Uploaded by User26448

Akuntansi Pajak

advertisement
AKUNTANSI PERPAJAKAN
1.
2.
3.
Konvergensi IFRS dan Pengaruh Perpajakannya
a. Abstraksi
b. Karakteristik IFRS
c. Tax Regime
PSAK 30: SEWA
a. Ketentuan Umum PSAK dan Perpajakan
b. Sewa Menyewa
c. Capital Lease
d. Sale and Leaseback
PSAK 16: AKTIVA TETAP
a. Ketentuan Umum PSAK dan Perpajakan
b. Revaluasi Aktiva Tetap
BAB I




International Financial Reporting Standard (IFRS) merupakan
standar pencatatan dan pelaporan akuntansi yang berlaku secara internasio
nal yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Boards (IASB),
sebuah lembaga internasional yang bertujuan untuk mengembangkan suatu
standar akuntansi yang tinggi, dapat dimengerti, diterapkan, dan diterima
secara internasional
Standar Akuntansi International (International Accounting Standards/IAS)
disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi
Internasioanl (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional
(IFAC)
IFRS dianggap sebagai kumpulan standar "dasar prinsip" yang kemudian
menetapkan peraturan badan juga mendikte penerapan-penerapan tertentu
Salah satu aturan tentang laporan keuangan: Sebuah laporan keuangan
harus menggambarkan pandangan benar dan adil atas usaha sebuah
organisasi. Oleh karena laporan-laporan ini digunakan oleh berbagai pihak,
laporan tersebut harus menggambarkan pandangan sebenarnya akan
keadaan keuangan sebuah organisasi

Konvergensi merupakan penggabungan dua hal atau lebih, untuk bertemu dan
bersatu dalam suatu titik. Konvergensi standar akuntansi internasional (IFRS)
berarti penggabungan atau pengintegrasian standar akuntansi yang ada di
setiap negara untuk digunakan dan diarahkan ke dalam satu titik tujuan yaitu
IFRS (International Financial Report Standart).

Konvergensi standar akuntansi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu:
1. harmonisasi (membuat standar sendiri yang tidak berkonflik dgn IFRS)
2. adaptasi (membuat standar sendiri yang disesuaikan dengan IFRS)
3. adopsi (mengambil langsung dari IFRS).

Dalam melakukan konvergensi IFRS, terdapat
dua macam strategi adopsi, yaitu big bang
strategy dan gradual strategy. Big bang
strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus,
tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu.
Strategi ini digunakan oleh negara –negara
maju. Sedangkan pada gradual strategy,
adopsi IFRS dilakukan secara bertahap.
Strategi ini digunakan oleh negara – Negara
berkembang seperti Indonesia

Tahap Adopsi (2008 – 2011), meliputi aktivitas dimana seluruh IFRS
diadopsi ke PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, dan evaluasi
terhadap PSAK yang berlaku.

Tahap Persiapan Akhir (2011), dalam tahap ini dilakukan penyelesaian
terhadap persiapan infrastruktur yang diperlukan. Selanjutnya, dilakukan
penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS.

Tahap Implementasi (2012), berhubungan dengan aktivitas penerapan
PSAK IFRS secara bertahap. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap
dampak penerapan PSAK secara komprehensif
1.
2.
3.
4.
Pembukuan mengikuti PSAK kecuali diatur lain
Mekanisme Rekonsiliasi Fiskal untuk menyelaraskan dengan
ketentuan perpajakan (quasi-dependent regime)
Metode pengukuran dalam akuntansi pajak:
a.
Harga perolehan (historical cost)
b.
Harga pasar wajar (fair value)
c.
Nilai buku (book value)
Kendala sikap DJP: Fungsi DJP (regulasi & budgeter)
1.
2.
Ada ketentuan khusus dalam perpajakan
a. Konvergensi IFRS tidak berpengaruh terhadap perpajakan
b. Muncul koreksi fiskal saat penyusunan SPT Tahunan
c.
Munculnya DTA/ DTL jika ada perbedaan temporer
Tidak ada ketentuan khusus dalam perpajakan
a. Konvergensi IFRS berpengaruh terhadap perpajakan
b. Tidak muncul koreksi fiskal saat penyusunan SPT Tahunan
c.
Tidak munculnya DTA/ DTL karena tidak ada perbedaan
temporer


