PEMBANGUNAN EKONOMI GLOBAL

advertisement
PEMBANGUNAN EKONOMI GLOBAL
 Pembangunan ekonomi global sebenarnya telah di
mulai sejak selesainya PD II dengan tujuan untuk
membangun kembali negara-negara Eropa yang
telah porak-poranda akibat peperangan.
 Pembangunan dipelopori oleh Bank Dunia (World
Bank)
dengan
tujuan
untuk
mendorong
pertumbuhan ekonomi dunia.
.
 Terjadinya krisis moneter internasional (Bretton
Woods), krisis minyak dan komoditi primer lainnya,
munculnya
negara-negara
industri
baru,
terbentuknya pasar tunggal Eropa, disepakatinya
pembentukkan World Trade Organization (WTO),
semua mengarah pada globalisasi ekonomi
 Era global saat ini ditandai dengan adanya
keterbukaan, keterkaitan/ketergantungan, dan
persaingan yang semakin ketat, khususnya
bidang ekonomi.
 Pengaruh globalisasi ekonomi dunia ditandadi
dengan ciri-ciri atau karakteristik seperti :
Keterbukaan ekonomi, terutama dengan adanya
liberalisasi pasar dan arus ruang, serta transfer
teknologi secara internasional
Adanya
keterkaitan
dan
ketergantungan
ekonomi, keuangan, perdagangan, dan industri
antar negara atau perusahaan yang ditunjukkan
oleh
adanya
pembentukkan
perusahaan
multinasional dan kecenderungan integrasi
ekonomi regional
Persaingan yang semakin ketat antar negara
atau
perusahaan
untuk
meningkatkan
produktivitas, efisiensi, dan efektivitas yang
optimal
LIBERALISASI NEGARA-NEGARA
BERKEMBANG DAN INDUSTRI
 Liberalisasi di negara sedang berkembang
(NSB) menurut Kuncoro (2003) adalah
merupakan usaha pemerintah yang bertujuan
untuk memperbaiki kinerja dari perusahaanperusahaan pemerintah melalui peningkatan
efisiensi, likuidasi, atau stastarisasi
 Liberalisasi di NSB mempunyai beberapa
perbedaan bila dibandingkan dengan liberalisasi
di negara maju (industri)
 Menurut Wilder dan Jemeson dalam Kuncoro
(2003)
perbedaan-perbedaan
tsb
meliputi
beberapa dimensi, a.l:
Liberalisasi
di NSB menitikberatkan pada
pengurangan defisit anggaran dan tingkat inflasi.
Sedangkan di negara-negara industri, liberalis
ditujukan
untuk
meningkatkan
anggaran
pemerintah melalui penjualan aset-aset negara
kepada swasta
Tujuan pelaksanaan liberalisasi di NSB
ditekankan
pada
pencapaian
program
redistribusi pendapatan, sedangkan di negara
industri liberalisasi lebih ditujukan pada
pembentukkan kelas menengah baru sebagai
pendukung sistem pasar.
Terbatasnya
kelas
menengah
di
NSB
menyulitkan pembentukkan modal melalui pasar
modal. Dengan meningkatnya kelas menengah
di negara industri sebagai adanya liberalisasi,
mendorong tumbuhnya investasi swasta.
 Untuk meningkatnya modalnya, kebanyakan perusahaan
swasta di NSB lebih senang menggunakan sistem
perbankan (hutang pada bank) dibandingkan dengn
menjual sahamnya di pasar modal. Sedangkan
perusahaan swasta di negara industri lebih menyukai
menjual sahamnya melalui pasar modal dibandingkan
meminjam modal di bank.
 Pelaksanaan liberalisasi di NSB tidak terlepas dari
pertimbangan unsur kedaerahan dan perbedaan etnik, di
mana perbedaan tsb jarang ditemui di negara-negara
industri.
