PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR SEKUNDER

advertisement
PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR SEKUNDER :
PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
TESIS
Diajukan Guna Memenuhi
Salah satu Syarat Memperoleh
Gelar Magister Dalam Ilmu Agama Islam
Oleh :
Hasbulloh
NIM: 08.2.00.1.08.01.0011
Pembimbing :
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM
SEKOLAH PASCASARJANA
KONSENTRASI EKONOMI ISLAM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2011
PENGESAHAN PEMBIMBING
Tesis saudara HASBULLOH (NIM. 08.2.00.1.08.01.0011) yang
berjudul “PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR SEKUNDER:
PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM”, telah selesai dalam proses
bimbingan dan diujikan dalam Work In Progress sehingga dapat
dimajukan dalam Ujian Pendahuluan Tesis.
Pembimbing
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM
ii
PENGESAHAN PENGUJI
Tesis dengan judul “PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR
SEKUNDER : PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM” yang ditulis
oleh HASBULLOH (NIM. 08.2.00.1.08.01.0011), telah diujikan
dalam Ujian Promosi dan diperbaiki sesuai masukan-masukan
pada Ujian Promosi Tesis pada tanggal 23 Agustus 2011, maka
Tesis ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Magister Agama pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Tim Penguji
Penguji I
Penguji II/Pembimbing
Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
Tanggal :
Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM
Tanggal :
Penguji III
Penguji IV
Dr. Euis Amalia, M.Ag
Tanggal :
Dr. Yusuf Rahman, MA
Tanggal :
iii
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
NIM
Konsentrasi
Alamat
: Hasbulloh
: 08.2.00.1.08.01.0011
: Ekonomi Islam
: Jl. Durian Raya No.219 Bantarkemang
Kota Bogor – Jawa Barat
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul
“PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR SEKUNDER:
PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM” adalah benar karya asli saya.
Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, maka hal
itu sepenuhnya tanggungjawab saya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Jakarta, Agustus 2011
Yang membuat pernyataan
Hasbulloh
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ini. mudahmudahan keberkahan selalu menghiasi setiap langkah kita
dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Shalawat dan salam kita limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang merupakan tauladan bagi seluruh
ummatnya.
Karya sederhana ini, penulis persembahkan kepada
segenap pembaca sebagai bagian dari kajian yang selama
ini penulis tekuni, terutama dalam bidang investasi dalam
perspektif Islam.
Penulis menyadari, karya ini masih jauh dari
kesempurnaan bahkan mungkin tidak terwujud tanpa
bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada Pengelola Pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah diantaranya, Prof. Dr. Azyumardi
Azra, MA., Dr. Fuad Jabali, MA., Prof. Dr. Suwito, MA.
Prof. Dr. Amani Lubis, MA., Dr. Yusuf Rahman, MA dan
tentunya kepada Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM yang telah
bersedia menyempatkan diri untuk membimbing penulis
disela-sela kesibukannya di berbagai tempat dan di
berbagai kesempatan. Selanjutnya, penulis berterima kasih
kepada Dr. Euis Amalia, M.Ag dan Dr. Hasanudin, M.Ag
selaku penguji tesis serta kepada Dr. Euis Nurlailawati
selaku verifikator yang telah memberikan masukan secara
langsung untuk perbaikan tesis ini. Tidak lupa penulis
sampaikan terima kasih kepada para Pakar dan Guru Besar
di Bidang Ekonomi Islam yang memberikan pengajaran
kepada penulis selama menempuh pendidikan di UIN
Syarif Hidayatullah, diantaranya Prof. Dr. H. Fathurrahman
Djamil, MA, Prof. Dr. Kusmawan, Prof. DR. Abdul Hamid,
MS., Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, Dr. Abbas Ghozali,
Dr. Surahman Hidayat, MA.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada
teman sejawat yaitu mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN
v
Syarif Hidayatullah yang selalu saling mengingatkan
tentang ketekunan belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.
Tak lupa penulis berterima kasih kepada Ibunda tercinta Hj
Muhibah yang selalu mendoakan penulis agar mampu
mengarungi berbagai tahapan kehidupan yang penulis
alami, nasihat dan doa selalu penulis harapkan serta
permohonan maaf atas segala kesalahan yang selama ini
penulis sering lakukan. Kemudian ucapan terima kasih
kepada Keluarga Besar Yayasan Al-Ghazaliyah, Begitu
pula terima kasih kepada Keluarga Besar Daarul Uluum,
yaitu KH. Abdul Razak, KH. Aep Saepudin dan Kyai Drs.
Nasrudin Latif selaku Dewan Pengasuh Pesantren Modern
Daarul Uluum Bogor yang selalu memberikan nasihat
selama penulis menempuh pendidikan di pesantren sampai
saat ini.
Penulis juga berterima kasih kepada Iqbal Harahap,
S.Ag selaku Direktur Kampus 1 Pesantren Daarul Uluum
yang memberikan izin untuk tidak menjalankan tugas di
pesantren, digunakan untuk menyelesaikan studi di SPS
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kemudian Penulis berterima kasih kepada semua
rekan-rekan diskusi dalam berbagai bidang dan penulis
merupakan bagian dari lembaga-lembaga tersebut,
diantaranya kepada Temmy Haswandinata, SE selaku
Direktur PUSPERAL (Pusat Studi Pengembangan
Ekonomi Regional), Abdul Fatah selaku Direktur LEKAT
(Lembaga Kajian Masyarakat), Eddy Prayitno selaku
Direktur ICDW (Indonesian Center for Deradicalization
and Wisdom).
Pada akhir pengantar ini, penulis mohon dengan
sangat kepada para pembaca untuk menyampaikan
masukan baik dalam bentuk kritik maupun respon yang
konstruktif untuk penyempurnaan buku ini di kemudian
hari. Harapan penulis, semoga penulis dapat berkontribusi
melalui buku ini, bagi pengembangan ekonomi Islam.
Jakarta, Agustus 2011
Hasbulloh
vi
ABSTRAK
Fokus utama kajian ini adalah membuktikan bahwa
Perdagangan Saham syariah di Pasar Sekunder dalam Pasar Modal
tidak bertentangan dengan prinsip ekonomi Islam.
Kajian ini membantah pendapat Taqyuddin al-Nabhani
dalam kitab al-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m dan Yusuf alSabatin Yang menyatakan transaksi saham dianggap batal secara
hukum, karena yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para
investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham
di pasar modal tanpa ada perundingan atau negosiasi apapun baik
dengan perusahaan. Juga mengkritisi pendapat Nasrun Haroen
dalam buku Perdagangan saham di Bursa Efek : Tinjauan Hukum
Islam menyatakan jika ditinjau dari hukum Islam, penawaran
saham di Pasar Sekunder memeliki beberapa unsur yang tidak
sejalan bahkan bertentangan dengan prinsip dan nilai bermuamalah
dalam Islam.
Kesimpulan kajian ini mendukung pendapat Mahmud
Syaltut dalam kitab al-fatawa yang menyatakan bahwa jual beli
sekuritas itu diperbolehkan dalam Islam. Diperkuat oleh pendapat
Zamir Iqbal, yang menyatakan bahwa dengan adanya perdagangan
saham di pasar modal, tidak hanya bermanfaat bagi investor,
namun juga akan lebih meningkatan stabilitas Lembaga Keuangan
Islam. Hal itu diperkuat pula oleh pendapat Mohammed
Obaedullah yang menyatakan sejauh menyangkut pasar sekunder
diperbolehkan selama tidak adanya penyimpangan yang signifikan
dalam hal harga, nilai intrinsik dan terjaminnya efisiensi alokasi.
Dengan kata lain yaitu terpenuhinya norma dan etika ekonomi
Islam.
Sumber utama tesis ini adalah mekanisme perdagangan
saham syariah di pasar sekunder dan pendapat para ulama serta
pakar ekonomi syariah berkaitan dengan perdagangan saham. Data
itu dibaca dengan menganalisis melalui pandangan ulama, fatwa
dan peraturan-peraturan perdagangan tentang saham serta
pandangan para ekonom muslim tentang prinsip-prinsip dalam
ekonomi Islam.
Kata kunci: Investasi, Saham, pasar perdana, pasar sekunder.
vii
ABSTRACT
This study proves that shari’a-based stock trading in the secondary
market has not been in contradiction with the principal of Islamic
economics.
This thesis argues against views from Taqyuddin al-Nabhani – in
work al-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m –, Yusuf al-Sabatin,
and Nasroen Harun. Both Nabhani and Sabatin consider stock
transaction as legally void, because it consists of a unilateral
transaction of investors – by buying stocks in capital markets –
without any agreement or negotiation with the targeted companies.
Furthermore, Nasrun Haroen, in his book Perdagangan Saham di
Bursa Efek: Tinjauan Hukum Islam, states that according to Islamic
law, stocks offering in the secondary market consist of factors that
are incompatible and in conflict with Islamic values, especially in
mu’amala sphere.
On the other hand, this thesis argues for Mahmud Shaltut’s view in
his work al-Fatawa. Shaltut proposes that Islam allows securities
trading. This argument is strengthened by Zamir Iqbal’s point of
view, saying that the stock trading in capital markets will result in
benefits not only for investors, but also for the increasing of Islamic
finance institutions’ stability. In addition, Mohamed Obaedullah
states that the secondary market is allowable as long as it avoids
significant distortions in terms of prices, intrinsic values and
allocation efficiency. In other words, it guarantees the fulfillment
of norms and ethics of Islamic economics.
This research employs primary sources from observations on the
shari’a-based stock market mechanism in secondary markets and
the views of ulama and experts in Shari’a economics about the
stock trading. The data is analyzed through ulama’s point of views,
fatwas and rules related to stock trading, and Muslim economists’
attitudes toward stock trading principals in Islamic economics.
Keywords: Investation, stock, primary market, secondary market.
‫انخالصت‬
viii
‫تذ ّل انزسانت عهٗ أٌ تجارة األسٓى ف‪ ٙ‬األ سٔاق انثإَ‪ٚ‬ت –ْٔ‪ ٙ‬يٍ األسٕاق انًان‪ٛ‬ت‬
‫اإلسالي‪ٛ‬ت‪ -‬ال تخانف قٕاَ‪ ٍٛ‬االقتصاد اإلسالي‪ .ٙ‬بٓذا تخانف انزسانت رأ٘ كم يٍ تق‪ٙ‬‬
‫انذ‪ ٍٚ‬انُبٓاَ‪ ٙ‬ف‪ ٙ‬كتابّ انُظاو االقتصاد٘ ف‪ ٙ‬اإلسالو ٔ ‪ٕٚ‬سف انسبت‪ ٍٛ‬انقائم ّ‬
‫بأٌ تجارة‬
‫األسٓى ال تصخ دكًا الَفزاد انصفقت ف‪ٓٛ‬ا عهٗ انًستثًز‪ ٍٚ‬انذ‪ٚ ٍٚ‬شًهٌٕ أيٕانٓى بشزاء‬
‫األسٓى ف‪ ٙ‬األسٕاق انًان‪ٛ‬ت دٌَٔ أ٘ تفأض أٔ يشأرة يع رجال انشزكت‪ .‬أ‪ٚ‬ضا تقٕو‬
‫انزسانت بُقذ رأ٘ ‪ Nasrun Haroen‬ف‪ ٙ‬كتابّ‪Perdagangan Saham di Bursa :‬‬
‫‪ Efek: Tinjauan Hukum Islam‬انقائم بأٌ عزض األسٓى ف‪ ٙ‬األسٕاق انثإَ‪ٚ‬ت ف‪ٙ‬‬
‫َظزة دكى اإلسالو نّ عُاصز تخانف انق‪ٛ‬ى اإلسالي‪ٛ‬ت ف‪ ٙ‬انًعايالث‬
‫ٔتقٕو انزسانت بتأ‪ٛٚ‬ذ أراء انعهًاء يُٓى يذًٕد شهتٕث ف‪ ٙ‬انفتأ٘ انقائم بأٌ تجارة‬
‫األسٓى يباح ف‪ ٙ‬اإلسالو ٔ‪ Zamir Iqbal‬انقائم بأٌ ٔجٕد تجارة االسٓى ف‪ ٙ‬األسٕاق‬
‫انًان‪ٛ‬ت يف‪ٛ‬ذ نهًستثًز‪ ٔ ٍٚ‬نتزق‪ٛ‬ت استقزاراث انًؤسساث انًان‪ٛ‬ت اإلسالي‪ٛ‬ت ٔيذًذ عب‪ٛ‬ذ‬
‫هللا انقائم بأٌ األسٕاق انثإَ‪ٚ‬ت يباح يع يزاعاة انق‪ٛ‬ى انذات‪ٛ‬ت ٔ فعّان‪ٛ‬ت انقسًت ٔعذو ٔجٕد‬
‫االَذزافاث ف‪ ٙ‬األسعار أٔ باختصار يزاعاة قٕاَ‪ٔ ٍٛ‬أخالق‪ٛ‬ت االقتصاد ف‪ ٙ‬اإلسالو‪.‬‬
‫ٔانًصادر األساس‪ٛ‬ت نٓذِ انزسانت تكٌٕ يٍ انب‪ٛ‬اَاث عٍ عًه‪ٛ‬ت تجارة األسٓى انشزع‪ٛ‬ت‬
‫ف‪ ٙ‬األسٕاق انثإَ‪ٚ‬ت ٔ أراء انعهًاء عُٓا ٔأراء انًتخصص‪ ٍٛ‬ف‪ ٙ‬عهى االقتصاد اإلسالي‪ٙ‬‬
‫عٍ تجارة األسٓى‪ٔ .‬تى تذه‪ٛ‬م انب‪ٛ‬اَاث بطز‪ٚ‬قت انًقارَت يع أراء انعهًاء ٔانفتأٖ ٔقإٌَ‬
‫تجارة األسٓى ٔأراء انًتخ ّ‬
‫صص‪ ٍٛ‬عٍ قٕاعذ االقتصاد اإلسالي‪ٙ‬‬
‫انكهًاث انزئ‪ٛ‬س‪ٛ‬ت ‪ :‬االستثًار ٔاألسٓى ٔاألسٕاق األٔن‪ٛ‬ت ٔاألسٕاق انثإَ‪ٚ‬ت‪.‬‬
‫‪ix‬‬
PEDOMAN TRANSLITERASI
b
=
‫ب‬
z
=
‫ز‬
f
=
‫ف‬
t
=
‫ت‬
s
=
‫س‬
q
=
‫ق‬
th
=
‫ث‬
sh
=
‫ش‬
k
=
‫ك‬
j
=
‫ج‬
s{
=
‫ص‬
l
=
‫ل‬
h{
=
‫ح‬
d{
=
‫ض‬
m
=
‫م‬
kh
=
‫خ‬
t{
=
‫ط‬
n
=
‫ن‬
d
=
‫د‬
z{
=
‫ظ‬
h
=
‫ه‬
dh
=
‫ذ‬
‘
=
‫ع‬
w
=
‫و‬
r
=
‫ر‬
gh
=
‫غ‬
y
=
‫ي‬
Short: a = ´ ; i = ِ ;
u= ُ
Long: a< = ‫ ; ا‬i> = ‫; ي‬
ū=‫و‬
Diphthong: ay = ‫ ; ا ي‬aw = ‫ا و‬
x
DAFTAR ISI
JUDUL .............................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME .....................................
KATA PENGANTAR ....................................................................
ABSTRAK ......................................................................................
PEDOMAN TRANSLITERASI .....................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................
i
ii
iv
v
vii
x
xi
BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................. 1
B. Permasalahan ............................................................... 7
1. Perumusan Masalah ............................................... 7
2. Pembatasan Masalah .............................................. 7
C. Tujuan Penelitian ........................................................ 7
D. Signifikansi Penelitian ................................................. 8
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ............................. 8
F. Metodologi Penelitian ................................................ 13
G. Sistematika Penulisan ................................................ 14
BAB II PERDAGANGAN SAHAM DALAM
PASAR MODAL SYARIAH .........................................
A. Pendapat yang Mengharamkan Perdagangan
Saham ..........................................................................
B. Pendapat yang Memperbolehkan Perdagangan
Saham .........................................................................
1. Argumentasi Dibolehkannya Perdagangan
Saham dalam Islam ..............................................
2. Konsep Perdagangan saham dalam Islam ............
15
15
17
21
24
BAB III HUKUM SYARIAH TERHADAP
PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR
SEKUNDER ................................................................. 32
A. Mekanisme Penawaran Saham di Bursa Efek ........... 32
B. Analisis Aspek Pengaturan Terkait Mekanisme
Perdagangan Efek Secara Syariah ............................... 55
x
C. Mekanisme Harga Saham dalam Pasar Modal
Syariah ....................................................................... 61
D. Pembagian Keuntungan Investasi Saham .................. 71
BAB IV PRINSIP EKONOMI ISLAM DALAM
PERDAGANGAN SAHAM DI PASAR
SEKUNDER ................................................................. 77
A. Kriteria Pemilihan Saham Syariah ............................. 77
B. Faktor-faktor Penentu Harga Saham ......................... 82
C. Prinsip-prinsip Perdagangan Saham Syariah ........... 115
D. Etika Pasar Saham .................................................... 130
E. Efisiensi dalam Pasar Saham ................................... 135
BAB V PENUTUP .................................................................... 139
A. Kesimpulan .............................................................. 139
B. Implikasi dan Saran-Saran ....................................... 140
DAFTAR PUSTAKA ................................................................
GLOSSARY ..............................................................................
INDEKS .....................................................................................
TENTANG PENULIS ...............................................................
xi
142
156
159
168
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Taqyuddin al-Nabhani dalam bukunya, al-Niz}a>m alIqtis{adi> fi al-Isla>m, mengungkapkan bahwa transaksi saham
dianggap batal secara hukum, karena yang ada hanyalah transaksi
sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan
cara membeli saham di pasar modal tanpa ada perundingan atau
negosiasi apapun dengan perusahaan.1
Pendapat tersebut juga dikuatkan oleh Ali al-Salus dalam
kitab Mausu>ah al-Qad}aya al-Fiqhiyah al-Mu'a>s{irah wa alIqtis{ad al-Islami>. Menyoroti bentuk badan usaha yang
sesungguhnya tidak Islami. Jadi sebelum melihat bidang usaha
perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu adalah bentuk
badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan
Islami atau tidak.2
Hal ini diperkuat oleh Yusuf al-Sabatin dalam bukunya alBuyu’ al-Qadi>mah wa al-Mu’a>shirah wa al-Burs}at alMa>li>yah wa al-Dawliyah, yang mengungkapkan bahwa dalam
masalah transaksi saham, tidak tepat menggunakan analisis
Maslahah Mursalah.3
Selanjutnya, Nasrun Haroen menyatakan jika ditinjau dari
hukum Islam, penawaran saham di pasar sekunder memiliki
beberapa unsur yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan
prinsip dan nilai muamalah Islam.4
Larangan dan batasan Islam pada bisnis-bisnis tertentu yang
bertentangan dengan syariah sampai tahun 1970 mengakibatkan
sejumlah besar masyarakat muslim tidak dapat terlibat dalam
investasi di pasar modal. Oleh karena itu, untuk memenuhi
1
Taqyuddin al-Nabhani, al-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m (Beirut:
Daar el-Ummah, 2004), 174.
2
Ali Ahmad As-Salus, Mausu>ah al-Qad}aya al-Fiqhiyah alMu'a>s{irah wa al-Iqtis}ad al-Islami> (Qatar : Daruts Tsaqafah, 2006), 465.
3
Yusuf al-Sabatin, al-Buyu’ al-Qadi>mah wa al-Mu’a>shirah wa alBurs}at al-Ma>li>yah wa al-Dawliyah (Beirut: Daar al-Bayariq, 2002), 53
4
Nasrun Haroen, Perdagangan Saham di Bursa Efek : Tinjauan
Hukum Islam (Kalimah, 2000).
1
kepentingan pemodal muslim yang mengharapkan kegiatan
investasinya berdasarkan kepada prinsip-prinsip syariah, maka di
sejumlah bursa efek dunia telah disusun indeks yang secara
khusus terdiri dari komponen saham-saham yang tergolong
kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip syariah. 5
Perkembangan ekonomi Islam yang ditandai dengan
pendirian lembaga-lembaga keuangan Islam mulai menunjukkan
bahwa prinsip-prinsip Islam mulai diterima di dunia.6 Setelah
mengalami perjalanan panjang, maka saat ini kita menyaksikan
sebuah wajah dunia baru bahwa Islam turut berperan aktif dan
tidak hanya dalam bentuk inspirasi prinsip-prinsip, namun juga
menunjukkan secara nyata dan praktis bagaimana prinsip ini
dijalankan.
Lembaga Keuangan Islam (Islamic Finance Institution) telah
melaju dengan pesat dan tidak mungkin ada orang yang mampu
menarik ke belakang lagi. Bank-bank Islam tampak cukup baik
kinerjanya sejauh ini sekalipun banyak mengalami kesulitankesulitan dan kejutan-kejutan internal maupun eksternal. Sejumlah
besar pengalaman telah diperoleh, konsep-konsep makin lebih
jelas, kemajuan yang baik juga mulai diperlihatkan pada
penggunaan metode-metode primer, penerimaan publik juga terus
meluas, dan deposito yang dimobilisasi dari kaum muslimin yang
bahkan menyukai bank-bank konvensional yang berbasis bunga
juga mulai meningkat. Namun, persoalan tetap ada tetapi tidak ada
alasan untuk percaya bahwa persoalan-persoalan ini tidak dapat
diawasi. Gerakan ini diharapkan akan terus memiliki momentum
di masa yang akan datang selama Islam tetap menjadi kekuatan di
dunia muslim.7
Apabila terus dicermati perkembangannya, sektor keuangan
syariah mengalami pertumbuhan yang cukup siginifikan. Salah
satu yang menjadi indikatornya adalah pertumbuhan lembagalembaga keuangan syariah yang menjadi alternatif bagi para
5
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar
Modal Syariah (Jakarta: Kencana, 2007), 45.
6
Salahudin Ahmed, Islamic Banking, Finance and Insurance (Kuala
Lumpur: A.S.Noordeen, 2006), 344.
7
M. Umer Chapra, The future of economics: an Islamic Perspective
(Jakarta : Gema Insani Pres, 2001), 258.
2
investor dan pelaku ekonomi yang menuntut institusi dan
instrumen keuangan Islam (Islamic financial instrumen) yang
memenuhi ketentuan dan prinsip syariah.
Salah satu lembaga keuangan yang cukup strategis dalam
lintas sistem keuangan saat ini adalah pasar modal yang
menawarkan berbagai instrumen keuangan. Karena pasar modal
merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian dunia
saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan
institusi pasar modal sebagai media untuk menyerap investasi dan
media untuk memperkuat posisi keuangannya.
Melalui pasar modal perusahaan dapat memperoleh dana
pinjaman maupun dana equity. Melalui pasar modal pula
perusahaan dapat meningkatkan dana pinjaman dengan menjual
obligasi atau sekuritas kredit. Sedangkan peningkatan dana equity
dapat ditempuh dengan menjual saham. Meskipun sudah tersedia
pasar modal yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan sebagai
wadah untuk menarik dana tetapi masih banyak perusahaan yang
belum memahami manfaat pasar modal.8
Kemunculan Dow Jones Islamic Market (DJIM) pasti
mempunyai dampak yang luar biasa pada investasi kekayaan
menurut Islam. DJIM pun mempunyai efek yang sesuai dengan
seluruh konsep keuangan yang berbasis syariah, dan standarisasi
itu telah mencapai sesuatu yang banyak dicari pada area keuangan
Islam yang lain. Dengan 35 Indeks Islam dan hampir 1,8 miliyar
dollar AS diatur berdasarkan syariah. Dow Jones Islamic Market
Index telah sukses dalam waktu yang relatif pendek.9
Di Indonesia, perkembangan instrumen syariah di pasar
modal sudah terjadi sejak tahun 1997. Diawali dengan lahirnya
reksadana syariah yang diprakarsai PT Danareksa Investment
Management. Selanjutnya, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) bersama
dengan PT Danareksa Investment Management (DIM)
meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) yang mencakup 30 jenis
saham dari emiten-emiten yang kegiatan usahanya memenuhi
ketentuan tentang hukum syariah. Penentuan kriteria dari
8
Kamarudin Ahmad, Dasar-dasar Manajemen Investasi dan Portofolio
(Rineka Cipta, 2004), 56.
9
Salahudin Ahmed, Islamic Banking Finance and Insurance a global
overview (Kuala Lumpur : A.S. Noordeen. Gombak, 2006), 398.
3
komponen JII tersebut disusun berdasarkan persetujuan dari
Dewan Pengawas Syariah.10
Secara teoritis pasar modal (capital market) didefinisikan
sebagai perdagangan instrumen keuangan (sekuritas) jangka
panjang, dalam bentuk modal sendiri (stock) maupun hutang
(bond), baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities)
maupun oleh perusahaan swasta (privat sector). Dengan demikian
pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit dari pasar
keuangan (financial market). Dalam financial market
diperdagangkan semua bentuk hutang dan modal sendiri baik dana
jangka panjang maupun jangka pendek, baik yang bersifat
negotiable maupun non negotiable.11
Konsep bursa saham yang sesuai dengan prinsip syariah
ialah dalam berbagi keuntungan dan kerugian, tetapi tidak semua
bisnis yang terdaftar dalam bursa saham sesuai dengan prinsip
syariah, hal ini merupakan tantangan dalam pengembangan pasar
modal syariah. 12
Kegiatan pasar modal bertujuan untuk mempercepat proses
perluasan partisipasi masyarakat dalam kepemilikan saham
perusahaan, pemerataan pendapatan masyarakat melalui perantara
pemilikan saham dan untuk lebih menggairahkan peran serta
masyarakat dalam mobilisasi dana agar digunakan secara
produktif.
Suatu perusahaan dalam membiayai operasionalnya dapat
memperoleh dana dari masyarakat melalui pasar modal. Dengan
cara ini perusahaan akan memperoleh dana yang relatif mudah.
Seringkali pasar modal merupakan alternatif pendanaan eksternal
dengan biaya yang lebih rendah daripada sistem perbankan. Pasar
modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas berupa
surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan
(saham).
10
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar
Modal Syariah (Jakarta : Kencana, 2007), 55.
11
Marzuki Usman, Pengetahuan Dasar Pasar Modal (Jakarta:
IBI,1997), 11.
12
Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor, An introduction to Islamic Finance.
(John Willey & Sons (Asia) pte.Ltd, 2007), 172.
4
Di pihak lain, investor bisa mendapatkan keuntungan melalui
penanaman modal dengan cara pembelian saham yang diterbitkan
oleh suatu perusahaan di pasar modal. Ada dua keuntungan yang
dapat diperoleh para investor yaitu capital gain dan pembagian
deviden. Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh melalui
selisih harga jual dengan harga beli. Sedangkan pembagian
deviden bergantung dari laba operasi perusahaan pada tahun
tertentu dan kebijakan dari perusahaan.
Perdagangan beberapa sekuritas, di pasar modal mempunyai
tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda. Saham merupakan
salah satu sekuritas di antara sekuritas-sekuritas lainnya yang
mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi tercermin dari
ketidakpastian return yang diterima oleh investor di masa yang
akan datang.
Hal ini sejalan dengan pengertian investasi menurut William
F. sharpe bahwa investasi merupakan komitmen dana dengan
jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak pasti di
masa depan.13 Return dan risiko pada berbagai sekuritas memiliki
hubungan yang positif. Semakin besar return yang diharapkan,
maka semakin besar risiko yang diperoleh. Begitu pula sebaliknya,
return dan risiko yang tinggi pada saham berhubungan dengan
kondisi karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro.
Penelitian dengan objek pasar modal syariah khususnya di
Indonesia belum banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti
sebelumnya. Padahal penelitian dengan objek pasar modal syariah
mengenai return dan risiko yang dipengaruhi oleh kinerja
keuangan perusahaan merupakan hal yang menarik untuk
dilakukan karena sifat yang melekat pada return dan risiko yang
selalu melekat pada setiap investasi, terutama investasi pada setiap
saham. Baik saham konvensional maupun saham pada pasar modal
syariah.
Beberapa kegiatan di pasar modal yang seringkali menjadi
bahan diskusi terkait isu aspek kesyariahan baik oleh akademisi
maupun pelaku pasar adalah pelaksanaan perdagangan Efek di
bursa. Perdagangan Efek di bursa pada umumnya dilakukan
melalui beberapa tahapan yaitu tahapan pembukaan rekening,
13
William F. Sharpe.dkk, Investment (New Jersey: Prentice hall, 1995),
1
5
tahap order, tahap pelaksanaan transaksi, tahap kliring dan
penjaminan serta penyelesaian.
Kajian ini sangat diperlukan sebagai suatu acuan bagi para
pembuat kebijakan untuk menyusun suatu pedoman perdagangan
pasar sekunder Efek Syariah di pasar modal. Pedoman tersebut
diperlukan mengingat sifat dan karakteristik pasar modal syariah
yang berbeda dibandingkan dengan pasar modal pada umumnya.
Sebagai contoh, perdagangan Efek Syariah di pasar modal wajib
dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan tidak diperbolehkan
melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung maysir
(perjudian), gharar (ketidakpastian), riba' (bunga), short selling
(penjualan atas Efek yang belum dimiliki), dan najash (penawaran
palsu).
Prinsip kehati-hatian diperlukan untuk memastikan bahwa
Efek tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah
di pasar modal baik pada saat penerbitannya, perdagangannya,
maupun pada saat pelepasan Efek tersebut. Adapun pada saat
penerbitannya, Para pemegang kebijakan dalam pengembangan
pasar modal telah mengambil langkah-langkah strategis dengan
mengeluarkan aturan terkait dengan penerbitan Efek Syariah,
akad-akad yang digunakan dan kriteria serta penerbitan Daftar
Efek Syariah. Sementara itu, pada saat perdagangan, Pengatur
kebijakan belum mempunyai pedoman khusus yang mengatur
mekanisme perdagangan yang sesuai syariah antara lain persyaratan
Efek Syariah dapat diperdagangkan di pasar sekunder, mekanisme
perdagangan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
syariah, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan seperti
bagaimanakah batasan dari spekulasi, short selling, dan
perdagangan marjin yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.
Kajian ini juga diperlukan sebagai sarana untuk memberikan
pemahaman bagi Pelaku pasar dan masyarakat yang seringkali
menuntut perlu adanya kejelasan dan penegasan terkait kesesuaian
syariah atas perdagangan Efek Syariah di pasar sekunder.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengkaji
secara argumentatif dengan judul Perdagangan Saham di Pasar
Sekunder: Perspektif Ekonomi Islam.
B.
Permasalahan
6
1.
Perumusan Masalah
a) Bagaimana pendapat para Ulama dan pakar ekonomi Islam
tentang perdagangan saham ?
b) Bagaimana kedudukan perdagangan saham syariah di pasar
sekunder dalam perspektif ekonomi Islam ?
c) Bagaimana konsep dan Impelementasi perdagangan saham
menurut prinsip ekonomi Islam?
2. Pembatasan Masalah
Pada sebuah penelitian keluasan suatu masalah beserta ruang
lingkup terkait objek yang diteliti adalah keniscayaan. Maka dari
itu sebuah penelitian mutlak memerlukan batasan masalah yang
akan diteliti. Selain bertujuan untuk menjadikan kajian lebih
terarah juga sebagai acuan pencarian data sehingga tepat sasaran,
valid dan objektif.
Mengenai objek penelitian ini merupakan hal yang harus
ada, untuk dapat memberikan penilaian secara kritis. Untuk itu
penelitian ini dibatasi pada perdagangan saham di pasar sekunder
perspektif ekonomi Islam.
Perdagangan saham di pasar sekunder dan bagaimana
ekonomi Islam memandang, merupakan fokus kajian dalam
penelitian ini. Sebagai bahan pertimbangan penelitian, maka
penelitian ini penulis batasi dalam beberapa hal sebagai berikut :
1. Aplikasi perdagangan saham di pasar sekunder dan
bagaimana pandangan ekonomi Islam.
2. Berkaitan dengan argumentasi perdagangan saham di pasar
sekunder perspektif ekonomi Islam.
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan tindak lanjut terhadap masalah
yang telah diidentifikasikan, jadi berdasarkan rumusan masalah
tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Membuktikan bahwa konsep perdagangan saham sesuai
dengan prinsip ekonomi Islam.
2. Menganalisis perdagangan saham syariah pada pasar
sekunder dalam perspektif ekonomi Islam.
3. Menganalisis konsep perdagangan saham menurut prinsip
ekonomi Islam.
7
D.
Signifikansi Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ditetapkan di atas,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi
beberapa pihak antara lain :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
masukan dan informasi pemerintah dalam membuat regulasi
bidang ekonomi syariah khususnya yang berkaitan dengan
perdagangan saham syariah di pasar modal Indonesia.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
masukan dan informasi bagi Bursa Efek Indonesia, Badan
Pengawas Pasar Modal dalam membuat regulasi dan
kebijakan khusus di bidang perdagangan saham syariah di
masa yang akan datang berdasarkan realitas kondisi dan
objektivitas yang dihadapi.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan
perbandingan bagi civitas akademik dan para pembaca untuk
kepentingan penelitian berikutnya.
E.
Penelitian terdahulu yang relevan
Perkembangan ekonomi Islam yang ditandai dengan
lembaga-lembaga keuangan Islam mulai menunjukkan bahwa
prinsip-prinsip Islam mulai diterima di dunia, sehingga kajian
terhadap pengembangan keuangan Islam pun marak dilakukan di
berbagai fokus kajian keuangan.
Taqyuddin al-Nabhani dalam bukunya, al-Niz}a>m alIqtis{adi> fi al-Isla>m mengungkapkan bahwa transaksi saham
dianggap batal secara hukum, karena yang ada hanyalah transaksi
sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan
cara membeli saham di pasar modal tanpa ada perundingan atau
negosiasi apapun dengan perusahaan.14
Mahmud Shaltut yang menyatakan bahwa jual beli sekuritas
itu diperbolehkan dalam Islam sebagai akad mud}arabah yang ikut
menanggung untung dan rugi (lost and Profit Sharing).15
14
Taqyuddin Al-Nabhani, al-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m
(Beirut: Daar el-Ummah, 2004).
15
M. Syaltut, Al-Fatawa (Jeddah : daar El-Syurq, 1995).
8
Abdul Aziz al-Khayyat mengungkapkan bahwa saham
menurut syariah adalah penyertaan seseorang untuk menyertakan
hartanya untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk penyertaan
modal individu. Makna penyertaan ini adalah sang investor
mendapatkan hak bagi hasil/dividen pada atas penyertaan
modalnya dan pengambilan keputusan perusahaan pada saat Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS). Makna yang kedua
mengandung penyertaan modal dalam perusahaan dan tidak
menutup kemungkinan bersatunya dua makna saham tersebut.16
Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor dalam bukunya An
introduction to Islamic Finance mengungkapkan bahwa konsep
bursa saham yang sesuai dengan prinsip syariah ialah dalam
berbagi keuntungan dan kerugian, tetapi tidak semua bisnis yang
terdaftar dalam bursa saham sesuai dengan prinsip syariah, isu ini
merupakan tantangan dalam pengembangan pasar modal syariah.17
Samir Abdul Hamid Rodwan dalam bukunya, Aswaq alAuraq al-Ma>liyah wa dauruha fi tamwi>l at-Tanmiah alIqtis}adiyah. Mengungkapkan pasar saham syariah memiliki peran
dalam pertumbuhan ekonomi, namun masih kurangnya undangundang dan sistem yang mengawalnya.18
Mohammed Obaedullah menyatakan bahwa sejauh
menyangkut pasar sekunder, harga tidak boleh menyimpang secara
signifikan dari nilai intrinsik mereka atau nilai agar efisiensi
alokasi terjamin. Hal ini merupakan persyaratan dalam normanorma dan etika Islam. Adapun kriteria lain untuk efisiensi yang
berkaitan dengan meningkatkan likuiditas dan mengurangi biaya
transaksi. Mekanisme perdagangan di bursa efek ini dirancang
dengan mengingat keprihatinan yang luar biasa tentang
menanamkan likuiditas dan mengurangi biaya transaksi. Likuiditas
tinggi bila volume transaksi juga tinggi. 19
16
Abdul Aziz al-Khayyat, al-Ashum wa al-Sanadat min mandzuur alIslam (Mesir: Daarussalam, 1979), 17.
17
Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor, An introduction to Islamic Finance
(John Willey & Sons (Asia) pte.Ltd, 2007), 172.
18
Samir Abdul Aziz Rodwan, Aswaq al-Auraq al-Ma>liyah wa
dauruha fi tamwi>l at-Tanmiah al-Iqtis}adiyah. (Virginia: al-Ma’had al-Alamy
li al-Fikr al-Islami, 1966).
19
Muhammed Obaedullah, Ethic and Efficiency in Islamic Stock
Market. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 3, No.2.
9
Asyraf Wajdi Dusuki dan Abdelazeem Abozaid dalam
artikelnya yang berjudul “Fiqh Issues in Short Selling as
Implemented in the Islamic Capital Market in Malaysia”
perdagangan syariah di Pasar Sekunder diperbolehkan, hal ini
didasarkan pada kaidah suhul fiqh :"Semua transaksi (kecuali
untuk ibadah) adalah dibolehkan (ibahah) kecuali jika ada dalil
(Qur'an dan Sunnah) yang melarangnya". Selain itu, transaksi
disebut sah apabila sesuai dengan prinip-prinsip syariah. Ini berarti
harus jelas transaksi tersebut tidak mengandung riba dan tidak ikut
serta dalam gharar. Ketika kondisi ini terpenuhi, transaksi yang
bersangkutan valid dan dapat dipraktekkan.20
Hiroshi Tsubota dan Zamir Iqbal mengungkapkan bahwa
perkembangan pasar modal Islam tidak hanya akan bermanfaat
bagi para peminjam dan investor institusional, mereka juga dapat
meningkatkan stabilitas lembaga keuangan Islam, memberikan
peningkatan portofolio dan manajemen risiko dan likuiditias. Pada
akhirnya semua perkembangan akan berkontribusi untuk
mengintegrasikan pasar keuangan Islam, serta orang-orang yang
membentuk pasar ini, ke dalam kerangka konsepsional keuangan
internasional yang lebih luas.21
Hakim dan Rasyidin dalam makalahnya yang berjudul
“Risk and Return of Islamic Stock Market Indexes” menyimpulkan
bahwa kriteria penyaringan yang diadopsi untuk menyeleksi
perusahaan yang tidak sesuai dengan syariah Islam dengan
karakteristik risk dan return yang unik yang tidak dipengaruhi oleh
pasar. Sehingga berdasarkan risk-return, bahwa tidak ada kerugian
dari pembatasan indeks yang sesuai kriteria Islam. Akibatnya,
investor Muslim lebih baik berintestasi dalam saham syariah
dibanding dengan saham konvensional.22
Jumayanti Indah, dalam artikelnya yang berjudul “Analisa
fundamental
sebagai
Dasar
Pengambilan
Keputusan”
20
Asyraf Wajdi Dusuki dan Abdelazeem Abozaid. Fiqh Issues in
Short Selling as Implemented in the Islamic Capital Market in Malaysia. J.KAU:
Islamic Econ., Vol. 21, No. 2, pp: 65-80 (2008 A.D./1429 A.H.).
21
Hiroshi Tsubota dan Zamir Iqbal, Emerging Islamic Capital Market. :
a quickening and new potential (Word Bank).
22
Hakim, S. and Rashidian, M. (2004), "Risk and Return of Islamic
Stock Market Indexes", Presented at the International Seminar of Nonbank
FinancialInstitutions: Islamic Alternatives, Kuala Lumpur, Malaysia.
10
mengungkapkan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja
keuangan terbaik secara siginifikan akan memiliki pengaruh pada
EPS (Earning Per Share) atau harga per lembar saham.23
Khalid A. Hussein dalam artikelnya yang berjudul "Ethical
Investment: Empirical Evidence from FTSE Islamic Index" dari
hasil kajiannya menunjukkan bahwa penerapan Screening etik
tidak berdampak merugikan pada kinerja indeks Islam. Sehingga
temuan tersebut menolak asumsi bahwa ethical investment
menawarkan kinerja investasi yang rendah dibandingkan dengan
portofolio Indeks secara keseluruhan.24
Bruce Hearn, dalam artikelnya yang berjudul “The Role of
the Stock Market in the Provision of Islamic Development
Finance: Evidence from Sudan” mengungkapkan studi kasus yang
unik ke dampak pembiayaan bursa saham dalam perekonomian
yang sepenuhnya sesuai syariah Islam di Sudan. Bukti
menunjukkan bahwa instrumen keuangan Islam memiliki potensi
besar dalam memfasilitasi pembiayaan pembangunan melalui
penekanan mereka pada kemitraan lebih baik dicapai melalui bursa
saham dibanding sistem perbankan.25
Anio Indah dalam thesisnya yang berjudul “Pengaruh
Fundamental dan Teknikal terhadap Harga Saham” menemukan
hasil penelitian bahwa secara serempak faktor fundamental yang
terdiri dari leverage ratio, fix asset turnover, operating profit
margin, Return on Invesment, Price book value memiliki pengaruh
signifikan terhadap harga saham.26
Wan Razazila Wan Abdullah, Jamal Roudaki serta Murray
Clark dalam artikelnya yang berjudul “The Evolution of The
Islamic Capital Market in Malaysia” menyimpulkan bahwa Pasar
23
Jumayanti Indah, Analisa fundamental sebagai dasar pengambilan
keputusan Investasi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis.2004.
24
Hussein, Khalid, Ethical Investment: Empirical Evidence from
FTSE Islamic Index", Islamic Economic Studies, Vol.12, no.1 (August-2004), pp.
21-40.
25
Hearn, Bruce Allen, Strange, Roger Nicholas and Piesse, Jenifer, The
Role of the Stock Market in the Provision of Islamic Development Finance:
Evidence from Sudan (June 06, 2010). Emerging Markets Review, Vol. 12, No.
3, 2011.
26
Anio Indah Lestari Nasution, Pengaruh Faktor Fundamental dan
Teknikal terhadap harga saham (USU: Thesis, 2006).
11
Modal Syariah di suatu Negara akan berkembang pesat dengan
infrastruktur superior untuk dan menyediakan akan dukungan
pemerintah yang menyediakan dorongan untuk pertumbuhan
lanjutan dari Pasar Modal Syariah. Kepemimpinan dan dukungan
yang diberikan oleh pemerintah melalui fasilitasi kebijakan dan
insentif telah memastikan keberhasilan pengembangan Pasar
Modal Islam. Berbagai insentif yang dimaksudkan untuk
mendorong dan memfasilitasi partisipasi lokal dan asing di pasar
modal Syariah.27
I Ketut Sukedarsana dan Yuliansyah, dalam analisisnya
yang berjudul “Analisis Fundamental Nilai Intrinsik dan Nilai
Pasar Saham sebagai Alat Bantu dalam Pengambilan Keputusan
Investasi” mengungkapkan bahwa ada perbedaan signifikan antara
harga pasar saham dengan nilai intrinsik keuangan perusahaan.28
Mokhtar M. Metwally dalam artikelnya yang berjudul “The
Role of the Stock Exchange inAn Islamic Economy” Kajiannya
menunjukkan bahwa dalam perekonomian, Bursa Efek dapat
melakukan peran yang sangat berharga. Namun struktur pasar
seperti itu akan sama sekali berbeda dari Bursa Efek di negara nonIslam. Selain itu, kinerja Bursa Efek dalam ekonomi Islam akan
bervariasi dari yang sesuai pasar di negara non-Islam29
Noor Mohammad Osmani dan Faruk Abdullah dalam
artikelnya yang berjudul “Towards An Islamic Stock Market: A
Review of Classical and Modern Literatures” Menyimpulkan
bahwa Pasar saham Islam mengadopsi pendekatan dinamis
terhadap pembangunan berkeadilan dan bursa efek yang sesuai
dengan etika. Pasar saham Islam tidak memperbolehkan produk
yang benar-benar didasarkan pada riba, ketidakadilan, kecurangan
dan kebohongan. Para Pemerintah Muslim, perusahaan, instansi
dan cendikiawan harus memainkan peran dalam mendirikan pasar
27
Wan Razazila Wan Abdullah, Jamal Roudaki serta Murray Clark
.The Evolution of The Islamic Capital Market in Malaysia. Lincoln.ac.nz
28
I Ketut Sukedarsana , dan Yuliansyah http://jurnal-esai.org (diakses
pada tanggal 02 Desember, 2010).
