Uploaded by common.user19170

BAB II

advertisement
BAB II
TEORI DAN PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN
A. Teori yang Mendukung Program Kegiatan
1. Pengertian Kuliah kerja Nyata (KKN)
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian
kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa secara interdisipliner,
institusional, dan kemitraan sebagai salah satu wujud dari tridharma
perguruan tinggi. Fida (1997:1) menyatakan bahwa “KKN adalah salah satu
bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Perguruan Tinggi yang
dilakukan oleh mahasiswannya di bawah bimbingan dosen dan pimpinan
pemerintah daerah”. Pengetian pengabdian kepada masyarakat ialah
pengalaman ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dilakukan oleh
Perguruan Tinggi secara lmiah dan melembaga langsung kepada masyarakat
untuk
mensukseskan
pembangunan
dan
pengembangan
manusia
pembangunan menuju tercapainya manusisa yang maju, adil dan sejahtera
berdasarkan Pancasila, serta meningkatkan pelaksanaan misi dan fungsi
Perguruan Tinggi.
Tujuan KKN dinyatakan antara lain agar sarjana yang dihasilkan
Perguruan Tinggi mampu menghayati dan menanggulangi masalah-masalah
yang muncul dimasyarakat yang umumnya kompleks. Kemudahan didalam
penanggulangan tersebut dilakukan secara pragmatis dan interdisipliner dan
harus tercermin dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa pada saat melaksanakan
program-program KKN didesa.
Secara Umum KKN mempunyai tujuan sebagai berikut:
a) Mahasiswa mempunyai pengalaman bekerja yang berharga melalui
keterlibatan dalam masyarakat yang secara langsung menemukan,
merumuskan,
memecahkan,
dan
menanggulangi
pembangunan secara pragmatis dan interdisipliner;
6
masalah
7
b) Mahasiswa dapat berfikir berdasarkan ilmu, teknologi dan seni dalam
upaya menumbuhkan, mempercepat gerak serta mempersiapkan kaderkader pembangunan;
c) Agar
Perguruan
Tinggi
dapat
menghasilkan
sarjana
pengisi
teknostruktur dalam masyarakat yang lebih menghayati kondisi, gerak
dan permasalahan yang kompleks yang dihadapi oleh masyarakat
dalam melaksanakan pembangunan. Dengan demikian tamatan
Perguruan Tinggi secara relatif menjadi siap pakai dan terlatih dalam
menanggulangi permasalahan pembangunan secara lebih pragmatis
dan interdisipliner;
d) Meningkatkan hubungan antara Perguruan Tinggi dengan pemerintah
daerah, instansi teknis dan masyarakat, sehingga Perguruan Tinggi
dapat lebih berperan dan menyesuaikan kegiatan pendidikan serta
peneliiannya dengan tuntutan nyata dari masyarakat yang sedang
membangun;
e) Mempercepat proses peningkatan kemampuan sumber daya manusia
sesuai dengan dinamika pembangunan;
f) Mempercepat upaya pengembangan masyarakat ke arah terbinanya
masyarakat dinamis yang siap melakukan perubahan-perubahan
menuju perbaikan dan kemajuan yang sesuai dengan nilai sosial yang
berlaku;
g) Mempercepat upaya pembinaan institusi dan progesi masyarakat
sesuai dengan perkembangannya dalam proses modernisasi;
h) Perguruan tinggi memperoleh umpan balik dari masukan yang dapat
berguna untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan penelitian yang
dilakukan dengan kebutuhan pembanguan masyarakat.
2. Teori Kerajinan daur ulang Barang Bekas (sampah)
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam
berbentuk padat (UU No. 18 2008). Sampah adalah suatu bahan yang terbuang
8
atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum
memiliki nilai ekonomis (Hartono, 2008).
Sampah (refuse) dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian
dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai
mengganggu kelangsungan hidup. Bentuknya bisa pada berbagai fase materi,
seperti padat cair dan gas.
Kompos merupakan pupuk alami atau organic yang terbuat dari bahan
hijauan dan bahan organic lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat
proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bias ditambahkan pupuk
buatan pabrik seperti urea (Wield,2004).
