Uploaded by common.user17688

Definisi dan Sejarah Hadis: Panduan Pendidikan

advertisement
Pengertian Hadis
Pengertian Hadis menurut bahasa berasal dari akar kata hadatsa yang berarti baru, pada
umumnya kata hadist menunjukan sesuatu yang baru dan menunjukkan kabar, berita, keterangan
atau perkataaan.
Kebanyakan ulama ahli hadist sepakat bahwa hadist secara istilah ialah segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa perkataan, perbuatan, ketetapan atau sifat
maupun hal ihwal nabi.
SEJARAH KODIFIKASI HADIS DAN PERKEMBANGANNYA
A.Perkembangan Hadits Pada Masa Rasullullah SAW
sejumlah sahabat yang memiliki catatan hadits yaitu:
Abdullah Bin Amr Bin Al-Ash (27 SH -63 H)
Hadits-hadits yang terhimpun dalam catatannya berkisar sekitar 1000 hadis yang menurut
pengakuannya diterima langsung dari Rasulullah SAW yaitu ketika beliau berada di sisi
Rasulullah SAW tanpa ada yang menemaninya. Catatan tersebut diberi nama as shahifah as
shadiqah
Jabir Bin Abdillah Bin Amr Al-Anshari (w.16 SH -78 H) ia memiliki catatan hadits tentang
manasik haji. Hadits-haditsnya kemudian diriwayatkan oleh muslim catatan ini dikenang dengan
Shahifah Jabir.
Anas bin Malik ( 10 SH – 93 H). Disamping ia menulis dan menghafal hadis, ia mendorong
putra-putranya untuk menuliskan hadis
Abu Hurairah Ad-Dausi (19 SH -59 H). Ia memiliki catatan hadits yang dikenal dengan AsShahifah As-shahihah. Hasil karyanya diwariskan kepada putranya yang benama Hammam.
Abu Syah (Umar Bin Sa’ad Al- Anmari) seorang penduduk yaman. Ia meminta kepada
Rasulullah SAW agar dicatatatkan hadits yang disampaikan beliau ketika pidato pada peristiwa
Futuh Mekkah.
Abu Bakar ash Shiddiq (50 SH 13 H) ada 500 buah hadis,
Ali bin Abi Thalib (23 SH – 40 H), Ia sebagai salah seorang penulis pribadi Rasulullah SAW.
B .Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, perkembangan penyebaran hadits dilanjutkan oleh para
sahabat beliau, terutama oleh khulaf Ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Usman Bin
Affan dan Ali Bin Abi Thalib). Namun pada saat itu perkembangan hadits tidak begitu
diutamakan karena prioritas yang paling utama pada saat itu adalah terfokus kepada
pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an, dan periwayatan hadits sendiri belum begitu
berkembang dan masih di batasi.
Periwayatan Hadits :
Ada dua jalan yang ditempuh oleh para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah
SAW. Pertama, dengan jalan periwayatan lafzhi, kedua adalah periwayatan maknawi.
a.Periwayatan Lafzhi
Periwayatan lafzi adalah periwayatan hadis yang redaksinya persis seperti yang diwurudkan oleh
Rasulullah SAW., ini hanya bisa dilakukan apabila mereka benar, benar menghafal hadis yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Kebanyakan para sahabat menempuh periwayatan hadits melalui jalan ini. Mereka berusaha agar
periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Rasulullah SAW, dan bukan menurut redaksi
mereka.
b.Periwayatan Maknawi
Para sahabat lainnya berpendapat bahwa dalam keadaan darurat karena tidak menghafal persis
yang diwurudkan oleh Nabi Muhammad SAW, di bolehkan meriwayatkan hadits berdasarkan
maknanya (maknawi). Periwayatan maknawi adalah periwayatan hadis yang matan nya tidak
sama dengan yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Tetapi isi dan maknanya tetap terjaga
secara utuh sesuai dengan yang dimaksud oleh Nabi Muhammad SAW.
Pusat-pusat Pembinaan Hadis :
Tercatat beberapa kota yang menjadi pusat pembinaan dalam periwayatan hadis sebagai tempat
tujuan para tabi’in dalam mencari hadis, yaitu ialah Madinah Al-Munawaroh, Mekah AlMukaroma, kufah basrah, syam, mesir, magrib, dan Andalas, yaman, dan khurasan dan sejumlah
para sahabat Pembina hadits pada kota-kota tersebut,
Proses Kodifikasi al-Hadits
Proses kodifikasi hadits atau tadwiin al-Hadits yang dimaksudkan adalah proses pembukuan
hadits secara resmi yang dilakukan atas instruksi Khalifah, dalam hal ini adalah Khalifah Umar
bin Abd al-Aziz (memerintah tahun 99-101 H). Beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat
mendesak untuk memelihara perbendaharaan sunnah. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat
perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal Hadits menuliskan dan
membukukannya supaya tidak ada Hadits yang akan hilang pada masa sesudahnya.
