ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. N DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS Disusun Oleh SURLINA 180207038 PROGRAM STUDI RPL DIII KEPERAWATAN FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA 2019 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah mengalami peningkatan yang memberikan gejala berlanjut pada suatu organ target di tubuh. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan yang lebih berat, misalnya stroke (terjadi pada otak dan menyebabkan kematian yang cukup tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi kerusakan pembuluh darah jantung), dan hipertrofi ventrikel kiri (terjadi pada otot jantung). Hipertensi juga dapat menyebabkan penyakit gagal ginjal, penyakit pembuluh lain dan penyakit lainnya (Syahrini et al., 2012). Umumnya penyakit hipertensi terjadi pada orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun. Penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala yang nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan yang serius pada kesehatan penderitanya (Gunawan, 2012). Hal ini serupa seperti yang dikemukakan oleh Yogiantoro (2006), hipertensi tidak mempunyai gejala khusus sehingga sering tidak disadari oleh penderitanya. Di dunia diperkirakan 7,5 juta kematian disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Pada tahun 1980 jumlah orang dengan hipertensi ditemukan sebanyak 600 juta dan mengalami peningkatan menjadi hampir 1 milyar pada tahun 2008 (WHO, 2013). Hasil riset WHO pada tahun 2007 menetapkan hipertensi pada peringkat tiga sebagai faktor resiko penyebab kematian dunia. Hipertensi telah menyebabkan 62% kasus stroke, 49% serangan jantung setiap tahunnya (Corwin, 2007). Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil riset kesehatan tahun 2007 diketahui bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia sangat tinggi, yaitu rata - rata 3,17% dari total penduduk dewasa. Hal ini berarti dari 3 orang dewasa, terdapat 1 orang yang menderita hipertensi (Riskesdas, 2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Riskesdas menemukan prevalensi hipertensi di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,8%. Daerah Bangka Belitung menjadi daerah dengan prevalensi hipertensi yang tertinggi yaitu sebesar 30,9%, kemudian diikuti oleh Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%) (Riskesdas, 2013). Di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah ditemukan prevalensi sebesar 33,8% pada Kabupaten Kutai Kartanegara menempatkan kabupaten tersebut menempati posisi kedua dengan prevalensi hipertensi terbanyak (Riskesdas, 2013). Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah stres. Stres merupakan suatu respon nonspesifik dari tubuh terhadap setiap tekanan atau tuntutan yang mungkin muncul, baik dari kondisi yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan (Sadock & Sadock, 2003). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Riskesdas (2013) untuk mengetahui prevalensi gangguan mental emosional (distres psikologis) di Indonesia diketahui bahwa terdapat 3,2% orang yang memiliki gangguan mental emosional pada provinsi Kalimantan Timur. Pada daerah kabupaten Kutai Kartanegara sendiri, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Riskesdas Provinsi Kalimantan Timur (2009) diketahui prevalensi gangguan mental emosional adalah sebesar 4,8 %. Stres dapat memicu timbulnya hipertensi melalui aktivasi sistem saraf simpatis yang mengakibatkan naiknya tekanan darah secara intermiten (tidak menentu) (Andria, 2013). Pada saat seseorang mengalami stres, hormon adrenalin akan dilepaskan dan kemudian akan meningkatkan tekanan darah melalui kontraksi arteri (vasokontriksi) dan peningkatan denyut jantung. Apabila stres berlanjut, tekanan darah akan tetap tinggi sehingga orang tersebut akan mengalami hipertensi (South,2014). B. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan hipertensi pada pasien. C. MANFAAT PENELITIAN 1.Bagi peneliti Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai hubungan antara stres dan hipertensi. 