Uploaded by restielf2898

MAKALAH OPTIK

advertisement
MAKALAH
OPTIK
INTERFERENSI CAHAYA
Dosen Pengampu : Drs. Paulus G.D Lasmono S., M.T
Disusun Oleh :
RESTIANA
(20160111064018)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan
Rahmat dan Karunia-Nya kepada penulis sehingga berhasil menyelesaikan makalah dengan
judul “Interferensi Cahaya” ini tepat pada waktunya. Selesainya makalah ini tidak terlepas
dari bantuan berbagai pihak. Oleh Karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada
:
1. Ibu dan Ayah, atas semua doa dan bantuan finansial untuk menyelesaikan makalah
ini.
2. Bapak Drs. Paulus G.D Lasmono S., M.T selaku dosen mata kuliah Optik yang telah
memberikan tugas serta petunjuk kepada penulis sehingga termotivasi dalam
menyelesaikan makalah ini.
3. Teman-teman yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini ,penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, baik
dalam hal sistematika maupun teknik penulisannya. Kiranya tiada lain karena keterbatasan
kemampuan dan pengalaman penulis yang belum luas dan mendalam. Oleh karena itu, segala
saran dan kritik yang membangun tentunya penulis harapkan, sebagai masukan yang berharga
demi kemajuan penulis di masa mendatang.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah
yang telah disusun ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun orang
lain yang
membacanya.
Jayapura, 11 Maret 2019
Restiana
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II. DASAR TEORI ......................................................................................................... 3
2.1 Interferensi Cahaya pada Celah Ganda ................................................................... 3
2.2 Interferensi pada Selaput Tipis ............................................................................... 5
BAB III PEMBAHASAN ....................................................................................................... 7
3.1 Pengertian Interferensi Cahaya ...................................................................................... 7
3.2 Syarat Terjadinya Interferensi Cahaya ................................................................... 8
3.3 Pengertian Koherensi ............................................................................................. 9
3.4 Jenis-jenis Interferensi Cahaya ............................................................................. 18
3.5 Contoh Penerapan Interferensi Cahaya dalam Kehidupan Sehari-hari ................ 29
3.6 Proses Terjadinya Pelangi .................................................................................... 29
BAB IV PENUTUP ............................................................................................................... 31
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 31
4.2 Saran ...................................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah noda minyak hitam yang pada jalanan beraspal dapat terlihat indah setelah
hujan, ketika minyak itu merefleksikan warna-warna pelangi.Refleksi warna-warna itu
dapat
juga
dilihat
dari
permukaan
gelelmbung
sabun
dan
compact
disc
(CD).Pemandangan yang sudah biasa kita lihat ini memberikan sebuah petunjuk kepada
kita bahwa ada aspek-aspek cahaya yang belum kita selidiki.
Dalam pembahasan kita mengenai lensa, cermin, dan instrumen optis kita
menggunakan model optika geometrik, dimana kita menyatakan cahaya sebagai sinarsinar, yakni garis-garis lurus yang dibelokkan pada permukaan yang merefleksikan
cahaya atau yang merefraksikan cahay.Tetapi banyak aspek perilaku cahaya tidak dapt
dipahami berdasarkan sinar.Kita telah mempelajari bahwa secara fundamental, cahaya
adalah sebuah gelombang, dan dalam beberapa hal kita harus meninjau sifat-sifat
gelombangnya secara eksplisit. Jika dua atau lebih gelombang cahay yang frekuensinnya
sama tumpang tindih di sebauh titik, maka efek totalnya bergantung pada fasa-fasa
gelombang tersebut dan dan juga bergantung pada amplitudo-amplitudonya. Pola cahaya
yang dihasilkan adalah sebuah resultan dari sifat gelombang dari cahaya dan tidak dapat
dipahami berdasarkan sinar. Efek otomatis yang bergantung pada sifat gelombang dari
cahaya dikelompokkan di bawah topik optika fisis. Dalam makalah ini kita akan meninjau
fenomena interferensi yang terjadi bila dua gelombang bergabung.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari interferensi cahaya?
2. Apa saja syarat terjadinya interferensi cahaya?
3. Apa pengertian dari koherensi?
4. Ada berapa jenis interferensi cahaya?
5. Apa saja contoh penerapan interferensi cahaya dalam kehidupan sehari-hari?
6. Bagaimana proses terjadinya pelangi?
1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari interferensi cahaya.
2. Untuk mengetahui syarat terjadinya interferensi cahaya.
3. Untuk mengetahui pengertian dari koherensi.
4. Untuk mengetahui jenis-jenis interferensi cahaya.
5. Untuk mengetahui contoh penerapan interferensi cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
6. Untuk mengetahui proses terjadinya pelangi.
2
BAB II
DASAR TEORI
Interferensi cahaya adalah perpaduan antara dua gelombang cahaya. Agar interferensi
cahaya dapat teramati dengan jelas, maka kedua gelombang cahaya itu harus bersifat
koheren. Dua gelombang cahaya dikatakan koheren apabila kedua gelombang cahaya
tersebut mempunyai amplitudo,frekuensi yang sama dan pada fasenya tetap. Ada dua hasil
interferensi cahaya yang dapat teramati dengan jelas jika kedua gelombang tersebut
berinterferensi. Apabila kedua gelombang cahaya berinteferensi saling memperkuat (bersifat
konstruktif), maka akan menghasilkan garis terang yang teramati pada layar. Apabila kedua
gelombang cahaya berinterferensi saling memperlemah (bersifat destruktif), maka akan
menghasilkan garis gelap yang teramati pada layar. Marilah sekarang kita mempelajari
peristiwa interferensi cahaya yang telah dilakukan percobaan atau eksperimen oleh para
ilmuwan terdahulu, sepertihalnya Thomas Young dan Fresnell.
2.1 Interferensi Cahaya pada Celah Ganda
Percobaan yang dilakukan oleh Thomas Young danFresnel pada dasarnya adalah
sama, yang membedakan adalah dalam hal mendapatkan dua gelombang cahaya yang
koheren.Thomas Young mendapatkan dua gelombang cahaya yang koheren dengan
menjatuhkan cahaya dari sumber cahaya pada dua buah celah sempit yang saling
berdekatan, sehingga sinar cahaya yang keluar dari celah tersebut merupakan cahaya yang
koheren. Sebaliknya Fresnel mendapatkan duagelombang cahaya yang koheren dengan
memantulkan cahaya dari suatu sumber ke arah dua buah cermin datar yang disusun
hampir membentuk sudut 180o, sehingga akan diperoleh dua bayangan sumber cahaya.
Sinar yang dipantulkan oleh cermin I dan II dapat dianggap sebagai dua gelombang
cahaya yang koheren. Skema percobaan Young terlihat pada Gambar 2.1
Gambar 2.1 Interferensi Celah Ganda Percobaan Young
3
Untuk menunjukkan hasil interferensi cahaya, di depan celah tersebut
diletakkan layar pada jarak L maka akan terlihat pada layar berupa garis gelap dan
terang. Garis terang merupakan hasil interferensi yang saling memperkuat dan garis
gelap adalah hasil interferensi yang saling memperlemah. Hasil interferensi
bergantung pada selisih jarak tempuh/lintasan cahaya dari celah ke layar. Akan terjadi
garis terang jika selisih lintasan merupakan kelipatan bilangan genap kali
½ πœ† atau
1
(2𝑛 2 πœ†)atau kelipatan bilangan bulat kali λ atau (nλ). Sebaliknya akan terjadi garis
gelap jika selisih lintasan merupakan kelipatan bilangan ganjil kali
½ πœ†
atau
((2𝑛 − 1)½ πœ† ) .
