lomba karya tulis qur,an

advertisement
INTEGRASI KONSEP ISLAM DAN PERSPEKTIF EKOLOGI DI
SEKOLAH ALAM SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN
LINGKUNGAN DALAM MENGATASI KRISIS EKOLOGI
HIDAYAT SYARIFUDDIN
ESTI ROHIMAH
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ 1
DAFTAR ISI ................................................................................................... 2
ABSTRAK ....................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ........................................................................................... 3
Latar Belakang ................................................................................................. 3
Perumusan Masalah ........................................................................................ 5
Tujuan Penelitian ............................................................................................ 6
Manfaat Penelitian ......................................................................................... 6
Ruang Lingkup Penelitian ............................................................................... 7
Metode Penelitian............................................................................................ 8
Kerangka Pemikiran ........................................................................................ 9
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 10
Pengertian Lingkungan ................................................................................... 10
Lingkungan dalam Konsep Islam ................................................................... 11
Krisis Ekologi ................................................................................................. 17
Perspektif Ekologi ........................................................................................... 18
Pendidikan Lingkungan .................................................................................. 19
HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... 21
Ganbaran Umum Lokasi ................................................................................. 21
Konsep Islam dan Perspektif Ekologi Sekolah Alam Bogor .......................... 25
Konsep Islam dan Perspektif Ekologi School of Universe, Parung, Bogor .... 30
Peran Pendidikan Lingkungan di Sekolah Alam sebagai Solusi adanya
Krisis Ekologi ................................................................................................. 33
KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 36
Kesimpulan ..................................................................................................... 36
Saran ................................................................................................................ 36
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 37
BIODATA PENULIS ..................................................................................... 38
2
INTEGRASI KONSEP ISLAM DAN PERSPEKTIF EKOLOGI DI
SEKOLAH ALAM SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN
LINGKUNGAN DALAM MENGATASI KRISIS EKOLOGI
Hidayat Syarifuddin dan Esti Rohimah
Institut Pertanian Bogor
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses intregasi konsep Islam dan
perspektif ekologi di sekolah alam dan menganalisis peran pendidikan lingkungan
di sekolah alam dalam mengatasi krisis ekologi. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan menggunakan strategi studi kasus. Penelitian ini
dilakukan di Sekolah Alam Bogor, Tanah Baru Bogor dan School of Universe,
Parung, Bogor pada bulan April- Mei 2007 yang mencakup meliputi persiapan,
pengumpulan data, dan analisis data serta penulisan laporan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah alam secara umum sudah
menerapkan sistem pembelajaran yang didasarkan pada Al Quran dan As Sunnah
dan empat perspektif ekologi, yaitu holistik, kebelanjutan, keanekaragaman, dan
keseimbangan (Ife, 2002), meskipun masih memiliki kekurangan dalam proses
penerapannya. Sekolah alam memiliki empat pilar proses pembelajaran, antara
lain akhlak, logic science, kepemimpinan, dan kewirausahan. Hal inilah yang
menyebabkan nilai, etika, dan moral anak dapat terbentuk sejak anak usia dini
sehingga membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan memiliki
kepedulian lingkungan yang besar. Hal ini akan menimbulkan suatu kesadaran
lingkungan yang akan dapat menyelesaikan masalah krisis ekologi. Pendidikan
lingkungan menjadi pembelajaran yang penting di sekolah alam, namun dalam
kenyatanya pendidikan lingkungan yang diberikan di sekolah alam masih belum
diimbangi dengan pendidikan lingkungan yang diberikan di keluarga, sebagai
tempat pertama dan utama dalam membentuk pola perilaku anak.
Kata Kunci : Sekolah Alam, Pendidikan Lingkungan, Perspektif Ekologi
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah lingkungan hidup merupakan masalah kompleks yang sudah
menyeruak dan menjadi narasi serta diskursus baru di tengah-tengah
derasnya arus pembangunan yang digalakkan oleh banyak negara maju dan
berkembang. Kerusakan dan pencemaran lingkungan yang
terus
berlangsung lebih dari empat dekade ini, telah berakumulasi sedemikian
luas, sehingga menyentuh berbagai sendi dan jenjang sejak tingkat individu,
rumah tangga, kelompok, komunitas lokal hingga global, serta terkait satu
3
sama lain. Inilah yang sering kita sebut sebagai krisis ekologi, yaitu krisis
hubungan antara manusia (dan kebudayaan dengan lingkungan hidup)
tempat berlindung, bermukim, dan mengeksploitasi sumber daya alam
(Adiwibowo, 2007).
Beberapa isu yang terdapat dalam Human Development Report 2006 adalah
meningkatnya Global Warming, krisis air dan kemiskinan. Isu yang ada
tersebut merupakan isu
krisis ekologi yang sedang melanda bumi.
Indonesia sebagai salah satu bagian dari bumi turut merasakan dampak dari
adanya berbagai krisis ekologi.
Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan adaptasi paling tinggi,
manusia melakukan berbagai upaya penyesuaian guna mengatasi masalah
yang terjadi dengan cara yang disadari maupun tidak disadari. Salah satu
cara yang ditempuh manusia untuk dapat mempertahankan eksistensinya di
bumi adalah dengan kembali memperhatikan lingkungan. Saat ini banyak
sekali dikumandangkan slogan-slogan yang berbunyi ”back to nature”.
Selain itu, untuk mengatasi krisis ekologi yang terjadi saat ini, seharusnya
juga memperhatikan akar krisis dan upaya penanggulangannya secara
holistik yang berlandaskan paradigma ekologi.
Masalah lingkungan hidup (krisis ekologi) di atas tidak dapat diatasi hanya
melalui reposisi hubungan manusia dan lingkungan alamnya (atau banyak
dikenal sebagai modernisasi ekologi), tetapi juga harus melalui reorientasi
nilai, etika, dan norma-norma kehidupan yang kemudian tersimpul dalam
tindakan kolektif, serta restrukturisasi hubungan sosial antar individu
dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok,
dan antara kelompok dengan organisasi yang lebih besar (Adiwibowo,
2007). Reorientasi nilai, etika, dan norma kehidupan, serta restrukturisasi
hubungan sosial tidak lepas dari campur tangan dua institusi, yaitu institusi
keluarga dan institusi pendidikan (baik formal maupun non formal).
Pendidikan yang baru dan termasuk paling penting pada masa sekarang
ialah
pendidikan
lingkungan.
Pendidikan
tersebut
terkait
dengan
pengetahuan lingkungan di sekitar manusia dan menjaga berbagai unsurnya
4
yang dapat mendatangkan ancaman kehancuran, pencemaran, atau
perusakan.
Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para
sahabatnya. Pendidikan lingkungan yang telah diajarkan oleh Rasulullah
SAW adalah berdasarkan wahyu Allah SWT. Banyak ayat-ayat ilmiah Al
Quran dan As Sunnah yang membahas tentang lingkungan. Tidak hanya
dalam Al Quran dan As Sunnah, buku-buku yang menjelaskan mengenai
lingkungan hidup, yang di dalamnya membahas secara rinci mengenai
pentingnya menjaga lingkungan tidak sedikit dijumpai sekarang. Namun,
seperti yang telah ada sekarang ini, berbagai bencana, pencemaran
lingkungan, dan kurangnya air bersih, yang merupakan krisis ekologi masih
berlangsung.
Pendidikan lingkungan yang berlandaskan Al Quran dan As Sunnah, serta
berdasarkan pada perspektif ekologi sangat penting dilakukan, sehingga
norma, nilai, dan etika lingkungan yang ekosentrisme akan tertanam pada
diri manusia. Hal ini pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan
pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Pendidikan ini, sangat penting
dilakukan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa, baik secara formal
maupun non formal. Salah satu institusi pendidikan yang mengedepankan
pendidikan lingkungan sekarang ini adalah sekolah alam. Oleh karena itu
peting untuk dibahas lebih jauh mengenai integrasi konsep islam dan
perspektif ekologi di Sekolah Alam sebagai alternatif pendidikan
lingkungan dalam mengatasi krisis ekologi yang terjadi sekarang ini.
1.2. Perumusan Masalah
Masalah krisis ekologi telah banyak menyita waktu manusia untuk mencari
solusinya. Sebagian besar manusia telah berupaya keras dengan berbagai
tindakan untuk mengurangi adanya krisis ekologi. Namun, ada juga yang
dengan sadar maupun tidak sadar telah melakukan kegiatan yang
menimbulkan
kerusakan
lingkungan.
Pendidikan
lingkungan
yang
berlandaskan pada Al Qur,an dan As Sunnah serta berdasarkan pada
perspektif ekologi berperan penting dalam mencari solusi atas krisis ekologi.
5
Pendidikan lingkungan secara holistik merupakan suatu konsep pendidikan
yang mengacu pada kesadaran manusia akan rasa sosial dan kepedulian
tehadap lingkungan. Salah satu bentuknya adalah sekolah alam yang
menanmkan pendidikan lingkungan yang berdasarkan pada Al Qur,an dan
As Sunnah serta berdasarkan perspektif ekologi, sehingga mendorong
manusia untuk peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan latar belakang di
atas, maka permaslahan hal yang akan di kaji dalam studi ini adalah
1. Bagaimana proses intregasi konsep Islam dan perspektif ekologi di
sekolah alam ?