Abu Naaim menuliskan dalam bukunya Tarikh Isbahan bahwa Khalifa Umar bin Abd al-Aziz
mengirimkan pesan perhatikan hadits Nabi dan kumpulkan. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa
Umar bin Abd al-Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm sebagai
berikut:
‫أهله وذهاب العلم دروس خفت فاءنى فاكتبوه م ص هللا رسول حديث إلى أنظروا‬. ‫ روية وفى‬: ‫إالحديث تقبل وال العلماء وذهاب‬
‫م ص النبى‬.
Perhatikanlah apa yang ada pada hadits-hadits Rasulullah SAW, dan tulislah, karena aku
khawatir akan terhapusnya ilmu sejalan dengan hilangnya ulama, dan janganlah engkau terima
selain hadits Nabi SAW (Shahih al-Bukhari, Juz I. hal 29)
Ada tiga hal pokok yang melatarbelakangi mengapa Khalifah Umar bin Abdul al-Aziz
mengambil kebijakan untuk memberi intruksi tersebut :
1.Ia khawatir hilangnya hadis-hadis, dengan meninggalnya para ulama di medan perang.
2.Ia khawatir akan tercampurnya antara hadis-hadis yang shahih dengan hadis-hadis palsu.
3.Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam.
Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm (w. 117 H) Gubernur
Madinah untuk mengumpulkan hadits-hadits yang ada pada Amrah binti Abd al-Rahman bin
Saad bin Zahrah al- Anshariyah (21-98 H) dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr alShiddiq.
Pengumpulan al-Hadits khususnya di Madinah ini belum sempat dilakukan secara lengkap oleh
Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan akhirnya usaha ini diteruskan oleh Imam Muhammad
bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124) yang terkenal dengan sebutan Ibnu Syihab al-Zuhri.
Beliaulah sarjana Hadits yang paling menonjol di jamannya. Atas dasar ini Umar bin Abd alAziz pun memerintahkan kepada anak buahnya untuk menemui beliau. Dari sini jelaslah bahwa
Tadwin al-Hadits bukanlah semata-mata taktib al-Hadits (penulisan al-Hadits).
Tadwin al-Hadits atau kodifikasi al-Hadits merupakan kegiatan pengumpulan al-Hadits dan
penulisannya secara besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah (khalifah). Sedangkan
kegiatan penulisan al-Hadits sendiri secara tidak resmi telah berlangsung sejak masa Rasulullah
saw masih hidup dan berlanjut terus hingga masa kodifikasi. Atas dasar ini tuduhan para
orientalis dan beberapa penulis muslim kontemporer bahwa al-Hadits sebagai sumber hukum
tidak otentik karena baru ditulis satu abad setelah Rasulullah wafat adalah tidak tepat. Tuduhan
ini menurut M.M. Azami lebih disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam melacak sumbersumber yang berkaitan dengan kegiatan penulisan Hadits.
Pada masa tadwin ini penulisan hadits belum tersistimatika sebagimana kitab-kitab Hadits yang
ada saat ini tetapi sekadar dihimpun dalam bentuk kitab-kitab jami` dan mushnaf. Demikian juga
belum terklasifikasikannya Hadits atas dasar shahih dan tidaknya. Barulah pada periode
sesudahnya muncul kitab Hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tertentu, juga kitab hadits
yang memuat hanya hadits-hadits shahih saja. Pada periode terakhir ini pengembangan ilmu Jarh
wa Ta`adil telah semakin mantap dengan tampilnya Muhammad bin Ismaail al-Bukhari.
FUNGSI HADITS TERHADAP AL QURAN
hadits memiliki 4 macam fungsi
terhadap al Qur'an yaitu:[4]
1. Sebagai Bayanul Taqrir.
Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu menetapkan dan memperkuat
apa yang telah diterangkan dalam al Qur’an. Fungsi hadits disini hanya memperkokoh isi
kandungan al Quran. Seperti hadits tentang shalat, zakat, puasa dan haji, merupakan penjelasan
dari ayat shalat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji yang tertulis dalam al Qur'an.
