Uploaded by Eliana

Akuntansi Perpajakan

advertisement
PENGERTIAN PEMBUKUAN
Pasal 1 angka 29 UU KUP
Proses Pencatatan secara teratur untuk mengumpulkan
DATA dan INFORMASI KEUANGAN
MELIPUTI





Harta
Kewajiban
Modal
Penghasilan dan Biaya
Harga Perolehan dan Penyerahan Barang/Jasa
Dengan menyusun LAPORAN KEUANGAN
(NERACA & LABA RUGI)
Untuk periode Tahun Pajak tersebut
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2007 - 2008
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. PMK No.01/PMK.03/2007
WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YG
MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
ATAU PEKERJAAN BEBAS, PEREDARAN
BRUTO DALAM 1 (SATU) TAHUN >= 1,8
MILIAR
DI INDONESIA
WAJIB
MENYELENGGARAKAN
PEMBUKUAN
WAJIB PAJAK
BADAN
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2009 - DST
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. Pasal 14 ayat (1) UU PPh No. 36 Tahun 2008
WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YG
MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
ATAU PEKERJAAN BEBAS,
PEREDARAN BRUTO DALAM SATU
TAHUN >= 4,8 MILIAR
DI INDONESIA
WAJIB
MENYELENGGARAKAN
PEMBUKUAN
WAJIB PAJAK
BADAN
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2009 - DST
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. Pasal 14 ayat (1) UU PPh No. 36 Tahun 2008
KEWAJIBAN PEMBUKAN
Pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem
yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundangundang perpajakan menentukan lain (Pasal 28 ayat 7 UU
KUP No.28 Tahun 2007)
DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN PEMBUKUAN
TETAPI WAJIB PENCATATAN UNTUK TAHUN 2007 - 2008
Pasal 28 ayat (2) UU KUP
TIDAK WAJIB PEMBUKUAN TETAPI
WAJIB MELAKUKAN PENCATATAN
WP ORANG PRIBADI
YANG MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA/
PEKERJAAN BEBAS
YANG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG
PENGHASILAN NETO DGN
MENGGUNAKAN NORMA
PENGHITUNGAN
PENGHASILAN NETO  PEREDARAN
BRUTONYA DALAM 1 (SATU) TAHUN
KURANG DARI Rp 1.800.000.000,00 (PMK
NO. 01/PMK.03/2007)
WP ORANG PRIBADI
YANG TIDAK MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA
ATAU
PEKERJAAN BEBAS
DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN PEMBUKUAN
TETAPI WAJIB PENCATATAN UNTUK TAHUN 2009 - DST
Pasal 28 ayat (2) UU KUP
TIDAK WAJIB PEMBUKUAN TETAPI
WAJIB MELAKUKAN PENCATATAN
WP ORANG PRIBADI
YANG MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA/
PEKERJAAN BEBAS
YANG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG
PENGHASILAN NETO DGN
MENGGUNAKAN NORMA
PENGHITUNGAN
PENGHASILAN NETO  PEREDARAN
BRUTONYA DALAM 1 (SATU) TAHUN
KURANG DARI Rp 4.800.000.000,00 (Ps.
14 ayat (2) UU PPh No.36 Th 2008)
WP ORANG PRIBADI
YANG TIDAK MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA
ATAU
PEKERJAAN BEBAS
SYARAT PEMBUKUAN
Pasal 28 ayat (3), (4), (5), (7) UU KUP







Harus memperhatikan itikad baik;
Mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya;
Diselenggarakan di Indonesia;
Huruf latin;
Angka Arab;
Satuan mata uang Rupiah;
Bahasa Indonesia atau Bahasa Asing yang diizinkan Menteri
Keuangan yaitu bahasa Inggris;
 Diselenggarakan dgn prinsip taat asas dan dgn stelsel akrual
atau stelsel kas;
 Sekurang-kurangnya
terdiri
dari
catatan
mengenai
harta,kewajiban, modal, penghasilan & biaya, serta penjualan
& pembelian (sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang).
