Tugas Terstruktur Histologi kelompok 4

advertisement
LAPORAN TUGAS HISTOLOGI
JANTUNG, ARTERI, VENA, DAN KAPILER
MODUL SISTEM RESPIRASI DAN KARDIOVASKULER
Oleh:
Kelompok Tutorial 4
Jendry Immanuel Kalampung
18011101004
Lea Suzette Emnuella Theis
18011101142
Bianca Ivana Jade Jemima Mandagi
18011101032
Alfionita Eliena Haryanto
18011101046
Melly Fidela M.
18011101060
Arya Jerry Septian
18011101074
Yorghi Liesapali
18011101088
Joana Maria Posumah
18011101102
Jonathan Enrique Emilio Pijoh
18011101116
Benaya Eurico Laihad
18011101122
Yohanes Pardamean Rajadoli N. Parhusip
18011101144
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018
Histologi sistem kardiovaskuler
Sistem sirkulasi darah memompa dan mengarahkan sel-sel darah serta zat yang
dibawa dalam darah ke seluruh jaringan tubuh. Sistem kardiovaskular terdiri atas
struktur berikut ini:
1. Jantung
Organ yang berfungsi untuk memompa darah
2. Arteri
Serangkaian pembuluh eferen yang berfungsi untuk mengangkut darah, nutrient,
dan oksigen ke jaringan
3. Vena
Serangkaian pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung.
4. Kapiler
Pembuluh darah terkecil, yaitu pembuluh darah tempat pertukaran O2, CO2, serta
nutrisi dan limbah antara darah dan jaringan.
1. Jantung
Gambaran utama jantung
Seperti yang terlihat pada gambar, jantung manusia memperlihatkan dua atrium dan
dua ventrikel. Miokardium dinding ventrikel lebih tebal daripada dinding atrium.
Jantung adalah organ berotot yang berkontraksi secara ritmis, memompa darah
melalui sistem sirkulasi. manusia memperlihatkan dua atrium dan dua ventrikel.
Katup-katup jantung pada dasarnya merupakan lembaran jaringan ikat yang
tertambat di regio skeletal fibrosa, bagian lain skeletal fibrosa adalah korda
tendinae. Yang berwarna kuning adalah bagian system konduksi yang menginisiasi
impuls jantung untuk berdenyut dan menyebarkannya melalui miokardium
ventrikel.
Dindin jantung terdiri dari 3 lapisan; endocardium, miokardium, epicardium.
1. Endokardium
Endokardium adalah epitel gepeng selapis dan lapisan jaringan ikat subepitel yang
melapisi lumen jantung. terdiri dari lapisan dalam endothelium yang sangat tipis,
lapisan tipis jaringan ikat, serta pada lapisan subendotel ada selapis jaringan ikat
yang sering disebut lapisan subendokardiar yang menyatu dengan miokardium.
a. Di bawah endothelium (En) terdapat lapisan subendocardial (SEn) dan
serabut konduksi Purkinje (P). serabut serabut ini merupakan sel otot
jantung yang dihubungkan oleh diskus interkalaris dan dikhususkan untuk
konduksi impuls. Glikogen mengisi banyak sitoplasma dan menggantikan
myofibril ke perifer, serat purkinje secara tipikal lebih berwarna pucar
daripada serat otot jantung (M).
b. Dalam serat atrium Purkinje (P) seringkali lebih dekat pada endotel (En)
dan bercampur dengan serabut kontraksi dalam miokardium (M). Keduanya
200x, H&E.
2. Miokardium
Miokardium adalah tunika paling tebal di jantung dan terdiri atas sel-sel otot
jantung dengan serat yang disusun spiral di setiap ruang jantung. Miokardium
jauh lebih tebal di ventrikel (Gambar a) ketimbang di atrium (Gambar b).
3. Epikardium
Potongan atrium memperlihatkan bagian miokardium (M) dan epicardium (Ep).
