Pengertian Hadis Pengertian Hadis menurut bahasa berasal dari akar kata hadatsa yang berarti baru, pada umumnya kata hadist menunjukan sesuatu yang baru dan menunjukkan kabar, berita, keterangan atau perkataaan. Kebanyakan ulama ahli hadist sepakat bahwa hadist secara istilah ialah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa perkataan, perbuatan, ketetapan atau sifat maupun hal ihwal nabi. SEJARAH KODIFIKASI HADIS DAN PERKEMBANGANNYA A.Perkembangan Hadits Pada Masa Rasullullah SAW sejumlah sahabat yang memiliki catatan hadits yaitu: Abdullah Bin Amr Bin Al-Ash (27 SH -63 H) Hadits-hadits yang terhimpun dalam catatannya berkisar sekitar 1000 hadis yang menurut pengakuannya diterima langsung dari Rasulullah SAW yaitu ketika beliau berada di sisi Rasulullah SAW tanpa ada yang menemaninya. Catatan tersebut diberi nama as shahifah as shadiqah Jabir Bin Abdillah Bin Amr Al-Anshari (w.16 SH -78 H) ia memiliki catatan hadits tentang manasik haji. Hadits-haditsnya kemudian diriwayatkan oleh muslim catatan ini dikenang dengan Shahifah Jabir. Anas bin Malik ( 10 SH – 93 H). Disamping ia menulis dan menghafal hadis, ia mendorong putra-putranya untuk menuliskan hadis Abu Hurairah Ad-Dausi (19 SH -59 H). Ia memiliki catatan hadits yang dikenal dengan AsShahifah As-shahihah. Hasil karyanya diwariskan kepada putranya yang benama Hammam. Abu Syah (Umar Bin Sa’ad Al- Anmari) seorang penduduk yaman. Ia meminta kepada Rasulullah SAW agar dicatatatkan hadits yang disampaikan beliau ketika pidato pada peristiwa Futuh Mekkah. Abu Bakar ash Shiddiq (50 SH 13 H) ada 500 buah hadis, Ali bin Abi Thalib (23 SH – 40 H), Ia sebagai salah seorang penulis pribadi Rasulullah SAW. B .Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, perkembangan penyebaran hadits dilanjutkan oleh para sahabat beliau, terutama oleh khulaf Ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib). Namun pada saat itu perkembangan hadits tidak begitu diutamakan karena prioritas yang paling utama pada saat itu adalah terfokus kepada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an, dan periwayatan hadits sendiri belum begitu berkembang dan masih di batasi. Periwayatan Hadits : Ada dua jalan yang ditempuh oleh para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Pertama, dengan jalan periwayatan lafzhi, kedua adalah periwayatan maknawi. a.Periwayatan Lafzhi Periwayatan lafzi adalah periwayatan hadis yang redaksinya persis seperti yang diwurudkan oleh Rasulullah SAW., ini hanya bisa dilakukan apabila mereka benar, benar menghafal hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Kebanyakan para sahabat menempuh periwayatan hadits melalui jalan ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Rasulullah SAW, dan bukan menurut redaksi mereka. b.Periwayatan Maknawi Para sahabat lainnya berpendapat bahwa dalam keadaan darurat karena tidak menghafal persis yang diwurudkan oleh Nabi Muhammad SAW, di bolehkan meriwayatkan hadits berdasarkan maknanya (maknawi). Periwayatan maknawi adalah periwayatan hadis yang matan nya tidak sama dengan yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Tetapi isi dan maknanya tetap terjaga secara utuh sesuai dengan yang dimaksud oleh Nabi Muhammad SAW. Pusat-pusat Pembinaan Hadis : Tercatat beberapa kota yang menjadi pusat pembinaan dalam periwayatan hadis sebagai tempat tujuan para tabi’in dalam mencari hadis, yaitu ialah Madinah Al-Munawaroh, Mekah AlMukaroma, kufah basrah, syam, mesir, magrib, dan Andalas, yaman, dan khurasan dan sejumlah para sahabat Pembina hadits pada kota-kota tersebut, Proses Kodifikasi al-Hadits Proses kodifikasi hadits atau tadwiin al-Hadits yang dimaksudkan adalah proses pembukuan hadits secara resmi yang dilakukan atas instruksi Khalifah, dalam hal ini adalah Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (memerintah tahun 99-101 H). Beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara perbendaharaan sunnah. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal Hadits menuliskan dan membukukannya supaya tidak ada Hadits yang akan hilang pada masa sesudahnya. Abu Naaim menuliskan dalam bukunya Tarikh Isbahan bahwa Khalifa Umar bin Abd al-Aziz mengirimkan pesan perhatikan hadits Nabi dan kumpulkan. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Abd al-Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm sebagai berikut: أهله وذهاب العلم دروس خفت فاءنى فاكتبوه م ص هللا رسول حديث إلى أنظروا. روية وفى: إالحديث تقبل وال العلماء وذهاب م ص النبى. Perhatikanlah apa yang ada pada hadits-hadits Rasulullah SAW, dan tulislah, karena aku khawatir akan terhapusnya ilmu sejalan dengan hilangnya ulama, dan janganlah engkau terima selain hadits Nabi SAW (Shahih al-Bukhari, Juz I. hal 29) Ada tiga hal pokok yang melatarbelakangi mengapa Khalifah Umar bin Abdul al-Aziz mengambil kebijakan untuk memberi intruksi tersebut : 1.Ia khawatir hilangnya hadis-hadis, dengan meninggalnya para ulama di medan perang. 2.Ia khawatir akan tercampurnya antara hadis-hadis yang shahih dengan hadis-hadis palsu. 3.Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam. Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm (w. 117 H) Gubernur Madinah untuk mengumpulkan hadits-hadits yang ada pada Amrah binti Abd al-Rahman bin Saad bin Zahrah al- Anshariyah (21-98 H) dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr alShiddiq. Pengumpulan al-Hadits khususnya di Madinah ini belum sempat dilakukan secara lengkap oleh Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan akhirnya usaha ini diteruskan oleh Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124) yang terkenal dengan sebutan Ibnu Syihab al-Zuhri. Beliaulah sarjana Hadits yang paling menonjol di jamannya. Atas dasar ini Umar bin Abd alAziz pun memerintahkan kepada anak buahnya untuk menemui beliau. Dari sini jelaslah bahwa Tadwin al-Hadits bukanlah semata-mata taktib al-Hadits (penulisan al-Hadits). Tadwin al-Hadits atau kodifikasi al-Hadits merupakan kegiatan pengumpulan al-Hadits dan penulisannya secara besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah (khalifah). Sedangkan kegiatan penulisan al-Hadits sendiri secara tidak resmi telah berlangsung sejak masa Rasulullah saw masih hidup dan berlanjut terus hingga masa kodifikasi. Atas dasar ini tuduhan para orientalis dan beberapa penulis muslim kontemporer bahwa al-Hadits sebagai sumber hukum tidak otentik karena baru ditulis satu abad setelah Rasulullah wafat adalah tidak tepat. Tuduhan ini menurut M.M. Azami lebih disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam melacak sumbersumber yang berkaitan dengan kegiatan penulisan Hadits. Pada masa tadwin ini penulisan hadits belum tersistimatika sebagimana kitab-kitab Hadits yang ada saat ini tetapi sekadar dihimpun dalam bentuk kitab-kitab jami` dan mushnaf. Demikian juga belum terklasifikasikannya Hadits atas dasar shahih dan tidaknya. Barulah pada periode sesudahnya muncul kitab Hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tertentu, juga kitab hadits yang memuat hanya hadits-hadits shahih saja. Pada periode terakhir ini pengembangan ilmu Jarh wa Ta`adil telah semakin mantap dengan tampilnya Muhammad bin Ismaail al-Bukhari. FUNGSI HADITS TERHADAP AL QURAN hadits memiliki 4 macam fungsi terhadap al Qur'an yaitu:[4] 1. Sebagai Bayanul Taqrir. Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan dalam al Qur’an. Fungsi hadits disini hanya memperkokoh isi kandungan al Quran. Seperti hadits tentang shalat, zakat, puasa dan haji, merupakan penjelasan dari ayat shalat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji yang tertulis dalam al Qur'an. 2.Sebagai Bayanul Tafsir Dalam hal ini hadits berfungsi memberikan perincian dan penafsiran terhadap ayat ayat al Qur'an. Hadits sebagai tafsir terhadap al Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi, yaitu:[5] a. Menjelaskan ayat ayat yang mujmal. Hadis disini berfungsi menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan hukum hukumnya dari segi praktik, syarat, waktu dan tata caranya seperti dalam masalah shalat. b. Menghususkan ayat ayat al Qur’an yang bersifat umum . Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat al Qur'an yang bersifat umum, dalam ilmu hadis disebut takhshish al ‘amm.[6] Takhshîsh al-’âm ialah sunnah yang mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum. c. Membatasi lapaz yang masih mutlaq dari ayat ayat al Qur'an (Sebagai Bayanul Muthlaq). Hukum yang ada dalam al Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam al Qur'an. 3. Sebagai Bayanul Naskhi Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai penghapus hukum yang diterangkan dalam al Qur'an. Misalnya yaitu hadis yang menghapus ketentuan hukum dalam al Qur’an tentang diperbolehkannya wasiat kepada ahli waris 4. Sebagai Bayanul Tasyri' Bayan at tasyri’ adalah menetapkan hukum atau aturan aturan yang tidak didapati dalam al Qur’an. Hal ini berarti bahwa ketetapan hadits itu merupakan ketetapan yang bersifat tambahan hal-hal yang tidak disinggung oleh alQur’an dan hukum hukum itu hanya berasaskan hadis semata mata. C.Unsur-Unsur HaditsSetiap hadits mengandung 3 unsur : 1. Matan(Teks atau perkataan yang disampaikan); 2. Rawi(disebut juga Perawi) adalah orang yang menyampaikan atau yang meriwayatkan hadits yang pernah diterimanya dari seseorang ke dalam suatu kitab; 3. Sanad,adalah orang – orang yang menjadi sandaran dalam meriwayatkan hadits. Dengan kata lain, sanad adalah orang -0rang yang menjadi perantara dari Nabi Muhammad SAW kepada perawi. D.Macam-Macam Hadits dan Tingkatannya DITINJAU DARI SEGI SUMBERNYA, Hadits terbagi menjadi dua macam, yaitu* Hadits Qudsi (disebut juga Hadits Robbani) dan,*Hadits Nabawi (disebut juga Hadits Nabi). DITINJAU DARI SEGI RAWINYA (KUANTITAS) Hadits dibagi dalam dua bentuk besar, yaitu*Hadits Mutawatir dan,*Hadits Ahad. DITINJAU DARI SEGI SANADNYA (KUALITAS), Hadits dikelompokkan dalam tiga macam ;*Shohih,*Hasan dan,*Dhoif. A.Hadits Qudsi adalah Firman Allah SWT.,yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., kemudian Beliau menyampaikan denganredaksi (susunan kata/kalimat) nya sendiri. Dengan demikian makna Hadits Qudsi tersebut berasal dari Allah SWT., sedangkan lafal/redaksinya dari َ بِى َعبدِى Nabi SAW.contoh :ْل قَا َلْ ه َُري َر ْةَ أَبِى َعن َْ ل َقا ُْ سو َْ وسلم عليه هللا صلى: ل ُْ ّللاُ يَقُو َْ ع َْز َْ و َج: ِْ ظ ُ ّللاِ َر َ ل َ ن ِعن ْدَ أَنَا يَذ ُك ُرنِى ِحينَْ َمعَ ْهُ َوأَنَا. ()البخارى رواهArtinya: Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah SAW. bersabda; Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Aku, menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku besertanya di mana saja dia menyebut )mengingat( Aku.” )H.R. Bukhari (B. Hadits Nabawi adalah Hadits yang makna maupun lafalnya berasal dari Nabi Muhammad SAW., sendiri.Perbedaan Hadits Qudsi dan Nabawi 1.Lafal dan makna Al-Qur’an berasal dari Allah SWT, sebaliknya Hadits Qudsi hanya maknanya saja yang berasal dari Allah SWT. Sedangkan redaksinya (susunan kalimatnya) dari Nabi Muhammad SAW. 2.Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja, sebaliknya Hadits Qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya. 3. Al-Qur’an terutama surat Al-Fatihah harus dibaca dalam sholat, sebaliknya Hadits Qudsi tidak boleh dibaca sewaktu sholat. Hadits Mutawatir dan Aahad A. Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang dalam setiap sanadnya dan mustahil para perawinya berdusta. Sebab hadits ini diriwayatkan oleh banyak orang dan disampaikan kepada banyak orang, oleh karenaitu diyakini kebenarannya. Dalam hal keotentikannya, Hadits Mutawatir sama dengan Al-Qur’an, karena keduanya merupakan sesuatu yang pasti adanya (Qoth’i al-wurud). Oleh sebab itu para ‘Ulama sepakat bahwa Hadits Mutawatir wajib diamalkan.Contoh Hadits Mutawatir : Muhammad rasulullah SAW., bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempat (kembali)nya dalam neraka.” (HR. Bukhori, Muslim, Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Thobroni, dan Hakim )hadits mutawatir terbagi dua : 1. Mutawatir lafzi, yakni perkataan Nabi Muhammad SAW. 2. Mutawatir ‘amali, yakni perbuatan Nabi Muhammad SAW. B. Hadits Aahad yaitu Hadits yang tidak mencapai derajat Mutawatir.Mengenai hadits ini, para imam mazhab berbeda pendapat.Menurut Imam Hanafi (Abu Hanifah), jika rawinya orang – orang yang adil maka hanya dapat dijadikan hujjah pada bidang amaliyah, bukan pada bidang aqidah dan ilmiah.Imam Malik berpendapat hadits ini dapat dipakai menetapkan hukum-hukum yang tidak dijumpai dalam Al-Qur’an.Imam Syafi’i menegaskan, hadits ini dapat dijadikan hujjah jika rawinya berakal, dhobit, mendengar langsung dari Nabi Muhammad SAW., dan tidak menyalahi pendapat‘ulama hadits. Hadits Dilihat dari Segi Kwalitasnya 1. Hadits Shohih,yaitu hadits yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan oleh orang – orang yang sempurna hafalannya,Syarat hadits shohih adalah : a. السند اتصالartinya hadits shahih adalah hadits yang musnad (hadits yang lagsung marfu’ kepada Nabi saw) b. العدلartinya diriwayatkan oleh tokoh sanad hadits yang bersifat adil c. الضبطsemua perawinya dhabith, artinya perawi hadits tersebut memiliki ketelitian dalam menerima hadits, memahami apa yang ia dengar, serta mampu mengingat dan menghafalnya sejak ia menerima hadits. d. شاذ غيرhadits shahih bukanlah hadits yang syadz (kontroversial) atau sejahtera dari keganjilan (tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih rajih). e. معال غيرhadits shihih bukan hadits yang terkena ‘illat (cacat). Hadits Shohih dibagi dua :* Shohih Lizatihi,yakni hadits yang shohih dengan sendirinya tanpa diperkuat dengan keterangan lainnya.Contoh Hadits Hudzaifah dimana ia berkata : “ Saya mendengar Rasulullah SAW., bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. AlBukhori). Shohih Lighoirihi,yakni hadits yang keshohihannya diperkuat dengan keterangan lainnya.contoh : Hadits Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairahradhiyallahu 'anhu: صالة كل عند بالسواك ألمرتهم أمتي على أشق أن لوال قال وسلم عليه هللا صلى هللا رسول أن Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:”Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” )HR. at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah(Ibnu ash Shalah rahimahullah berkata:”Maka Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah adalah termasuk orang yang terkenal dengan kejujuran dan kehormatan. Akan tetapi ia bukan termasuk orang yang matang (dalamhafalannya, ed), sehingga sebagian ulama mengatakan bahwa ia dha’if (lemah) dari sisi buruknya hafalannya. Dan sebagian ulama yang lainnya mengatakan bahwa ia tsiqah (kredibel) dikarenakan kejujurannya dan kehormatannya. Maka haditsnya dari jalur ini adalah hadits Hasan. Maka ketika digabungkan kepadanya riwayat-riwayat dari jalur lain, hilanglah apa yang kita kita khawatirkan dari sisi buruknya hafalan, dan tertutupilah dengan hal itu kekurangan yang sedikit, sehingga sanad hadits ini menjadi shahih, dan disetarakandengan tingkatan hadits shahih.”(Muqaddimah Ibnu ash-Shalah) Hadits Hasan terbagi dua :*.Hadits hasan lidzatihi Hadits hasan lidzatihi ialah hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya syudzudz dan ‘illat.Contohnya : adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan Abu Hurairah, bahwasannya Rasul bersabda:لوال “صالة كل عند بالسواك مرتهم ال امتى على اشق انSekiranya tidak aku memberatkan umatku, tentulah aku memerintahkan mereka beristiwak di tiap-tiap shalat”.