PERUBAHAN TAHUN BUKU DAN/ATAU METODE PEMBUKUAN
Pasal 28 ayat (6) UU KUP
PERUBAHAN
METODE PEMBUKUAN,
misal :
TAHUN BUKU
 Pengakuan Penghasilan
& biaya
 Metode Penyusutan
Aktiva Tetap
 Metode Penilaian Persediaan
 Harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak
 Diajukan sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan
alasan-alasan perubahan
PENGERTIAN PENCATATAN
Pasal 28 ayat (9) UU KUP
PENGUMPULAN DATA SECARA TERATUR
tentang
 Peredaran atau penerimaan bruto
dan atau;
 Penghasilan bruto
SEBAGAI DASAR UNTUK
MENGHITUNG JUMLAH PAJAK TERUTANG,
(termasuk Penghasilan yg bukan objek pajak
dan atau yg dikenakan pajak yg
bersifat final)
KEWAJIBAN PENYIMPANAN BUKU/CATATAN/DOKUMEN
Pasal 28 ayat (11) UU KUP
PENYIMPANAN BUKU/CATATAN/DOKUMEN YANG MENJADI
DASAR PEMBUKUAN ATAU PENCATATAN & DOKUMEN LAIN
TERMASUK PEMBUKUAN SECARA ELEKTRONIK/PROGRAM
APLIKASI ONLINE
SELAMA 10 TAHUN
DI INDONESIA
BADAN
ORANG PRIBADI
Tempat Kedudukan
Tempat Kegiatan
atau
Tempat Tinggal
KEGIATAN PENCATATAN
Pasal 28 ayat (12) UU KUP dan Peraturan Menkeu
(Keputusan Dirjen Pajak KEP-520/PJ./2000)
PENCATATAN
WAJIB
DILAKUKAN
1. WP OP YANG MELAKUKAN KEGIATAN USAHA ATAU
PEKERJAAN BEBAS YANG DIPERBOLEHKAN
MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN NORMA
PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO
2. WP OP YANG TIDAK MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
ATAU PEKERJAAN BEBAS
SYARAT PENCATATAN
1. PENCATATAN HARUS DIBUAT LENGKAP DAN BENAR
2. DIDUKUNG DENGAN DOKUMEN ;
* YANG MENJADI DASAR PENGHITUNGAN PEREDARAN ATAU
PENERIMAAN BRUTO DAN ATAU PENGHASILAN BRUTO
* PENGHASILAN YANG BUKAN OBJEK PAJAK DAN ATAU
* PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA
FINAL
3. JANGKA WAKTU PENCATATAN MELIPUTI JANGKA WAKTU 12 BULAN
MULAI TANGGAL 1 JANUARI SAMPAI DENGAN TANGGAL 31 DESEMBER
PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DAN AKUNTANSI
PERPAJAKAN



Prinsip, prosedur, metode dan teknik akuntansi yang
mengatur penyusunan Laporan Keuangan  Standar
Akuntansi Keuangan
Fungsi akuntansi adalah menyajikan data kuantitatif yang
akan digunakan dalam pengambilan keputusan  harus
memenuhi tujuan kualitatif:
 Relevan
 Dapat dimengerti
 Daya Uji
 Netral
 Tepat Waktu
 Daya Banding
 Lengkap
Batasannya: 1) manfaat lebih besar dari beban, 2) Material
(cukup berarti).
