Uploaded by ihsan.syaharuddin

Manajemen hutan petak

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
KPH merupakan wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan
peruntukannya yang dikelola secara efisien dan lestari. Dalam mengimplementasikan
sistem ini, seluruh kawasan hutan akan terbagi dalam wilayah-wilayah KPH, serta
akan menjadi bagian dari penguatan sistem pengurusan hutan nasional, provinsi,
kabupaten/kota. KPH meliputi KPH Konservasi (KPHK), KPH Lindung (KPHL),
KPH Produksi (KPHP), dimana dalam satu wilayah KPH, dapat terdiri lebih dari satu
fungsi pokok hutan, dan penamaannya berdasarkan fungsi hutan yang luasnya
dominan.
Penataan areal kerja menggunakan istilah zona atau pembagian blok. Setiap
zona mencerminkan fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya
masyarakat. Penentuan zona akan mengarahkan bentuk tindakan dan investasi
kegiatan yang khas sesuai zona. Blok Pengelolaan pada wilayah KPHL dan KPHP
adalah bagian dari wilayah KPHL dan KPHP yang dibuat relatif permanen untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan. Setelah kawasan KPH dibagi
menjadi blok-blok selanjutnya dibagi lagi menjadi petak-petak dimana petak adalah
bagian dari blok dengan luasan tertentu dan menjadi unit usaha pemanfaatan terkecil
yang mendapat perlakuan pengelolaan dan silvikultur yang sama.
Oleh sebab itu dibuatlah makalah ini untuk membahas tentang pembentukan
KPH di suatu wilayah dengan menentukkan blok di setiap wilayah dengan aturan
yang telah ada yang kemudian blok tersebut dibagi menjadi petak-petak kerja.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui pembagian petakpetak pada blok yang sudah ditetapkan sebelumnya.
BAB II
LANDASAN TEORI
II.1. Perencanaan Kehutanan
Perencanaan kehutanan adalah proses penetapan tujuan, penentuan kegiatan
dan perangkat yang diperlukan dalam pengurusan hutan lestari untuk memberikan
pedoman dan arah guna menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan
untuk sebesar - besarnya kmakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan
(Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan 2010).
Perencanaan hutan adalah suatu bagian proses pengelolaan hutan untuk
memperoleh landasan kerja dan landasan hukum agar terwujud ketertiban dan
kepastian hukum dalam pemanfaatan hutan sehingga menunjang diperolehnya
manfaat hutan yang optimal, berfungsi serbaguna dan pendayagunaan secara lestari
(Simon, 2005).
Tujuan perencanaan
kehutanan adalah mewujudkan penyelenggaraan
kehutanan yang efektif dan efisien untuk mencapai manfaat fungsi hutan yang
optimum dan lestari. Perencanaan kehutanan meliputi kegiatan (Simon, 2005) :
1. Inventarisasi hutan
2. Pengukuhan kawasan hutan
3. Penatagunaan kawasan hutan
4. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan
5. Penyusunan rencana kehutanan
Samsuri (2003), mengemukakan bahwa perencanaan hutan merupakan proses
menyusun arahan dan pedoman dalam kegiatan pengelolaan hutan dengan tujuan
agar pengelolan hutan dapat terarah dan terkendali sehingga tujuan yang telah
ditetapkan dapat di capai dan dapat dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap
pelaksanaan kegiatan penglolaan hutan.Pengelolaan hutan merupakan usaha untuk
mewujudkan hutan lestari berdasar tata hutan, rencana pengelolaan, pemanfaatan
hutan, rehabilitasi hutan perlindungan hutan dan konservasi. Untuk mewujudkan
pengelolaan hutan lestari, maka seluruh kawasan hutan dibagi ke dalam unit/kesatuan
pengelolaan hutan yaitu Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Kesatuan
Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi
(KPHK) (Simon, 2005).
Rencana pengelolaan hutan memuat tentang perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, evaluasi pengendalian dan pengawasan sebagai dasar kegiatan
pengelolaan hutan. Penyusunan rencana pengelolaan hutan meliputi (Jack, 2015) :

Rencana pengelolaan hutan jangka panjang yang memuat rencana kegiatan
secara makro tentang pedoman arahan serta dasar-dasar pengelolaan hutan
untuk mencapai tujuan pengelolaan hutan dalam jangka waktu 20 tahun,
disusun oleh instansi yang bertanggung jawab dibidang kehutanan Propinsi
dan disahkan oleh Menteri Kehutanan.

