Uploaded by common.user15412

Analisis Laporan Keuangan Garuda Indonesia & Standar Auditing

advertisement
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. GARUDA INDONESIA,
PENERAPAN SALAH SATU SA 800, 805, 810 SERTA
PERBEDAAN LAYANAN ASSURANCE DAN NON ASSURANCE
Disusun untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah auditing
Dosen Pengampu : Bapak Arum Sigit, S.E.,M.Si.,Akt.,CA.,CPA
Disusun oleh:
Kelompok 2
Citrawati Baby Litone (12030118220035)
Hirawresti LA
(12030118220034)
Zainal Abidin
(12030118220026)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah auditing
dengan topik pembahasan “ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. GARUDA
INDONESIA, PENERAPAN SALAH SATU SA 800, 805, 810 SERTA
PERBEDAAN LAYANAN ASSURANCE DAN NON ASSURANCE”.
Makalah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas UAS
mata kuliah auditing. Mata kuliah tersebut diambil oleh mahasiswa dan mahasiswi
Pendidikan Profesi Akutansi Angkatan 32, Universitas Diponegoro.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Kami mengakui bahwa makalah
ini masih terdapat banyak kekurangan. Kami berharap kepada pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Semarang, 02 Juli 2019
Hormat Kami,
Penyusun
1
A. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. GARUDA INDONESIA
Masalah laporan keuangan PT. Garuda Indonesia
Merujuk kepada laporan tahunan Perseroan tahun buku 2018, bahwa
Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektivitas dalam Penerbangan No,
CITILINK/JKTDSQG/PERJ-6248/1018 yang ditandatangani oleh PT. Mahata
Aero Tekonologi (Mahata) dan PT. Citilink Indonesia tertanggal 31 Oktober 2018
beserta perubahannya (Perjanjian Mahata) dimana pendapatan Perseroan yang
berasal dari Mahata sebesar USD 239.940.000, yang diantaranya sebesar USD
28.000.000 merupakan bagian hasil Perseroan yang didapat dari PT. Sriwijaya Air
yang tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018.
Pertimbangan tersebut didasarkan pada :
1) Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 23 (PSAK 23)
a. Tidak dapat diakuinya pendapatan tersebut karena hal ini bertentangan dengan
PSAK 23 paragraf 28 dan 29 yang berbunyi sebagai berikut:
Paragraf 28:
“Pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang
menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui dengan dasar yang dijelaskan
di Paragraf 29, jika:
•
Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi
tersebut akan mengalir ke entitas, dan
•
Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal
Paragraf 29:
•
Royalti diakui dengan dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang
relevan
b. Dalam lampiran PSAK 23 Paragraf 20 lebih dijelaskan lagi dalam ilustrasi
makna PSAK 23 Paragraf 28 yaitu bahwa imbalan lesensi atau royalti akan
diterima atau tidak diterima bergantung kepada kejadian suatu peristiwa masa
depan. Dalam hal ini pendapatan hanya diakui jika terdapat kemungkinan besar
bahwa imbalan atau pendapatan tetap atau jaminan yang tidak dapat
dikembalikan dalam suatu kontrak yang tidak dapat dibatalkan.
2
2) Berdasarkan Perjanjian Mahata
a. Perjanjian Mahata ditandatangani 31 Oktober 2018, namun hingga tahun
buku 2018 berakhir, tidak ada satu pembayaran pun yang telah dilakukan
oleh pihak Mahata meskipun telah terpasang satu unit alat di Citilink.
b. Dalam perjanjian Mahata tidak tercantum “term of payment” yang jelas
bahkan pada saat ini masih dinegoisasikan cara pembayarannya.
c. Sampai saat ini tidak ada jaminan pembayaran yang tidak dapat ditarik
kembali dari pihak Mahata kepada Perseroan.
