TUTORIAL TUBERKULOSIS PARU LAMA DENGAN EMFISEMA PARU KIRI DISERTAI BRONKIEKTASIS DENGAN PNEUMONIA INTERSTISIAL Disusun oleh : Fernita Cahyaningrum 2014730031 Azkia Rizka Hakim 2014730014 Urwatul Wutsqo 2014730093 Pembimbing : dr. Hj. Suginem Mudjiantoro, Sp.Rad (K) KEPANITRAAN KLINIK STASE RADIOLOGI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2019 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan Tuberkulosis Paru Lama dengan Emfisema Paru Kiri disertai Bronkiektasis dengan Pneumonia Interstisial. Tutorial ini disusun dalam rangka meningkatkan pengetahuan sekaligus memenuhi tugas kepaniteraan klinik ilmu Radiologi di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. Suginem M, Sp.RAD (K) selaku konsulen Radiologi di RS. Islam Pondok Kopi. Semoga dengan adanya laporan kasus ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan berguna bagi penulis maupun teman sejawat lainnya. Penulis menyadari bahwa laporan tutorial ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat membutuhkan saran dan kritik untuk pembuatan laporan tutorial yang lebih baik di waktu yang akan datang. Jakarta, 6 Februari 2019 Penulis 1 BAB I PENDAHULUAN 2 BAB II KASUS PASIEN A. Identitas Pasien Nama : Tn. N Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 56 tahun Alamat : Kp Penggilingan, Jakarta Timur Pekerjaan : Kuli bangunan Pendidikan : SD Agama : Islam Suku : Jawa No. Foto : 891 B. Anamnesis Keluhan Utama Sesak sejak 2 hari yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RS Islam Jakarta Pondok Kopi dengan keluhan sesak sejak 2 hari yang lalu. Sesak dirasakan terutama pada dada sebelah kiri dan memberat saat melakukan aktifitas. Keluhan juga disertai dengan batuk tapi tidak mengganggu pasien. Batuk berdahak dengan dahak berwarna kehijauan. Pasien juga mengeluhkan badannya terasa lemas dan nafsu makan berkurang. BAB & BAK tidak ada keluhan. Riwayat Penyakit Dahulu Sebelumnya pasien sering mengeluhkan sesak terutama ketika cuaca dingin dan kelelahan. Riwayat TB (+), Riwayat asma (+), Riwayat trauma (-), Riwayat DM (-), Riwayat Hipertensi (-). 3 Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang mengalami gejala seperti pasien. Riwayat Pengobatan Riwayat OAT tuntas. Riwayat Alergi Pasien merasa sesak bila cuaca dingin. Riwayat Psikososial Pasien merupakan seorang kuli bangunan. Sehari-hari Os bekerja dari pagi hingga sore. Jika Os kelelahan terkadang timbul sesak. Os tidak merokok sejak ± 38 tahun yang lalu. Riwayat mengkonsumsi alkohol dan minuman keras lainnya disangkal. C. Pemeriksaan Fisik (dilakukan tgl 25/01/19) Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang Kesadaran : Compos Mentis Tanda-tanda vital : Tekanan darah : 110/80 mmHg Nadi : 82 x/menit, regular, kuat angkat Respirasi : 24 x/menit Suhu : 36,6 oC Status Generalis Kepala : Normocephal Mata : Konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Hidung : Simetris, septum deviasi (-/-), hiperemis (-/-), sekret (-/-) bening kekuningan, tumor (-/-),konka edema (-/-), nyeri pangkal hidung (-/-) Mulut : Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-) Faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 4 Telinga : Normotia, sekret (-/-), perdarahan (-/-), serumen (- /-) Leher Thorax : Pembesaran KGB servical (-/-) Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis teraba di IC V Perkusi : Batas jantung kanan IC IV linea parasternalis dextra, batas jantung kiri IC V linea midclavicula sinistra Auskultasi : BJ I & BJ II regular, murmur (-), gallop (-) Paru : Inspeksi : bentuk dan gerak simetris Palpasi : Vocal fremitus dikedua lapang paru Perkusi : Sonor di kedua lapang paru. Paru kiri lebih sonor. Auskultasi : Vesicular (+/+), Ronki (-/-), wheezing (-/-) Abdomen : Inspeksi : Datar (+), distensi (-), massa (-), Auskultasi : Bising usus (+) normal asites (-) Palpasi : Supel (+), nyeri tekan (-) Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen Ekstremtitas Superior : Akral hangat (+/+), CRT < 2 detik, sianosis (-/-) Inferior : Akral hangat (+/+), CRT < 2 detik. Sianosis (-/-) 5 D. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiologi Cor tertarik ke kanan, CTR < 50% Pulmo: Tampak corakan fibrosis paru kanan disertai penarikan trakea dan jantung ke kanan. Hilus kanan tertarik ke atas Corakan kasar suram paru kiri dengan struktur reticular dan cincin-cincin. Emfisema paru kiri +, sinus kanan dangkal, sinus dan diafragma kiri normal. Kesan: Gambaran TB Paru lama dengan emfisema paru kiri. Gambaran Bronkiektasis kiri dengan interstisial pneumonia. E. Diagnosa Kerja Tuberkulosis paru lama dengan emfisema paru kiri disertai bronkiektasis dengan pneumonia interstisial. 6 F. Rencana Penatalaksanaan - IVFD ….+…. 1½ per 12 jam - Sputum BTA 3x 7 BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI Thorax dapat didefinisikan sebagai area yang dibatasi di superior oleh thoracic inlet dan inferior oleh thoracic outlet; dengan batas luar adalah dinding thorax yang disusun oleh vertebra torakal, costae, sternum, muskulus, dan jaringan ikat. Rongga thorax dibatasi dengan rongga abdomen oleh diafragma. Rongga thorax dapat dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu : paru-paru (kiri dan kanan) dan mediastinum. Mediastinum dibagi ke dalam 3 bagian: superior, anterior, dan posterior. Mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan merupakan daerah tempat organ-organ penting thorax selain paru-paru (yaitu: jantung, aorta, arteri pulmonalis, vena cava, esofagus, trakhea, dll.). Thoracic inlet merupakan “pintu masuk” rongga thoraks yang disusun oleh: permukaan ventral vertebra torakal I (posterior), bagian medial dari iga I kiri dan kanan (lateral), serta manubrium sterni(anterior). Thoracic inlet memiliki sudut deklinasi sehingga bagian anterior terletak lebih inferior dibanding bagian posterior. Manubrium sterni terletak kira-kira setinggi vertebra torakal II. Batas bawah rongga thoraks atau thoracic outlet (pintu keluar thoraks) adalah area yang dibatasi oleh sisi ventral vertebra torakal XII, lateral oleh batas bawah costae dan anterior oleh processus xiphoideus. 8 A. Dinding Thorax Tersusun dari tulang dan jaringan lunak. Tulang yang membentuk dinding toraks adalah costae, columna vertebralis torakalis, sternum, tulang clavicula dan scapula. Jaringan lunak yang membentuk dinding toraks adalah otot serta pembuluh darah terutama pembuluh darah intrerkostalis dan torakalis interna. B. Kerangka Dinding Thorax Kerangka dinding toraks membentuk sangkar toraks osteokartilogenous yang melindungi jantung, paru-paru dan beberapa organ abdomen (misalnya hepar). Kerangka torak terdiri dari: 1) Vertebra toraksika (12) dan diskus intervertebralis. 2) Costae (12 pasang) dan cartilago kostalis. 3) Sternum. 9 Costae adalah tulang pipih yang sempit dan lengkung, dan membatasi bagian terbesar sangkar toraks terdiri dari: 1) Ketujuh (kadang-kadang delapan) kostae I disebut kosta sejati (vertebrosternal) karena menghubungkan vertebra dengan sternum melalui kartilago kostalis. 2) Kosta VIII sampai kosta X adalah kosta tak sejati (vertebrokondral) karena kartilago kostalis masing-masing kosta melekat pada kartilago kostalis tepat diatasnya. 3) Kosta XI dan kosta XII adalah kosta bebas atau kosta melayang karena ujung kartilago kostalis masing-masing kosta berakhir dalam susunan otot abdomen dorsal. Sternum adalah tulang pipih yang memanjang dan membatasi bagian ventral sangkar toraks. Sternum terdiri atas tiga bagian: manubrium sterni, corpus sterni, dan processus xiphoideus. C. Dasar Thorax Dibentuk oleh otot diafragma yang dipersyarafi nervus frenikus dan merupakan struktur yang menyerupai kubah (dome-like structure). Diafragma membatasi abdomen dari rongga torak serta terfiksasi pada batas inferior dari sangkar toraks. Diafragma termasuk salah satu otot utama pernapasan dan mempunyai lubang untuk jalan Aorta, Vana Cava Inferior serta esophagus. D. Rongga Thorax Rongga thorax adalah suatu ruangan yang ditutupi oleh dinding thorax, yang terdiri dari 3 kompartemen: 10 Dua kompartemen lateral “cavum pulmonal” yang terdiri dari paruparu dan pleura Satu kompartemen sentral “mediastinum” yang terdiri dari : jantung, pembuluh darah besar pars thorakalis, trakea pars thorakalis, oesofagus, timus, dn struktur lainnya. Rongga mediastinum terdiri dari bagian superior dan inferior, dimana bagian yang inferior dibagi menjadi : mediastinum anterior, medius, dan superior. a. Mediastinum Superior Mediastinum superior dibatasi oleh : Superior : Bidang yang dibentuk oleh vertebrae Th I, costae I dan incisura jugularis. Inferior : Bidang yang dibentuk dari angulus sternal ke vertebrae Th IV 11 Lateral : Pleura mediastinalis Anterior : Manubrium sterni. b. Mediastinum Inferior Mediastinum inferior dibagi menjadi : mediastinum anterior, medius, dan superior. Mediastinum anterior dibatasi oleh: Anterior : Sternum Posterior : Pericardium Lateral : Pleura mediastinalis Superior : Plane of sternal angle Inferior : Diafragma. Mediastinum anterior terdiri dari : Timus, lemak, dan kelenjar limfe (Lawrence M). Mediastinum medius dibatasi oleh: Anterior : Pericardium Posterior ; Pericardium Lateral : Pleura mediastinalis Superior : Plane of sternal angle Inferior : Diafragma. Mediastinum medius terdiri dari : Jantung, pericardium, aorta, trakea, bronkus primer, kelenjar limfe. Mediastinum posterior dibatasi oleh : Anterior : Pericardium Posterior : Corpus VTh 5 – 12 Lateral : Pleura mediastinalis Superior : Plane of sternal angle Inferior : Diafragma. Mediastinum posterior terdiri dari : aorta desenden, oesofagus, vena azigos, duktus thoracicus. Pleura (selaput paru) adalah selaput tipis yang membungkus paru – paru, pleura terdiri dari 2 lapis yaitu: 12 1) Pleura visceralis, selaput paru yang melekat langsung pada paru – paru 2) Pleura parietalis, selaput paru yang melekat pada dinding toraks Pleura visceralis dan parietalis tersebut kemudian bersatu membentuk kantong tertutup yang disebut rongga pleura (cavum pleura). Di dalam kantong terisi sedikit cairan pleura yang diproduksi oleh selaput tersebut. B. TUBERKULOSIS PARU 1. DEFINISI Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini menyebar melalui inhalasi droplet nuclei. Kemudian masuk ke saluran napas dan bersarang ke jaringan paru sehingga membentuk afek primer. Seorang penderita tuberkulosis dewasa dapat menularkan pada 10-15 orang. Sekali batuk penderita dapat meghasilkan sekitar 3000 percikan dahak (droplet). Sumber penularan tuberkulosis pada anak rata-rata berasal dari batuk orang dewasa dengan sputum BTA (+). Saat orang dewasa batuk maka droplet yang dikeluarkan mengandung kuman yang bisa menginfeksi lingkungan sekitar. 