Misalkan jarak antara dua celah d, jarak layar ke celah L, di titik O pada layar
akan terjadi garis terang yang disebut garis terang pusat, karena jarak S1O dan S2O
adalah sama sehingga gelombang cahaya sampai di O akan terjadi interferensi
maksimum. Di titik P yang berjarak p dari terang pusat akan terjadi interferensi
maksimum atau minimum tergantung pada selisih lintasan S2P – S1P.Perhatikan
Gambar 2.2!
Gambar 2.2 Interferensi Celah Ganda
Di P terjadi interferensi maksimum jika : S2P – S1P = d sin θ = nλ
Perhatikan segitiga S1QS2 dan segitiga POR , untuk nilai θ <<< berlaku sin θ = tg θ =
𝑝
, sehingga:
𝐿
p=
𝑑𝑝
𝐿
= π‘›πœ† atau
π‘›πœ†πΏ
(2.1)
𝑑
4
dengan :
d = jarak antara dua celah (m)
p = jarak garis terang ke terang pusat (m)
L= jarak celah ke layar
πœ† = panjang gelombang cahayan
𝑛 = orde interferensi ( n = 0, 1, 2, 3, ...)
Di P akan terjadi interferensi minimum/garis gelap jika :
𝑑𝑝
𝐿
1
= (2𝑛 − 1) πœ†
(2.2)
2
dengan
d = jarak antara dua celah (m)
p = jarak garis gelap ke terang pusat (m)
L= jarak celah ke layar (m)
λ = panjang gelombang cahaya (m)
n= orde interferensi (n = 1, 2, 3, ...)
2.2 Interferensi pada Selaput Tipis
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita melihat adanya warna-warna pelangi
yang terjadi pada gelembung air sabun atau adanya lapisan minyak di permukaan air
jika terkena cahaya matahari. Hal ini menunjukkan adanya interferensi cahaya
matahari pada selaput tipis air sabun atau selaput tipis minyak di atas permukaan air.
Interferensi cahaya terjadi dari cahaya yang dipantulkan oleh lapisan permukaan atas
dan bawah dari selaput tipis tersebut. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 2.3
Gambar 2.3 Interferensi pada selaput tipis
5
Gambar tersebut melukiskan seberkas sinar monokromatik jatuh pada selaput
tipis setebal d, pada lapisan atas selaput cahaya dipantulkan (menempuh lintasan AE)
dan sebagian dibiaskan yang kemudian dipantulkan lagi oleh lapisan bawah
menempuh lintasan ABC. Antara sinar yang menempuh lintasan AE dan ABC akan
saling berinterferensi di titik P tergantung pada selisih jarak lintasan optik. Di titik P
akan terjadi interferensi maksimum atau garis terang apabila :
1
2nd cos r = (2m + 1) 2 λ
(2.3)
dan terjadi garis gelap atau interferensi minimum jika
1
2nd cos r = (2m) 2 λ
(2.4)
dengan :
n = indeks bias lapisan tipis
d = tebal lapisan
r = sudut bias sinar
λ = panjang gelombang sinar
m = orde interferensi
6
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Interferensi cahaya
Interferensi merupakan perpeduan dua gelombang atau lebih yang memiliki beda
fase konstan dan amplitudo yang hampir sama yang dapat menghasilkan suatu pola
gelombang baru.
Interferensi cahaya adalah penjumlahan atau perpaduan antara dua gelombang
atau lebih yang hasilnya dapat saling menguatkan (konstruktif) atau saling melemahkan
(desduktrif). .
Interferensi dapat bersifat membangun dan merusak. Bersifat membangun
(interferensi konstruktif) jika beda fase kedua gelombang sama sehingga gelombang baru
yang terbentuk adalah penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak
(interferensi destruktif) jika beda fasenya adalah 180°, sehingga kedua gelombang saling
menghilangkan.
Gambar 2.1Interferensi bersifat membangun
Gambar 2.2 Interferensi bersifat merusak
Agar hasil interferensinya mempunyai pola yang teratur, kedua gelombang cahaya
harus koheren, yaitu memiliki frekuensi dan amplitudo yang sama serta selisih fase tetap.
Young melakukan percobaan, dimana celah sempit akan menghasilkan sumber cahaya
baru yang memiliki beda fasa sama atau konstan sehingga disebut koheren.
7
3.2 Syarat Terjadinya Interferensi Cahaya
Cahaya
merupakan
gelombang,
yaitu
lebih
spesifiknya
gelombang
elektromagnetik. Interferensi cahaya dapat terjadi apabila terdapat dua atau lebih berkas
sinar yang bergabung pada satu titik. Jika cahayanya tidak berupa berkas sinar, maka
penampakan interferensinya akan sulit untuk diamati.
Interferensi akan terjadi apabila syarat di bawah ini terpenuhi, yaitu:
1. Kedua gelombang cahaya haruslah koheren, dalam arti bahwa kedua gelombang
cahaya haruslah memilikibeda fasa yang selalu tetap.
2. Kedua sinar atau cahaya yang dipancarkan haruslah yang memiliki frekuensi yang
sama.
3. Kedua gelombang cahaya haruslah memiliki amplitudo yang hampir sama.
4. Interferensi terjadi pada cahaya yang terpolarisasi linier atau polarisasi lain, termasuk
cahaya natural atau alami.
Thomas Young, seorang ahli fisika membuat dua sumber cahaya dari satu sumber
cahaya, yang dijatukan pada dua buah celah sempit.Satu sumber cahaya, dilewatkan pada
dua celah sempit, sehingga cahaya yang melewati kedua celah itu, merupakan dua
sumbeer cahaya baru. Seperti pada gambar berikut :
Gambar 2.3 Cahaya melewati dua celah
Hasil interferensi dari dua sinar atau cahaya koheren menghasilkan pola terang dan gelap.
ο‚·
Interferensi maksimum atau terang atau konstruktif, terjadi bila :
d sin Ο΄ = nλ
8
Keterangan :
d = jarak antara dua celah (m)
p = jarak garis terang ke terang pusat (m)
L= jarak celah ke layar
λ = panjang gelombang cahayan
n = orde interferensi ( n = 0, 1, 2, 3, ...)
ο‚·
Interferensi Minimum atau Gelap atau Destrutip, terjadi jika:
d sin Ο΄ = (2n – 1)1/2λ
Keterangan :
d = jarak antara dua celah (m)
p = jarak garis terang ke terang pusat (m)
L= jarak celah ke layar
λ = panjang gelombang cahayan
n = orde interferensi ( n = 0, 1, 2, 3, ...)
3.3 Konsep Koherensi
3.3.1 Pengertian Koherensi
Koherensi adalah salah satu sifat gelombang yang menunjukkan interferensi
yang sama antara fase dan penjalarannya. Koherensi adalah mengacu pada
penyambungan antara fase gelombang cahaya pada satu titik dan waktu, dan fase dari
gelombang cahaya pada titik dan waktu lain.
Koherensi waktu adalah sifat dari dua gelombang yang berasal dari sumber
yang sama. Gelombang berjalan, mendekati sinusoidal yang cukup untuk beberapa
jumlah osilasi antara perubahan frekuensi dan fase. Panjang gelombang berjalan yang
dapat diasumsikan memiliki karakter sinusoial yang cukup dan fase yang dikenal
sebagai panjang koherensi. Kita dapat mendefinisikan panjang koherensi sebagai
panjang gelombang berjalan, cΔt, di mana fase mudah ditentukan. Interval waktu
selama fase gelombang berjalan dapat disebut dengan waktu koherensi. Ini adalah
waktu Δt, selama fase gelombang berjalan tidak menjadi acak tetapi mengalami
perubahan dalam cara sistematis.