d. Pengakuan pendapatan dari Perjanjian Mahata oleh Perseroan adalah
sebesar USD 239.940.000 merupakan jumlah yang signifikan yang apabila
tanpa pengakuan pendapatan ini Perseroan akan mengalami kerugian
sebesar USD 244.958.308. Adapun dengan mengakui pendapatan dari
perjanjian Mahata maka Perseroan membukukan laba sebesar USD
5.018.308.
e. Perseroan mengakui pendapatan dan piutang terhadap PT. Sriwijaya Air
sebesar USD 28.000.000 ditambah PPN sebesar USD 2.800.000 yang
merupakan bagian bagi hasil Perseroan dimana PT. Sriwijaya Air belum
menerima pembayaran dari pihak Mahata.
3) Dampak dari Pengakuan Pendapatan
Laporan keuangan PT. Garuda Indonesia tahun buku 2018 menimbulkan
“misleading” atau menyesatkan yang material dampaknya, dari sebelumnya
membukukan kerugian yang signifikan dan tiba-tiba menjadi laba, terlebih
Perseroan adalah perusahaan publik juga merupakan perusahaan BUMN.
Komentar:
Manajemen Garuda Indonesia mengakui pendapatan dari Mahata sebesar USD
239.940.000, yang diantaranya sebesar USD 28.000.000 merupakan bagian dari
bagi hasil yang didapat dari Sriwijaya Air. Padahal uang tersebut masih dalam
bentuk piutang, namun diakui perusahaan masuk dalam pendapatan.
Berdasarkan pencatatan akrual basis, dibolehkan memasukkan piutang sebagai
pendapatan dengan syarat piutang tersebut harus jelas kontraknya dan sudah
dilakukan, serta perusahaan juga harus sudah mendapatkan hak penagihan yang
jelas sehingga bisa dipastikan piutang tersebut bisa ditagih. Namun dalam
3
perjanjian Mahata tidak tercantum “term of payment” yang jelas bahkan pada saat
ini masih dinegoisasikan cara pembayarannya.
Jika kami selaku auditor PT. Garuda Indonesia maka:
Kami akan memberikan opini tidak wajar. Karena pengakuan pendapatan PSAK 23
yang tidak tepat (dari rugi hingga menjadi laba) sehingga dapat menyesatkan
pengguna laporan keuangan. Kami sebagai auditor juga perlu mempertimbangkan:
•
SA 315 SPAP tentang pengidentifikasikan dan penilaian risiko kesalahan
penyajian material melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya
•
SA 500 SPAP tentang Bukti Audit
•
SA 560 SPAP tentang peristiwa kemudian
•
SA 700 SPAP tentag perumusan suatu opini dan pelaporan atas laporan
keuangan
Solusinya
Adapun penyajian kembali laporan keuangan Perseroan Tahun Buku 2018 menjadi
potensi yang sangat besar merusak kredibilitas Perseroan. Sehingga Perseroan
setidaknya hanya bisa melakukan rekosinliasi akun yang tidak tepat pencatatannya.
B. PENERAPAN SALAH SATU SA 800, 805, 810
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
PT CITRA PUTRA REALTY
No
SA 800
1
Pertimbangan khsusu – audit atas
laporan keuangan yang disusun
sesuai dengan kerangka bertujuan
khusus
A
Deskripsi
Laporan auditor
Paragraph 13 mengharuskan laporan
auditor untuk menjelaskan tujuan atas
penyusunan laporan keuangan dan jika
menjelaskan tujuan atas penyusunan
laporan keuangan dan jika diperlukan,
pengguna yang dituju atau pengacuan
pada suatu catatan atas laporan
keuangan yang berisi informasi tentang
hal tersebut.
“……..sehubungan dengan rencana
entitas untuk melakukan penawaran
umum saham perdana, entitas dan
entitas anak telah menerbitkan kembali
laporan keuangan konsolidasian untuk
4
B
periode tujuh bulan yang berakhir
pada tanggal tersebut untuk
menyesuaikan penyajiannya dengan
peraturan pasar modal sebagaimana
disajikan dalam Catatan 40 atas
laporan keuangan konsolidasian PT
Citra Putra Realty dan Entitas Anak
untuk periode tujuh bulan yang
berakhir pada tanggal 31 Juli 2018.”