2. EPIDEMIOLOGI Menurut data Center for Disease Control (CDC), angka kejadian TB 10 kali lebih tinggi pada orang Asia dan Pasifik. Resiko TB lebih didasarkan atas sosial, ekonomi dan tingkat kesehatan individu. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara laki-laki dan perempuan dalam angka kejadian TB. Angka kejadian TB meningkat pada usia ekstrem (anak dan orang tua), dan kelompok resiko tinggi seperti penderita DM, pecandu alkohol, pencandu obat bius, immuno-compromized conditions (HIV, SLE, malnutrisi, dalam pengobatan kortikosteroid dan kemoterapi, orang-orang dalam pencara dan lainya). Diseluruh dunia sekitar 19-43% populasi saat ini terinfeksi TB, frekuensi penyakit TB paru di Indonesia masih tinggi dan menduduki urutan 13 ke-3 di dunia. Di indonesia TB paru masih merupakan problem utama baik dalam hal kesakitan maupun kematian. Sensitivitas dan spesifisitas foto toraks dalam mendiagnosis TB yaitu 86% dan 83% apabila ditemukan lesi apikal, kavitas dan gambaran retikulonodular. 3. ETIOLOGI Penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis), berbentuk batang lurus tidak berspora dan juga tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3 – 0,6 mm dan panjang 1 – 4 mm. Dinding M. tuberculosis sangat kompleks dan terdiri dari lapisan lemak yang cukup tinggi (60%). Penyusun utama dinding sel M. tuberculosis ialah asam mikolat, lilin kompleks (complex-waxes), trehalosa dimikolat yang disebut cord factor dan mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi. 4. PATOFISIOLOGI Penularan TB terjadi ketika seseorang terinfeksi droplet yang mengandung kuman TB. Didalam tubuh, bakteri tumbuh lambat dan bertahan dalam lingkungan intraseluler dan dorman sebelum reaktivasi. Setelah terhisap, kuman berkumpul di bronkiolus respiratorius distal atau alveolus yang letaknya sub pleural. Kemudian makrofag alveolar akan memfagosit kuman, tetapi tidak mampu melisiskanbakteri sehingga bakteri berkembang dalam magrofag. Kemudian terjadi perpindahan makrofag yang berisi kuman Mycobacterium tuberculosis ke kelenjar getah bening regional (penyebaran limfogen) membentuk focus primer. Sedangkan pada penyebaran hematogen kuman Mycobacterium tuberculosis masuk ke sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. 5. MANIFESTASI KLINIS Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik. 1. Gejala respiratorik batuk ≥ 3 minggu 14 batuk darah sesak napas nyeri dada Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar. Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan. 2. Gejala sistemik demam, 31-62% pasien TB menderita demam. gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun. 50% pasien TB mengalami demam dan keringat malam atau hanya keringat malam. 6. KLASIFIKASI Klasifikasi TB pasru berdasarkan gambaran radiologis: 1. TB Paru Primer Hampir semua infeksi TB primer tidak disertai gejala klinis, sehingga paling sering didiagnosis dengan tuberkulin test. Pada umumnya menyerang anak, tetapi bisa terjadi pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah seperti pada penderita HIV, SLE, DM, orag tua dan lainnya. Pasien dengan TB primer sering menunjukan gambaran foto yang normal. Gambaran radiologis: biasanya lokasi kelainan di satu lobus, paru kanan lebih sering terkena, terutama di lobus bawah, lobus 15 tengah dan lingula serta segmen anterior lobus atas. Kelaiana foto toraks yang dominan berupa limfadenopati hilus (sering pada ipsilateral) dan mediastinum. Dijumpai infiltrat, ground glass opacity, konsolidasi segmental atau lobar, atelektasis (paling sering disebabkan oleh endobronkia TB atau limffadenopati yang menekan bronkus), kavitas (15%). 2. TB Paru Post Primer Biasanya terjadi akibat dari infeksi laten sebelumnya. Selama infeksi primr kuman terbawa aliran darah ke daerah apeks dan segmen posterior lobus atas dan ke segmen superior lobus bawah, untuk selanjutnya terjadi reaktivasi infeksi di daerah ini karena tekanan oksigen di lobus atas tinggi. Infeksi ini dapat menimbulkan suatu gejala TB bila daya tahan tubuh host menurun. Mikroorganisme yang laten dapat berubah menjadi aktif dan menimbulkan nekrosis. Gambaran foto toraks yang dicurigai aktif: o Bayangan berawan, nodular di segmen apikoposterior atas dan superior lobus bawah. o Kavitas terutama lebih dari satu dan dikelilingi konsolidasi atau nodul. o Bercak milier o Efusi pleura bilateral Gambaran radiologis yang dicurigai lesi tidak aktif: o Fibrosis o Kalsifikasi o Penebalan pleura 3. Pleuritis TB Pada keadaan normal rongga pleura berisi cairan 10-15 ml. Efusi pleura bisa terdeteksi dengan foto toraks PA dengan memperlihatkan tanda meniscus atau ellis line, apabila jumlahnya 175ml. 16 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG Beberapa pemeriksaan bakteriologis untuk TB : a. Pemeriksaan mikroskopis BTA sputum atau spesimen lain (cairan tubuh atau jaringan biopsi) minimal 2 kali yaitu sewaktu dan pagi hari. b. Tes cepat molekuler (TCM) TB 1) Line Probe Assay dan NAAT-Nucleic Acid Amplification Test dapat mendeteksi kuman Mycobacterium tuberculosis dalam waktu kurang lebih 2 jam. 2) Pemeriksaan TCM dapat digunakan untuk mendeteksi kuman Mycobacterium tuberculosis secara molecular sekaligus menentukan ada tidaknya resistensi terhadap rifampicin. Pemeriksaan TCM mempunyai nilai diagnostic yang lebih baik daripada pemeriksaan mikroskopis sputum. 3) Contohnya yaitu Xpert/MTB RIF. Minimal 1 ml sputum, bukan saliva, tanpa sisa makanan, dengan penyimpanan yaitu suhu <35C maksimal 3 hari atau 4C maksimal 10 hari. c. Pemeriksaan biakan Merupakan Gold Standart diagnosis TB dengan menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis pada pemeriksaan biakan (dari sputum, bilas lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan). Pemeriksaan biakan sputum dan uji kepekaan obat dilakukan jika fasilitas tersedia. Jenis media untuk pemeriksaan biakan : 1) Media padat : hasil biakan dapat diketahui 4-8 minggu 2) Media cair : hasil biakan bisa diketahui lebih cepat (1-2 minggu) tetapi lebih mahal Pemeriksaan Penunjang Lainnya Beberapa pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB pada anak : 17 a. Uji Tuberkulin (Mantoux Test) Uji tuberkulin bermanfaat untuk membantu menegakkan diagnosis TB pada anak, khususnya jika riwayat kontak dengan pasien TB tidak jelas. Uji tuberkulin tidak bisa membedakan antara infeksi dan sakit TB. Hasil positif menunjukkan adanya infeksi dan tidak menunjukkan ada tidaknya sakit TB, sebaliknya hasil negatif belum tentu menyingkirkan diagnosis TB. Tes ini dilakukan berdasarkan adanya hipersensitivitas tubuh akibat adanya infeksi oleh M.Tuberkulosis sebelumnya. Hal ini yang dimediasi oleh sel2 limfosit T (CMI) yang telah tersensitisasi akibat terinfekasi oleh M.Tuberkulosis secara alamiah. Tes ini dilakukan dengan menginjeksikan tuberculin tes (PPD RT-23 2TU atau PPD S 5TU), dosis 0,1 cc, secara intrakutan di bagian volar lengan bawah. Reaksi tuberculin mulai 5-6 jam setelah penyuntikan dan indurasi maksimal terjadi setelah 48 – 72 jam dan selanjutnya berkurang selama beberapa hari. Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Pengukuran dilakukan terhadap indurasi yang timbul, bukan pada bagian yang hiperemis atau eritemanya. dilakukan pada ruangan dengan pencahayaan yang baik dan lengan bawah sedikit difleksikan pada siku. Hasil pembacaan diukur dan ditulis dalam ukuran millimeter. Hasil interpretasi: negatif (0 – 4 mm), ragu-ragu (5 – 9 mm), positif (≥ 10 mm). Selalu ada kemungkinan hasil mantoux tes tidak tepat sesuai dengan keadaan sebenarnya dari penderita, selalu ada kemungkinan terjadi: - Hasil tes yang False Positive, yaitu reaksi yang seharusnya negatif, namun karena suatu hal, sistem imunologi tubuh memberikan reaksi yang positif, ini terjadi pada mereka yang pernah mendapatkan 18 vaksinasi BCG sebelumnya. Atau akibat infeksi dengan jenis kuman Mycobacterium yang lain, atau karena memegang dan menyentuh tempat suntikan tuberkulin di lengan. - Hasil tes yang False Negative, yaitu reaksi yang seharusnya positif, namun karena beberapa hal yang menyebabkan gangguan sistem imunologi tubuh, sehingga hasilnya menjadi negatif, misalnya karena menderita sakit AIDs, mendapat obat kortikosteroid jangka panjang, atau karena malnutrisi (kurang gizi). - Bila pernah disuntik BCG, ada kemungkinan terinfeksi. Setelah tes sinar-X dada dilakukan akan ditentukan tindakan selanjutnya. b. Foto thoraks Secara umum gambaran radiologis yang menunjang TB adalah sebagai berikut : 1) Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan / tanpa infiltrat (foto thoraks AP disertai foto thoraks lateral) 2) Konsolidasi segmental / lobar 3) Efusi pleura 4) Milier 5) Atelektasis 6) Kavitas 7) Kalsifikasi dengan infiltrate 8) Tuberkuloma 19 c. Pemeriksaan histopatologi (Patologi Anatomi) Pemeriksaan PA akan menunjukkan gambaran granuloma dengan nekrosis perkijuan di tengahnya dan dapat pula ditemukan gambaran sel datia langhans dan atau kuman TB. 8. DIAGNOSIS Ditegakan dengan pemeriksaan bakteriologis adalah mikroskopis langsung, biakan dan tes cepat. Apabla hasil (-) maka penegakan diagnosis dapat dilakukan secara klinis danpenunjang (foto toraks). Tidak dibenarkan hanya mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis, uji tuberkulin dan foto toraks saja. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung, Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut-turut atau dengan cara: Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan), Dahak Pagi (keesokan harinya) dan Sewaktu/spot (pada saat mengantarkan dahak pagi). Ditetapkan sebagai pasien TB jika minimal 1 dari pemeriksaan uji dahak SPS hasilnya BTA (+). 