9
Seandainya ada dua sumber-sumber identik dari cahaya monokromatik
menghasilkan
gelombang-gelombang
yang
amplitudonya
sama,
panjang
gelombangnya sama, ditambah lagi keduanya memilki fasa yang sama secara
permanen dan kedua sumber tersebut bergetar bersama. Dua sumber monokromatik
yang mempunyai frekuensinya sama dengan sebarang hubungan beda fasa, πœ™, konstan
yang tertentu (tidaak harus sefasa) terhadap waktu itulah yang dikatakan koheren. Jika
syrat ini dipenuhi, maka akan diperoleh pola garis interferensi yang baik dan stabil.
Jika dua buah sumber gelombang cahaya beda fasa yang akan tiba di titik P
berubah-ubah terhadap waktu secara acak (pada suatu saat mungkin dipenuhi syarat
saling menghapuskan, tetapi pada saat berikutnya dapat terjadi penguatan). Sifat beda
fase yang berubah-ubah secara acak ini terjadi pada setiap titik-titik pada layar,
sehingga hasil yang nampak adalah terang yang meratapada layar. Dalam keadaan ini
kedua sumber tersebut dikatakan inkoheren (tidak koheren).
Gambar 2.4 Dua sumber gelombang koheren
Kurangnya koherensi cahaya yang berasal dari sumber-sumber biasa seperti
menjalarnya kawat pijar, disebabkan oleh tidak dapatnya atom-atom memancarkan
cahaya secara kooperatif.Dan pada tahun 1960 telah berhasil dibuat sumber cahaya
tampak yang atom-atomnya dapat berlaku kooperatif, sekeluaran cahayanya sangatlah
monokromatik, kuat dan sangat terkumpul.Alat ini di sebut dengan laser (light
amplification through stimulated emission of radiation).
Intensitas berkas-berkas cahaya koheren dapat diperoleh dengan:
1. Menjumlahkan amplitudo masing-masing gelombang secara vektor dengan
memperhitungkan beda fasa di dalamnya.
10
2. Menguadratkan amplitudo resultannya, hasil ini sebanding dengan intensitas
resultan.
Gambar 2.5 Gelombang Koheren
Dan untuk berkas-berkas yang tidak koheren atau inkoheren intensitasnya dapat
diperoleh dengan:
1. Masing-masing amplitudo dikuadratkan dahulu dan diperoleh besaran yang
sebanding dengan intensitas masing-masing berkas, baru kemudian
2. Intensitas masing-masing dijumlahkan untuk memperoleh intensitas resultan.
Gambar 2.6 Gelombang Inkoheren
Langkah-langkah di atas, sesuai dengan hasil pengamatan bahwa untuk
sumber cahaya yang tidak saling bergantungan, intensitas resultan pada setiap titik
selalu lebih besar daripada intensitas yang dihasilkan oleh masing-masing sumber di
titik tersebut.
3.3.2 Jenis-jenis Koherensi
a. Koherensi temporal
Koherensi temporal yang terkait langsung dengan bandwidth terbatas
sumber. Sebuah paket bandwidth bukanlah gelombang harmonik.Oleh karena
itu, tidak dapat direpresentasikan secara matematis dengan fungsi sinus
sederhana. Representasi matematis dari sebuah paket gelombang dilakukan
dengan integral fourier. Jika cahaya dipancarkan dari sumber maka dianalisis
dengan bantuan spektograf, yang terdiri dari garis-garis spektrum diskrit.
Panjang koherensi dapat didefinisikan sebagai produk osilasi gelombang N
11
terkandung dalam kereta gelombang dan panjang gelombang, λ. Demikian
menunjukkan bahwa yhe lebih besar jumlah osilasi gelombang dalam paket
gelombang, semakin kecil bandwidth. Dalam kasus membatasi, ketika N jauh
besar, yaitu ketika paket infinetly panjang gelombang, gelombang akan
monokromatik memiliki panjang gelombang didefinisikan secara tegas.
Koherensi temporal juga dikenal sebagai koherensi longitudinal.
Temporal (atau longitudinal) koherensi menyiratkan gelombang terpolarisasi
pada satu frekuensi yang fase ini berkorelasi dengan jarak yang relatif besar
(panjang koherensi) di sepanjang balok sebuah sinar yang dihasilkan oleh
sumber cahaya termal atau lainnya yang tidak koheren. Amplitudo sesaat dan
fase yang bervariasi secara acak terhadap waktu dan posisi, dan dengan
demikian panjang koherensi sangat singkat.Kita menyimpulkan koherensi
temporal adalah indikasi monokromatisitas sumber merupakan sumber benarbenar koheren.Tingkat monokromatisitas dari sumber diberikan oleh ketika
rasio, gelombang cahaya monokromatik idealnya kemurnian garis spektrum.
b. Koherensi Spasial
Koherensi spasial berkaitan dengan ukuran terbatas sumbernya.
Koherensi spasial sama dengan hubungan fase diantara gelombang berjalan sisi
demi sisi, pada waktu yang sama koherensi spasial mengacu pada kontinuitas
dan keseragaman dari gelombang dalam arah tegak lurus. Kemudian gelombang
tersebut dikatakan menunjukkan koherensi spasial. Semakin tinggi kontras,
semakin baik koherensi spasial. Kurangnya koherensi cahaya yang berasal dari
sumber-sumber biasa seperti menjalarnya kawat pijar, disebabkan oleh tidak
dapatnya atom-atom memancarkan cahaya secara kooperatif.Dan pada tahun
1960 telah berhasil dibuat sumber cahaya tampak yang atom-atomnya dapat
berlaku kooperatif, keluaran cahayanya sangatlah monokromatik, kuat dan
sangat terkumpul.Alat ini di sebut dengan laser (light amplification through
stimulated emission of radiation).
Keadaan untuk Koherensi Spasial, lebih luas sumber cahaya, laser adalah
derajat koherensi. Dalam percobaan celah ganda muda itu, jika celah S1 dan S2
secara langsung diterangi oleh sumber, pinggiran interferensi tidak diamati.
Tidak adanya pinggiran yang mengeluarkan cahaya dari celah tersebut tidak
12
memiliki koherensi spasial. Jika celah sempit diperkenalkan sebelum celah
ganda, sinar yang melewati celah sempit menerangi S1 dan S2. Gelombang
muncul dari mereka, karena telah diturunkan melalui divisi gelombang depan,
yang koheren dan tetap pola interferensi akan diamati di layar. Jika lebar celah S
secara bertahap meningkatkan kontras. Ketika S celah lebih lebar, S1 dan S2
menerima gelombang dari berbagai belahan S yang tidak mempertahankan
koherensi. Apabila sempit, menjamin bahwa gelombang pada celah S1 andS2
berasal dari sumber kecil dan karenanya mereka memiliki koherensi spasial.
3.3.3 Aplikasi Koherensi
Pada tahun 1940-an, Dr. Dennis Gabor, seorang fisikawan Hongaria,
menemukan teknik holografi. Berkat penemuannya tersebut, ia dianugerahi
penghargaan Nobel pada tahun 1971. Hasil temuaannya menjadikan ia sebagai
perintis, bapak, dan sekaligus pencipta holografi. Sayangnya, perkembangan bidang
ini berjalan lambat hingga tahun 1960-an. Akhirnya, perkembangan holografi mulai
bergerak lagi dengan adanya perkembangan dari teknologi laser.