istilah "rezim pajak khusus" berkenaan dengan item
pendapatan atau laba berarti setiap undang-undang, peraturan
atau praktik administrasi yang memberikan tingkat pajak
efektif preferensial terhadap pendapatan atau laba tersebut,
termasuk melalui pengurangan dalam tarif pajak atau basis
pajak. Berkenaan dengan bunga, istilah rezim pajak khusus
mencakup pengurangan nosional yang diizinkan sehubungan
dengan ekuitas.
Namun, istilah ini tidak akan mencakup undang-undang,
peraturan atau praktik administrasi apa pun
HUBUNGANGAN TAX REGIME TYPE
DENGAN REKONSILIASI FISKAL
TAX REGIME TYPE
Dependent
Approach
LAPKEU
KOMERSIAL
Quasi
Dependent
Approach
REKONSILIASI FISKAL
Independent
Approach
LAPKEU
FISKAL
…TAX REGIME TYPE
1. Independent Approach


Penghasilan kena pajak dihitung menggunakan
ketentuan perpajakan yang independent terhadap PSAK
Konvergensi PSAK tidak berpengaruh signifikan terhadap
ketentuan perpajakan
2. Quasi Dependent Approach


Penghasilan kena pajak dihitung melalui kombinasi
antara ketentuan perpajakan dan PSAK
Konvergensi PSAK memerlukan perubahan ketentuan
perpajakan
3. Dependent Approach


Penghasilan kena pajak dihitung mengikuti ketentuan
PSAK
Konvergensi PSAK berpengaruh signifikan terhadap
ketentuan perpajakan
Sumber: PwC (2011)
1
Cenderung bersifat principles-based
(bukan rule based)
2
Berfokus pada professional judgment
untuk menyimpulkan suatu
permasalahan akuntansi
3
Banyak menggunakan konsep fair value
untuk dasar pengukuran dengan
penekanan pada ukuran yang andal
4
Penilaian pada substansi transaksi dan
evaluasi apakah laporan keuangan
mencerminkan realitas ekonomi
5
Lebih banyak pengungkapan
Karakteristik
IFRS



pengukuran, yaitu peningkatan penggunaan nilai wajar (fair value) karena
standar IFRS banyak menggunakan nilai wajar, terutama untuk properti
investasi,beberapa aset tak berujud, aset keuangan dan aset biologis dan
Penggunaan estimasi dan “judgement”
Persyaratan pengungkapan lebih banyak dan rinci;
Laporan keuangan yangt disajikan menjadi lebih banyak, meliputi
1. Pernyataan Posisi Keuangan,
2. Pernyataan Pendapatan Komprehensif atau dua laporan terpisah yang
terdiri dari suatu Laporan Laba Rugi dan terpisah Pernyataan Pendapatan
Komprehensif, yang menyatukan Laba atau Rugi pada laporan laba rugi
terhadap total pendapatan komprehensif
3. Pernyataan Perubahan Ekuitas (SOCE)
4. Pernyataan atau Arus Kas Laporan Arus Kas
5. catatan, termasuk ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan
PSAK 30
AKUNTANSI ATAS SEWA
PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK
Pasal 1A ayat (1) huruf b
Pengalihan BKP oleh karena suatu perjanjian SEWA BELI dan/atau
perjanjian SEWA GUNA USAHA (LEASING)
Penjelasan :
Yang dimaksud dengan “pengalihan Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian sewa guna
usaha (leasing)” adalah penyerahan Barang Kena Pajak yang disebabkan oleh perjanjian
sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi
Dalam hal penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka
perjanjian sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi, Barang Kena Pajak dianggap
diserahkan langsung dari Pengusaha Kena Pajak pemasok (supplier) kepada pihak yang
membutuhkan barang (lessee).
16
•

Perlakuan sewa:
ada tidaknya
pengalihan substansial
seluruh risiko dan
manfaat terkait
dengan suatu aset,
baik yang diikuti atau
tidak diikuti dengan
pengalihan hak
kepemilikan pada
akhir masa lease
PSAK
•
Perlakuan sewa:
 Angsuran + nilai
residu
LEBIH/KURANG DARI


HPP + keuntungan
masa sewa-gunausaha
perjanjian sewaguna-usaha MEMUAT
atau TIDAK memuat
ketentuan mengenai
opsi bagi lessee.
PERPAJAKAN

•
Capital Lease:
lessee boleh
menyusutkan AT
leasing

•
•
PSAK
Capital Lease:
lessee dan lessor tidak
boleh menyusutkan AT
leasing
penyusutan dilakukan
setelah opsi dilakukan/
tidak dilakukan
PERPAJAKAN
SEWA BELI