9. PENATALAKSANAAN Tabel 1. OAT Lini Pertama Jenis Sifat Efek samping lsoniazid (H) bakterisidal Neuropati perifer, psikosis toksik, gangguan fungsi hati, kejang Rifampisin (R) bakterisidal Flu syndrome, gangguan gastrointestinal, urine berwarna merah, gangguan fungsi hati, trombositopeni, demam, skin rash, sesak nafas, anemia hemolitik Gangguan gastrointestinal, gangguan fungsi hati, gout artritis Pirazinamid (Z) bakterisidal Streptomisin (5) bakterisidal Nyeri ditempat suntikan, gangguan keseimbangan dan pendengaran, renjatan anafilaktik, anemia, agranulositosis, trombositopeni Etambutol (E) bakteriostatik Gangguan penglihatan, buta warna, neuritis perifer Tabel 2. Kisaran dosis OAT lini pertama bagi pasien dewasa 20 Dosis OAT Harian Kisaran dosis (mg/kg BB) 3 x/ minggu Maksimum (mg) Kisaran dosis (mg/kg BB) Maksimum/hari (mg) lsoniazid 5(4-6) 300 10(8-12) 900 Rifampisin 10(8-12) 600 10(8-12) 600 Pirazinamid 25 ( 20 - 30) - 35 ( 30- - 40) - Etambutol 15 ( 15 - 20) - 30 ( 25 - 35) - Streptomisin 15(12-18) - 15(12-18) 1000 Catatan: Pemberian streptomisin untuk pasien yang berumur >60 tahun atau pasien dengan berat badan <50 kg mungkin tidak dapat mentoleransi dosis >500mg/hari. Beberapa buku rujukan menganjurkan penurunan dosis menjadi 10 mg/kg/BB/hari. Paduan OAT KDT Lini Pertama dan Peruntukannya. Kategori-1 : 2(HRZE) / 4(HR)3 Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis. Pasien TB paru terdiagnosis klinis Pasien TB ekstra paru Tabel 3. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 1: 2(HRZE)/4(HR)3 Berat Badan 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT Lama pengobatan: intensif 2 bulan, lanjutan 4 bulan. Kategori-2: 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati sebelumnya(pengobatan ulang): • Pasien kambuh • Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya • Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up) 21 Tabel 4. Dosis Paduan OAT KDT Kategori 2: 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari Selama 28 hari Berat Badan 30-37 kg 38-54 kg 55-70 kg ≥71 kg 2 tab 4KDT + 500 mg Streptomisin inj. 3 tab 4KDT + 750 mg Streptomisin inj. 2 tab 4KDT 4 tab 4KDT + 1000 mg Streptomisin inj. 5 tab 4KDT + 1000mg Streptomisin inj. 4 tab 4KDT 3 tab 4KDT 5 tab 4KDT ( > do maks ) Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E(400) selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol 3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol 4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol 5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol 10. KOMPLIKASI Batuk darah Pneumotoraks Luluh paru Gagal napas Gagal jantung Efusi pleura 11. PROGNOSIS Ad vitam : bonam Ad fungsionam : bonam Ad sanasionam : bonam C. EMFISEMA PARU 1. DEFINISI Emfisema paru-paru adalah keadaan pembesaran paru-paru yang disebabkan oleh menggembungnya alveoli secara berlebihan yang disertai atau tanpa disertai robeknya dinding alveoli tergantung dengan kerusakan alveoli. Udara pernafasan akan terdapat di dalam rongga jaringan interstitial atau tetap berada di dalam rongga alveoli saja. Proses dapat berjalan secara akut maupun kronik. Secara umum, emfisema paru-paru ditandai dengan dipsnoea ekspiratorik, hyperpnoea dan mudahnya penderita mengalami kelelahan. 22 Istilah emfisema berarti adanya jumlah udara yang berlebihan didalam paru. Emfisema ditandai dengan pembesaran permanen rongga udara yang terletak distal dari bronkiolus terminal disertai destruksi dinding rongga tersebut. Terdapat beberapa penyakit dengan pembesaran rongga udara yang tidak disertai destruksi; hal ini lebih tepat disebut “overinflation”. Sebagai contoh, peregangan rongga udara di parukontralateral setelah penumoktomi unilateral adalah overinflation kompensatorik bukan emfisema. Emfisema terkadang sering disalah artikan dengan bronchitis kronik. Sehingga sejak awal perlu ditekankan bahwa definisi emfisema adalah defenisis morfologik, sedangkan defenisi bronchitis kronimerupakan gambaran klinis. Selain itu pola distribusi anatomi jugaberbeda—bronkitis kronis mengenai saluran napas besar dan kecilsebaliknya, emfisema terbatas di asinus, struktur yang terletak distal pada bronkiolus terminal. Emfisema tidak saja didasarkan pada sifat anatomic lesi tetapi juga oleh distribusinya di lobulus dan asinus. Asinus adalah bagian paru yangterletak distal dari bronkiolus terminal dan mencakup bronkiolusrespiratorik, duktus alveolaris dan alveolus. 2. EPIDEMIOLOGI Emfisema adalah penyakit yang umum. Tetapi insidensi pastinya sulit diperkirakan karena diagnosis pasti, yang didasarkan pada morfologi, hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaanparu saat autopsy. Secara umum disepakati bahwa emfisema terdapat pada 50% orang dewasa yang diautopsi. Emfisema jauh lebih sering ditemukandan lebih parah pada laki – laki. Terdapat keterkaitan yang jelas antara merokok dalam jumlah besar dengan emfisema. Meskipun emfisema tidakmenyebabkan disabilitas sampai usia sekitar lima puluh hingga delapanpuluh tahun, defisit ventilasi sudah dapat bermanifestasi klinik beberapa decade sebelumnya. 3. PATOGENESIS Alveolus berkembang kempis sejak lahir sesuai batas elastisitas dindingnya. Pengembangan alveoli yang berlebihan dalam waktu lama, 23 misal oleh batuk paroxysmal dan kronik, akan mengakibatkan penurunan elastisitas alveoli. Adanya stenosis saluran pernafasan, udara tidak dapat dikeluarkan semua, hingga terjadi kenaikan tekanan intra alveolar. Tekanan intra alveolar meningkat pada suatu ketika mencapai batas maksimum hingga alveoli akan dapat pecah dan mengakibatkan emfisema interstisial. Penurunan elastisitas yang berlebihan akan menyebabkan emfisema alveolaris. Emfisema terjadi pada bagian paru-paru yang normal sebagai kompensasi atas ketidakmampuan untuk berfungsi dari bagian paru-paru yang lain, misalnya karena abses, oedema, dan bronchopneumonia. Penurunan elastisitas bronchiol dan alveoli mungkin disebabkan oleh toksin yang dihasilkan kuman tertentu. Kelemahan dinding alveoli udara ekspirasi harus dikeluarkan dengan usaha yang lebih besar dari normalnya, hingga terlihat dispnoea yang bersifat ekspiratorik. Kadang-kadang ditemukan ekspirasi ganda (dobel) ditandai dengan berkontraksinya otot perut secara berlebihan. Robeknya alveoli diikuti robeknya kapiler disekitarnya, hingga titik-titik darah sering ditemukan bersama lendir atau dahak yang keluar.Pendapat yang berlaku saat ini mengenai emfisema adalah itu terjadi ketidakseimbangan akibat ketidakseimbangan protease-antiprotease dan penting yakni oksidan-antioksidan. Ketidakseimbangan inihampir selalu terjadi bersamaan. Emfisema dipandang sebagai akibat efek destruktif peningkatan aktivitas protease pada orang dengan aktivitasantitrypsin yang rendah. Hipotesis ini didukung oleh penelitian padahewan percobaan yang mengalami degradasi elastin yang disertai dengan timbulnya emfisema. Hipotesis ketidakseimbangan protease-antiprotease juga membantu menjelaskan efek merokok dalam terjadinya emfisema. Secara singkat, tumbukan partikel asap, terutama di percabangan bronkiolus respiratorik mungkin menyebabkan influx neutrofildan makrofag; kedua sel tersebutmengeluarkan berbagai protease. Peningkatan aktivitas protease yangterltak di region sentriasinar menyebabkan terbentuknya emfisema 24 polasentriasinar. Kerusakan jaringan diperhebat oleh inaktivasi antiproteaseleh oksigen reaktif yang terdapat dalam asap rokok. Dispnea biasanya adalah gejala pertama, gejala ini muncul secara perlahan tapi progresif. Keluhan awal pada pasienyang sudah mengidap asma atau bronchitis adalah batuk dan mengi. Beratbadan pasien turun. Uji fungsi paru memperlihatkan penurunan FEV1dengan FVC normal atau mendekati normal. Oleh karena itu rasio FEV1 terhadap FVC menurun. Gambaran klasik pada pasien tanpa bronchitisadalah dada berbentuk tong dan dispnea, dengan ekspirasi yang jelasmemanjang dan pasien duduk maju dalam posisi membungkuk ke depan,berupaya memeras udara keluar dari paru. Pada pasien dengan oksigenasiyang masih adekuat, terjadi fenomena pink puffers, yakni kulit pasienberwarna kemerahan. Di ekstrem lain, pasien yang mengalami bronchitis kronis,biasanya tidak terlalu memperlihatkan gejala dispnea dan upaya bernapasdalam bentuk hiperventilasi sehingga CO2 mengalami retensi dan jumlahO2 yang masuk ke dalam ikut berkurang. Akibatnya mereka mengalami sianosis. Biasanya gambaran klinis untuk pasien tipe ini disebut “bluebloaters”.Ada sejumlah penyakit yang berkaitan dengan emfisema namun kemiripannya hanya sepintas dan secara tidak tepat dianggap emfisema. Beberapa di antaranya adalah: a) Emfisema Kompensatorik istilah yang digunakan untukmenyatakan dilatasi alveolus sebagai respon berkurangnya substansi paru di tempat lain. b) Emfisema Senilis mengacu pada pergangan berlebihan parupada usia lanjut. Namun peregangan ini tidaklah bermakna.Penamaan yang lebih baik untuk ini adalah hiperinflasi senilis. c) Obstruksi Inflasi mengacu akibat terperangkapnya udara di dalam paru. Yang sering jadi penyebabnya adalah tumor atau benda asing. 25 4. KLASIFIKASI Berdasarkan lokasi kerusakan: Centriacinar emfisema Distal acinar emfisema Panacinar emfisema Irregular emfisema. a) Centriacinar emfisema adalah salah satu jenis emfisema paru-paru yang ditandai dengan pembesaran rongga udara di bagian proksimal acinus, terutama pada tingkat bronchiolus repiratorius. 26 b) Distal acinar emfisema adalah salah satu jenis emfisema paru-paru yang terbatas pada ujung distal alveolus di sepanjang septum interlobularis dan di bawah pleura membentuk bula. c) Panacinar emfisema adalah satu jenis emfisema paru-paru yang ditandai dengan pembesaran rongga udara yang relatif seragam di seluruh acinus.Merupakan bentuk yang jarang, gambaran khas nya adalah tersebar merata di seluruh paru-paru, meskipun bagian-bagian basal cenderung terserang lebih parah. Tipe ini sering timbul pada hewan dengan defisiensi alfa-1 anti tripsin. 27 d) Irregular emfisema adalah kerusakan pada parenkim paru tanpa menimbulkan kerusakan pada asinus. Klasifikasi radiologik : Emfisema obstruktif : Akut Kronik Bullous Emfisema Non-obstruktif Kompensasi Non-sinilis 1) EMFISEMA LOBULARIS Emfisema lobaris biasanya terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan tulang rawan, bronkus, mukosa bronchial yang tebal, sumbatan mucus (mucous plug), penekanan bronkus dari luar oleh anomaly pembuluh darah. Gambaran radiologiknya berupa bayangan radiolusen pada bagian paru yang bersangkutan dengan pendorongan mediastinum kea rah kontralateral. 28 2) HIPERLUSEN IDIOPATIK UNILATERAL Hiperlusen idiopatik unilateral ialah emfisema yang unilateral dengan hipoplasi arteri pulmonalis dan gambaran bronkiektasis. Secara radiologic, paru yang terkena lebih radiolusen tanpa penambahan ukuran paru seperti pada umumnya emfisema lainnya. 