ARTI NILAI DALAM SENI Hamdan Akromullah

advertisement
ARTI NILAI DALAM SENI
Hamdan Akromullah
Dosen Prodi Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Jln. Bahder Johan, Padangpanjang, Sumatera Barat
[email protected]
Abstrak: Nilai merupakan suatu topik yang tidak habis-habisnya dan
selalu relevan untuk diperbincangkan. Begitu juga halnya kaitan nilai
dengan seni. Dilihat dalam perjalanan sejarah filsafat, sudah banyak
sumbangan pemikiran para filsuf yang berkaitan dengan nilai, dan ini
juga menandakan bahwa nilai adalah topik yang tidak pernah-pernah
habisnya untuk diperbincangkan.
Adanya jurang pemisah antara subjek di satu sisi dengan objek di sisi
yang lain merupakan titik awal bagi munculnya perdebatan yang
berkaitan dengan nilai. Subjektivisme sebagai aliran yang mewakili
subjek sebagai titik tolak dalam nilai, menegaskan bahwa nilai-nilai,
seperti kebaikan, kebenaran, keindahan, tidak ada dalam real objektif,
melainkan merupakan perasaan-perasaan, sikap-sikap pribadi, dan
merupakan penafsiran atas kenyataan. Di lain pihak objektivisme,
sebagai aliran yang mendukung objek sebagai titik tolak dalam nilai,
menegaskan bahwa nilai-nilai, kebaikan, kebenaran, keindahan, ada
dalam dunia nyata dan dapat ditemukan sebagai entitas-entitas, kualitaskualitas, atau hubungan nyata dalam bentuk yang sama sebagaimana
dapat ditemukan objek-objek, kualitas-kualitas, atau hubunganhubungan. Selanjutnya pendukung teori objektivisme juga menegaskan
bahwa nilai-nilai adalah objektif dalam arti bahwa nilai-nilai itu dapat
didukung oleh argumentasi cermat dan rasional konsisten sebagai yang
terbaik dalam situasi itu.
Kata kunci: Nilai, aksiologi, subjektivisme, dan objektivisme.
didiskusikan.
I. PENDAHULUAN
Membaca judul tulisan ini
spontan menimbulkan tanda tanya,
apakah membincangkan nilai dalam
seni merupakan suatau persoalan
yang
masih
relevan
membicarakan
Karena
memang
persoalan
nilai
merupakan suatu persoalan yang
relatif sudah lama menjadi topik
pembicaraan dalam kajian filsafat.
untuk
15
Memasuki abad pertengahan
pada periode perkembangan sejarah
idamkan manusia modern di awal
pertumbuhannya, zaman Renaisans.
Filsafat Barat persoalan nilai mulai
memasuki
fase
dimana
agama
Kondisi
yang
demikian
membawa manusia kembali kepada
memegang peranan penting dalam
makhluk
menentukan
kemampuan rasionya, manusia ingin
apakah
nilai
itu
subjektif atau objektif. Selepas abad
berdiri
pertengahan,
sehingga
memasuki
periode
otonom,
di
yang
atas
setiap
dengan
kemandiriannya,
persoalan
pada
modern, agama mulai kehilangan
dasarnya dapat diselesaikan oleh
wibawanya
mengawal
manusia, termasuk persoalan nilai.
pemikiran yang berkembang pada
Nilai yang pada zaman pertengahan
awal periode ini, terutama di tangan
merupakan
dalam
Humanisme dan Sekularisme, yang
agama,
proses
deduksi
mulai
dari
diinduksikan,
merupakan diantara gerakan yang
sedemikian
mempelopori lahirnya Renaisans.