Produk kerajinan berbahan limbah adalah benda kerajinan yang dibuat
oleh tangan-tangan manusia, bukan karya mesin, melainkan keterampilan
tangan serta keahlian atau kemahiran tangan dalam mengolah bahan dalam
penyusunan teknik dalam proses pembuatan benda kerajinan yang bahan
utamanya berasal dari limbah. Contoh: tikar yang terbuat dari bekas bungkus
kopi dan lain-lain. Produk kerajinan adalah hal yang berkaitan dengan buatan
tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui
keterampilan tangan (kerajinan tangan). Kerajinan yang dibuat biasanya
terbuat dari berbagai bahan.
Plastik merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan bahan kimia yang cukup berbahaya bagi lingkungan. Limbah plastik ini sangat
sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu
sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara
sempurna. Dari jutaan limbah plastik yang ada, hanya 13 % yang di daur
ulang, yaitu limbah plastik yang sebagian besar berasal dari pembungkus
makanan dan minuman kemasan serta botol minuman pemanfaatan limbah
plastik merupakan suatu usaha yang menjanjikan bagi penyelamatan bumi,
9
sekaligus dapat berdampak ekonomis positif jika dilakukan dengan kreatif dan
dengan manajemen yang baik. Limbah plastik dapat dimanfaatkan di
antaranya adalah sebagai biji plastik untuk membuat produk plastik lain,
maupun kerajinan unik bernilai tinggi. Pemanfaatan limbah plastic secara
kreatif merupakan suatu langkah cerdas yang dapat dilakukan mulai dari
tingkat perorangan maupun kelompok dengan memanfaatkan limbah sendiri.
Beberapa hal yang dapat dibuat dari limbah plastic di antaranya adalah
dompet koin dari tutup botol, dompet dari kaset, jas hujan dari pembungkus
deterjen atau minyak goreng, dompet/tas dari pembungkus makanan, deterjen,
minuman instan, kalung atau tirai dari botol minuman dan sebagainya.
3. Teori Program Vertical Garden
Taman merupakan sebuah areal yang berisikan komponen material
keras dan lunak yang saling mendukung satu sama lainnya yang sengaja
direncanakan dan dibuat oleh manusia dalam kegunaanya sebagai tempat
penyegar dalam dan luar ruangan. Tanaman adalah salah satu dari material
lunak dari taman. Adanya sebuah taman di suatu kota, kawasan, atau wilayah
mulai dirasakan
penting
saat ini. Terutama dengan adanya isu
global
warming yang mulai meresahkan manusia. Keberadaan taman dianggap
sebagai sesuatu yang memang harus dimiliki,
sebagai usaha untuk
meminimalisir dampak global warming. Adanya taman selain memberikan
niai estetis, taman juga memberikan nilai fungsional berupa kenyamanan.
Perancangan vertical garden atau taman vertikal adalah solusi yang
tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan konsep vertikal garden,
sumbangan oksigen (O2) bagi manusia akan semakin bertambah. Vertical
gardenbisa membantu mengurangi dampak global warming walau dengan
skala mikro. Perancangan taman vertikal yang dibuat di dinding ini tidak
hanya sekedar taman vertikal yang biasa. Namun, beberapa bagian atau
10
segmen dari taman vertikal ini akan menggunakan barang bekas berupa botol
bekas air mineral sebagai tempat media tanam.
Tujuan program
penulisan karya
ini adalah menciptakan taman
dengan memanfaatkan ruang yang terbatas pada dinding jalan underpass yang
sekaligus bisa menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Manfaat program
penulisan karya ini:
berkurang atau tercegahnya tindakan coret-coretan,
memberikan iklim mikro yang cukup nyaman, mengetahui jenis-jenis tanaman
yang digunakan pada taman vertikal, memberikan nilai estetika pada dinding
jalan underpass,
dapat menerapkan ilmu yang terkait dengan arsitektur
lanskap, penggunaan barang bekas yang ada dilingkungan, bagi masyarakat
mendapatkan manfaat secara tidak langsung yaitu merasakan kenyamanan ,
dan turut memberi solusi atas isu lingkungan dengan membantu menguragi
polusi di lahan perkotaan.Luaran yan diharapkan dari perancangan taman ini
adalah taman ini bisa menjadi alternatif taman yang berguna untuk mencegah
tindakan vandalisme, memperbaiki kualitas lingkungan, menghadirkan nilai
estetika jalan, pemanfaatan dinding jalan, dan penerapan ilmu di bidang
arsitektur lanskap sehingga bisa bermanfaat bagi manusia dan juga
lingkungan.