Menurut Prof. Subekti, sewa beli merupakan
pengembangan transaksi jual beli, sementara menurut
Prof. Wirjono, sewa beli mirip transaksi sewa-menyewa.
Dalam KUH Perdata, dalam transaksi sewa beli belum ada
penyerahan hak sampai angsuran lunas sehingga
pengalihan barang kepada orang lain sebelum lunas
dianggap sebagai penggelapan barang, sementara itu
transaksi jual beli telah terjadi penyerahan hak meski
angsuran belum lunas. Perbedaan jual beli secara
angsuran dan sewa beli terletak pada saat terjadi
penyerahan hak.

Pada penyerahan atas perjanjian sewa beli saat timbulnya
objek pajak bukan ditentukan saat penyerahan hak
melainkan pada saat pegalihan BKP. Saat pengalihan BKP
adalah saat berpindahnya BKP dari penjual kepada
pembeli, yaitu saat pembeli membayar harga sewa tahap
pertama dan pada saat bersamaan barang diserahkan oleh
penjual (PKP Penjual) kepada pembeli.
ARUS FISIK BARANG
ANGSURAN + MARGIN
PENJUAL /
SUPPLIER
NASABAH
21
CONTOH SEWA
BELI
Pada tanggal 1 Desember 2011 terjadi perjanjian
sewa beli kendaraan Innova antara PT Alian
(pembeli) dan PT Prima Unggul (penjual) dengan
nilai sewa beli sebesar Rp200 juta. Harga perolehan
kendaraan Rp150 juta. Pembayaran sewa beli
dilakukan selama 10 bulan. Pada tanggal 5
Desember 2011 terjadi pembayaran sewa pertama
senilai Rp20 juta sekaligus penyerahan kendaraan
dan pembayaran sewa selanjutnya dilakukan pada
tanggal 5 setiap bulannya. Pada tanggal 5
September 2016 terjadi penyerahan hak atas
kendaraan dari PT Prima Unggul kepada PT Alian.

Jurnal PT Alian (pembeli)
Aktiva Sewa Beli
PM Dapat Dikreditkan
Utang Sewa Beli
Kas
200.000.000
20.000.000
200.000.000
20.000.000
Utang Sewa Beli
Kas
20.000.000
20.000.000
Beban Sewa Beli
20.000.000
Akumulasi Penyusutan
20.000.000

Jurnal PT Prima Unggul (penjual)
Piutang Sewa Beli
Kas
Penjualan
Pajak Keluaran
200.000.000
20.000.000
200.000.000
20.000.000
HPP
Persediaan
150.000.000
150.000.000
Kas
20.000.000
Piutang Sewa Beli
20.000.000
Jurnal PT Alian
Utang Sewa Beli
Kas
20.000.000
20.000.000
Beban Sewa Beli
20.000.000
Akumulasi Penyusutan
20.000.000
Jurnal PT Prima Unggul
Kas
Piutang Sewa Beli
20.000.000
20.000.000
Akumulasi Penyusutan
Aktiva Sewa Beli
200.000.000
200.000.000
OPERATING
LEASE
2 SYARAT:
 jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama
masa sewa-guna-usaha pertama tidak dapat
menutupi harga perolehan barang modal yang
disewa-guna-usahakan ditambah keuntungan
yang diperhitungkan oleh lessor;
Misal:
Harga perolehan inova Rp250 juta
Keuntungan/margin Rp25 juta
Angsuran sewa untuk 12 bulan Rp20 juta/bulan

perjanjian sewa-guna-usaha tidak memuat
ketentuan mengenai opsi bagi lessee.
1.
Lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas barang
modal yang disewa-guna-usahakan.
2.
Pembayaran sewa guna usaha yang dibayarkan atau
yang terutang adalah biaya yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto.
3.
Lesse memotong PPh Pasal 23 setiap kali membayar
sewa kepada Lessor dengan dasar perhitungan
pemotongan PPh Pasal 23
1.
Seluruh pembayaran sewa guna usaha yang diterima
atau diperoleh merupakan obyek PPh pasal23.
2.
Berhak menyusutkan barang yang disewa-gunausahakan dimulai pada tahun pajak barang modal yang
bersangkutan disewa-guna-usahakan
3.
Lessor tidak diperkenankan membentuk cadangan
penghapusan piutang ragu-ragu.
4.
Lessor memungut pajak pertambahan nilai nilai (PPN)
jasa sewa yang diberikan
CONTOH
OPERATING LEASE

