Uploaded by dewisimorangkir2018

Asuhan Keperawatan Hipertensi di Puskesmas

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. N
DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS
Disusun Oleh
SURLINA
180207038
PROGRAM STUDI RPL DIII KEPERAWATAN
FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah mengalami peningkatan yang
memberikan gejala berlanjut pada suatu organ target di tubuh. Hal ini dapat menimbulkan
kerusakan yang lebih berat, misalnya stroke (terjadi pada otak dan menyebabkan kematian
yang cukup tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi kerusakan pembuluh darah jantung),
dan hipertrofi ventrikel kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi juga dapat menyebabkan
penyakit gagal ginjal, penyakit pembuluh lain dan penyakit lainnya (Syahrini et al., 2012).
Umumnya penyakit hipertensi terjadi pada orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun.
Penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala yang nyata dan pada stadium awal belum
menimbulkan gangguan yang serius pada kesehatan penderitanya (Gunawan, 2012). Hal ini
serupa seperti yang dikemukakan oleh Yogiantoro (2006), hipertensi tidak mempunyai gejala
khusus sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya. Di dunia diperkirakan 7,5 juta
kematian disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Pada tahun 1980 jumlah orang dengan
hipertensi ditemukan sebanyak 600 juta dan mengalami peningkatan menjadi hampir 1 milyar
pada tahun 2008 (WHO, 2013).
Hasil riset WHO pada tahun 2007 menetapkan hipertensi pada peringkat tiga sebagai
faktor resiko penyebab kematian dunia. Hipertensi telah menyebabkan 62% kasus stroke,
49% serangan jantung setiap tahunnya (Corwin, 2007). Di Indonesia sendiri, berdasarkan
hasil riset kesehatan tahun 2007 diketahui bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia sangat
tinggi, yaitu rata - rata 3,17% dari total penduduk dewasa. Hal ini berarti dari 3 orang dewasa,
terdapat 1 orang yang menderita hipertensi (Riskesdas, 2008). Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Riskesdas menemukan prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2013
sebesar 25,8%. Daerah Bangka Belitung menjadi daerah dengan prevalensi hipertensi yang
tertinggi yaitu sebesar 30,9%, kemudian diikuti oleh Kalimantan Selatan (30,8%),
Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%) (Riskesdas, 2013).
Di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah ditemukan
prevalensi sebesar 33,8% pada Kabupaten Kutai Kartanegara menempatkan kabupaten
tersebut menempati posisi kedua dengan prevalensi hipertensi terbanyak (Riskesdas, 2013).
Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah
stres. Stres merupakan suatu respon nonspesifik dari tubuh terhadap setiap tekanan atau
tuntutan yang mungkin muncul, baik dari kondisi yang menyenangkan maupun tidak
menyenangkan (Sadock & Sadock, 2003).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Riskesdas (2013) untuk mengetahui
prevalensi gangguan mental emosional (distres psikologis) di Indonesia diketahui bahwa
terdapat 3,2% orang yang memiliki gangguan mental emosional pada provinsi Kalimantan
Timur. Pada daerah kabupaten Kutai Kartanegara sendiri, dari hasil penelitian yang dilakukan
oleh Riskesdas Provinsi Kalimantan Timur (2009) diketahui prevalensi gangguan mental
emosional adalah sebesar 4,8 %. Stres dapat memicu timbulnya hipertensi melalui aktivasi
sistem saraf simpatis yang mengakibatkan naiknya tekanan darah secara intermiten (tidak
menentu) (Andria, 2013). Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan
dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri
(vasokontriksi) dan peningkatan denyut jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan
tetap tinggi sehingga orang tersebut akan mengalami hipertensi (South,2014).
B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan hipertensi pada
pasien.
C. MANFAAT PENELITIAN
1.Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai hubungan antara
stres dan hipertensi.
2.Bagi Puskesmas
Sebagai masukan dalam peningkatan pelayanan kesehatan terutama pendidikan
kepada penderita hipertensi yang diharapkan dapat mengontrol keadaan stres emosional.
3.Bagi perkembangan ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada dunia ilmu
pengetahuan khususnya di bidang psikiatri jika penelitian ini berhasil membuktikan adanya
hubungan antara stres dengan hipertensi.
4.Bagi peneliti selanjutnya
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan literatur dan dapat
memberikan informasi serta dapat dijadikan perbandingan bila ingin melakukan penelitian
tentang stres dan hipertensi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
I. Konsep Teori
A.
Definisi
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan
tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan
darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997)
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat
bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan
tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ).
Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hipertensi adalah suatu
keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau
tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih.
B.
Anatomi dan Fisiologi hipertensi
1.
Anatomi
a) Jantung
Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada, batas kanannya terdapat
pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis kelima kiri pada linea
midclavicular.
Hubungan jantung adalah:
Atas- : pembuluh darah besar
Bawah- : diafragma
Setiap sisi : paruBelakang : aorta desendens, oesophagus, columna vertebralis
b) Arteri
Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ. Arteri terdiri
dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta dan cabangcabangnya besar memiliki laposan tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk
menghantarkan darah untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot
(mengatur jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ).
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:



Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap
detiknya
Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat
mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu
darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit
daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia
lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi
“vasokonstriksi”, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut
karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika:



Aktivitas memompa jantung berkurang
Arteri mengalami pelebaran
Banyak cairan keluar dari sirkulasi
Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.
Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi
ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh
secara otomatis).
Perubahan fungsi ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:



Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air,
yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan
darah ke normal.
Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air,
sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang
disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan
memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai
penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa
menyebabkan hipertensi.
Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya
tekanan darah.
1. Arteriol
Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal. Otot dinding arteriol
dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi diameter pembuluh darah. Bila
kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi
umum, tekanan darah akan meningkat
2. Pembuluh darah utama dan kapiler
Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan langsung dari arteriol
ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil yang membuka pembuluh darah
utama.
3. Sinusoid
Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid tiga sampai empat
kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi dengan sel sistem retikulo-endotelial.
Pada tempat adanya sinusoid, darah mengalami kontak langsung dengan sel-sel dan
pertukaran tidak terjadi melalui ruang jaringan
4. Vena dan venul
Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh gabungan
venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara sempurna satu sama lain.
2.
Fisiologi
Jantung mempunyai fungsi sebagai pemompa darah yang mengandung oksigen dalam sistem
arteri, yang dibawa ke sel dan seluruh tubuh untuk mengumpulkan darah deoksigenasi (darah
yang kadar oksigennya kurang) dari sistem vena yang dikirim ke dalam paru-paru untuk
reoksigenasi (Black, 1997)
C.
Klasifikasi Dan Manifestasi Klinis
Klasifikasi Hipertensi hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia
Kategori
Normal
Prehipertensi
Hipertensi tahap 1
Hipertensi tahap 2
Hipertensi sistol
terisolasi
Systole (mmHg)
<120
120-139
140-159
>=160
>=140
Dan/atau
dan
Atau
Atau
Atau
Atau
Diastole(mmHg)
<80
80-89
90-99
>=100
<90
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila
demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak atau jantung.
Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epitaksis, marah, telinga berdengung,
rasa berat ditengkuk, sulit tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.
Selain itu manifestasi klinik pada penderita hipertensi adalah sebagia berikut:










Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
Sakit kepala
Epistaksis
Pusing / migrain
Rasa berat ditengkuk
Sukar tidur
Mata berkunang kunang
Lemah dan lelah
Muka pucat
Suhu tubuh rendah
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena
terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan
penanganan segera.
D.
Etiologi
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai
respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
o
o
o
Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport
Na.
Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan
darah meningkat.
Stress Lingkungan.
Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh
darah
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Hipertensi Esensial/Hipertensi Primer: yang tidak diketahui penyebabnya, disebut
juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang
mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis,
sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na. Peningkatan Na dan Ca
intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko, seperti: obesitas, alkohol,
merokok serta polisitemia.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada
jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya
tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah
kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar
adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau
garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki
kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk
sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.
1. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab
spesifiknya diketahui seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal, hipertensi
vaskular renal. Hiperaldosteronisme primer dan sindrom cushing, feokromusitoma,
koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain.
Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
1. Penyakit Ginjal
o Stenosis arteri renalis
o Pielonefritis
o Glomerulonefritis
o Tumor-tumor ginjal
o Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
o Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
o Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal
o Hiperaldosteronisme
o Sindroma Cushing
o Feokromositoma
3. Obat-obatan
o Pil KB
o Kortikosteroid
o Siklosporin
o Eritropoietin
o Kokain
o Penyalahgunaan alkohol
o Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
o Koartasio aorta
o Preeklamsi pada kehamilan
o Porfiria intermiten akut
o Keracunan timbal akut.
E.
Faktor Predisposisi
1. Factor yang tidak dapat diubah

Usia, jenis kelmin, RAS, riwayat TIA dan stroke, penyakit jantung koroner, fibrilasi
atrium, heterozygote atau homozygote untuk homositinuria.
2. Factor yang dapat diubah