4. Teori Program Penyuluhan Sampah
Sampah
atau waste (inggris) memiliki banyak pengertian dalam
batasan ilmu pengetahuan. Namun pada prinsipnya, sampah adalah suatu
bahan yang terbuang atau di buang dari sumber akitivitas manusia maupun
alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Bentuk sampah bisa berada dalam
setiap fase materi, yaitu padat, cair, dan gas.
Dalam kasus lingkungan dinyatakan bahwa pengertian sampah adalah
bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara
biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian, barang rusak atau cacat
selama manufaktur atau materi berkelebihan atau buangan.
11
Di Indonesia, sekitar 60-70% dari volume sampah yang dihasilkan
merupakan sampah basah dengan kadar air antara 65-75%. Sumber sampah
terbanyak berasal dari pasar tradisional dan pemukiman. Sampah pasar
tradisional, seperti pasar lauk pauk dan sayur membuang hampir 95% sampah
organik. Sementara itu sampah didaerah pemukiman jauh lebih beragam.
Namun, minimal 75% dari total sampah tersebut termasuk sampah organik
dan sisanya merupakan sampah sampah anorganik. Pada prinsipnya sampah di
bagi menjadisampah padat, sampah cair dan sampah dalam bentuk gas (fume,
smoke).
Namun secara umum sampah disederhanakan jenisnya menjadi
sampah organik dan anorganik. Sampah organik atau sampah basah adalah
sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti dedaunan dan sampah dapur.
Sampah jenis ini sangat mudah terurai secara alami (degredable) sehingga
dapat membusuk dan dapat dimafaatkan sebagai pupuk, yaitu pupuk kompos,
yang berguna untuk pertanian sebagai pupuk tanaman. Sementara itu, sampah
anorganik atau sampah kering adalah bagian dari sampah kering. sampah yang
tidak dapat membusuk tetapi dapat juga dimanfaatkan untuk didaur ulang
kembali sebagai bahan baku.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008
Tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan bahwa Pengelolaan sampah
diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas
manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan,
asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Pengelolaan sampah bertujuan untuk
meningkatkan
kesehatan
masyarakat
dan
kualitas
lingkungan
serta
menjadikan sampah sebagai sumber daya. Adapun Mekanisme pengelolaan
sampah sebagai berikut :
a. Pengurangan sampah
Kegiatan untuk mengatasi timbulnya sampah sejak dari
produsen sampah (rumah tangga, pasar dan lainnya) mendaur ulang
sampah di sumbernya atau ditempat pengolahan.
12
b. Penanganan sampah
Merupakan rangkaian kegiatan penanganan sampah yang
mencakup pemilahan (pengelompokan dan pemisahan sampah menurut
jenis dan sifatnya), pengumpulan (memindahkan sampah dari sumber
sampah ke TPS atau tempat pengolahan sampah terpadu), pengangkatan
(kegiatan memindahkan sampah dari sumber TPS atau tempat
pengolahan sampah terpadu pengolahan hasil akhir (mengubah bentuk,
komposisi, karakteristik dan jumlah sampah agar diproses lebih lanjut,
dimanfaatkan atau dikembalilan ke alam.Secara umum pengelolaan
sampah di perkotaan dilakukan melalui tiga tahap kegiatan, yaitu :
pengumpulan, pengangkutan, dan pembungan akhir atau pengolahan.
Pada tahap tahap pembuangan akhir atau pengolahan , sampah akan
mengalami pemprosesan, baik secara fisik, kimiawi maupun biologis.
Berbagai alternatif pengolahan dan pengelolaan sampah perlu
dilakukan untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh.
Landfill
bukan merupakan alternatif yang sesuai karena tidak
berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Alternatif
–
arternatif pengelolaan sampah harus bisa menangani semua masalah
pembuangan
sampah.