Pada umumnya pelaksanaan liberalisasi perekonomian
suatu negara tidak terlepas dari aspek politik
 Untuk menjamin tersedianya lapangan kerja, liberalisasi
dapat dilakukan dengan jalan :
(1) Memberikan insentif kepada perusahaan swasta
sehingga
memungkinkan
bagi
mereka
untuk
menciptakan lapangan kerja baru;
(2) Menyerahkan pengelolaan BUMN/D dan perusahaan
jasa lainnya kepada swasta yang memungkinkan
adanya rasionalisasi tenaga kerja dan terciptanya
lapangan kerja baru

Apapun sifat pemerintahan suatu negara, diperlukan
adanya dukungan yang cukup bagi kelangsungan
pemerintahan
untuk
melaksanakan
liberalisasi
perekonomian.
LIBERALISASI PERDAGANGAN
 Berdasarkan hasil penelitian mengungkapkan peranan
perdagangan yang lebih bebas terhadap perekonomian,
baik terhadap volume perdagangan, nilai perdagangan
maupun pendapatan nasional. Sekretariat GATT/WTO
memperkirakan suksesnya Putaran Uruguay akan
meningkatkan pendapatan dunia sebesar US$ 230 miliar
per tahun.
 Pelaksanaan liberalisasi perdagangan merupakan usul
Eminent Persons Group (EPG) dan Pasific Business
Forum (PBS), EFG mengusulkan agar perdagangan
bebas di kawasan Asia Fasifik dilaksanakan sepenuhnya
pada tahun 2020, dan tahun 2015 untuk negara industri
baru.
 PBF
mengusulkan di mulainya tahun 2001, dan
diharapkan sepenuhnya dilaksanakan pada tahun 2010.
 Akibat peraturan Uruguay, perdagangan dunia pada
tahun 2005 diperkirakan akan meningkat 12% lebih tinggi
atau US$ 745 miliar di atas nilai perdagangan jika tidak
ada putaran Uruguay. Kenaikan terjadi pada garmen
(60%), tekstil (34%), hasil pertanian, perikanan dan
kehutanan (20%) serta makanan dan minuman (19%)
 Khusus
untuk Asia, Bank Dunia memproyeksikan
kawasan yang menguasai 25% GNP di dunia ini akan
menikmati separuh peningkatan perdagangan dunia
hingga tahun 2000, atau lebih besar daripada yang
dinikmati AS atau Uni Eropa
 Prof
Garnaut dari Australian National University
memperkirakan Cina, Jepang, Korea Selatan, dan
Indonesia akan melalpaui negara-negara Uni Eropa,
termasuk Jerman pada abad 21 dalam rangking skala
perekonomian global.
 Untuk Indonesia menurut proyeksi sekretariat GATT,
putaran Uruguay akan menyebabkan ekspor meningkat
10,94% dan GDP naik 0,8% atau US$ 856 juta. Peluang
tsb meliputi produk manufaktur ke Eropa Barat dengan
peluang peningkatan sebesar 68,67% dan ke Amerika
Utara sebesar 64,65% dan selebihnya ke negara-negara
di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika.
 Tidak semua sependapat dengan pandangan-pandangan
optimis terhadap liberalisasi perdagangan, terutama
dampak GATT/WTO dan APEC terhadap ekonomi
Indonesia, sebab meskipun bentuknya belum jelas,
APEC tampaknya akan mengarah ke semacam kaasan
perdagangan bebas.
 Mengutip studi Organisasi Kerjasama Ekonomi dan
Pembangunan (OECD) dan Bank Dunia yang
menyimpulkan bahwa pelaksanaan putaran Uruguay
dalam rangka GATT akan menimbulkan situasi ekonomi
dan sosial yang lebih parah di negara-negara
berkembang yang lemah seperti Indonesia,
 Dampak liberalisasi perdagangan kawasan yang lebih
sempit yi AFTA, dan terhdap negara-negara seperti
Indonesia. Berdasarkan hasil studi bahwa AFTA tidak
membeikan efek positif secara signifikan terhadap
perdagangan
dan
pendapatan
negara-negara
pesertanya.
 Sebaliknya perdagangan di ASEAN akan menimbulkan
serious domestic injury pada negara-negara yang
ekonominya lemah, seperti tersingkirnya kekuatankekuatan ekonomi domestik sebagai akibat adanya
persaingan dengan produk-produk dari luar.
 Alan Callor dari Caroll Partners Internasional
dalam Halwani (2002), mengatakan bahwa PDB
Dunia kini sebenarnya hanya dikuasai tiga
lingkaran kumpulan negara (The Three Circles).