pandangan relativitas terhadap nilai
rupa
sehingga
yang
mulai hangat kembali dibicarakan
merupakan suatu gerakan yang ingin
dalam kajian filsafat. Yaitu apakah
mengembalikan
kejayaan
ada nilai objektif dalam nilai,
Yunani
dimana
Adalah
Renaisans,
Kuno,
zaman
manusia
ataukah
nilai
hanya
merupakan
memegang peranan penting dalam
persoalan subjektif pada masing-
menentukan produk pemikiran yang
masing
akan dihasilkan. Sehingga pada
subjektivitas dan objektivitas nilai
zaman Yunani Kuno ini, manusia
kedua-duanya masih membukakan
dengan otonominya ingin terlepas
diri
dari autoritas agama, yang pada saat
perdebatan dalam dunia akademis.
itu masih penuh dengan mitos-
Siapakah yang lebih atau paling
mitos. Dengan kekuatan rasio yang
dominan dalam menentukan bernilai
dimiliki
atau
manusia
merobohkan
semua
berusaha
mitos
yang
individu.
untuk
tidak
Siapakah
dijadikan
bernilainya
yang
paling
Persoalan
wacana
sesuatu?
berhak
diyakini pada saat ini. Kondisi inilah
mengatakan bahwa ini adalah indah
agaknya
sementara yang lain tidak? Siapakah
yang
sangat
diidam-
16
untuk
Parmenides). Menengahi dua kubu
mengatakan ini baik dan itu buruk,
di atas, Plato mengatakan bahwa,
subjekkah atau objekkah?
tanpa bermaksud menegasi salah
yang
memegang
kuasa
satu di antara kedua, “ada” yang
II. PEMBAHASAN
serba berubah diperoleh melalui
A. Perdebatan
yang
Tidak
Berkesudahan
Dalam
filsafat
proses pengamatan, sementara yang
tidak berubah dikenal melalui akal.
sejarah
persoalan
pemikiran
adalah
yang tidak berubah yang kekal itu
persoalan yang relatif sudah lama
adalah ide. Bagi Plato ide bukanlah
dibicarakan. Berawal dari Plato
gagasan yang hanya terdapat di
dengan
idealismenya
dalam pikiran saja, yang berifat
ide
subjektif. Ide juga bukan merupakan
pemikiran
menyatakan
bahwa
nilai
Oleh karena itu bagi Plato “ada”
adalah
sesuatu yang ada secara objektif.
gagasan
Kemunculan ide-ide itu adanya
karena ide bersifat objektif, berdiri
dengan sendirinya tanpa tergantung
sendiri, lepas dari subjek yang
kepada objek yang berada di luar
berpikir dan tidak tergantung kepada
dirinya sendiri, baik itu melalui
pemikiran
proses pemikiran, interaksi subjek
rupa pemikiran Plato tentang ide,
dengan objek melalui pencerapan
sehingga Plato membagi Dunia
inderawi. Ide itu adalah sesuatu
(Dunia digunakan huruf kapital,
yang tetap, dan tidak berubah.
untuk membuat jelas, bahwa istilah
Berbeda dengan “ada” yang ada di
Dunia sedang digunakan dalam
dunia ini, yang selalui berubah-ubah
pengertian
(seperti
macam: pertama Dunia jasmani,
pada
Herakleitos)
dan
mengalami kebinasan.
yang
dibuat
manusia.
Plato)
manusia,
Sedemikian
kepada
dua
yaitu dunia yang serba berubah, dan
Selain bahwa ada sesuatu
serba
plural,
tidak
yang berubah-ubah dalam “ada”
merupakan
yang ada di dunia ini, ada dipahami
inderawi, karena hanya terbuka bagi
sebagai sesuatu yang tidak dapat
pengamatan inderawi. Kedua adalah
berubah-ubah
Dunia
(seperti
pada
ide,
proses
sempurna,
yang
pengamatan
kekal,
tidak
17
mengalami perubahan, tunggal, dan
memperkuat kelekatan emosional
tidak
manusia
mengalami
perubahan,
kepada
kefanaan,
kenisbian. Dunia ide hanya terbuka
karenanya
bagi
mencapai realitas hidup yang abadi
dunia
rasional
(Harun
non-inderawi,
Hadiwijono, 1995: 39-41).