Rencana pengeloaan hutan jangka menengah memuat rencana yang berisi
penjabaran rencana pengelolaan hutan jangka menengah 5 tahun disusun oleh
instansi yang bertanggung jawab dibidang kehutanan Propinsi dan disahkan
oleh Meneteri Kehutanan.

Rencana pengelolaan hutan jangka pendek memuat rencana operasional
secara detail yang merupakan penjabaran rencana pengelolaan hutan dalam
jangka waktu 1 tahun yang disusun oleh instansi yang bertanggung jawab
dibidang kehutanan dan disahkan oleh Gubernur (Pasal 14 ayat 1 dan 2, Bab
II tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Peraturan
Pemerintah No.34 Tahun 2002 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan).
II. 2 Pemanfaatan Hutan
Dalam PP Nomor 6 Tahun 2007 tentang tata hutan dan penyusunan rencana
pengelolaan hutan dijelaskan bahwa pemanfaatan hutan merupakan kegiatan untuk
memanfaatkan kawasan hutan, memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil
hutan kayu dan bukan kayu serta memungut hasil hutan kayu dan bukan kayu secara
optimal dan adil
untuk
kesejahteraan masyarakat
dengan tetap
menjaga
kelestariannya.
Pemanfaatan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat hasil dan jasa hutan
secara optimal, adil, dan lestari bagi kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan hutan
dapat dilakukan pada seluruh kawasan hutan, yang terdiri dari (Simon, 2005) :
a. Hutan konservasi, kecuali pada cagar alam, zona rimba, dan zona inti
dalam taman nasional.
b. Hutan lindung
c. Hutan produksi
Akses masyarakat terhadap sumber daya hutan dapat terdiri dari berbagai
bentuk dan tipologi sesuai dengan kondisi sosial masyarakat, sejarah interaksi
masyarakat dengan hutan dan harapan ekonomi masyarakat untuk diperbaiki
kehidupannya.Apabila dikaitkan dengan ijin atau penetapan status kawasan hutan,
akses masyarakat yang ditetapkan tidak dapat ditetapkan pada tingat KPH, karena
kewenangan untuk itu berada ditangan pemerintah atau pemerintah daerah (Jack,
2015).
Keberadaan KPH memungkinkan identifikasi keberadaan dan kebutuhan
masyarakat terhadap manfaat sumberdaya hutan dengan lebih jelas dan cermat,
sehingga proses-proses pengakuan hak, ijin maupun kolaborasi menjadi lebih
mungkin dilakukan.Demikian pula penyelesaian konflik maupun pencegahan
terjadinya konflik lebih dapat dikendalikan.Selain itu KPH dapat menfasilatisai
komunikasi dengan pemerintah atau pemerintah daerah untuk menata hak dan akses
masyarakat terhadap sumber daya hutan (Jack, 2015).
II.3. Hutan Produksi
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi
hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya serta
pembangunan, industri, dan ekspor pada khususnya.Hutan produksi dibagi menjadi
tiga, yaitu hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP), dan hutan
produksi yang dapat dikonversikan (HPK) (Sarbini, 2007).
a. Hutan Produksi Terbatas (HPT) merupakan hutan yang hanya dapat dieksploitasi
dengan cara tebang pilih. Hutan Produksi Terbatas merupakan hutan yang
dialokasikan untuk produksi kayu dengan intensitas rendah. Hutan produksi
terbatas ini umumnya berada di wilayah pegunungan di mana lereng-lereng yang
curam mempersulit kegiatan pembalakan.
b. Hutan Produksi Tetap (HP) merupakan hutan yang dapat dieksploitasi dengan
perlakuan cara tebang pilih maupun dengan cara tebang habis.
c. Hutan Produksi Yang Dapat Dikonversi (HPK) merupakan Kawasan hutan dengan
faktor kelas lereng jenis, tanah dan intensitas hujan setelah masing-masing
dikalikan dengan angka penimbang mempunyai nilai 124 atau kurang di luar hutan
suaka alam dan hutan pelestarian alam. Kawasan hutan yang secara ruang
dicadangkan untuk digunakan bagi pengembangan transmigrasi, permukiman
pertanian dan perkebunan.
Pada hutan produksi, pemanfaatan hutan dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip untuk mengelola hutan lestari dan meningkatkan fungsi utamanya.