Epikardium terdiri atas jaringan ikat longgar (CT) yang mengandung saraf
autonom (N) dan lapisan lemak (F). Epikardium adalah lapisan visceral
pericardium yang juga melapisa rongga pericardium (Mes). Sel mesotel
menyekresi suatu cairan pelumas yang mencegah gesekan saat jantung
berdenyut kontak dengan pericardium parietal di sisi lain rongga pericardial.
100x, H&E.
Katup jantung dan skeletal fibrosa
Skeletal fibrosa jantung terdiri atas jaringan ikat padat, terutama di endocardium
(En) yang mengelilingi dua kanal atrioventricular. Mikrograf menunjukkan bagian
melalui titik puncak katup atrioventricular (panah) dan terikat korda tendinar (CT).
struktur jaringan ikat ini ditutupi dengan lapisan tipis endothelium. Jaringan ikat
yang kaya kolagen pada katup berwarna biru pucat dan kontinu dengan cincin
fibrosa di dasar katup mengisi endocardium antara atrium (A) dan ventrikel (V).
Tebal miokardium ventrikel (M) juga ditunjukkan. 20x, Masson trichrome.
Jantung terbagi atas atrium dan ventrikel
1. Atrium kiri
Patongan memanjang pada sisi kiri jantung memperlihatkan bagian atrium (1),
kuspis katup atrioventrikularis (mitral) (5), dan ventrikel (9). Endokardium (1, 9)
melapisi rongga atrium dan ventrikel. Di bawah endokardium (1, 9) terdapat
jaringan ikat subendokardium (tela subendocardiaca) (2). Miokardium (3, 19) di
atrium (3) dan ventrikel (19) terdiri dari serat otot jantung.
Epikardium atrium dan ventrikel bersambungan dan melapisi jantung dengan mesotel di sebelah luar. Lamina subepucardiaca mengandung jaringan ikat, jaringan
adiposa, dan banyak pembuluh darah koronaria, yang jumlahnya bervariasi di
berbagai bagian jantung. Epikardium juga rneluas ke dalam sulkus koronarius
(atrioventrikularis) dan sulkus interven-trikularis jantung.
Di antara atrium dan ventrikel terdapat satu lapisan jaringan ikat fibrosa padat yaitu
anulus fibrosos. Katup atrioventrikularis (mitral) bikuspid memisahkan atrium dari
verstrikel. Kuspis katup atrioventrikularis (mitral) dibentuk oleh membran ganda
endokardium dan inti jaringan ikat padat yang bersambungan dengan anulus
fibrosus. Di permukaan ventral setiap kuspis terdapat insersi tali jaringan ikat,
churda tendineae, yang berjalan dari kuspis katup dan melekat pada otot papilaris,
yang menonjol dari dinding ventrikel. Permukaan dalam ventrikel juga
mengandung rigi otot (miokardium) yang menonjol yaitu trabeculae carneae yang
membentuk otot papilaris. Otot papilaris melalui charda tendineae menahan dan
menstabilkan kuspis di katup atrioventrikularis ventrikel kanan dan kiri sewaktu
kantraksi ventrikel.
2. Ventrikel kanan.
Dalam gambar diperlihatkan potongan ventrikel kanan dan bagian bawah trunkus
pulmonalis. Seperti pembuluh darah lainnya, trunkus pulmonalis dilapisi oleh
endotel pada tunika intima. Tunika media membentuk bagian paling tebal dinding
trunkus pulmonalis. Jaringan ikat tipis tunika adventisia menyatu dengan jaringan
ikat subepikardium, yang mengandung jaringan lemak dan arteriol dan venula
koronaria.
Trunkus pulmonalis berasal dari annulus fibrous. Trunkus pulmonalis dilapisi oleh
endocardium. Inti jaringan ikat dari annulus fibrous meluas kedalam bagian basal
katup semilunaris dan membentuk bagian sentralnya.
Miokardium ventrikel kanan yang tebal dilapisi di bagian dalamnya oleh
endocardium. Endocardium meluas melewati katup pulmonal dan annulus fibrosus
dan menyatu dengan tunika intima.