12
PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DAN AKUNTANSI
PERPAJAKAN
a)
b)
c)
Kesatuan Ekonomi (harus ada pemisahan yg jelas antara
perusahaan dengan pemilik);
Kesinambungan Usaha (Going Concern)  Historical Cost
dan Periodisasi;
Harga Pertukaran yang Obyektif/Wajar  Arm’s-length
Price, tidak dipengaruhi hubungan istimewa, tidak ada
transfer pricing;
d)
e)
Mempertemukan pendapatan dan beban yang paling tepat
berdasarkan Stelsel Akrual  Untuk tujuan perpajakan,
stelsel akrual dan stelsel cash modified (campuran) diakui
untuk penghitungan penghasilan dan biaya kena pajak;
Konsisten  jika ada perubahan metode akuntansi /
pembukuan harus diungkapkan dalam laporan keuangan 
secara fiskal harus mendapat persetujuan dari Direktur
Jenderal Pajak.
13
Perbandingan SPT Tahunan PPh Badan dan Laporan Keuangan Komersial
NO
ASPEK
SPT TAHUNAN PPh BADAN
LAPORAN KEUANGAN
1
Pengguna
Fiskus
Berbagai pengguna (Multi Users)
2
Sifat Informasi
Rahasia
Dapat digunakan oleh umum, khususnya untuk
laporan keuangan listed company.
3
Pedoman
Penyusunan
Udang-Undang Perpajakan
Peraturan Pelaksanaannya
dan
Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU):
PSAK, Interpretasi PSAK, Peraturan Pemerintah
untuk Industri, IFRS, buletin teknis, pedoman
atau praktik konvensional, hasil riset dan
pendapat ahli.
4
Mata Uang
Pelaporan
Wajib dalam Rupiah dan mata
uang US$ sepanjang memperoleh
izin dari otoritas pajak terkait.
Dapat menggunakan mata uang lain selain
Rupiah. Jika laporan keuangan disajikan dalam
mata uang selain mata uang fungsionalnya,
laporan keuangan harus lebih dahulu dilakukan
remeasurement.
5
Dasar
Pencatatan
Transaksi
Transaksi dicatat dan dilaporkan
apabila memenuhi syarat dan
ketentuan perpajakan. Transaksi
dicatat dengan mengutamakan
hakikat
formal
atau
hukum
daripada substansinya.
Transaksi dicatat dengan asas substance over
form.
6
Batas Waktu
Penyampaian
Disampaikan paling lambat 4 bulan
setelah akhir tahun pajak dan
dapat melakukan perpanjangan
paling lama 2 bulan.
Pasal 66 (1) UU No.40 Tahun 2007 “Perseroan
Terbatas”, Direksi menyampaikan laporan
tahunan kepada RUPS setelah ditelaah oleh
Dewan Komisaris dalam jangka waktu 6 bulan
setelah tahun buku Perseoran berakhir.
Sumber: Marisi P. Purba, Akuntansi Pajak Penghasilan,2009, hal.3-4.
SIKLUS AKUNTANSI & FISKAL
Dokumen
Sumber
Laporan
Keuangan
(Laba Rugi)
Jurnal
transaksi
Buku Besar
Rekonsiliasi
Fiskal
Neraca saldo
SPT Tahunan
PPh Badan
Koreksi Fiskal
Perbedaan temporer
(koreksi positif/negatif)
PSAK 46
Perbedaan permanen
(koreksi positif/negatif)
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN
 PEMOTONGAN & PEMUNGUTAN PAJAK
PENGHASILAN:
PPh PASAL 21/26
PPh PASAL 22
PPh PASAL 23
PPh PASAL 4(2)
 PAJAK PENGHASILAN TAHUN BERJALAN (PPh PASAL
25)
 PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK
PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
 PAJAK BUMI DAN BANGUNAN, BEA PEROLEHAN
ATAS HAK TANAH DAN BANGUNAN & BEA METERAI
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 21/26
•
Saat Terutang PPh Pasal 21/26 (Pasal 21 Peraturan
Dirjen Pajak - PER - 31/PJ/2009, 25 Mei 2009):
1) PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi
Penerima Penghasilan pada saat dilakukan pembayaran
atau pada saat terutangnya penghasilan yang
bersangkutan;
2) PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 terutang bagi
Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 untuk
setiap masa pajak;
3) Saat terutang untuk setiap masa pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) adalah akhir bulan dilakukannya
pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya
penghasilan yang bersangkutan.