Pada tanggal 1 Desember 2011 terjadi
perjanjian sewa –menyewa 2 kendaraan
Innova (harga perolehan Rp250 juta) antara
PT Alian (penyewa) dan PT Prima Unggul
(pemilik aktiva) dengan nilai sewa sebesar
Rp240 juta per tahun. Pembayaran sewa
dilakukan selama 12 bulan. Pada tanggal 5
Desember 2011 terjadi pembayaran sewa
pertama senilai Rp20 juta sekaligus
penyerahan kendaraan dan pembayaran sewa
selanjutnya dilakukan pada tanggal 5 setiap
bulannya.

Jurnal PT Alian (penyewa)
Beban Sewa Kendaraan
PM Dapat Dikreditkan
Utang PPh 23
Kas
20.000.000
2.000.000
400.000
21.600.000

Jurnal PT Prima Unggul (pemilik aktiva)
Kas
PPh 23 Dipotong
PK
Pendapatan Sewa
21.600.000
400.000
2.000.000
20.000.000
Beban Penyusutan
31.250.000
Akumulasi Penyusutan
31.250.000
FINANCING
LEASE
PENJUAL /
SUPPLIER
ARUS FISIK BRG
NASABAH
LEMBAGA KEUANGAN
Dengan mekanisme passthrough maka penyerahan BKP dianggap diserahkan langsung dari Supplier
ke Nasabah
37
PENJUAL /
SUPPLIER
ARUS FISIK BRG
NASABAH
BANK
SYARIAH
 Untuk memenuhi ketentuan syariah dlm memberikan pembiayaan syariah kepada nasabah, Bank
harus terlibat jual beli barang, tidak hanya memberikan uang (kredit) pada nasabah
 Bank membeli dari Supplier dan menjualnya pada Nasabah
 Terdapat dua transaksi penyerahan BKP yg terutang PPN, yaitu dari Supplier ke Bank Syariah dan
dari Bank Syariah ke Nasabah
Margin merupakan imbalan jasa yang dibebankan Bank kepada nasabah (jasa pembiayaan)
Jasa pembiayaan termasuk jasa keuangan yang bukan merupakan Jasa Kena Pajak (ps.4A (3) d)
38
1.jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa
sewa-guna-usaha pertama ditambah dengan nilai sisa
barang modal, harus dapat menutup harga perolehan
barang modal dan keuntungan lessor;
2.masa
sewa-guna-usaha
ditetapkan
sekurangkurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal
Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal
Golongan II dan III, dan 7 (tujuh) tahun untuk
Golongan bangunan;
3.perjanjian sewa-guna-usaha memuat ketentuan
mengenai opsi bagi lessee.
1) Penghasilan lessor yang dikenakan pajak penghasilan adalah sebagian dari
pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi yang berupa imbalan jasa
sewa guna usaha;
2) Lessor tidak boleh menyusutkan atas barang modal yang disewa-gunausahakan dengan hak opsi;
3) Dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang ditentukan
dalam pasal 3 keputusan ini, direktur jenderal pajak melakukan koreksi atas
pengakuan penghasilan pihak lessor;
4) Lessor dapat membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu yang
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya sejumlah 2,5%
(dua setengah persen) dari rata-rata saldo awal dan saldo akhir piutang
sewa-guna-usaha dengan hak opsi.
5) Kerugian yang diderita karena piutang sewa-guna-usaha yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih lagi dibebankan pada cadangan penghapusan piutang
ragu-ragu yang telah dibentuk pada awal tahun pajak yang bersangkutan;
6) Dalam hal cadangan penghapusan piutang ragu-ragu tersebut tidak atau
tidak sepenuhnya dibebani untuk menutup kerugian dimaksud maka sisanya
dihitung sebagai penghasilan, sedangkan apabila cadangan tersebut tidak
mencukupi maka kekurangannya dapat dibebankan sebagai biaya yang
dikurangkan dari penghasilan bruto.
1)
2)
3)
4)
Selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh
melakukan penyusutan atas barang modal yang disewaguna-usaha, sampai saat lessee menggunakan hak opsi
untuk membeli;
Setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang
modal tersebut, lessee melakukan penyusutan dan dasar
penyusutannya adalah nilai sisa (residual value) barang
modal yang bersangkutan;
Pembayaran sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang
oleh lessee kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto lessee
sepanjang transaksi sewa-guna-usaha tersebut memenuhi
kriteria sewa guna usaha dengan hak opsi;
Dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa
yang ditentukan dalam kriteria sewa guna usaha dengan hak
opsi (pasal 3 KMK no.1169/kmk.01/1991), direktur jenderal
pajak melakukan koreksi atas pembebanan biaya sewa-gunausaha.