Paragraph 14 mengharuskan laporan
auditor untuk memasukan paragraph
“penekanan suatu hal” yang
memperingatkan pengguna bahwa
laporan keuangan disusun sesuai
dengan kerangka bertujuan khusus dan
sebagai hasilnya, laporan keuangan
belum tentu sesuai untuk tujuan lain.
“……..Laporan ini diterbitkan dengan
tujuan untuk dicantumkan dalam
Prospektus sehubungan dengan
rencana penawaran umum saham
perdana PT Citra Putra Realty, serta
tidak ditujukan, dan tidak
diperkenankan digunakan untuk tujuan
lain.”
No
1
2
3
4
5
Kondisi
Laporan keuangan telah disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan ketentuan
pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh regulator (kerangka bertujuan khusus)
dengan tujuan untuk memenuhi ketentuan badan pengatur tersebut. Manajemen
tidak memiliki pilihan kerangka pelaporan keuangan.
Kerangka pelaporan keuangan yang berlaku adalah kerangka penyajian wajar
Ketentuan perikatan audit mencerminkan penjelasan tentang tanggung jawab
manajemen atas laporan keuangan dalam SA 210
Distribusi atau penggunaan laporan auditor dibatasi
Paragraf hal lain mengacu kepada fakta bahwa auditor juga telah menerbitkan
laporan auditor atas laporan keuangan yang disusun oleh PT Cita Putra Reality
untuk periode yang sama sesuai dengan kerangka bertujuan umum
“Laporan keuangan konsolidasian PT Citra Putra Realty dan Entitas Anak
tanggal 31 Desember 2015 dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut
diaudit oleh auditor independen lain dengan laporan No.R.1.15.2/04/01/2017REI
tanggal 31 Maret 2017 yang menyatakan pendapat wajar tanpa modifikasian atas
laporan keuangan konsolidasian tersebut.”
5
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
PT GOLDEN FLOWER Tbk
No
SA 800
1
Pertimbangan khsusu – audit atas
laporan keuangan yang disusun
sesuai dengan kerangka bertujuan
khusus
A
B
Deskripsi
Laporan auditor
Paragraph 13 mengharuskan laporan
auditor untuk menjelaskan tujuan atas
penyusunan laporan keuangan dan jika
menjelaskan tujuan atas penyusunan
laporan keuangan dan jika diperlukan,
pengguna yang dituju atau pengacuan
pada suatu catatan atas laporan
keuangan yang berisi informasi
tentang hal tersebut.
“……..Laporan ini diterbitkan dengan
tujuan untuk dicantumkan dalam
Prospektus sehubungan dengan
rencana penawaran umum perdana
saham Perusahaan di Pasar Modal
Indonesia sebagaimana dijelaskan
dalam catatan 37 dan tidak
diperkenankan untuk digunakan untuk
tujuan lain.”
Paragraph 14 mengharuskan laporan
auditor untuk memasukan paragraph
“penekanan suatu hal” yang
memperingatkan pengguna bahwa
laporan keuangan disusun sesuai
dengan kerangka bertujuan khusus dan
sebagai hasilnya, laporan keuangan
belum tentu sesuai untuk tujuan lain.
“……..Laporan ini diterbitkan dengan
tujuan untuk dicantumkan dalam
Prospektus sehubungan dengan
rencana penawaran umum perdana
saham Perusahaan di Pasar Modal
Indonesia sebagaimana dijelaskan
dalam catatan 37 dan tidak
diperkenankan untuk digunakan untuk
tujuan lain.”
No
1
Kondisi
Laporan keuangan telah disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan ketentuan
pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh regulator (kerangka bertujuan khusus)
6
2
3
4
5
dengan tujuan untuk memenuhi ketentuan badan pengatur tersebut. Manajemen
tidak memiliki pilihan kerangka pelaporan keuangan.