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 21/26
Ilustrasi Kasus:
Karyawati Ken Prameswari (tidak kawin), ber-NPWP, bekerja pada PT Prabu Kedaton dengan memperoleh
gaji sebesar Rp 2.750.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program jamsostek. Premi Jaminan
Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dan Iuran Jaminan Hari Tua dibayar oleh pemberi kerja
setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%, 0,30% dan 3,70% dari gaji. Prameswari membayar iuran
Pensiun Rp 50.000,00 dan iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji untuk setiap bulan.
Perhitungan PPh Pasal 21/bulan:
Gaji setahun (12xRp 2.750.000,00) =
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp 27.500,00 =
Premi Jaminan Kematian12 x Rp 8.250,00 =
Jumlah
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp 33.429.000,00=
Rp
1.671.450,00
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp 50.000,00=
Rp
600.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua
12 x Rp 55.000,00=
Rp
660.000,00
Jumlah
Penghasilan neto setahun =
PTKP
- untuk WP sendiri
Rp
Rp
Rp
33.000.000,00
330.000,00
99.000,00
Penghasilan Kena Pajak
Pembulatan
PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 14.657.000,00=
Bagaimana jurnal akuntansi atas PPh Pasal 21 di atas?
Rp
33.429.000,00
Rp
Rp
2.931.450,00
30.497.550,00
Rp
15.840.000,00
Rp
Rp
Rp
14.657.550,00
14.657.000,00
732.850,00
Pembahasan:
Jurnal Akuntansi:
1. Saat pemotongan pajak atas pembayaran gaji setiap bulan:
Biaya Gaji
2.750.000
Biaya Asuransi- JKK
27.500
Biaya Asuransi- Jaminan Kematian
8.250
Asuransi- JKK Terutang
27.500
Asuransi- Jaminan Kematian Terutang
8.250
Iuran Pensiun Terutang
50.000
Iuran JHT Terutang
55.000
PPh Pasal 21 Terutang
61.071
Kas dan Bank
2.583.929
2. Saat menyetor PPh Pasal 21 ke kas negara dan pembayaran pensiun via
bank:
PPh Pasal 21 Terutang
61.071
Asuransi- JKK Terutang
27.500
Asuransi- Jaminan Kematian Terutang
8.250
Iuran Pensiun Terutang
50.000
Iuran JHT Terutang
55.000
Kas dan Bank
201.821
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 22
•
SAAT TERUTANG PPH PASAL 22 (Keputusan Menteri Keuangan Nomor
254/KMK.03/2001):
– Pajak Penghasilan Pasal 22 atas impor barang terutang dan dilunasi
bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk.
– Dalam hal pembayaran Bea Masuk atas impor barang ditunda atau
dibebaskan, maka Pajak Penghasilan Pasal 22 terutang dan dilunasi pada
saat penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB);
– Pajak Penghasilan Pasal 22 atas pembelian barang oleh Direktorat Jenderal
Anggaran, Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat Pemerintah Pusat
maupun di tingkat Pemerintah Daerah, yang melakukan pembayaran atas
pembelian barang dan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik
Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber
dari belanja negara (APBN) dan atau belanja daerah (APBD), terutang dan
dipungut pada saat pembayaran;
– Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan hasil produksi oleh Badan usaha
yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri
baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan
Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri, terutang dan
dipungut pada saat penjualan (industri rokok mulai 1 Januari 2009  tidak
ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22, lihat PMK 210/PMK.03/2008);
– Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan hasil produksi atau penyerahan
barang oleh Pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam
bidang bahan bakar minyak jenis premix, super TT dan gas atas penjualan
hasil produksinya, dipungut pada saat penerbitan Surat Perintah
Pengeluaran Barang (delivery order).