2.Sebagai Bayanul Tafsir
Dalam hal ini hadits berfungsi memberikan perincian dan penafsiran terhadap ayat ayat
al Qur'an. Hadits sebagai tafsir terhadap al Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi,
yaitu:[5]
a. Menjelaskan ayat ayat yang mujmal.
Hadis disini berfungsi menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum
hukumnya dari segi praktik, syarat, waktu dan tata caranya seperti dalam masalah shalat.
b. Menghususkan ayat ayat al Qur’an yang bersifat umum .
Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat al Qur'an yang bersifat umum, dalam ilmu
hadis disebut takhshish al ‘amm.[6] Takhshîsh al-’âm ialah sunnah yang mengkhususkan atau
mengecualikan ayat yang bermakna umum.
c. Membatasi lapaz yang masih mutlaq dari ayat ayat al Qur'an (Sebagai Bayanul Muthlaq).
Hukum yang ada dalam al Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka dalam hal
ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam al Qur'an.
3. Sebagai Bayanul Naskhi
Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai penghapus hukum yang diterangkan dalam al Qur'an.
Misalnya yaitu hadis yang menghapus ketentuan hukum dalam al Qur’an tentang
diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris
4. Sebagai Bayanul Tasyri'
Bayan at tasyri’ adalah menetapkan hukum atau aturan aturan yang tidak didapati
dalam al Qur’an. Hal ini berarti bahwa ketetapan hadits itu merupakan ketetapan yang
bersifat tambahan hal-hal yang tidak disinggung oleh alQur’an dan hukum hukum itu hanya
berasaskan hadis semata mata.
C.Unsur-Unsur HaditsSetiap hadits mengandung 3 unsur :
1. Matan(Teks atau perkataan yang disampaikan);
2. Rawi(disebut juga Perawi) adalah orang yang menyampaikan atau yang meriwayatkan hadits
yang pernah diterimanya dari seseorang ke dalam suatu kitab;
3. Sanad,adalah orang – orang yang menjadi sandaran dalam meriwayatkan hadits. Dengan kata
lain, sanad adalah orang -0rang yang menjadi perantara dari Nabi Muhammad SAW kepada
perawi.
D.Macam-Macam Hadits dan Tingkatannya
DITINJAU DARI SEGI SUMBERNYA,
Hadits terbagi menjadi dua macam, yaitu*
Hadits Qudsi (disebut juga Hadits Robbani) dan,*Hadits Nabawi (disebut juga Hadits Nabi).
DITINJAU DARI SEGI RAWINYA (KUANTITAS)
Hadits dibagi dalam dua bentuk besar, yaitu*Hadits Mutawatir dan,*Hadits Ahad.
DITINJAU DARI SEGI SANADNYA (KUALITAS), Hadits dikelompokkan dalam tiga macam
;*Shohih,*Hasan dan,*Dhoif.
A.Hadits Qudsi adalah Firman Allah SWT.,yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.,
kemudian Beliau menyampaikan denganredaksi (susunan kata/kalimat) nya sendiri. Dengan
demikian makna Hadits Qudsi tersebut berasal dari Allah SWT., sedangkan lafal/redaksinya dari
َ ‫بِى َعبدِى‬
Nabi SAW.contoh :ْ‫ل قَا َلْ ه َُري َر ْةَ أَبِى َعن‬
َْ ‫ل َقا‬
ُْ ‫سو‬
َْ ‫وسلم عليه هللا صلى‬: ‫ل‬
ُْ ‫ّللاُ يَقُو‬
َْ ‫ع َْز‬
َْ ‫و َج‬:
ِْ ‫ظ‬
ُ ‫ّللاِ َر‬
َ ‫ل‬
َ ‫ن ِعن ْدَ أَنَا‬
‫يَذ ُك ُرنِى ِحينَْ َمعَ ْهُ َوأَنَا‬. (‫)البخارى رواه‬Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah SAW. bersabda;
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Aku, menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku besertanya di
mana saja dia menyebut )mengingat( Aku.” )H.R. Bukhari
(B. Hadits Nabawi adalah Hadits yang makna maupun lafalnya berasal dari Nabi Muhammad
SAW., sendiri.Perbedaan Hadits Qudsi dan Nabawi
1.Lafal dan makna Al-Qur’an berasal dari Allah SWT, sebaliknya Hadits Qudsi hanya maknanya
saja yang berasal dari Allah SWT. Sedangkan redaksinya (susunan kalimatnya) dari Nabi
Muhammad SAW.
2.Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja, sebaliknya Hadits Qudsi boleh
diriwayatkan hanya dengan maknanya.
