BAB II TEORI DAN PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN A. Teori yang Mendukung Program Kegiatan 1. Pengertian Kuliah kerja Nyata (KKN) Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa secara interdisipliner, institusional, dan kemitraan sebagai salah satu wujud dari tridharma perguruan tinggi. Fida (1997:1) menyatakan bahwa “KKN adalah salah satu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh mahasiswannya di bawah bimbingan dosen dan pimpinan pemerintah daerah”. Pengetian pengabdian kepada masyarakat ialah pengalaman ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi secara lmiah dan melembaga langsung kepada masyarakat untuk mensukseskan pembangunan dan pengembangan manusia pembangunan menuju tercapainya manusisa yang maju, adil dan sejahtera berdasarkan Pancasila, serta meningkatkan pelaksanaan misi dan fungsi Perguruan Tinggi. Tujuan KKN dinyatakan antara lain agar sarjana yang dihasilkan Perguruan Tinggi mampu menghayati dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul dimasyarakat yang umumnya kompleks. Kemudahan didalam penanggulangan tersebut dilakukan secara pragmatis dan interdisipliner dan harus tercermin dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa pada saat melaksanakan program-program KKN didesa. Secara Umum KKN mempunyai tujuan sebagai berikut: a) Mahasiswa mempunyai pengalaman bekerja yang berharga melalui keterlibatan dalam masyarakat yang secara langsung menemukan, merumuskan, memecahkan, dan menanggulangi pembangunan secara pragmatis dan interdisipliner; 6 masalah 7 b) Mahasiswa dapat berfikir berdasarkan ilmu, teknologi dan seni dalam upaya menumbuhkan, mempercepat gerak serta mempersiapkan kaderkader pembangunan; c) Agar Perguruan Tinggi dapat menghasilkan sarjana pengisi teknostruktur dalam masyarakat yang lebih menghayati kondisi, gerak dan permasalahan yang kompleks yang dihadapi oleh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. Dengan demikian tamatan Perguruan Tinggi secara relatif menjadi siap pakai dan terlatih dalam menanggulangi permasalahan pembangunan secara lebih pragmatis dan interdisipliner; d) Meningkatkan hubungan antara Perguruan Tinggi dengan pemerintah daerah, instansi teknis dan masyarakat, sehingga Perguruan Tinggi dapat lebih berperan dan menyesuaikan kegiatan pendidikan serta peneliiannya dengan tuntutan nyata dari masyarakat yang sedang membangun; e) Mempercepat proses peningkatan kemampuan sumber daya manusia sesuai dengan dinamika pembangunan; f) Mempercepat upaya pengembangan masyarakat ke arah terbinanya masyarakat dinamis yang siap melakukan perubahan-perubahan menuju perbaikan dan kemajuan yang sesuai dengan nilai sosial yang berlaku; g) Mempercepat upaya pembinaan institusi dan progesi masyarakat sesuai dengan perkembangannya dalam proses modernisasi; h) Perguruan tinggi memperoleh umpan balik dari masukan yang dapat berguna untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan penelitian yang dilakukan dengan kebutuhan pembanguan masyarakat. 2. Teori Kerajinan daur ulang Barang Bekas (sampah) Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam berbentuk padat (UU No. 18 2008). Sampah adalah suatu bahan yang terbuang 8 atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Hartono, 2008). Sampah (refuse) dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Bentuknya bisa pada berbagai fase materi, seperti padat cair dan gas. Kompos merupakan pupuk alami atau organic yang terbuat dari bahan hijauan dan bahan organic lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bias ditambahkan pupuk buatan pabrik seperti urea (Wield,2004). Produk kerajinan berbahan limbah adalah benda kerajinan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia, bukan karya mesin, melainkan keterampilan tangan serta keahlian atau kemahiran tangan dalam mengolah bahan dalam penyusunan teknik dalam proses pembuatan benda kerajinan yang bahan utamanya berasal dari limbah. Contoh: tikar yang terbuat dari bekas bungkus kopi dan lain-lain. Produk kerajinan adalah hal yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (kerajinan tangan). Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Plastik merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan bahan kimia yang cukup berbahaya bagi lingkungan. Limbah plastik ini sangat sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Dari jutaan limbah plastik yang ada, hanya 13 % yang di daur ulang, yaitu limbah plastik yang sebagian besar berasal dari pembungkus makanan dan minuman kemasan serta botol minuman pemanfaatan limbah plastik merupakan suatu usaha yang menjanjikan bagi penyelamatan bumi, 9 sekaligus dapat berdampak ekonomis positif jika dilakukan dengan kreatif dan dengan manajemen yang baik. Limbah plastik dapat dimanfaatkan di antaranya adalah sebagai biji plastik untuk membuat produk plastik lain, maupun kerajinan unik bernilai tinggi. Pemanfaatan limbah plastic secara kreatif merupakan suatu langkah cerdas yang dapat dilakukan mulai dari tingkat perorangan maupun kelompok dengan memanfaatkan limbah sendiri. Beberapa hal yang dapat dibuat dari limbah plastic di antaranya adalah dompet koin dari tutup botol, dompet dari kaset, jas hujan dari pembungkus deterjen atau minyak goreng, dompet/tas dari pembungkus makanan, deterjen, minuman instan, kalung atau tirai dari botol minuman dan sebagainya. 3. Teori Program Vertical Garden Taman merupakan sebuah areal yang berisikan komponen material keras dan lunak yang saling mendukung satu sama lainnya yang sengaja direncanakan dan dibuat oleh manusia dalam kegunaanya sebagai tempat penyegar dalam dan luar ruangan. Tanaman adalah salah satu dari material lunak dari taman. Adanya sebuah taman di suatu kota, kawasan, atau wilayah mulai dirasakan penting saat ini. Terutama dengan adanya isu global warming yang mulai meresahkan manusia. Keberadaan taman dianggap sebagai sesuatu yang memang harus dimiliki, sebagai usaha untuk meminimalisir dampak global warming. Adanya taman selain memberikan niai estetis, taman juga memberikan nilai fungsional berupa kenyamanan. Perancangan vertical garden atau taman vertikal adalah solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan konsep vertikal garden, sumbangan oksigen (O2) bagi manusia akan semakin bertambah. Vertical gardenbisa membantu mengurangi dampak global warming walau dengan skala mikro. Perancangan taman vertikal yang dibuat di dinding ini tidak hanya sekedar taman vertikal yang biasa. Namun, beberapa bagian atau 10 segmen dari taman vertikal ini akan menggunakan barang bekas berupa botol bekas air mineral sebagai tempat media tanam. Tujuan program penulisan karya ini adalah menciptakan taman dengan memanfaatkan ruang yang terbatas pada dinding jalan underpass yang sekaligus bisa menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Manfaat program penulisan karya ini: berkurang atau tercegahnya tindakan coret-coretan, memberikan iklim mikro yang cukup nyaman, mengetahui jenis-jenis tanaman yang digunakan pada taman vertikal, memberikan nilai estetika pada dinding jalan underpass, dapat menerapkan ilmu yang terkait dengan arsitektur lanskap, penggunaan barang bekas yang ada dilingkungan, bagi masyarakat mendapatkan manfaat secara tidak langsung yaitu merasakan kenyamanan , dan turut memberi solusi atas isu lingkungan dengan membantu menguragi polusi di lahan perkotaan.Luaran yan diharapkan dari perancangan taman ini adalah taman ini bisa menjadi alternatif taman yang berguna untuk mencegah tindakan vandalisme, memperbaiki kualitas lingkungan, menghadirkan nilai estetika jalan, pemanfaatan dinding jalan, dan penerapan ilmu di bidang arsitektur lanskap sehingga bisa bermanfaat bagi manusia dan juga lingkungan. 4. Teori Program Penyuluhan Sampah Sampah atau waste (inggris) memiliki banyak pengertian dalam batasan ilmu pengetahuan. Namun pada prinsipnya, sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau di buang dari sumber akitivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Bentuk sampah bisa berada dalam setiap fase materi, yaitu padat, cair, dan gas. Dalam kasus lingkungan dinyatakan bahwa pengertian sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian, barang rusak atau cacat selama manufaktur atau materi berkelebihan atau buangan. 