29
Mokhtar M. Metwally. The Role of the Stock Exchange in an Islamic
Economy. J. Res. Islamic Econ., Vol. 2, No. 1, pp. 19-28 (1404/1984).
12
saham Islam untuk menghadapi tantangan pasar sekuritas
konvensional yang berbasis riba.30
Rosylin Mohd. Yusof dan M. Shabri Abd. Majid dalam
artikelnya yang berjudul “Stock Market Volatility Transmission in
Malaysia: Islamic Versus Conventional Stock Market”
menyampaikan kesimpulan bahwa volatilitas suku bunga bertindak
penting sebagai indikator ketidakstabilan ekonomi dan akibat dari
meningkatkan volatilitas pasar saham konvensional. Namun,
untuk volatilitas pasar saham Islam, variabel berbeda ditemukan
yang menjadi indikator penting dari ketidakstabilan ekonomi,
yaitu nilai tukar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham Islam
kurang rentan terhadap volatilitas dalam variabel kebijakan
moneter dibandingkan dengan pasar saham konvensional.31
F.
Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan penulis dalam studi ini adalah
metode deskriptif analitis dan kritis, dengan menjelaskan hal-hal
yang bertentangan dengan Islam untuk dihindari, dan apa yang
dapat disesuaikan dengan syariah Islam sehingga dapat
dimanfaatkan. Penulis juga menyajikan pandangan ilmuwan
tentang proses ekonomi yang terjadi di pasar sekuritas dengan
melakukan komparasi terhadap pandangan tersebut, untuk
kemudian menganalisa pandangan dan kritik mereka dalam
perspektif Islam.
Sumber utama tesis ini adalah mekanisme perdagangan
saham syariah di pasar sekunder dan pendapat para ulama serta
pakar ekonomi syariah berkaitan dengan perdagangan saham. Data
itu dibaca dengan menganalisis melalui fatwa dan peraturanperaturan perdagangan saham serta pandangan para ekonom
muslim tentang prinsip-prinsip dalam ekonomi Islam.
30
Noor Mohammad Osmani dan Faruk Abdullah dalam artikelnya
yang berjudul “Towards An Islamic Stock Market: A Review of Classical and
Modern Literatures. International Review of Business Research Papers Vol. 5
No. 5 September 2009 Pp. 121‐130.
31
Rosylin Mohd. Yusof dan M. Shabri Abd. Majid. Stock Market
Volatility Transmission in Malaysia: Islamic Versus Conventional Stock Market.
J.KAU: Islamic Econ., Vol. 20, No. 2, pp: 17-35 (2007 A.D./1428 A.H.).
13
G. Sistematika Penulisan
Penulisan tesis ini terdiri atas lima bab (bagian):
Bab I sebagai pendahuluan terdiri atas latar belakang
masalah, pembatasan dan perumusan masalah yang akan diteliti,
perbandingan dengan karya terdahulu yang relevan, tujuan
penulisan, metode penelitian dan pendekatan yang akan digunakan,
sumber primer dan sekunder serta sistematika penulisan.
Pada bab II berisi penjelasan tentang perdebatan masyarakat
akademik berkaitan dengan tema yang menjadi pembahasan
penulis.
Pada bab III, berisi penjelasan mengenai analisis hukum
syariah terhadap perdagangan saham dalam pasar sekunder yang
meliputi : mekanisme penawaran saham, mekanisme harga saham,
pembagian keuntungan investasi saham.
Pada bab IV, berisi tentang analisis prinsip ekonomi Islam
terhadap perdagangan saham di pasar sekunder : meliputi kriteria
pemilihan saham syariah, faktor-faktor yang mempengaruhi harga
saham, prinsip-prinsip perdagangan saham syariah, etika pasar
saham serta efisiensi dalam pasar saham.
Pada bab V, berisikan kesimpulan dan saran serta
rekomendasi berkenaan dengan analisis tentang pasar modal
syariah.
14
BAB II
PERDAGANGAN SAHAM SYARIAH DALAM PASAR
MODAL
Kegiatan pasar modal bertujuan untuk mempercepat proses
perluasan partisipasi masyarakat dalam kepemilikan saham
perusahaan, pemerataan pendapatan masyarakat melalui perantara
pemilikan saham dan untuk lebih menggairahkan peran serta
masyarakat dalam mobilisasi dana agar digunakan secara
produktif. Namun, terdapat beberapa kegiatan di pasar modal
dalam perdagangan saham yang seringkali menjadi perdebatan
terkait isu aspek kesyariahan baik oleh ulama, akademisi maupun
pelaku pasar.
Berikut ini, penulis kemukakan pendapat para ahli serta
perdebatan akademik berkaitan dengan perdagangan saham di
bursa saham.
A. Pendapat yang Mengharamkan Perdagangan Saham
Pengharaman saham, merupakan pendapat Taqyudin alNabhani dan Isya Abduh.1 Para ahli ini mengembalikan
permasalahan tidak diperbolehkannya jual beli saham kepada
sejumlah ide pemikiran berikut:
1. Hasil penjualan saham adalah taksiran, bukan merupakan
modal pada waktu pendirian perusahaan.
2. Saham adalah bagian dari keberadaan perusahaan, bukan
bagian dari modal, seperti obligasi dengan nilai asset
perusahaan.
3. Nilai saham tidak mempunyai kesamaan dari tahun ke tahun.
Oleh karena itu, saham bukanlah merupakan modal yang
dibayarkan ketika pendirian perusahaan, melainkan
merupakan modal perusahaan ketika penjualan.2
4. Asimterik informasi atau dalam terminologi prinsip jual beli
disebut dengan istilah al-Jaha>lah, artinya seorang pembeli
saham tidak mengetahui informasi mengenai spesifikasi
1
Sya‟ban Muhammad Islam Al-Barwary. Bursa Saham menurut
pandangan Islam (Kuala Lumpur : Berlian Publication, 2007), 116.
2
Samir Abdul Hamid Rodwan, Aswa>q al-Awro>q al-Ma>li>yah
(Kairo: Ma‟had al-Alami li al-Fikr al-Islami, 1996), 275.
15
barang dagangan yang diperjualbelikan dalam saham, sedang
syarat utama dari konsep jual beli, seorang pembeli harus
mengetahui secara mendetail mengenai barang beliannya
(objek). Untuk itu mekanisme syariah menetapkan pelarangan
jual beli ghuru>r atau majhu>l.
5. Transaksi jual beli saham dianggap batal secara hukum,
karena dalam transaksi tersebut tidak mengimplementasikan
prinsip s{arf. Jual beli saham berarti jual beli uang dan
barang, maka prinsip taqa>bud} dan tama>thul harus
diaplikasikan Taqa>bud} adalah salah satu syarat dalam
transaksi jual beli. yang menegaskan bahwa si pembeli
menerima barang yang dibeli sesuai dengan definisi hukum di
tempat dan sesudah kesepakatan transaksi. Tama>thul adalah
salah satu syarat dalam transaksi jual beli yang menegaskan
bahwa sistem kesamaan nilai dalam transaksi tukar-menukar
atau jual beli barang. Sedang dalam konsep jual beli saham
kedua prinsip tersebut tidak dikenal.
6. Apabila perusahaan penerbit saham tersebut mempunyai
hutang, artinya saham merepresentasikan bagian dari hutang
tersebut. Dengan begitu jual beli saham tidak diperkenankan,
mengingat bahwa hal tersebut dapat dikategorikan sebagai
konsep jual beli hutang yang dilarang oleh nas} syariah :
Artinya : “ Nabi melarang jual beli hutang “. (H.R.
Da>ruqut{ni>)
Taqiyuddin al-Nahbani mengatakan bahwa transaksi saham
merupakan transaksi yang batil menurut syara‟, karena yang ada
hanyalah transaksi sepihak dari para invenstor yang menyertakan
modalnya dengan cara membeli saham dari perusahaan atau dari
pihak lain di pasar modal tanpa ada perundingan atau negosiasi apa
pun, baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor)
lainnya.3 Dan menurut Yusuf al-Sabatin, dalam masalah transaksi
3
Taqyuddin An-Nabhani, An-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m
(Beirut: Daar el-Ummah, 2004), 174.
16
saham ini tidak tepat menggunakan pendekatan analisis alMas{a>lih al-Mursalah.4
B. Pendapat yang Memperbolehkan Perdagangan Saham
Kelompok sarjana fikih yang memperbolehkan jual beli
saham mengembalikan ijtihad mereka kepada sejumlah bentuk
transaksi suf‟ah dan masalah ghani>mah yang banyak termaktub
dalam manuskrip fikih Islam. Beberapa indikasi dibolehkannya
jual beli saham dapat dirujuk dari pendapat-pendapat yang
dikemukakan Iman Nawawi berkenaan dengan jual beli saham
kepemilikan property dan harta rampasan perang.5
Pendapat yang memperbolehkan saham secara mutlak
dikemukakan oleh Sheikh Muhammad Abduh, Muhammad Yusuf
Musa dan Sheikh Muhammad al-Kholisy.6 Hal tersebut juga
dikuatkan oleh Muhammad Shaltut yang mengemukakan bahwa
jual beli sekuritas itu diperbolehkan dalam Islam sebagai akad
Mudharabah yang ikut menanggung untung dan rugi (lost and
Profit Sharing).7
Sheikh Yusuf al-Qarad}owi> mengemukakan bahwa syarat
diperbolehkannya perdagangan saham yaitu jika perusahaan itu
tidak beroperasi dalam hal-hal yang terlarang, seperti
menghasilkan dan menjual minuman keras, dan tidak melakukan
transaksi dengan menggunakan bunga riba baik dalam menyimpan
maupun meminjam.8 Sehingga pendapat tersebut juga
dikemukakan oleh Wahbah Zuhaily yang mengungkapkan
bermuamalah dengan (melakukan kegiatan transaksi atas) saham
4
Yusuf al-Sabatin, al-Buyu‟ al-qadi>mah wa al-mu‟a>shirah wa alburs}at al-ma>li>yah wa al-dawliyah (Beirut: Daar el-Bayariq, 2002), 53.
5
Al-Nawawi, Raud}atu al-T}alibi>n (Beirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiah,
1998), 114 lihat juga Muhammad bin Ahmad al-Sharbini, Mughni al-Mumta>j
ila Ma‟rifat al-Alfa>z al-Minha>j (Damaskus: Da>r al-Fikr, 1978), 39.
6
Muhammad Yusuf Ridho, al-Islam wa Musykilatuna al-Hadiroh
(Beirut: Dar al-As}r al-Hadits, 1991), 58.
7
Mahmud Shaltut, Al-Fata>wa (Jeddah : Da>r al-Syurq, 1995)
8
Yusuf al-Qaradowi, Fiqh Zaka>h (Beirut: Muassasah al-Risalah,
1973), 522.
17
hukumnya boleh, karena pemilik saham adalah mitra dalam
perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya 9
Sheikh Abdul Wahab Khallaf memperbolehkan hal tersebut
jika tidak terdapat unsur-unsur riba.10 Kemudian Syahatah dan
Fayyadh mengungkapkan bahwa Menanam saham dalam
perusahaan seperti ini boleh secara syar‟i.11
Ibnu Qudamah berpendapat Jika salah seorang dari dua orang
berserikat membeli porsi mitra serikatnya, hukumnya boleh karena
ia membeli milik pihak lain.12
Quraisy Shihab pun menguatkan dengan menyampaikan
bahwa saham dapat menjadi bahan transaksi seperti
dperjualbelikan. Dalam hal ini tidak dibutuhkan adanya serah
terima wujud barang itu. Cukup bukti-bukti yang diperlukan.13
Argumentasi
diperbolehkannya
perdagangan
saham
sebagaimana dikemukakan dalam Fatwa DSN Nomor 40/DSNMUI/X/2003, merujuk pada argumentasi pendapat para ulama
sebagaimana berikut :
1. Pendapat Dr. Muhammad „Abdul Ghaffar al-Syarif (al-Syarif,
Buhuts Fiqhiyyah Mu‟ashirah, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 1999],
h.78-79); Dr. Muhammad Yusuf Musa (Musa, al-Islam wa
Musykilatuna al-Hadhirah, [t.t.: Silsilah al-Tsaqafah alIslamiyah, 1958], h. 58); Dr. Muhammad Rawas Qal‟ahji,
(Qal‟ahji, al-Mu‟amalat al-Maliyah al- Mu‟ashirah fi Dhaw‟i
al-Fiqh wa al-Syari‟ah, [Beirut: Dar al- Nafa‟is, 1999], h.56).
Syaikh Dr. „Umar bin „Abdul „Aziz al-Matrak (Al-Matrak, alRiba wa al-Mu‟amalat al-Mashrafiyyah, [Riyadh: Dar al„Ashimah, 1417 H], h. 369-375) menyatakan:
“(Jenis kedua), adalah saham-saham yang terdapat dalam
perseroan yang dibolehkan, seperti perusahaan dagang atau
perusahaan manufaktur yang dibolehkan. Ber-musahamah
9
Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>mi> wa Adillatuhu (Damaskus: Da>r
al-Fikr, 1997), 1841.
10
Muhammad Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Us}ul Fiqh (al-Kuwait:
Da>r Qolam, 1986), 237.
11
Fayyadh, Athiyah. Su>q al-Awraq al-m>aliyah fi> niz}ami al-Fiqh
al-Islami> (Mesir: Daar al-Nashr lil Jam‟iy>at, 1978), 17.
12
Ibn Qudamah, Al-Mughni (Beirut: Dar al-Fikr, tanpa thn), 5/173
13
Quraisy Shihab, Kumpulan Tanya jawab (Jakarta: Penerbit
Repubika, 2004), 46.
18
(saling bersaham) dan ber-syarikah (berkongsi) dalam
perusahaan tersebut serta menjualbelikan sahamnya, jika
perusahaan itu dikenal serta tidak mengandung ketidakpastian
dan ketidak-jelasan yang signifikan, hukumnya boleh. Hal itu
disebabkan karena saham adalah bagian dari modal yang dapat
memberikan keuntungan kepada pemiliknya sebagai hasil dari
usaha perniagaan dan manufaktur. Hal itu hukumnya halal,
tanpa diragukan.”
2. Pendapat para ulama yang membolehkan pengalihan
kepemilikan porsi suatu surat berharga selama disepakati dan
diizinkan oleh pemilik porsi lain dari suatu surat berharga (biidzni syarikihi). Lihat: Al-Majmu‟ Syarh al-Muhazdzab IX/265
dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu IV/881.
3. Keputusan Muktamar ke-7 Majma‟ Fiqh Islami tahun 1992 di
Jeddah:
Boleh menjual atau menjaminkan saham dengan tetap
memperhatikan peraturan yang berlaku pada perseroan.”
4. Keputusan dan Rekomendasi Lokakarya Alim Ulama tentang
Reksa Dana Syariah tanggal 24-25 Rabi‟ul Awal 1417 H/ 2930 Juli 1997 M.14
Berkenaan dengan Perdagangan efek (saham) di pasar reguler,
DSN-MUI telah menerbitkan fatwa Nomor : 80/DSNMUI/III/2011 Tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam
Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler
Bursa Efek yang menyatakan mekanisme perdagangan efek yang
bersifat ekuitas di pasar reguler bursa efek boleh dilakukan
dengan berpedoman pada ketentuan khusus. 15
Dalam fatwa tersebut dikemukakan bahwa perdagangan efek
harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak
diperbolehkan melakukan spekulasi, manipulasi dan tindakan lain
yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba,
maisir, risywah, maksiat dan kezhaliman, taghrir, ghisysy,
14
Fatwa DSN MUI Nomor 40/DSN-MUI/X2003 Tentang Pasar Modal
dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.
15
Fatwa DSN MUI Nomor : 80/DSN-MUI/III/2011 Tentang Penerapan
Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar
Reguler Bursa Efek.
19
tanajusy/najsy, ihtikar, bai‟ al-ma‟dum, talaqqi al-rukban, ghabn,
riba dan tadlis.
Berkenaan dengan permasalahan asimetrik informasi (alJaha>lah) yang dikemukakan pendapat yang mengharamkan pada
pembahasan sebelumnya, Athiyah Fayyadh menegaskan bahwa :
“al-Jaha>lah yang dapat membatalkan prinsip jual beli
adalah apabila ketidaktahuan informasi dalam transaksi jual beli
tersebut dapat mengakibatkan sengketa, namun apabila informasi
tersebut tidak mengarahkan kepeda sengketa, maka hal ini dapat
ditolerir”.
Untuk hal tersebut beliau dalam pendapatnya mengacu
kepada pendapat yang dikemukakan al-Qura>fi dalam kitab alFuru>q mengenai toleransi fikih pada kasus-kasus asymetric
information.16
Sekuritas yang dikeluarkan dari saham-saham yang halal
adalah perusahaan yang :
1. Operasionalnya berdasarkan riba, seperti aktivitas yang
dilakukan bank dan institusi keuangan konvensional.
2. Operasionalnya melibatkan perjudian (al-maysi>r atau
gambling).
3. Aktivitasnya melibatkan pabrikasi dan/atau penjualan
produk-produk haram, seperti alkohol, makanan haram, dan
daging babi.
4. Operasinya mengandung elemen ketidakpastian (ghara>r
atau uncertainty) seperti bisnis asuransi konvensional.
5. Aktivitas inti (Core Activities) perusahaan harus tidak
bertentangan dengan prinsip syariah seperti empat kriteria
di atas.
6. Persepsi publik dan image perusahaan harus baik.
16
Fayyadh, Athiyah. Su>q al-Awraq al-m>aliyah fi> niz}ami al-Fiqh
al-Islami> (Mesir: Daar al-Nashr lil Jam‟iy>at, 1978),197.
20
7. Aktivitas inti (core Activities) perusahaan memiliki
kepentingan dan Maslahat (public benefit) untuk umat dan
bangsa.17
Pengembang pertama indeks syariah dan equity fund seperti
reksadana adalah Amerika Serikat. Setelah The Amana Fund
diluncurkan The North American Islamic Trust sebagai equity fund
pertama di tahun 1986. Tiga tahun kemudian Dow Jones Index
meluncurkan Dow Jones Islamic Market Index (DJIM). Sharia
Suvervisory Board (SSB) dari Dow Jones Islamic Market Index
(DJIM) melakukan filterisasi terhadap saham-saham halal
berdasarkan aktivitas bisnis dan rasio finansialnya. SSB secara
lebih spesifik langsung mengeluarkan perusahaan yang memiliki
usaha dalam bidang-bidang berikut:
1) Alkohol;
2) Rokok/Toacco;
3) Daging Babi;
4) Jasa Keuangan Konvensional;
5) Pertahanan dan persenjataan; dan
6) Hiburan (Hotel, kasino/perjudian, cinema, musik)
Selanjutnya, saringan kedua berupa ketentuan atas rasio
finansial untuk mengeluarkan perusahaan-perusahaan dengan
utang dan/atau tingkat pendapatan dari bunga. Perusahaan akan
dikeluarkan dari DJIM indeks jika:
1) Total Utang/Total Asset = atau > 33 %.
2) Total Piutang/Total Aset = atau > 47 %.
3) Non Operating Ineterest Income/Operating income = atau
> 9 %.18
Berkenaan dengan filterisasi atau screening bahwa total
utang harus kurang dari 33% karena total utang yang belum
17
Hamida Chapakia dan Yulizar D Sanrego. an Empirical Analysis of
Islamic Stock Return in Malaysia. The International Conference on Islamic
Capital Markets.(Jakarta: Muamalat Institute.IRTI, 2007), 163
18
Iggi H Achsien. Investasi Syariah di Pasar Modal. (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2000).
21
dilunasi (outstanding debt) tidak boleh melebihi sepertiga dari
modal dan aturan yang sama berlaku untuk sekuritas aset yang
mengandung bunga. Batas 33 % didasarkan pada perkataan Nabi
yang menyatakan bahwa “Penilaian didasarkan pada mayoritas,
bukan minoritas”. Garis batas antara mayoritas dan minoritas
adalah sepertiga, dan sepertiga sudah dianggap banyak”. Jadi,
berdasarkan interpretasi ini, ulama menyatakan bahwa pendapatan
dari sumber yang tidak diperbolehkan syariah adalah harus kurang
dari 33 %.19
1. Argumentasi Diperbolehkannya Perdagangan Saham
dalam Islam
Setelah diperdagangkan di pasar perdana, saham kemudian
didaftarkan di bursa dan diperdagangkan di pasar sekunder.
Perdagangan di pasar sekunder berbeda dengan perdagangan di
pasar perdana. Di pasar perdana, proses perdagangannya hanya
terjadi ketika emiten mengeluarkan emisi baru dan harga hanya
ditentukan oleh subjektivitas penjamin emisi baru dan emiten.
Sedangkan pada pasar sekunder terjadi transaksi setiap saat pada
hari perdagangan dan harga sangat ditentukan oleh mekanisme
pasar. Dalam sehari dapat terjadi beberapa kali perdagangan dan
transaksi melalui jasa pialang karena investor tidak bisa langsung
terjun ke lantai bursa (floor trade).
Dengan
demikian,
perlu
kita
pahami
bahwa
diperbolehkannya perdagangan saham selain dari beberapa
pendapat para ahli yang dikemukakan sebelumnya, tentunya ada
beberapa argumentasi dan sumber hukum yang memberlakukan
adanya perdagangan saham dalam pandangan Islam, diantaranya
adalah :
1) Saham
adalah
milik
pemegang,
dia
berhak
mempergunakannya
secara
syariah
baik
menjual,
menghibahkan atau menggadaikan, selama tidak membawa
kemad{aratan kepada pemegang saham yang lain. Hak ini
tercantum dalam perusahaan dan dikenali di dalam sistem
perdagangan, maka tidak bertentangan dengan kaidah fikih “
19
M. El-Gari, Islamic Equity Investment. (London: Islamic Finance
Inovation and Growth, Euronomy books and AAOIFI, 2002).
22
2)
3)
4)
5)
sesuatu yang telah dikenal masyarakat adalah adat („urf)
seperti sesuatu yang disyaratkan adalah syarat.20
Saham adalah surat berharga yang menunjukkan nilai yang
dimiliki oleh pemegangnya dan pemegangnya diperbolehkan
menjualnya kepada siapa saja. Hal ini sesua dengan apa yang
dikemukakan oleh Ibnu Hamamah dalam Kitab Fathul Qodir “
Seseorang yang mempunyai kerjasama boleh menjual
bagiannya dalam semua bentuk kepada orang lain”.21
Pemilik saham diperbolehkan menjual bagiannya walaupun
dalam keadaan milik bersama dan tidak terpisah-pisah, atau
terbatas dalam kepemilikan sebagian aset. Hal ini perkuat
dengan keterangan Ibn Rajab dalam kitab Qowa‟id Ibn Rajab
yaitu “Sesungguhnya menjual bagian dalam milik bersama
adalah boleh, jadi tidak hanya sejauh yang terpisah-pisah
saja”.22
Pemilik saham boleh menjual bagiannya, walaupun tidak
boleh dipisahkan. Dalam kitab al-Majmu‟ disebutkan bahwa
“Apabila seseorang memisahkan diri dari rekan bisnisnya,
maka juallah yang menjadi miliknya sebelum digabungkan,
berdasarkan hal tersebut di atas artinya pembagian tersebut
dijual atau dipisahkan. Menurut al-Mutawally, jika kita
katakan bahwa pembagian tersebut adalah pemisahan, maka
boleh dijual sebelum penggabungan dengan yang lainnya.23
Tidak terdapatnya unsur Jaha>lah dan Gharar yang
menggangu transaksi saham yang beredar, karena adanya
informasi tentang perusahaan dan pusat keuangannya yang
memberikan gambaran tentang kestabilan secara berkala.
Keberadaan dua fungsi tersebut berperan dalam bagiannya,
begitu pula tentang pemberitaan harga-harga saham dari waktu
ke waktu. Maka pembeli mempunyai cukup informasi tentang
nilai-nilai saham, hal ini sebagai syarat sahnya jual beli saham.
20
S}alih bin Zein Marzuki al-Baqmi, Syirkah Musahamah fi al-Nizam
al-Su‟udi (Ummul Qura: Markaz al-„Ilmi wa Ihya al-Turats al-Islami, 1985),
347
21
Ibn Hamamah, Sharh Fath al-Qodir (Dar Ihya al-Turats al-Arabi), 4
22
Ibn Rajab, Qowaid Ibn Rajab (Da>r al-Fath), 74 .
23
An-Nawawi, al-Majmu‟ Syarah Muhazab. (Beirut: Dar al-Fikr), 82.
23
6) Jual beli saham adalah boleh, karena yang dijual itu adalah
bagian dari milik pemegang saham dalam perusahaan atau
sebagian miliknya sebagai ganti dari uang. Analogi ini diambil
dari bab-bab yang terdapat dalam kitab fikih. Dalam kitab
Raddul Mukhtar disebutkan bahwa “ Apabila warisan salah
seorang kamu dikeluarkan dari harta warisan, seperti barangbarang atau harta yang tidak bergerak, maka gantilah dengan
harta yang lain, atau keluarkan untuknya dari harta warisan
tersebut, seperti emas dengan perak atau sebaliknya.
Pembayaran itu sah walaupun berbeda jenisnya, baik itu
sedikit ataupun banyak, tetapi harus dengan syarat adanya
serah terima dalam setiap transaksi”.24
7) Jual beli saham hukumnya sah, sebagaimana firman Allah
SWT. “Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”
(Al-Baqarah;275). Tidak terdapat dalil yang khusus tentang
saham, dan dalam kaidah fikih disebutkan pada dasarnya
setiap akad itu boleh, kecuali jika ada dalil yang
mengharamkannya.
8) Pemilik saham menjual bagiannya tidak membuat suatu
kerugian pada perusahaan, karena pada dasarnya orang-orang
yang turut bekerjasama dalam perusahaan pemilik saham
sesuai dengan peraturan perusahaan sepakat dan setuju
masuknya pemilik saham yang baru, tanpa adanya syarat
pengetahuan mereka. Persetujuan (Ridha) adalah dasar dalam
syariat Islam.
Demikianlah
berbagai
sumber
dan
argumen
diperbolehkannya perdagangan saham menurut pandangan Islam.
2. Konsep Perdagangan Saham dalam Islam
Ajaran Islam yang bersumber kepada Quran dan al-Sunnah
dapat dipilah menjadi tiga bagian besar, satu sama lain bersifat
menyatu dan saling terkait. Ketiga ajaran besar itu adalah masalah
yang berkaitan dengan aqidah (keimanan), masalah-masalah yang
24
Muhammad Amin Ibn Abidin, Hasyiah Qurah „Uyun al-Akhbar
takmilah Rad al-Mukhtar „ala al-Dar al-Mukhtar (Beirut; Dar Fikr, 1966), Jilid
5, 643
24
berkaitan dengan ibadah, dan masalah-masalah yang berkaitan
dengan bidang muamalah duniawiyah.25
Secara teori pasar modal (capital market) didefinisikan
sebagai perdagangan instrumen keuangan (sekuritas) jangka
panjang, dalam bentuk modal sendiri (stock) maupun hutang
(bond), baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities)
maupun oleh perusahaan swasta (Privat sector). Dengan demikian
pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit dari pasar
keuangan (Financial market), dalam financial market,
diperdagangkan semua bentuk hutang dan modal sendiri baik dana
jangka panjang maupun jangka pendek, baik bersifat negotiable
maupun non negotiable.26 Konsep bursa saham yang sesuai dengan
prinsip syariah ialah dalam berbagi keuntungan dan kerugian,
tetapi tidak semua bisnis yang terdaftar dalam bursa saham sesuai
dengan prinsip syariah, isu ini merupakan tantangan dalam
pengembangan pasar modal syariah. 27
Fatwa DSN MUI No.40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar
Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang
Pasar Modal mengungkapkan bahwa Pasar Modal syariah adalah
Pasar Modal beserta seluruh mekanisme kegiatannya terutama
mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan, dan mekanisme
perdagangannya dipandang telah sesuai dengan syariah apabila
telah memenuhi prinsip-prinsip syariah.28
Sebagai seorang muslim, ada banyak tanggungjawab yang
seharusnya dilaksanakan dan salah satu tanggungjawab tersebut
adalah melakukan manajemen terhadap harta kekayaan mereka.
Dengan adanya eksistensi dari instrumen atau produk-produk
dalam pasar modal termasuk bursa saham, muslim mampu
melakukan manajemen harta kekayaan mereka dengan cara yang
tepat.
25
Nasrun Haroen. Perdagangan saham di bursa efek, tinjauan hukum
Islam.(Jakarta: Kalimah, 2000), 7.
26
Marzuki
Usman.
Pengetahuan
Dasar
Pasar
Modal
(Jakarta:IBI.1997),11
27
Zamir Iqbal dan Abbas Mirakhor. An introduction to Islamic
Finance.(John Willey & Sons (Asia) pte.Ltd.2007), . 172.
28
Fatwa DSN MUI No.40/DSN-MUI/X/2003 Tentang Pasar Modal
dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.
25
Transaksi-transaksi bisnis yang demikian diperbolehkan
dalam Islam sepanjang dasar fondasinya tidak bertentangan dengan
syariah dan unsur-unsur dalam transaksi tersebut bebas dari unsurunsur yang dilarang misalnya riba, judi, atau gharar
(ketidakpastian).29 Hal tersebut merupakan sebuah usaha untuk
melakukan investasi sesuai dengan yang dianjurkan dalam Islam.
Dalam ajaran Islam, kegiatan berinvestasi dapat
dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang sekaligus kegiatan
tersebut termasuk kegiatan muamalah yaitu suatu kegiatan yang
mengatur hubungan antar manusia. Sementara itu berdasarkan
kaidah Fikih, bahwa hukum asal dari kegiatan muamalah itu
adalah mubah (boleh) yaitu semua kegiatan dalam pola hubungan
antar manusia adalah mubah (boleh) kecuali yang jelas ada
larangannya (haram). Ini berarti ketika suatu kegiatan muamalah
yang kegiatan tersebut baru muncul dan belum dikenal sebelumnya
dalam ajaran Islam maka kegiatan tersebut dianggap dapat
diterima kecuali terdapat implikasi dari Al Qur‟an dan Hadist yang
melarangnya secara implisit maupun eksplisit.30
Dalam Islam, melakukan sebuah investasi diperbolehkan
tetapi hal itu terbatas pada keadaan tertentu. Investasi Islam dapat
didefinisikan sebagai investasi dalam jasa keuangan dan investasi
produk-produk yang melekat pada prinsip-prinsip yang dibangun
berdasarkan pada syariah atau hukum Islam sebagaimana yang
dinyatakan dalam Quran dan Sunnah.31 Dalam Islam, hal tersebut
diatur bahwa semua investasi haruslah dari sektor-sektor etis atau
dengan kata lain, investasi yang dilaksanakan atau keuntungan
yang didapatkan tidak boleh berasal dari kegiatan yang dilarang.
Kegiatan-kegiatan yang dilarang ini meliputi produksi alkohol,
perjudian, pornografi, bunga (riba) dan lain-lain.
Lebih dari pada itu, dana-dana yang diinvestasikan
haruslah bebas dari utang yang berbunga. Investor tidak boleh
membawa bunga (riba) ke dalam keuangan investasinya.
29
Mohd Ma‟sum Billah, Applied Islamic Capital Market ( Selangor:
Sweet & Maxwell Asia, 2010), 185
30
BAPEPAM. Studi tentang Investasi Syariah di Pasar Modal
Indonesia. 2004, 11.
31
www.ihilal.com/index.html
26
Sebuah investasi dapat diartikan sebagai komitmen pada
masa sekarang sebagai sumber penghasilan untuk jangka waktu
tertentu dengan harapan untuk menerima penghasilan di depan.
Sumber penghasilan di masa yang akan datang ini akan
menggantikan uang para investor untuk waktu yang telah
dijanjikan, mengganti kerugian rata-rata inflasi yang telah
diprediksikan dan membayar risiko, yaitu ketidakpastian
pembayaran di masa yang akan datang.32
Dalam investasi, ada hubungan yang langsung antara risiko
dan keuntungan. Ada kebalikan diantara keduanya, dimana jika
jaminan dengan kriteria resiko tinggi selalu akan memberikan
keuntungan yang besar.33
Mekanisme perdagangan saham, dapat dilakukan dalam
perdagangan saham di pasar perdana, kemudian dapat
diperdagangkan di pasar sekunder.
Transaksi saham di pasar sekunder amat berbeda dengan
transaksi saham di pasar perdana. Di pasar perdana proses
perdagangan hanya terjadi ketika emiten (perusahaan yang menjual
saham) mengeluarkan emisi baru, sementara perdagangan pada
pasar sekunder terjadi setiap hari, dan dalam satu hari bisa terjadi
beberapa kali perdagangan. Akan tetapi, untuk melakukan
transaksi, pasar sekunder memberlakukan adanya jasa pedagang
perantara, karena investor sendiri tidak boleh langsung terjun ke
lantai bursa (Floor Trader).
Unsur permainan harga dapat dilakukan dengan cara: (a)
Netting, yaitu membeli saham pada awal perdagangan dimulai dan
langsung dijual pada hari itu juga dalam posisi keuntungan tanpa
harus mengeluarkan modal. (b) Short Selling, yaitu menjual saham
saham pada posisi harga tertentu, kemudian membeli pada hari
yang sama, yaitu saat harga saham turun. Kedua cara ini sangat
lazim dilakukan di pasar modal dalam rangka mencari untung yang
lebih besar (capital gain).34
32
Frank K. Reilly, Edgar A. Norton, Investment (Cincinnati: South
Western, 2006), 3.
33
Mohd Ma‟sum Billah, Applied Islamic Capital Market ( Selangor:
Sweet & Maxwell Asia, 2010), 187.
34
Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan. 1997), 425.
27
Setiap transaksi dan kesepakatan pada bursa saham harus
bebas dari spekulasi. Para pihak yang bersepakat harus mempunyai
pengetahuan yang lengkap tentang nilai-nilai lawan yang
dipertukarkan sebagai hasil dari transaksi mereka.35
Ramainya Bursa Efek dengan unsur-unsur spekulatif dan
para spekulan menyebabkan perkembangan harga saham tidak bisa
dipastikan, sekalipun dilakukan oleh analis yang paling handal.
Namun, transaksi saham di pasar sekunder pada lantai Bursa tidak
sama dengan gambling (judi), karena unsur spekulasi pada
gambling tidak didasarkan atas data dan fakta, sementara spekulasi
di lantai bursa didasarkan atas data dan fakta (semua keterangan
yang berkaitan dengan informasi perusahaan yang menjual saham),
selain itu juga didasarkan atas base fundamental dan teknikal.
Perbedaan lain antara gambling dengan spekulasi pada
pasar sekunder di lantai bursa adalah, para investor dapat
menentukan posisi jual pada posisi yang dinginkan, sementara
pada gambling tidak informasi yang jelas, dan nilainya akan
menghilang bila merugi. Dalam transaksi saham suatu perusahaan
tidak akan kehilangan nilai, sekalipun bangkrut, perusahaan itu
masih memperoleh hasil penjualan aktiva.
Jika ditinjau dari hukum Islam, penawaran saham di pasar
sekunder memiliki beberapa unsur yang tidak sejalan, bahkan
bertentangan dengan prinsip dan nilai bermuamalah dalam Islam.
Dalam unsur netting dan short selling, sebagai unsur permainan
dalam harga saham, terkandung makna ihtikar yang dilarang
Islam. Dalam praktek ihtikar, seorang pembeli (investor) berupaya
membeli sebanyak-banyaknya suatu komoditi, sehingga stok
komoditi tersebut menipis dan harga melonjak naik. Saat harga
melonjak naik, saham tersebut di lepas ke pasar, sehingga ia
meraup keuntungan yang besar. Praktik transaksi seperti ini
dilarang dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah Saw. Yang
menyatakan: 36
35
Mohd Ma‟sum Billah, Applied Islamic Capital Market ( Selangor:
Sweet & Maxwell Asia, 2010), 26.
36
Imam Muslim ibn al-Hajjaj, s{ahih Muslim, (Beirut : Da>rul Ihya atTurats al-„Arabi>, 1978) , 56.
28
Dari Ma‟mar ibn „Abdillah ra. berkata dia : Rasulullah
Saw. telah bersabda : “Tidak boleh ada perbuatan ihtikar kecuali
dari orang-orang yang berbuat salah” (HR Muslim).
Dengan demikian, praktik netting dan short selling yang
berlaku di pasar sekunder sebagai cara permainan harga saham
termasuk ke dalam kategori ihtikar yang dilarang shara‟. Larangan
ini sangat rasional, karena akan membawa dampak negatif bagi
kestabilan pasar, bahkan bisa menghancurkan para pedagang.
Kemudian, akibat perilaku para spekulan di pasar sekunder,
harga saham sulit untuk ditebak dan sulit untuk stabil, karena
fluktuasi harga di lantai bursa bisa terjadi pada setiap saat. Hal ini
juga akan membawa dampak yang negatif bagi para pengusaha dan
investor sendiri. Unsur-unsur spekulatif yang merugikan
masyarakat dalam berbagai transaksi amat dikecam oleh Islam.
Dalam kajian hukum Islam unsur spekulatif ini disebut
dengan jaha>lah (ketidakpastian). Secara definitif al-jaha>lah
diartikan sebagai suatu unsur yang tidak jelas pada kualitas,
kuantitas, atau harga suatu komoditas. Transaksi yang
mengandung unsur jahalah ini dilarang dalam Islam, karena bisa
merugikan para pelaku ekonomi dan menimbulkan pertengkaran di
antara mereka. Misalnya, terjadinya ketidakpastian tentang harga
atau komoditas yang ditransaksikan, atau tenggat waktunya jelas.
Larangan syariah mesti diimplementasikan dalam bentuk
aturan main yang mencegah praktik spekulasi, riba, gharar dan
maysir. Salah satunya adalah dengan menetapkan minimum
holding period atau jangka waktu memegang saham minimum.
Dengan aturan ini, saham tidak bisa diperjualbelikan setiap saat,
sehingga meredam motivasi mencari untung dari pergerakan harga
saham semata. Masalahnya, berapa masa holding period yang
masuk akal? Pembatasan ini memang meredam spekulasi, akan
tetapi juga membuat investasi di pasar modal menjadi tidak likuid.
Padahal bukan tidak mungkin seorang investor yang rasional betulbetul membutuhkan likuiditas mendadak sehingga harus
mencairkan saham yang dipegangnya, sedangkan ia terhalang
karena belum lewat masa minimum holding period nya. Metwally,
seorang pakar ekonomi Islam dan modelling economics
mengusulkan minimum holding period setidaknya satu pekan.
Selain itu, ia juga memandang perlu adanya selling price
29
berdasarkan nilai pasar perusahaan. Lebih lanjut Akram Khan
melengkapi, untuk mencegah spekulasi di pasar modal maka jual
beli saham harus diikuti dengan serah terima bukti kepemilikan
fisik saham yang diperjualbelikan.37
Di samping itu, secara lebih umum dalam transaksi saham
di pasar sekunder dengan unsur netting dan short selling
mengandung unsur gharar (penipuan), dalam ajaran Islam
dilarang, karena Rasulullah Saw. melarang jual beli yang di
dalamnya terkandung unsur gharar (HR Muslim).38 Para ulama
fikih mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan gharar itu
adalah sesuatu yang keberhasilannya diragukan apakah akan
tercapai atau tidak. Dengan demikian, transaksi yang mengandung
gharar berarti transaksi yang bisa menimbulkan kerugian besar
bagi salah satu pihak yang melakukan transaksi. Ahmad Musthafa
al-Zarqa‟, pakar hukum Islam kontemporer asal Syira, menyatakan
bahwa jual beli gharar itu adalah memperjualbelikan sesuatu yang
masih bersifat spekulatif, yang eksistensi dan tolok ukurnya tidak
jelas.39
Ajaran Islam amat mementingkan faktor kebenaran dan
kejujuran dalam suatu transaksi, sehingga segala bentuk penipuan,
sikap-sikap eksploitasi, dan membuat pernyataan palsu adalah
dilarang. Rasulullah Saw menyatakan:
“Apabila dua orang yang melakukan suatu transaksi
bersikap jujur dan benar, maka jual beli tersebut akan
mendatangkan kebaikan untuk mereka. Apabila mereka tidak
berterus terang dan berbohong, maka transaksi tidak mereka
capai” (HR al-Bukhari).40
Atas dasar itu, setiap pedagang berkewajiban untuk
menjelaskan kekurangan atau cacat komoditas yang dijualnya,
sehingga pembeli tidak tertipu, merasa kesal, dan sakit hati. Jika
unsur penipuan, eksploitasi, dan hal-hal yang merugikan pihak
37
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution.Investasi pada pasar
modal syariah.(Jakarta: Kencana, 2007), .78.
38
Imam Muslim ibn al-Hajjaj, s{ahih Muslim, (Beirut : Da>rul Ihya atTurats al-„Arabi>, 1978), 62.
39
Mustafa Ahmad az-Zarqa‟, al-Madkhal al-Fiqhi al-„Am: al-Fiqh alIslami> fi> Thaubihi al-Jadi>d (Beirut: Dar al-Fikr, 1968), 96.
40
Muhammad ibn Ismail al-bukhari, S}ahih al-Bukhari (Beirut: Dar alKitab al-Islami, tt.), 8.
30
konsumen, terdapat pada suatu transaksi, maka Rasulullah SAW.
memberi hak kepada konsumen untuk membatalkan atau
menerima transaksi itu apa adanya. Hak yang diberikan Islam ini
disebut dengan Haq al-Khiyar. Hak Khiyar ini ada yang disebut
dengan khiyar al-sharth (khiyar yang digunakan ketika salah satu
atau beberapa syarat yang disepakati bersama tidak terpenuhi), ada
khiyar al-s}ifah (khiyar yang digunakan ketika sifat objek transaksi
tidak terpenuhi), ada khiyar al-ru‟yah (khiyar yang digunakan
karena ketidakjelasan komoditas yang ditransaksikan), dan ada
khiyar al-„aib (khiyar yang digunakan ketika komoditas yang
menjadi objek transaksi mengandung cacat).41
Setelah kita sebutkan pendapat-pendapat ulama baik yang
mengharamkan maupun yang memperbolehkan perdagangan
saham, maka penulis memilih pendapat yang memperbolehkan
dengan syarat-syarat yang telah dipenuhi oleh perusahaan dan
saham-saham tersebut.
Dengan demikian, penulis mendukung pendapat yang
memperbolehkan perdagangan saham, karena pada prinsipnya
perdagangan saham tidak bertentangan dengan hukum Islam
selama perusahaan (emiten) tidak beroperasi dalam hal-hal yang
terlarang, seperti menghasilkan dan menjual minuman keras, dan
tidak melakukan transaksi dengan menggunakan riba baik dalam
menyimpan maupun meminjam, yang kesemuanya adalah
terpenuhinya etika ekonomi Islam dan akad transaksi syariah.
41
Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. (Damaskus : Daar
el-Fikr, 1997), 519.
31
BAB III
HUKUM SYARIAH TERHADAP PERDAGANGAN SAHAM
DI PASAR SEKUNDER
Pada bab sebelumnya, telah dikemukakan hal yang berkaitan
dengan perdebatan akademik dalam perdagangan saham di pasar
modal.
Dalam bab ini, akan dikemukakan analisis syariah terhadap
perdagangan saham di pasar sekunder. Hal tersebut digambarkan
dalam mekanisme penawaran saham, mekanisme harga saham dan
Pembagian keuntungan investasi saham.
A. Mekanisme Penawaran Saham
Mekanisme penawaran saham, merupakan cara yang
digunakan oleh penjual maupun pembeli untuk memperdagangkan
saham, hal ini berlaku umum di berbagai negara yang
menyelenggarakan bursa saham.
Sebagaimana dikemukakan pada pembahasan sebelumnya,
bahwa ada dua bentuk penawaran saham di Bursa Efek, yaitu
penawaran melalui Pasar Perdana dan penawaran melalui Pasar
Sekunder. Harga saham yang ditawarkan pada kedua pasar ini bisa
berbeda secara mayoritas. Harga saham di Pasar Sekunder, jauh
lebih tinggi dibandingkan harga saham di Pasar Perdana. Berikut
ini adalah analisis penawaran saham di kedua pasar ini melalui
pendekatan hukum Islam.
1. Penawaran saham di Pasar Perdana
Pasar perdana adalah bagian dari pasar modal yang
berhubungan dengan penerbitan efek baru. Perusahaan, pemerintah
atau lembaga-lembaga sektor publik dapat memperoleh dana
melalui penjualan saham baru atau penerbitan obligasi.
Pasar perdana (primary market) adalah pembelian surat
berharga oleh investor sebelum surat berharga tersebut dicatatkan
di bursa utama. Dalam pasar perdana, proses transaksi
dilakukan oleh investor dan perusahaan yang menerbitkan surat
berharga melalui perantara (pialang).1
1
Marzuki Usman, at all, Pengetahuan Dasar pasar Modal, (Jakarta: IBI,
1997), . 175.
32
Harga saham di Pasar Perdana, sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya, merupakan harga yang disepakati oleh
emiten dengan penjamin emisi, dan harga ini tidak bisa ditawar.
Harga saham yang dittetapkan ini melebihi harga nominal yang
tertera di lembaran saham. Kelebihan harga ini didasarkan atas
prospek perusahaan yang menjual saham dan kekuatan permintaan
pasar. Semakin banyak permintaan saham di pasar perdana
semakin tinggi harga saham tersebut. Dengan demikian, tinggi
rendahnya harga saham di pasar perdana amat tergantung kepada
kekuatan permintaan pasar, dan termasuk ke dalam hukum supply
and demand (penawaran dan permintaan).
Jika dilihat dari kacamata hukum Islam, perkembangan
harga juga didasarkan atas hukum supply and demand, yaitu
semakin banyak permintaan semakin tinggi harga suatu komoditi.
Istilah ini, dalam hukum ekonomi Islam disebut dengan hukm al„arad{ wa al-t}alab. Dalam persoalan harga, pemerintah tidak
boleh ikut campur menentukannya, sesuai dengan sabda
Rasulullah Saw.yang menyatakan :2
Dari Anas ibn Malik berkata dia: Telah melonjak harga (di
pasar) pada masa Rasulullah Saw. Mereka (para sahabat)
berkata: Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga bagi kami.
Rasulullah menjawab: Sesungguhnya Allah-lah yang menguasai,
yang member rezeki, yang memudahkan, dan yangn menetapkan
harga. Saya sungguh berharap bertemu dengan Allah dan tidak
seorang pun (boleh) meminta saya untuk melakukan suatu
kezaliman dalam persoalan jiwa dan dalam perosalan harta.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tokoh fikih dari
kalangan Hambali, hadis ini disabdakan Rasulullah SAW ketika
para sahabat memintanya untuk menetapkan harga (al-Tas‟ir)
komoditas yang diperjualbelikan di pasar, sedangkan harga barang
dalam keadaaan normal. Kenaikan harga ketika itu adalah
disebabkan permintaan yang banyak, sementara stok barang
menipis. Dalam keadaaan seperti ini, sebagaimana yang
dinyatakan Rasulullah Saw dalam hadis ini di atas, penetapan
harga oleh pemerintah merupakan suatu tindakan yang zalim; dan
2
Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abi Daud, (Mesir: Mustafa al-babi AlHalabi, 1958), 272.
33
berbuat zalim hukumnya haram.3 Sebaliknya, jika pemintaan
sedikit sedangkan stok barang menumpuk, maka sesuai dengan
hukum pasar, harga komoditas tersebut akan melemah. Akan
tetapi, jika komoditas yang menumpuk dengan harga yang lemah
itu diborong oleh seorang pedagang, lalu disimpannya, dengan
tujuan ketika harga komoditi itu naik baru kmoditi itu dilepas ke
pasar, maka tindakan seperti ini juga merupakan suatu kezaliman,4
dalam hal ini pemerintah boleh, bahkan wajib turun tangan untuk
mengendalikan harga tersebut, dan menghukum pelaku
penumpukan/penimbunan komoditi tersebut.5
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa agio,
kelebihan harga saham yang berhasil dijual di pasar perdana dari
harga nominal saham, merupakan sesuatu yang diperbolehkan
syara‟, karena kelebihan harga itu didasarkan atas hukum
mekanisme pasar (supply and demand). Penjualan saham di pasar
perdana itu dianggap sebagai objek jual-beli (al-Sil‟ah), yang
sudah tentu mempunyai harga jual di pasar, atas kesepakatan
antara pemilik dengan penjual. Transaksi saham di pasar perdana
juga demikian halnya, yaitu kesepakatan harga antara emiten
dengan penjamin emisi dikaitkan dengan permintaan pasar. Oleh
sebab itu, penjualan saham di pasar perdana dengan adanya agio,
merupakan sistem transaksi yang normal dalam hukum Islam.
Keabsahan transaksi saham di pasar perdana ini tentu saja
harus dibarengi dengan suatu prinsip utama dalam Islam, yaitu „an
tara>d}in minkum (atas dasar suka sama suka di antara kamu).
Kemudian di sisi lain, tingkat harga saham yang terjadi di pasar
perdana amat ditentukan oleh kekuatan pasar dan prospektus dari
perusahaan pemilik saham. Seseorang dalam membeli saham amat
mempertimbangkan prospek dari perusahaan yang menjual saham,
3
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyahsah
asy-Syar‟iyyah (Kairo: Mu‟assasah al-„Arabiyyah li ath-Thiba‟ah wa an-Nasyr.
1961), 285.
4
Tindakan penimbunan barang dengan tujuan harga komoditi naik dan
ketika naik baru komoditi itu dilepas ke pasar dalam hukum Islam disebut
dengan al-ihtikar. Perbuatan ihtikar ini, menurut hadis Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim ibn al-Hajjaj dari Ma‟mar ibn „Abdillah adalah
dilarang. Lihat Imam Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, (Beirut: Dar alKutub al-„Ilmiyah, 1983), 56.
34
dan sudah dapat dipastikan tujuan dari pembelian saham itu adalah
untuk mendapatkan keuntungan. Suatu perusahaan yang memiliki
prospektus yang baik dan cerah, tentu saja harga sahamnya akan
melonjak, karena amat diminati oleh investor, sehingga semakin
banyak saham suatu perusahaan yang dibeli investor, semakin baik
dan cerah eksistensi dan masa depan perusahaan tersebut. Atas
dasar itu, kelebihan harga saham yang diperjualbelikan di pasar
perdana dari harga nominal, menunjukkan bahwa perusahaan itu
memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang. Implikasi
lebih lanjut akan membawa kesejahteraan kepada perusahaan, para
investor, dan keuangan negara. Hal ini sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki oleh hukum Islam, yaitu untuk mencapai
kemaslahatan.
2. Penawaran Saham di Pasar Sekunder
Penjelasan tentang dibolehkannya saham telah membuka
peluang jual beli menurut harga pasar. Institusi yang
memungkinkan terjadinya jual beli ini adalah bursa efek sebagai
pasar sekunder.6
Penawaran
umum
(public
offering)
biasanya
berlangsung dalam suatu periode tertentu. Periode penawaran
umum adalah periode dimana efek ditawarkan kepada investor
oleh penjamin emisi melalui para agen penjualan yang
ditunjuk. Sementara yang dimaksud dengan penjatahan saham
adalah pengalokasian efek pesanan para investor sesuai dengan
jumlah yang tersedia, apabila suatu efek mulai tercatat di bursa,
maka pada saat itulah efek tersebut mulai diperdagangkan di
bursa. Perdagangan ini masuk ke pasar sekunder (secondary
market).7
Harga saham di pasar sekunder tidak lagi ditentukan oleh
emiten dan penjamin emisi (underwriter) sebagaimana halnya di
pasar perdana. Akan tetapi, berdasarkan teori penawaran dan
permintaan (supply and demand), disamping juga ditentukan oleh
prospek perusahaan yang menerbitkan saham (emiten). Atas dasar
6
Iggi H Achsien. Investasi Syariah di Pasar Modal. (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2000), 62.
7
Marzuki Usman, at all, Pengetahuan Dasar pasar Modal, (Jakarta: IBI,
1997), 176.
35
itu, harga saham di pasar sekunder bisa lebih tinggi dari harga
saham di pasar perdana. Hal ini tergantung kepada permintaan
pasar, sehingga harga saham di pasar sekunder bisa berfluktuasi
sangat tinggi, dan hal ini akan menjadikan para investor
kebingungan dan melakukan berbagai spekulasi. Misalnya, saham
X secara drastis naik 30% dalam waktu beberapa menit dan bisa
turun sampai 60% dalam waktu beberapa jam kemudian. Turun
naiknya harga saham ini terjadi disebabkan adanya unsur
permainan yang dilakukan oleh spekulan untuk mendapatkan
keuntungan (capital gain) dalam waktu singkat.8
Beberapa kegiatan di pasar modal yang seringkali menjadi
bahan diskusi terkait isu aspek kesyariahan baik oleh akademisi
maupun pelaku pasar adalah pelaksanaan perdagangan Efek di
bursa. Perdagangan Efek di bursa pada umumnya dilakukan
melalui beberapa tahapan yaitu tahapan pembukaan rekening,
tahap order, tahap pelaksanaan transaksi, tahap kliring dan
penjaminan serta penyelesaian.
Mekanisme dan tahapan perdagangan Efek tersebut, juga
berlaku untuk perdagangan Efek Syariah di bursa. Oleh karena
itu, untuk mengetahui apakah pelaksanaan perdagangan Efek
Syariah di bursa tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah
di Pasar Modal, kita perlu mengetahui secara detail isu-isu syariah
dalam pelaksanaan kegiatan pada tiap-tiap tahapan.
Dari sisi syariah, keseluruhan transaksi baik transaksi di
bursa maupun di luar bursa harus tunduk kepada hukum islam
tentang transaksi Sebelum menjadi istilah dalam capital dan
financial market dengan segala distorsinya
akibat
berbagai
penyalahgunaan, Trading secara substansi merupakan aktivitas
jual beli atau bai'.
Prinsip umum syariah dalam jual beli sebagaimana dapat
disimpulkan dari pendapat para ulama dalam kitab-kitab fiqih
seperti M. Rifa'i dalam Kifayatul Akhyar (184) dan Wahbah AzZuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yaitu:
1) Pada dasarnya diperbolehkan transaksi jual beli sebagai
salah satu sarana yang baik dalam mencari rezki. (QS. al8
Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia (Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan. 1997), 425.
36
Baqarah: 194, an-Nisa': 29)
2) Barang ataupun instrumen yang diperjualbelikan itu harus
halal sehingga dilarang menjualbelikan barang haram
seperti miras, narkoba, bunga bank ribawi. (QS. alMaidah: 3, 90)
3) Bermanfaat dan bermaslahat dengan adanya nilai guna
bagi konsumen maupun
pembeli serta tidak
membahayakan.
4) Barang yang diperjualbelikan dapat diserahkan, baik secara
langsung keseluruhan maupun secara simbolis
5) Barang yang diperjualbelikan harus jelas keadaannya,
sifat-sifatnya, kualitasnya, jumlah dan satuannya dan
karakteristik lainnya.
6) Dilakukan proses "ijab qabul" baik dalam arti
tradisionalnya maupun modern.
seperti dalam paper trading yang menampilkan dokumen
dagang berupa kertas maupun elektronic trading/ ecommerce yang menampilkan data komputer dan data
elektronik lainnya (paperless trading). Kedua media
tersebut substansinya menunjukkan sifat barang, mutu,
jenis, jaminan atas kebenaran data dan dokumen serta bukti
kesepakatan transaksi (dealing).
7) Transaksi dilangsungkan atas dasar saling sukarela ('an
taradhin), kesepahaman dan kejelasan. (QS. an-Nisa': 29)
8) Tidak ada unsur penipuan maupun judi (gambling). (QS.
al-Baqarah: 278, al- Maidah: 90)
9) Adil, jujur dan amanat
(QS. al-Baqarah: 78)
10) Dalil umum transaksi jual-beli dalam Allah berfirman:
"dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba..." (QS. al-Baqarah: 275). "Hai orang yang beriman!
Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu,"
(QS. an-Nisa': 29). "Hai orang yang beriman! Penuhilah akadakad itu" (QS. al-Ma'idah: 1)."kamu tidak (boleh) menganiaya
dan tidak (pula) dianiaya" (QS. al-Baqarah: 279).
37
Ajaran Islam amat mementingkan faktor kebenaran dan
kejujuran dalam suatu transaksi, sehingga segala bentuk penipuan,
sikap-sikap eksploitasi, dan membuat pernyataan palsu adalah
dilarang. Rasulullah Saw menyatakan:
“Apabila dua orang yang melakukan suatu transaksi bersikap
jujur dan benar, maka jual beli tersebut akan mendatangkan
kebaikan untuk mereka. Apabila mereka tidak berterus terang dan
berbohong, maka transaksi tidak mereka capai (HR al-Bukhari).9
Atas dasar itu, setiap pedagang berkewajiban untuk
menjelaskan kekurangan atau cacat komoditas yang dijualnya,
sehingga pembeli tidak tertipu, merasa kesal, dan sakit hati. Jika
unsur penipuan, eksploitasi, dan hal-hal yang merugikan pihak
konsumen, terdapat pada suatu transaksi, maka Rasulullah Saw.
memberi hak kepada konsumen untuk membatalkan atau
menerima transaksi itu apa adanya. Hak yang diberikan Islam ini
disebut dengan Haq al-Khiyar. Hak Khiyar ini ada yang disebut
dengan khiyar al-shart} (khiyar yang digunakan ketika salah satu
atau beberapa syarat yang disepakati bersama tidak terpenuhi), ada
khiyar al-s}ifah (khiyar yang digunakan ketika sifat objek transaksi
tidak terpenuhi), ada khiyar al-ru‟yah (khiyar yang digunakan
karena ketidakjelasan komoditas yang ditransaksikan), dan ada
khiyar al-„aib (khiyar yang digunakan ketika komoditas yang
menjadi objek transaksi mengandung cacat).10 Tujuan
disyari‟atkannya khiyar dengan segala bentuknya ini adalah agar
dalam suatu transaksi tidak ada pihak-pihak yang dirugikan,
sehingga tidak terjadi pengambilan hak orang lain secara batil,
sebagaimana firman Allah yang menyatakan:
“Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu memakan
harta kamu di antara kamu dengan jalan yang batil (dengan
melanggar ketentuan agama atau persyaratan yang disepakati)…
(al-Nisa‟/4: 29)11
9
Muhammad ibn Ismail al-bukhari, S}ahih al-Bukhari (Beirut: Dar alKitab al-Islami, tt.), 8.
10
Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>my wa Adillatuhu (Damaskus : Daar
el-Fikr, 1997), 519.
11
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 83.
38
Rasulullah melarang segala bentuk bisnis yang
mendatangkan uang yang diperoleh melalui cara untung-untungan,
spekulasi, dan ramalan (prediksi) yang bukan atas dasar suatu
usaha dan fakta. Di antara bentuk-bentuk transaksi yang
mengandung unsur untung-untungan, spekulasi, dan prediksi
tersebut adalah:
a. Transaksi habal al-hablah, yaitu memperjualbelikan seekor
unta betina, sementara unta tersebut belum lahir, tetapi diduga
akan segera lahir sesuai dengan jenis kelamin yang
diharapkan.12 Perdagangan saham di pasar sekunder,
sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, mengandung unsur
spekulasi, prediksi, dan untung-untungan sebagaimana yang
digambarkan dalam sabda Rasulullah tentang jual beli habal
al-hablah.
b. Transaksi muza>banah, yaitu tukar menukar buah yang masih
segar dengan yang sudah kering dengan gambaran bahwa
buah yang sudah kering sudah dapat dipastikan jumlahnya,
sementara buah yang masih segar masih berada di pohon.
Bentuk lainnya adalah muhaqalah, yaitu penjualah gandum
ditukar dengan gandum yang masih ada di dalam butirnya
yang jumlahnya menggunakan sistem terkaan. Rasulullah
Saw.dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Jabir ibn
Abdullah dan Abu Sa‟id al-Khudri melarang bentuk jual beli
muzabanah dan muhalaqah ini.13
Termasuk ke dalam hal ini jual beli sebelum mendapatkan
apa yang menjadi miliknya. Artinya, komoditas yang belum
dimiliki belum bisa ditransaksikan, karena dalam transaksi ini
terkandung unsur yang meragukan dan bersifat spekulatif. Dengan
demikian unsur gamblingnya amat kental. Akibatnya pihak-pihak
yang melakukan transaksi khususnya pembeli akan dirugikan.
Rasulullah Saw, sebagaimana sabdanya yang diriwayatkan oleh
Abdullah ibn Umar mengatakan: Barang siapa membeli makanan,
ia tidak boleh menjualnya sebelum ia menerima barangnya.14
12
Imam Muslim ibn al-Hajjaj, s{ahih Muslim (Beirut : Da>rul Ihya atTurats al-„Arabi>, 1978) 798.
13
Muhammad Ibn Ismail a-Kahlani al-S}an‟ani, Subul al-Sala>m
(Beirut: Da>r al-Fikr, 1985), Jilid III, 14.
14
Abu Daud, Jilid III, 60
39
Di samping itu, suatu transaksi dalam Islam juga tidak
boleh mengandung kesamaran, karena akan membawa kepada
sesuatu yang bersifat ketidakpastian (uncertainly). Kurangnya
informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan objek dan proses
suatu transaksi akan menimbulkan sifat keraguan dan
ketidakpastian, yang pada akhirnya akan menghilangkan sifat
keadilan dalam transaksi tersebut. Di dalam Islam, salah satu
syarat sah suatu transaksi adalah mengetahui secara jelas objek
yang ditransaksikan, sehingga tidak menimbulkan kekecewaan
pihak konsumsen di kemudian hari.
Kemudian, Islam juga melarang transaksi jual beli yang
mengandung unsur gambling (perjudian), karena transaksi seperti
ini semata-mata didasarkan atas suatu spekulasi yang
menimbulkan risiko dan ketidakpastian. Termasuk ke dalam
bentuk transaksi ini adalah yang didasarkan atas prediksi arah
pasar di masa yang akan datang oleh para investor melalui
kemampuan dan pengetahuannya. Atas dasar prediksi ini para
investor berupaya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya
melalui cara transaksi yang berbentuk gambling. Segala bentuk
upaya melalui gambling akan senantiasa bergantung kepada nasib,
sementara sikap spekulasi menampakkan ciri-ciri anti sosial. Sikap
tergantung pada nasib dan anti sosial tidak sejalan dengan ajaran
Islam, karena berlawanan dengan sikap etos kerja yang ditanamkan
Islam bagi setiap umatnya.
Afzalur Rahman, dalam bukunya, Economic Doctrines of
Islam, menyatakan bahwa bentuk-bentuk transaksi yang
mengandung unsur gharar dan jahalah itu di antaranya: 15
(a) Jual beli barang yang belum dibuat;
(b) Jual beli barang yang belum ada di tangan penjual;
(c) Jual beli buah-buahan yang belum masak;
(d) Jual beli barang yang belum ditentukan harga, jumlah, dan
kualitasnya; dan
(e) Jual beli barang yang menguntungkan satu pihak.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua bentuk
bisnis yang mengandung unsur-unsur yang telah disebutkan di atas
digolongkan sejenis dengan gambling (perjudian) dan oleh
15
Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam (Yogyakarta: Dana
Bhakti Wakaf, 1996), 183.
40
karenanya tidak diakui oleh Islam berdasarkan pernyataanpernyataan dari ayat-ayat al-Qur‟an dan al-Sunnah Rasulullah
Saw. Ada petunjuk yang tegas untuk meninggalkan berbagai
bentuk judi dan agar setiap muslim menghindarkan diri dari
pengaruh judi dalam rangka menentramkan dan mensejahterakan
masyarakat. Apabila peringatan dan larangan ini dilanggar, maka
mereka akan menerima konsekuensi perbuatan tersebut.
Islam menempatkan dan memberi kebebasan kepada para
pelaku ekonomi dalam menentukan harga pasar dan turun naiknya
harga secara normal ditentukan oleh mekanisme pasar. Namun
Islam mengecam dengan keras terjadinya kenaikan harga karena
ulah para spekulan yang ingin meraup keuntungan yang besar
dalam waktu yang singkat, sebagaimana yang terjadi di pasar
sekunder. Dalam kaitan dengan ini Ibnu Taimiyyah
mengemukakan bahwa setiap penyimpangan dari pelaksanaan
ekonomi yang jujur, seperti sumpah palsu, takaran yang tidak
tepat, dan niat jelek, dikecam oleh Islam.16
Lebih lanjut, Muhammad Nejatullah Siddiqi menjelaskan
bahwa Islam memberikan kepercayaan yang sangat besar terhadap
mekanisme pasar. Kepercayaan Islam terhadap mekanisme pasar
hendaklah dipahami dengan lurus dan benar, di mana secara
operasional mekanisme pasar berkolerasi secara langsung dengan
tindakan-tindakan para konsumen dan produsen. Agar terbentuk
mekanisme pasar yang Islami secara mutlak, falsafah moral Islam
menggabungkan norma keadilan sosial ekonomi, distribusi
pendapatan, pemerataan kekayaan, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, pasar merupakan gabungan aspek spiritual dan
peranan pemerintah.17 Di antara peran pemerintah tersebut adalah:
(a) menjaga hukum dan ketertiban serta mengamankan
keselamatan dan harta benda semua orang; (b) menjamin
berlakunya mekanisme etik bisnis Islam; (c) menjamin mekanisme
16
Ibnu Taimiyyah, al-Hisbah fi al-Isla>m wa Wazhifah al-Huku>mah
al-Isla>miyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah), 25.
17
Muhammad Nejatullah Siddiqi, Kegiatan Ekonomi Dalam Islam, alih
bahasa Anas Sidik (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 57.
41
pasar agar berjalan dengan efesien; (d) menanggung beban sarana
sosial dan fisik; dan (e) mengatur sistem keamanan masyarakat.18
Allah SWT dalam sebuah firman-Nya telah menyatakan
bahwa dalam gambling tersebut memang ada manfaatnya, namun
sisi kemudaratannya kerugiannya lebih besar.
Mereka bertanya kepadaku tentang khamar (segala
minuman yang memabukkan) dan judi, katakanlah: “Pada
keduanya (terdapat) dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. (QS alBaqarah/2: 219)19
Manfaat yang terdapat dalam gambling sifatnya hanya
sesaat, dan hal itu tidak dapat menyelesaikan berbagai persoalan
ekonomi yang dihadapi manusia. Oleh karena bahayanya yang
besar inlah agaknya Allah SWT kemudian menyatakan dengan
tegas bahwa perbuatan judi itu adalah perbuatan dilarang.
Hai orang-orang yang beriman ! sesungguhnya khamar
(dan segala yang memabukkan meskipun sedikit), judi, (berkorban
untuk) berhala-berhala, panah-panah (yang digunakan untuk
mengundi nasib) adalah perbuatan kekejian yang termasuk
perbuatan setan, maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu)...(QS
al-Ma‟idah/5: 90)20
Penegasan perjudian sebagai suatu perbuatan yang dilarang
karena membawa dampak yang negatif atas perilaku para penjudi.
Hal ini ditegaskan dalam ayat berikutnya yang berbunyi:
“Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui khamar dan
judi...(QS al-Ma‟idah/5: 91)21
Faktor spekulatif yang berlangsung dalam perdagangan
saham di pasar sekunder menurut A. Mannan, pemerhati ekonomi
Islam dari Pakistan, disebut juga dengan mengadu untung, yaitu
18
Amin Akhtar,”Kerangka Kerja Struktur Sistem Ekonomi Islam”,
dalam Ainur R. Sophiaan (Ed.), Etika Ekonomi Politik (Surabaya: Risalah Gusti,
1997), 101.
19
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 34.
20
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 123.
21
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 123.
42
suatu bentuk usaha yang pada hakikatnya merupakan gejala untuk
membeli sesuatu dengan harga murah, kemudian menjualnya
ketika harga tinggi (mahal). Apabila harga di masa depan lebih
mahal dari harga masa sekarang, maka para spekulan akan
berusaha membeli komoditas tersebut sebanyak-banyaknya,
kemudian menjualnya ketika harga sudah mahal. Demikian juga
halnya apabila harga di masa yang akan datang lebih rendah dari
harga yang berlaku sekarang, maka para spekulan juga akan
melepas seluruh sahamnya untuk menghindari kemerosotan harga
saham di masa yang akan datang.22 Faktor spekulasi yang terjadi di
pasar sekunder sebenarnya dilakukan oleh para investor yang ingin
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, bukan dilakukan
oleh perusahaan yang memasarkan saham di Bursa Efek.
Keuntungan yang diperoleh oleh emiten (perusahaan yang menjual
saham) hanya dari sisi bahwa saham perusahaannya menjadi
saham unggulan yang diperebutkan oleh para investor, sehingga
memberi prospek yang baik bagi perusahaan tersebut dengan
kepercayaan yang diberikan para investor.23
Isu-isu syariah yang dikemukakan di atas pada
perdagangan Efek terdiri dari banyak hal. Untuk menjelaskan
argumentasi diperbolehkannya perdagangan saham di pasar
sekunder, maka penulis ajukan argumentasi pada tahapan
perdagangan saham di pasar sekunder, antara lain pembukaan
rekening, pelaksanaan order yang dilakukan perantara,
pelaksanaan transaksi melalui mekanisme perdagangan secara
lelang berkesinambungan dan penyelesaian transaksi pada T+3.
Selanjutnya, isu syariah juga muncul ketika proses netting dan
novasi dalam kliring dan penjaminan transaksi Efek.
a. Perdagangan Efek Syariah di Bursa
Perdagangan Efek Syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI)
saat ini menggunakan prosedur dan tata cara dengan dapat dilihat
pada transaksi investor, sistem perdagangan dengan mekanisme
lelang berkesinambungan (continuous auction), jenis pasar yang
22
M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Penerjemah
Nastangin (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Waqaf, 1997), 292.
23
Monzer Kahf, Ekonomi Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995),
131.
43
digunakan dan tata cara penyelesaian dan penjaminan transaksi
Efek tersebut.
Berdasarkan beberapa Fatwa DSN-MUI terkait pasar modal
syariah antara lain Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001
tentang Pedoman plaksanaan investasi Untuk Reksa Dana
Syariah24, Fatwa DSN-MUI nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang
Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di
Pasar Modal25, serta Fatwa DSN MUI Nomor 80/DSNMUI/III/201126 diungkapkan bahwa pada dasarnya transaksi Efek
Syariah di pasar sekunder diperbolehkan. Hal ini dengan
argumentasi bahwa transaksi di bursa merupakan fiqh muamalah
sehingga hukum asalnya diperbolehkan kecuali ada hal-hal yang
dilarang. Selanjutnya, proses transaksi di bursa merupakan suatu
kelaziman dimana di setiap negara yang mempunyai Bursa Efek
akan melaksanakan transaksi dengan tata cara dan prosedur yang
relatif sama. Kebolehan dari pelaksanaan transaksi tersebut juga
telah diberikan oleh AAOIFI Nomor 21 tentang Surat Berharga
(Financial Papers).27 AAOIFI sebagai satu-satunya standard
setter syariah di dunia telah menyatakan bahwa jual beli saham
diperbolehkan. Hal ini dapat diartikan bahwa transaksi saham di
bursa juga telah diperbolehkan. Namun demikian, meskipun
diperbolehkan dan merupakan suatu kelaziman, terdapat beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam transaksi di bursa yaitu perlu
adanya batasan-batasan bahwa transaksi tersebut telah sesuai
syariah atau tidak.
Dalam transaksi di bursa sebagaimana diungkapkan sebelumnya
sudah diterbitkan fatwa MUI untuk memberikan kepastian atas
kesyariahan transaksi di bursa. Hal ini sejalan dengan argumentasi
bahwa setiap kegiatan (amal) perlu adanya aturan (hukum),
sehingga kegiatan perdagangan saham/Efek Syariah di Bursa perlu
dibuatkan fatwa kesyariahan atas transaksi tersebut. Namun
24
Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman
plaksanaan investasi Untuk Reksa Dana Syariah.
25
Fatwa DSN-MUI nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal
dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal.
26
Fatwa DSN MUI Nomor : 80/DSN-MUI/III/2011 Tentang Penerapan
Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar
Reguler Bursa Efek.
27
AAOIFI Nomor 21 tentang Surat Berharga (Financial Papers).
44
demikian,untuk sampai pada penyusunan fatwa tersebut, perlu
dipahami terlebih dahulu secara lebih mendasar hal-hal yang
dilakukan dalam mekanisme perdagangan tersebut.
1) Analisis Aspek Syariah Pada Tahap Pembukaan Rekening
dan Penyampaian Order
Dalam transaksi Efek di Bursa Efek Indonesia, nasabah
tidak secara langsung melakukan transaksi jual atau beli dengan
nasabah lainnya, tetapi melalui Perantara Pedagang Efek. Hal ini
juga terjadi pada pelaksanaan transaksi Efek dimana Perantara
Pedagang Efek melaksanakan order transaksi Efek dari nasabah.
Order nasabah diteruskan oleh Perantara Pedagang Efek ke
sistem perdagangan Bursa Efek oleh floor trader yang ada di
lantai bursa atau dealer di kantor Perusahaaan Efek Anggota
Bursa secara jarak jauh (remote trading), atau juga diteruskan
langsung ke sistem perdagangan melalui sistem online trading.
Untuk aturan dan mekanisme pembukaan rekening, Bapepam
LK sudah menerbitkan peraturan Nomor V.D.3 Tentang
Pengendalian Internal Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan
Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek, dimana Perusahaan Efek
harus membuat kontrak pembukaan rekening Efek reguler dengan
nasabah, membuat kontrak pembukaan rekening Efek pembiayaan
dengan nasabah untuk nasabah yang menerima fasilitas
pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bapepam dan
LK Nomor V.D.6 tentang Pembiayaan Transaksi Efek Oleh
Perusahaan Efek Bagi Nasabah dan Transaksi Short Selling Oleh
Perusahaan Efek, membuat kontrak pembukaan rekening Efek
lainnya dengan nasabah.28
Pada saat nasabah akan melakukan transaksi Efek, nasabah
tersebut diwajibkan untuk membuka rekening terlebih dahulu di
Perusahaaan Efek Anggota Bursa. Pembukaan rekening juga
dimungkinkan dilakukan secara tidak langsung yaitu melalui PE
non AB yang mempunyai kerja sama dengan Perusahaaan Efek
Anggota Bursa. Pembukaan rekening tersebut dilakukan dengan
cara mengisi formulir pembukaan rekening. Di dalam formulir
tersebut terdapat pernyataan yang tegas bahwa transaksi tidak
28
peraturan Nomor V.D.3 Tentang Pengendalian Internal Perusahaan
Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek.
45
dapat dilakukan secara langsung oleh nasabah. Namun demikian,
nasabah merupakan pihak yang mempunyai wewenang penuh
untuk melakukan transaksi sehingga setiap transaksi yang akan
dilakukan oleh AB harus didukung oleh persetujuan dari nasabah
terlebih dahulu. Dalam rangka pelaksanaan instruksi transaksi
Efek oleh nasabah tersebut, AB mengenakan biaya transaksi (fee
broker) kepada nasabahnya berkisar antara 0,2% s.d. 0,5% dari
nilai transaksi baik untuk transaksi beli maupun transaksi jual.
Selanjutnya, penyampaian order oleh nasabah untuk
melakukan pembelian dan penjualan Efek di bursa dapat
dilakukan baik secara manual, remote atau online. Dalam
mekanisme penyampaian order secara manual, nasabah datang
langsung ke galeri AB untuk memberikan instruksi jual atau beli
atas transaksi Efek di bursa. Instruksi tersebut akan diproses oleh
trader yang ada di lantai bursa dengan memasukkan instruksi
dimaksud ke JATS. Sementara itu dalam mekanisme
penyampaian order secara remote dan online, fungsi dari trader
yang ada di lantai bursa digantikan oleh sistem yang dikenal
dengan nama e-SPis.
Pelaksanaan input data ke e-SPis dilakukan dari
kantor/sistem di Perusahaan Efek yang langsung terhubung ke
sistem perdagangan di bursa yaitu Jakarta Automated Trading
System (JATS).
Berkenaan dengan transaksi pembukaan rekening nasabah
pada Perusahaan Efek dan penyampaian order tersebut, sesuai
dengan kaidah fiqh muamalah, karakteristik transaksi nasabah
tersebut dapat dikategorikan sebagai transaksi yang dilakukan
melalui wakil (akad wakalah). Hal ini didukung oleh adanya
pernyataan dalam pembukaan rekening nasabah bahwa transaksi
di bursa tidak dapat dilakukan secara langsung oleh nasabah.
Berdasarkan hal tersebut, nasabah memberikan wakalah kepada
Perusahaaan Efek Anggota Bursa untuk melakukan transaksi di
bursa dan Perusahaaan Efek Anggota Bursa memperoleh fee atau
ujrah atas pelaksanaan transaksi tersebut. Selanjutnya, mekanisme
penyampaian order secara manual, remote dan online dengan
menggunakan sistem JATS merupakan kemudahan yang diberikan
oleh teknologi dalam rangka meningkatkan mashlahah atau
manfaat bagi para pihak yang terlibat dalam transaksi Efek di bursa.
Transaksi di bursa baik yang dilakukan secara manual,
remote atau online merupakan transaksi tidak langsung namun
melalui Perantara Pedagang Efek yang menjadi AB. Sehingga
transaksi di bursa merupakan transaksi antar AB. Oleh karena itu,
46
dalam transaksi di bursa peran AB adalah sebagai wakil dari
nasabah yang secara substansi merupakan bagian rukun dan
syarat akad wakalah. Berdasarkan akad tersebut, AB akan
menerima fee (upah) wakalah dari para nasabah.
Wakalah secara bahasa berarti menjaga (al-hifzu) atau
pemberian kuasa (al- tafwidh).29 Para ulama sepakat membolehkan
wakalah di dalam hal jual beli baik dengan upah atau tidak. DSNMUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa berkaitan dengan
muamalah telah mengeluarkan Fatwa Nomor 10/DSNMUI/IV/2000 tentang Wakalah.30 Dalam fatwa tersebut
diputuskan antara lain bahwa wakalah dengan imbalan bersifat
mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak. Selain itu
juga diputuskan bahwa hal-hal yang diwakilkan harus diketahui
dengan jelas oleh orang yang diwakili, tidak bertentangan dengan
syariah Islam dan dapat diwakilkan menurut syariah Islam.
Adapun beberapa pendapat ulama tentang upah atau bayaran
perantara atau broker adalah sebagai berikut:
a. Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mugni wa as-syarah al
Kabir menyatakan: "seseorang boleh memberikan bayaran
kepada perantara untuk membelikannya selembar pakaian
 dan jika dia memberikan bayaran untuk menjual selembar
pakaian tersebut, sah hukumnya".31
b. Al-Asqolani dan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri pada
bab ujroh as-simsaroh sebagaimana disebutkan oleh Sya'ban
Muhammad Islam al-Barwary menyatakan: "Ibnu Sirin dan
Ibrohim berkata,"Tidak ada permasalahan dengan bayaran
perantara apabila dia membeli secara tunai." 32
Berdasarkan argumentasi tersebut perantara atau broker
diperbolehkan mendapatkan upah atas usahanya menjadi perantara
dalam perdagangan saham.
29
Ibn Manzur. Muhammad bin Akram. Lisan al-Arab,(Beirut: Da<r
Sadir), 735-736, fairuz abadi. Al-Qamus al-Muhith, 926
30
Fatwa Nomor 10/DSN- MUI/IV/2000 tentang Wakalah.
31
Ibnu Qudamah. Al-Mughni wa al-Sharah al-Kabi<r (Beirut: Da<r
al-Kitab al-Araby, 1983), 210-211
32
Sya‟ban Muhammad Islam Al-Barwary. Bursa Saham menurut
pandangan Islam (Kuala Lumpur : Berlian Publication, 2007), 58
47
a. Analisis Aspek Syariah Pada Tahap Pemrosesan Order dan
pelaksanaan
Order yang telah disampaikan oleh AB dalam sistem
perdagangan baik secara manual, remote maupun online akan
diproses pada sistem JATS secara elektronik.
Pemrosesan tersebut dilakukan melalui mekanisme lelang
berkesinambungan (continuous auction) dengan memperhatikan
prioritas harga (price priority) dan prioritas waktu (time priority).
Mekanisme yang ada pada lelang Efek di Bursa Efek
memungkinkan pihak yang melakukan penawaran terakhir
mendapat prioritas karena harga permintaan beli yang lebih tinggi
dari investor sebelumnya, atau harga penawaran jual lebih rendah
dari investor lain Dalam pelaksanaan lelang tersebut, AB tidak
mengetahui pihak yang menjadi lawan transaksinya. Pihak lawan
transaksi baru akan dapat diketahui setelah transaksi yang
dilaksanakan telah matched. Proses lelang tersebut akan diakhiri
dengan bertemunya (matching) permintaan beli dan penawaran
jual melalui sistem komputer BEI. Pada saat matching di sistem
JATS, transaksi Efek dikatakan mengikat dan hanya dapat
dibatalkan apabila disetujui oleh PE AB beli, PE AB jual, dan Bursa
Efek.
Pelaksanaan transaksi lelang telah juga dilakukan pada
jaman Rasulullah SAW. Hal ini dapat dilihat dalam Hadits Nabi
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibn Majah dari Anas bin
Malik. Dalam hadits tersebut antara lain dijelaskan bahwa
Rasulullah SAW pernah melakukan lelang atas selembar hils (alas
yang biasanya digelarkan di rumah), dan sebuah qa'b (qadah,
gelas) milik seorang laki-laki dari kaum Anshor. Dalam lelang
tersebut, Rasulullah menyerahkan kedua benda tersebut kepada
penawar dengan harga yang lebih tinggi.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori
dari A'ta menyatakan bahwa saya menyaksikan masyarakat
bersama dengan Rasulullah SAW menemukan bahwa tidak ada
yang salah dengan penjualan rampasan perang secara lelang. Ibnu
Abi Syaiba dan Sa'id Ibnu Mansur meriwayatkan bahwa Mujahid
mengatakan "Tidak ada yang haram dalam penjualan dengan
lelang.
48
Selanjutnya, pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam AlFiqh Al-Islami wa Adilatuhu menyatakan bahwa pendapat yang
paling benar adalah kebolehan tanpa syarat dari penjualan dengan
lelang. Pembuktian dari pendapat ini adalah bahwa gelas dan tikar
kecil disebutkan dalam hadits Anas bukan hadiah dan warisan. 33
Oleh karena itu, hal-hal yang disebutkan di atas harus
diinterpretasikan terhadap penerapan kebolehan untuk semua hal
yang secara tradisi dijual dengan cara lelang.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya transaksi
jual beli secara lelang tidak diharamkan dalam Islam. Transaksi
lelang yang dilakukan oleh Rasullullah SAW tersebut juga
membuktikan bahwa pada dasarnya transaksi lelang telah dikenal
pada jaman Rasullullah SAW meskipun masih sangat sederhana.
Namun demikian, untuk lebih memastikan bahwa continuous
auction telah sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar
Modal, kita perlu mengetahui lebih detail mekanisme transaksi
lelang tersebut dan diperlukan adanya fatwa DSN-MUI terkait
transaksi lelang dimaksud.
2) Analisis Aspek Syariah Pada Tahap Kliring, Penjaminan dan
Penyelesaian
Kliring, Penjaminan, dan Penyelesaian Transaksi Bursa
merupakan lanjutan kegiatan transaksi yang terjadi di Bursa Efek.
Kliring merupakan proses penentuan hak dan kewajiban Anggota
Kliring yang timbul di Transaksi Bursa. Kliring oleh KPEI
dilakukan dengan dua cara yaitu netting dan per transaksi. Pada
kliring secara netting maka seluruh hak dan kewajiban suatu AK
baik Efek maupun dana akan di hitung secara kumulatif sehingga
terlihat kewajiban berupa saldo yang wajib diserahkan dan atau
diterima AK tersebut. Pada kliring secara per transaksi, maka hak
dan kewajiban setiap AK di hitung masing-masing dan terpisah
atas setiap transaksi. Penjaminan merupakan kegiatan yang
dilakukan dalam rangka memastikan dipenuhinya hak dan
kewajiban bagi Anggota Kliring (AK) yang timbul dari Transaksi
Bursa.
33
Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>my wa Adillatuhu. (Damaskus :
Daar el-Fikr, 1997)
49
Fungsi
penjaminan bertujuan memberi
kepastian
terselenggaranya Transaksi Bursa bagi AK yang sudah
memenuhi kewajibannya, kepastian waktu penyelesaian, dan
penurunan frekuensi kegagalan penyelesaian transaksi. Dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut maka KPEI merupakan mitra
pengimbang sentral (central counterparty) dalam kegiatan kliring
dan penyelesaian transaksi terhadap Perusahaan Efek selaku
Anggota Bursa. KPEI bertindak selaku novator yang akan menjadi
pembeli dengan AK jual, dan menjadi penjual dengan AK beli.
Pada
praktiknya
dana
jaminan
dikelola
dan
diadministrasikan oleh KPEI untuk menjamin pemenuhan
kewajiban Anggota Kliring setelah agunan berupa hak terima atas
Efek dan atau uang, dan agunan lain Anggota Kliring serta
Cadangan Jaminan, tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban
Anggota Kliring kepada KPEI. Dalam rangka pelaksanaan
penjaminan tersebut KPEI akan memungut dana jaminan sebesar
adalah 0,01% dari nilai setiap transaksi di bursa dan tidak
membedakan besarnya nilai dana jaminan bagi nasabah baru
ataupun lama. Dana jaminan tersebut dikelola dalam bentuk
deposito berjangka, Surat Utang Negara (SUN) dan surat berharga
lainnya.
Dalam rangka penyelesaian transaksi, maka berdasarkan
instruksi penyelesaian (settlement instructions), KSEI melakukan
pemindahbukuan, baik Efek maupun dana pada rekening Efek PE
AB. Dalam rekening Efek PE AB jual, terjadi proses dimana
posisi sejumlah Efek yang akan diserahkan dalam sub rekening
nasabah jual dipindahkan ke rekening serah PE AB yang
selanjutnya diteruskan ke rekening KPEI.
Dalam fikih, proses penyelesaian transaksi ini tentunya
menjawab keraguan sebagian kalangan akan isu qabd dalam
transaksi perdagangan saham. Dimana Pembeli boleh menjual efek
setelah akad jual beli dinilai sah ketika terjadi kesepakan pada harga
serta jenis dan volume tertentu antara permintaan beli dan permintaan
jual, walaupun penyelesaian administrasi transaksi pembeliannya
dilaksanakan di kemudian hari berdasarkan prinsip qabdh hukmi.34
34
Fatwa DSN MUI Nomor : 80/DSN-MUI/III/2011 Tentang Penerapan
Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar
Reguler Bursa Efek.
50
Penyelesaian transaksi untuk pasar regular dilakukan pada
T+3, dan transaksi dikatakan mengikat di antara para pihak yang
bertransaksi pada saat bertemu (matched) di sistem JATS yaitu
(T+0). Perbedaan waktu penyelesaian dan pengikatan transaksi
mengakibatkan para pihak yang bertransaksi baru dapat
menggunakan Efek atau dana secara fisik pada (T+3), walaupun
secara hukum, hak itu telah melekat pada para pihak yang
bertransaksi pada (T+0).
Terkait dengan proses kliring dan penjaminan oleh KPEI
hal yang perlu diperhatikan dari prinsip syariah adalah terkait
dengan proses netting yang mencampurkan semua hak dan
kewajiban, proses novasi berupa peralihan hubungan transaksi
antara AK jual dengan AK beli kepada KPEI. Dalam proses
netting, besarnya hak dan kewajiban AB beli atau AB jual atas Efek
maupun dana dilakukan melalui penghitungan besarnya nilai
setiap transaksi jual dan beli atas Efek dan dana yang dibutuhkan
untuk transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam proses netting AB
akan menjadi pihak yang berpiutang dan pihak yang berutang
sekaligus. Dalam rangka menentukan besarnya nilai hak dan
kewajiban akhir atas dana dan Efek tersebut, terlebih dahulu akan
terjadi pengalihan utang piutang untuk memperoleh besarnya hak
dan kewajiban AB.
Dalam fiqh muamalah, secara umum pengalihan utang
piutang sering disebut dengan hawalah.
‫التحويل‬
Hiwâlah
atau
hawâlah
bahasa
berarti
“memindahkan”. Mayoritas fuqaha mendefinisikan hawâlah
dengan ‫“ نقل الدين من ذمة اىل ذمة أخرى‬pengalihan hutang dari
tanggungan seseorang menjadi tanggungan orang lain”.35
Dalam Himpunan Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional hawâlah
didefinisikan sebagai akad pengalihan hutang dari satu pihak yang
berhutang kepada pihak lain yang wajib menanggung
(membayar)-nya,36
35
Nazih Hammad, Mu´jam al-Muşţalahât al-Iqtişâdiyah fî Lugat alFuqahâ‟, (Virginia: The International Institute of Islamic Thought, 1994), hal.
147.
36
Dewan Syari‟ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Himpunan
Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional, (Ciputat: Gaung Persada, 2006), Edisi Revisi,
hal. 75.
51
Beberapa syarat dalam hawalah yang harus dipenuhi
sehingga suatu transaksi hawalah tidak bertentangan dengan
prinsip syariah adalah sebagai berikut: para pihak yang
bertransaksi harus berkompeten, persetujuan para pihak atas
transaksi hawalah, persetujuan kreditor dan pihak yang menerima
pengalihan utang (transferee) harus diberikan pada saat kontrak,
subyek transaksi hawalah harus utang (dain) dan bukan barang
yang spesifik (ain). Selanjutnya, berdasarkan mayoritas mahzab
fiqh, transferee wajib mempunyai utang kepada pengutang
pertama (principal debtor) dan principal debtor (muhil) harus
mempunyai utang kepada kreditor (muhal).
Pada saat KPEI mengambil alih hak dan kewajiban para AK
dalam novasi, transaksi hawalah juga dilakukan di dalamnya.
Oleh karena itu, syarat dari transaksi hawalah akan berlaku pula
dalam kegiatan novasi, sehingga kegiatan tersebut tidak
bertentangan dengan prinsip syariah. KPEI juga melakukan
kegiatan penjaminan dalam rangka memberikan kepastian hak dan
kewajiban dari AK yang bertransaksi. Secara umum, dalam fiqh
muamalah kegiatan penjaminan tersebut sering disebut dengan
kafalah.
Kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penanggung
(kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak
kedua atau yang ditanggung (makful „anhu, aşil).37 Dalam
pengertian lain kafalah juga berarti mengalihkan tanggungjawab
seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggungjawab
orang lain sebagai penjamin.38
Beberapa syarat kafalah yang perlu dipenuhi adalah
adanya pihak penjamin (KPEI), pihak berutang dan berpiutang
(AK beli dan AK jual), dan adanya obyek penjaminan (Efek atau
dana).
Jaminan yang diberikan oleh AK tersebut akan dikelola
oleh KPEI. Pengelolaan dalam bentuk deposito berjangka di
bank konvensional akan menimbulkan percampuran antara dana
jaminan dari AK dengan dana-dana ribawi di bank tersebut. Hal ini
37
Dewan Syari‟ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Himpunan
Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional, (Ciputat: Gaung Persada, 2006), Edisi Revisi,
hal. 69.
38
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syari‟ah Suatu Pengenalan
Umum, (ttp: Tazkia Institute, 1999), hal. 177.
52
mengakibatkan dana jaminan tersebut mengandung riba dan
bertentangan dengan prinsip syariah.
Selain dari beberapa hal yang telah diuraikan di atas,
transaksi bursa juga mengenal dan melaksanakan transaksi
derivatif seperti short selling, margin trading, pinjam meminjam
Efek, dan REPO. Berdasarkan fatwa DSN-MUI nomor 40/DSNMUI/X/2003 disebutkan antara lain bahwa transaksi yang dilarang
antara lain meliputi ba' al-ma'dum (short selling), margin trading,
dan transaksi- transaksi lain yang mengandung unsur dharar,
gharar, riba', maysir, risywah, maksiat dan kezaliman. Oleh
karena itu, pelaksanaan transaksi derivatif tersebut masih
dikategorikan sebagai transaksi yang dilarang.
b.
Analisis Aspek Syariah Dalam Perdagangan Efek di Over The
Counter
Sebagaimana pengertian Transaksi di Luar Bursa dalam
Peraturan bapepam-LK Nomor III.A.10, transaksi di Luar Bursa
merupakan perjanjian jual beli saham antar Perusahaan Efek atau
antara Perusahaan Efek dengan Pihak lain yang tidak diatur oleh
Bursa Efek, dan transaksi antar Pihak yang bukan Perusahaan
Efek. Apabila diuraikan berdasarkan pola hubungan antar pihakpihak di atas dalam bertransaksi, maka akan terdapat hubungan
sebagai berikut:
Gambar
Transaksi Efek melalui perantara Perusahaan Efek
Gambar
Transaksi tidak melalui perantara Perusahaan Efek
53
Berdasarkan 2 (dua) pola hubungan transaksi di atas,
transaksi di luar bursa khususnya yang dilakukan melalui
perantara yaitu Perusahaan Efek akan mempunyai mekanisme
transaksi yang tidak berbeda dengan transaksi bursa. Mekanisme
tersebut antara lain meliputi pembukaan rekening, penyampaian
order dan pemrosesan order. Hal ini berarti, aspek syariah pada
transaksi di bursa terkait dengan hal-hal tersebut juga berlaku
untuk transaksi di luar bursa.
Selanjutnya, transaksi di luar bursa juga dapat dilakukan
tanpa melalui perantara. Transaksi tersebut dapat diartikan sama
dengan transaksi langsung diantara investor penjual dan pembeli
diluar mekanisme bursa. Transaksi tersebut dipandang dari sisi
kesyariahan merupakan transaksi yang halal sepanjang memenuhi
rukun transaksi jual beli.
Dalam praktek saat ini, mayoritas investor yang bermaksud
membeli Efek di pasar modal baik dalam pasar perdana maupun
dalam pasar sekunder wajib memiliki rekening Efek di suatu
Perusahaan Efek. Akan tetapi, secara aturan pada dasarnya
investor yang akan membeli Efek di pasar perdana dapat meminta
fisik Efek sebagai bukti kepemilikan pembelian Efek suatu
perusahaan tertentu tanpa perlu untuk membuka rekening Efek
selanjutnya investor tersebut dapat pula menjualnya kepada
investor lain diluar lantai bursa.
Dari sisi syariah, keseluruhan transaksi baik transaksi di
bursa maupun di luar bursa harus tunduk kepada hukum islam
tentang transaksi.
Berdasarkan prinsip umum syariah dalam transaksi tersebut
di atas, maka meskipun transaksi di luar bursa secara umum dapat
dilakukan tanpa mengacu pada Peraturan Bapepam-LK ataupun
sistem perdagangan di Bursa Efek tertentu, namun wajib tunduk
pada prinsip hukum islam mengenai transaksi sebagaimana
tersebut di atas.
B. Analisis Aspek Pengaturan
Perdagangan Efek Secara Syariah
54
Terkait
Mekanisme
Pengaturan mekanisme perdagangan Efek secara syariah
merupakan hal yang sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan pada
pasar modal di Indonesia telah diperjualbelikan Efek-efek yang
termasuk
dalam kategori Efek syariah sebagaimana telah
diatur dalam Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek
Syariah. Di samping itu, regulator harus dapat memberikan
kepastian hukum terhadap para stakeholder yang secara rasional
maupun emosional ingin melaksanakan transaksi Efek berdasarkan
prinsip-prinsip syariah.
Sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya,
secara umum mekanisme perdagangan Efek baik di bursa maupun
di luar bursa yang ada saat inibelum sepenuhnya dilaksanakan
sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal. Oleh karena
itu, dalam pembahasan ini akan dilihat apakah isu-isu syariah yang
telah diidentifikasi dan dibahas dalam sub bab A dan B telah
diatur secara memadai dalam perangkat aturan yang ada.
Pada tahap pembukaan rekening dan penyampaian order,
isu syariah yang sangat melekat dalam tahap ini adalah
pelaksanaan transaksi secara tidak langsung oleh nasabah. Oleh
karena itu, untuk memenuhi kesyariahan dari transaksi dimaksud
perlu adanya akad wakalah antara nasabah dan Perusahaan Efek
baik secara implisit maupun eksplisit.
Wakâlah atau wikâlah yang secara etimologi berarti al39
tafwîd (penyerahan atau pendelegasian), didefinisikan sebagai
pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam
hal-hal yang boleh diwakilkan.40
Berkenaan dengan hal tersebut, beberapa peraturan
Bapepam- LK secara implisit telah mengatur hal-hal terkait akad
wakalah pada tahap pembukaan rekening dan penyampaian order,
yaitu peraturan nomor V.D.3 tentang Pengendalian Interen
Penyelenggaraan Pembukuan Oleh Perusahaan Efek, peraturan
nomor V.D.9 tentang Pedoman Perjanjian Agen Perusahaan Efek
Anggota Bursa Efek, dan peraturan nomor V.D.10 tentang Prinsip
Mengenal Nasabah Oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar
39
Nazih Hammad, Mu´jam., hal. 354.
Dewan Syari‟ah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Himpunan
Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional (Ciputat: Gaung Persada, 2006), Edisi Revisi,
hal. 62.
40
55
Modal.
Di dalam Peraturan Nomor V.D.3 antara lain diatur bahwa
kontrak antara Perusahaan Efek dengan nasabah mengenai
pembukaan rekening harus memuat antara lain bahwa dana dan
Efek dalam rekening Efek atas nama nasabah dapat disimpan
dalam rekening Efek pada bank kustodian atau Lembaga
Penyimpanan dan penyelesaian atas nama Perusahaan Efek
untuk kepentingan nasabah bersangkutan. Dalam kontrak tersebut
juga dilengkapi dengan dokumen antara lain surat kuasa dari
nasabah yang memberikan wewenang kepada pihak ketiga untuk
memberikan instruksi kepada Perusahaan Efek sehubungan
dengan rekening Efek nasabah tersebut, dan keterangan yang jelas
terkait dengan jati diri nasabah.
Selanjutnya, berkenaan dengan adanya pihak ketiga yaitu
PE non AB yang terlibat dalam transaksi Efek nasabah, sehingga
dalam penyampaian order maupun transaksi lainnya, nasabah akan
bertransaksi melalui PE non AB terlebih dahulu dan dilanjutkan
transaksi antara PE non AB dengan PE. Berkenaan dengan hal
tersebut, Peraturan Nomor V.D.9 mengatur bahwa dalam hal
Anggota Bursa Efek membuka rekening Efek untuk nasabah
Perusahaan Efek bukan Anggota Bursa Efek, maka Anggota Bursa
Efek wajib membuat kontrak pembukaan rekening Efek yang
ditandatangani ole nasabah, Anggota Bursa Efek, dan Perusahaan
Efek bukan Anggota Bursa Efek. Kontrak tersebut wajib memuat
ketentuan yang mengatur tentang ada tidaknya pemberian
kewenangan oleh nasabah kepada Perusahaan Efek bukan AB
untuk menerima pesanan secara lisan sehubungan dengan rekening
Efek nasabah dimaksud pada Anggota Bursa Efek.
Dalam rangka lebih mengetahui informasi mengenai
nasabah, Peraturan Nomor V.D.10 tentang Prinsip Mengenal
Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal
telah mengatur tugas dan fungsi institusi terkait dengan penerapan
prinsip mengenal nasabah. Berdasarkan peraturan tersebut,
penyedia jasa kuangan di bidang pasar modal wajib memantau
pengkinian profil nasabah dan profil transaksinya.41
41
Peraturan Nomor V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh
Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal.
56
Pada tahap pemrosesan order nasabah dan pelaksanaan
transaksi, isu syariah yang penting adalah mengenai mekanisme
lelang berkelanjutan. Sedangkan pemrosesan order dilakukan
secara otomatis melalui sistem JATS- Next G dan telah diatur
dalam peraturan bursa terkait perdagangan Efek. Terkait dengan
lelang berkelanjutan, Bapepam-LK tidak mengatur mengenai hal
tersebut. Peraturan Nomor III.A.10 tentang Transaksi Efek hanya
mengatur secara umum terkait transaksi Efek. Dalam peraturan
tersebut antara lain dinyatakan bahwa Transaksi bursa adalah
kontrak yang dibuat oleh Anggota Bursa Efek sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan oleh Bursa Efek mengenai jual beli
Efek, pinjam- meminjam Efek, atau kontrak lain mengenai Efek
dan harga Efek. Di samping itu, Peraturan Nomor III.A.10 juga
mengatur bahwa pelaksanaan transaksi Efek untuk nasabah
pemilik rekening dilakukan oleh Perusahaan Efek untuk
kepentingan rekening nasabahnya sesuai dengan kontrak antara
Perusahaan Efek dengan nasabah tersebut.42
Dalam ketentuan Bursa terkait perdagangan Efek yaitu
Peraturan Nomor II- A Tentang Perdagangan Efek, bursa telah
mengatur mengenai mekanisme perdagangan Efek, pihak-pihak
yang terlibat dalam perdagangan Efek, hak dan kewajiban masingmasing pihak terkait, dan penggunaan sistem yang digunakan
dalam pemrosesan order nasabah. Namun demikian dalam
Peraturan bursa belum secara jelas diatur mengenai mekanisme
lelang berkesinambungan secara syariah.
Hal ini disebabkan, DSN-MUI belum menerbitkan fatwa
terkait pedoman pelaksanaan lelang berkesinambungan yang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.
Tahap terakhir dari transaksi di bursa adalah kliring,
penjaminan dan penyelesaian transaksi. Isu syariah yang diangkat
pada tahap ini adalah terkait netting, novasi, dana jaminan dan
penyelesaian transaksi pada (T+3). Kegiatan kliring merupakan
tugas KPEI sebagaimana diatur dalam Peraturan KPEI Nomor II.5
tentang Kliring Transaksi Bursa Tanpa Warkat. Dalam peraturan
tersebut antara lain dinyatakan bahwa KPEI melakukan Kliring
terhadap hak dan kewajiban Anggota Kliring yang timbul dari
42
Peraturan Nomor III.A.10 tentang Transaksi Efek hanya mengatur
secara umum terkait transaksi Efek.
57
Transaksi Bursa pada Bursa Efek sesuai dengan penjanjian antara
KPEI dengan Bursa Efek. Dalam proses kliring tersebut hak dan
kewajiban baik Efek maupun dana dari masing-masing anggota
kliring yang melaksanakan transaksi akan tercatat dalam Daftar
Hasil Kliring (DHK).
Peraturan Bapepam Nomor III.B.6 tentang Penjaminan
penyelesaianTransaksi telah mengatur antara lain bahwa Bursa
Efek wajib mengatur setiap jenis transaksi bursa dan wajib
membuat kontrak dengan lembaga kliring dan penjaminan
mengenai tata cara penjaminan penyelesaian transaksi bursa.
Selanjutnya dalam peraturan tersebut juga mengatur mengenai
tanggung jawab direksi lembaga kliring dan penjaminan untuk
memastikan bahwa semua pesanan transaksi bursa anggota kliring
sebelum dilaksanakan mempunyai agunan yang cukup pada
rekening jaminan anggota kliring tersebut dan rekening tersebut
dapat dikendalikan untuk penyelesaian kewajiban anggota kliring
kepada lembaga kliring dan penjaminan.43
Peraturan Bapepam Nomor III.B.7 tentang Dana jaminan
antara lain diatur bahwa dana jaminan adalah kumpulan dana dan
atau Efek yang diadministrasikan dan dikelola oleh Lembaga
Kliring dan Penjaminan.44 Dalam Peraturan tersebut juga diatur
bahwa dana jaminan hanya dapat diinvestasikan dalam Surat
Utang Negara dan atau deposito bank dengan komposisi yang
disetujui oleh komite kebijakan kredit dan pengendalian risiko.
Pengadministrasian dan pengelolaan dana jaminan pada Surat
Utang Negara dan deposito bank sangat dimungkinkan akan
terjadi percampuran dengan dana-dana lainnya yang bersifat ribawi.
Oleh karena itu, untuk mengurangi potensi percampuran tersebut,
bagi investor yang ingin dana investasinya dikelola secara syariah
perlu disediakan tempat pengadministrasian dan pengelolaan yang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
Pada transaksi di luar bursa, berdasarkan Peraturan
Bapepam dan LK Nomor X.M.3 tentang Pelaporan Transaksi Efek
antara laian dinyatakan bahwa setiap Pihak dapat melakukan
transaksi Efek di pasar sekunder baik di Bursa Efek maupun di
43
Peraturan Bapepam Nomor
III.B.6
tentang Penjaminan
penyelesaianTransaksi.
44
Peraturan Bapepam Nomor III.B.7 tentang Dana jaminan
58
luar Bursa Efek. Transaksi-transaksi tersebut wajib dilaporkan
kepada Bapepam-LK melalui Penerima Laporan Transaksi Efek.
Pelaporan tersebut dilakukan oleh Partisipan. Sesuai dengan
Peraturan tersebut, Partisipan adalah Perantara Pedagang Efek,
Bank, atau Pihak lain yang disetujui Bapepam- LK, yang
menggunakan sistem dan/ atau sarana pelaporan Transaksi Efek
dan terdaftar pada Penerima Laporan Transaksi Efek. Oleh karena
itu, transaksi di luar bursa wajib untuk dilaporkan kepada
Bapepam-LK.
Berdasarkan isu syariah dan regulasi yang mengatur
mengenai transaksi Efek di pasar sekunder, dapat dilihat bahwa
peraturan-peraturan yang ada telah mengatur transaksi syariah
baik di bursa maupun di luar bursa secara jelas. Hal ini akan
meningkatkan kejelasan bagi pihak yang berkepentingan dengan
transaksi Efek atau mengurangi ketidakpastian (gharar) dalam
pelaksanaan transaksinya.
Untuk beberapa tahapan transaksi seperti pembukaan
rekening nasabah dan penyampaian order, pengaturan untuk hal
tersebut telah dilakukan secara esensi dan implisit tidak
bertentangan dengan prinsip syariah. Namun demikian, terdapat
beberapa isu syariah seperti lelang berkesinambungan, netting,
novasi, pengelolaan dan pengadministrasian dana jaminan, serta
waktu penyelesaian transaksi yang berbeda dengan terjadinya
transaksi yang perlu dikaji lebih lanjut.
Unsur permainan harga dapat dilakukan dengan cara: (a)
Netting, yaitu membeli saham pada awal perdagangan dimulai dan
langsung dijual pada hari itu juga dalam posisi keuntungan tanpa
harus mengeluarkan modal. (b) Short Selling, yaitu menjual saham
saham pada posisi harga tertentu, kemudian membeli pada hari
yang sama, yaitu saat harga saham turun. Kedua cara ini sangat
lazim dilakukan di pasar modal dalam rangka mencari untung
yang lebih besar (capital gain).45
Disamping unsur spekulasi yang tinggi, terdapat faktor lain
yang mengguncang harga saham di Bursa Efek, di antaranya
faktor insider trading (infromasi orang dalam), Kemudian ada lagi
faktor corner, yaitu sejenis manipulasi pasar dalam bentuk
45
Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia. (Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan. 1997), 425.
59
menguasai pasokan saham. Melalui corner ini harga saham bisa
direkayasa dengan cara melakukan transaksi fiktif (semu).46
Berdasarkan sabda Rasulullah Saw. Yang menyatakan: 47
Dari Ma‟mar ibn „Abdillah ra. berkata dia : Rasulullah
Saw. telah bersabda: Tidak boleh ada perbuatan ihtikar kecuali
dari orang-orang yang berbuat salah” (HR Muslim)
Dengan demikian, praktik netting dan short selling yang
berlaku di pasar sekunder sebagai cara permainan harga saham
termasuk ke dalam kategori ihtikar yang dilarang shara‟.
Larangan ini sangat rasional, karena akan membawa dampak
negatif bagi kestabilan pasar, bahkan bisa menghancurkan para
pedagang.
Kemudian, akibat perilaku para spekulan di pasar sekunder,
harga saham sulit untuk ditebak dan sulit untuk stabil, karena
fluktuasi harga di lantai bursa bisa terjadi pada setiap saat. Hal ini
juga akan membawa dampak yang negatif bagi para pengusaha
dan investor sendiri. Unsur-unsur spekulatif yang merugikan
masyarakat dalam berbagai transaksi amat dikecam oleh Islam.
Dalam kajian hukum Islam unsur spekulatif ini disebut
dengan jaha>lah (ketidakpastian). Secara definitif al-jaha>lah
diartikan sebagai suatu unsur yang tidak jelas pada kualitas,
kuantitas, atau harga suatu komoditas. Transaksi yang
mengandung unsur jaha>lah ini dilarang dalam Islam, karena bisa
merugikan para pelaku ekonomi dan menimbulkan pertengkaran
di antara mereka. Misalnya, terjadinya ketidakpastian tentang
harga atau komoditas yang ditransaksikan, atau tanggal waktunya
jelas.
Di samping itu, secara lebih umum dalam transaksi saham
di pasar sekunder dengan unsur netting dan short selling
mengandung unsur gharar (penipuan), yang di dalam ajaran Islam
dilarang, karena Rasulullah Saw. melarang jual beli yang di
dalamnya terkandung unsur gharar (HR Muslim).48 Para ulama
fikih mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan gharar itu
46
Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia (Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan. 1997), 411.
47
Imam Muslim ibn al-Hajjaj, s{ahih Muslim, (Beirut : Da>rul Ihya atTurats al-„Arabi>, 1978), 56.
48
Imam Muslim ibn al-Hajjaj, s{ahih Muslim, (Beirut : Da>rul Ihya atTurats al-„Arabi>, 1978) h. 62.
60
adalah sesuatu yang keberhasilannya diragukan apakah akan
tercapai atau tidak. Dengan demikian, transaksi yang mengandung
gharar berarti transaksi yang bisa menimbulkan kerugian besar
bagi salah satu pihak yang melakukan transaksi. Ahmad Musthafa
al-Zarqa‟, pakar hukum Islam kontemporer asal Syira,
menyatakan bahwa jual beli gharar itu adalah memperjualbelikan
sesuatu yang masih bersifat spekulatif, di mana eksistensi dan
tolok ukurnya tidak jelas.49
C. Mekanisme Harga Saham dalam Pasar Modal Syariah
Ada beberapa prinsip dasar untuk membangun sistem pasar
modal yang sesuai dengan ajaran Islam, antara lain, tidak
diperkenankan penjualan dan pembelian secara langsung. Saat ini,
jika seseorang ataupun sebuah perusahaan ingin menjual atau
membeli saham, dia akan menggunakan jasa broker atau pialang.
Kemudian broker tersebut akan menghubungi jobbers dan
menyampaikan maksud untuk bertransaksi, baik dalam pembelian
maupun dalam penjualan saham.
Kemudian para jobber ini menawarkan dua rate harga
yaitu, rate harga yang akan dibelinya yang biasanya lebih rendah
dan rate harga yang akan dijualnya yang biasanya lebih tinggi.
Selanjutnya para jobber berkewajiban untuk membeli saham
tersebut. Transaksi model ini memberikan dua implikasi. Yang
pertama, para jobber akan melakukan pembelian saham meskipun
mereka belum tentu membutuhkannya.
Mereka membeli saham dengan harapan akan dapat
menjualnya kembali kepada pihak yang memerlukan. Hal ini akan
membuka pintu spekulasi. Para spekulan mengetahui bahwa
mereka dapat membeli saham yang menguntungkan dari pasar
karena para jobber ini mampu menyediakan ready stock. Begitu
pula bila saham tersebut ternyata kurang menguntungkan, mereka
secara cepat pula melepasnya. Implikasi selanjutnya adalah
perubahan harga hanya ditentukan oleh kekuatan pasar, dimana
tidka ada perubahan yang berarti dari nilai intrinsik saham.
Dalam ajaran Islam, aturan pasar modal harus dibuat
sedemikian rupa untuk menjadikan tindakan spekulasi sebagai
49
Mustafa Ahmad az-Zarqa‟, al-Madkhal al-Fiqhi al-„Am: al-Fiqh alIsla>mi fi> Tsaubihi al-Jadi>d (Beirut: Dar al-Fikr, 1968), 96.
61
sebuah bisnis yang tidak menarik. Untuk itu prosedur
pembelian/penjualan saham secara langsung tidak diperkenankan.
Prosedurnya, setiap perusahaan yang memiliki kuota saham
tertentu memberikan otoritas kepada agen di lantai bursa, untuk
membuat deal atas sahamnya. Tugas agen ini adalah
mempertemukan perusahaan tersebut dengan calon investor, dan
bukan membeli atau menjualnya secara langsung.
Saham-saham tersebut dijual ataupun dibeli jika memang
tersedia. Jika banyak pihak yang menginginkan saham tertentu,
maka mereka terlebih dahulu harus terdaftar sebagai applicant, dan
saham tersebut kemudian dijual/dibeli dengan prinsip first-comefirst-served (siapa datang dahulu dia dilayani).
Saat ini, harga saham ditentukan oleh kekuatan supply dan
demand. Sedangkan dalam aturan Islam, penentuan harga saham
berbeda dengan penentuan harga seperti yang terjadi pada saat ini.
Jika kita melihat balance sheet dari joint stock company, maka
terlihat bahwa aset sama dengan modal saham ditambah dengan
kewajiban. Aset tersebut merupakan representasi dari modal,
dimana kewajiban diasumsikan dengan nol. Sehingga, sertifikat
sahamnya memiliki nilai tertentu, dimana nilainya akan sama
dnegan nilai asetnya. Setiap harga saham yang di atas atau di
bawah nilai asetnya, tidak menunjukkan kondisi sesungguhnya.
Tetapi kekuatan pasar mampu membuat harga saham tersebut di
atas/di bawah nilai asetnya. Dalam pandangan Islam, untuk
mencegah terjadinya distorsi ini, harga saham harus sesuai dengan
nilai intrinsiknya.
Adapun formula perhitungannya adalah: harga saham sama
dengan modal saham + keuntungan – kerugian + akumulasi
keuntungan – akumulasi kerugian, yang kesemuanya dibagi
dengan jumlah saham.50 Formula ini akan memberikan nilai
sebenarnya dari sertifikat saham, dan akan menggambarkan
kondisi yang sesungguhnya. Tidak ada seorang pun yang
diperbolehkan untuk membeli atau menjual pada berbagai level
harga kecuali berdasarkan regulasi harga yang telah ditetapkan.
Prinsip dasar lainnya adalah penelitian account books
secara cermat. Praktek standar manajemen bisnis dan akunting
50
Muhammad Akram, Issues in Islamic Economics (Michigan: Islamic
Publication, 1983)
62
harus diterapkan pada semua perusahaan yang telah memiliki
kuota saham tertentu. Kemudian, perlu ada proses audit dan
investigasi secara mendadak untuk meneliti kebenaran dari balance
sheet suatu perusahaan. Selain itu, tiap perusahaan harus diminta
untuk mengumumkan posisi keuangannya setiap tiga bulan sekali,
sehingga publik akan mengetahui berapa berapa seseungguhnya
nilai intrinsik dari sahamnya minimal 4 kali dalam setahun.
Tentu saja tanggal penutupan suatu perusahaan akan
berbeda dengan perusahaan lainnya, sehingga tanggal
pengumuman posisi keuangannya pun akan berbeda-beda. Dengan
demikian, hampir setiap minggu sepanjang tahun, akan ada
penutupan dan pengumuman posisi keuangan, dan hal ini akan
tetap membuat pasar aktif sepanjang tahun. Prinsip dasar ini juga
melarang perusahaan untuk menjual saham mereka sendiri.
Perusahaan selanjutnya dilarang untuk menjual sahamnya sendiri
di pasar tanpa ada izin dari pencatat/pendaftar Joint Stock
Company.
Sudah seharusnya harga efek syariah mencerminkan nilai
valuasi ril dari aset yang menjadi dasar penerbitan efek tersebut.
Skenario bentukan harga saham syariah seharusnya mampu
mencerminkan rambu syariah, dimana harga pasar tidak berbeda
secara signifikan dengan nilai riil saham. Karena nilai pasar
merupakan cerminan dari kondisi riil perusahaan dan kalkulasi
ekspetasi perkembangannya. Pasar yang dikenal dalam aturan
main syariah menganut sistim kompetisi bebas dan terbuka –
walaupun tidak mutlak, dengan begitu nilai pasar sebagai akibat
dari tindakan spekulasi maupun intervensi seharusnya tidak terjadi
dalam pasar modal syariah.
Konsep kepemilikan aset dalam Islam menegaskan bahwa
syariah melarang umatnya untuk memiliki atau mendapatkan
keuntungan dengan cara-cara yang tidak sehat, seperti spekluasi
(gambling), monopoli, mencuri, ghas{ab dan riba karena dalam
setiap kegiatan tersebut terkait dengan unsur kedzaliman. Etika
kepemilikan Islam juga melarang umatnya untuk melakukan
manipulasi informasi (al- gha>shi, ghara>r dan Kizb). Hal ini
yang kemudian menjadi alasan syariah untuk menetapkan sejumlah
63
syarat dalam setiap transaksi.51 Aturan umum rambu syariah
berkenaan dengan mekanisme harga dalam pasar modal syari‟ah
yang sehat, menurut pengamatan penulis paling tidak harus
berporos kepada pencerminan sejumlah nilai berikut ;
a. Konsep „an tara>d{in, artinya harga saham benar-benar
mencerminkan harga equilibrium yang dihasilkan dari proses
titik temu antara penawaran dan permintaan yang wajar.
Sebagaimana yang disinyalir dalam al-Quran dalam surat An
Nisa ayat 29, sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu memakan
harta kamu di antara kamu dengan jalan yang batil (dengan
melanggar ketentuan agama atau persyaratan yang
disepakati)… (al-Nisa‟/4: 29).52
Kemudian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh
Muslim dari Nizhami Abbas R.A, Rasulullah Saw bersabda:
Dari Thawus dari Abdullah ibn Abbas ra. dia berkata:
“Rasulullah bersabda: Jangan kamu menyokong para
pedagang dari dusun dan jangan pula orang (pedagang) kota
mendatangi orang-orang (pedagang) dusun!” Lalu Thawus
bertanya kepada Ibn Abbas tentang maksud pedagang kota
mendatangi orang (pedagang) dusun? Ibn Abbas berkata:
“yang bertindak sebagai perantara dagang (dengan unsur
penipuan harga sebenarnya di pasar)”. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dari kedua nas{ di atas, dapat disimpulkan bahwa syari‟ah
melarang perlakuan distorsi pasar dengan adanya manipulasi
penawaran maupun permintaan melalui sejumlah tindakan
spekulatif tertentu. Padahal praktek spekulatif adalah salah
satu satu fenomena yang kerap terjadi dalam perdagangan
51
Yusuf Kamal, al-Isla>m wa al-Maza>hib al-Iqtis}adiyah alMu‟akhirah (Mansȗrah-Mesir: Da>r al-Wafa‟ li al-T}aba>‟ah wa al-Nas}r wa
al-Tauzî, 1990), 32
52
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 83
64
saham di pasar sekunder, sehingga mengakibatkan fluktuasi
harga saham yang sama sekali tidak berkaitan dengan keadaan
ataupun kegiatan ekonomi perusahaan dimaksud. Dalam hal
ini J.M Keynes mensinyalir Tingkat investasi tertentu dikuasai
oleh tingkat rata-rata harapan pihak-pihak yang terlibat dalam
bursa efek, dan bukan dipengaruhi oleh perkiraan para
pengusaha, pencerminan kecenderungan ini dapat dilihat dari
pergerakan harga saham.53
b. Prinsip pelarangan Ikhika>r (penimbunan/monopoli) yaitu
melakukan pembelian secara besar-besaran suatu efek agar
dapat mempengaruhi secara signifikan terjadinya perubahan
harga. Hal ini telah disinyalir oleh Nizha>mi Taimiyah
bahwa:54
“Penjual dilarang dengan sengaja untuk tidak menjual
sesuatu kecuali dengan harga yang mereka dapat temukan
sendiri”.
Perilaku seperti ini tidak bisa diterima oleh logika
syari‟ah, dimana disebutkan dalam hadist Rasulullah Saw,
bahwasanya:
“Barang siapa berupaya melakukan tindakan untuk
mempengaruhi harga pasar orang muslim, sehingga harga
menjadi naik, maka adalah hak Allah untuk menempatkannya
di dalam api neraka pada hari kiamat nanti”. (HR Abu Daud
dan Tarmidzi)
Imam Malik menyatakan bahwa:
“Tindakan monopolistik tidak dapat dibenarkan
karena dapat menaikkan harga dan merusak pasar…”.55
Lebih tegas lagi Rasulullah Saw bersabda :
53
Metwally, M.M., Teori dan Model Ekonomi Islam (Jakarta: Bangkit
Daya Insani, 1995), 176
54
Nizhami Taimiyyah, al-Hisbah fî al-Islâm (Mansurâh-Mesir: Dâr
elWafa‟, 1967), 18
55
Ali Abdurrasul, Al-Mabâdi‟ al-Iqtishâdiyyah fî al-Islâm (Kairo: Dâr
el-Nashr, 1989), 62
65
“Barang siapa melakukan tindakan monopolistik
maka ia telah bersalah/berdosa”. (HR Muslim)
c. Konsep Islam yang menegaskan pelarangan intervensi
pemerintah dalam menentukan harga pasar atas barang
tertentu. Jika dilihat dari kaca mata Islam, perkembangan
harga juga didasarkan atas hukum supply and demand, yaitu
semakin banyak permintaan semakin tinggi harga sutu
komoditi. Dalam konsep ekonomi Islam istilah ini dikenal
juga dengan hukm al-„arad{ wa al-t{alab. Dalam persoalan
harga, pemerintah tidak boleh ikut campur menentukannya,
hal ini sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan dari Anas
bahwasanya pada kondisi normal Nabi menolak untuk
menetapkan harga, walaupun pada saat itu terjadi kenaikan
harga yang signifikan akibat dari titik temu permintaan dan
penawaran, Nabi bersabda:
Dari Anas ibn Malik berkata: “Telah melonjak harga di
pasar) pada masa Rasulullah saw. Mereka (para sahabat)
berkata: Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga bagi kami.”
Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah-lah yang
menguasai, yang memberi rezeki, yang memudahkan, dan
yang menetapkan harga. Saya sungguh berharap bertemu
dengan Allah dan tidak seorangpun (boleh) meminta saya
untuk melakukan suatu kezaliman dalam persoalan jiwa dan
dalam persoalan harta.” (H.R Abu Daud)
Menurut Ibn Qayyim al Jauziyyah, tokoh fikih dari
kalangan Hanafi, hadist ini disabdakan Rasulullah saw., ketika
para sahabat memintanya untuk menetapkan harga (tas‟ir)
komoditas yang diperjual belikan di pasar, sedangkan harga
barang dalam keadaan normal. Kenaikan harga ketika itu
adalah disebabkan oleh permintaan yang banyak, sementara
stok barang menipis. Dalam keadaan seperti ini, sebagaimana
diterangkan dalam hadist diatas, intervensi (penetapan) harga
66
oleh pemerintah merupakan tindakan zalim; dan berbuat zalim
hukumnya haram.56
Berdasarkan uraian diatas maka agio, kelebihan harga
saham yang berhasil di jual di pasar perdana dari harga
nominal saham, merupakan sesuatu yang dibolehkan syara‟,
karena kelebihan harga itu didasarkan atas hukum kebebasan
pasar (suply and demand). Penjualan saham di pasar perdana
itu dianggap sebagai objek jual beli (al-sil‟ah), yang sudah
barang tentu mempunyai harga jual di pasar, atas kesepakatan
antara pemilik dan penjual; yaitu kesepakapatan harga emiten
dengan penjamin emisi dikaitkan dengan permintaan pasar.
Oleh sebab itu, penjualan saham di pasar perdana dengan
adanya agio, merupakan sistem transaksi yang normal dalam
hukum Islam.57
Namun demikian, apabila kondisi tidak normal,
misalkan terjadi praktek monopoli terhadapa suatu komoditi
secara besar-besaran, maka pemerintah atau badan otoritas
tertentu dapat melakukan intervensi untuk mencegah
terjadinya distosri pasar. Ini merupakan salah satu fungsi dari
konsep al-hisbah (fungsi pengawasan pasar; Amar ma‟ruf dan
nahi munkâr) dalam Islam. Intervensi tersebut dapat berupa
penghentian penjualan efek atau menentukan harga tertentu
melalui ketentuan harga rata-rata tertimbang dari transaksi
pada hari terakhir penutupan pasar sebelum terjadinya distorsi
atau manipulasi dari pelaku pasar.
d. Konsep pelarangan al-jaha>lah dan ghuru>r (asymetrik
information) dalam proses transaksi jual beli, artinya setiap
informasi yang berkaitan dengan saham ataupun value of the
firm yang mengeluarkan saham tersebut harus terdistribusikan
secara merata dan transaparan. Hal ini mengingat bahwa
biasanya hitungan rasio keuangan, nilai penjualan (sales),
produktivitas dan lainnya adalah faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi harga saham. Dalam hal ini imam al-Qurafi
56
Ibnu Qayyim, Al Thuruq al Hukmiyyah fîî al Siyâsah al syar‟iyyah
(Kairo: Mu‟assasah al „Arabiyyah li al Thibâ‟ah wa al Nasyr, 1961), 285
57
Nasrun Haroen, Perdagangan Saham di Bursa Efek ; Tinjauan
Hukum Islam (Jakarta: Yayasan Kalimah, 2000),81
67
menegaskan bahwa berkenaan dengan konsekuensi hukum aljaha>lah dan ghuru>r dapat dikategorikan menjadi tiga
tahapan; Pertama, apabila al-jaha>lah dan ghuru>r yang
berlaku itu signifikan maka hal ini jelas dilarang secara
syari‟ah. Kedua, apabila tidak terlalu signifikan maka para
fuqoha berbeda pendapat, ada membolehkan dan ada pula
yang melarang. Ketiga, namun apabila al-jaha>lah dan
ghuru>r tersebut tidak signifikan maka hal ini dapat ditolerir
oleh syari‟ah.58
Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw bersabda :
“Nabi melarang jual beli yang mengandung unsur tipu
daya”. (H.R Muslim dan Ahmad)
Selain itu konsep fiqhiyyah juga menegaskan
pelarangan para pelaku pasar untuk mempraktekkan sistim
kerja dari sejumlah transaksi berikut ; jual beli An-Najasy
yaitu adanya kesepakatan antara penjual dengan pihak ketiga
untuk melakukan penawaran palsu sehingga dapat
mempengaruhi perilaku calon pembeli yang sebenarnya.
Kemudian jual beli al-ghabân yaitu suatu transaksi jual beli
yang dilakukan di bawah atau di atas harga yang sebenarnya.
Dalam transaksi jenis ini sangat terbuka lebar untuk terjadinya
asymetrik information antara pelaku pasar. Syari‟ah menjamin
adanya keterbukaan dalam hal informasi yang menyangkut
kinerja perusahaan sehingga penentuan harga melalui
mekanisme pasar haruslah berdasarkan prediksi kondisi
keuangan riil dari perusahaan tersebut. Terakhir Islam
melarang jual beli al-ma‟du>m yaitu jenis penjualan efek
yang tidak atau belum dimiliki langsung oleh si penjual.
Islam menjamin penentuan harga dilakukan melalui
mekanisme pasar yang sehat. Transaksi jual beli efek pada
pasar modal syari‟ah dilakukan dengan perintah menjual atau
perintah membeli tanpa disertai dengan harga yang telah
ditentukan sebelumnya. Ini artinya, harga beli atau harga jual
efek harus ditentukan di lantai baursa sesuai dengan harga
pasar pada saat dilakukan transaksi (harga pasar). Dalam
transaksi ini, calon pembeli dan penjual sebelumnya tidak bisa
58
Ahmad al-Qurafi,
al-Furuq (Kairo: Maktabah al-Azhariyyah,
1974),265
68
ikut andil dalam penentuan hrga. Seorang pialang di
perdagangan pasar modal syari‟ah hanya bisa menawarkan
kepada investor mereka sesuai dengan harga pasar di lantai
bursa pada saat transaksi.
Mengenai mekansime seperti di atas, perspektif justifikasi
fiqhiyahnya masih dalam tataran perdebatan (ikhtilâf). Beberapa
pandangan populer dalam hal ini yang dapat penulis kemukakan
adalah sebagai berikut :
1. Al-syarkhasyi menjelaskan bahwa mekanisme seperti ini tidak
diperbolehkan. Karena harga suatu barang yang diperjual
belikan harus diketahui jumlahnya pada saat transaksi
dilakukan. Untuk itu, transaksi efek dengan penentuan harga
menurut mekanisme pasar pada saat yang akan datang
merupakan transaksi yang tidak diperbolehkan menurut
prinsip syari‟ah.59
2. Ibn Qayyim mengatakan bahwa tidak ada persyaratan yang
mengatakan bahwa harga haruslah diketahui dan ditentukan
secara rinci, selama penentuan harga pada saat transaksi
mengedepankan prinsip an-tarâdlin dan jauh dari perselisihan
antara pihak-pihak yang melakukan transaksi. Dari alasan
tersebut maka kelompok ini membolehkan transaksi efek
dengan harga pasar.60
Mekanisme jual beli saham yang terkait dengan
karakteristik yang diperlukan daalam membentuk pasar modal
syariah adalah sebagai berikut:61
1. Semua saham harus diperjualbelikan pada bursa saham.
2. Bursa perlu mempersiapkan pasca perdagangan dimana saham
dapat diperjualbelikan melalui pialang.
3. Semua perusahaan yang mempunyai saham yang dapat
diperjualbelikan di Bursa Efek diminta menyampaikan
informasi tentang perhitungan (account) keuntungan dan
59
Sholah Jaudah, Burshâh al-Aurâq al-Mâliyyah: Ilmiyyan wa
Amaliyyan (Kairo: al-Ahram), 6-7
60
Ibn Qayyim, I‟lam al-Muwâqi‟in „an Rabb al-„Alamîn (Kairo:
Maktabah Kuliyyah al-Azhariyyah, 1968), 5
61
Metwally M.M., Teori dan Model Ekonomi Islam (Jakarta: Bangkit
Daya Insani, 1995), 178-179
69
4.
5.
6.
7.
8.
9.
kerugian serta neraca keuntungan kepada komite manajemen
bursa efek, dengan jarak tidak lebih dari 3 bulan.
Komite manajemen menerapkan harga saham tertinggi (HST)
tiap-tiap perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan
sekali.
Saham tidak boleh diperjualbelikan dengan harga lebih tinggi
dari HST.
Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST.
Komite manajemen harus memastikan bahwa semua
perusahaan yang terlibat dalam bursa efek itu mengikuti
standar akuntansi syariah.
Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu
minggu periode perdagangan setelah menentukan HST.
Perusahaan hanya dapat menerbitkan saham baru dalam
periode perdagangan, dan dengan harga HST.
D. Pembagian Keuntungan Investasi Saham
Perdagangan yang didasarkan atas dasar suka sama suka
tanpa dibarengi oleh unsur-unsur penipuan, spekulasi, dan
eksploitasi manusia atas manusia amatlah dianjurkan oleh Islam,
karena unsur-unsur tersebut membawa kepada kerugian pihak lain;
yang di dalam al-Quran digambarkan dengan memakan harta
orang lain dengan cara yang batal.
“Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu
memakan harta kamu di antara kamu dengan jalan yang batil
(dengan melanggar ketentuan agama atau persyaratan yang
disepakati)… (al-Nisa‟/4: 29).62
Pengertian suka sama suka dalam ayat ini bukan dalam
bentuk kamuflase, yang pada lahirnya terlihat unsur kerelaan tapi
pada batinnya ada unsur keterpaksaan. Pernyataan suka sama suka
dalam ayat ini memang merupakan suatu perasaan atau kehendak
yang tidak kelihatan dari luar, tetapi muncul dari hati masingmasing pedagang dalm rangka mendapatkan ridha dari Allah, yang
diungkapkan dalam tindakan yang tulus. Cara berdagang seperti
62
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknananya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 83
70
inilah yang dipuji oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah sabdanya
yang berbunyi:
Dari Rifa‟ah ibn Rafi‟ bahwa Rasulullah Saw. ditanya
orang tentang apa profesi yang terbaik? Rasulullah menjawab:
“Berusaha dengan tangan sendiri dan setiap jual beli itu adalah
diberkati” (HR al-Bazzar dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim)
Oleh sebab itu, segala keuntungan yang diperoleh melalui
jual beli yang diberkati oleh Allah akan memberikan manfaat yang
besar bagi para pedagang, jika hak-hak orang lain pada keuntungan
tersebut juga dikeluarkan.63
Sistem dan mekanisme perdagangan saham di pasar
perdana, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, masih
merupakan perdagangan biasa, di mana selembar saham
diperdagangkan sesuai dengan kuantitas yang masih wajar.
Artinya, saham ditawarkan dengan mengajukan harga tertentu
yang ditetapkan berdasarkan keadaan perusahaan dan kekuatan
pasar. Oleh sebab itu, keuntungan yang diperoleh dari perdagangan
saham ini masih dalam batas-batas yang wajar dan dilakukan
dengan prinsip transparansi, sehingga pemilik saham mengetahui
segala persoalan yang berkaitan dengan perusahaan dan
prospeknya di masa yang akan datang.
Keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan go public akan
dibagi kepada seluruh pemegang saham sesuai dengan persentase
saham masing-masing. Oleh sebab itu, pembagian keuntungan ini
sejalan dengan sabda Rasulullah Saw. yang menyatakan:
Dari Abu Hurairah ra. berkata dia: telah bersabda
Rasulullah Saw..: “Keuntungan itu berimbang dengan tanggung
jawab (HR al-Bukhari)
Kemudian jika dianalogikan dengan akad al-syirkah dalam
ekonomi Islam, maka pembagian keuntungan tersebut juga
63
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Turmudzi,
Rasulullah Saw..menyatakan: “Bahwa pada setiap harta seseorang itu ada hak
orang lain”. Di antara hak-hak orang lain yang ada pada harta seseorang itu
adalah dalam bentu sedekah, nafkah, infak, dan zakat.
71
disesuaikan dengan persentase saham yang dimiliki oleh para
investor.64 Pembagian keuntungan ini, pihak perusahaan harus
bersifat transparan dan dibicarakan dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS), sehingga tidak terjadi kecurangan-kecurangan.
Untuk itu, bagi suatu perusahaan yang akan membagi
keuntungannya (dividen) diperlukan audit perusahaan tersebut,
sehingga berapa jumlah keuntungan perusahaan pada tahun yang
sudah berjalan dapat diketahui oleh para investor sebagai pemilik
kolektif dari perusahaan tersebut.
Keuntungan yang diperoleh perusahaan, dapat pula
dijadikan modal tambahan terhadap perusahaan dalam upaya
mengembangkan perusahaan. Jika hal ini dilakukan, maka
keuntungan yang diperoleh para investor sesuai dengan persentase
saham masing-masing dijadikan sebagai saham tambahan bagi
yang bersangkutan. Cara seperti ini di dalam hukum ekonomi
Islam dapat dibenarkan, bahkan amat dianjurkan agar sebuah
perusahaan, sebagai bentuk kerjsama dan dalam rangka saling
menolong, dapat berkembang, dan dengan sendirinya keuntungan
yang diharapkan pun bertambah besar. Di sisi lain, kelebihan dana
atau modal yang diperoleh oleh perusahaan dan dibagikan kepada
investor merupakan harta yang produktif dan bisa menggairahkan
ekonomi.
Dengan demikian, investasi dalam bentuk pembelian saham
di pasar perdana ini dapat dianalogikan sebagai syirkah al-„inan
dalam hukum ekonomi Islam, di mana masing-masing investor
yang menanamkan investasi di suatu perusahaan tersebut tidak
harus sama kuantitasnya. Atas dasar itu pula, keuntungan yang
diperoleh oleh masing-masing investor juga tidak sama, melainkan
disesuaikan dengan besarnya saham masing-masing.
Dalam hal perusahaan yang go public itu bangkrut, maka
seluruh kerugian ditanggung bersama oleh pemegang saham
masing-masing. Hal ini sejalan dengan sebuah pernyataan Ali ibn
Abi Thalib yang menyatakan:”Laba (keuntungan) itu tergantung
kepada apa yang mereka sepakati” Sebaliknya, kerugian yang
diderita oleh perusahaan juga sesuai dengan jumlah modal masing-
64
Lihat Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Isla>my wa Adillatuhu. (Damaskus
: Daar el-Fikr, 1997)Jilid IV, h. 643
72
masing.65 Prinsip keadilan seperti inilah yang harus ditegakkan
sehingga perjalanan perusahaan menjadi sehat dan nuansa saling
membantu dan tolong menolong antara pengelola perusahaan
dengan pemegang saham dapat terjalin dan tercapai dengan baik.66
Lebih lanjut, pembagian keuntungan yang diperoleh dari
penjualan saham di pasar sekunder, sebenarnya juga sama halnya
dengan pembagian keuntungan yang diperoleh dari penjualan
saham di pasar perdana, yaitu dibagi sesuai dengan jumlah modal
yang diinvestasikan dalam bentuk pemilikan saham. Persoalan
yang muncul kemudian adalah terjadinya kenaikan harga saham
secara mendadak, yang menyebabkan keuntungan pun muncul
secara mendadak. Seandainya kenaikan harga saham suatu
perusahaan yang go public tersebut dalam bentuk perdagangan
yang sehat maka cara-cara mendapatkan keuntungan tersebut tidak
menjadi persoalan. Hanya saja, disamping karena prospek
perusahaan cukup baik, kenaikan harga saham suatu perusahaan di
pasar sekunder juga amat dipengaruhi oleh pedagang perantara,
permainan harga saham dalam bentuk netting, short selling, insider
trading dan corner; yang keempat bentuk tindakan ini tidak dapat
diterima dan disahkan oleh hukum ekonomi Islam.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa permainan
harga saham dengan cara netting dan short selling dalam hukum
ekonomi Islam disebut dengan al-ihtikar dan perbuatan ini
dilarang oleh ajaran Islam, karena mengandung unsur zhulm
(aniaya/kezaliman). Di sisi lain permainan netting dan short
selling ini menjadikan pasar tidak sehat dan perkembangan harga
pasar tertekan dan prinsip transparansi harga tidak ada. Dikatakan
demikian, para pemburu saham mulai memborong saham-saham
yang ditawarkan dan menahannya sampai harga saham naik, untuk
kemudian melepasnya ke pasar dengan harga tinggi. Cara seperti
inilah yang dalam ekonomi Islam disebut dengan al-ihtikar, dan
tindakan seperti ini oleh Rasulullah Saw.dalam sabda beliau yang
berbunyi :
65
Muhammad Nejatullah Siddiq, Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil
dalam Hukum Islam, Penerjemah, Fakhriyah Mumtihani (Yogyakarta: Dana
Bhakti Prima Yasa, 1996), 15
66
Lihat Taqiyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi
Alternatif Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), 157
73
Dari Ma‟mar ibn „Abdillah ra. Berkata dia, sesungguhnya
Rasulullah telah bersabda: “Tidak boleh ada perbuatan ihtikar
(penimbunan suatu komoditi oleh pedagang sehingga harga
melonjak dan ketika itu komoditi tersebut batu dilepas ke pasar),
kecuali bagi orang-orang yang berbuat salah (HR Muslim)
Dalam kaitannya dengan permainan netting dan short
selling di pasar sekunder, secara riil hal ini dapat mengganggu
kestabilan harga saham di Bursa Efek, apalagi kalangan peminat
saham tindakan ini dikenal dengan nama “menggoreng saham”,
yang sudah pasti bersifat negatif terhadap stabilitas harga di Bursa
Efek.
Kemudian yang tak kalah peranannya dalam permainan
harga saham di lantai bursa sehingga harga saham menjadi sangat
tidak stabil adalah permainan insider trading dan corner, yaitu
permainan orang dalam untuk memanipulasi pasar, dengan cara
melakukan transaksi fiktif dalam penjualan saham. Dalam hukum
ekonomi Islam permainan seperti ini bisa dianalogikan dengan
“bai‟u al-hadhir li badin”, yang dilarang oleh Rasululllah Saw.
Majelis Tarjih Muhammadiyah, menyatakan bahwa
terdapat sisi positif dan negatif dalam perdagangan saham di Bursa
Efek. Unsur positifnya adalah upaya memobilisasi dana
masyarakat dalam memajukan suatu perusahaan. Bahkan lebih dari
itu, perdagangan saham di Bursa Efek bisa menjadi standar
peredaran uang di suatu negara. Sementara unsur negatifnya adalah
karena adanya unsur spekulasi, jahalah, dan gharar, yang
semuanya itu dilarang dalam Islam; apalagi jika dibarengi dengan
permainan netting, short selling, insider trading, dan corner.67
Sementara itu Muhammad Syafi‟i Antonio, pengamat
ekonomi Islam di Indonesia. menyatakan bahwa unsur spekulatif
di pasar modal sangat tinggi dan termasuk kedalam kategori
gharar faisy (unsur spekulasi yang amat tinggi) dan dapat
menimbulkan uncertainty terhadap hukum dari sisi harga. Di
samping itu, perusahaan yang go public tidak menjadikan publik
sebagai penentu keputusan, melainkan keputusan ditentukan oleh
67
Laporan Wartawan dalam, Editor, No. 12/Tahun III/25 November
1989, 13.
74
pemilik utama saham, karena yang bersangkutan memiliki lebih
dari 50% saham perusahaan tersebut.68
Disadari bahwa pada setiap perdagangan akan ada unsurunsur spekulasi, namun unsur spekulasi yang besar akan membawa
kepada ketidakstabilan pasar, sekaligus fluktuasi harga akan
muncul, sehingga para konsumen akan resah. Di sisi lain, bahwa
Bura Efek dapat menggairahkan perekonomian suatu negara, yang
pada akhirnya akan membawa dampak positif bagi rakyatnya.
Akan tetapi, kegairahan perekonomian di Bursa Efek semestinya
tidak melalui cara-cara yang tidak santun dan hormat, sehingga
keuntungan yang diperoleh pun tidak tercemar oleh sikap dalam
berdagang. Sebab, walau bagaimana pun suatu cara dalam
mencapai suatu tujuan yang baik, harus dilakukan dengan baik
pula, karena cara yang baik itu disyari‟atkan oleh Allah;
sebaliknya cara yang tidak baik dilarang oleh Allah,69 dan setiap
tindakan hukum yang tidak berhasil mencapai tujuan yang diridhai
Allah, tindakan hukum itu dianggap batal.70
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis menyimpulkan
bahwa hukum syariah dalam perdagangan saham di pasar sekunder
diperbolehkan. Hal tersebut digambarkan dalam mekanisme
penawaran saham, mekanisme harga saham dan Pembagian
keuntungan investasi saham.
68
Muhammad Syafi‟i Antonio, Asuransi Takaful, (Jakarta: Tim
Asuransi Takaful, 1996), 34.
69
Ibnu Qayyim, Al Thuruq al Hukmiyyah fîî al Siyâsah al syar‟iyyah
(Kairo: Mu‟assasah al „Arabiyyah li al Thibâ‟ah wa al Nasyr, 1961), h. 16-17,
dan lihat juga bukunya, Bada‟i‟u al-Fawa‟id, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), 153.
70
„Izzuddin ibn „Abd al-Salam, Qawa‟id al-Ahkam fi al-Anam (Beirut:
Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah, tt.), 121.
75
BAB IV
PRINSIP EKONOMI ISLAM DALAM PERDAGANGAN
SAHAM DI PASAR SEKUNDER
Dalam pembahasan sebelumnya telah dikemukakan berkaitan
dengan mekanisme perdagangan saham, sehingga dilihat dari
berbagai mekanisme tersebut Islam tidak mengharamkan
perdagangan saham baik di pasar primer maupun di pasar
sekunder. Oleh karena itu, Perdagangan saham perspektif Ekonomi
Islam memiliki prinsip yang tidak keluar dari prinsip-prinsip
syariah yang akan dikemukakan dalam bab ini.
A. Kriteria Pemilihan Saham Syariah
Untuk memenuhi kepentingan pemodal yang ingin
mendasarkan kegiatan investasinya berdasarkan kepada prinsipprinsip syariah, maka di sejumlah bursa efek dunia telah disusun
indeks yang secara khusus terdiri dari komponen saham-saham
yang tergolong kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan
prinsip syariah.1
Karena dalam menentukan klasifikasi saham pada pasar modal
yang sudah dipraktekkan memiliki perbedaan dan persamaan,
maka pada bahasan ini saya ungkapkan kriteria yang digunakan
oleh beberapa negara dalam mengklasifikasikan saham-saham ke
dalam saham syariah. Diantaranya adalah :
1. Amerika Serikat
Pengembang pertama indeks syariah dan equity fund seperti
reksadana adalah Amerika Serikat, setelah The Amana Fund
diluncurkan The North American Islamic Trust sebagai equity fund
pertama di tahun 1986, tiga tahun kemudian Dow Jones Index
meluncurkan Dow Jones Islamic Market Index (DJIM). Sharia
Suvervisory Board (SSB) dari Dow Jones Islamic Market Index
(DJIM) melakukan filterisasi terhadap saham-saham halal
berdasarkan aktivitas bisnis dan rasio finansialnya. SSB secara
lebih spesifik langsung mengeluarkan perusahaan yang memiliki
usaha dalam bidang-bidang berikut :
1
Nurul Huda, Mustafa Edwin Nasution. Investasi pada Pasar Modal
Syariah (Jakarta: Kencana, 2007) , 45.
77
1)
2)
3)
4)
5)
6)
Alkohol;
Rokok/Tobacco;
Daging Babi;
Jasa Keuangan Konvensional;
Pertahanan dan persenjataan; dan
Hiburan (Hotel, kasino/perjudian, cinema, musik)
Selanjutnya, saringan kedua berupa ketentuan atas rasio
finansial untuk mengeluarkan perusahaan-perusahaan dengan
utang dan/atau tingkat pendapatan dari bunga. Perusahaan akan
dkeluarkan dari DJIM indeks jika :
1) Total Utang/Total Asset = atau > 33 %
2) Total Piutang/Total Aset = atau > 47 %
3) Non Operating Ineterest Income/Operating income =atau>9%2
Pada Februari 1999, Dow Jones meluncurkan Pasar Index
Islam pertamanya. Dow Jones Islamic Index adalah salah satu
bagian dari Dow Jones index Global group, yang meliputi dari 34
negara dan 10 sektor ekonomi, 18 sektor pasar, 51 grup industri
dan 89 sub-sub kelompok yang digambarkan oleh Dow Jones
Global Classification Standard. Dow Jones tidak memasukkan
bursa index kelompok industri yang bertentangan dengan prinsip
Islam. Aktivitas itu meliputi tembakau, minuman beralkohol,
daging babi, perjudian, perdagangan senjata, pornografi, industri
kesenian dan hotel, dan jasa keuangan konvensional ( perbankan,
asuransi, dll).3
Kemunculan indeks dari Dow Jones pasti mempunyai dampak
yang luar biasa pada investasi kekayaan menurut Islam. DJIM
pasti mempunyai suatu efek yang kekal pada seluruh konsep
keuangan berbasis syariah dan standardisasi itu telah mencapai
sesuatu yang sangat banyak dicari pada area keuangan Islam yang
lain. Dengan 35 Indeks Islam dan hampir 1,8 miliyar dollar AS
diatur berdasarkan syariah. Dow Jones Islamic Market Index telah
sangat sukses dalam waktu yang relatif pendek.4
2
Iggi H. Achsien. Investasi Syariah di Pasar Modal. (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2000).
3
Khaled A. Hussein. Islamic Investment : Evidence From Dow Jones
And FTSE Indices. (Jakarta: Islamic Economic and Banking in 21 century,
2005), 275.
4
Salahudin Ahmed. Islamic Banking Finance and Insurance a global
overview. (Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 2006) 398.
78
2. Indonesia
Di Indonesia, perkembangan instrumen syariah di pasar
modal sudah terjadi sejak tahun 1997. Diawali dengan lahirnya
reksadana syariah yang diprakarsai dana reksa. Selanjutnya, PT
Bursa Eefek Jakarta (BEJ) bersama dengan PT Danareksa
Investment Management (DIM) meluncurkan Jakarta Islamic
Index (JII) yang mencakup 30 jenis saham dari emiten-emiten
yang kegiatan usahanya memenuhi ketentuan tentang hokum
syariah. Penentuan criteria dari komponen JII tersebut disusun
berdasarkan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah DIM.
Ruang lingkup kegiatan usaha emiten yang bertentangan
dengna prinsip hukum syariah Islam adalah :
1) Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau
perdagangan yang dilarang.
2) Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk
perbankan konvensional.
3) Usaha
yang
memproduksi,
mendistribusi
serta
memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong
haram.
4) Usaha yang memproduksi mendistribusi serta menyediakan
barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat
madharat.
Sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam
menentukan criteria saham-saham emiten yang menjdai komponen
dari Jakarta Islamic Index tersebut adalah :
1) Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang
tidak bertentangan dengan prinsip hukum syariah dan sudah
tercatat lebih dari 3 (tiga) bulan (kecuali bila termasuk di
dalam saham-saham 10 berkapitalisasi besar).
2) Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau
tengah tahunan berakhir yang memiliki kewajiban terhadap
aktiva maksimal 90 % (sembilan puluh persen).
3) Memilih 60 (enam puluh ) saham dari susunan di atas
berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market
capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir.
79
4) Memilih 30 (tiga puluh) saham dengan urutan berdasarkan
tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan selama satu tahun
terakhir.5
Seiring dengan perkembangannya, BAPEPAM telah
merilis Daftar Efek Syariah (DES), daftar tersebut akan menjadi
panduan investasi bagi investor yang ingin menanamkan modalnya
di portofolio syariah.6
Proses screening (penyariangan) dalam penentuan Daftar
Efek Syariah – BAPEPAM LK ialah :
Screening Pertama
Screening Kedua
(Core Bisnis)
(Rasio Keuangan)
Kegiatan usahanya tidak bertentangan 1. Total
utang
yang
dengan prinsip syariah seperti :
berbasis
bunga
1. Perjudian dan permainan yang tergolong
dibandingkan dengan
judi atau perdagangan yang dilarang;
total ekuitas tidak lebih
2. menyelenggarakan jasa keuangan yang
dari 82 %
berkonsep ribawi , jual beli risiko yang 2. Utang berbasis bunga
mengandung gharar dan atau maisir
dibandingkan dengan
3. Memproduksi,mendistribusikan,
total ekuitas tidak lebih
memperdagangkan, atau menyediakan :
dari 45:55 %
pendapatan
 Barang dan atau jasa yang haram 3. Total
bunga
dan
pendapatan
zatnya (haram lidzatihi)
tidak halal lainnya
 Barang atau jasa yang haram bukan
dibandingkan dengan
karena dzatnya (haram ligairihi)
total pendapatan tidak
 Barang atau jasa yang merusak moral
lebih dari 10 %
dan bersifat madharat
3. Malaysia
Malaysia adalah salah satu Negara yang telah meluncurkan
pasar modal Islam dengan bentuk Kuala Lumpur Stock Exchange
5
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution. Investasi pada Pasar
Modal Syariah (Jakarta: Kencana, 2007) , 55-57.
6
Ahmad Azhar Syarief.Evaluasi satu semester penerbitan Daftar Efek
Syariah demi pengembangan Industri Pasar Modal Syariah di Indonesia .Karim
Riview.2008.
80
Shariha Index (KLSE SI). KLSE SI diluncurkan pada 17 April
1999 Dalam rangka mengimbangi permintaan investor asing dan
lokal yang mencari untuk menanam modal dalam sekuritas yang
konsisten dengan prinsip shariah. Investor mencari-cari untuk
dilibatkan dalam investasi berdasar pada prinsip shariah sekarang
mempunyai suatu benchmark untuk membuat keputusan informasi
yang lebih baik. KLSE SI adalah suatu rata-rata tertimbang index
berisikan Sekuritas dari perusahaan papan utama yang telah
didesain oleh Shariah Advisory Council (SAC) dari Komisi
Sekuritas (SC). SAC mengeluarkan criteria standar yang
difokuskan pada aktivitas utama dari perusahaan-perusahaan yang
tercatat di KLSE. Dengan demikian perusahaan-perusahaan yang
aktivitasnya tidak bertentangan dengan prinsip syariah akan
termasuk dalam saham-saham yang disahkan.
Sekuritas yang dikeluarkan dari saham-saham yang halal
adalah perusahaan yang :
1) Operasionalnya berdasarkan riba, seperti aktivitas yang
dilakukan bank dan institusi keuangan konvensional.
2) Operasionalnya melibatkan perjudian (al-maysir atau
gambling).
3) Aktivitasnya melibatkan pabrikasi dan/atau penjualan produkproduk haram, seperti alkohol, makanan haram, dan daging
babi.
4) Operasinya mengandung elemen ketidakpastian (gharar atau
uncertainty) seperti bisnis asuransi konvensional.
5) Aktivitas inti ( Core Activities) perusahaan harus tidak
bertentangan dengan prinsip syariah seperti empat criteria di
atas.
6) Persepsi public dan image perusahaan harus baik.
7) Aktivitas inti (core Activities) perusahaan memiliki
kepentingan dan Masalah (public benefit) untuk umat dan
bangsa.7
Di Malaysia, ada dua indeks syariah, KLSE Syariah Indeks
dan Rashid Hussain Bhd (RHB) Islamic Equity Index, yang mana
7
Hamida Chapakia dan Yulizar D Sanrego.an Empirical Analysis of
Islamic Stock Return in Malaysia. The International Conference on Islamic
Capfital Markets (Jakarta: Muamalat Institute.IRTI, 2007), 163.
81
mencerminkan tumbuhnya minat akan saham islam di negeri
tersebut. Indeks ini sudah menyajikan suatu platform yang kuat
untuk pertumbuhan saham dan manajemen dana islami dan
industri broker saham di Malaysia. KLSE Syariah Indeks tlah
menunjukkan performa yang baik pada tahun 2001 dengan
keuntungan 2.3 persen.8
B. Faktor-Faktor Penentu Harga Saham
Kondisi baik atau buruk perusahaan dapat dilihat melalui
harga atau nilai dari sahamnya. Perusahaan yang memiliki kinerja
baik cenderung mempunyai harga saham yang lebih stabil atau
bahkan
mengalami
peningkatan.
Oleh
karena
itu,
memaksimumkan nilai perusahaan yang tercermin dari harga
sahamnya merupakan tujuan utama dari manajemen keuangan.9
Mengingat harga saham selalu berfluktuasi, maka baik bagi
pihak perusahaan maupun investor hal ini menjadi masalah yang
harus diperhatikan. Mengenai fluktuasi atau pergerakan harga
saham, banyak faktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham
menurut Weston dan Bringham adalah proyeksi laba perlembar
saham, saat diperolehnya laba, tingkat risiko dari proyeksi laba,
proporsi utang perusahaan terhadap ekuitas, serta pembagian
dividen. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan
harga saham adalah kendala eksternal seperti tingkat kegiatan
perekonomian pada umumnya, pajak, dan keadaan bursa saham.10
Tingkat rendahnya harga saham benar-benar merupakan
penilaian sesaat (judgement momental) yang dipengaruhi oleh
banyak faktor, termasuk faktor psikologis dari penjual atau
pembelinya. Kondisi perusahaan, kebijakan direksi, tingkat suku
bunga, harga komoditi, investasi lain, kebijaksanaan pemerintah,
tingkat pendapatan, laju inflasi, penawaran dan permintaan, dan
kemampuan analisis efek adalah sebagian dari hal-hal yang
8
Salahudin Ahmed. Islamic Banking Finance and Insurance a global
overview (Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 2006), 400.
9
Fred J. Weston and Thomas E. Copeland, Manajemen Keuangan
(Jakarta: Binarupa Aksara, 1992) , 9.
10
Fred J. Weston (et el), Dasar-dasar Manajemen Keuangan, (Jakarta:
Erlangga, 1993) , 26.
82
berpengaruh pada penentu harga saham. Harga saham bisa naik
dan bisa turun tergantung dari perubahan satu atau lebih faktor
yang mempengaruhinya. Pada saat permintaan tinggi terhadap
suatu saham harganya bisa naik dan sebaliknya jika permintaan
terhadap suatu saham rendah maka harganya akan turun. Pada saat
suku bunga naik, umumnya efek menjadi kurang menarik sehingga
harganya cenderung turun. Dalam melakukan investasi di pasar
modal, investor harus benar-benar menyadari bahwa disamping
akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan mereka
akan mengalami kerugian, ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan
investor menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan
turun naiknya harga saham tersebut.
Menurut Merill Lynch yang dikutip Heru Sutojo ada empat
aspek utama dalam penilaian saham yaitu:11
a. Analisis Valuasi Model yang memperhitungkan faktor-faktor
utama yang mempengaruhi harga saham seperti tingkat bunga,
earnings, dividen, dan risiko yang dihadapi.
b. Analisis Sekular yang mempunyai implikasi terhadap return
dan risiko dibandingkan dengan bunga obligasi pemerintah,
rentabilitas dan arus dana investasi.
c. Analisis Valuasi sektor utama berdasarkan perkalian price
earning ratio, harga relatif, earnings, dan trend jangka
panjang keuangan yang diukur dengan return capital, serta
sumber dan penggunaan dana.
d. Analisis dan pengaruh masalah teknis termasuk unsur-unsur
besarnya penawaran dan permintaan saham.
Untuk melakukan analisis dan memilih saham terdapat dua
pendekatan dasar yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang
menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha mengakses
permintaan dan penawaran suatu saham tertentu maupun pasar
secara keseluruhan. Analisis teknikal menggunakan data pasar
yang dipublikasikan seperti harga saham, volume perdagangan,
indeks harga saham baik individual maupun gabungan, serta
faktor-faktor lain yang bersifat teknis. Model analisis teknikal
lebih menekankan pada tingkah laku pemodal di masa yang akan
11
Heru Sutojo, Tujuan Ekonomis dan Non Ekonomis Pada Merjer dan
Akuisisi, (Usahawan, 1993) , 141-150.
83
datang berdasarkan kebiasaan masa lalu (nilai psikologis). Para
penganut analisis ini menyatakan bahwa harga saham
mencerminkan informasi yang relevan yang ditunjukkan oleh
perubahan harga saham pada saat yang lalu dan oleh karenanya
pola tersebut akan berulang.12
Sedangkan analisis fundamental mencoba memperkirakan
harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai
faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di
masa yang akan datang dan kemudian menerapkan hubungan
variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Analisis fundamental menggunakan prospek laba dan dividen
perusahaan, harapan tingkat bunga mendatang dan risiko penilaian
perusahaan untuk menantikan nilai sekarang (present value) semua
pembayaran yang akan diterima masing-masing saham. Apabila
nilai buku saham melebihi harga saham, maka seseorang
fundamentalis akan merekomendasikan membeli saham tersebut.
Menaksir nilai pasar yang wajar tidak terlepas dari upaya
menentukan nilai perusahaan berdasarkan nilai saham di bursa
efek. Nilai pasar tersebut berkaitan dengan analisis fundamental
mencerminkan kinerja perusahaan dimata pemodal, yang
mencakup aspek-aspek fundamental.
Di samping itu, Heru Sutojo dalam tulisannya
mengemukakan bahwa P/E ratio dan juga harga saham tergantung
pada berbagai faktor, antara lain: siklus bisnis, payout ratio, return
on book equity, growth rate, cash flow margin, suku bunga
investasi bebas resiko, dan risiko-risiko yang diasumsikan.13
Menurut M. Samsul, tiga pendekatan yang sering dipakai
untuk menentukan harga saham yaitu: pendekatan dividen,
pendekatan ekuitas, dan pendekatan laba. Investor Indonesia
pernah menggunakan pendekatan dividen untuk membeli saham,
yaitu melebihi satu dasawarsa (tahun 1977 s/d tahun 1988) sejak
Paket Desember 1988 pendekatan dividen sudah ditinggalkan.
Investor yang ingin tetap menggunakan pendekatan dividen tidak
akan pernah lagi mendapatkan saham, karena akan bersaing oleh
12
Harinato F. Sudomo S, Perangkat dan Teknik Analisis investasi di
Pasar Modal Indonesia (Jakarta: PT. BEJ, 2001) , 45.
13
Heru Sutojo, Tujuan Ekonomis dan Non Ekonomis Pada Merjer dan
Akuisisi (Usahawan, 1993).
84
investor yang menggunakan pendekatan laba. Analisis price
earning ratio membuktikan hal tersebut.14
1) Tingkat Pengembalian Investasi Saham
Salah satu bentuk investasi finansial yang diminati oleh
masyarkat adalah investasi kepemilikan saham melalui pasar
modal. Return merupakan hasil yang diperoleh dari setiap
alternatif investasi. Return yang diharapkan oleh pemegang saham
adalah pembagian dividen dan capital gain. Sehubungan dengan
investasi, para investor akan memperkirakan tingkat keuntungan
yang akan diperoleh untuk suatu periode tertentu dimasa yang akan
datang atas investasinya. Namun demikian, belum tentu tingkat
keuntungan yang terealisasi (realized return) sama dengan tingkat
keuntungan yang diharapkan. Adanya ketidak pastian akan tingkat
keuntungan inilah yang diidentifikasi sebagai risiko investasi.
Perdagangan beberapa sekuritas, baik pada pasar modal
konvensional maupun pasar modal syariah mempunyai tingkat
return dan risiko yang berbeda. Saham merupakan salah satu
sekuritas di antara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai
tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi tercermin dari
ketidakpastian return yang diterima oleh investor di masa yang
akan datang. Hal ini sejalan dengan pengertian investasi menurut
William F. sharpe bahwa investasi merupakan komitmen dana
dengan jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak
pasti di masa depan.15
Menurut Sunariyah, tingkat pengembalian investasi saham
ditentukan berdasarkan rasio perubahan harga saham individual.
Indeks harga saham individual menggambarkan suatu rangkaian
informasi historis mengenai pergerakan harga masing-masing
saham, sampai pada tanggal tertentu. Biasanya pergerakan harga
saham tersebut disajikan setiap hari, berdasarkan penutupan di
bursa pada hari tersebut. Indeks harga saham, individual disajikan
untuk periode tertentu, yang dalam hal ini mencerminkan suatu
14
M. Syamsul, Model Multifaktor yang dimodifikasi Sebagai Dasar
Pengembalian Keputusan Jual Beli Saham Pada Pasar Modal Indonesia,
(Jakarta: Majalah Ekonomi, Desember, 2005) , 3.
15
William F. Sharpe..Investment . (New Jersey: Prentice hall, 1995), 1.
85
nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja suatu saham di
bursa efek.16
Indeks harga saham untuk pertama kalinya, diperkenalkan
pada tanggal 15 April 1983 di Indonesia dan mulai dicantumkan
dalam kurs efek harian sejak tanggal 18 April 1983. Pada mulanya
hanya merupakan indeks harga saham individual, mengingat
jumlah emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa masih relatif
sedikit. Indeks ini pertama kalinya ditentukan sebesar 100%,
dengan dasar harga adalah harga perdana.
Harga dasar saham akan berubah apabila ada perubahan
harga dasar saham secara teoritis. Harga teoritis yaitu harga dasar
penyesuaian akibat adanya aksi emiten (corporate action). Aksi
emiten adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh emiten secara
sadar dan mempengaruhi harga saham yang cukup material.
Misalnya, emiten membagikan dividen saham, saham bonus, stock
split, warrant redemtion, right issue, dan sebagainya. Jadi, apabila
emiten melakukan corporate action harga dasar dalam perhitungan
indeks individual akan disesuaikan.
Perubahan-perubahan angka indeks harga saham individual
dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama kondisi perekonomian di
negara tersebut maupun global yang mempengaruhi pola investor
di bursa. Ini berarti akan mempengaruhi pula transaksi di pasar
modal yang tentunya akan berpengaruh pula pada harga saham
individual.
Informasi sepenuhnya tercermin pada harga saham akan
sangat berharga bagi para pelaku ekonomi di pasar modal dan
institusi yang berkaitan seperti BEJ, Bapepam dan IAI. Para pelaku
pasar modal, khususnya investor sangat dipengaruhi oleh
pergerakan harga saham suatu perusahaan dan informasi tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan harga saham tersebut.
Secara umum, perubahan harga saham dapat
mengakibatkan perubahan perilaku konsumsi dan investasi
investor. Berdasarkan hal tersebut harga saham sangat penting
untuk diperhatikan karena harga saham mencerminkan berbagai
informasi yang terjadi di pasar modal.
16
Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, (Yogyakarta: UPP
AMP YKPN, 2003) , 123.
86
Harga saham menjadi sangat penting bagi investor karena
mempunyai konsekuensi ekonomi. Perubahan harga saham akan
mengubah nilai pasar dan kesempatan yang akan diperoleh
investor di masa depan. Dalam kondisi perekonomian yang wajar
secara teoritis indeks harga saham selalu berada di atas harga
dasarnya. Tetapi dapat pula terjadi dalam suatu perekonomuian
yang mengalami depresi harga saham yang berada di bawah harga
dasarnya.
Sunariyah menjelaskan faktor internal yang mempengaruhi
IHSG adalah kondisi dalam negeri seperti stabilitas politik,
ekonomi dan keamanan. Sedangkan faktor eksternal berupa
pengaruh dari luar negeri misalnya kondisi perekonomian global
yang meliputi tingkat kurs, suplai uang, harga saham dunia dan
sebagainya.17
2) Pendekatan Penilaian Harga Saham
Analisis nilai saham merupakan hal yang sangat mendasar
yang harus dilakukan oleh pemodal sebelum melakukan investasi
pada saham, tanpa analisis yang akurat dan rasional kemungkinan
para pemodal akan memperoleh kerugian yang besar. Keputusan
untuk membeli saham bila nilai perkiraan (nilai intrinsik) di atas
harga pasar, sebaliknya keputusan menjual saham terjadi bila nilai
perkiraan di bawah harga pasar.
Upaya untuk merumuskan bagaimana harga saham yang
seharusnya, telah dilakukan oleh setiap analis keuangan dengan
tujuan untuk bisa memperoleh tingkat keuntungan yang menarik.
Meskipun demikian dari hipotesa pasar modal yang efesien kita
tahu bahwa sangat sulit bagi pemodal untuk terus menerus bisa
mengalahkan pasar, dan memperoleh tingkat keuntungan di atas
normal.
Husnan menyatakan bahwa model penilaian merupakan
suatu mekanisme untuk merubah serangkaian variabel ekonomi
atau variabel perusahaan yang diramalkan (atau yang diamati)
menjadi perkiraan tentang harga saham. Variabel-variabel
17
Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, (Yogyakarta: UPP
AMP YKPN, 2003) , 126.
87
ekonomi tersebut seperti misalnya laba perusahaan, dividen yang
dibagikan, variabilitas laba, dan sebagainya.18
Ada dua model penilai saham yang sering dipergunakan
untuk analisis sekuritas, yaitu:
a) Pendekatan present value (metode kapitalisasi penghasilan).
b) Pendekatan price earning ratio atau PER (metode kelipatan
laba).
Pendekatan present value mencoba menaksir present value,
dengan menggunakan tingkat bunga tertentu, menfaat yang
diharapkan akan diterima oleh pemilik saham. Sedangkan
pendekatan PER menaksir nilai saham dengan mengalihkan laba
per lembar saham dengan kelipatan tertentu.
3) Analisa Fundamental
Suad Husnan menyatakan bahwa analisis fundamental
adalah salah satu jenis analisis yang dilakukan oleh investor
dengan mempertimbangkan laporan keuangan dan indikator
fundamental lainnya, seperti pertumbuhan, pembayaran deviden,
dan kualitas manajemen perusahaan daripada memperhatikan
perkembangan-perkembangan harga saham tersebut dari hari ke
hari. Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham
di masa datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor
fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan
datang, dan menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut
sehingga diperoleh taksiran harga saham.19
A. Rodoni menyatakan analisis fundamental adalah analisis
yang dilakukan terhadap perusahaan itu sendiri yang berhubungan
dengan prosepk pertumbuhan dan kemampuan memperoleh
keuntungan yang meliputi tiga tahap analisis:20
1. Ekonomi makro : analisis ini bertujuan untuk melihat faktor
yang menguntungkan dalam ekonomi makro dalam kaitannya
dengan perusahaan itu sendiri.
18
Suad Sunan, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas
(Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, 1998) , 215.
19
Suad Husnan, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas
(Yogakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, 1998) , 304.
20
Ahmad Rodoni, Analisis Teknikal dan Fundamental pada Pasar
Modal (Jakarta: CSES Press, 2005) , 50.
88
2. Industri: analisis ini lebih spesifik dan bertujuan untuk melihat
kaitan industri dengan perusahaan, seperti perkembangan
perusahaan pesaing, standar industri dan pertumbuhan pasar.
3. Perusahaan: analisis yang bertujuan untuk melihat situasi
perusahaan yang meliputi berbagai aspek perusahaan, seperti
keadaan keuangan perusahaan, situasi pemasaran, produksi
dan manajemen.
A. Rodoni, di dalam analisis fundamental terdapat dua
pendekatan yang biasa dilakukan yaitu: 21
1. Pendekatan top down. Pendekatan yang dimulai dari tingkatan
makro ekonomi kemudian kepada situasi dan pertumbuhan
perusahaan itu sendiri. Pada tahap analisis ekonomi dan pasar
modal, investor melakukan analisis terhadap berbagai
alternatif keputusan tentang alokasi investasi yang akan
dilakukan (saham, obligasi, produk alternatif lainnya). Tahap
kedua, yaitu analisis industri meliputi analisis berdasarkan
analisis ekonomi dan pasar untuk menentukan jenis-jenis
industri mana saja yang akan dipilih (tentu saja yang memiliki
prospek baik dan menguntungkan). Tahap ketiga, didasari
tahap sebelumnya bertujuan untuk menetukan perusahaanperusahaan mana saja yang menguntungkan sehingga layak
dijadikan pilihan investasi.
2. Pendekatan buttom up, pendekatan yang dimuali dari
tingkatan mikro (perusahaan) yang kemudian berkembang
kepada analisis industri dan terakhir adalah analsis makro
ekonomi. Analisis fundamental mencoba memperkirakan
harga saham di masa yang akan datang dengan:
a. Mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang
mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang.
b. Menerapakan hubungan variabel tersebut sehingga
diperoleh taksiran harga saham.
Ada dua pendekatan dalam analisis fundamental yaitu
present value approach dan price earning ratio approach (P / E
ratio). Pendekatan present value juga sering dinamakan sebagai
pendekatan kapitalisasi pendapatan. Inti dari pendekatan present
value atau kapitalisasi pendapatan adalah menilai saham dengan
21
Ahmad Rodoni, Analisis Teknikal dan Fundamental pada Pasar
Modal (Jakarta: CSES Press, 2005) , 51.
89
mendiskontokan cash flow (pendapatan) saham yang akan diterima
dimasa yang akan datang (future cash flow) dengan tingkat
discount rate tertentu (yang diisyaratkan investor). Pendapatan
yang digunakan untuk menganalisis nilai saham menurut
Modigliani dan Miller adalah pendapatan bersih per saham
(earning pershare) karena dividen tidak relevan untuk melakukan
penilaian.22
Terdapat dua variabel utama yang memberikan pengaruh
signifikan terhadap tingkat harga saham yaitu harapan investor
akan cash flow yang akan diterima di masa yang akan datang
seperti terlihat dari nilai FCFE diatas, serta tingkat bunga yang
akan menjadi discount faktor dari cash flow tersebut. Dua faktor
tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh aspek internal perusahaan
(risiko tidak sistematis) tetapi juga dipengaruhi oleh aspek makro (
risiko sistematis) yang di luar kontrol manajemen.23
Dengan mendasarkan diri pada konsep pasar modal yang
efesien, analisis fundamental maupun teknikal (analisis perilaku
saham dengan bantuan metode statistik) kurang bermanfaat karena
dalam pasar pasar yang efesien harga-harga saham yang terjadi di
pasar modal telah menunjukkan semua informasi yang terkait
dengan saham tersebut sehingga tidak akan ada insentif yang
diterima pemegang asaham berupa return di atas normal bagi
mereka yang melakukan analisis saham. Dari prespektif pasar
modal efesien, para analisis tidak akan memperoleh insentif dalam
memperoleh abnormal return. Namun dalam praktek, sulit
dijumpai pasar yang demikian (efesien).
Jumayanti Indah dalam hasil penelitiannya mengungkapkan
bahwa perusahaan yang memiliki kinerja keuangan terbaik akan
secara siginifikan memiliki pengaruh pada EPS (Earning Per
Share) atau harga per lembar saham.24
Anio Indah Dalam thesisnya yang berjudul pengaruh
fundamental dan teknikal terhadap harga saham menemukan hasil
22
William Sharpe F., Investasi, edisi bahasa Indonesia (Jakarta:
Prenhallindo, 1997) , 411.
23
Ross Stephen A., Randolph Westerfield and Jeffery Jaffe,
Coorporate Finance (USA: Mc. Graw-Hill Higher Education, 2002), 75.
24
Jumayanti Indah.Analisa fundamental sebagai dasar pengambilan
keputusan Investasi (Jakarta:.Jurnal Ekonomi dan Bisnis.2004).
90
penelitian bahwa secara serempak faktor fundamental yang terdiri
dari leverage ratio, fix asset turn offer, operating profit margin,
Reutrn on Invesment, Price book value memiliki pengaruh
signifikan terhadap harga saham.25
I Ketut Sukedarsana , dan Yuliansyah dalam analisisnya
yang berjudul Analisis fundamental nilai intrinsik dan nilai pasar
saham sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan investasi
mengungkapkan bahwa ada perbedaan signifikan antara harga
pasar saham dan nilai intrinsik keuangan perusahaan.26
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sartono dan Yarmanto
menyimpulkan bahwa Bursa Efek Jakarta (BEJ) menunjukkan
reaksi yang tidak wajar (overreaction) dalam menyesuaikan diri
terhadap informasi baru. Dalam kondisi pasar overreaction para
pelaku pasar akan menilai saham terlalu tinggi (overvalued) di
dalam bereaksi terhadap kabar baik dan menilai saham terlalu
rendah (undervalued) dalam bereaksi terhadap kabar buruk,
sehingga secara teoritis kondisi tersebut menunjukkan bahwa BEJ
belum menjadi pasar yang efesien meskipun dalam bentuk lemah.
Dalam keadaan pasar yang demikian maka analisis fundamental
dapat memberi dasar yang dapat dipertanggungjawabkan danakan
memberi manfaat bagi investor.
Karena faktior-faktor yang mempengaruhi harga saham
sangatlah banyak, maka untuk melakukan analisis fundamental
diperlukan beberapa tahapan analisis. Tahapan yang dilakukan
diawali dengan analisis dari (1) kondisi makro ekonomi atau
kondisi pasar, (2) kemudian diikuti dengan analisis industri, dan
(3) akhirnya analisis kondisi spesifik perusahaan. Secara skematik,
kerangka analisis fundamental dapat disajikan pada gambar
dibawah ini:
25
Anio Indah Lestari Nasution.Pengaruh Faktor Fundamental dan
Teknikal terhadap harga saham.Thesis.USU.2006.
26
I Ketut Sukedarsana , dan Yuliansyah http://jurnal-esai.org diakses
pada tanggal 02 Desember 2008.
91
Analisis Fundamental
Penilaian
1.
2.
Manfaat yang diharapkan, baik dalam bentuk dividen maupun laba
Risiko investasi yang akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang layak
Dilakukan dengan analisis
1. Ekonomi atau pasar
2. Industri
3. Perusahaan
Gunakan model
valuasi dividen
atau PER
Gambar 2.1. Kerangka Analisis Fundamental
Sumber : Hartono, hal 478 : 1998
4) Analisis Teknikal
Analisis ini merupakan upaya untuk memperkirakan harga
saham dengan mengamati perubahan harganya di waktu yang lalu.
Berlainan dengan pendekatan fundamental, analisis teknikal tidak
memperkirakan faktor-faktor fundamental (seperti kebijakan
pemerintah, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penjualan
perusahaan, pertumbuhan laba, perkembangan tingkat bunga, dan
sebagainya), yang mungkin mempengaruhi harga saham.
Karena analisis tersebut didasarkan pada perubahan harga
saham di waktu lalu, maka alat analisis utamanya adalah grafik
atau chart. Karena itu para penganut analisis ini sering juga disebut
sebagai chartist. Terlepas dari sejauh mana besarnya kepercayaan
92
akan pemikiran yang melandasi analisis teknikal tersebut,
tampaknya jenis analisis ini masih banyak digunakan di bursa.
Pertanyaan yang diajukan oleh kalangan akademis sebenarnya
sederhana. Kalau benar gerakan saham mempunyai pola tertentu
dan akan berulang, bukankah pola tersebut dapat diprediksi?
Bukankah informasi hanyalah perubahan harga di waktu lalu, yang
dapat diperoleh oleh semua pemodal? Dengan demikian, para
pemodal akan bereaksi sesuai dengan prediksi tersebut, sehingga
akhirnya pola tersebut akan hilang, sehingga menjadi tidak berpola
lagi.
Menurut Suad Husnan, analisa teknikal merupakan upaya
untuk memperkirakan hrga saham (kondisi pasar) dengan
mengamati perubahan harga saham tersebut diwaktu yang lalu.
Pemikiran yang mendasari analisis tersebut adalah (i) bahwa harga
saham mencerminkan informasi yang relevan, (ii) bahwa informasi
tersebut ditunjukkan oleh harga di waktu yang lalu, dan (iii)
karenanya perubahan harga saham akan mempunyai pola tertentu,
dan pola tersebut akan terulang.27
Analisis teknikal pada dasarnya merupakan upaya untuk
menentukan kapan akan membeli (masuk) dan kapan akan menjual
saham (keluar) pasar, dengan memanfaatkan indikator-indikator
teknis maupun menggunakan analisis grafis. A. Rodoni
mengatakan, analisis teknikal merupakan study tentang tindakan
atau aksi pasar, dengan bantuan grafik-grafik tertentu. Analisis ini
dibuat dengan melihat keadaan harga, fluktuasi pasar serta analisis
perkiraan (estimasi) menggunakan pola yang dibentuk oleh grafik
dan atau perhitungan matematis mengenai pergerakan harga di
waktu lampau sehingga dapat diperkirakan harga diwaktu yang
akan datang.28
Menurut Sharpe,..29 bahwa analisis teknikal biasanya
berusaha untuk meramalkan gerakan harga jangka pendek dan
memberikan rekomendasi mengenai saat yang tepat (timing) untuk
27
Suad Husnan, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas
(Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, 1998) , 71.
28
Ahmad Rodoni, Analisis Teknikal dan Fundamental pada Pasar
Modal (Jakarta: CSES Press, 2005) , 3.
29
William F. Sharpe, Investasi, edisi bahasa Indonesia (Jakarta:
Prenhallindo, 1997) , 411.
93
membeli dan menjual saham atau kelompok saham (seperti
industri) tertentu atau saham secara umum. Tiga asumsi utama
dalam analisis teknikal, yaitu:
a. Pasar yang mempertimbangkan semua persoalan.
Yang dimaksud dengan pasar mempertimbangkan semua
persoalan adalah para analisis teknikal percaya bahwa semua
faktor yang mempengaruhi harga pasar akan tercermin dalam
harga tersebut. Para analisis teknikal percaya kekuatankekuatan tertentu yang mempengaruhi permintaan akan
meyebabkan pasat bergerak ke atas atau ke bawah.
b. Harga bergerak mengikuti arah aliran.
Para analisis teknikal percaya bahwa harga bergerak
mengikuti arah aliran tertentu. Tujuan dilakukannya analisis
teknikal adalah untuk memastikan arah aliran pada tahap awal
dengan maksud melakukan perdagangan mengikuti arah aliran
tersebut. Selanjutnya para investor dapat saja mengikuti arah
aliran yang berlaku, sehingga arah aliran tersebut berputar
arah.
c. Sejarah akan berulang.
Pada hakikatnya kita dapat katakan bahwa analisis teknikal ini
digunakan untuk melihat atau menyelidiki psikologi dasar,
adapun grafik (chart) digunakan untuk menggambarkan pola
(pattern) tertentu yang mungkin berhasil apabila psikologi
pasar berada dalam keadaan menaik atau menurun.
A. Rodoni di dalam bukunya, menurut Jaka E. Cahyono
manfaat grafik dan analisis teknikal sesuai dengan yang
ditunjukkan oleh Daryl Guppy dalam buku share trading and
market trading tactics (2000) adalah :30
a. Grafik harga saham memprediksi kerumunan (crowd).
b. Mengontrol resiko.
c. Membuat rencana trading yang realitis dan disiplin.
d. Charting dapat berguna untuk menguji informasi dari sumber
lain
30
Ahmad Rodoni, Analsis Teknikal dan Fundamental pada Pasar
Modal (Jakarta, CSES Press, 2005) , 21.
94
5) Analisis Ekonomi
Nilai investasi pada suatu surat berharga dipengaruhi oleh
harapan pemodal tentang kinerja perusahaan di masa datang.
Harga saham sebuah perusahaan akan meningkat jika pemodal
memperkirakan arus kas yang akan diperoleh dari perusahaan
tersebut meningkat. Sebaliknya, jika pemodal memperkirakan arus
kas yang akan diterima di masa datang akan menurun, harga saham
perusahaan tersebut akan menurun. Arus kas yang akan diperoleh
oleh pemodal dalam bentuk dividen atau bunga akan dipengaruhi
oleh kemampuan manajemen perusahaan untuk beroperasi secara
menguntungkan di tengah-tengah lingkungan usaha yang semakin
kompetitif. Oleh karenanya, persepsi pemodal tentang pengaruh
lingkungan usaha terhadap profitabilitas perusahaan akan sangat
mempengaruhi nilai investasi pada suatu surat berharga.
Uraian tersebut menunjukkan bahwa kalau kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, harga saham akan
meningkat. Dengan kata lain, profitabilitas akan mempengaruhi
harga saham. Masalahnya kemudian adalah, faktor-faktor apakah
yang mempengaruhi kemampuan perusahaan menghasilkan laba?
Sebagaimana dimaklumi laba adalah selisih antara pendapatan dari
penjualan dengan biaya-biaya. Karena itu untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan dan
biaya, banyak faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut.
Tetapi pada dasarnya faktor-faktor tersebut bisa dibedakan,
menjadi faktor yang mungkin bisa dikendalikan oleh perusahaan
(seperti pemilihan jenis mesin, jenis teknologi, pemilihan
karyawan, dan sebagainya) dan faktor-faktor yang tidak bisa
dikendalikan oleh perusahaan (seperti misalnya suku bunga,
pertumbuhan ekonomi, harga minyak, dan sebagainya). Berbagai
perusahaan (termasuk konsultan-konsultan) mencoba membuat
model yang menjelaskan faktor-faktor apa yang mempengaruhi
penjualan, dan bagaimana faktor-faktor tertentu dipertimbangkan
dala model tersebut dan seberapa jauh pengarunhnya pada
penjualan.31
Harga produk perusahaan ditentukan oleh jumlah
permintaan dan penawaran terhadap produk yang dihasilkan oleh
31
Goerge Foster, Financial Statement Anaylisis (New Jersey: Prentice
Hall, 1986) , 128.
95
sebuah industri. Permintaan terhadap barang dan jasa tersebut
dipengaruhi oleh berbagai faktor dimana beberapa faktor yang
terpenting adalah pendapatan konsumen, harga barang atau jasa
yang berhubungan, dan cita rasa konsumen.
Ekonomi yang tumbuh dengan stabil adalah berita baik
bagi pemodal. Berita tentang perkiraan (ramalan) pertumbuhan
ekonomi akan mempengaruhi pasar modal secara positif. Dalam
kondisi seperti ini, investasi pada saham akan memberikan
keuntungan yang lebih baik daripada investasi pada surat berhaga
dengan pendapatan tetap. Imbal hasil atas investasi pada saham
memiliki kolerasi yang positif dengan pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya jika pemodal menerima berita penurunan ekonomi,
nilai investasi pada saham menurun, dalam kondisi seperti ini
pemodal akan lebih diuntungkan jika melakukan investasi pada
surat berharga dengan pendapatan tetap seperti obligasi. Oleh
karenanya, analisis tentang kondisi ekonomi nasional adalah
langkah awal yang penting dalam proses analisis invetasi. Setelah
proses analisis ekonomi ini dilakukan, pemodal atau analis dapat
menggunakan perkiraan kondisi ekonomi di masa datang untuk
memperkirakan pertumbuhan industri serta dampaknya terhadap
profitabilitas perusahaan. Hasil analisis ini memberikan perspektif
investasi kepada pemodal untuk menentukan kesempatan investasi
yang terbaik yang ada saat ini ada di pasar modal.
Langkah-langkah dalam analisis kondisi ekonomi nasional
meliuputi tindakan untuk menetapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Kondisi ekonomi nasional saat ini;
b. Kemungkinan terbesar arah pergerakan ekonomi nasional
untuk satu tahun ke depan;
c. Perkiraan jangka panjang pertumbuhan ekonomi.
Beberapa variabel ekonomi dapat digunakan untuk
memperkirakan kondisi ekonomi nasional. Ukuran-ukuran
aktivitas ekonomi tersebut memberikan kemudahan kepada anlis
ekonomi dalam merangkum dan menyimpulkan kondisi ekonomi
nasional. Ukuran aktivitas ekonomi yang biasa digunakan adalah
Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat inflasi, tingkat bunga,
tingkat pengangguran, dan nilai tukar Rupiah (khususnya terhadap
US dollar).
96
a. Nilai Tukar Mata Uang (exchange rate)
Sadono Sukirno mengatakan kurs valas merupakan salah
satu sarana atau media yang dapat dipilih oleh investor untuk
berinvestasi, hal tersebut dipicu karena nilai tukar valas selalu
berfluktuasi terhadap mata uang lokal sehingga mendorong para
ahli untuk mencermati kondisi tersebut. Valuta asing atau mata
uang asing adalah jenis-jenis mata uang yang digunakan negara
lain. Nilai tukar atau kurs satu mata uang terhadap mata uang
lainnya merupakan bagian dari proses valuta asing. Istilah valuta
asing mengacu pada mata uang asing aktual atau berbagai klaim
atasnya, seperti deposito bank, atau surat sanngup bayar yang
diperdagangkan.32
Pengertian nilai tukar mata uang menurut FASB adalah
rasio antar unit mata uang dengan sejumlah mata uang lain yang
bisa diukur pada waktu tertentu. Fluktuasi nilai tukar mata uang
biasanya hanya dipengaruhi oleh demand dan suply atas mata uang
yang bersangkutan. Namun, belakangan ini nilai tukar rupiah
terhadap hard currencies (valuta asing yang nilainya kuat)
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. Faktor politik
misalnya, memberi pengaruh yang signifikan.
Kuncoro menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kurs
rupiah adalah nilai tukar sejumlah rupiah yang diperlukan untuk
membeli satu US$.33 Ada dua sistem penentuan nilai tukar yang
ada di dunia, yaitu sistem kurs tetap dan sistem kurs mengambang.
Dalam sistem kurs tetap penguasa moneter menetapkan nilai tukar
dengan mempertimbangkan semua aspek perekonomian negara
tersebut. Sampai dengan tahun 1996 Indonesia termasuk negara
yang menggunakan kurs valuta mengambang yang terkendali
dimana penguasa moneter masih campur tangan dalam penetuan
nilai tukar, tidak sepenuhnya dilepas kepada pasar.
Hubungan secara teoritis antara nilai tukar rupiah dengan
harga saham bersifat negatif yaitu apabila terjadi penurunan nilai
tukar rupiah terhadap US$ (rupiah terdepresiasi), maka akan
32
Sadono Sukirno, Pengantar Makro Ekonomi (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2000) , 358.
33
Mudjarad Kuncoro, Manajemen Keuangan Internasional; Pengantar
Ekonomi dan Bisnis Global (Yogyakarta: BPFE, 2000) , 129.
97
menurunkan tingkat pengembalian investasi saham. Dengan
merosotnya nilai tukar rupiah menunjuk kepada merosotnya
kemampuan ekonomi nasional Indonesia, maka kemampuan
fundamental perushaan juga cenderung merosot, sehingga
menurunkan tingkat pengembalian investasi saham.
b. Inflasi
1) Teori dan Definsi Inflasi
Ada bebebarap konsep ekonomi dalam menetukan makna
inflasi. Sebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi
berdasarkan sebab yang menimbulakn inlfasi itu sendiri. Namun
adapula yang meng-interpretasikan berdasarkan akibat yang
ditimbulkan oleh inflasi. Dengan demikian, banyaknya teori-teori
yang meng-intepretasikan makna inflasi, membuat definisi inflasi
pun ikut bervariasi, sehingga sulit memahaminya apabila hanya
melihat kepada satu sisi saja. Dengan demikian, penentuan makna
inflasi pun. Secara tepat dan teliti menjadi sulit.34
Inflasi adalah kenaikan prosentase tahunan dalam tingkat
harga umum yang diukur berdasarkan indeks harga konsumen atau
indeks harga lainnya. Inflasi sangat mempengaruhi pengambilan
keputusan investasi yang berbentuk fisik maupun investasi yang
berbentuk surat-surat berharga seperi saham dan obligasi. Investasi
di pasar modal banyak mengandung unsur ketidakpastian dan
besar resikonya. Pilihan investasi akan sangat bergantung pada
investor dalam memandang resiko. Pada saat inflasi meningkat,
banyak investor yang mengalihkan dananya ke sektor yang
berisiko rendah dibandingkan di pasar modal, sehingga harga
saham menjadi lemah/rendah dan nilai perdagangan saham
menjadi rendah.
Inflasi adalah suatu gejala dimana tingkat harga umum
mengalami kenaikan secara terus menerus. Venieris and Sebold
mendefinisikan inflasi sebagai suatu kecenderungan meningkatnya
tingkat harga secara terus menerus sepanjang waktu (a sustained
tendency for the general level of prices to rise overtime).
Berdasarkan definisi tersebut, kenaikan tingkat harga umum yang
terjadi sekali waktu saja tidaklah dapat dikatakan sebagai inflasi.
34
Hasan, Ahmad, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005) , 274.
98
Sedangkan Nopirin mengatakan inflasi adalah proses kenaikan
harga umum barang-barang secara terus menerus.35
Sebagian ahli ekonomi telah berusaha memberi penekanan
dengan memberi istilah “inflasi” terhadap kenaikan harga tingkat
harga yang berlangsung secara berkepanjangan, dan menggunakan
istilah “kenaikan tingkat harga” untuk kenaikan yang terjadi dalam
satu kurun waktu (temporeri). Tingkat inflasi (presentasi
pertambahan kenaikan harga) berbeda dari satu periode ke periode
lainnya, dan berbeda dari satu negara ke negara lainnya.
Adakalanya tingkat inflasi adalah rendah yaitu mencapai dibawah
4-6 persen. Tingkat inflasi yang moderat mencapai diantara 5-10
persen. Inflasi yang sangat serius dapat mencapai tingkat bebrapa
ratus atau beberapa ribu persen dalam setahun.
Sebagian pakar ekonomi berpendapat bahwa kalimat inflasi
mengandung banyak makna konsep:36
a) Inflasi pada harga. Ini terjadi kenaikan harga di luar kebiasaan.
b) Inflasi pada income. Ini terjadi apabila munculnya fenomena
kenaikan pada pasokan income uang pada perindividuan, di
luar standar normal.
c) Inflasi pada biaya. Ini termasuk kenaikan yang terjadi pada
unsur-unsur produk yang berlaku di pasar komoditi.
Mulia Nasution menyatakan inflasi yang disebabkan oleh
dorongan biaya dapat dibedakan dari unsur penyebabnya, karena
inflasi ini terjadi dari berbagai unsur penyebab didalam
perekonomian, sehingga dapat dikelompokkan jenis-jenis inflasi
sebagai berikut:37
a) Cost Push Inflation
Inflasi ini terjadi karena produsen menaikkan harga pokok
penjualannya akibat naiknya biaya produksi. Kenaikan biaya
produksi yang dibebankan kepada konsumen dengan menaikkan
tingkat harga akan menyebabkan inflasi. Dengan kenaikan harga,
35
Nopirin, Ekonomi Moneter (Yogyakarta: BPFE, 1990) , 25.
Hasan, Ahamd, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam (Jakarta: PT Raja Grasindo Persada, 2005) , 276.
37
Mulia Nasution, Ekonomi Moneter: Uang dan Bank (Jakarta:
Djambatan, 1998) , 21 .
36
99
serikat pekerja akan kembali menuntut kenaikan upah karena
naiknya biaya hidup. Hal ini akan dapat memperbesar inflasi akan
saling susul-menyusul.
b) Price Push Inflation
Penyebab inflasi adalah kekuatan monopoli yang dimiliki
produsen, sehingga kekuatan monopoli yang dimiliki produsen
dapat mengatur tingkat produksi untuk menaikkan tingkat harga
yang sesuai dengan keinginannya.
c) Import Cost Push Inflation
Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan tingkat harga
barang-barang impor (impor barang modal dan bahan baku) yang
penting. Karena barang-barang impor tersebut meningkat, maka
didalam negeri juga akan mengalami kenaikan.
Ada tiga teori utama mengenai inflasi yaitu:38
a) Teori Kuantitas
Mengatakan bahwa penyebab inflasi adalah pertambahan
jumlah uang beredar dan psikologi masyarakat mengenai kenaikan
harga-harga dimasa mendatang. Tambahan jumlah uang beredar
sebesar x % bisa menumbuhkan inflasi kurang dari x %, sama
dengan x %, atau lebih besar dari x %, tergantung kepada apakah
masyarakat tidak mengharapkan harga naik lagi, akan tetapi lebih
buruk dari masa sekarang atau lampau, atau akan naik cepat dari
sekarang ata masa lampau.
b) Teori Keynes
Mengatakan bahwa inflasi terjadi karena masyarakat hidup
diluar batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini menarik karena
menyoroti peranan distribusi pendapatan dalam proses inflasi, dan
menyarankan hubungan antara inflasi dan faktor-faktor non
ekonomis.
c) Teori Strukturalis
Teori inflasi jangka panjang karena menyoroti sebab-sebab
inflasi yang berasal dari kekuatan struktur ekonomi, khususnya
suplai bahan makanan dan barang-barang ekspor. Inflasi semacam
ini tidak bisa hanya diobati dengan misalnya mengurangi jumlah
38
Muana Nanga, Makro Ekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001) , 252.
100
uang beredar, tetapi dengan pembangunan sktor bahan makanan
dan ekspor.
Inflasi cenderung memperendah tingkat bunga riil yang
menyebabkan terjadi ketidakseimbangan di pasar modal. Hal ini
akan menyebabkan penawaran dana untuk investasi menurun, dan
sebagainya akibatnya investor sektor swasta tertekan sampai ke
bawah tingkat keseimbangannya, yang disebabkan oleh
terbatasnya penawaran dana yang dapat dipinjamkan (loanable
founds). Karena, sejauh inflasi menuntun kearah tingkat bunga riil
yang rendah dan ketidakseimbangan pasar modal, inflasi
memperkecil investasi dan pertumbuhan.
Inflasi menimbulkan akibar buruk kepada individu,
masyarakat dan kegiatan perekonomian secara keseluruhan.
Prospek pembangunan jangka panjang akan menjadi semakin
buruk jika inflasi tidak dapat dikendalikan. Inflasi yang bertambah
serius cenderung mengurangi investasi yang produktif.
Kecenderungan ini mengakibatkan memperlambat pertumbuhan
ekonomi dan menurunnya kinerja perusahaan yang mengakibatkan
turunnya tingkat pengembalian investasi saham.
Awal munculnya fenomena inflasi disebabkan tersebanya
dinar dan dirham yang tidak murni. Itu disebabkan karena sebagian
dari kekuatan nilai belinya tidak berasal dari logam itu sendiri.
Dari sini maka nilai angkanya jauh lbih besar dari nilai harga
sesungguhnya. Padahal jika bernaung dibawah sistem standar emas
maka harga lebih stabil. Itu disebabkan karena sistem emas adalah
sistem yang lahir secara spontan.39
Ketika masyarakat mulai menggunakan mata uang kertas,
pada mualnya tidak terjadi inflasi seperti sekarang ini. Akan tetapi
inflasi melonjak ketika tidak diisyaratkan backign emas dan perak
sehingga muncul fenomena inflasi di seluruh dunia.40 Oleh karena
itu sebagiam spesialis ekonomi islam menyimpulkan definisi
inflasi sebagai kelebihan yang terjadi pada kuantitas mata uang
kertas yang tidak diimbangi dengan kelebihan backing emas dan
perak.
39
Ahmad Hasan, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam (Jakarta: PT. Raja Granfindo Persada, 2005) , 277.
40
Khairat al-Baidhawi, al-Tad}akhum wa Âsâruhu fi al-„Alam al-Tsalits
(Beirut: Institut al-Inma‟, al-„Arabi 1976), 24.
101
Definisi ini tidak disetujui oleh pakar ekonomi, mereka
berpendapat definisi tersebut sudah tidak relevan pada masa
sekarang. Sebab, mata uang kertas tidak lagi mempunyai hubungan
dengan emas, tetapi kekuatan belinya hanya diambil dari produk
negara dan keseimbangannyadengan komoditi, dan layanan yang
berikan. Andaikata penolakan ini benar, seharusnya negara-negara
industri maju tidak akan mengalami inflasi.
Dimasa sekarang, fenomena inflasi ini semakin bertambah
karena bertumpu pada sistem standar mata uang kertas, sehingga
mendatangkan dampak yang sangat berbahaya. Sejak dahulu,
ulama telah memperingatkan kerusakan yang ditimbulkan oleh
fenomena inflasi ini. Bahkan Imam Syafi,î r.a adalah orang
pertama yang berbicara dampak yang di timbulkan oleh inflasi.
Sebagaimana uang diungkapkan oleh Imam al-Nawawi
mengutip perkataan imam Syafi,î:
“Imam Syafi,î beserta ashab (murid-murid)nya, melarang
pemimpin untuk mencetak dirham yang tidak murni, berdasarkan
hadist shahih, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda:
“Barang siapa yang menipu kami (kaum muslimin), maka
tidaklah termasuk golongan kami”. (HR. Muslim)
Disamping itu, pencetakan dirham yang tidak murni juga
akan merusak nilai mata uang, merugikan terhadap hak orang
lain, menyebabkan naiknya harga, sulitnya mendapatkan
pemasukan serta kerusakan-kerusakan lainnya.41
Adam Isa malah memandang Inflasi mata uang sangat
berpengaruh negatif terhadap akhlak seseorang. Sebab akan
menyebabkan kerugian pada masyarakat. Oleh sebab itu, ketika
terjadinya kenaikan pada harga barang, dan anjloknya pada nilai
beli mata uang-sementara gaji pegawai pemerintahan pada level
yang ada-biasanya mereka terpaksa untuk memenuhi kebutuhan
41
Ahmad Hasan, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam (Jakarta: PT. Raja Granfindo Persada, 2005) , 282.
102
material dengan cara mengeksploitasi tugas mereka, sehingga
terjadi istilah sogok-menyogok.42
Syahatah menawarkan solusi untuk menimalisir tingkat
inflasi. Solusi tersebut dirumuskan sebagai berikut:43
a. Reformasi terhadap sistem moneter yang ada sekarang, dan
menghubungkan antara kuantitas uang dengan kuantitas
produksi.
b. Mengarahkan belanja dan melarang terlalu berlebihan,
mubazir dan belanja yang tidak bermanfaat.
c. Larangan menimbun harta dan mendorong untuk
menginvetasikannya.
d. Meningkatkan produksi dengan memberikan dorongan
terhadap unsur manusia secara moral dan material.
Menurut Ahmad Hasan, pengetahuan secara benar tentang
sebab terjadinya inflasi akan memberikan solusi yang tepat untuk
mengatasinya. Yang di maksud adalah peredaran mata uang kertas
melebihi backing emas dan perak. Oleh karena itu hubungan erat
antara mata uang kertas dengan emas dan perak harus
dikembalikan seperti sedia kala, disamping mendorong masyarakat
untuk menyimpan deposito dalam bentuk emas dan perak.44
2) Interest-based Economy dan Interest-Free Economy dalam
kaitannya dengan Inflasi
a) Interest-based Economy
M. Anwar mengatakan, sistem suku bunga (Interest-based
Economy) akan mengakibatkan investasi yang modalnya berasal
42
Musa Adam Isa, Âsar al-Taghayyurât fi Qîmati al-Nuqȗd wa
Kaifiyyah Mu‟ allijâtihâ fi al-Iqtishâd al-islâmy (Jeddah: Majmȗd Dâllah alBarâkah, 1993) , 118.
43
Husein Syatahah, al-Fâidah al-Ribawiyah Wuqȗdu al-Tadhakhum alNaqdî wa Laisat Ta‟wîdhan „Anhu (Bank Dubai Islami: Majalah al-Iqtishâd alIslami, Jumadi al-Ȗlâ 1402H) , 8.
44
Ahmad Hasan, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam (Jakarta: PT. Raja Granfindo Persada, 2005) , 287.
103
dari dana pinjaman, akan diperhitungkan biaya inflasi atau disebut
tingkat inflasi yang diantisipasi pada waktu pengembalian. 45
b) Interest-Free Economy
Menurut M. Anwar, interest-free economy tipikalnya
adalah bagi hasil (profit sharing).
Kenaikan profit sharing suatu perusahaan ditentukan oleh
tingkat aktual inflasi. Kesimpulannya, dalam sistem interest-free
economy (ekonomi bebas bunga), tingkat ril return yang diperoleh
pemodal tidak diakibatkan oleh inflasi. Sebab tingkat ril return
yang didapatkan seorang pemodal dapat diproteksi pada saat
terjadi inflasi, dan inflasi tidak mungkin mempengaruhi keputusan
dia untuk mempertahankan aset. Oleh karen itu, pada sistem
bunga, kelesuan kondisi ekonomi dihubungkan dengan inflasi, baik
diantisipasi maupun tidak. Dan hal ini tidak terjadi pada sistem
interest-free economy. Dan yang peling utama, profit sharing yang
didalamnya merepresentasikan nilai-nilai keadilan serta lebih
manusiawi.
c) Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
SBIS merupakan kebijakan moneter yang bertujuan untuk
mengatasi kesulitan kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi
dengan prinsip syariah. SBIS mempunyai beberapa karakteristik
sebagai berikut:
1. menggunakan akad ju'alah (Berdasarkan fatwa Dewan
Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia, SBIS juga
dapat diterbitkan dengan menggunakan akad mudharabah,
musyarakah, wadiah, qardh, dan wakalah)
2. satuan unit sebesar Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah);
3. berjangka waktu paling kurang 1 (satu) bulan dan paling
lama 12 (dua belas) bulan;
4. diterbitkan tanpa warkat (scripless);
5. dapat diagunkan kepada Bank Indonesia; dan
6. tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
45
Muhammad Anwar, Modelling Interest-based Economy; A Study in
Macro-economics and Development (Grove st., Herndon: The International
Institute of Islamic Thought, 1987) , 67.
104
Pengaturan SBIS sendiri ada pada Peraturan Bank
Indonesia Nomor 10/11/PBI tanggal 31 Maret 2008 tentang
Sertifikat Bank Indonesia Syariah.
SBIS didefinisikan Sertifikat Bank Indonesia Syariah yang
selanjutnya disebut SBIS adalah surat berharga berdasarkan
Prinsip Syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang rupiah
yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.46
SBIS memiliki 2 karakterisrik utama, yaitu diterbitkan dan
ditatausahakan tanpa warkat dan bersifat tidak dapat
diperjualbelikan (non negotiable), jadi SBIS bukan merupakan
surat berharga seperti obligasi, surat tagihan dll. Atas penitipan
tersebut, BI dapat memberikan bonus. Fatwa DSN lebih lanjut
menjelaskan bahwa bonus yang diberikan BI tidak boleh
dipersyaratkan atau dengan kata lain bersifat sukarela.
Apabila ada perubahan tingkat SBIS maka akan
berpengaruh terhadap harga saham. Perubahan tingkat Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS) dapat mempenagruhi harga saham
melalui tiga cara:
1) Perubahan tingkat SBIS mempengaruhi kondisi perusahaan
secara umum dan profitabilitas perusahaan yakni dividen dan
harga saham biasa.
2) Perubahan tingkat SBIS mempengaruhi antara perolehan dari
obligasi dan perolehan dividen dari saham-saham, oleh karena
itu terdapat daya tarik yang relatif antara saham dan obligasi.
3) Perubahan tingkat SBIS mempengaruhi psikologi para
investor sehubungan dengan investasi kekayaan, sehingga
mempengaruhi harga saham. Bila tingkat SBIS mengalami
kenaikan maka hal tersebut akan membuat para investor akan
menarik dananya dan menginvestasikanya ke deposito.
Sedangkan bila tingkat SBIS mengalami penurunan maka
dana yang ditanamkan tersebut akan ditarik dan para investor
akan menginvestasikan dananya tersebut ke aspek yang lebih
menguntungkan lainnya seperti ke pasar modal dengan
membeli saham.
46
Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/11/PBI tanggal 31 Maret 2008
tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah.
105
6) Analisis Industri dan Perusahaan
a. Price Earning Ratio (PER)
PER
merupakan
suatu
intuitif
statistik
yang
menghubungkan harga yang dibayar terhadap current earnings dan
menunjukkan seberapa besar investor bersedia membayar setiap
rupiah yang dihasilkan. PER yang tinggi menunjukkan
kepercayaan investor bahwa perusahaan memiliki pendapatan yang
cukup tinggi. Price Earning Ratio (PER) merupakan indikator
yang dapat digunakan apakah harga saham tertentu dinilai tinggi
atau rendah. Menurut Ricahrd B. dan Stewart M, PER yang tinggi
dapat menunjukkan:47
1) Investor mengharapkan pertumbuhan deviden yang tinggi
maka akan menarik minat para investor untuk membeli saham
sehingga permintaan saham akan meingkat. Peningkatan
permintaan saham akan menyebabkan harga saham
meningkat.
2) Saham berisiko rendah sehingga investor tertarik dengan
pengembalian yang rendah. Dengan demikian permintaan
saham yang berisiko rendah akan meningkat yang
menyebabkan harga saham tersebut naik.
3) Perusahaan diharapkan mampu mencapai pertumbuhan ratarata sementara di pihak lain mampu membagikan laba dalam
proporsi yang besar. Pertumbuhan dan pembagian laba yang
tinggi menimbulkan minat para investor untuk membeli saham
dan pada akhirnya akan menaikkan harga saham.
Dari ketiga hal di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa PER
yang tinggi akan menyebabkan harga saham yang tinggi pula,
begitu pula sebaliknya jika nilai PER rendah maka akan
menyebabkan harga saham rendah. PER dapat dirumuskan sebagai
berikut:48
PER=
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑆𝑎 ℎ𝑎𝑚 �㄰𝑖𝑎𝑠𝑎
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔𝑃𝑒𝑟𝑆 ℎ𝑎𝑟𝑒
47
Richard B. Stewart M., Principles of Cooperate Finance (New York:
MCGtaw-Hill, 1991) , 56.
48
Darmaji T. dan M. Fakhruddin, “Pasar Modal di Indonesia
Pendekatan Tanya Jawab (Jakarta: Salemba Empat, 2006) , 134.
106
Beberapa keuntungan penggunaan PER dalam penilaian
ekuitas, yaitu:49
a) Modelnya relatif sederhana dan mudah dihitung.
b) Data PER untuk setiap perusahaan tersedia sehingga
memudahkan perbandingan antar perusahaan.
c) Menghubungkan harga saham dengan earning.
d) Sebagai alat ukur dalam mengukur karakterisktik perusahaan
termasuk risiko dan pertumbuhannya.
e) PER merefleksikan persepsi dan sentimen pasar. Apabila
investor merasa optimis terhadap saham industri tertentu,
maka akan meningkatkan harga saham tersebut. PER saham
tersebut akan meningkat karena optimisme tersebut. Demikian
pula sebaliknya PER akan menurun apabila pasar membuat
kesalahan sistematis.
PER memiliki kelemahan karena keterbatasannya yang
dimilikinya:50
1. Perhitungan didasarkan atas laporan akuntansi dengan metode
penyusunan yang berbeda antara satu perusahaan dengan yang
lainnya sehingga perbandingan rasio satu perusahaan dengan
yang
lain
bisa
mengakibatkan
interpretasi
yang
berbedamisalnya dalam hal perbedaan metode penyusunan,
metode penghapusan piutang dan pembagian bonus.
2. Diperlukan analisis yang lebih mendalam tentang kinerja
perusahaan untuk mengatakan bahwa suatu perusahaan lebih
bagus dibandingkan perusahaan lainnya, tidak cukup hanya
dngen membandingkan PER saja.
3. Karena sifat analisis rasio adalah jangkan pendek, manajemen
perusahaan dalam menyajikan PER bisa memanipulasi dengan
syah yaitu dengan menggeser angka-angka yang diperkanan
secara akuntasi, misalnya melalui penghapusan, penyusutan
dna cadangan.
49
Domadaran, Domadaran on Valuation (Singapore: Jhon Wiley &
Sons, Inc., 1996) , 291.
50
Domadaran, Domadaran on Valuation (Singapore: Jhon Wiley &
Sons, Inc., 1996) , 307.
107
4. PER tidak dapat digunakan apabila EPS negatif. Walaupun hal
ini bisa diatasi secara partial dengan normalisasi atau rata-rata
EPS, masalah ini tidak dapat dieliminir seluruhnya.
5. Volatilitas pendapatan (earning) bisa menyebabkan PER
berubah secara drastis dari periode ke periode. Secara siklus,
earning akan bergerak mengikuti pergerakan ekonomi
sedangkan harga merefleksikan pengharapan di masa yang
akan datang. Jadi PER dari suatu perusahaan akan bergerak
mengikuti siklus sehingga akan tinggi pada masa kritis dan
rendah pada masa booming.
Nilai PER bisa dibandingkan antar perusahaan dan antar
industri dengan pendekatan comparable (perbandingan antar
perusahaan dalam industri yang sama) dan pendekatan regresi
secara croos sectional.
P/E ratio menggambarkan optimisme market terhdaap
pertumbuhan perusahaan. Dengan P/E maka dapat diketahui
apakah investor merasa optimis atau perimis terhadap saham yang
dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Jika mereka
merasa optimis maka mereka akan memutuskan untuk membeli
saham tersebut.
PER dapat dihubungkan dengan faktor-faktor fundamental
yang menentukan nilai dalam DDM yaitu tingkat pertumbuhan
yang diharapkan payout ratio dan risiko. Banyak perbedaan
menyangkut PER, risiko dan return menyimpulkan bahwa nilai
PER berhubungan dengan size perusahaan dan risiko tidak
sistematis. Keown, Pinkerton dan Chen pada tahun 1987
mengindikasikan bahwa pemilihan portofolio dapat didasarkan
pada PER namun Fardfield di tahun 1994 menyatakan bahwa
banyak faktor selain PER yang perlu dianalisa. Dengan semakin
terintegrasinya pasar modal, analisis faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap PER pada setiap industri mempunyai arti
penting bagi investor sebelum mengambil keputusan investasi.
108
b.
Book to market
Beberapa studi telah menunjukkan hubungan antara book to
market dengan excess return dimana excess return merupakan
selisih antara portofolio return dengan risk fire rate. Rosenberg,
Reid dan Lanstein (1985) menemukan bahwa rata-rata return pada
saham-saham di bursa Amerika mempunyai hubungan positif
dengan rasio nilai buku dan nilai pasarnya (harga).
Hasil penelitian tersebut didukung oleh Fama dan French
(1992) dengan meneliti return saham antara tahun 1963 sampai
1990 dan menunjukkan adanya hubungan positif antara rasio nilai
buku / harga dengan return. Mereka kemudian mengklasifikasikan
perusahaan berdasarkan rasio nilai buku / harga dalam 12
portofolio. Portofolio perusahaan-perusahaan yang mempunyai
rasio book to market tinggi memberikan return yang lebih rendah
daripada portofolio dengan rasio book to market rendah.
Fama dan French menunjukkan pula bahwa saham dengan
book to market ratio yang lebih rendah memberikan indikasi risiko
yang lebih tinggi, karena perusahaan yang harga sahamnya
dibawah nilai buku biasanya sedang mengalami masalah dalam
perusahaanya. Oleh karena itu, sebaiknya investor harus
mempertimbangkan apakah tambahan return yang akan diperoleh
seimbang dengan peningkatan risiko yang dihadapi.
Hubungan antara price dan book menarik perhatian
investor. Book to market merupakan rasio yang menghubungkan
nilai buku saham dengan harga saham perusahaan tersebut. Saham
yang dijual dibawah Book menjadi menarik untuk dibeli dan akan
dijual kembali jika nilainya menjadi naik nantinya. Nilai dari Book
biasanya dihasilkan melalui perhitungan akuntasni, berupa ekuitas.
Ekuitas tersebut diperoleh dari perbedaan antara nilai buku aktiva
dengan nilai buku kewajiban. Nilai buku dari aktiva umumnya
ditentukan berdasarkan aturan akuntasni dan dengan bertambah
umurnya maka nilai buku aktiva tersebut berkurang sedangkan
nilai dari kewajiban tersebut menggambarkan nilai pada saat
terjadinya kewajiban tersebut. Hal ini yang membedakannya
dengan market value, karena menurut Reilly, market value
109
merupakan nilai yang ditetapkan berdasarkan kekuatan suply dan
demand.51
Beberapa keuntungan menggunakan book to market relatif
stabil sehingga dapat digunakan sebagai tolak ukur dalam
melakukan perbandingan dengan market value.52
1. Melalui standar akuntansi yang konsisten sehingga dapat
digunakan untuk membandingkan antar perusahaan yang
menggunakan metode akuntansi yang sama.
2. Walaupun perusahaan mengalami negative earning, investor
dapat menggunakan book to market dalam menilai
perusahaan.
Tetapi terdapat beberapa kelemahan dalam menggunakan
book to market:
1. Dipengaruhi oleh sistem akuntansi yang berbeda-beda
sehingga tidak dapat diperbandingkan antar perusahaan atau
antar negara yang mempunyai standar akuntansi yang berbeda.
2. Karena perusahaan satu dengan yang perusahaan yang lain
belum tentu mempunyai sistem akuntansi yang sama maka
book to market tidak bisa dijadikan sebagai suatu
perbandingan
Dari hasil penelitian Fama dan French menghasilkan bahwa
efek beta tidak dapat digunakan untuk menjelaskan return saham
melainkan efek size dan book to market lebih mampu memprediksi
return. Namun untuk memilih suatu investasi, Nickel dan James
pada tahun 1990 menyarankan 5 kriteria yang perlu diperhatikan
yaitu:
1. Risiko investasi, yang menjelaskan kemungkinan bahwa
investasi dan akumulasi yield (hasil) dari investasi tersebut
tidak memilik nilai pada suatu periode.
2. Yield (hasil usaha), yang menggambarkan peningkatan nilai
investasi untuk jangka waktu tertentu (umumnya untuk 1
tahun).
51
Frank Reilly and Brown Keith C., Investment Analysis and Porotfolio
Management (Orlando: Dryden Press, 1997), 772.
52
Domadaran, Domadaran on Valuation (Singapore: Jhon Wiley &
Sons, Inc., 1996) , 307.
110
3. Duration, mewakili jangka waktu tertentu atas aktiva yang
diperjanjikan.
4. Likuiditas, menunjukkan seberapa cepat pengembalian
investasi.
5. Pajak, menjelaskan pengaruh pajak investor terhadap
investasi.
Banyak investor telah menggunakan hubungan antara harga
dengan nilai buku sebgai strategi investasinya, dari yang sederhana
sampai yang kompleks. Beberapa investor telah menggunakan
rasio harga/nilai buku yang rendah sebagai saham yang
undervalued. Beberapa studi yang telah dilakukan terhadap book to
market ratio dalam strategi investasi antara lain yaitu book to
market ratio dan excess return, dan penggunaan book to market
ratio sebagai kriteria investasi.
c. Return On Equity (ROE)
Return on equity atau sering disebut rentabilitas modal
sendiri menurut Bambang Rianto adalah perbandingan antara
jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri disatu pihak
dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut
dilain pihak.53 Laba yang diperhitungkan untuk mengukur ROE
adalah laba yang dikurangi beban bunga dan pajak. Definisi ROE
menurut R. Agus adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk
memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham
perusahaan.54
Pemilik sebagai orang yang sangat bertanggung jawab
terhadap keberadaan perusahaan tentunya menginginkan
rentabilitas yang tinggi. Untuk itu maka pemilihan untuk sumbersumber pembelanjaan yang dilakukan hendaknya dapat
mempertinggi rentabilitas modal sendiri. Suad Husnan juga lebih
mempertegas lagi bahwa ROE adalah laba yang ditahan dan
53
Bambang Rianto, Dasar Pembelanjaan Perusahaan (Yogyakarta:
Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada 1995), 44.
54
R. Agus, Manajemen Keuangan teori dan Aplikasi (Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 1996), 51.
111
diinvestasikan kembali tersebut bisa menghasilkan tingkat
keuntungan.55
Sementara itu Sutrisno menyatakan ROE yaitu kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri
yang dimiliki. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setalah
dipotong pajak atau earning after taxes. Sehingga berdasarkan
penjelasan sebelumnya yang dimaksud ROE adalah kemampuan
perusahaan dalam mengembalikan return yang diharapkan. ROE
merupakan salah satu rasio profitabilitas yang sering digunakan
untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba. Return
on equity sering disebut juga dengan rate of return on net worth,
yaitu: “Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan
dengan modal sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang
menyebut sebagai rentabilitas modal sendiri”. Laba yang
diperhitungkan adalah laba bersih setalah dipotong pajak atau
earning after taxes (EAT).56
Menurut Teodora (2002), Return On Equity yaitu rasio
yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
berdasarkan modal saham tertentu. Rasio ini tidak
memperhitungkan dividen maupun capital gain untuk pemegang
saham. Menurut Yarnest, Return On Equity adalah ukuran rasio
dari pendapatan bersih setelah pajak dengan modal sendiri yang
dinyatakan dalam bentuk presentase.57 Sedangkan menurut Weston
& Birgham, Return On Equity adalah rasio laba bersih setelah
pajak terhadap ekuitas saham biasa, rasio ini mengukur tingkat
pengembalian atas investasi bagi pemegang saham biasa.58
Return On Equity mengukur perusahaan memperoleh laba
yang tersedia bagi para pemegang saham perusahaan. ROE yang
tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Semakin mampu
perusahaan memberikan keuntungan bagi pemegang saham, maka
55
Suad Husnan, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas
(Yogakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, 1998), 293.
56
Sutrismo, Manajemen Keuangan (Yogyakarta: Penerbit Ekonosia FE
UII, 2000), 267.
57
Yarnest, Analisis Pengaruh Variabel Kinerja Keuangan Perusahaan
terhadap Return Saham; Studi di BES (Jurnal Ekonomi, 2002), 294.
58
Weston, & Brigham, Dasar-dasar Manajemen Keuangan (Jakarta:
Erlangga, 1993), 305.
112
saham tersebut semakin diinginkan oleh investor. Hal ini
menyebabkan permintaan akan saham meningkat dan selanjutnya
akan menyebabkan harga saham tersebut naik. Rumus ROE adalah
sebagai berikut:59
7) Debt Equity Ratio (DER)
Debt Equity Ratio (DER) merupakan bagian dari financial
leverage. Menurut Keown, et.al., adalah meningkatnya variabilitas
pendapatan pemegang saham sebagai akibat bertambahnya
penggunaan hutang, financial leverage juga menimbulkan
ancaman dan kebangkrutan.60
Rosyadi menjelaskan DER yaitu menggambarkan
perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas perusahaan
yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan. Semakin
besar DER menunjukkan struktur permodalan usaha lebih banyak
memanfaatkan hutnag-hutang relatif terhadap ekuitas, hal ini tentu
saja mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi.61
DER juga mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa
bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang.
Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya.
Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar
kecilnya pendapatan bersih yang tersdia bagi pemegang saham,
ternasuk besarnya dividen yang akan diperoleh. Berdasarkan
pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
DER adalah ukuran rasio dari jumlah utang (baik utang jangka
oendek maupun utang jangka panjang) dibandingkan dengan
59
Darmaji T. dan M. Fakhruddin, “Pasar Modal di Indonesia
Pendekatan Tanya Jawab (Jakarta: Salemba Empat, 2001), 78.
60
Arthur Keown J (et al), Dasar-dasar Manajemen Keuangan (Jakarta:
Salemba Empat, 1991), 259.
61
Rosyadi, Keterkaitan Kinerja Keuangan dengan Perubahan Harga
Saham (Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 2002), 37.
113
jumlah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan
utang. Kewajiban meliputi kewajiban lancar dan semua hutang
jangka panjang. Makin rendah kewajiban ini makin besar
penyangga kerugian yang mungkin timbul pada waktu likuidasi.
Dengan demikian, kemampuan melunasi seluruh kewajibannya
juga makin besar. Eugene, Debt to Equity Ratio merupakan rasio
yang menunjukkan kemampuan modal sendiri untuk memenuhi
kewajibannya.62
Debt to Equity Ratio termasuk kelompok rasio leverage.
Semakin besar debt menandakan struktur permodalan usaha lebih
banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas.
Semakin besar debt mencerminkan resiko perusahaan yang relatif
tinggi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang
semakin tinggi pula. DER dapat dirumuskan sebagai berikut:63
Sedangkan kondisi baik atau buruk perusahaan dapat
dilihat melalui harga atau nilai dari sahamnya. Perusahaan yang
memiliki kinerja baik cenderung mempunyai harga saham yang
lebih stabil atau bahkan mengalami peningkatan. Oleh karena itu,
memaksimumkan nilai perusahaan yang tercermin dari harga
sahamnya merupakan tujuan utama dari manajemen keuangan.68
Mengingat harga saham selalu berfluktuasi, maka baik bagi
pihak perusahaan maupun investor hal ini menjadi masalah yang
harus diperhatikan. Mengenai fluktuasi atau pergerakan harga
saham, banyak faktor yang mempengaruhinya. Dalam penelitian
ini faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham yang dibahas
hanya sekitar ROE, DER, PER, tingkat Sertifikat Wadah Bank
Indonesia (SBIS), inflasi, kurs mata uang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham
menurut Weston dan Bringham adalah proyeksi laba perlembar
saham, saat diperolehnya laba, tingkat risiko dari proyeksi laba,
62
Eugene, Fama., Uang dan Bank (Jakarta: Erlangga, 1993), 686.
Darmaji T. dan M. Fakhruddin, “Pasar Modal di Indonesia
Pendekatan Tanya Jawab (Jakarta: Salemba Empat, 2006) , 134.
63
114
proporsi utang perusahaan terhadap ekuitas, serta pembagian
dividen. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pergerakan
harga saham adalah kendala eksternal seperti tingkat kegiatan
perekonomian pada umumnya, pajak, dan keadaan bursa saham.69
Tingkat rendahnya harga saham benar-benar merupakan
penilaian sesaat (judgement momental) yang dipengaruhi oleh
banyak faktor, termasuk faktor psikologis dari penjual atau
pembelinya. Kondisi perusahaan, kebijakan direksi, tingkat suku
bunga, harga komoditi, investasi lain, kebijaksanaan pemerintah,
tingkat pendapatan, laju inflasi, penawaran dan permintaan, dan
kemampuan analisis efek adalah sebagian dari hal-hal yang
berpengaruh pada penentu harga saham. Harga saham bisa naik
dan bisa turun tergantung dari perubahan satu atau lebih faktor
yang mempengaruhinya. Pada saat permintaan tinggi terhadap
suatu saham harganya bisa naik dan sebaliknya jika permintaan
terhadap suatu saham rendah maka harganya akan turun. Pada saat
suku bunga naik, umumnya efek menjadi kurang menarik sehingga
harganya cenderung turun. Dalam melakukan invesatasi di pasar
modal, investor harus benar-benar menyadari bahwa disamping
akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan mereka
akan mengalami kerugian, ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan
investor menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan
turun naiknya harga saham tersebut.
C. Prinsip-prinsip Perdagangan Saham Syariah
Ekonomi konvensional yang mengutamakan kepentingan
individu dan memaksimumkan kemanfaatan (utilitas) dapat
mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Sebab, mereka
cenderung meninggalkan nilai agama dan tidak memedulikan halal
haram dalam upaya mencari rezeki. Saat ini, mulai muncul
kesadaran di antara para ekonom sekuler bahwa praktik ekonomi
mereka selama ini keliru, karena mengabaikan nilai moral, agama
dan kemanusiaan. Pengabdian nilai moral dan kemanusiaan dalam
kajian ekonomi merupakan kekeliruan besar yang akan berakibat
buruk pada keselamatan manusia dan kelangsungan semesta.
Kesadaran ini tumbuh setelah semua bangsa menyaksikan sendiri
hasil dan model pembangunan sosio-ekonomi yang didasarkan atas
model liberal-kapilastik dari teori pertumbuhan neo-klasik,
115
maupun marxist dan neo marxist yang mengutamakan kehidupan
matrealistik hedonisme.64 Model ekonomi seperti ini, misalnya,
melahirkan kemiskinan di tengah kemakmuran, konsumerisme,
budaya permisif, dan berbagai bentuk budaya pop-hedonisme,
gaya hidup yang sekuler, dan lain-lain yang bertentangan dengan
nilai kemanusiaan dan agama.
Perkembangan ini mendorong para ekonom untuk mencari
model dan sistem ekonomi yang mengutamakan nilai moral.
Akhir-akhir ini mereka mulai banyak mendiskusikan etika bisnis
sebagai aturan main untuk menghindari dampak negatif sistem
ekonomi sekuler. Di tengah perkembangan seperti inilah mereka
mulai melirik sistem ekonomi Islam sebagai sistem alternatif
ekonomi. Mereka mulai membedah kembali sistem perekonomian
pada awal perkembangan Islam.
Setelah melakukan berbagai kajian mereka menemukan
bahwa sistem ekonomi Islam memang berbeda dengan sistem
ekonomi sekuler. Sistem ekonomi Islam mengedepankan nilai-nilai
agama dan tidak hanya mementingkan urusan dunia.65 Sebaliknya,
sistem ekonomi sekuler mengabaikan nilai-nilai agama dan hanya
mementingkan kehidupan dunia.
Sistem ekonomi Islam sebenarnya bukanlah sebuah sistem
yang sepenuhnya baru, melainkan telah dipraktikan sejak Islam
diturunkan kepada Nabi saw. Sistem ekonomi Islam dapat jadi
solusi atas berbagai permasalahan ekonomi (misalnya inflasi,
kemiskinan, kebodohan, penggangguran, kesenjangan, dan
sebagainya) yang selama ini sulit dipecahkan oleh sistem ekonomi
konvensional. Sistem ekonomi Islam pada era modern ini telah
terbukti kokoh dan unggul, terutama dilihat dari sektor perbankan.
Sebagai bukti, ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi mulai
pertengahan 1997, bank-bank konvensional banyak yang
berguguran hingga membebani keuangan negara ratusan triliun
atau kurang lebih 50% dari PDB Indonesia saat itu. Sebaliknya,
bank muamalat (bank syariah) justru tumbuh dan berkembang.
Bank ini eksis tanpa membebani keuangan negara. Karena itulah
64
Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter (Jakarta: Salemba
Empat, 2002).
65
Muhammad Nafik, Bursa Efek dan Investasi Syariah (Jakarta:
Serambi, 2009), 53.
116
banyak kalangan non-muslim yang mulai mempraktikkan
perbankan syariah meskipun tanpa menyebutkan dengan jelas
bahwa sistem yang mereka operasikan adalah sistem ekonomi
syariah.
Sistem ekonomi Islam, yang menganut mekanisme pasar,
memberikan kebebasan penuh kepada pelaku bisnis termasuk
produsen dan konsumen. Pasar dalam ekonomi Islam menganut
sistem pasar bebas terkendali. Artinya, campur tangan pemerintah
dibolehkan jika memang dibutuhkan untuk menjamin kepentingan
masyarakat dan menjaga pasar agar dapat berjalan sesuai dengan
kondisi perekonomian yang sebenarnya. Ini sejalan dengan prinsip
ekonomi Islam yang tidak memandang kepentingan individu di
atas kepentingan bersama. Mengenai hal ini, diriwayatkan dari
Anas ibn Malik r.a. bahwa harga barang-barang di Madinah pernah
menjadi mahal di zaman Rasulullah saw. Orang-orang berkata
Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, harga barang-barang menjadi
mahal. Tetapkanlah harga bagi kami.” Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allahlah yang menetapkan harga, yang menahan,
yang melepaskan, dan yang memberi rezeki. Sesungguhnya aku
berharap mudah-mudahan ketika kelak aku bertemu Allah, tidak
ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku disebabkan aku
pernah berbuat zalim terhadap darah dan harta kalian.”
(Diriwayatkan oleh imam yang lima, kecuali al-Nasa‟i. dan hadis
ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban).66
Dalam hadis yang lain Rasulullah melarang penetapan
harga ketika harga membumbung tinggi maupun ketika harga
terpuruk:
“Allah mengakui adanya kelebihan dan kekurangan. Dia
membuat harga berubah dan menjadikan harga yang sebenarnya.
Aku berdoa agar Allah tidak membiarkan ketidakadilan atas
seseorang, dalam darah maupun hak milik.”
Ibn Qudamah, berdasarkan hadis di atas, mengajukan dua
alasan tentang dibolehkannya mengatur harga. Pertama,
Rasulullah tidak pernah menetapkan harga meskipun masyarakat
menginginkannya. Kedua, menetepkan harga merupakan tindakan
66
Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abi Daud, (Mesir: Mustafa al-babi AlHalabi, 1958), 272.
117
yang tidak adil (zhulm) dan terlarang.67 Namun, beberapa ahli fikih
(dari mazhab Maliki dan Hanafi) mendukung kebijakan pengaturan
harga apabila harga yang berkembang tidak wajar dan merugikan
masyarakat, termasuk di antaranya Ibn Taimiyah yang
mengemukan alasan sebagai berikut:
Hadis bahwa Rasulullah menolak menetapkan harga
meskipun umat memintanya merupakan kasus khusus, bukan
aturan umum. Hadis itu tidak berarti bahwa seseorang tidak boleh
menjual atau melakukan sesuatu yang wajib dilakukan, atau
menetapkan harga melebihi kompensasi yang ekuivalen („iwadh
al-mitsl). Sesungguhnya harga naik diakibatkan oleh kekuatan
pasar, bukan karena ketidaksempurnaan pasar. Dalam keadaan
darurat, seperti musim kemarau dan perang, pemerintah boleh
menetapkan harga.68
Lebih jauh Ibn Taimiyah sangat menentang diskriminasi
harga yang diterapkan kepada penjual maupun pembeli yang tidak
mengetahui harga pasaran, berdasarkan hadis Nabi saw:
“menetapkan harga terlalu tinggi terhadap orang yang
tidak tahu harga adalah riba.”
Ibn Taimiyah mengemukakan beberapa ciri dan prinsip
pasar sebagai implikasi dari doktrin kebebasan ekonomi dalam
Islam:
1. Setiap orang bebas masuk dan meninggalkan pasar.
2. Harus ada informasi yang jelas mengenai kekuatan pasar dan
barang-barang dagangan (komoditi).
3. Tidak boleh ada unsur-unsur monopoli.
Haram hukumnya melakukan penyimpangan dari prinsip
kebebasan ekonomi yang jujur, seperti melakukan sumpah palsu,
takaran yang tidak tepat, dan berniat buruk. Islam juga melarang
67
Ibn Qudamah, Mughni wa al-Syarah al-Kabir (Beirut: Da>r Kita>b
al-„Arabi, 1983).
68
AA. Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibn Taimiyah. (Surabaya: Bina Ilmu,
1997), 115.
118
produksi dan distribusi komoditi yang tercela, karena merusak
kesehatan dan tatanan moral yang berlaku.69
Selain ciri-ciri dan prinsip di atas, ada pula beberapa
prinsip mekanisme pasar yang berlaku dalam sistem ekonomi
Islam:
1. Kebebasan Individu
Manusia diciptakan Allah agar tunduk dan menyembah
hanya kepada-Nya. Sejak lahir ke dunia manusia adalah makhluk
yang merdeka. Maka, tidak ada siapa pun, termasuk pemerintah
atau negara, yang berhak menghilangkan atau mengusik
kemerdekaannya.
Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah
Allah dan tidak mempersekutukan (sesuatu pun) dengan-Nya.
Hanya kepadanya aku berdakwah (menyeru manusia kepada
kebenaran) dan hanya kepada-Nya aku kembali. ( Q.S. al-Ra‟d:
36)70
Dan apabila mereka (berlayar dan) dinaungi oleh ombak
seperti gunung-gunung, mereka menyeru Allah (dan bermohon)
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (Q.S. Luqmân: 32).71
Setiap orang mempunyai kebebasan penuh untuk
berpendapat atau membuat suatu keputusan yang dianggap perlu
dalam suatu negara Islam. Tanpa kebebasan tersebut, individu
muslim tidak dapat melaksanakan kewajiban mendasar dan tidak
dapat mersakan kebahagiaan atau menghindari kerusakan di tengah
masyarakat.
Islam menjamin kebebasan individu selama tetap berada
dalam bingkai syariah Islam. Setiap individu memiliki kebebasan
namun ia harus bertanggung jawab baik kepada sesama manusia
maupun kepada Allah. Kebebasan setiap individu berkaitan dengan
kepentingan masyarakat. Karenanya, para sarjana muslim
menyepakati prinsip-prinsip berikut ini:
69
AA. Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibn Taimiyah. (Surabaya: Bina Ilmu,
1997), 115.
70
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 254.
71
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 414.
119
a) Kepentingan masyakarat yang lebih luas harus didahulukan
daripada kepentingan individu;
b) Melepas kesulitan harus diprioritaskan dibanding mengambil
manfaat meskipun keduanya merupakan tujuan syariah;
c) Kerugian yang lebih besar tidak dapat diterima untuk
menghilangkan kerugian yang lebih kecil. 72 Para ulama
mengemukakan dalil untuk mendukung prinsip-prinsip
tersebut. Di antaranya diriwayatkan oleh Ibn Umar bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Muslim adalah saudara bagi
muslim lainnya. Tak patut ia menganiaya dan menghinanya.
Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan
memenuhi kebutuhannya. Dan barang siapa menghilangkan
kesusahan seorang muslim, Allah akan menghilangkan
kesulitannya kelak di hari kiamat.”
Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim
Rasulullah saw. bersabda, “Dan barang siapa memudahkan atas
orang yang susah maka Allah akan memudahkan baginya di dunia
dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba
itu mau menolong saudaranya.”
Selain itu, kebebasan setiap orang harus dilandasi nilai
tauhid, nilai yang membebaskan dari segala sesuatu, kecuali Allah.
Nilai tauhid tersebut akan membentuk pribadi manusia yang berani
dan percaya diri. Seorang muslim memandang bahwa segala
sesuatu di dunia ini diatur oleh Allah sedemikian rupa sehingga
semuanya memberikan manfaat bagu manusia. Namun, Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum atau keadaan seseorang
hingga ia atau mereka sendiri yang mengubahnya. Tidak ada
seorang pun yang bertanggung jawab dan membantu seseorang,
kecuali orang itu sendiri. Allah berfirman:
Setiap diri tergadai (di sisi Allah swt) menyangkuts apa
yang telah dilakukannya. (Q.S. al-Muddastir: 38).73
72
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktik
(Jakarta: Gema Insani, 2001), 17).
73
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 576.
120
(masing-masing) ada baginya pengikut-pengikut (malaikatmalaikat atau makhluk) yang (selalu mengikutinya secara)
bergiliran, di hadapannya
dan di belakangnya, mereka
menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa
(sikap mental dan pikiran) yang ada pada diri mereka. Dan
apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka
tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. al-Ra‟d: 11).74
Kebebasan manusia sebagai hamba Allah merupakan
modal utama untuk membentuk kehidupan ekonomi yang Islami.
Tanpa kebebasan tersebut seorang muslim tidak dapat
melaksanakan kewajiban sebagai khalifah.
2. Hak dan Kepemilikan atas Harta
Pada hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa, karena
segala sesuatu adalah milik Allah. Kepemilikan manusia hanyalah
titipan dan amanah. Kewajiban manusia hanyalah mengelola dan
memanfaatkannya demi kesejahteraan (falâh) lahir batin.
Pengelolaan dan pemanfaatan semua titipan dan amanah itu harus
mengikuti aturan syariah yang digariskan oleh Allah. Titipan
tersebut sewaktu-waktu dapat diambil oleh pemilik-Nya, baik
didahului dengan pemberitahuan maupun tanpa isyarat sama sekali
sesuai dengan kehendak sang pemilik. Singkatnya, segala sesuatu
berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Islam mengakui hak individu untuk memiliki harta selama
diperoleh dengan cara yang syariah. Kepemilikan harta harus
didasarkan atas kemaslahatan masyarakat sehingga keberadaan
harta akan menimbulkan sikap saling menghargai dan
menghormati.75 Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu memakan
harta kamu di antara kamu dengan jalan yang batil (dengan
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati, 2010),
250.
75
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam (Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
121
melanggar ketentuan agama atau persyaratan yang disepakati).
Tetapi (hendaklah) dengan perniagaan yang berdasar kerelaan di
antara kamu … (al-Nisa‟/4: 29)76
Konsekuensi dari hak kepemilikan harta adalah hak untuk
mengelola dan mengembangkannya sesuai dengan syariah.
Namun, setiap orang memerlukan ilmu untuk mengelola dan
mengembangkannya. Allah berfirman:
Dan janganlah kamu menyerahkan kepada orang yang
belum sempurna akalnya (yang tidak bisa mengelola harta benda),
harta kamu (atau harta mereka yang ada dalam kekuasaan kamu)
yang dijadikan Allah untuk kamu sebagai pokok kehidupan.
Berilah mereka belanja (dalam harta itu) dan pakaian serta
ucapkanlah kepada mereka perkataan baik. (Q.S. al-Nisâ: 5)77
3. Perbedaan Ekonomi dalam Batas yang Wajar
Islam mengakui adanya perbedaan ekonomi di antara setiap
orang, tetapi tidak membiarkannya bertambah luas.
Islam berusaha menjadikan itu dalam batas-batas yang
wajar, adil, dan tidak berlebihan. Allah berfirman:
Apakah mereka (orang-orang musyrik itu) yang (kuasa)
membagi-bagi rahmat Tuhan pemelihara kamu?(tidak!); Kami
telah membagi diantara mereka (berdasarkan kebijaksanaan
kami) penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami
meninggikan sebagian yang lain (beberapa) derajat, supaya
sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian (yang lain,
yakni tolong menolong). Dan rahmat Tuhan pemelihara kamu
lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (berupa
kekayaan dan kekuasaan duniawi) (Q.S. Al-Zukhruf: 32).78
76
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 83.
77
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 77.
78
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 491.
122
Dengan adanya perbedaan itu diharapkan setiap orang
dapat memahami posisi dirinya dan menghargai keadaan orang
lain. Setiap orang diharapkan dapat saling menolong dan saling
memenuhi hajat kebutuhannya masing-masing. Karena itu,
ekonomi Islam tidak memperkenankan sikap individualisme.
Firman Allah : “Dan dia-lah yang menjadikan kamu
khalifah-khalifah (di) bumi dan Dia meninggikan derajat sebagian
kamu atas sebagian yang lain untuk menguji kamu melalui apa
yang diberikan-Nya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan
pemelihara kamu sangat cepat azab-Nya, dan sesungguhnya dia
benar-benar maha pengampun, lagi maha pengasih “ (Q.S. alAn‟âm: 165).79
Islam tidak menganjurkan kesamaan ekonomi, tetapi juga
mengupayakan kesetaraan sosial. Kesetaraan sosial ini
memungkinkan setiap orang memiliki peluang yang sama untuk
berkompetisi menjadi yang terbaik. Kesetaraan ini membentuk
keharmonisan dalam kehidupan manusia. Meskipun ada perbedaan
kepemilikan harta, Islam menganjurkan umatnya untuk
mempergunakan harta demi memenuhi kebutuhan diri sendiri dan
keharmonisan masyarakat.
Apa saja (harta rampasan benda musuh yang diperoleh
tanpa peperangan) yang dikembalikan (diserahkan) Allah kepada
Rasul-Nya (nabi Muhammad SAW). Dari penduduk Negeri-negeri,
maka (semuanya) adalah milik Allah, (dan dia telah menetapkan
bahwa harta rampasan itu menjadi milik ) Rasul, para kerabat
(rasul Saw), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil
(yaitu orang yang dalam perjalanan yang memerlukan
pertolongan) supaya ia (harta rampasan itu) tidak hanya beredar
di antara orang-orang kaya (saja) di antara kamu. Dan apa yang
diberikan rosul bagi kamu, maka terimalah ia dan apa yang dia
larang kamu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah sangat keras pembalasan-Nya. (Q.S. alHasyr:7 ). 80
79
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 150.
80
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 546.
123
Perbedaan itu tidak boleh memunculkan rasa iri, dengki,
dan dendam di antara sesama muslim.
Dan janganlah kamu berangan-angan (yang disertai
ketamakan) terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebagian kamu (yang kualitasnya lebih baik atau jumlahnya) lebih
banyak dari (apa yang dianugerahkan_nya kepada) sebagian yang
lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan,
dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka
usahakan. Sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala
sesuatu (Q.S. al-Nisâ: 32) 81
Karena itulah setiap orang harus berlaku adil dalam
memenuhi hajat kehidupannya. Prinsip keadilan dalam hubungan
sosial ini merupakan prinsip yang tidak bisa dikesampingkan.
Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman ! Jadilah para penegak
keadilan, menjadi para saksi karena Allah, biarpun terhadap
dirimu sendiri atau ibu-bapak dan para kerabatmu. Jika dia kaya
ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang
(dari kebenaran). Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata)
atau berpaling (yakni enggan menjadi saksi), maka sesungguhnya
Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan (Q.S.
al- Nisâ: 135).82
Hal yang paling substansial dari bangunan ekonomi Islam
adalah terkait dengan tujuannya mengimpelementasikan nilia-nilai
keadilan dan keseimbangan dalam alokasi sumber daya potensial
bagi masyarakat. Kerangka keadilan juga memungkinkan setiap
orang memiliki peluang, kontrol dan manfaat dari alokasi
pembangunan yang berlangsung secara proporsional.83
Kesenjangan dan ketidakadilan yang muncul di tengah
masyarakat bukan disebabkan oleh Allah, melainkan karena sistem
81
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya
(Jakarta: Lentera Hati,
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya
(Jakarta: Lentera Hati,
2010), 83.
82
2010), 100.
83
Euis Amalia, Keadilan distributif dalam Ekonomi Islam (Jakarta:
Rajawali Press, 2009), 117.
124
yang diterapkan oleh manusia. Msialnya, masyarakat lebih
menghormati orang yang lebih memiliki jabatan atau orang kaya
raya serta menganggap mereka memiliki kedudukan yang lebih
tinggi dibanding orang lain. Akibatnya, sebagian orang yang tidak
berharta atau berjabatan merasa bahwa Allah tidak bersikap adil
kepadanya.
4. Jaminan sosial
Setiap individu punya hal yang sama untuk hidup dalam
sebuah negara, dan negara memberikan jaminan kepada mereka
untuk memperoleh kebutuhannya masing-masing Negara memiliki
kewajiban untuk menjamin hak dan kebutuhan warga negaranya
sesuai dengan prinsip “hak untuk hidup”.84 Allah berfirman, “Dan
pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bagian.”85
Dalam sistem ekonomi Islam, negara bertanggug jawab
untuk mengalokasikan sumber daya alam demi menyejahterakan
rakyatnya. Artinya, sistem ekonomi Islam menjamin kehidupan
seluruh masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan. Karena
itulah Islam menerapkan aturan tentang zakat, infak, sedekah, dan
sebagainya sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat yang
lebih sejahtera.86
5. Distribusi Kekayaan
Islam mencegah penumpukan kekayaan pada sekelompok
kecil masyarakat. Islam menganjurkan distribusi kekayaan kepada
semua lapisan masyarakat. Sumber daya alam adalah hak manusia
untuk dipergunakan bagi kemaslahatannya. Setiap orang telah
memiliki kadar dan ketentuan tentang rezeki yang telah ditetapkan
oleh Allah. Mereka juga mendapat kebebasan untuk
mengoptimalkan segala aspek ekonomi yang ada.87 Perbedaan
pendapatan dan kekayaan antara muslim yang satu dan muslim
84
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam ( Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
85
Q.S. al-Dzâriyât: 19
86
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam ( Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
87
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam ( Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
125
yang lain seharusnya menjadi pemicu untuk saling menolong di
antara mereka. Orang yang lebih berharta yang dimiliki seseorang
harus didistribusikan kepada orang yang kekurangan. Di sinilah
terletak fungsi sosial zakat, infak, dan sedekah. Sebaliknya, orang
yang kekurangan tidak boleh menempuh cara-cara yang batil untuk
mendapatkan harta.
Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution
of income) atau pada sistem ekonomi konvensional disebut
distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income)
merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur
tingkat kesejahteraan. Pengukuran ini dilakukan dengan cara
menghitung langsung jumlah pendapatan yang diterima setiap
individu tanpa mempersoalkan dari mana pendapatan itu diperoleh.
Konsep ini tidak bisa diterima dalam ekonomi Islam karena Islam
sangat memperhitungkan asal pendapatan. Setiap orang akan
ditanyai
pertanggungjawabannya
mengenai
asal
dan
pendayagunaan harta yang didapatnya.
6. Larangan Menumpuk dan Menimbum Harta
Sistem ekonomi Islam melarang pengumpulan harta secara
berlebihan. Seorang muslim wajib mencegah dirinya dan
masyarakat supaya tidak memiliki harta secara berlebihan dan
mengabaikan kepentingan orang lain.88 Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu
haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi
kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-Mâ‟idah:
87) 89
Islam juga melarang umatnya untuk menjadikan harta
sebagai tujuan hidup sehingga melakukan berbagai cara untuk
88
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam ( Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
89
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 122.
126
mendapatkannya. Sikap sederhana dan tidak melampaui batas
dalam memiliki materi merupakan sikap manusia yang sehat.90
“Kecelakaan (dan kebinasaan) bagi setiap pengumpat dan
pencela. yang menghimpun harta dan menghitung-hitungnya.
(karena) Dia mengira bahwa hartanya akan mengekalkannya.
Sekali-kali tidak! Dia pasti akan dilempar ke (neraka) Huthamah.”
(Q.S. Al-Humazah: 1-4)91
Sebenarnya, penimbunan harta dilarang karena harta yang
ditimbun menjadi tidak produktif. Keadaan itu akan memengaruhi
permintaan dan penawaran di pasar barang. Islam melarang
permainan harga, misalnya mempermainkan penawaran dan
permintaan komoditi (barang dan jasa) secara semu. Demand dan
suply yang semu dengan cara melakukan bay‟ najasy dan ikhtikâr
adalah haram. Bay‟ najasy diharamkan karena merekayasa
permintaan untuk mendapatkan keuntungan yang tidak wajar
dengan menciptakan false demand. Ikhtikâr diharamkan karena
merekayasa penawaran untuk mendapatkan keuntungan di atas
normal dengan cara mengurangi suply agar harga jual naik.
7. Efesiensi dan Keseimbangan
Keseimbangan yang dimaksud adalah kesederhanaan
(moderation), hemat (parsimony), dan tidak boros (extravagance)
dalam penggunaan sumber daya baik menyangkut hak milik
individu maupun hak milik umum. Islam mengajarkan agar kita
tidak berlaku boros dalam membelanjakan harta, bahkan juga
dalam bersedekah. Islam menganjurkan nilai pertengahan dalam
setiap tingkah laku.
“Dan demikianlah . Kami telah menjadikan kamu (umat
Islam), ummatan washatan (umat pertengahan, moderat dan
teladan) supaya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan
90
Muhammad Nafik, Bursa Efek dan Investasi Syariah (Jakarta:
Serambi, 2009), 63.
91
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 601.
127
supaya rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu.” (Q.S. al-Baqarah: 143) 92
Pemerolehan dan pendayagunaan harta secara tidak
seimbang akan memunculkan ketimpangan dan krisis sosial. Allah
berfirman:
“Sesungguhnya para pemboros adalah saudara-saudara
setan (sifat-sfatnya sama dengan sifat mereka), sedangkan setan
terhadap Tuhan pemeliharanya sangat ingkar.” (Q.S. al-Isra‟: 27)
93
“Hai anak cucu Adam ! pakailah pakaian kamu yang indah
setiap (memasuki dan berada di) masjid, makan serta minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (dalam segala hal).”
(Q.S. al-A‟arâf: 31).94
8. Kesejahteraan Individu dan Masyarakat
Islam mengakui hubungan yang erat antara individu dan
masyarkat.95 Keadaan suatu masyarakat akan memengaruhi dan
membentuk sikap individu, begitu pun sebaliknya. Maka, ada
hubungan saling pengaruh antara karakter individu dan karakter
masyakarat. Kesejahteraan masyakarat tidak akan terwujud tanpa
kesejahteraan
individu-individu yang membentuknya. Islam
memandang penting posisi individu bagi terbangunnya peradaban
manusia yang baik dan maju.
Ekonomi merupakan ilmu tentang etika, moral, dan
perilaku manusia dalam mencapai kesejahteraan hidupnya di
tengah kelangkaan sumber daya. Karena itu, setiap orang harus
mengikuti aturan sosial yang telah ditetapkan dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhannya. Tanpa ketaatan terhadap aturan, sumber
92
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya
(Jakarta: Lentera Hati,
2010), 22 .
93
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 284 .
94
Quraisy Shihab, al-Qur‟an & Maknanya (Jakarta: Lentera Hati,
2010), 154 .
95
Afzalur Rahman, Economic Doctrine of Islam ( Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980) Vol II.
128
daya yang terbatas dan langkah tidak akan bisa dipergunakan
secara efektif dan efisien. Selain itu, sikap itu pun akan merusak
kelangsungan hidup generasi yang akan datang.
Islam menghendaki terwujudnya perekonomian yang
memenuhi kebutuhan semua orang, pembagian pendapatan dan
kekayaan yang adil, peluang kerja, tidak adanya eksploitasi
individu oleh individu lain, dan pemeliharaan lingkunga. Islam
menghendaki agar setiap aktivitas ekonomi dijalankan sesuai
dengan prinsip kemaslahatan dan menjauhi kemudaratan.
Dalam ekonomi Islam, pemerintah atau negara wajib
menjamin kebutuhan warga negaranya serta menghilangkan
monopoli, sikap predatori, dan intimidasi dalam perekonomian.
Negara juga wajib menyediakan barang-barang publik (public
goods). Ekonomi Islam mengakui semuanya berada di bawah
kekuasaan Allah yang telah menjamin semua kehidupan di alam ini
untuk berkembang dan tumbuh sesuai dengan hukum Allah
(sunnatullah).
Kesejahteraan rakyat, keberlangsungan generasi manusia,
dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development)
akan terwujud apabila negara dipimpin dan dikelola oleh aparat
yang arif dan bijaksana serta memiliki keimanan yang teguh.
Prinsip-prinsip syariah inilah yang membedakan ekonomi Islam
dari sistem ekonomi sekuler (konvensional).
Sedangkan prinsip-prinsip umum investasi syariah adalah
sebagai berikut:96
1) Prinsip Halal dan Thayyib
Allah berfirman, “Hai sekalian manusia makanlah yang
halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah
kamu mengikuti langlah-langkah setan, karena sesungguhnya
setan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Dengan dasar ayat di atas, maka pembiayaan dan investasi
hanya dapat dilakukan pada aset atau kegiatan usaha yang halal,
thayyib, tidak membahayakan, bermanfaat dan merupakan kegiatan
usaha yang spesifik dan dapat dilakukan bagi hasil dari manfaat
yang timbul.
96
Ahmad Rodoni dan Abdul Hamid,
(Jakarta: Zikrul Hakim, 2008), 148
129
Lembaga Keuangan Syariah
2) Prinsip Tranparansi guna menghindari kondisi yang gharar
(sesuatu yang tidak diketahui pasti aakn kebenarannya) dan
berbau maisir.
Praktik gharar dan spkelutif dalam berinvestasi akan menimbulkan
kondisi keraguan yang dapat menyebabkan kerugian, karena tidak
dapat memperlihatkan secara transparan mengenai proses dan
keuntungan (laba) yang diperoleh. Dengan demikian, pemilik harta
(investor) dan pemilik usaha (emiten) tidak boleh mengmabbil
resiko yang melebihi kemampuan yang dapat menimbulkan
kerugian yang sebenarnya dapat dihindari.
3) Prinsip Keadilan dan Persamaan
Masalah keuntungan dalam kegiatan bisnis merupakan suatu
keharusan. Dalam hal memilih jenis investasi, kebijakan
pengambilan keuntungan senantiasa diarahkan pada suatu kegiatan
bisnis yang berorientasi pada pendekatan proses dan cara yang
benar dalam memperoleh keuntungan, bukan pendekatan yang
semata mengedepankan besaran nominal hasil keuntungan yang
diperoleh. Oleh karenanya, Islam melarang segala macam jenis
usaha yang berbasis pada praktik riba, karena riba merupakan
instrumen transaksi bisnis yang bersifat tidak adil, diskriminatif
dan ekspolitatif. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt,
“Katakanlah, „Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.‟ Dan
katakanlah, „Luruskan mukamu (dirimu)di setiap sembahyang dan
sembahah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.
Sebagaimana dia telah menciptakan kamu pada permulaan
(demikian pulalah kamu akan kembali kepadanya).” (QS. alA‟raaf: 29)
Dari segi penawaran (suply) maupun permintaan (demand),
pemilik harta (investor) dan pemilik usaha (emiten) meupun bursa
dan self regulating organization lainnya tidak boleh melakukan
hal-hal yang menyebabkan gangguan yang disengaja atas
mekanisme pasar.
D. Etika Pasar Saham Perspektif Ekonomi Islam
Ulama Islam telah melakukan pemeriksaan menyeluruh
dari ayat-ayat yang relevan dari al-Qur‟an dan Sunnah dan telah
lama membentuk prinsip-prinsip dasar yang harus mengatur hak
dan kewajiban peserta di pasar saham.
130
Dalam Islam, tentunya etika sangat penting untuk
diperhatikan, berikut ini beberapa hal yang perlu kita cermati
berkaitan etika dalam perdagangan saham yang sesuai dengan
prinsip ekonomi Islam.
1. Kebebasan untuk melakukan kontrak (akad)
Islam memberikan kebebasan dasar untuk melakukan
transaksi. Sesuai dengan kandungan ayat al-Qur‟an: "Allah telah
membuat perdagangan yang sah97 Selanjutnya,. Kontrak tidak
berlaku jika melibatkan unsur paksaan untuk salah satu pihak.
Quran mengatakan: biarkan ada di antara kamu lalu lintas dan
perdagangan dengan kemauan bersama (04:29).
Sehingga dalam pandangan Islam, manusia memiliki
kebebasan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan
untuk memperoleh kemaslahatan yang tertinggi dari sumber daya
yang ada pada dirinya.98
Namun, norma dasar ini tidak berarti kebebasan untuk kontrak
yang tak terkendali dan banyak norma-norma berikut membatasi
kebebasan ini.
2. Kebebasan dari Riba
Segala bentuk transaksi kontrak dan harus bebas dari riba. Ini
berarti bahwa tidak ada hadiah untuk preferensi waktu dan dalam
kondisi nol risiko. Pertanyaan riba telah dibahas dalam tubuh besar
sastra dan ada konsensus umum tentang makna dan implikasi dari
riba. Qur‟an dengan tegas mengutuk riba. Ia mengatakan: Wahai
Muslim, Jangan memakan riba dan menggandakan dua kali lipat
dan takut (azab) Allah bahwa Anda mungkin bisa berhasil. (3:130).
Di tempat lain, ia mengatakan: Orang-orang yang melulur riba
akan muncul pada hari kiamat sebagai salah satu yang memiliki
setan dan dalam keadaan khawatir, yaitu karena mereka berkata:
perdagangan hanya seperti riba sedangkan Allah telah
memungkinkan perdagangan dan dilarang riba.(2:275).
Menurut Euis Amalia dalam bukunya Keadilan distributif
dalam Ekonomi Islam, Hal yang laing mendasar dari sistem
97
QS Al-baqarah ayat 275.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam. Ekonomi Islam
(Jakarta: Rajawali Press, 2011), 68.
98
131
lembaga keuangan syariah adalah adanya pelarangan riba dan
pengembangan transaksi syariah. Dalam hal ini instrumen bunga
yang dikembangkan dalam ekonomi konvensional dan sebagai
satu-satunya parameter dalam sistem keuangannya merupakan hal
yang bertolak belakang sama sekali dengan sistem ekonomi
Islam.99
3. Kebebasan dari Gharar
Ibn Hazm mengungkapkan bahwa gharar berasal daripada
ketidakpastian sifat atau kuantitas dari subjekl perdagangan pada
saat kontrak berlangusng.100 Oleh karena itu segala bentuk
transaksi kontrak dan harus bebas dari gharar. Ini berarti kontrak
yang dalam kondisi ketidakpastian tidak boleh. ulama Islam telah
mengidentifikasi kondisi yang membuat kontrak tidak menentu.
Masing-masing pihak untuk kontrak harus jelas tentang jumlah,
spesifikasi, harga, waktu, dan tempat pengiriman kontrak. Namun,
dalam kasus ada ketidakpastian sehubungan dengan harga, waktu
kontrak dll masih islami diperbolehkan, jika opsi khusus
disediakan untuk pembeli atau penjual. Pilihan yang akan
mencegah segala bentuk ketidakadilan atau kemungkinan konflik
antara para pihak.
4. Kebebasan dari Spekulasi
Spekulasi dalam bentuk terburuk, adalah judi. Qur‟an dan tradisitradisi nabi kudus secara eksplisit melarang keuntungan yang
terbuat dari permainan kesempatan yang melibatkan pendapatan
yang belum diakui. Qur'an mengatakan: Hai kalian yang percaya!
memabukkan dan perjudian, mengorbankan ke batu, dan (ramalan
dengan panah, adalah suatu kekejian, - dari karya setan:
menjauhkan diri seperti (dibenci), supaya kamu beruntung (3:90)..
hadis nabi kudus juga melarang permainan kesempatan dan segala
bentuk perjudian. Istilah yang digunakan untuk perjudian adalah
maisir yang secara harfiah berarti mendapatkan sesuatu yang
terlalu mudah, mendapatkan keuntungan tanpa bekerja untuk itu.
Selain dari permainan murni kesempatan, nabi suci juga melarang
99
Euis Amalia, Keadilan distributif dalam Ekonomi Islam (Jakarta: Rajawali
Press, 2009), 134.
100
Ibn Hazm, al-Muhalla< (Beirut: Daar al-Fikr, tt), 25
132
tindakan yang dihasilkan ditangguhkan pendapatan tanpa banyak
usaha produktif. Di sini mungkin perlu dicatat bahwa istilah
spekulasi memiliki konotasi yang berbeda. Selalu melibatkan
upaya untuk memprediksi hasil masa depan dari suatu peristiwa.
Tetapi proses mungkin atau mungkin tidak didukung oleh
pengumpulan, analisis dan interpretasi informasi yang relevan. Hal
yang pertama sangat sesuai dengan rasionalitas Islam. Unit
ekonomi Islam diwajibkan untuk menanggung risiko setelah
melakukan penilaian risiko yang tepat dengan bantuan informasi.
Semua keputusan bisnis melibatkan spekulasi dalam pengertian
ini. Hanya karena tidak adanya informasi atau dalam kondisi
ketidakpastian yang spekulasi mirip dengan permainan kesempatan
dan tercela.
5. Kebebasan untuk bertransaksi dengan Harga Wajar
Islam memandang pasar bebas di mana harga ditentukan oleh
kekuatan permintaan dan penawaran. Seharusnya tidak ada campur
tangan dalam proses pembentukan harga bahkan oleh regulator.
Sedangkan pengendalian harga dan fiksasi secara umum diterima
sebagai un Islamic, beberapa sarjana, seperti, Ibn Taimiya
melakukan mengakui dari kebolehan nya. Namun, kebolehan
tersebut dikenakan kondisi yang fiksasi harga dimaksudkan untuk
memerangi kasus disebabkan oleh anomali pasar mempengaruhi
kondisi persaingan bebas. Jika kondisi pasar normal, kekuatan
permintaan dan penawaran harus diperbolehkan bermain bebas
dalam penentuan harga. Kekuatan permintaan dan penawaran
karena itu, harus asli dan bebas dari unsur buatan. Islam mengutuk
setiap upaya untuk mempengaruhi harga melalui penciptaan buatan
kekurangan pasokan (ihtikar). Demikian pula, setiap upaya untuk
tawaran menaikkan harga dengan membuat permintaan buatan
dianggap tidak etis. Seperti suatu tindakan atas harga penawaran
tanpa niat untuk mengambil pengiriman disebut sebagai najas dan
tidak diperkenankan. Harga yang merupakan hasil dari permainan
bebas kekuatan permintaan dan penawaran tanpa intervensi atau
manipulasi diyakini adil. Namun, dalam beberapa kasus, harga
didasarkan pada latihan penilaian. Dalam kasus seperti perbedaan
antara harga di mana transaksi dijalankan dan harga yang wajar
(sesuai pendapat ahli penilaian) disebut sebagai ghubn. Kehadiran
133
ghubn membuat transaksi tidak etis. ulama Hanafi juga
memberikan angka yang tepat untuk ghubn akan disebut
berlebihan dan dilarang. Pandangan konsensus tampaknya yang
marjinal selama-harga diperbolehkan, kotor-harga di atas harus
diatasi.
6. Persamaan hak, memadai dan Akurasi Informasi
Islam menekankan pentingnya peran besar informasi di
pasar. Release informasi akurat adalah dilarang. The
penyembunyian informasi penting (ghish) juga melanggar normanorma etika Islam dan sesuai dengan tradisi nabi kudus, pihak
yang kurang beruntung informasi pada saat memasuki kontrak
memiliki opsi untuk membatalkan kontrak. ulama berpendapat
bahwa transaksi harus bebas dari jahalah atau keliru dianggap
Islam. Institusi pasar yang transparan, dengan demikian, sangat
penting dan transaksi harus dilakukan di pasar setelah
mempertimbangkan semua informasi yang relevan. Oleh karena
itu, etika Islam mengharuskan bahwa semua informasi yang
relevan dengan arus kas yang diharapkan dan penilaian aset harus
sama diakses oleh semua investor di pasar.
Sementara norma-norma di atas etika Islam yang
seharusnya untuk mengatur aturan umum untuk pasar saham,
pentingnya melindungi kepentingan umum adalah yang tertinggi.
Jika regulator percaya bahwa mayoritas investor yang naif dan
tidak rasional, mungkin diperlukan pendekatan dari pihak ayah dan
melindungi mereka, sama seperti orang tua melindungi anak-anak
mereka. Misalnya, investor mungkin kurangnya kemampuan
pengolahan informasi dan bahkan jika semua informasi yang
relevan yang tersedia untuk mereka, mereka tidak akan berada
dalam posisi untuk mencerna dan menginterpretasi informasi
tersebut dan mengambil keputusan investasi yang rasional.
Demikian pula, investor dapat bereaksi berlebihan terhadap
informasi dan berperilaku secara rasional. Dalam kasus seperti itu,
regulator mungkin menolak kebolehan untuk transaksi tertentu.
Sifat dan jumlah intervensi oleh regulator akan tergantung pada
situasi tertentu.
134
E. Efisiensi dalam Pasar Saham
Sebuah fitur yang kuat dari pasar keuangan Barat saat ini
adalah deregulasi. Pasar yang diizinkan untuk berfungsi tanpa
campur tangan pemerintah yang tidak semestinya. Dalam kasus
pasar saham, pendekatan ini tidak bisa berarti tidak adanya
peraturan karena kebutuhan untuk melindungi investor dari
pedagang dalam, harga manipulator, risktaking berlebihan dan
aspek lain dari moral hazard.101 Argumen utama dalam mendukung
deregulasi adalah bahwa hal itu memungkinkan pasar, apakah
mereka produk keuangan atau pasar, untuk menjadi lebih efisien.
Efisiensi ini tentu saja konsep yang sulit untuk menentukan
dalam konteks pasar saham. Ada banyak pendekatan untuk
mendefinisikan efisiensi. Efisiensi tergantung pada apakah kita
mempertimbangkan fungsi primer atau sekunder dari pasar. Pada
tingkat pasar utama kita bisa bicara efisiensi tentang allocational alokasi optimal dari sumber daya di pasar primer. Di pasar
sekunder tradisional kita mempertimbangkan efisiensi operasional
dan efisiensi informasi. Sebuah pasar operasional yang efisien
adalah di mana harga terendah transaksi mungkin berlaku di pasar
sekunder. Hal ini memerlukan perantara industri yang berkembang
dengan baik dengan persaingan yang sehat antara broker. Hal ini
juga berarti suatu sistem perdagangan yang berkembang baik yang
cepat dan akurat proses transaksi. Informationally pasar yang
efisien adalah di mana masukan informasi yang cepat dan akurat
dimasukkan ke dalam harga keamanan di pasar sekunder. ekonomi
Keuangan penekanan lebih besar pada efisiensi informasi karena,
jika harga secara penuh merefleksikan semua informasi tentang
perusahaan, sumber daya akan menjadi "benar" dialokasikan. Oleh
karena itu pasar informationally efisien juga, menurut definisi,
allocationally efisien.102 Sementara konsep ini sangat relevan
muncul efisiensi dari perspektif Islam, ada kemungkinan bahwa
konsep efisiensi yang lebih luas mungkin sesuai.
Pandangan Islam lebih luas dari pasar keamanan efisien
adalah sama dengan konsep efisiensi sosial. Ini adalah gagasan
101
Jhon Rhee, S. Securities Markets and Systemic Risks in Dynamic
Asian Economies (Paris: OECD, 1992).
102
Martin J. D., S. M. Cox and P- D. MacMinn., The Theory of
Finance: Evidence and Applications (Chicago: The Dryden Press, 1988).
135
berbasis luas bahwa pasar keuangan pada umumnya, dan pasar
saham pada khususnya, harus efisien dalam arti bahwa mereka
mendukung keadilan sosial, keadilan dan kesejahteraan
masyarakat.103 Ini bukan fitur kuat pandangan Barat tradisional
efisiensi. Beberapa berpendapat bahwa pasar saham benar-benar
menciptakan inefisiensi sosial dengan mendorong distribusi
kekayaan yang tidak setara. Ruam spekulasi juga menciptakan
risiko sistemik dan dapat memiliki efek destabilisasi terhadap
perekonomian. Kehancuran Wall Street tahun 1920-an dan sedikit
oleh Pasar Saham crash tahun 1987 adalah contoh-contoh ancaman
bahwa pasar saham pose. Runtuhnya Kuwait Souk Al Manaqh
(bursa efek) pada tahun 1982, karena kegagalan spekulan besar
dan dana mereka, adalah contoh dari bahaya yang dihadapi oleh
negara-negara Muslim saat spekulasi yang tidak terkendali
diperbolehkan. Selain spekulasi, pasar saham memberikan
kesempatan bagi aktivitas yang tidak jujur seperti insider trading.
Ini dapat memiliki efek buruk pada standar moral dan etika bisnis.
Sementara efisiensi sosial sulit untuk dikonsetualisasi di
pasar saham Islam, kurangnya informasi efisiensi bentuk kuat104 di
pasar sekunder juga dapat membuat kesulitan. Fama konsep
tentang efisiensi bentuk kuat menganggap tidak ada informasi
rahasia. Seperti bisa diduga, bentuk efisiensi ini tidak didukung
oleh literatur. Perusahaan berusaha untuk menjaga rahasia aspekaspek tertentu dari kegiatan mereka sementara analis pasar
berusaha untuk memperoleh ini melalui penelitian melelahkan.
Tujuannya adalah untuk keuntungan dari informasi ini oleh
perdagangan di muka dari sisa pasar. Keberadaan investor institusi
dengan analis yang sangat terampil mengarah ke bentuk asimetri
informasi yang Rock (1986) menyederhanakan sebagai pembagian
pasar antara "informasi" dan "tidak berpengetahuan" investor.
Sebagaimana dibahas di atas, informasi asimetris merupakan
hambatan potensial ketika mempertimbangkan kontrak diterima
dalam Islam.
103
Samuels, J. M. and N. Yacout, 'Stock Exchanges in Developing
Countries', Savings and Development 5(1981), 217.
104
Fama, E. E: 1970, 'Efficient Capital Markets: A Review of Theory
and Empirical Work', journal of Finance 25, 383.
136
Kriteria untuk mengukur efisiensi pasar saham
didefinisikan dengan baik dalam literatur keuangan. Sebuah pasar
saham, di samping untuk menyediakan likuiditas saham yang
dikeluarkan oleh perusahaan, melakukan fungsi yang sangat
penting. Menyediakan kendaraan untuk penilaian kontinu
perusahaan dan alokasi dana di antara mereka. Harga pasar yang
seharusnya berfungsi sebagai indikator untuk aliran dana ke dalam
perusahaan. Gagasan efisiensi allocational menyiratkan bahwa
dana harus mengalir ke perusahaan yang diinginkan. Lebih banyak
dana harus mengalir ke perusahaan dengan profitabilitas yang
lebih tinggi dan resiko rendah (karena itu, nilai lebih tinggi atau
nilai intrinsik) dan sebaliknya. Ini berarti bahwa saham yang
dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut harus perintah
harga yang lebih tinggi di pasar. Harga harus mencerminkan nilai
intrinsik saham. Harga efisiensi merupakan prasyarat untuk
efisiensi allocational yang berarti harga saham harus sama dengan
nilai-nilai fundamental masing-masing setiap saat.
Kesetaraan antara harga dan nilai saham yang diberikan
hanya akan tercapai bila ada efisiensi informasi. Misalnya, di pasar
sekunder dimana saham terus diperdagangkan, perubahan nilai
saham dapat terjadi dengan informasi baru yang baik profitabilitas
perubahan atau resiko atau keduanya. Dengan perubahan nilai, ada
penyesuaian harga. Dalam pasar yang efisien, reaksi ini akan
seketika dan akurat. Hanya maka kesetaraan antara harga dan nilai
akan dipertahankan pada setiap saat. Informational efisiensi
menyiratkan bahwa tidak ada kelambanan dalam penyebaran dan
asimilasi informasi dan merupakan prasyarat untuk efisiensi harga.
Lain prasyarat untuk harga efisiensi adalah efisiensi
operasional yang berarti bahwa transaksi harus dilakukan dengan
biaya minimal. biaya transaksi tinggi mencegah penyesuaian harga
berlangsung cepat dan akurat.
Dari di atas, jelaslah bahwa setiap tindakan atau peraturan
yang mengurangi biaya transaksi, menyederhanakan sistem
perdagangan, meningkatkan ketersediaan dan keakuratan
informasi, meningkatkan pengolahan informasi oleh peserta adalah
langkah untuk meningkatkan efisiensi allocational sistem.
Penyesuaian harga seketika dan akurat juga mengandaikan
bahwa tekanan kompetitif intens memaksa semua peserta untuk
137
bereaksi tanpa lag apa pun dan bahwa pasar didominasi oleh
investor rasional yang tidak akan bereaksi berlebihan atau
underreact. Pasar yang efisien juga merupakan pasar yang stabil di
mana harga ayunan kekerasan karena perilaku tidak rasional dari
peserta dikesampingkan.
Penulis menyimpulkan Perdagangan saham dalam
perspektif Ekonomi Islam memiliki prinsip yang tidak keluar dari
prinsip-prinsip syariah.
138
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya,
penulis menyimpulkan bahwa pendapat para Ulama tentang
Perdagangan saham, Ulama membolehkan perdagangan saham,
namun ada yang membolehkan secara mutlak maupun yang
membolehkan dengan ketentuan dan syarat-syarat yang
dikemukakan masing-masing.
Hukum syariah terhadap perdagangan saham di pasar sekunder
diperbolehkan. Hal tersebut digambarkan dalam mekanisme
penawaran saham, mekanisme harga saham dan Pembagian
keuntungan investasi saham.
Kesimpulan besarnya yaitu perdagangan saham syariah dalam
perspektif Ekonomi Islam memiliki prinsip yang tidak keluar dari
prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu, Perdagangan Saham
syariah di Pasar Sekunder dalam Pasar Modal tidak bertentangan
dengan prinsip ekonomi Islam.
Argumentasi yang dibangun dalam kesimpulan tersebut adalah
karena pada prinsipnya perdagangan saham tidak bertentangan
dengan hukum Islam selama perusahaan (emiten) tidak beroperasi
dalam hal-hal yang terlarang, seperti menghasilkan dan menjual
minuman keras, dan tidak melakukan transaksi dengan
menggunakan riba baik dalam menyimpan maupun meminjam,
yang kesemuanya adalah terpenuhinya etika ekonomi Islam dan
akad transaksi syariah. Hal tersebut dapat digambarkan dalam
kesesuian syariah pada mekanisme penawaran saham, mekanisme
harga saham dan Pembagian keuntungan investasi saham. Oleh
karena itu, Perdagangan saham dalam perspektif Ekonomi Islam
memiliki prinsip yang tidak keluar dari prinsip-prinsip syariah.
Kajian ini membantah Pendapat Taqyuddin An-Nabhani, dalam
bukunya An-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m. dan Yusuf alSabatin yang menyatakan transaksi saham dianggap batal secara
hukum, karena yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para
investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham
di pasar modal tanpa ada perundingan atau negosiasi apapun baik
dengan perusahaan, kemudian mengkritisi pendapat dan
139
mengoreksi Pendapat Nasrun Haroen dalam buku Perdagangan
saham di Bursa Efek : Tinjauan Hukum Islam menyatakan jika
ditinjau dari hukum Islam, penawaran saham di Pasar Sekunder
memeliki beberapa unsur yang tidak sejalan bahkan bertentangan
dengan prinsip dan nilai bermuamalah dalam Islam.
Mendukung pendapat Mahmud Syaltut dalam kitab alfatawa yang menyatakan bahwa jual beli sekuritas itu
diperbolehkan dalam Islam. Diperkuat oleh pendapat Zamir Iqbal,
yang menyatakan bahwa dengan adanya perdagangan saham di
pasar modal, tidak hanya bermanfaat bagi investor, namun juga
akan lebih meningkatan stabilitas Lembaga Keuangan Islam. Hal
itu diperkuat pula oleh pendapat Mohammed Obaedullah yang
menyatakan sejauh menyangkut pasar sekunder diperbolehkan
selama tidak adanya penyimpangan yang signifikan dalam hal
harga, nilai intrinsik dan terjaminnya efisiensi alokasi. Dengan
kata lain yaitu terpenuhinya norma dan etika ekonomi Islam.
B. Implikasi dan Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan maka penulis
mengemukakan saran sebagai berikut :
1. Perlunya sosialisasi kepada para stakeholder tentang kejelasan
aspek syariah pada kegiatan pasar sekunder efek syariah,
sehingga para stakeholder memahami mekanisme perdagangan
pasar sekunder efek yang tidak bertentangan dengan Prinsipprinsip Syariah di Pasar Modal..
2. Perlunya koordinasi dan kerja sama antara Bapepam-LK, Bursa
Efek Indonesia dan DSN-MUI dalam merumuskan kebijakan yang
mengatur tentang perdagangan saham syariah.
3. Menyarankan kepada pemerintah, lembaga pengawas pasar
modal dan lembagai terkait lainnya untuk mendorong
penyusunan undang-undang khusus yang memayungi
penyelenggaran pasar modal syariah di Indonesia.
4. Dalam pengembangan pasar modal syariah, perlu
diperbanyak entitas bisnis syariah yang terdaftar di Bursa
Efek.
140
5. Perlunya
penelitian
lanjutan
berkenaan
dengan
permasalahan-permasalahan dalam perdagangan saham
syariah
141
DAFTAR PUSTAKA
Abdu al-Rasul, Ali , Al-Mabâdi’ al-Iqtishâdiyyah fî al-Islâm.
Kairo: Dâr al-Nas}r, 1989.
Abdullah, Haron. Globalisation in Islamic Capital Market
Instrument; The Role of Islamic Financial Services Board,
www. ifsb.org
Abidin, Muhammad Amin Ibn. Hasyiah Qurah ‘Uyun al-Akhbar
takmilah Rad al-Mukhtar ‘ala al-Dar al-Mukhtar. Beirut;
Dar Fikr, 1966.
Achsien, Iggi H. Investasi Syariah di Pasar Modal. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Ahmad, Ausaf. Toward an Islamic Financial Market, A Study of
Islamic Banking and Finance in Malaysia, Islamic
Development Bank – Islamic Research and Training
Institute, First Edition, No. 45
Ahmad, Hasan. Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.
Ahmad, Kamaruddin. Dasar-dasar Manajemen Investasi dan
Portofolio, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Ahmed, Osman Babikir. Islamic Financial Instrument to Manage
Short-Tern Excess iquidity, IDB-IRTI, Research Paper No.
41
Ahmed, Salahuddin. Islamic Banking, Finance and Insurance, A
Global Overview, Kuala Lumpur: A.S Noorden, 2006.
Akhtar, Amin Akhtar. Kerangka Kerja Struktur Sistem Ekonomi
Islam”, dalam Ainur R. Sophiaan (Ed.), Etika Ekonomi
Politik. Surabaya: Risalah Gusti, 1997.
Akram, Muhammad. Issues in Islamic Economics. Michigan:
Islamic Publication, 1983.
Al-Amien, Muhammad al-Bashir Muhammad. The Islamic Bonds
Market: Possibilities and Challenges” di International
Journal of Islamic financial Services, Vol.3 No. 1
Al-Baidhawi, Khairat. al-Tad}akhum wa Âsâruhu fi al-‘Alam alTsalits. Beirut: Institut al-Inma‟, al-„Arabi, 1976.
142
Al-Baqmi, S}alih bin Zein Marzuki. Syirkah Musahamah fi alNizam al-Su’udi. Ummul Qura: Markaz al-„Ilmi wa Ihya alTurats al-Islami, 1985.
Al-barwary, Sya‟ban Muhammad Islam. Burshatul Awraq almaaliyah min mandzhuril Islam. Suriah: Daar el-Fikr
Damsyik.
Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. S}ahih al-Bukhari. Beirut: Dar
al-Kitab al-Islami, tt.
Al-Dharee, Siddiq Mohammad Al-Ameen. Al-Gharar in Contracts
and Its Effect on Contemporary Transactions, Eminent
Scholars‟ Lecturer Series No. 16, IDB-IRTI.
Al-Habshi, Datuk Syed Othman. Development Of Capital Market
Under Islamic Principles
Al-Hajjaj, Imam Muslim ibn. s{ahih Muslim. Beirut : Da>rul Ihya
at-Turats al-„Arabi>, 1978.
Ali, Salman Sayyed . Islamic Capital Market Product, Regulation
& Development, Proceeding of International conference,
IDB, 2008
Alkhayyat, Abdul Aziz. al-Ashum wa al-Sanada>t Min Manz}>ur
al-Islam. Kairo: Daarussalam, 1979.
Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah Muhazab. Beirut: Dar al-Fikr, tt
Al-Nawawi, Raud}atu al-T}alibi>n. Beirut: Da>r al-Kutub alIlmiah, 1998.
Al-Qordhowi, Yusuf. Fiqh Zaka>h. (Beirut: Muassasah al-Risalah,
1973.
Al-Qurafi, Ahmad. al-Furuq. Kairo: Maktabah al-Azhariyyah,
1974.
al-S}an‟ani, Muhammad Ibn Ismail a-Kahlani Subul al-Sala>m.
Beirut: Da>r al-Fikr, 1985.
Al-Sabatin, Yusuf. al-Buyu’ al-qadi>mah wa al-mu’a>shirah wa
al-burs}at al-ma>li>yah wa al-dawliyah. Beirut: Daar elBayariq, 2002.
Al-Salam, Izzuddin ibn „Abd, Qawa’id al-Ahkam fi al-Anam.
Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah, tt.
143
Al-Sarbini, Muhammad bin Ahmad, Mughni al-Mumta>j ila
Ma’rifat al-Alfa>z al-Minha>j. Damaskus: Da>r al-Fikr,
1978.
Al-Sijistani , Abu Daud, Sunan Abi Daud. Mesir: Mustafa al-babi
Al-Halabi, 1958.
Alwi, Iskandar Z. Pasar Modal ; Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Yayasan Pancur Siwah, 2003.
Amalia, Euis, Keadilan distributif dalam Ekonomi Islam . Jakarta:
Rajawali Press, 2009.
Angelo, M. Venardos. Islamic Banking and Finance in South –
East Asia, It’s development & Future, London: World
Scientific Publshing, 2005.
An-Nabhani, Taqyuddin. An-Niz}a>m al-Iqtis{adi> fi al-Isla>m.
Beirut: Daar el-Ummah, 2004.
Anoraga, Pandji dan Piji pakarti. Pengantar Pasar Modal. Rhineka
Kencana, 2006.
Antonio, Muhammad Syafi‟i. Bank Syariah, dari Teori ke Praktik.
Jakarta: Gema Insani, 2001.
Antonio, Muhammad Syafi‟i. Asuransi Takaful. Jakarta: Tim
Asuransi Takaful, 1996.
Anwar, Muhammad . Modelling Interest-based Economy; A Study
in Macro-economics and Development (Grove st., Herndon:
The International Institute of Islamic Thought, 1987)
Anwar, Muhammad. An Islamic Perspective on Capital Markets
and "Islamic Securities in Malaysia, The Pakistan
Development Review
Archer, Simon dan Rifaat Ahmed Abdel Karim. Islamic Finance;
the Regulatory Challenge, John Wiley and Son, 2007.
Ayub, Muhammad. Islamic Banking and Finance: Theory an
Practice, Pakistan: State Bank of Pakistan, 2002.
Az-Zarqa, Mustafa Ahmad. al-Madkhal al-Fiqhi al-‘Am: al-Fiqh
al-Islami> fi> Thaubihi al-Jadi>d. Beirut: Dar al-Fikr,
1968.
Bakhri, Syaiful. Ekonomi Syariah dalam Sorotan, Jakarta: Yayasan
Amanah, 2003.
144
Bapepam. Himpunan Peraturan Perundangan Pasar Modal,
Jakarta: Badan Pelaksana Pasar Modal, 1990.
Bapepam. Regulasi Pasar Modal, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal,
Jakarta: Badan Pengawas Pasar Modal, 2006.
BAPEPAM. Studi tentang Investasi Syariah di Pasar Modal
Indonesia, 2004.
Billah, Mohd Ma‟sum .
Applied Islamic Capital Market.
Selangor: Sweet & Maxwell Asia, 2010.
Billah, Mohd. Ma‟sum. Islamic Law of Trade and Finance a
Selection of Issues, Malaysia, Ilmiah Publishers, 2003.
Brigham dan Huston. Fundamentals of Financial Management,
Jakarta: Salemba Empat, 2006.
Brigham, Eugene F. dan Louis C. Gapenski. Financial
Management, Theory and Practice. Orlando Florida: The
Dryden Press. 1997.
C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil. Pokok-pokok Hukum
Pasar Modal, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004.
Chapakia, Hamdia
and Yulizar D. Sanrego. An Empirical
Analysis of Islamic Stock Return in Malaysia, IDB-IRTI &
Mu‟amalat Institute, The International Conference on
Islamic Capital Markets: Regulations, Product and
Practices with Relevance Islamic Banking and Finance,
Jakarta, Indonesia, 27 Agustus 2007.
Chapra, M. Umer. The future of economics: an Islamic Perspective
Jakarta : Gema Insani Pres, 2001.
Choudhury, Mausudul Alam . Money in Islam, A Study in Islamic
Political Economy, London and New York: Routledge,
1997.
Darmadji, Tjiptono dan Hendry M. Fakhruddin. Pasar Modal di
Indonesia Pendekatan Tanya Jawab, Jakarta: Salemba
Empat, 2006.
Darmaji T. dan M. Fakhruddin, “Pasar Modal di Indonesia
Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat, 2006.
145
Darsono. Manajemen Keuangan Pendekatan Praktis Kajian
pengambilan Keputusan Bisnis Berbasis Analisis
Keuangan, Jakarta: Diadit Media, 2006.
Departemen Keuangan RI-Badan Pengawas Pasar Modal
Indonesia, Studi tentang Investasi Syariah di Pasar Modal
Indonesia, Jakarta: Bapepam, 2004.
Domadaran, Aswath. Domadaran on Valuation. Singapore: Jhon
Wiley & Sons, Inc, 1994.
Donald, Fischer E. & Ronald J. Jordan. Security Analysis And
Portofolio Manajeme. New Delhi: Prentile, Hall of India
Private Limited, 1996.
Dusuki, Asyraf Wajdi. and Abdelazeem Abozaid. Fiqh Issues in
Short Selling as Implemented in the Islamic Capital Market
in Malaysia, Paper published in Journal of King Abdul Aziz
University Islamic Economics; Volume 21, Number 2; 2008
Edwin, Elton J. dan J. Martin Gruber, Modern Portofolio theory
and investment Analysis. New York: Jhon Wiley & Sons,
Ine., 1995.
El-Gari, M. Islamic Equity Investment. London: Islamic Finance
Inovation and Growth, Euronomy books and AAOIFI, 2002
Equilibrium. Pasar Modal dalam Decoupling Trap Jurnal Ekonomi
dan Kemasyarakatan, , Vol. 5, No. 2 Januari – April 2008
Fabozzi, Frank J . Investment, Jakarta: Salemba Empat, 1999
Fabozzi, Frank J.
Fondations of Financial Market and
Institutions, 1999
Fama, E. E:, 'Efficient Capital Markets: A Review of Theory and
Empirical Work', journal of Finance 25, 383. 1970
Fama, Eugene. Uang dan Bank. Jakarta: Erlangga, 1993.
Fatwa DSN
no: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang pedoman
pelaksanaan investasi untuk reksa dana syari'ah
Fatwa DSN no: 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang obligasi syari‟ah
Fayyadh, Athiyah. Su>q al-Awraq al-m>aliyah fi> niz}ami alFiqh al-Islami. Mesir: Daar al-Nashr lil Jam‟iy>at, 1978.
Firdaus, Muhammad dkk. Sistem Kerja Pasar Modal Syariah;
Briefcase Book Edukasi Profesional Syariah, Jakarta, 2005.
146
Foster, Goerge . Financial Statement Anaylisis. New Jersey:
Prentice Hall, 1986.
Gordon, William. F. Dan J Alexander. Jeffery Bailey. Iinvestment.
Jakarta: Indeks, 2005.
Hamad, Nuzyah. Mu’jam al-Musthalahat al-Iqtishadiyyah fi lughat
al-Fiqhiyyah, Kairo: Ma‟had al-„Ali lil Fikri al Islam, 1995.
Hamamah, Ibn. Sharh Fath al-Qodir. Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
tt
Hamidi, Luthfi. Jejak Jejak Ekonomi Syariah, Jakarta: Senayan
Abadi, 2003.
Harinato F. Sudomo S, Perangkat dan Teknik Analisis investasi di
Pasar Modal Indonesia . Jakarta: PT. BEJ, 2001.
Harun, Nasroen. Fiqh Mu’amalah, Jakarta: Gaya Media Pratama,
2000.
Harun, Nasroen. Perdagangan Saham di Bursa Efek Tinjauan
Hukum Islam, Jakarta: Yayasan Kalimah, 2000.
Hasan, Ahmad, Mata Uang Islam, Telaah Komprehensif Sistem
Keuangan Islam. Jakarta: PT. Raja Granfindo Persada,
2005.
Hassan, Kabir and Mervyn Lewis. Hand Book of Islamic Banking,
Edward Elgar Publishing, 2007.
Hubbard, R. Glenn. Money, the Financial System, and the
Economy, Fifth Edition Boston: Pearson Addison Wesley,
2005,
Huda, Nurul dan Mustafa Edwin Nasution. Investasi pada Pasar
Modal Syariah. Jakarta: Kencana, 2007.
Husnan, Suad dan Enny Pudjiawati. Dasar-dasar Manajemen
Keuangan. Edsi 4. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Husnan, Suad. Dasar – dasar portofolio dan Analisis Sekuritas,
Edisi ke tiga . Yogyakarta: AMP.YKPN, 2001.
Husnan, Suad.
Manajemen Keuangan,Teori dan Penerapan
(Keputusan Jangka Panjang). Yogyakarta: BPFE, 2000.
IDB-IRTI & Mu‟amalat Institute. The International Conference on
Islamic Capital Markets: Regulations, Product and
147
Practices with Relevance Islamic Banking and Finance,
Jakarta: Indonesia, 2007.
Indah, Jumayanti. Analisa fundamental sebagai dasar pengambilan
keputusan Investasi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis.2004
Indrianto, Nur din Bambang Supomo. Metode Penelitian Bisnis
Untuk Manajemen dan Akuntansi, Edisi kedua, Yogyakarta:
BPEE, 1999.
Indriyo G
dan Agus Mulyono. Prinsip – Prinsip Dasar
Manajemen. Yogyakarta: BPFE, 2001.
Iqbal, Zamir and Hirosho Tsubota. Emerging Islamic Capital
Market; a quickening pace and new potential, The World
Bank Journal in Segment Islamic Finance
Iqbal, Zamir dan Abbas Mirakhor. An Introduction of Islamic
Finance, John Wiley and Son, 2007
Isa, Musa Adam. Âsar al-Taghayyurât fi Qîmati al-Nuqȗd wa
Kaifiyyah Mu’ allijâtihâ fi al-Iqtishâd al-islâmy. Jeddah:
Majmȗd Dâllah al-Barâkah, 1993.
Iskandar, Syamsu. Bank Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: PT.
Semesta Asa Bersama, 2008.
Islahi, AA. Konsepsi Ekonomi Ibn Taimiyah. Surabaya: Bina Ilmu,
1997
Islamic Capital Market Fact Finding Report, OICV-IOSCO
(Report of The Islamic Capital Market Task Force of The
International Organization of Securities Commissions.
Islamic Capital Market Revenue, Securities Commission Annual
Report 2004
Jaudah, Sholah. Burshâh al-Aurâq al-Mâliyyah: Ilmiyyan wa
Amaliyyan. Kairo: al-Ahram. tt
Jauziyah, Ibn Qoyyim. I’lam al-Muwâqi’in ‘an Rabb al-‘Alamîn.
Kairo: Maktabah Kuliyyah al-Azhariyyah, 1968.
Jauziyah, Ibnu Qayyim . ath-Thuruq al-Hukmiyyah fi as-Siyahsah
asy-Syar’iyyah. Kairo: Mu‟assasah al-„Arabiyyah li athThiba‟ah wa an-Nasyr, 1961.
Jhon Rhee, S. Securities Markets and Systemic Risks in Dynamic
Asian Economies. Paris: OECD, 1992.
148
Kahf, Monzer and Tariqullah Khan. Principles of Islamic
Financing, Islamic Research and Traning Institute – Islamic
development Bank, Paper No. 16
Kahf, Monzer. Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Kamal, Yusuf. al-Isla>m wa al-Maza>hib al-Iqtis}adiyah alMu’akhirah. Mansȗrah-Mesir: Da>r al-Wafa‟ li alT}aba>‟ah wa al-Nas}r wa al-Tauzî, 1990.
Karimsyah. Implementasi Prinsip-Prinsip Syariah di Pasar Modal
dan Perbankan Indonesia (Tinjauan Hukum), www.
Karimsyah.com
Kasmir. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2001.
Keown, Arthur J., David F Scott J.R., John D Martin dan J William
Petty. Basic Financial Management. Seventh Edition,
Texas: Prentice – hall International, 1996.
Keown, J Arthur. (et al), Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat, 1991.
Keown, Martin, Petty, Scoott. Financial Managemen: Principles
and Applications, Ninth Edition, Jakarta: PT. Intermasa,
2004.
Keputusan Bapepam dan LK tanggal 30 Mei 2008
Kertonegoro, Sentanoe. Analisis dan Manajemem Investasi,
Jakarta: Widya Press, 1995.
Khaled A. Hussein. Islamic Investment : Evidence From Dow
Jones And FTSE Indices. On Islamic Economic and
Banking in 21 century. Jakarta, 2005.
Khallaf, Muhammad Abdul Wahab . Ilmu Us}ul Fiqh. -Kuwait:
Da>r Qolam, 1986.
Kuncoro, Mudjarad. Manajemen Keuangan Internasional;
Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global. Yogyakarta: BPFE,
2000.
M. Ali Hasan. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam; Fiqh
Muamalah. Jakarta: Rajawali Pers, 2003.
149
Manan, Abdul. Aspek Hukum dalam Penyalenggaraan Investasi di
Pasar Modal Syariah Indonesia, Jakarta: Prenada Media
Group, 2009.
Mannan, M.Abdul. Understanding Islamic Finance: A Study of The
Securities Market in An Islamic Framework, Islamic
development Bank – Islamic Research and Training
Institute, Research Paper No. 18, 1993, Jeddah Saudi
Arabia.
Martin J. D., S. M. Cox and P- D. MacMinn., The Theory of
Finance: Evidence and Applications. Chicago: The Dryden
Press, 1988
Metwally M.M. Teori dan Model Ekonomi Islam . Jakarta: Bangkit
Daya Insani, 1995.
Miskhin, Frederic S. and Stanley G. Eakins. Financial Market
Institutions, International Edition, Boston: Addison Wesley
World Student Series, 2003.
Mubarok, Jaih.
Perkembangan fatwa Ekonomi Syariah di
Indonesia. Jakarta: Pustaka bani Quraisy, 2004.
Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter. Jakarta: Salemba
Empat, 2002.
Nafik, Muhammad. Bursa Efek dan Investasi Syariah. Jakarta:
Serambi, 2009.
Nanga, Muana. Makro Ekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.
Nangi Sardehi, Islamic Capital Market, Verlag, 2008
Nasution, Anio Indah Lestari. Pengaruh Faktor Fundamental dan
Teknikal terhadap harga saham.Thesis.USU.2006
Nasution, Mulia. Ekonomi Moneter: Uang dan Bank. Jakarta:
Djambatan, 1998.
Ngapon.
Semarak
Pasar
Modal
Syariah,
www.bapepam.go.id/old/layanan/warta/2005.../semarak_sy
ariah.pdf.
Niederhoffer , Victor. Practical Speculation, Laurel Kenner, 2003
Nopirin, Ekonomi Moneter. Yogyakarta: BPFE, 1990.
150
Obaedullah, Muhammed. Ethic and efficiency in Islamic Stock
Market. International Journal of Islamic Financial Services,
Volume 3, No.2
Pontjowinoto, Iwan P. Fianancial Assets and Investmen Products
menurut syariah, makalah disampaikan pada training BII
FASE di Hotel Indonesia, April 2003.
Pontjowinoto, Iwan. Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal:
Pandangan Praktisi, Jakarta: Modal, 2003
Qudamah, Ibn. Mughni wa al-Syarah al-Kabir. Beirut: Da>r
Kita>b al-„Arabi, 1983.
R. Agus, Manajemen Keuangan teori dan Aplikasi . Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 1996.
Rab, Hifzur. Economic Justice in Islam; Monetary Justice and The
Way Out of Interest (Riba). Kuala Lumpur: A.S Noordeen,
2006.
Raharjo, Sapto. Panduan Investasi Obligasi, Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2003.
Rahman , Afzalur. Economic Doctrine of Islam. Lahore: Islamic
Publication Ltd, 1980
Rajab, Ibn. Qowaid Ibn Rajab. Da>r al-Fath.
Reilly, Frank K. dan Edgar A. Norton, Investment. Cincinnati:
South Western, 2006
Reilly, Frank K and Brown Keith C., Investment Analysis and
Porotfolio Management. Orlando: Dryden Press, 1997.
Richard B. Stewart M., Principles of Cooperate Finance. New
York: MCGtaw-Hill, 1991.
Ridho, Muhammad Yusuf. al-Islam wa Musykilatuna al-Hadiroh.
Beirut: Dar al-As}r al-Hadits, 1991.
Riyanto, Bambang. Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, 1995.
Rodoni, Ahmad dan Abdul Hamid, Lembaga Keuangan Syariah.
Jakarta: Zikrul Hakim, 2008.
Rodwan, Abdul Hamid. Aswa>q al- Awra>q al-Ma>liyyah.
Kairo: Ma‟had „Ali lil fikr Islamy, 1996.
Rodwan, Samir Abdul Hamid. Aswa>q al-Awro>q al-Ma>li>yah.
Kairo: Ma‟had al-Alami li al-Fikr al-Islami, 1996.
151
Ross Stephen A., Randolph Westerfield and Jeffery Jaffe,
Coorporate Finance. USA: Mc. Graw-Hill Higher
Education, 2002).
Rosyadi, Keterkaitan Kinerja Keuangan dengan Perubahan Harga
Saham . Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 2002.
Samuels, J. M. and N. Yacout, 'Stock Exchanges in Developing
Countries', Savings and Development 5, 1981.
Santoso, Imam. Fiqh Muamalah. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna,
2003.
Securities Commision. Resolution of the securities Commission
SAC. SC. Malaysia.2007
Seif I. Tag el-Din. The Stock-Exchange From An Islamic
Perspective, Journal King Abdul Aziz of University Vol. 8
Setiawan, Aziz Budi. Perkembangan Pasar Modal Syariah.
Majalah Hidayah. Mei 2005
Shamsiah Mohamad and Mohd Fadhly Md Yusoff. Key Shariah
Rulling on Sukuk Issuence in the Malaysian Islamic Capital
Market, IDB-IRTI & Mu‟amalat Institute, The International
Conference on Islamic Capital Markets: Regulations,
Product and Practices with Relevance Islamic Banking and
Finance, Jakarta, Indonesia, 27 Agustus 2007
Sharpe, William F. .dkk, Investment. New Jersey: Prentice hall,
1995.
Shiddiqi, Muhammad Nejatullah. Kegiatan Ekonomi Dalam Islam,
Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Shiddiqi, Muhammad Nejatullah. Teaching Economics in Islamic
Perpective, King Abdul Aziz University: Scientific
Publishing Centre, 1996.
Shihab, Quraisy. al-Qur’an & Maknanya. Jakarta: Lentera Hati,
2010.
Siamat, Dahlan. Manajemen Lembaga Keuangan, Jakarta: LP
FEUI, 1999.
Situmorang, M. Paulus. Pengantar Pasar Modal, Jakarta: Mitra
Wacana Media, 2008.
152
Sudarsono, Heri. Bank & Lembaga Keuangan Syariah; Deskripsi
dan Ilustrasi. Yogyakarta: Ekonisia FE UII, 2003.
Sukadersana, I Ketut, dan Yuliansyah
http://jurnal-esai.org
(diakses pada tanggal 02 Desember, 2010)
Sukirno, Sadono. Pengantar Makro Ekonomi . Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2000.
Sunariyah. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, , Edisi II
Yogyakarta: UPP APM YKPN, 2000.
Suruhanjaya Sekuritu. Malaysia, Capital Market development in
Malaysia: History & Perspective, California: University of
California, 2008.
Sutan, Syed Ali Muhammad. A Mini Guide to Shari’ah Audit for
Islamic Financial Institution, CERT Publication Sdn Bhd,
2007.
Sutojo, Heru Sutojo. Tujuan Ekonomis dan Non Ekonomis Pada
Merjer dan Akuisisi. Jakarta: Usahawan, 1993.
Sutrisno, Manajemen Keuangan Teori ,Konsep , Dan Aplikasi,
Konisia, Jakarta. 2005.
Syahatah, Husein. al-Fâidah al-Ribawiyah Wuqȗdu al-Tadhakhum
al-Naqdî wa Laisat Ta‟wîdhan „Anhu. Bank Dubai Islami:
Majalah al-Iqtishâd al-Islami, Jumadi al-Ȗlâ 1402H.
Syaltut, Muhammad. Al-Fatawa . Jeddah : daar El-Syurq, 1995.
Syamsul, M. Model Multifaktor yang dimodifikasi Sebagai Dasar
Pengembalian Keputusan Jual Beli Saham Pada Pasar
Modal Indonesia. Jakarta: Majalah Ekonomi, Desember,
2005.
Syarief, Ahmad Azhar .Evaluasi satu semester penerbitan Daftar
Efek Syariah demi pengembangan Industri Pasar Modal
Syariah di Indonesia .Karim Riview.2008.
Syarief, Ahmad Azhar. Evaluasi satu semester penerbitan Daftar
Efek Syariah demi pengembangan Industri Pasar Modal
Syariah di Indonesia. Karim Riview, 2008
Syibly, M. Roem. Spekulasi di Pasar Modal, Jurnal Ekonomi Islam
La_riba, Vol. 1, No. 1, Juli 2007
153
Taimiyah, Ibnu.
al-Hisbah fi al-Isla>m wa Wazhifah alHuku>mah al-Isla>miyyah. Beirut: Dar al-Kutub al„Ilmiyyah, 1996
Taimiyah, Nizhami . al-Hisbah fî al-Islâm. Mansurâh-Mesir: Dâr
elWafa‟, 1967.
Timothy, Gallagher J and Joseph D Andrew Jr. Financial
Management Principles And Practice. Prentice : New
Jersey, 1999.
Tsubair, Muhammad „Usman. Al Mu’amalat al Maaliyah al
Mu’ashirah, Daar al Nafa-is, 2007.
Tsubota, Hiroshi dan Zamir Iqbal, Emerging Islamic Capital
Market. : a quickening and new potential (Word Bank)
Tumanggor, M.S.. Kajian Hukum Atas Insider Trading di Pasar
Modal Suatu Antisipasi Terhadap Pengembangan Ekonomi
Indonesia (Satu Tela’ah Singkat) Majalah Uang dan Efek
Jakarta: Juni 1997
Usman, Marjuki dkk. ABC Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Institut
Bankir Indonesia, 1994.
Usman, Marjuki. Pengetahuan Dasar Pasar Modal, Jakarta:
Institute Bankir Indonesia, Departemen Keuangan, 1997.
Van Horn, James C dan John Marchowiz, Jr. Principle of Financial
Management. Jakarta: Salemba Empat, 1997.
Weston, Fred J. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jakarta:
Erlangga, 1993.
Weston. Fred J. dan Thomas Copleand. Manajemen keuangan,
edisi revisi , Jakarta: Binaputra. 1995.
www. Idx.co.id
www.bi.co.id
www.ihilal.com/index.html.
Yarnest, Analisis Pengaruh Variabel Kinerja Keuangan
Perusahaan terhadap Return Saham; Studi di BES. Jurnal
Ekonomi, 2002.
Yasni, Muhammad Gunawan. Pasar Modal Syariah, Modal Edisi
No. 1/1 November 2002.
154
Yasso Winarto, Pasar Modal Indonesia . Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan. 1997.
Yuliati, Sri Handaru dan Prasetyo Handono, Tjiptono Fandy.
Manajemen Portofolio dan Analis Investasi, Yogyakarta :
Andi,1996.
Zuhaily, Wahbah. al Fiqh al Islami wa adillatuhu. Beirut: Dar alfikr, 1984.
GLOSSARY
155
Agio
: Kelebihan nilai saham yang diedarkan atas nilai
nominalnya.
Bond
: surat pengakuan hutang secara tertulis, atau
obligasi. Obligasi dikeluarkan dalam bentuk
kupon atau alat pengunjuk, atau didaftarkan
menurut nama pemiliknya.
Broker
: setiap agen yang bertindak sebagai perantara
antara pembeli dan penjual atas kekayaan atau
jasa.
Capital Gain : Keuntungan dari hasil menjual saham,
berupa
kelebihan nilai jual dari nilai beli saham.
Capital Loss : Kerugian dari hasil menjual saham, berupa
kekurangan nilai jual dari nilai beli saham.
Cash Flow
: Suatu aliran yang berhubungan dengan kas
berupa pendapatan maupun biayanya, sehingga
menunjukkan hasil akhir operasi usaha.
Dividen
: Merupakan keuntungan perusahaan yang akan
dibagikan ataupun ditahan perusahaan untuk
menjadi modal kerja perusahaan.
Emiten
: Badan usaha/pemerintah yang mengeluarkan
sekuritas untuk diperjual-belikan.
Equity
: (1) Setiap hak atas suatu aktiva perusahan; (2)
hak atas kekayaan dalam suat usaha; (3) Modal
saham ditambah laba yang ditahan.
Insider trading : Perdagangan efek yang dilakukan oleh mereka
yang termasuk dalam perusahaan, perdagangan
yang didasari oleh adanya informasi orang dalam
(inside information) yang penting dan belum
terbuka (disclose) untuk umum, di mana pihak
156
insider tersebut mendapatkan keuntungan
langsung atau tidak langsung, atau merupakan
keuntungan dengan jalan pintas.
Monopoli
: Setiap keadaan pasar dimana tidak ada kompetisi
murni.
Pasar Modal : Pasar konkrit atau abstrak yang mempertemukan
pihak yang menawarkan dan yang memerlukan
dana jangka panjang, yaitu jangka lebih dari satu
tahun. Umumnya yang termasuk penawar di sini
ialah perusahaan asuransi, dana pensiun, bank
bank gabungan, sedangkan yang termasuk
peminta ialah pengusaha, pemerintah pusat dan
daerah.
Pasar Primer : Tempat penjualan sekuritas emisi baru; biasanya
yang membeli adalah lembaga keuangan, badan
atau perkumpulan lainnya.
Present Value : Nilai yang dihitung berdasarkan besarnya jumlah
uang pada permulaan periode atas dasar tingkat
bunga tertentu dari suatu jumlah yang akan
diterima beberapa waktu kemudian.
Prospektus
: Setiap penawaran tertulis untuk menjual sekuritas
dalam bentuk buku, yang pada pokoknya
menunjukkan kualitas sekuritasnya yang dibuat
oleh perusahaan yang bersangkutan atau penjual.
Rate
: Harga per unit jasa selama periode tertentu atau
jumlah tertentu.
Rentabilitas
: Perbandingan antara laba dengan aktiva atau
modal yang menghasilkan laba tersebut, dalam
suatu perusahaan.
Sekuritas
: Istilah umum untuk setiap kepemilikan surat
berharga yang dapat diperjualbelikan. Dapat pula
157
berupa bukti hutang atau bukti penyertaan modal,
misalnya saham, obligasi, hipotik, konosemen,
aksep, wesel, sertifikat deposito, dan lain-lain.
Short selling : Istilah atau cara bermain saham dengan menjual
saham terlebih dulu dan baru membelinya
kemudian berdasarkan jangka waktu jatuh tempo
tertentu. Cara ini biasanya dilakukan pada saat
pembukaan perdagangan, harga-harga saham naik
cukup tinggi (bullish) dengan harapan harganya
kemudian akan turun, sehingga investor memiliki
margin positif. Di Indonesia cara ini secara resmi
sebenarnya dilarang.
Spekulator
: Orang/badan yang melakukan spekulasi.
Stock
: (1) Bagian dari modal saham perusahaan dalam
bentuk saham-saham; (2) Persediaan atau
inventory.
Stock Splits
: Saham-saham baru yang terdiri dari dua atau
lebih lem bar saham sebagai pengganti dari tiap
lembar saham lama yang sudah ada dalam
peredaran.
Trading
: Merupakan pemberian jaminan hak kepada
pemegang saham untuk membeli saham baru
pada periode waktu tertentu atas kecenderungan
harga. Warrant sendiri diperjualbelikan sampai
dengan jangka waktu pengonversiannya
/penebusannya mejadi saham.
158
TENTANG PENULIS
Hasbulloh Lahir pada tanggal 26 Mei
1985 di Desa Nagrak Kecamatan
Gunungputri Kabupaten Bogor dari
pasangan H. Ghazaly dan Hj. Muhibah.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar di
SDN Nagrak I, ia melanjutkan ke
Pesantren Modern Daarul Uluum di Kota Bogor sampai
menyelesaikan masa studinya selama 6 Tahun di pesantren
tersebut pada tahun 2003.
Setelah lulus dari Pesantren Modern Daarul Uluum, ia
melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi di Universitas
Pakuan (Bogor) Pada Konsentrasi Manajemen Keuangan
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan lulus pada
tahun 2007. Sambil menyelesaikan studinya ia aktif di
berbagai keorganisasian mahasiswa, Tahun 2004 menjabat
sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Manajemen
Universitas Pakuan, tahun 2005 menjabat sebagai Ketua
Umum Badan Legislatif Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Pakuan, Tahun 2006 bersama kawan-kawan
aktivis dari berbagai fakultas di Universitas Pakuan sebagai
Deklarator PRESMA-UNPAK dan menjabat sebagai
presidium Mahasiswa Universitas Pakuan. Selain kegiatan
Intra kampus, ia juga aktif dalam pembentukan berbagai
organisasi kemahasiswaan di luar kampus diantaranya salah
satu Deklarator Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Bogor,
Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Nusantara. Tahun
2008, Ia kemudian melanjutkan Magisternya di Sekolah
Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan
Konsentrasi Manajemen Keuangan dan Perbankan Syariah
(Ekonomi Islam).
Selain mengajar di Pesantren Modern Daarul Uluum, sejak
2003 ia aktif di berbagai lembaga studi dan keorganisasian.
Diantaranya Lembaga Kajian Masyarakat (LEKAT), Pusat
Studi Pengembangan Ekonomi Regional (PUSPERAL),
Indonesian Center for Deradicalization and Wisdom
(ICDW), LPAM, LP3M, YPNB, PK KNPI Bogor Timur.
168
Download