Uploaded by fernandorumapea

PROCEEDING BOOK PIKAB 15

advertisement
Proceeding Book PIKAB XV
Proceeding Book PIKAB XV
Enhancing Competence of Pediatric Cases Management in Secondary
Health Care
Bandung, 1-2 Desember 2018
Hotel Horison, Bandung
Editor : Prof. Herry Garna, dr., Sp.A(K), Ph.D
DEPARTEMEN/KSM ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJAJARAN
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
2018
Proceeding Book PIKAB XV
Improving Knowledge and Skill in Pediatric Health Care
Bandung, 1-2 Desember 2018
ISBN: 978-602-71594-7-1
Editor: Prof. Herry Garna, dr., Sp.A(K), Ph.D
Diterbitkan oleh Departemen/KSM Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung Jl. Pasteur No. 38 Bandung 40161 Telp. & Faks. 022–
2035957; E-mail: [email protected]
Cetakan pertama, Desember 2018
Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
SAMBUTAN KETUA PANITIA
Ilmu pengetahuan selalu berkembang dari masa ke masa, begitu pula ilmu
pengetahuan di bidang kedokteran. Karena hal itulah para dokter dituntut
untuk selalu belajar. Medicine is never ending study. Ilmu kedokteran
selalu berkembang dan semakin baik dari masa ke masa serta
menghasilkan ilmu pengetahuan yang baru. Oleh karena itu, seorang
dokter dituntut untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuannya demi
meningkatkan kualitas penanganan pasien terutama dalam era Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN/BPJS). Pada tanggal 1 – 2 Desember 2018 KSM
Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD/RSHS menyelenggarakan acara PIKAB
XV dengan tema ‘Enhancing Competence of Pediatric Cases Management
in Secondary Health Care’. Kegiatan ini merupakan wujud upaya KSM Ilmu
Kesehatan
Anak
FK
UNPAD/RSHS
untuk
memfasilitasi
proses
pengembangan profesionalitas berkelanjutan di bidang kesehatan anak.
Proceeding book ini merupakan makalah lengkap memuat semua materi
yang disampaikan dalam kuliah umum PIKAB XV yang bertujuan agar
peserta dokter umum dan dokter spesialis anak dapat meningkatkan
kemampuan dan keahliannya dalam menghadapi dan menangani masalah
kesehatan anak.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh penulis yang telah
meluangkan waktu dan tenaga untuk menyiapkan naskah dalam buku ini.
Kami sangat yakin bahwa buku ini akan bermanfaat bagi para pembaca,
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan klinis kita, memperbaiki
kualitas pelayanan para klinisi dalam praktik, dan meningkatkan
kesehatan anak Indonesia. Tentu saja dalam proses penyusunan buku ini
tidak luput dari berbagai kesalahan, namun kami mengharapkan hal
tersebut tidak mengurangi makna dari buku ini. Kami harap buku ini
dapat bermanfaat bagi sejawat sekalian dan menjadi rujukan bagi para
sejawat. Selamat mengikuti kegiatan Pendidikan Ilmu Kedokteran Anak
Berkelanjutan.
Ketua Panitia,
Dr. Sri Endah Rahayuningsih, dr., Sp.A(K)
SAMBUTAN KETUA KSM ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNIVERSITAS PADJADJARAN / RSHS BANDUNG
Pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga proceeding book (buku prosiding) ini
dapat diselesaikan dengan baik. Buku ini mencakup semua materi yang
dibahas dalam Pendidikan Ilmu Kesehatan Anak Berkelanjutan (PIKAB)
XV.
Penyelenggaraan PIKAB XV dengan tema ‘Enhancing Competence of
Pediatric Cases Management in Secondary Health Care’ ini merupakan
upaya Departemen/KSM Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad/RSHS Bandung
untuk membantu memfasilitasi proses pengembangan profesionalisme
berkelanjutan bagi para tenaga medis, dokter umum, dan dokter spesialis
yang berada di berbagai tingkat fasilitas kesehatan, khususnya fasilitas
kesehatan sekunder yang bertujuan untuk menjaga kesinambungan
pelayanan
pasien-pasien
anak
terkait
penanganan
kasus-kasus
prarujukan dan pascarujukan.
Pada PIKAB XV ini telah dipresentasikan berbagai topik menarik berupa
aplikasi klinis melalui pendekatan diagnostik dan tata laksana baru yang
rasional berbasis bukti.
Kami sampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada panitia
PIKAB XV serta berbagai pihak yang telah memberi kontribusi besar dalam
pelaksanaan kegiatan ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pembaca
khususnya dan bagi upaya peningkatan kesejahteraan anak Indonesia
pada umumnya.
Semoga Allah senantiasa meridhai usaha kita semua.
Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak
Dr. dr. Susi Susanah, Sp.A(K), M.Kes
DAFTAR ISI
Sambutan Ketua Panitia
iii
Sambutan Ketua KSM Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD/RSHS
iv
Daftar Isi
vii
Susunan Panitia
viii
Daftar Kontributor
Susunan Acara
Ix
x
Simposium Hari Pertama
Growth Disorder due to Vitamin D Deficiency
16
Recurrent abdominal pain in children: clinical approach and
31
treatment
Infection prevention and control in pediatric setting
49
The role of vitamin D in pediatric lupus
61
How to manage heart failure in out-patient clinic
74
Simposium Hari Kedua
Childhood asthma “What is the New Insight”
88
How to simplified diagnosing musculosceletal pain in children?
117
Diagnosis and management of cholestasis jaundice in infant
140
The prudent use of antimicrobal agents
156
Identification pulmonary hypertension in daily practice
167
Growth disorder due to congenital adrenal hyperplasia
187
SUSUNAN PANITIA
Pelindung
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran
Direktur Utama RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Penasihat
Prof. Dr. Nanan Sekarwana, dr., Sp.A(K)., MARS
Prof. Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K), M. Kes
Penanggung Jawab Dr. Susi Susanah, dr., Sp.A(K)., M.Kes
Ketua
Dr. Sri Endah Rahayunngsih, dr., Sp.A(K)
Sekretaris
Mia Milanti Dewi, dr., Sp.A(K)
Nur Melani Sari, drr., Sp.A., M.Kes
Bendahara
Sri Sudarwati, dr., Sp.A(K)
Gartika Sapartini, dr., Sp.A(K)
Seksi Ilmiah
Dr. Meita Dhamayanti, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Prof. dr. Haerry Garna, Sp.A(K), Ph.D
Rahmat Budi Kuswiyanto, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Dr. Anggraini Alan, dr. Sp.A(K)
dr. Aris Primadi, Sp. A (K)
Seksi Dana
Dr. Nelly Amalia Risan, dr., Sp.A(K)
Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K)., M.Sc, Ph.D
Prof. Dr. dr. Sjarief Hidajat Effendi, Sp.A(K)
Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Dr. Tetty Yuniati, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Viramitha Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A., M. Kes
Seksi Pameran
Faisal, dr., Sp.A., M. Kes
Seksi Sidang dan Acara
Nur Suryawan, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Fina Meilyana, dr., Sp.A., M. Kes
Seksi Publikasi,
Dokumentasi dan
M. Akbar Tirtosudiro, dr., Sp.A
Dekorasi
Seksi Konsumsi
Dewi Hawani, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Seksi Logistik dan Perlengkapan
Riyadi, dr., Sp.A(K)., M. Kes
Seksi Keamanan dan Kesehatan
Rodman Tarigan,dr.,Sp.A(K).,M.Kes
Editor
Prof.Herry Garna,dr., Sp.A(K), Ph.D
ISBN
978-602-71594-7-1
Penerbit
Departemen/KSM Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung
Jl. Pasteur No 38 Bandung 40161
Telp./Fax. (022) 2035957, E-mail : [email protected]
DAFTAR KONTRIBUTOR
Prof. Dr. Heda Melinda N. Nataprawira, dr.,
Sri Sudarwati ,dr.,Sp.A (K)
Sp.A(K),MKes
Divisi Respirologi
Divisi Respirologi
Novina, dr., Sp.A, MKes.
Rd. Reni Ghrahani, dr., Sp.A(K), MKes.
Divisi Endokrinologi
Divisi Alergi dan Imunologi
Yudith Setiati Ermaya, dr., Sp.A, MKes.
Dr. Dwi Prasetyo, dr., SpA(K)., MKes.
Divisi Gastroenterohepatologi
Divisi Gastroenterohepatologi
Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), MKes.
Prof.Dr Kusnandi Rusmil ,dr.,Sp.A(K),MKes
Divisi Alergi dan Imunologi
Divisi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial
Dr. Djatnika Setiabudi, dr., Sp.A(K).,
Anggraini Alam, dr., Sp.A(K)
MCTM(Trop.Ped.)
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis
Rahmat Budi Kuswiyanto, dr., Sp.A(K), MKes.
Dr. Sri Endah Rahayuningsih, dr., Sp.A(K)
Divisi Kardiologi
Divisi Kardiologi
Prof. Cissy B. Kartasasmita, dr., Sp.A(K), MSc., Ph.D
Faisal,dr.,Sp.A MKes
Divisi Respirologi
Divisi Endokrinologi
SUSUNAN ACARA
Sabtu, 01 Desember 2018
07.30–08.00 Registrasi
Opening ceremony
08.00–08.15 Menyanyikan Indonesia Raya
Laporan Ketua Panitia PIKAB 15
Sambutan Kepala Departemen/KSM Ilmu Kesehatan Anak
Sambutan Dekan FKUP
Pembukaan pameran
Plenary session
08.15–08.35 Ethical Issues in Pediatric Health Practice
Prof.Dr.Nanan Sekarwana,dr.,SpA(K),MARS
1st Session
Moderator: Prof. Azhali M.S, dr., Sp.A(K)
08.35–08.55 The Updating Tuberculosis in Children
Prof. Dr. Heda Melinda Nataprawira, dr., Sp.A(K)., M.Kes
08.55–09.15 Growth Disorder due to Vitamin D Deficiency
Novina Andriana, dr., Sp.A, M.Kes
09.15–09.35 Recurrent abdominal pain in children: clinical
approach and treatment
Yudith Setiati Ermaya, dr., SpA(K), M.Kes
09.35–09.45 Diskusi
09.45–10.00 Coffee break
Coffee break symposium (SOHO)
10.00–10.45 Implementation of children cough guideline:
Rationalization of Hedera Helix as a natural mucolytic
in children cough therapy
Moderator: Prof.Dr.Heda Melinda DN,dr.,SpA(K),MKes
Pembicara: Prof.Dr.Cissy
B.Kartasasmita,dr.,SpA(K),MSc.,PhD
nd
2 Session
Moderator: Prof. Dr. Kusnandi Rusmil, dr., Sp.A(K)., MM.
10.45–11.05 The Role of vitamin D in pediatric lupus
Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), M.Kes
11.05–11.25 Infection prevention and control in pediatric setting
Dr.Djatnika Setiabudi, dr., Sp.A(K), MCTM (TropPed)
11.25–11.45 How to manage heart failure in out-patient clinic
Rahmat Budi K, dr., Sp.A(K), M.Kes
12
11.45–11.55 Diskusi
Lunch Symposium
11.55–12.55 Lunch symposium 1
(GSK)
The impact of PCV on
overall Pneumococcal
disease
Moderator: Prof. Dr.
Ponpon Idjradinata, dr.,
Sp.A(K)
Pembicara: Prof.Dr.Cissy
B.Kartasasmita,dr.,SpA(K),
MSc.,PhD
12.55–14.00 ISHOMA
Workshop
14.00–17.00 Endokrinologi
Respirologi
Neonatologi
Infeksi
ERIA
Imunologi
Gastrohepatologi
Lunch symposium 2
(Combiphar)
Using of IVIG in pediatric
cases
Moderator:
Pembicara:
Dr.Sri
Endah
Rahayuningsih, dr., SpA(K)
Prof. Dr. Budi
Setiabudiawan, dr., SpA(K),
Mkes
Growth: when it is
abnormal
Comprehensive diagnosis
and management of asthma
in children
Neonatology made easy
(Ventilation support, TPN,
intravenous access)
TORCH: Diagnosis and
management
Sepsis and septic shock, the
first hour is golden hour
Antihistamin uses in
children: pro and contra
Management of
constipation in practice
13
Minggu, 02 Desember 2018
3rd Session
Moderator: Prof.Dr.Dedi Rachmadi,dr.,SpA(K),Mkes
08.00–08.20
Childhood Asthma “What is the New Insight”
Sri Sudarwati,dr.,SpA(K)
08.20–08.40
How To Simplified Diagnosing Musculoskeletal Pain in
Children?
Rd.Reni Grhahani,dr.,SpA(K),Mkes
08.40–09.00
Diagnosis and Management of Cholestasis Jaundice in
Infant
Prof.Dr.Dwi Prasetyo,dr.,SpA(K),Mkes
09.00–09.10
Diskusi
09.10–09.25
Coffee break
Coffee break symposium (Pfizer)
09.25–10.10
Preventing Pneumococcal disease
Moderator: Dr.Anggraini Alam,dr.,SpA(K)
Pembicara: Prof.Dr.Kusnandi Rusmil,dr.,SpA(K),MM
4th Session
Moderator: Prof.Dr.Dida A.Gurnida,dr.,SpA(K),Mkes
10.10–10.30
The Prudent Used of Antimicrobal Agents
Dr.Anggraini Alam,dr.,SpA(K),Mkes
10.30–10.50
Identification pulmonary hypertension in daily
practice
Dr.Sri Endah Rahayuningsih,dr.,SpA(K),Mkes
10.50–11.10
Growth Disorder due to Congenital Adrenal
Hyperplasia
Faisal,dr.,SpA(K),Mkes
11.10–11.20
Diskusi
11.20–12.30
ISHOMA
Workshop
12.30–16.00
Endokrinologi
Comprehensive management
of type 1 DM in secondary
health care: from diagnosis to
insulin therapy
Respirologi
Comprehensive diagnosis and
management of asthma in
children
Neonatologi
Neonatology made easy
(Ventilation support, TPN,
intravenous access)
14
Infeksi
ERIA
Imunologi
Gastrohepatologi
TORCH: diagnosis and
management
Sepsis and septic shock, the
first hour is golden hour
Musculosceletal pain in
children: a guide for
diagnosing autoimmune
disease
Cholsetasis: clinical approach
and treatment
15
GANGGUAN PERTUMBUHAN AKIBAT KEKURANGAN VITAMIN D
Novina
PENDAHULUAN
Karakteristik yang paling khas pada seorang anak adalah pertumbuhan dan
perkembangan. Dalam keadaan normal anak tumbuh mengikuti suatu pola
tertentu yang dapat diprediksikan.1 Pertumbuhan anak merupakan proses
interaksi berbagai hal seperti aktor genetik dan lingkungan terutama nutrisi
serta pengaruh faktor endokrin. Pertumbuhan linier pada anak terjadi terutama
pada lempeng epifisis yang merupakan tempat terjadinya deposisi tulang
sehingga terjadi penambahan tinggi badan.2
Defisiensi vitamin D mengganggu mineralisasi lempeng epifisis tulang.
Vitamin D memegang peranan penting dalam memelihara kesehatan tulang
melalui regulasi kadar kalsium tubuh.3,4 Defisiensi vitamin D berkaitan dengan
hipokalsemia, rickets, osteomalacia, dan osteoporosis pada anak dan dewasa.
Kejadian defisiensi vitamin D akibat kurang paparan sinar matahari dan asupan
dalam makanan juga terkait dengan beberapa penyakit kronik pada anak. Risiko
terbesar menderita defisiensi vitamin D terdapat pada anak dengan penyakit
ginjal kronik, cystic fibrosis, asma, penyakit sickle cell, berkulit gelap, kurang gizi,
dan bayi yang mendapat ASI eksklusif tanpa suplementasi vitamin D.
Penggunaan beberapa obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama seperti
glukokortikoid, cytochrome P450 3A4 inducers, antikonvulsan, dan antiretroviral
juga berkaitan dengan kejadian defisiensi vitamin D.3 Penulis akan mencoba
memaparkan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan vitamin D dalam
makalah ini.
VITAMIN D
Lebih dari satu abad yang lalu sinar matahari dikenal sebagai terapi yang manjur
untuk dua penyakit yang sering diderita, yaitu rickets dan tuberkulosis.
16
Tuberkulosis ialah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri intraseluler,
sedangkan rickets merupakan gangguan pembentukan tulang yang terjadi pada
anak. Seiring dengan bergulirnya waktu, penelitian menunjukkan kedua
penyakit tersebut dapat disebabkan oleh defisiensi vitamin D3 (colecalciferol),
sebuah molekul yang disintesis oleh kulit manusia di bawah radiasi sinar UV-B
(ultraviolet B).5
Dahulu minyak hati ikan Kod dikenal sebagai obat kelainan tulang pada
anak. Kemajuan ilmu pengetahuan menunjukkan minyak tersebut mengandung
molekul
berkonsentrasi
tinggi
yang
dinamakan
vitamin
D,
setelah
ditemukannya vitamin A, B, dan C. Saat itu belum diketahui bahwa manusia
dapat menyintesis molekul itu sehingga tidak tepat bila disebut vitamin. 5
Vitamin D larut dalam lemak, dua bentuk utamanya adalah kolekalsiferol
(vitamin D3) dan ergokalsiferol (vitamin D2). Sumber utama vitamin D3 berasal
dari sintesis langsung pada kulit sebanyak >90%. Prekursor vitamin D3 adalah
7-dehidrokolesterol (provitamin D3) yang terdapat di dalam kulit, terutama di
stratum spinosum dan basale. Dengan paparan sinar ultraviolet (UV) matahari
(panjang gelombang 280-310 nm), 7-dehidrokolesterol dikonversi menjadi
pre-kolekalsiferol (previtamin D3), kemudian mengalami isomerisasi menjadi
vitamin D3. Vitamin D2 diproduksi oleh iradiasi ergosterol, yaitu suatu steroid
yang terdapat pada jamur dan ragi. Sumber vitamin D (vitamin D2 dan D3) dari
makanan alami sangat sedikit. Makanan yang mengandung vitamin D antara lain
minyak hati ikan, fatty fish (salmon, mackerel, dan herring), dan kuning telur
serta makanan yang telah difortifikasi seperti margarin, sereal, dan susu.5,
Vitamin D3 beredar dalam sirkulasi darah berikatan pada transporter-nya,
yaitu vitamin-D binding protein (DBP), kemudian masuk ke dalam hati. Di dalam
retikulum endoplasma sel hati, vitamin D yang berasal dari makanan (vitamin
D2 dan D3) dan hasil konversi sinar UV matahari (vitamin D3) dihidroksilasi
menjadi 25-hidroksivitamin D [25-(OH)D] oleh enzim 25-hidroksilase.
Selanjutnya, 25-(OH)D beredar di dalam sirkulasi darah dan berikatan dengan
DBP untuk masuk ke dalam ginjal. Bentuk 25-(OH)D merupakan bentuk
17
metabolit vitamin D terbanyak yang terdapat di dalam sirkulasi darah sehingga
konsentrasi 25-(OH)D dalam plasma dijadikan parameter status vitamin D
seseorang.5,6
Di tubulus proksimal ginjal, 25-(OH)D dihidroksilasi oleh enzim 1αhidroksilase menjadi 1,25-dihidroksivitamin D [1,25-(OH)2D] dan oleh enzim
24-hidroksilase menjadi 24,25-dihidroksivitamin D [24,25-(OH)2D]. Bentuk
1,25-(OH)2D merupakan bentuk hormonal, yaitu metabolit aktif dari vitamin D.
Kedua bentuk metabolit vitamin D hasil hidroksilasi ini sangat berperan dalam
regulasi hormon paratiroid dan mineralisasi tulang. Sebagian besar metabolit
vitamin D diekskresikan dalam feses melalui jalur katabolisme empedu.5,6
Bagan mengenai metabolisme vitamin D dapat dilihat pada Gambar 1 di
bawah ini.
Gambar 1 Metabolisme Vitamin D
Sumber : Carlberg5
18
PERAN VITAMIN D DALAM PERTUMBUHAN
Vitamin D berperan dalam meningkatkan absorpsi kalsium di berbagai tempat
(usus, ginjal, dan tulang). Pada usus, vitamin D meningkatkan absorbsi kalsium
dan fosfat di jejunum dan ileum. Pada tulang, vitamin D meningkatkan pelepasan
kalsium dan fosfat melalui peningkatan aktivitas osteoklas. Sintesis osteoblas
dan osteocalcin juga ditingkatkan sehingga pada tulang, vitamin D memiliki efek
yang meningkatkan pembentukan dan resorpsi.
5,6
Peran vitamin D dalam
metabolisme kalsium dapat dilihat pada Gambar 2.5 Kalsium merupakan zat
yang esensial bagi banyak proses di dalam tubuh. Kalsium merupakan mediator
yang penting dalam pengaturan membran potensial sel pada saraf dan otot,
aktivasi dan inhibisi enzim, serta pelepasan hormon. Kalsium juga penting pada
pembentukan tulang dan aktivasi faktor koagulasi. Pengatur kalsium yang
utama adalah hormon paratiroid (PTH), vitamin D (vitamin D), serta kalsitonin
yang bekerja pada tulang, ginjal, dan usus. Konsentrasi kalsium dalam plasma
adalah 2,4 mmol/L. Sekitar 45% dalam keadaan terikat dengan protein
(albumin) dan sisanya bebas (47%) sehingga aktif atau membentuk kompleks
dengan zat lain.6,7
Gambar 2 Regulasi Metabolisme Vitamin D
Sumber: Kelly dan Levine 6
19
BATASAN KADAR VITAMIN D
Batasan kadar defisiensi vitamin D dalam serum berbeda-beda berdasar atas
ketetapan beberapa kelompok ahli. Konsentrasi 25-(OH)D serum yang diperiksa
karena waktu paruhnya yang panjang sekitar 2-3 minggu, kadarnya yang tinggi,
dan stabil terhadap fluktuasi hormon paratiroid.
Berikut klasifikasi status
vitamin D menurut beberapa kelompok ahli.3
Tabel 1 Status Vitamin D berdasar atas Kadar Calcidiol
Status Vitamin
D
Defisiensi berat
Defisiensi
ringan sampai
sedang
Insufisiensi
Cukup
Kelebihan
Intoksikasi
25-(OH)D /Calcidiol (ng/mL)
AAP
Endocrine society
2008,
IOM
<5
5–15
< 20
16–20
21–100
101–149
>150
21–30
31–60
KDOQI
Dewasa-NEJM
2007
<5
5–15
<20
16–30
>30
20–30
31–60
>150
Sumber: Lee dkk.3
Ket: AAP, American Academy of Pediatrics; IOM, Institute of Medicine; KDOQI, Kidney
Disease Outcomes Quality Initiative; NEJM, New England Journal of Medicine
Penulis hanya menemukan beberapa pelitian yang berfokus pada status
vitamin D di populasi anak Indonesia. Insufisiensi vitamin D pada anak di
Indonesia tergolong tinggi berdasar atas hasil penelitian cross sectional oleh
Soesanti dkk.8 pada 120 anak sehat usia 7-12 tahun di Jakarta. Sebanyak 75,8%
mengalami insufisiensi vitamin D (15-31 ng/dL) dan 15% mengalami defisiensi
vitamin D (<15 ng/dL). Anak perempuan lebih berisiko dibanding dengan laki.8
Studi yang dilakukan oleh Valentina dkk.9 pada 300 anak usia 2-12 tahun di 48
kabupaten di Indonesia juga menunjukkan kurangnya konsumsi makanan yang
mengandung kalsium dan vitamin D disbanding dengan angka kecukupan gizi.
Studi yang dilakukan Ernawati dan Budiman10 pada 350 anak dari 48 kabupaten
20
menunjukkan sebanyak 45,1% mengalami insufisiensi vitamin D. Kadar vitamin
D pada anak di Indonesia berkorelasi positif dengan lamanya aktivitas di luar
rumah. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara anak yang tinggal di kota
dan di desa.
GANGGUAN PERTUMBUHAN AKIBAT KEKURANGAN VITAMIN D
Defisiensi vitamin D berakibat abnormalitas kadar kalsium, fosfor, dan gangguan
metabolisme tulang. Secara khusus, defisiensi vitamin D menyebabkan
penurunan penyerapan kalsium dan fosfor di saluran intestinal berakibat kadar
hormon paratiroid/parathyroid hormone (PTH) meningkat. Kondisi ini
bertujuan menjaga kadar kalsium serum berada dalam batas normal dengan cara
mobilisasi kalsium dari tulang dan meningkatkan pengeluaran fosfor di ginjal.
PTH meningkatkan aktivitas osteoklas sehingga terbentuk fokus area tulang
yang lemah, penurunan desitas mineral tulang, serta berakibat terjadi
osteopenia dan osteoporosis. Kadar kalsium dan fosfat yang tidak adekuat
menyebabkan defek mineralisasi skeletal.11,12
Hipokalsemia
Hipokalsemia neonatal merupakan kondisi yang paling sering dihadapi oleh
dokter spesialis anak baik di unit rawat inap maupun ruang intensif, yaitu bila
kadar kalsium ion serum < 2,5 mg/dL (0,63 mmol/L) atau kalsium total serum
<7,5 mg/dL (1,75 mmol/L). Pada bayi sampai usia 3 bulan, batasan hipokalsemia
bila kadar kalsium total <8,8 mg/dL atau kalsium ion <4,9 mg/dL. Hipokalsemia
pada bayi kurang menunjukkan tanda dan gejala yang spesifik, terdeteksi hanya
dengan pemeriksaan darah rutin. Gejalanya adalah gangguan neuromuskular
seperti gerakan mioklonik, twitching, respons tubuh yang berlebihan bila
dikejutkan, dan kejang. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah apnea, sianosis,
takipnea, takikardia, muntah-muntah, serta spasme laring atau gagal jantung.
Gambaran EKG tampak interval Q-Tc dan ST yang memanjang dan kontraktilitas
jantung menurun. Terapi hipokalsemia simtomatik adalah injeksi kalsium
21
glukonas 10% sebanyak 1-2 mL/kgBB diberikan perlahan secara intravena.
Hindari ekstravasasi cairan karena dapat menyebabkan nekrosis jaringan. Untuk
menjaga kadar normal kalsium diberikan kalsium laktat atau glukonas dengan
dosis 75 mg/kgBB/hari pada neonatus dan 50 mg/kgBB/hari pada bayi yang
lebih besar.6
Kondisi hipokalsemia pada anak dan remaja sangat bervariasi mulai tanpa
gejala sampai mengancam jiwa. Manifestasi hipokalsemia terutama karena
peningkatan eksitabilitas (tetani) neuromuskular sistem saraf pusat dan perifer
akibat penurunan kalsium ion, bukan kalsium total. Pasien anak dengan
hipokalsemia kronik memiliki gangguan neuromuskular seperti tetani, kebas di
area sirkumoral, parestesia ekstremitas distal, kram otot, kelelahan,
hiperiritabilitas, ansietas, dan depresi. Tanda Chovstek, Trosseau, dan Erb
menandakan hiperiritabilitas dan berguna untuk pemeriksaan klinis tetani laten.
Kejang menyerupai epilepsi dapat terjadi. Pengukuran kadar kalsium plasma
harus rutin dilakukan pada pemeriksaan pasien kejang. Hipokalsemia kronik
dan tidak mendapat terapi dapat berakibat retardasi mental dan gangguan
belajar. Karena itu,
penting melakukan investigasi menyeluruh pada
hipokalsemia bayi, anak, dan remaja.6
Diagnosis banding penyebab hipokalsemia pada bayi, anak, dan remaja
melibatkan beberapa kelainan yang harus ditelusuri. Hipokalsemia dapat
berujung pada osteopenia dan osteoporosis. Defisiensi vitamin D, defisiensi
enzim 25-α-hidroksilase, defisiensi enzim 1-α-hidroksilase, defek reseptor
vitamin D, hipoparatiroid, psudohipoparatiroid, dan mutasi di reseptor kalsium
adalah penyebab hipokalsemia yang harus dirujuk ke ahli endokrinologi agar
dapat diintervensi segera secara tepat sebelum terjadi gangguan metabolisme
tulang lebih lanjut.6
Perawakan Pendek yang Disebabkan oleh Kekurangan Vitamin D
Definisi perawakan pendek adalah hasil pengukuran panjang/tinggi badan
berada <-2 SD atau <persentil 3 pada kurva pertumbuhan sesuai usia dan jenis
22
kelamin.13,14 Stunting pada anak didefinisikan sebagai hasil pengukuran anak
usia 0-59 bulan dengan panjang/tinggi badan sesuai usia < -2 SD (moderate)
dan < -3 SD (severe) dari median kurva pertumbuhan WHO 2006.15 Vitamin D
berperan penting dalam pertumbuhan, mineralisasi, dan perkembangan tulang.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan skeletal telah terjadi sejak dalam
kandungan bila ibu menderita insufisiensi vitamin D.4,16
Rickets ialah gangguan mineralisasi pada lempeng epifisis tulang pada bayi,
anak, dan remaja. Bila gangguan mineralisasi terjadi saat pertumbuhan linear
tulang selesai maka disebut osteomalasia karena tulang terus mengalami
remodeling dan resorpsi. Klasifikasi Rickets dan osteomalasia terlihat pada Tabel
1. Rickets juga sering dibedakan menjadi kalsiopenik bila kekurangan vitamin D
atau kalsium dan fosfopenik bila metabolism fosfat di ginjal terganggu. Rickets
dapat terjadi akibat mutasi gen-gen tertentu dan dapat diturunkan.6,17
Rickets dapat terjadi pada masa neonatus dengan tampilan fraktur dan
hipokalsemia bila ibunya mengalami defisiensi vitamin D berat. Manifestasi
gangguan skeletal lain adalah ubun-ubun besar terlambat menutup, craniotabes
(tulang tengkorak lunak), frontal bossing, dan craniosynostosis (jarang).
Kelainan yang khas pada masa bayi adalah tulang lengan bawah bengkok,
sedangkan pada masa anak karena beban massa tubuh berupa genu varum atau
genu valgum. Kelainan lain adalah erupsi gigi terlambat dan pembentukan
enamel yang terganggu, pectus carinatum, penonjolan area costochondral pada
tulang iga (tampak seperti manik-manik rosario rakitis), flaring tulang iga
bawah, kifosis, skoliosis, dan flaring metafisis tulang panjang. Pada balita dan
anak defisiensi vitamin D dapat menjadi penyebab gangguan motorik kasar,
kelemahan otot, anak terlambat berjalan, kelainan gaya berjalan, dan nyeri
tulang tanpa sebab > 3 bulan.17
Defisiensi vitamin D pada ibu hamil selain berpengaruh terhadap kesehatan
tulang ibu juga pada pertumbuhan bayinya saat masa anak dan dewasa kelak.
Bayi yang lahir dari ibu yang mengalami kekurangan vitamin D memiliki
panjang dan berat badan yang lebih rendah bila dibanding dengan bayi yang
23
lahir dari ibu tanpa defisiensi vitamin D. Suplementasi vitamin D pada ibu hamil
berhubungan dengan peningkatan kadar 25-(OHD) dalam darah tali pusat.
Neonatus dari ibu yang mendapat suplementasi vit D memiliki berat dan
panjang badan yang lebih besar dibanding dengan neonatus dari ibu yang tidak
mendapat suplementasi. Kadar kalsium dalam darah tali pusat juga lebih tinggi.
Insufisiensi dan defisiensi vitamin D masa kehamilan berakibat gangguan
homeostasis tulang pada bayi. Pengaruh jangka pendek berupa penurunan
mineralisasi tulang, pertumbuhan yang lambat, rickets, dan berisiko tinggi
terjadi fraktur. Pengaruh jangka panjang berupa penurunan massa dan ukuran
tulang saat masa kanak-kanak dan peningkatan risiko menderita diabetes
melitus tipe 1.1
Pemeriksaan radiologis sangat khas pada rickets, awalnya lempeng epifisis
tampak melebar, kemudian tampak cupping, splaying, dan fraying pada metafisis
tulang panjang terutama tulang ulna distal, femur distal, dan tibia proksimal.
Terlihat deformitas pada tulang panjang, garis-garis fraktur akibat tekanan,
demineralisasi
difus,
dan
patah
tulang.
Pemeriksaan
laboratorium
menunjukkan kekhasan sesuai etiologi rickets tertera di bawah ini.17
PENCEGAHAN
Paparan sinar matahari yang cukup dan suplementasi vitamin D per oral dapat
mencegah terjadinya rickets. Untuk sebagian besar anak dan remaja di seluruh
dunia, paparan sinar matahari menjadi sumber utama vitamin D. Kapasitas kulit
manusia untuk memproduksi vitamin D dari sinar matahari tergolong besar,
namun dipengaruhi oleh beberapa faktor:3
1. usia anak;
2. luas kulit yang terpapar;
3. lama terpapar;
4. lokasi tempat tinggal secara geografis (lokasi garis lintang, musim,
lamanya siang dibanding malam, keteduhan, polusi udara);
24
5. penggunaan sun block;
6. pigmen kulit.
Tabel 2 Pemeriksaan Laboratorium Serum pada Rickets berdasar
atas Etiologi
Kadar dalam serum
Tipe Rickets
Nutrisional
Hipofosfatemi
k
Vitamin Ddependent
(VDD) rickets
Uremik
Kalsiu
Fosfor
Kalsium
HCO3
25(OH)D
1,25(OH)D
PTH
m Urin
Defisiensi vitamin
D
↑↓
↓
Normal
↓
↑↓
↑
↓
Defisiensi
kalsium
↓
↓
Normal
Normal
↑
↑
↓
X-linked (PHEX)
↓
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal,↑
Normal,↑
Autosomal
dominan
FGF23/autosoma
l resesif (DMP1)
↓
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Hipofosfatemik
rickets herediter
dengan
hiperkalsiuria
(SLC34A3)
↓
Normal
Normal
Normal
↑
↓
↑
Sindrom Fanconi
↓
Normal
↓
Normal
Normal,
↓
Normal,↑
Normal,↑
Tipe 1 (defisiensi
1α-hidroksilase,
CYP27B1)
Normal,
↓
↓
Normal
Normal
↓
↑
↓
Tipe 2 (resisten
terhadap
kalsitriol, VDR)
Normal,
↓
↓
Normal
Normal
↑
↑
↓
Osteodistrofi
↑
↑↓
↓
Normal
↓
↑
↑↓
Sumber: Kelly dan Levine 6
Holick memperkirakan paparan sinar matahari ketika memakai pakaian renang
1 MED (minimal erythemal dose adalah dosis radiasi yang menyebabkan kulit
menjadi pink kemerahan 24 jam setelah paparan sinar) setara dengan 20.000 IU
vitamin D3. Paparan terhadap lengan dan tungkai sebesar 0,5 MED setara
dengan 3.000 IU vitamin D3. Namun, American Association of Pediatrics
merekomendasikan anak di bawah usia 6 tahun dihindarkan dari sinar matahari
langsung untuk mencegah penyakit kanker kulit. Sampai saat ini tidak ada
rekomendasi yang tervalidasi terkait durasi yang tepat untuk paparan sinar
25
matahari di populasi anak. Hal ini disebabkan oleh variabilitas sintesis vitamin
D perorangan.3
Suplementasi Vitamin D
Sumber alami vitamin D dari makanan terbatas variasinya untuk anak dan
pemberian secara rutin sulit dilakukan sehingga fortifikasi makanan, jus jeruk,
susu, dan susu formula telah dilakukan. Air susu dari seorang ibu dengan status
vitamin D cukup mengandung sangat sedikit vitamin D (rerata 15-50 IU/L),
terlebih lagi bila statusnya defisiensi. Dengan demikian, diperlukan
suplementasi yang cukup untuk kebutuhan ibu dan bayi. Berikut adalah jumlah
asupan vitamin D yang direkomendasikan oleh the IOM dan the Endocrine
Practice Guideline Committee.11
Tabel 3 Rekomendasi Asupan Vitamin D oleh IOM dan Endocrine Practice
Guidelines Committee (EPGC)
Batas Atas yang
Diperkenankan
Rekomendasi EPGC untuk Pasien
dengan Risiko Defisiensi
Vitamin D
Kebutuhan
Batas Atas yang
Harian
Diperkenankan
1.000 IU (25 μg)
1.500 IU (38 μg)
400–1.000 IU
400–1.000 IU
2.000 IU
2.000 IU
Rekomendasi IOM
Golongan
Usia
Bayi
(bulan)
0-6
6-12
Anak
(tahun)
1-3
4-8
Laki-laki
(tahun)
9-13
14-18
19-30
31-50
>70
Perempua
n (tahun)
9-13
14-18
19-30
31-50
>70
Hamil
(tahun)
14-18
19-30
31-50
Laktasi
(tahun)
14-18
19-30
31-50
Asupan
Adekuat
Perkiraan
rerata
Kebutuhan
RDA
400 IU
(10 μg)
400 IU
(10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
2.500 IU (63 μg)
3.000 IU (75 μg)
600–1.000 IU
600–1.000 IU
4.000 IU
4.000 IU
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
800 IU (20 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
600–1.000 IU
600–1.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
4.000 IU
4.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
800 IU (20 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
600–1.000 IU
600–1.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
4.000 IU
4.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
600–1.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
4.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
400 IU (10 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
600 IU (15 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
4.000 IU (100 μg)
600–1.000 IU
1.500–2.000 IU
1.500–2.000 IU
4.000 IU
10.000 IU
10.000 IU
Sumber: Holick dkk.11
Keterangan: RDA: recommended dietary allowance/ angka kecukupan gizi
26
Suplementasi Vitamin D pada Anak dengan Penyakit Kronik
Pada anak dengan penyakit kronik yang berhubungan dengan gangguan
absorbsi vitamin D di hati dan saluran cerna seperti atresia bilier, stetorrhea,
gagal hati, cystic fibrosis, pascareseksi usus halus, celiac disease, inflammatory
bowel disease, serta penyakit ginjal kronik pemeriksaan vitamin D secara rutin
sebaiknya dilakukan untuk mencegah rickets. Suplementasi vitamin D dan
kalsium diberikan setiap hari selain paparan sinar matahari yang cukup.3,6,11
Pemberian antikonvulsan jangka panjang dapat menginduksi enzim
sitokrom P450 seperti CYP3A4 yang diketahui berhubungan dengan kejadian
rickets dan osteomalasia, osteopenia, dan osteoporosis. Kombinasi fenobarbital,
fenitoin, primidon, dan karbamazepin meningkatkan aktivitas enzim CYP3A4
yang dapat mengakselerasi katabolisme 25-(OH)D dan kalsitriol menjadi lebih
polar, inaktif berakibat kebutuhan harian meningkat.3,6,11
Anak yang menderita penyakit osteogenesis imperfecta, idiopathic juvenile
arthritis, osteoporosis sekunder akibat terapi glukokortikoid jangka panjang
dan penyakit tulang lainnya terindikasi untuk normalisasi kadar vitamin D
sebelum mulai terapi definitif.6
Tabel 4 Rekomendasi Terapi Defisiensi Vitamin D
Usia
Dosis
Sediaan
Bayi sampai 1 2.000 IU/hari selama 6 minggu Vitamin D2 atau D3
tahun
Atau
50.000 IU 1 kali seminggu
selama 6 minggu
Dilanjutkan dosis 400-1.000
IU/hari
Anak
usia 2.000 IU/hari selama 6 minggu Vitamin D2 atau D3
Atau
>1-18 tahun
50.000 IU 1 kali seminggu
selama 6 minggu
Dilanjutkan dosis 600-1.000
IU/hari
Sumber: Holick dkk.11
27
Perbaikan rickets terlihat dari gambaran radiologis dalam 2-4 minggu
terapi. Dalam beberapa kasus, vitamin D dapat diberikan dalam dosis besar
(100.000-600.000 IU) yang dinamakan terapi Stoss (berasal dari bahasa Jerman
“stossen” berarti mendorong). Hiperkalsemia dapat terjadi dan biasanya
diperuntukkan bagi pasien yang gagal mencapai respons yang diharapkan
dengan regimen biasa atau tidak dapat rutin minum obat setiap hari.3,6
Vitamin D Dependency (VDD) Rickets
Vitamin D dependency rickets adalah penyakit langka yang dapat diturunkan.
Penyakit ini dibagi menjadi tipe 1 dan 2. VDD1 adalah penyakit rickets yang
diturunkan secara autosomal dominan dan tergolong penyakit langka. Penyakit
ini terjadi akibat defek gen pengatur enzim 1-α-hidroksilase di ginjal sehingga
25-(OH)D tidak dapat dikonversi menjadi kalsitriol. Nama lain penyakit ini
adalah pseudovitamin D deficiency rickets. Manifestasi klinis sama dengan rickets
pada umumnya, namun dengan riwayat asupan vitamin D yang cukup.
Karakteristik khas adalah rickets tidak membaik dengan terapi vitamin D dosis
terapeutik biasa, namun membaik dengan dosis 100 kali kebutuhan harian.6
Terapi untuk VDD1 adalah kalsitriol atau analog sintetiknya, 1-α(OH)D.
Keduanya memiliki waktu paruh yang pendek dibanding dengan 25-(OH)D.
Aktivitas biologi 1-α(OH)D dibanding dengan kalsitriol adalah setengah sampai
dua pertiga. Dosis yang direkomendasikan dalam terapi rickets adalah 1-α(OH)D
2-8 μg/hari atau kalsitriol 1-4 μg/hari. Setelah terjadi perbaikan secara
radiologis, substitusi seumur hidup harus diberikan dengan dosis 1-α(OH)D 1-3
μg/hari atau kalsitriol 0,5-2 μg/hari. Untuk menghindari terapi berlebihan,
sebaiknya melakukan pemeriksaan rutin kalsium dan fosfat baik serum dan
urin.6
Vitamin D dependency tipe 2 adalah penyakit rickets langka yang diturunkan
secara autosomal resesif karena terdapat resistensi target organ terhadap
kalsitriol. Poin penting adalah rickets yang timbul sejak dini, hipokalsemia,
hiperparatiroid sekunder, dan kadar kalsitriol plasma yang sangat tinggi.