2. Bagaimana peran pendidikan lingkungan di sekolah alam dalam
mengatasi krisis ekologi ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses pendidikan di
sekolah alam sebagai alternatif pendidikan lingkungan dalam mengatasi
krisis ekologi.
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hal berikut :
1. Menganalisis proses intregasi konsep Islam dan perspektif ekologi di
sekolah alam.
2. Menganalisis peran pendidikan lingkungan di sekolah alam dalam
mengatasi krisis ekologi.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penulisan ini, adalah :
1. Bagi penulis, merupakan sarana untuk mengetahui sejauh mana konsep
islam dan perspektif ekologi terintegrasi disekolah alam, serta sejauh
mana pendidikan lingkungan di sekolah alam dapat menjadi solusi bagi
adanya krisis ekologi.
2. Bagi masyarakat umum, hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai
gambaran mengenai kondisi sekolah alam sebagai alternatif dari
pendidikan lingkungan melalui sekolah formal dalam mengatasi krisis
ekologi.
6
3. Bagi pemerintah atau pihak terkait, hasil penulisan ini dapat digunakan
sebagai bahan acuan dalam mengambil kebijakan mengenai sistem
pendidikan lingkungan yang efektif bagi anak.
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian
Menurut Kementrian Lingkungan Hidup (2007), pendidikan lingkungan
dapat dilakukan melalui jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan
lingkungan hidup formal adalah kegiatan pendidikan di bidang lingkungan
hidup yang diselenggarakan melalui sekolah, terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dan dilakukan secara
terstruktur dan berjenjang dengan metode pendekatan kurikulum yang
terintegrasi maupun kurikulum yang monolitik (tersendiri). Pendidikan
lingkungan hidup nonformal adalah kegiatan pendidikan di bidang
lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah yang dapat dilaksanakan
secara terstruktur dan berjenjang (misalnya pelatihan AMDAL, ISO 14000,
PPNS). Pendidikan lingkungan hidup informal adalah kegiatan pendidikan
di bidang lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah dan
dilaksanakan tidak terstruktur maupun tidak berjenjang
Sekolah alam adalah sebuah institusi pendidikan yang tidak hanya
menerapkan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, tetapi juga
mengembangkan kurikulum sendiri, baik mengenai kegiatan agama
maupun terkait dengan alam. Penguatan pada aspek agama inilah yang
merupakan integrasi dari konsep Islam di sekolah alam. Al Quran dan As
Sunnah digunakan sebagai landasan dalam melakukan setiap kegiatan
sehari-hari, yang dibarengi dengan integrasi perspektif ekologi.
Integrasi perspektif ekologi adalah diterapkannya empat prinsip ekologi,
yaitu keberlanjutan, holistik, keanekaragaman dan keseimbangan (Ife,
2002), di sekolah alam (dalam hal ini Sekolah Alam Bogor dan School of
Universe, Parung, Bogor). Apabila konsep Islam dan perspektif ekologi
telah terintegrasi di sekolah alam, maka akan dapat menjadi solusi dari
adanya krisis ekologi, yaitu suatu keadaan dimana sistem ekologi
mengalami ketidakstabilan/guncangan maupun gangguan kesetimbangan
7
pertukaran energi-materi dan informasi yang selanjutnya mengakibatkan
ketidakseimbangan pada fungsi-fungsi distribusi seta akumulasi energimateri antara satu organisme dengan organisme lain dan alam
lingkungannya sementara itu organisme (manusia dengan teknologi,
perilaku dan organisasi sosialnya belum mampu melakukan penyesuaian
yang
berarti
dalam
mengantisipasi/merespons
guncangan
tersebut
(Dharmawan, 2007).
1.6
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan
strategi studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih
karena mampu
memberikan pemahaman yang mendalam dan rinci tentang suatu peristiwa
atau gejala social serta mampu menggali berbagai realitas dan proses social
maupun makna yang didasarkan pada pemahaman yang berkembang tentang
pendidikan di sekolah alam.
Desain penelitian ini menggunakan one time cross-sectional study dimana
penelitian dilakukan hanya pada satu waktu tertentu (single period in time).
Penelitian ini menghasilkan potret (snapshot) situasi pada saat tertentu.
Sampelnya dipilih khusus untuk satu kali penelitian saja, namun cakupan
data yang dikumpulkan tidak terbatas pada periode ketika penelitian
diadakan (Purwadi 2000). Penelitian ini dilakukan di Sekolah Alam Bogor,
Tanah Baru Bogor dan School of Universe, Parung, Bogor pada bulan AprilMei 2007 yang mencakup meliputi persiapan, pengumpulan data, dan
analisis data serta penulisan laporan.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi
metode (kombinasi beberapa metode pengumpulan data) antara lain :
wawancara mendalam, observasi lapang dan penelusuran dokumen atau
literatur. Data dan informasi dalam penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengamatan
berpartisipasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan menelusuri
beberapa literatur yang diperoleh dari dokumen atau literatur. Data-data
hasil penelitian selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
8
1.7
Kerangka Pemikiran
Pendidikan lingkungan dapat menjadi solusi untuk mengatasi krisis ekologi
yang menjadi permasalahan dunia. Penerapan pendidikan lingkungan pada
sekolah formal melahirkan sebuah solusi yang sedang dikembangkan saat
ini yaitu sekolah alam.
Sekolah alam menerapkan asas pembelajaran yang berdasarkan pada konsep
Islam, yaitu sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, serta berdasarkan
pada perspektif ekologi. Sekolah Alam yang bisa dijadikan solusi dalam
mengatasi krisis ini dengan menggunakan kurikulum dan infrastruktur yang
bersahabat dengan alam, sehingga dalam pengimplementasiannya dalam
menerapkan konsep pendidikan lingkungan. Hasil yang diharapkan dari
sekolah alam adalah kepedulian manusia (anak) terhadap lingkungan.
Krisis Ekologi
Pendidikan Lingkungan
Perspektif Ekologi
Kurikulum
Sekolah Alam
Infrastruktur
Konsep Islam
Implementasi
Kepedulian Manusia (Anak) terhadap Lingkungan
Krisis Ekologi Akan Teratasi
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Lingkungan
Lingkungan adalah semua objek dan kekuatan eksternal (external forces)
yang mempengaruhi suatu organisme (dalam hal ini manusia) yang
diantaranya saling berinteraksi atau salah satunya dipengaruhi oleh yang
lain (Campbell, Neil, Reece, dan Mitchell, 2000). Lingkungan mencakup
segala hal sekeliling kita yang terkait kepadanya secara langsung atau tidak
langsung, yang hidup dan kegiatan kita berhubungan dengannya dan
bergantung
padanya
(Ananinchev
dalam
Notohadiprawiro,
2006).
Lingkungan dapat diartikan keseluruhan keadaan luar yang mempengaruhi
keberadaan organisme, masayarakat atau obyek. Dapat juga dikatan
lingkungan adalah keseluruhan faktor, kakas (force) atau keadaan yang
mempengaruhi atau berperan atas hidup dan kehidupan makhluk. Boleh juga
disebutkan, lingkungan adalah segala gatra ekologi ditinjau dari segi
manusia (Notohadiprawiro, 1992).
Secara ringkas, lingkungan adalah habitat. Keadaan luar dapat dipilahkan
menjadi tiga unsure menurut pengaruhnya atas hidup dan kehidupan
makhluk : (1) keadaan yang diperlukan secara mutlak, (2) keadaan yang
menguntungkan, dan (3) keadaan yang membahayakan. Sebagai contoh,
ketersediaan udara dan air segara dalam jumlah cukup merupakan criteria
keadaan yang diperlukan secara mutlak. Kemudahan wilayah dijangkau
(accessed) dan dilintasi (passed through) menjadi kriteria keadaan yang
menguntungkan. Pencemaran udara, air dan tanah adalah criteria keadaan
yang membahayakan. (Notohadiprawiro, 1996).
Dalam AMDAL di Negeri Belanda, istilah lingkungan digunakan menurut
dua pengertian. Dalam peraturan perundangan lingkungan diberi arti
“keseluruhan air, tanah, udara, manusia, hewan, tumbuhan, barang beserta
nasabah antar masing-masing”. Kalau menyangkut satu jenis makhluk,
pengertian lingkungan ialah keseluruhan factor yang dapat berpengaruh atas
hidup suatu jenis makhluk (Notohadiprawiro, 1992).
Di dalam Ketentuan Umum Undang-Undang R.I Nomor 4 Tahun 1982
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup,
10
lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan
perilakunya,
yang
mempengaruhi
kelangsungan
perikehidupan
dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
2.2
Lingkungan dalam Konsep Islam
Lingkungan adalah ruang kehidupan dalam arti seluas-luasnya bagi makhluk
hidup atau organisme (manusia serta flora-fauna). Jika pengertian ini
digunakan untuk memahami konsep Islam tentang lingkungan, maka ada
beberapa istilah Al Qur’an yang berkaitan dengan lingkungan tersebut
seperti as-sama’ (jagat raya), al-ard (bumi), al-‘alamin (seluruh spesies)
dan al-bi’ah (lingkungan). Lingkungan dalam konsep Islam senantiasa
dipahami dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara,
dan sekaligus pemberi tempat bagi kehidupan yang baik serta ideal (Tim
Penyusun, 2001).