Trunkus pulmonalis dilapisi oleh jaringan ikat subendokardium dan jaringan
adipose yang selanjutnya dilapisi oleh epikardium. Kedua lapisan ini menutupi
permukaan luar vebtrikel kanan. Arterior dan venula koronaria terlihat di jaringan
ikat subepikardium.
Jaringan dinding vaskuler kecuali kapiler berisi otot polos dan jaringan ikat serta
lapisan endotel. Jumlah dan susunan jaringan ini di pembuluh darah dipengaruhi
oleh faktor mekanis, terutama tekanan darah dan faktor metabolic yang
menggambarkan kebutuhan jaringan setempat.
Semua pembuluh darah besar memiliki dinding dengan tiga lapisan konsentris,
yaitu tunika (tunika: mantel), seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Arteri dan Vena
Jaringan dinding vaskuler kecuali kapiler berisi otot polos dan jaringan ikat serta
lapisan endotel. Jumlah dan susunan jaringan ini di pembuluh darah dipengaruhi
oleh faktor mekanis, terutama tekanan darah dan faktor metabolic yang
menggambarkan kebutuhan jaringan setempat.
Semua pembuluh darah besar memiliki dinding dengan tiga lapisan konsentris,
yaitu tunika (tunika: mantel), seperti yang ditunjukkan pada gambar

Tunika intima
Terdiri atas satu lapis sel endotel, yang di topang oleh selapis tipis subendotel
jaringan ikat longgar dan terkadang mengandung serat otot polos. Pada arteri,
intima dipisahkan dari media oleh suatu lamina elastic interna. Lamina ini
terdiri atas lastin, dan memiliki celah yang memungkinkan difusi zat.

Tunika media
Lapisan tengah pembuluh darah, terutama terdiri atas lapisan konsentris sel-sel
otot polos yang tersususn secara berpilin. Diantara sel-sel otot polos, terdapat
berbagai serat dan lamela elasti, serta serat reticular dan proteoglikan. Pada
arteri, tunika media memiliki lamina elastic eksterna yang lebih tipis dan
memisahkannya dari tunika adventisia.

Tunika adventisia
Tunika terluar yang terdiri dari serat kolagen tipe I dan elastin. Lapisan ini
berangsur menyatu dengan stroma jaringan ikat organ tempat pembuluh darah
berada.
2. Arteri
Arteri adalah pembuluh darah eferen yang membawa darah dari jantung
menuju kapilar. Ada dua pembuluh arteri besar yang keluar dari jantung, yaitu
trunkus pulmonalis dari ventrikel kanan dan aorta dari ventrikel kiri.
Trunkus pulmonalis, segera setelah meninggalkan jantung trunkus
pulmonalis bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masuk ke
dalam paru Arteri koronaria kanan dan kiri, yang memperdarahi otot jantung
merupakan cabang aorta (keluar dari ventrikel kiri).
Aorta, setelah meninggalkan jantung, berjalan obliq, lengkung posterior
turun masuk ke rongga dada dan bercabang menuju dinding tubuh dan visera;
kemudian masuk ke rongga abdomen, di sini kembali bercabang menuju dinding
tubuh dan visera. Aorta abdominalis berakhir dengan dua cabang (bifurkasio)
menjadi arteri iliaka komunis kanan (dekstra) dan kiri (sinistra) di pelvis.
Klasifikasi Arteri
Klasifikasi arteri menjadi tiga tipe utama ini adalah berdasarkan ukuran
relatif, karakteristik morfologi, maupun keduanya . Berikut ini urutan
penggolongan dari yang terbesar sampai terkecil: Arteri tipe elastis (conducting
arteries) atau arteri besar, arteri tipe muskular (distributing arteries) atau arteri
sedang, arteriol atau arteri kecil.
a.
Arteri Elastis
Aorta dan cabang-cabang arkus aorta (arteri karotis komunis dan arteri
subklavia), arteri iliaka komunis, dan trunkus pulomalis adalah aiteri elastis
(conducting arteries). Dalam keadaan segar, dinding arteri tipe ini dapat terlihat
berwana kuning karena mengandung banyak sekali lembaran-lembaran elastin.