Hubungan
Dunia
ini
merupakan
bagai
antara
adalah,
model
berbagai
kedua
bahwa
ide
(paradeigma)
benda
Benda-benda konkret
menghalangi
dan
konkret.
merupakan
manusia
sedemikian
rupa
sehingga seni dianggap sebagai
ancaman bagi jiwa, dan doktrin
Plato ini juga dijadikan alasan bagi
mereka yang ingin mengontrol dan,
bahkan, melarang seni.
yang
Berbeda dengan pandangan
menyerupai model tersebut. Kalau
gurunya, Plato, Aristoteles yang
partisipasi (methexis) benda-benda
menjadi murid Plato kurang lebih
konkret itu pada ide-ide semakin
selama 20 tahun, berusaha membuat
besar atau kalau mereka semakin
antitesis terhadap pemikiran idealis
meniru dan semakin meyerupai ide-
Plato. Bagi Aristoteles, ide-ide, ala
ide, semakin indah dan semakin
Plato,
baiklah benda-benda itu. Dengan
membantu manusia, baik untuk
demikian maka menurut Plato, ide-
mengenali
ide adalah ukuran untuk segala-
untuk
galanya (Simon Petrus L.Tjahjadi,
Karena ide-ide, tidak terdapat dalam
2008: 50-51). Hubungan antara dua
benda-benda (berpartisipasi menurut
Dunia inilah yang menjadi salah
Plato), maka menurut Aristoteles
satu
Plato
hakikat suatu benda itu berada
seni
dalam benda itu sendiri, bukan pada
gambaran tidak sempurna
alasan
memusuhi
mengapa
seni.
Karya
merupakan penipuan ganda, sebab
hal-hal
yang
sebenarnya
sama
benda-benda
memahami
yang
sekali
maupun
“ada”.
ide, seperti pada Plato.
karya seni merupakan tiruan palsu
dari
tidaklah
Aristoteles
dengan
ajaran
Hylemorfisme mengatakan, bahwa
merupakan tiruan palsu juga. Seni
setiap
sekaligus juga memeriahkan hal-hal
pengejewantahan dari materi (hyle)
yang
fana
(Dunia
benda
selalu
merupakan
jasmani),
18
dan bentuk (morphe). Materi adalah
kejadian. Keempat adalah penyebab
prinsip yang sama sekali tidak
material (causa materials), yaitu
ditentukan, sama sekali terbuka,
bahan dari mana suatu benda dibuat
materi
(Simon Petrus L.Tjahjadi, 2008: 65-
adalah
kemungkinan
(potentia) belaka untuk menerima
67).
suatu bentuk. Sementara bentuk
Berangkat
dari
pemikiran
adalah prinsip yang menentukan
metafisikanya, Aristoteles melihat
atau memberikan aktualita pada
seni
materi. Bentuk membutuhkan materi
(mimesis) realita konkret. Dalam
agar
mewujudkan
seni, khususnya drama, sama seperti
kemungkinannya menjadi realitas
realitas konkret, perlu diupayakan
yang
kesatuan yang jelas, utuh, dan runtut
dapat
sesungguhnya
Berkat
materi,
merupakan
(aktualitas).
suatu
konkret,
sebagai
peniruan
dari tindakan, waktu dan tempat.
dan
Kedua seni juga harus merupakan
berkat bentuk, suatu benda konkret
suatu proses pemurnian (katharsis),
mempunyai
yaitu
termasuk
benda
benda
pertama
kodrat
jenis
tertentu,
tertentu.
Maka
lewat
menjernihkan
seni,
pikiran
seni
harus
dan
jiwa
menurut Aristoteles, segala yang
penonton. Dari cuplikan kehidupan
“ada”
biasa
berkembang
dari
suatu
yang
ditirukan
dan
kemungkinan menjadi kenyataan.
ditampilkan dalam kesenian, dapat
Perubahan-perubahan dari materi
dihasilkan sesuatu yang luar biasa
menjadi
bentuk
dalam jiwa para penikmat seni.
adanya
penyebab.
membedakan
terjadi
karena
Aristoteles
empat
pertama penyebab formal (causa
formalis),
yaitu
bentuk
yang
menyusun bahan. Kedua penyebab
final (causa finalis) tujuan yang
menjadi
arah
seluruh
Perdebatan guru murid, Plato
penyebab,
kejadian.