28
Tampilan klinis penderita VDD tipe 2 identik dengan VDD tipe 1, namun pada
VDD tipe 2 hampir 50% menderita alopecia di area kepala dan tubuh. Penderita
VDD tipe 2 tampak normal saat lahir dan gejala mulai timbul saat usia 2-8 bulan.
Defek ektodermal lain yang pernah dilaporkan adalah oligodontia, kista
epidermal, dan banyak milia.6
Terapi untuk VDD tipe 2 adalah kalsitriol atau 1-α(OH)D dosis tinggi dengan
atau tanpa suplementasi kalsium. Rickets dapat membaik dengan terapi
tersebut, namun alopecia tidak akan pernah sembuh. Kasus dengan resistensi
ringan sampai sedang memberikan respons yang baik dengan vitamin D dosis
tinggi 2.00.000-2.000.000 IU/hari. Pada kasus yang lebih berat memerlukan
dosis vitamin D yang lebih tinggi dan kalsium dosis tinggi per oral atau
intravena.6
SIMPULAN
Vitamin D telah menarik banyak perhatian baik klinisi maupun akademisi dalam
dua dekade terakhir. Kekurangan vitamin D adalah penyakit yang dapat luput
dalam praktik kedokteran sehari-hari. Anamnesis dan pemeriksaan fisis yang
menyeluruh serta pemeriksaan laboratorium yang tepat dapat mendiagnosis
dan memberikan terapi sesegera sebelum gangguan pertumbuhan terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Wales JK. Evaluation of growth disorders. Brook’s clinical pediatric
endocrinology Edisi ke-6, 2009:124-54.
2. Nicol LE, Allen DB, Czernichow P, Zeitler P. Normal growth and growth
disorders. Dalam Kappy MS, Allen DB, Geffner ME. Pediatric practice
endocrinology. US: McGraw-Hill Co. 2010 h. 23-75.
3. Lee YJ, So TY, Thackray J. A review on vitamin D deficiency treatment in
pediatric patients. J Pediatr Pharmacol Ther 2013;18:277-91.
4. Lamberg-Allardt C. Vitamin D in children and adolescents. Scand J Clin Lab
Invest 2012;72 (suppl 243):124-8.
5. Carlberg C. Vitamin D. 2018. Els. John Wiley and Sons, Ltd: Chichester.
DOI: 10.1002/9780470015902.a0027820.
6. Kelly A, Levine MA. Disorders of bone and mineral metabolism. Dalam
Kappy MS, Allen DB, Geffner ME. Pediatric practice endocrinology. US:
McGraw-Hill Co. 2010. h. 191-252.
29
7. Battault S, Whiting SJ, Peltier SL, Sadrin S, Gerber G, Maixent JM. Vitamin
D metabolism, functions and needs: from science to health claims. Eur J Nutr
2012. DOI 10.1007/s00394-012-0430-5.
8. Soesanti F, Pulungan A, Tridjadja B, Batubara JRL. Vitamin D profile in
healthy children aged 7-12 years old in Indonesia.
9. Valentina V, Palupi NS, Andarwulan N. Calcium and vitamin D intake of
Indonesian children 2-12 years old. JTIP 2014;25: 83-9.
10. Ernawati F, Budiman B. Status vitamin D terkini anak Indonesia usia 2,012,9 tahun. Gizi Indon 2015;38: 73-80.
11. Holick MF, Binkley NC, Bischoff-Ferrari HA, Gordon CM, Hanley DA,
Heaney RP, dkk. Evaluation, treatment and prevention of vitamin D
deficiency: an endocrine society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol
Metab, 2011; 96:0000-0000.
12. Huh SY, Gordon CM. Vitamin D deficiency in children and adolescent:
epidemiology, impact and treatment. Rev Endocr Metab Disord 2008; 9: 16170.
13. Wit JM, Ranke MB, Kelnar CJH. ESPE classification of paediatric endocrine
diagnoses. Horm Res 2007; 68 (Suppl 2): 1–120.
14. Perawakan pendek. Pujiadi AH, Hegar B, Handyastuti S, Idris NS,
Gandaputra EP, Harmoniati ED, editor. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan
Dokter
Anak
Indonesia
2009.
Available
from
http:
idai.or.id/downloads/PPM/Buku-PPM.pdf
15. Improving child nutrition. The achievable imperative for global progress.
2103.
https://www.unicef.org/gambia/Improving_Child_Nutrition__the_achievable_imperative_for_global_progress.pdf
16. Pacifici GM. Effects of vitamin D in neonates and young infants. Int J Pediatr
2016;4;1273-85.
17. Angham AM, Rajaa A. Types of rickets. Ann Orthop Rheumatol
2017;5:1085
30
NYERI PERUT BERULANG PADA ANAK: PENDEKATAN KLINIS DAN
TERAPI
Yudith Setiati Ermaya
PENDAHULUAN
Nyeri perut berulang (NPB) merupakan salah satu keluhan gastrointestinal yang
umum terjadi pada anak, yaitu sekitar 10% anak usia sekolah dan remaja.
Keluhan dapat berupa nyeri perut, mual, dispepsia atau gejala lain yang tidak
spesifik, dapat disebabkan berbagai penyebab organik ataupun yang
disebabkan oleh penyakit di luar saluran cerna.1 NBP terjadi 10–15% anak usia
4–16 tahun. Sebuah studi berbasis komunitas mengungkapkan bahwa 13%
sampai 17% mengalami nyeri setiap minggu pada 20% kasus cukup parah yang
memengaruhi aktivitas.
Banyak faktor yang memengaruhi seperti sosial budaya, keluarga, serta
emosional menentukan respons seorang anak terhadap rasa sakit, dan hal ini
memengaruhi tata laksana serta pengobatan. Kejadian NBP antara anak laki–
laki dan perempuan sama hingga usia 9 tahun, namun setelah usia 9 tahun
kejadian pada wanita meningkat hingga usia 9–12 tahun, rasio wanita–pria
adalah 1,5:1. Insidens keseluruhan mencapai puncak pada usia 10–12 tahun.
NBP jarang terjadi pada anak usia lebih muda dari 5 tahun dan penyebab
organik harus lebih pertimbangkan dalam kelompok usia yang lebih muda ini.2
DEFINISI
Apley seorang dokter anak Inggris mempelajari nyeri perut pada anak usia
sekolah dan didapatkan sekitar 10% mengalami episode nyeri perut berulang.
Dia menamai gejala kompleks ini sebagai sindrom nyeri perut berulang dan
mendefinisikannya sebagai "Nyeri perut yang dirasakan setidaknya tiga
31
episode, cukup parah, dan memengaruhi kemampuan anak untuk melakukan
kegiatan normal selama lebih dari periode tiga bulan".3
ETIOLOGI
Nyeri perut berulang sering dianggap sebagai nyeri perut fungsional
(nonorganik), namun ditemukan pula penyebab organik sebanyak 5–10%.4
Selama setengah abad terakhir metode diagnostik baru telah banyak dilakukan
untuk memperluas penelitian dan telah berkontribusi terhadap peningkatan
pengetahuan tentang patofisiologi NPB. Dalam beberapa penelitian persentase
anak NBP organik ditemukan lebih tinggi jumlahnya daripada yang dilaporkan
oleh Apley. NBP organik ditemukan sebesar 23,6–54% pada anak.5,6 Pada
kebanyakan anak, rasa sakit adalah fungsional, yaitu tanpa bukti kondisi
patologis seperti anatomi, metabolisme, infeksi, inflamasi, atau gangguan
neoplastik.7
Pada nyeri perut kronik yang fungsional atau functional gastrointestinal
disorders (FGID)
dapat ditemukan beberapa keadaan seperti fungsional
dispepsia, irritable bowel syndrome (IBS), abdominal migrain, dan nyeri perut
fungsional nonspesifik (Gambar 1). Pada anak remaja sering ditemukan pula
nyeri perut kronik yang bersifat organik.8
PATOFISIOLOGI
Nyeri perut dibagi ke dalam tiga kategori: nyeri viseral (splanchnic), nyeri
parietal (somatik), dan nyeri yang menyebar (referred). Nyeri perut fungsional
diduga melibatkan kelainan pada sistem saraf enterik (ENS), sistem saraf yang
kaya dan kompleks yang menyelubungi seluruh saluran pencernaan. ENS juga
dikenal sebagai "usus otak" atau "otak kecil di dalam usus."7,9
32
Tabel 1 Penyebab Nyeri Perut Berulang
Gastrointestinal
Konstipasi Kronik
Inflammatory bowel
disease
Infeksi parasit (ameba,
giardia)
Intoleransi diet (laktosa)
Penyakit refluks
gastroesofagus
Infeksi Helicobacter pylori
Ulkus peptikum
Gastritis
Penyakit Celiac
Hepatitis
Batu Kandung
Empedu
Apendisitis Kronis
Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih
Batu saluran kemih
Obstruksi pelvi-uretric
junction
Pankreatitis Kronik
Dispepsia Fungsional Ginekologi
Irritable bowel
syndrome
Kista ovarium
Nyeri perut
fungsional
Abdominal migraine
Aerophagia
Endometriosis
Penyakit radang pelvis
Lain-lain
Abdominal epilepsy
Kekerasan fisis,
emosional, dan seksual
Sumber: Devanarayana dan Rajindrajith 8
Gambar 1 Gambaran Semua FGID (Functional Gastrointestinal Disorders)
Sebagaimana Didefinisikan dalam Kriteria Roma IV dan
berdasar atas Usia
Sumber: Devanarayana dan Rajindrajith 8
Nyeri viseral terjadi apabila terdapat rangsangan pada otot dan mukosa organ
berongga. Apabila terjadi kontraksi, ketegangan, peregangan, dan iskemia akan
33
merangsang saraf nyeri viseral atau rangsangan yang berlebihan pada otot yang
menyebabkan iskemia, misalnya pada kolik atau radang. Pasien yang merasakan
nyeri viseral tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri, rasa nyeri ini
disebabkan oleh memiliki ujung saraf lebih sedikit di dalam usus, tidak
bermielin, bilateral, dan masukan sumsum tulang belakang pada beberapa
tingkatan.10,11 Nyeri parietal (somatik) terjadi karena rangsangan pada bagian
yang dipersarafi oleh saraf tepi. Nyeri dirasakan seperti ditusuk–tusuk atau
disayat dan pasien dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri dengan jari.11
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tabel 2 Pemeriksaan Penunjang Nyeri Perut Berulang
Pemeriksaan Penunjang
Investigasi dasar (investigasi lini pertama)
• Pemeriksaan darah rutin lengkap
• Tingkat sedimentasi eritrosit/protein C–reaktif
• Analisis urine, kultur urine
• Pemeriksaan telur, kista, dan parasit
Investigasi lini kedua
• X–ray abdomen polos
• Tes fungsi hati, tes fungsi ginjal
• USG abdomen
• Tes napas hidrogen untuk tes intoleransi laktosa untuk Helicobacter pylori
• Barium follow through
• Manometri esofagus dan pH–metri
• Endoskopi gastrointestinal atas dan bawah
• Urografi intravena/micturition cystourethrogram
Sumber: Devanarayana dkk. 1
Pada nyeri perut kronik dapat menggunakan pendekatan alogaritme seperti
di bawah ini (Gambar 2) .
34
Gambar 2 Algoritme Pendekatan Diagnosis pada Nyeri Perut Kronik
Sumber: Bishop12
IRRITABLE BOWEL SYNDROME
Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus adalah gangguan yang
banyak dikeluhkan dan menyulitkan pada anak dengan prevalensi yang
meningkat selama dua dekade terakhir. IBS adalah salah satu FGID yang paling
umum pada anak. Sebuah metaanalisis pada nyeri perut dari tahun 1957 hingga
tahun 2014 didapatkan IBS 8,8%, dispepsia fungsional 4,5% dan nyeri perut
fungsional 3,5%, sedangkan IBS pada anak Asia menunjukkan hasil yang lebih
tinggi prevalensi 12,4% dan di Amerika Serikat menunjukkan tingkat prevalensi
yang lebih rendah (2,8% dan 5,1%).8
Faktor predisposisi terjadi IBS adalah jenis kelamin anak perempuan lebih
banyak, usia prevalensi tertinggi pada usia 8–12 tahun, faktor psikologis
termasuk stres, rasa takut, cemas, depresi, fisik, emosi, serta kekerasan seksual
ataupun perilaku yang abnormal. Selain itu, keadaan periode awal kehidupan
walaupun belum memiliki hubungan yang jelas, namun beberapa penelitian
35
memperlihatkan tingginya prevalensi pada pasien dengan exsposure gastric
suction selama periode neonatal, lahir dari ibu dengan diabetes ataupun
hipertensi, perawatan khusus bayi (NICU), memiliki hernia umbilikalis, stenosis
pilorus, Henoch–scholein purpura, dan riwayat alergi susu sapi. Infeksi
gastrointestinal seperti gastroenteritis. Asma dan atopi berdasar penelitian
meningkatkan risiko IBS. Makanan yang dikonsumsi pedas dan digoreng dapat
meningkatkan risiko IBS. Sosial ekonomi, keluarga, dan faktor lingkungan
merupakan faktor yang berhubungan dengan IBS.8
Kriteria diagnostik IBS harus mencakup semua hal berikut: nyeri perut
setidaknya 4 hari per bulan terkait dengan satu atau lebih dari yang berikut:
terkait dengan buang air besar, perubahan frekuensi tinja, perubahan bentuk
(penampilan) tinja.8 Pada anak dengan konstipasi, dan nyeri tidak hilang dengan
tata laksana konstipasi (anak–anak yang mengalami nyeri mengalami konstipasi
fungsional, bukan IBS). Setelah evaluasi yang tepat, gejala tidak dapat
sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis lain. Kriteria di atas harus dipenuhi
setidaknya selama 2 bulan sebelum diagnosis.8
Patofisiologi
Patofisiologi IBS dijelaskan dua model. Pertama adalah "model top–down" yang
menunjukkan bahwa perubahan patofisiologi utama dimulai di otak. Menurut
model ini, proses penyakit utama di otak berinteraksi dengan organ perifer
melalui sumbu otak–usus untuk menghasilkan perubahan dalam usus yang
mengarah ke ekspresi klinis IBS. Para "model bottom–up" faktor perifer dalam
usus memainkan peran kunci dan perubahan dalam fungsi serebral adalah
sekunder untuk interaksi usus–otak (Gambar 3).8
36
Gambar 3 Patofisiologi IBS Model Top–Down dan Bottom–Up
Sumber: Devanarayana dan Rajindrajith 8
Keterangan: ENS: sistem saraf enterik; 5–HT: 5–hydroxytryptamin; Sumbu HPA:
Sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal.
37
Tabel 3 Red Flag pada IBS
Tanda alarm IBS pada anak
Riwayat keluarga penyakit radang usus, penyakit celiac, atau penyakit ulkus
peptikum.
Nyeri perut atas atau bawah kanan yang persisten.
Disfagia, odynophagia.
Muntah terus–menerus.
Kehilangan darah gastrointestinal.
Diare nokturnal.
Radang sendi.
Penyakit perirektal.
Penurunan berat badan spontan, perlambatan pertumbuhan linear, pubertas
tertunda.
Sumber: Devanarayana dan Rajindrajith 8
Pemeriksaan Penunjang
Investigasi IBS dapat dilakukan dengan pemeriksaan rutin seperti darah, urine,
feses, skrining celiac, fecal calprotectin, endoskopi, pemeriksaan radiologi, serta
pemeriksaan motilitas saluran cerna.8
Tata Laksana
Hubungan dokter–orangtua–pasien yang efektif adalah komponen utama
manajemen IBS yang efektif. Manajemen IBS melibatkan konseling dan
pendidikan orangtua, serta terapi farmakologis dan non–farmakologis (Tabel
4).8
38
Tabel 4 Tata Laksana IBS pada Anak
Pilihan Manajemen untuk Anak dengan IBS
Konseling dan penjelasan kepada orangtua/anak.
Kontrol respons ibu terhadap nyeri anak.
Intervensi farmakologis
Gastroprokinetik (domperidon).
Antidepresan (amitriptyline, citalopram).
Agen penekan asam (famotidin, omeprazol).
Antispasmodik (minyak peppermint, mebavarin, dotavarin).
Antihistamin (siproheptadin).
Antibiotik (rifaksimin).
Intervensi psikologis
Gut directed hypnotherapy, terapi perilaku kognitif, terapi yoga.
Neuromodulation
Diet rendah fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides and
polyols FODMAP.
Probiotik.
Sumber: Devanarayana dan Rajindrajith 8
DISPEPSIA FUNGSIONAL
Dispepsia fungsional (FD) adalah masalah yang banyak terjadi pada anak, (3–
27%) serta menyebabkan dampak yang cukup besar pada kualitas hidup dan
biaya perawatan kesehatan.13
Kriteria diagnosis dispepsia adalah satu atau lebih gejala berikut: kembung
setelah makan, cepat kenyang, nyeri ulu hati, ataupun rasa terbakar di ulu hati
yang mengganggu dan tidak ada bukti penyakit anatomis (termasuk dari hasil
endoskopi atas) yang berhubungan dengan gejala sebelumnya. Gejala dialami
selama 3 bulan terakhir dengan awitan gejala paling tidak 6 bulan sebelum
diagnosis.
1. Postprandial Distress Syndrome
Kriteria diagnosis harus memiliki satu atau kedua gejala berikut paling tidak
3 hari per minggu:
a. kembung/begah setelah makan yang mengganggu (cukup berat untuk
mengganggu aktivitas sehari–hari);
b. cepat
kenyang
yang
mengganggu
(cukup
berat
untuk
tidak
menyelesaikan makan dengan porsi biasa).
39
2. Epigastric Pain Syndrome
Kriteria diagnosis harus memiliki paling tidak satu gejala berikut paling tidak
sehari per minggu:
1. nyeri ulu hati yang cukup mengganggu (cukup berat untuk mengganggu
aktivitas sehari–hari);
2. rasa terbakar di ulu hati yang mengganggu (cukup berat untuk
mengganggu aktivitas sehari–hari).
Persepsi sensorik abnormal, disfungsi motorik, dan faktor psikososial telah
terlibat dalam penyebab FD. Hipersensitivitas terhadap distensi lambung,
pengosongan lambung mayoritas anak dengan dispepsia tidak memiliki lesi
mukosa pada endoskopi yang tertunda, hipomotilitas antral, dan dysrhythmia
lambung adalah beberapa kelainan yang telah dicatat pada FD. Diagnosis FD
didasarkan pada riwayat dan pemeriksaan menyeluruh, dan pemilihan tes yang
tepat berdasar atas penilaian klinis, keberadaan tanda–tanda alarm, dan
respons terhadap pengobatan. Pengosongan lambung yang tertunda dapat
terjadi hingga 70% anak dengan dispepsia.13 Untuk menilai keparahan dari
dispepsia dapat menggunakan Glasgow Dyspepsia Severity Score (Tabel 5).14
40
Tabel 5 Glasgow Dyspepsia Severity Score
Gejala
Frekuensi
Skor
Intensitas nyeri:
Ringan
1
Sedang
2
Berat
3
Durasi nyeri:
< 15 menit
1
15–60 menit
2
>60 menit
3
Insiden nyeri:
1 kali setiap 10 hari
1
2–5 kali seminggu
2
Setiap hari
3
Terbangun malam hari: Tidak pernah
0
Jarang*
1
Sering
2
Ketidakhadiran:
Kurang dari 1 hari setiap minggu
1
1 hari setiap minggu
2
Lebih dari 1 hari setiap minggu
3
Muntah:
Tidak pernah
0
Jarang**
1
Sering
2
Sumber : Spiroglou dkk.14
Keterangan: * setidaknya dua kali selama tiga bulan terakhir ** 2–4 kali selama tiga bulan
terakhir
Skor berkisar dari 0 hingga 16, dengan skor tinggi menunjukkan keparahan,
dispepsia ringan (skor <6), sedang (skor 7–10), dan berat (skor> 11). Endoskopi
gastrointestinal atas untuk menyingkirkan esofagitis, penyakit ulkus peptik,
infeksi Helicobacter pylori atau esophagitis dilakukan pada anak dengan
dispepsia sedang dan berat.14
Tata Laksana
Pendekatan biopsikososial terhadap pengobatan yang melibatkan obat–obatan,
dukungan psikologis dan sosial, serta terapi komplementer. Inhibitor pompa
proton (PPI) dan prokinetik biasanya digunakan obat lini pertama. PPI lebih
disukai bila nyeri epigastrium adalah gejala utama, sedangkan prokinetik dapat
41
dipilih bila keluhan kenyang postprandial atau kenyang awal sebagai gejala
utama.14
NYERI PERUT KRONIK ORGANIK
Pada beberapa kondisi nyeri perut kronik dapat diketahui dari anamnesis dan
pemeriksaan fisis serta beberapa tanda bahaya red flag sehingga kita lebih
waspada terhadap pasien jika tanda–tanda tersebut muncul dalam memberikan
tata laksana segera.
“Red Flag” Tanda–tanda dari anamnesis dan pemeriksaan fisis penyebab
organik sakit perut kronik pada anak dan remaja:
● Gejala persisten di kuadran kanan atas dan bawah
● Disfagia, mulas
● Hilangnya lebih dari 10% berat badan
● Gangguan pertumbuhan
● Muntah berulang
● Diare kronik
● Bukti kehilangan darah gastrointestinal (darah terlihat di feses atau tes darah samar
positif)
● Demam yang tidak diketahui asalnya
● Temuan secara pemeriksaan fisis yang abnormal, misalnya teraba massa,
hepatomegali, splenomegali
● Riwayat keluarga penyakit kronik inflamasi usus, penyakit celiac, penyakit ulkus
peptikum, atau kondisi perut lainnya
● Artritis
● Gangguan berkemih
● Tertundanya pubertas
● Gangguan sistem reproduksi wanita (dismenore, amenore)
● Bangun di malam hari karena sakit
Box 1 Tanda Bahaya pada Penyebab Organik Nyeri Perut Kronik
Sumber: Bufler dkk.15
INFEKSI HELICOBACTER PYLORI
Salah satu penyebab tersering secara organik adalah gastritis ataupun
duodenitis yang disertai dengan ulkus peptikum. Nyeri perut berulang
disebabkan oleh infeksi H. pylori pada anak berbeda dengan orang dewasa
42
dalam hal prevalensi infeksi, tingkat komplikasi, kecenderungan keganasan
lambung, masalah obat–obatan, dan resistensi antibiotik yang tinggi dibanding
dengan orang dewasa, ulkus peptikum jarang ditemukan pada anak terinfeksi
yang dilakukan endoskopi bagian atas. Secara epidemiologi Helicobacter pylori
dilaporkan menyebabkan infeksi 50% penduduk dunia, infeksi ini didapat sejak
anak berusia muda terutama di negara berkembang. Prevalensi infeksi pada
anak usia 0–4 tahun mencapai 4,5–42,11%.16–20 Dalam sebuah studi multisenter
di Eropa dengan gejala infeksi H pylori, didapatkan ulkus peptikum <5% pada
anak usia kurang dari 12 tahun dan 10% remaja.16,17 infeksi H. pylori dengan NPB
pada anak usia 3-16 tahun di Finlandia didapatkan 22%.21 Berbeda dengan
penelitian di Connecticut Amerika hanya mendapatkan 5 dari 127 anak dengan
gejala dispepsia yang terinfeksi H. pylori.22 Di Singapura didapatkan 6,6% anak
menderita NPB disebabkan oleh H. pylori.23 Di negara sedang berkembang
umumnya didapatkan prevalensi yang lebih tinggi, seperti di Saudi Arabia
didapatkan 73% anak sekolah usia 12-15 tahun dengan keluhan NPB yang
disebabkan oleh infeksi H. pylori.24 Pada penelitian di RSHS sebagai rumah sakit
rujukan tersier pada tahun 2015 didapatkan 90% nyeri perut berulang pada
pasien anak dengan kondisi nyeri perut yang berat disebabkan oleh infeksi H.
pylori, keluhan yang didapatkan dapat berupa mual, muntah, nyeri perut
berulang, hingga muntah darah.18
Infeksi H. pylori pada umumnya bersifat asimtomatik dan sekitar 10-15%
akan menimbulkan beberapa penyakit seperti gastritis, ulkus peptikum,
adenokarsinoma gaster serta mucosa associated lymphoid tissue lymphoma
(MALT lymphoma), anemia defisiensi besi, ataupun gangguan pertumbuhan.
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi Helycobacter pylori (HP) ditandai dengan
biakan (+) biopsi gaster.16–18
Keganasan lambung yang berkaitan dengan infeksi H. pylori biasanya terjadi
pada usia dewasa dan hanya beberapa laporan kasus limfoma di kelompok usia
anak.17,19,20 Di negara berkembang infeksi H. pylori biasanya diperoleh pada
tahun–tahun pertama kehidupan. Di Eropa dan Amerika Utara, epidemiologi
43
infeksi H. pylori pada anak telah berubah dalam beberapa dekade terakhir.
Tingkat kejadian yang rendah ditemukan di negara–negara Utara dan Eropa
Barat, mengakibatkan prevalensi jauh di bawah 10% pada anak dan remaja.17
Manifestasi klinis yang ditemukan sangat bervariasi, sebagian besar tidak
bergejala dan jarang menimbulkan gejala khusus. Kelainan yang mungkin
timbul adalah ulkus peptikum atau ulkus duodenum yang menimbulkan gejala
dispepsia atau nyeri perut berulang, serta juga dilaporkan muntah dan
hematemesis.16,18
Gambar 4 Infeksi Helicobacter pylori dan Perannya dalam Gastritis dan
Penyakit Ulkus Peptikum
Sumber: Marshall dan Warren 25
Bakteri Helicobacter pylori mempunyai gambaran yang unik, berbentuk spiral
dengan flagel, terdapat 4–6 flagel pada satu sisinya, dan flagel berbentuk seperti
pentolan (Gambar 5).18
44
Gambar 5 Histologi Antrum dengan Infeksi H. pylori Bakteri Spiral
dengan Flagel, Ulkus Antrum
Sumber:Campbell dan Thomas 26
Infeksi H. pylori menyebabkan sekitar 70% dari penyakit ulkus peptikum
primer pada anak, tetapi sekitar 30% adalah idiopatik. Selain itu, penyakit ulkus
sekunder mungkin terkait dengan konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid,
gastritis Crohn, dan bentuk gastritis erosiva lainnya.2
Pada anamnesis sering dijumpai keluhan dispepsia, nyeri perut berulang,
muntah, dan hematemesis. Dengan pemeriksaan fisis didapatkan nyeri tekan
epigastrum. Pemeriksaan penunjang sebagai baku emas adalah pemeriksaan
endoskopi untuk mengetahui diagnosis anatomis dan histologis serta
mengetahui infeksi HP.16–19
Tabel 6 Pemeriksaan Lain yang Menunjang Diagnosis Helicobacter pylori
Pemeriksaan Invasif
Pemeriksaan Noninvasif
Histologi
Uji serologis: darah, urin, saliva, feses
Uji urease
Uji napas dengan urea
Kultur endoskopi
Pemeriksaan DNA HP
Polymerase chain reaction (PCR)
Antigen HP dalam feses
Sumber: Campbell dan Thomas 26
45
Bila terbukti didapatkan nyeri perut berulang disebabkan oleh infeksi HP,
segera dilakukan eradikasi dengan tujuan penyembuhan ulkus dan
menghilangkan gejala. Target hasil eradikasi >80%. Tata laksana dan
pengobatan memiliki prinsip: tidak dianjurkan pemberian antibiotik tunggal,
dianjurkan penggunaan 2 macam antibiotik, pilihan selanjutnya: 3 macam
antibiotik + penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI).16–20 Terapi
tripel adalah PPI, amoksisilin, dan klaritromisin/metronidazol. Pemberian
eradikasi tripel berdasar atas The North American Society for Pediatric
Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (NASPGHAN) menggunakan
regimen eradikasi: amoksisilin, klaritromisin, dan PPI; atau amoksisilin,
metronidazol, dan PPI; atau klaritromisin, metronidazol, dan PPI. PPI diberikan
selama 1 bulan dan 2 antibiotik diberikan dua kali sehari selama 10 hingga 14
hari merupakan obat pilihan utama.16 Dosis harian maksimum untuk
amoksisilin 2.000 mg, untuk metronidazol 1.000 mg, untuk klaritromisin 1.000
mg/hari.16
Kegagalan eradikasi (dengan kepatuhan yang baik) harus dipertimbangkan
terapi lini kedua. Kegagalan pengobatan berulang merupakan indikasi
melakukan endoskopi lebih lanjut sehingga kultur H. pylori dapat diperoleh
untuk pengujian sensitivitas. Kemungkinan dilakukan pengujian non–invasif
semua anggota keluarga untuk H. pylori, dan pengobatan semua kasus positif
mungkin berguna dalam situasi ini. Pada penyakit spesifik seperti ulkus
duodenum selain dilakukan eradikasi H. pylori dapat diberikan pula inhibitor
pompa proton selama tiga bulan. 26
SIMPULAN
Nyeri perut berulang masih menjadi masalah kesehatan pada anak dan remaja
serat pada kondisi tertentu dapat mengganggu aktivitas juga berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal tersebut menjadi
perhatian khusus dalam mencari etiologi apakah fungsional atau organik karena
tata laksana yang berbeda. Bila terbukti didapatkan nyeri perut berulang
46
disebabkan oleh infeksi H. pylori segera dilakukan eradikasi dengan tujuan
penyembuhan ulkus dan menghilangkan gejala.
Tabel 7 Pilihan Obat Terapi Tripel pada Infeksi Helicobacter pylori
Jenis Obat
Lini
pertama
Lini
kedua
1. Amoksisilin
Klaritromisin
Proton pump inhibitor
(omeprazol)
Dosis
50 mg/kgBB/hari sampai 1 g sehari 2 kali
15 mg/kgBB/hari sampai 500 mg sehari 2 kali
1 mg/kgBB/hari sampai 20 mg 2 kali sehari
2. Amoksisilin
Metronidazol
Proton pump inhibitor
50 mg/kgBB/hari sampai 1 g sehari 2 kali
20 mg/kgBB 2 kali sehari sampai 500 mg sehari 2
1 mg/kgBB/hari sampai 20 mg 2 kali sehari
3. Klaritromisin
Metronidazol
Proton pump inhibitor
15 mg/kgBB/hari sampai 500 mg sehari 2 kali
20 mg/kgBB 2 kali sehari sampai 500 mg sehari 2
1 mg/kgBB/hari sampai 20 mg 2 kali sehari
1 Bismut subsalisilat
Metronidazol
Proton pump inhibitor
Ditambah dengan antibiotik:
Amoksisilin atau
Tetrasiklin atau
Klaritromisin
2 Ranitidin bismut–sitrat
Klaritromisin
Metronidazol
1 tablet (262 mg) sehari 4 kali atau 15 mL (17,6 mg sehari
4 kali)
20 mg/kgBB 2 kali sehari sampai 500 mg sehari 2
1 mg/kgBB/hari sampai 20 mg 2 kali sehari
50 mg/kgBB/hari sampai 1 g sehari 2 kali
15 mg/kgBB/hari, sampai 500 mg sehari 2 kali
1 tablet, sehari 4 kali
15 mg/kgBB/hari sampai 500 mg sehari 2 kali
20 mg/kgBB/hari sampai 500 mg sehari 2 kali
Sumber: Campbell dan Thomas 26
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Devanarayana NM, Rajindrajith S, De Silva HJ. Recurrent abdominal pain in
children. Indian Pediatric. 2009;46:389–99.
Thiessen PN. Recurrent abdominal pain. Pediatric Rev. 2002;23:39–46.
Apley J, Naish N. Recurrent abdominal pain: a field survey of 1000 school children.
Arch Dis Child. 1958;33:165–70.
Reust CE, Williams A. Recurrent abdominal pain in children. Am Fam Physician.
2018;15(12):785–93.
Devanarayana NM, de Silva GDH, de Silva HJ. Aetiology of recurrent abdominal pain
in a cohort of Sri Lankan children. J Paediatr Child Health. 2008;44:195–200.
Buch NA, Ahmad SM, Ahmad SZ, Ali SW, Charoo BA. Recurrent abdominal pain in
children. Indian Pediatr. 2002;39:830–4.
Lorenzo CD, Colletti RB, Lehmann, Boyle JT, Gerson WT. Chronic abdominal pain in
children. American Academy of Pediatrics North American Society for Pediatric
Gastroenterology, Hepatology, And Nutrition Clinical report Guidance for the
Clinician in Rendering Pediatric Care. Pediatrics. 2005;115(3):812–5.
47
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
Devanarayana NM, Rajindrajith S. Irritable bowel syndrome in children: current
knowledge,
challenges
and
opportunities.
World
J
Gastroenterol. 2018;24(21):2211–35.
Cooke HJ. Role of the “little brain” in the gut in water and electrolyte homeostasis.
FASEB J. 1989;3:127–38.
Leung A, Sigalet DL. Acute abdominal pain in children. Am Fam Physician.
2003;67:2321–6.
Ross A, LeLeiko NS. Acute abdominal pain. Pediatrics Rev. 2010;31(4):135–44.
Bishop WP. Chronic abdominal pain. McGraw–Hill Global Education. [diunduh 15
Oktober 2018]. Tersedia dari: https://accesspediatrics.mhmedical.com
Ganesh M, Nurko S. Functional dyspepsia in children. Pediatr
Ann. 2014;43(4):e101–5.
Spiroglou K, Paroutoglou G, Nikolaides N, Xinias I, Giouleme O, Arsos G, dkk. Ann
Gastroenterol. 2004;17(2):173–80.
Bufler P, Gross M, Uhlig HH. Recurrent abdominal pain in childhood. Dtsch Arztebl
Int. 2011; 108(17):295–304.
Koletzko S, Richy F, Bontems P. Prospective multicenter study on antibiotic
resistance of Helicobacter pylori strains obtained from children living in Europe.
Gut. 2006;55:1711–6.
Koletzko S, Jones NL, Goodman KJ, Gold B, Rowland M, Cadranel S, dkk. Evidence–
based guidelines from ESPGHAN and NASPGHAN for Helicobacter pylori infection
in children. JPGN. 2011;53:230–43.
Ermaya YS, Prasetyo D. Hubungan antara gambaran endoskopi dan manifestasi
klinis nyeri perut berulang dan infeksi helicobakter pylori. Indonesian J
Anesthesiol Crit Care. 2015;33(3):177–81.
Moschovi M, Menegas D, Stefanaki K. Primary gastric Burkitt lymphoma in
childhood: associated with Helicobacter pylori?. Med Pediatr Oncol. 2003;41:444–
7.
Kurugoglu S, Mihmanli I, Celkan T. Radiological features in paediatric primary
gastric MALT lymphoma and association with Helicobacter pylori. Pediatr Radiol.
2002;32:82–7.
Ashorn M, Maki M, Ruuska T, Leo RK, Hallstorm M, Kokki M, dkk. Upper
gastrointestinal endoscopy in recurrent abdominal pain of childhood. J Pediatr
Gastroenterol Nutr. 1993;16(3):273–7.
Plunkett A, Beattle R.M. Recurrent abdominal in childhood. J Royal Society Med.
2005;98:101-6.
Quak SH, Wong CK. Recurrent abdominal pain: an etiological study among
Singapore children [diunduh 10 Oktober 2018]. Tersedia dari: URL:
http://www.asahi.net.or.jp
Telmesani AMA. Helicobacter pylori: prevalence and relationship with abdominal
pain in school children in Makkah city, Western Saudi Arabia. Saudi J Gastroenterol.
2009;15:100-3.
Marshall BJ, Warren JR. For their discovery of the bacterium Helicobacter pylori and its
role in gastritis and peptic ulcer disease". The Nobel Prize in Physiology or Medicine. 2005
[diunduh
18
Oktober
2018].
Tersedia
dari:
URL:
https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2005/press–release/
Campbell DI, Thomas JE. Best practice Helicobacter pylori infection in pediatric
practice. Arch Dis Child Educ Prac Ed. 2005;90:25–30.
48
PENCEGAHAN INFEKSI DI RAWAT JALAN
Djatnika Setiabudi
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan global
termasuk di Indonesia. Menurut asal terjadinya, penyakit infeksi dapat berasal
dari komunitas (community acquired) dan berasal dari rumah sakit (hospital
acquired) yang sebelumnya disebut sebagai infeksi nosokomial. Sejak tahun
2007 istilah infeksi nosokomial secara resmi telah diganti menjadi Health-care
associated infections yang pengertiannya lebih diperluas, tidak saja terjadi di
rumah sakit dan pada pasien, tetapi juga yang terjadi di fasilitas kesehatan
lainnya dan pada petugas kesehatan berkaitan dengan pekerjaannya.1
Pencegahan dan pengendalian infeksi yang selanjutnya disingkat PPI adalah
upaya untuk mencegah atau meminimalkan penularan infeksi. Penularan infeksi
dapat terjadi antarsesama pasien, dari pasien ke petugas atau sebaliknya dari
petugas ke pasien, bahkan dari pasien atau petugas ke para pengunjung atau
pengantar. Pedoman PPI selama ini lebih banyak ditujukan untuk pasien yang
menjalani rawat inap. Sehubungan dengan makin banyaknya penanganan
pasien di tempat rawat jalan (ambulatory care setting) dan mempunyai potensi
sebagai tempat penularan penyakit infeksi maka dipandang perlu ada pedomam
pencegahan infeksi di tempat rawat jalan.2–5 Pelaksanaan pencegahan infeksi di
rawat jalan yang efektif penting mengurangi transmisi penyakit infeksi,
meningkatkan keselamatan pasien dan kesembuhan pasien, serta dapat
mengurangi biaya pelayanan kesehatan.6
Anak (khususnya usia muda) lebih mudah terjadi penyakit infeksi karena
kekebalan tubuhnya yang masih relatif rendah dibanding dengan usia yang lebih
besar dan dewasa, juga sebaliknya potensial untuk menularkan penyakit infeksi.
Dalam tubuh mereka sering terdapat organisme patogen dan dapat
mengeluarkannya terutama virus sistem/saluran pernapasan dan pencernaan,
49
meskipun asimtomatik. Apabila mereka berkumpul bersama dan duduk saling
berdekatan, mereka dapat saling menularkan penyakit infeksi. Beberapa sifat
khas mereka seperti inkontinensia atau kebersihan yang kurang, sering
memasukkan tangan dan mainan atau benda lain ke mulut, drooling, dan kontak
langsung antarmereka sewaktu bermain dapat memfasilitasi penyebaran
infeksi.7
Saat ini kegiatan pelayanan kesehatan di rawat jalan (termasuk untuk
anak) tidak terbatas hanya pada poliklinik umum, tetapi dapat juga berupa
poliklinik khusus onkologi (termasuk kemoterapi), poliklinik talasemia,
poliklinik ginjal, dan poliklinik lainnya. American Academy of Pediatrics (AAP)
sejak tahun 2007 dan direvisi pada 2017 telah menerbitkan rekomendasi
pencegahan infeksi di tempat pelayanan kesehatan anak rawat jalan.8,9
Pada makalah ini akan dikemukakan pencegahan infeksi di rawat jalan,
juga akan dibahas mengenai definisi rawat jalan, definisi Health-care associated
infections, kewaspadaan isolasi, serta khusus sedikit mengenai kebersihan
tangan.
DEFINISI RAWAT JALAN
Definisi rawat jalan (ambulatory/outpatient care setting) adalah perawatan atau
pelayanan di fasilitas kesehatan yang pasien tidak menginap.4,5,9 Pelayanan yang
dimaksud dapat berupa tempat konsultasi, tindakan medis (pengobatan,
imunisasi, dan fisioterapi), juga tindakan untuk diagnostik (laboratorium,
radiologi). Termasuk dalam rawat jalan, yaitu klinik (poliklinik) yang berada di
dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit, unit atau pelayanan gawat
darurat (emergensi) suatu rumah sakit, tempat praktik swasta, dan lainnya.
Kemajuan dalam bidang kedokteran yang makin bertambah menyebabkan
semakin banyak klinik khusus seperti klinik onkologi (kemoterapi), klinik ginjal
(termasuk tindakan hemodialisis), klinik rawat jalan bedah, klinik tumbuh
kembang, dan sebagainya. Dalam makalah ini yang dimaksud rawat jalan adalah
terutama klinik (poliklinik) yang berada di dalam rumah sakit.
50
DEFINISI HEALTH-CARE ASSOCIATED INFECTIONS
Istilah infeksi nosokomial yang sudah lama dipakai ternyata mempunyai
keterbatasan, yaitu hanya digunakan pada infeksi yang terjadi di rumah sakit
(saja) dan yang terjadi pada pasien (saja). Saat ini pelayanan kesehatan sudah
sangat berkembang dan tidak hanya dilakukan di rumah sakit saja, tetapi juga di
fasilitas kesehatan lainnya, sebagai contoh berkembangnya home care, klinikklinik khusus yang merawat pasien tidak menginap, dan yang lainnya. Begitu
pula penularan infeksi pada saat melakukan pelayanan kesehatan pada pasien
tidak hanya dapat terjadi antarpasien dan dari petugas ke pasien, tetapi dapat
juga dari pasien ke petugas. Berdasar atas kedua hal tersebut maka sejak tahun
2007 secara resmi digunakan istilah Health-care associated infections.1
Definisi Health-care associated infections (HAIs) atau infeksi terkait
pelayanan kesehatan adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan
di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, ketika masuk tidak ada
infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi yang terjadi di rumah
sakit, tetapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada
petugas rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya terkait proses pelayanan
kesehatan. Di Indonesia khusus untuk HAIs yang terjadi di rumah sakit disebut
sebagai infeksi rumah sakit (IRS), sedangkan program pencegahan dan
pengendaliannya disebut PPIRS.10
KEWASPADAAN ISOLASI
Kewaspadaan isolasi (isolation precaution) ialah segala upaya atau tindakan
yang ditujukan untuk mencegah atau meminimalkan penularan infeksi dari
pasien ke pasien, dari pasien ke petugas atau sebaliknya, juga kepada para
pengunjung rumah sakit. Kewaspadaan isolasi ini terdiri atas kewaspadaan
standar (standard precaution) dan kewaspadaan berdasar atas transmisi
(transmission based precaution).