11 Di Indonesia, sekitar 60-70% dari volume sampah yang dihasilkan merupakan sampah basah dengan kadar air antara 65-75%. Sumber sampah terbanyak berasal dari pasar tradisional dan pemukiman. Sampah pasar tradisional, seperti pasar lauk pauk dan sayur membuang hampir 95% sampah organik. Sementara itu sampah didaerah pemukiman jauh lebih beragam. Namun, minimal 75% dari total sampah tersebut termasuk sampah organik dan sisanya merupakan sampah sampah anorganik. Pada prinsipnya sampah di bagi menjadisampah padat, sampah cair dan sampah dalam bentuk gas (fume, smoke). Namun secara umum sampah disederhanakan jenisnya menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik atau sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti dedaunan dan sampah dapur. Sampah jenis ini sangat mudah terurai secara alami (degredable) sehingga dapat membusuk dan dapat dimafaatkan sebagai pupuk, yaitu pupuk kompos, yang berguna untuk pertanian sebagai pupuk tanaman. Sementara itu, sampah anorganik atau sampah kering adalah bagian dari sampah kering. sampah yang tidak dapat membusuk tetapi dapat juga dimanfaatkan untuk didaur ulang kembali sebagai bahan baku. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan bahwa Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Adapun Mekanisme pengelolaan sampah sebagai berikut : a. Pengurangan sampah Kegiatan untuk mengatasi timbulnya sampah sejak dari produsen sampah (rumah tangga, pasar dan lainnya) mendaur ulang sampah di sumbernya atau ditempat pengolahan. 12 b. Penanganan sampah Merupakan rangkaian kegiatan penanganan sampah yang mencakup pemilahan (pengelompokan dan pemisahan sampah menurut jenis dan sifatnya), pengumpulan (memindahkan sampah dari sumber sampah ke TPS atau tempat pengolahan sampah terpadu), pengangkatan (kegiatan memindahkan sampah dari sumber TPS atau tempat pengolahan sampah terpadu pengolahan hasil akhir (mengubah bentuk, komposisi, karakteristik dan jumlah sampah agar diproses lebih lanjut, dimanfaatkan atau dikembalilan ke alam.Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui tiga tahap kegiatan, yaitu : pengumpulan, pengangkutan, dan pembungan akhir atau pengolahan. Pada tahap tahap pembuangan akhir atau pengolahan , sampah akan mengalami pemprosesan, baik secara fisik, kimiawi maupun biologis. Berbagai alternatif pengolahan dan pengelolaan sampah perlu dilakukan untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai karena tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Alternatif – arternatif pengelolaan sampah harus bisa menangani semua masalah pembuangan sampah. Mendaur ulang semua sampah dan mengembalikannya ke perekonomian masyarakat atau ke alam adalah satu alternatif yang sangat menjanjikan, baik bagi terciptanya lingkungan yang bebas sampah maupun bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Daur ulang juga akan mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Daripada terus berkutak dengan jumlah sampah yang terus meningkat, meminimalisasi sampah tampaknya bisa di jadikkan prioritas utama.Pada umumnya prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah meliputi prinsip 3R yaitu : a. Reduce (mengurangi) 13 Pola ini mengupayakan agar sampah tidak sampai terbentuk dengan menerapkan upaya cegah. minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita mengunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Pengurangan dilakukan tidak hanya berupa jumlah saja, tetapi juga mencaegah penggunaan barang-barang yang mengandung kimia berbahaya dan tidak mudah terdekomposisi. b. Reuse (mengunakan kembali) Pilih barang-barang yang bisa di pakai kembali. Hindari pemakaian yang diposable (sekali pakai, buang). Memperpanjang usia penggunaan barang melalui perawatan dan pemanfaatan kembali barang secara langsung. Sampah diusahakan dipakai berulang-ulang. c. Recycle (mendaur ulang) Barang-barang yang tidak berguna didaur ulang lagi dengan memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Mengolah barang yang tidak terpakai menjadi barang baru. Upaya ini memerlukan campur tangan produsen dalam praktiknya. Namun, beberapa sampah dapat didaur ulang secara langsung oleh masyarakat.pengomposan, pembuatan batako dan briket merupakan contoh produk hasilnya. 5. Teori Program Pemberdayaan Pemberdayaaan merupakan proses yang dijakankan agar sesorang menadpatkan kontrol atas kehidupan mereka. Secara sederhana pemberdayaan berasal dari kata kerja “memberdayakan” yaitu sebuah sarana yang untuk ‘memungkinkan’ atau untuk ‘mengizinkan’ seseorang untuk berperan aktif 14 yang prakarsai oleh orang lain yang meberdayakan. pemberdayaan merupakan tindakan membangun, mengembangkan, meningkatkan daya melalui kerja sama, berbagi dan bekerja sama.Pemberdayaan adalah proses interaktif berbasis pada sinergis, bukan zerosum, asumsi kekuasaan; yaitu, proses pemberdayaan perubahan kekuasaan dalam situasi yang bertentangan dengan hanya mendistribusikan, Suharto menyatakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kemampuan