SEWA GUNA USAHA DENGAN HAK OPSI
SE-129/PJ/2010
BKP berasal dari Pemasok
BKP dianggap diserahkan dari
Pemasok ke Lessee
Lessor melakukan jasa pembiayaan
(non objek JKP)
Pemasok membuat Faktur Pajak
kepada Lessee
DPP sebesar harga jual dr Pemasok
ke Lessee
BKP milik Lessor
Lessor melakukan 2 penyerahan:
Jasa pembiayaan (non objek JKP)
Penyerahan BKP
Lessor membuat Faktur Pajak
kepada Lessee
DPP sebesar harga jual dr Lessor ke
Lessee non bunga pembiayaan
42
CONTOH
FINANCING LEASE
Barang dari pemasok (pihak ketiga)
Pada awal Januari 2010, PT ABC menyewa alat berat dari PT
XYZ, melalui BAF selaku leasing company, dengan SGU
dengan hak opsi dan syarat sebagai berikut.
 Masa SGU selama 5 tahun (mulai 1 Januari 2010)
 Alat berat diserahkan dari PT XYZ kepada PT ABC tanggal
1 Januari 2010.
 Nilai sewa per tahun sebesar Rp 60 juta, namun belum
termasuk PPN 10%.
 Pembayaran dilakukan setiap tanggal 1 Januari
 Sisa nilai buku akhir periode leasing Rp50 juta.
 Masa manfaat alat beratnya selama 5 tahun (metode garis
lurus dan nilai residu tidak ada)
 Tingkat suku bunga leasing sebesar 10%.
44
Skema Transaksi (BKP dari pemasok)
PT XYZ
(PEMASOK)
ARUS FISIK BRG
FAKTUR PAJAK
BAF
(LEMBAGA KEUANGAN)
PT ABC
(NASABAH)
Accounting for Capital Leases
Tabel Pembayaran SGU
Tanggal
Deskripsi
Pembayaran
Angsuran Pokok
Pembayaran Bunga
Sisa
01 Januari 2005 Saldo awal SGU
250,191,927
01 Januari 2005 Pembayaran 1
60,000,000
60,000,000
0 190,191,927
31 Desember 2005 Pembayaran 2
60,000,000
40,980,807
19,019,193 149,211,120
31 Desember 2006 Pembayaran 3
60,000,000
45,078,888
14,921,112 104,132,232
31 Desember 2007 Pembayaran 4
60,000,000
49,586,777
10,413,223 54,545,455
31 Desember 2008 Pembayaran 5
60,000,000
54,545,455
5,454,545
300,000,000
250,191,927
49,808,073
Total
0
46
Jurnal PT ABC (tahun 1)
Aktiva leasing
250.191.927
PM dapat dikreditkan
25.019.193
Utang leasing
250.191.927
Kas
25.019.193
Aktiva leasing
PM dapat dikreditkan
Utang leasing
Kas
Beban leasing
Kas
250.191.927
25.019.193
250.191.927
25.019.193
60.000.000
60.000.000
Utang leasing
Utang leasing
60.000.000
Akumulasi penyusutan
60.000.000
Note:
Angsuran leasing dibebankan sebagai biaya karena
lessee tidak diperkenankan membebankan
depresiasi aktiva
Kas
Beban penyusutan
Akumulasi peny.
60.000.000
60.000.000
50.038.386
50.038.386
Jurnal PT ABC (tahun 2 & 3)
Beban leasing
Kas
60.000.000
60.000.000
Utang leasing
40.980.807
Beban bunga
19.019.193
Kas
Utang leasing
60.000.000
40.980.807
Akumulasi penyusutan 40.980.807
Beban penyusutan
50.038.386
Akumulasi penyusutan 50.038.386
Beban leasing
Kas
60.000.000
60.000.000
Utang leasing
45.078.888
Beban leasing
14.921.112
Kas
Utang leasing
60.000.000
45.038.888
Akumulasi penyusutan 45.038.888
Beban penyusutan
50.038.386
Akumulasi penyusutan 50.038.386
Aktiva tetap
Akumulasi penyusutan
Aktiva leasing
Kas
Akuntansi Keuangan
Aktiva tetap
Akumulasi depresiasi leasing
Aktiva leasing
Kas
50.000.000
250.191.927
250.191.927
50.000.000
50.000.000
250.191.927
250.191.927
50.000.000
Kas
275.211.120
Penjualan
250.191.927
Pajak keluaran
25.019.193
Piutang usaha 250.191.927
Kas
Kas
60.000.000
Piutang usaha
250.191.927
60.000.000
Kas
60.000.000
Piutang usaha
40.980.807
Pendapatan bunga
19.019.193
Kas
60.000.000
Piutang usaha
45.078.888
Pendapatan bunga
14.921.112
CONTOH
FINANCING LEASE
Barang dari pemasok (pihak ketiga)
Pada awal Januari 2010, PT ABC menyewa alat berat dari PT
XYZ selaku leasing company, dengan SGU dengan hak opsi
dan syarat sebagai berikut.
 Masa SGU selama 5 tahun (mulai 1 Januari 2010)
 Alat berat diserahkan dari PT XYZ kepada PT ABC tanggal
1 Januari 2010.
 Nilai sewa per tahun sebesar Rp 60 juta, namun belum
termasuk PPN 10%.
 Pembayaran dilakukan setiap tanggal 1 Januari
 Sisa nilai buku akhir periode leasing Rp50 juta.
 Masa manfaat alat beratnya selama 5 tahun (metode garis
lurus dan nilai residu tidak ada)
 Tingkat suku bunga leasing sebesar 10%.
54
Skema Transaksi (BKP dari Lessor)
FAKTUR PAJAK
Rp250 juta
PT XYZ
(LESSOR & PEMASOK)
ARUS FISIK BRG
Rp60 juta x 5 thn
PT ABC
(NASABAH)
Accounting for Capital Leases
Tabel Pembayaran SGU