51
1.
Kewaspadaan standar
Kewaspadaan standar ialah kewaspadaan yang utama diterapkan secara
rutin dalam perawatan seluruh pasien di rumah sakit dan fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya, baik yang telah didiagnosis, diduga terinfeksi atau kolonisasi.
Kewaspadaan standar ini diterapkan untuk mencegah transmisi silang sebelum
pasien didiagnosis dan sebelum didapat hasil pemeriksaan laboratorium
maupun setelah pasien ditetapkan menderita penyakit infeksi. Tenaga
kesehatan seperti dokter dan perawat, petugas laboratorium, petugas binatu
dan central supply sterilisation department (CSSD), pembuang sampah dan
lainnya juga berisiko besar terinfeksi. Oleh karena itu, penting sekali
pemahaman dan kepatuhan petugas tersebut untuk menerapkan Kewaspadaan
Standar supaya tidak terinfeksi.
Pada tahun 2007, CDC dan HICPAC merekomendasikan 11 komponen
utama yang harus dilaksanakan dan dipatuhi dalam kewaspadaan standar, yaitu
kebersihan tangan (hand hygiene), pemakaian alat pelindung diri (APD),
dekontaminasi
lingkungan,
peralatan
pengelolaan
perawatan
limbah,
pasien,
pemeliharaan
penatalaksanaan
linen,
kesehatan
perlindungan
kesehatan petugas, penempatan pasien, etika batuk dan bersin (respiratory
hygiene) serta praktik menyuntik dan praktik lumbal pungsi yang aman.
2.
Kewaspadaan berdasar atas transmisi
Kewaspadaan berdasar atas transmisi sebagai tambahan kewaspadaan
standar yang dilaksanakan setelah terdiagnosis (atau diduga kuat) jenis
infeksinya dan diketahui cara penularannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa
penularan/transmisi penyakit dapat terjadi melalui kontak (langsung atau tidak
langsung), melalui droplet, melalui udara (airborne), melalui common vehicle
atau vehikulum (makanan, air, obat, alat, dan peralatan), serta melalui vektor
(lalat, nyamuk, dan tikus). Suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu
cara penularan. Secara umum kewaspadaan berdasar atas transmisi yang
52
dilaksanakan di rumah sakit adalah kewaspadaan berdasar atas transmisi
kontak (contact precaution), kewaspadaan berdasar atas transmisi melalui
droplet (droplet precaution), dan kewaspadaan berdasar atas transmisi udara
(airborne precaution).
KEBERSIHAN TANGAN (HAND HYGIENE)
Kebersihan tangan merupakan komponen yang sangat penting dalam mencegah
transmisi dan terjadi HAIs, meskipun angka kepatuhan petugas kesehatan
belum optimal. Komite khusus pencegahan infeksi dari WHO (Healthcare
Infection Control Practices Advisory Committee/HICPAC) dan berbagai
organisasi yang berhubungan dengan penyakit infeksi seperti Society for
Healthcare Epidemiology of America (SHEA), Association for Professionals in
Infection Control (APIC), dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) telah
mengeluarkan pedoman bersama mengenai kebersihan tangan ini.11,12 Pada
tahun 2014 WHO mengeluarkan pedoman khusus kebersihan tangan di rawat
jalan.13
Bingham dan kawan-kawan14 pada penelitiannya mengemukakan bahwa
tangan petugas kesehatan yang terkontaminasi merupakan faktor risiko yang
signifikan untuk transmisi patogen di rawat jalan. Untuk mengurangi transmisi
tersebut peneliti menyarankan tiga hal, yaitu tersedia fasilitas untuk kebersihan
tangan (khususnya cairan) langsung di tempat pelayanan (point of care),
menggalakkan pemakaian sarung tangan, dan surveilans kepatuhan kebersihan
tangan.
PEDOMAN PENCEGAHAN INFEKSI DI RAWAT JALAN
Pada makalah ini akan dikemukakan pedoman pencegahan infeksi di rawat jalan
dari dua sumber utama, yaitu pedoman dari CDC (versi 2016) dan rekomendasi
dari AAP tahun 2017.4,9 Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang nyata pada
kedua sumber tersebut. Dari 11 elemen kewaspadaan standar yang
dikemukakan oleh CDC tahun 2007, pedoman CDC tentang pencegahan infeksi
53
di rawat jalan merekomendasikan 6 elemen kunci, yaitu rekomendasi kunci
tentang kebersihan tangan, penggunaan APD, tindakan injeksi yang aman,
pembersihan dan disinfeksi (permukaan) lingkungan, pembersihan serta
disinfeksi atau sterilisasi peralatan medis, dan respiratory hygiene/etika batuk.4
Pada rekomendasi dari AAP tahun 2017 terdapat 5 elemen mayor, yaitu
kebersihan tangan, perlindungan untuk mencegah paparan pada kulit dan
selaput lendir (penggunaan APD), respiratory hygiene dan etika batuk,
penanganan instrumen/benda tajam untuk meminimalkan risiko tertusuk, serta
penyediaan alat resusitasi (harus tersedia dengan mudah dan cepat dapat
digunakan) dan menghindari resusitasi mulut ke mulut.
Rekomendasi kunci dari Pedoman CDC 2016
1. Rekomendasi kunci untuk kebersihan tangan (hand hygiene)
1). Hand hygiene harus dilakukan pada keadaan berikut:
a. sebelum kontak dengan pasien;
b. sebelum melakukan tindakan aseptik (seperti pemasangan infus dan
persiapan penyediaan obat injeksi);
c. setelah kontak dengan pasien (langsung) atau objek/benda yang
dekat dengan lingkungan pasien;
d. setelah kontak dengan darah, cairan tubuh lain, dan permukaan /alat
yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya;
e. bila melakukan pemeriksaan/tidakan dari daerah bagian tubuh
pasien yang kotor (terkontaminasi) beralih ke daerah yang lebih
bersih;
f. setelah melepaskan APD.
2). Lakukan cuci tangan dengan air dan sabun bila tangan tampak kotor
(mengandung darah atau cairan tubuh lainnya), atau setelah merawat
pasien yang diketahui atau diduga terinfeksi Clostridium difficile atau
norovirus sewaktu terjadi outbreak. Selain pada keadaan tersebut di atas,
hand hygiene yang diajurkan adalah memakai alcohol-based hand rub.
54
2. Rekomendasi kunci untuk penggunaan APD
1). Tempat pelayanan harus selalu menyediakan APD yang cukup jumlahnya
sesuai dengan kebutuhan dan mudah segera diakses bila diperlukan.
2) Beri edukasi semua petugas kesehatan tentang pemilihan APD yang
tepat dan cara pemakaiannya.
a. APD selain respirator harus dilepas dan dibuang (pada tempat yang
sesuai) sebelum meninggalkan kamar/ruang periksa atau tempat
penanganan pasien. Respirator harus dilepas dan dibuang (bila
disposibel) setelah meninggalkan kamar/ruang periksa atau tempat
penanganan pasien dan pintu harus dalam keadaan tertutup.
b. Jangan lupa melakukan hand hygiene setelah melepas APD.
3). Pakai sarung tangan pada keadaan yang berpotensi kontak dengan
darah, cairan tubuh, selaput lendir, kulit yang tidak utuh, atau peralatan
kesehatan yang terkontaminasi.
a. Jangan memakai satu (pasang) sarung tangan yang sama untuk
merawat pasien lainnya.
b. Jangan mencuci sarung tangan untuk kepentingan pemakaian ulang
(reuse) dan harus segera dibuang (disposibel).
4). Pakai gaun untuk melindungi kulit dan pakaian kita sewaktu melakukan
tindakan/prosedur yang berpotensi kontak dengan darah dan cairan
tubuh lainnya. Jangan memakai gaun yang sama untuk merawat pasien
lainnya.
5). Pakai pelindung mulut, hidung, dan mata (googles) sewaktu melakukan
tindakan yang berpotensi kecipratan darah atau cairan tubuh lainnya.
3. Rekomendasi kunci untuk praktik injeksi yang aman
1). Lakukan tindakan aseptik pada saat mempersiapkan dan memberikan
obat-obatan.
55
2). Bersihkan karet/diafragma penutup botol obat dengan alkohol sebelum
memasukkan jarum ke dalam botol tersebut.
3). Jangan pernah memberi obat dengan syringe yang sama untuk pasien
yang berbeda, meskipun jarumnya diganti atau penyuntikan dilakukan
melalui selang infus.
4). Jangan menggunakan syringe bekas pakai (reuse) untuk mengambil obat
dari vial atau tempat obat lainnya.
5). Jangan memberikan obat dari vial, ampul, kantong atau botol cairan
infus yang single-dose atau single-use kepada lebih dari satu pasien.
6). Jangan menggunakan cairan infus atau alat (infusion set) yang sama
untuk lebih dari satu pasien.
7). Apabila memungkinkan, dedikasikan multi-dose vial untuk satu orang
pasien. Jika obat tersebut akan diberikan kepada lebih dari satu orang
pasien harus dipersiapkan dahulu secara sentralisasi dan tidak boleh
dipersiapkan di tempat pelayanan pasien.
8). Buanglah segera benda/alat tajam (jarum) bekas pakai ke dalam
kontainer benda tajam yang tertutup, tahan tusukan, dan tidak mudah
bocor yang terdapat di tempat pelayanan.
9). Gunakan masker (bedah) bila akan melakukan tindakan pungsi lumbal
(atau memasukkan jarum/kateter atau bahan lain ke dalam ruang
epidural atau subdural (seperti tindakan mielogram, anestesi epidural,
atau anestesi spinal).
4. Rekomendasi kunci untuk pembersihan dan disinfeksi permukaan
lingkungan
1). Buat dan berlakukan kebijakan serta standar prosedur operasional
(SPO) untuk pembersihan dan disinfeksi rutin permukaan lingkungan
(environmental surfaces) di tempat pelayanan. Kebijakan dan SPO yang
dibuat harus juga memuat tentang tata cara pembersihan dan disinfeksi
56
untuk tumpahan (spills) darah dan bahan-bahan lain yang mempunyai
potensi menularkan infeksi.
2). Pilih atau seleksi bahan disinfektan dan deterjen yang telah terdaftar
dan diyakinkan ada label untuk penggunaan dalam pelayanan
kesehatan.
3). Ikuti
petunjuk
penggunaannya
sesuai
rekomendasi
produsen
(mengenai jumlah/dosis, cara pengenceran, contact time, penggunaan
yang aman, serta tata cara pembuangannya).
5. Rekomendasi kunci untuk pembersihan dan disinfeksi atau sterilisasi
peralatan medis
1). Fasilitas pelayanan kesehatan harus meyakinkan bahwa semua alat
medis reusable (seperti alat glukometer dan alat-alat lain yang dipakai
untuk pemeriksaan di tempat/point-of-care, instrumen bedah, dan
endoskopi) telah dilakukan pembersihan dan dilakukan proses
selanjutnya yang sesuai (disinfeksi atau sterilisasi) sebelum digunakan
pada pasien lain berikutnya.
2). Alat-alat tersebut di atas dilakukan pembersihan dan proses selanjutnya
serta penyimapan/pemeliharaannya harus sesuai dengan rekomendasi
dari produsennya. Apabila produsen alat tersebut tidak mencantumkan
instruksi penggunaannya maka harus dianggap sebagai hanya satu kali
pakai (tidak boleh digunakan pada beberapa pasien).
3). Petugas kesehatan yang ditetapkan sebagai penanggungjawab untuk
melakukan tugas tersebut di atas harus diberi pelatihan yang sesuai.
a. Instruksi pemrosesan alat medis yang ditetapkan oleh produsen
harus selalu tersedia salinannya di tempat kerja. Sebaiknya hal
tersebut dibuat juga dalam bentuk poster.
b. Pelatihan yang dimaksud (mengenai pemilihan cara pemrosesan,
penggunaan APD yang sesuai dan tata cara (step by step)
pemrosesannya harus dilakukan ulang setiap tahun. Apabila ada alat
57
medis baru atau ada perubahan dalam kebijakan atau SPO tata cara
pemrosesan, petugas kesehatan harus mendapat pelatihan baru
sehingga benar-benar kompeten dalam melaksanakan pekerjaannya.
4). Pastikan petugas kesehatan selalu memakai APD yang sesuai dengan
akses yang mudah didapat ketika menangani dan memproses alat medis
terkontaminasi.
6. Rekomendasi kunci untuk respiratory hygiene/etika batuk
1). Implementasikan tindakan untuk menghalangi penyebaran sekresi
pernapasan dari pasien atau pengantarnya yang mempunyai tandatanda atau gejala infeksi pernapasan, mulai dari sejak pintu masuk
tempat pelayanan sampai selama kunjungan.
a. Tempatkan pengumuman atau poster yang berisi instruksi untuk
pasien dengan gejala infeksi pernapasan untuk:
i. pada saat awal di tempat pendaftaran memberitahu petugas
bahwa pasien mempunyai gejala infeksi pernapasan;
ii. menutup mulut/hidung pada saat batuk atau bersin;
iii. gunakan kertas tisu dan buang pada tempat yang disediakan;
iv. Lakukan
hand hygiene setelah tangan kontak dengan sekret
pernapasan.
b. Sediakan tempat tisu dan tempat pembuangan tisu bekas pakai (yang
dibuka tutup tanpa sentuhan).
c. Sediakan semua kebutuhan untuk hand hygiene di (sekitar) tempat
tunggu pasien.
d. Anjurkan untuk memakai masker pada pasien dan orang lainnya
dengan gejala batuk saat berada di tempat pelayanan, apalagi bila
sedang ada peningkatan kasus infeksi pernapasan di masyarakat.
e. Sedapat-dapatnya sediakan tempat untuk pasien/pengunjung yang
mempunyai gejala infeksi pernapasan supaya dijauhkan dari
pengunjung lainnya. Jika memungkinkan rumah sakit menyediakan
58
ruangan khusus yang terpisah untuk pasien tersebut selama
menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan.
2). Beri edukasi semua petugas kesehatan bahwa tindakan pencegahan
infeksi penting untuk mencegah penularan patogen penyebab infeksi
pernapasan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Siegel JD, Rhinehart E, Jackson M, Chiarello L, Health-care Infection Control
Practices Advisory Committee (HICPAC). 2007 Guideline for isolation
precautions: preventing transmission of infectious agents in Health care
settings. Am J Infect Control. 2007;35(10 Suppl 2):S65–164.
2. Maki DG, Crnich CJ. History forgotten is history relived: nosocomial
infection control is also essential in the outpatient setting. Arch Intern Med.
2005;165:2565–7.
3. Hefzya EM, Wegdana AA, Abdel Wahed WY. Hospital outpatient clinics as a
potential hazard for healthcare associated infections. J Infect Public Health.
2016;9:88–97.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Guide to infection prevention
for outpatient settings: minimum expectations for safe care. Version 2.3 September 2016.
5. Steinkuller F, Harris K, Vigil KJ. Ostrosky-Zeichner L. Outpatient infection
prevention: a practical primer. Open Forum Infect Dis. 2018;5(5):1–8.
6. Garrett JH. A review of the CDC recommendations for prevention of HAIs in
outpatient settings. J AORN. 2015;101(5):519–25.
7. Moore DL, Canadian Paediatric Society (CPS) Infectious Diseases and
Immunization Committee. Infection control in paediatric office settings.
Paed Child Health. 2008;13(5): 408–19.
8. American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases.
Infection preventionand control in pediatric ambulatory settings.
Pediatrics. 2007;120(3):650–65.
9. Rathore MH, Jackson MA, Committee on Infectious Diseases. Infection
prevention and control in pediatric ambulatory settings. Pediatrics.
2017;140(5):pii: e20172857
10. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta:
Kemenkes RI; 2017..
11. Boyce JM, Pittet D. Guideline for hand hygiene in Healthcare settings.
Recommendations of the Healthcare Infection Control Practices Advisory
59
Committee and the HICPAC/SHEA/APIC/IDSA Hand Hygiene Task Force.
MMWR Recomm. 2002;51:1– 45.
12. Pittet D, Allegranzi B, Boyce J. The World Health Organization guidelines on
hand hygiene in health care and their consensus recommendations. Infect
Control Hosp Epidemiol. 2009;30:611–22.
13. World Health Organization. Hand hygiene in outpatient care, home-based
care and long-term care facilities. Geneva, Switzerland: WHO; 2014.
14. Bingham J, Abell G, Kienast L, Lerner L, Matuschek B, Mullins W, dkk. Health
care worker hand contamination at critical moments in outpatient care
settings. Amn J Infect Control. 2016;44:1198–202.
60
PERANAN VITAMIN D PADA LUPUS ANAK
Budi Setiabudiawan, Reni Ghrahani, Gartika Sapartini
PENDAHULUAN
Vitamin D secara luas diketahui memegang peranan penting dalam menjaga
hemostasis kalsium. Dalam tahun–tahun terakhir, beberapa penelitian
melaporkan vitamin D memiliki peran penting dalam modulasi respons imun
bawaan dan adaptif. 1
Reseptor vitamin D yang meregulasi sekitar 3% genom manusia
diekspresikan oleh sel-sel imun sehingga menimbulkan dugaan efek
imunomodulator vitamin D terhadap sistem imun.2,3 Vitamin D dapat mencegah
penyakit autoimun dengan meningkatkan jumlah atau fungsi sel T-Reg natural.
Sel T-Reg adalah limfosit T yang berfungsi menekan sel-sel efektor sistem imun
agar tidak bekerja secara berlebihan dan merugikan.4,5
Hasil penelitian tentang hubungan beberapa gangguan inflamasi dengan
defisiensi vitamin D menunjukkan pentingnya vitamin D secara klinis. Defisiensi
vitamin D dikaitkan dengan risiko timbul berbagai penyakit yang meningkat,
antara lain penyakit infeksi, autoimun, alergi, dan keganasan.6
Hipotesis bahwa vitamin D mungkin terkait dengan gangguan autoimun
didukung dari beberapa pengamatan epidemiologi di antaranya orang yang
tinggal di dekat katulistiwa menunjukkan penurunan risiko mengembangkan
autoimunitas dan penurunan kadar vitamin D pada pasien dengan sejumlah
gangguan autoimun sistemik.7 Saat ini definisi defisiensi vitamin D masih
kontroversial, tetapi rekomendasi secara umum minimal 20 ng/mL calcifediol
(25-hidroksi-vitamin D-25 (OH) D) sebagai indikator cadangan vitamin D
namun tingkat optimal fungsi sistem kekebalan belum ditentukan batasan yang
jelas.7 Defisiensi vitamin D lebih umum di antara pasien lupus eritematos
sistemik (LES).7 Pasien LES menunjukkan kadar vitamin D yang lebih rendah,
hasil ini telah melalui pengamatan di seluruh dunia.7 Penjelasan lain yang erat
61
hubungannya antara defisiensi vitamin D dan LES terletak pada struktur genetik
tentang polimorfisme vitamin D reseptor (VDR).7 Borba dkk. menemukan kadar
yang lebih rendah dari 25 (OH) 2 D3 pada 12 pasien LES dengan aktivitas
penyakit yang tinggi bila dibanding 24 pasien dengan aktivitas penyakit rendah.
Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian lain pada 25 dari 57 pasien LES, tingkat
25 (OH) 2D3 yang lebih rendah secara signifikan berkorelasi dengan aktivitas
penyakit. 7 AlSaleem dkk.8 menemukan dari 28 anak Saudi yang terdiri atas 26
perempuan dengan LES yang diberikan vitamin D3 (2.000 IU setiap hari) dan
caltrate (kalsium 600 mg dua kali sehari) menyelesaikan evaluasi selama 3
bulan menunjukkan perbaikan klinis berdasar atas titer anti-dsDNA dan skor
SLEDAI.
VITAMIN D
Vitamin D dalam tubuh terdapat dalam 2 bentuk, yaitu vitamin D2
(ergocalciferol) dan vitamin D3 (cholecalciferol). Sumber utama vitamin D adalah
produksi endogen dari 7-dehidrokolesterol di kulit melalui proses fotosintesis
dengan bantuan energi ultraviolet B. Vitamin D juga diperoleh dari makanan
seperti kuning telur, hati, dan produk susu. Vitamin D dibawa ke hati kemudian
melalui proses hidroksilasi dengan bantuan enzim CYP2R1 menghasilkan
25(OH)D. 25(OH)D kemudian dibawa ke ginjal dan dihidroksilasi dengan enzim
CYP27B1 sehingga menghasilkan 1,25(OH)2D atau kalsitriol. Kalsitriol
merupakan metabolit aktif yang merupakan hormon steroid yang paling poten
di tubuh manusia. Produksi kalsitriol di ginjal diregulasi oleh feedback
mechanism kadar hormon paratiroid, calsium fibroblast-like growth factor
(FGF23), dan fosfat.1
Kalsitriol juga diproduksi oleh jaringan tubuh lainnya seperti kulit,
makrofag, kolon, pankreas, dan pembuluh darah. Vitamin D binding protein
(VDBP) membawa 1,25(OH)2D kepada Vitamin D Receptor (VDR) pada inti sel.
VDR merupakan salah satu reseptor nukleus ligand-regulated transcription
factors. 1,25(OH)2D yang berikatan dengan VDR dapat memediasi transkripsi
62
DNA. Proses tersebut distimulasi oleh protein nuclear factor kappa-B (NFk-B)
yang dijelaskan dalam Gambar 1.1
Gambar 1 Metabolisme Vitamin D
Sumber: Mangin dkk.9
Kadar 25 (OH) D di dalam serum yang dianjurkan berkisar 30−100 ng/mL
untuk mencegah gangguan kesehatan. Kadar 25 (OH) D di dalam darah 40−60
ng/mL atau 100−150 nmol/L dianggap paling baik. Oleh banyak pakar defisiensi
vitamin D diberikan batasan sebagai kadar 25 (OH) D serum di bawah kadar 20
ng/mL atau 50 nmol/L. Kadar 25 (OH) D dengan rentang 21−29 ng/mL (52−72
nmol/L) yang dapat disebut sebagai defisiensi relatif vitamin D dan kadar >30
63
ng/mL dapat disebut cukup/berkadar normal. Keracunan vitamin D terjadi bila
kadar 25(OH) D >150 ng/mL (374 nmol/L).10 Tabel 1 menunjukkan ambang
batas diagnostik kadar 25 [OH] D serum.
Tabel 1 Ambang Batas Diagnostik Kadar 25[OH]D Serum
Level
(ng/mL)
< 20
20-32
54-90
25[OH]D
Level
25[OH]D
Diagnosis
(nmol/L)
Laboratorium
< 50
Defisiensi
50-80
Insufisiensi
135-225
Normal di negara
dengan paparan
matahari banyak
> 100
> 250
Berlebihan
> 150
> 325
Intoksikasi
Sumber: Alshahrani dan Aljohani.11
PERAN VITAMIN D PADA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK
Bentuk aktif vitamin D berperan sebagai imunomodulator pada sel yang
berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Imunomodulasi adalah upaya untuk
mengembalikan dan memperbaiki keadaan patologik tersebut mejadi normal
kembali dengan cara menekan fungsi imun yang berlebihan (imunosupresi)
atau
memperbaiki
sistem
imun
dengan
merangsang
sistem
imun
(imunipotensiasi). Terdapat hubungan defisiensi vitamin D dengan penyakit
autoimun seperti LES, multipel sklerosis (MS), rematoid artritis (RA), diabetes
melitus (DM) tipe 1, dan
inflammatory bowel disease (IBD). Vitamin D
merupakan faktor ekstrinsik yang memengaruhi prevalensi
penyakit
autoimun.4,12,13
Vitamin D 1,25 (OH)2D3 berkontribusi pada mekanisme penekanan
autoimunitas. Vitamin D menekan inflamasi atau memengaruhi diferensiasi sel
T CD4 dan meningkatkan fungsi sel supresor. 1,25(OH)2D menghambat
proliferasi sel T dan mengurangi produksi sitokin Th1, seperti IL-2, TNF-α, dan
IFN-γ. Sel Treg memainkan peran penting dalam menjaga toleransi perifer dan
64
mencegah terjadi penyakit autoimun dengan salah satu petandanya berupa
FoxP3. Sel T CD4+ naif dapat berdiferensiasi menjadi sel Treg dengan stimuli IL2 dan TGF-β. Peran vitamin D dalam menekan reaksi autoimun, yaitu dengan
menginduksi sel Treg dengan umpan balik positif untuk proliferasi sel Treg
maupun konversi sel T naif menjadi sel Treg dengan meningkatkan produksi IL
4, IL-5, dan IL-10. 4,12,13
Vitamin D menginhibisi sitokin proinflamasi yang dihasilkan oleh monosit
dan makrofag sehingga menghambat proliferasi sel T dan akan menginduksi sel
Treg. Vitamin D juga berperan dalam menginhibisi maturasi sel dendritik
sehingga menghambat proliferasi sel T. Vitamin D menginhibisi ekspresi dari
CD8 pada sel T dengan menekan IFN-γ dan TNF-α serta menghinhibisi
pembentukan sel B matur yang menghambat proliferasi sel T. Mekanisme
tersebut dapat dilihat pada Gambar 5 dan Tabel 2. 4,12,13
65
Gambar 2 Efek Vitamin D pada Autoimun
Sumber: Dankers dkk.4
66
Tabel 2 Aksi Vitamin D pada Sistem Imun.
Populasi Target Sel
Aksi yang Dimediasi oleh
1,25(OH)2D
APCs (monosit, makrofag, sel dendritik)
Limfosit T
Sel B
Sel NK
Menginhibisi ekspresi dari
molekul MHC kelas II.
Menginhibisi ekspresi dari
molekul co-stimulating (CD40,
CD80, dan CD86) dan protein
induksi maturasi lainnya (CD1a,
CD83).
Meningkatkan kemotaksis dan
fagositosis dari monosit dan
sitotoksitas terhadap sel tumor
dan bakteri.
Menginhibisi maturasi dari sel
dendritik.
Menginduksi sel dendritik
tolerogenik yang mampu
menginduksi sel Treg.
Menginhibisi pelepasan dari IL12 p70.
Menginhibisi sitokin
proinflamasi (IL-1 dan TNF)
oleh monosit dan makrofag.
Menginhibisi proliferasi sel T,
sekresi sitokin, dan progresi
siklus sel dari G1a ke G1b.
Meningkatkan produksi IL-4, IL5, dan IL-10.
Menginhibisi IL-12, INF-γ, dan
IL-2; menginhibisi aktivasi dari
limfosit T spesifik terhadap
antigen.
Menginhibisi ekspresi dari FasL
yang diaktivasi oleh limfosit T.
Mengekspresikan VDR.
Menekan sekresi IgE.
Menginhibisi INF-γ.
Sumber: Marques dkk.12
67
Pasien yang terkena LES memiliki beberapa faktor risiko defisiensi vitamin
D. Penggunaan steroid kronik dapat menyebabkan perubahan metabolisme
vitamin D, meskipun masih terdapat bukti yang kontradiktif. Pasien SLE juga
mungkin memiliki keterlibatan ginjal. Pada penyakit ginjal yang signifikan,
proses 1-hydroxylation untuk mengaktivasi 25(OH)D3 dapat terganggu.14
Penghindaran paparan sinar matahari yang dilakukan oleh pasien LES untuk
mencegah fotosensitivitas dapat mengganggu metabolisme vitamin D.15
DEFISIENSI VITAMIN D DAN INSIDENSI LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK
Vitamin D memiliki efek regulasi pada pertumbuhan, proliferasi, apoptosis, dan
fungsi sistem kekebalan yang berhubungan dengan patofisiologi LES.16
Kekurangan vitamin D sangat lazim pada LES berdasar atas berbagai faktor, di
antaranya pasien yang menghindari sinar matahari, efek fotoproteksi, kondisi
insufisiensi ginjal, dan penggunaan obat-obatan seperti glukokortikoid,
antikonvulsan, antimalaria, serta inhibitor kalsineurin yang mengganggu
metabolisme vitamin D atau menurunkan fungsi reseptor vitamin D. 16 Kadar 25hidroksivitamin D serum yang secara signifikan lebih rendah di antara pasien
LES yang baru terdiagnosis setelah dibanding dengan kontrol dan tingginya
prevalensi kekurangan vitamin D secara keseluruhan.16 Kadar 25OHD dan 1,25
(OH) 2D3 pada pasien LES dengan aktivitas tinggi menunjukkan kadar lebih
rendah dibanding pasien dengan aktivitas minimal. Hanya satu pasien yang
menunjukkan tingkat 25OHD yang diinginkan. Penyebab yang mungkin adalah
penurunan produksi vitamin D karena kurang paparan sinar matahari,
penggunaan tabir surya, atau oleh penyakit itu sendiri.16 Peningkatan
metabolisme atau kerusakan 25-hidrosilasi yang disebabkan oleh obat-obatan
atau bahkan oleh penyakit itu sendiri dapat menjadi penyebab kekurangan
vitamin D.16
68
Gambar 3 Hubungan Sebab Akibat antara Vitamin D Dan LES
Sumber: Hassanalilou dkk.16
Vitamin D mengatur sistem kekebalan tubuh dengan cara inhibisi kerja
interleukin-2 (IL-2), produksi antibodi dan proliferasi limfosit. 1,25-dihidroksi
vitamin D3 (1,25 (OH) 2 D3), menghambat sekresi IFN-ɣ, dan dengan
menurunkan regulasi NF-κB berbanding terbalik mengontrol produksi IL-12.
Secara in vivo, 1,25 (OH) 2 D3 ditemukan memiliki efek preventif pada penyakit
autoimun.16
Hubungan antara vitamin D dan LES memiliki keterlibatan dua sisi, LES
dapat menyebabkan kadar vitamin D rendah dan defisiensi vitamin D mungkin
memiliki peran kausatif dalam etiologi LES dan atau berhubungan dengan
tingkat keparahan LES yang dapat dilihat pada Gambar 3. 16
Studi in vitro menunjukkan bahwa 1,25-dihrosoksivitamin D dapat
mencegah diferensiasi sel dendritik serta memodulasi fenotipe dan fungsi sel T.
69
1,25-dihidroksi vitamin D dapat menghambat proliferasi sel T dan produksi
sitokin, menghambat proliferasi sel B teraktivasi, dan merusak pembentukan sel
plasma. Diferensiasi sel dendritik dan produksi interferon tipe I merupakan hal
penting dalam patogenesis LES. Oleh karena itu, dengan memengaruhi sistem
kekebalan tubuh maka vitamin D dapat memainkan peran pencegahan dalam
insiden LES. 16
Hubungan antara defisiensi vitamin D dan onset penyakit sebelumnya
diperlukan untuk menentukan peran kausal potensial untuk vitamin D dalam
LES. Deteksi distribusi musim pada permulaan terkait LES dengan puncak pada
bulan April dan 6 bulan kemudian di bulan Oktober. Temuan ini menunjukkan
faktor musim yang bervariasi terkait radiasi UVB dan sintesis vitamin D dalam
etiologi penyakit. Vitamin D mungkin dapat memengaruhi risiko penyakit
dengan mengatur gen terkait LES. Efek modulasi kekebalan dari vitamin D
secara jelas dapat ditentukan sehingga kekurangan vitamin D lebih menjadi
suatu faktor risiko daripada konsekuensi dari LES. 16
Aktivitas vitamin D bergantung pada Vitamin D Receptor (VDR), anggota dari
keluarga superreseptor hormon inti. Gen VDR terletak pada kromosom
12q13.11, dan polimorfisme ketiga, BsmI, ApaI (keduanya dalam intron 8), dan
TaqI (dalam ekson 9), telah teridentifikasi pada akhir gen ke-30. Karena vitamin
D menyajikan efek imunosupresif dan memiliki hubungan potensial antara
defisiensi vitamin D dan penyakit autoimun, polimorfisme VDR yang dapat
memengaruhi aktivitas VDR, telah dievaluasi sebagai kemungkinan penyebab
penyakit autoimun. Menurut penelitian selain kekurangan vitamin D,
polimorfisme reseptor VDR dapat menyebabkan kerentanan terhadap penyakit
terkait imunitas seperti LES. 16
HUBUNGAN DEFISIENSI VITAMIN D DENGAN LUPUS ERITEMATOSUS
SISTEMIK
Kadar vitamin D yang rendah sering ditemukan pada pasien LES dan hal
tersebut erat hubungannya dengan aktivitas penyakit LES. Dibanding dengan sel
70
dan jaringan lain yang mengandung VDR, otot merupakan salah satu jaringan
yang paling sensitif terhadap rendahnya kadar vitamin D yang menyebabkan
kelemahan dan kelelahan pada otot. 16
Vitamin D receptor terdapat pada sebagian besar sel sistem kekebalan tubuh
sehingga dapat dipahami bahwa vitamin D memiliki peran sebagai
imunomodulator yang bermakna.16 Hubungan antara konsentrasi vitamin D
serum dan perkembangan gangguan autoimun telah dilakukan pada beberapa
penelitian.16
Telah terungkap bahwa aktivitas penyakit dan produksi
autoantibodi pada kasus LES dapat diperburuk oleh kadar vitamin D yang
rendah pada tubuh.16 Dapat disimpulkan bahwa kekurangan vitamin D
merupakan faktor risiko timbulnya dan berpengaruh pada perkembangan
aktivitas penyakit pada LES. Sebuah studi cross-sectional yang melibatkan 378
pasien LES dari Eropa dan Timur Tengah dan studi yang dilakukan oleh Mok
dkk. menunjukkan hubungan yang berlawanan antara kadar D3 25hydroxyvitamin D serum dan skor aktivitas penyakit. Dalam laporan lain, Amital
dkk. menjelaskan hubungan inversi yang signifikan antara tingkat aktivitas LES
dan konsentrasi vitamin D serum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di
antara faktor-faktor lain, kekurangan vitamin D mungkin dapat berkontribusi
pada progresi penyakit pada pasien LES. Penelitian yang dilakukan pada
sekelompok besar pasien Australia dengan LES telah ditunjukkan bahwa kadar
vitamin D rendah dikaitkan dengan aktivitas penyakit yang lebih tinggi dan
peningkatan kadar vitamin D serum dikaitkan dengan pengurangan aktivitas
penyakit dari waktu ke waktu. 16
Pada penelitian terbaru terdapat hubungan terbalik antara kadar vitamin D
dan kelelahan yang terjadi pada pasien LES. Individu LES pada kesehariannnya
memiliki berbagai keterbatasan, di antaranya penurunan kemampuan aktivitas
harian dan peningkatan kelelahan yang dapat menurunkan kualitas hidup. Lebih
dari 50% orang LES menggambarkan kelelahan sebagai gejala penyakit yang
paling menghambat aktivitas harian. Reseptor vitamin D telah ditemukan pada
sel otot yang membuktikan teori efek langsung vitamin D pada jaringan otot.
71
Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan kelemahan otot proksimal dengan
penurunan serat otot tipe 2. Miositis pada LES adalah kondisi yang tidak umum,
tetapi tergambarkan dengan penurunan kekuatan otot, peningkatan kreatinin
kinase (CK) serum, disertai hasil abnormalitas pada biopsi otot. 16
SIMPULAN
Kekurangan vitamin D sering terjadi pada pasien LES. Pasien LES memiliki risiko
lebih tinggi mengalami defisiensi 25 (OH) D. Pemberian suplementasi vitamin D
pada pasien LES memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk meningkatkan kadar
25 (OH) D yang akan berefek pada pengendalian aktivitas penyakit dan
perbaikan klinis. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan dosis
harian suplemen vitamin D sebagai pencegahan ataupun pengobatan pada
pasien LES.
DAFTAR PUSTAKA
1. Yin K, Agrawal DK. Vitamin D and inflammatory diseases. J Inflamm Res.
2014;7:69.
2. Szodoray P, Nakken B, Gaal J, Jonsson R, Szegedi A, Zold E, dkk. The complex role of
vitamin D in autoimmune diseases. Scand J Immunol. 2008;68(3):261–9.
3. Holick MF. Vitamin D deficiency. N Engl J Med. 2007;357(3):266–81.
4. Dankers W, Colin EM, van Hamburg JP, Lubberts E. Vitamin D in autoimmunity:
molecular mechanisms and therapeutic potential. Front Immunol. 2017;7:697.
5. Yang CY, Leung PSC, Adamopoulos IE, Gershwin ME. The implication of vitamin D and
autoimmunity: a comprehensive review. Clin Rev Allergy Immunol.
2013;45(2):217–26.
6. Yildirim I, Magden K, Hur E. Infection Inflammation and Vitamin D. Clin Microbial.
2013;4(2):116.
7. Shoenfeld Y, Giacomelli R, Azrielant S, Berardicurti O, Reynolds JA, Bruce IN. Vitamin
D and systemic lupus erythematosus: The hype and the hope. Autoimmun Rev.
2018;17(1):19–23.
8. AlSaleem A, AlE’ed A, AlSaghier A, Al-Mayouf SM. Vitamin D status in children with
systemic lupus erythematosus and its association with clinical and laboratory
parameters. Clin Rheumatol. 2015;34(1):81–4.
9. Mangin M, Sinha R, Fincher K. Inflammation and vitamin D: the infection
connection. Inflamm Res. 2014;63(10):803–19.
10. Pusparini P. Defisiensi vitamin D terhadap penyakit. Indones J Clin Pathol Med Lab.
2016;21(1):90–5.
11. Alshahrani F, Aljohani N. Vitamin D: deficiency, sufficiency and toxicity. Nutrients.
2013;5(9):3605–16.
72
12. Marques CD, Dantas AT, Fragoso TS, Duarte AL. The importance of vitamin D levels
in autoimmune diseases. Bras J Rheumatol. 2010;50(1):67–80.
13. Visweswaran RK, Lekha H. Extraskeletal effects and manifestations of Vitamin D
deficiency. Indian J Endocr Metab. 2017;17(4):602–10.
14. Jolliffe DA, Griffiths CJ, Martineau AR. Vitamin D in the prevention of acute
respiratory infection: systematic review of clinical studies. Steroid Biochem Mol
Biol. 2013;136:321–9.
15. Al-Daghri NM, Sabico S, Al-Saleh Y, Al-Attas OS, Alnaami AM, AlRehaili MM, dkk.
Calculated adiposity and lipid indices in healthy arab children as influenced by
vitamin D status. J Clin Lipidol. 2016;10(4):775–81.
16. Hassanalilou T, Khalili L, Ghavamzadeh S, Shokri A, Payahoo L, Bishak YK. Role of
vitamin D deficiency in systemic lupus erythematosus incidence and aggravation.
Autoimmun Highlights. 2018;9(1):1–10.
73
STRATEGI TATAKELOLA GAGAL JANTUNG PADA PENYAKIT
JANTUNG BAWAAN DI KLINIK RAWAT JALAN
Rahmat Budi Kuswiyanto
PENDAHULUAN
Gagal jantung pada anak adalah sindrom klinis yang ditandai oleh kongesti
pulmonal atau sistemik atau keduanya dan atau pengantaran oksigen yang tidak
adekuat, baik saat istirahat ataupun saat aktivitas akibat kelainan struktural
atau fungsional jantung.1-3 Gagal jantung pada anak dapat disebabkan oleh
berbagai macam kelainan atau penyakit.1-3 Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
merupakan penyebab utama gagal jantung pada anak.3-5 Gagal jantung pada PJB
terjadi dengan mekanisme yang beragam bergantung pada jenis defek dan
perubahan hemodinamik yang menyebabkan gangguan fungsi jantung untuk
memasok oksigen. Gagal jantung merupakan prediktor untuk kematian dan
perawatan berulang pada anak dengan PJB.4,5
Pada era JKN saat ini dengan sistem rujukan berjenjang, banyak anak PJB
dengan gagal jantung yang menunggu tindakan definitif di fasilitas kesehatan III
yang memerlukan perawatan rutin di fasilitas kesehatan I atau II. Oleh karena
itu, seorang dokter anak memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang
komprehensif untuk tata laksana gagal jantung di tempat praktik. Pengelolaan
gagal jantung seyogianya mencakup identifikasi etiologi, mengenali gejala dan
tanda klinis akibat perubahan hemodinamik yang terjadi, pemeriksaan
penunjang yang harus dilakukan dan terapi yang sesuai dengan bentuk PJB,
serta perubahan hemodinamiknya dengan tujuan mencapai tumbuh kembang
dan meningkatkan kualitas hidup yang optimal, mencegah progresi,
dekompensasi, atau kematian.4,5
74
PATOFISIOLOGI GAGAL JANTUNG PADA PJB
Jantung merupakan pompa dengan output yang sebanding dengan volume
pengisian dan berbanding terbalik dengan tahanan yang dialami oleh pompa
tersebut. Curah jantung adalah volume darah yang dipompa setiap ventrikel per
satuan waktu. Kemampuan jantung memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan tubuh dipengaruhi oleh
preload (isi diastolik akhir), afterload
(tahanan yang dialami ejeksi ventrikel), dan kontraktilitas miokardium. Curah
jantung dapat meningkat sampai tahap tertentu dengan meningkatkan
frekuensi jantung atau isi sekuncup. Isi sekuncup dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan preload dan kontraktilitas atau mengurangi afterload.