Mendaur
ulang
semua
sampah
dan
mengembalikannya ke perekonomian masyarakat atau ke alam adalah
satu alternatif yang sangat menjanjikan, baik bagi terciptanya
lingkungan yang bebas sampah maupun bagi peningkatan perekonomian
masyarakat. Daur ulang juga akan mengurangi tekanan terhadap sumber
daya alam. Daripada terus berkutak dengan jumlah sampah yang terus
meningkat, meminimalisasi sampah tampaknya bisa di jadikkan
prioritas utama.Pada umumnya prinsip-prinsip yang bisa diterapkan
dalam pengolahan sampah meliputi prinsip 3R yaitu :
a. Reduce (mengurangi)
13
Pola ini mengupayakan agar sampah tidak sampai
terbentuk dengan menerapkan upaya cegah. minimalisasi
barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak
kita mengunakan material, semakin banyak sampah yang
dihasilkan. Pengurangan dilakukan tidak hanya berupa jumlah
saja, tetapi juga mencaegah penggunaan barang-barang yang
mengandung
kimia
berbahaya
dan
tidak
mudah
terdekomposisi.
b. Reuse (mengunakan kembali)
Pilih barang-barang yang bisa di pakai kembali. Hindari
pemakaian
yang
diposable
(sekali
pakai,
buang).
Memperpanjang usia penggunaan barang melalui perawatan dan
pemanfaatan
kembali
barang
secara
langsung.
Sampah
diusahakan dipakai berulang-ulang.
c. Recycle (mendaur ulang)
Barang-barang yang tidak berguna didaur ulang lagi
dengan memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Mengolah
barang yang tidak terpakai menjadi barang baru. Upaya ini
memerlukan campur tangan produsen dalam praktiknya. Namun,
beberapa sampah dapat didaur ulang secara langsung oleh
masyarakat.pengomposan,
pembuatan
batako
dan
briket
merupakan contoh produk hasilnya.
5. Teori Program Pemberdayaan
Pemberdayaaan merupakan proses yang dijakankan agar sesorang
menadpatkan kontrol atas kehidupan mereka. Secara sederhana pemberdayaan
berasal dari kata kerja “memberdayakan” yaitu sebuah sarana yang untuk
‘memungkinkan’ atau untuk ‘mengizinkan’ seseorang untuk berperan aktif
14
yang prakarsai oleh orang lain yang meberdayakan. pemberdayaan merupakan
tindakan membangun, mengembangkan, meningkatkan daya melalui kerja
sama, berbagi dan bekerja sama.Pemberdayaan adalah proses interaktif
berbasis pada sinergis, bukan zerosum, asumsi kekuasaan; yaitu, proses
pemberdayaan perubahan kekuasaan dalam situasi yang bertentangan dengan
hanya mendistribusikan,
Suharto menyatakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kemampuan
orang / kelompok atau komunitas yang rentan dan lemah, sehingga mereka
memiliki kekuatan atau kemampuan untuk: (a) memenuhi kebutuhan dasar
mereka sehingga mereka memiliki kebebasan, tidak hanya dalam arti
kebebasan berekspresi, tapi bebas dari kelaparan, kebodohan dan penderitaan;
(c)
menjangkau
sumber
daya
yang
memungkinkan
mereka
untuk
meningkatkan pendapatan dan memperoleh barang dan jasa yang mereka
butuhkan; (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan yang
mempengaruhi mereka
Graves dan Shelton menyatakan bahwa konsep pemberdayaan
memiliki tiga komponen utama. Pertama, ada asumsi yang mendasari bahwa
semua orang memiliki kekuatan dan mampu membangun kekuatan tersebut.
Kedua, kesulitan keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka bukan karena
ketidakmampuan mereka untuk melakukannya, melainkan, sistem sosial yang
tidak mendukung yang tidak memberi peluang bagi keluarga untuk
memperoleh atau menunjukkan kompetensi. Ketiga, agar pemberdayaan
memiliki pengaruh positif pada keluarga, anggota keluarga yang mencoba
untuk menerapkan keterampilan dan kompetensi juga harus melihat
perubahan sebagai akibat setidaknya sebagai usaha mereka.