1. Hologram
Hologram adalah produk dari teknologi holografi.Hologram terbentuk
dari perpaduan dua sinar cahaya yang koheren dan dalam bentuk
mikroskopik.Hologram bertindak sebagai gudang informasi optik. Informasiinformasi optik itu kemudian akan membentuk suatu gambar, pemandangan,
atau adegan. Hologram merupakan jelmaan dari gudang informasi (information
storage) yang mutakhir. Kelebihan hologram ialah ia mampu menyimpan
informasi, yang di dalamnya memuat objek-objek 3 dimensi (3D). Tidak hanya
objek-objek yang biasa terdapat di foto atau gambar pada umumnya.Hal itu
disebabkan prinsip kerja hologram tidak sesederhana lensa fotografi.Hologram
menggunakan prinsip-prinsip difraksi dan interferensi, yang merupakan bagian
dari fenomena gelombang.
Hologram, memiliki karakteristik yang unik. Beberapa diantaranya
yaitu: Cahaya, yang sampai ke mata pengamat, yang berasal dari gambar yang
direkonstruksi dari sebuah hologram adalah sama dengan yang apabila berasal
dari objek aslinya. Seseorang, dalam melihat gambar hologram, dapat melihat
13
kedalaman, paralaks, dan berbagai perspektif berbeda seperti yang ada pada
skema pemandangan yang sebenarnya.Hologram dari suatu objek yang tersebar
dapat direkonstruksi dari bagian kecil hologram.jika sebuah hologram pecah
berkeping-keping, masing-masing bagian dapat digunakan untuk mereproduksi
lagi keseluruhan gambar. Walau bagaimanapun, penyusutan dari ukuran
hologram, dapat menyebabkan penurunan perspektif dari gambar, resolusi, dan
tingkat kecerahan dari gambar. Dari sebuah hologram dapat direkonstruksi dua
jenis gambar, biasanya gambar nyata (pseudoscopic) dan gambar maya
(orthoscopic) Sebuah hologram tabung dapat memberikan pandangan 360
derajat dari objek Lebih dari satu gambar independen yang dapat disimpan
dalam satu pelat fotografi yang sama yang dapat dilihat dari satu per satu dalam
satu kesempatan.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, kapabilitas hologram
melebihi kapabilitas media penyimpanan lainnya. Salah satunya ialah,hologram
dapat merekam intensitas cahaya. Dengan kata lain, hologram memiliki
informasi tambahan baru dibandingkan media lain. Secara otomatis dengan
adanya rekaman intensitas cahaya, hologram pun mampu untuk memperlihatkan
kedalaman (depth). Ketika seseorang melihat ke arah sebuah pohon, ia
menggunakan matanya untuk menangkap cahaya dari objek itu. Setelah itu,
informasi diolah untuk memperoleh makna mengenai objek tadi. Prinsip ini
hampir sama dengan hologram. Hologram menjadi cara yang nyaman untuk
menciptakan kembali gelombang cahaya yang sama, yang berasal dari objek
yang sebenarnya. Kemampuan ini sangat menakjubkan. Objek terasa nyata dan
hidup dan ia akan terlihat seolah-olah akan ”melompat” dari gambar (scene).
Jika pada sebuah foto standar, pemandangan diambil dari satu perspektif saja,
maka hologram mematahkan batasan itu.Hologram mampu untuk melihat suatu
objek dari berbagai perspektif.
Aplikasi teknik holografi telah tersebar ke berbagai aspek kehidupan.
Holografi memudahkan manusia dalam mengabadikan karya-karya seni dan
benda-benda peninggalan sejarah, pembuatan iklan dan film, dan lain
sebagainya. Selain itu, aplikasi holografi lain ialah holographic interferometry,
holographic optical element (HOE), dan holographic memory.
14
2. Holographic interferometry
Holographic interferometry adalah aplikasi dari teknologi holografi yang
memungkinkan kita untuk membuat replika atau tiruan visual suatu benda,
beserta efeknya. Dengan teknik ini, objek akan mengalami dua kali
pencahayaan. Sehingga visualisasi suatu benda dapat bervariasi. Pada proses
pencahayaan yang pertama, objek harus dalam keadaan diam, tidak boleh
bergerak. Pada proses pencahayaan yang kedua, objek tadi menjadi subjek untuk
memberikan bentuk-betuk fisik sesuai dengan wujud asli objek tersebut.
Kemudian sepanjang proses tadi, hologram akan melukiskan sejumlah garis,
baik garis tepi maupun garis diagonal yang melewati objek. Garis-garis itu
kemudian akan menjelma menjadi garis-garis kontur serupa pada sebuah peta.
Peta visual ini sangat bergantung pada garis tepi, sebab garis tepi lah yang
memberi bentuk-bentuk fisik. Bila terjadi kesalahan pada proses yang pertama,
maka hal itu akan mempengaruhi pembuatan peta visualnya. Holographic
interferometry terdiri atas tiga tipe, yaitu :
ο‚·
Frozen fringe
ο‚·
Life Fringe
ο‚·
Time average
Holographic interferometry sudah banyak digunakan di industri
manufaktur. Kegunaannya ialah untuk menginpeksi kerusakan atau kegagalan
pada produk. Subjeknya ialah logam dan bahan nonlogam. Material ini
digunakan untuk menguji kemungkinan-kemungkinan kerusakan.
3. Holographic optical element (HOE)
Holographic optical element ialah salah satu jenis dari elemen optis
difraktif. HOE dapat mengganti suatu sistem optik dengan komponen optik
ganda, seperti lensa, kaca, [beam splitters], dan prisma.HOE sangat bermanfaat
bila terjadi ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan komponen optik suatu
benda. Kini hadir teknologi DOE (Diffractive OpticalElement) sebagai
kelanjutan dari HOE. Pada DOE,gelombang cahaya yang datang tidak
lagidibengkokan, melainkan dipecah menjadi puluhan, ratusan, atau bahkan
ribuan gelombang.Gelombang-gelombang tadi nantinya akan meyatu kembali
15
dan membentuk sebuah gelombanglengkap yang baru. Aplikasi HOE dan DOE
antara lain sebagai berikut : Sistem komunikasi dengan media optikCD
(compact disk) cakram kompak. Aplikasi-aplikasi arsitektural (senibangunan),
Finger print sensor (sensor sidik jari), dan Proses pengolahan informasi.
4. Holographic memory
Perkembangan
teknologi
holografi
turut
merambah
ke
sistem
penyimpanan data. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan media penyimpanan
data dengan kapasitas yang lebih besar. Media-media penyimpanan yang
mengadopsi prinsip-prinsip holografis disebut dengan holographic memory.
Pada dasarnya, teknologi holographic memory memanfaatkan cahaya untuk
menyimpan dan membaca kembali data atau informasi. Sinar Laser (singkatan
dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) yang bersifat
monokromatik dan koheren dilewatkan pada sebuah alat yang disebut ‘beam
splitter’. Splitter ini ‘memecah’ sinar LASER menjadi dua, yang pertama
disebut sinar sinyal atau sinar tujuan, yang kedua disebut sinar acuan. Disebut
sinar tujuan karena sinar ini membawa kode informasi atau obyek yang akan
disimpan. Disebut sinar acuan karena merupakan sinar yang dirancang
sedemikian rupa, sehingga mudah dan sederhana untuk direproduksi karena
digunakan sebagai referensi. Salah satu contoh dari holographic memory ialah
kepingan holografis. Para peneliti tengah berusaha mengembangkan kepingan
(CD) yang memiliki muatan penyimpanan holografis, sehingga dapat
menyimpan informasi dengan ukuran terabit. Hal ini dikarenakan pengepakan
data menjadi lebih mapat dibandingkan teknologi optis konvensional seperti
yang digunakan pada DVD dan BluRay. Bayangkan satu keping cakram optis,
dengan ketebalan cakram 1,5mm, mampu menyimpan data sebesar 200 GB.