Tunika intima alteri elastis disusun oleh endotel yang ditopang oleh lapisan tipis
jaringan ikat di bawahnya. Dalam jaringan ikat tersebut, terdapat fibroblas, sedikit
sel otot polos, dan serat kolagen. Tunika elastika interna (lamina elastika interna)
juga dapat ditemukan pada arteri tipe ini.
Tunika media arteri tipe elastis unsur penyusunnya didominasi oleh
lembaran elastin berpori, yang disebut membran berpori (fenestrated membranes),
membrane berpori ini tersusun berselang seling dengan sejumlah sel otot polos.
Terdapat 40 lembaran elastin pada neonates dan 70 pada orang dewasa. Membran
berpori juga bertambah ketebalannya karena terus menerus berlangsung deposit
lembaran elastin yang terjadi pada tunika media. Matriks ekstrasel disekresi oleh
sel-sel otot polos, sebagian besar terdiri atas kondroitin sulfat, serat-serat kolagen,
serat-serat retikular dan serat-serat elastin. Tunika elastika eksterna (lamina elastika
eksterna) juga dapat ditemukan di tunika media.
Tunika adventisia arteri elastis relatif tipis, disusun oleh jaringan ikat
fibroelastis longgar yang mengandung fibroblas. Vasa vasorum banyak terdapat di
tunika adventisia. Dari vasa vasorum pembuluh terus menjadi bantalan kapilar dan
masuk sampai ke tunika media, untuk membawa nutrisi dan oksigen bagi jaringan
ikat dan sel otot polos. Pori yang ada di tunika elastika memungkinkan sel-sel di
tunika media mendapat oksigen dan zat gizi dari darah dalam lumen melalui proses
difusi.
Gambar : Dinding
arteri elastic besar:
aorta (potongan
transversal). Pulasan :
Pulasan elastic.
Pembesaran lemah
Gambar :
Gambaran
histologik
mikroskop cahaya arteri tipe
elastis
(xl32).
membran
Perhatikan
berpori
(FM
=
fenestrated membrane), tunika
media
(TM),
dan
tunika
adventisia (TA).
b.
Arteri Muskular
Arteri tipe muskular (distributing arteries) meliputi pembuluh darah yang
merupakan cabang-cabang aorta, kecuali trunkus major (utama) yang merupakan
cabang arkus aorta dan bifurkasio terminal aorta abdominalis. Kedua pembuluh tadi
tergolong arteri elastis. Namun kebanyakan arteri yang ada namanya, termasuk
yang berdiameter hanya 0,1 mm, tergolong dalam arteri muskular (misalnya: arteri
brakialis, ulnaris, renalis ). Karakteristik yang digunakan untuk mengidentifikasi
arteri muskular adalah tunika medianya yang terutaman disusun oleh sel-sel otot
polos.
Gambar : Arteri dan vena muscular. Potongan transversal. Pulasan elastic.
Pembesaran lemah
Tunika intima arteri muskular lebih tipis daripada arteri elastis, namun
lapisan subendotelnya mengandung sejumlah otot polos; juga berbeda dengan arteri
elastis, tunika elastika interna (lamina elastika interna) arteri muskular terlihat nyata
dan permukaannya bergelombang.
Tunika media arteri muskular terutama disusun oleh selsel otot polos. Arteri
muskular yang kecil memiliki tiga sampai empat lapisan otot polos, sedangkan
pembuluh yang lebih besar dapat memiliki sampai 40 lapisan otot polos sirkular.
Jumlah lapisan berkurang mengikuti semakin kecilnya ukuran pembuluh. Sel-sel
otot polos dibungkus oleh lamina eksterna (serupa dengan lamina basal).
Tunika adventisia arteri muskular tersusun oleh serat elastin, serat kolagen
(diameter 60-100 nm), dan substansi dasar terutama dermatan sulfat dan heparan
sulfat. Matriks ekstrasel diproduksi oleh fibroblas yang ada di tunika adventisia.