Ketiga penyebab efesien (causa
efficiens), yaitu yang menjalankan
Aristoteles, berlanjut hingga zaman
modern, seperti yang disinggung
oleh Alfred N. Whitehead, bahwa
sejarah
filsafat
zaman
modern
adalah catatan kaki dari filsafat
Aristoteles.
Perdebatan
antara
Rasionalisme dan Empirisme, yang
19
dilanjutkan oleh Kritisisme dan
mengenai]), yang biasa diartikan
Positivisme, bahkan pada Idealisme,
studi yang menyangkut teori umum
mulai dari Kant, dilanjutkan oleh
tentang nilai atau suatu studi yang
Fichte, Schelling, dan Hegel, yang
menyangkut segala yang bernilai
dikembangkan selanjutnya oleh Karl
(Lorens
Marx. Bahkan sampai pada zaman
Dengan kata lain aksilogi adalah
kontemporer perdebatan dialektis di
studi filosofis tentang hakikat nila-
antara para pemikir tersebut tetap
nilai. Aksiologi muncul sebagai
berlanjut,
kaum
cabang kajian pertama kali pada
bahkan
paroh kedua abad ke-19 (Riseiri
seperti
fenomenologi,
pada
pragmatis
digaris
Nilai yang dalam bahasa
Inggrisnya value berasal dari bahasa
diartikan
sebagai
berguna, mampu akan, berdaya,
berlaku, kuat. Sehingga nilai sering
diartikan sebagai suatu kualitas hal
yang menjadikan hal itu dapat
disukai, diinginkan, berguna, atau
dapat menjadi objek kepentingan
(Lorens Bagus, 2005: h. 713)
Cabang
membicarakan
h.
33).
relatif baru. Namun demikian perlu
B. Apa Nilai Itu?
valere
2005:
Frondizi, 2001: h. 1), dan ini adalah
sampai postmodernisme.
Latin
Bagus,
bawahi,
bahwa
sebagai
pembicaraan persoalan nilai sudah
mulai didiskusikan semenjak zaman
Yunani, seperti telah disinggung di
atas. Dan Frondizi sendiri telah
menyatakan dalam bukunya, bahwa
persoalan nilai telah diilhami, mulai
dari Plato yang telah membahas
secara mendalam dalam karyanya,
dan bahwa keindahan, kebaikan, dan
kekudusan merupakan tema yang
filsafat
yang
penting
persoalan
nilai
sepanjang jaman (Riseiri Frondizi,
adalah aksiologi. Pembicaraan nilai
dalam ranah filsafat merupakan
tema yang realatif baru. Aksiologi
(axiology [bahasa Inggris], berasal
dari kata Yunani yaitu: axios [layak,
pantas] dan logos [ilmu, studi
bagi
para
pemikir
di
2001: h. 1).
Loren Bagus lebih lanjut
mengatakan
mengenai
bahwa
hakikat
pertanyaan
nilai
dapat
dijawab dengan tiga macam cara,
nilai sepenuhnya bersifat subjektif,
20
nilai merupakan suatu kenyataan,
dapat
dan nilai bersifat objektif (Lorens
Fenomenologi
Bagus, 2005: h. 35). Pertama, nilai
pengembangan
sepenuhnya
subjektif.
idealisme. Dengan demikian maka
Ditinjau dari sudut ini, nilai-nilai
yang ketiga, nilai-nilai merupakan
merupakan
unsur-unsur objektif yang menyusun
berhakikat
reaksi-reaksi
yang
dirujuk
ke
pemikiran
Husserl,
dari
sebagai
pemikiran
diberikan oleh individu sebagai
kenyataan.