Hipertensi, Dm, hiperurisemia, merokok, pnyalahgunaan alcohol dan obat,
kontrasepsi oral, Ht meningakat, bruit karotis asimtomatis dan displidemia.
F.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laborat
1. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume
cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
3. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)
dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
4. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
danada DM.
5. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
6. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
7. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu
ginjal,perbaikan ginjal.
8. Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area
katup,pembesaran jantung.
H.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Non Farmakologis
o DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat
menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam
plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
o Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan
denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan,
jogging,bersepeda atau berenang.
o Penatalaksanaan Farmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
 Mempunyai efektivitas yang tinggi.
 Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
 Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
 Tidak menimbulakn intoleransi.
 Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
 Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat – obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan
diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi
rennin angitensin.
II. Konsep dasar asuhan keperawatan
1.
Proses keperawatan
Proses keperawatan adalah dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan.
Hal ini disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan
keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien baik sebagai
individu, keluarga maupun mayarakat (Nursalam, 2001). Iyer et all (1996) mengemukakan
dalam proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber, untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
1)
Biodata
Mencakup identitas klien, meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat,
no. medrek, Dx medis, tanggal masuk, dan tanggal pengkajian.
2)
Riwayat kesehatan
a)
Keluhan Utama
Pada kasus hipertensi, ditemukan keluhan utama adanya pusing yang hebat.
b)
Riwayat Kesehatan/ Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang sedang dijabarkan dari
keluhan utama dengan menggunakan PQRST, yaitu:
P = paliative/provokatif; hal-hal yang menyebabkan bertambah/bekurannya keluhan utama.
Pada kasus hipertensi, ditemukan adanya rasa pusing. Keluhan dirasakan semakin berat bila
melakukan aktivitas yang berat.
Q
= Quality/Quantity; tingkat keluhan utama.
R
= region; yaitu lokasi keluhan utama.
Pada kasus hipertensi ditemukan adanya pusing yang tak tertahankan di seluruh bagian
kepala
S
= savety; yaitu intensitas dari keluhan utama, apakah sampai mengganggu aktivitas
atau tidak, seperti bargantug pada derajat beratnya.
T
= timing; yaitu kapan mulai muncul dan berapa lama berlangsungnya.
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara
tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan
darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala,
perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik
pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
c)
Riwayat Kesehatan Dahulu
Saat dikaji pasien hipertensi biasanya didapat riwayat penyakit jantung koroner, merokok,
penyalahgunaan obat, tingkat stress yang tinggi, dan gaya hidup yang kurang beraktivitas.
d)
Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat penyakit kronis/generative keluarga yang ada hubungannya dengan adanya penyakit
jantung, stroke, dan lain-lain.
e)
Aspek psikologis
Pada aspek psikologis, ditemukan adanya tingkat stress yang tinggi pada klien, emosi yang
labil.
f)
Aspek Sosial
Pada aspek social tidak ditemukan hubungan ketergantungan karena klien masih
bisa melakukan aktifitasnya namun agak sedikit terganggu.
g)
Aspek spiritual
Pada aspek ini, ditemukan adanya keterbatasan melakukan aktivitas keagamaan.
2.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi:
1. Keadaan umum


Kaji tingkat kesadaran ( GCS ) kehilangan sensasi, susunan saraf dikaji (Nevrus I-XII
)gangguan penlihatan, gangguan ingatan
Mengkaji tanda-tanda vital
Kesadaran bisa compos mentis sampai mengalami penurunan keadaran kehilangan sensasi,
susunan saraf dikaji (I-XII) gangguan penglihatan, gangguan ingatan, tonus otot menurun dan
kehilangan reflek tonus, BB biasanya mengalami penurunan, tanda-tanda vital biasanya
melebihi batas normal.
Batas normal TTV menurut Hidayat, 2000 adalah sebagai berikut:
Umur
18th/lebih
65th /lebih
Suhu
37,0oC
36,0oC
Nadi
70-75x/mnt
70-75x/mnt
Pernafasan
15-20x/mnt
15-20x/mnt
TD
120/80 mmHg
140/90 mmHg
GCS (glaslow coma scale):
Respon membuka:




Spontan
Berdasarkan perintah verbal
Berdasarka rangsangan nyeri
Tidak member respon
4
3
2
1
Respon motorik:






Menurut perintah
Melikalisir rangsangan nyeri
Menarik/berlawanan rangsangan nyeri
Fleksi abnormal (terhadap nyeri)
Ekstensi (terhadap nyeri)
Tidak member respon
6
5
4
3
2
1
Respon verbal:





Orientasi baik
Konversi kacau (bicara bingung)
Kata-kata kacau (tidak sesuai)
Bersuara inkomprehensif (suara tidak ada kata)
Tidak memberikan respon
5
4
3
2
1
NILAI:
15
: Compos mentis
12-14 : Somnolen
8-11
: Soporus
3-7
: Coma
1. System pengindraan (penglihatan)
Pada kasus hipertensi, terdapat gangguan penglihatan seperti penglihatan menurun, buta total,
kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan monokuler), penglihatan ganda,
(diplopia)/gangguan yang lain. Ukuran reaksi pupil tidak sama, kesulitan untuk melihat
objek, warna dan wajah yang pernah dikenali dengan baik.
2. System penciuman
Terdapat gangguan pada system penciuman, terdapat hambatan jalan nafas.
3. System pernafasan
Adanya batuk atau hambatan jalan nafas, suara nafas tredengar ronki ( aspirasi sekresi)
4. System kardiovaskular
Nadi, frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung atau kondisi jantung),
perubahan EKG, adanya penyakit jantung miocard infark, rematik atau penyakit jantung
vaskuler.
5. System pencernaan
Ketidakmampua menelan, mengunyah, tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri.
6. System urinaria
Terdapat perubahan system berkemih seperti inkontinensia.
7. System persarafan












Nevrus 1 Olfaktori (penciuman)
Nevrus II Optic (penglihatan)
Nevrus III Okulomotor ( gerak ekstraokuler mata, kontriksi dilatasi pupil)
Nevrus IV Trokhlear (gerak bola mata ke atas ke bawah)
Nevrus V Trigeminal (sensori kulit wajah, penggerak otot rahang)
Nevrus VI Abdusen (gerak bola mata menyamping)
Nevrus VII Fasial (ekspresi fasial dan pengecapan)
Nevrus VIII Oditori (pendengaran)
Nevrus IX Glosovaringeal (gangguan pengecapan, kemampuan menelan, gerak lidah)
Nevrus X Vagus (sensasi faring, gerakan pita suara)
Nevrus Asesori (gerakan kepala dan bahu)
Nevrus XII Hipoglosal (posisi lidah)
8. System musculoskeletal
Kaji kekuatan dan gangguan tonus otot, pada klien hipertensi didapat klien merasa kesulitan
untuk melakuakn aktvitas karena kelemahan, kesemuatan atau kebas.
9. System integument
Keadaan turgor kulit, ada tidaknya lesi, oedem, distribusi rambut.
J.
No.
1. DS:
Analisa data
Data focus
Etiologi
Medulla
–
Riwayat hipertensi
–
Ateroskelosis
Ganglia simpatis
–
Penyakit jantung
koroner/katup dan penyakit
serebrovaskular
Tekanan darah
–
Epsodepalpitasi
–
Perpirasi
Masalah
Peningkatan
tekanan darah
Saraf simpatis
Kontriksi
Peningkatan tekanan darah
DO:
2.
–
DS:
Kenaikan TD
–
Kelemahan
–
Letih
–
Nafas pendek
Kelelahan
–
Gaya hidup monoton
Tachipnea
Peningkatan CO
DO:
Intoleransi
aktivitas
Peningkatan afterload
Frekuensi jantung meningkat
Aktivitas terhambat
–
Frekuensi jantung
meningkat
3.
–
Perubahan irama jantung
–
DS:
Takipnea
Saraf simpatis
–
Keluhan pusing/pening,
berdenyut
Ach
Saraf pasca ganglion
–
Sakit kepala suboksipital
Aorepinefrine
–
Gangguan penglihatan
Konriksi
DO:- Perubahan keterjagaan
Sakit kepala
Gangguan rasa
nyaman:
nyeri(sakit) kepala
4.
Afek
Orientasi
Proses piker
DS:- Gangguan ginjal
(infeksi/obstruksi atau riwayat
penyakit gnjal sebelumnnya)
Ginjal/rennin
Angiotention I
DO:- Gangguan pola eliminasi
Angiotension II
Potensial
perubahan perfusi
jaringan
Aldosteron
Retersi Na dan
H2O
Intravascular
Perubahan perfusi jaringan
K. Diagnosa keperawatan
1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan
peningkatan tekanan vaskuler serebral.
3. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan gangguan sirkulasi
L.
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan 1. :
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia
miokard.
Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban
kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima,
memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.
Intervensi :
o
o
o
o
o
o
o
o
Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat.
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler.
Catat edema umum.
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
o
o
o
o
o
Lakukan tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher
Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi.
Diagnosa Keperawatan 2. :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan O2.
Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan /
diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
o
o
o
o
o
Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter
:frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD,
dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,pusig
atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress,
aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung).
Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan /
kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas dan
perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan
tingkat aktivitas individual).
Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen
miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang
ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja
jantung).
Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi,
menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan
energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen).
Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti
jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah
kelemahan).
Diagnosa Keperawatan 3. :
Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
Kriteria Hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :
o
o
o
o
o
o
Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan.
Batasi aktivitas.
Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan.
Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi
nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.
Diagnosa keperawatan 4. :
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan
sirkulasi.
Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti
ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala,
pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Intervensi :
o
o
o
o
o
o
o
Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur.
Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan
pemantau tekanan arteri jika tersedia.
Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan.
Amati adanya hipotensi mendadak.
Ukur masukan dan pengeluaran.
Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan.
Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.
M. Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan dari aapa yang sudah direncanakan dari setiap diagnose
yang muncul.
N.
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, proses yang continue yang penting
untuk menjamin kualitas dan ketetapan perawatan yang diberikan dan dilakukan dengan
meninjau respon pasien untuk menentukan keaktifan rencana perawatan dan memenuhi
kebutuhan pasien.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
a) Identitas klien
Nama
: Ny. N
Umur
: 55 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Kristen
Pekerjaan
: PNS
Alamat
: Hutabaginda, Hutatoruan VII
Dx. Medis
: hipertensi
b) Keluhan utama
Pusing / sakit kepala
c) Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga klien mengatakan di keluarga hanya klien yang mempunyai riwayat hipertensi, dan
di keluarga juga tidak mempunyai riwayat penyakit kronis lainnya, seperti TBC, DM, asma
dan lain-lain.
d) Aspek social
Hubungan klien dengan keluarga sangat baik. Hubungan klien dengan lingkungan juga sangat
baik,
e) Aspek spiritual
Klien dan keluarga beragama islam menurut keluarga selama sehatnya klien rajin beribadah,
B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan umum
 Keadaan umum
: lemah
 Kesadaran
: compos mentis
 Nilai GCS
: 15
 Respon membuka
:4
 Respon motorik
:6
 Repon verbal
:5