3) EMFISEMA HIPERTROFIK KRONIK Terjadi sebagai akibat komplikasi penyakit paru seperti asma bronchial yang parah, bronkiektasis, peradangan paru berat, pneumokinosis ganas, dan tuberculosis. Gambaran radiologic menunjukkan peningkatan aerasi dan penambahan ukuran toraks yang biasanya hanya terjadi pada satu sisi. Sering ditemukan bleb atau bulla yang berupa bayangan radiolusen tanpa struktur jaringan paru. 4) EMFISEMA BULLA Bulla merupakan emfisema vesikuler setempat dengan ukuran antara 1-2 cm atau lebih besar, yang kadang-kadang sukar dibedakan dengan pneumotoraks. Penyebabnya sering tidak diketahui tapi dianggap sebagai akibat suatu penyakit paru yang menyebabkan penyumbatan seperti bronkiolitis atau peradangan akut lainnya dan perangsangan atau iritasi gas yang terhisap. Sering factor penyebabnya sudah tidak tampak lagi, tetapi akibatnya adalah emfisema bulla yang tetap atau bertambah besar. Gambaran radiologik berupa suatu kantong radiolusen di perifer lapangan paru, terutama bagian apeks paru dan bagian basal paru dimana jaringan paru normal sekitarnya akan terkompresi sehingga menimbulkan keluhan sesak nafas. 5) EMFISEMA KOMPENSASI Keadaan ini merupakan usaha tubuh secara fisiologik menggantikan jaringan paru yang tidak berfungsi (atelektasis) atau mengisi toraks bagian paru yang terangkat pada pneumoektomi. 29 6) EMFISEMA SINILIS Merupakan akibat proses degenerative org tua pada kolumna vertebra yang mengalami kifosis di mana ukuran anterior-posterior toraks bertambah sedangkan tinggi toraks secara vertical tidak bertambah, begitu pula bentuk diafragma dan peranjakan diafragma tetap tidak berubah. Keadaan ini akan menimbulkan atrofi septa alveolar dan jaringan paru berkurang dan akan diisi oleh udara sehingga secara radiologic tampak toraks yang lebih radiolusen, corakan bronkovaskuler yang jarang dan diafragma yang normal. Gambaran Foto Rontgen Emfisema pulmonal EMFISEMA LOBARIS 30 Emfisema Bulla 31 Klasifikasi Berdasarkan Perubahan Yang Terjadi Dalam Paru-Paru : 1) PLE (Panlobular Emphysema/panacinar) Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan umumnya juga merusak paru-paru bagian bawah. Terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Merupakan bentuk morfologik yang lebih jarang, dimana alveolus yang terletak distal dari bronkhiolus terminalis 32 mengalami pembesaran serta kerusakan secara merata. PLE ini mempunyai gambaran khas yaitu tersebar merata diseluruh paru-paru. PLE juga ditemukan pada sekelompok kecil penderita emfisema primer, Tetapi dapat juga dikaitkan dengan emfisema akibat usia tua dan bronchitis kronik. Penyebab emfisema primer ini tidak diketahui, tetapi telah diketahui adanya devisiensi enzim alfa 1-antitripsin.Alfa-antitripsin adalah anti protease. Diperkirakan alfa-antitripsin sangat penting untuk perlindungan terhadap protease yang terbentuk secara alami (Cherniack dan cherniack, 1983). Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan. Tipe ini sering disebut centriacinar emfisema, sering kali timbul pada perokok. 2) CLE (Sentrilobular Emphysema/Sentroacinar) Perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Merupakan tipe yang sering muncul dan memperlihatkan kerusakan bronkhiolus, biasanya pada daerah paru-paru atas. Inflamasi merambah sampai bronkhiolus tetapi biasanya kantung alveolus tetap bersisa. CLE ini secara selektif hanya menyerang bagian 33 bronkhiolus respiratorius. Dinding-dinding mulai berlubang, membesar, bergabung dan akhirnya cenderung menjadi satu ruang. Penyakit ini sering kali lebih berat menyerang bagian atas paru-paru, tapi cenderung menyebar tidak merata. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas. CLE lebih banyak ditemukan pada pria, dan jarang ditemukan pada mereka yang tidak merokok. 3) Emfisema Paraseptal Merusak alveoli lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam alveoli) sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumotorak spontan. PLE dan CLE sering kali ditandai dengan adanya bula tetapi dapat juga tidak. Biasanya bula timbul akibat adanya penyumbatan katup pengatur bronkiolus. Pada waktu inspirasi lumen bronkiolus melebar sehingga udara dapat melewati penyumbatan akibat penebalan mukosa dan banyaknya mukus. Tetapi sewaktu ekspirasi, lumen bronkiolus tersebut kembali menyempit, sehingga sumbatan dapat menghalangi keluarnya udara. Gambaran Radiologik Emfisema Secara Umum Akibat penambahan ukuran paru anterior posterior akan menyebabkan bentuk toraks kifosis, sedang penambahan ukuran paru vertical menyebabkan diafragma letak rendah dengan bentuk diafragma yang datar dan peranjakan diafragma berkurang pada pengamatan dengan fluoroskopi. 34 Dengan aerasi paru yang bertambah pada seluruh paru atau lobaris ataupun segmental, akan menghasilkan bayangan lebih radiolusen, sehingga corakan jaringan paru tampak lebih jelas selain gambaran fobrosisnya dan vascular paru yang relatif jarang. 35 5. ETIOLOGI Emfisema paru-paru primer dapat disebabkan oleh trauma yang langsung mengenai dada hingga sampai ke paru-paru. Tidak menutup kemungkinan, emfisema paru-paru diikuti oleh emfisema subkutan di sebagian besar tubuh. Emfisema primer jarang sekali terjadi terutama pada ternak besar karena paru-paru ternak dilindungi oleh tulang iga dan otototot yang kuat. Emfisema sekunder seringkali terjadi pada sebagian besar ternak. Emfisema sekunder merupakan kejadian lanjutan dari penyakit saluran pernafasan dan radang paru-paru, misalnya pneumonia suppurativa, pneumonia verminosa, pneumonia interstisial, bronchitis dan bronchiolitis. Kuda tua yang dirawat di kandang terus-menerus dengan kualitas pakan yang jelek dan berdebu maka mudah menderita emfisema alveolaris yang kronik tanpa diketahui sebab-sebabnya (heaves). Alergen yang tidak tersifat seperti debu kandang, spora jamur dan sebagainya akan dapat memudahkan timbulnya emfisema bagi hewan-hewan yang peka. Emfisema paru-paru mungkin dapat timbul sebagai lanjutan dari perubahan patologis di luar alat pernapasan yang disertai toksemia, misalnya mastitis yang disebabkan oleh E.coli. Adanya bahan-bahan iritan menyebabkan peradangan pada alveoli. Jika suatu peradangan berlangsung lama, bisa terjadi kerusakan yang menetap. Pada alveoli yang meradang, akan terkumpul sel-sel darah putih yang akan menghasilkan enzim-enzim (terutama neutrofil elastase), yang akan merusak jaringan penghubung di dalam dinding alveoli. Tubuh menghasilkan protein alfa-1-antitripsin, yang memegang peranan penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil estalase. Ada suatu penyakit keturunan yang sangat jarang terjadi, dimana hewan tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit alfa-1-antitripsin, sehingga emfisema terjadi pada usia muda. Pada sapi, emfisema bisa merupakan lesi karena pneumonia atipikal, pneumonia parasiter dan bisa juga dikarenakan anafilaksis (reaksi hipersensitifitas). Bentuk emfisema yang paling biasa terjadi pada hewan adalah emfisema alveolaris kronis atau pada kuda sering disebut heaves. 36 Penyebab utamanya kurang diketahui namun penyakit ini sering sekali terjadi pada kuda dewasa yang diberi pakan dengan kadar serat kasar yang rendah secara berkepanjangan dan semakin parah jika makanan berdebu. Emfisema ini juga umum terjadi pada kuda yang dikandangkan di gudang untuk periode yang lama. Emfisema akut terjadi karena perforasi (perlubangan) pulmo oleh karena adanya benda asing yang menusuk atau menyebabkan trauma. Kasus ini sering disebut Reticuloperitonitis Traumatik. Contoh kejadiannya adalah pada sapi atau kuda yang menelan benda tajam seperti paku secara tidak sengaja. Pada pemeriksaan mikroskopis biasanya ditemukan perubahan menahun dalam paru-paru antara lain : Proliferasi epitel dan propia mukosa bronkhus dan bhonkioli Hipertropi jaringan otot bronkhus, bhronkhioli pembuluh darah Penambahan jaringan limfoit dan penebalan septa alveoli karena jaringan ikat. 6. GEJALA KLINIS Pada umumnya gejala-gejala pada keadaan akut maupun kronik adalah sama,kecuali dalam derajat dispnoea yang tampak. Dalam keadaan akut, emfisema terjadi secara mendadak dengan dispnoea yang sangat meskipun penderita sedang istirahat. Usaha untuk memompa keluar udara pernafasan tampak dari pernafasan abdominal yang menonjol. Ekspirasi dilakukan lebih lama dan pada akhir ekspirasi udara didorong lebih keras ,sehingga sering terlihat ekspirasi ganda (dobel). Oleh kontraksi otot-otot perut pada kuda tua kandang juga terlihat keluarnya sebagian anus waktu ekspirasi. Derajat hipermi dari mukosa mata bervariasi. Dalam keadaan berat mukosa nampak siatonik. Titik-titik darah sering dijumpai, dikeluarkan bersama ingus atau dahak yang dibatukkan . Pada emfisema kuda yang dikenal sebagai “heaves” batuk bersifat kering, pendek-pendek dan segera meningkat bila dibawa berlari sebentar saja, batuk juga timbul apabila 37 daerah tenggorok ditekan, atau bila hewan ditempatkan pada kandang yang berdebu akan segera merangsang terjadinya batuk. Pemeriksaan secara auskultasi pada kuda akan terdengar suara krepitasi. Pada sapi daerah yang mengalami proses emfsema suara vesikuler hilang sama sekali,tinggal suara bronchial, friksi dan krepitasi. Pemeriksaan secara perkusi akan dijumpai di daerah perkusi paru-paru yang meluas ke belakang 2-3 rusuk. Daerah pekak jantung kadang berkurang atau hilang sama sekali. Suara timpani akan terdengar dari sebagian besar daerah perkusi. Auskultasi pada jantung akan terdengar suara yang teredam. Penderita emfisema paru-paru yang kronik biasanya jadi kurus. Gejala Emfisema secara khas terdiri dari : Sesak napas : volum paru-paru lebih besar dbandingkan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya. Batuk kronis Kehilangan nafsu makan sehingga berat badan meurun Kelelahan Menghasilkan dahak kuning atau hijau, bibir dan kuku mereka mungkin biru atau abu-abu yang rendah menunjukkan oksigen dalam tubuh Volume paru-paru lebih besar Dada seperti tong (barel chest) 7. DIAGNOSIS a) Diagnosis Umum Pada saat auskultasi akan terdengar suara krepitasi atau sibilant dan hal ini sering terjadi pada sapi. Sementara pada kuda, kita akan sering mendapatkan suara friksi. b) Pemeriksaan Patologi Klinik Karena tertahannya CO2 dalam darah akibat kegagalan eliminasi oleh sistem pernafasan, maka tubuh mengkompensasi 38 meningkatkan cadangan alkali. Polisitemia (peningkatan jumlah total sel-sel darah) sebagai kompensasi kekurangan O2 juga bisa terjadi. Polisitemia dapat dilihat melalui metode hematokrit. c) Pemeriksaan Nekropsi Paru-paru akan terlihat membesar dan pucat dan dapat terlihat adanya jejak (imprints) dari tulang iga pada pulmo. Pada kasus emfisema interstisial, septa