Kerangka pelaporan keuangan yang berlaku adalah kerangka penyajian wajar
Ketentuan perikatan audit mencerminkan penjelasan tentang tanggung jawab
manajemen atas laporan keuangan dalam SA 210
Distribusi atau penggunaan laporan auditor dibatasi
Paragraf hal lain mengacu kepada fakta bahwa auditor juga telah menerbitkan
laporan auditor atas laporan keuangan yang disusun oleh PT Golden Flower Tbk
untuk periode yang sama sesuai dengan kerangka bertujuan umum
“Kami sebelumnya telah menerbitkan laporan auditor independen No.
000072.0264/AU.1/05/1320-2/1/II/2019 tertanggal 19 Februari 2019 dan No.
00012/2.0264/AU.1/05/1320-2/1/V/2019 tertanggal 1 April 2019 atas laporan
keuangan PT Golden Flower, Tbk tanggal 31 Desember 2018……”
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
PROJECT: “NEPAL EARTHQUAKE EMERGENCY RESPONSE PROJECT
(ALLIANCE FUND)
No SA 805
Deskripsi
1
Pertimbangan khsusu – audit atas
A Paragraph 9 mengharuskan auditor
laporan keuangan tunggal dan
untuk mempertimbangkan apakah
unsur, akun atau pos spesifikasi
format laporan yang diharapkan tepat
dalam suatu laporan keuangan.
dalam situasi.
(Terlampir dalam audit objectives)
No
1
2
3
4
5
Kondisi
Audit atas laporan penerimaan dan pengeluaran kas (yaitu suatu laporan
keuangan tunggal)
Laporan keuangan telah disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan basis
akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas untuk merespon permintaan
informasi arus kas. Artinya informasi keuangan telah disusun oleh manajemen
entitas sesuai dengan ketentuan pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh badan
pengatur untuk memenuhi ketentuan badan pengatur tersebut. Manajemen tidak
memiliki suatu pilihan atas kerangka pelaporan keuangan (Terlampir pada
Management’s responsibility for the financial statements)
Penerapakan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku merupakan kerangka
penyajian wajar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan
pengguna tertentu
Auditor telah menerapkan bahwa penggunaan frasa “menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material,” merupakan hal yang tepat dalam opini auditor
Distribusi atau penggunaan laporan auditor adalah tidak dibatasi
7
Tabel
Perbedaan Assurance Services dan Non-assurance Services
Assurance Services
Non-assurance Services
Perbedaan
Tujuan
Audit
Reviu
Prosedur yang Disepakati
Kompilasi
Untuk memberikan jaminan
bahwa jika daya banding
laporan keuangan diantara
kedua periode dipengaruhi
secara material oleh perubahan
prinsip akuntansi
- Untuk menetapkan standar dan
menyediakan panduan tentang
tanggung jawab profesional praktisi
ketika seorang praktisi, yang bukan
merupakan auditor suatu entitas,
melaksanakan suatu perikatan untuk
mereviu laporan keuangan dan
tentang bentuk dan isi laporan yang
diterbitkan oleh praktisi tersebut
dalam kaitan dengan reviu tersebut.
- Untuk memungkinkan seorang
praktisi menyatakan apakah, atas
dasar prosedur yang tidak
menyediakan semua bukti
sebagaimana disyaratkan dalam
suatu audit, terdapat hal-hal yang
menjadi perhatian praktisi yang
menyebabkan praktisi yakin bahwa
laporan keuangan tersebut tidak
disajikan, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku.