Tanggal
Deskripsi
Pembayaran
Angsuran Pokok
Pembayaran Bunga
Sisa
01 Januari 2005 Saldo awal SGU
250,191,927
01 Januari 2005 Pembayaran 1
60,000,000
60,000,000
0 190,191,927
31 Desember 2005 Pembayaran 2
60,000,000
40,980,807
19,019,193 149,211,120
31 Desember 2006 Pembayaran 3
60,000,000
45,078,888
14,921,112 104,132,232
31 Desember 2007 Pembayaran 4
60,000,000
49,586,777
10,413,223 54,545,455
31 Desember 2008 Pembayaran 5
60,000,000
54,545,455
5,454,545
300,000,000
250,191,927
49,808,073
Total
0
56
Jurnal PT ABC (tahun 1)
Aktiva leasing 250.191.927
Aktiva leasing 250.191.927
PM dapat dikreditkan
PM dapat dikreditkan
25.019.193
Utang leasing
250.191.927
Kas
25.019.193
Utang leasing
250.191.927
Kas
25.019.193
Utang leasing 60.000.000
Beban leasing 60.000.000
Kas
60.000.000
Kas
Beban penyusutan
Utang leasing 60.000.000
Akumulasi penyusutan
25.019.193
60.000.000
Note:
Angsuran leasing dibebankan sebagai biaya karena lessee
tidak diperkenankan membebankan depresiasi aktiva
Akumulasi penyusutan
60.000.000
50.038.386
50.038.386
Piutang leasing
250.191.927
Kas
25.019.193
Aset dileasingkan
250.191.927
Pajak keluaran
25.019.193
Kas
60.000.000
Piutang leasing
60.000.000
Kas
60.000.000
Piutang leasing
40.980.807
Pendapatan bunga
19.019.193
Kas
60.000.000
Piutang leasing
45.078.888
Pendapatan bunga
14.921.112
Kas
Pendapatan lain-lain
50.000.000
50.000.000
SALE AND
LEASE BACK
TRANSAKSI SALE AND LEASEBACK
SE-129/PJ/2010
Dengan Hak Opsi
Penyerahan BKP dari Lessee ke
Lessor (sale) merupakan bukan
Objek BKP
Penyerahan jasa pembiayaan dari Lessor
ke Lessee (leaseback) bukan Objek JKP
Tanpa Hak Opsi
Penyerahan BKP dari Lessee ke
Lessor (sale) merupakan Objek BKP
Penyerahan jasa pembiayaan dari
Lessor ke Lessee (leaseback)
merupakan Objek JKP
62
CONTOH SALE
AND LEASE BACK
Skema Transaksi Sale and Lease Back
1. ARUS BARANG (JUAL)
PT XYZ
(LESSOR)
2. JASA PEMBIAYAAN (LEASING)
PT ABC
(NASABAH)
3. ARUS BARANG (LEASING)
1. DENGAN HAK
OPSI
2. TANPA HAK
OPSI
1.
2.
3.
Barang Kena Pajak yang menjadi objek
pembiayaan berasal dari milik lessee, yang dijual
oleh lessee untuk kemudian dipergunakan
kembali oleh lessee;
lessor pada dasarnya hanya melakukan
penyerahan jasa pembiayaan, tanpa bermaksud
memiliki dan menggunakan barang yang menjadi
objek pembiayaan tersebut;
penyerahan Barang Kena Pajak tersebut dari lessee
kepada lessor pada dasarnya merupakan
penyerahan Barang Kena Pajak untuk jaminan
utang-piutang;
1.
2.
penyerahan Barang Kena Pajak dari lessee
kepada lessor (sale) dikenai Pajak
Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
perpajakan;
penyerahan jasa sewa guna usaha tanpa hak
opsi oleh lessor kepada lessee (leaseback)
dikenai Pajak Pertambahan Nilai
sebagaimana kegiatan usaha sewa menyewa
pada umumnya.
Jurnal oleh Lessee
Kas
xxx
Penjualan
Pajak Keluaran
HPP
xxx
Persediaan xxx
xxx
xxx
Beban sewa
PM DDK
Kas
Utang PPh 23
xxx
xxx
xxx
xxx
Jurnal oleh Lessor
Aktiva Tetap
xxx
PM dapat DK xxx
Kas
xxx
Beban peny
Akumulasi peny
xxx
xxx
Kas
xxx
PPh 23 Dipotong xxx
Pajak Keluaran
xxx
Pendapatan sewa xxx
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
79/PMK.03/2008
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
12/PJ/2009
PSAK
•
•
•
•
Pengkuran:
Harga perolehan
Revaluasi AT:
Dilakukan secara
periodik oleh penilai
dengan FV
Umur ekonomis:
Dikaji setiap akhir
tahun
Metode penyusutan:
SL, DB, unit produksi
PERPAJAKAN
•
•
•
•
Pengukuran:
Harga perolehan
Revaluasi AT:
Dilakukan oleh penilai
dengan FV
Maksimal 1x dalam 5
thn
Umur ekonomis:
Sesuai kelompok aktiva
tetap
Metode penyusutan:
SL dan DB
PSAK
•
•
•
Saat mulai penyusutan
adalah saat AT siap
digunakan
Memungkinkan
menyusutkan untuk setiap
bagian AT yang signifikan
Capital/operating
expenditures
PERPAJAKAN
•
•
•
Saat mulai penyusutan:
Bulan dilakukannya
pengeluaran untuk AT
Jika AT dalam WIP maka
pada bulan selesainya
Tidak mengatur penyusutan
setiap bagian AT
Tidak mengatur capital/
operating expenditures
PSAK
•
•
Surplus revaluasi:
Sebagai pendapatan
komprehensif
Terakumulasi dalam
equitas
Penurunan revaluasi:
Sebagai beban
Sebagai pengurang
surplus revaluasi
PERPAJAKAN
•