Pengiriman oksigen ke jaringan bergantung pada curah jantung dan
kandungan oksigen di dalam darah yang sebagian besar diangkut oleh
hemoglobin. Kegagalan pengiriman oksigen dapat terjadi bergantung pada
defek yang terjadi, apakah menganggu preload, afterload, kontraktilitas, irama,
atau derajat sianosis. Sistem kardiovaskular yang tidak efektif pada PJB dapat
bersifat kumulatif akibat kelainan katup, terdapat pirau, obstruksi, aritmia, atau
defek anatomis persisten, atau disfungsi miokardium.
Secara umum gagal jantung pada PJB dapat disebabkan oleh volume overload
akibat pirau kiri ke kanan atau regurgitasi katup, pressure overload akibat
kelainan katup atau lesi obstruktif, disfungsi miokardium instrinsik, hipertensi
paru akibat lesi PJB, disfungsi ventrikel atau penyakit penyerta, hipertensi
sistemik, kelainan koroner yang berhubungan dengan PJB atau penyakit
penyerta, sianosis, dan aritmia yang intractable. Perbedaan ini menyebabkan
manifestasi klinis yang berbeda dan juga berpengaruh terhadap perbedaan
pendekatan tata laksana yang akan diberikan.4,5
75
TATAKELOLA GAGAL JANTUNG
MENENTUKAN ETIOLOGI
Tahap pertama adalah menentukan etiologi gagal jantung berdasar atas tanda
dan gejala klinis serta pemeriksaan penunjang, dilanjutkan dengan menentukan
klasifikasi gagal jantung dan menentukan obat atau tindakan yang diperlukan.13
Pemeriksaan klinis dan penunjang noninvasif dan tes laboratorium dilakukan
untuk menentukan penyebab yang mendasarinya, konfirmasi diagnosis, dan
memastikan keparahan gagal jantung yang terjadi. Evaluasi rutin mencakup foto
dada, elektrokardiogram, dan ekokardiografi, serta kadang diperlukan
pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan laboratorium bila memungkinkan
seperti brain natriuretic peptide [BNP] atau N-terminal pro-BNP [NT-proBNP].2,3
Gejala dan Tanda Klinis Gagal Jantung pada Anak
Gambaran klinis gagal jantung pada anak PJB sangat bervariasi dan unik
bergantung pada bentuk defek dan usia, serta dapat dipakai untuk menegakkan
diagnosis dan klasifikasi gagal jantung. Manifestasi klinis yang umum berupa
mudah lelah, intoleransi aktivitas, napas cepat, sesak napas baik saat istirahat
ataupun aktivitas, diaforesis, pucat, edema, hepatomegali, penurunan perfusi
sistemik, dan sianosis. Selain itu, manifestasi klinis gagal jantung yang
karakteristik pada bayi dan anak adalah kesulitan makan, gagal tumbuh, berat
badan sulit naik, dan malnutrisi.2,3
Manifestasi klinis awal pada bayi baru lahir sering tidak terdeteksi.
Umumnya bayi mengalami kesulitan minum karena dispnea, mudah lelah, dan
anoreksia yang menyebabkan gagal tumbuh. Temuan fisis berupa takipnea,
retraksi ringan hingga berat, atau dispnea dengan merintih, takikardia, irama
gallop, dan hepatomegali. Kesulitan pemberian makan minum pada bayi dan
balita dengan gagal jantung disebabkan oleh waktu yang lama dengan asupan
yang menurun, intoleransi serta muntah, iritabilitas, berkeringat, dan bahkan
penolakan makan. Kondisi ini akan menyebabkan gagal tumbuh dan malnutrisi
serta defisiensi makro dan mikronutrien yang juga akan mengganggu fungsi
76
jantung.2,3,5 Bayi yang mengalami kesulitan makan dan gagal tumbuh dan anak
dengan malnutrisi protein, kalori, atau mikronutrien harus dipertimbangkan
kelainan jantung jika penyebab gastrointestinal primer atau penyebab umum
lainnya sudah dieksklusi (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level B).
Manifestasi klinis pada anak yang lebih besar berupa intoleransi terhadap
latihan, anoreksia, batuk, mengi, rales, irama gallop, hepatomegali serta edema
perifer, dan distensi vena jugularis.2,3,5 Manifestasi klinis yang lebih jarang
berupa palpitasi, syncope, nyeri dada, edema, dan mual muntah. Namun, pasien
PJB sering kali mampu beradaptasi dengan keterbatasan jangka panjang
sehingga tidak mengeluh walaupun ada keterbatasan dalam gangguan aktivitas.
Elektrokardiografi
Semua pasien harus dilakukan pemeriksaan EKG 12-lead pada saat pertama kali
datang dengan gejala gagal jantung untuk melihat iskemia, aritmia dan sindrom
praeksitasi, serta penunjang penyakit jantung bawaan (Rekomendasi kelas I,
peringkat bukti level B). EKG bersifat nonspesifik dengan temuan paling sering
berupa sinus takikardia, hipertrofi ventrikel, blok atrioventrikular derajat
pertama, perubahan ST-T, jarang berupa tanda iskemia. Gangguan irama
jantung pada gagal jantung kronik menunjukkan gagal jantung tahap lanjut dan
dekompensasi. EKG dapat mendiagnosis aritmia secara spesifik sebagai
penyebab gagal jantung, seperti atrial takikardia ektopik, blok atrioventrikular,
atau preeksitasi ventrikel. Terdapat gelombang Q inferolateral sangat khas pada
anomali arteri koroner kiri yang berasal dari arteri pulmonalis (ALCAPA).1-3
Foto dada
Foto dada diindikasikan sebagai pemeriksaan awal pada pasien dengan
kecurigaan gagal jantung (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level C) dan
harus dilakukan pada pasien gagal jantung dengan sesak napas akut atau
perburukan gejala sistem pernapasan. Foto dada berguna untuk menilai
kardiomegali, bentuk khas jantung untuk PJB tertentu, kongesti pulmonal, dan
77
untuk monitor efektivitas terapi gagal jantung. Pada gagal jantung akut
ditemukan edema insterstitial pulmonal dan efusi pleura.6
Ekokardiografi
Transthoracic echocardiography (TTE) merupakan evaluasi diagnostik penting
pada gagal jantung anak untuk menentukan bentuk spesifik defek dari PJB.
Ekokardiografi memberikan data langsung mengenai morfologi dan struktur
jantung, dimensi dan fungsi ventrikel, serta dapat menilai hemodinamik yang
diperlukan untuk membuat diagnosis yang benar dan tata laksana yang tepat.
Semua pasien dengan gejala gagal jantung harus dilakukan pemeriksaan TTE di
fasilitas kardiologi anak sedini-dininya karena penundaan deteksi kelainan
struktural menyebabkan tata laksana yang tepat tertunda serta meningkatkan
komplikasi dan kematian.1-3
Penilaian ekokardiografi mencakup:7
1. mendeteksi kelainan jantung kongenital (terutama arteri koroner);
2. penilaian miokardium sebagai penanda kardiomiopati dilatasi;
3. penilaian fungsi sistole dan diastole ventrikel kiri;
4. penilaian dimensi ventrikel kiri termasuk LV end-diastolic dimension;
5. penilaian regurgitasi katup;
6. penilaian fungsi dan tekanan RV secara kuantitatif dan kualitatif;
7. eksklusi trombus intrakardiak.
(Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level B)
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI Jantung berguna untuk membantu diagnosis PJB kompleks, miokarditis dan
kardiomiopati spesifik, namun dengan penggunaan yang terbatas menyangkut
aspek ketersediaan, biaya, dan aplikasi pada anak (Rekomendasi level IIb,
peringkat bukti level D). MRI jantung dapat digunakan untuk menilai fungsi
ventrikel dan derajat regurgitasi katup sehingga bermanfaat untuk menilai gagal
jantung akibat penyakit jantung bawaan (PJB) kompleks.8
78
Kateterisasi Jantung
Saat ini kateterisasi jantung tidak dipakai sebagai pemeriksaan rutin untuk
gagal jantung anak, akan tetapi dikerjakan pada kondisi khusus seperti iskemia
arteri koroner, kelainan katup kompleks, persiapan transplantasi, pascabedah
jantung, dan apabila pemeriksaan noninvasif lainnya tidak konklusif atau untuk
intervensi (Rekomendasi level I, peringkat bukti C). Menurut AHA (2011)
indikasi kateterisasi diagnostik untuk gagal jantung pada anak adalah untuk
evaluasi akurat gradien tekanan pada pasien dengan penyakit katup kompleks
dan evaluasi parameter hemodinamik (resistensi vaskular paru dan sistemik,
curah jantung, dan indeks jantung) pada pasien Fontan atau selama skrining
pratransplantasi.9
Biomarker Jantung
B-type natriuretic peptide (BNP) adalah salah satu biomarker yang diproduksi
oleh miosit ventrikel sebagai respons terhadap tekanan dan volume yang
berlebihan pada ventrikel. Pada pasien gagal jantung dewasa, kadar BNP serum
telah berkorelasi dengan Klasifikasi New York Heart Association (NYHA) dan
digunakan untuk memperkirakan keparahan penyakit dan memprediksi luaran
klinis, namun terbatas pada pemakaian di populasi anak dengan PJB. Pada studi
Pediatric Carvedilol Trial ditemukan bahwa kadar BNP yang tinggi merupakan
prediktor untuk luaran klinis yang buruk.10 B-type natriuretic peptide
(BNP)/NT-proBNP dapat digunakan sebagai penanda tambahan untuk evaluasi,
membantu diagnosis dan pemantauan pasien dengan gagal jantung untuk
menentukan keparahan, respons terapi, dan perkembangan penyakit
(Rekomendasi IIb, peringkat bukti level B).
Pemeriksaan troponin jantung belum dapat digunakan untuk manajemen
pasien dengan gagal jantung (Rekomendasi III, peringkat bukti level C). Nilai
pediatrik normal untuk isoform troponin jantung telah dilaporkan secara
berbeda dan spesifisitasnya terbatas pada gagal jantung serta mempunyai
79
variabilitas yang luas. Kadar troponin I dilaporkan meningkat pada PJB dengan
pirau kiri ke kanan akibat cedera miokardium karena peningkatan beban
volume dan tekanan, namun pemakaiannya dalam gagal jantung sangat
terbatas.11
MENENTUKAN KLASIFIKASI GAGAL JANTUNG
Klasifikasi gagal jantung menurut kriteria New York Heart Association (NYHA)
tidak dapat diaplikasikan pada populasi anak sehingga dikembangkan
Klasifikasi dari Ross untuk membantu penilaian klinis gagal jantung. Klasifikasi
atau kriteria Ross telah dimodifikasi dengan menggabungkan gejala gagal
jantung pada anak seperti gangguan pemberian makan, gangguan pertumbuhan,
dan gejala intoleransi aktivitas yang sebanding dengan klasifikasi NYHA pada
dewasa serta beberapa pemeriksaan penunjang seperti fraksi ejeksi, insufisiensi
katup, dan kadar NT-pro BNP (Tabel 2).12 Klasifikasi Ross dibuat untuk
stratifikasi pasien berdasar atas gejala, tetapi bukan untuk menegakkan
diagnosis atau menentukan prognosis gagal jantung pada anak (Rekomendasi
kelas I, peringkat bukti level B), serta dipakai untuk pemantauan perkembangan
penyakit dan manajemen pasien (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level C).
MENENTUKAN TATA LAKSANA
Tata laksana untuk gagal jantung anak bergantung pada etiologi dan klasifikasi
gagal jantung. Terapi medikamentosa untuk pengobatan gagal jantung pada
anak terutama berdasar atas studi pada dewasa dan dilakukan modifikasi untuk
kasus tertentu berdasar atas konsensus ahli yang sebagian besar berdasar atas
pengalaman klinis, serial kasus, dan penelitian fisiologis.2,3 Tujuan terapi anak
dengan gagal jantung adalah untuk meredakan gejala, menurunkan morbiditas
dan komplikasi, mengurangi risiko rawat inap berulang, memperlambat
perkembangan gagal jantung, serta meningkatkan kelangsungan dan kualitas
hidup anak.6,7
80
Tabel 1 Klasifikasi Gagal Jantung
Kelas NYHA
I
Tidak terdapat batasan dalam
melakukan aktivitas fisik. Aktivitas
fisik sehari-hari tidak menimbulkan
kelelahan, palpitasi, atau sesak napas.
II
Terdapat batasan aktivitas ringan.
Tidak terdapat keluhan saat istrahat,
namun aktivitas fisik sehari-hari
menimbulkan kelelahan, palpitasi,
atau sesak napas.
III
Terdapat batasan aktivitas bermakna.
Tidak terdapat keluhan saat istrahat,
tetapi aktivitas fisik ringan
menyebabkan kelelahan, palpitasi,
atau sesak.
IV
Tidak dapat melakukan aktivitas fisik
tanpa keluhan. Terdapat gejala saat
istrahat. Keluhan meningkat saat
melakukan aktivitas.
Sumber: Sugimoto dkk.12
Ross
Asimtomatik, tidak ada
pembatasan.
Takipnea ringan dan/atau
berkeringat saat minum pada
bayi, Dispnea saat beraktivitas
pada anak yang lebih besar. Tidak
ada gagal tumbuh.
Takipnea yang bermakna atau
diaforesis
saat minum atau
aktivitas, waktu minum lama
dengan gagal tumbuh.
Gejala saat istirahat dengan
takipnea, retraksi, merintih, atau
berkeringat.
Tabel 2 Sistem Skor Ross untuk Gagal Jantung pada Anak
Minum (cc)
Waktu
minum
(menit)
Nausea/muntah
Pola napas
Laju napas/menit
Laju
jantung/menit
Usia
0–3 bulan
4–36
bulan
0–3 bulan
0
>105
Normal
1
75–105
Menurun
2
<75
Bantuan
<20
20–40
>40
4–18
tahun
0–18
tahun
0–3 bulan
4–12
1–3
4–8 tahun
9–18
tahun
0–3
Tidak
Intermiten
Sering
Normal
Takipnea
Retraksi
<50
<40
<30
<25
<20
50–60
40–50
30–40
25–35
20–30
>60
>50
>40
>35
>30
<160
160–170
>170
4–12
1–3
4–18
<120
<110
<100
120–130
110–120
90–100
>130
>120
>100
81
Perfusi
Hepatomegali
(cm)
Pertumbuhan
Wt%
EF (%)
AV insufisiensi
NT-proBNP
(pg/mL)
0–18
tahun
0–18
tahun
1–8 tahun
Normal
Menurun
Shocky
<2
2–3
>3
Normal
Terganggu
4–12
bulan
0–18
tahun
0–18
tahun
0–3 tahun
Normal
≥1 curved
Sangat
terganggu
≥2 curved
>50
30–50
<30
Tidak ada
Ringan
Sedang-berat
<450
450–1.700
>1.700
<300
>80
300–1.500
60–80
>1.500
<60
4–18
9–18
tahun
Sumber: Sugimoto dkk.12
Maks. VO2
Keterangan: Klasifikasi Ross I (0–5), II (6–10), III (11–15), dan IV (16–20)
Diuretika
Penggunaan diuretika untuk memperbaiki status euvolemik direkomendasikan
untuk anak gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang normal. Pilihan loop diuretik,
yaitu furosemid dengan dosis 0,5 ̶ 1 mg/kgBB setiap 12 jam intravena atau oral
setiap 6 ̶ 12 jam (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level C). Pada pasien gagal
jantung dengan EF normal dan dalam terapi inisiasi serta titrasi terapi diuretik
harus dilakukan pengawasan fungsi ginjal dan tekanan darah (Rekomendasi
kelas I, peringkat bukti level C)
Loop diuretika berperan sangat penting untuk manajemen akut pasien
dengan gagal jantung simtomatik. Akan tetapi, sampai saat ini penelitian
efektivitas dan efek samping loop diuretik pada populasi anak dengan gagal
jantung sangat terbatas. Pada systematic review Cochrane didapatkan terapi
diuretik dengan gagal jantung kronik pada dewasa efektif meredakan gejala,
mengurangi episode perburukan gagal jantung, meningkatkan kapasitas latihan,
dan meningkatkan kelangsungan hidup.13
Spironolakton merupakan diuretika jenis aldosteron antagonis yang dapat
memberikan
efek
menguntungkan
tambahan
dengan
mengurangi
82
perkembangan fibrosis miokardium yang diinduksi aldosteron dan pelepasan
katekolamin. Manfaat terapi spironolakton sudah terbukti dengan berbagai uji
klinis pada dewasa, akan tetapi belum ada uji klinis spironolakton pada anak.
Pemberiaan spironolakton pada anak lebih berdasar atas konsensus dengan
meta-analisis dan uji klinis acak randomisasi pada dewasa. Konsensus Canadian
Cardiovascular Society merekomendasikan pemberian spironolakton pada anak
dengan gagal jantung sistolik kronik dengan fungsi ginjal normal. Pengawasan
fungsi ginjal dan kadar kalium darah diharuskan saat pemberiaan kombinasi
aldosteron antagonis dengan ACE inhibitor.3
Komplikasi potensial terapi diuretik termasuk kelainan elektrolit
(hiponatremia, hipo- atau hiperkalemia, dan hipokloremia) dan alkalosis
metabolik. Keseimbangan elektrolit harus dimonitor dengan hati-hati, terutama
selama terapi agresif diuretik karena miokardium pada gagal jantung lebih
sensitif terhadap aritmia akibat gangguan elektrolit.2,3
ACE-inhibitor (ACEi)
ACEi dapat diberikan pada gagal jantung dengan disfungsi LV simtomatik (gagal
jantung kelas Ross III) yang dimulai dari dosis kecil yang dinaikkan bertahap,
kecuali terdapat kontraindikasi (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level B).
ACEi dapat diberikan pada gagal jantung dengan disfungsi LV asimtomatik
(gagal jantung kelas Ross II) kecuali terdapat kontraindikasi spesifik
(Rekomendasi kelas IIa, peringkat bukti level B). ACEi tidak boleh diberikan
pada pasien PJB dengan single ventricle, tetapi dapat dipertimbangkan pada
kondisi regurgitasi katup atau disfungsi ventrikel (Rekomendasi kelas IIb,
peringkat bukti level B).
Uji coba klinis acak pada pasien dewasa telah berulang kali menunjukkan
bahwa terapi ACEi mengurangi gejala dan meningkatkan kelangsungan hidup
pasien gagal jantung pada dosis optimal. Studi pada anak telah difokuskan
terutama
pada
penanda
hemodinamik.
Beberapa
data
retrospektif
menunjukkan manfaat ACEi untuk meningkatkan survival rate untuk anak
83
dengan kardiomiopati dilatasi dan gagal jantung. Meskipun banyak digunakan,
namun belum ada randomized controlled trial terapi ACEi untuk menilai luaran
kelangsungan hidup pada anak dengan gagal jantung simtomatik. ACEi dapat
mencegah, mengurangi, dan menormalkan kembali proses patofisiologis
remodeling miokardium. Selain itu, ACEi juga menurunkan afterload dengan
mengambat aktivasi sistem renin-angiotensin.
Dosis ACEi dimulai dengan dosis kecil saat awal pemberian untuk mencegah
hipotensi berlebihan dan titrasi naik ke dosis target dengan pemantauan
tekanan darah, fungsi ginjal, dan kalium serum secara hati-hati. Jenis ACEi
pilihan pertama adalah captopril diberikan per oral dengan dosis harian 0,3 ̶ 1,5
mg/kgBB pada anak atau enalapril per oral dengan dosis 0,1 ̶ 0,5 mg/kgBB, satu
atau dua kali sehari.14
Penggunaan ARA belum terbukti pada gagal jantung anak. Berdasar atas
data uji klinis pada dewasa, konsensus ISLHT merekomendasikan penggunaan
ARA pada anak dengan disfungsi sistolik ventrikel yang tidak toleran dengan
ACEi.3
β-Adrenergic antagonists
β-blocker dapat diberikan pada anak gagal jantung simtomatis dengan disfungsi
sistolik LV, terutama bila ventrikel kiri sebagai pompa sistemik. Terapi dimulai
dengan dosis rendah dan dinaikkan bertahap (Rekomendasi kelas IIa, peringkat
bukti level B). β-Adrenergic antagonists pada dewasa bermanfaat karena
menghambat respons maladaptif simpatis, menurunkan denyut jantung dan
memperbaiki fungsi diastolik ventrikel, namun efikasi beta bloker pada anak
belum jelas.
Carvedilol (nonselective B-adrenoreceptor antagonist dengan α-adrenergic
blocking) dapat digunakan pada anak dengan gagal jantung. Walaupun terdapat
peningkatan fraksi ejeksi, pemberian carvedilol pada anak dan remaja dengan
gagal jantung sistolik simtomatis dengan fisiologi single ventricle dan systemic
right ventricle tidak menunjukkan perbaikan klinis setelah terapi 8 bulan. Dosis
84
carvedilol pada pasien anak bergantung pada usia dan berat badan. Berdasar
atas simulasi dosis, semakin muda usia pasien semakin besar dosis yang
dibutuhkan sesuai berat badan untuk mencapai kadar carvedilol darah yang
sama dengan dewasa. Dosis harian untuk bayi (28 hari ̶ 23 bulan), anak (2 ̶ 11
tahun), dan remaja (12 ̶ 15 tahun) adalah 3, 2, dan 1 mg/kgBB, diberikan dalam
2 ̶ 3 dosis terpisah.15
Glikosida jantung
Efektivitas digoksin pada pasen dewasa dengan gagal jantung sudah jelas dapat
menurunkan kejadian rawat inap dan memperbaki kualitas hidup, tetapi tidak
meningkatkan survival. Sampai saat ini tidak ada data yang mendukung
penggunaan digoksin pada anak dengan struktur jantung normal dan disfungsi
sistolik sehingga belum ada rekomendasi terhadap penggunaan digoksin pada
anak.2,3 Konsensus ISHLT merekomendasikan pemberian digoksin pada anak
gagal jantung simtomatis dengan penurunan fraksi ejeksi, namun tidak
direkomendasikan untuk anak dengan struktur jantung normal dan disfungsi
diastolik (Rekomendasi kelas I, peringkat bukti level C).
Digoksin dapat
diberikan untuk memperbaiki gejala pada anak gagal jantung simtomatis dan
fraksi ejeksi rendah dengan dosis digoksin yang lebih rendah pada pemberian
bersamaan
dengan
carvedilol dan
amiodaron, serta
disfungsi
renal
(Rekomendasi kelas IIa, peringkat bukti level C).
Antiaritmia
Aritmia merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas anak gagal
jantung dengan kardiomiopati dilatasi. Data efektivitas antiaritmia pada anak
gagal jantung sangat kurang dan penggunaannya lebih didasar atas uji klinis
pada pasien dewasa. Penggunaan antiaritmia terbatas untuk aritmia yang
menetap setelah koreksi gangguan elektrolit dan metabolik, serta untuk aritmia
yang tidak mampu ditoleransi anak (Rekomendasi kelas IIb, peringkat bukti
level C). Antiaritmia tidak boleh digunakan secara rutin untuk gagal jantung
85
dengan fraksi ejeksi yang rendah (Rekomendasi kelas III, peringkat bukti level
C) karena mempunyai efek inotropik negatif dan dapat mencetuskan aritmia
baru. Amiodaron merupakan antiaritmia yang sering digunakan dengan
toleransi yang baik pada anak, akan tetapi pemberian intravena berhubungan
dengan hipotensi dan kolaps kardiovaskular.2,3
DAFTAR PUSTAKA
1. Hsu DT, Pearson GD, Fail CH. Heart failure in children part I: history, etiology,
and pathophysiology. Circ Heart Fail. 2009;2:63–70.
2. Masarone D, Valente F, Rubino M, Vastarella R, Gravino R, Rea A, dkk. Pediatr
heart fail: a practical guide to diagnosis and management. Pediatr Neonatol.
2017;58:303–12.
3. Kantor PF, Lougheed J, Dancea A, McGillion M, Barbosa N, Chan C, dkk.
Presentation, diagnosis, and medical management of heart failure in
children: Canadian cardiovascular society guidelines. Can J Cardiol. 2013;
29:1535–52.
4. Stout KK, Broberg CS, Book WM, Cecchin F, Chen JM, Dimopoulos K, dkk.
Chronic heart failure in congenital heart disease. Circulation. 2016;133:770 ̶
801.
5. Hinton RB, Ware SM. Heart failure in pediatric patients with congenital heart
disease. Circ Res. 2017;120:978–94.
6. Satou GM, Lacro R V, Chung T, Gauvreau K, Jenkins KJ. Heart size on chest Xray as a predictor of cardiac enlargement by echocardiography in children.
Pediatr Cardiol. 2001;22:218–22.
7. Lopez L, Colan SD, Frommelt PC, Ensing GJ, Kendall K, Younoszai AK, dkk.
Recommendations for quantification methods during the performance of a
pediatric echocardiogram: a report from the Pediatric Measurements
Writing Group of the American Society of Echocardiography Pediatric and
Congenital Heart Disease Council. J Am Soc Echocardiogr. 2010;23:465–95.
8. Valsangiacomo BER, Grosse-Wortmann L, Fratz S, Eichhorn J, Sarikouch S,
Greil GF, dkk. Indications for cardiovascular magnetic resonance in children
with congenital and acquired heart disease: an expert consensus paper of
the Imaging Working Group of the AEPC and the Cardiovascular Magnetic
Resonance Section of the EACVI. Eur Hear J. 2015;16:281–97.
9. Feltes TF, Bacha E, Iii RHB, Cheatham JP, Feinstein JA, Gomes AS, dkk.
Indications for cardiac catheterization and intervention in pediatric cardiac
disease: a scientific statement from the American Heart Association. AHA
journal. 2011;12;2607–52.
10. Ross RD. The Ross classification for heart failure in children after 25 years:
a review and an age-stratified revision. Pediatr Cardiol. 2012;33:1295–300.
86
11. Auerbach SR, Richmond ME, Lamour JM, Blume ED, Addonizio LJ, Shaddy RE,
dkk. BNP levels predict outcome in pediatric heart post hoc analysis of the
Pediatric Carvedilol Trial. Circ Hear Fail. 2010;3:606–11.
12. Sugimoto M, Ota K, Kajihama A, Nakau K, Manabe H, Kajino H. Volume
overload and pressure overload due to left-to-right shunt-induced
myocardial injury. Circ J. 2011;75:2213–9.
13. Faris RF, Flather M, Purcell H, Poole-Wilson PA, Coats AJ. Diuretics for heart
failure. Cochrane Database Syst Rev. 2012;2:CD003838.
14. Momma K. ACE inhibitors in pediatric patients with heart failure. Paediatr
Drugs. 2006;8:55-69.
15. Albers S, Meibohm B, Mir TS, Läer S. Population pharmacokinetics and dose
simulation of carvedilol in paediatric patients with congestive heart failure.
Br J Clin Pharmacol. 2007;65(4):511–22.
87
ASMA PADA ANAK: ADAKAH SESUATU YANG BARU?
Sri Sudarwati
PENDAHULUAN
Meskipun penyakit asma telah dikenal sejak 1800 tahun yang lalu, namun
definisi asma berkembang pelan-pelan dalam 3 dekade terakhir ini berdasar
atas patofisiologi yang mendasari dan manifestasi klinis yang berbeda-beda
pada setiap individu. Gejala respiratori dan penurunan fungsi paru (aliran udara
ekspirasi) bervariasi setiap waktu (hilang timbul) dipengaruhi oleh faktor
pencetus (trigger) seperti aktivitas fisik, alergen, pajanan iritan, perubahan
cuaca, dan infeksi virus saluran respiratori. Gejala respiratori dan penurunan
aliran udara ekspirasi ini dapat hilang spontan atau berkat pengobatan dan
dapat tidak muncul beberapa minggu atau bulan. Pasien dapat mengalami
perburukan gejala klinis secara tiba-tiba, disebut eksaserbasi akut asma dan
dapat menimbulkan kondisi mengancam jiwa.1,2
Fenotip asma sebagai dasar memberikan terapi meliputi asma alergik dan
nonalergik, asma onset lambat, asma pada obesitas, serta asma dengan
penurunan fungsi paru yang menetap. Diagnosis asma dibuat berdasar atas
gejala pada saluran respiratori dan bukti penurunan aliran udara ekspirasi.
Penilaian asma meliputi derajat kontrol dan evaluasi pengobatan termasuk
evaluasi catatan harian asmanya serta mencari faktor komorbid. Selanjutnya,
pengobatan asma yang efektif memerlukan kerjasama yang baik antara dokter
dan pasien asma karena tujuan pengobatan asma adalah mencapai derajat
kontrol penuh dan meminimalkan risiko eksaserbasi, memperbaiki fungsi paru,
dan mengurangi efek samping obat. Pengobatan jangka panjang asma meliputi
pemberian obat pengendali (cotroller), obat pereda serangan (reliever), dan bila
perlu obat tambahan pada asma derajat persisten berat. Penanganan
eksaserbasi asma meliputi penanganan di rumah, di ruang gawat darurat, ruang
rawat sehari, dan ruang intensif bergantung pada derajat beratnya
88
eksaserbasinya. Strategi pencegahan asma adalah menghindari alergen
lingkungan yang dimulai sejak bayi berada dalam kandungan, kemudian awal
kehidupan dan seterusnya. Perjalanan asma dikendalikan oleh interaksi faktor
genetik dan lingkungan. Rekomendasi terbaru pada strategi pencegahan asma
antara lain menghindari asap rokok terutama sejak dalam kandungan sampai
tahun pertama kehidupan, persalinan diupayakan per vaginam, serta
memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif.1-3 Dengan perkembangan pengetahuan
dan berbagai hasil penelitian terdapat beberapa hal baru tentang asma yang
perlu kita ketahui bersama.
EPIDEMIOLOGI
Asma adalah penyakit respiratori kronik yang ditemukan pada 1–18% seluruh
populasi di berbagai negara. Penyakit saluran respiratori kronik termasuk asma
ditemukan pada lebih dari 1 miliar penduduk dunia, dan persentase terbesar
adalah asma termasuk asma anak. Beberapa barier dalam mendiagnosis asma
di Indonesia antara lain prevalensi penyakit infeksi masih tinggi sehingga
perhatian para dokter terhadap penyakit asma menjadi kurang menyebabkan
diagnosis dan manajemen asma terlambat. Selain itu, juga karena akses
memperoleh fasilitas kesehatan dalam diagnosis dan pengobatan asma masih
kurang. Alat inhalasi untuk pengobatan asma yang masih mahal, edukasi asma
yang masih kurang, dan kurang penulisan buku harian asma (written asthma
action plan) semuanya menjadi barier tata laksana asma di Indonesia. Mekipun
Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) Indonesia telah direvisi kembali pada
tahun 2015, namun penggunaan alat-alat pemeriksaan penunjang untuk asma
seperti spirometer masih belum banyak digunakan sehingga diagnosis asma
anak lebih berdasar atas klinis. Sejak tahun 2015 Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia bersama PP IDAI mengadakan pelatihan asma anak di
beberapa provinsi serta mendukung pengadaan obat-obat asma inhalasi melalui
BPJS agar pengobatan asma lebih baik dan angka kejadian asma dapat lebih
dipastikan.3
89
Salah satu upaya dalam Sustainable Development Goals (SDGs) antara lain
meliputi penyakit tidak menular termasuk penyakit kronik saluran napas
seperti asma. Angka kematian akibat penyakit tidak menular diharapkan turun
seperempatnya pada tahun 2030. Kemampuan dalam tata laksana asma
termasuk pemeriksaan uji fungsi paru dengan spirometri dan pemberian steroid
inhalasi sebagai obat pengendali asma sampai saat ini belum tersedia di fasilitas
kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Indonesia. Global Asthma Report 2018
menekankan isu penting, yaitu pencegahan dan tata laksana termasuk akses
untuk mendapatkan obat asma yang tepat. Angka kejadian asma anak di
beberapa
provinsi
di
Indonesia
menurut
hasil
survei
(2008–2017)
menggunakan kuesioner dari International Study of Asthma and Allergies in
Childhood (ISAAC) bervariasi antara 4% sampai 11% pada kelompok usia 6–7
tahun dan 6–13% pada kelompok usia 13–14 tahun. Sampai saat ini belum
tersedia data secara nasional mengenai jumlah kunjungan ke instalasi gawat
darurat (IGD), jumlah anak dirawat, dan jumlah anak meninggal akibat asma di
Indonesia. Prevalensi asma anak meningkat meskipun manajemen dan tata
laksana asma mengalami kemajuan. Setiap tahun terjadi peningkatan prevalensi
asma anak sebesar 50%. Studi yang dilakukan di 97 negara 233 pusat studi
menggunakan metode ISAAC fase 3 mendapatkan angka prevalensi wheezing
pada usia 6–7 tahun bervariasi 2,4–37,6% dan pada usia 13–14 tahun 0,8–
32,6% serta prevalensi ini cenderung lebih besar pada anak di wilayah urban.1
DEFINISI
Asma merupakan penyakit heterogen yang ditandai inflamasi kronik saluran
respiratori yang bermanifestasi sebagai wheezing (mengi), sesak napas (napas
pendek), rasa dada tertekan (dada terasa berat), dan batuk dengan intensitas
bervariasi dari waktu ke waktu, disertai penurunan aliran udara ekspirasi yang
bervariasi pula.2,4
90
Pada seputar tahun 1980 asma dikenal sebagai penyakit inflamasi saluran
respiratori yang disertai oleh suatu perubahan struktur (remodeling) yang
terjadi sejak awal perjalanan penyakit. Selanjutnya, pada abad 20 para peneliti
menyatakan bahwa gambaran utama asma adalah konstriksi otot polos disertai
peningkatan sensitivitas yang berlebihan pada saluran respiratori (hyperresponsiveness). Studi prevalensi asma pada anak umumnya menggunakan
kuesioner yang berisi pertanyaan tentang gejala klinis asma dalam 12 bulan
terakhir. Simtom atau gejala klinis asma adalah wheezing (mengi), sesak napas,
rasa dada tertekan, batuk, dan produksi lendir berlebihan. Tiga komponen yang
digunakan untuk mendiagnosis asma, yaitu inflamasi kronik saluran respiratori,
obstruksi saluran respiratori yang bersifat reversibel, dan peningkatan
reaktivitas bronkus.4
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
Imunopatogenesis. Komponen utama patogenesis asma anak adalah
berkembangnya sensitisasi alergi pada saluran respiratori. Sensitisasi terhadap
makanan atau aeroalergen dimulai dari epitel mukosa saluran respiratori atau
permukaan barier mukosa, mukosa saluran respiratori ini akan terpapar terus
menerus berbagai antigen, mikroorganisme, dan polutan yang akan
menyebabkan respons imun berlebihan pada individu asma. Pada asma
permukaan barier mukosa saluran respiratori ini mengalami kebocoran
sehingga antigen dapat menembus masuk epitel selanjutnya ditangkap oleh
antigen presenting cells (APC) dan dendritic cells (DC). Antigen yang telah
dikenali ini akan dipresentasikan ke sel reseptor di seluruh permukaan lumen
saluran respiratori untuk dibawa ke dalam aliran limfe mediastinum, kemudian
direspons oleh sel T yang berdiferensiasi menjadi T-Helper 2 di bawah pengaruh
interleukin (IL)-4. Selanjutnya, TH-2 masuk sel-sel parenkim paru, bila terjadi
reaksi alergi selanjutnya maka akan melepas sitokin IL-5 dan IL-13 serta
dipresentasikan ke sel B menyebabkan peningkatan sekresi imunoglobulin (Ig)
91
E dan dilepas ke dalam sirkulasi darah dan parenkim paru sebagai persiapan
menghadapi antigen selanjutnya. Mediator pada reaksi alergi yang terjadi pada
asma adalah IL-4, IL-5, dan IL-13. Sel-sel yang berperan pada respons imun anak
asma adalah sel mast, eosinofil, limfosit T, sel dendritik, makrofag, dan
neutrofil.2
Gambar 1 Patogenesis Asma
Sumber: Kendigs2
Sel mast yang teraktivasi akan melepaskan histamin, leukotrien, prostaglandin
D2, dan menimbulkan bronkokonstriksi otot polos saluran respiratori yang
terkait dengan hiperreaktivitas. Eosinofil berperan melepaskan protein yang
merusak epitel saluran respiratori, pelepasan growth hormone, dan
meningkatkan remodeling. Limfosit T meningkatkan produksi IL-4, IL-5, IL-9,
dan IL-13 melalui sel Th2. Sel Th2 ini diproduksi oleh sel dendritik melalui
migrasinya ke kelenjar limfe mediastinum. Makrofag yang teraktivasi oleh IgE
berperan dalam memproduksi mediator inflamasi dan sitokin-sitokin. Neutrofil
meningkat pada dahak pasien asma berat dan perannya dalam patogenesis
belum jelas. Edema saluran respiratori disebabkan oleh peningkatan kebocoran
92
mikrovaskular sebagai respons terhadap mediator-mediator inflamasi berperan
selama eksaserbasi akut asma. Penebalan saluran napas karena perubahan
struktural sering kali disebut remodeling. Hipersekresi mukus terjadi akibat
penumpukan eksudat inflamasi.2
Patofisiologi.
Patofisiologi yang terjadi pada asma adalah obstruksi dan hiperreaktivitas
saluran respiratori. Asma merupakan inflamasi kronik saluran respiratori yang
spesifik ditandai peningkatan eosinofil pada lumen dan dindingnya,
menyebabkan perubahan struktur dinding saluran respiratori diikuti oleh
remodeling, kondisi demikian menimbulkan penurunan fungsi paru. Perubahan
struktural lain termasuk penebalan subepitel reticular basement membrane
(RBM) sehingga jumlah dan ukuran otot polos saluran respiratori bertambah.
Demikian pula dengan jumlah vaskular bertambah (angiogenesis). Seluruh
perubahan ini terjadi pada asma usia sekolah sampai dewasa. Perubahan
struktur saluran respiratori yang terjadi asma alergi adalah airway
hyperrensponsiveness, inflamasi, eosinofil, dan airway remodeling yang
ketiganya berjalan bersama-sama secara paralel. Meskipun patologi yang terjadi
pada asma anak terutama disebabkan oleh inflamasi eosinofil, tetapi
pengendalian asma melalui proses ini saja tidak cukup untuk mengatasi asma.
Profil inflamasi bervariasi pada setiap anak asma. Fenotip asma berdasar atas
pola inflamasi saluran respiratori dibagi menjadi asma eosinofilik, neutrofilik,
pauci-granulositik (asma noninflamasi), serta kombinasi. Fenotip inflamasi ini
dapat berubah-ubah pada setiap pasien pada setiap waktu yang sangat
dipengaruhi oleh infeksi virus akut pada saluran respiratori yang dapat
mengubah tipe eosinofilik menjadi neutrofilik. Perubahan fenotip inflamasi ini
tidak bergantung pada gejala klinis, eksaserbasi, manifestasi penyakit, dan
pergantian terapi sehingga pengendalian asma hanya ditujukan untuk
eosinofilik menjadi kurang efektif. Patofisiologi yang terjadi pada asma meliputi
penurunan aliran udara ekspirasi akibat proses obstruksi, edema mukosa,
93
bronkospasme, dan sumbatan mukus. Proses obstruksi bervariasi bergantung
pada usia anak, anatomi saluran respiratori, dan faktor pencetus obstruksi.
Selanjutnya, obstruksi ini akan meningkatkan tahanan saluran respiratori dan
menurunkan aliran udara ekspirasi sehingga terjadi hiperinflasi paru dan upaya
otot pernapasan meningkat. Perubahan aliran udara ekspirasi ini tidak sama
pada seluruh saluran respiratori. Pada asma terjadi obstruksi pada saluran
respiratori yang besar dan kecil-kecil, hanya beberapa pasien yang mengalami
obstruksi pada saluran yang kecil. Terjadi tekanan intraalveolar yang tinggi dan
tidak sesuai dengan penurunan perfusinya menyebabkan ketidakpadupadanan
ventilasi-perfusi (ventilation-perfussion missmatch). Pada eksaserbasi yang
singkat terjadi bronkospasme dan edema mukosa. Pada sebagian kecil
eksaserbasi hanya terjadi bronkospasme dengan sekresi mukus yang minimal.
Bila inflamasi makin meningkat maka terjadi produksi mukus berlebihan yang
menyebabkan obstruksi bersama dengan kerusakan epitel saluran respiratori
dan penurunan fungsi bersihan mukosilier.2
DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI
Diagnosis asma anak dibuat berdasar atas riwayat gejala obstruksi saluran
respiratori yang reversibel dan episodik. Untuk konfirmasi diagnosis asma pada
anak diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan uji fungsi paru
menggunakan spirometri pada anak usia 7 tahun atau lebih. Gejala yang paling
banyak dikeluhkan adalah wheezing ekspiratoar yang berulang, meskipun
orangtua atau anak lebih besar sering tidak dapat menggambarkan keluhan ini
dengan jelas, sering dikeluhkan sebagai mengorok atau napas grok-grok
sehingga demo video wheezing sangat diperlukan sebagaimana yang dilakukan
pada penelitian ISAAC dalam menentukan prevalensi asma pada anak. Kadang
hanya dikeluhkan batuk dan sesak napas tanpa wheezing bila obstruksi terjadi
pada percabangan saluran respiratori yang kecil-kecil. Batuk jarang sekali
menjadi gejala klinis tunggal dan umumnya disertai dengan gejala asma yang
lain. Batuk yang membaik dengan pemberian bronkodilator kerja cepat
94
misalnya salbutamol dan memburuk bila salbutamol diberhentikan. Anak lebih
besar juga sering mengeluhkan bila mengalami selesma terasa sampai ke dada.