1. Lingkaran pertama adalah negara-negara di
kawasan Amerika Utara yang mempunyai 29%
PDB dunia;
2. Lingkaran kedua, Eropa Barat yang memegang
27% PDB dunia;
3. Lingkaran ketiga, kawasan Asia Timur, yakni
kelompok negara-negara yang berhadapan
dengan Samudra Pasifik, termasuk Australia
dan Selandia Baru, menguasai 28% PDB
dunia.
GLOBALISASI EKONOMI
Globalisasi ekonomi dapat didefinisikan
sebagai mendunianya kegiatan dan keterkaitan
perekonomian.
 Kegiatan perekonomian tidak lagi mengenal batas-batas
kenegaraan, bukan lagi sekedar internasional tapi
bahkan transnasional.
 Dalam kondisi transnasional yang demikian kegiatan-
kegiatan bukan lagi terbatas pada aspek perdagangan
dan keuangan, tetapi meluas ke aspek-aspek produksi
dan pemasaran, bahkan juga sumber daya manusia
 Globalisasi
ekonomi
menggiring
perusahaan-perusahaan raksasa yang
semula bersifat multinasional menjadi
transnasional.
 Keunggulan usaha dalam perekonomian
bukan lagi didasarkan pada strategi
keunggulan
komparatif
(comparatif
advantage) melainkan strategi keunggulan
kompetitif (competitive advantage)
 Perusahaan-perusahaan transnasonal berusaha
melebarkan sayapnya ke berbagai negara bukan
lagi untuk mengejar kuntungan yang sebesarbesarnya berdasarkan pertimbangan skala usaha
(ecomomies of scale), tetapi untuk merebut
pangsa pasar seluas-luasnya berdasarkan
pertimbangan cakupan luasnya area (ecomomies
of scope)
 Tantangan pembangunan ekonomi yang kita
hadapi sekarang bukan lagi sekedar masalah
efisiensi produksi dan peningkatan ekspor non
migas, melainkan jauh lebih penting lagi adalah
pengembangan sumber daya manusia dan
teknologi.
 Dalam konteks manajemen pembangunan, perencanaan
pembangunan yang sentralistis mau tidak mau harus
dikikis sehingga menjadi sentralistis, dengan demikian
demokrasi ekonomi perlu dikembangkan.
 Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di masa
OTDA sekarang dan seterusnya haruslah melibatkan
masyarakat yang lebih luas sehingga hasilnya dapat
dinikmati oleh masyarakat itu sendiri.
 Dalam konteks politik-ekonomi internasional, kita harus
berusaha meningkatkan ketangguhan ekonomi nasional
agar selalu siap menghadapi kompetisi ekonomi global.
PRO-KONTRA GLOBALISASI EKONOMI
 David Held dalam Global Transformation dalam Halwani
(2002) merupakan kelompok transformatif yang
mengatakan bahwa benar globalisasi telah terjadi pada
masa lalu. Ada tiga faktor yang membedakan globalisasi
masa lalu dan masa kini, yaitu : velocity, intensity dan
extensitiy.
 Karena ketiga faktor tsb maka globalisasi menimbulkan
dampak yang
sebelumnya
jauh
lebih
dasyat
daripada
masa
 Globalisasi yang berlangsung saat ini bersamaan dengan
kebangkitan pemikiran neo-liberalisme di dunia barat
yang berusaha membangkitkan kembali pemikiran
Keynessianisme, yaitu filsafat pertama yang koheren
dengan intervensi negara dalam kehidupan ekonomi.
 Bagi kaum neo-liberal prinsip-prinsip Ricardo dan Smith
merupakan relevansi komtemporer.
PERAN KEKUATAN MEKANISME PASAR &
INTERVENSI PEMERINTAH DALAM PROSES
GLOBALISASI EKONOMI
 Aliran
pemikiran neo-liberal mengatakan bahwa
kesejahteraan suatu negara dapat digiring melalui peran
kekuatan pasar, dengan meminimumkan peran
pemerintah.
 Konsep neo-liberal dalam beberapa kasus dan persoalan
ternyata dapat dipakai untuk mengatasi masalah serta
memberi arah yang tepat dalam proses pembangunan
yang efisien yang jauh dari mentalitas KKN dari para
birokrat.
