SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN SUMMARY THE EFFECT OF BONUS SCHEMES ON ACCOUNTING DECISIONS Paul M Healy (1985) OLEH: Putu Pande R. Aprilyani Dewi (1781611010) Putu Ayu Anggya Agustina (1781611016) Kadek Ria Citra Dewi (1781611017) A.A. Sg. Ary Nur Arista (1781611018) PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2018 1. Latar Belakang dan Fenomena Di era tahun 1980, fenomena skema bonus berbasis laba (earnings based) menjadi suatu hal yang menarik untuk diteliti. Fenomena ini menjelaskan bahwa skema bonus berbasis laba (earnings based) merupakan salah satu cara modern dalam memberikan penghargaan kepada eksekutif perusahaan. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Fox (1980) yang menjelaskan bahwa di tahun 1980 terdapat 90% dari seribu perusahaan manufaktur di Amerika Serikat menggunakan rencana bonus atas dasar laba akuntansi untuk membayar manajer. Berdasarkan fenomena tersebut, maka penelitian ini meneliti tentang hubungan keputusan manajer akrual yang didalilkan atas dasar skema bonus dengan memilih prosedur akuntansi. 2. Teori yang Mendukung Penelitian terdahulu telah menguji hubungan antara keputusan manajer akrual, prosedur akuntansi, dan insentif pendapatan dengan mendalilkan eksekutif perusahaan yang atas dasar skema bonus dengan memilih prosedur akuntansi dalam meningkatkan pendapatan untuk memaksimalkan kompensasi bonus. Hasil penelitian empiris saling bertentangan sehingga timbul beberapa masalah diantaranya adalah pertama, eksekutif perusahaan mengabaikan pandangan terkait pendapatan yang diperoleh berdasarkan rencana serta penghasilan dipandang sebagai keputusan akuntansi tertentu yang tidak mempengaruhi bonus. Kedua, penelitian terdahulu mengasumsikan skema kompensasi selalu mendorong manajer untuk memilih prosedur akuntansi peningkatan pendapatan. Asumsi tersebut juga menjelaskan apabila penghasilan sangat rendah di saat ini, maka pemilihan prosedur akuntansi tidak perlu diperhatikan karena penghasilan target tidak akan mengurangi pendapatan saat ini dengan menunda pendapatan atau mempercepat penghapusan. Strategi ini dikenal sebagai 'taking a bath'. Namun, strategi ini tidak mempengaruhi penghargaan bonus saat ini dan meningkatkan kemungkinan memenuhi target laba masa depan. Manajer memiliki insentif untuk memilih akrual diskresioner. Menurut Healy (1983), aturan keputusan manajer untuk memilih diskresioner akrual ketika melaksanakan pekerjaan selama dua periode. Pilihan akrual diskresioner dalam periode pertama memperbaiki keputusan dan pada periode kedua karena akrual 2 diskresioner dibatasi hingga nol pada dua periode ini. Manajer memiliki insentif untuk memilih akrual diskresioner yang meningkatkan pendapatan. Jika laba periode pertama sebelum akrual diskresioner melebihi ambang batas pada nilai sekarang dengan kepastian keuntungan dari percepatan pendapatan dan menerima bonus dalam periode pertama lebih tinggi daripada penghargaan yang diharapkan sebelumnya dalam periode kedua. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah parameter aktual dan definisi kontrak bonus. Kontrak bonus biasanya memungkinkan dana yang tidak terisi tersedia untuk penghargaan bonus di masa mendatang. Rencana juga menyediakan penangguhan penghargaan selama lima tahun, baik atas kebijaksanaan komite kompensasi atau manajer. Penelitian ini menyajikan dua jenis kategori dalam pengujian, yaitu: uji akrual dan uji perubahan dalam prosedur akuntansi. Akrual diartikan sebagai perbedaan antara laba yang dilaporkan dengan arus kas dari operasi. Uji akrual membandingkan dasar akrual yang sebenarnya untuk perusahaan dan tahun tertentu dengan tanda prediksi insentif bonus manajer yang diberikan yang menunjukkan hasil bahwa konsisten dengan teori. Uji yang menggunakan perubahan dalam prosedur akuntansi menunjukkan bahwa keputusan manajer untuk mengubah prosedur tidak terkait dengan insentif rencana bonus. Selain itu, terdapat hasil dari penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa terdapat perubahan dalam prosedur akuntansi terkait dengan adopsi atau modifikasi atas dasar rencana rencana bonus. 