TD
R
N
S
:
:
:
:
160/90 mmHg
20x/menit
80x/menit
36 oC
2. System pengindraan
1)
Sistem penglihatan
Inspeksi
: bentuk mata dan bola mata simetris, reflek pupil klien baik, saat ada
rangsangan cahaya miosis, konjungtiva tak anemis, sclera tidak ikterik, gerakan bola mata
baik.
Palpasi
2)
: tidak terdapat lesi atau oedema, tidak dirasakan nyeri tekan.
System pendengaran
Bentuk dan letak simetris, tidak ada serumen, fungsi pendengaran cukup baik karena klien
mampu mengerjakan apa saja yang diperintahkan.
3)
System penciuman
Bentuk dan letak simetris, klien di tes dengan mengguanakan alcohol dan kopi disertai
dengan tulisan alcohol dan kopi, klien dapat menunjuk dengan tepat bau yang dirasakan.
4)
System pengecapan
Keadaan lidah sedikit kotor, klien dites dengan menggunakan garam dan gula disertai tulisan
garam dan gula, klien dapat menunjuk dengan tepat apa yang dirasakan.
5)
System integument
Gastisitas/turgor kulit baik walaupun saat di tarik kulit klien kembali ke semuala +/- 3-5 detik
karena proses penuaan, tidak ada lesi, warna kulit putih,tidak ada masa, tampilan umum kulit
bersih, kulit kepala bersih, distribusi rambut merata.
6)
System pencernaan
Bentuk mulut simetris, gigi tidak utuh beberapa sudah tanggal, jumlah gigi sudah tanggal,
jumlah gigi susu dan gigi taring 4, geraham premolar 2, gerakan motor 12, jumlah gigi 26,
mukosa bibir kering, reflek menelan ada, auskultasi pada bising usus 10x/menit.
7)
System pernafasan
Bentuk hidung simetris, tidak tampak polip, tidak aa pernafasan cuping hidung, retraksi dada
negative, tidak ada nyeri tekan pada adda, tidak ada benjolan pada dada, terdengar suara
sonor pada dada sebelah kiri dan kanan, tidak ada wheezing.
8)
System kardiovaskuler
Tachicardi, cyanotic negative pada akral bibir klien, tidak terdapat peningakatan vena
juularis, tidak ada bunyi tambahan.
9)
System perkemihan
Eliminasi urine tidak sering, ketok CVA tidak dirasaka nyeri, tidak ada nyeri pada aderah
supra pubis, blas tidak teraba keras dan saat di palpasi tidak terasa nyeri.
10) System persarafan
N1 (olfaktorius)
: klien dapat membedakan bau minyak kayu putih
N2 (optikus)
penuaan,
: lapang pandang klien agak berkurang behubungan dengan
N3 (okulomotorius)
terkena cahaya)
: normal (bila terkena cahaya miosis dan midriasis bila tidak
N4 (trakelis)
: mata masih terkoordinasi sesuai perintah.
N5 (trigeminus)
secara simetris
: reflek mengunyah ada, kelopak mata(+), rahang dapat mengatup
N6 (abdusen)
: klien dapat menggerakan bola mata ke kiri dan ke kanan.
N7 (fasialis)
: klien dapat menggerakan muka.
N8 (cochlealis)
: pendengaran baik.
N9 (glosopharingeus)
: ada reflek menelan.
N10 (vagus)
: kemampuan menelan baik.
N11 (accesorius)
: kedua bahu masih mampu mengatasi tahanan dengan cukup baik.
N12 (hipoglosus)
: pergerakan lidah normal.
11) System musculoskeletal
Tidak ada kelumpuhan pada ekstermitas, kekuatan otot penuh, tidak ada nyeri dan tidak ada
luka.
C. Pemeriksaan penunjang
Clorotiazid
2×1
Ctm
3×1
Antasida doen
3×1
Pct
3×1
B1
3×1
D. Analisa data
No.
Data focus
1. DS: - Keluarga klien mengatakan
klien mempunyai riwayat hipertensi
DO: - TD klien meningkat
2. DS: - Keluarga klien mengatakan
klien merasa sakit kepala yang
sangat hebat
DO: - Klien meringis sampai
menangis menahan sakit kepala yang
dirasakan
-
masalah
Peningkatan TD