Semua gejala ini lebih sering muncul atau memberat pada malam hari atau awal
pagi hari. Pada anamnesis sering didapatkan riwayat atopi (rinitis alergi,
ekzema, asma) pada orangtua dan riwayat penyakit atopi selain asma pada 2/3
anak dengan asma.2 Pada pemeriksaan fisis asma anak di luar eksaserbasi, paru
sering normal, wheezing dapat tidak ditemukan atau terdengar melalui manuver
ekspirasi kuat, kadang hanya ditemukan pemanjangan fase ekspirasi tanpa
disertai wheezing. Pada asma berat sering tidak terdengar wheezing karena
terlalu sedikit udara yang masuk melalui inspirasi sehingga tidak menimbulkan
perubahan suara. Pada pemeriksaan uji fungsi paru ditemukan penurunan
forced-expiratory volume in one second (FEV1) yang dapat normal bila tidak ada
eksaserbasi, serta penurunan rasio FEV1/FVC atau forced vital capacity yang
lebih akurat dibanding dengan nilai FEV1 saja. Bila pasien sedang tidak
eksaserbasi maka dapat dilakukan tes reversibilitas menggunakan salbutamol
inhalasi dan peningkatan FEV1 12% atau lebih mempunyai nilai diagnostik.2,4–6
95
Berikan b - agonis
selama 3 – 5 hari
Tambahan steroid
sistemik 3 – 5 hari
Gambar 2 Alur Diagnosis Asma pada Anak
Sumber: PNAA3
Batuk hilang timbul dan wheezing fase ekspirasi merupakan gejala klinis
kronik yang paling banyak ditemukan pada asma anak. Anak yang lebih besar
sering mengeluhkan rasa dada tertekan atau dada terasa berat, kadang rasa
sakit dada yang tidak terlokalisir. Semua gejala respiratori ini umumnya
memburuk pada malam hari dan mengganggu tidur terutama serangan asma
yang dipicu oleh infeksi virus serta alergen inhalan. Gejala klinis serangan pada
siang hari umumnya berhubungan dengan aktivitas fisik (exercise-induced
96
asthma). Kadang gejala klinis serangan asma tidak tampak secara jelas dan tidak
spesifik misalnya kemampuan aktivitas fisik yang terbatas atau kelemahan
umum. Riwayat perbaikan gejala klinis setelah pemberian bronkodilator dan
kortikosteroid dapat menyokong diagnosis asma. Apabila gejala klinis tetap
setelah
pemberian
bronkodilator
dan
kortikosteroid
maka
perlu
dipertimbangkan kondisi lain yang mirip asma.2,4
Tabel 1 Kriteria Diagnosis Asma Anak
Gejala
Mengi, batuk, sesak napas, rasa dada
tertekan, produksi sputum banyak
Karakteristik
Umumnya gejala respiratori lebih dari 1.
Intensitas gejala fluktuasi setiap waktu.
Gejala memberat pada malam hari.
Gejala muncul bila ada pencetus.
Gambaran obstruksi saluran respiratori
FEV1 < 80% nilai prediksi.
Rasio FEV1/FVC ≤ 90%.
Uji reversibilitas
Peningkatan FEV1 >12%.
Variabilitas
Perbedaan PEFR harian >13%.
Uji provokasi
Penurunan FEV1 >20% atau PEFR >15%.
Sumber: PNAA3
Klasifikasi berdasar atas kekerapan munculnya gejala ditentukan setelah dibuat
diagnosis kerja sesuai derajat penyakit asmanya serta dilakukan tata laksana
secara umum terlebih dahulu (pengendalian faktor lingkungan dan
penghindaran faktor pencetus selama 6 minggu). Tata laksana diberikan sesuai
dengan klasifikasi derajat asma atau klasifikasi kekerapan pada kunjungan awal.
Apabila ada keraguan dalam menentukan klasifikasi kekerapan, maka sebaiknya
dimasukkan kelompok klasifikasi yang lebih berat. Bila pasien telah mendapat
obat pengendali maka klasifikasinya dibuat berdasar atas derajat kendali
(kontrol)nya setiap 6 – 8 minggu.
97
Tabel 2 Klasifikasi Kekerapan Gejala Asma
Derajat Asma
Kekerapan Gejala Asma
Intermiten
Gejala 6X/tahun atau jarak antar gejala ≥ 6 minggu
Persisten ringan
Gejala > 1X/bulan , < 1X/minggu
Persisten sedang
Gejala > 1X/minggu, tetapi tidak setiap hari
Persiten berat
Gejala asma hampir setiap hari
Sumber: PNAA3
Tabel 3 Derajat Kontrol Asma
Parameter Kontrol Terkontrol Penuh
Terkontrol
Sebagian
Tidak
Terkontrol
≤2 hari/minggu.
>2 hari/minggu.
Setiap hari.
Tidak lebih 1x/hari.
Tidak setiap hari.
Bangun malam
≤1x/bulan.
≥2x/bulan.
≥2x/minggu.
Aktivitas terbatas
Tidak ada.
Beberapa.
Sangat banyak.
Pemakaian
salbutamol
≤2 hari/minggu.
>2 hari/minggu.
0–1x/tahun.
≥2x/tahun.
Beberapa
kali/hari.
Gejala
Pemakaian steroid
pada eksaserbasi
Pernah dirawat
FEV1 atau PEFR
>80% prediksi.
60–80% prediksi.
FEV1/FVC
>80%.
75–80%.
karena asma/ICU
<60% prediksi.
<75%.
Sumber: Kercsmar dan McDowell2
Asma eksaserbasi akut adalah episode peningkatan progresif (perburukan)
salah satu atau lebih dari gejala klinis batuk, sesak napas, mengi (wheezing), rasa
dada tertekan (chest tightness) yang dipicu oleh faktor pencetus atau pajanan
terhadap alergen, dapat pula karena ketidakpatuhan pemakaian
obat
98
pengendali (controller). Pada episode eksaserbasi akut tersebut akan terjadi
penurunan uji fungsi paru.
Eksaserbasi asma dapat dipicu oleh berbagai kondisi atau pajanan
terhadap alergen antara lain aktivitas fisik, hiperventilasi (tertawa), udara
dingin atau kering, berbagai iritan saluran respiratori (alergen indoor,
aeroalergen, polutan, bau menyengat, lingkungan, komorbid, dan obat-obatan).
Beberapa pajanan yang memicu inflamasi saluran respiratori adalah infeksi
patogen
saluran
metapneumovirus,
napas
atas
(rhinovirus,
parainfluenza
virus,
respiratory
influenza
syncitial
virus,
virus,
adenovirus,
Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae), alergen inhalasi serta udara
dingin atau kering. Terdapat faktor risiko seperti penyakit alergi lain misalnya
rinitis, konjungtivitis, dermatitis atopik, alergi makanan, dan riwayat asma pada
orangtua dapat menyokong diagnosis asma. Sebagian besar pasien asma yang
berkunjung ke poli rawat jalan tidak menunjukkan gejala klinis serangan akut
dan hanya diperoleh anamnesis yang dapat ditemukan wheezing pada saat
pasien diminta melakukan inhalasi dan ekspirasi maksimal, serta perbaikan
gejala klinis setelah pemberian bronkodilator dapat pula menyokong diagnosis
asma.1,2
Pada eksaserbasi akut asma ditemukan wheezing ekspiratoir dan
pemanjangan fase ekspirasi yang terdengar saat auskultasi. Obstruksi saluran
respiratori menyebabkan hipoventilasi yang bermanifestasi penurunan suara
napas pada beberapa area paru terutama lobus inferior kanan bagian belakang.
Kadang terdengar crackles akibat produksi mukus yang sangat banyak dan
eksudat inflamasi saluran respiratori.
99
Tabel 4 Derajat Keparahan Serangan Asma Akut
Asma Serangan Ringan
Sedang
Asma Serangan Berat
• Bicara dalam kalimat
• Lebih nyaman duduk
daripada berbaring
• Tidak gelisah
• Frekuensi napas
meningkat
• Frekuensi nadi
meningkat
• Retraksi minimal
• SpO2 (udara kamar):
90 – 95 %
• PEF >50% prediksi
atau terbaik
Sumber: PNAA 20153
• Bicara dalam kata
• Duduk bertopang
lengan
• Gelisah
• Frekuensi napas
meningkat
• Frekuensi nadi
meningkat
• Retraksi jelas
• SpO2 (udara kamar):
<90%
• PEF ≤50% prediksi
atau terbaik
Serangan Asma Dengan
Ancaman Henti Napas
• Mengantuk
• Letargi
• Suara napas tak
terdengar
Penilaian derajat eksaserbasi (serangan) asma akut pada anak dibagi menjadi
serangan asma derajat ringan-sedang, berat, dan ancaman henti napas. Derajat
serangan asma akut berbeda dengan derajat penyakit asma (lebih bersifat aspek
kronik). Seorang anak asma persisten berat dapat saja mengalami serangan
asma derajat ringan-sedang, sebaliknya anak dengan asma intermiten dapat
mengalami serangan asma derajat berat bahkan acaman henti napas yang dapat
mengakibatkan kematian.
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadi serangan asma fatal antara lain:
•
riwayat pernah serangan asma akut yang memerlukan bantuan
ventilator;
•
ada riwayat kunjungan ke ruang gawat darurat atau dirawat karena
asma dalam satu tahun terakhir;
•
pemberian steroid sistemik baru berhenti (untuk serangan asma
sebelumnya);
100
•
penggunaan short-acting β2 agonist (SABA), salbutamol inhaler lebih
dari 1 canister per bulan;
•
ada gangguan psikososial atau psikiatri;
•
sudah lama menggunakan steroid inhalasi;
•
tidak patuh dalam pemakaian obat pengendali asma (controller);
•
pasien asma dengan riwayat alergi makanan.
Eksaserbasi asma adalah perburukan gejala klinis dan penurunan fungsi
paru dibanding dengan sebelumnya. Penurunan aliran udara ekspirasi pada
eksaserbasi asma dapat dinilai melalui pengukuran uji fungsi paru forcedexpiratory volume in 1 second (FEV1) atau peak expiratory flow-rate (PEFR).
Beberapa pasien asma menunjukkan gejala klinis eksaserbasi akut yang
minimal, namun fungsi parunya sangat rendah. Hal ini sering terjadi pada
pasien yang pernah mengalami serangan asma akut yang mengancam jiwa.3
TATA LAKSANA ASMA
Tata laksana asma dibagi menjadi:
1. tata laksana jangka pendek (tata laksana eksaserbasi asma);
2. tata laksana jangka panjang (pengendalian/pencegahan).
Tata laksana jangka pendek (tata laksana eksaserbasi)
Tata laksana eksaserbasi diberikan berdasar atas derajat serangannya sehingga
penentuan derajat serangan asma harus dinilai dengan benar. Beberapa gejala
yang menunjukkan peningkatan obstruksi aliran udara ekspirasi seperti
penggunaan otot pernapasan tambahan, wheezing, saturasi O2 < 92%, penurunan
udara masuk, dan gelisah (parameter untuk menghitung pediatric respiratory
assessment measure atau PRAM). Tata laksana eksaserbasi asma meliputi tata
laksana di rumah, di ruang gawat darurat, dan di ruang rawat.
Tata laksana di rumah
101
Pasien dan orangtuanya diberi edukasi untuk membuat buku catatan harian asma
atau Asthma Action Plan untuk memberi petunjuk cara mengenali gejala klinis
serangan asma dan memberikan pertolongan sementara di rumah, cara
penggunaan obat-obat asma, dan rambu-rambunya. Pengenalan dini suatu
serangan asma akut dan memberikan pertolongan segera dengan obat yang
direkomendasikan dapat mencegah perburukan asma atau mencegah serangan
menjadi berat. Buku catatan harian asma ini dapat mengurangi kejadian kematian
akibat eksaserbasi asma sampai sebesar 70%.
Penanganan sementara di rumah yang dapat diberikan oleh orangtua/keluarga.
1. Via Nebulizer
Salbutamol nebul 1 ampul dinebulisasikan selama 10–15 menit (anak usia <8
tahun memakai face-mask (sungkup nebulizer), anak usia >8 tahun boleh
menggunakan mouth piece maupun face mask → dinilai setelah 30 menit, bila
masih ada gejala boleh diulang sekali lagi → bila dengan 2x pemberian tidak
membaik maka harus segera dibawa ke ruang gawat darurat.
2. Via inhaler atau pressurized metered dose inhaler (pMDI) + Spacer
Salbutamol pMDI 2 semprotan melalui spacer, setiap satu semprot diikuti
tarikan napas biasa 6–8 kali yang terlihat melalui gerakan klep pada spacer
→ evaluasi setelah 30 menit, jika gejala belum membaik, boleh diulang 2
semprotan lagi seperti yang pertama → bila tetap tidak membaik setelah 30
menit maka harus dibawa ke ruang gawat darurat.
Penanganan serangan asma di rumah tidak boleh dilakukan bila ada faktor risiko
terjadinya fatal asma atau mengalami serangan asma akut derajat berat. Pada
pemberian salbutamol inhalasi, gejala klinis serangan asma biasanya akan hilang
dalam 1–4 jam kemudian. Tetapi salbutamol tetap diberikan sampai 24–48 jam
selanjutnya.3,4,7,8
Tata laksana di Fasyankes atau UGD
Tata laksana asma di UGD bertujuan mengurangi hipoksemia, memperbaiki
obstruksi saluran respiratori, dan mencegah serangan. Intervensi yang dilakukan
pada saat pasien datang harus berdasar atas beratnya serangan, responsnya
102
terhadap bronkodilator, dan faktor risiko terjadi serangan asma fatal. Pasien
serangan asma akut yang rawat di UGD dapat dipulangkan apabila sudah ada
perbaikan klinis, pemeriksaan fisis normal, PEFR >70% prediksi nilai normal, dan
saturasi oksigen >92%.
Pada serangan derajat ringan sedang, tata laksana awal diberikan
nebulisasi salbutamol atau via pMDI + spacer, dapat diulang 2x selama 1 jam, pada
nebulisasi ketiga ditambahkan Ipratropium bromida. Bila membaik dapat
dipulangkan, namun bila tidak ada perbaikan maka harus dipasang jalur
intravena untuk memberikan obat-obat intravena.3,4
Bila respons baik, pasien dipulangkan
-
Saat pulang dibekali salbutamol hirupan atau oral (0,1 mg/kgBB/kali) yang
diberikan setiap 4–6 jam selama 3–5 hari, atau seperlunya sampai tidak ada
gejala. Juga
diberi
steroid
sistemik oral
berupa
prednison
atau
metilprednisolon 1–2 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 3–5 hari tanpa
tappering off. Pemberian steroid sistemik tidak dapat diulang sendiri oleh
pasien, diupayakan pasien asma tidak mendapat steroid sistemik lebih dari 1x
dalam sebulan.
-
Bila sebelum serangan pasien sudah mendapat obat pengendali (controller)
maka dilanjutkan.
-
Evaluasi di poli rawat jalan 3–5 hari kemudian.
Bila respons buruk, pasien dirujuk untuk rawat inap
-
Dirujuk/dirawat bila setelah nebulisasi ketiga, respons tidak ada atau malah
memburuk.
-
Artinya serangan berat sehingga harus masuk rawat inap atau PICU bila ada
ancaman henti napas.
Tata laksana eksaserbasi derajat berat (rawat inap atau PICU)
Pasien serangan asma yang tidak membaik dengan pengobatan intensif dalam 1–
2 jam harus dirawat di rumah sakit minimal 1 hari. Indikasi rawat pada serangan
103
asma juga berlaku pada asma yang memiliki faktor risiko terjadi serangan fatal
(kematian). Bila ada gagal napas atau distres napas yang berat dan tidak memberi
respons terhadap bronkodilator maka pasien harus dirawat di ruang rawat
intensif.
Tata laksana di Ruang Rawat Sehari
-
O2 tetap diberikan.
-
Nebulisasi dilanjutkan dengan salbutamol + ipratropium bromida setiap 2
jam.
-
Berikan steroid sistemik per oral prednisolon atau prednison sampai 3–5
hari.
-
Bila dalam 12 jam klinis membaik maka dipulangkan dengan dibekali
salbutamol hirupan atau oral 0,1 mg/kgBB/kali setiap 4–6 jam dan steroid
oral berupa prednison atau prednisolon 1–2 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis
selama 3–5 hari.
-
Bila dalam 12 jam klinis tidak membaik maka masuk ruang rawat.
Tata laksana di ruang rawat inap
-
Pasang akses intravena, atasi dehidrasi bila ada
-
Steroid intravena diberikan setiap 6–8 jam
-
Nebulisasi salbutamol + ipratropium bromida dilanjutkan setiap 1–2 jam, bila
klinis mengalami perbaikan maka nebulisasi dijarangkan menjadi tiap 4–6
jam.
-
Berikan aminofilin intravena mula-mula bolus 6–8 mg/kgBB dilarutkan
dalam dekstrosa 5% atau NaCl fisiologis sebanyak 20 mL, diberikan dalam 30
menit (drip). Dilanjutkan rumatan 0,5–1 mg/kgBB/jam.
-
Bila pasien sudah pernah mendapat aminofilin dalam 8 jam terakhir maka
dosis aminofilin di atas dikurangi menjadi setengahnya.
-
Pemantauan efek samping aminofilin berupa mual, muntah, takikardia, dan
agitasi. Bila berat dapat berupa aritmia, hipotensi, dan kejang.
104
-
Bila pasien mengalami perbaikan klinis, nebulisasi dilanjutkan setiap 6 jam
hingga mencapai 24 jam, bila stabil pasien dipulangkan dan dibekali obat
seperti yang dilakukan pada ruang rawat sehari atau UGD.
Tabel 5 Pilihan dan Dosis Steroid Sistemik pada Serangan Asma
Nama Generik
Sediaan
Dosis
Metilprednisolon
Tablet 4 mg
1–2 mg/kgBB/hari, dibagi
4
Tablet 8 mg
Metilprednisolon suksinat
Vial 125 mg
1–2 mg/kgBB tiap 12 jam
Injeksi
Vial 500 mg
Maksimal 60 mg/hari
Prednison
Tablet 5 mg
1–2 mg/kgBB/hari, dibagi
2
Hidrokortison suksinat
Vial 100 mg
2–4 mg/kg/kali, tiap 6 jam
Deksametason injeksi
Ampul 4 mg/mL
0,5–1 mg/kgBB bolus
Ampul 10 mg/mL
Dilanjut 1 mg/kgBB/hari
Diberikan tiap 6 – 8 jam
Betametason injeksi
Ampul 6 mg/mL
0,05–0,1 mg/kgBB tiap 6
jam
Sumber: PNAA3
Tata laksana di ruang rawat intensif
Pasien serangan asma dengan distres napas sangat berat, tidak memberikan
respons terhadap tata laksana awal, dan ada potensi terjadi gagal napas harus
dirawat di ruang intensif. Pasien mungkin akan memerlukan intubasi dan
ventilasi mekanik. Pemasangan ventilator pada gagal napas akibat serangan asma
berat bertujuan mengurangi hiperinflasi paru akibat obstruksi saluran respiratori
dan tekanan ventilasi harus dibuat seimbang agar tidak menimbulkan
barotrauma yang dapat menyebabkan pneumotoraks atau pneumomediastinum.
Pasien dengan serangan asma berat dan ada ancaman henti napas sebaiknya
105
rawat di PICU karena intubasi dan pemasangan ventilator di PICU lebih aman
dibanding dengan setting emergensi. Secara garis besar tata laksana serangan
asma di ruang rawat intensif adalah:
-
oksigen suplemental sedapat-dapatnya menghindari pemakaian ventilator;
-
salbutamol nebulisasi setiap 20 menit selama 1 jam pertama (nebulisasi yang
ketiga adalah salbutamol + ipratropium bromida) atau continous nebulization
salbutamol 5–15 mg/jam disertai monitoring jantung (efek samping:
takikardia, tremor, hipokalemia);
-
steroid sistemik diberikan intravena;
-
pemeriksaan penunjang darah rutin, analisis gas darah, elektrolit, dan foto
toraks diperlukan untuk mengetahui komorbid, infeksi, dan dehidrasi;
-
fisioterapi dada, pemeriksaan uji fungsi paru dan pemberian mukolitik tidak
direkomendasikan karena dapat memicu bronkonstriksi yang lebih berat;
-
pemberian aminofilin sesuai dengan serangan asma berat;
-
magnesium sulfat 25–75 mg/kgBB dengan dosis maksimum 2,5 gram
diberikan secara intravena pelan (dalam 20 menit);
-
pada pemberian aminofilin dan magnesium sulfat harus dilakukan
monitoring kardiologi;
-
pada pasien yang tidak memberikan respons terhadap nebulisasi salbutamol
dapat diberikan epinefrin subkutan 0,01 mL/kgBB, maksimal 0,5 mL.
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian MgSO4 intravena pada serangan asma
derajat berat yang berkunjung ke IGD memberikan hasil baik, serangan teratasi,
dan tidak sampai memerlukan pemasangan ventilator.9,10
106
Gambar 3 Alur Tata Laksana Serangan Asma Anak
Sumber: PNAA3
107
Gambar 4 Lanjutan Alur Tata Laksana Serangan Asma Anak
Sumber: PNAA3
Tata laksana jangka panjang
108
Tata laksana asma jangka panjang bertujuan mengurangi serangan, mengurangi
bronkokonstriksi yang menetap, mengurangi efek samping obat-obat pereda
(reliever) asma sehingga tercapai pengendalian asma yang baik dan dapat
meningkatkan kualitas hidup anak asma. Bila kualitas hidup meningkat maka
seorang anak asma akan mampu beraktivitas fisik seperti anak normal, tidak
mengalami gejala klinis dan eksaserbasi asma, dan tidak mengalami ekfek
samping obat. Tata laksana jangka panjang ini dibagi menjadi tata laksana
medikamentosa dan nonmedikamentosa.
Tata laksana nonmedikamentosa
Tata laksana nonmedikamentosa ini meliputi edukasi, pengendalian faktor risiko,
dan pengendalian pajanan pemicu dari lingkungan.
Edukasi dilakukan kepada pasien asma anak besar dan keluarganya untuk
penanganan eksaserbasi asma di rumah serta pengisian buku catatan harian asma
atau Asthma Action Plan. Pasien diberi pengetahuan mengenai asma dan cara
penanganannya serta rambu-rambu kapan harus membawa pasien ke UGD atau
fasilitas pelayanan kesehatan. Pasien dan keluarganya harus selalu dievaluasi
partisipasinya dalam manajemen asma sehari-hari dan setiap kontrol harus
dipastikan bahwa cara pemakaian alat inhalasi yang digunakan sudah tepat.
Selain itu, pasien asma dan keluarganya perlu diberi pengertian mendasar
tentang penyakit asma bahwa proses inflamasi kronik dan hiperreaktivitas
saluran respiratori merupakan mekanisme serta dapat terjadi serangan
(eksaserbasi) setiap saat bila terpajan pemicu (pencetus). Dengan edukasi yang
baik, pasien dan keluarganya akan memahami pemberian steroid inhalasi secara
rutin penting untuk menekan proses inflamasi kronik pada saluran respiratori
anak asma dan juga mampu memberi penanganan bila anak mengalami serangan
di rumah. Pasien asma tetap harus evaluasi reguler setiap 2 bulan untuk menilai
derajat kontrolnya serta berkomunikasi secara langsung dokter-pasien.
Pengendalian lingkungan dan faktor komorbid merupakan bagian dari
tata laksana jangka panjang yang nonmedikamentosa. Sebagian besar asma
109
termasuk jenis alergi sehingga penghindaran pemicu (pencetus) menjadi sangat
penting. Tes alergi sebaiknya dilakukan terutama pada asma persisten. Bila
pasien asma alergi terhadap alergen dalam rumah maka menghilangkan atau
mengurangi alergen dalam rumah sangat diperlukan. Alergen dalam rumah
termasuk bulu binatang peliharaan, tungau debu rumah (TDM), jamur, kecoak,
asap rokok, bau yang menyengat, serta asap pembakaran masak kecuali gas elpiji.
Penghindaran faktor pencetus asma juga berlaku untuk lingkungan sekolah dan
tempat penitipan anak. Pemberian vaksin influenza setiap tahun merupakan
salah satu pengendalian faktor pencetus.
Salah satu pengendalian asma adalah memberi tata laksana penyakit
komorbid (rinitis, sinusitis, gastro esophageal reflux/GER) yang dapat
menyebabkan asma sulit diatasi. Pada 43% anak dengan asma persisten
ditemukan GER yang memperburuk asmanya melalui mekanisme aspirasi makro
maupun mikro dari isi gaster, serta mekanisme vagal yang menyebabkan spasme
bronkus. Bila anak asma mengalami GER maka harus diberikan H-2 reseptor
antagonis misalnya simetidin atau ranitidin selama 8–12 minggu. Rinitis
ditemukan pada 90% anak asma. Tata laksana rinitis dengan benar harus
diberikan bersama-sama dengan tata laksana asmanya. Pasien asma juga sering
disertai dengan dengan penyakit sinus yang sering ditemukan bukti pada
pemeriksaan radiologis sinus. Bila didapatkan sinusitis pada pasien asma maka
diberikan kortikosteroid intranasal dan antibiotik selama 2–3 minggu.
Tata Laksana Medikamentosa
Tujuan tata laksana jangka panjang pada asma meminimalkan gejala klinis dan
eksaserbasi (serangan), memperbaiki kualitas hidup dan aktivitas fisik seharihari, meningkatkan fungsi paru, menghindari efek samping obat, dan
menghindari terjadi eksaserbasi asma yang fatal. Keberhasilan tata laksana asma
akan tercapai bila sesuai dengan tahap penanganan yang harus diberikan
110
berdasar atas derajat penyakit asmanya. Selanjutnya, akan dibahas jenis-jenis
obat pengendali asma.
Steroid inhalasi
Untuk menekan inflamasi saluran respiratori merupakan obat pengendali asma
paling efektif. Mempunyai potensi topikal yang kuat dan relatif tidak
menimbulkan efek sistemik karena tidak diabsorpsi oleh pembuluh darah dan
metabolisme untuk menjadi inaktif sangat cepat. Obat steroid inhalasi meliputi
flutikason propionat, budesonid, beklometason, mometason, dan siklosonid.
Agonis β2 kerja panjang (Long acting β2-agonist atau LABA). Tidak dapat
digunakan sebagai obat tunggal melainkan selalu bersama steroid inhalasi.
Berfungsi untuk memperbaiki fungsi paru dan menurunkan eksaserbasi
(serangan) asma akut. Kombinasi steroid inhalasi dan LABA dapat diberikan pada
anak usia di atas usia 5 tahun bila steroid inhalasi dosis rendah tidak memberikan
hasil. Formoterol memiliki onset of action yang cepat sehingga dapat berfungsi
sebagai obat pereda di samping fungsi utamanya sebagai pengendali.
Antileukotrien
Leukotrien merupakan mediator poten pada proses terjadinya bronkokonstriksi
otot polos pada serangan asma dan meningkatkan permiabilitas vaskular,
hipersekresi mukus, menyebabkan edema saluran respiratori, serta memobilisasi
sel-sel inflamasi ke dalam saluran respiratori. Pemberian anti-leukotrien akan
menurunkan gejala klinis asma, tetapi secara umum tidak lebih unggul daripada
steroid inhalasi. Leukotrien yang aman digunakan pada anak adalah montelukas.
Umumnya digunakan bersama dengan steroid inhalasi. Pada anak usia 2–5 tahun
diberikan 4 mg tablet chewable atau granul per hari. Pada ank usia 6–14 tahun
diberikan 5 mg per hari dan pada anak usia remaja diberikan 10 mg per hari.2,11
Teofilin lepas lambat.
Teofilin lepas lambat diberikan bersama dengan steroid inhalasi berguna
menurunkan dosis steroid inhalasi. Eliminasinya bervariasi pada tiap-tiap
individu sehingga pemberian teofilin lepas lambat memerlukan monitoring
111
kadar teofilin dalam darah. Efek samping berupa mual, muntah, anoreksia,
sakit kepala, palpitasi, takikardia, aritmia, nyeri perut, dan diare.
Tabel 6 Dosis Berbagai Preparat Steroid Inhalasi pada Anak Asma
Sumber PNAA3
AntiImunoglobulin E (Anti-IgE). Omalizumab merupakan salah satu dari
preparat Anti-IgE merupakan antibodi monoklonal yang dapat mengurangi kadar
IgE bebas dalam serum. Omalizumab dapat diberikan pada anak usia >5 tahun
diberikan pada anak asma yang telah mendapat steroid inhalasi dosis tinggi dan
LABA, namun tidak memberikan respons positif. Diberikan secara injeksi
subkutan setiap 2–4 minggu. Efek samping yang pernah dilaporkan berupa
urtikaria, kemerahan dan gatal. Efikasi omalizumab belum diteliti secara
mendetail pada anak.
112
Gambar 5 Tahap-tahap Tata Laksana Asma Jangka Panjang
Sumber: PNAA3
Gambar 6
Tahaptahap Tata
Laksana
Asma
Jangka
Panjang
Sumber:
Kercsmar
dan
McDowell2
Pedoman
awal
dalam menentukan tata laksana jangka panjang menggunakan klasifikasi
kekerapan. Setelah mendapat tata laksana jangka panjang selama 6–8 minggu
maka derajat kekerapan dinilai kembali. Bila asma belum terkendali maka tata
laksana dinaikkan ke jenjang yang lebih tinggi (step-up). Bila tata laksana jangka
113
panjang sudah berlangsung 8–12 dan dalam penilaian asmanya sudah
terkendali penuh maka tata laksana boleh diturunkan ke jenjang bawahnya
(step-down). Penentuan naik turunnya jenjang tata laksana ini harus
mempertimbangkan aspek penghindaran pencetus, penyakit komorbid, dan
kepatuhan pemakaian obat jangka panjang. Bila tata laksana sudah sampai
jenjang 4, tetapi asma belum terkendali maka ditambahkan omalizumab.
Formoterol sebagai pereda. Formoterol yang selama ini digunakan
sebagai LABA mempunyai struktur kimia lipofilik sedang dan strukturnya
sangat berbeda dengan salmeterol. Formoterol masuk ke dalam sel melalui
membran sel sangat cepat membentuk deposit obat dan berdifusi secara
progresif serta berinteraksi dengan sel target yang aktif. Formoterol memiliki
onset kerja yang cepat, yaitu 5 menit, lebih cepat dibanding dengan salbutamol,
dan mempunyai durasi kerja cukup panjang, yaitu 12 jam. Sediaan formoterol
tunggal belum ada di Indonesia dan yang sudah ada merupakan gabungan
budesonid dan formoterol dalam alat inhalasi dry powder inhaler (DPI), yaitu
turbuhaler. Sediaan formoterol tunggal dalam bentuk DPI atau metered-dose
inhaler (MDI) maupun gabungan dengan budesonid atau mometason sudah
tersedia di United States (US). Pemakaian LABA rutin dalam jangka lama akan
menyebabkan perubahan efek biologis. Pemakaian LABA dalam waktu lama (2–
4 minggu) dapat menurunkan kepekaan reseptor short-acting beta agonist
(SABA) melalui down regulation adrenoresptor β2. Umumnya LABA tidak
memiliki efek antiinflamasi.12–14
Budesonid inhalasi dosis tinggi. Sejauh ini untuk mengatasi serangan
asma masih digunakan SABA.
Pemberian steroid inhalasi pada serangan
(eksaserbasi akut) asma dapat mengurangi efek samping steroid sistemik yang
selama ini digunakan sebagai salah satu obat pereda serangan. Hasil penelitian
menunjukkan
bahwa
pemberian
budesonid
inhalasi
500
mikrogram
memberikan hasil yang sama efektifnya atau sedikit lebih unggul dibanding
dengan pemberian metilprednisolon sistemik. Penelitian lain menunjukkan
114
bahwa pemberian budesonid inhalasi 500 mikrogram memperbaiki serangan
asma derajat sedang sampai berat.15,16
SIMPULAN
Hal-hal baru mengenai asma yang telah dibicarakan pada topik ini, yaitu sedikit
perubahan pengertian mengenai patogenesis asma, perubahan klasifikasi
penyakit asma dan derajat serangan asma, serta tata laksana jangka pendek dan
jangka panjang. Perubahan tata laksana masih memerlukan bukti penelitian
klinis lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Liu AH, Covar RA, Spahn JD, Sicherer SH. Childhood asthma. Dalam:
Kliegman RM, Stanton BF, St Geme JW, Schor NF, Behrman RE,
penyunting. Nelson textbook of pediatric. Edisi ke-20. Philadhelpia:
Elsevier; 2016. hlm 1095 – 115.
2. Kercsmar CM, McDowell KM. Wheezing in older children: asthma.
Dalam: Wilmott RW, DeterdingR, Li A, Ratjen F, Sly P, Zar HJ, Bush A,
penyunting. Kendig’s disorders of the respiratory tract in children.
Edisi ke-9. Philadhelpia: Elsevier; 2018. hlm. 684 – 735.
3. UKK Respirologi PP IDAI. Pedoman nasional asma anak. Edisi ke-2.
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2016.
4. Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global
Initiative for Asthma 2018 (diunduh 24 November 2016). Tersedia
dari: http://www.ginasthma.org.
5. Papi A, Caramori G, Adcock IA, barnes PJ. Rescue treatment in asthma.
More than as-needed bronchodilation. Chest. 2009;135:1628–33.
6. Williams LK, Peterson EL, Wells K, Ahmedani BK, Kumar R, Burchard
EG, dkk. Quantifying the proportion of severe asthma exacerbations
attributable to inhaled corticosteroid nonadherence. J Allergy Clin
Immunol. 2011;128:1185–91.
7. Patel M, Pilcher J, Hancox RJ, Sheahan D, Pritchard A, Braithwaite I, dkk.
The use of β2 agonist therapy before hospital attendance for severe
asthma exacerbations: a post-hoc analaysis. Npj Primary Care
Respiratory Med. 2015;25:140–99.
115
8. Stanford RH, Shah MB, D’Souza AO, Dhamane AD, Schatz M. Short acting
β agonist use and its ability to predict future asthma-related outcomes.
J Allergy Asthma Immunol. 2012;109:403–7.
9. Torres S, Sticco N, Bosch JJ, Iolster T, Siaba A, Rivarola MR, dkk.
Effectiveness of magnesium sulfate as initial treatment of acute severe
asthma in children, conducted in tertiary-level university hospital. A
randomized, controlled trial. Arch Argent Pediatr. 2012;110(4):291–6.
10. Albuali WH. The use of intravenous and inhaled magnesium sulphate in
management of children with bronchial asthma. J Matern Fetal
Neonatal Med (diunduh 26 November 2016). Tersedia dari: Informa UK
Ltd. http://informahealthcare.com/jmf.
11. Walla M, Lodha R, Kabra SK. Montelukast in pediatric asthma
management. Indian J Pediatr. 2006;73:275–82.
12. Pohunek P, Kuna P, Jorup C, Boeck KD. Budesonide/formoterol
improves lung function compared with budesonide alone in children
with asthma. Pediatr Allergy Immunol. 2006;17:458–65.
13. Beasly R, Braithwaite I, Fingleton J, Weatherall M. The inhaled
corticosteroid/long-acting β agonist maintenance and reliever therapy
regimen: where to from here? Eur Respir J. 2018;51:1702–338.
14. O’Byrne PM, Fitzgerald JM, Zhong N, Bateman E, Barnes PJ, Keen C, dkk.
The SYGMA programme of phase 3 trials to evaluate the efficacy and
safety of budesonide/formoterol given ‘as needed’ in mild asthma:
study protocols for two randomised controlled trials. 2017;18:12.
15. Yanagida N, TomikawaShukuya A, Iguchi M, Ebisawa M. Budesonide
inhalation suspension versus methylprednisolone for treatment of
moderate bronchial asthma attacks. World Allergy Organization.
2015;8:14.
16. Chen A, Zeng G, Chen R, Zhan J, Sun L, Huang S, dkk. Effects of nebulized
high-dose budesonide on moderate-to-severe acute exacerbation of
asthma in children: a randomized, double blind, placebo-controlled
study. Respirology. 2013;18:47–62.
116
PENDEKATAN DIAGNOSIS NYERI MUSKULOSKELETAL PADA ANAK
Reni Ghrahani
PENDAHULUAN
Nyeri muskuloskeletal merupakan salah satu dari tiga keluhan nyeri berulang
tersering pada masa anak-anak selain nyeri kepala dan nyeri abdomen, serta
prevalensinya diperkirakan mengenai 10-20% anak usia sekolah. Pada usia
remaja keluhan nyeri muskuloskeletal merupakan urutan kedua sesudah
keluhan masalah kulit.1 Sebagian besar nyeri muskuloskeletal bukan
merupakan akibat dari penyakit yang mendasari, namun dapat pula disertai
penyakit yang mengancam jiwa. Keluhan nyeri muskuloskeletal pada anak
memerlukan anamnesis dan pemeriksaan yang teliti, oleh karena itu diperlukan
keterampilan penilaian klinis yang mendalam dengan mempertimbangkan anak
bukanlah “dewasa kecil”. Nyeri muskuloskeletal sangat memengaruhi kualitas
hidup sesorang, bahkan bila bersifat kronik dapat menyebabkan gangguan tidur,
fatigue, depresi, serta gangguan aktivitas sehari-hari. 2
Diagnosis banding nyeri muskuloskeletal pada anak sangat luas, selain
penyakit reumatik harus dipikirkan juga kemungkinan infeksi, penyakit
keganasan, ataukah sekunder akibat trauma. Nyeri muskuloskeletal sering
dikaitkan dengan artritis, namun tidak semua nyeri muskuloskeletal merupakan
suatu artritis.2,3 Nyeri muskuloskeletal pada anak umumnya berkaitan dengan
trauma, biasanya nyeri bersifat ringan dan self-limiting; namun dapat pula
disertai gejala sistemik yang berat dan mengancam jiwa seperti pada keganasan,
sepsis, vaskulitis, dan non-accidental injury. Hal ini memerlukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis yang teliti mengingat keterbatasan anak untuk menceritakan
keluhannya. Keluhan ini dapat pula menjadi bagian dari penyakit kronik seperti
inflammatory bowel disease, cystic fibrosis, dan psoriasis. Pemanfaatan maksimal
117
pemeriksaan penunjang sesuai ketersediaan diharapkan dapat mengefisienkan
proses diagnosis sebelum proses rujukan benar-benar diperlukan.
Hingga saat ini belum ada data insidensi dan prevalensi yang pasti untuk
semua populasi mengingat banyak perbedaan dalam definisi dan klasifikasi.
Survei pada suatu layanan primer di Spanyol, nyeri muskuloskeletal sekitar 5%
pada pasien anak usia 3-14 tahun dan 10% pasien remaja.4 Insidensi artritis
kronik di Jerman 35/100.000, lebih tinggi dari Amerika, yaitu 11,7/100.000.5 Di
Indonesia belum ada data insidensi yang pasti artritis akut maupun kronik pada
anak. Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung frekuensi artritis kronik akibat
juvenile idiopatic arthritis ditemukan 28 penderita selama kurun waktu 5 tahun
selama periode 2006-2011.6 Sebuah penelitian di Jerman menyatakan hampir
sepertiga populasi anak anak dan remaja mengalami nyeri muskuloskeletal
yang mengganggu aktivitas sehari-hari yang prevalensinya meningkat sesuai
usia hingga usia remaja dan terbanyak diderita oleh remaja perempuan. 4, 7
EVALUASI AWAL
Nyeri muskuloskeletal harus dapat dibedakan dengan artralgia (nyeri sendi)
dengan artritis, growing pain, dan bone pain.
Growing pain adalah nyeri sendi yang terjadi akibat peregangan tendon dan
otot pada saat tulang-tulang kaki memanjang, biasanya pada anak usia 4-8
tahun. Growing pain terjadi pada malam hari, umumnya anak terbangun di
tengah malam karena nyeri, terutama setelah anak banyak beraktivitas di siang
hari. Keluhan nyeri pada growing pain selalu terjadi pada sendi besar seperti
lutut, biasanya pada bagian depan atau belakang lutut dengan pemeriksaan fisis
lain dan laboratorium normal.8, 9
Bone pain adalah sensasi nyeri tulang yang bersifat dalam dan tumpul yang
tidak dapat ditentukan lokasinya oleh penderita. Nyeri terutama dirasakan pada
malam hari dan semakin berat dengan aktivitas. 10 Tumor jinak seperti osteoid
sarcoma dan tumor ganas seperti osteogenic sarcoma dan Ewing sarcoma adalah
penyebab utama nyeri sendi terlokalisir pada anak. Osteoid osteoma sering
118
disertai keluhan nyeri pada malam hari yang akan membaik secara cepat dengan
antiinflamasi nonsteroid. Leukemia limfoblastik atau neuroblastoma sering
disertai nyeri muskuloskeletal.3
Trauma sering dianggap sebagai penyebab nyeri muskuloskeletal pada
anak. Keluhan bengkak sendi dan nyeri setelah suatu trauma yang sering
membuat anak dibawa berobat. Suatu keadaan “overuse” adalah tipe cedera
yang sering terjadi pada atlet muda. Bengkak sendi yang terjadi setelah trauma
ringan pada anak laki-laki mendukung kemungkinan suatu hemofilia. Fraktur
patologis dapat terjadi pada anak yang mengalami osteoporosis karena
pemakaian kortikosteroid kronik.3
Infeksi sendi atau tulang dapat menjadi dugaan pada anak dengan keadaan
umum tampak sakit berat, demam, disertai tulang serta sendi yang sangat nyeri
dan tidak dapat digerakkan. Eritema pada area yang nyeri adalah tanda
menyokong keadaan infeksi. Umumnya tulang atau sendi yang terkena infeksi
hanya pada satu area walaupun beberapa area dapat terjadi khususnya pada
anak dalam keadaan imunosupresif.