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 22
•
•
•
Ilustrasi Kasus:
PT Blora adalah produsen semen Empat Roda dan menjual semen kepada PT Jaya,
distributor semen, senilai Rp 400.000.000 secara tunai. Tarif PPh Pasal 22 atas
penjualan sebesar 0,25% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP).
Jurnal oleh PT Blora selaku Pemungut PPh 22:
– Saat terjadi transaksi:
Kas dan Bank
Rp 401.000.000
PPh pasal 22 terutang
1.000.000
Penjualan
400.000.000
– Saat penyetoran PPh Pasal 22:
PPh pasal 22 terutang
Rp 1.000.000
Kas dan Bank
1.000.000
Jurnal oleh PT Jaya selaku Pihak yang Dipungut:
– Saat terjadi transaksi:
Pembelian
Rp 400.000.000
PPh pasal 22-Dibayar dimuka
1.000.000
Kas dan Bank
401.000.000
– Saat pengkreditan PPh Pasal 22 di PPh Badan terutang akhir tahun:
PPh terutang
Rp 1.000.000
PPh pasal 22-Dibayar dimuka
1.000.000
CASE STUDY - PPh PASAL 22
PT EUREKA pada tahun 2009 melakukan transaksi
sebagai berikut:
• Mengimpor 300 set computer dengan
menggunakan Angka Pengenal Impor dengan
harga CIF @ US$ 1.000, Bea Masuk 10% dan
Bea Masuk Tambahan 5%. Kurs pada saat
transaksi 1 US$ = Rp. 9.800,- sedangkan kurs
KMK 1 US$ = 9.750,• Melakukan penyerahan 20 set computer @
Rp22.000.000,- (included PPN) kepada
Dispenda DKI Jakarta.
Buatlah ayat jurnal yang sesuai dengan transaksi
tersebut!
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 23
• SAAT TERUTANG PPH PASAL 23:
– Ketentuan sebelum 1 Januari 2009:
Pemotongan Pajak Penghasilan oleh pihak-pihak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 Undang-undang Pajak Penghasilan, terutang pada akhir
bulan dilakukannya pembayaran atau akhir bulan terutangnya
penghasilan yang bersangkutan, tergantung peristiwa yang terjadi
terlebih dahulu (Peraturan Pemerintah No.138 Tahun 2000).
– Ketentuan sejak 1 Januari 2009:
“Atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk
apa pun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah
jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak
badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau
perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam
negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib
membayarkan….” (Pasal 23 UU Nomor 36 Tahun 2008).
– Note:
Selama ini banyak terjadi sengketa antara Wajib Pajak dengan Fiskus
dalam hal kapan saat terutang PPh Pasal 23, dimana menurut Undangundang PPh yang berlaku sekarang PPh Pasal 23 terutang pada saat
mana yang lebih dahulu terjadi apakah dilakukan pembayaran atau
dibebankan sebagai biaya, sementara sebagian Wajib Pajak memotong
PPh Pasal 23 pada saat adanya pembayaran.
Ilustrasi Kasus PPh Pasal 23
•
•
•
•
PT Naroda meminjam dana sebesar Rp 1 miliar kepada PT ABC, bukan bank,
dengan tingkat bunga 10% per tahun dengan pembayaran tiap tengah tahun
(semi annual).