Pemanfaatan hutan pada hutan produksi dilakukan, antara lain melalui kegiatan
(Putra, 2014):
a. Usaha Pemanfaatan Kawasan
Pemanfaatan kawasan pada hutan produksi dilakukan, antara lain, melalui
kegiatan usahabudidaya tanaman obat, tanaman hias, budidaya jamur, budidaya
lebah, penangkaran satwa dan budidaya sarang burung walet.
b. Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan
Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan produksi dilakukan, antara
lain,melalui kegiatanpemanfaatan jasa aliran air, pemanfaatan air, wisata alam,
perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan dan perlindungan lingkungan
danpenyerapan dan/atau penyimpanan karbon.
c. Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam pada hutan produksi dapat
dilakuakan melalui kegiatan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan pemanfaatan
hasil hutan kayu restorasi ekosistem
d. Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman
Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi
dapat dilakukan pada Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat
(HTR) dan Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi (HTHR).
e. Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Hutan Alam
Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dalam hutan alam pada hutanproduksi,
antara lain berupa pemanfaatan rotan, sagu, nipah, bambu, getah, kulit kayu, daun,
buah atau biji, gaharu.
f. Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Hutan Tanaman
Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi,
antara lain berupa pemanfaatan rotan, sagu, nipah, bambu, getah, kulit kayu, daun,
buah atau biji, gaharu yang meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan,
pemanenan, pengamanan dan pemasaran hasil.
II. 4 Arahan Pengelolaan Hutan Lindung dan Hutan produksi
Keberadaan hutan lindung di suatu wilayah memiliki fungsi pokok untuk
perlindungan tata air dan konservasi tanah. Pemanfaatan yang disyaratkan dalam PP
No.6 Tahun 2007 tentang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan,
serta pemanfaatan hutan meliputi 3 kelompok yaitu (Mulya, 2010):
a. pemanfaatan kawasan meliputi pemanfaatan lahan hutan lindung untuk
budidaya tanaman obat, budidaya tanaman hias, budidaya jamur, budidaya
lebah, penangkaran satwa liar, dan budidaya hijauan makanan ternak.
b. pemanfaatan jasa lingkungan terdiri dari pemanfaatan jasa aliran air,
pemanfaatan
air,
wisata
alam,
perlindungan
keanekaragaman
hayati,
penyelamatan dan perlindungan lingkungan, dan penyerapan dan/atau
penyimpanan karbon
c. pemungutan hasil hutan meliputi rotan, madu, getah, buah, jamur, dan sarang
burung walet.
Bentuk-bentuk pemanfaatan hutan lindung tersebut harus dilakukan dalam
kerangka tetap menjaga kelestarian dan keutuhan kawasan. Kenyataan menunjukkan
bahwa pemanfaatan hutan lindung selama ini memiliki kecenderungan untuk
mengurangi fungsi pokok hutan lindung dalam hal luasan dan penutupan kawasan.
Kondisi ini menjadi potensi bahaya yang mengancam Pulau Bintan yang merupakan
kawasan pertumbuhan kota dengan laju pembangunan sarana dan prasana perkotaan
terus meningkat. Kecenderungan pengurangan luasan hutan lindung disebabkan oleh
faktor pembangunan permukiman, pertanian dan perkebunan, pengembangan
kawasan industri, aktivitas tambang, pembangunan sarana jalan dan illegal logging.
Kenyataan di lapangan terdapat beberapa bentuk pemanfaatan yang tidak sesuai
dengan arahan pengelolaan hutan lindung dan catchment area. Pemanfaatan yang
tersebut cenderung mengurang luasan hutan lindung dan catchment area padahal
luas hanya memiliki luas yang terbatas yang rentan terhadap kerusakan. Kondisi
yang rentan dan luas yang sempit maka perlu penetapan kegiatan pengelolaan pada
setiap blok dengan arahan kegiatan sebagai berikut (Mulya, 2010).:
1) Pemanfaatan hutan lindung yang selama tidak sesuai arahan pengelolaan
seperti perkebunan, tambang, permukiman, rencana pembangunan kawasan
perkantoran dan jenis lainnya, dikeluarkan dari kawasan hutan lindung dan
catchment area sesuai dengan arahan pemanfaatan yang digariskan PP No.6
Tahun 2007.