interalveolar akan mengalami pengembungan (distensi) karena udara yang terjebak dan perubahan ini dapat meluas ke bagian atas yaitu ke lapisan bawah pleura atau lapisan atas pleura. Hal ini yang menyebabkan timbulnya suara krepitasi, sibilant dan friksi pada saat kita melakukan auskultasi. Hasil pemeriksaan nekropsi lainnya yang dapat terlihat adalah adanya bukti gagal jantung kongestif. Jantung akan terlihat berwarna merah kehitaman. Pemeriksaan histopatologis akan menunjukan adanya ruptur alveoli dan terjadinya bronchiolitis. d) Tes fungsi paru - untuk menentukan karakteristik dan kemampuan dari paru-paru. e) Spirometri - untuk mengukur jumlah udara yang dapat dipaksa keluar. f) Peak flow meter - untuk mengevaluasi perubahan dalam bernafas dan respon terhadap obat g) X-ray dada h) Dahak analisis - untuk memeriksa lendir untuk infeksi i) Elektrokardiogram (ecg atau ekg) - untuk mengukur aktivitas listrik jantung 8. PENATALAKSANAAN Obat-obat yang telah diujikan dalam praktek : kortikosteroid, antihistaminika, ekspektoransia, bronchodilatator dan antibiotika. Bronchodilatator dapat mengurangi kejang otot, misalnya agonis reseptor beta-adrenergik (albuterol inhaler) dan theophylline per- 39 oral (melalui mulut) yang diserap lambat.kortikosteroid dapat mengurangi peradangan. Tidak ada pengobatan terpercaya yang dapat mengurangi kekentalan lendir sehingga mudah dikeluarkan melalui batuk. Tetapi menghindari dehidrasi bisa mencegah pengentalan lendir. Minum cairan yang cukup untuk menjaga air kemih tetap encer dan bening. Apabila perubahan klinisnya belum terlalu jauh, emfisema yang bersifat kompensatorik dapat sembuh jika penyakit primernya dapat diatasi. Dapat juga diberikan oksigen yang akan mengurangi kelebihan sel darah merah yang disebabkan menurunnya kadar oksigen dalam darah, memperbaiki gagal jantung, juga bisa memperbaiki sesak nafas selama beraktivitas dan atropine untuk mengurangi hipoksia. 9. PENCEGAHAN Berhenti merokok Menghindari asap rokok, misalnya menggunakan masker Adanya larangan merokok dan sanksi yangtegas dpat berupa hukuman maupun denda uang Mengurangi kapasitas untuk kegiatan fisik Hewan yang sudah tua dirawat di kandang yang bersih dan sekalikali dikeluarkan. Hewan diberi pakan berkualitas baik dan tidak berdebu. Kebersihan kandang dijaga dari debu dan spora jamur. Polusi udara umumnya diberi batasan sebagai udara yang mengandung satu atau lebih zat kimia dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk dapat menyebabkan gangguan pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan harta benda. 10. KOMPLIKASI Sering mengalami infeksi pada saluran napas 40 Daya tahan tubuh kurang sempurna Tingkatkerusakan paru semakin parah Proses peradangan kronis pada saluran napas Pneumonia Atelektasis Pneumothoraks Gagal napas D. BRONKIEKTASIS 1. DEFINISI Bronkiektasis merupakan akibat dari proses patologis yang berlangsung luas dan lama, termasuk kelainan struktur bronkus (Defisiensi kartilago pada William Campbell Syndrome), penyakit akibat penimbunan mukus (Fibrosis kistik, kelainan fungsi silia), akibat infeksi (Pneumonia yang berat pada anak, defisiensi imunoglobulin) dan penyakit inflamasi (Kolitis ulceratif). Pada kebanyakan kasus, infeksi merupakan penyebab tersering dari inflamasi, kerusakan dan remodelling jalan nafas. 2. EPIDEMIOLOGI Bronkiektasis merupakan penyebab kematian yang amat penting pada negara-negara berkembang. Di negara-negara maju seperti AS, bronkiektasis mengalami penurunan seiring dengan kemajuan pengobatan. Prevalensi bronkiektasis lebih tinggi pada penduduk dengan golongan sosioekonomi yang rendah. Angka kejadian yang sebenarnya dari bronkiektasis tidak diketahui pasti. Di negara-negara Barat, insidens bronkiektasis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Insidens bronkiektasis cenderung menurun dengan adanya kemajuan pengobatan antibiotika. Akan tetapi perlu di ingat bahwa insidens ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara dan kelainan kongenital. Di Indonesia belum ada laporan tentang angka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini cukup sering ditemukan di klinikklinik dan diderita oleh laki-laki maupun wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai sejak anak bahkan dapat berupa kelainan kongenital. 3. ETIOLOGI Etiologi bronkiektasis sampai sekarang masih belum jelas. Namun diduga bronkiektasis dapat timbul secara kongenital maupun didapat. a. Kelainan kongenital 41 Dalam hal ini, bronkiektasis terjadi sejak individu masih dalam kandungan. Faktor genetik atau faktor pertumbuhan dan perkembangan memegang peranan penting. Bronkiektasis yang timbul kongenital biasanya mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua bronkus. Selain itu, bronkiektasis kongenital biasanya menyertai penyakit-penyakit kongenital seperti Fibrosis kistik, Sindroma Kertagener, William Campbell syndrome, Mounier-Kuhn syndrome, dll. b. Kelainan didapat Bronkiektasis sering merupakan kelainan didapat dan kebanyakan merupakan proses berikut: Infeksi o Campak o Pertusis o Infeksi adenovirus o Infeksi bakteri contohnya Klebsiella, Staphylococcus atau Pseudomonas. o Influenza o Tuberkulosa o Infeksi mikoplasma Penyumbatan bronkus o Benda asing yang terisap o Pembesaran kelenjar getah bening o Tumor paru o Sumbatan oleh lendir Cedera penghirupan o Cedera karena asap, gas atau partikel beracun o Menghirup getah lambung dan partikel makanan Kelainan imunologik o Sindroma kekurangan immunoglobulin o Disfungsi sel darah putih o Defisiensi komplemen 42 o Infeksi HIV o Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti artritis rematoid, kolitis ulcerativ Keadaan lain Penyalahgunaan obat (misalnya heroin) 4. GEJALA KLINIS Manifestasi klasik dari bronkiektasis adalah batuk dan produksi sputum harian yang mukopurulen sering berlangsung bulanan sampai tahunan. Sputum yang bercampur darah atau hemoptisis dapat menjadi akibat dari kerusakan jalan nafas dengan infeksi akut. Variasi yang jarang dari bronkiektasis kering yakni hemoptisis episodik dengan sedikit atau tanpa produksi sputum. Bronkiektasis kering biasanya merupakan sekuele (gejala sisa) dari tuberculosis dan biasanya ditemukan pada lobus atas. Gejala spesifik yang jarang ditemukan antara lain dyspnea, nyeri dada pleuritik, wheezing, demam, mudah lelah dan berat badan menurun. Pasien relatif mengalami episode berulang dari bronkitis atau infeksi paru, yang merupakan eksaserbasi dari bronkiektasis dan sering membutuhkan antibiotik. Infeksi bakteri yang akut ini sering diperberat dengan onsetnya oleh peningkatan produksi sputum yang berlebihan, peningkatan kekentalan sputum, dan kadang-kadang disertai dengan sputum yang berbau. Batuk kronik yang produktif merupakan gejala yang menonjol. Terjadi hampir 90% pasien. Beberapa pasien hanya menghasilkan sputum dengan infeksi saluran pernafasan atas yang akut. Tetapi sebaliknya, pasien-pasien itu mengalami infeksi yang diam. Sputum yang dihasilkan dapat berbagai macam, tergantung berat ringannya penyakit dan ada tidaknya infeksi sekunder. Sputum dapat berupa mukoid, mukopurulen, kental dan purulen. Jika terjadi infeksi berulang, sputum menjadi purulen dengan bau yang tidak sedap. Dahulu, jumlah total sputum harian digunakan untuk membagi karakteristik berat ringannya 43 bronkiektasis. Sputum yang kurang dari 10 ml digolongkan sebagai bronkiektasis ringan, sputum dengan jumlah 10-150 ml perhari digolongkan sebagai bronkiektasis moderat dan sputum lebih dari 150 ml digolongkan sebagai bronkiektasis berat. Namun sekarang, berat ringannya bronkiektasis dikalsifikasikan berdasarkan temuan radiologis. Pada pasien fibrosis kistik, volume sputum pada umumnya lebih banyak dibanding penyakit penyebab bronkiektasis lainnya. Hemoptisis terjadi pada 56-92% pasien dengan bronkiektasis. Homoptisis mungkin terjadi masif dan berbahaya bila terjadi perdarahan pada arteri bronkial. hemoptisis biasanya terjadi pada bronkiektasis kering, walaupun angka kejadian dari bronkiektasis tipe ini jarang ditemukan. Dyspnea terjadi pada kurang lebih 72% pasien bronkiektasis tapi bukan merupakan temuan yang universal. Biasanya terjadi pada pasien dengan bronkiektasis luas yang terlihat pada gambaran radiologisnya. Wheezing sering dilaporkan dan mungkin akibat obstruksi jalan nafas yang diikuti oleh destruksi dari cabang bronkus. Seperti dyspnea, ini juga mungkin merupakan kondisi yang mengiringi, seperti asma. Nyeri dada pleuritik kadang-kadang ditemukan, terjadi pada 46% pasien pada sekali observasi. Paling sering merupakan akibat sekunder pada batuk kronik, tetapi juga terjadi pada eksaserbasi akut. Penurunan berat badan sering terjadi pada pasien dengan bronkiektasi yang berat. Hal ini terjadi sekunder akibat peningkatan kebutuhan kalori berkaitan dengan peningkatan kerja pada batuk dan pembersihan sekret pada jalan nafas. Namun, pada umumnya semua penyakit kronik disertai dengan penurunan berat badan. Demam biasanya terjadi akibat infeksi yang berulang. 5. DIAGNOSIS Foto thorax Dengan pemeriksaan foto thoraks, maka pada bronkiektasis dapat ditemukan gambaran seperti dibawah ini: 44 o Ring shadow Terdapat bayangan seperti cincin dengan berbagai ukuran (dapat mencapai diameter 1 cm). dengan jumlah satu atau lebih bayangan cincin sehingga membentuk gambaran ‘honeycomb appearance’ atau ‘bounches of grapes’. Bayangan cincin tersebut menunjukkan kelainan yang terjadi pada bronkus. Tampak Ring Shadow yang pada bagian bawah paru yang menandakan adanya dilatasi bonkus Tampak Ring Shadow yang menandakan adanya dilatasi bonkus 45 Tramline shadow Gambaran ini dapat terlihat pada bagian perifer paru-paru. Bayangan ini terlihat terdiri atas dua garis paralel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah berwarna hitam. Gambaran seperti ini sebenarnya normal ditemukan pada daerah parahilus. Tramline shadow yang sebenarnya terlihat lebih tebal dan bukan pada daerah parahilus. Tampak dilatasi bronkus yang ditunjukkan oleh anak panah Tramline shadow terlihat diantara bayangan jantung Tubular shadow Ini merupakan bayangan yang putih dan tebal. Lebarnya dapat mencapai 8 mm. gambaran ini sebenarnya menunjukkan bronkus yang penuh dengan sekret. Gambaran ini jarang ditemukan, namun gambaran ini khas untuk bronkiektasis. 