Surplus revaluasi:
PPh Final Pasal 19
Surplus revaluasi – PPh
Final masuk NERACA
Bisa dikonversi ke PIC
atau Saham
Pengalihan sebelum
masa manfaat
dikenakan tambahan
PPh Final
FAKTOR
SIKON
HITUNG SELISIH
PPh FINAL 10%
DISETUJUI
?
BV BARU
REVALUASI
PAJAK?
REVALUASI:
AKTIVA TETAP
KEWAJIBAN
PAJAK?
PERMOHONAN
DIALIHKAN
?
PPh FINAL 15%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Revaluasi tujuan perpajakan harus diajukan
permohonan ke Kanwil DJP
Revaluasi dapat dilakukan 5 tahun sekali
Revaluasi harus dilakukan oleh pihak yang
telah mendapat izin dari pemerintah
Terhadap selisih lebih revaluasi di atas BV
dikenakan PPh Final 10%
Pengalihan aktiva sebelum berakhirnya
masa manfaat dikenakan tambahan PPh
Final 15% (25% - 10%)
Kerugian akibat revaluasi dapat dibebankan
6.
7.
8.
Dikecualikan dari PPh Final tambahan: force
majeur, penggabungan/peleburan/
pemekaran usaha, atau terjadi kerusakan
berat
Pencantuman dalam neraca: Selisih Lebih
Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan
Tanggal… (Selisih Lebih – PPh Final)
Saham bonus/pencatatan PIC tanpa
penyetoran s.d. jumlah selisih lebih
revaluasi BUKAN objek PPh