orang / kelompok atau komunitas yang rentan dan lemah, sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan untuk: (a) memenuhi kebutuhan dasar mereka sehingga mereka memiliki kebebasan, tidak hanya dalam arti kebebasan berekspresi, tapi bebas dari kelaparan, kebodohan dan penderitaan; (c) menjangkau sumber daya yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan pendapatan dan memperoleh barang dan jasa yang mereka butuhkan; (c) berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan yang mempengaruhi mereka Graves dan Shelton menyatakan bahwa konsep pemberdayaan memiliki tiga komponen utama. Pertama, ada asumsi yang mendasari bahwa semua orang memiliki kekuatan dan mampu membangun kekuatan tersebut. Kedua, kesulitan keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka bukan karena ketidakmampuan mereka untuk melakukannya, melainkan, sistem sosial yang tidak mendukung yang tidak memberi peluang bagi keluarga untuk memperoleh atau menunjukkan kompetensi. Ketiga, agar pemberdayaan memiliki pengaruh positif pada keluarga, anggota keluarga yang mencoba untuk menerapkan keterampilan dan kompetensi juga harus melihat perubahan sebagai akibat setidaknya sebagai usaha mereka. 6. Teori Partisipasi Partisipasi merupakan tindakan, atau menjadi bagian dari suatu tindakan seperti proses pengambilan keputusan. Partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok 15 yang mendorong dia untuk berkontribusi tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab di dalamnya. Price dan Mylius menyatakan bahwa partisipasi berarti keterlibatan penerima manfaat dalam perencanaan, desain, implementasi dan pemeliharaan berikutnya dari sebuah pembangunan. Dengan definisi ini berarti bahwa orang yang dimobilisasi, mengelola sumber daya dan membuat keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Hansen, et.al sebagai dikutip Claridge menyatakan bahwa partisipasi merupakan proses sosial dimana kelompok-kelompok tertentu dengan kebutuhan bersama yang tinggal di wilayah geografis diajak secara aktif mengidentifikasi dan mengejar kebutuhan mereka, mengambil keputusan dan menetapkan mekanisme untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 7. Teori Program Penghijauan Penghijauan dalam arti luas adalah upaya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi alam agar dapat terus berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Begitu pentingnya peran tumbuhan di bumi ini dalam menangani krisis lingkungan terutama di daerah Bojongemas, sangat tepat jika keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan di daerah Bojongemas. Dalam hal ini, Kurangnya informasi dan pemanfaatan lahan sangat sering kita temui. Hal ini mendorong kelompok kami untuk membudidayakan berbagai tanaman guna untuk penghijauan, selain itu pohon keras dapat menghasilkan banyak manfaat. Maka kelompok kami melakukan penghijauan dengan penanaman berbagai tumbuhan baik itu di lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan di sekitar bantaran sungai, selain itu kami juga membagikan bibit cabe kepada warga desa Bojongemas sebagai salah satu upaya penghijauan, selain itu kami juga menanam berbagai jenis pohon keras yang di tanam dibantaran sungai Citarum. 16 B. Pendekatan Dalam Pelaksanaan Program Dalam pelaksanaan Program Kerja KKN Tematik Citarum Harum Universitas Pendidikan Indonesia di Bojongemas menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu pendekatan yang melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan evaluasi. Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat desa saling membagi, menambah dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi lingkungannya dalam rangka membuat perencanaan dan tindakan. Dengan demikian pendekatan PRA adalah cara yang digunakan dalam melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi Desa Bojongemas dengan melibatkan partisipasi masyarakat, atau pengkajian /penilaian (keadaan) Desa secara Partisipatif. Pendekatan PRA ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan program yang relevan dengan harapan dan keadaan masyarakat, agar juga diharapkan kemampuan masyarakat dalam menganalisa keadaan mereka sendiri dan diwujudkan dengan melakukan perencanaan dan realisasi dapat berkembang, sehingga dapat membuat program dan melaksanakannya. Dalam kegiatan PRA ini mahasiswa hanya sebagai fasilitator sekaligus motivator dan masyarakatlah sebagai pelaksananya. Adapun teknik dari PRA ( Participatory Rural Appraisal ) itu sendiri adalah: 1. Pendekatan Participatory Rural Appraisal(PRA). Adalah (Pengkajian Pedesaan Secara Partisipatif). 