Holographic memory memiliki beberapa keunggulan dibandingkan media
penyimpanan lain, antara lain sebagai berikut : Holographic memory dapat
menyimpan data 2 dimensi, 3 dimensi, dan juga data digital. Kapasitas
penyimpanan data lebih besar, dapat mencapai 27 kali lebih besar dari kapasitas
DVD yang kita pakai saat ini. Proses pembacaan data lebih cepat, yakni 25 kali
lebih cepat daripada DVD.
16
5. Laser
Laser merupakan singkatan dari Light Amplification by Stimulated
Emmission of Radiation (penguatan cahaya dengan stimulasi emisi radiasi).
Selanjutnya kata laser menjadi suatu kata yang baku, laser. Untuk mengetahui
laser lebih lanjut, perhatikan persamaan berikut: hf = E2 – E1 Jika elektron
secara spontan meluruh, berubah dari suatu keadaan menjadi keadaan lain,
elektron tersebut memancarkan foton dengan energi sebesar persamaan diatas.
Proses ini disbut emisi spontan.
Transisi dari suatu keadaan ke keadaan lainnya bisa dihalangi, dalam hal
ini adalah fotonnya. Dengan kata lain, energi foton h dapat menghalangi transfer
elektron dari keadaan 1 ke keadaan 2 menghasilkan foton lainnya dengan energi
hf = E1 - E2. Ini disebut pemancaran terangsang (stimulated emmission), yaitu
proses yang menghasilkan dua foton berenergi hf. Lebih jauh, kedua foton ini
akan terfase. Jadi, laser yang ideal terbentuk dari suatu kumpulan foton
berfrekuensi tepat sama dan semua foton tersebut terfase.
Sifat yang terjadi akibat kesamaan frekuensi adalah monokromatisme
dan sifat yang terjadi akibat kesamaan fase adalah koherensi. Jadi syarat
terbentuknya laser adalah sumber cahaya yang monokromatis dan koheren.
Namun kenyataannya laser tidaklah monokromatik murni ataupun koheren
murni. Meskipun demikian, ketika mengarakterisasikan sistem laser yang
sebenarnya, secara umum diasumsikan bahwa sinar laser pada awalnya adalah
terfase, dan inkoherensi laser timbul karena sifat monokromatis yang jelek dari
sumber. Jadi sebenarnya koherensi dan monokromatisme secara umum
digunakan untuk mengukur parameter yang sama. Kaca udara kebanyakan laser
dirancang dengan tiga elemen penting, media tambahan, sumber pemompa
(pumping source), dan lubang resonansi (resonant cavity).
Laser dapat mengukur Panjang koherensi tingkat monokromatisan suatu
sumber cahaya. Koherensi keluaran laser bersifat spasial maupun temporal,
semua foton memiliki fase yang sama. Mereka saling mendukung satu sama
lain, yang secara gelombang dikatakan berinterferensi konstruktif, sehingga
intensitasnya berbanding langsung.
17
3.4 Jenis-jenis Interferensi Cahaya
3.4.1 Interferensi Cahaya Dua Sumber (Percobaan Thomas Young 1801)
Jika dua gelombang mekanis berfrekuensi sama yang merambat dalam
arah yang sama (hampir sama) dengan beda fase yang tetap konstan terhadap
waktu, maka dapat terjadi keadaan sedemikian rupa sehingga energinya tidak
didistribusikan secara merata dalam ruang, tetapi pada titik tertentu dicapai haraga
maksimum, dan pada titik-titik lain merupakan harga minimum.
Melalui percobaannya Young berhasil memeperoleh panjang gelombang
cahaya dan ini merupakan hasil pengukuran pertama bagi besaran yang sangat
penting ini.
Gambar 2.7 Pola interferensi percobaan Young
Young melewatkan cahaya matahari melalui lubang kecil a pada layar S1.
Sinar yang keluar melebar karena adanya difraksi dan jatuh pada lubang kecil b
dan c pada layar S2. Di sinipun terjadi peristiwa difraksi dan gelombang yang
telah melewati layar S2 menyebar dan saling tumpang tindih.
a. Analsis Kuantitatif Interferensi Celah Ganda Young
Misalkan cahaya yang datang hanya berasal dari satu panjang
gelombang, percobaan Young dapat dianalisa secara kuantitatif seperti pada
gambar di bawah ini.
a
Gambar 2.8 Beda lintasan kedua sinar S2P – S1P = d sin πœƒ
18
Intensitas cahaya di P adalah resultan dari intensitas cahaya yang
datang dari kedua celah. Pada Gambar 2.8 tampak bahwa lintasan yang
ditempuh oleh cahaya dari S1 (S1P) lebih pendek daripada cahaya dari S2
(S2P). Selisih antara keduanya disebut beda lintasan.
βˆ†π‘† = S2P – S1P = S2R
Perhatikan βˆ†π‘†2RS1 siku-siku
𝑆 𝑅
𝑆2 𝑅
1 2
𝑑
sin πœƒ = 𝑆 2𝑆 =
sin πœƒ =
𝑆2 𝑅
𝑑
𝑆2 𝑅 = d sin πœƒ
βˆ†π‘† = d sin πœƒ
Interferensi Maksimum (pita terang) terjadi jika kedua gelombang yang
berpadu memiliki fase sama (sefase). Fase sama antara dua gelombang terjadi
jika beda lintasan antara keduanya βˆ†π‘† sama dengan 0, λ, 2λ, 3λ, … Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :
βˆ†π‘† = d sin πœƒ = 0, λ, 2λ, 3λ, …
βˆ†π‘† = d sin πœƒ = n λ dengan n = 0, λ, 2λ, 3λ, …
dengan n = 0 untuk pita terang pusat, n = 1 untuk pita terang pertama, n = 2
untuk pita terang kedua, dan seterusnya.
Interferensi Minimum (pita gelap) terjadi jika kedua gelombang berlawanan
fase atau memiliki beda lintasan βˆ†π‘† sama dengan
1
2
1
1
λ, 12 λ, 22 λ, ... Secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :
1
1
1
βˆ†π‘† = d sin πœƒ = 2 λ, 12 λ, 22 λ, ...
βˆ†π‘† = d sin πœƒ = (𝑛 −
19
1
) λ dengan n = 1, 2, 3, …
2
dengan n = 1 untuk pita gelap pertama, n = 2 untuk pita gelap kedua, dan
seterusnya.
b. Jarak Pita Terang atau Pita Gelap ke-n dari Terang Pusat
Untuk Pita Terang
d sin πœƒ = nλ
𝑦
d ( 𝐿 ) = nλ
𝑦𝑑
𝐿
= nλ dengan n = 0, 1, 2, 3, …
Untuk Pita Terang
d sin πœƒ = (𝑛 −
𝑦
d (𝐿 ) = (𝑛 −
𝑦𝑑
𝐿
= (𝑛 −
1
2
1
)λ
2
1
)λ
2
) λ dengan n = 1, 2, 3, …
c. Jarak antara Dua Pita Terang Berdekatan (βˆ†π’š)
Gambar 2.9 Pita teramh dan Pita gelap silih berganti
Jika jarak antara dua pita terang yang berdekatan diberi simbol βˆ†π‘¦, berlaku
hubungan berikut :
πΏπœ†
βˆ†π‘¦ = 2𝑑
dengan :
d = jarak antara dua celah (m)
L = jarak celah ke layar (m), dan
πœ† = panjang gelombang (m).
20
Adapun jarak antara garis terang dan gelap yang berdekatan, berlaku
hubungan berikut.