Saraf simpatis
Ach
Saraf pasca ganglion
Sakit kepala
Konriksi
Sakit kepala
TD: 160/90 mmHg
ADL klien sedikit
terhambat
3. DS:- Keluarga klien mengatakan
klien tidak tidur semalaman dan
terus merasakan sakit kepala nya.
DO:- TD: 160/90 mmHg
-






Etiologi
Medulla
Saraf simpatis
Ganglia simpatis
Tekanan darah
Kontriksi
Peningkatan tekanan
darah
Mata klien tampak
cekung

Peningkatan tekanan Gangguan pola
vaskular serebral istirahat
 Saraf simpatis
 Tidak mampu
mengatasi nyeri
 Gangguan pola
istirahat
 Insomnia
4. DS:- Keluarga klien mengatakan
Tidak ada makanan masuk ke Nyeri
klien merasa sakit perut karena klien
lambung
abdomenalis
tidak makan apapun dan hanya
minum saja sejak sakit kepala
Tidak ada proses pencernaan
dirasakan.
Peningakatan asam lambung
DO: - Peristaltik usus 12x/menit
Peningkatan peristaltik usus
- Terpasang infus
Nyeri abdomenalis
a)
b)
c)
d)
E. Diagnose keperawatan berdasarkan prioritas masalah
Peningkatan TD berhubungan dengan penurunan curah jantung
Nyeri/sakit kepala berhubungan dengan peningkatan vascular serebral
Insomnia berhubungan dengan ketidakmampuan mengatasi nyeri
Nyeri abdomenalis berhubungan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi
F. Perencanaan
No
Dx
.
1. Peningakatan
TD
berhubunagn
dengan
penurunan
curah jantung
Tujuan
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1×24
jam TD klien
dapat kembali
DS:- Keluarga normal
klien
mengatakan
Tupan:
klien
mempunyai
Berpartisipasi
riwayat
dalam aktivitas
hipertensi
yang
menurunkan
DO: - TD klien TD/beban kerja
meningkat
jantung
Tupen:
- Keluarga
klien
mengatakan
sakit kepala
yang dirasakna
klien berkurang
Intervensi
1. Pantau TD klien, Amati
warna kulit, kelembaban ,
suhu, dan masa pengisian.
2. Berikan lingkungan tenang,
nyaman, kurangi aktivitas/
keributan lingkungan.
Batasi jumlah pengunjung
dan lamanya tinggal.
3. Pertahankan pembatasan
aktivitas, spt. Istirahat di
tempat tidur/kursi; jadwal
periode istirahat tanpa
gangguan; bantu klien
melakukan aktivitas
perawatan diri
sesuai kebutuhan.
4. Lakukan tindakan- tindakan
yang nyaman seperti pijatan
punggung dan leher,
meninggikan kepla tempat
tidur
5. Kolaborasi dalam
pemberian tiazid, mis.
Klorotiazid (diuril);
hidroklorotiazi(esidrix/hidr
oDIURIL)
Rasional
1. Adanya pucat,
dingin, kulit
lembab, dan
masa pengisian
kapiler lambat
mungkin
berkaitan
dengan
vasokontriksi
atau
mencerminkan
deskompensasi /
penurunan CO.
2. Membantu
untuk
menurunkan
rangsangan
simpatis;
meningkatkan
relaksasi.
3. Menurunkan
stresss dan
ketegangan yang
mempengaruhi
tekanan darah
dan perjalanan
2. Nyeri/ sakit
kepala
berhubungan
dengan
peningkatan
vascular
serebral
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 1×24
jam dengan
criteria:
DS:- Keluarga Tupan:
klien
mengatakan
Klen dapat
klien merasa kembali
sakit kepala
beraktifitas
yang sangat
dengan normal
hebat
DO:- Klien
Tupen:
meringis
sampai
- Keluarga
menangis
klien
menahan sakit mengatakan
kepala yang
sakit kepala
dirasakan
yang dirasakan
klien
- TD: 160/90 berkurang.
mmHg
- ADL klien
sedikit
terhambat
6. Perbandingan dari tekanan
memberikan gambaran
yang lebih lengkap tentang