Hasil revaluasi per 15 Mei 2012:
JENIS AKTIVA
TETAP
Tanah
NILAI BUKU
NILAI
REVALUASI
SELISIH
1.000.000.000
1.300.000.000
300.000.000
Gedung
750.000.000
1.000.000.000
250.000.000
Mesin
800.000.000
650.000.000
(150.000.000)
Kendaraan
500.000.000
550.000.000
50.000.000
Peralatan
250.000.000
150.000.000
(100.000.000)
3.300.000.000
3.650.000.000
350.000.000
Jumlah
Atas selisih lebih revaluasi di atas nilai buku:
PPh Final Pasal 19
35.000.000
Utang PPh Final Pasal 19
35.000.000
Jika terjadi pengalihan kendaraan sebelum masa manfaat berkahir:
PPh Final Pasal 19
4.500.000
Utang PPh Final Pasal 19
4.500.000
Tanah
300.000.000
Bangunan
250.000.000
Kendaraan
50.000.000
Mesin
150.000.000
Peralatan
100.000.000
Selisih Lebih Revaluasi AT
350.000.000
tanggal 15 Mei 2012
Selisih Lebih Revaluasi AT
PPh Final Pasal 19
35.000.000
35.000.000


Sebelum revaluasi: (Jan s.d. April)
Beban Penyusutan
xxx
Akumulasi Penyusutan
xxx
(Dasar Penyusutan: Nilai Buku/BV Awal)
Setelah revaluasi: (Mei s.d. Des)
Beban Penyusutan
xxx
Akumulasi Penyusutan
xxx
(Dasar Penyusutan: Nilai Buku/BV Revaluasi)
1.
2.
3.
4.
PERORANGAN
BADAN
WARISAN YANG BELUMTERBAGI
BUT
Perorangan
Badan
SP LN
SP DN
JEPANG
PEORANGAN
BADAN
BUT
PENGHASILAN
INDONESIA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Perlakuan sama seperti WP Badan DN
Objek Pajak Penghasilan (Pasal 5 ayat (1) UU PPh)
Biaya-biaya yang dapat dikurangkan (Pasal 5 ayat (2) dan
(3) serta Pasal 6 UU PPh)
Biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan (Pasal 9 UU PPh)
Pengenaan PPh Final atas Laba Bersih dikurangi PPh BUT
Tidak mendapat fasilitas Pasal 31E UU PPh
a.
b.
c.
Penghasilan dari usaha atau kegiatan BUT tersebut dan dari
harta yang dimiliki atau dikuasai;
Penghasilan KP dari usaha/kegiatan, penjualan barang/jasa
DI INDONESIA yang sejenis dengan yang jalankan oleh BUT
Penghasilan sebagaimana Pasal 26 yang diterima KP
sepanjang terdapat hubungan efektif antara BUT dengan
harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
tersebut.
1.
2.
3.
Biaya-biaya yang berkenaan dengan Pasal 5 ayat (1) huruf b
dan c;
Biaya administrasi KP yang berkaitan dengan
usaha/kegiatan BUT;
Tidak boleh dikurangkan yaitu pembayaran kepada KP
berupa:
 Royalti/imbalan lainnya sehubungan dengan
penggunaan harta, paten, atau hak lainnya
 Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen/lainnya
 Bunga, kecuali bunga berkenaan usaha perbankan
1.
2.
Dikenakan PPh Final 20% atau sesuai P3B
Dikecualikan jika ditanamkan kembali:

Penyertaan modal pada perusahaan yang
didirikan/berkedudukan di Indonesia

Pembelian aktiva tetap yang digunakan BUT

Investasi aktiva tidak berwujud

Dilakukan paling lama pada akhir tahun selanjutnya

Harus melaporkan ke KPP terdaftar

PPh yang terutang atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh kontraktor, konsultan, dan pemasok UTAMA dari
pekerjaan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek
Pemerintah yang dibiayai dengan dana hibah/pinjaman LN
ditanggung Pemerintah.

PKP setelah dikurangi PPh BUT tidak dikenakan PPh 26 ayat
(4).
Download