2) Apabila langkah 1 sulit dijalankan maka jalan kompromi yang yang dapat
dilakukan dengan mengatur pemanfaatan yang ketat. Pemanfaatan yang ada
selama ini harus diproteksi dengan ketat agar luas pemanfaatan yang tidak
sesuai tersebut tidak meluas/merambah hutan lindung lagi. Namun harus
dilakukan perubahan pola pemanfaatan yaitu:
a) Pemanfaatan lahan perkebunan harus ditanami tanaman kehutanan
disepanjang jalur tanaman serta diberlakukan fungsi lindung atau fungsi
konservasi dengan kompensasi pemerintah.
b) Pemanfaatan permukiman dan kawasan perkantoran harus ditanami
tanaman pepohonan di pekarangan dengan kerapatan yang cukup.
c) Pemanfaatan untuk lahan pertanian diganti jenis budidaya bukan tanaman
semusim tetapi tanaman buah-buahan, atau memakau pola agroforestry.
d) Oleh karena luas hutan lindung menjadi berkurang dengan ada bentuk
pemanfaatan tersebut maka para pihak yang telah memanfaatkan selama
ini (pemilik perkebunan, Pemda, tambang) diberi kewajiban untuk
membangun hutan kota seluas lahan yang dikelola di dalam kawasan
lindung. Pembangunan hutan kota ini menjadi salah satu alternatif untuk
mempertahan kualitas lingkungan di Pulau Bintan. Dalam konteks
pembangunan hutan kota ini, Dinas Kehutanan perlu menyusun suatu
master plan pengelolaan sehingga setiap pihak yang akan terlibat jelas
tanggung jawabnya.
Pemanfaatan hutan lindung dan catchment area yang sudah sesuai dengan
arahan pengelolaan, perlu dilakukan pengaturan pembagian hasil secara adil. Misal
pemanfaatan air oleh PDAM, perusahaan air minum, dan menara komunikasi perlu
dihitung besar nilai yang harus dibayarkan kepada kawasan hutan lindung dengan
mempertimbangkan berbagai variabel. Bukan hanya sekedar biaya pajak atau sewa
lahan. Biaya pemeliharaan yang kembali ke kawasan sangat kecil dan jalurnya tidak
langsung, sehingga pemanfaatan kawasan hutan cenderung seperti seperti pola
eksploitasi. Bedanya dengan hutan eksploitasi kayu hanya sumber daya yang
dimanfaatkan berupa air dan lahan untuk membangun (Mulya, 2010).
Berdasarkan PP No.6 Tahun 2007, kegiatan pemanfaatan hutan pada hutan
produksi dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip untuk mengelola hutan lestari dan
meningkatkan fungsi utamanya. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kawasan
hutan produksi adalah (Mulya, 2010);
1) usaha pemanfaatan kawasan;
2) usaha pemanfaatan jasa lingkungan;
3) usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam;
4) usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan tanaman;
5) usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dalam hutan alam;
6) usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dalam hutan tanaman;
7) pemungutan hasil hutan kayu dalam hutan alam;
8) pemungutan hasil hutan bukan kayu dalam hutan alam;
9) pemungutan hasil hutan bukan kayu dalam hutan tanaman.
1) Pemanfaatan kawasan pada Hutan produksi
Pemanfaatan kawasan pada hutan produksi antara lain berupa:
a. budidaya tanaman obat;
b. budidaya tanaman hias;
c. budidaya jamur;
d. budidaya lebah;
e. penangkaran satwa; dan
f. budidaya sarang burung walet.
Pemanfaatan kawasan pada hutan produksi tidak bersifat limitatitf dan dapat
diberikan dalam bentuk usaha lain, dengan ketentuan: luas areal pengolahan dibatasi;
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi; tidak
menggunakan peralatan mekanis dan alat berat; dan tidak membangun sarana dan
prasarana yang mengubah bentang alam (Mulya, 2010).
2) Pemanfaatan jasa lingkungan pada Hutan produksi
Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan produksi dilakukan, melalui
kegiatan :
a. pemanfaatan jasa aliran air;
b. pemanfaatan air;
c. wisata alam;
d. perlindungan keanekaragaman hayati;
e. penyelamatan dan perlindungan lingkungan; dan
f. penyerapan dan/atau penyimpanan karbon.
Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan produksi tidak bersifat limitatif dan
dapat diberikan dalam bentuk usaha lain, dengan ketentuan: tidak mengubah bentang
alam; tidak merusak keseimbangan unsur-unsur lingkungan; dan/atau tidak
mengurangi fungsi utamanya. Pemegang izin, dalam melakukan kegiatan usaha
pemanfaatan jasa aliran air dan pemanfaatan air pada hutan produksi, harus
membayar kompensasi kepada Pemerintah (Mulya, 2010).
3) Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam
Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam pada hutan produksi
dapat dilakukan melalui kegiatan usaha :
a. pemanfaatan hasil hutan kayu; atau
b. pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem.
Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan alam pada hutan produksi dapat
dilakukan dengan satu atau lebih sistem silvikultur, sesuai dengan karakteristik
sumber daya hutan dan lingkungannya. Usaha pemanfaatan meliputi kegiatan
pemanenan, pengayaan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan dan pemasaran
hasil, sesuai dengan rencana pengelolaan hutan yang telah ditetapkan. Usaha
pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem dalam hutan alam pada hutan
produksi meliputi kegiatan pemeliharaan, perlindungan dan pemulihan ekosistem
hutan
termasuk
penanaman,
pengayaan,
penjarangan,
penangkaran
satwa,
pelepasliaran flora dan fauna (Mulya, 2010).
Kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem dalam hutan alam
pada hutan produksi hanya dilakukan dengan ketentuan: hutan produksi harus berada
dalam satu kesatuan kawasan hutan; luas dan letak kawasan hutan produksi masih
produktif, tetapi tidak layak untuk dijadikan 1 (satu) unit izin usaha; dan kawasan
hutan produksi yang tidak produktif, harus berupa tanah kosong, alang-alang
dan/atau semak belukar (Mulya, 2010).
4) Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan tanaman
Pemanfaatan hasil hutan kayu dalam hutan tanaman pada hutan produksi
dapat dilakukan pada :
a. HTI;
b. HTR;
c. HTHR.
II.5 Penataan Batas Blok dan Petak
Tata batas dalam wilayah KPH dilaksanakan untuk kepastian blok dan petak
yang dilakukan dengan tahapan:
1. Persiapan peta penataan batas, berdasarkan hasil pembagian blok dan petak
yang telah dilaksanakan serta dipetakan;
2. Penyiapan trayek-trayek batas;
3. Pelaksanaan penataan batas berdasarkan trayek batas;
4. Penyajian peta tata batas dalam wilayah KPHL dan KPHP, berdasarkan hasil
penataan batas.
BAB III
PEMBAHASAN
Luas skala 0.5x0.5 = 15000x15000
= 225000000 cm2
= 225000000 cm2 ÷ 100000000 ha
= 2.25 ha
1.
Hutan Produksi
 Blok Pemanfaatan Kawasan, Jasa Lingkungan dan HHBK
Bentuk Pemanfaatan yakni Pemanfaatan sarang lebah madu hutan pada
HTR (madu). Dengan luasan 8 petak.
Luas 8 petak = 2.25 ha x 8
= 18 ha
Luas pada masing-masing petak yakni 2.25 ha dengan perlakuan silvikultur,
perlakuan pemanenan, input serta output yang sama sebagai berikut:
1) Perlakuan silvikultur
Perlakuan silvikultur pada petak ini yakni dengan cara pemeliharaan
tanaman pakan lebah madu.
2) Perlakuan pemanenan
Perlakuan pemanenan pada petak ini yakni dengan cara menjauhkan
lebah madu (pada saat lebah madu siap panen) dari sarangnya agar madu yang
ada pada sarang tersebut dapat dipanen dengan maksimal.
3) Input
Input pada petak ini berupa tanaman pakan lebah madu dan ternak
lebah madu.
4) Ouput
Output pada petak ini berupa madu ternak siap dipasarkan.
 Blok Pemanfaatan HHK-HT
Bentuk Pemanfaatan yakni Pemanfaatan kayu Sengon. Dengan luasan 44
petak.
Luas 44 petak = 2.25 ha x 44
= 99 ha
Luas pada masing-masing petak yakni 2.25 ha dengan perlakuan
silvikultur, perlakuan pemanenan, input serta output yang sama sebagai
berikut:
1) Perlakuan silvikultur dan aktivitas
Perlakuan silvikulktur pada petak ini yakni dengan cara
penanaman bibit pohon sengon, kemudian pemeliharaan dan perawatan
pohon-pohon sengon sampai akhirnya tiba masa panen kayu sengon.