2. Pendekatan Tersebut memungkinkan masyarakat desa saling membagi, menambah dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi kehidupannya dalam rangka membuat perencanaan dan tindakan. 3. Dengan demikian pendekatan PRA adalah cara yang digunakan dalam melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi desa Solokan Jeruk dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Atau Pengkajian/Penilaian (keadaan) Desa Solokan Jeruk Secara Partisipatif. 4. Pemberdayaan Masyarakat dan Partisipasi merupakan strategi dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. 17 5. Menjalin kerjasama dengan masyarakat desa solokan jeruk dalam pelaksanaan program kerja yang ada. 6. Bekerjasama dengan aparat Desa untuk pelaksanaan program kerja Pendekatan PRA merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan pada saat mahasiswa berada di lokasi, di karenakan faktor – faktor sebagai berikut: a. Kritik terhadap pendekatan pembangunan yang TOP-Down b. Terjadi ketidakcocokan antara program dengan kebutuhan masyarakat c. Masyarakat hanya sekedar pelaksana, dan tidak merasa sebagai pemilik Program d. Dengan sendirinya dukungan masyarakat terhadap program seperti itu akan sangat pura-pura demikian pula dengan partisipasinya. e. Kurang mendidik dan kurang menjamin keberlanjutan program, karena prakarsa selalu datang dari luar dan keterampilan pengkajian, perencanaan dan pengorganisasian tetap dimiliki orang luar. Dengan menggunakan teknik Pendektan tersebut maka diharapkan agar : a. Pendekatan pengembangan program yang lebih partisipatif. Istilah seperti “partisipasi masyarakat”; Bottom-up planing. b. Pertimbangannya adalah apabila mayarakat dilibatkan secara berarti dalam keseluruhan proses program, selain program itu menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan rasa kepemilikan warga masyarakat terhadap program itu lebih tinggi c. keterampilan–keterampilan analisis dan perencanaan tadi dipindahkan kepada masyarakat. d. Dimasa akan datang, ketergantungan dengan pihak “luar” secara pertahap dapat dikurangi. Untuk mengetahui tentang permasalahan yang ada di masyarakat, maka dilakukan survey (observasi) selama 40 hari berada dilokasi. Kegiatan awal adalah perkenalan dengan perangkat pemerintah Bojongemas serta masyarakat yang khususnya ada di RW 3 dan 4 . Kemudian dilanjutkan 18 dengan bersiturahmi sekaligus melakukan dialog bersama penduduk dan Kepala dusun, ketua adat, toko-toko agama, pemuda, dengan tujuan perkenalan sekaligus agar keberadaan sebagai mahasiswa KKN diketahui oleh masyarakat sekaligus untuk mencari tahu permasalahan-permasalahan yang ada di Desa Solokan Jeruk. Cara ini merupakan pendekatan secara persuasif, yang nantinya diharapkan bisa mengajak mayarakat untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan realisasi dari penyelesaian masalah yang ada. Selain pendekatan terhadap masyarakat, pendekatan juga dilakukan terhadap ketua – ketua lembaga organisasi maupun elemen-elemen anggotanya yang diharapkan sebagai suatu wadah yang juga memiliki pengaruh di Desa Bojongemas, dapat membantu mahasiswa KKN Tematik Citarum Harum di Desa Bojongemas Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung, dalam pelaksanaan program selama berada dilokasi. Penedekatan seperti ini merupakan pendekekatan secara politis dilingkungan masyarakat. Dari pertemuan tersebut didapatkan banyak informasi, masukan, dan usulan dari masyarakat setempat. Informasi / masukan/ usulan tersebut merupakan kebutuhan/ permasalahan yang menurut mereka belum terealisasi. Semua usulan atau saran tersebut ditampung agar kemudian disampaikan dalam lokakarya Desa (lokdes) setelah selama 40 hari melakukan observasi, dimana dalam lokakarya tersebut membahas dan menentukan program apa saja yang dapat dilaksanakan untuk meminimalisir jumlah permasalahan yang ada. Hal ini dilakukan agar setiap masalah yang sudah didapatkan dipilih kembali masalah apa saja yang sesuai dengan bidang-bidang dalam program Citarum Harum, dan setelah disampaikan maka masyarakat akan memutuskan apakah masalah tersebut disetujui dimasukkan kedalam program kerja atau tidak. Setelah disetujui, kemudian barulah diputuskan siapa penanggung jawab dari program yang telah disepakati tersebut.