46 Glove finger shadow Gambaran ini menunjukkan bayangan sekelompok tubulus yang terlihat seperti jari-jari pada sarung tangan. - Bronkografi Bronkografi merupakan pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke dalam sistem saluran bronkus pada berbagai posisi (AP, Lateral, Oblik). Pemeriksaan ini selain dapat menentukan adanya bronkiektasis, juga dapat menentukan bentuk-bentuk bronkiektasis yang dibedakan dalam bentuk silindris (tubulus, fusiformis), sakuler (kistik) dan varikosis. Pemeriksaan bronkografi juga dilakukan pada penderita bronkiektasis yang akan di lakukan pembedahan pengangkatan untuk menentukan luasnya paru yang mengalami bronkiektasis yang akan diangkat. 47 Pemeriksaan bronkografi saat ini mulai jarang dilakukan oleh karena prosedurnya yang kurang menyenangkan terutama bagi pasien dengan gangguan ventilasi, alergi dan reaksi tubuh terhadap kontras media. - CT-Scan thorax CT-Scan dengan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk mendiagnosis bronkiektasis, mengklarifikasi temuan dari foto thorax dan melihat letak kelainan jalan nafas yang tidak dapat terlihat pada foto polos thorax. CTScan resolusi tinggi mempunyai sensitivitas sebesar 97% dan spesifisitas sebesar 93%. CT-Scan resolusi tinggi akan memperlihatkan dilatasi bronkus dan penebalan dinding bronkus. Modalitas ini juga mampu mengetahui lobus mana yang terkena, terutama penting untuk menentukan apakah diperlukan pembedahan. 6. PENATALAKSANAAN Pengobatan pasien bronkiektasis terdiri atas 2 kelompok, yaitu : Pengobatan konservatif Pengelolaan umum, meliputi 48 Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat bagi pasien Memperbaiki drainase sekret bronkus Mengontrol infeksi saluran napas, misalnya dengan pemberian antibiotik. Pengelolaan khusus Kemoterapi pada bronkiektasis Drainase sekret dengan bronkoskopi Pengobatan simtomatik Pengobatan obstruksi bronkus, misalnya dengan obat bronkodilator. Pengobatan hipoksia, dengan pemberaian oksigen. Pengobatan Hemoptisis misalnya dengan obat-obat hemostatik. Pengobatan demam, dengan pemberian antibiotik dan antipiretik. Pengobatan Pembedahan Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkat (reseksi) segmen atau lobus yang terkena. Indikasinya pada pasien bronkiektasis yang terbatas dan resektabel, yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat, selain itu juga pada pasien bronkiektasis terbatas, tetapi sering mengalami infeksi berulang atau hemoptisis yang berasal dari daerah tersebut. Pasien dengan hemoptisis masif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi. 7. PROGNOSIS a. Kelangsungan Hidup Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat-ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat (konservatif atau pembedahan) dapat memperbaiki prognosis penyakit. 49 Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati, prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan lebih dari 5-15 tahun. Kematian pasien tersebut biasanya karena pneumonia, empiema, payah jantung kanan, hemoptisis dan lain-lain. Pada kasus-kasus tanpa komplikasi bronkitis kronik berat dan difus biasanya disabilitasnya ringan. b. Kelangsungan Organ Kelainan pada bronkiektasis biasanya mengenai bronkus dengan ukuran sedang. Adanya peradangan dapat menyebabkan destruksi lapisan muscular dan elastic dari bronkus serta dapat pula menyebabkan kerusakan daerah peri bronchial. Kerusakan ini biasanya akan menyebabkan timbulnya daerah fibrosis terutama pada daerah peribronkial. E. PNEUMONIA INTERSTISIAL 1. DEFINISI Pneumonia adalah suatu peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri.virus,jamur,protozoa). Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mkroorganisme (bakteri.virus,jamur,protozoa). Pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk, sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-obatan dan lain-lainnya) disebut pneumonitis. 2. EPIDEMIOLOGI UNICEF memperkirakan bahwa 3 juta anak di dunia meninggal karena penyakit pneumonia setiap tahun. Kasus pneumonia di Negara berkembang tidak hanya lebih sering didapatkan tetapi juga lebih berat dan banyak menimbulkan kematian pada anak. Insiden puncak pada 50 umur 1-5 tahun dan menurun dengan bertambahnya usia anak. Mortalitas diakibatkan oleh bacteremia oleh karena Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus aureus, tetapi di Negara berkembang juga berkaitan dengan malnutrisi dan akses perawatan. Di Indonesia, prevalensi kejadian pneumonia pada tahun 2013 sebesar 4,5% (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Selain itu, pneumonia merupakan salah satu dari 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit, dengan proporsi kasus 53,95% laki-laki dan 46,05% perempuan. Pneumonia memiliki tingkat crude fatality rate (CFR) yang tinggi, yaitu 7,6% (PDPI, 2014). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi pneumonia pada usia lanjut mencapai 15,5% (Kementerian Kesehatan RI, 2013) 3. ETIOLOGI Pola kuman penyebab pneumonia biasanya berubah sesuai dengan distribusi umur pasien. Namun secara umum bakteri yang berperan penting dalam pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae, Staphylococcus aureus, Streptococcus group B serta kuman atipik Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae. Usia Etiologi yang sering Bakteri E. colli Streptococcus group B Listeria monocytogenes Lahir – 20 hari 3 minggu – 3 bulan Bakteri Chlamydia trachomatis Streptococcus pneumoniae Virus Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza Respiratory Syncytial virus Etiologi yang jarang Bakteri Bakteri anaerob Streptococcus group D Haemophillus influenzae Streptococcus pneumoniae Ureaplasma urealyticum Virus Virus Sitomegalo Virus Herpes simpleks Bakteri Bordetella pertussis Haemophillus influenzae tipe B Moraxella catharalis Staphylococcus aureus Ureaplasma urealyticum Virus Virus Sitomegalo 51 4 bulan – 5 tahun Bakteri Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Virus Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza 1, 2, 3 Virus Rino Respiratory Syncytial virus Bakteri Haemophillus influenzae tipe B Moraxella catharalis Neisseria meningitidis Staphylococcus aureus Virus Bakteri Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae Bakteri Haemophillus influenzae Legionella sp Staphylococcus aureus Virus Virus Adeno Virus Epstein-Barr Virus Influenza Virus Parainfluenza Virus Rino Respiratory Syncytial Virus Virus Varisela-Zoster 5 tahun remaja Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, dan hal ini berdampak kepada obat yang akan diberikan. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti (community-acquired) yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit (nosokomial-acquired) banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negative. Lokasi Sumber Masyarakat (communityacquired) Penyebab Streptococcus pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Haemophilus pneumoniae Chlamydia pneumoniae 52 Basil usus gram negative (misal, Escherchia coli, Rumah sakit (hospitalKlebisiella pneumonia) acquired) Pseudomonas aeruginosa Staphylococcus aureus Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroornagisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Resiko infeksi di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai permukaan : - Inokulasi langsung - Penyebaran melalui pembuluh darah - Inhalasi bahan aerosol - Kolonisasi dipermukaan mukosa Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah secara kolonisasi. Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur. Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5 -2,0 mm melalui udara dapat mencapai bronkus terminal atau alveoli dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Setelah mikroba samapai ke saluran napas bawah, maka ada empat rute masuknya mikroba tersebut ke dalam saluran napas bagian bawah yaitu: - Aspirasi, merupakan rute terbanyak pada kasus-kasus tertentu seperti kasus neurologis dan usia lanjut - Inhalasi, misalnya kontaminasi pada alat-alat bantu napas yang digunakan pasien - Hematogenik - Penyebaran langsung Terjadi infeksi dalam alveoli, membran paru mengalami peradangan dan berlubang-lubang sehingga cairan dan bahkan sel darah merah dan sel 53 darah putih keluar dari pembuluh darah masuk ke dalam alveoli. Dengan demikian, alveoli yang terinfeksi disebarkan oleh perpindahan bakteri dari alveolus ke alveolus. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena mikroorganisme penyebab yang paling sering adalah bakteri anaerob sehingga oksigenasi berkurang atau tidak terlalu dibutuhkan, disamping itu juga karena efek gravitasi. Adapun cara terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya infeksi melalui droplet sering disebabkan Streptococcus pneumoniae, melalui selang infus oleh Staphylococcus aureus sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh Pseudomonas aeruginosa dan Enterobacter. Faktor resiko yang berkaitan dengan pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme adalah usia lanjut, penyakit jantung, alkoholisme, diabetes melitus, penggunaan ventilator mekanik, PPOK, immune defect, serta terapi khusus. Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium yaitu: 1) Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti) Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida 54 maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. 2) Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam. 3) Stadium III (3 – 8 hari) Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti. 4) Stadium IV (7 – 11 hari) Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.15 Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman atau penyebaran langsung kuman dari respiratorik atas. Hanya sebagian kecil merupakan akibat sekunder dari bakterimia atau viremia atau penyebaran dari infeksi intra abdomen. Dalam keadaan normal mulai dari sublaring hingga unit terminal adalah steril. Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dan lingkungan, maka mikroorganisme dapat masuk, berkembang biak dan 55 menimbulkan penyakit. Paru terlindung dari infeksi dengan beberapa mekanisme : Filtrasi partikel di hidung Pencegahan aspirasi dengan refleks epiglottis Ekspulsi benda asing melalui refleks batuk Pembersihan kearah kranial oleh mukosiliar Fagositosis kuman oleh makrofag alveolar Netralisasi kuman oleh substansi imun lokal Drainase melalui sistem limfatik. 