pelaku. Teorinya biasanya disebut
selanjutnya dikembangkan dalam
dengan teori subjektifitas nilai, suatu
teori
pandangan yang menyatakan bahwa
mengatakan
nilai-nilai,
kebaikan, kebenaran, keindahan, ada
seperti
kebaikan,
Pandangan
objektifitas
nilai,
bahwa
nilai-nilai,
dalam
dalam
ditemukan sebagai entitas-entitas,
objektif,
merupakan
melainkan
perasaan-perasaan,
nyata
yang
kebenaran, keindahan, tidak ada
real
dunia
ini
kualitas-kualitas,
dan
atau
dapat
hubungan
sikap-sikap pribadi, dan merupakan
nyata dalam bentuk yang sama
penafsiran atas kenyataan (Lorens
sebagaimana
Bagus, 2005: h. 718). Pengikut teori
objek-objek, kualitas-kualitas, atau
idealisme
(positivisme
hubungan-hubungan. Teori ini juga
logis, emotivisme, analisis linguistik
mengatakan bahwa nilai-nilai adalah
dalam etika) yang menganggap nilai
objektif dalam arti bahwa nilai-nilai
sebagai sebuah fenomen kesadaran
itu dapat didukung oleh argumentasi
dan
cermat
subjektif
memandang
nilai
sebagai
dan
dapat
ditemukan
rasional
konsisten
pengungkapan perasaan psikologis,
sebagai yang terbaik dalam situasi
sikap subjektif manusia kepada
itu (Lorens Bagus, 2005: h. 717).
objek yang dinilainya.
Kedua
nilai
Uraian-uraian
merupakan
memperlihatkan
di
atas
pengklasifikasian
kenyataan, namun tidak terdapat
nilai ke dalam beberapa teori. Teori-
dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai
teori
merupakan esensi-esensi logis dan
memperlihatkan bahwa persoalan
dapat
subjektivitas dan objektivitas nilai
diketahui
melalui
akal.
Agaknya sikap terhadap nilai ini
masih
tersebut
terbuka
sekaligus
lebar
untuk
21
didiskusikan
lebih
jauh,
yaitu
penahu
secara
aktif
siapakah yang lebih atau paling
mengkonstruksikan
dominan dalam menentukan bernilai
sebagaimana
atau
Sudarminta, 2008: h. 119).
tidak
siapakah
bernilainya
yang
sesuatu,
paling
berhak
objek
diketahui
(J.
Objektivitas yang biasanya
mengatakan bahwa ini adalah indah
dipahami
sementara yang lain tidak, siapakah
pengetahuan,
yang
dengan nilai yaitu penilaian, yang
memegang
kuasa
untuk
sebagai
sifat
apabila
suatu
dikaitkan
mengatakan ini baik dan itu buruk,
secara
subjekkah atau objekkah.
merepresentasikan objek atau hal
Perkembangan sains ilmiah
yang
setia
diselidiki
dan
(J.
akurat
Sudarminta,
berkaitan dengan perosoalan di atas
2008: h. 122). Sementara tolok ukur
juga masih tetap menjadi pertanyaan
derajat
besar.
pengetahuan
Diakibatkan
perkembangan
revolusi
pemikiran
yang
objektivitas
pengertian
sebuah
(nilai)
ini
dalam
adalah
derajat
temuan-
kesesuaian atau korespodensi antara
temuan baru dalam fisika modern
teori yang dikemukakan dengan
pada abad ke-19 dan awal abad ke-
objek dalam dunia yang dirujuk oleh
20. Teori ilmiah tidak lagi dapat
teori tersebut. Sebagai indikasinya
dipahami sebagai suatu yang secara
adalah ada atau tidaknya kesesuaian
ontologi merujuk kepada kenyataan
antara
alam
kalau prediksi yang dibuat oleh teori
dilatar
belakangi
itu
oleh
sendiri,
tetapi
lebih
keduanya
adalah
merupakan suatu model dan alat saja
tersebut
untuk
menjelaskan
kenyataan empiris memang terjadi
yang
nampak
Sedemikian
yang
rupa
terjadi
gejala-gejala
pada
manusia.