6. Teori Partisipasi
Partisipasi merupakan tindakan, atau menjadi bagian dari suatu
tindakan seperti proses pengambilan keputusan. Partisipasi dapat didefinisikan
sebagai keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok
15
yang mendorong dia untuk berkontribusi tujuan kelompok dan berbagi
tanggung jawab di dalamnya. Price dan Mylius menyatakan bahwa partisipasi
berarti
keterlibatan
penerima
manfaat
dalam
perencanaan,
desain,
implementasi dan pemeliharaan berikutnya dari sebuah pembangunan.
Dengan definisi ini berarti bahwa orang yang dimobilisasi, mengelola sumber
daya dan membuat keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Hansen, et.al sebagai dikutip Claridge menyatakan bahwa partisipasi
merupakan proses sosial dimana kelompok-kelompok tertentu dengan
kebutuhan bersama yang tinggal di wilayah geografis diajak secara aktif
mengidentifikasi dan mengejar kebutuhan mereka, mengambil keputusan dan
menetapkan mekanisme untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
7. Teori Program Penghijauan
Penghijauan dalam arti luas adalah upaya untuk memulihkan,
memelihara dan meningkatkan kondisi alam agar dapat terus berproduksi dan
berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung
lingkungan. Begitu pentingnya peran tumbuhan di bumi ini dalam menangani
krisis lingkungan terutama di daerah Bojongemas, sangat tepat jika
keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan
penghijauan di daerah Bojongemas.
Dalam hal ini, Kurangnya informasi dan pemanfaatan lahan sangat
sering kita temui. Hal ini mendorong kelompok kami untuk membudidayakan
berbagai tanaman guna untuk penghijauan, selain itu pohon keras dapat
menghasilkan banyak manfaat. Maka kelompok kami melakukan penghijauan
dengan penanaman berbagai tumbuhan baik itu di lingkungan sekolah,
lingkungan masyarakat dan di sekitar bantaran sungai, selain itu kami juga
membagikan bibit cabe kepada warga desa Bojongemas sebagai salah satu
upaya penghijauan, selain itu kami juga menanam berbagai jenis pohon keras
yang di tanam dibantaran sungai Citarum.
16
B. Pendekatan Dalam Pelaksanaan Program
Dalam pelaksanaan Program Kerja KKN Tematik Citarum Harum
Universitas Pendidikan Indonesia di Bojongemas menggunakan pendekatan
Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu pendekatan yang melibatkan
masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan
evaluasi. Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat desa saling membagi,
menambah dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi lingkungannya dalam
rangka membuat perencanaan dan tindakan. Dengan demikian pendekatan PRA
adalah cara yang digunakan dalam melakukan kajian untuk memahami keadaan
atau kondisi Desa Bojongemas dengan melibatkan partisipasi masyarakat, atau
pengkajian /penilaian (keadaan) Desa secara Partisipatif.
Pendekatan PRA ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan program
yang relevan dengan harapan dan keadaan masyarakat, agar juga diharapkan
kemampuan masyarakat dalam menganalisa keadaan mereka sendiri dan
diwujudkan dengan melakukan perencanaan dan realisasi dapat berkembang,
sehingga dapat membuat program dan melaksanakannya. Dalam kegiatan PRA
ini mahasiswa hanya sebagai fasilitator sekaligus motivator dan masyarakatlah
sebagai pelaksananya.
Adapun teknik dari PRA ( Participatory Rural Appraisal ) itu sendiri adalah:
1.
Pendekatan Participatory Rural Appraisal(PRA). Adalah (Pengkajian
Pedesaan Secara Partisipatif).
2.
Pendekatan Tersebut memungkinkan masyarakat desa saling membagi,
menambah dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi kehidupannya
dalam rangka membuat perencanaan dan tindakan.
3.
Dengan demikian pendekatan PRA adalah cara yang digunakan dalam
melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi desa Solokan Jeruk
dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Atau Pengkajian/Penilaian
(keadaan) Desa Solokan Jeruk Secara Partisipatif.
4.
Pemberdayaan Masyarakat dan Partisipasi merupakan strategi dalam
paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat.
