ANGING MAMIRI “Rindu. Kita tidak tahu kapan rindu itu akan melanda. Rindu berlaku bagi siapa saja dan dimana saja, tanpa mengenal batas usia ataupun gender. Tapi, waktu yang paling tepat untuk merasakan rindu adalah malam hari. Karena pada saat angin malam bertiup semilir, maka saat itulah angin yang membawa rasa dingin akan menghantarkan rasa rindumu hingga ke jendela rumahnya. Sekian untuk hari ini, selamat malam.” Aku mendengarkan dengan hikmat penggalan-penggalan cerita dari pembawa radio itu. Memang benar apa yang dikatakannya. Langit terlalu bisu untuk menggambarkan rindu ini, maka hanya angin malam yang menusuk lah yang bisa menggambarkan betapa rindu nya diri ini akan sosokmu. Sosok yang takkan pernah bisa ku lihat kembali. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya, aku terus melihat bayangannya di semua tempat yang pernah kami datangi. Aku menangis berhari-hari lamanya saat mengingatnya. Ku salahkan diriku yang tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamanya. Aku membenci diriku yang tidak pernah memeluknya lebih sering. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. Ku sesali semua waktu yang terbuang karena urusan dunia yang bahkan tidak bisa ku genggam. Apakah ini yang dikatakan ‘kita memilih kebahagiaan dan kedukaan kita sendiri jauh sebelum kita mengalaminya’? Begitu banyak luka hingga jiwa ini meronta ingin di bebaskan dari segala hiruk pikuk dunia yang tidak ada habisnya. Berhari-hari aku termenung di tempat ini, memperhatikan satu persatu orang berlalu lalang. Setiap orang memiliki tatapannya sendiri saat melihatku. Ada yang menatap dengan tatapan heran, sedih, khawatir, prihatin, dan bingung. Tapi tidak ada satu pun yang mendekati ku. Berbeda dengan hari ini. Seorang lelaki tua yang entah datang darimana duduk di sebelahku sembari menawari ku segelas air dingin. Aku mengangkat pelan tanganku, menolak secara halus. “Luka adalah tempat dimana cahaya memasukimu bukan kegelapan, anakku.” Ucap lelaki tua itu sembari meneguk kopi yang masih mnegepulkan asap dari gelasnya. Sepertinya kopi itu masih panas. “Aku rasa itu tidak berlaku untukku. Berbulan-bulan aku hanya bisa meratapi kepergiannya. Rindu terus melanda relung hatiku. Aku tidak bisa melakukan hal lain selain merindukannya.” Airmata ku menggenang sudah di pelupuk mata ku. “Luka yang kamu rasakan saat ini mungkin saja sedang berusaha memberitahumu sesuatu. Dengarkanlah mereka. There is a voice that doesn’t use words, listen. Karena tidak semua orang bisa merasakannya.” Jelasnya. Mendengar kata-kata dari pak tua itu, aku kembali terhanyut dalam kenangan beberapa bulan lalu saat bersamanya. Apa yang membuatnya meninggalkanku? Itu merupakan pertanyaan besar yang terus berputar di kepala ku. Aku terus berpikir, tapi tidak membuahkan hasil. Aku menggeleng kepada pak tua itu. Sembari tersenyum pak tua itu bercerita. “Di tinggal oleh orang terkasih memang bukanlah hal yang mudah. Tetapi, meratapi nya terlalu lama juga bukan jawaban yang tepat. Tersenyumlah sembari menghadapi luka itu. Jangan menganggap bahwa ini adalah hukuman, tetapi isyarat bahwa kamu sedang ditegur. Ini ujian dari-Nya. Dia pasti sudah memperhitungkan segalanya, sebelum memberikan ujian ini kepadamu. Dia adalah sutradara terbaik. Tinggal bagaimana kamu melalui nya.” Aku terdiam mendengar perkataannya. Seketika airmata yang tadinya menggenang di pelupuk mata ku bercucuran turun, tidak sanggup lagi terbendung. Aku menangis sejadijadinya. Teringat dengan semua kejadian yang menimpa ku belakangan ini. Aku terus meminta ampun kepada-Nya. Aku terlalu larut dalam kesedihan ini, hingga lupa bahwa semua ini rencana terbaik yang ditulis oleh-Nya untukku. ”Janganlah bersedih. Apapun yang hilang darimu akan kembali dalam bentuk yang berbeda.” Setelah mengatakan itu, lelaki tua itupun tersenyum manis sebelum menghilang dari pandanganku. Aku menghapus sisa airmata di pipi ku dan beranjak pulang saat matahari sudah tinggal 1/3 di langit. “Hidup tanpa cinta adalah seperti pohon tanpa bunga atau buah. Tapi jika kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Biarlah tetap ada ruang dalam kebersamaanmu. Karena jika dia kembali, dia akan selalu menjadi milikmu. Dan jika tidak, dia tidak akan pernah menjadi milikmu. Karena cinta tidak tahu kedalamannya sendiri sampai pada waktu pemisahan. Tapi jika setelah kau kehilangan dirinya namun kau tetap mencintainya, tidak masalah bersedih. Tapi jangan terlarut. Persis seperti yang di katakana oleh Lao Tzu, ‘Cinta adalah nafsu terkuat, yang menyerang kepala, hati dan indera secara bersamaan.’ …” Tok tok tok Entah pukul berapa aku tertidur semalam, handphone ku yang memutar radio semalam juga sudah mati. Tapi di pagi buta seperti ini, siapa yang mengetuk pintu rumah orang dengan sangat keras? “Iya, tunggu sebentar.” Sahutku dari dalam sembari merapikan penampilanku yang masih kusut. Aku membuka pintu dengan lebar, dan aku bisa melihat dengan jelas orang yang sedari tadi mengetok pintu rumahku. Dia mengenakan jaket berwarna kuning, sambil memegang sebuah map berwarna cokelat di tangan kanannya dan pulpen di tangan kiri nya. “Pagi mba. Ada paket.” Sapa nya. “Dari siapa ya, Pak?” Tanya ku heran. Aku tidak punya keluarga maupun sanak saudara disini. “Kurang tahu, mba. Tolong tanda tangan disini, mba.” Persis setelah aku selesai menandatangani secarik kertas itu, tukang pos itu berterima kasih dan pergi meninggalkanku dengan map itu. Aku membuka map itu secara perlahan, isinya selembar kertas. Anakku … Maaf ayah tidak bisa memberikanmu barang-barang berharga sebelum pergi. Ayah hanya bisa meninggalkan secarik kertas ini sebagai pelipur lara untukmu. Ayah hanya ingin bilang, jangan bersedih terlalu lama. Ingatlah anakku, kecantikan bukan berada pada raut wajah, dia terpancar bagai serunai sinar dari dalam hati. Tetaplah berbuat baik meski ayah sudah pergi, tetaplah menjadi kebanggaan ayah, tetaplah menjadi gadis yang baik dan disegani orang. Ayah mencintaimu, anakku. Ayah, akan ku ingat setiap pesanmu. Tenanglah disana. Jangan mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja. P.S : Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation. Nama Penulis : Ikananda Nama Pena : Kainara Akun Instagram : @ikanandakarim Nomor WA : 0823-4555-9770 Email : [email protected] Alamat surat menyurat : Perumahan Bosowa Permai Blok A1/14, Jalan Minasa Upa, kelurahan Minasa Upa, kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan.