Hidup Sejahtera Dibawah Naungan Khilafah

advertisement
Hidup Sejahtera Dibawah Naungan Khilafah
Selama tiga belas abad, kaum Muslim menikmati kemakmuran yang tak tertandingi melalui
penerapan aturan-aturan Islam. Kemakmuran ini tidak hanya terbatas pada kemajuan di bidang
ilmu pengetahuan dan obat-obatan, seperti yang kita sering dengar, melainkan juga pada semua
aspek kehidupan termasuk kesejahteraan sosial, kesehatan dan pendidikan. Bahkan selama masa
lemahnya Daulah Islam, tercapainya kesejahteraan warganya, baik Muslim maupun non-Muslim,
adalah merupakan salah satu fungsi utama negara.
Hal ini tidaklah suatu hal yang mengherankan karena Allah SWT berfirman:
َ‫س ْلنَاكَ إِ اَّل َرحْ َمةً ل ِْلعَالَمِ ين‬
َ ‫َو َما أ َ ْر‬
“”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
(QS. al-Anbiya (21) : 107)
Dan Allah SWT juga berfirman:
‫ض ُّل َو ََّل يَ ْشقَى‬
ِ َ‫اي فَ ََل ي‬
َ َ‫فَ َم ِن اتابَ َع ُهد‬
ً
ْ
َ
ْ
ُ ‫ض ْن ًكا َونَ ْح‬
‫ا‬
َ
ُ
‫ش ُرهُ َي ْو َم ْال ِق َيا َم ِة أ َ ْع َمى‬
‫ة‬
‫ش‬
‫ِي‬
‫ع‬
‫م‬
‫ه‬
‫ل‬
‫ن‬
‫إ‬
‫ف‬
‫ي‬
‫ر‬
‫ك‬
‫ذ‬
‫ن‬
‫ع‬
َ
ِ
َ
َ ‫ض‬
َ ‫َو َم ْن أَع َْر‬
ِ
َ
ِ
“Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian
yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha (20) : 123-124)
Pada artikel ini, kami akan memberikan beberapa contoh bagaimana masyarakat hidup di bawah
kekuasaan Islam sepanjang sejarah Islam. Insya Allah, hal ini akan membantu kita untuk dapat
menghargai dan lebih memahami kenyataan hidup di bawah kekuasaan Islam.
Pemeliharaan Kesehatan
Dalam Islam, kesehatan individu sangat dihargai, dan hal ini dianggap sebagai salah satu
kebutuhan dasar manusia, bersama dengan makanan dan keamanan. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa pun yang dalam satu harinya bebas dari penyakit, aman dari gangguan orang lain, dan
memiliki makanan pada hari itu, maka hal itu adalah seperti memiliki Dunia seisinya” [HR AlTirmidzi dan Ibnu Majah]
Akibatnya, dalam Islam, memberikan kesehatan gratis dan pemeliharaan kesehatan yang layak
adalah merupakan tanggung jawab Daulah Islam terhadap semua warganya - baik mereka kaya,
miskin, Muslim maupun non-Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
“Imam (Khalifah) adalah seperti seorang Penggembala dan dia bertanggung jawab atas
masyarakatnya” [Al-Bukhari]
Memberikan kesehatan gratis kepada masyarakat adalah suatu hal yang dicontohkan oleh
Rasulullah SAW di Madinah. Ibnu Ishaq melaporkan dalam buku Sirah nya bahwa sebuah kemah
yang dibangun di masjid dan diberi nama seorang yang bernama Rofaydah dari suku Aslam
digunakan untuk memberikan diagnosis dan pengobatan untuk orang-orang secara gratis untuk
orang-orang kaya maupun miskin. Ketika Ibnu Saad Muadh (ra) terkena panah selama
Pertempuran Parit, Rasulullah SAW mengatakan kepada para sahabat untuk membawanya ke
kemah Rofaydah. Rofaydah dibayarkan oleh Negara melalui saham dari rampasan perang
sebagaimana yang disebutkan Alwaqidi dalam bukunya yang berjudul Almaghazi.
Memberikan layanan kesehatan kepada warga Negara terus berlanjut sepanjang sejarah Islam dan
kaum kafir sendiri yang menjadi saksi atas hal ini. Sebagai contoh, Gomar, salah seorang
pemimpin dalam masa Napoleon selama perang yang dilancarkan Perancis (1798-1801) untuk
menduduki Mesir, menggambarkan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan berusia 600
tahun yang ia lihat, “semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin
dan kaum kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah timur, dan
mereka juga mendapat bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan
instrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien.. Mereka yang memiliki
gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat secara terpisah. Mereka kemudian dihibur
dengan cerita-cerita dari orang-orang yang telah sembuh (baik secara fisik maupun kejiwaan) dan
akan dirawat di bagian rehabilitasi.. Ketika mereka selesai dirawat, setiap pasien akan diberikan
lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tidak perlu bekerja segera setelah ia
meninggalkan rumah saikit “.
Seorang orientalis Prancis, Prisse D’Avennes, menggambarkan rumah sakit yang sama dengan
mengatakan, “kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar yang terpasang
dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum yang dihangatkan.
Lantai-lantai kamar pasien itu ditutupi oleh cabang-cabang (Hinna) pohon delima atau pohon
aromatik lainnya “.
Kesejahteraan
Kesejahteraan masyarakat ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah dalam
kitab Sahih Muslim yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa pun yang meninggalkan uang, maka uang itu bagi orang yang mewarisi, dan siapa pun
yang meninggalkan anak yang lemah maka dia adalah untuk kita” [Muslim]
Dalam hal ini, Negara bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan,
tempat tinggal, dan pakaian bagi mereka yang tidak mampu karena alasan apa pun. Kesejahteraan
rakyat di bawah kekuasaan Islam adalah hasil dari penerapan hukum Allah SWT. Pemahaman
bahwa Khilafah dan Negara memiliki tanggung jawab terhadap rakyat adalah berdasarkan apa
yang dilakukan oleh Abu Bakar (ra), sebagai Khalifah saat itu, yang melayani seorang perempuan
yang jompo dan buta yang tinggal di pinggiran Madinah. Umar Ibnu Alkhattab (ra) ingin juga
merawatnya, tapi menemukan bahwa Abu Bakar (ra) telah memasak makanan, membersihkan
rumah dan mencuci pakaiannya untuknya. Ini adalah pemahaman dan rasa tanggung jawab yang
sama yang membuat Umar (ra), yang ketika itu adalah Khalifah, untuk kembali ke Baitul Mal
dengan memikul sendiri karung gandum makanan untuk kembali menuju rumah seorang
perempuan dan anak-anaknya yang tinggal di luar Madinah dan lalu memasak makanan untuk
mereka. Dia (ra) menolak tawaran para pembantunya untuk membawakan karung itu dengan
mengatakan, “akan Anda memikul dosa-dosa saya dan tanggung jawab atas saya pada Hari
Perhitungan?”
Perawatan kesehatan juga berlaku untuk anak-anak. Selama masa pemetintahan Khalifah Umar,
ada kebijakan untuk memberikan upah setiap kali seorang anak selesai masa menyusui. Namun,
suatu hari Umar (ra) mendengar seorang bayi menangis kemudian dia meminta kepada ibu anak
itu untuk “Bertakwalah kepada Allah SWT atas bayi Anda dan rawatlah dia”. Kemudian ibu itu
menjelaskan bahwa dia berhenti menyusui anaknya lebih awal agar dia bisa menerima upah dari
Negara. Keesokan harinya, setelah fajar, Umar merevisi kebijakan itu dengan membayar upah
pada saat kelahiran. Umar (ra) takut Allah SWT akan meminta pertanggung jawabannya dan dia
berkata sambil menangis “bahkan atas bayi-bayi ya Umar!” - yang berarti bahwa ia akan diminta
pertanggungjawabkan karena tindakannya merugikan anak-anak.
Hewan-hewan juga dilindungi oleh Sang Khalifah. Ibn Rusyd Alqurtobi meriwayatkan dari Malik
bahwa Umar (ra) melewati seekor keledai yang dibebani dengan tumpukan batu. Menyadari
bahwa hewan itu terlihat menderita maka dia mengeluarkan dua tumpukan batu yang diambil dari
bagian belakang. Pemilik keledai itu, seorang wanita tua, datang kepada Umar dan berkata,
“Wahai Umar, apa yang kau lakukan dengan keledaiku? Apakah kamu memiliki hak untuk
melakukan apa yang Engkau lakukan?” Umar mengatakan “Apa yang menurutmu yang
membuatku mau mengisi jabatan ini (Khalifah)?” Yang dimaksudkan oleh Umar (ra) adalah
bahwa mengambil tanggung jawab sebagai Khalifah, Umar (ra) bertanggung jawab atas semua
hukum Islam, yang meliputi pula tindakan yang disebutkan oleh hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud, berdasarkan riwayat Abu Hurayrah (ra): “Berhati-hatilah untuk
tidak membebani bagian belakang hewan, karena dengannya Allah SWT telah membuat mereka
bisa membawamu ke tempat-tempat yang sulit bagimu untuk mencapainya, dan menciptakan
bumi sehingga kamu dapat memenuhi kebutuhanmu di atas muka bumi. ” Artinya, kita harus
mengasihi binatang dan tidak membebani mereka.
Pola-pola penyediaan bagi orang-orang dan perawatan dengan baik dan seluruh bagi mereka
berlanjut terus pada masa Khilafah sampai saat kehancurannya pada tahun 1924. Ibnu Aljawzi
melaporkan dalam bukunya mengenai masa hidup Umar Ibn Abdulaziz bahwa Umar bertanya
kepada para gubernurnya di seluruh negeri untuk menghitung jumlah semua orang-orang buta,
orang-orang berpenyakit kronis, dan orang-orang cacat. Dia kemudian memberikan seorang
pemandu bagi setiap orang buta dan dua orang pembantu bagi setiap orang berpenyakit kronis
atau orang cacat di seluruh negeri Islam yang membentang dari China di timur hingga ke Maroko
di barat, dan Rusia di utara hingga ke Samudra Hindia di selatan. Ibnu Aljawzi juga
meriwayatkan bahwa Umar meminta para gubernur itu untuk membawa kepadanya orang-orang
miskin dan tidak mampu. Begitu mereka datang, beliau menutupi semua kebutuhan mereka yang
diambil dari Baitul-Mal. Dia kemudian bertanya siapa diantara mereka yang punya hutang dan
tidak mampu membayarnya. Dia kemudian membayarkan hutang-hutang mereka secara penuh
dengan dana yang diambil dari Baitul-Mal. Lalu dia bertanya siapakah yang ingin menikah tetapi
tidak mampu, dan dia lalu membayar biaya untuk pernikahan mereka. Kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat di bawah kekuasaan Islam adalah sedemikian baiknya selama masa
pemerintahan Khilafah Umar Ibnu Abdulaziz, sehingga negara tidak dapat menemukan orangorang miskin yang berhak untuk mendapatkan zakat.
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Alwalid Ibnu Abdulmalik Negara
membangun dan merawat mesjid-mesjid, membangun jalan, memenuhi kebutuhan rakyat,
memberi uang untuk orang-orang cacat dan orang-orang sakit, dan memerintahkan mereka untuk
tidak mengemis melainkan meminta kepada Negara jika mereka tidak memiliki sesuatu yang
mencukupi mereka. Dia adalah seorang khalifah pertama yang membangun dan melembagakan
Bimaristans (rumah sakit). Dia menugaskan seorang pembantu bagi setiap orang cacat, seorang
pemandu bagi setiap orang buta, memberikan gaji bagi para imam masjid, dan membangun
“pemondokan ” bagi para pendatang dari luar dan pelancong dimanapun pada Daulah Islam
tersebut.
Selama masa Ummayah dan Khilafah Abbasiyah, rute para pelancong dari Irak dan negeri-negeri
Sham (sekarang Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina) ke Hijaz (kawasan Mekah) telah
dibangun dengan dilengkapi “pondokan” di sepanjang rute yang dilengkapi dengan persediaan
air, makanan dan tempat tinggal sehari-hari untuk mempermudah perjalanan bagi mereka. Sisasisa fasilitas ini dapat dilihat pada hari ini di negeri-negeri Sham. Catatan mengenai waqaf untuk
beberapa rumah sakit di negeri-negeri Sham membuktikan hal ini. Sebagai contoh, adanya catatan
tentang waqaf rumah sakit Alnnoori di Allipo (Suriah) yang menyebutkan bahwa bagi setiap
orang sakit mental ditugaskan dua orang pembantu yang bertanggung jawab yang
memandikannya sehari-hari, menggantikan dengan baju yang bersih, dan membantunya
melakukan sholat (jika mereka dapat melakukannya) dan mendengarkan Al-Quran, dan
menemaninya berjalan / berada di udara terbuka untuk bersantai.
Khilafah Usmani melakukan kewajiban ini juga. Hal ini terlihat dalam melayani masyarakat
dengan membangun jalan kereta Istanbul-Madina yang dikenal dengan nama “Hijaz” pada masa
Sultan Abdulhameed II untuk memudahkan perjalanan para peziarah ke Mekah serta untuk
meningkatkan integrasi ekonomi dan politik di daerah Arab yang jauh. Sementara kaum Muslim
bergegas untuk menyumbang dan menjadi relawan untuk membangun jalur kereta api itu,
Khilafah Usmani menawarkan jasa transportasi kepada orang-orang secara gratis.
Ini hanya sebuah gambaran mengenai bagaimana kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan
Islam dulu pada masa Khilafah. Semoga Allah SWT membantu kita semua bekerja untuk
mewujudkannya dan membuat kita bisa menyaksikannya dan menikmati keberadaannya lagi.
Amin.(RZ Aulia; www.khilafah.com)
Download