Karena Islam itu bukanlah semata-mata mengatur ibadah: kepentingan tiaptiap pribadi dengan Allah saja, tetapi juga memikirkan dan mengatur
masyarakat.” Pesan-pesan Al-Qur'an mengenai lingkungan sangat jelas dan
prospektif. Ada beberapa tentang lingkungan dalam Al-Qur'an, antara lain :
lingkungan sebagai suatu sistem, tanggung jawab manusia untuk
memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya
vital dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan
hidup yang terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang
mengabaikan petunjuk Allah serta solusi pengelolaan lingkungan.
Adapun As-Sunnah lebih banyak menjelaskan lingkungan hidup secara rinci
dan detail. Karena Al-Qur'an hanya meletakkan dasar dan prinsipnya secara
global, sedangkan As-Sunnah berfungsi menerangkan dan menjelaskannya
dalam bentuk hukum-hukum, pengarahan pada hal-hal tertentu dan berbagai
penjelasan yang lebih rinci.
Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan
hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas
sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup
11
menurut ajaran Islam. Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber
pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30.
Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan
hanya Dialah sumber pengetahuannnya”. Lalu dalil kedua menyatakan
bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, yang
berarti sebagai berikut; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi”. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka
bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi.
Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak
untuk menjadi khafilah.
Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen
studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat (Alim,
2006) dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the
Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the
axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of
nature. By being taught the names of all things he gains domination over
them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.)
of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to
dominate over nature only by virtue of his theomorphic make-up, not as a
rebel against heaven.”
Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini
adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam
memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).
Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan
Young dalam Alim (2006) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu
kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah
pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta
alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku
bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”
Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan
alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti
12
sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”
Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan
maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu
yang lebih baik amalnya.”
Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia
dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang
taat dan patuh kepada Allah.
Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada
Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis
dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada
Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia
adalah pemelihara segala sesuatu”
Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan
manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini
adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut;
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke
delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga
keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam
surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan
padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran.”
Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk
memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam
literatur barat sebagai: siklus Hidrologi. Dalil ini bersumber dari beberapa
firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf
57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa
Surat/Ayat lainnya.
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih
jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan
jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani. Merujuk pada
13
Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang
bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat
Al-Muddatstsir 4-5; “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala
perbuatan dosa.”
Mengutip disertasi Abdillah dalam Alim (2006), Surat Luqman ayat 20
Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan
sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi
kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian
manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni
mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi
memadai.”
Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai
ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan
hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah
telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung
lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh
orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”
Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup
yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai
berikut:
Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan
hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri
pada Allah.
Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian.
Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan.
Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan
dari turunnya kadar keimanan manusia.
Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan
lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang
dilaporkan Sir Thomas Arnold dalam Alim (1931) bahwa Islam
mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah
yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini
14
memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan
70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat
pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada
masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar
pembangunan kota lain di Eropa.
Selain beberapa dalil di atas, dalam Al Qur’an dan As-sunnah juga masih
terdapat beberapa hal terkait lingkungan, antara lain :

Lingkungan Sebagai Suatu Sistem
Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerja secara teratur
sebagai suatu kesatuan. Atau seperangkat unsur yang secara teratur saling
berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas (Depdikbud, 1990).
Lingkungan terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan, dan tumbuhan) dan
abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya). Allah SWT berfirman :
"Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gununggunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan
Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan
(Kami menciptakannya pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali
bukan pemberi rezeki kepadanya." (QS. 15 : 19-20)
Hal ini senada dengan pengertian lingkungan hidup, yaitu sistem yang
merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan
perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya
(Kementrian Lingkungan Hidup, 1982). Atau bisa juga dikatakan sebagai
suatu sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap
tatanan ekosistem.
 Pembangunan Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia
guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT berfirman :
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya
kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. " (QS. 67 : 15)
15
Akan tetapi, lingkungan hidup sebagai sumber daya mempunyai regenerasi
dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau penggunaannya di
bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, maka sumber daya terbaharui
dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi apabila batas itu dilampaui,
sumber daya akan mengalami kerusakan dan fungsinya sebagai faktor
produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan
(Soemarwoto, 1997).
Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk
pengubahan lingkungan hidup, yakni mengurangi resiko lingkungan dan
atau memperbesar manfaat lingkungan. Sehingga manusia mempunyai
tanggung jawab untuk memelihara dan memakmurkan alam sekitarnya.
Allah SWT berfirman :
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata :
"Hai kaumku, sembalah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain
Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) dan lagi
memperkenankan (do'a hamba-Nya)." (QS. 11 : 61)
Upaya
memelihara
dan
memakmurkan
tersebut
bertujuan
untuk
melestarikan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara
berkelanjutan pertumbuhan dan perkembangan yang kita usahakan dalam
pembangunan. Walaupun lingkungan berubah, kita usahakan agar tetap pada
kondisi yang mampu untuk menopang secara terus-menerus pertumbuhan
dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita
dapat terjamin pada tingkat mutu hidup yang makin baik. Konsep
pembangunan ini lebih terkenal dengan pembangunan lingkungan
berkelanjutan (Mitchell, 2000).
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila manusia tidak membuat kerusakan di
bumi, sebagaimana firman Allah SWT
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut dan
16
harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat
baik." (QS. 7 : 56)
2.3
Krisis Ekologi
Krisis Ekologi merupakan suatu keadaan dimana sistem ekologi mengalami
ketidakstabilan/guncangan maupun gangguan kesetimbangan pertukaran
energi-materi
dan
informasi
yang
selanjutnya
mengakibatkan
ketidakseimbangan pada fungsi-fungsi distribusi seta akumulasi energimateri antara satu
organisme dengan
organisme lain dan alam
lingkungannya sementara itu organisme (manusia dengan teknologi,
perilaku dan organisasi sosialnya belum mampu melakukan penyesuaian
yang
berarti
dalam
mengantisipasi/merespons
guncangan
tersebut
(Dharmawan, 2007).
Krisis ekologi, yakni krisis hubungan antar manusia (dan kebudayaanya)
dengan lingkungan hidup tempat mereka berlindung, bermukim, dan
mengeksploitasi
sumberdaya
alam.
Dengan
memandang
persoalan
lingkungan hidup sebagai krisis ekologi maka terbentang jalan yang luas
untuk memperbaiki ketidakseimbangan hubungan tersebut. Masalah
lingkungan hidup tidak dapat diatasi hanya melalui reposisi hubungan
manusia dengan lingkungan alamnya, tetapi juga harus melalui reorientasi
nilai, etika dan norma-norma kehidupan yang kemudia tersimpul dalam
tindakan kolektif, serta restrukturisasi hubungan sosial antar individu,
individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, dan antara
kelompok dengan organisasi yang lebih besar (misal negara, lembaga
internasional).
Etika lingkungan dalam (ekosentrisme) memandang bahwa manusia
merupakan bagian dari seluruh ekosistem yang ada di alam, yang semuanya
mempunyai nilai baik biotik maupun abiotik. Penyebab berlangsungnya
krisis ekologi antara lain pola ekstraksi selaras alam berubah ke cara-cara
eksploitasi-industrial terhadap sumberdaya alam yang sangat rakus,
eksistensi manusia makin dominan dalam menguasai alam, kapasitas
adaptasi manusia yang lebih besar, dan makin terbatasnya ruang, materi
(sumberdaya) serta energi.
17
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan
melakukan kerusakan di bumi, akan tetapi manusia mengingkarinya. Allah
SWT berfirman : "Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah membuat
kerusakan di muka bumi", mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orangorang yang mengadakan perbaikan." (QS. 2 : 11).
Keingkaran mereka disebabkan karena keserakahan mereka dan mereka
mengingkari petunjuk Allah SWT dalam mengelola bumi ini. Sehingga
terjadilah bencana alam dan kerusakan di bumi karena ulah tangan manusia.
Allah SWT berfirman :
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".
Katakanlah : "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu
adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (QS. 30 : 41-42).
Dalam Al Quran, terdapat kisah dramatis tentang bencana lingkungan. Salah
satunya adalah peristiwa banjir. Banjir pernah menimpa kaum Nabi Nuh AS
(QS.7:59-64; 11:32-49; 71: 5-20), kaum Nabi Hud (QS.7:65-72; 11:50-58),
dan negeri Saba (QS.34:16). Musibah yang menimpa ketiga kaum itu terjadi
karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah (QS.7:64). Dalam tradisi
tafsir,kata “ayat-ayat Allah” bukan hanya berarti ayat yang tertulis dalam Al
Qur’an, melainkan juga ayat yang tidak tertulis yang terhampar dalam
lingkungan. Ungkapan “mendustakan ayat-ayat Allah” dalam konteks
ekologi bisa diartikan “tidak mengindahkan hukum ekologi atau
lingkungan”, sehingga terjadilah malapetaka banjir yang menyengasarakan
manusia.