Atas pembayaran bunga pinjaman sebesar Rp 50 juta tiap semester, maka jurnal
yang terkait:
Bagi PT Naroda (pihak yang membayar):
– Saat pembayaran bunga:
Biaya bunga
50.000.000
PPh Pasal 23 terutang
7.500.000
Kas dan Bank
42.500.000
– Saat menyetor PPh Pasal 23 ke kas negara:
PPh Pasal 23 terutang
7.500.000
Kas dan bank
7.500.000
Bagi PT ABC (pihak yang menerima penghasilan bunga):
– Saat pembayaran bunga:
Kas dan bank
42.500.000
PPh Pasal 23 – Dibayar dimuka
7.500.000
Penghasilan bunga pinjaman
50.000.000
– Saat mengkreditkan PPh Pasal 23 ke PPh Badan terutang akhir tahun:
• PPh Badan terutang
7.500.000
PPh Pasal 23-dibayar dimuka
7.500.000
Case Study - PPh Pasal 23
Transaksi lain yang dilakukan oleh PT EUREKA pada tahun 2009 adalah
sebagai berikut:
• Membayar bunga pinjaman kepada Citibank Cabang Jakarta sebesar
Rp 50.000.000,-;
• Menerima dividen dari PT AULIA sebesar Rp27.000.000,-. PT
EUREKA memiliki 10.000 lembar saham dari 100.000 lembar saham
yang beredar;
• Membayar biaya service kendaraan sebesar Rp1.600.000,- kepada
PT Garda Otto dengan perincian penggantian suku cadang
Rp1.000.000,- dan jasa service Rp600.000,-;
• Membayar tagihan catering dari perusahaan catering Enak Tenan
dengan perincian bahan makanan Rp5.000.000,- dan jasa catering
Rp. 1.000.000,-;
• Pada tanggal 31 Desember 2009 meng-accrued adanya beban bunga
yang masih harus dibayar (interest payable) kepada PT Nusantara
Abadi sebesar Rp. 7.500.000,- yang akan jatuh tempo pada bulan
Maret 2010 serta mengakui adanya sewa mobil dibayar di muka
(prepaid rent) sebesar Rp16.000.000,Buatlah ayat jurnal yang sesuai untuk transaksi tersebut!
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 4(2)
Penghasilan di bawah ini dapat dikenai pajak bersifat final:
a) penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi
dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi
kepada anggota koperasi orang pribadi;
b) penghasilan berupa hadiah undian;
c) penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima
oleh perusahaan modal ventura;
d) penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah
dan bangunan; dan
e) penghasilan tertentu lainnya;
yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah
(Pasal 4 ayat 2 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008).
Ilustrasi Kasus-PPh PASAL 4(2)
PT Aman membayar sewa bangunan sebesar Rp
50.000.000 kepada PT XYZ. Atas sewa bangunan
dikenakan PPh final 10%.
Jurnal yang terkait dengan transaksi di atas:
1)Pihak yang membayar sewa:
Beban sewa bangunan
Rp 50.000.000
PPh Final –Terutang
5.000.000
Kas dan Bank
45.000.000
2) Pihak yang menerima penghasilan:
Kas dan Bank
Rp 45.000.000
Beban PPh Final
5.000.000  not creditable
Penghasilan Sewa Bangunan
Rp 50.000.000
Case Study - PPh Pasal 4(2)
Pada tahun 2009 PT EUREKA juga melakukan transaksi
sebagai berikut:
• Membayar sewa gedung sebesar Rp. 24.000.000,untuk jangka waktu satu tahun pada tanggal 1
September 2009;
• Menerima penghasilan bunga deposito dari Bank
Mandiri sebesar Rp15.000.000,- pada tanggal 31
Desember 2009;
• Melakukan penjualan 10% saham anak perusahaan
(PT BAHANA Tbk) di Bursa Efek Indonesia pada tanggal
16 November 2010 dengan nilai transaksi sebesar
Rp125.000.000,termasuk
gain
sebesar
Rp35.000.000,-.
Buatlah ayat jurnal yang sesuai untuk transaksi tersebut!
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 25
 Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan
yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:
 Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22; dan
 Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24,
dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.
 Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk
bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
disampaikan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk
bulan terakhir tahun pajak yang lalu.
 Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk
tahun pajak yang lalu, besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan
surat ketetapan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah
bulan penerbitan surat ketetapan pajak.