 Konsep dan pendekatan mekanisme pasar
secara murni yang meminggirkan peran
pemerintah sebagai penyeimbang, sejak
beberapa dasa warsa terakhir mulai
dipertanyakan, karena pasar ternyata
gagal dalam proses menyempitkan
kesenjangan antara negara kayas dengan
negara miskin, dan antara golongan
masyarakat kaya dengan masyarakat
miskin di suatu negara.
 Mekanisme pasar yang menjadi andalan bagi
penganut
paham
neo-liberal
ternyata
mengandung kelemahan a.l :
 Liberalisme pasar modal ternyata telah
memungkinkan modal bebas bergerak setiap
saat di mana saja. Regulasi pasar modal global
dapat mempengaruhi kuat rapuhnya stabilitas
ekonomi suatu negara atau suatu kawasan,
seperti terjadinya krisis ekonomi di kawasan
Asia.
Dalam proses globalisasi yang terjadi
bukan konvergensi, seperti yang dijanjikan,
tetapi sebaliknya yaitu kesenjangan antar
negara dan kawasan, serta kesenjangan di
dalam negera dan kawasan itu sendiri.
Ternyata krisis lingkungan global tidak
dapat diatasi oleh kekuatan pasar.
PROSPEK EKONOMI KERAKYATAN
DALAM GLOBALISASI EKONOMI
 Pembangunan
nasional
adalah
pembangunan
manusia
Indonesia
seutuhnya dan pembangunan masyarakat
Indonesia seluruhnya, dengan Pancasila
sebagai dasar, tujuan dan pedoman
pembangunan nasional
 Kebijakan pembangunan nasional dititik
beratkan dalam bidang ekonomi, dengan
sasaran utama mencapai keseimbangan
antara bidang pertanian dan bidang
industri yang sebagian besar usaha
pembangunan
mengarah
kepada
pembangunan
ekonomi,
sedangkan
pembangunan di bidang lain hanya bersifat
sebagai penunjang dan melengkapi bidang
ekonomi.
 Terpuruknya
ekonomi
Indonesia,
membuat struktur kekuatan dunia
usaha
mengalami
pergeseran.
Paradigma
pembangunan
yang
seharusnya berbasis pada kekuatan
rakyat yang telah dikembangkan
pemikir
pembangunan
ekonomi
nonstrukturalis (mubyarto, Sri Edi
Swasono, Sritua Arief) telah diabaikan
oleh pemerintah baru.
 Terjadinya krisis ekonomi Indonesia
yang
menenggelamkan
para
konglomerat,
maka
kekuasaan
negara dalam bidang ekonomi
mendadak menjadi sangat besar,
karena pemerintah memiliki seluruh
bank dan sektor ekonomi penting
lainnya.
 Munculnya
pemikiran yang sifatnya
melakukan rekonstruksi sistem ekonomi
melalui restrukturisasi dan reorientasi
dunia usaha, maupun reformasi bidang
lainnya hingga proses transformasi yang
merupakan bagian dari pergeseran
paradigma
pembangunan
dari
pembangunan
dengan
konsentrasi
ekonomi yang dikomandoi oleh lingkar
konglomerasi, menuju pemberdayaan
ekonomi rakyat secara total
 GBHN 1999 diterjemahkan ke dalam suatu
strategi
kebijakan
dan
program
pembangunan yang efektif dan efisien yang
diberi nama Program Pembangunan Nasional
(PROPENAS) 2001-2004. isi PROPENAS
menekankan pada pendekatan perencanaan
strategis dengan agenda kebijakan nasional,
di mana sumber daya difokuskan pada
pemecahan masalah-masalah nasional yang
penting, mendasar dan mendesak.
.
 Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan
yang diterapkan pada rencana pembangunan
sebelumnya yang menekankan pendekatan
komprehensif antar bidang dan sektor-sektor
pembangunan yang dalam pelaksanaannya
banyak terjadi penyimpangan. Rancangan
PROPENAS (2001-2004) memfokuskan pada
lima agenda utama, yang meliputi sistem politik
yang demokratis, supremasi hukum, pemulihan
ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan terakhir
pembangunan daerah
Download