1
πΏπœ†
βˆ†π‘¦π‘‘π‘” = 2 βˆ†π‘¦ = 2𝑑
3.4.2 Interferensi Cahaya dari Film Tipis
Kita pasti sering melihat sebuah pemandangan warna-warna pada
gelembung sabun. Peristiwa ini merupakan peristiwa dimana gelombang cahaya
direfleksikan dari permukaan-permukaan yang berlawanan dari film tipis seperti
itu, dan interferensi konstruktif diantara kedua gelombang yang direfleksikan itu
(panjang lintasan yang berbeda) terjadi di tempat berbeda untuk panjang
gelombang (λ) yang berbeda pula mengakibatkan adanya perbedaan fasa di antara
kedua gelombang tersebut.Warna-warni pelangi menunjukkan bahwa sinar
matahari adalah gabungan dari berbagai macam warna dari spektrum kasat mata.
Dilain pihak, warna pada gelombang sabun, bukan disebabkan oleh pembiasan.
Hal ini terjadi karena interferensi konstruktif dan destruktif dari sinar yang
dipantulkan oleh suatu lapisan tipis. Adanya gejala interferensi ini bukti yang
paling menyakinkan bahwa cahaya itu adalah gelombang.
Gambar 2.10 Cahaya monokromatik datang pada suatu lapisan tipis transparan
dipantulkan dari permukaan atas dan permukaan bawah
21
Beda lintasan berkas cahaya pantul dari kedua permukaan lapisan tipis
adalah sebagai berikut.
βˆ†π‘† = ABDEF – ABC = 2t
dengan t adalah tebal lapisan tipis.
Ketika cahaya dengan panjang gelombang λ merambat dari medium
kurang rapat (indeks bias lebih kecil) ke medium lebih rapat (indeks bias lebih
besar), terjadi peristiwa pemantulan. Dengan menggunakan ide pembalikan fase
pada pemantulan oleh permukaan tipis pada Gambar 2.10, dapat dilihat bahwa
cahaya yang dipantulkan dari permukaan atas lapisan tipis (sinar BC) memiliki
1
beda lintasan 2 πœ†. Ini karena pemantulan berlangsung dari medium lapisan tipis
dengan indeks bias n ke medium udara (kurang rapat) dengan indeks bias 1.
Adapun pemantulan cahaya dari permukaan bawah lapisan tipis (sinar DE) tidak
mengalami pembalikan fase. Ini karena pemantulan berlangsung dalam arah
kebalikan, yaitu medium udara (kurang rapat) ke medium lapisan tipis (lebih
rapat). Sinar bias BD dan EF tidak mengalami pembalikan fase. Jadi secara total
πœ†
lapisan tipis memperkenalkan pembalikan fase yang setara dengan beda lintasan 2,
ke dalam pernyataan syarat interferensi konstrukti atau destruktif.
Interferensi Konstruktif
1
βˆ†π‘† = 2t = mπœ†′ + 2λ’
1
βˆ†π‘† = 2t = (m + 2) λ’ dengan m = 0, 1, 2, 3, …
dengan λ’ adalah panjang gelombang cahaya dalam lapisan tipis.
Jika yang diketahui adalah panjang gelombang cahaya di udara πœ†, nilai λ’n = λ(1)
λ
1
πΏπœ†
atau λ’ = 𝑛 . Jika didistribusikan ke dalam persamaan βˆ†π‘¦π‘‘π‘” = 2 βˆ†π‘¦ = 2𝑑. Diperoleh
persamaan berikut.
1 λ
2t = (m + 2) 𝑛; m = 0, 1, 2, 3, …
1
2nt = (π‘š + ) πœ†
2
22
Interferensi Destruktif
λ
2t = (m) 𝑛 ; m = 0, 1, 2, 3, …
2nt = π‘šπœ†
Gambar 2.11 Pita-pita warna yang terlihat pada gelembung sabun
Peristiwa seperti yang diperlihatkan pada gambar di atas menunjukkan cahaya
yang menyinari permukaan atas dari sebuah film tipis yang mempunyai ketebalan 𝑑
sebagian direfleksikan di permukaan bagian atas. Cahaya yang ditransmisikan melalui
permukaan
atas, sebagian didirefleksikan di pemukaan bagian bawah. Kedua
gelombang yang direfleksikan itu nantinya akan berkumpul di titik P yang berada di
retina mata. Kedua gelombang tersebut kemudian dapat berinterferensi secara
konstruktif maupun destruktif (tergantung dari fasa yang dimiliki kedua gelombang
tersebut). Warna-warna yang berbeda pada pita warna menunjukkan panjang
gelombang yang berbeda-beda, sehingga untuk beberapa warna dapat mengalami
interferensi konstruktif dan sebagian lagi mengalami interferensi destruktif.
Kemudian kita lihat peristiwa cahaya monokromatik yang direfleksikan dari
dua permukaan yang hampir paralel yang masuk dalam arah yang hampir normal.
Situasinya sama seperti pada interferensi akibat refleksi cahaya yang menyinari film
tipis. Bedanya situasi ini memiliki ketebalan film yang tidak homogen. Selisih
lintasan di antara kedua gelombang tersebut, persis dua kali tebal 𝑑 dari lapisan udara
di setiap titik. Pada titik dimana 2𝑑 adalah kelipatan bulat dari panjang gelombang,
maka kita akan melihat interferensi konstruktif dan sebuah pola terang. Pada titik-titik
dimana 2𝑑 adalah kelipatan setengan bilangan bulat dari panjang gelombang, kita
23
berharap akan melihat interferensi destruktif dan sebuah pola gelap. Dan di sepanjang
garis dimana pelat-pelat itu bersentuhan, secara praktis tidak ada selisih lintasan dan
kita berharap akan mendapatkan sebuah pola terang. Jika hal-hal tersebut tidak kita
temukan (menyimpang dari yang di teorikan) maka itu menunjukkan bahwa salah satu
dari gelombang yang direfleksikan itu telah mengalami pergeseran fasasetengah
siklus selama refleksinya meskipun panjjang gelombangnya tetap sama.
Menurut Maxwell pergeseran fasa tersebut dapat di perkirakan dengan
persamaannya menurut sifat elektromagnetik dari cahaya. Misal sebuah gelombang
cahaya dengan amplitudo medan listrik 𝐸𝑖 merambat dalam sebuah amaterian optik
yang lain dengan indeks refraksi 𝑛𝑏 . Amplitudo πΈπ‘Ÿ dari gelombang yang direfleksikan
dari antarmuka itu sebanding dengan amplitudo 𝐸 i dari gelombang yang masuk dan
diberikan oleh:
𝑛 −𝑛
πΈπ‘Ÿ = π‘›π‘Ž +𝑛𝑏 𝐸𝑖
π‘Ž
𝑏
(arah masuk normal)
Hasil ini memperlihatkan bahwa amplitudo yang masuk dan di refleksikan
mempunyai tanda sama bila π‘›π‘Ž lebih besar dari 𝑛𝑏 dan berlawanan tanda bila 𝑛𝑏 lebih
besar dari π‘›π‘Ž .
Gambar 2.12 Gelombang cahaya saat π‘›π‘Ž > 𝑛𝑏
Gambar di atas menunjukkan bila π‘›π‘Ž >𝑛𝑏 , cahaya merambat lebih lambat
dalam medium pertama dibanding dalam medium kedua.
Dalam kasus ini, πΈπ‘Ÿ dan 𝐸𝑖 mempunyai tanda sama, dan pergeseran fasa dari
gelombang yang direfleksikan relative terhadap gelombang yang masuk adalah sama
dengan nol. Hal ini analog dengan refleksi sebuah gelombang mekanik transfersal
pada sebuah tali yang berat di sebuah titik di mana tali itu di sambungkan erat-erat ke
sebuah tali yang lebih ringan atau sebuah cincin yang dapat bergerak secara vertical
tanpa gesekan.