Pasal 25 ayat (1), (2), (4) UU PPh No.36 Tahun 2008.
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN-PPh PASAL 25
Tuan Andi, WP OP, memiliki data Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2009 sbb:
Pajak Penghasilan Terutang
Rp 50.000.000,00
Dikurangi:
Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi Kerja (Pasal 21) Rp15.000.000,00
Pajak Penghasilan yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22) Rp10.000.000,00
Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak lain (Pasal 23) Rp 2.500.000,00
Kredit Pajak Penghasilan luar negeri (Pasal 24)
Rp7.500.000,00 (+)
Jumlah kredit pajak
Rp35.000.000,00 (-)
Selisih
Rp15.000.000,00
Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun
2010 adalah sebesar Rp1.250.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 12).
1)Jurnal pada saat penyetoran PPh Pasal 25 setiap bulan:
PPh Pasal 25-dibayar dimuka
Rp 1.250.000
Kas dan bank
Rp 1.250.000
2) Jurnal pada saat mengkreditkan PPh Pasal 25 di akhir tahun:
PPh WP OP -Terutang
Rp 15.000.000
PPh Pasal 25-dibayar dimuka
Rp 15.000.000
Case Study - PPh Pasal 25
Pada tahun 2009 PT EUREKA membayar angsuran
PPh Pasal 25 sebesar Rp2.500.000,- setiap bulan
dan pada bulan November 2009 selain membayar
angsuran PPh Pasal 25, PT EUREKA juga membayar
sanksi administrasi dalam Surat Tagihan Pajak PPh
Pasal 25 sebesar Rp1.020.000,- (sanksi administrasi
sebesar Rp20.000,-) atas kekurangan pembayaran
angsuran PPh Pasal 25 bulan September 2010.
Buatlah ayat jurnal yang sesuai untuk transaksi
tersebut!
AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)
1) Pencatatan akuntansi yang harus diperhatikan adalah:
 Akun PPN Masukan (Value Added Tax – In/VAT-in)
Untuk mencatat besarnya PPN terutang yang dibayar atau
dipungut atas terjadinya transaksi pembelian BKP dan JKP.
 Akun PPN Keluaran (Value Added Tax – Out/VAT-in)
Untuk mencatat besarnya PPN terutang yang wajib
dipungut atas penyerahan BKP dan JKP kepada pihak lain.
2)Beberapa kemungkinan transaksi perolehan dan
penyerahan BKP/JKP antara lain perolehan secara tunai
dan secara kredit, terdapat diskon atau tidak, terjadinya
retur barang atau tidak, terjadi penggantian Faktur Pajak
yang mengakibatkan pembetulan SPT Masa PPN,
kompensasi PPN lebih bayar ke masa berikutnya.
3)Pemahaman saat terutang dan saat paling lambat
penerbitan Faktur Pajak, khususnya Faktur Pajak standar
menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh Wajib
Pajak untuk melakukan pembukuan terkait dengan PPN
secara benar.
Ilustrasi Akuntansi Pajak untuk PPN
• PT ABC, telah PKP, melakukan penjualan barang secara tunai, diskon 10%,
kepada PT XYZ dengan harga jual sebesar Rp 100 juta.