2.4
Perspektif Ekologi
Falsafah atau prinsip-prinsip dasar yang terkandung di dalam teori dan
konsep-konsep ekologi selain menjadi kebijakan bagi fomulasi paradigma
dan etika ekologi, juga dikembangkan sebagai perspektif ekologi. Ife (2002)
memperkenalkan empat prinsip ekologi yang banyak digunakan sebagai
perspektif oleh kalangan intelektual, ilmuwan, dan penggiat hijau atau
18
green. Empat prinsip ini menimbulkan beberapa konsekuensi, yakni: 1)
holistik (holism) : filosofi ekosentrik, respek pada kehidupan dan alam,
menolak solusi linear, perubahan yang bersifat organik. 2) keberlanjutan
(sustainibility)
:
konservasi
mengurangi
konsumsi
ekonomi
tanpa
menekankan pada pertumbuhan, Kendala pada pengembangan teknologi 3)
keanekaragaman (diversty) : anti kapitalis, menghrai perbedaan, tidak ada
jawaban tunggal atas suatu masalah, desntralisasi, jejaring (networking) dan
komunikasi lateral, teknologi tepat guna (lower level technology). 4)
keseimbangan (equilibrium) : global/lokal, yin/yang, gender, hak/tanggung
jawab, perdamaian dan kerjasama
2.5
Pendidikan Lingkungan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak manusia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain (Kementrian Lingkungan
Hidup, 2007).
Pendidikan lingkungan hidup dapat dilakukan melalui jalur formal,
nonformal, dan informal. Pendidikan lingkungan hidup formal adalah
kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang diselenggarakan
melalui sekolah, terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi dan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang dengan
metode pendekatan kurikulum yang terintegrasi maupun kurikulum yang
monolitik (tersendiri). Pendidikan lingkungan hidup nonformal adalah
kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang dilakukan di luar
sekolah yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (misalnya
pelatihan AMDAL, ISO 14000, PPNS).
Pendidikan lingkungan hidup informal adalah kegiatan pendidikan di bidang
lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah dan dilaksanakan tidak
19
terstruktur maupun tidak berjenjang. Kelembagaan pendidikan lingkungan
hidup
adalah
seluruh
lapisan
masyarakat
yang
meliputi
pelaku,
penyelenggara dan pelaksana pendidikan lingkungan hidup, baik di jalur
formal, nonformal dan informal.
Menurut Kementrian Lingkungan Hidup, pendidikan lingkungan hidup
bertujuan
untuk
mendorong
dan
memberikan
kesempatan
kepada
masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang pada
akhirnya dapat menumbuhkan kepedulian, komitmen untuk melindungi,
memperbaiki serta memanfaatkan lingkungan hidup secara bijaksana, turut
menciptakan pola perilaku baru yang bersahabat dengan lingkungan hidup,
mengembangkan etika lingkungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
Sedangkan tujuan pendidikan lingkungan hidup untuk pembangunan
berkelanjutan menurut IEEP Pasca-KTT Bumi (Departemen KSHE-IPB,
2007) :
1. Mengembangkan kepekaan individu dan kelompok komunitas dan
bangsa terhadap kesalingtergantungan antar aspek-aspek ekologi,
ekonomi dan sosial budaya.
2. Memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan
kesadaran, pengetahuan, keahlian dan komitmen untuk melindungi dan
memperbaiki tata lingkungan.
3. Membentuk pola perilaku yang ramah lingkungan.
4. Mengembangkan etika lingkungan.
5. Memberantas buta lingkungan.
6. Meningkatkan kualitas hidup.
20
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1
Ganbaran Umum Lokasi
1). Sekolah Alam Bogor
Sekolah Alam Bogor (SAB), sebuah sekolah yang dibangun di atas lahan
kira-kira seluas setengah hektar ini adalah sekolah yang di bangun penuh
mimpi oleh para pendirinya. Sekolah ini kokoh berdiri di Jl Pangeran Sogiri
No. 150 RT.01/04 Tanah Baru Bogor dengan status lahan yang masih sewa.
Seperti halnya konsep sekolah alam lainnya, SAB memiliki konsep yang
sama dengan Sekolah Alam Ciganjur yang merupakan sekolah alam
pertama di Indonesia, namun pengembangan dari konsep tersebut
disesuaikan dengan kondisi alam sekolah tersebut. Hal ini bertujuan untuk
mengoptimalkan potensi daerah masing-masing. Setiap daerah memiliki
potensi yang berbeda satu sama lain, hal ini dikarenakan adanya perbedaan
kondisi geografis, sosial budaya dan ekonomi. Oleh karena itu SAB
memfokuskan
konsepnya
kepada
pengembangan
pertanian
dan
kewirausahaan.
Sekolah yang didirikan pada tahun 2004 ini terdiri dari dua sub wilayah,
wilayah pertama untuk murid Sekolah Dasar (SD) yang berada di sebelah
kanan dan wilayah kedua untuk anak prasekolah di sebelah kiri. Dengan
luas wilayah sekitar 500 m2 dan ruang kelas panggung bertingkat dua yang
tidak permanen, sekolah alam ini mencoba menampakkan keasrian dan
keindahan bagi siapa saja yang melihatnya.
Aktivitas sekolah diadakan dari hari Senin hingga Jumat, dimulai dari pukul
08.00 dan diakhiri pukul 10.30 untuk playgroup, pukul 13.00 untuk TK,
pukul 14.00 dan 16.00 untuk SD. Dari total waktu tersebut, kegiatan dibagibagi menjadi beberapa bagian, yaitu kegiatan pagi dan kegiatan utama.
Kegiatan pagi meliputi shalat dhuha, hafalan doa dan surah Al-Qur’an, serta
menulis diary di komputer. Setelah itu dilanjutkan untuk kegiatan utama
yaitu penyampaian materi dan diakhiri istirahat sambil makan siang, sholat,
serta pengulangan materi yang telah diberikan.
21
Dengan berprinsip bahwa proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja
dan melalui apa saja, anak-anak lebih diarahkan untuk belajar langsung di
alam, maka di sekolah alam ini kita akan menemukan “ Green lab “ yaitu
laboratorium terpadu dengan petak-petak kebun milik masing-masing kelas
yang ditanami aneka tanaman organik dan hidroponik. Pada saat panen,
anak-anak sendirilah yang memetik hasil dan menjualnya kepada orangtua
atau siapa saja yang kebetulan berkunjung.
Selain itu, di antara dua kelas panggung terdapat bangunan vertikultur,
yakni batang-batang bambu yang disusun horizontal, diikat dengan ijuk dan
membentuk limas segitiga. Batang-batang bambu yang melintang dilubangi,
diisi kompos, dan ditanami berbagai tanaman mini yang umumnya sayuran.
dipojok tepat di samping ruang kelas juga terdapat kolam ikan lele dengan
air berwarna hijau keruh, kolam ini juga merupakan tempat pembuangan air
terakhir dari beberapa sumber. Apabila memasuki kawasan prasekolah yang
berada tepat di pojok lahan tersebut, akan dijumpai kandang-kandang ternak
yang disebut “pets zone” untuk beberapa jenis hewan seperti kambing,
marmut dan kelinci tepat berdampingan dengan “recycle zone” yaitu tempat
akhir pemilahan sampah yang selanjutnya akan diolah menjadi pupuk atau
kreatifitas anak lainnya.
Saat ini, SAB telah memiliki total sekitar dua ratus siswa untuk tiga
tingkatan sekolah dasar (SD), satu kelas play group, dua kelas TK A, serta
tiga kelas TK B. SAB menyediakan tenaga pengajar untuk masing-masing
kelas sebanyak dua orang, seorang direktur sekolah alam, satu kepala
sekolah TK, satu kepala SD, satu guru komputer, dua guru farming, satu
pengurus outbond dan masing-masing satu guru untuk mendampingi dan
mengajar siswa berkebutuhan khusus. Satu kelebihan dari SAB yaitu adanya
kelas khusus untuk anak berkebutuhan khusus. SAB sangat fokus pada
masalah kualitas. Oleh karena itu, SAB membatasi jumlah anak dalam
setiap kelasnya.
Mekanisme penilaian akhir siswa SAB adalah dengan memberikan dua
raport akhir, yakni raport Dinas Pendidikan Kota Bogor
dan raport
deskriptif. Raport diknas ialah hasil belajar anak di sekolah alam dan berisi
22
data kuantitatif, sedangkan raport deskriptif memperlihatkan gambaran
perkembangan anak secara kualitatif. Tidak ada sistem ranking dalam
sekolah ini, karena mereka percaya setiap anak memiliki potensi yang harus
dibangun, bukan dihilangkan hanya karena sistem rangking yang ada.