Serat kolagen dan elastin berjalan longitudinal dan menyatu dengan jaringan ikat
sekitarnya. Vasa vasorum dan ujung saraf tak bermielin terletak sisi luar tunika
adventisia. Neurotransmiter yang dilepaskan di ujung saraf berdifusi melalui pori
di tunika elastika eksterna menuju tunika media, membuat sel-sel otot polos
terdekat mengalami depolarisasi.
c.
Arteriol
Pada sediaan histologi, dapat dilihat bahwa tebal dinding arteriol sama
dengan besar diameter lumennya. Endotel pada tunika intima disokong oleh
jaringan ikat subendotel yang tipis. Jaringan ikat subendotel ini mengandung
kolagen III dan sedikit serat elastin. Pada arteriol kecil dan arterial terminal tidak
ditemukan tunika elastika interna, namun dapat ditemukan pada arterial yang lebih
besar.
Gambar :
Gambaran mikroskop elektron arteriol. (Dari Yamazaki K, Allen TD:
Ultrastructural morphometric study of efferent nerve terminals on murine bone
marrow stromal cells, and the recognition of a novel anatomical unit : The "neuroreticular complex." Am J Anat 187: 261-276, 1990.)
Gambar :
Gambaran histalagik mikroskap
cahaya arteriol dan venul, tedapat
sel-sel
darah
merah
(x540).
Arteriol (A) terlihat jelas dengan
tunika media (TM) yang tebal.
Nukleus sel endatel (N) menanjal
ke arah lumen (L). Venul (Ve)
tidak begitu jelas dengan lumen
besar berisi sel darah merah (RBC
= red blood cells). Tunika media
venul tidak sejelas seperti arteriol.
Arteri yang memperdarahi bantalan kapilar disebut metarteriol. Strukturnya
berbeda dari arteriol pada bagian otot polosnya. Pada metarteriol, otot polosnya
tidak kontinu; berdiri sendiri-sendiri secara terpisah dan tiap sel mengelilingi sel
entodelnya.
Gambar :
Gambaran
mikroskop
electron
arteriol, terlihat lapisa otot polosnya
yang padat dan serat-serat sarafnya.
(Dari Fujiwara T, Uehara Y: The
cytoarchitecture of the wall and
innervation
pattern
of
the
microvessels in the rat mammary
gland: A scanning electron
microscopic observation. Am J Anat
170: 39-54, 1984.)
3. Vena
Vena adalah pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung.
Vena
digolongkan menjadi tiga tipe berdasarkan diameter dan ketebalan dinding: venula,
vena kecil, vena sedang dan vena besar.
I
:Tunika Intima
IEL :Internal Elastic
Lamina
M :Tunika Media
EF :Elastic Fibers
A
:Tunika Adventisia
Dinding vena memiliki lapisan berikut:
1. Tunika Intima, terdiri atas endotel dan selapis serat kolagen dan elastic halus
yang sangat tipis, yang menyatu dengan jaringan ikat tunika media. Ada lapisan
lamina elastic interna pada vena terbesar sebagai pemisah tunika intima dan
media.
2. Tunika media, terdiri atas selapis tipis otot polos yang melingkar secara
longgar terbenam di dalam jaringan ikat. Lapisan tunika media vena jauh lebih
tipis daripada tunika media arteri.
3. Tunika adventisia, terdiri atas suatu lapisan jaringan ikat yang luas. Pada vena,
lapisan ini jauh lebih tebal daripada tunika media.
Dinding vena mengandung lapisan tunika intima (4a), tunika media (4b), dan tunika
adventisia (4c). Namun, ketiga lapisan vena ini jauh lebih tipis daripada dinding
arteri. Di sekitar kedua pembuluh itu terdapat kapiler (5), arteriol (7), venula (6),
dan sel jaringan adipose (8). Dalam lumen arteri dan vena banyak terdapat leukosit.