2.Bagi Puskesmas Sebagai masukan dalam peningkatan pelayanan kesehatan terutama pendidikan kepada penderita hipertensi yang diharapkan dapat mengontrol keadaan stres emosional. 3.Bagi perkembangan ilmu pengetahuan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada dunia ilmu pengetahuan khususnya di bidang psikiatri jika penelitian ini berhasil membuktikan adanya hubungan antara stres dengan hipertensi. 4.Bagi peneliti selanjutnya Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan literatur dan dapat memberikan informasi serta dapat dijadikan perbandingan bila ingin melakukan penelitian tentang stres dan hipertensi. BAB II TINJAUAN TEORITIS I. Konsep Teori A. Definisi Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996). Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997) Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ). Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. B. Anatomi dan Fisiologi hipertensi 1. Anatomi a) Jantung Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada, batas kanannya terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis kelima kiri pada linea midclavicular. Hubungan jantung adalah: Atas- : pembuluh darah besar Bawah- : diafragma Setiap sisi : paruBelakang : aorta desendens, oesophagus, columna vertebralis b) Arteri Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan organ. Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta dan cabangcabangnya besar memiliki laposan tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ). Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara: Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi “vasokonstriksi”, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika: Aktivitas memompa jantung berkurang Arteri mengalami pelebaran Banyak cairan keluar dari sirkulasi Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil. Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis). Perubahan fungsi ginjal Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara: Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. 1. Arteriol Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal. Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah akan meningkat 2. Pembuluh darah utama dan kapiler Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang berjalan langsung dari arteriol ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh darah kecil yang membuka pembuluh darah utama. 3. Sinusoid Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid tiga sampai empat kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi dengan sel sistem retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah mengalami kontak langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi melalui ruang jaringan 4. Vena dan venul Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara sempurna satu sama lain. 2. Fisiologi Jantung mempunyai fungsi sebagai pemompa darah yang mengandung oksigen dalam sistem arteri, yang dibawa ke sel dan seluruh tubuh untuk mengumpulkan darah deoksigenasi (darah yang kadar oksigennya kurang) dari sistem vena yang dikirim ke dalam paru-paru untuk reoksigenasi (Black, 1997) C. Klasifikasi Dan Manifestasi Klinis Klasifikasi Hipertensi hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia Kategori Normal Prehipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Hipertensi sistol terisolasi Systole (mmHg) <120 120-139 140-159 >=160 >=140 Dan/atau dan Atau Atau Atau Atau Diastole(mmHg) <80 80-89 90-99 >=100 <90 Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epitaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sulit tidur, mata berkunang-kunang dan pusing. Selain itu manifestasi klinik pada penderita hipertensi adalah sebagia berikut: Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg Sakit kepala Epistaksis Pusing / migrain Rasa berat ditengkuk Sukar tidur Mata berkunang kunang Lemah dan lelah Muka pucat Suhu tubuh rendah Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. D. Etiologi Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi: o o o Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah meningkat. Stress Lingkungan. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu: 1. Hipertensi Esensial/Hipertensi Primer: yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na. Peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko, seperti: obesitas, alkohol, merokok serta polisitemia. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. 1. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal. Hiperaldosteronisme primer dan sindrom cushing, feokromusitoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder: 1. Penyakit Ginjal o Stenosis arteri renalis o Pielonefritis o Glomerulonefritis o Tumor-tumor ginjal o Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan) o Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal) o Terapi penyinaran yang mengenai ginjal 2. Kelainan Hormonal o Hiperaldosteronisme o Sindroma Cushing o Feokromositoma 3. Obat-obatan o Pil KB o Kortikosteroid o Siklosporin o Eritropoietin o Kokain o Penyalahgunaan alkohol o Kayu manis (dalam jumlah sangat besar) 4. Penyebab Lainnya o Koartasio aorta o Preeklamsi pada kehamilan o Porfiria intermiten akut o Keracunan timbal akut. E. Faktor Predisposisi 1. Factor yang tidak dapat diubah Usia, jenis kelmin, RAS, riwayat TIA dan stroke, penyakit jantung koroner, fibrilasi atrium, heterozygote atau homozygote untuk homositinuria. 2. Factor yang dapat diubah Hipertensi, Dm, hiperurisemia, merokok, pnyalahgunaan alcohol dan obat, kontrasepsi oral, Ht meningakat, bruit karotis asimtomatis dan displidemia. F. Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan Laborat 1. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia. 2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal. 3. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin. 4. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM. 5. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati 6. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. 7. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal. 8. Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung. H. Penatalaksanaan Penatalaksanaan Non Farmakologis o DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma. o Aktivitas Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang. o Penatalaksanaan Farmakologis Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu: Mempunyai efektivitas yang tinggi. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal. Memungkinkan penggunaan obat secara oral. Tidak menimbulakn intoleransi. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien. Memungkinkan penggunaan jangka panjang. Golongan obat – obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi sepertigolongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin. II. Konsep dasar asuhan keperawatan 1. Proses keperawatan Proses keperawatan adalah dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien baik sebagai individu, keluarga maupun mayarakat (Nursalam, 2001). Iyer et all (1996) mengemukakan dalam proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber, untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001). 1) Biodata Mencakup identitas klien, meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat, no. medrek, Dx medis, tanggal masuk, dan tanggal pengkajian. 2) Riwayat kesehatan a) Keluhan Utama Pada kasus hipertensi, ditemukan keluhan utama adanya pusing yang hebat. b) Riwayat Kesehatan/ Penyakit Sekarang Riwayat penyakit sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang sedang dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan PQRST, yaitu: P = paliative/provokatif; hal-hal yang menyebabkan bertambah/bekurannya keluhan utama. Pada kasus hipertensi, ditemukan adanya rasa pusing. Keluhan dirasakan semakin berat bila melakukan aktivitas yang berat. Q = Quality/Quantity; tingkat keluhan utama. R = region; yaitu lokasi keluhan utama. Pada kasus hipertensi ditemukan adanya pusing yang tak tertahankan di seluruh bagian kepala S = savety; yaitu intensitas dari keluhan utama, apakah sampai mengganggu aktivitas atau tidak, seperti bargantug pada derajat beratnya. T = timing; yaitu kapan mulai muncul dan berapa lama berlangsungnya. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. c) Riwayat Kesehatan Dahulu Saat dikaji pasien hipertensi biasanya didapat riwayat penyakit jantung koroner, merokok, penyalahgunaan obat, tingkat stress yang tinggi, dan gaya hidup yang kurang beraktivitas. d) Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat penyakit kronis/generative keluarga yang ada hubungannya dengan adanya penyakit jantung, stroke, dan lain-lain. e) Aspek psikologis Pada aspek psikologis, ditemukan adanya tingkat stress yang tinggi pada klien, emosi yang labil. f) Aspek Sosial Pada aspek social tidak ditemukan hubungan ketergantungan karena klien masih bisa melakukan aktifitasnya namun agak sedikit terganggu. g) Aspek spiritual Pada aspek ini, ditemukan adanya keterbatasan melakukan aktivitas keagamaan. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik meliputi: 1. Keadaan umum Kaji tingkat kesadaran ( GCS ) kehilangan sensasi, susunan saraf dikaji (Nevrus I-XII )gangguan penlihatan, gangguan ingatan Mengkaji tanda-tanda vital Kesadaran bisa compos mentis sampai mengalami penurunan keadaran kehilangan sensasi, susunan saraf dikaji (I-XII) gangguan penglihatan, gangguan ingatan, tonus otot menurun dan kehilangan reflek tonus, BB biasanya mengalami penurunan, tanda-tanda vital biasanya melebihi batas normal. Batas normal TTV menurut Hidayat, 2000 adalah sebagai berikut: Umur 18th/lebih 65th /lebih Suhu 37,0oC 36,0oC Nadi 70-75x/mnt 70-75x/mnt Pernafasan 15-20x/mnt 15-20x/mnt TD 120/80 mmHg 140/90 mmHg GCS (glaslow coma scale): Respon membuka: Spontan Berdasarkan perintah verbal Berdasarka rangsangan nyeri Tidak member respon 4 3 2 1 Respon motorik: Menurut perintah Melikalisir rangsangan nyeri Menarik/berlawanan rangsangan nyeri Fleksi abnormal (terhadap nyeri) Ekstensi (terhadap nyeri) Tidak member respon 6 5 4 3 2 1 Respon verbal: Orientasi baik Konversi kacau (bicara bingung) Kata-kata kacau (tidak sesuai) Bersuara inkomprehensif (suara tidak ada kata) Tidak memberikan respon 5 4 3 2 1 NILAI: 15 : Compos mentis 12-14 : Somnolen 8-11 : Soporus 3-7 : Coma 1. System pengindraan (penglihatan) Pada kasus hipertensi, terdapat gangguan penglihatan seperti penglihatan menurun, buta total, kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan monokuler), penglihatan ganda, (diplopia)/gangguan yang lain. Ukuran reaksi pupil tidak sama, kesulitan untuk melihat objek, warna dan wajah yang pernah dikenali dengan baik. 2. System penciuman Terdapat gangguan pada system penciuman, terdapat hambatan jalan nafas. 3. System pernafasan Adanya batuk atau hambatan jalan nafas, suara nafas tredengar ronki ( aspirasi sekresi) 4. System kardiovaskular Nadi, frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung atau kondisi jantung), perubahan EKG, adanya penyakit jantung miocard infark, rematik atau penyakit jantung vaskuler. 5. System pencernaan Ketidakmampua menelan, mengunyah, tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri. 6. System urinaria Terdapat perubahan system berkemih seperti inkontinensia. 7. System persarafan Nevrus 1 Olfaktori (penciuman) Nevrus II Optic (penglihatan) Nevrus III Okulomotor ( gerak ekstraokuler mata, kontriksi dilatasi pupil) Nevrus IV Trokhlear (gerak bola mata ke atas ke bawah) Nevrus V Trigeminal (sensori kulit wajah, penggerak otot rahang) Nevrus VI Abdusen (gerak bola mata menyamping) Nevrus VII Fasial (ekspresi fasial dan pengecapan) Nevrus VIII Oditori (pendengaran) Nevrus IX Glosovaringeal (gangguan pengecapan, kemampuan menelan, gerak lidah) Nevrus X Vagus (sensasi faring, gerakan pita suara) Nevrus Asesori (gerakan kepala dan bahu) Nevrus XII Hipoglosal (posisi lidah) 8. System musculoskeletal Kaji kekuatan dan gangguan tonus otot, pada klien hipertensi didapat klien merasa kesulitan untuk melakuakn aktvitas karena kelemahan, kesemuatan atau kebas. 