4. KLASIFIKASI 1. Menurut sifatnya, yaitu: a. Pneumonia primer, yaitu radang paru yang terserang pada orang yang tidak mempunyai faktor resiko tertentu. Kuman penyebab utama yaitu Staphylococcus pneumoniae ( pneumokokus), Hemophilus influenzae, juga Virus penyebab infeksi pernapasan( Influenza, Parainfluenza, RSV). Selain itu juga bakteri pneumonia yang tidak khas( “atypical”) yaitu mykoplasma, chlamydia, dan legionella. b. Pneumonia sekunder, yaitu terjadi pada orang dengan faktor predisposisi, selain penderita penyakit paru lainnnya seperti COPD, terutama juga bagi mereka yang mempunyai penyakit menahun seperti diabetes mellitus, HIV, dan kanker,dll. 2. Berdasarkan Kuman penyebab a. Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik,Staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza. b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia c. Pneumonia virus, disebabkan oleh virus RSV, Influenza virus d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised). 56 3. Berdasarkan klinis dan epidemiologi a. Pneumonia komuniti (Community-acquired pneumonia= CAP) pneumonia yang terjadi di lingkungan rumah atau masyarakat, juga termasuk pneumonia yang terjadi di rumah sakit dengan masa inap kurang dari 48 jam. b. Penumonia nosokomial (Hospital-acquired Pneumonia= HAP) merupakan pneumonia yang terjadi di “rumah sakit”, infeksi terjadi setelah 48 jam berada di rumah sakit. Kuman penyebab sangat beragam, yang sering di temukan yaitu Staphylococcus aureus atau bakteri dengan gramm negatif lainnya seperti E.coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeroginosa, Proteus, dll. Tingkat resistensi obat tergolong tinggi untuk bakteri penyebab HAP. c. Pneumonia aspirasi 4. Berdasarkan lokasi infeksi a. Pneumonia lobaris Pneumonia focal yang melibatkan satu / beberapa lobus paru. Bronkus besar umumnya tetap berisi udara sehingga memberikan gambaran airbronchogram. Konsolidasi yang timbul merupakan hasil dari cairan edema yang menyebar melalui pori-pori Kohn. Penyebab terbanyak pneumonia lobaris adalah Streptococcus pneumoniae. Jarang pada bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen. Kemungkinan sekunder disebabkan oleh adanya obstruksi bronkus seperti aspirasi benda asing, atau adanya proses keganasan. b. Bronko pneumonia (Pneumonia lobularis) Inflamasi paru-paru biasanya dimulai di bronkiolus terminalis. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. Ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate multifocal pada lapangan paru. Dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua. Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus. 57 C. Pneumonia interstisial Terutama pada jaringan penyangga, yaitu interstitial dinding bronkus dan peribronkil. Peradangan dapat ditemumkan pada infeksi virus dan mycoplasma. Terjadi edema dinding bronkioli dan juga edema jaringan interstisial prebronkial. Radiologis berupa bayangan udara pada alveolus masih terlihat, diliputi perselubungan yang tidak merata. 5. DIAGNOSIS Gambaran Klinis dan Pemeriksaan Fisik Gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia. Gejalanya meliputi : Gejala mayor : 1. Batuk 2. Sputum Produktif 3. Demam suhu (>38) Gejala minor : 1. Sesak nafas 2. Nyeri dada 3. Konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik 4. Jumlah leukosit >12.000/µL Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas akut bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40º C, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi. Juga disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang berdarah. Pada pemeriksaan fisik dada terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernafas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronchial yang kadangkadang melemah. Mungkin disertai ronkhi halus, yang kemudian menjadi ronkhi basah kasar pada stadium resolusi. a. Pemeriksaan Radiologi Pada foto konvensional, secara umum tidak mungkin mendiagnosis suatu agen penyebab infeksi dari jenis bayangannya saja. Sehingga dibutuhkan keterangan klinis, laboratoris seperti jumlah leukosit dan hitung jenis. 58 Oleh karena itu pada dasarnya semua pemeriksaan saling melengkapi dan saling membantu dalam menegakkan suatu diagnosis. American Thoracic Society merekomendasikan posisi PA (posteroanterior) dan lateral (jika dibutuhkan) sebagai modalitas utama yang di gunakan untuk melihat adanya pneumonia. Gambaran pneumonia pada foto thorax sebenarnya sama seperti gambaran konsolidasi radang. Prinsipnya jika udara dalam alveoli digantikan oleh eksudat radang, maka bagian paru tersebut akan tampak lebih opaq pada foto Roentgen. Jika kelainan ini melibatkan sebagian atau seluruh lobus disebut lobaris pneumoniae, sedangkan jika berupa bercak yang mengikutsertakan alveoli secara tersebar maka disebut bronchopneumoniae. Adapun gambaran radiologis foto thorax pada pneumonia secara umum antara lain: a. Perselubungan padat homogen atau inhomogen b. Batas tidak tegas, kecuali jika mengenai 1 segmen lobus c. Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru mengecil. Tidak tampak deviasi trachea/septum/fissure/seperti pada atelektasis. Air bronchogram sign adalah bayangan udara yang terdapat di dalam 59 percabangan bronkus yang dikelilingi oleh bayangan opaq rongga udara yang akan tampak jelas jika udara tersebut tergantikan oleh cairan/eksudat akibat proses inflamasi. Pada saat kondisi seperti itulah, maka dikatakan air bronchogram sign positif (+) Sillhoute sign adalah suatu tanda adanya dua bayangan benda (objek) yang berada dalam satu bidang seakan tumpang tindih. Tanda ini bermanfaat untuk menentukan letak lesi paru ; jika batas lesi dengan jantung hilang, berarti lesi tersebut berdampingan dengan jantung atau di lobus medius kanan. Maka akan disebut sebagai sillhoute sign (+). I. Pneumonia Interstisial Umumnya jenis pneumonia intersisial ini disebabkan oleh virus. Infeksi dari virus berawal dari permukaan dengan terjadinya kerusakan silia sel goblet dan kelenjar mukus bronkioli, sehingga dinding bronkioli menjadi edematous. Juga terjadi edema di jaringan interstisial peribronkial. Kadang-kadang alveolus terisi cairan edema. Pneumonia interstisial dapat juga dikatakan sebagai pneumonia fokal/difus, di mana terjadi infiltrasi edema dan sel-sel radang terhadap jaringan interstisial paru. Septum alveolus berisi infiltrat limfosit, histiosit, sel plasma dan neutrofil. Dapat timbul pleuritis apabila peradangan mengenai pleura viseral. Pada fase akut tampak gambaran bronchial cuffing, yaitu penebalan dan edema dinding bronkiolus. Corakan bronkovaskular meningkat, hiperaerasi, bercak-bercak inifiltrat dan efusi pleura juga dapat ditemukan. 60 Usual Interstitial Pneumonia Definisi Pneumonia interstisial biasa (UIP) mengacu pada entitas morfologis didefinisikan oleh kombinasi fibrosis interstisial tambal sulam dengan daerah bolak paru-paru normal, heterogenitas temporal fibrosis ditandai dengan fokus fibroblastik tersebar di latar belakang kolagen acellular padat, dan perubahan arsitektur karena jaringan parut kronis atau perubahan sarang lebah. 10 Istilah UIP sering digunakan secara bergantian dengan fibrosis paru idiopatik (IPF), tetapi kondisi klinis lainnya dikaitkan dengan UIP, meskipun kurang umum, termasuk penyakit vaskular kolagen, toksisitas obat, pneumonitis hipersensitivitas kronis, asbestosis, IPF familial, dan sindrom Hermansky-Pudlak. . Jadi, UIP tidak sepenuhnya identik dengan IPF, dan diagnosis IPF membutuhkan pengecualian kemungkinan kondisi klinis yang mendasari, seperti yang disebutkan di atas. 11 Menurut pernyataan konsensus European American Thoracic Society (ATS) / European Respiratory Society (ERS), IPF didefinisikan sebagai tipe khas pneumonia interstisial fibrosing kronis yang tidak diketahui penyebabnya terbatas pada paru-paru dan dengan gambaran histologis dari UIP pada biopsi paru bedah atau temuan uji fungsi klinis, radiologis, dan paru tertentu tanpa adanya bedah biopsi paru. Etiologi Penyebab pneumonia interstisial biasa (UIP) pada pasien dengan fibrosis paru idiopatik (IPF) tidak diketahui oleh definisi (yaitu, IPF didefinisikan sebagai UIP idiopatik). Beberapa asosiasi telah diidentifikasi, termasuk merokok, penyakit gastroesophageal reflux, paparan pekerjaan terhadap kayu dan berbagai debu terkait pekerjaan lainnya, virus Epstein-Barr, dan virus hepatitis C. Telah didalilkan bahwa tidak ada agen etiologi tunggal berfungsi sebagai peristiwa menghasut umum tetapi lebih bahwa pasien yang terkena mungkin memiliki cacat umum dalam jalur reparatif (yaitu, penyembuhan luka abnormal). 61 Gambaran Klinis dan Imaging Pneumonia interstisial biasa (UIP) lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita. Pasien dengan UIP biasanya hadir pada dekade keenam atau ketujuh dari kehidupan dengan dispnea progresif lambat dan batuk refrakter nonproduktif terhadap agen antitusif. Gejala konstitusional tidak biasa, dan clubbing digital berkembang pada 25% -50% pasien. Meskipun tidak spesifik, kretek akhir akhir velcro-jenis halus pada auskultasi dada merupakan temuan fisik yang khas pada hampir semua pasien. Ciri-ciri gagal jantung kanan (cor pulmonale) dan edema perifer dapat berkembang biasanya pada stadium lanjut penyakit. Sebagian besar pasien menunjukkan kelainan fungsi paru restriktif, termasuk mengurangi volume paru-paru dengan relatif pelestarian aliran udara, penurunan kapasitas difusi karbon monoksida (DLCO) dengan hipoksemia saat istirahat dan / atau dengan olahraga. 11 Imaging Peran relatif dari studi pencitraan dan biopsi paru bedah pada pasien dengan UIP telah berubah selama dekade terakhir. Komputasi tomografi resolusi tinggi (HRCT) telah sangat meningkatkan akurasi diagnostik dibandingkan radiografi toraks konvensional dan oleh karena itu merevolusi peran radiologi dalam mengelola pasien dengan UIP, serta dengan penyakit paru interstitial difus pada umumnya. Ahli radiologi berpengalaman dapat membuat diagnosis spesifik UIP dengan tingkat akurasi yang tinggi pada pasien dengan temuan radiologi khas, yang menghasilkan pemesanan biopsi paru bedah untuk pasien dengan temuan radiologi atipikal. Dalam konteks ini, sebagian besar bukti menunjukkan bahwa diagnosis histopatologi dari UIP tetap merupakan prediktor paling penting dari hasil pada saat diagnosis dan dengan demikian tetap standar kriteria untuk diagnosis. Abnormalitas radiografi dada yang paling umum pada pasien dengan IPF adalah opasitas retikuler perifer, paling ditandai pada basis, dan sering dikaitkan dengan kehilangan volume lobus dan rendah-lobus. 