17
5.
Menjalin
kerjasama
dengan
masyarakat
desa
solokan
jeruk
dalam pelaksanaan program kerja yang ada.
6.
Bekerjasama dengan aparat Desa untuk pelaksanaan program kerja
Pendekatan PRA merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan
pada saat mahasiswa berada di lokasi, di karenakan faktor – faktor sebagai berikut:
a.
Kritik terhadap pendekatan pembangunan yang TOP-Down
b.
Terjadi ketidakcocokan antara program dengan kebutuhan masyarakat
c.
Masyarakat
hanya
sekedar
pelaksana,
dan
tidak
merasa
sebagai
pemilik Program
d.
Dengan sendirinya dukungan masyarakat terhadap program seperti itu akan
sangat pura-pura demikian pula dengan partisipasinya.
e.
Kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program, karena
prakarsa selalu datang dari luar dan keterampilan pengkajian, perencanaan dan
pengorganisasian tetap dimiliki orang luar.
Dengan menggunakan teknik Pendektan tersebut maka diharapkan agar :
a. Pendekatan pengembangan program yang lebih partisipatif. Istilah seperti
“partisipasi masyarakat”; Bottom-up planing.
b.
Pertimbangannya adalah apabila mayarakat dilibatkan secara berarti dalam
keseluruhan proses program, selain program itu menjadi lebih sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap
program itu lebih tinggi
c. keterampilan–keterampilan analisis dan perencanaan tadi dipindahkan
kepada masyarakat.
d.
Dimasa akan datang, ketergantungan dengan pihak “luar” secara pertahap
dapat dikurangi.
Untuk mengetahui tentang permasalahan yang ada di masyarakat,
maka dilakukan survey (observasi) selama 40 hari berada dilokasi. Kegiatan
awal adalah perkenalan dengan perangkat pemerintah Bojongemas serta
masyarakat yang khususnya ada di RW 3 dan 4 . Kemudian dilanjutkan
18
dengan bersiturahmi sekaligus melakukan dialog bersama penduduk dan
Kepala dusun, ketua adat, toko-toko agama, pemuda, dengan tujuan
perkenalan sekaligus agar keberadaan sebagai mahasiswa KKN diketahui
oleh masyarakat sekaligus untuk mencari tahu permasalahan-permasalahan
yang ada di Desa Solokan Jeruk. Cara ini merupakan pendekatan secara
persuasif, yang nantinya diharapkan bisa mengajak mayarakat untuk
berpartisipasi dalam pelaksanaan realisasi dari penyelesaian masalah yang
ada.
Selain pendekatan terhadap masyarakat, pendekatan juga dilakukan
terhadap ketua – ketua lembaga organisasi maupun elemen-elemen anggotanya
yang diharapkan sebagai suatu wadah yang juga memiliki pengaruh di Desa
Bojongemas, dapat membantu mahasiswa KKN Tematik Citarum Harum
di Desa Bojongemas Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung, dalam
pelaksanaan program selama berada dilokasi. Penedekatan seperti ini
merupakan pendekekatan secara politis dilingkungan masyarakat.
Dari pertemuan tersebut didapatkan banyak informasi, masukan, dan
usulan dari masyarakat setempat. Informasi / masukan/ usulan tersebut
merupakan kebutuhan/
permasalahan
yang
menurut
mereka
belum
terealisasi. Semua usulan atau saran tersebut ditampung agar kemudian
disampaikan dalam lokakarya Desa (lokdes) setelah selama 40 hari melakukan
observasi, dimana dalam lokakarya tersebut membahas dan menentukan
program apa saja yang dapat dilaksanakan untuk meminimalisir jumlah
permasalahan yang ada. Hal ini dilakukan agar setiap masalah yang sudah
didapatkan dipilih kembali masalah apa saja yang sesuai dengan bidang-bidang
dalam program Citarum Harum, dan setelah disampaikan maka masyarakat
akan memutuskan apakah masalah tersebut disetujui dimasukkan kedalam
program kerja atau tidak. Setelah disetujui, kemudian barulah diputuskan siapa
penanggung jawab dari program yang telah disepakati tersebut.
Download