9. System integument Keadaan turgor kulit, ada tidaknya lesi, oedem, distribusi rambut. J. No. 1. DS: Analisa data Data focus Etiologi Medulla – Riwayat hipertensi – Ateroskelosis Ganglia simpatis – Penyakit jantung koroner/katup dan penyakit serebrovaskular Tekanan darah – Epsodepalpitasi – Perpirasi Masalah Peningkatan tekanan darah Saraf simpatis Kontriksi Peningkatan tekanan darah DO: 2. – DS: Kenaikan TD – Kelemahan – Letih – Nafas pendek Kelelahan – Gaya hidup monoton Tachipnea Peningkatan CO DO: Intoleransi aktivitas Peningkatan afterload Frekuensi jantung meningkat Aktivitas terhambat – Frekuensi jantung meningkat 3. – Perubahan irama jantung – DS: Takipnea Saraf simpatis – Keluhan pusing/pening, berdenyut Ach Saraf pasca ganglion – Sakit kepala suboksipital Aorepinefrine – Gangguan penglihatan Konriksi DO:- Perubahan keterjagaan Sakit kepala Gangguan rasa nyaman: nyeri(sakit) kepala 4. Afek Orientasi Proses piker DS:- Gangguan ginjal (infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit gnjal sebelumnnya) Ginjal/rennin Angiotention I DO:- Gangguan pola eliminasi Angiotension II Potensial perubahan perfusi jaringan Aldosteron Retersi Na dan H2O Intravascular Perubahan perfusi jaringan K. Diagnosa keperawatan 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral. 3. Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi L. Perencanaan Diagnosa Keperawatan 1. : Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular. Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard. Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien. Intervensi : o o o o o o o o Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler. Catat edema umum. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan o o o o o Lakukan tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi. Diagnosa Keperawatan 2. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi. Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur. Intervensi : o o o o o Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung). Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas individual). Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung). Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen). Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan). Diagnosa Keperawatan 3. : Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat. Kriteria Hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman. Intervensi : o o o o o o Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan. Batasi aktivitas. Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin. Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi. Diagnosa keperawatan 4. : Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi. Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu. Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. Intervensi : o o o o o o o Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur. Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia. Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan. Amati adanya hipotensi mendadak. Ukur masukan dan pengeluaran. Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan. Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan. M. Implementasi Implementasi adalah pelaksanaan dari aapa yang sudah direncanakan dari setiap diagnose yang muncul. N. Evaluasi Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, proses yang continue yang penting untuk menjamin kualitas dan ketetapan perawatan yang diberikan dan dilakukan dengan meninjau respon pasien untuk menentukan keaktifan rencana perawatan dan memenuhi kebutuhan pasien. BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian a) Identitas klien Nama : Ny. N Umur : 55 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Kristen Pekerjaan : PNS Alamat : Hutabaginda, Hutatoruan VII Dx. Medis : hipertensi b) Keluhan utama Pusing / sakit kepala c) Riwayat kesehatan keluarga Keluarga klien mengatakan di keluarga hanya klien yang mempunyai riwayat hipertensi, dan di keluarga juga tidak mempunyai riwayat penyakit kronis lainnya, seperti TBC, DM, asma dan lain-lain. d) Aspek social Hubungan klien dengan keluarga sangat baik. Hubungan klien dengan lingkungan juga sangat baik, e) Aspek spiritual Klien dan keluarga beragama islam menurut keluarga selama sehatnya klien rajin beribadah, B. Pemeriksaan fisik 1. Pemeriksaan umum Keadaan umum : lemah Kesadaran : compos mentis Nilai GCS : 15 Respon membuka :4 Respon motorik :6 Repon verbal :5 TD R N S : : : : 160/90 mmHg 20x/menit 80x/menit 36 oC 2. System pengindraan 1) Sistem penglihatan Inspeksi : bentuk mata dan bola mata simetris, reflek pupil klien baik, saat ada rangsangan cahaya miosis, konjungtiva tak anemis, sclera tidak ikterik, gerakan bola mata baik. Palpasi 2) : tidak terdapat lesi atau oedema, tidak dirasakan nyeri tekan. System pendengaran Bentuk dan letak simetris, tidak ada serumen, fungsi pendengaran cukup baik karena klien mampu mengerjakan apa saja yang diperintahkan. 