1. Lokalisasi Anatomis
Artikular atau nonartikular
Kelainan muskuloskeletal harus ditentukan apakah bersifat artikular
(berkaitan dengan sendi) atau nonartikular. Struktur sendi terdiri atas
sinovium, cairan sinovial, ligamen intraartikular, kapsul sendi, dan tulang
jukstaartikular. Struktur nonartikular terdiri atas ligamen ekstraartikular,
tendon, bursa, otot, fasia, tulang, saraf, dan kulit yang menyelubungi. Rasa nyeri,
nyeri pada garis sendi, dan keterbatasan range of motion (ROM) baik aktif
maupun pasif merupakan sifat gangguan sendi. Demikian juga instabilitas,
locking, krepitus, serta deformitas merupakan tanda keterlibatan sendi.
Tabel 1 Gambaran untuk Membedakan Nyeri Muskuloskeletal Ringan
dengan Berat
119
Kondisi Ringan
Nyeri berkurang dengan istirahat &
memberat dengan aktivitas.
Nyeri di sore/malam hari.
Nyeri nokturnal membaik dengan
analgetik ringan dan pijatan pada
daerah yang nyeri.
Secara objektif tidak terlihat bengkak
sendi.
Sendi hipermobilitas.
Tidak ada nyeri tulang.
Kekuatan normal.
Pola pertumbuhan normal.
Hematologi rutin dan laju endap darah
(LED) normal.
Radiologis normal.
Kondisi Berat
Nyeri berkurang dengan aktivitas &
timbul pada saat istirahat.
Nyeri & kaku di pagi hari.
Nyeri nokturnal tidak berkurang dengan
analgetik ringan & memberat dengan
pijatan.
Secara obyektif terlihat bengkak sendi.
Sendi kaku.
Terdapat nyeri tulang.
Kekuatan menurun/lemah.
Pertumbuhan buruk, berat badan
menurun.
Hematologi rutin abnormal & LED tinggi.
Radiologis abnormal: edema jaringan
lunak, osteopenia, garis metafise
radiolusen.
Sumber: Malleson & Beauchamp3
Terlokalisir atau difus
Dalam mengevaluasi nyeri muskuloskeletal penting untuk dibedakan
apakah nyeri bersifat terlokalisir atau difus; serta keadaan umum apakah baik,
adakah febris, anoreksia, letargis, dan lain-lain (Tabel 2).
2. Proses Patologis
Kelainan muskuloskeletal juga harus dibedakan apakah merupakan proses
inflamasi ataukah non-inflamasi. Inflamasi terjadi pada keadaan infeksi, reaksi
imunologis, atau proses idiopatik; sedangkan proses noninflamasi umumnya
karena penyebab mekanik. Tanda klasik inflamasi adalah teraba hangat, eritem,
edema/efusi, dan nyeri. Pasien dapat merasakan morning stiffness, gelling
(kekakuan setelah lama tak beraktivitas), gejala sistemik (demam, fatigue dan
penurunan berat badan). Pada pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan
laju endap darah (LED)/C-reactive protein (CRP) meningkat serta peningkatan
trombosit. Pada artrosentesis, cairan sinovial dapat mengandung leukosit lebih
dari 2.000 sel/mm3.1
120
Tabel 2 Penyebab Nyeri Muskuloskeletal pada anak
Nyeri Terlokalisir
Anak Tampak Anak Tampak
Baik
Sakit Sistemik
Berat
Growing pain
Artritis septik
Nyeri lutut mekanik Osteomielitis
Strains dan sprains
Tumor tulang
JIA oligoartritis
Spondiloartropati
Nyeri Difus
Anak Tampak
Anak Tampak
baik
Sakit Sistemik
Berat
Hipermobilitas
Leukemia
Sindrom nyeri difus
Neuroblastoma
idiopatik
JIA sistemik
JIA poliartrikuler
SLE
Sumber: Malleson & Beauchamp3
Keterangan: JIA: Juvenile Idiopathic Arthritis, SLE: Systemic Lupus Erythematosus
3. Etiologi
Diagnosis banding nyeri muskuloskeletal pada anak sangat luas, harus
dipikirkan kemungkinan infeksi, penyakit reumatik, ataukah sekunder akibat
trauma. Harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara menyeluruh
untuk mendiagnosis secara akurat. Diagnosis banding nyeri muskuloskeletal
pada anak dan remaja dapat dilihat pada Tabel 3.
4. Kronologi
Untuk nyeri muskuloskeletal yang berupa artritis berdasar atas kronologi
terjadinya menurut International League of Association for Rheumatology
(ILAR), artritis diklasifikasikan sebagai artritis akut yang berlangsung kurang
dari 6 minggu dan artritis kronik, yaitu artritis yang berlangsung lebih dari 6
minggu. Artritis adalah bengkak pada sendi atau ditemukan 2 dari: nyeri pada
pergerakan, gerakan terbatas, atau teraba hangat pada persendian. Sendi yang
mengalami inflamasi akan menunjukkan gejala kardinal inflamasi sebagai
berikut: edema, nyeri, fungsi yang berkurang, dan kadang disertai eritema. Pada
artritis didapatkan cairan sinovial yang lebih banyak, mungkin pula didapatkan
kerusakan kartilago dan tulang.
Tabel 3 Diagnosis Banding Nyeri Muskuloskeletal pada Anak dan Remaja
121
Penyakit yang mengancam jiwa:
- Keganasan (leukemia, limfoma, tumor tulang)
- Sepsis (artritis septik, osteomielitis)
- Non-accidental injury (NAI)
Nyeri sendi dengan minimal atau tanpa bengkak:
- Sindrom hipermobilitas
Sindrom ortopedik (mis. penyakit Osgood-Schlatter, penyakit
Perthes)
Sindrom nyeri idiopatik ( reflex sympathetic dystrophy,
fibromyalgia)
- Metabolik (mis. hipotiroidisme, lysosomal storage diseases)
- Tumor: jinak dan ganas
Nyeri sendi dengan bengkak:
- Trauma (hemartrosis)
- Infeksi
Artritis septik dan osteomielitis (viral, bakterial, mikobakterial):
artritis septik, terkait infeksi
- Juvenile idiopatic arthritis (JIA)
- Artritis terkait inflammatory bowel disease
- Penyakit jaringan ikat (systemic lupus erythemathosus,
skleroderma, dermatomiositis, vaskulitis)
- Metabolik (osteomalasia, cystic fibrosis)
- Hematologis (hemofilia, hemoglobinopati)
- Tumor (jinak dan ganas)
- Kromosom (artritis terkait sindrom Down)
- Auto-inflammatory syndrome (mis. periodic syndrome, chronic
recurrent multifocal osteomyelitis)
- Sarcoidosis
- Perkembangan/kongenital (achondroplasia)
Sumber: Foster & Brogan11
Artritis akut yang berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari
antara lain artritis bakteri, trauma dan koagulopati, sedangkan artritis akut yang
berlangsung beberapa hari hingga 6 minggu antara lain artritis pada infeksi
virus, demam reumatik akut, vaskulitis, obat-obatan, neoplasia, dan artritis
noninflamasi.
Sementara itu yang tergolong artritis kronik antara lain juvenile idiopatik
arthritis (JIA), dan infeksi indolen (TB, fungus dan brucella), seperti terlihat pada
Gambar 1. Juvenile idiopatik arthritis adalah jenis artritis kronik yang paling
sering terjadi pada anak.1
122
AKUT (<6
minggu)
KRONIK (>6
minggu)
JAM
HAR
I
Artritis bakterial
Trauma
Koagulopati
hingga
hingga
hingga
MINGG
U
Infeksi
Demam reumatik akut
Penyakit jaringan ikat
Vaskulitis
Obat
Neoplasia
Non-inflamasi
Lain-lain
BULA
N
JIA
Infeksi indolen
TB, fungus, Brucella
Lain-lain
Gambar 1 Klasifikasi dan Etiologi Artritis berdasar atas Kronologi
Sumber: Khubchandani & D’Souza1
5. Deskripsi keterlibatan sendi
Beberapa hal perlu dinilai dalam mengevaluasi keterlibatan sendi.
- Topografi (sendi aksial ataukah perifer) dapat dilihat pada joint
homunculus (Gambar 2).
-
Oligoartikular ataukah poliartikular.
-
Lokasi sendi yang terlibat.
-
Apakah berpindah atau intermiten.
-
Distribusi sendi: simetrik/asimetrik (Tabel 4).
Tabel 4 Penyebab Artritis Simetris dan Asimetris1
Inflamasi
Infeksi
Simetris
JIA (sistemik,
poliartikular), SLE,
MCTD, sarkoid
viral, Lyme
Asimetris
JIA (oligoartikular,
enthesitis related arthritis
(ERA))
Artritis bakterial,
infective endocarditis (IE)
Sumber: Khubchandani & D’Souza1
Keterangan: SLE: systemic lupus erythematosus, MCTD: mixed connective tissue disease
123
Gambar 2 Joint Homunculus untuk Menilai dan Mendokumentasikan
Nyeri, Bengkak dan Kaku pada Sendi.2
Sumber: Malleson & Beauchamp3
6. Keterlibatan sistemik
Pada artritis oleh sebab inflamasi dapat disertai dengan gejala sistemik,
seperti demam, fatigue, dan penurunan berat badan, juga merupakan tanda
inflamasi sistemik.
7. Profil pasien
Usia saat onset menunjukkan pola penyakit tertentu. Pada usia 1-4 tahun,
merupakan usia onset oligoartritis JIA (oJIA), juvenile psoriatic arthritis,
penyakit Kawasaki, dan artritis septik. Pada usia 7-11 tahun merupakan usia
onset poliartikular JIA, dermatomiositis (DMS), Henoch Schonlein purpura
(HSP), dan polyarteritis nodosa (PAN). Pada anak yang lebih besar dan remaja
merupakan usia onset juvenile ankylosing spondylitis (JAS). Penyakit reumatik
124
seperti gout, penyakit deposit kalsium pirofosfat, polimialgia rematika, dan
osteoartritis primer, tidak pernah terjadi pada masa anak.1
Beberapa penyakit dapat khas menurut gender. Penyakit JAS dominan
pada anak laki dibanding dengan perempuan, sedangkan SLE dominan pada
perempuan. Beberapa penyakit juga dikaitkan dengan riwayat keluarga
seperti psoriasis, hemofilia, dan inflammatory bowel disease (IBD).1
8. Pengenalan pola
Mengenali gejala klinis secara akurat adalah kunci untuk menuntun arah
terapi. Impak dari penyakit reumatik dapat sangat besar. Penyakit reumatik
atau penyakit autoimun disebut juga penyakit vaskular kolagen karena
melibatkan jaringan ikat, protein kolagen, dan pembuluh darah. Penyakit
reumatik umumnya bersifat fluktuatif sesuai dengan derajat inflamasi
sistemik. 4 Usia, gender, jumlah, dan lokasi sendi yang terlibat merupakan
faktor penting dalam pengenalan pola penyakit tertentu.1
PENDEKATAN DIAGNOSIS
Anamnesis dan pemeriksaan fisis perlu dilakukan secara menyeluruh untuk
penegakan diagnosis yang tepat. Keterampilan penilaian klinis yang mendalam
memerlukan pengetahuan tentang perkembangan normal, cara berjalan yang
normal dan abnormal, serta pemahaman presentasi klinis yang berbeda
menurut usia dengan mempertimbangkan anak bukanlah “dewasa kecil”. 12
Anamnesis
Anamnesis sebaiknya dilakukan dengan pertanyaan terbuka mengarah pada
kelainan mekanis atau tanda inflamasi yang mendukung pada suatu penyakit
sistemik. Anamnesis dapat diperoleh dari orangtua ataupun pengasuh. Anak
yang cukup besar dapat diminta menjelaskan nyeri yang dirasakannya; kadang
anak usia 4-5 tahun pun menambahkan beberapa informasi yang berguna. 10
Beberapa hal yang perlu terkandung pada anamnesis adalah sebagai berikut:10
125
1. kualitas nyeri: nyeri tajam ataukah nyeri tumpul;
2. lokasi nyeri yang tepat: misalkan bagian depan, samping, ataukah bagian
atas lutut;
3. lama nyeri: berapa lama nyeri telah berlangsung dan bagaimana nyeri
pada awalnya;
4. perkembangan nyeri: hubungan temporer dengan waktu apakah
membaik ataukah semakin nyeri;
5. faktor yang memengaruhi derajat nyeri: hal apa saja yang mengurangi
nyeri dan apa yang menambah nyeri.
Penyakit sendi akibat kelainan mekanis akan terasa nyeri setelah sendi
digunakan, berkurang dengan istirahat, dan nyeri akan timbul lagi saat sendi
tersebut digunakan kembali. Pada penyakit sendi akibat inflamasi anak akan
mengeluh kaku sendi setelah beberapa lama tidak beraktivitas (gelling),
misalnya setelah duduk lama di kendaraan atau setelah menonton di bioskop,
sendi akan terasa kaku pada saat memulai melangkah dan akan membaik
setelah beberapa langkah; keluhan seperti ini tidak terdapat pada penyakit
sendi akibat mekanis.10
Pada kelainan seperti chondromalacia patella, keluhan utama adalah
nyeri lutut yang terasa setelah berjalan lama tanpa disertai dengan kekakuan;
nyeri akan bertambah saat langkah turun tangga, sedangkan anak yang
menderita dermatomiositis, keluhan berupa nyeri tungkai atau lutut yang akan
terasa terutama pada saat langkah menaiki tangga. Pada penyakit sendi mekanis
ataupun pada artritis terdapat keluhan baik pada naik maupun turun tangga.
Pada penyakit sendi akibat inflamasi tidak terdapat keluhan nyeri tidak
menyingkirkan adanya artritis selain itu sering didapatkan gejala: gelling
(kekakuan setelah duduk lama di kendaraan), gangguan aktivitas: bermain,
menulis halus, kemunduran milestones, serta gangguan perilaku: irritable,
gangguan tidur. 1, 3
Bila dari anamnesis didapatkan gejala sistemik seperti demam,
penurunan berat badan, banyak berkeringat, selalu terbangun di malam hari
126
harus diwaspadai tanda infeksi atau keganasan. Pada keadaan ini perlu
dilakukan pemeriksaan semua sendi untuk menyingkirkan artritis yang
asimtomatik.
Tabel 5 memperlihatkan perbedaan nyeri sendi akibat mekanis (noninflamasi) dengan akibat inflamasi muskuloskeletal.
Tabel 5 Membedakan Nyeri Sendi Akibat Mekanik dengan Akibat
Inflamasi Muskuloskeletal
Mekanik
Inflamasi
Nyeri
Bertambah dengan
aktivitas
Bengkak sendi
Morning stiffness atau kaku
setelah istirahat
Instability
Locking
Keterbatasan gerak
Ringan dan sementara
Biasanya tidak ada
Berkurang
dengan
aktivitas. Nyeri sendi pada
anak akan tampak sebagai
perubahan perilaku atau
menghindari
suatu
aktivitas.
Cenderung persisten
Selalu ada
Mungkin ada
Mungkin ada
Mungkin ada
Biasanya tidak ada
Biasanya tidak ada
Sering ada
Sumber: Foster & Brogan11
Anak dengan riwayat trauma akan mengetahui bagaimana awal mula nyeri
terjadi, namun anak dengan artritis sering tidak dapat menceritakan awal mula
nyeri. Penderita dan orangtua penderita oligoartritis jarang dapat menceritakan
bagaimana awal mula nyeri sendi pada anaknya terjadi.
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan pada nyeri muskuloskeletal juga ditujukan untuk membedakan
apakah nyeri sendi tersebut akibat inflamasi ataukah non-inflamasi. Gangguan
akibat inflamasi dapat terjadi akibat infeksi, proses yang diperantarai respons
imun atau idiopatik; sedangkan gangguan noninflamasi biasanya diakibatkan
oleh faktor mekanis. Tanda utama inflamasi adalah teraba hangat, eritema,
edema persisten (efusi), dan nyeri tekan. Terdapatnya morning stiffness, gelling
127
(kekakuan setelah lama tidak beraktivitas) dan gejala sistemik seperti demam,
fatigue, dan penurunan berat badan juga merupakan tanda inflamasi. Indikator
lain yang sensitif pada artritis aktif adalah nyeri pada akhir pergerakan sendi. 1
Nyeri yang terjadi setelah aktivitas fisik membaik dengan aktivitas dan
bertambah nyeri dengan aktivitas mengarah pada penyakit sendi akibat
mekanis. Penyakit sendi noninflamasi biasanya tidak disertai dengan edema,
hangat pada perabaan, gejala sistemik, dan tersering mengenai lutut serta
pergelangan kaki. Edema pada penyakit sendi noninflamasi umumnya hanya
sementara dengan pemeriksaan laboratorium yang normal. 1
Untuk penapisan dilakukan pemeriksaan dengan penilaian pGALS (pediatric
gait, arms, legs, spine). Penilaian pGALS adalah evaluasi sederhana yang
memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi kelainan sendi dengan hanya
sedikit negatif palsu. Penilaian ini terutama pada anak usia sekolah, namun
dapat pula pada anak yang lebih kecil, dilakukan dengan cara seperti sebuah
permainan meniru pemeriksa. Penilaian pGALS terdiri atas pertanyaan
penapisan dan gerakan untuk menilai cara berjalan (gait), sendi-sendi tangan
(arm), sendi-sendi kaki (legs), dan tulang belakang (spine).12 Penilaian pGALS
dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
mendukung
penunjang
diharapkan
suatu diagnosis
mendapatkan
tertentu. Pemeriksaan
tanda-tanda
yang
penunjang
dapat
menunjukkan bukti suatu inflamasi memonitor toksisitas terapi serta
memahami patogenesis suatu penyakit.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:11, 13
1.
hematologi rutin, morfologi darah tepi:
terdapat anemia menunjukkan penyakit kronik. Leukositosis dapat terjadi
pada infeksi, keganasan, atau JIA sistemik. Gambaran darah tepi
bermanfaat
untuk menyingkirkan
leukemia, dikonfirmasi dengan
pemeriksaan apus sumsum tulang bila terdapat kecurigaan;
128
2.
protein fase akut (C-reactive protein, CRP) dan LED dapat meningkat atau
sangat tinggi pada JIA sistemik;
3.
feritin: dapat meningkat dan sangat tinggi pada JIA sistemik atau
macrophage activation syndrome;
4.
faktor antinuklear: antinuclear antibody (ANA) dapat negatif pada 50%
penderita JIA, namun dapat positif pada infeksi virus dan penyakit nonreumatik dan sebagian kecil anak sehat. Bila didapatkan ANA positif pada
JIA merupakan risiko tinggi (30%) terjadinya uveitis anterior dengan
potensi kebutaan bila tidak terdeteksi dan tidak diobati;
5.
rheumatoid factor (RF): jarang ditemukan pada anak penderita JIA (<10%),
bila ditemukan positif, berkaitan dengan prognosis yang buruk;
6.
pemeriksaan slit lamp: semua anak yang diduga JIA memerlukan skrining
terhadap uveitis;
7.
pemeriksaan cairan sinovial: dapat menyingkirkan sepsis pada anak
dengan monoartritis. Pemeriksaan cairan sinovial membantu untuk
mendiagnosis banding artritis pada anak. Tabel 6 menjelaskan perbedaan
analisis cairan sinovial pada berbagai keadaan;
8.
artroskopi dan biopsi sinovial: dilakukan hanya atas indikasi untuk
menyingkirkan diagnosis lain selain JIA;
9.
foto rontgen: pada artritis berat dapat diperoleh hilangnya joint space serta
kerusakan sendi. Gambaran sendi dapat tampak normal pada fase awal JIA.
Pemeriksaan ini perlu untuk menyingkirkan keganasan;
10. ultrasonografi: USG sensitif mendeteksi perubahan dan mudah dilakukan
pada anak;.
11. magnetic resonance imaging (MRI): sensitif terhadap perubahanperubahan awal pada inflamasi sendi, namun pada anak memerlukan
sedasi;
12. urinalisis: merupakan pemeriksan sederhana dan cepat yang sangat
berguna pada suspek SLE. Hematuria atau proteinuria yang bermakna,
disertai peningkatan LED dan limfopenia mendukung dugaan SLE.
129
Tabel 6 Karakteristik Cairan Sinovial pada Berbagai Keadaan
Kelompo
k
Kadar
Komplemen
Non-inflamasi
Normal
Traumatik
N
N
Osteoartritis
N
Inflamasi
SLE
Demam
Reumatik
Artritis kronik
Warna &
Kejernihan
Viskositas
Kuning & jernih
Xanthochrome &
keruh
Kuning & jernih
­­
­
­
Mucin
Clot
Hit
ung
Leukosit
PMN
(%)
Baik
Sedangbaik
Sedangbaik
<200
<2.000
<25
<25
1.000
<25
N hingga ­
Kuning &
berawan
Kuning &
berawan
Kuning &
opak
N
¯
N
Sedang
5.000
5.000
10
10-50
¯
Buruk
¯
Buruk
15.00020.000
20.000
75
Artritis reaktif
¯
N
hingga ­
N
hingga ­
­
Piogenik
Artritis
Tuberkulosis
Artritis septik
N
hingga ­
­
Kuning
putih berawan
Serosangui
nous dan keruh
¯
Buruk
25.000
50-60
¯
Buruk
50.000300.000
>75
Miscellaneo
us
Debris
Sel LE
80
BTA
Glukosa
rendah, bakteri
Keterangan: LE: lupus erythematosus, BTA: bakteri tahan asam
Sumber: Petty & Cassidy 14
Penapisan Reumatologi
Pemeriksaan anti-nuclear antibody (ANA) dan rheumatoid factor (RF) sering
digunakan sebagai penapisan penyakit reumatik, padahal hal ini adalah hal yang
tidak tepat. Sebagian besar anak penderita JIA serta penyakit reumatik lain
dapat diperoleh tes ANA negatif. Namun, pada SLE sangat jarang didapatkan
hasil ANA negatif. Tes RF pun memiliki nilai diagnostik yang rendah dan jarang
didapatkan positif pada anak. Hanya sekitar 10% anak JIA didapatkan hasil RF
positif.3 Perbandingan anamnesis dan pemeriksaan fisis artritis berdasar atas
kronologis dan etiologinya dijelaskan dalam Lampiran 2.
SIMPULAN
Nyeri muskuloskeletal merupakan salah satu dari tiga keluhan nyeri berulang
tersering pada masa anak-anak selain nyeri kepala dan nyeri abdomen. Keluhan
nyeri muskuloskeletal pada anak memerlukan anamnesis dan pemeriksaan
yang teliti, oleh karena itu diperlukan keterampilan penilaian klinis dengan
mempertimbangkan
bahwa
anak
bukanlah
“dewasa
kecil”.
Nyeri
130
muskuloskeletal sangat memengaruhi kualitas hidup sesorang, bahkan bila
bersifat kronik dapat menyebabkan gangguan tidur, fatigue, depresi serta
gangguan aktivitas sehari-hari.2
Diagnosis banding nyeri muskuloskeletal pada anak sangat luas karena
selain penyakit reumatik harus dipikirkan juga kemungkinan infeksi, penyakit
keganasan ataukah sekunder akibat trauma. Nyeri muskuloskeletal sering
dikaitkan dengan artritis, namun tidak semua nyeri muskuloskeletal merupakan
artritis. Namun, artritis kini merupakan masalah yang sering yang dihadapi oleh
dokter spesialis anak. Gejala artritis harus dapat dibedakan dengan artralgia,
growing pain, dan bone pain.
Pemanfaatan maksimal pemeriksaan penunjang yang tersedia di lapangan
diharapkan dapat mengefisienkan proses diagnosis sebelum proses rujukan
benar-benar diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Khubchandani R, D'Souza S. Initial evaluation of a child with arthritis-an
algorithmic approach. Indian J Pediatr. 2002;69(10):875-80.
2. Hawker GA. The assessment of musculoskeletal pain. Clin Experimental
Rheumatol. 2017;35 Suppl 107(5):8-12.
3. Malleson PN, Beauchamp RD. Rheumatology: 16. Diagnosing
musculoskeletal pain in children. CMAJ: 2001;165(2):183-8.
4. Kamper SJ, Henschke N, Hestbaek L, Dunn KM, Williams CM.
Musculoskeletal pain in children and adolescents. Braz J Phys Ther.
2016;20(3):275-84.
5. Berkun Y, Padeh S. Environmental factors and the geoepidemiology of
juvenile idiopathic arthritis. Autoimmunity Rev. 2010;9(5):A319-24.
6. Ghrahani R, Setiabudiawan B, Sapartini G, Puspasari H. Distribusi
subtype Juvenile Idiopathic Arthritis di Bandung. MKB.
2012;44(2):101-5.
7. Roth-Isigkeit A, Thyen U, Stöven H, Schwarzenberger J, Schmucker P.
Pain among children and adolescents: restrictions in daily living and
triggering factors. Pediatrics. 2005;115(2):e152-62.
8. Cassidy J, Petty R, Laxer R, Lindsley C. Introduction to the study of
rheumatic diseases in children. Textbook of pediatric rheumatology.
Edisi ke-6. Philadelphia: Saunders; 2011.
131
9. Miller M. Evaluation of suspected rheumatic diseases. Dalam: Kliegman
RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting. Nelson textbook of
pediatric. Edisi ke-18. Philadelphia: Lippincot; 2007: hlm. 995-7.
10. Lehman TJ. A clinician's guide to rheumatic diseases in children. New
York: Oxford; 2009.
11. Foster HE, Brogan PA. Paediatric rheumatology. Edisi ke-1. United
Kingdom: Oxford University Press; 2012.
12. Foster HE, Jandila S. pGALS-A screening examination of the
musculosceletal system in school-aged children. Hands on Practical
advice on management of rheumatic disease Dalam: Louise Warburton
GP, Frances Mawer, penyunting. Reports on the rheumatic disease series
Edisi ke-1. Newcastle: Arthritis Research Campaigne; 2008.
13. Petty RE, Cassidy JT. Structure and function. Dalam: Cassidy JT, Petty RE,
Laxer RM, Lindsley CB, penyunting. Textbook of pediatric rheumatology.
Edisi ke-6. Philadelphia: Saunders; 2011. hlm. 6-15.
14. Petty RE, Cassidy JT. Chronic arthritis in childhood. Dalam: Cassidy JT,
Petty RE, Laxer RM, Lindsley CB, penyunting. Textbook of pediatric
rheumatology. Edisi ke-6. Philadelphia: Saunders; 2011: hlm. 211-35.
132
LAMPIRAN 1
pGALS- a Screening Examination of the Musculosceletal System in School-aged
Children1
133
134
135
Sumber: Foster HE, Jandila S. pGALS-A Screening examination of the
musculosceletal system in school-aged children. Hands On Practical advice on
management of rheumatic disease. 2008(15).
136
LAMPIRAN 2
Tabel Perbandingan Anamnesis, Pemeriksaan Fisis dan
Pemeriksaan Penunjang Artritis Berdasarkan Etiologi
Kondisi
Artritis
akut
Demam
rematik
akut
Intraartrikular
Ekstraartrikular
Sendi besar:
lutut,
pergelangan
kaki,
pergelangan
tangan dan
siku.
Bersifat migran
Berawal
sebagai
monoartritis
Demam
Gerakan
involunter:
simetris &
inkoordinasi
muskular
(chorea
Sydenham)
Karditis
Erythema
marginatum
Nodul subkutan
Artritis
viral
Artralgia lebih
dominan
Nyeri, edema,
efusi, teraba
hangat
Umumnya
sendi kecil:
rubela,
hepatitis B,
grup alfavirus
Mengenai 1 – 2
sendi besar:
mumps,
varicella
Nyeri sendi
hebat, edema,
teraba panas,
eritem
Nyeri gerak
aktif & pasif
Terbanyak
mengenai
ekstremitas
bawah
Bone pain
Dapat bersifat
migran
Rubella: demam,
ruam,
limfadenopati
Artritis
septik
Artritis
karena
keganasan
Keterangan
Peningkatan LED, CRP
Peningkatan titer anti
streptokokal
EKG:
PR interval memanjang
Kultur apus tenggorok positif
streptokokal
Positif tes terhadap antigen
streptokokal
Gejala infeksi
sistemik: demam,
muntah, nyeri
kepala
Leukositosis, peningkatan CRP
dan LED
Demam, pucat,
fatigue, berat
badan turun
Parameter hematologi dapat
normal, meningkat atau
menurun
137
Artritis
kronik
JIA
SLE
Nyeri, edema,
teraba panas,
morning
stiffness
Nyeri saat
bergerak aktif
dan pasif
Nyeri, edema,
teraba panas,
morning
stiffness
Nyeri saat
bergerak pasif
Hepatomegali,
splenomegali,
limfadenopati
Sel blas pada apus darah tepi
Demam, ruam,
anoreksia, berat
badan turun,
pertumbuhan &
perkembangan
terganggu,
Anemia hipokromik
Leukositosis
Trombositosis/trombositopenia
Demam, ruam,
anoreksia, berat
badan turun, oral
ulcer, serositis,
hairloss
Anemia hemolitik
Leukopenia
Antibodi anti Sm
Antibodi antifosfolipid
ANA
Anti ds-DNA
138
139
CHOLESTATIC JAUNDICE: PERMASALAHAN DIAGNOSIS DAN TATA
LAKSANA
Dwi Prasetyo
PENDAHULUAN
Kolestasis secara fisiologis adalah hambatan aliran empedu dan secara
histopatologis sebagai penumpukan empedu pada hepatosit serta saluran
empedu, sedangkan secara klinis sebagai akumulasi substrat yang terdapat
pada empedu, yakni bilirubin, asam empedu, dan kolesterol dalam darah
serta jaringan ekstrahepatik yang tampak sebagai ikterik pada pasien, feses
yang berwarna pucat seperti dempul, serta urin yang berwarna pekat seperti
air teh. Kolestasis dapat diakibatkan oleh gangguan pembentukan empedu
pada hepatosit atau oleh sumbatan aliran empedu di dalam intrahepatik dan
ekstrahepatik.1
Deteksi dini kolestasis oleh dokter umum dan dokter spesialis anak
sangat penting, kemudian diagnosis yang akurat oleh ahli gastrohepatologi
anak sangat diperlukan bagi tata laksana dan prognosis yang optimal.2
Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa rujukan tepat waktu hanya
didapatkan 47% kasus, sedangkan sebagian besar sisanya walau telah
didapatkan tanda ikterus dan buang air besar (BAB) pucat, namun masih
sering didapatkan keterlambatan rujukan.3
Ikterus yang merupakan diskolorasi kuning pada kulit, sklera,
membran mukosa, serta cairan tubuh akibat penumpukan pigmen bilirubin
(hiperbilirubinemia) cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir dengan
angka kejadian berkisar 2,4–15%. Ikterus yang menetap pada bayi adalah
suatu kondisi abnormal yang dapat merupakan tanda awal kelainan
hepatobiliaris atau metabolik yang serius. Apabila didapatkan ikterus
menetap pada bayi pada usia 2 minggu setelah kelahiran harus dipikirkan
140
mengenai kemungkinan terjadinya kolestasis pada bayi yang ditandai
dengan peningkatan kadar bilirubin total dan bilirubin direk pada bayi.4
Kolestasis terjadi pada 1 dari 2.500 kelahiran cukup bulan. Penyebab
kolestasis yang paling sering ditemukan ialah atresia biliaris (25–40%).
Pada atresia biliaris penegakan diagnosis tepat waktu amat penting untuk
mengoptimalkan luaran pasien setelah menjalani tindakan Kasai hepatic
portoenterostomy (HPE) yang bertujuan melancarkan aliran empedu yang
terhambat. Apabila HPE terlambat maka prognosis menjadi buruk. Diagnosis
atresia biliaris yang terlambat masih merupakan masalah dan tantangan
bagi para tenaga kesehatan di seluruh dunia hingga kini, dengan penyebab
utama
ialah
kesulitan
dalam
membedakan
kolestasis
dengan
hiperbilirubinemia indirek, serta belum ada metode skrining sistematis yang
dapat diterapkan pada bayi baru lahir.2
DEFINISI
Kolestasis ialah suatu kondisi patologis terdapat gangguan pembentukan
ataupun hambatan aliran empedu sehingga terjadi penumpukan bahanbahan yang seharusnya diekskresikan pada empedu, yakni bilirubin, asam
empedu, serta kolesterol yang berujung pada kerusakan seluler. Kolestasis
dapat dibagi menjadi 2 berdasar atas mekanisme yang mendasarinya, yakni
obstruktif (ekstrahepatal) dan hepatoseluler (intrahepatal). Kolestasis
obstruktif disebabkan oleh hambatan anatomis ataupun fungsional saluran
empedu intrahepatik dan ekstrahepatik, sedangkan kolestasis hepatoseluler
disebabkan oleh gangguan dalam pembentukan empedu.5
Ikterus atau jaundice ialah diskolorasi kuning pada kulit, sklera, membran
mukosa, serta cairan tubuh yang disebabkan oleh penumpukan pigmen
bilirubin,
baik
bilirubin
indirek/hiperbilirubinemia
tidak
tidak
terkonjugasi
terkonjugasi),
(hiperbilirubinemia
maupun
bilirubin
terkonjugasi (hiperbilirubinemia direk/hiperbilirubinemia terkonjugasi).4,6
141
Ikterus atau jaundice akan tampak pada anak yang lebih besar apabila kadar
bilirubin dalam darah mencapai 2–3 mg/dL, namun neonatus baru akan
tampak kuning apabila kadar bilirubin dalam darah telah melebihi 5 mg/dL.1
Kolestasis ditandai oleh peningkatan kadar bilirubin direk dalam darah,
yaitu kadar bilirubin direk >1 mg/dL pada kadar bilirubin total <5 mg/dL,
atau kadar bilirubin direk >20% dari kadar bilirubin total darah apabila
kadar bilirubin total >5 mg/dL.7
EPIDEMIOLOGI
Kolestasis pada anak dapat ditemukan pada 1 dari 2.500 kelahiran hidup.
Pada studi terdahulu, insidensi idiopathic neonatal hepatitis adalah 1 dari
4.800–9.000 kelahiran hidup.4 Dalam suatu studi yang dilakukan baru-baru
ini di Australia, dikatakan bahwa etiologi kolestasis ialah idiopatik pada 25%
kasus, metabolik/genetik pada 23% kasus, obstruksi biliaris pada 20%
kasus, nutrisi parenteral pada 20% kasus, infeksi pada 9% kasus, dan
hipoplasia saluran empedu pada 3% kasus.1
ETIOLOGI
Kolestasis merupakan gejala yang dapat bermanifestasi pada berbagai
macam kondisi penyakit dan sebagai penyebab umumnya dibagi dua, yaitu
obstruksi dan hepatoseluler. Beberapa diagnosis banding kolestasis pada
anak dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah.
142
Tabel 1 Diagnosis Banding Kolestasis pada Anak
Kolestasis Obstruktif
Atresia biliaris
Kista koledokus
Batu empedu atau billiary sludge
Sindrom Allagile
Inspissated bile
Cystic fibrosis
Neonatal sclerosing cholangitis
Fibrosis hepatic congenital/Caroli’s disease
Kolestasis Hepatoseluler
Idiopatik hepatitis neonatal
Infeksi virus
Cytomegalovirus
HIV
Infeksi bakteri
Infeksi saluran kemih
Sepsis
Sifilis
Genetik/kelainan metabolik
Defisiensi alpha-1 antitripsin
Tirosinemia
Galaktosemia
Hipotiroid
Progressive familial intrahepatic cholestasis (PFIC)
Cystic fibrosis
Panhipopituitarisme
Toksik/sekunder
Nutrisi parenteral
Sumber: Moyer7
KOLESTASIS EKSTRAHEPATAL
Atresia Biliaris
Atresia biliaris didapatkan 1 dari 6.000–18.000 kelahiran hidup. Atresia
bilier merupakan proses fibrosis kolangiopati idiopatik yang etiologinya
tidak diketahui, kemudian sekitar 1 bulan setelah lahir dapat menyebabkan
obstruksi saluran empedu ekstrahepatal.4
143
Atresia biliaris merupakan penyebab tersering kolestasis pada neonatus.
Bayi dengan atresia biliaris sering tanpa gejala saat lahir dan muncul gejala
kuning saat minggu pertama setelah lahir serta tampak seperti bayi sehat.
Warna feses dapat normal dan berwarna akolik atau dempul pada saat lahir.
Bila menemukan bayi dengan feses akolik harus dicurigai atresia biliaris.8
KOLESTASIS INTRAHEPATAL
Infeksi Cytomegalovirus
Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi kongenital yang sering dijumpai,
sekitar 1–2% kelahiran. Banyak infeksi pada bayi adalah asimtomatik; 5–
10% memiliki tanda awal berat badan lahir rendah, mikrosefal, kalsifikasi
periventrikular, korioretinitis, dan tuli. Hepatosplenomegali dan bilirubin
direk yang tinggi merupakan tanda awal masalah hati.2
Diagnosis pasti CMV kongenital dengan pemeriksaan kultur atau PCR
dari nasofaring, saliva, darah, atau urine. Antibodi IgM CMV merupakan
pemeriksaan spesifik yang dapat digunakan walaupun relatif kurang
sensitif.2
Diagnosis
Anamnesis
Anamnesis yang lengkap dan terarah sangat dibutuhkan dalam diagnosis
kolestasis pada anak. Anamnesis yang ditanyakan harus mencakup skrining
neonatal yang telah dilakukan, riwayat pemberian vitamin K saat lahir, dan
asupan nutrisi selama ini. Selanjutnya, riwayat maternal toxoplasma, others,
rubella, cytomegalovirus, herpes (TORCH), bayi lahir prematur, berat badan
lahir rendah, riwayat sepsis, dan penggunaan total parenteral nutrition
(TPN). Data mengenai waktu pertama kali ditemukan jaundice, perubahan
warna feses menjadi akolik, dan urin menjadi lebih pekat. Studi sebelumnya
144
menyatakan bahwa perubahan warna feses menjadi pucat hanya dapat
terdeteksi pada 63% oleh tenaga kesehatan.2,8
Di Taiwan sebagai salah satu negara dengan insidensi tertinggi atresia
biliaris saat ini menggunakan infant stool color card bagi para orangtua
untuk skrining. Penggunaan skrining ini meningkatkan deteksi dini atresia
biliaris sehingga meningkatkan luaran keberhasilan operasi seperti yang
dapat dilihat pada gambar berikut.2,8
Gambar 1 Infant Stool Color Card
Sumber: Brumbaugh8
145
Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan fisis pada anak kolestasis:2
• Keadaan umum
o Penampilan sakit yang mengindikasikan penyakit infeksi atau
metabolik,
o Anak dengan atresia biliaris tampak sehat.
• Gangguan pertumbuhan.
• Ditemukan tanda dismorfik, misalnya:
o Alagille
syndrome
pada
neonatus
jarang
memperlihatkan
karakteristik wajah seperti pangkal hidung yang lebar, wajah segi
tiga, dan mata yang dalam. Temuan tipikal ini muncul pada usia
sekitar 6 bulan, namun tidak spesifik.
• Pada pemeriksaan mata didapatkan katarak kongenital.
• Pada pemeriksaan jantung didapatkan murmur seperti pada alagille
syndrome.
• Pemeriksaan abdomen: terdapat asites, pembuluh darah vena
abdomen, ukuran dan konsistensi liver, ukuran dan konsistensi
limpa, massa abdomen, dan hernia umbilikal.
Pemeriksaan penunjang
1.
Laboratorium
Pada pasien dengan kolestasis, pemeriksaan laboratorium akan
membantu
menentukan
etiologi,
tingkat
keparahan,
serta
mendeteksi kondisi lain yang mungkin tersembunyi. Pemeriksaan
laboratorium:
-
pemeriksaan kadar bilirubin serum total dan direk
sebagai indikator kolestasis.
-
alanine aminotransferase (ALT)/serum glutamic pyruvic
transaminase
(SGPT),
aspartate
aminotransferase
146
(AST)/serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT),
alkaline
phosphatase
transpeptidase
(GGTP),
(AP),
gamma
prothrombin
glutamyl
time
(PT),
international normalized ratio (INR),
-
glukosa, serta
-
albumin.
Kultur darah dan urin juga disarankan diperiksakan untuk
diagnosis kolestasis. Koagulopati berat yang tidak berespons
terhadap pemberian vitamin K parenteral dan tidak sesuai dengan
tingkat
kerusakan
hati
dapat
mengindikasikan
gestational
alloimmune liver disease, kondisi metabolik, atau sepsis. Penegakan
diagnosis hipotiroid, galaktosemia, tirosinemia, serta cystic fibrosis
sebagai etiologi kolestasis juga harus dilakukan.2
2. Pencitraan
o
Ultrasonografi
Ultrasonografi abdomen 2 fase dalam kondisi puasa adalah
pencitraan yang mudah dan noninvasif pada pasien dengan
kecurigaan sumbatan pada saluran empedu dan kista duktus
koledokus, serta dapat dilakukan juga untuk mengevaluasi
tanda-tanda gangguan hati tahap akhir maupun kelainan
vaskular atau limpa. USG abdomen juga dapat membantu
menegakkan diagnosis atresia biliaris, walaupun hasil
pemeriksaan
USG
abdomen
yang
normal
juga
tidak
menyingkirkan diagnosis atresia biliaris.2
Beberapa parameter pada pemeriksaan USG hepar yang
menjadi tanda kecurigaan atresia biliaris seperti:
§
triangular cord sign;
§
morfologi abnormal dari kandung empedu;
147
§
kontraktilitas indeks kandung empedu yang
rendah;
§
tidak ditemukan atau kandung empedu yang
kecil.