2). School of Universe, Parung, Bogor
School of Universe merupakan sekolah alam yang berada di Jl. Raya Parung
314, Desa Lebak Wangi RT 03/01, Kelurahan Pemagar Sari, Kecamatan
Parung, Kabupaten Bogor km 43. Sekolah ini mempunyai batas-batas
wilayah sebagai berikut: a) Sebelah utara berbatasan dengan kota Jakarta, b)
Sebelah barat berbatasan dengan Bogor, c) Sebelah timur berbatasan dengan
Depok, d) Sebelah selatan berbatasan dengan Kota Bogor. Sekolah ini
memiliki lahan seluas 1 Ha, yang dapat menampung siswa sebanyak 500
orang, namun hingga saat ini, siswa yang ada baru mencapai 70 orang.
Keseluruhan wilayah digunakan untuk pembangunan fasilitas belajar dan
lahan praktek para siswa.
School of Universe adalah media pendampingan anak manusia yang bersifat
praktis bukan teoritis; tempat berlangsungnya proses belajar dari
pengalaman; tempat pencarian ilmu yang terus-menerus sepanjang hayat
yang dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan bersifat tanpa paksaan
(sukarela). Atas dasar itulah infrastruktur School of Universe yang paling
utama adalah :
1. Alam Semesta (universe)
Keanekaragaman hayati dan ekosistem yang terdapat di sekitar sekolah
dimanfaatkan sebagai medium belajar aplikasi science dan technology.
2. Fasilitator (teachers)
Setiap kelas akan didampingi oleh 2 fasilitator yang memiliki kualifikasi
sarjana dari perguruan tinggi terbaik, kompetensi keilmuan sangat
tinggi, serta mampu berbahasa dunia (dalam hal ini Inggris). Jumlah
pengajar yang terdapat di SoU Saat ini sebanyak 30 orang dan ditambah
dengan 2 orang staf.
3. Ruang Kelas
23
Arsitektur dan interior kelas, dirancang sesuai kebutuhan ruang standar
internasional 1 orang: 15m2. Mampu menopang suasana belajarmengajar (diskusi, presentasi, menulis laporan). Setiap kelas maksimal
menampung 24 siswa dan 2 orang fasilitator. Ruang kelas yang tersedia
berjumlah 7 buah, dengan rincian sebagai berikut: TK A dan TK B, SD
1 dan 2, SD 3 dan 4, SD 5 dan 6, SM 1, SM 2, SM 3 dan 4. Ruang kelas
yang terdapat di lokasi observasi berbeda dengan ruang kelas yang
umumnya terdapat di sekolah konvensional.
4. Perpustakaan
Desain arsitektur dan interior perpustakaan mengacu pada kebutuhan
siswa dalam mengakses ilmu pengetahuan dan informasi. Produk
pustaka yang akan dikelola mencakup buku (hard printed), CD-ROM,
dan internet.
5. Resource & Workshop Room
Ruangan khusus untuk menampung seluruh bahan-bahan/material yang
digunakan sebagai alat peraga maupun proyek penelitian dan tempat
bagi pengembangan teknologi tepat guna.
6. Outbound
Sebuah media belajar luar ruang (outdoor) yang dikhususkan untuk
pelatihan kepemimpinan, creative thinking, problem solving, team
working, team building, strategic planning dan sekaligus sebagai latihan
peningkatan jasmani.
7. Biotechnology Center
Sebuah pusat bisnis bioteknologi tempat dimana anak-anak dapat belajar
secara aplikatif setiap harinya.
8. Information Communication Technology Center
Sebuah pusat bisnis information communication technology, tempat para
siswa anak-anak belajar secara aplikatif.
9. Retail & Distribution Center
Sebuah pusat bisnis retail & distribusi tempat siswa belajar secara
aplikatif setiap harinya.
24
3.2
Konsep Islam dan Perspektif Ekologi Sekolah Alam Bogor
Sekolah alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam
semesta. Secara ideal, dasar konsep tersebut berangkat dari nilai-nilai Al
Qur’an dan Sunnah, yang menyatakan bahwa hakikat penciptaan manusia
adalah untuk menjadi pemimpin, khalifah dimuka bumi. Hal ini sesuai
dengan Firman Allah SWT. Surat Al Bqoroh ayat 30. ”Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepad malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
engan memuji Engkau dan mensucikan engkau?” tuhan berfirman: ”
Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui.”(QS. 2:30)
Oleh karena itu, para penggagas SA yakin bahwa hakikat tujuan pendidikan
adalah membantu anak didik tumbuh menjadi manusia yang berkarakter.
Menjadi manusia yang tidak saja mampu memanfaatkan apa yang tersedia
di alam, tetapi juga mampu mencintai dan memelihara alam lingkungannya
(paradigma ekosentris).
Ife (2002) memperkenalkan empat prinsip ekologi antara lain holistik,
keberlanjutan, keseimbangan dan keanekaragaman. Pada SAB prinsip
tersebut dapat dilihat dari berbagai kegitan belajar mengajar sehari-hari di
sekolah. Empat prinsip ekologi tercermin dalam kegiatan berikut ini:
 Holistik
Metode belajar yang digunakan merupakan integrasi dari kurikulum khas
sekolah alam dengan kurikulum berbasis kompetensi Pendidikan Nasional
(Diknas) yang dijelmakan dalam metode “spider web”. Metode ini
merupakan sistem pembelajaran dengan mengintegrasikan tema dalam
semua mata pelajaran, dengan demikian diharapkan, pemahaman siswa
terhadap materi pembelajaran bersifat integratif, kompherensif dan aplikatif,
sekaligus juga lebih “membumi”. Dengan metode ini, mereka belajar tidak
hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, merasakan
dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran.
Kegiatan penanaman terong organik yang telah dijelaskan pada teks 1
memberikan pemahaman kepada anak tentang proses penanaman yang
25
bersifat organik. Penanamanan dengan metode ini akan mempertahankan
kestabilan tanah sehingga unsur hara tetap terjaga. Kegiatan ini memberikan
pemahaman kepada anak secara meyeluruh tentang proses perkembangan
terotng sejak ditanam, hingga dapat dipetik atau dipanen nantinya.
Teks 1
Menanam Pohon dan sayuran
Salah satu pogram yang dilakukan oleh SAB untuk memupuk kepedulian
anak terhadap lingkungan adalah dengan melakukan penanaman pohon dan
sayuran yang dilakukan secara berkelompok. Pohon ataupun sayuran yang
ditanam pun bermacam-macam, misalnya padi, terong, kangkung, dan
bayam. Dalam penanaman ini pupuk yang digunakan adalah pupuk
kompos, pupuk kompos di sini adalah pupuk hasil olahan sampah organik
buangan SAB. Pohon tersebut dirawat dan dikelola agar dapat tumbuh
dengan baik dan hasilnya dapat dijual pada kegiatan ”business day”
(seminggu sekali) atau ”market day” (setiap satu semester).
 Keberlanjutan
Kegiatan Kewirausahaan dari hasil cocok tanam mereka yang dijelaskan
pada teks 1 menggambarkan bahwa anak diajarkan untuk menghargai
proses, baik proses itu akan menghasilkan suatu keberhasilan ataupun
kegagalan. Dari sini anak juga belajar untuk mengatur keuangan dan
penjualan mereka. Harapannya, suatu saat nanti ketika mereka menjadi
pelaku-pelaku di dunia ekonomi mereka tidak hanya mengandalkan
pertumbuhan ekonomi yang cepat tanpa memperhatikan proses dan tidak
bersifat kapitalis. Tentang konsep keberlanjutan, Allah SWT menjelaskan
dalam surat Al A’raf ayat 57, ” Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai
pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu
daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu berbagai buahbuahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudahmudahan kamu mengambil pelajaran”.
Ayat ini menjelaskan bahwa adanya keberlanjutan dari setiap tindakan
manusia
merupakan
suatu
keharusan,
karena
islam
sendiri
telah
mengajarkan umatnya untuk menerapkan konsep keberlanjutan.
26
SAB menyediakan tempat sampah yang sesuai dengan sifat sampah, yaitu
sampah organik, sampah anorganik, dan sampah basah, serta menampung
sampah dari yang bisa digunakan kembali dari luar sekolah, terutama dari
keluarga. Sikap membuang sampah pada tempatnya ini merupakan ajaran
dasar Islam, yaitu mengenai kebersihan. Mengenai perintah untuk hidup
bersih,
Allah
menjelaskan
dalam
surat
Surat
Al-Baqarah
222;
“….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang
kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5;
“..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.”
Pengelolaaan sampah tersebut dilakukan dengan metode reduce, recycle,
dan reuse. untuk mengelola sampah yang telah dikumpulkan, SAB
menyediakan ”bengkel kreasi”. Di bengkel ini anak-anak bebas berkreasi
dalam memanfaatkan sampah anorganik sedangkan sampah organik diolah
menjadi pupuk kompos. Dengan kegiatan proses pengelolaan sampah ini,
diharapkan anak memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada
tempatnya dan mampu menfaatkan sampah dalam proses daur ulang. Dalam
proses pembelajaran yang berlangsung beberapa anak masih belum bisa
membedakan jenis- jenis sampah tertentu, hal ini terkait tahapan
perkembangan anak yang belum mencapai tahapan pemahaman abstrak.