Untuk menetapkan standar
yang memberikan panduan
tentang tanggung jawab
profesional praktisi ketika
melaksanakan suatu perikatan
prosedur yang disepakati atas
informasi keuangan serta
memberikan panduan tentang
bentuk dan isi laporan yang
diterbitkan oleh praktisi
berkaitan dengan perikatan
tersebut
- Untuk memeroleh keyakinan
yang memadai apakah informasi
keuangan proforma telah
dikompilasi, dalam semua hal
yang material, oleh pihak yang
bertanggung jawab berdasarkan
kriteria yang berlaku: dan
- Untuk melaporkan sesuai dengan
temuan praktisi.
Prinsip Umum
Auditor harus mematuhi SA
yang telah ditetapkan sebagai
berikut:
- SA 200: Tujuan Keseluruhan
Auditor Independen dan
Pelaksanaan Suatu
AuditBerdasarkan Standar
Auditb.
- SA 210: Persetujuan atas
Syarat-syarat Perikatan Audit
- SA 220: Pengendalian Mutu
untuk Audit atas Laporan
Keuangand.
- SA 230: Dokumentasi Audite.
- SA 240: Tanggung Jawab
Auditor terkait dengan
Kecurangan dalam suatu
Auditatas Laporan Keuangan.
- SA 250: Pertimbangan atas
peraturan perundangundangan dalam audit
atasLaporan Keuangan
- SA 260: Komunikasi dengan
Pihak yang Bertanggung
jawab atas Tata Kelola
- SA 265:
Pengkomunikasian
Defisiensi dalam
Pengendalian Internal
kepadapihak yang
Praktisi harus mematuhi kode etik
yang ditetapkan oleh Institut Akuntan
Publik Indonesia. Prinsip etika yang
mengatur tanggung jawab profesional
praktisi adalah:
- Independensi
- Integritas
- Objektivitas
- Kompetensi dan kecermatan
profesional
- Kerahasiaan
- Perilaku profesional
- Standar teknis
Praktisi harus melaksanakan suatu
reviu berdasarkan SPR ini.
Praktisi harus merencanakan dan
melaksanakan reviu dengan suatu
sikap skeptisisme profesional dan
menyadari bahwa mungkin terdapat
kondisi yang menyebabkan laporan
keuangan mengandung kesalahan
penyajian material.
Untuk tujuan menyatakan keyakinan
bentuk negatif dalam laporan reviu,
praktisi harus memperoleh bukti yang
cukup dan tepat terutama melalui
permintaan keterangan dan prosedur
analitis agar dapat menarik
kesimpulan.
9
Praktisi harus mematuhi Kode
Etik Profesi Akuntan Publik
yang ditetapkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia
(“Kode Etik”). Prinsip etika
yang mengatur tanggung
jawab profesional praktisi
untuk jenis perikatan ini
adalah:
• Integritas;
• Objektivitas;
• Kompetensi serta
kecermatan dan kehatihatian profesional;
• Kerahasiaan;
• Perilaku profesional; dan
• Standar teknis.
Praktisi harus mematuhi Kode
Etik Akuntan Profesional
yang dikeluarkan oleh Ikatan
Akuntan Indonesia
Prinsip dasar etika yang mengatur
tanggung jawab profesional
praktisi dalam perikatan adalah:
• Integritas;
• Objektivitas;
• Kompetensi dan kehati‐hatian
profesional;
• Kerahasiaan;
• Perilaku profesional; dan
• Standar teknis
bertanggung jawab atas tata
kelola dan manajemen.
Ruang Lingkup
Tanggung Jawab
Akuntan/Praktisi
Standar Audit ini mengatur
tanggung jawab keseluruhan
auditor independen ketika
melaksanakan audit atas laporan
keuangan berdasarkan SA.
Secara khusus, SA ini
menetapkan tujuan keseluruhan
auditor independen, serta
menjelaskan sifat dan ruang
lingkup suatu audit yang
dirancang untuk memungkinkan
auditor independen mencapai
tujuan tersebut. SA ini juga
menjelaskan ruang lingkup.
wewenang, dan struktur SA,
serta mengatur ketentuan untuk
menetapkan tanggung jawab
umum auditor independen yang
berlaku untuk semua audit,
termasuk kewajiban untuk
mematuhi SA. Untuk
selanjutnya auditor independen
disebut sebagai "auditor".