Skintigrafi
o
Skintigrafi
hepatobiliaris
dapat
digunakan
untuk
mengevaluasi patensi saluran empedu, namun memiliki
spesifisitas yang terbatas (68,5–72,2%), dan hasil yang didapat
juga tidak akurat apabila sumbatan saluran empedu
diakibatkan oleh beragam etiologi. Beberapa studi sebelumnya
juga menyatakan keterbatasan skintigrafi hepatobiliaris untuk
mendiagnosis
beberapa
gangguan
hati.
Skintigrafi
hepatobiliaris
dikatakan
memiliki
sensitivitas
88,2%;
spesifisitas 45,7%; serta tingkat akurasi 66,7% untuk diagnosis
atresia biliaris.2
o
Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography
(ERCP)
Dalam evaluasi patensi saluran empedu pada anak dengan
kolestasis, ERCP memiliki sensitivitas 86 – 100% serta
spesifisitas 87 – 94% sehingga dikatakan cukup menjanjikan
sebagai alat diagnostik terbaru, namun keterbatasana ERCP
membutuhkan ahli endoskopi yang berpengalaman, peralatan
endoskopi anak, serta anestesi umum yang hingga saat ini
belum tersedia di banyak pelayanan kesehatan.2
o
Magnetic Resonance Cholangiopancreatography
(MRCP)
Beberapa studi sebelumnya menyatakan bahwa MRCP adalah
pencitraan noninvasif yang dapat digunakan dengan baik
untuk visualisasi saluran empedu seperti cabang pertama
148
saluran empedu intrahepatik, saluran empedu ekstrahepatik,
dan kandung empedu. Nilai diagnostik MRCP 3 dimensi dalam
diagnosis atresia biliaris adalah 99% untuk sensitivitas serta
36% untuk spesifisitas.2
3. Histopatologi
Biopsi hati dikatakan memiliki sensitivitas tertinggi dalam
mendeteksi atresia biliaris, yakni 100% dengan spesifisitas 94,3%
serta tingkat akurasi 96,9%. Hingga saat ini biopsi hati masih
merupakan baku emas dalam evaluasi anak dengan kolestasis,
interpretasi oleh ahli patologis yang berpengalaman akan
menghasilkan diagnosis yang benar pada 90–95% kasus dan
menghindarkan tindakan operatif yang tidak diperlukan. Tampilan
histologis klasik obstruksi biliaris adalah proliferasi duktus empedu,
bile plugs, fibrosis portal atau perilobular, edema dengan arsitektur
lobulus hepar yang masih dalam batas normal. Tampilan histologis
atresia biliaris dapat berbeda-beda sehingga penting untuk
diketahui bahwa perubahan histologis awal atresia biliaris relatif
nonspesifik dan biopsi yang dilakukan terlalu awal akan
menghasilkan diagnosis negatif palsu. Selain untuk tujuan diagnostik
pada anak dengan kolestasis, biopsi hati juga memiliki nilai
prognostik seperti
menentukan
tingkat fibrosis
luaran
setelah
yang
dapat
tindakan
Kasai
membantu
hepatic
portoenterostomy, maupun keputusan perlu atau tidaknya dilakukan
Kasai hepatic portoenterostomy. Sonography-guided pertcutaneous
core liver biopsy merupakan prosedur yang dianggap aman dan
efektif pada anak dengan tingkat komplikasi 1,7%.2
149
4. Kolangiogram intraoperatif
Kolangiogram intraoperatif dan pemeriksaan histologi dapat
dipertimbangkan untuk mendiagnosis atresia biliaris. Walaupun
demikian, tetap dapat ditemukan kesalahan diagnosis lebih dari
20%. Kolangiogram intraoperatif biasanya dilakukan setelah
diketahui obstruksi biliaris yang selanjutnya akan dilakukan biopsi.
Bila ditemukan tanda atresia biliaris (seperti tidak tervisualisasi
cabang biliaris ekstrahepatik), selanjutnya prosedur Kasai dapat
dilakukan sebagai persiapan transplantasi hepar.
Penting untuk mendiagnosis atresia biliaris pada bayi usia
kurang dari 6 minggu karena tindakan operasi Kasai mempunyai
prognosis yang lebih baik jika dilakukan pada usia kurang dari 6
minggu. Kolangiografi intraoperatif dan pemeriksaan histopatologi
merupakan baku emas untuk diagnosis atresia biliaris.2
Tata laksana
Penting
untuk diketahui
terlebih dahulu apakah kolestasis
membutuhkan tindakan bedah atau bukan karena waktu untuk dilakukan
hepatik porto enterostomi (HPE) pasien atresia biliaris sangat penting.8
Operatif
Atresia biliaris adalah etiologi yang paling sering ditemukan dari
kolestasis yang akan berlanjut sebagai gagal hati. Tindakan operatif harus
dilakukan segera untuk mengembalikan aliran empedu.
Apabila HPE (prosedur kasai) dilakukan pada:
•
usia 60 hari, aliran empedu akan kembali baik pada 70%
pasien;
•
usia 90 hari, aliran empedu yang kembali baik hanya
didapatkan pada 25%.
150
Hepatic portoenterostomy dikatakan berhasil apabila didapatkan kadar
bilirubin serum dalam batas normal setelah prosedur selesai. Prosedur ini
dilakukan sebagai masa transisi untuk terapi definitif, yaitu transplantasi
hati, namun sekitar 20% pasien yang telah menjalani HPE pada masa bayi
akan bertahan hingga usia dewasa tanpa transplantasi hati.2, 4, 8
Nutrisi
Sebagian besar anak kolestasis berada pada kondisi malnutrisi dan
membutuhkan
asupan
nutrisi
yang
adekuat,
tujuannya
adalah
mengompensasi steatorrhea dan mencegah/mengobati malnutrisi. Kalori
yang dibutuhkan kurang lebih 125% dari RDA (recommended daily
allowance) berdasarkan atas badan ideal. Protein disarankan diberikan
sebanyak 2 – 3 gram/kgBB/hari. Lemak diberikan sesuai dengan kebutuhan
harian dan ditambahkan MCT dengan jumlah sekitar 40 – 70% dari asupan
lemak total harian. Pada bayi yang mendapat ASI harus diteruskan dan dapat
ditambahkan lemak MCT (medium-chain triglyceride) dengan dosis 1 – 2
mL/kg/hari. Pada anak yang lebih besar dapat diberikan sereal susu yang
ditambahkan dengan lemak MCT.8 - 10
Pemberian susu formula pada pasien kolestasis juga lebih diutamakan
yang memiliki kandungan MCT.
Pasien dengan kolestasis harus diberikan suplementasi vitamin yang
larut lemak, seperti
•
vitamin A disarankan diberikan 5.000 – 10.000 IU/hari atau 1.500
IU/kgBB/hari;
•
vitamin D3 disarankan diberikan 1.200 – 5.000 IU/hari, atau 500
IU/kgBB/hari;
•
vitamin E disarankan diberikan 75 – 100 mg/hari, PO atau 0,2 – 0,5
mg/kgBB/hari parenteral atau 50 IU/kgBB/hari;
151
•
vitamin K disarankan diberikan 5 – 10 mg PO; atau dapat juga diberikan
via IM/IV, 0,2 – 0,3 mg/kgBB/hari, 2 – 3 kali seminggu
Suplementasi vitamin dan mineral ini dianjurkan dilanjutkan hingga 3
bulan setelah ikterus menghilang.8-10
Medikamentosa
Umum
Pada anak kolestasis dianjurkan diberikan obat yang membantu
memperlancar aliran empedu, di antaranya ialah ursodeoxycholic acid
(UDCA), fenobarbital, serta resincolestiramina.
Ursodeoxycholic acid8,9
•
Ursodeoxycholic acid adalah obat lini pertama yang diberikan
untuk membantu memperlancar aliran empedu. Diberikan dengan
dosis 10 – 20 mg/kgBB/hari, dibagi 3 dosis. Ursodeoxycholic acid
adalah hydrophilic bile acid yang memiliki 2 mekanisme kerja, yakni
menstimulasi aliran empedu dan mengurangi kolestasis, serta
menggantikan hydrophobic bile acid yang lebih toksik pada hepatosit
sehingga mengurangi kerusakan pada hepatosit akibat kolestasis.
Ursodeoxycholic acid juga dapat mengurangi rasa gatal yang
ditimbulkan oleh deposisi garam empedu pada kulit.
• Kolestiramina diberikan dosis 0,25-0,5 g/kgBB/hari dalam 2
dosis terbagi.
•
Fenobarbital diberikan dosis 3-5 mg/kgBB/hari PO, dalam 3
dosis terbagi.
Khusus
Pada kasus kolestasis intrahepatal yang disebabkan oleh infeksi TORCH.
• Infeksi Toxoplasma (IgM toxoplasma positif)11
o Pirimetamin dengan dosis 1–2 mg/kgBB setiap 12
jam selama 2 hari, dilanjutkan 1 mg/kgBB per hari
152
selama 6 bulan, dilanjutkan dengan dosis yang sama
3 kali per minggu sampai 12 bulan.
o Sulfadiazin dengan dosis 50 mg/kgBB setiap 12 jam.
o Asam folat 10 mg 3 kali per minggu selama 12 bulan,
dilanjutkan
sampai
1
minggu
setelah
pirimetamin
dihentikan.
• Infeksi Cytomegalovirus
Indikasi pemberian gansiklovir bila didapatkan IgM positif
disertai dengan:12
Simtomatik Kelainan Fokal Organ Berat
o
Hepatitis berat
Simtomatik Kelainan SSP
o Mikrosefal.
o Gambaran kalsifikasi intrakranial, periventricular
acholucencies, cortical athrophy, dilated ventricle, echogenic
enchancement in caudathalamic grooves.
o Abnormalitas CSF.
o Chorioretinitis.
o Gangguan pendengaran.
Tata laksana medikamentosa yang diberikan:
o gansiklovir 6 mg/kgBB/dosis I.V. 2x/hari selama 6
minggu, atau
o valgansiklovir 16 mg/kgBB/dosis p.o 2x/hari selama
6 minggu.
Sebagai monitoring dilakukan:
o pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, ureum dan
kreatinin, serta viral load tiap minggu.
o pemeriksaan pendengaran usia 3 – 6 bulan sampai
usia 3 tahun, selanjutnya sampai usia 6 tahun.
153
o pemeriksaan neurodevelopmental saat usia 1 tahun.
o pemeriksaan mata rutin sampai usia 5 tahun.
Transplantasi Hati
Transplantasi hati merupakan tata laksana standar untuk sirosis hati. Setiap
bayi yang telah dilakukan operasi HPE dengan bilirubin >6 mg/dL, tiga bulan
kemudian harus dirujuk ke rumah sakit yang dapat melakukan transplantasi
hati. Bayi dengan atresia biler yang telah sirosis (albumin yang rendah, INR
yang memanjang, asites) yang tidak mungkin berhasil dengan HPE juga
harus dirujuk untuk dilakukan transplantasi hati.10
DAFTAR PUSTAKA
1. Suchy FJ. Approach to the infant with cholestasis. Dalam:Suchy FJ,
Sokol RJ, Balisteri WF, penyunting. Liver disease in children. Edisi
ke-3. United Kingdom: Cambridge University Press; 2007. hlm.
179–89.
2. Fawaz R, Baumann U, Ekong U, Fischler B, Hadzic N, Mack CL, dkk.
Guideline for the evaluation of cholestatic jaundice in Infants: joint
recommendations of the North American Society for Pediatric
Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition and the European
Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition.
J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2017;64(1):154–68.
3. Lee WS. Pre-admission consultation and late referral in infants
with neonatal cholestasis. J Paediatr Child Health. 2008;44(12):57–61.
4. Feldman AG, Sokol RJ. Neonatal cholestasis. NeoReviews.
2013;14(2).
5. Loomes KM, Emerick KM. Pediatric cholestatic liver disease with
genetic etiology. Dalam: Wyllie R, Hyams JS, Kay M, penyunting.
Pediatric gastrointestinal and liver disease. Edisi ke-4.
Philadelphia: Elsevier; 2011. hlm. 752–66.
6. The liver as an organ. Dalam: Hall JE, Guyton AC, penyunting.
Textbook of medical physiology. Edisi ke-13. Philadelphia:
Elsevier; 2016. hlm. 881–6.
154
7. Moyer V, Freese DK, Whitington PF, Olson AD, Brewer F, Colletti
RB, dkk. Guideline for the evaluation of cholestatic jaundice in
infants: recommendations of the North American Society for
Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. J Pediatr
Gastroenterol Nutr. 2004;39(2):115–28.
8. Brumbaugh D, Mack C. Conjugated hyperbilirubinemia in children.
Pediatr Rev. 2012;33(7):291–302.
9. D'Amato M, Ruiz P, Aguirre K, Rojas SG. Cholestasis in pediatrics.
Rev Col Gastroenterol. 2016;31(4).
10. Bhatia V, Bavdekar A, Matthai J, Waikar Y, Sibal A. Management of
neonatal cholestasis: consensus statement of the pediatric
gastroenterology Chapter of Indian Academy of Pediatrics. Indian
Pediatr. 2014;51(3):203–10.
11. Boyer K, Marcinak J, McLeod R. Toxoplasma gondii (Toxoplasma).
Dalam: Long S, Pickering L, Prober C, penyunting. Pediatr Infect
Dis. 2008. hlm.1267
12. Cytomegalovirus. Dalam: Palasanthiran P, Starr M, Jones C, Giles M,
penyunting. Management of perinatal infections. Australia:
Australasian Society for Infectious Diseases, 2014. hlm. 6–10.
155
THE PRUDENT USE OF ANTIMICROBIAL AGENTS
Anggraini Alam
PENDAHULUAN
Prinsip pemberian antimikrobial adalah untuk mengobati infeksi, paling
sering diresepkan oleh tenaga kesehatan, dan berdampak secara signifikan
dalam pencegahan serta pengendalian infeksi. Antimikrobial yang dimaksud
bukan hanya pemberian antibiotik, namun termasuk pula penggunaan
antivirus seperti pada infeksi oleh Herpes zoster virus, HIV, serta pengobatan
infeksi
jamur
invasif
dengan
antifungal.
Permasalahan
yang
mengkhawatirkan adalah resistensi terhadap seluruh agen antimikrobial
yang saat ini dirasakan makin meningkat dan menjadi salah satu masalah
global. Prinsip penggunaan antimikrobial secara bijaksana, sesuai, dan aman
sangatlah penting untuk menghindari resistensinya.
Permasalahan Penggunaan Antimikrobial
Penggunaan antimikrobial sebagai terapi memerlukan keputusan klinis
tepat dengan mempertimbangkan perjalanan penyakit dan berat ringannya
infeksi. Pemeriksaan penunjang mungkin dibutuhkan dalam penegakan
diagnosis untuk memperkuat pemberian antimikrobial. Pemilihan jenis
obat, dosis yang diberikan, rute pemberian, serta frekuensinya dipengaruhi
oleh
farmakokinetik
dan
farmakodinamik
antimikrobial
dengan
memadukan berbagai penelitian klinis yang akhirnya akan dikeluarkan
panduan terapi berbagai penyakit infeksi (treatment guidelines).
156
DEFINISI
Antimikrobial adalah substansi alami, semisintetik, atau sintetik dengan
kemampuan membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme
secara in vivo melalui interaksinya terhadap target spesifik. Antimikrobial
kadang disebut sebagai antiinfektif yang secara umum meliputi
antibakterial,
antibiotik,
antijamur,
antiprotozoa,
dan
antivirus.
Antimikrobial dengan aktivitas terhadap bakteria disebut sebagai
antibakterial. Antibakterial ditujukan untuk mencegah pertumbuhan bakteri
dan antimikrob seperti cuci tangan berbasis alkohol untuk mencegah
penyebaran bakteria, jamur, dan virus.
Antibiotik adalah substansi yang berasal dari mikroorganisme dengan
kemampuan membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme
lain. Hal ini merupakan keunikan antibiotik karena sebenarnya tidak
memberikan efek langsung kepada manusia. Seluruh antibiotik adalah
antimikrobial, namun tidak semua antimikrobial adalah antibiotik.
Perbedaan utama antara antibakteri dan antimikrobial adalah tujuannya
terhadap mikrob. Terminologi antibiotik pada makalah ini digunakan untuk
menggantikan antimikrob agar lebih fokus terhadap masalah yang dihadapi
dalam penggunaan antibiotik.
Prudent Use of Antimicrobial
Optimalisasi efek terapeutik antibiotik dalam tata laksana penyakit infeksi
dan pada saat yang sama meminimalisasi resistensi mikrob terhadap
antibiotik tersebut merupakan tujuan prudent use of antimicrobial agent.
Indikasi penggunaan antibiotik perlu dikaji secara hati-hati dan penuh
kewaspadaan (prudent use). Untuk itu dalam penerapannya perlu meliputi
hal sebagai berikut:
1. pendidikan berkelanjutan;
2. indikasi pemberian antibiotik berdasar atas evidence-based indication;
157
3. pedoman pengobatan sesuai dengan hasil pemeriksaan mikrobiologi;
4. rumah sakit memiliki pedoman, panduan, atau kebijakan penggunaan
antibiotik berbasis bukti;
5. streamlining/de-ekskalasi pada terapi definitif;
6. switching;
7. tailoring;
8. konsultasi ke dokter ahli infeksi, mikrobiologis, dan farmasi klinis.
Prinsip Dasar Penggunaan Antibiotik
Bayi dan anak memiliki risiko tinggi terhadap infeksi bakteri karena sistem
imun yang belum sempurna, mendapat pajanan berbagai patogen dari
lingkungan saat tumbuh kembangnya yang pesat, dan pemilihan antibiotik
tidak seluas pada dewasa.
Indikasi pemberian antibiotik harus dengan hati-hati dan penuh
kewaspadaan (prudent use), meskipun tujuannya sebagai terapi kausal
untuk menekan bakteri penyebab infeksi.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih sering ditemui dan
berkontribusi menjadi cikal bakal resistensi terhadap antibiotik. Peresepan
antibiotik merupakan proses kompleks yang memerlukan berbagai
pertimbangan, namun pemberian antibiotik sampai saat ini belum memiliki
regulasi atau sertifikasi khusus. Setiap dokter, bidan, perawat, bahkan
farmasi dapat memberikan antibiotik kepada kliennya dengan tujuan
terapeutik yang di satu sisi mengakibatkan penggunaan antibiotik
berlebihan atau tidak tepat. Hal berbeda pada pemberian obat-obatan untuk
kanker/tumor yang hanya dapat diberikan oleh dokter spesialis.
Penelitian di Vietnam dan negara di Asia Pasifik memperlihatkan
beberapa faktor yang memengaruhi penggunaan antibiotik yang tidak
prudent sehingga berpotensi mengakibatkan resistensi. Tabel 1 mungkin
menggambarkan pula kondisi di Indonesia.
158
Salah satu cara untuk menghindari penggunaan yang tidak tepat perlu
memperhatikan hal di bawah ini:
1. melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan penunjang yang akan
mengarahkan ada/tidaknya infeksi sehingga dapat diputuskan
apakah antibiotik memang diperlukan atau tidak;
2. bakteri apa yang paling mungkin menjadi etiologi infeksinya berdasar
atas kajian epidemiologi, infeksi berasal dari komunitas atau rumah
sakit, usia, tanda dan gejala, lokasi infeksi, serta lainnya;
3. melakukan kajian apakah perlu dilakukan tindakan di samping
pemberian antibiotik dalam tata laksana pasien (misal: debridemen);
4. memilih golongan antibiotik berdasar atas etiologi, lokasi infeksi, dan
usia;
5. memperhatikan cara pemberian, dosis, frekuensi, dan durasi
pemberian antibiotik;
6. monitoring pemberian antibiotik tersebut, termasuk mengetahui
respons terapi, penyesuaian terhadap hasil kultur, tailoring, dan
switching;
7. memperhatikan pula harga dan efek samping antibiotik;
8. mengetahui kapan dapat melakukan penghentian antibiotik.
159
Tabel 1Faktor yang Berkontribusi terhadap Penggunaan Antibiotik
yang Tidak Prudent di Vietnam dan Negara di Pasifik Barat
Faktor
Teridentifikasi
Hierarki profesional
Tidak
mempertimbangkan
risiko sosial
Ekspektasi pasien
atau orangtua
Ketakutan terhadap
luaran pasien
Layanan
mikrobiologi yang
tidak adekuat
Contoh
• Dokter yang lebih junior cenderung mengadopsi
kebiasaan meresepkan yang dimiliki dokter yang lebih
senior tanpa melalui diskusi atau telaah berbasis bukti.
• Dokter dan pasien cenderung memilih antibiotik yang
lebih baru dan lebih mahal yang dianggap lebih kuat.
• Dokter meresepkan obat dengan fokus terhadap
individu tanpa mempertimbangkan risiko terhadap
komunitas.
• Dokter tidak memiliki gambaran yang baik terhadap
profil resistensi obat dan dampak dari penggunaan
antibiotik yang berlebih karena kurangnya layanan
pemeriksaan mikrobiologi.
• Dokter sangat mengharapkan kepuasan pasien dan
saat pasien meminta diresepkan antibiotik biasanya
akan dilakukan.
Di Korea, 73% dokter meresepkan antibiotik untuk
common cold bila diminta oleh pasien. Di Malaysia,
67% pasien mepercayai bahwa antibiotik dapat
menolong pada infeksi virus.
• Dokter tidak memiliki waktu atau motivasi untuk
menjelaskan rasionalisasi dalam penggunaan antibiotik.
• Dokter menggunakan antibiotik spektrum luas karena
dokter khawatir luaran pasien yang buruk.
• Penggunaan antibiotik spektrum luas untuk setiap
pasien rawat inap dan jalan merupakan hal umum
dijumpai pada pelayanan kesehatan dengan layanan
pemeriksaan mikrobiologi yang tidak memadai.
Di Vietnam penggunaan antibiotik berkurang di
tempat dengan layanan mikrobiologi yang baik.
Sumber: Phuong dkk., 2017
Sebagai klinisi, pertimbangan dalam melakukan tata laksana penyakit
infeksi terkait kondisi pasien dan agen infeksinya. Pendekatan pada pasien
infeksi dalam menegakkan diagnosis akan melibatkan berbagai cara
termasuk melakukan penilaian terhadap epidemiologi infeksi di daerah
tersebut, perjalanan penyakit, dan mengapa pasien tersebut dapat
160
terinfeksi? Resume anamnesis menjadi kunci dalam mempertimbangkan
berbagai pemeriksaan diagnostik dan tata laksana yang akan dilakukan. Hal
ini sangat penting pada penyakit infeksi karena kompleksnya interaksi dari
virulensi, suseptibilitas pejamu, dan kondisi lingkungan yang menunjang.
Pertanyaan tersebut juga mencakup hal esensial seperti apakah pasien
tersebut mudah mengalami infeksi, data vaksinasi, perjalanan, obat-obatan
yang dapat menyupresi daya tahan tubuh, bahkan apabila dipandang perlu
ditanyakan mengenai risiko infeksi terhadap human immunodeficiency virus
(HIV). Klinisi, berdasar atas data yang diperoleh akan memikirkan diagnosis
banding, diagnosis kerja, dan selanjutnya merencanakan tata laksana
terhadap pasien. Perlu mengetahui apakah infeksi yang terjadi berasal dari
komunitas atau rumah sakit. Tentunya faktor harga antibiotik serta efek
samping yang mungkin ditimbulkan perlu menjadi pertimbangan pula.
Semakin tinggi kemampuan seorang dokter melakukan “educated guess”
atas kemungkinan etiologi infeksi pasien maka akan semakin tepat
pemilihan antibiotik yang akan diberikan. Antibiotik memiliki berbagai
spektrum berdasar atas kemampuan aktivitasnya, mulai dari yang sempit
sampai sangat luas. Sebagaimana pemberian terapi empiris maka antibiotik
inisial pada pasien dengan penyakit kritis, atau infeksi rumah sakit, atau
pada pasien imunokompromais akan mendapatkan spektrum luas terlebih
dulu dan akan dipersempit setelah diperoleh hasil kultur. Seluas apa pun
spektrum antibiotik awal, tetap diharapkan memiliki spektrum yang cukup
sempit dan monoterapi merupakan pilihan awal dibanding dengan
kombinasi.
Beberapa langkah seperti pada Tabel 2 diharapkan mampu memberikan
wawasan dalam memutuskan penggunaan dan pemilihan regimen
antibiotik.
161
Tabel 2 Tahapan untuk Memberikan Antibiotik
Langkah
1
Tegakkan diagnosis.
2
Pertimbangkan usia pasien.
Bagaimana kondisi pasien
sebelum sakit (apakah
terdapat penyakit
dasar/kronik sebelumnya).
3
Perlu mengetahui organisme
yang sering menyebabkan
penyakit tersebut.
4
Bagaimana suseptibilitas
mikroorganisme terhadap
antibiotik di fasilitas
kesehatan yang bersangkutan.
5
Lakukan pengambilan kultur.
6
8
Dilakukan pemberian terapi
empiris berdasar atas
a. langkah 1–4;
b. literatur dan
keputusan klinis.
Lakukan modifikasi terapi
apabila diperlukan berdasar
atas hasil kultur dan respons
klinis.
Monitoring kondisi pasien.
9
Terapi dihentikan.
7
Contoh
Artritis septik
Anak usia 2 tahun.
Kondisi sebelumnya, sehat.
Staphylococcus aureus.
Masih sensitif terhadap
metisilin.
Dilakukan pengambilan
kultur darah dan cairan
sendi.
Kloksasilin intravena.
Hasil kultur: S. aureus sensitif
terhadap metisilin (MSSSA).
Melalui anamnesis,
pemeriksaan fisis, dan
apabila dibutuhkan
dilakukan pula pemeriksaan
penunjang.
Apabila klinis membaik atau
sembuh.
Pemberian antibiotik selama
3–4 minggu.
Sumber: Ogle, 2011
162
Upaya Pencegahan Resistensi Antibiotik
The Communicable Disease Control (CDC) mencanangkan cara untuk
mencegah resistensi antibiotik di pelayanan kesehatan. Keempat strategi
tersebut adalah
1. melakukan pencegahan terhadap infeksi dan komplikasinya
sehingga akan mengurangi penggunaan antimikrob;
2. tegakkan diagnosis dan berikan terapi terhadap infeksi dengan
antibiotik yang sesuai untuk menyelamatkan jiwa pasien;
3. penggunaan antibiotik secara bijaksana dengan menaati panduan
penggunaan antibiotik yang efektif;
4. mencegah transmisi penularan infeksi terutama dari pasien ke
pasien lain melalui petugas.
Kunci keberhasilan upaya pencegahan resistensi antibiotik adalah
melakukan
pendekatan
multidisiplin
dengan
tahapan
mulai
dari
mengumpulkan data dan mengidentifikasi masalah, menyusun strategi
penggunaan antibiotik, menyusun formularium obat, menyusun panduan
penggunaan anibiotik, mengupayakan melakukan retriksi penggunaan
antibiotik sebelum mendapat hasil mikroorganisme definitif, para klinisi
mengggunakan dan mengikuti clinical pathways, melakukan evaluasi
pemberian resep, switching antibiotic dari pemberian secara intravena ke
pemberian oral, serta melakukan edukasi mengenai penggunaan obat secara
prudent dan bijaksana (stewardship).
The World Health Organization (WHO) menekankan penting untuk
mengontrol penggunaan antibiotik di masyarakat dan rumah sakit untuk
menekan resistensi terhadap antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi
agar antibiotik dapat digunakan secara bijaksana.
Antibiotik adalah agen terapeutik yang paling banyak diresepkan
dengan tingkat peresepan untuk anak yang sangat tinggi. Penyebab utama
penyakit anak di sekolah dan tempat penitipan anak adalah infeksi saluran
163
pernapasan dan gastrointestinal pada umumnya akibat sirkulasi ruang dan
kebersihan tangan yang kurang baik. Berbagai studi mengenai cara
pemberian edukasi mengenai penggunaan antibiotik secara bijaksana
dilakukan sebagai salah satu upaya menekan resistensi antibiotik. Upaya
pencegahan resistensi antibiotik terbaik adalah melibatkan semua pihak
secara nasional, tidak hanya kepada petugas kesehatan, namun juga
masyarakat luas termasuk penyedia bahan makanan. Sebuah studi review
menyimpulkan tata cara edukasi sebagaimana digambarkan pada diagram
di bawah ini.
Gambar 1 Edukasi terhadap Pemberi Resep dan Publik Mengenai
Penggunaan Antibiotik
Sumber: Lee dkk., 2015
Simpulan
Prinsip pemberian antibiotik adalah untuk mengobati infeksi. Permasalahan
yang mengkhawatirkan adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat
164
masih sering ditemui dan berkontribusi menjadi cikal bakal resistensi
terhadap antibiotik. Indikasi pemberian antibiotik harus dengan hati-hati
dan penuh kewaspadaan (prudent use) sehingga penggunaan antibiotik
secara bijaksana, sesuai, dan aman sangatlah penting untuk menghindari
resistensi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hayashi Y, Paterson DL. Strategies for reduction in duration of
antibiotic use in hospitalized patients. Clin Infect Dis.
2011;52(10):1232–40.
2. Laxminarayan R, Duse A, Wattal C, Zaidi AK, Wertheim HF,
Sumpradit N, dkk. Antibiotic resistance-the need for global
solutions. Lancet Infect Dis. 2013;13(12):1057–98.
3. Lecky MD , McNulty CAM. Current initiatives to improve prudent
antibiotic use amongst school-aged children. J Antimicrob
Chemother. 2013;68(11):2428–30.
4. Lee CR, Cho IH, Jeong BJ, Lee SH. Strategies to minimize antibiotic
resistance. Int J Environ Res Public Health. 2013;10(9):4274–305.
5. Lee CR, Lee JH, Kang LW, Jeong BC, Lee SH. Educational
effectiveness, target, and content for prudent antibiotic use.
Biomed Res Int. 2015;2015:214021.
6. McNulty CA, Lecky DM, Farrell D, Kostkova P, Adriaenssens N,
Koprivová Herotová T, dkk. Overview of e-Bug: an antibiotic and
hygiene educational resource for schools. J Antimicrob
Chemother. 2011;66(Suppl 5):v3–12.
7. Murni IK, Duke T, Kinney S, Daley AJ, Soenarto Y. Reducing
hospital-acquired infections and improving the rational use of
antibiotics in a developing country: an effectiveness study. Arch
Dis Child. 2015;100(5):454–9.
8. Nordberg P, Stalsby-Lundborg C, Tomson G. Consumers and
providers-could they make better use of antibiotics? Int J Risk Saf
Med. 2005;17(3):117–25.
9. Phuong NTK, Hoang TT, Van PH, Tu L, Graham SM, Marais BJ.
Encouraging rational antibiotic use in childhood pneumonia: a
focus on Vietnam and the Western Pacific Region. Pneumonia
(Nathan). 2017;9:7.
165
10. Thu TA, Rahman M, Coffin S, Harun-Or-Rashid M, Sakamoto J,
Hung NV. Antibiotic use in Vietnamese hospitals: a multicenter
point-prevalence study. Am J Infect Control. 2012;40(9):840–4.
11. World Health Organization. Antimicrobial resistance in the
Western Pacific region: a review of surveillance and health system
response. Geneva: WHO Press; 2015.
12. World Health Organization. Antimicrobial resistance: global
report on surveillance 2014. Jeneva: WHO Press; 2014.
166
IDENTIFIKASI HIPERTENSI PULMONAL DALAM PRAKTIK
SEHARI-HARI
Sri Endah Rahayuningsih
PENDAHULUAN
Hipertensi pulmonal (HP) merupakan kelainan pembuluh darah paru yang
berat dan progresif, ditandai dengan peningkatan resistensi vaskular paru
yang dapat menyebabkan gagal jantung kanan serta kematian. Hipertensi
pulmonal juga bersifat kronis dan dapat disebabkan oleh kelainan jantung,
paru, penyakit sistemik, ataupun penyebab yang tidak teridentifikasi
sehingga dapat memberikan gambaran klinis yang bervariasi.1 Bentuk
hipertensi pulmonal yang paling sering ditemukan pada anak adalah
hipertensi pulmonal arterial terutama kelompok yang idiopatik, familial,
serta yang disebabkan oleh kelainan jantung bawaan.1,2
KLASIFIKASI HIPERTENSI PULMONAL
Hipertensi pulmonal didefinisikan sebagai peningkatan tekanan arteri
pulmonal rerata ≥25 mmHg yang diukur dengan kateterisasi. Klasifikasi
klinis hipertensi pulmonal yang terbaru mengacu pada revisi tahun 2008
yang ditetapkan dalam The Fourth World Symposium on Pulmonary Arterial
Hypertension di Dana Point, California (Tabel 1). Klasifikasi ini
mengelompokkan hipertensi pulmonal ke dalam 5 grup berdasaratas
penyebab sehingga terapi yang rasional dapat ditentukan segera.1,2
Tabel 1 Klasifikasi Klinis Hipertensi Pulmonal
Hipertensi pulmonal
arterial
(hipertensi pulmonal)
Idiopatik (IPAH)
Familial (FPAH)
Penyakit valvular
Hipertensi pulmonal yang
disebabkan oleh kelainan paru
dan/atau hipoksia
Penyakit paru kronik obstruktif
167
BMPR2
ALK1, endoglin (dengan atau
tanpa teleangiektasis
hemoragik herediter)
Tidak diketahui
Induksi obat dan toksin
Berhubungan dengan
Penyakit jaringan ikat
Infeksi HIV
Hipertensi portal
Penyakit jantung bawaan
Skistosomiasis
Anemia hemolitik kronik
Hipertensi pulmonal
persisten pada neonatus
Pulmonary veno-occlusive
disease (PVOD) dan/atau
pulmonary capillary
hemangiomatosis (PCH)
Hipertensi pulmonal yang
disebabkan oleh kelainan
jantung kiri
Disfungsi sistolik
Disfungsi diastolik
Sumber: Park. 1,2
Penyakit paru interstitial
Penyakit paru restriktif dan
obstruktif lain
Gangguan napas saat tidur
Kelainan hipoventilasi alveolar
Paparan kronis dataran tinggi
Gangguan perkembangan
Hipertensi pulmonal
tromboemboli kronik
Hipertensi pulmonal dengan
mekanisme multifaktor yang
tidak diketahui
Kelainan hematologik: penyakit
mieloproliferatif
Penyakit sistemik: sarkoidosis,
vaskulitis, neurofibromatosis
Penyakit metabolik: glycogen
storage disease, kelainan tiroid
Lain-lain: gagal ginjal kronik
Selain klasifikasi di atas hipertensi pulmonal dapat dibagi pula berdasar
atas etiologi dan patologi (Gambar 1). 1
Klasifikasi hipertensi pulmonal berdasar atas etiologi :
1. hipertensi pulmonal primer
Etiologinya tidak diketahui;
2. hipertensi pulmonal sekunder.
Merupakan komplikasi dari berbagai penyakit paru dan jantung.
Klasifikasi hipertensi pulmonal berdasar atas patologi (Heath dan
Edwards (1958) :
1. derajat 1 ditandai dengan hipertropi medial dan perluasan otot polos
ke arteri yang secara normal nonmuskular;
2. derajat 2 tampak hipertropi medial dan proliferasi intimal seluler;
3. derajat 3 tampak fibrosis intima;
4. derajat 4 dilatasi arteriol;
5. derajat 5 tampak lesi angiomatoid atau pleksiform;
168
6. derajat 6 tampak necrotizing arteritis.
Gambar 1 Patologi Hipertensi Pulmonal
Sumber: Park
PATOFISIOLOGI
Tekanan (P) berhubungan dengan aliran (F) dan resistensi vaskular (R)
dengan persamaan sebagai berikut: P = F x R. Peningkatan pada aliran,
resistensi vaskular, atau keduanya akan mengakibatkan hipertensi
pulmonal. Meskipun hipertensi pulmonal disebabkan oleh berbagai etiologi,
terdapat beberapa gambaran khas, yaitu vasokonstriksi dan hipertrofi sel
otot vaskular paru, serta remodeling yang mengenai seluruh lapisan dinding
pembuluh darah (tunika intima, media, dan adventisia) sehingga
169
menyebabkan berkurangnya diameter pembuluh.11 Remodeling adalah
perubahan pada lapisan dinding pembuluh darah yang diawali dengan jejas
endotelial, proliferasi sel endotelial, disertai invasi sel fibroblas pada tunika
intima, deposisi matriks, dan fibrosis. Diameter pembuluh darah yang
berkurang
menyebabkan
peningkatan
afterload
sehingga
untuk
mempertahankan curah jantung maka ventrikel kanan akan mejadi
hipertrofi dan dilatasi. Hipertrofi dan dilatasi jantung kanan akan
berkembang menjadi gagal jantung kanan dan berakhir dengan kematian.
Sel endotel meregulasi tonus vaskular melalui produksi mediatormediator vasoaktif, yaitu prostasiklin, nitric oxide (NO), dan endotelin.
Mediator-mediator ini merupakan 3 jalur
utama yang terlibat dalam
proliferasi dan kontraksi sel otot polos arteri pulmonalis pada pasien
hipertensi
pulmonal.
Ketidakseimbangan
vasodilatasi/antiproliperatif
sistem
NO
dan
antara
kemampuan
prostasiklin,
serta
vasokonstriksi/proliferatif sistem endotelin merupakan kunci utama terjadi
progresivisitas (Gambar 2). 1,2
ETIOLOGI HIPERTENSI PULMONAL BERDASARATAS PATOGENESIS
• Peningkatan aliran darah pulmonal seperti tampak pada penyakit jantung
bawaan dengan pirau kiri ke kanan yang besar (hyperkinetic
pulmonary hypertension)
o berhubungan dengan pirau kiri ke kanan yang besar
seperti pada
§ VSD
§ PDA
o Terjadi akibat peningkatan aliran dan pengaruh
langsung tekanan sistemik terhadap arteri pulmonalis.
Bersifat reversibel jika penyebabnya dihilangkan sebelum
terjadi perubahan yang menetap pada arteriol paru.
o Jika tidak mendapat terapi akan terjadi
§ sindrom Eisenmenger atau
§ penyakit obstruksi vaskular paru atau
§ pulmonary
vascular
obstructive
disease/PVOD.
• Hipoksia alveolar.
170
• Peningkatan tekanan vena pulmonalis.
• Terdapat penyakit vaskular pulmonal primer (primary
pulmonal vascular disease).
Jalur Endotelin
Jalur Prostasiklin
Jalur Nitric oxide (NO)
Antagonis
reseptor
endotelin
NOeksogen
Turunan
prostasiklin
Inhibitor
fosfodiesterase
Gambar 2 Tiga Jalur Utama yang Bertanggung Jawab dalam
Patofisiologi Hipertensi Pulmonal Vasokonstriksi, vasodilatasi,
proliferasi dan hipertrofi sel otot polos vaskular paru, yaitu jalur
prostasiklin, endotelin, dan nitric oxide. Jalur ini akan menjadi target
terapi prostasiklin, antagonis reseptor endotelin, dan fosfodiesterase
inhibitor tipe 5
Sumber: Humbert dkk.3
171
PERBEDAAN KOR PULMONALE/CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY
DISEASE (COPD) DENGAN HIPERTENSI PULMONAL
Hipertensi pulmonal yang terjadi akibat penyakit paru dan menimbulkan
hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan atau
Hipertrofi ventrikel kanan akibat penyakit yang memengaruhi fungsi dan
struktur paru.
Gambar 3. Patofisiologi COPD
Sumber: Simonneau
PENYAKIT JANTUNG BAWAAN SEBAGAI PENYEBAB HIPERTENSI
PULMONAL
Pada makalah ini akan dibahas 3 penyakit jantung bawaan tersering sebagai
penyebab hipertensi pulmonal
Defek Septum Atrial (DSA)
Definisi DSA
Defek septum atrial (DSA) adalah terdapat lubang yang persisten pada
septum antara atrial
dan ditemukan pada bayi setelah lahir yang
172
menyebabkan hubungan antara atrium kanan dan atrium kiri. Terdapat tiga
tipe defek septum atrial, yaitu 1) defek ostium primum atau DSA primum
terjadi pada sekitar 30% kasus; 2) defek ostium sekundum atau DSA
sekundum pada sekitar 70% kasus; dan 3) defek sinus venosus pada sekitar
10% kasus.1,5
Gambar 4 Defek Septum Atrium
Sumber: English dkk.5
Patofisiologi
Derajat pirau dari atrium kiri ke atrium kanan, bergantung pada
besarnya defek, complains relatif ventrikel kanan dan tahanan relatif
vaskular paru. Pada defek yang besar sejumlah darah yang teroksigenasi
(dari vena pulmonal) mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan yang
menambah jumlah darah vena yang masuk ke dalam atrium kanan (venous
return). Total darah tersebut kemudian dipompa oleh ventrikel kanan ke
paru. Aliran darah balik dari paru ke atrium kiri akan terbagi menjadi dua,
yaitu ke atrium kanan melalui defek dan ke ventrikel kiri. Pada defek yang
besar, rasio aliran darah pulmonal dibanding dengan sistemik (Qp/Qs)
dapat berkisar antara 2:1 sampai 4:1.1
173
Gambar 5 Aliran Darah pada Jantung Normal dan pada Defek
Septum Atrial
Sumber: Park1
Gejala asimtomatis pada bayi dengan defek septum atrium terkait dengan
resistensi paru yang masih tinggi dan struktur ventrikel kanan pada masa
awal kehidupan, yaitu dinding otot ventrikel kanan yang masih tebal dan
komplians yang kurang sehingga membatasi pirau kiri ke kanan. Seiring
dengan bertambahnya usia, resistensi vaskular pulmonal berkurang,
dinding ventrikel kanan menipis, dan kejadian pirau kiri ke kanan melalui
defek septum atrial meningkat. Peningkatan aliran darah ke jantung sisi
kanan akan menyebabkan pembesaran atrium dan ventrikel kanan serta
174
dilatasi arteri pulmonalis. Resistensi vaskular pulmonal tetap rendah
sepanjang masa anak-anak, meskipun dapat mulai meningkat saat dewasa
dan menyebabkan pirau yang berlawanan dan terjadi sianosis.3
2. Defek Septum Ventrikel
Definisi
Defek septum ventrikel (DSV) adalah terdapat lubang pada sekat yang
memisahkan ventrikel kanan dan ventrikel kiri (septum interventrikularis)
sehingga terdapat pirau di antara kedua ventrikel. DSV dapat disebabkan
oleh gangguan atau gagal bersatunya bagian-bagian dari septum
interventrikularis.6,7
Gambar 6 Anatomi Septum Ventrikel dan Defek Septum Ventrikel
Sumber: Lee6
Patologi
1. Septum ventrikel dibagi menjadi sebagian kecil terdiri atas
membran dan sebagian besar terdiri atas muskular. Septum
muskular terdiri atas 3 komponen, yaitu inlet, trabecular, dan outlet
(infundibular atau conal). Septum trabekular (yang juga dikenal
sebagai septum muskular) dibagi menjadi anterior, posterior, mid,
175
dan apikal. Oleh karena itu, defek septum ventrikel diklasifikasikan
sebagai membranous, inlet, outlet (atau infundibular), midtrabekular
(atau midmuskular), trabekular anterior (atau muskular posterior),
atau defek apikal muskular.3
a. Septum membranosa merupakan daerah kecil yang
berada di antara katup aorta. Defek membranosa meliputi
sejumlah besar jaringan yang berdekatan dengan septum
membranosa (defek septum ventrikel perimembran).