3) System penciuman Bentuk dan letak simetris, klien di tes dengan mengguanakan alcohol dan kopi disertai dengan tulisan alcohol dan kopi, klien dapat menunjuk dengan tepat bau yang dirasakan. 4) System pengecapan Keadaan lidah sedikit kotor, klien dites dengan menggunakan garam dan gula disertai tulisan garam dan gula, klien dapat menunjuk dengan tepat apa yang dirasakan. 5) System integument Gastisitas/turgor kulit baik walaupun saat di tarik kulit klien kembali ke semuala +/- 3-5 detik karena proses penuaan, tidak ada lesi, warna kulit putih,tidak ada masa, tampilan umum kulit bersih, kulit kepala bersih, distribusi rambut merata. 6) System pencernaan Bentuk mulut simetris, gigi tidak utuh beberapa sudah tanggal, jumlah gigi sudah tanggal, jumlah gigi susu dan gigi taring 4, geraham premolar 2, gerakan motor 12, jumlah gigi 26, mukosa bibir kering, reflek menelan ada, auskultasi pada bising usus 10x/menit. 7) System pernafasan Bentuk hidung simetris, tidak tampak polip, tidak aa pernafasan cuping hidung, retraksi dada negative, tidak ada nyeri tekan pada adda, tidak ada benjolan pada dada, terdengar suara sonor pada dada sebelah kiri dan kanan, tidak ada wheezing. 8) System kardiovaskuler Tachicardi, cyanotic negative pada akral bibir klien, tidak terdapat peningakatan vena juularis, tidak ada bunyi tambahan. 9) System perkemihan Eliminasi urine tidak sering, ketok CVA tidak dirasaka nyeri, tidak ada nyeri pada aderah supra pubis, blas tidak teraba keras dan saat di palpasi tidak terasa nyeri. 10) System persarafan N1 (olfaktorius) : klien dapat membedakan bau minyak kayu putih N2 (optikus) penuaan, : lapang pandang klien agak berkurang behubungan dengan N3 (okulomotorius) terkena cahaya) : normal (bila terkena cahaya miosis dan midriasis bila tidak N4 (trakelis) : mata masih terkoordinasi sesuai perintah. N5 (trigeminus) secara simetris : reflek mengunyah ada, kelopak mata(+), rahang dapat mengatup N6 (abdusen) : klien dapat menggerakan bola mata ke kiri dan ke kanan. N7 (fasialis) : klien dapat menggerakan muka. N8 (cochlealis) : pendengaran baik. N9 (glosopharingeus) : ada reflek menelan. N10 (vagus) : kemampuan menelan baik. N11 (accesorius) : kedua bahu masih mampu mengatasi tahanan dengan cukup baik. N12 (hipoglosus) : pergerakan lidah normal. 11) System musculoskeletal Tidak ada kelumpuhan pada ekstermitas, kekuatan otot penuh, tidak ada nyeri dan tidak ada luka. C. Pemeriksaan penunjang Clorotiazid 2×1 Ctm 3×1 Antasida doen 3×1 Pct 3×1 B1 3×1 D. Analisa data No. Data focus 1. DS: - Keluarga klien mengatakan klien mempunyai riwayat hipertensi DO: - TD klien meningkat 2. DS: - Keluarga klien mengatakan klien merasa sakit kepala yang sangat hebat DO: - Klien meringis sampai menangis menahan sakit kepala yang dirasakan - masalah Peningkatan TD Saraf simpatis Ach Saraf pasca ganglion Sakit kepala Konriksi Sakit kepala TD: 160/90 mmHg ADL klien sedikit terhambat 3. DS:- Keluarga klien mengatakan klien tidak tidur semalaman dan terus merasakan sakit kepala nya. DO:- TD: 160/90 mmHg - Etiologi Medulla Saraf simpatis Ganglia simpatis Tekanan darah Kontriksi Peningkatan tekanan darah Mata klien tampak cekung Peningkatan tekanan Gangguan pola vaskular serebral istirahat Saraf simpatis Tidak mampu mengatasi nyeri Gangguan pola istirahat Insomnia 4. DS:- Keluarga klien mengatakan Tidak ada makanan masuk ke Nyeri klien merasa sakit perut karena klien lambung abdomenalis tidak makan apapun dan hanya minum saja sejak sakit kepala Tidak ada proses pencernaan dirasakan. Peningakatan asam lambung DO: - Peristaltik usus 12x/menit Peningkatan peristaltik usus - Terpasang infus Nyeri abdomenalis a) b) c) d) E. Diagnose keperawatan berdasarkan prioritas masalah Peningkatan TD berhubungan dengan penurunan curah jantung Nyeri/sakit kepala berhubungan dengan peningkatan vascular serebral Insomnia berhubungan dengan ketidakmampuan mengatasi nyeri Nyeri abdomenalis berhubungan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi F. Perencanaan No Dx . 