SAB juga menerbitkan Salam News (buletin sekolah alam) yang terbit
sebulan sekali untuk kalangan orang tua siswa. Dalam Salam News tersebut
terdapat satu pojok lingkungan yang bernama “echo of eco” atau gaung
ekologi yang berisi kampanye lingkungan hidup.
 Keanekaragaman
Filosofi keanekaragaman terlihat pada penanaman pohon dan sayuran yang
bermacam-macam. Melalui proses tersebut anak belajar untuk menghargai
setiap perbedaan tanaman yang ditanam masing-masing kelas. Hal ini
berimplikasi terhadap pemahaman anak mengenai setiap perbedaan yang
kerap muncul dalam keseharian mereka, misalnya sikap menghargai
perbedaan pakaian yang mereka kenakan serta perbedaan cara menunaikan
ibadah. SAB memandang keanekaragaman sebagai hakikat dari keunikan
individu yang harus diakui dan dihargai, mereka juga meyakini bahwa
27
keseragaman memang tidak seharusnya terletak pada apa yang dikenakan,
tetapi pada perilaku dan sikap, serta semangat belajar dan rasa ingin tahu.
Dalam hal manajemen sekolah alam, penerapannya dilakukan desentralisasi
penuh oleh masing-masing SA walaupun beberapa SA memilki logo dan
konsep yang sama dalam manajemennya. Dalam hal membangun jejaring
dan komunikasi, inovasi lain yang dilakukan SAB yaitu adanya home visit
yang dilaksanakan sekali dalam satu bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk
mengajarkan kepada anak untuk menjalin silaturrahmi dengan sesama.
Dalam kegiatan ini anak-anak diajak untuk berkunjung ke rumah salah satu
dari mereka. Di sana mereka bisa mendapatkan suasana yang mungkin
berbeda dari rumahnya dan mereka juga mendapat banyak pelajaran dari
orang tua siswa yang rumahnya dikunjungi. Selain itu, ada pula kegiatan
kunjungan edukatif ke beberapa tempat seperti PLTA, rel kereta api, tempat
yang mengalami bencana, camping dengan tema penyelamatan lingkungan,
dan lain-lain. Jadi, anak-anak diharapkan dapat belajar untuk peduli
terhadap lingkungan dan menumbuhkan sense of ecology.
 Keseimbangan
Pemahaman tentang keadilan gender sudah diterapkan sejak dini. Anak lakilaki dilatih untuk melakukan kegiatan seperti cuci piring sendiri setelah
makan yang pada umumnya dilakukan oleh perempuan. Hal ini melukiskan
adanya keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Selain itu terlihat
juga adanya perdamaian dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan yang
dapat terlihat dari berbagai macam kegiatan seperti main bersama, shalat
berjamah, makan bersama, dan lain-lain. Islam telah memerintahkan kepada
ummatnya untuk selalu hidup dengan seimbang. Sesuai dengan firman Allah
dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala
sesuatu menurut ukuran.”
Selain itu, mereka berusaha untuk menyajikan materi yang nantinya dapat
menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan. Selama ini sekolah
konvensional terlalu menitikberatkan pada otak neokorteks. Oleh karena itu,
mereka tidak sembarangan mengikutsertakan anak didiknya dalam suatu
28
kompetisi. Mereka menyadari bahwa hal utama yang lebih penting dari
kompetisi yang harus ditanamkan pada setiap anak adalah berkooperatif.
Anak diajarkan untuk meningkatkan kreativitas, keberanian, kepercayaan
diri, kepemimpinan, sosialisasi, dan juga entrepreneurship.
Untuk mencapai tujuan dari empat prinsip ekologi tersebut, para pendiri
sekolah alam percaya bahwa semua proses belajar yang dilakukan harus
menyenangkan. Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan
suasana tersebut, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan begitu
akan tumbuh kesadaran pada anak-anak bahwa belajar itu mengasyikkan
dan sekolah pun identik dengan kegembiraan.
Kondisi kegiatan SAB yang telah dijelaskan secara garis besar telah
menggambarkan empat prinsip ekologi. Ada beberapa kelemahan yang kami
lihat dapat menjadi bumerang bagi perkembangan kepribadian anak.
Homogenitas religi yang ada di SAB ini dikhawatirkan akan menimbulkan
anak kurang menghargai perbedaan walaupun dari beberapa sisi,
penghargaan terhadap perbedaan terlihat nyata. Dengan ciri khas ”alam” ini
dikhawatirkan anak akan cenderung kurang
dapat beradaptasi dengan
lingkungan baru yang cenderung formal. Ditambah lagi dengan adanya
ketidakkonsistenan kedisiplinan
dalam sekolah alam ini. Dari sudut
pandang lingkungan, penerapan klasifikasi sampah melalui pemisahan tong
sampah yang dilakukan anak-anak masih cenderung lemah. Hal ini mungkin
dikarenakan konsep kongkrit yang dibutuhkan sesuai anak masih belum
diaplikasikan.
Kampanye lingkungan hidup melalui berbagai kegiatannya pun masih
bersifat lokal di lingkungan SAB saja Pemahaman tentang sampah
misalnya, masih belum menyentuh lingkungan sekitar sekolah alam
tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama semua pihak, khususnya
SAB untuk dapat mempengaruhi lingkungan sekitar sekolah alam tidak
hanya bertugas melahirkan anak-anak yang peduli lingkungan dan berakhlak
mulia, tetapi juga menyentuh komunitas sekitar mereka yang belum
mendapatkan informasi dan kesempatan.
29
3.3
Konsep Islam dan Perspektif Ekologi School of Universe, Parung, Bogor
Pendirian School of Universe berdasarkan pada landasan bahwa hubungan
manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan manusia, dan
hubungan manusia dengan alam haruslah seimbang. School of Universe
merupakan sebuah aksi global yang berupaya mewujudkan “Our Common
Future” dalam konteks ikhtiar bersama dan diharapkan mampu memberikan
rahmat bagi sekalian alam. School of Universe didirikan pada tanggal 17 Juli
2004 di Parung dengan menggunakan basic agama dan mata tombak bisnis.
Pelopor dalam pendirian School of Universe adalah Lendo Novo Fellow
Ashoka.
Adapun visi dan misi yang dimiliki oleh School of Universe adalah sebagai
berikut :
Visi School of Universe :
Mengembalikan manusia pada tujuan penciptaannya
“Ingatlah ketikaTuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (QS 2:30)
Sebagai khalifah di muka bumi, hendaknya kita memiliki kaidah-kaidah
hidup yang mencakup: Ketakwaan (cara tunduk/akhlak kepada Allah, Sang
Pencipta). Logika (cara mengelola bumi sesuai dengan sunatullah/science &
teknologi). Kepemimpinan (leadership yang sesuai dengan utusan-Nya,
Rasulullah SAW).
Dari Satu Bumi Ke Satu Dunia
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka
Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar,
untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan...” (QS 2 :213)
Misi School of Universe :
Mendampingi setiap anak manusia untuk menjadi “pemimpin” di muka
bumi dan menebar “rahmat” bagi sekalian alam. Membangun sebuah model
peradaban manusia yang sesuai dengan cita-cita “Common Future” dalam
bentuk praktis yang tertuang pada pencapaian “metode-metode pendidikan
30
baru”, “moral bersama”, “nilai-nilai kehidupan baru” dan yang paling
penting adalah pola-pola “perilaku yang baru.”Menghadirkan manfaat bagi
sesama dan dunia, mampu memberikan inspirasi tentang pembelajaran
teladan kebaikan, sehingga seluruh umat manusia akan terpengaruh oleh
“iklim” atau suasana kebaikan sehingga terjadilah tular-menular perbuatan
baik.
Dalam sistem pembelajaran, SoU menggunakan asas :
“Bacalah
dengan
(menyebut)
nama
Tuhanmu
yang
menciptakan...”(QS.96:1)
“Aku adalah Khazanah yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenali, maka
Kuciptakan semesta...”(Hadits Qudsi)
Alam semesta adalah sumber pelajaran tanpa batas. Para siswa dilatih untuk
dapat “membaca” semesta dengan cara pandang utuh, menyeluruh.
Khazanah semesta dibagi ke dalam tema-tema bahasan, kemudian siswa
belajar mengupas tema tersebut melalui cara pandang berbagai cabang
keilmuan. Sistem pengajaran “spider web” ini, akan membuat anak didik
peka sekaligus terbuka dalam menyimak permasalahan dan mencari
pemecahan total. Paradigma baru ini dijadikan nyawa pembelajaran, sebab
dunia nyata-nyata telah teraniaya dan lelah oleh cara pandang dan
pemecahan parsial ala generasi masa lalu.
Pada seluruh tingkatan pendidikan, kurikulum dan penjenjangan proses
pembelajaran
bersifat
“luwes”,
senantiasa
disesuaikan
dengan
perkembangan kejiwaan dan “keunikan dan bakat” masing-masing anak.