Berdasar atas defek yang terjadi pada daerah yang
berdekatan dengan septum muskular, defek septum
ventrikel
perimembran
dibagi
menjadi
inlet
perimembranosa (atrioventricular (AV) canal type) dan
perimembranosa trabekular atau outlet perimembranosa
(tipe tetralogi). Defek perimembran merupakan yang paling
banyak terjadi (70%).3
b. Defek outlet (infundibular atau conal) terjadi pada
5 – 7 % dari seluruh defek septum ventrikel di dunia Barat
dan sekitar 30% negara Timur Jauh. Defek yang berlokasi
dalam septum outlet (conal) dan bagian luarnya terbentuk
dari anulus aortik dan pulmonal. Sebuah katup aortik dapat
mengalami prolaps melalui defek septum ventrikel dan
menyebabkan insufisiensi aorta. Hal tersebut disebut
sebagai suprakristal, conal, subpulmonal, dan defek
subarterial.7
c. Defek inlet (kanal atrioventrikular) terjadi pada 5 ̶
8% dari seluruh defek septum ventrikel. Defek ini berada
pada posterior dan inferior defek perimembranosa di antara
katup septal atau katup trikuspid.3
176
d. Defek trabekular (muskular) terjadi pada 5 – 20%
defek septum ventrikel. Apabila kelainan ini dilihat dari sisi
kanan
maka
kelainan
ini
tampak
multipel.
Defek
midmuskular terletak di sebelah posterior dari septal band.
Defek apikal muskular terletak dekat dengan apeks kardiak
dan sulit untuk dilihat ataupun diperbaiki. Defek anterior
biasanya multipel, kecil, dan berliku-liku. Tipe “Swiss cheese”
defek
muskular
multipel
(yang
melibatkan
seluruh
komponen dari septum ventrikel) sangat sulit untuk
dilakukan tindakan penutupan.
Skema lokasi defek tampak pada Gambar 6.
2. Defek memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari yang
ukuran kecil tanpa kelainan hemodinamik yang signifikan hingga
defek yang berukuran besar dengan gagal jantung kongestif dan
hipertensi pulmonal.
3. Berkas His berhubungan dengan kuadran posteroinferior
dari defek perimembran dan kuadran superoanterior dari defek
muskular inlet. Defek pada bagian lain dari septum biasanya tidak
berkaitan dengan konduksi jaringan.
4. Pada sebuah defek infundibular, puncak kanan koroner dari
katup aorta dapat mengalami herniasi melalui defek. Hal ini
menyebabkan pengurangan pirau defek septum ventrikel, namun
dapat menyebabkan aorta regurgitasi dan menyebabkan obstruksi
pada aliran keluar ventrikel kanan. Kejadian herniasi yang sama dari
puncak nonkoroner biasanya terjadi melalui defek perimembran.3
Patofisiologi
Defek
septum
ventrikel
terjadi
karena
penutupan
septum
interventrikular terlambat pada 7 minggu pertama kehidupan intrauterin.
177
Meskipun penyebab defek ini belum diketahui secara jelas, namun mutasi
gen diketahui menyebabkan defek pada ventrikel. Mutasi kromosom dan
faktor lingkungan memengaruhi defek septum ventrikel. Defek septum
ventrikel lebih sering terjadi pada bayi prematur dan bayi berat lahir
rendah, sedangkan defek septum muskularis lebih sering terjadi pada
populasi Asia dibanding dengan negara-negara barat.
Ukuran
defek
dan
resistensi
vaskular
paru
memengaruhi
hemodinamik pasien. Pada keadaan normal resistensi arteri pulmonal fetus
lebih tinggi dan akan turun secara cepat pada saat bayi mulai bernapas dan
pada satu jam pertama kehidupan, serta selanjutnya akan turun secara
bertahap dan menetap hingga usia 3 ̶ 6 bulan. Setelah lahir tahanan vaskular
paru turun, aliran dari kiri ke kanan dimulai dan meningkat pada hari
pertama dan minggu pertama kehidupan. Pada defek yang lebih kecil
tekanan ventrikel kanan dan tahanan arteri pulmonal turun, sedangkan pada
defek yang besar terjadi keseimbangan antara 2 ventrikel.6.7
Besarnya pirau ditentukan oleh ukuran, tingkat tahanan vaskular
paru, dan tidak oleh lokasi defek. Pada DSV kecil hanya sebagian darah yang
berasal dari ventrikel kiri ke arteri pulmonalis komunis. Derajat kongestif
vaskular paru dan pembesaran ruang jantung minimal atau terlalu kecil
untuk menyebabkan perubahan yang signifikan pada gambaran foto toraks.
Volume yang terlalu kecil yang membebani ventrikel kiri untuk
menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri pada EKG, pirau ini juga menyebabkan
murmur sistolik.6,7
Pada DSV yang sedang tampak pirau lebih banyak (digambarkan
panah pirau yang lebih tebal daripada DSV kecil) dari ventrikel kiri ke kanan
sehingga menyebabkan pembesaran ruang jantung. Pada foto toraks dapat
menunjukkan kardiomegali yang signifikan. Volume yang berlebihan secara
signifikan pada ventrikel kiri menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri pada
178
EKG. Meskipun pirau besar, tetapi ventrikel kanan tidak signifikan
membesar karena tekanan hanya sedikit meningkat.6,7
Pada defek septum ventrikel yang besar semua ukuran ruang jantung
membesar karena pirau lebih besar. Foto radiologis toraks akan
menunjukkan pembesaran biventrikel, atrium kiri, dan peningkatan corakan
paru. Pada EKG didapatkan hipertrofi biventrikular dan kadang disertai
hipertrofi atrium.6,7
Apabila defek septum ventrikel besar yang tidak diterapi
menyebabkan perubahan ireversibel pada arteriol paru sehingga terjadi
penyakit
obstruktif
vaskular paru, hal
dikenal
sebagai
sindrom
Eisenmenger. DSV yang besar akan menyebabkan perubahan pada ukuran
jantung, gambaran EKG, dan gambaran klinis. Tahanan vaskular paru yang
meningkat akan mengurangi pirau kiri ke kanan dan ventrikel kanan akan
membesar
karena
terjadi
hipertensi
pulmonal
yang
persisten.6.7
Hemodinamik pada DSV tampak pada ilustrasi Gambar 7.
Kecil
Sedang
Besar (RVP↑)
Besar (RVP↑↑)
Gambar 7 Hemodinamik pada DSV dengan Variasi Ukuran
Sumber: Park1
Keterangan: RVP: resistensi vaskular paru
179
Hemodinamik pada DSV dengan variasi ukuran 6,7
1. Defek kecil: gambaran kardiomegali pada foto toraks tidak
ada atau minimal, tekanan ventrikel kanan 25 ̶ 30% dibanding
dengan ventrikel kiri, gambaran EKG biasanya normal.
2. Defek sedang: pada
foto radiologis toraks tampak
kardiomegali sedang, tekanan ventrikel kanan 30 ̶ 50% dibanding
dengan ventrikel kiri, gambaran EKG ditemukan hipertrofi ventrikel
kiri kadang ditemukan hipertrofi atrium kiri.
3. Defek besar dengan peningkatan tahanan vaskular paru:
gambaran kardiomegali pada foto toraks jelas, tekanan ventrikel
kanan 60 – 80% dibanding dengan ventrikel kiri, gambaran EKG
ditemukan hipertrofi ventrikel kiri, hipertrofi ventrikel kanan, dan
hipertrofi atrium kiri.
4. Defek besar dengan peningkatan tahanan vaskular paru yang
tinggi: tidak ditemukan gambaran kardiomegali pada foto toraks,
tekanan ventrikel kanan 100% dibanding ventrikel kiri, gambaran
EKG ditemukan hipertrofi ventrikel kanan.3
3. Duktus Arteriosus Persisten
Definisi
Definisi duktus arteriosus persisten adalah kelainan jantung kongenital
yang ditandai kegagalan penutupan duktus arteriosus segera setelah bayi
lahir
menyebabkan
pembuluh
darah
fetal
yang
menghubungkan
percabangan arteri pulmonalis sebelah kiri dengan aorta desenden tepat di
sebelah distal arteri subklavia kiri.1,8
Patofisiologi
Oleh karena tekanan aorta yang lebih tinggi maka ada pirau dari kiri ke
kanan melalui duktus arteriosus, yaitu dari aorta ke arteri pulmonal.
180
Luasnya pirau tersebut bergantung pada ukuran duktus arteriosus persisten
dan rasio dari resistensi pembuluh darah paru-paru dan sistemik. Pada
kasus yang ekstrim, 70% darah yang dipompa ventrikel kiri akan mengalir
melalui duktus arteriosus persisten ke sirkulasi pulmonal menyebabkan
lung overflow.7
Gambar 8 Skema Anatomi dan Fisiologi Saturasi Ruang Jantung
dengan Duktus Arteriosus Persisten
Sumber: Modifikasi Moore dkk,9
Jika ukuran duktus arteriosus persisten kecil, tekanan antara arteri
pulmonal, ventrikel kanan, dan atrium kanan normal. Jika duktus arteriosus
persisten besar, tekanan arteri pulmonal dapat meningkat baik pada waktu
sistole dan diastole. Pasien dengan duktus arteriosus persisten yang besar
mempunyai risiko tinggi terjadi berbagai komplikasi. Tekanan nadi yang
lebar disebabkan oleh banyaknya aliran darah ke arteri pulmonal ketika fase
diastolik.1,8
Dengan bertambahnya usia, secara fisiologis resistensi vaskular paru
akan menurun sehingga pirau kiri ke kanan melalui duktus arteriosus
persisten akan bertambah. Darah dari paru mengalir ke atrium kiri lalu ke
ventrikel kiri sehingga terjadi kelebihan volume di jantung kiri yang
mengakibatkan dilatasi atrium dan ventrikel kiri yang selanjutnya
bermanifestasi sebagai gagal jantung.9 Dengan peningkatan aliran darah ke
181
paru, adaptasi kompensasi berupa peningkatkan resistensi vaskular paru
akibat vasokonstriksi kapiler paru untuk mengurangi aliran darah. Keadaan
ini disebut hipertensi pulmonalis hiperkinetik. Jika proses berlanjut, terjadi
peningkatkan resistensi vaskular paru akibat perubahan patologis pada
dinding kapiler paru sehingga terjadi hipertensi pulmonalis yang ireversibel.
Keadaan terakhir ini disebut penyakit vaskular paru. Pada keadaan ini pirau
yang sebelumnya mengalir dari kiri ke kanan berbalik arah sehingga pasien
menjadi sianosis, kondisi ini disebut dengan sindrom Eisenmenger atau
hipertensi pulmonal high resistance.10
TATA LAKSANA
Tata laksana hipertensi pulmonal tidak hanya berupa pemberian obatobatan sebagai terapi spesifik, namun merupakan gabungan perawatan
umum, terapi suportif, terapi obat-obatan yang spesifik, dan yang paling
utama adalah koreksi penyebab hipertensi pulmonal.2
Perawatan Umum
Pasien hipertensi pulmonal sangat rentan terhadap pneumonia dan
kematian terjadi ±7% kasus hipertensi pulmonal dengan pneumonia.
Terapi suportif
Oksigen
Hipoksia merupakan vasokonstriktor pulmonar yang kuat sehingga sangat
penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi hipoksemia. Terapi oksigen
direkomendasikan untuk meningkatkan saturasi oksigen dan mengurangi
gejala.2
182
Antikoagulan oral
Penggunaan antikoagulan oral pada pasien hipertensi pulmonal sangat
rasional, hal ini didukung bukti prevalensi yang tinggi terdapat lesi
trombotik vaskular serta gangguan koagulasi dan fibrinolitik. Antikoagulan
oral diberikan dengan dosis untuk mencapai target INR 1,5–2. Dosis yang
direkomendasikan adalah 0,1–0,2 mg/kgBB/dosis, 1x sehari selama 2 hari
pertama, dilanjutkan dengan dosis 0,1 mg/kgBB/dosis, 1x sehari. 2
Diuretik
Gagal jantung kanan akan menyebabkan retensi cairan, peningkatan tekanan
vena sentral, bendungan hati, asites, dan edema perifer. Pengalaman klinis
menunjukkan perbaikan pada pasien yang kelebihan cairan setelah
mendapat terapi diuretik, walaupun belum ada penelitian khusus mengenai
penggunaan diuretik pada hipertensi pulmonal. Diuretik dan antagonis
aldosteron direkomendasikan pada pasien hipertensi pulmonal yang
disertai tanda gagal jantung kanan dan retensi cairan.2
Digoksin
Digoksin telah terbukti meningkatkan curah jantung pada pasien hipertensi
pulmonal idiopatik. Digoksin direkomendasikan untuk menurunkan denyut
jantung pada pasien hipertensi pulmonal yang disertai atrium takiaritmia. 2
Terapi obat spesifik
Beberapa macam obat telah digunakan secara tunggal atau kombinasi
sebagai terapi spesifik hipertensi pulmonal. Pemilihan terapi bergantung
pada etiologi, keadaan klinis, hemodinamik, tes respons vasodilator pada
vaskular paru, dan ketersediaan obat-obatan. 2
183
Penghambat kalsium
Penghambat kalsium diberikan pada pasien hipertensi pulmonal yang
berespons terhadap tes vasodilator akut.2,16 Penghambat kalsium yang
sering digunakan adalah nifedipin dan diltiazem. Dosis pemberian nifedipin
adalah 0,2 mg/kgBB setiap 8 jam. Berdasar atas penelitian didapatkan 40%
hipertensi pulmonal idiopatik bersifat vasoreaktif. 2
Ilopros
Ilopros merupakan analog prostasiklin dapat diberikan secara intravena,
oral, dan aerosol. Ilopros mempunyai masa paruh waktu sangat pendek,
yaitu 20–30 menit sehingga harus diberikan secara inhalasi sampai 6–12 kali
per hari dengan dosis 2,5–5 mcg per kali.3,6,12,16
Obat ini cukup efektif, aman, dan dapat dipakai untuk menggantikan
prostasiklin intravena. Perubahan hemodinamik yang terjadi pada vaskular
paru dengan pemberian prostasiklin inhalasi dan intravena tidak berbeda,
bahkan ilopros mempunyai kelebihan Obat ini bekerja selektif di vaskular
paru, yaitu menyebabkan vasodilatasi paru dan penurunan tekanan darah
serta resistensi vaskular paru tanpa menimbulkan vasodilatasi dan
penurunan tekanan darah sistemik yang bermakna. 2
Bosentan (antagonis reseptor endotelin)
Bosentan adalah sediaan aktif per oral, merupakan antagonis pada kedua
reseptor endotelin, yaitu endotelin-A dan endotelin-B. Obat ini telah terbukti
dapat memperbaiki hemodinamik, kapasitas fisik, dan angka kelangsungan
hidup penderita hipertensi pulmonal. Rekomendasi dosis bosentan adalah 1
mg/kgBB/12 jam. 2
184
Sildenafil
Sildenafil merupakan inhibitor selektif dari fosfodiesterase tipe 5 yang
memecah cGMP dan memperpanjang kerja NO. Pada sel otot vaskular, cGMP
akan meregulasi influks kalsium sehingga terjadi vasodilatasi.
Dosis
sildenafil yang dianjurkan pada anak adalah 0,3 mg/kgBB tiap 3–6 jam yang
dapat dinaikkan bertahap sampai maksimal yang dapat ditoleransi, yaitu 2–
3 mg/kgBB/dosis. 2
Nitric oxide
Nitric oxide adalah vasodilator endogen yang dikeluarkan oleh endotel,
sangat poten, bekerja langsung merelaksasi otot polos vaskular melalui
stimulasi guanilat siklase dan meningkatkan produksi cGMP.12,13,16
Penggunaan inhalasi NO jangka pendek umumnya dilakukan di ruang rawat
intensif setelah operasi koreksi PJB.2
Balon arterial septostomi
Tindakan ini bertujuan dekompresi ruang jantung kanan melalui aliran
kanan-kiri sehingga meningkatkan preload ventrikel kiri dan curah jantung.
Balon arterial septostomi direkomendasikan untuk penderita hipertensi
pulmonal berat yang tidak berespons terhadap terapi kombinasi. 2
RINGKASAN
Hipertensi pulmonal adalah kelainan yang berat dan progresif serta
memiliki prognosis yang buruk. Terapi yang diberikan saat ini tidak dapat
menyembuhkan hipertensi pulmonal, namun dapat meningkatkan angka
usia harapan hidup dan kualitas penderita hipertensi pulmonal. Diagnosis
dini dan tata laksana yang tepat dapat memperbaiki klinis, hemodinamik,
dan kapasitas aktivitas fisik penderita hipertensi pulmonal.
185
DAFTAR PUSTAKA
1. Park MK. Pediatric cardiology for practitioners. Edisi ke-6.
Philadelphia: Mosby Elsevier; 2014.
2. Humpl T, Schulze-Neick IL. Pulmonary vascular disease. Dalam:
Anderson RH, Baker EJ, Penny D, Redington AN, Rigby ML,
Wernovsky G, penyunting. Pediatric cardiology. Edisi ke-3. London.
Churchill Livingstone; 2010. hlm. 1117–31.
3. Humbert M, Sitbon O, Simonneau G. Treatment of pulmonary
arterial hypertension. N Engl J Med. 2004;351:1425–36.
4. Vandiviere HM. Pulmonary hypertension and cor pulmonale. South
Med J. 1993 Oct;86(10):2S7 – 10.
5. English RF, Anderson RH, Ettedgui JA. Interatrial Communications.
Dalam: Anderson RH, Baker EJ, Penny D, Redington AN, Rigby ML,
Wernovsky G, penyunting. Pediatric cardiology. Edisi ke-3. London.
Churchill Livingstone; 2010. hlm. 512–36.
6. Spicer DE, Hsu HH, Co-Vu J, Anderson RH, Fricker FJ. Ventricular
septal defect. Orphanet J Rare Dis. 2014 Dec 19;9:144.
7. Lee N. Benson N, Yoo SJ, Habshan FA, Anderson RH. Ventricular
septal defect. Dalam: Anderson RH, Baker EJ,Penny D, Redington
AN, Rigby ML, Wernovsky G, penyunting. Pediatric cardiology. Edisi
ke-3. London. Churchill Livingstone; 2010.hlm.579–612.
8. Benson LN. The arterial duct: its persistence and its patency. Dalam:
Anderson RH, Baker EJ,Penny D, Redington AN, Rigby ML,
Wernovsky G, penyunting. Pediatric cardiology. Edisi ke-3. London.
Churchill Livingstone; 2010. hlm. 854–73.
9. Moore P, Brooke MM, Heyman MA. Patent ductus arteriosus and
aortopulmonary window. Dalam: Moss and Adams’ heart disease in
infants, children and adolescents: including the fetus and young
adults. Edisi ke-7. Philadelphia.Lippincott Williams & Wilkins; 2008.
hlm. 683–701.
186
GANGGUAN PERTUMBUHAN AKIBAT HIPERPLASIA ADRENAL
KONGENITAL
Faisal
PENDAHULUAN
Hiperplasia adrenal kongenital (HAK) adalah kelainan bawaan yang
disebabkan oleh penurunan atau hilangnya aktivitas salah satu dari lima
enzim steroidogenesis sehingga produksi hormon glukokortikoid dan
mineralokortikoid dari korteks adrenal menurun. Manifestasi klinis dan
derajat penyakitnya yang sangat bervariasi sering kali mengakibatkan
keterlambatan atau salah diagnosis.1,2 Pemahaman yang baik HAK akan
dapat membantu deteksi lebih dini pada banyak kasus sehingga pasien akan
mendapatkan tata laksana yang cepat dan tepat sehingga diharapkan
dampak yang lebih buruk dapat dihindari. 1-4
Manifestasi klinis yang muncul dapat berupa ambigus genitalia,
hirsutisme, menstruasi tidak teratur pada remaja, pubertas dini, hingga salt
wasting yang mengancam jiwa pada usia neonatus apabila gagal dikenali
dengan cepat dan tidak mendapatkan tata laksana yang tepat.1 Kegawatan
pada HAK bergantung pada seberapa banyak sisa enzim yang dapat
berfungsi dan ada atau tidaknya keadaan salt wasting. Kadar kortisol yang
rendah dapat menyebabkan anak HAK meninggal setelah lahir akibat krisis
adrenal.1,5
Krisis adrenal sering tidak terlihat pada bayi laki-laki, namun dapat cepat
dikenali pada bayi perempuan karena terdapat ambigus genitalia yang dapat
terlihat dari genitalia eksternanya. Prioritas terapi pada masa bayi adalah
menghindari krisis adrenal, kesalahan dalam penentuan jenis kelamin, dan
gangguan pertumbuhan. Pada masa anak pemantauan ditujukan untuk
pertumbuhan linier, berat badan dan perkembangan pubertas, serta
187
pemantauan terhadap kemungkinan fertilitas, sindrom metabolik, dan
osteoporosis saat dewasa nanti.1,2,5,6 Kemajuan dalam bidang teknologi
biomolekuler memungkinkan dilakukannya deteksi dan terapi dini HAK.
Deteksi dan terapi dini memungkinkan anak dapat tumbuh dan berkembang
optimal sesuai dengan potensinya.4-6
EPIDEMIOLOGI
Penyakit HAK adalah penyebab tersering disorder of sexual development
(DSD) pada neonatus dengan angka kejadian 1:10.000 sampai 1:15.000
kelahiran hidup.1,2,5,6 Angka kejadian HAK klasik dilaporkan dari 1:5.000
hingga 1:15.000 dan bervariasi menurut latar belakang etnis/ras. Mutasi
spesifik etnis ini telah dilaporkan pada ras Yahudi Ashkenazi, Iran, Eskimo,
dan Indian Timur. Selain itu, prevalensi defisiensi enzim 21-hidroksilase
lebih rendah di antara ras Afrika-Amerika daripada ras Kaukasia di Amerika
Serikat. Skrining terhadap 2 juta bayi baru lahir di New York telah
mendeteksi 105 kasus yang terkonfirmasi HAK tipe klasik; insiden itu
sekitar 1:15.500 untuk ras Asia dan bayi kulit putih, 1:17.450 untuk
Hispanik, dan 1:24.840 untuk bayi kulit hitam. Angka kejadian HAK tipe nonklasik, yaitu 1:1.000 dengan peningkatan prevalensi pada ras Hispanik,
Yugoslavia, dan Yahudi Ashkenazi.2-8 Sampai saat ini angka kejadian HAK di
Indonesia masih belum diketahui dengan pasti.5
ETIOLOGI
Etiologi HAK adalah kelainan genetik yang bersifat autosomal resesif akibat
mutasi pada gen CYP21. Mutasi ini mengakibatkan defisiensi enzim dalam
jalur biosintesis steroid pada korteks adrenal. Mutasi gen CYP21 akan
memengaruhi derajat defek enzimatik yang terjadi dan akan memengaruhi
manifestasi klinis yang terlihat. Hingga saat ini terdapat sekitar 100 mutasi
CYP21 yang dilaporkan dan di antaranya berkaitan dengan fenotip HAK.
188
Apabila kedua orangtua pembawa maka 25% anaknya akan memiliki
kesempatan terjadi HAK.1,7,8
HAK melibatkan 3 steroid penting di dalam adrenal, yaitu1,8-11
1. kortisol (glukokortikoid) yang membantu tubuh dalam menanggulangi
keadaan stres emosi dan fisik serta membantu mengontrol kadar gula
darah;
2. aldosteron (mineralokortikoid) membantu regulasi garam dalam tubuh;
3. androgen, seperti halnya hormon testosteron berfungsi mengontrol
tanda-tanda seks sekunder saat pubertas, terutama pertumbuhan
rambut pubis;
Gambar 1 Biosintesis Steroid di Korteks Adrenal
Sumber: Speiser, White12
189
KLASIFIKASI DAN MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis HAK bervariasi dari penyakit yang secara klinis tidak
terlihat, secara klinis ringan, hingga secara klinis berat dan mengancam jiwa.
Bentuk terbanyak dari HAK diklasifikasikan menjadi 2 tipe.5,11-13
1. HAK tipe klasik
Tipe ini adalah tipe yang berat dan muncul pada saat lahir atau pada
minggu-minggu pertama kehidupan setelah lahir. Pada perempuan
tampak virilisasi sejak lahir. Pada laki-laki gejala tidak jelas, tetapi
tampak hiperpigmentasi terutama di daerah genital. Tipe ini dapat
berupa salt wasting dan simple virilizing (non-salt lossing) bergantung
pada derajat defisiensi mineralokortikoid yang menyertai.
Terbagi menjadi 2 subtipe berdasar atas defisiensi aldosteron yang
terjadi.
a. The salt wasting form
Salt wasting terjadi akibat ketidakmampuan konversi progesteron
ke deoksikortikosteron. Hal ini disebabkan oleh defek yang sangat
berat pada enzim 21-hidroksilase sehingga adrenal tidak mampu
memproduksi
kortisol
dan
aldosteron.
Terdapat
defisiensi
aldosteron ginjal tidak mampu menahan garam secara normal
sehingga ion kalium dan ion hidrogen teretensi menyebabkan
hiponatremia, hiperkalemia, dan asidosis yang dapat mengakibatkan
syok hingga kolaps kardiovaskular. Sebagai reaksi defisiensi
aldosteron maka plasma renin activity (PRA) dan angiotensin II
serum akan meningkat. Kadar PRA ini lebih tinggi pada neonatus
dibanding dengan anak yang lebih besar sehingga setelah usia 2 - 3
tahun terdapat perbaikan keseimbangan garam selain faktor intake
garam dari luar.5,7-13
Gejala klinis salt wasting meliputi penurunan nafsu makan,
muntah, letargi, gagal tumbuh, syok, hipoglikemia, hiponatremia,
190
dan hiperkalemia. Semua gejala ini menunjukkan kegagalan fungsi
korteks adrenal dan dikenal juga dengan istilah krisis adrenal yang
biasanya muncul pada minggu kedua sampai minggu ketiga
kehidupan. Gejala-gejala ini sering kali keliru dianggap sebagai
bagian dari intoleransi susu formula, kolik, sepsis, asidosis tubuler
renal, ataupun stenosis pilorus sehingga dapat menyebabkan
keterlambatan diagnosis.5,8
b. The simple virilizing form
Pada
perempuan
dengan
defisiensi
enzim
21-hidroksilase
teridentifikasi pada masa anak-anak dengan munculnya rambut
kemaluan lebih dini, klitoromegali, serta sering disertai percepatan
pertumbuhan dan maturasi tulang. Pada pasien bayi laki-laki sering
tampak normal saat lahir, tetapi gejala pubertas prekoks dapat
timbul pada usia 6 bulan pertama atau berkembang secara bertahap
dan menjadi lebih jelas usia 4 – 5 tahun kemudian. Pembesaran
penis, muncul rambut kemaluan, timbul jerawat, suaranya yang
berat, percepatan pertumbuhan, dan maturasi tulang pada masa
anak-anak.1,7,12-15
2. HAK nonklasik (the late onset atau non-classical form)
Bentuk yang lebih ringan dan muncul lebih lambat, yaitu pada masa
anak-anak (prapubertas) atau bahkan pada usia dewasa dengan hormon
androgen
yang
berlebihan,
tetapi
tanpa
disertai
defisiensi
glukokortikoid atau mineralokortikoid. Gejala bergantung pada usia dan
dapat berupa pubertas prekoks, percepatan pertumbuhan (advanced
bone age) saat anak-anak. Pada perempuan dapat terjadi penyakit
polikistik ovarium, hirsutisme, menstruasi tidak teratur, perawakan
pendek, dan penurunan fertilitas. Derajat beratnya kelebihan androgen
pada pasien HAK akibat defisiensi 21-hidroksilase nonklasik sangat
191
bervariasi dan banyak individu yang tidak mencari pertolongan medis
karena gejala klinis yang tidak khas bahkan tidak ditemukan genitalia
ambigu pada bayi perempuan. Manifestasi yang sering ditemukan adalah
adrenarke prematur dengan peningkatan ringan kadar DHEAS dan
kadar 17-OHP serta peningkatan laju pertumbuhan. Manifestasi yang
sering ditemukan pada wanita remaja dan dewasa muda adalah
hirsutisme, disfungsi menstruasi, alopesia, dan akne kistik serta dapat
juga berupa penurunan fertilitas.1,2,5,10-13
GANGGUAN PERTUMBUHAN PADA ANAK HAK
Pertumbuhan merupakan perhatian utama dalam banyak proses penyakit
kronik termasuk HAK. Pada HAK pasien sering gagal mencapai target
pertumbuhan optimal akibat dari perjalanan penyakitnya atau dapat juga
karena pengobatan yang tidak adekuat. Strategi terapi HAK saat ini adalah
dengan pemberian substitusi hormon glukokortikoid dan mineralokortikoid
agar tercapai target berupa penurunan hormon seks adrenal, mencegah
virilisasi, mengoptimalkan pertumbuhan dan proteksi potensi fertilitas. 10-15
Pada prinsipnya gangguan pertumbuhan pada HAK terjadi karena
ketidakseimbangan hormonal dari adrenal. Pola pertumbuhan pasien HAK
yaitu adanya penurunan laju pertumbuhan (growth velocity) pada tahun
pertama kehidupan, kemudian peningkatan yang pesat pada maturasi tulang
yang menyebabkan peningkatan laju pertumbuhan pada usia anak dan
terakhir adalah penurunan kecepatan pubertal growth spurt yang berakibat
penurunan tinggi akhir saat dewasa.10 Pola tersebut terjadi karena produksi
hormon androgen yang berlebihan menyebabkan virilisasi, percepatan
pertumbuhan, pematangan skeletal berlebih, dan fusi epifisis dini. Dengan
berbagai bentuk HAK yang berbeda dalam tingkat defisiensi enzimatiknya
maka ini merupakan tantangan mengoptimalkan pertumbuhan. 10, 15-18
192
Faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan dan Tinggi Akhir Pasien HAK
Jenis HAK
Gangguan pertumbuhan lebih berdampak pada HAK tipe simple virilizing
daripada dalam bentuk salt wasting (Final Height-SDS -0,57 +/- 0,8 pada pria
dan 0,61 +/- 1 pada wanita) meskipun hal ini tidak selalu signifikan secara
statistik dalam beberapa studi yang berbeda. Hal ini terjadi karena pada HAK
tipe simple virilizing sering terlambat dalam diagnosis dan tata laksana
sehingga paparan androgen berlebihan yang terlalu lama, usia tulang yang
maju dan pubertas prekoks membuat tinggi akhir lebih cepat diperoleh,
bahkan pada usia yang masih dini. 10, 15
Hal ini berbeda dengan tipe klasik dengan bentuk salt-wasting yang
bergejala pada usia yang sangat dini sehingga bisa didiagnosis dan diobati
lebih dini dan pertumbuhan tinggi badan akan mendekati pertumbuhan
anak normal dengan pengaturan dosis dan pemantauan yang adekuat.5,10,15
Waktu Diagnosis dan Pengobatan
Secara umum, terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada
pasien yang
mendapat terapi lebih dini dibandingkan dengan yang
mengalami keterlambatan. Tinggi badan mendekati normal dapat dicapai
jika pengobatan cepat dimulai pada masa bayi ketika usia tulang masih
sesuai dengan usia kronologis. Pasien yang memulai pengobatan sebelum
usia 1 tahun memiliki tinggi badan yang secara signifikan lebih tinggi
dibanding dengan pasien yang terlambat atau tidak diobati baik pada lakilaki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa paparan androgen yang
berlebih pada usia bayi usia 0 – 2 tahun tidak memberikan pengaruh yang
besar pada pertumbuhan linear. Pertumbuhan pada masa bayi lebih
bergantung pada glukokortikoid baik itu ketika kadarnya rendah atau akibat
dosis glukokortikoid yang terlalu besar.10,15,17
Kepatuhan Pengobatan
193
Kepatuhan pengobatan yang baik secara umum dikaitkan dengan
penambahan tinggi badan yang optimal meskipun faktor ini berdasar atas
penilaian subjektif dari dokter yang secara langsung menangani pasien. Pada
prinsipnya
pemberian
terapi
substitusi
glukokortikoid
ataupun
mineralokortikoid perlu pengawasan kecukupan dosis dengan memantau
kepatuhan minum obat dan penyesuaian dosis oleh dokter yang
menanganinya. Dengan pemantaun kepatuhan pengobatan maka dosis
terapi akan dipertahankan selalu adekuat dan pertumbuhan dapat mencapai
tinggi akhir yang baik.2, 10, 15-17
Berat Badan/Obesitas
Selain pengaruhnya pada tinggi badan, anak dengan HAK memiliki
kecenderungan indeks masa tubuh (IMT) berlebih karena rasio masa lemak
dibanding masa bebas lemak yang lebih tinggi dibandingkan anak normal.
Konsumsi glukokortikoid menyebabkan retensi air dan meningkatkan nafsu
makan.21 Finkielstain dkk melaporkan 35% anak HAK mengalami obesitas.
Penelitian ini menunjukkan 7 dari 14 subjek (50%) mengalami obesitas,
angka ini lebih tinggi dibandingkan penelitian lain.17 Faktor risiko obesitas
bersifat multifaktorial, di antaranya asupan diet, efek samping terapi,
komplikasi penyakit, lingkungan keluarga (pendidikan, pendapatan
orangtua, obesitas pada orangtua). Sembilan dari 14 kasus HAK pada
penelitian ini berasal dari keluarga dengan tingkat pendapatan orang tua
menengah ke atas. Hasil analisis diet menunjukkan 12/14 kasus memiliki
asupan kalori yang berlebih (>100 %). Susanti dkk melaporkan 61,3 %
pasien HAK obesitas memiliki asupan nutrisi lebih dan 57,1% memiliki
aktivitas fisis tidak aktif. Durasi terapi glukokortikoid berkorelasi sedang
(r=0,668; p=0,000) dengan indeks massa tubuh (IMT), dan dosis terapi
glukokortikoid tidak menunjukkan korelasi dengan IMT.4
194
Suplemen Garam
Bayi muda dengan HAK tipe salt wasting membutuhkan suplementasi
natrium klorida selain pengobatan steroid karena ASI atau susu formula
tidak mengandung cukup natrium (8 mmol/l) untuk menggantikan
kehilangan urin di beberapa bulan pertama kehidupan ketika mereka hanya
mendapat ASI atau susu formula. Pemberian tambahan garam akan
membantu memperbaiki gangguan elektrolit terutama normalisasi natrium.
Kadar natrium yang baik akan berpengaruh pada dosis mineralokortikoid
dan glukokortikoid.5,8,13
PROGNOSIS
HAK dapat terkontrol selama kepatuhan konsumsi obat glukokortikoid dan
mineralkortikoid dilakukan secara teratur. Ketidakpatuhan dalam konsumsi
obat dapat mengakibatkan komplikasi seperti krisis adrenal. Luaran lain
yang perlu diperhatikan adalah proses pertumbuhan tulang, fungsi seksual
dan fertilitas di masa dewasa. Konsumsi glukokortikoid jangka lama perlu
memerhatikan efek samping, seperti Cushing syndrome dan meningkatnya
risiko terkena penyakit kardiovaskular.1.19,20
SIMPULAN
Hiperplasia adrenal kongenital adalah suatu kelainan herediter yang
memengaruhi produksi hormon pada korteks kelenjar adrenal. Kegawatan
dalam HAK perlu dideteksi dan mendapatkan tata laksana sedini mungkin
untuk menghindari kondisi yang mengancam jiwa. Selain itu tata laksana
jangka panjang yang tepat juga dibutuhkan untuk memastikan setiap anak
memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, termasuk
pertumbuhan linier, berat badan, dan perkembangan pubertas serta
fertilitas, sindrom metabolik, dan osteoporosis saat anak dewasa kelak
sehingga kualitas hidup anak menjadi optimal. Untuk itu diperlukan suatu
195
tim multidisiplin untuk menangani kasus HAK serta kerja sama yang baik
dengan keluar
DAFTAR PUSTAKA
1. El-Maouche D, Arlt W, Merke DP. Congenital adrenal hyperplasia. Lancet.
2017;390: 2194–210.
2. Witchel SF. Congenital adrenal hyperplasia, J Pediatr Adolescent Gynecol. 2017.
3. Untario C. Hiperplasia adrenal kongenital di Surabaya: analisis retrospektif
praktek endokrin anak tahun 1997-2011. Sari Pediatri. 2013;14:337–40.
4. Susanti F, Batubara JR, Advani N. Profil klinis dan terapeutik anak hiperplasia
adrenal kongenital terkait gizi lebih dan obesitas. Sari Pediatri. 2014;16:201–9.
5. Batubara J, Pulungan A, Tridjaja B, penyunting. Buku ajar endokrinologi. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2018.
6. Indradjaja A, Suryawan IWB, Arimbawa IW. Hiperplasia adrenal kongenital
(HAK) klasik simple virilizing pada anak umur 3 tahun. MEDICINA. 2014;45:58–
64.
7. Torresani T. Congenital adrenal hyperplasia: diagnostic advances; J Inherit
Metab Dis. 2007;30:563–75.
8. Padidela R, Hindmarsh PC. Mineralocorticoid deficiency and treatment in
congenital adrenal hyperplasia. Int J Pediatr Endocrinology. 2010:1–4.
9. Dörr HG, Odenwald B, Nennstiel-Ratzel U. Early diagnosis of children with
classic congenital adrenal hyperplasia due to 21-hydroxylase deficiency by
newborn screening. Int J Neonatal Screen. 2015:36–44.
10. Bonfig W. Growth and development in children with classic congenital adrenal
hyperplasia. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obes. 2017:39–42.
11. Koh WJ, Kim GH, Yoo HW, Yu J. Clinical features of congenital adrenal
insufficiency including growth patterns and significance of ACTH stimulation
test. J Korean Med Sci. 2013;28:1650–6
12. Speiser PW, White PC. Congenital Adrenal Hyperplasia. N Engl J Med.
2003;349:776-88
13. Gomes LG, Madureira G, Mendonca BB, Bachega TASS. Mineralocorticoid
replacement during infancy for salt wasting congenital adrenal hyperplasia due
to 21-hydroxylase deficiency. 2013;2:147–51.
14. Bougnè res P, Bouvattier C, Cartigny M, Michala L Deferring surgical treatment
of ambiguous genitalia into adolescence in girls with 21-hydroxylase deficiency:
a
feasibility study. Int J Pediatr Endocrinol. 2017:3.
15. Nguyen ATT, Brown JJ, Warne GL. Growth in congenital adrenal hyperplasia.
Indian J Pediatr. 2006;73(1):89–83.
16. Völkl TM, Simm D, Beier C, Dörr HG. Obesity among children and adolescents
with classic congenital adrenal hyperplasia due to 21-hydroxylase deficiency.
Pediatrics 2006; 117: e98–105
17. Finkielstain GP, Kim MS, Sinaii N, Nishitani M, Ryzin CV, Hill SC, dkk. Clinical
characteristics of a cohort of 244 patients with congenital adrenal hyperplasia.
J Clin Endocrin Metab 2012;97:1–10.
18. Hindmarsh P, Geertsma K. Puberty and congenital adrenal hyperplasia.
196
www.cahisus.co.uk.
19. Sari NIN, Tridjadja B, Kaswandani N, Sjarif DR, Putra ST, Gunardi H. Profil
pubertas dan pertumbuhan linier pada hiperplasia adrenal kongenital dalam
pengobatan: serial kasus. Sari Pediatri: 2016;16(5):356–64.
20. Bachelot A, Plu-Bureau G, Thibaud E, Laborde K, Pinto G, Samara D, NihoulFékété C, Kuttenn F, Polak M, Touraine P. Long-term outcome of patients with
congenital adrenal hyperplasia due to 21-hydroxylase deficiency. Horm Res.
2007;67:268–76.
21. Charmandari E, Weise M, Bornstein SR, Eisenhofer G, Keil MF, Chrousos GP, dkk.
Children with classic congenital adrenal hyperplasia have elevated serum leptin
concentrations and insulin resistance: potential clinical implications. J Clin
Endocrinol Metab 2002;87:2114–20.
197
Download