Tipe Vena:
1. Venula
Dinding Venula serupa dengan kapilar; venula yang lebih besar tidak memiliki
perisit, sebagai gantinya memiliki sel-sel otot. Karakeristik dan fungsi venula
(postcapillary, collecting, and muscular):

Postcapillary venules berdiameter 15-50 𝜇m dan venula berdiameter 50-100 𝜇m

Tunika intima terdiri atas endothelium; tidak berkatup

Tunika media terdiri atas perisit dan sel otot polos tersebar

Tunika adventisia terdiri atas sejumlah kolagen dan sedikit fibroblast

Peran dalam system sirkulasi yaitu saluran lanjutan kapiler kembali ke jantung
dan tempat keluar leukosit dari pembuluh darah.
Gambar a dan b: Postcapillary Venules (V) memiliki lumen yang lebih besar
daripada arteriol (A). Namun, venula memiliki dinding yang lebih tipis daripada
arteriol yang terdiri atas sel endotel dan banyak perisit (P) atau sel otot polos.
Gambar c: venula muscular (potongan memanjang) terlihat lebih jelas tunica
media dengan 3 lapis otot polos (M) di beberapa area dan sel endotel tipis dari
tunika intima (I).
Gambar d: postcapillary venules (V) pada sel usus yang terinfeksi terlihat ada
beberapa leukosit menempel dan berpndah melewati tunika Intima (I).
2. Vena kecil
Karakteristik dan fungsi vena kecil
 Berdiameter 0.1-1 mm
 Tunika intima terdiri dari endothelium dan jaringan ikat dengan serat oto polos
tersebar
 Tunika media tipis terdiri atas 2-3 lapis sel otot polos
 Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat
 Tunika adventisia lebih tebal daripada tunika media
 Dalam system sirkulasi berperan dalam mengumpulkan darah dari venula
Gambar a : lumen vena kecil (V) terlihat lebih besar dari arteri muscular (A)
dengan tunika media (M) dan adventisia (Ad) yang tebal. Dinding vena kecil
sangat tipis terdiri atas 2 atau3 lapis otot polos.
Gambar b: katup dari vena kecil (potongan oblik atau miring menyerong). Katup
merupakan lipatan tipis dari tunika intima ke dalam lumen yang mencegah aliran
balik darah
3. Vena sedang
Vena sedang merupakan tempat bermuaranya sebagian besar darah dari seluruh
tubuh, termasuk dari sebagian besar ekstremitas.
Gambar c : terlihat vena sedang (MV) memiliki dinding yang lebih tebal dari vena
kecil. Namun, tetap lebih tipis dari arteri muscular (MA). Tunika media dan
adventisia berkembang baik namun biasanya melipat dan terdapat lumen yang
besar.
Gambar d: terlihat vena sedang mengandung darah dan katup vena (panah).
Karakteristik dan fungsi vena sedang:
 Berdiameter 1-10 mm
 Tunika intima terdiri atas endothelium, jaringan ikat, dan berkatup
 Tunika media terdiri dari 3-5 lapisan otot polos yang lebih jelas
 Tunika adventisia lebih tebal daripada tunika media
 Tunika adventisia mungkin memiliki otot
 Dalam system sirkulasi berperan dalam membawa darah menuju vena yang lebih
besar
4. Vena Besar
Vena besar berhubungan secara langsung dengan jantung, mengembalikan darah
dari ekstermitas, kepala, hati dan dinding tubuh. Vena besar termasuk vena kava
dan vena pulmonalis, vena porta, vena renalis, vena jugularis interna, vena iliaka
dan vena zigomatikus.
Dinding vena besar ditandai oleh tunika adventisia (6) tebal berotot dengan serat
otot polos (7) terlihat secara longitudinal. Pada potongan melintang vena porta,
serat otot polos terpisah-pisah membentuk berkas-berkas, dikelilingi oleh jaringan
ikat tunika adventisia (6). Di jaringan ikat tunika adventisia tampak sebuah arteriol
(8a), 2 venula (8b), dan 1 kapiler (8c) dalam potongan memanjang vasa vasorum
(8).
Tunika media (5), lebih tipis daripada tunika adventisia, terdiri atas serat otot polos
(3) yang memperlihatkan orientasi sirkuler.