24
Gambar 2.13 Gelombang cahaya saat π‘›π‘Ž = 𝑛𝑏 ,
Sumber: Buku Fisika Universitas
Gambar di atas ini menjelaskan bila π‘›π‘Ž = 𝑛𝑏 , amplitudo πΈπ‘Ÿ dari gelombang
yang direfleksikan itu adalah nol. Gelombang cahaya yang masuk tidak dapat
“melihat” antarmuka itu dan tidak ada gelombang yang direfleksikan.
Gambar 2.14 Gelombang cahaya saat π‘›π‘Ž < 𝑛𝑏
Sedangkan gambar di atas menunjukkan bahwa π‘›π‘Ž <𝑛𝑏 , cahaya merambat
lebih lambat dalam material kedua daripada dalam material pertama. Dalam kasus ini,
πΈπ‘Ÿ dan 𝐸𝑖 mempunyai tanda yang berlawanan, dan pergeseran fasa dari gelombang
yang direfleksikan itu relatif terhadap gelombang yang masuk adalah π rad (180° atau
setengah siklus). Ini analog dengan refleksi (dengan inversi) sebuah gelombang
mekanik transfersal pada sebuah tali yang ringan di sebuah titik di mana tali itu di
sambungkan erat-erat ke sebuah tali yang lebih berat atau sebuah penopang tegak.
Gelombang-gelombang tayang direfleksikan dari garis persenuthan tidak tidak
mempunyai selisih lintasan untuk memberikan pergeseran fasa tambahan dan
gelombang-gelombang itu berinterferensi secara destruktif.
25
Pembahasan di atas dapat kita simpulakn secara matematis. Jika film tersebut
mempunyai tebal 𝑑, cahaya masuk dalam arah normal dan dengan panjang gelombang
λ dalam film tersebut, jika tidak ada satupun dari gelombang-gelombang itu atau jika
kedua gelombang yang direfleksikan dari kedua permukaan itu mempunyai
pergeseran fasa refleksi sebesar setengah siklus, maka syarat untuk interferensi
konstruktif adalah:
(dengan π‘š = 0, 1, 2, …)
2𝑑 = π‘šπœ†
(Refleksi destruktif dari film tipis, tidak ada pergeseran fasa relatif)
Akan tetapi, bila satu dari kedua gelombang itu mempunyai pergeseran fasa refleksi
sebesar setengah siklus, persamaan ini adalah syarat untuk interferensi destruktif.
Demikian juga jika tidak satupun dari gelombang-gelombang atau jika
keduanya mempunyai pergeseran fasa setengah siklus, maka syarat untuk interferensi
destruktif dalam gelombbang-gelombang yang direfleksikan itu adalah:
1
2𝑑 = (π‘š + 2) πœ†
(dengan π‘š = 0, 1, 2, …)
(refleksi konstruktif dari film tipis, tidak ada pergeseran fasa relatif siklus)
Akan tetapi jika satu gelombang mempunyai pergeseran fasa setengah siklus, maka
inilah syarat untuk interferensis konstruktif.
Cincin Newton
Gambar di bawah memperlihatkan permukaan cembung sebuah lensa yang
bersentuhan dengan sebuah pelat kaca yang rata. Sebuah film udara dibetuk di antara
kedua permukaan itu. Bila kita memandang susunan itu dengan cahaya
monokromatik, maka kita akan melihat cincin-cincin interferensi yang berbentuk
lingkaran. Seperti pada gambar di sebelah kanan.
26
Gambar 2.15 Film Udara antara
Sebuah Lensa Cembung dengan
Permukaan Rata
Gambar 2.16 Potret Cincin Newton
Jika kita memandang susunan itu melalui cahaya yang direfleksikan, maka pusat pola
itu terlihat berwarna hitam.
Kita dapat menggunakan pita interferensi untuk membandingkan permukaan
dari dua bagian optis dengan menempatkan keduanya bersentuhan dan dengan
mengamati pita-pita interferensi. Gambar di sebelah kanan merupakan potret yang
dibuat selama pengasahan sebuah lensa objektif teleskop. Garis-garis bentuk itu
adalah pita-pita interferensi Newton, setiap pitanya menunjukkan sebuah jarak
tambahan di antara bahan contoh dan induk sebesar setengah panjang gelombang (½
λ). Pada 10 garis pada noda pusat, jarak antara kedua permukaan itu adalah lima
panjang gelombang (5 λ), atau kira-kira sebesar 0,003 mm. ini belum dapat dikatakan
sangat baik, lensa dikatakan berkualitas tinggi jika diasah secara rutin dengan
ketelitian sebesar kurang dari satu panjang gelombang. Permukaan cermin premier
dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble di asah sampai ketelitian yang lebih baik dari
pada seper limapuluh panjang gelombang (1/50 λ).Tapi sayang sekali, terleskop
tersebut diasah dengan spesifikasi yang tidak benar, yang menciptakan salah satu
kesalahan yang paling teliti dalam sejarah teleskop optis.
Dan interferensi maksimum/lingkaran terang adalah:
π‘›π‘Ÿπ‘‘ 2 = (2π‘š − 1)½πœ†π‘…
dengan π‘š = 1, 2, 3 …
Sedangkan interferensi minimum/lingkaran gelap adalah:
π‘›π‘Ÿπ‘” 2 = (2π‘š)½πœ†π‘…
dengan π‘š = 0, 1, 2 …
dengan
n = indeks bias udara = 1
m = orde interferensi (1, 2, 3, … dst)
R = jari-jari lengkungan lensa Plan Konveks
π‘Ÿπ‘‘ /π‘Ÿπ‘” = jari-jari lingkaran terang/ gelap ke-m
27
Untuk jari-jari ke-m lingkaran terang diberikan pada :
π‘Ÿ = [(π‘š − ½)
πœ†π‘… ½
𝑛
]
Untuk jari-jari ke-m lingkaran gelap diberikan pada :
π‘Ÿ = [π‘š
πœ†π‘… ½
𝑛
]
Lapisan Nonreflektif dan Lapisan Reflektif
Lapisan non reflektif untuk permukaan lensa memanfaatkan interferensi film
tipis.Sebuah lapisan tipis atau film yang material tembus cahayanya keras, dengan
indeks refraksi yang lebih kecil daripada indeks refraksi dari kaca di letakkan di atas
permukaan lensa tersebut.
Dalam kedua refleksi, cahaya direfleksikan dari sebuah medium yang indeks
refraksinya lebih besar daripada indeks refraksi di mana cahaya itu berjalan., sehingga
perubahan fasa yang sama terjadi dalam kedua refleksi. Jika tebalnya film tersebut
adalah seperempat dari panjang gelombang dalam film tersebut (cahaya dianggap
masuk dari arah normal), maka selisih lintasan total adalah setengah panjang
gelombang. Cahaya yang direfleksikan dari permukaan pertama akan berbeda fasa
dengan cahaya yang direfleksikan dari permukaan kedua sebesar setengah siklus, dan
terdapat interferensi destruktif.
Ketebalan lapisan nonreflektif itu dapat mencapai sebesar seperempat panjang
gelombang hanya untuk satu panjang gelombang tertentu.Ini biasanya dipilih dalam
bagian kuning-hijau tengah dari spectrum, dimana tangkapan mata paling peka. Maka
akan lebib banyak refleksi pada panjang gelombang yang lebih panjang (merah) dan
pada panjang gelombang yang lebih pendek (biru), dan cahaya yang direfleksikan
mempunyai warna ungu.
Jika material yang tebalnya seperempat panjnag gelombang dengan indeks
refraksi yang lebih besar daripada indeks refraksi kaca ditempatkan di atas kaca, maka
reflektivitasnya akan bertambah besar, dan material yang ditempatkan itu di sebut
lapisan reflektif. Dengan menggunakan lapisan ganda, akan dimungkinkan mencapai
hampir 100% transmisi atau refleksi untuk panjang gelombang tertentu. Beberapa
pemakaian praktis dari pelapisan ini adalah untuk pemisahan warna dalam kamera
televise berwarna dan untuk reactor kalor inframerah dalam proyektor gambar hidup,
sel surya, dan kelep astronot.