1. Peningakatan TD berhubunagn dengan penurunan curah jantung Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam TD klien dapat kembali DS:- Keluarga normal klien mengatakan Tupan: klien mempunyai Berpartisipasi riwayat dalam aktivitas hipertensi yang menurunkan DO: - TD klien TD/beban kerja meningkat jantung Tupen: - Keluarga klien mengatakan sakit kepala yang dirasakna klien berkurang Intervensi 1. Pantau TD klien, Amati warna kulit, kelembaban , suhu, dan masa pengisian. 2. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/ keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. 3. Pertahankan pembatasan aktivitas, spt. Istirahat di tempat tidur/kursi; jadwal periode istirahat tanpa gangguan; bantu klien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 4. Lakukan tindakan- tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepla tempat tidur 5. Kolaborasi dalam pemberian tiazid, mis. Klorotiazid (diuril); hidroklorotiazi(esidrix/hidr oDIURIL) Rasional 1. Adanya pucat, dingin, kulit lembab, dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan deskompensasi / penurunan CO. 2. Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis; meningkatkan relaksasi. 3. Menurunkan stresss dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan 2. Nyeri/ sakit kepala berhubungan dengan peningkatan vascular serebral Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam dengan criteria: DS:- Keluarga Tupan: klien mengatakan Klen dapat klien merasa kembali sakit kepala beraktifitas yang sangat dengan normal hebat DO:- Klien Tupen: meringis sampai - Keluarga menangis klien menahan sakit mengatakan kepala yang sakit kepala dirasakan yang dirasakan klien - TD: 160/90 berkurang. mmHg - ADL klien sedikit terhambat 6. Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/ bidang masalah vascular penyakit hipertensi 4. Mengurangi ketidaknyamana n dan dapat menurunkan rangsangan simpatis. 5. Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi ginjal relative normal. 1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut 2. Berikan tindakan nonfarmakologis untuk menghilangkan sakit kepala, mis. Kompres dingin pada dahi pijat punggung bdan leher, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi, dan aktivitas di waktu senggang 3. Kolaborasi dalam pemberian analgesic 4. Meminimalkan stimulasi/meningakatkan relaksasi 1. Tindakan yang menurunkan tekanan vascular serebral dan yang memperlambat / memblok respon simpatis efektif dalam menghilangka n sakit kepala dan komplikasinya 2. Menurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simpatis 3. Insomnia berhubungan dengan ketidakmampu an mengatasi nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 1×24 jam, dengan criteria: DS:- Keluarga klien Tupan: mengatakan klien tidak Tidak tidur mengalami lagi semalaman dan gangguan pola terus aktifitas merasakan sakit kepala Tupen: nya. - Keluarga DO:- TD: klien 160/90 mmHg mengatakan klien tidak Mata klien terbangun lagi tampak cekung pada malam hari. 4. Nyeri Setelah klien abdomenalis diberikan berhubungan tindakan dengan tidak keperawatan terpenuhinya selama 1×24 kebutuhan jam, dengan nutrisi. criteria: DS: - Keluarga Tupan: klien Nutrisi mengatakan terpenuhu klien merasa sehingga sakit perut metabolism karena klien tubuh kembali tidak makan normal apapun dan hanya minum Tupen: saja sejak sakit kepala - Keluarga dirasakan. klien mengatakan DO:-Peristaltik klien sudah usus 12x/menit mau makan kembali sesuai Terpasang diet yang infuse disarankan 1. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal 2. Kolaborasi dalam pemberian antihistamin 3. Membacakan aya suci alquran sebelum waktu tidur 4. Agar klien dapat istirahat 1. Kolaborasi dalam Pemberian antasida dan antimual 2. Memberikan ko,pres hangat di nagian perut klien 3. Berikan makanan sesuai dengan diet yang disarankan 4. Menirmalkan kadar asam lambung sehingga dapat mengurangi kembung dan mual 1. Vasodilatasi pada system saraf simpatis 2. Memberikan ketenangan batin pada klien dan memperkuat keimanan klien sebagai umat islam. 