Tunika intima (4) terdiri atas endotel (1) dan ditunjang oleh stratum subendotheliale
(2).
Vena besar juga memperlihatkan lamina elastika interna yang kurang
berkembang daripada arteri.
Karakteristik dan fungsi vena besar:

Berdiameter lebih dari 10 mm

Tunika intima terdiri atas endothelium, jaringan ikat, sel otot polos, dan
katupnya jelas

Tunika media memiliki lebih dari 5 lapis otot polos dengan kolagen yang
banyak.

Tunika adventisia adalah lapisan paling tebal dengan otot polos melingkar
longitudinal.

Dalam system sirkulasi berperan dalam mengembalikan darah ke jantung.
Vena besar memiliki lapisan media muscular
(M) yang sangat tipis dibandingkan dari
tunika adventisia (A) di sekitarnya terdiri atas
jaringan ikat tebal yang tidak beraturan.
Dindingnya biasa terlipat seperti pada gambar
yaitu tunika intima (I) terbentuk masuk ke
dalam lumen sebagai katup (V) yang terdiri
atas jaringan ikat subendotelium dengan
endothelium pada kedua sisi.
4. Kapiler
Kapilar adalah pembuluh darah terkecil dengan panjang kurang lebih 50 µm
dan diameter antara 8-10 µm. Kapilar dibentuk oleh epitel gepeng selapis yang
menggulung
menjadi sebuah tabung, dengan sumbu panjang sel berada searah
dengan arah aliran darah. Sel-sel endotel ini gepeng dengan ujung mengecil
perlahan sampai mencapai tebal kurang lebih 0.2 µm , namun inti selnya yang
berbentuk elips menonjol ke arah lumen kapilar. Sitoplasmanya mengandung
kompleks golgi, sedikit mitokondria, sejumlah retikulum endoplasmik kasar
(RER), dan ribosom bebas Filamen intermedia (diameter 9-11 nm), terletak pada
zona kitar inti (perinuclear zone), memiliki komposisi filament beragam. Sebagai
contoh , beberapa sel memiliki filamen dengan komposisi desmin, sel lainnya
memiliki filamen dengan komposisi vimentin, dan ada pula sel endotel yang
memiliki kedua filamen tersebut. Filamen filamen ini menjadi penunjang struktur
sel-sel endotel, namun apakah keragaman komposisi filamen tadi memiliki
pengaruh bermakna, masih belum diketahui dengan jelas.
Struktur pembuluh darah kapiler terdiri dari endotelium, berbentuk lebih kecil
dari sistem peredaran darah pada manusia yaitu pembuluh darah arteri dan
pembuluh darah vena. Endotelium adalah sel yang letaknya berada di bagian dalam
rongga pembuluh darah kapiler. Sel endotelium ini dilapisi oleh dinding yang
sifatnya dapat dipengaruhi oleh tekanan osmotik dan hidrostatik. Tekanan osmotik
adalah tekanan yang mempertahankan zat pelarut dengan tidak memindahkannya
ke larutan berkonsentrasi tinggi. Sedangkan hidrostatik adalah tekanan yang
dipengaruhi oleh luas bidang tekan dengan kedalaman tetentu sehingga
pergerakannya tergantung pada jenis zat, massa jenis dan percepatan gravitasi.
Pembuluh darah kapiler terbentuk dari jaringan yang rapat dan langsung
berhubungan dengan sel di dalam tubuh. Tubuh manusia sehat mempunyai sekitar
5 milliar pembuluh darah kapiler. Pembuluh darah kapiler tidak mempumyai katub,
bercabang dan tersusun atas selapis sel. Saluran dari pembuluh darah kapiler
sangatlah sempit.
Dinding kapiler disusun oleh selapis endotel tipis yang tersusun berdempetan.
Perpindahan gas dan molekul dari kapiler ke jaringan sekitarnya dipengaruhi oleh
tekanan osmotik dan hidrostatik.