keterlibatan/ bidang
masalah vascular
penyakit
hipertensi
4. Mengurangi
ketidaknyamana
n dan dapat
menurunkan
rangsangan
simpatis.
5. Tiazid mungkin
digunakan
sendiri atau
dicampur
dengan obat lain
untuk
menurunkan TD
pada pasien
dengan fungsi
ginjal relative
normal.
1. Mempertahankan tirah
baring selama fase akut
2. Berikan tindakan
nonfarmakologis untuk
menghilangkan sakit
kepala, mis. Kompres
dingin pada dahi pijat
punggung bdan leher,
redupkan lampu kamar,
teknik relaksasi, dan
aktivitas di waktu senggang
3. Kolaborasi dalam
pemberian analgesic
4. Meminimalkan
stimulasi/meningakatkan
relaksasi
1. Tindakan yang
menurunkan
tekanan
vascular
serebral dan
yang
memperlambat
/ memblok
respon
simpatis
efektif dalam
menghilangka
n sakit kepala
dan
komplikasinya
2. Menurunkan/
mengontrol
nyeri dan
menurunkan
rangsang
system saraf
simpatis
3. Insomnia
berhubungan
dengan
ketidakmampu
an mengatasi
nyeri
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selam 1×24
jam, dengan
criteria:
DS:- Keluarga
klien
Tupan:
mengatakan
klien tidak
Tidak
tidur
mengalami lagi
semalaman dan gangguan pola
terus
aktifitas
merasakan
sakit kepala
Tupen:
nya.
- Keluarga
DO:- TD:
klien
160/90 mmHg mengatakan
klien tidak
Mata klien
terbangun lagi
tampak cekung pada malam
hari.
4. Nyeri
Setelah klien
abdomenalis diberikan
berhubungan tindakan
dengan tidak keperawatan
terpenuhinya selama 1×24
kebutuhan
jam, dengan
nutrisi.
criteria:
DS: - Keluarga Tupan:
klien
Nutrisi
mengatakan
terpenuhu
klien merasa sehingga
sakit perut
metabolism
karena klien tubuh kembali
tidak makan normal
apapun dan
hanya minum Tupen:
saja sejak sakit
kepala
- Keluarga
dirasakan.
klien
mengatakan
DO:-Peristaltik klien sudah
usus 12x/menit mau makan
kembali sesuai
Terpasang
diet yang
infuse
disarankan
1. Batasi jumlah pengunjung
dan lamanya tinggal
2. Kolaborasi dalam
pemberian antihistamin
3. Membacakan aya suci alquran sebelum waktu tidur
4. Agar klien dapat istirahat
1. Kolaborasi dalam
Pemberian antasida dan
antimual
2. Memberikan ko,pres hangat
di nagian perut klien
3. Berikan makanan sesuai
dengan diet yang
disarankan
4. Menirmalkan kadar asam
lambung sehingga dapat
mengurangi kembung dan
mual
1. Vasodilatasi
pada system
saraf simpatis
2. Memberikan
ketenangan
batin pada
klien dan
memperkuat
keimanan
klien sebagai
umat islam.
1. Merangsang
peristaltic
usus sehingga
gerakan
peristaltiknya
kembali
normal
2. Memenuhi
kebutuhan
nutrisi klien
H.
No.
1.
Implementasi
Dx
Implementasi
I T = mengakaji TTV,
TD:160/90 mmHg
R = klien kooperatif
T = mengamati warna kulit (sedikit
pucat),
kelembaban(berkeringat
sehingga lembab), dan suhu (36oC)
R = klien kooperatif
III T = memberikan kompres hangat di perut
klien
R = klien mau dikompres
T = memberikan antasida dan antimual ½
jam sebelum makan
R = klien mau minum obat
T = menyajikan dan memberikan makana
rendah garam
R = klien mau makan
I T = memberikan obat oral klorotiazid 2×1
R = klien mau minum obat
II T = memberikan obat oral pct 3×1
R = klien mau minum obat
IV T = memberikan obat oral Ctm 3×1
R = klien mau minum obat
I T = meninggikan kepala tempat tidur dan