dalam
demikian atau tidak.
perkembangan
Lalu
bagaimana
dengan
hasil
subjek? Bukankah seluruh kegiatan
pengetahuan manusia dalam hal
dalam pengetahuan dan penilaian
apapun tidak pernah melulu selalu
adalah
objektif,
keniscayaan
tetapi
sehingga
dipraktikan
apakah
selalu
bersifat
merupakan
adanya
suatu
keterlibatan
subjektif-objektif. Artinya sebjek
22
personal
sang
subjek?
Karena
mempunyai kesamaan dalam
merupakan suatu fakta yang tidak
tujuan.
dapat
untuk
dipungkiri
menetapkan
bahwa
suatu
dalam
nilai
atau
Dimensi
keinginan
menyenangkan
menempati posisi utama dalam
penilaian terlibat di dalamnya kerja
tujuan
para
imaginasi kreatif akal budi manusia,
berkesenian. Sedemikian rupa
sebagai subjek.
sehingga secara sederhana seni
dapat
C. Nilai dalam Seni
didefinisikan
usaha
1. Seni dan Sains Ilmiah
senimana
untuk
sebagai
menciptakan
bentuk-bentuk
Apabila pertanyaan di
yang
menyenangkan. Bentuk yang
atas dikaitkan dengan seni,
sedemikian
berkenaan dengan nilai yang
kesadaran keindahan manusia
ada dalamnya, bagaimana posisi
dan rasa indah ini terpenuhi bila
objek
manusia
dan
subjek.
menjawab
Untuk
pertanyaan
itu
memuaskan
bisa
menemukan
ini
kesatuan atau harmoni dalam
terlebih dahulu didudukan apa
hubungan bentuk-bentuk dari
yang dimaksud dengan seni.
kesadaran
Dalam tulisannya Herbert Read
(Herbert Read, 1959: h. 2).
memulai uraiannya berkenaan
dengan seni dengan terlelbih
dahulu
melihat
seni
secara
etimologinya, seni yang dalam
bahasa Inggris art umumnya
hanya dikaitkan dengan bagian
seni
yang
diembel-embeli
dengan kata plastic atau visual
(Herbert Read, 1959: h. 1).
Namun
demikian
menambahkan
inplisit
bahwa
semua
Read
dalam
seniman
persepsi
manusia
Ketika suatu karya seni
bertujuan untuk berkeinginan
mempersembahkan kesenangan
kepada subjek sebagai audien,
pada keadaan seperti ini, lagilagi
dalam
penilaian,
dengan
antara
seni,
kita
dalam
bersentuhan
persoalan
hubungan
subjek-objek.
Antara
subjektivitas dan objektivitas.
Jikalau demikian kembali lagi
pertanyaan
yang
sama
23
Sains
mengemuka, yaitu apakah indah
ilmiah
secara
tidak indahnya suatu karya seni
epistemologis
ditentukan
seni
relasional. Dalam artian bahwa
sebagai suatu produk seni atau
terbentuknya suatu sains karena
subjek sebagai penikmat seni.
adanya
Apakah sama standar yang
subjek dan objek. Layaknya
digunakan dalam memecahkan
suatu
persoalan ini dengan standar
berangkat dari definisi Read di
yang berlaku dalam dunia sains
atas, juga terbentuk dari adanya
ilmiah.
demikian
relasional antara subjek dan
bukankah
objek.
oleh
objek
Jika
pertanyaannya,
sifatnya
suatu
sains
relasi
antara
ilmiah,
Perbedaan
seni,
yang
terlebih dahulu harus didudukan
mendasar di antara keduanya
bagaimana
antara
adalah, bahwa sains ilmiah pada
sains dengan ilmu, apakah sains
dasarnya adalah usaha manusia
sama dengan ilmu ataukah dua
untuk menangkap gejala-gejala
hal yang berbeda.
alam ke dalam suatu susunan
hubungan
Sekedar
menjemput
pengertian di atas, bahwa seni
adalah apa saja yang dicipta
dengan indah. Dalam hal ini
seni didefiniskan sebagai usaha
untuk
menciptakan
bentuk-
bentuk
yang menyenangkan.