3. Skema Riset dan Alat Analisis Skema dalam penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara pilihan terhadap keputusan akrual dengan skema bonus dan hubungan antara perubahan prosedur akuntansi dengan skema bonus. Adapun skema yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Prosedur Akuntansi Skema Bonus Akrual Manajer Gambar 1. Skema Riset 3 Rencana bonus menciptakan insentif bagi manajer untuk memilih prosedur akuntansi dan akrual untuk memaksimalkan nilai dari penghargaan bonus. Manajer lebih cenderung memilih penurunan pendapatan akrual ketika batas atas atau batas bawah rencana bonus bersifat mengikat, dan peningkatan pendapatan akrual ketika batas tidak mengikat. Artinya perusahaan yang menerapkan bonus dengan batas bawah tanpa batas atas cenderung untuk melakukan take a bath, yaitu memilih penurunan pendapatan akrual, ketika batas bawah dari rencana bonus yang bersifat mengikat daripada ketika tidak mengikat. Pada perusahaan yang menerapkan bonus dengan batas bawah dan batas atas, manajer cenderung memilih kebijakan yang bersifat income-decreasing. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Kajian Teoritis 1. Skema Bonus Akuntansi 2. Rencana Bonus dan Pilihan Keputusan Akuntansi Kajian Empiris Rumusan Masalah Hipotesis Uji Analisis Hasil 1. Watts dan Zimmerman (1978) 2. Hagerman dan Zmijewski (1979) 3. Holthausen (1981) 4. Zmijewski dan Hagerman (1981) 5. Collins, Rozeff, Dhaliwal (1981) 6. Bowen, Noreen, dan Lacey (1981) Simpulan dan Saran Gambar 2. Kerangka Berpikir Penelitian 3.1 Pengumpulan dan Analisis Data Sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu pertimbangan dari Fortune Directory yan memuat 250 daftar nama perusahaan terbesar di AS dan disaring menjadi 94 perusahaan sampel yang memenuhi kriteria. Data penelitian diambil dari COMPUSAT untuk tahun 1946 – 1980 dan Moody’s Industrial Manual untuk tahun awalnya. Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian kontijensi (uji Chi-square dan t-statistik). Pengujian tambahan 4 dilakukan (uji the sign and wilcoxon signed-ranks) untuk mengatasi kelemahan pengujian kontijensi. Variabel independen penelitian ini adalah skema bonus dan variabel dependen adalah keputusan akuntansi. 3.2 Uji statistik Uji statistik dalam penelitian ini dibagi kedalam beberapa pengujian yang dilakukan, diantaranya uji statistik Chi-Square yaitu uji two-tailed, Uji-t yaitu tes one-tailed perbedaan akrual rata-rata untuk tiga portofolio. Selain itu, dan juga menggunakan uji kontijensi yang direplikasi menggunakan efek dari perubahan prosedur akuntansi pada pendapatan untuk bonus sebagai proksi keputusan diskresioner akuntansi. 4. Hasil Uji Hipotesis Hasil pengujian kontijensi untuk menguji hubungan akrual diskresioner dan rencana bonus menunjukkan ketidakkonsistenan dengan hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara akrual diskresioner dengan insentif pelaporan laba manajer berdasarkan rencana bonus. Manajer memiliki insentif untuk memilih akrual diskresioner yang menurunkan pendapatan ketika batas atas dan batas bawah dari rencana bonus yang bersifat mengikat. Ketika batas atas dan batas bawah tidak mengikat, manajer memiliki insentif untuk memilih akrual diskresioner yang meningkatkan pendapatan. Hasil pengujian tambahan menunjukkan hasil yang konsisten dengan teori; rata-rata akrual untuk tahun-perusahaan yang batas atas skema bonusnya tidak mengikat lebih besar dibandingkan rata-rata akrual untuk tahun-perusahaan yang tidak mempunyai batas atas. Selain itu, terdapat hasil pengujian kontijensi untuk menguji pengaruh perubahan prosedur akuntansi pada laba yang tersedia untuk bonus tidak mendukung teori. Namun hasil pengujian tambahan menunjukkan bahwa perubahan pada skema bonus berasosiasi dengan perubahan prosedur akuntansi (konsisten dengan hipotesis). Rata-rata (mean) perubahan sukarela prosedur akuntansi lebih besar pada perusahaan-perusahaan dengan perubahan rencana bonus, daripada perusahaan-perusahaan tanpa perubahan rencana bonus. 5 5. Simpulan Hasil Penelitian Simpulan dari penelitian ini yaitu skema bonus adalah merupakan cara yang efektif dalam mempengaruhi keputusan akrual manajerial dan prosedur akuntansi karena dapat menciptakan insentif bagi para manajer untuk memilih prosedur akuntansi dan kebijakan akrual dalam memaksimalkan nilai dari penghargaan bonus manajer. Terdapat hubungan yang kuat antara akrual dan insentif pelaporan pendapatan manajer dalam kontrak bonusnya. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa terjadinya perubahan sukarela prosedur akuntansi selama bertahun-tahun untuk mengikuti adopsi atau modifikasi dari rencana bonus, sehingga pemilik perusahaan sebaiknya lebih memahami strategi yang dapat menimbulkan manajemen laba yang nantinya berpengaruh terhadap dividen yang nantinya akan diterima. Maka dari itu, diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai efek lain yang dapat timbul akibat adanya skema bonus dan bentuk kompensasi lainnya. 6