Pada pendidikan tingkat dasar: PG, TK & SD, kurikulum terbagi dalam 3
materi pokok:
 Pengembangan akhlak, dengan metode “Tauladan”
 Pengembangan logika, dengan metode belajar “Action Learning”
 Pengembangan sifat kepemimpinan, dengan metode belajar “Outbound
Training”
Dalam pendidikan tingkat menengah (SMP-SMA) kurikulum dikembangkan
dari integrasi basic kurikulum yang mencakup materi-materi pokok ujian
masuk PTN maupun SAT, yaitu Matematika, IPA (kimia, fisika, biologi)
31
dan Bahasa Inggris serta Life Skill Curriculum yang berbasis pada
Bioteknology,
Information-Communication-Technology
dan
Retail
&
Distribution Business. Untuk mendukung model integrasi kurikulum, SoU
menerapkan metode pembelajaran model Dual System yaitu suatu model
pembelajaran yang telah banyak dikembangkan di Eropa terutama di
Jerman.
Esensi
Dual
System
adalah
model
pembelajaran
yang
dikembangkan dari prinsip belajar yaitu belajar dari pengalaman yang
terstruktur.
Kegitaan yang tercemin dari perspektif ekologi (Ife, 2002) di School of
Universe tidak jauh berbeda dari kegiatan yang ada di Sekolah Alam Bogor.
Penerapan yang dilakukan sebagai hasil dari sistem pendidikan dan
infrastruktur yang mendukung adalah tumbuhnya rasa kepedulian yang besar
terhadap lingkungan, kemampuan mereka dalam mengelompokkan jenis
sampah serta cara mendaur ulangnya sehingga dapat menghasilkan barang
yang berguna kembali. Alat-alat pembelajaran yang digunakan juga
menggunakan barang yang di daur ulang atau yang tidak terpakai.
Kegiatan berkebun membuat anak lebih memahami proses perkembangan
tanaman dan sayuran sehingga mampu memberikan pemahaman yang
menyeluruh kepada anak, selain itu juga meningkatkan minat anak untuk
makan sayuran. Kegiatan ini juga memupuk rasa tanggung jawab anak
dalam merawat tanaman yang mereka tanam.
Kepedulian sosial anak juga berkembang, ini dibuktikan dengan
diselenggarakannya bazar setiap hari minggu, eco shop yang menyediakan
barang kebutuhan masyarakat sekitar tetapi dibawah labelnya tertera bahwa
produk tersebut ramah lingkungan atau tidak. Kegiatan observasi lapang di
beberapa wilayah atau daerah khususnya di daerah yang memiliki
kemampuan
ekonomi
menengah
ke
bawah
diharapkan
mampu
menumbuhkan jiwa sosial dan kepedulian anak terhadap kondisi social di
sekitar mereka.
Rasa kebersamaan dan kerjasama juga dikembangkan di SoU, ini dibuktikan
bahwa mereka dibiasakan untuk memakai peralatan menggambar secara
32
bersama-sama, saling membantu untuk melaksanakan suatu acara, dan
bekerja bersama- sama dalam sebuah kelompok .
Sikap tanggung jawab dan tolong menolong dibuktikan melalui kegiatan
outbound, bercocok tanam, mengerjakan tugas pribadi dan selesai tepat
waktu, menjaga pensil yang diberikan karena setiap siswa hanya memiliki
satu pensil. Proses pemahaman kebaragaman di SoU diwujudkan dalam
bentuk pakaian sekolah mereka sehari- hari. Karena tidak adanya pakaian
seragam khusus, anak didik diharapkan mampu lebih menghargai perbedaan
yang ada.
3.4
Peran Pendidikan Lingkungan di Sekolah Alam sebagai Solusi adanya
Krisis Ekologi
Islam memberikan panduan yang cukup jelas bahwa sumber daya alam dan
lingkungan merupakan daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia.
Sebab fakta menunjukkan bahwa Allah SWT, telah memberikan daya
dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu hokum
pelestarian lingkungan adalah wajib (Abdillah, 2005).
Menurut Abdillah (2005), kelestarian lingkungan merupakan keniscayaan
ekologis yang tidak dapat ditawar oleh siapapun dan kapanpun. Oleh karena
itu pelestarian lingkungan harus dilakukan oleh manusia. Perintah untuk
melestarikan lingkungan secara eksplisit dijelaskan oleh Allah dalam Al
Qur’an surat Luqman ayat 20.
“ Tidakkah kamu cermati bahwa Allah telah menjadikan suber daya alam
dan lingkungan sebaga daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara
optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang
mempertanyakan kekuasaan Allah tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan
referensi memadai.
Selain itu perintah untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan juga
dijelaskan oleh Allah swt. dalam dan surat al-jatsiyah ayat 13. “ Dan (Allah)
telah menjadikan semua sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya
dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Ynag demikian hanya
ditangkap oleh orang-orang yang memiliki perhatian serius pada
lingkungan.”
33
Berdasarkan pengembangan dan pendalaman makna dua ayat tersebut di
atas jelas bahwa manusia wajib mengembangkan kesadaran pelestarian
lingkungan. Kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan ini dapat
dilakukan melalui pendidikan lingkungan.
Pendidikan lingkungan hidup sebagai salah satu upaya untuk mengubah
perilaku dan sikap telah
dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen
masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan
dan kesadaran tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan
lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk
berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk
kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Menurut IEEP tahun
1977 (Departemen KSHE-IPB, 2007) pendidikan lingkungan yaitu proses
yang bertujuan mengembangkan penduduk dunia agar memiliki kesadaran
dan kepedulian terhadap lingkungan hidup seluruhnya dan segala
permasalahannya serta memiliki pengetahuan sikap, keahlian, motivasi dan
komitmen untuk bekerja, baik secara individu maupun kolektif, untuk
memecahkan masalah saat ini dan mencegah masalah yang akan datang.
Pendidikan lingkungan yang ada merupakan bagian dari pengetahuan
manusia yang terintegrasi dalam setiap perilaku. Pendidikan lingkungan
mengarahkan manusia agar dapat peduli dan tanggap terhadap setiap
permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
Pendidikan lingkungan lebih konkret di wujudkan dalam kurikulum
pendidikan Sekolah Alam, dimana dalam setiap kurikulumnya pendidikan
lingkungan terintegrasikan.
Sekolah Alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam
semesta. Di Sekolah Alam, tidak hanya murid yang belajar. Guru pun belajar
dari murid. Bahkan orang tua juga belajar dari guru dan anak murid. Di sini
murid-murid tidak hanya belajar di kelas. Mereka belajar di mana saja dan
dengan siapa saja. Mereka belajar tidak hanya dari buku tapi dari apa saja
yang ada di sekelilingnya. Satu hal yang pasti, bahwa mereka belajar tidak
sekedar mengejar nilai, tetapi juga memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari. Di Sekolah Alam para murid bebas mengekspresikan
34
keinginannya, tetapi tetap sesuai dengan peraturan yang telah mereka
sepakati bersama. Di sekolah ini juga tidak ditekankan pada keseragaman
seperti pada sekolah konvensional.
Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana 'fun',
tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan tumbuh
kesadaran pada anak bahwa 'learning is fun' dan sekolah identik dengan
kegembiraan. Namun sebagus apapun konsep yang disusun, tidak akan
sempurna hasilnya tanpa guru yang berkualitas dan berdedikasi tinggi.
Menjaga kualitas dan dedikasi hanya bisa dilakukan bila seorang
guru
mempunyai visi pendidikan yang jelas dan memahami prinsip dasar bahwa
setiap anak adalah individu yang unik.
Sekolah
alam
yang
menjadi
objek
observasi
menerapkan
sistem
pembelajaran yang melatih anak untuk berfikir secara utuh, menyeluruh dan
mencari solusi dari setiap masalah secara total. Selain itu, pendidikan yang
dijadikan dasar dari setiap mata pelajaran berkaitan dengan agama dan
bisnis. Kurikulum yang digunakan disetiap jenjang
pendidikan secara
umum lebih menekankan pada pengembangan akhlak, logika, dan sifat
kepemimpinan. School of Universe membuka kelas untuk siswa yang
berusia prasekolah sampai sekolah menengah. Sedangkan SAB, dengan
segala keterbatasnya hanya membuka kelas untuk prasekolah sampai dengan
anak kelas tiga SD, namun kedua sekolah ini sama-sama menerapkan sistem
pendidikan yang respek pada lngkungan. Satu hal yang sangat menarik,
berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap beberapa siswa, mereka
terlihat sangat antusias terhadap kelestarian lingkungan, meskipun untuk
anak prasekolah tindakan cinta lingkungan masih sebatas instrumental dan
belum benar benar tertanam. Hal ini adalah wajar, karena sesuai dengan
tahap perkembangannya, anak usia prasekolah masih tergolong pada tahap
perkembangan operasianal kongkrit. Terlepas dari adanya kelemahan
tersebut, sekolah alam memang jauh lebih baik apabila diimbangi dengan
dukungan dari berbagai pihak. Anak yang memiliki nilai, moral, etika serta
dalam dirinya telah tertanam rasa kepedulian terhadap lingkungan, maka
akan tumbuh menjadi generasi yang senantiasa menjaga kelestarian
35
lingkungan, yang pada akhirnya akan berkonstribusi terhadap penyelesaian
masalah krisis ekologi.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Ada dua hal penting yang terdapat pada integrasi konsep Islam dan perspektif
ekologi dalam proses pendidikan di sekolah alam. Pertama, cara
menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran lingkungan ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai media, salah satunya dengan
menggunakan media sekolah sebagai institusi formal yang memiliki peranan
besar untuk mengubah kesadaran anak didik. Sekolah alam adalah sekolah
dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. Sekolah alam secara
umum sudah menerapkan sistem pembelajaran yang didasarkan pada Al
Quran dan As Sunnah dan empat perspektif ekologi, yaitu holistik,
kebelanjutan, keanekaragaman, dan keseimbangan (Ife, 2002), meskipun
masih memiliki kekurangan dalam proses penerapannya.