Penanaman Sengon dapat dilakukan dengan sistem tumpang sari yaitu
masyarakat di sekitar diberi hak untuk menanam tanaman palawija
diantara tanaman pokok dan tanaman sela selama jangka waktu
berlakunya perjanjian kerja tersebut. Penanaman tanaman palawija
tersebut harusdilakukan secara berhati-hati agar tidak mengganggu
pertumbuhan tanaman pokok dan tanaman sela. Pada radius sekitar 30
cm di sekeliling tanaman pokok dan tanaman sela dilarang dilakukan
penanaman tanaman palawija. Beberapa jenis palawija yang tidak
diperkenankan untuk ditanam yaitu antara lain : ketela pohon, ketela
rambat, pisang, kentang,kol, akar wangi dam sereh. Pembuatan tanaman
Sengon dapat dilakukan dengan cara penanamanlangsung biji di
lapangan, menggunakan bibit stump atau bibit dari persemaian.
Penanaman dengan menggunakan biji secara langsung di lapangan tidak
dianjurkan karena resiko kematian bibit cukup tinggi. Jarak tanam yang
umumnya digunakan adalah 3 x 2 m, 3 x 3 m, 3 x 5 m atau 4 x 5 m. Jika
penanaman dilakukan dengan sistem tumpangsari maka penanaman
tanaman sela harus dilakukan lebih awal dengan cara menabur benih
tanaman tersebut pada larikan selebar 20 cm di antara larikan tanaman
pokok. Jenis tanaman sela yang umum digunakan adalah Kemlandingan
( Leucaenaleucocephala)
2) Input
Input pada petak ini berupa pohon-pohon sengon yang kemudian
akan dirawat dan dikelola sampai masa panen tiba
3) Ouput
Output pada petak ini berupa kayu sengon dalam bentuk log –
log yang kemudian siap untuk dipasarkan.
2. Hutan Lindung

Blok Pemanfaatan
Bentuk Pemanfaatan yakni pengaturan tata air dengan jumlah
petak yakni 38 petak.
Luas 38 petak = 2.25 ha x 38
= 85.5 ha
Luas pada masing-masing petak yakni 2.25 ha dengan
perlakuan silvikultur, perlakuan pemanenan, input serta output yang
sama sebagai berikut:
1) Perlakuan silvikultur dan aktivitas
Perlakuan silvikultur pada petak ini yakni dengan cara
pemeliharaan dan perawatan pohon-pohon pada hutan lindung,
perawatan pipa-pipa yang berfungsi sebagai penyaluran air bersih ke
rumah-rumah warga, menambal serta memperbaiki apabila terdapat
pipa-pipa yang bocor atau tidak layak pakai.
2) Pemeliharaan
Pemeliharaan pada petak ini yakni perawatan pipa-pipa air
yang menyalurkan air bersih ke rumah-rumah warga.
3) Input
Input pada petak ini berupa pohon-pohon pada hutan lindung.
4) Ouput
Output pada petak ini berupa air bersih yang mengalir
kerumah-rumah warga masyarakat setempat.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa
petak adalah bagian dari blok dengan luasan tertentu dan menjadi unit usaha
pemanfaatan terkecil yang mendapat perlakuan pengelolaan dan silvikultur yang
sama. Blok KPH pada Desa Tello Boccoe terbagi menjadi dua blok yaitu pada KPHP
blok pemanfaatan HHK-HT dan blok pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan dan
HHBK dan pada KPHL yaitu blok Pemanfaatan. Blok tersebut kemudian dibagi
menjadi petak-petak yang lebih kecil.
B. Saran
Sebaiknya kriteria penentuan blok dan petak KPH semakin diperjelas dan
lebih dibahas secara khusus lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen Planologi Kehutanan. 2010. Kebijakan pengukuhan dan penatagunaan
kawasan hutan. Jakarta.
Kementerian Kehutanan. 2012. Petunjuk Teknis TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN pada Kesatuan Pengelolaan Hutan
Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP).
Jakarta: Direktorat Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan
Kawasan Hutan.
Mulya, B. 2010. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan
Kabupaten Lingga. STIK: Jakarta.
Pemprov Jeneberang. 2008. RP KPHP Model Jeneberang. Sulawesi Selatan:
Jeneberang.
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan.
Saamsuri, P., 2007. Modul Tata Hutan dan Rencana Pengelolaan Hutan Produksi,
Bogor.
Simon, H., 2005. Sejarah Pengelolaan Hutan di Indonesia, Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.
Sistem Blok untuk Petak Kerja dan Penataan Kawasan Konsevasi. 2010.
https://kawasankonservasi.wordpress.com/2010/09/20/pengelolaanberbasisresort-bagian-satu-penataan-kawasan-konservasi/ (diakses pada 13
Maret 2016)
Download