11 62 Secara radiologis, pneumonia interstisial biasa terlihat pada CT scan. Fibrosis Honeycomb terlihat di pangkalan kedua paru-paru. Kekeruhan reticular intralobular. Permukaan pleura tidak beraturan. Penebalan tidak teratur dari septa interlobular. Penebalan bundel bronkovaskular yang tidak teratur. Nonspecific Interstitial Pneumonia Definisi Pneumonia interstisial nonspesifik (NSIP) adalah bentuk penyakit paru interstisial. Pada histologi, ini menunjukkan proses interstisial yang seragam secara temporal dengan berbagai proporsi peradangan interstisial dan fibrosis. 63 Menurut definisi, kasus NSIP adalah mereka yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu kategori lain pneumonia interstisial idiopatik (pneumonia interstisial biasa (UIP), pneumonia interstisial akut (AIP), pneumonia interstitial deskuamatif / bronchiolitis pernapasan- penyakit paru interstisial terkait [DIP / RB-ILD], pengorganisasian pneumonia [OP], pneumonia interstitial limfoid (LIP). 10 Gejala NSIP mirip dengan penyakit lain, terutama fibrosis paru idiopatik, tes harus dilakukan untuk menyingkirkan gangguan terkait lainnya. Diagnosis penyakit tergantung pada kombinasi faktor klinis, radiologis dan lainnya. Tes fungsi paru dapat diperintahkan untuk menilai seberapa baik paru-paru bekerja dan tingkat karbon dioksida dan pertukaran oksigen. 10 Umumnya, computed tomography (CT) scan resolusi tinggi dilakukan untuk membantu mendiagnosis NSIP. CT scan pasien dengan NSIP menunjukkan pola "Ground Glass" khas yang mewakili peradangan interstitial, dan biasanya terlihat dalam bentuk seluler. Bekas luka, atau fibrosis, akan terlihat dalam bentuk fibrotik. 10 Kadang-kadang, bronkoskopi dilakukan untuk membantu diagnosis penyakit. Tabung fleksibel yang disebut bronkoskop dimasukkan ke dalam saluran pernapasan (bronkus) paru-paru, dan cairan saline dilewatkan melalui bronkoskop. Setelah bersentuhan dengan saluran udara dan alveoli, cairan disedot (disedot keluar) dan dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut. Ini disebut lavage bronchoalveolar. Peningkatan kadar limfosit (sel darah putih) dalam cairan telah terdeteksi pada lebih dari setengah pasien dengan NSIP, tetapi ini tidak selalu spesifik untuk penyakit ini. Biopsi juga dapat diambil selama bronkoskopi untuk melihat lebih dekat pada jaringan paru-paru untuk peradangan atau jaringan parut. Pada banyak pasien, biopsi paru bedah mungkin diperlukan untuk membuat diagnosis definitif. Etiologi Sebagian besar kasus NSIP bersifat idiopatik. Namun, pola NSIP dapat dilihat sekunder untuk berbagai penyakit sistemik dan eksposur. NSIP adalah manifestasi paling umum dari penyakit vaskular kolagen di paru-paru, [1, 5] dan 64 diagnosis NSIP dapat mendahului diagnosis penyakit vaskular kolagen selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. NSIP adalah manifestasi yang relatif umum dari polymyositis / dermatomiositis, sklerosis sistemik progresif, dan penyakit jaringan ikat campuran. Sementara pola lain keterlibatan paru-paru telah dijelaskan lebih sering pada rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik, dan sindrom Sjögren, pola NSIP juga telah dijelaskan. 10 NSIP juga telah dikaitkan dengan paparan berbagai obat. Oleh karena itu, diagnosis NSIP harus mengarah pada pemeriksaan klinis yang hati-hati untuk penyakit jaringan ikat dan kemungkinan reaksi obat yang merugikan sebelum NSIP idiopatik didiagnosis. Selanjutnya, pola NSIP dapat dilihat pada pasien dengan pneumonia hipersensitivitas (pneumonia interstitial seluler tanpa temuan klasik lain dari bronchiolitis kronis dan granuloma yang terbentuk dengan buruk) atau yang baru mengalami cedera paru akut (yaitu, histologis tumpang tindih antara mengatur kerusakan alveolar difus [DAD] ] dan NSIP). Oleh karena itu, riwayat klinis, perjalanan penyakit, eksposur, dan temuan radiografi harus berkorelasi sebelum NSIP idiopatik didiagnosis. Gambaran Klinis dan Imaging Presentasi klinis NSIP umumnya tidak spesifik. Individu dengan NSIP biasanya berusia paruh baya, dengan usia rata-rata yang dilaporkan pada permulaan sekitar 50-60 tahun. Namun, usia saat onset sangat bervariasi, dan NSIP juga telah dilaporkan pada anak-anak. Mungkin ada sedikit dominasi wanita. Berbeda dengan DIP / RB-ILD, NSPI tampaknya tidak terkait dengan merokok. NSIP paling sering bermanifestasi sebagai onset sesak nafas yang berbahaya selama beberapa bulan, sering disertai batuk. Gejala penyajian lainnya mungkin termasuk demam dan penurunan berat badan. Sebagian besar pasien memiliki temuan terbatas pada tes fungsi paru. Temuan radiografi yang paling umum di NSIP adalah kekeruhan groundglass bilateral dan, dalam NSIP fibrotik, infiltrat reticular halus. Area konsolidasi mungkin ada. Seperti UIP, NSIP biasanya memiliki keterlibatan paru-paru 65 bilateral dengan predileksi lobus bawah, dan bronkiektasis traksi / bronkiolektasis biasanya diidentifikasi. 10 Pengobatan Pneumonia Tabel 3. Rekomendasi Terapi Empiris (ATS 2001) Kategori Keterangan Kuman Penyebab Obat Pilihan I Obat Pilihan II Kategori I Usia -S.pneumonia - Klaritromisin - Siprofloksasin penderita -M.pneumonia 2x250 mg 2x500mg atau < 65 tahun -C.pneumonia -Azitromisin Ofloksasin 2x400mg -Penyakit -H.influenzae Penyerta (-) -Legionale sp -Dapat berobat jalan - 1x500mg - Rositromisin 1x500mg atau -S.aureus 2x150 mg atau Moxifloxacin -M,tuberculosis 1x300 mg 1x400mg - Doksisiklin 2x100mg -Batang Gram (-) Kategori II -Usia -S.pneumonia penderita 65 tahun - - Levofloksasin > H.influenzae Batang gram(-) Peny. Aerob Penyerta (+) S.aures -Dapat M.catarrhalis berobat jalan Legionalle sp -Sepalospporin -Makrolid generasi 2 -Levofloksasin -Trimetroprim -Gatifloksasin +Kotrimoksazol -Moxyfloksasin -Betalaktam 66 Kategori -Pneumonia -S.pneumoniae - Sefalosporin -Piperasilin III berat. -H.influenzae Generasi 2 atau tazobaktam 3 -Sulferason - Perlu -Polimikroba dirawat di termasuk Aerob + - Betalaktam + RS,tapi tidak -Batang Gram (-) Penghambat perlu di ICU -Legionalla sp Betalaktamase -S.aureus +makrolid M.pneumoniae Kategori -Pneumonia -S.pneumonia - Sefalosporin -Carbapenem/ IV berat -Legionella sp generasi 3 meropenem -Perlu dirawat -Batang Gram (-) (anti -Vankomicin di ICU aerob pseudomonas) -Linesolid -M.pneumonia + makrolid -Teikoplanin -Virus -H.influenzae - Sefalosporin generasi 4 -M.tuberculosis - Sefalosporin -Jamur endemic generasi 3 + kuinolon Prognosis Penumonia Angka morbiditas dan mortalitas pneumonia menurun sejak ditemukannya antibiotik. Faktor yang berperan adalah patogenitas kuman, usia, penyakit dasar dan kondisi pasien. Secara umum angka kematian pneumonia pneumokokus adalah sebesar 5%, namun dapat meningkat menjadi 60% pada orang tua dengan kondisi yang buruk misalnya gangguan imunologis, sirosis hepatis, penyakit paru obstruktif kronik, atau kanker. Adanya leukopenia, ikterus, terkenanya 3 atau lebih lobus dan komplikasi ekstraparu merupakan petanda prognosis yang buruk. Kuman gram negatif menimbulkan prognosis yang lebih jelek. Prognosis pada orang tua dan anak kurang baik, karena itu perlu perawatan di RS kecuali bila penyakitnya ringan. Orang dewasa (<60 tahun) dapat berobat jalan kecuali: 1. Bila terdapat penyakit paru kronik 67 2. PN Meliputi banyak lobus 3. Disertai gambaran klinis yang berkaitan dengan mortalitas yang tinggi yaitu: a. Usia > 60 tahun. b. Dijumpai adanya gejala pada saat masuk perawatan RS: frekuensi napas > 30 x/m, tekanan diastolik < 60 mmHg , leukosit abnormal (<4.500->30.000). 68 BAB III ANALISA KASUS Tn. N usia 56 tahun datang ke IGD RS Islam Jakarta Pondok Kopi dengan keluhan sesak sejak 2 hari yang lalu. Sesak dirasakan terutama pada dada sebelah kiri dan memberat saat melakukan aktifitas. Keluhan juga disertai dengan batuk tapi tidak mengganggu pasien. Batuk berdahak dengan dahak berwarna kehijauan. Pasien juga mengeluhkan badannya terasa lemas dan nafsu makan berkurang. BAB & BAK tidak ada keluhan. Rencana untuk saat ini, pasien di rawat inap dengan diberikan infuse NaCl, pengobatan oral untuk mengurangi keluhan keluhan sekarang, dan pemberian oksigen nasal kanul 2L/m. 69 BAB IV KESIMPULAN Dari hasil anamnesis didapatkan pasien sesak nafas semakin hari semakin memberat sakit sejak 2 hari yang lalu. Sesak dirasakan semakin memberat saat aktifitas dan terasa hilang saat istirahat. Pasien mengaku ada batuk berdahak dengan dahak berwarna kehijauan dan kental. Demam juga dirasakan pasien saat pertama kali datang ke IGD. Berdasarkan pemeriksaan radiologi: Cor tertarik ke kanan, CTR < 50% Pulmo: Tampak corakan fibrosis paru kanan disertai penarikan trakea dan jantung ke kanan. Hilus kanan tertarik ke atas Corakan kasar suram paru kiri dengan struktur reticular dan cincincincin. Emfisema paru kiri +, sinus kanan dangkal, sinus dan diafragma kiri normal. Kesan: Gambaran TB Paru lama dengan emfisema paru kiri. Gambaran Bronkiektasis kiri dengan interstisial pneumonia. Terapi medikamentosa yang diberikan untuk pasien ini yaitu analgesi berupa Ibuprofen 3x200 mg yang merupakan nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID). Diberikan pula Eperisone 3x 50 mg sebagai antispasme. Selain itu, sebagai vitamin untuk saraf diberikan Neurodex 2x1 tab dan Mecobalamin tablet 3x500 mg. 70 DAFTAR PUSTAKA 1. Sadeli HA, Tjahjono B. Nyeri Punggung Bawah. dalam: Nyeri Neuropatik, Patofisioloogi dan Penatalaksanaan. Editor: Meliala L, Suryamiharja A, Purba JS, Sadeli HA. Perdossi, 2001:145-167. 2. Anderson GBJ. Epidemiological Features of Chronic Low Back Pain. Lancet 1999; 354:581-5. 3. Adam RD, Victor M, Ruppert AH. Principles of Neurology. 6th ed. New York: Mc-Graw Hill, 1997. 4. Wheeler AH, Stubbart JR. Pathophysiology of Chronic Back Pain. (Cited Jan 2004) Available from: URL http://www.emedicine.com/neuro/topic516.htm 5. Sidharta P. Anamnesa Kasus Nyeri di Ekstermitas dan Pinggang. Sakit pinggang. In: Tata pemeriksaan klinis dalam neurologi. Jakarta : Pustaka universitas, 1980: 64-75. 6. Deyo, Richard and James, Weinstein. Low Back Pain. New England Journal Med. Vol 344 No. 5. 2001. 7. Hiikka Riihiimaki and Eira Viikari Juntura. Musculoskeletal System in International Labour Office. Encyclopedia of Occupational Health and Safety. Edited by Jeanne Mager Stellman. Fourth edition, vol I, Geneva, 1998. 8. Davey. 2006. At a Glance Medicine: Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Jakarta: Erlangga 9. Guyton dan Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9: Insufesiensi Pernapasan. Jakarta: EGC 10. Kumar dkk. 2006. Buku Ajar Patologi Jilid 2 Edisi 7: Paru dan Saluran Napas Atas. Jakarta: EGC 71