– Harga jual
Rp 100.000.000
– Potongan tunai
Rp 10.000.000
– Jumlah Pembayaran
Rp 90.000.000
– PPN (10%)
Rp 9.000.000
• Potongan harga yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar dapat
mengurangi dasar pengenaan PPN. Ayat jurnal terkait:
• Bagi PT ABC selaku penjual:
Kas
Rp 99.000.000
Potongan Penjualan
10.000.000
Penjualan
100.000.000
PPN Keluaran
9.000.000
• Bagi PT XYZ selaku pembeli:
Pembelian-net
Rp 90.000.000
PPN Masukan
9.000.000
Kas
Rp 99.000.000
Ilustrasi Akuntansi Pajak untuk PPN
• Masih melanjutkan kasus sebelumnya, jika PT ABC juga melakukan
pembelian barang secara tunai kepada PT FGH dengan harga jual sebesar
Rp 88 juta termasuk PPN, maka jurnal terkait:
• Bagi PT ABC selaku pembeli:
Pembelian-net
Rp 80.000.000
PPN Masukan
8.000.000
Kas
Rp 88.000.000
• Jika pajak keluaran dan pajak masukan PT ABC pada
dilaporkan pada SPT Masa PPN yang sama, maka pencatatan
akuntansi untuk menunjukkan selisih kurang atau lebih bayar
PPN sebagai berikut:
PPN Keluaran
PPN Masukan
PPN Terutang
Rp 9.000.000
Rp 8.000.000
Rp 1.000.000
• Selanjutnya, penyetoran PPN terutang ke kas negara:
PPN terutang
Kas dan Bank
Rp 1.000.000
Rp 1.000.000
Case Study - Akuntansi Pajak untuk PPN
Pada akhir tahun 2009 PT EUREKA melakukan transaksi sebagai berikut:
• Diekspor sejumlah tekstil ke Nigeria dengan Nilai Ekspor
Rp100.000.000,- ;
• Diserahkan sejumlah tekstil kepada PT Mega selaku distributor seharga
Rp50.000.000,- secara konsinyasi;
• Diserahkan sejumlah tekstil sebagai bahan baku kepada PT Jujur,
perusahaan garmen yang berkedudukan di Kawasan Berikat Nusantara
Cakung senilai Rp 75.000.000,-. Faktur Pajak dibuat pada saat
penyerahan (atas penyerahan ini PT Jujur mendapat fasilitas PPN yang
terutang tidak dipungut);
• Dijual tunai sebuah mesin pabrik senilai Rp150.000.000,- kepada PT
Second Line. Mesin tersebut dibeli pada 30 Agustus 2000 seharga Rp
400.000.000,- (PPN Masukan dapat dikreditkan);
• Dikeluarkan dari Pelabuhan Tanjung Priuk sejumlah benang emas yang
diimpor dari Malaysia dengan Nilai Impor Rp100.000.000,-. Atas impor
ini terutang Bea Masuk 40%;
• Dibeli bahan pewarna dari PT Lembayung Ungu dengan harga
Rp25.000.000,- tunai.
Buatlah ayat jurnal yang sesuai dengan transaksi tersebut!
AKUNTANSI PAJAK: PERLAKUAN BPHTB ATAS
PEROLEHAN TANAH & BANGUNAN
(Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-01/PJ.42/2002 )
• BPHTB atas hak atas tanah yang dimiliki dan dipergunakan
dalam perusahaan, atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan, dapat dikurangkan sebagai biaya
dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak melalui
amortisasi hak atas tanah sepanjang hak atas tanah tersebut
dapat diamortisasi sesuai ketentuan Pasal 11A Undang-undang
Pajak Penghasilan;
• BPHTB atas hak atas bangunan yang dimiliki dan dipergunakan
dalam perusahaan, atau dimiliki untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan sebagai biaya
dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak melalui
penyusutan bangunan tersebut sesuai ketentuan Pasal 11
Undang-undang Pajak Penghasilan.
Case Study - Akuntansi Pajak untuk PBB dan BPHTB
Pada akhir tahun 2009 PT EUREKA juga melakukan
transaksi sebagai berikut:
• Membayar Pajak Bumi dan Bangunan tahun 2009
untuk gedung pabrik sebesar Rp15.000.000,- dan
gedung kantor sebesar Rp10.000.000,- serta sanksi
keterlambatan pembayaran Pajak Bumi dan
Bangunan sebesar Rp250.000,-;
• Membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan untuk gedung pabrik yang baru sebesar
Rp20.000.000,-.
Buatlah ayat jurnal yang sesuai dengan transaksi
tersebut!
Download