Bentuk-bentuk yang demikian
itu
memuaskan
kesadaran
keindahan individu, dan rasa
indah ini terpenuhi bila bisa
menemukan
harmoni
kesatuan
dalam
atau
hubungan
bentuk-bentuk dari kesadaran
teori yang sistematis, sementara
seni
adalah
untuk
usaha
menangkap
perasaannya
manusia
perasaan-
ke
dalam
seperangkat karya-karya seni.
Jadi sains ilmiah memasukkan
dunia lahir yang ada di luar
manusia (gejala-gejala alam) ke
dalam dunia batin di dalam
dirinya
(teori-teori
ilmiah).
Sedangkan seni mengeluarkan
gejala-gejala
dunia
batin
manusia (perasaan) ke dunia
lahir (karya seni).
persepsi individu.
24
Secara
epistemologi,
temporer. Kebenaran ilmiah,
lanjut
Sudarminta
berlawanan, namun demikian
menambahkan,
bahkan yang
keduanya
memiliki
seni
dan
sains
ilmiah
mempunyai
lebih
kadar
objektivitas
persamaan, persamaan dalam
tinggi sekalipun, selalu hanya
hal tujuan. Tujuan seni maupun
berarti
sains ilmiah sama-sama berupa
pegangan
kepuasan batin, sekalipun yang
bertanggung jawab sementara
satu
belum ada bukti lain, atau
bersifat
emosional
dapat
dijadikan
untuk
bertindak
sementara yang lain bersifat
penemuan
intelektual.
menggugurkannya.sedemikian
2. Adakah Objektivitas dalam
lain
yang
rupa sehingga suatu teori sain
ilmiah dipandang benar bila
Nilai Seni?
diakui oleh komunitas para
Pembahasan
perumusan
tentang
ulang
objektivitas
pengertian
ilmiah,
dikatakan
seperti
Sudarminta,
sebenarnya
telah
mengungkapkan kemungkinan
adanya objektivitas kebenaran
ilmiuwan dalam bidang yang
bersangkutan
sebagai
memberikan penjelasan yang
terbaik sampai saat itu atau
belum ada alternatif penjelasan
lain
yang
lebih
baik
(J.
Sudarminta, 2008: h. 124-125).
ilmiah pada umumnya, baik
Objektivitas merupakan
menyangkut objektivitas yang
menandai
ilmuwan.
komunitas
Kebenaran
para
ilmiah
memang bukan kebenaran yang
bersifat mutlak, seratus persen
pasti, dan tak pernah berubah.
Kebenaran
ilmiah
selalu
bersifat nisbi, memuat unsur
ketidakpastian
dan
bersifat
suatu yang amat bernilai dan
umumnya
dicita-citakan
berwujudannya,
baik
dalam
ilmu-ilmu alam maupun dalam
ilmu-ilmu sosial, termasuk di
sini
seni.
Objektivitas
itu
sendiri diidentifikasikan sebagai
suatu nilai yang berhubungan
dengan salah satu atau ketiga
25
aspek proses, pertama, suatu
bersifat subjektif, karena sering
sikap akal budi yang dianggap
berangkat
semestinya
pribadi.
dimiliki
seorang
dari
pengalaman
Dalam
mengamati,
pelaku sains, yakni sikap jujur,
menikmati,
terbuka terhadap kritik dan
menafsirkan,
tidak membiarkan diri dibawa
misalnya sadar atau tidak sadar
oleh emosi dan dibutakan oleh
selalu
ideologi dalam seluruh aspek
pengalaman pribadi. Sementara
kegiatannya.