3. Al-Qur’an terutama surat Al-Fatihah harus dibaca dalam sholat, sebaliknya Hadits Qudsi tidak
boleh dibaca sewaktu sholat.
Hadits Mutawatir dan Aahad
A. Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang dalam setiap
sanadnya dan mustahil para perawinya berdusta. Sebab hadits ini diriwayatkan oleh banyak
orang dan disampaikan kepada banyak orang, oleh karenaitu diyakini kebenarannya. Dalam hal
keotentikannya, Hadits Mutawatir sama dengan Al-Qur’an, karena keduanya merupakan sesuatu
yang pasti adanya (Qoth’i al-wurud). Oleh sebab itu para ‘Ulama sepakat bahwa Hadits
Mutawatir wajib diamalkan.Contoh Hadits Mutawatir : Muhammad rasulullah SAW., bersabda :
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempat (kembali)nya dalam neraka.”
(HR. Bukhori, Muslim, Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Thobroni, dan Hakim
)hadits mutawatir terbagi dua :
1. Mutawatir lafzi, yakni perkataan Nabi Muhammad SAW.
2. Mutawatir ‘amali, yakni perbuatan Nabi Muhammad SAW.
B. Hadits Aahad yaitu Hadits yang tidak mencapai derajat Mutawatir.Mengenai hadits ini, para
imam mazhab berbeda pendapat.Menurut Imam Hanafi (Abu Hanifah), jika rawinya orang –
orang yang adil maka hanya dapat dijadikan hujjah pada bidang amaliyah, bukan pada bidang
aqidah dan ilmiah.Imam Malik berpendapat hadits ini dapat dipakai menetapkan hukum-hukum
yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an.Imam Syafi’i menegaskan, hadits ini dapat dijadikan
hujjah jika rawinya berakal, dhobit, mendengar langsung dari Nabi Muhammad SAW., dan tidak
menyalahi pendapat‘ulama hadits.
Hadits Dilihat dari Segi Kwalitasnya
1. Hadits Shohih,yaitu hadits yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan oleh orang –
orang yang sempurna hafalannya,Syarat hadits shohih adalah :
a. ‫ السند اتصال‬artinya hadits shahih adalah hadits yang musnad (hadits yang lagsung
marfu’ kepada Nabi saw)
b. ‫ العدل‬artinya diriwayatkan oleh tokoh sanad hadits yang bersifat adil
c. ‫ الضبط‬semua perawinya dhabith, artinya perawi hadits tersebut memiliki ketelitian
dalam menerima hadits, memahami apa yang ia dengar, serta mampu mengingat dan
menghafalnya sejak ia menerima hadits.
d. ‫ شاذ غير‬hadits shahih bukanlah hadits yang syadz (kontroversial) atau sejahtera dari
keganjilan (tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih rajih).
e. ‫ معال غير‬hadits shihih bukan hadits yang terkena ‘illat (cacat).
Hadits Shohih dibagi dua :*
Shohih Lizatihi,yakni hadits yang shohih dengan sendirinya tanpa diperkuat dengan
keterangan lainnya.Contoh Hadits Hudzaifah dimana ia berkata : “ Saya mendengar Rasulullah
SAW., bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. AlBukhori).
Shohih Lighoirihi,yakni hadits yang keshohihannya diperkuat dengan keterangan
lainnya.contoh : Hadits Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairahradhiyallahu
'anhu:
‫صالة كل عند بالسواك ألمرتهم أمتي على أشق أن لوال قال وسلم عليه هللا صلى هللا رسول أن‬
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:”Seandainya tidak
memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak
shalat.” )HR. at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah(Ibnu ash Shalah rahimahullah berkata:”Maka
Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah adalah termasuk orang yang terkenal dengan kejujuran dan
kehormatan. Akan tetapi ia bukan termasuk orang yang matang (dalamhafalannya, ed), sehingga
sebagian ulama mengatakan bahwa ia dha’if (lemah) dari sisi buruknya hafalannya. Dan
sebagian ulama yang lainnya mengatakan bahwa ia tsiqah (kredibel) dikarenakan kejujurannya
dan kehormatannya. Maka haditsnya dari jalur ini adalah hadits Hasan. Maka ketika
digabungkan kepadanya riwayat-riwayat dari jalur lain, hilanglah apa yang kita kita khawatirkan
dari sisi buruknya hafalan, dan tertutupilah dengan hal itu kekurangan yang sedikit, sehingga
sanad hadits ini menjadi shahih, dan disetarakandengan tingkatan hadits shahih.”(Muqaddimah
Ibnu ash-Shalah)
Hadits Hasan terbagi dua :*.Hadits hasan lidzatihi
Hadits hasan lidzatihi ialah hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil
yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya syudzudz dan ‘illat.Contohnya : adalah
hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan Abu Hurairah, bahwasannya Rasul bersabda:‫لوال‬
‫“صالة كل عند بالسواك مرتهم ال امتى على اشق ان‬Sekiranya tidak aku memberatkan umatku, tentulah aku