Kedua, sekolah alam memiliki empat pilar proses pembelajaran, antara lain
akhlak, logic science, kepemimpinan, dan kewirausahan. Hal inilah yang
menyebabkan nilai, etika, dan moral anak dapat terbentuk sejak anak usia
dini sehingga membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan memiliki
kepedulian lingkungan yang besar. Hal ini akan menimbulkan suatu
kesadaran lingkungan yang akan dapat menyelesaikan masalah krisis ekologi
Pendidikan lingkungan menjadi pembelajaran yang penting di sekolah alam,
namun dalam kenyatanya pendidikan lingkungan yang diberikan di sekolah
alam masih belum diimbangi dengan pendidikan lingkungan yang diberikan
di keluarga, sebagai tempat pertama dan utama dalam membentuk pola
perilaku anak.
4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah dengan menumbuhkan kesadaran betapa
pentingnya lingkungan dari sejak dini, agar krisis ekologi tidak semakin
meluas. Disamping itu saran yang dapat diberikan untuk Sekolah Alam
Bogor dan School of Universe adalah dengan terus melakukan perbaikan
36
secara kuantitas dan kualitas dari sistem pembelajaran dan fasilitas yang telah
ada. Sehingga proses dari pendidikaan lingkungan yang bersifat holistik
dapat terwujud.
Peran serta semua pihak pun sangat diperlukan dalam merancang programprogram yang dapat meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan.
Melihat kondisi beberapa sekolah alam, yang memiliki prospek ke depan
yang bagus, maka dipelukan peran serta pemerintah dalam melegalisasi
sekolah alam yang awalnya masih banya menimbulkan kontroversi.
Perlu adanya pengembangan program- program pendidikan lingkungan lain
yang dilakukan sejak anak usia dini baik itu melalui jalur formal, non formal
maupun informal.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an
Abdillah, M. 2005. Fikih Lingkungan: Panduan Spiritual Hidup Berwawasan
Lingkungan.Yogyakarta: UMP AMP YKPN.
Adiwibowo, S. 2007. Etika Lingkungan. Modul Kuliah Ekologi Manusia.
Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, IPB, Bogor.
______________.2007. Paradigma, Etika, dan Perspektif Ekologi: Landasan
Filosofis Ekologi Manusia. Modul Kuliah Ekologi Manusia. Departemen
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,
IPB, Bogor
Alim,
Yusmin.
2006.
Lingkungan
dan
Kadar
Iman
Kita.
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=33
16&Itemid=60
Campbell, Neil, Reece, dan Mitchell.1983. Biologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Depdikbud.1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Balai Pustaka.
Dharmawan, A. H. 2007. Konsep-konsep Dasar dan Isyu-Isyu Kritikal Ekologi
Manusia. Modul Kuliah Ekologi Manusia. Departemen Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor.
Djajadiningrat, S. T. 2001. Pemikiran, Tantangan dan Permasalahan Lingkungan.
Bandung: Studio Tekno Ekonomi ITB.
Kementrian Lingkungan Hidup.1982. Undang-Undang R.I Nomor 4 Tahun 1982
_________________________.2007. Pendidikan Lingkungan Hidup.
Komunitas Sekolah Alam. 2005. Menemukan Sekolah yang Membebaskan.
Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.
37
Mitchell, Bruce dkk. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Notohadiprawiro, Tejuwono.1992. Pengelolaan Lingkungan untuk Kelanjutan
Kegunaan Sumberdaya Alam. Prosiding Makalah Seminar Nasional “Arah
dan Kebijakan Pembangunan yang Berkelanjutan dalam Upaya
Optimalisasi Sumberdaya untuk Pembangunan Jangka Panjang Tahap II,
Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.
Notohadiprawiro, Tejuwono.1996. Pendayagunaan Pengelolaan Tanah untuk
Proteksi Lingkungan. Prosiding Makalah Seminar “Inovasi Teknologi
Lingkungan Menyongsong Era Globalisasi”, Sekolah Tinggi Teknik
Lingkugan, Yogyakarta.
Notohadiprawiro,
Tejuwono.2006.
Pendidikan
Lingkungan.
http://www.soil.faperta.ugm.ac.id/tj/19XX/19xx%20PENDIDIKAN.pdf
Soemarwoto, Otto.1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta:
Penerbit Djambatan.
Supriatin, dkk.2007. Kumpulan Tulisan Konservasi dan Pendidikan Lingkungan
Hidup. Bogor: Biodiversity Corservation Indonesia (BCI).
Tim Penyusun. 2001.Ensiklopedi Islam untuk Pelajar. Jilid 3.Jakarta : PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve.
BIODATA PENULIS
I.
Nama Lengkap
: Hidayat Syarifuddin
Tempat/ Tanggal Lahir : Batang, 3 Oktober 1986
Penghargaan Ilmiah
:
a. Finalis Lomba Debat Bahasa Arab PIMNAS XIX Malang 2006
b. Peringkat ke-6 LKTM tingkat IPB bidang IPS 2007
c. Finalis MKTQ MTQ Tingkat IPB 2007
d. Penyaji tingkat Nasional Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penulisan
Ilmiah PIMNAS XX UNILA 2007
e. Finalis KKTM tingkat IPB bidang Pendidikan 2008
f. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian
Masyarakat DIKTI Depdiknas 2008.
g. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian DIKTI
Depdiknas 2008.
h. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Teknologi DIKTI
Depdiknas 2008.
38
i. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penulisan Ilmiah
DIKTI Depdiknas 2008.
j. Student Paper Presenter International Conference “Agricultural for Better
Future” IISB 2008, Bogor Agricultural University 2008.
Karya Ilmiah
:
a. Touching and Affection: Memberikan Pengetahuan tentang Pentingnya
Kasih Sayang bagi Perkembangan Optimal Anak di Panti Asuhan di Kota
Bogor.
b. Studi Preferensi dan Aktivitas Anak Usia Sekolah dalam Permainan
Tradisional berdasarkan Perbedaan Gender dan Sosio Demografis
Keluarga.
c. Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Arab Berbantuan Komputer:
Upaya Peningkatan Kualitas Pengajaran Bahasa Arab di SMA/MA.
d. Pendidikan Konsumen bagi Anak Sekolah Dasar dan Pembinaan Pedagang
Makanan Jajanan Lingkungan Sekolah : Aspek Keamanan Pangan.
e. Analisis Perilaku Konsumen dalam Keputusan Pemilihan Minor dan
Supporting Courses (Kurikulum Mayor Minor) : Studi Kasus Mahasiswa
S1 Institut Pertanian Bogor Angkatan 2005 .
f. Penanggulangan Kemiskinan melalui Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
(Corporate Social Responsibility)
g. Faktor Nature atau Nurture pada Kehidupan Homoseksualitas : Tinjauan
Penyebab dan Pencegahan
h. Ussusu Ta’allumillughoh al Arabiyah ‘inda tholabah al Ma’had al ‘Asri al
Islami Assalaam
i. Pengelolaan Sampah Terpadu di Lingkungan Keluarga dan Sekolah
sebagai Upaya Pengenalan Pola Hidup Ramah Lingkungan Sejak
Dini.Bahaya Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja.
j. Cara Pembuatan Nasi Jagung sebagai Makanan Alternatif Pengganti
Beras.
k. Optimalisasi Kemandirian Siswa Melalui KBK.
l. Preparing Agricultural People Toward Creative Economy Era for Better
Life in The Future.
39
II. Nama Lengkap
: Esti Rohimah
Tempat/ Tanggal Lahir
: Lamongan, 23 Juli 1986
Penghargaan Ilmiah
:
a. Finalis MKTQ MTQ Tingkat IPB 2007
b. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian
Masyarakat DIKTI Depdiknas 2007.
c. Penerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian DIKTI
Depdiknas 2008.
Karya Ilmiah
:
a. Ijtihad Kolektif, Siapa Takut?
b. Demografi Bonus : Celah Sempit Indonesia untuk Bangkit Kembali
c. Revitalisasi Khazanah Budaya Melalui Cerita Bergambar bagi Anak Usia
Prasekolah
d. Sereal Bekatul sebagai Alternatif Added Valeu Residu Penggilingan Padi
e. Integrasi Pemberian Stimulasi Psikososial Pada Posyandu Sebagai
Alternatif Pola Pelayanan Kesejahteraan Anak
f. Hubungan Desain Dapur dengan Efisiensi Produktivitas Ibu Bekerja dalam
Penyediaan Makanan Keluarga
40
Download