
Delta in SP(1):
3.00%
Required
Tubeaxial
26.00
4200
14.26
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
HASIL PERHITUNGAN
Dari hasil perhitungan pada hasil perhitungan dengan data sbb :
o SP out let = 2,249 inc WG
o SPin let = - 2,2O2 inc WG
o VPin let = 1,8345 inc WG
o VPout let = 0,6916 inc WG
o Q
= 20.000 cfm
29
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
30
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
HASIL PERANCANGAN
4.1.
No, Duct
HASIL PERHITUNGAN BRNCH ENTRY
Diameter
(inci)
Duct Area
(sq.ft)
Q
(cfm)
V
(fpm)
VP
(“wg)
SP
(‘wg)
(1)`= A – C
26
3,687
19.600
5.316
1,7618
-2,728
(2) = B - C
26
3,687
19.600
5.316
1,7618
-2,812
(3) = C - D
33
5,9396
19.600
3.299
0,6789
-0,874
31
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
4.2. PERHITUNGAN DAYA
FAN
Data yang diperlukan untukmenentukan besarnya daya HP= House
Power dan Putaran (rpm), Fan yang digunakan dalam desain ini
adalah :

N = jumlah blades,

Q=volumemetric flow rate,

FSP = Fan Static Pressure,

FTP = Fan Total Pressure
4.2.1.
Penilian Tekanan
Rumus yang digunakan sebagai berikut :
o FSP = SPout let - SPin let - VPinlet
o
o FTP = FSP + VPout let
o
o BHP = (FTP * Q)/(6356*n)
Dari hasil
o
o
o
o
o
perhitungan pada hasil perhitungan dengan data sbb :
SP out let = 2,249 inc WG
SPin let = - 2,2O2 inc WG
VPin let = 1,8345 inc WG
VPout let = 0,6916 inc WG
Q
= 20.000 cfm
Fan SP = SP outlet - SP inlet - VP inlet
= 2,249 – (-2,202) - 1,8345
= 2,616 in WG
34
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Dari hasil perhitungan pada hasil perhitungan dengan data sbb :
SP out let = 2,249 inc WG
SPin let = - 2,2O2 inc WG
VPin let = 1,8345 inc WG
VPout let = 0,6916 inc WG
Fan SP
= 2,616 inc WG
FTP = Fan SP + VP0ut let
= 2,616 + 0,6916
= 3,308 in WG
Fan SP
FTP
Q
35
= 2,616 inc WG
= 3,308 inc WG
= 20.000 cfm
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Meng hitung Besarnya Daya Dan Putaran
Fan
Ƞ =
Dimana :
36
Ƞ
Q
FTP
FSP
PWR
CF
Q * FTP = Q * (FSP + VP0ulet)
CF *PWR
CF * PWR
=
=
=
=
=
=
mechanic eficiensy, garafik-106
volumetric rate , cfm
fan tekanan total
fan tekanan static
power rekruitmen, HP
Konfersi factor, 6356
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
PWR =
diketahui :
Ƞ
Q
FTP
PWR=
37
Q * FTP
6356 * Ƞ
= mechanic eficiensy = 73 %
= volumetric rate
= 20.000
cfm
= fan tekanan total
= 3,308 in WG
20.000 * 3,308
6356 * 0,73
= 14 HP
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Dari grfik diatas, dimana :
Ƞ (mechanic eficiensy) = 73 %
BHP
= 14 HP, maka
RPM
= 4.200
BAB – V
REKOMENDASI
Dari hasil desain system ventilasi “ Lokal Exhaust Ventilsi direkomendasikan sebagai berikut ,
No, Duct
(1)`= A – C
(2) = B - C
(3) = C - D
Diameter
(inci)
26
26
33
Duct Area
(sq.ft)
3,687
3,687
5,9396
FSP-------2,616 “wg
FTP-------3,308 “wg
Daun Propeler/jumlah blades (n) = 3
Size/diameter fan =26 inc
Data
39
Bln, 28 Mei
Th, 2013
Q
(cfm)
19.600
19.600
19.600
V
(fpm)
5.316
5.316
3.299
VP
(“wg)
1,7618
1,7618
0,6789
SP
(‘wg)
-2,728
-2,812
-0,874
BHP ---- 14 HP
RPM ----- 4.200
Fan type, Centifugal
Air Clenaner/pembersih udara;
Siklon, diameter badan = 1,2 M,
tinggi inlet = 0,6 M, panjang badan = 1,8 M
Dapertemen
K3-Esa Unggul
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
DAFTAR PUSTAKA,
o American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH). Industrial Ventilation, a Manual of
Recommended Practice . 1998. Industri Ventilasi, Manual Praktek Fitur. 23th ed
o Air Movement and Control Association (AMCA). . Arlington Heights, IL: Air Movement and Control Association. 1988..
Publikasi AMCA Satu Heights Arlington
o American Society of Heating, Refrigerating, and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE). Handbooks and Standards
o Burgess, WA et al. 1989. Ventilation and Control of the Work Environment. New York: Wiley Interscience
o Moody, L. F. (1944), "Friction factors for pipe flow", Transactions of the ASME 66 (8): 671–684
o Patty's Industrial Hygiene, Volume 1, diedit oleh Vernon E. Rose,Barbara Cohrssen,Capter -24, Industrial Ventilation,
Robert.D. Soule CIH,CSP
o Sheet Metal and Air Conditioning Contractors National Association (SMACNA). SMACNA Publications. Arlington, VA:
Sheet Metal and Air Conditioning Contractors National Association.
o NIOSH, Occupational Diseases - A Guide to their Recognition, in Publication No 77-181. 1977. 2,.
o Williams PR, Knutsen JS, Atkinson C, Madl AK, Paustenbach DJ. 3. Williams PR, JS Knutsen, C Atkinson, AK Madl,
Paustenbach DJ. Airborne concentrations of benzene associated with the historical use of some formulations of liquid
wrench. J Occup Environ Hyg. 2007; 4 (8):547–561.
o McMinn BW. 4. McMinn BW. Control of VOC emissions from ink and paint manufacturing processes. Pengendalian
emisi VOC dari tinta dan proses manufaktur cat. CT Center. Environmental Protection Agency. 1992. CT Center.
Environmental Protection Agency. 1992.
o Bahan Mata kuliah Ventilasi Industri
40
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Terima Kasih
41
ETAPRIMA SAFETY ENGINEERING
Download
Random flashcards
hardi

0 Cards oauth2_google_0810629b-edb6-401f-b28c-674c45d34d87

Rekening Agen Resmi De Nature Indonesia

9 Cards denaturerumahsehat

Card

2 Cards

Create flashcards