* Hadits Hasan Lighairihi Definisi: Yaitu hadits Dha’if jika memiliki jalur periwayatan yang banyak, dan sebab dha’ifnya hadits tersebut bukan karena fasiqnya perawi hadits tersebut atau kedustaannya.Bisa diambil faidah dari definisi di atas bahwa hadits Dha’if bisa meningkat derajatnya menjadi Hasan Lighairihidengan dua hal:Pertama Diriwayatkan dari jalur lain satu riwayat atau lebih, dengan catatan jalur lain tersebut sama kedudukannya atau lebih kuat darinya.Kedua Sebab dhai’fnya hadits tersebut dikarenakan buruknya hafalan perwainya, atau karena keterputusan dalam sanadnya, atau karena ketidakjelasan para perawinya (maksudya bukan karena dustanya perawi, ataucacat dalam masalah agamanya.Contohnya: Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah dan beliau mengatakannya hasan, dari jalur Syu’bah bin ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari bapaknya, bahwasanya ada seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan mahar dua sendal. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya:ت ِْ ضي ِْ ك نَفس ِْ » بِنَعلَي ِن؟ َو َما ِل. ْ فَقَالَت: ْنَعَم ِ ِك ِمنْ ْأ َ َر َْ” فَأ َ َجازApakah engkau rela )ridha( sebagai gantimu dan hartamudua sandal )maksudnya apakah engaku rela maharmu duasandal(.” Perempuan itu menjawab:”Iya )saya rela(” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallammembolehkannya.Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata:”Dan dalam bab ini ada hadits dari ‘Umar, Abu Hurairah, dan ‘Aisayh radhiyallahu 'anhum.”Maka ‘Ashim adalah seorang yang dha’if disebabkan buruknya hafalan. Namun imam at-Tirmidzi telah mengatakan bahwa hadits ini hasan dikarenakan datangnya riwayat ini dari banyak versi (sisi). 3. Hadits Dhoif (lemah), yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat Shohih dan Hasan. Contohnya : “ Barang siapa berkata kepada orang miskin : ‘bergembiralah’, maka wajib baginya surga.” (HR. Ibnu A’di).*Hadits Dloif karena terput sanadnnya : 1. Hadits Mursal,yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dengan menyebutkan ia menerimanya langsung dari Nabi Muhammad SAW. 2. Hadits Munqothi’,yaitu hadits yang salah seorang rawinya gugur (tidak disebutkan namanya), bisa terjadi ditengah atau di akhir. 3. Hadits Al-Mu’adhol,yaitu hadits yang dua orang atau lebih perawinya setelahsahabat tidak disebutkan dalam rangkaian sanad. 4. Hadits Mudallas,yaitu hadits yang rawinya meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang sezaman dengannya. 5. Hadits Mu’allal,yaitu yang memiliki cacat pada sanad maupun pada matannya.*Hadits-hadits dha’if disebabkan oleh cacat perawinya : 1. Hadits Maudhu’Yang berarti yang dilarang, yaitu hadits dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta. Jadi hadits itu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits. 2. Hadits MatrukYang berarti hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. 3. Hadits MungkarYaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawiyang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya / jujur. 4. Hadits Mu’allalArtinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu’allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidikiternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa disebut juga dengan hadits Ma’lul (yang dicacati) atau disebut juga hadits Mu’tal (hadits sakit atau cacat). 5. Hadits MudhthoribArtinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkanoleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. 6. Hadits MaqlubArtinya hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang dalamnya tertukar denganmendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupasanad (silsilah) maupun matan (isi). 7. Hadits MunqalibYaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. 8. Hadits MudrajYaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang didalamnya terdapat tambahan yang bukan hadits, baik keterangan tambahan dari perawi sendiri atau lainnya. 9. Hadits SyadzHadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah (terpercaya) yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi (periwayat / pembawa) yang terpercaya pula. Demikian menurut sebagian ulama Hijaz sehingga hadits syadz jarang dihapal ulama hadits. Sedang yang banyak dihapal ulama hadits disebut juga hadits Mahfudz.