28
3.5 Contoh Penerapan Interferensi Cahaya dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat gelembung air sabun akan terlihat
berwarna-warni. Begitu juga genangan minyak tanah diatas permukaan air, akan
terlihat sama berwarna warni. Warna-warni pelangi menunjukkan pada kita bahwa
sinar matahari adalah gabungan gabungan dari berbagai macam warna dari spektrum
kasat mata. Akan tetapi warna pada gelombang sabun, lapisan minyak, warna bulu
burung merah dan burung kalibri bukan disebabkan oleh pembiasan. Tetapi karena
terjadi interferensi konstruktif dan distruktif dari sinar yang dipantulkan oleh suatu
lapisan tipis. Adanya gejala interferensi ini bukti yang paling menyakinkan bahwa
cahaya itu adalah gelombang.
Warna-warni terbentuk karena adanya interferensi gelombang cahaya yang
memasuki lapisan tipis sabun. Karena cahaya putih seperti sinar matahari memiliki
banyak panjang gelombang maka sinar yang masuk kedalam lapisan sabun dan yang
dipantulkan oleh lapisan sabun itu juga akan mengalami pembiasan dan pemantulan
yang tidak sama karena masing-masing panjang gelombang memiliki indeks bias
sendiri-sendiri. Lintasan yang dilalui masing-masing gelombang tidak sama. Sinar
putih ini mengalami dispersi atau penguraian warna dan terbentuklah cahaya
berwarna-warni. Berwarna-warni karena cahaya yang jatuh ke gelembung sabuk
dipantulkan dan dibiaskan secara tidak merata karena indeks bias yang berbeda di tiap
titik gelembung gara-gara tidak samanya ketebalan gelembung sabun.
3.6 Proses Terjadinya Pelangi
Bagaimana proses terjadinya pelangi adalah bermula dari ketika cahaya
matahari melewati sebuah tetes hujan yang kemudian dibelokkan atau dibiaskan
menuju tengah tetes hujan tersebut, yang memisahkan cahaya putih itu menjadi
sebuah warna spektrum. Kemudian, warna-warna yang terpisah ini memantul di
belakang tetes hujan dan memisah lebih banyak lagi saat meninggalkannya.
Akibatnya, cahaya tampak melengkung menjadi kurva warna yang disebut
sebagai pelangi. Cahaya dengan panjang gelombang terpendek seperti ungu, terdapat
di bagian kurva dan yang memiliki panjang gelombang terpanjang seperti merah
terdapat pada bagian luar.
29
Interferensi merupakan sifat cahaya yang dapat diamati ketika perbedaan
gelombang cahaya dicampur bersamaan. Contoh interferensi adalah pelangi yang
kamu lihat dalam gelembung sabun, spektrum warna oval, dan kilauan warna dari
beberapa bulu burung. Di sebagian area pola interferensi, gelombang cahaya berada
dalam fase, dengan bukit dan lembah saling menguatkan, membentuk daerah yang
berkilau. Di daeah lain, di luar fase, dengan bukit dan lembah yang berlawanan,
membentuk daerah yang suram. Terdapat berbagai variasi cara untuk memperagakan
interferensi, pada bagian daerah yang terang maupun daerah suram, dan perbedaan
warna
menggambarkan
perbedaan
panjang
gelombang
cahaya. interferensi
menghasilkan gelombang yang berhimpit. Ketika dua bukit (titik tertinggi) gelombang
bertemu, mereka bergabung menjadi gelombang yang lebih besar. Ketika bukit
sebuah gelombang dan lembah (titik terendah) gelombang bertemu, gelombang saling
mengapuskan satu sama lain. Posisi bukit dan lembah disebut fase.
30
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Interferensi cahaya adalah penjumlahan superposisi dua gelombang cahaya atau lebih
yang menghasilkan suatu radiasi yang menyimpang dari jumlah masing-masing
komponen radiasi gelombangnya.
2. Syarat terjadinya interferensi cahaya :
a. Kedua gelombang cahaya haruslah koheren, dalam arti bahwa kedua gelombang
cahaya haruslah memilikibeda fasa yang selalu tetap.
b. Kedua sinar atau cahaya yang dipancarkan haruslah yang memiliki frekuensi yang
sama.
c. Kedua gelombang cahaya haruslah memiliki amplitudo yang hampir sama.
d. Interferensi terjadi pada cahaya yang terpolarisasi linier atau polarisasi lain,
termasuk cahaya natural atau alami.
3. Koherensi adalah salah satu sifat gelombang yang menunjukkan interferensi yang
sama antara fase dan penjalarannya.
4. Jenis-jenis interferensi cahaya:
a. Interferensi Cahaya Dua Sumber (Percobaan Thomas Young 1801)
b. Interferensi Cahaya dari Film Tipis
5. Contoh penerapan interferensi cahaya dalam kehidupan sehari-hari
ο‚·
Gelembung air sabun yang terlihat berwarna-warni
ο‚·
Genangan minyak tanah diatas permukaan air yang terlihat berwarna-warni
ο‚·
Warna-warni pelangi menunjukkan bahwa sinar matahari adalah gabungan dari
berbagai macam warna dari spektrum kasat mata
6. Proses terjadinya pelangi yaitu Bagaimana proses terjadinya pelangi adalah bermula
dari ketika cahaya matahari melewati sebuah tetes hujan yang kemudian dibelokkan
atau dibiaskan menuju tengah tetes hujan tersebut, yang memisahkan cahaya putih itu
menjadi sebuah warna spektrum. Kemudian, warna-warna yang terpisah ini memantul
di belakang tetes hujan dan memisah lebih banyak lagi saat meninggalkannya.
Akibatnya, cahaya tampak melengkung menjadi kurva warna yang disebut
sebagai pelangi. Cahaya dengan panjang gelombang terpendek seperti ungu, terdapat
31
di bagian kurva dan yang memiliki panjang gelombang terpanjang seperti merah
terdapat pada bagian luar.
4.2 Saran
Dalam mempelajari materi interferensi cahaya sebaiknya materi yang terkait dibaca
berulang kali agar materi dapat dipahami.
32
DAFTAR PUSTAKA
Aliga. 2019. “Interferensi”. Dalam http://rodabanoptik10.blogspot.com/2016/01/interferensia.html. 2 Maret.
Hidayati,
Nurul.
2019.
“Makalah
Interferensi
Cahaya”.
http://nurulhidayati280199.blogspot.com/2016/04/makalah-interferensicahaya.html. 2 Maret.
Dalam
Pauziah
Nawawi, Nurrovi. 2019. “Materi Optik Interferensi Cahaya”.
http://nurrovipauziahnawawi12ipa1.blogspot.com/2016/01/materi-optikinterferensi-cahaya.html. 2 Maret.
Dalam
Suharyanto, dkk. 2009. Fisika untuk Kelas XII SMA dan MA. Jakarta:Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Terraningtyas,
Ambarwati.
2019.
“Makalah
Interferensi
Cahaya”.
Dalam
https://www.academia.edu/32097603/Makalah_Interferensi_Cahaya. 2 Maret.
Tim
Fisika.
2019.
“Interferensi
Cahaya”.
Dalam
https://fisikamemangasyik.wordpress.com/fisika-3/optik-fisis/d-interferensicahaya/. 8 Maret.
Untoro, Joko. dkk. 2019. Buku Pintar Pelajaran. Jakarta:Plus Multimedia.
Download