1. Merangsang peristaltic usus sehingga gerakan peristaltiknya kembali normal 2. Memenuhi kebutuhan nutrisi klien H. No. 1. Implementasi Dx Implementasi I T = mengakaji TTV, TD:160/90 mmHg R = klien kooperatif T = mengamati warna kulit (sedikit pucat), kelembaban(berkeringat sehingga lembab), dan suhu (36oC) R = klien kooperatif III T = memberikan kompres hangat di perut klien R = klien mau dikompres T = memberikan antasida dan antimual ½ jam sebelum makan R = klien mau minum obat T = menyajikan dan memberikan makana rendah garam R = klien mau makan I T = memberikan obat oral klorotiazid 2×1 R = klien mau minum obat II T = memberikan obat oral pct 3×1 R = klien mau minum obat IV T = memberikan obat oral Ctm 3×1 R = klien mau minum obat I T = meninggikan kepala tempat tidur dan menganjurkan klien untuk ROM R = klien kooperatif dan mau melakukan apa yang disuruh I T = melakukan pijitan di punggung dan leher klien R = klien mau dipijit dan merasa nyaman sampai tertidur III T = menyajikan dan membari makanan rendah garam dan menyajikan obat sesuai resep R = klien kooperatif I T = mengaji TTV klien TD: 160/90 mmHg R = klien kooperatif I T = menyarankan pada klien untuk membatasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal R = klien kooperatif I T = mengkaji TTV klien TD: 140/90 mmHg R = klien kooperatif Paraf 2. I. No. 1. IV T = menganjurkan keluarga untuk membacakan ayat suci al-qur’an kepada klien R = keluarga kooperatif I T = mengkaji TTV klien TD: 160/90 mmHg R = klien kooperatif III T = menyaajikan dan memberikan makanan rendah garam dan menyiapkan obat sesuai resep R = klien kooperatif I T = memberikan penyuluhan kepada klien dan keluarga sebelum pulang R = klien dan keluarga kooperatif Evaluasi Dx Catatan perkembangan I S : keluarga klien mengatakan TD klien sudah normal O : TD: 140/90 mmHg A : masalah teratasi P:– I:– E : terapi cukup berhasil dan klien pulang II S : keluarga klien mengatakan klien tidak mengeluj sakit kepala lagi O : TD: 140/90 mmHg A : masalah teratasi P:– I:– E : terapi cukup berhasil dan klien pulang III S : keluarga klien mengatakan kliem tidak lagi susah tidur O : TD: 140/90 mmHg Mata klien tidak cekumg. A : masalah teratasi P:– I:– E : terapi cukup berhasil dan klien pulang IV S :keluarga klien mengatakan klien tidak mengeluh sakit perut lagi O : perut tidak kembung Peristaltic usus 8x/menit] A : masalah teratasi P:– I:– E : terapi cukup berhasil dank lien pulang. Paraf BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dalam pelaksanaan asuhan keperawaan yang penulis laksanakan pada Ny.N dengan gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi diperoleh kesimpulan bahwa dalam proses asuhan keperawatan dengan gangguan sistem kardiovaskular : hipertensi dibutuhkan suatu koordinasi yang tepat serta menunjang ke arah tercapainya tujuan. Salah satu koordinasi ini merupakan bentuk kerjasama tim antara perawat, dokter, staf ruangan, demi peningakatan status kesehatan klien disertai dengan dukungan penuh dari keluarga. B. Saran 1. Untuk Klien dan Keluarga Diharapkan klien mau memotivasi dirinya sendiri untuk pola hidup yang menuju ke arah berulangnya hipertensi, misalnya hinadri konsumsi garam berlebih, hindari stress, jangan banyak pikiran, dan olah raga teratur. Anjurkan untuk selalu cek status kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Diharapkan keluarga memberikan support yang positif bagi klien demi peningakat status kesehatan klien dan diharapkan keluarga ikut waspada terhadap resiko pada keluarga klien sendiri. 2. Untuk Siswa Diharapkan siswa dapat lebih mempersiapkan diri baik dari segi teori, skill, amupun mental dalam menghadapi klien agar dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi peningkatan status kesehatan klien. Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif bagi klien dengan melihat aspek bio-psiko-sosio-spiritual