Kapiler memungkinkan berbagai tingkat pertukaran metabolic antara darah dan
jaringan sekitar. Kapiler hanya terdiri atas selapis endothelial yang tergulung
sebagai suatu saluran, tempat pertukaran antara darah dan cairan jaringan.
Kapiler dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, bergantung pada kontinuitas sel
endothelial dan lamina eksterna.
a.
Kapiler kontinu
Jenis tersering diantara jenis lainnya. Memiliki taut kedap yang erat dan
menyekat celah antarsel di antara semua sel endothelial untuk meminimalkan
kebocoran cairan. Semua molekul yang ditukar melalui endothelial harus
menembus sel melalui difusi. Kapiler kontinu tersebar di kulit dan otot.
b.
Kapiler berfenestra
Juga memiliki taut erat, tetapi perforasi melalu sel endothelial memungkinkan
pertukaran yang lebih besar. Kapiler berfenestra ditemukan di organ dengan
pertukaran molecular yang penting dengan darah, seperti organ endokrin dan
dinding usus.
c.
Sinusoid
Biasanya berdiameter lebih besar ketimbang jenis kapiler lain dan memiliki
diskontinuitas diantara sel endothelial, fenestra besar melalui sel dan membrane
basal parsial yang tidak kontinu. Sinusoid ditemukan pada organ tempat
terjadinya pertukaran makromolekul dari sel secara mudah, seperti di sumsum
tulang, hati dan limpa.
Kapiler kontinu
Kapiler kontinu menjalankan control terketat dengan menentukan jenis molekul
yang meninggalkan dindingnya. TEM memperlihatkan suatu kapiler kontinu
pada potongan melintang. Suatu inti sel endothelial (N), dan taut erat berlimpah
di taut kompleks (JC) yang tumpeng tindih antar sel-sel endotel (E). sejumlah
besar besikel transitotik (V) terlihat jelas. Sekitar kapiler adalah lamina basal
(LB) dan eksistensi sitoplasma tipis dari perisit (P), serat kolagen (C) dan bahan
ekstraseluler lainnya hadir dalam ruang perivaskular (RP). 10.000x.
Kapiler berfenestra
Kapiler berfenestra dikhususkanuntuk ambilan molekul seperti hormone pada
kelenjar endokrin. Gambaran TEM suatu kapiler berfenestra yang terpotong
secara transversal di regio peritubular ginjal memperlihatkan banyak fenestra
tipikal yang ditutupi oleh diafragma (panah), dengan suatu lamina eksterna yang
kontinu di permukaan luar sel endotel (BL). Di sel ini, apparatus golgi (G), inti
(N), dan sentriol (C) dapat terlihat. 10.000x.
Sinusoid
Kapiler sinusoid atau sinusoid biasanya memiliki diameter yang lebih besar
ketimbang kebanyakan kapiler dan dikhususkan tidak hanya untuk pertukaran
molekul secara maksimal antara darah dan jaringan sekitar, tetapi juga untuk
pergerakan sel darah secara mudah melalui endotel. Sinusoid (S) yang tampak di
sini berada pada sumsum tulang dan dikelilingi oleh jaringan yang mengandung
adiposit (A) dan massa sel hematopoietik (H). Endotel tersebut sangat tipis dan inti
sel lebih sulit ditemukan ketimbang di kapiler yang lebih kecil. Secara
ultrastruktural, kapiler sinusoid tampak memiliki fenestra besar yang menembus sel
dan diskontinuitas besar yang berada di antara sel dan menembus lamina basal.
200x, H&E.
Daftar Pustaka
Eroschenko,Victor P. Di Fiore's atlas of histology with functional correlations. 11th
ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2008.
Gartner, Leslie P. and Hiatt, James L. Color Textbook of Histology. 3rd ed.
Philadelphia: Saunders Elsevier; 2007.
Mescher, Anthony L. Junqueira’s Basic Histology Text and Atlas. 14th ed. United
States: McGraw-Hill Education; 2016.
Sherwood L. Introduction to Human Physiology. 8th ed. Brooks/Cole Cengage
Learning; 2013.
Download