metode
perspektif pengalaman pribadi
memuat
sebelumnya
yang
Kedua,
digunakan
hipotesis
dan
penikmat
membawa
seni
perspektif
mempengaruhi
yang
kegiatannya. Namun demikian
pengujian
kendati warna personal dalam
langkah-langkah
memungkinkan
bahkan
teori
secara
melaksanakan
kegiatan
akan
intersubjektif dan dengan cara
terus menyertai, namun melalui
yang tidak bias atau penuh
pendidikan yang membentuk
prasangka. Ketiga pengetahuan
disiplin ilmiah, para penikmat
saintifik yang dihasilkan dari
seni dapat melatih diri untuk
penggabungan
menghindarkan diri dari bias-
keduanya
(J.
bias
Sudarminta, 2008: h. 125).
Setelah
melihat
bagaimana objektivitas dalam
sains
ilmiah,
pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana
dengan nilai seni. Seni sering
dilihat sebagai suatu hubungan
yang sangat subjektif produk
subjektif
dan
sedapat
mungkin menghindarkan diri
dari
kekeliruan
Pengamatan
manusiawi.
yang
terlatih
memampukan individu untuk
mendeteksi hal-hal yang secara
objektif memang terdapat pada
objek.
dan
Lalu bagaimana dengan
penikmat seni sebagai subjek.
nilai-nilai lokal yang biasanya
Karena dalam penilaian seni
selalu
pertimbangan
putusan
dalam seni. Standar penilaian
subjek sebagai penikmat selalu
dihasilkan oleh suatu kelompok
seni
sebagai
objek
dan
mengiringi
penilaian
26
sosial
tertentu
dan
terbatas
keberlakuannya
untuk
sebagai suatu kisah panjang
sejarah
dan
kebudayaan
kelompok sosial tertentu itu
manusia yang penuh dengan
sendiri.
nilai.
Asumsi
yang
objektivitas
di
sini
terkandung dalam argumen ini
dipahami sebagai reliabilitas
adalah bahwa penilaian itu
(bersifat dapat diandalkan bila
selalu
dan
diterapkan) dari pada sebagai
ditentukan oleh hal-hal yang
sesuatu yang dapat dibuktikan
bersifat partikular dalam suatu
adanya secara publik melulu
kelompok sosial.
berdasarkan
bersifat
lokal
Objektivitas
melulu
yang
dipahami
sebagai
kesesuaian dengan objek fisik
yang
dapat
diamati
secara
empiris
pengamatan
maupun
konsistensi
penalaran, sebagaimana biasa
diandaikan
oleh
objektivitas
dalam sains positivisme.
publik oleh siapapun secara
Sebagai penutup, di sini
imparsial maupun impersonal,
penulis mengutip apa yang
akan mengakibatkan dikotomi
disampaikan Hillary Putnam,
antara subjek-objek, dualisme
pemisahan tegas antara fakta
antara
bersifat
yang dianggap objektif dan nilai
subjektif dan fakta yang bersifat
yang selalu dianggap subjektif
objektif.
demikian,
muncul dari anggapan yang
realitas tidaklah harus selalu
keliru bahwa “kebenaran” dan
dipahami
“pengetahuan”
nilai
yang
Namun
demikian,
realitas
merupakan
hendaknya dipahami sebagai
milik khusus sains, dan sains
suatu proses dan peristiwa yang
lah yang dapat menegaskan
diungkap
diungkapkan
mana yang fakta mana yang
dalam bahasa manusia dengan
bukan. Segala sesuatu yang
berbagai
bukan
dan
sistem
simbolnya
sains
bukanlah
(C.A. Van Peursen, 1990: h.
pengetahuan dan tidak dapat
89). Dengan demikian suatu
ditegaskan
karya
Anggapan ini keliru, karena
seni
akan
dipahami
benar
salahnya.
27
Download