Auditor harus mematuhi
ketentuan etika yang relevan,
termasuk ketentuan
independensi, yang berkaitan
Prosedur yang disyaratkan untuk
melaksanakan suatu reviu atas laporan
keuangan harus ditentukan oleh
praktisi dengan mempertimbangkan
ketentuan SPR ini, badan profesional
yang relevan, peraturan perundangundangan, dan jika relevan, ketentuan
perikatan reviu dan ketentuan
pelaporan.
Untuk perikatan yang
- Berhubungan dengan tanggung
berkaitan dengan informasi
jawab praktisi ketika membantu
keuangan. Namun standar ini
manajemen dalam penyusunan
dapat memberikan panduan
dan penyajian informasi
untuk perikatan yang
keuangan historis tanpa
berkaitan dengan non
mendapatkan asurans, dan untuk
keuangan, dengan syarat
melaporkan perikatan tersebut
praktisi memiliki pengetahuan
sesuai dengan SPJ ini.
memadai tentang hal pokok
- Diterapkan pada perikatan
yang bersangkutan.
kompilasi informasi keuangan
historis.
- Diterapkan pada perikatan
kompilasi atas informasi
keuangan selain informasi
keuangan historis, dan perikatan
kompilasi informasi
nonkeuangan dengan
penyesuaian.
Praktisi harus mematuhi ketentuan
kode etik yang sudah ditetapkan IAPI
yang memiliki prinsip etika dalam
mengatur tanggung jawab seorang
professional praktisi, dalam tujuan
Tanggung jawab profesional
praktisi dalam perikatan
adalah:
(a) Integritas;
(b) Objektivitas;
10
Tanggung jawab praktisi ketika
membantu manajemen dalam
penyusunan dan penyajian
informasi keuangan historis tanpa
mendapatkan asurans, dan untuk
Tanggung Jawab
Manajemen
Prosedur
dengan perikatan audit atas
laporan keuangan.
mengaudit laporan keuangan
tercantum kalimat memiliki keyakinan
terbatas sudah pasti negative
assurance.
manajemen mungkin perlu
menyediakan pengungkapan
yang melampaui pengungkapan
secara khusus yang diharuskan
oleh kerangka. Serta mengakui
secara eksplisit bahwa
manajemen mungkin perlu
untuk menyimpang dari suatu
ketentuan kerangka untuk
mencapai penyajian wajar
laporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab atas
laporan keuangar termasuk pemelihara
catatan akuntansi yang pemilihan dan
penerapan akuntansi.
- Perencanaan audit
- Pengumpulan bukti
- Evaluasi bukti
meyakinkan auditor
Praktisi harus menerapkan
pertimbangan dalam menentukan sifat,
saat, dan luas prosedur reviu secara
11
(c) Kompetensi dan kehati‐
hatian profesional;
(d) Kerahasiaan;
(e) Perilaku profesional; dan
(f) Standar teknis.
Praktisi harus melaksanakan
prosedur yang disepakati dan
menggunakan bukti yang
melaporkan perikatan tersebut
sesuai dengan SPJ ini.
Tanggung jawab manajemen atas:
(i) Informasi keuangan, dan
dalam penyusunan dan penyajian,
sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang digunakan
dilihat dari sudut pandang tujuan
penggunaan informasi
keuangan dan para pengguna
yang dituju;
(ii) Keakuratan dan kelengkapan
atas catatan, dokumen,
penjelasan dan informasi
lain yang diberikan oleh pihak
manajemen atas perikatan
kompilasi; dan
(iii) Pertimbangan
yang diperlukan dalam
penyusunan dan
penyajian informasi
keuangan, termasuk hal‐hal yang
memerlukan bantuan praktisi
selama perikatan kompilasi
Praktisi harus memperoleh suatu
pemahaman yang cukup tentang
hal‐hal berikut untuk dapat
melakukan perikatan kompilasi:
bahwa bukti mendukung
atau tidak mendukung
pernyataan.