menganjurkan klien untuk ROM
R = klien kooperatif dan mau melakukan
apa yang disuruh
I
T = melakukan pijitan di punggung dan
leher klien
R = klien mau dipijit dan merasa nyaman
sampai tertidur
III T = menyajikan dan membari makanan
rendah garam dan menyajikan obat sesuai
resep
R = klien kooperatif
I T = mengaji TTV klien
TD: 160/90 mmHg
R = klien kooperatif
I T = menyarankan pada klien untuk
membatasi jumlah pengunjung dan
lamanya tinggal
R = klien kooperatif
I T = mengkaji TTV klien
TD: 140/90 mmHg
R = klien kooperatif
Paraf
2.
I.
No.
1.
IV T = menganjurkan keluarga untuk
membacakan ayat suci al-qur’an kepada
klien
R = keluarga kooperatif
I T = mengkaji TTV klien
TD: 160/90 mmHg
R = klien kooperatif
III T = menyaajikan dan memberikan makanan
rendah garam dan menyiapkan obat sesuai
resep
R = klien kooperatif
I T = memberikan penyuluhan kepada klien
dan keluarga sebelum pulang
R = klien dan keluarga kooperatif
Evaluasi
Dx
Catatan perkembangan
I S : keluarga klien mengatakan TD klien
sudah normal
O : TD: 140/90 mmHg
A : masalah teratasi
P:–
I:–
E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
II S : keluarga klien mengatakan klien tidak
mengeluj sakit kepala lagi
O : TD: 140/90 mmHg
A : masalah teratasi
P:–
I:–
E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
III S : keluarga klien mengatakan kliem tidak
lagi susah tidur
O : TD: 140/90 mmHg
Mata klien tidak cekumg.
A : masalah teratasi
P:–
I:–
E : terapi cukup berhasil dan klien pulang
IV S :keluarga klien mengatakan klien tidak
mengeluh sakit perut lagi
O : perut tidak kembung
Peristaltic usus 8x/menit]
A : masalah teratasi
P:–
I:–
E : terapi cukup berhasil dank lien pulang.
Paraf
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam pelaksanaan asuhan keperawaan yang penulis laksanakan pada Ny.N dengan
gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi diperoleh kesimpulan bahwa dalam proses
asuhan keperawatan dengan gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi dibutuhkan suatu
koordinasi yang tepat serta menunjang ke arah tercapainya tujuan. Salah satu koordinasi ini
merupakan bentuk kerjasama tim antara perawat, dokter, staf ruangan, demi peningakatan
status kesehatan klien disertai dengan dukungan penuh dari keluarga.
B.
Saran
1. Untuk Klien dan Keluarga


Diharapkan klien mau memotivasi dirinya sendiri untuk pola hidup yang menuju ke
arah berulangnya hipertensi, misalnya hinadri konsumsi garam berlebih, hindari
stress, jangan banyak pikiran, dan olah raga teratur. Anjurkan untuk selalu cek status
kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.
Diharapkan keluarga memberikan support yang positif bagi klien demi peningakat
status kesehatan klien dan diharapkan keluarga ikut waspada terhadap resiko pada
keluarga klien sendiri.
2. Untuk Siswa


Diharapkan siswa dapat lebih mempersiapkan diri baik dari segi teori, skill, amupun
mental dalam menghadapi klien agar dapat memberikan kontribusi yang maksimal
bagi peningkatan status kesehatan klien.
Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi klien dengan melihat aspek
bio-psiko-sosio-spiritual
Download