memerintahkan mereka beristiwak di tiap-tiap shalat”.*
Hadits Hasan Lighairihi Definisi: Yaitu hadits Dha’if jika memiliki jalur periwayatan yang
banyak, dan sebab dha’ifnya hadits tersebut bukan karena fasiqnya perawi hadits tersebut atau
kedustaannya.Bisa diambil faidah dari definisi di atas bahwa hadits Dha’if bisa meningkat
derajatnya menjadi Hasan Lighairihidengan dua hal:Pertama Diriwayatkan dari jalur lain satu
riwayat atau lebih, dengan catatan jalur lain tersebut sama kedudukannya atau lebih kuat
darinya.Kedua Sebab dhai’fnya hadits tersebut dikarenakan buruknya hafalan perwainya, atau
karena keterputusan dalam sanadnya, atau karena ketidakjelasan para perawinya (maksudya
bukan karena dustanya perawi, ataucacat dalam masalah agamanya.Contohnya: Hadits yang
diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah dan beliau mengatakannya hasan, dari jalur
Syu’bah bin ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari bapaknya,
bahwasanya ada seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar dua sendal. Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya:‫ت‬
ِْ ‫ضي‬
ِْ ‫ك نَفس‬
ِْ ‫» بِنَعلَي ِن؟ َو َما ِل‬. ْ‫ فَقَالَت‬: ْ‫نَعَم‬
ِ ‫ِك ِمنْ ْأ َ َر‬
َْ‫” فَأ َ َجاز‬Apakah engkau rela )ridha( sebagai gantimu dan hartamudua sandal )maksudnya apakah
engaku rela maharmu duasandal(.” Perempuan itu menjawab:”Iya )saya rela(” Maka Nabi
shallallahu 'alaihi wasallammembolehkannya.Imam at-Tirmidzi
rahimahullah
berkata:”Dan
dalam bab ini ada hadits dari ‘Umar, Abu Hurairah, dan ‘Aisayh radhiyallahu 'anhum.”Maka
‘Ashim adalah seorang yang dha’if disebabkan buruknya hafalan. Namun imam at-Tirmidzi telah
mengatakan bahwa hadits ini hasan dikarenakan datangnya riwayat ini dari banyak versi (sisi).
3. Hadits Dhoif (lemah), yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat Shohih dan Hasan. Contohnya
: “ Barang siapa berkata kepada orang miskin : ‘bergembiralah’, maka wajib baginya surga.”
(HR. Ibnu A’di).*Hadits Dloif karena terput sanadnnya :
1. Hadits Mursal,yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dengan menyebutkan ia
menerimanya langsung dari Nabi Muhammad SAW.
2. Hadits Munqothi’,yaitu hadits yang salah seorang rawinya gugur (tidak disebutkan namanya),
bisa terjadi ditengah atau di akhir.
3. Hadits Al-Mu’adhol,yaitu hadits yang dua orang atau lebih perawinya setelahsahabat tidak
disebutkan dalam rangkaian sanad.
4. Hadits Mudallas,yaitu hadits yang rawinya meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang
sezaman dengannya.
5. Hadits Mu’allal,yaitu yang memiliki cacat pada sanad maupun pada matannya.*Hadits-hadits
dha’if disebabkan oleh cacat perawinya :
1. Hadits Maudhu’Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat
perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan
tidak pantas disebut hadits.
2. Hadits MatrukYang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya
diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta.
3. Hadits MungkarYaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawiyang lemah
yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur.
4. Hadits Mu’allalArtinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang
didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis
Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidikiternyata ada cacatnya. Hadits
ini biasa disebut juga dengan hadits Ma’lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu’tal
(hadits sakit atau cacat).
5. Hadits MudhthoribArtinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkanoleh
seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi
dengan yang dikompromikan.
6. Hadits MaqlubArtinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi
yang dalamnya tertukar denganmendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupasanad
(silsilah) maupun matan (isi).
7. Hadits MunqalibYaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya
berubah.
8. Hadits MudrajYaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya
terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya.
9. Hadits SyadzHadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang
tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi
(periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga
hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga
hadits Mahfudz.
Download