- Hasil harus
dikomunikasikan dalam
bentuk laporan tertulis
dan dapat digunakan
sebagai rekomendasi
kepada manajemen.
Pelaporan
Harus secara jelas dibedakan
dengan laporan yang dihasilkan
dari laporan asurans. Sehingga
untuk membuat pengguna
laporan bingung, maka laporan
tersebut harus menghindari:
- Secara implisit menyatakan
bahwa praktisi mematuhi SA,
SPR atau SPA
- Menggunakan secara tidak
semestinya kata-kata asurans,
audit atau reviu
- Memasukkan suatu
pernyataan yang dapat
ditafsirkan keliru dalam
spesifik. Praktisi akan dipandu dengan
hal-hal berikut:
- pengetahuan yang diperoleh ketika
melaksanakan audit atau reviu atas
laporan keuangan periode lalu.
- Pengetahuan praktisi tentang bisnis
termasuk pengetahuan tentang
prinsip-prinsip dan praktik akuntansi
industri yang di dalamnya entitas
beroperasi.
- Sistem akuntansi entitas
- Luas suatu unsur tertentu
dipengaruhi oleh pertimbangan
manajemen.
- Materialitas transaksi dan saldo
akun.
- Laporan reviu harus berisi suatu
pernyataan tertulis yang jelas tentang
keyakinan bentuk negatif. Praktisi
harus mereviu dan menilai
kesimpulan yang dittarik dari bukti
yang diperoleh sebagai basis untuk
menyatakan keyakinan bentuk
negatif.
- Laporan reviu atas laporan keuangan
menjelaskan ruang lingkup perikatan
untuk memungkinkan pembaca
memahami sifat pekerjaan yang
dilaksanakan dan memperjelas
bahwa suatu audit tiddak
12
diperoleh sebagai dasar untuk
melaporkan temuan faktual.
Prosedur yang diterapkan
dalam suatu perikatan untuk
melaksanakan prosedur yang
disepakati dapat mencakup
sebagai berikut:
- Permintaan keterangan dan
analisis.
- Perhitungan ulang,
perbandingan, dan
pengecekan akurasi
klerikal yang lain.
- Observasi.
- Inspeksi.
- Pemerolehan konfirmasi.
Laporan tentang perikatan
prosedur yang disepakati
perlu menjelaskan tujuan
dan prosedur yang disepakati
dalam perikatan dengan
cukup rinci yang
memungkinkan
pembaca memahami sifat dan
luas pekerjaan yang
dilaksanakan.
(a) Bisnis dan operasi
entitas, termasuk sistem akuntansi
entitas dan
catatan akuntansinya; dan
(b) Kerangka pelaporan keuangan
yang digunakan, termasuk
penerapannya dalam industri
entitas tersebut.
Laporan praktisi yang dikeluarkan
untuk perikatan kompilasi harus
dalam bentuk tulisan, dan
mencakup unsur‐unsur berikut:
(a) Judul laporan;
(b) Pihak
yang dituju, sebagaimana
disyaratkan oleh ketentuan dalam
perikatan;
(c) Pernyataan bahwa praktisi
telah mengompilasi informasi
keuangan berdasarkan informasi
yang diberikan oleh manajemen;
(d) Uraian tentang tanggung
jawab manajemen, atau pihak
membuat suatu kesimpulan,
yang dirancang untuk
menambah tingkat
kepercayaan pengguna
laporan, terhadap hasil
pengevaluasian atau
pengukuran hal pokok
terhadap kriteria.
dilaksanakan dan, oleh karena itu,
suatu opini audit tidak dinyatakan.
13
yang bertanggung jawab atas tata
kelola, jika tepat, terkait dengan
perikatan kompilasi, dan
yang terkait dengan informasi
keuangan;
Download